Uploaded by common.user152598

Laporan Praktikum Defleksi Fenomena Dasar Mesin

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
PRAKTEK FENOMENA DASAR MESIN
Di susun oleh :
NUR MALIK FAJAR BAKRI
2310003423803
KELOMPOK I
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
M. DWI ELISAL PUTRA
RISKI GORI
MUHAMMAD ARYFARHAN
NUR MALIK FAJAR BAKRI
FIKRI KHOLID
ANDRI CHARDO TANUSA
ADYTIA AZHARI INSYA
2310003423005
2310003423011
2310003423046
2310003423803
2510003423801
2510003423802
2510003423803
Dosen Pengampu:
Ir. MUKHNIZAR, M.T
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS EKASAKTI PADANG
2026
LAPORAN PRAKTIKUM
PRAKTEK FENOMENA DASAR MESIN
“DEFLEKSI”
Di susun oleh :
NUR MALIK FAJAR BAKRI
2310003423803
Dosen Pengampu:
Ir. MUKHNIZAR, M.T
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS EKASAKTI PADANG
2026
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan praktek ini disusun guna memenuhi persyaratan dalam mata
kuliah Praktek Fenomena Dasar Mesin tentang " DEFLEKSI"
Oleh:
NUR MALIK FAJAR BAKRI
2310003423803
Program Studi Teknik Mesin
Fakultas Teknik dan Perencanaan
Universitas Ekasakti Padang
Diperiksa dan disahkan oleh:
Staf Lab.
Mengetahui
Dosen Pengampu
Nike Rahmawati, S.T
Ir, Mukhnizar, MT
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Fenomena Dasar
dengan judul “DEFLEKSI” in idengan tepat pada waktunya. Tak lupa pula shalawat serta
salam mahabbah kita hadiahkan kepada junjungan kita kepada Nabi Muhammad SAW,
sebagai pembawa risalah Allah terakhir dan penyempurna seluruh risalah-Nya.
Penulis untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada semua pihak yang telah berjasa memberikan motivasi dalam rangka menyelesaikan
laporan ini. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Ir Mukhnizar,MT selaku dosen pembimbing mata kuliah Fenomena Dasar
Mesin
2. Ibu Nike Rahmawati selaku Staf Lab. Program Studi Teknik Mesin
3. Juga kepada teman-teman seperjuangan yang saling member dukungan dan
motivasi.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan
laporan ini, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.
Padang, Juni 2026
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Dalam suatu struktur, batang atau kolom akan mengalami gaya lateral dan
aksial. Tekuk terjadi apabila suatu batang menerima gaya aksial meskipun belum
dapat mencapai tegangan leleh (Daniel L. Schodek, 1999). Fenomena tekuk
berkaitan dengan kekakuan elemen struktur. Suatu elemen yang mempunyai
kekakuan kecil lebih mudah mengalami tekuk dibandingkan dengan elemen yang
mempunyai kekakuan besar. Pada praktikum kali ini kita akan mencoba mengetahui
gaya kritis dari beberapa bahan yang akan kita uji buckling. Pengujian ini dibagi 3
tahap, Yaitu :
a) Pengujian Engsel-Engsel
b) Pengujian Engsel-Jepit
c) Pengujian Jepit-Jepit
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan laporan ini, rumusan masalah yang akan dibahas meliputi hal –
hal berikut ini yaitu :
a) Bagaimana terjadinya proses buckling?
b) Apa saja alat dan bahan untuk pengujian buckling?
c) Bagaimana cara perhitungan momen inersia pada pengujian buckling?
d) Bagaimana cara perhitungan beban kritis pada pengujian buckling?
1.3. Tujuan
a) Dapat mengetahui dan melaksanakan proses pengujian buckling dengan baik
dan benar.
b) Memahami alat, nahan dan cara pengukuran dengan baik dan benar.
c) Memperhatikan keselamatan kerja dalam melaksanakan praktikum.
d) Dapat mengelola hasil pengujian buckling dan menghitung gaya kritis setiap
bahan uji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Dasar Pengujian Buckling
2.1.1. Beban Kritis Dalam Kolom
Beban kritis suatu balok langsing yang dikenai tekanan aksial adalah nilai
gaya aksial yang hanya cukup mempertahankan batang dalam kondisi sedikit
terdefleksi dinotasikan dengan Fcr.
2.1.2. Rasio Kerampingan Kolom
Rasio panjang kolom terhadap jari-jari (radius of gyration) minimum
penampang kolom disebut dengan rasio kerampingan suatu kolom. Seperti diketahui
𝑃
𝐸𝑙
= 𝐾 2 sehingga persamaan diatas dapat ditulis:
𝑑 2 2𝑦
𝐾 =0
𝑑π‘₯ 2
Dari kenampakan grafis dapat dilihat bahwa karakter tekukan mengandung fungsi
sin kx atau cos kx.
2.1.3. Rasio Tidak Berdimensi
Apabilas suatu kolom adalah bebas berputar pada ujung-ujungnya, maka
tekukan akan terjadi pada sumbu dimana jari-jari (radius of gyration) adalah
minimum.
2.1.4. Beban Kritis Kolom Ramping Panjang
Jika suatu kolom panjang yang mempunyai luas penampang tetap di-pin pada
kedua ujungnya dan dikenai tekanan aksial, beban Fcr yang akan menyebabkan
terjadinya tekukan dinyatakan dengan:
πœ‹ 2 𝐸𝑙
𝐹𝐢𝑅 = 2
𝐿
Dimana E menyatakan modulus elastisitas, I adalah momen minimum penampang
melintang terhadap sumbu yang melalui titik berat dan L adalah panjang kolom.
2.1 5. Pengaruh Kondisi Akhir Panjang Efektif
Persamaan beban kritis diatas dapat dimodifikasi menjadi :
πœ‹ 2 𝐸𝑙
𝐹𝐢𝑅 =
(𝐾𝐿2 )
Dimana KL adalah panjang efektif kolom. Untuk kolom yang di-pin pada kedua
ujungnya, K=0,5 yang satu ujung dijepit dan satu ujung di-pin K=0,7. Dan untuk
kolom yang satu ujung dijepit dan ujung yang lain bebas, K=2.
2.1.6. Rancang Bangun Kolom dengan beban Eksentris
Derivasi pernyataan yang menghasilkan model pembebanan tekuk Euler
mengasumsikan bahwa beban adalah konsentris. Jika suatu gaya aksial P dikenakan
dengan tingkat eksentrisitas E, puncak tegangan pada batang terjadi pada serat-serat
yang lebih luar pada bagian tengah panjang batang dan dinyatakan dengan:
𝑃
𝑒𝑐 𝐿 𝑃
πœŽπ‘šπ‘Žπ‘₯ = [1 + 2 ( √ )]
𝐴
π‘Ÿ 2 𝐴𝐸
2.1.7. Tekukan Kolom Inelastic
Pernyataan pembebanan tekukan Euler dapat diperluas untuk selang inelastic
dari aksi dengan menggantikan Modulus Young E dengan Modulus Tangen Et.
Dengan demikian formula tekukan kolom (tangen-modulus formula) dapat
dinyatakan sebagai:
πœ‹ 2 𝐸𝑑𝑙
𝐹𝐢𝑅 =
𝐿2
Kolom balok (beam-colomns). Suatu barang yang dikenai beberapa gaya bersamaan
dengan tekanan aksial dan pembebanan lateral disebut sebagai beam-colomns.
Contoh 1:
Jabarkan beban kritis untuk batang ramping panjang yang di-pin dan dibebani
dengan tekanan aksial dikedua ujungnya. Garis aksi gaya-gaya melewati pusat
panjang melintang seperti pada gambar berikut ini
Persamaan diferensial dari kurva defleksi dinyatakan dengan:
𝑑2𝑦
𝐸𝐿 = 2 = 𝑀
𝑑π‘₯
Momen tekuk pada titik A dengan koordinat (x,y) menghasilkan momen dengan
gaya P dan jarak y. Sesuai dengan perjanjian pemberian tanda maka momen tersebut
adalah negative. Dengan demikian M =-Py. Selanjutnya kita akan mempunyai
persamaan diferential :
𝑑2𝑦
𝐸𝐿 = 2 = −𝑃𝑦
𝑑π‘₯
𝑃
Seperi diketahui 𝐸𝑙 = 𝐾 2 sehingga persamaan diatas dapat ditulis:
𝑑2
=0
𝑑π‘₯ 2
Dari kenampakan grafis dapat dilihat bahwa karakter tekukan mengandung fungsi
sin kx atau cos kx, kombinasi keduanya dalam bentuk:
𝑦= 𝐢𝑠𝑖𝑛 π‘˜π‘₯ + 𝐷 cos π‘˜π‘₯
Dapat merupakan solusi dari persamaan differensial diatas. Yang diperlukan
selanjutnya adalah menentukan nilai C dan D pada ujung kiri batang y=0 ketika x=0
dengan mensubtitusikan nilai ini kepersamaan diatas, diperoleh:
0 = 0+D atau D = 0
Pada ujung kanan batang y=0 ketika X=L, sehingga
0 = C sin KL
Kenyataan baik C=0 atau sin KL=0. Tetapi jika C=0 maka nilai y dimanapun akan
sama dengan 0, dan kita tidak memerlukan ini. Maka kita pakai:
Sin KL=0.
Untuk menjadi benar, kita harus mempunyai kh=nπ radian (n =1,2,3,… ….). Dengan
𝑃
subtitusi π‘˜ 2 = 𝐿 ,diperoleh:
𝑃
√ 𝐿 = π‘›πœ‹ atau 𝑃 =
𝐸𝐼
𝑛2 𝑛2
𝐿2
Nilai terkecil dari persamaan tersebut terjadi jika n=1. Maka kita memperoleh apa
yang disebut mode pertama tekukan dimana beban kritis dapat dinyatakan dengan:
πœ‹ 2 𝐸𝐿
𝑃𝐢𝑅 = 2
𝐿
Persamaan ini juga sering disebut sebagai beban tekuk Euler untuk kolom yang dipin diujungnya. Defleksinya dapat dinyatakan dengan:
𝑃
πœ‹π‘₯
𝑦 = 𝐢𝑠𝑖𝑛 (𝐸𝑙 π‘₯) atau 𝑦 = 𝐢𝑠𝑖𝑛 𝐿
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat
Gambar 2: Alat Uji Buckling
ο‚·
Alat uji buckling (sudah termasuk dongkrak dan timbangan)
ο‚·
Sorong
ο‚·
Meteran
ο‚·
Adaptor engsel dan jepit
ο‚·
Kunci pas 10 mm
3.2 Bahan :
a. Batang aluminium
b. Batang besi
c. Batang stainless steel
3.3 Langkah kerja
1. Siapkan ketiga bahan logam yang akan diuji.
2. Ukur dimensi panjang dan lebar ketiga bahan tersebut.
3. Siapkan alat uji bukling pada tempat yang aman.
3.4 Pengujian Engsel - engsel
1. Pasang adaptor engsel pada ujung atas alat uji buckling dan pada ujung
dongkrak.
2. Kencangkan baut pengikat kedua adaptor engsel agar tidak meleset saat
ditekan.
3. Pasang satu batang yang akan diujikan pada kedua adaptor engsel, misalkan
adalah batang besi.
4. Pastikan posisi batang benar-benar duduk pada alur yang ada pada engsel agar
tidak meleset saat ditekan.
5. Setelah benar-benar aman, naikkan dongkrak dengan cara mengungkit pada
tuasnya secara perlahan-lahan.
6. Perhatikan jarum pada skala timbangan. Ketika gaya kritis dicapai, jarum tidak
akan bergerak lagi kearah tekanan yang lebih besar, saat jarum berhenti itulah
titik kritis didapat. Tulis pada tabel.
7. Lakukan lagi langkah 3 sampai 6 pada batang lainnya yang berbeda
(alumunium, besi, stailess steel).
3.5 Pengujian Engsel - jepit
1. Pasang adaptor engsel diatas dongkrak dan pasang adaptor jepit dibagian atas
alat, kencangkan baut pengikat.
2. Lakukan pengujian seperti yang dilakukan pada langkah 3 smapai 6 (Langkah
pengujian engsel-engsel) pada ketiga baang yang akan diuji.
3. Catat hasil pengujian pada tabel.
3.6 Lembar Data Praktikum
BEBAN PENEKANAN
BAHAN UJI
LEKUKAN
ENGSEL-
ENGSEL-
JEPIT-
ENGSEL-
ENGSEL-
JEPIT-
ENGSEL
JEPIT
JEPIT
ENGSEL
JEPIT
JEPIT
BAJA KARBON
8,1 kg
10,1 kg
7,7 kg
68,2 mm
70,5 mm
70,1 mm
BAJA STAINLESS
6,7 kg
7,3 kg
8,1 kg
66,5 mm
66,9 mm
67,6 mm
ALUMUNIUM
9,1 kg
10,6 kg
12,7 kg
65,8 mm
67,6 mm
68,8 mm
DIMENSI BAHAN
BAHAN UJI
PANJANG
LEBAR
TEBAL
BAJA KARBON
720 mm
26,5 mm
2,2 mm
BAJA STAINLESS
700 mm
29,7 mm
2 mm
ALUMUNIUM
700 mm
30,1 mm
2,1 mm
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Praktikum
BEBAN PENEKANAN
BAHAN UJI
LEKUKAN
ENGSEL-
ENGSEL-
JEPIT-
ENGSEL-
ENGSEL-
JEPIT-
ENGSEL
JEPIT
JEPIT
ENGSEL
JEPIT
JEPIT
BAJA KARBON
8,1 kg
10,1 kg
7,7 kg
68,2 mm
70,5 mm
70,1 mm
BAJA STAINLESS
6,7 kg
7,3 kg
8,1 kg
66,5 mm
66,9 mm
67,6 mm
ALUMUNIUM
9,1 kg
10,6 kg
12,7 kg
65,8 mm
67,6 mm
68,8 mm
DIMENSI BAHAN
BAHAN UJI
PANJANG
LEBAR
TEBAL
BAJA KARBON
720 mm
26,5 mm
2,2 mm
BAJA STAINLESS
700 mm
29,7 mm
2 mm
ALUMUNIUM
700 mm
30,1 mm
2,1 mm
4.2 Hasil Analisa
Dari pengujian yang dilakukan pada kegiatan praktikum diatas, diperoleh
hasil pengukuran dimensi bahan dan beban penekanan (gaya kritis) sebagai berikut :
1. Tabel pengukuran dimensi bahan
HASIL PENGUJIAN
BAHAN UJI
PANJANG (mm)
LEBAR
TEBAL
(mm)
(mm)
BAJA KARBON
720
26,5
2,2
BAJA STAINLESS
700
29,7
2
ALUMUNIUM
700
30,1
2,1
2. Tabel pengukuran beban penekanan
HASIL PENGUJIAN
BAHAN UJI
BAJA KARBON
BAJA STAINLESS
ALUMUNIUM
ENGSEL-
ENGSEL-
JEPIT-
ENGSEL
JEPIT
JEPIT
8,1 kg
6,7 kg
9,1 kg
10,1 kg
7,3 kg
10,6 kg
7,7 kg
8,1 kg
12,7 kg
Momen inersia
Dari hasil pengukuran dimensi bahan uji diatas, dapat kita hitung momen inersia
setiap bahan dengan menggunakan rumus :
𝐼=
π‘β„Ž3
12
Berikut adalah hasil perhitungan momen inersia bahan uji :
a. Baja Karbon
𝐼=
𝑏. β„Ž3 26,5(2,2)3
=
23,5 π‘šπ‘š4 = 2,35 × 10−11 π‘š4
12
12
b. Stainless steel
𝐼=
𝑏. β„Ž3 29,7(2)3
=
19,8 π‘šπ‘š4 = 1,98 × 10−11 π‘š4
12
12
c. Alumunium
𝐼=
𝑏. β„Ž3 30,1(2,1)3
=
23.2 π‘šπ‘š4 = 2,32 × 10−11 π‘š4
12
12
Tabel hasil perhitungan momen inersia :
Bahan Uji
Modulus Young (E)
Momen Inersia
Baja Karbon
207π‘₯109 𝑁/π‘š2
2,35π‘₯10−11 π‘š4
Stainless Steel
200π‘₯109 𝑁/π‘š2
1,98π‘₯10−11 π‘š4
Alumunium
70π‘₯109 𝑁/π‘š2
2,32π‘₯10−11 π‘š4
Beban penekanan (gaya kritis)
Secara teoritis, besarnya gaya kritis suatu bahan dapat kita hitung menggunakan
rumus-rumus berikut :
𝐸.𝐼
ο‚·
𝑃 = πœ‹2 2
ο‚·
𝑃 = 2,04. πœ‹ 2 2
ο‚·
𝑃 = 4. πœ‹ 2 2
Untuk Engsel – engsel
𝐿
𝐸.𝐼
𝐿
𝐸.𝐼
Untuk Engsel – Jepit
Untuk Jepit – jepit
𝐿
Berikut ini adalah hasil perhitungan gaya kritis teoritis menggunakan rumus diatas:
1. Engsel - engsel
1. Baja Karbon
𝐸. 𝐼
(207π‘₯109 )(2,35π‘₯10−11 )
2
𝑃 = πœ‹ 2 = (3,14)
= 92,51 𝑁
𝐿
0,722
2
2. Stainless Steel
𝑃 = πœ‹2
𝐸. 𝐼
(200π‘₯109 )(1,98π‘₯10−11 )
2
=
(3,14)
= 79,68 𝑁
𝐿2
0,702
3. Alumunium
𝐸. 𝐼
(70π‘₯109 )(2,32π‘₯10−11 )
2
𝑃 = πœ‹ 2 = (3,14)
= 32,68 𝑁
𝐿
0,702
2
2. Engsel – jepit
4. Baja Karbon
𝑃 = 2,04. πœ‹ 2
𝐸. 𝐼
(207π‘₯109 )(2,35π‘₯10−11 )
2
=
(2,04)(3,14)
𝐿2
0,722
= 188,71 𝑁
5. Stainless Steel
𝑃 = 2,04. πœ‹ 2
(200π‘₯109 )(1,98π‘₯10−11 )
𝐸. 𝐼
2
=
(2,04)(3,14)
𝐿2
0,702
= 162,55 𝑁
6. Alumunium
𝑃 = 2,04. πœ‹ 2
𝐸. 𝐼
(70π‘₯109 )(2,32π‘₯10−11 )
2
=
(2,04)(3,14)
= 66,66 𝑁
𝐿2
0,702
3. Engsel - engsel
7. Baja Karbon
𝑃 = 4. πœ‹ 2
𝐸. 𝐼
(207π‘₯109 )(2,35π‘₯10−11 )
2
=
(4)(3,14)
= 370,04 𝑁
𝐿2
0,722
8. Stainless Steel
𝐸. 𝐼
(200π‘₯109 )(1,98π‘₯10−11 )
2
𝑃 = 4. πœ‹ 2 = (4)(3,14)
= 318,73 𝑁
𝐿
0,702
2
9. Alumunium
𝑃 = 4. πœ‹ 2
𝐸. 𝐼
(70π‘₯109 )(2,32π‘₯10−11 )
2
=
(4)(3,14)
= 130,71 𝑁
𝐿2
0,702
Tabel dan diagram blok hasil perhitungan gaya kritis berdasarkan rumus (teoritis):
Gaya Kritis Teoritis
Bahan Uji
Engsel - engsel
Engsel - Jepit
Jepit - jepit
Baja Karbon
92,51 N
188,71 N
370,04 N
Stainless Steel
79,68 N
162,55 N
318,73 N
Alumunium
32,68 N
66,66 N
130,71 N
370,04
400
318,73
350
300
188,71
250
200
150
100
162,55
92,51
79,68
32,68
130,71
66,66
50
0
Engsel - engsel
Baja Karbon
Engsel - Jepit
Jepit - jepit
Stainless Steel
Alumunium
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. Pengujian buckling pada suatu logam dapat memberikan informasi kepada kita
tentang perbedaan nilai antara pengujian engsel-engsel, pengujian engsel-jepit
dan pengujian jepit-jepit.
2. Pengujian ini ditujukan untuk mengetahui Modulus Elastisitas(Modulus Young),
momen inersia dan gaya kritis suatu batang logam yang dijadikan bahan uji
buckling.
3. Sifat dan jenis logam pengujian dapat mempengaruhi beban yang dapat
diberikan dan jarak kelengkungan logam tersebut.
4. Hasil perhitungan secara teoritis berbeda dengan hasil pengukuran pada
pengujian buckling tetapi masing-masing memberikan hasil yang akurat.
5.2. Saran
Saran dari penyusun, untuk lebih menunjang kelancaran praktikum pengujian
buckling periode yang akan datang, pengelolaan dan perawatan alat uji buckling
harus lebih ditingkatkan. Selain itu penyampaian teori materi uji buckling perlu
ditambah lagi guna sebagai landasan pengumpulan data.
Download