ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA AMAN DAN NYAMAN NYERI PADA Ny. R DENGAN POST OPERASI TUMOR MAMAE DEXTRA DI RUANG ANGGREK RSU PRIMA MEDIKA PEMALANG DISUSUN OLEH WAHYU MEGA NINGRUM 112025040188 PROGRAM PROFESI NERS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS TAHUN 2026 ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN AMAN DAN NYAMAN NYERI POST OPERASI TUMOR MAMAE DEXTRA DI RUANG ANGGREK RSU PRIMA MEDIKA PEMALANG Nama Mahasiswa : Wahyu Mega Ningrum NIM : 112025040188 Hari/ tanggal ; 9 Mei 2026 Tempat praktek : Ruang Anggrek RSU Prima Medika Pemalang A. PENGKAJIAN 1. IDENTITAS a. Identitas Pasien Nama : Ny. R Umur : 63 tahun, 3 bulan, 1 hari Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Suku/Bangsa : Jawa/ Indonesia Pendidikan : SD Pekerjaan : Pedagang Alamat : Jl. kerinci wanarejan selatan Tanggal masuk Rs : 9 Mei 2026 No. RM:079942 Diagnosa Masuk : Tumor Mamae Dextra b. Penanggung jawab Nama : Tn. P Jenis Kelamin : laki-laki Umur : 67 tahun Status : Suami Pendidikan : SD Pekerjaan : Petani Alamat : Wanarejan Selatan 2. RIWAYAT KESEHATAN a. Keluhan utama Ny. R mengatakan bahwa paudara kanannya ada benjolan sudah lama dan semakin kesini semakin nyeri b. Riwayat Penyakit Sekarang Ny. R merasakan ada benjolan dipayudara sebelah kanannya sudah lama kurang lebih 6 bulan. Benjolan dirasakan semakin besar dan tambah nyeri, akhirnya ny.R memberanikan diri untuk periksa. c. Riwayat Kesehatan Dahulu Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit apapun d. Riwayat Alergi Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi apapun, baik obat maupun makanan. e. Riwayat Sosial Pasien mengatakan sebelum sakit dirinya masih aktif untuk mengerjakan semua pekerjaan-pekerjaan. f. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengatakan keluarganya tidak mempunyai riwayat penyakit diabetes militus, hipertensi, penyakit jantung, dll, serta tidak memiliki riwayat penyakit menular seperti Hepatitis dan TBC. 3. POLA FUNGSIONAL 1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan Ny. R mengatakan sudah bisa memahami dan menerima keadaannya sekarang. Klien dan keluarga mengatakan apabila ada anggota keluarganya yang sakit langsung dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. 2. Pola Nutrisi-Metabolik Sebelum sakit pasien mengatakan tidak ada masalah dengan pola makannya. Pasien mengatakan biasanya makan 3x sehari, minum air putih ± 2000 ml per hari dan tidak memiliki pantangan terhadap makanan. Hanya menjaga pola makan untuk mengurangi konsumsi nasi dan minum teh manis. Selama sakit pasien mengatakan tidak ada ada penurunan nafsu makan, Pasien mampu menghabiskan 1 porsi jatah makan dari rumah sakit, pasien minum ± 2000 ml perharinya. Antropometri: ๐ต๐ต 58 BB = 58 kg IMT = (๐๐ต)2 = (1,6)2 = 18,12 TB = 160 cm kategori = berat badan normal Biochemical: Leukosit = 10440 10ห3/uL Hemoglobin = 13,1 Eritrosit Hematokrit = 32,3% = 3,8310ห6/mL Clinical Sign : Pasien tampak lemas dan mukosa bibir lembab Dietary : Nasi 3. Pola Eliminasi Sebelum Sakit Pasien mengatakan BAB nya teratur 1x sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning kecoklatan. BAK lebih sering ± 9 – 10 kali sehari, warna kuning jernih. Sesudah Sakit Pasien mengatakan BAB nya teratur 1x sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning kecoklatan. BAK sering ± 7 – 8 kali sehari, warna kuning jernih. 4. Pola aktivitas dan Latihan Selama sakit Ny. R tampak lemas, hanya berbaring ditempat tidur 5. Pola kognitif dan Persepsi Klien dapat berkomunikasi dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan perawat. Pasien tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Klienhanya berbaring ditempat tidur. Dengan pengkajian nyeri didapatkan hasil: P = nyeri karena benjolan dipayudara kanan Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit R = nyeri pada payudara kanan S = skala nyeri 7 T = nyeri hilang timbul 6. Pola persepsi dan konsep diri Gambaran Diri: Pasien Ny. R tetap optimis dengan kondisi tubuhnya saat ini Ideal Diri : Pasien Ny. R mampu menerima kondisi dirinya Harga Diri : Pasien Ny. R mengatakan terkadang masih merasa malu dengan kondisinya. Pasien berusaha untuk tetap menerima dan mensyukuri apa yang terjadi pada dirinya Peran : Peran diri Pasien Ny. R minimal, baik sebagai ibu pekerja maupun ibu dari anak-anaknya Identitas : Pasien Ny. R mengetahui dirinya sebagai seorang istri dan ibu. 7. Pola Tidur dan Istirahat Terjadi perubahan pola istirahat sebelum dan setelah sakit. Sebelum sakit klien mengatakan biasa tidur siang selama 1 jam. Setelah sakit klien sering terbangun saat tidur malam dikarenakan merasa nyeri. 8. Pola hubungan dengan orang lain Klien mengatakan sebelum sakit dirinya masih aktif berosialisasi dengan tetangganya dan masih jualan. Setelah sakit peran pasien minimal karena harus dirawat di rumah sakit, sehingga pasien tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, tapi keluarganya selalu memberikan dukungan kepada pasien Ny. R. 9. Pola Seksual dan Reproduksi Klien berjenis kelamin Perempuan dan sudah menikah, memiliki seorang suami serta 4 anak, anak 1-2 perempuan, anak 2-4 laki-laki. Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit kelamin dan penyakit menular seksual lainnya. 10. Pola Mekanisme Koping Pasien Ny. R mengatakan saat mempunyai masalah, menyelesaikannya dengan cara bermusyawarah dengan keluarganya dan dalam melakukan pengambilan keputusan pasien dibantu oleh anak-anaknya. 11. Pola Nilai-Kepercayaan Klien mengatakan beragama Islam. Pasien menyerahkan sesuatu kepada Allah SWT, pasien hanya dapat berusaha dan berdoa semoga agar cepat diberi kesembuhan. 4. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : Baik Kesadaran : Composmentis, GCS : 15 E4 M6 V5 Tanda-tanda vital 1. Tekanan Darah : 120/80 mmHg 2. Nadi : 88x/ menit 3. RR : 20x/ menit 4. Suhu : 36แต C Pemeriksaan setiap system tubuh 1. Airway Pergerakan dada simetris Suara nafas Suara Dasar Vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan 2. B1 (Breathing) sistem pernafasan Inspeksi : bentuk dada normochest a. Inspeksi : bentuk dada normochest, pola nafas 22 x/ menit, tidak menggunakan otot bantu nafas, tidak tampak cuping hidung, tidak menggunakan alat bantu nafas b. Palpasi : vocal fremitus teraba getaran diseluruh lapang paru c. Perkusi : sonor d. Auskultasi : Suara Dasar Vesikuler, tidak terdapat suara nafas tambahan e. B2 (Circulation) sistem peredaran darah a. Inspeksi : CRT < 2 detik, konjungtiva tidak anemis b. Palpasi : akral hangat f. B3 (Neurologi) sistem persarafan a. GCS : 15 composmentis b. Olfaktorius: pasien mampu mencium bau pada kedua lubang hidung c. Optikus : pasien mampu membaca dengan jarak 30 cm d. Okulomotorikus, trokhlearis, abdusen: mampu melihat kesegala arah e. Trigeminus: pasien mampu merasakan rangsangan di dahi, pipi dan dagu. Pasien mampu mengunyah f. Facialis : pasien mampu merasakan rasa makanan, pasien mampu tersenyum simetris dan mengerutkan dahi. g. Akustikus : tidak ada gangguan pendengaran h. Glosofaringeus dan Vagus : pasien mampu menelan dan ada refleks muntah i. Aksesoris : pasien mampu mengangkat bahu j. Hipoglosus : pasien mampu menggerakan lidah ke segala arah g. B4 (Bladder) sistem perkemihan Tidak ada keluhan pada sistem perkemihan h. B5 (Bowel) sistem pencernaan a. Inspeksi : bentuk abdomen simetris, tidak ada distensi abdomen, tidak accites, tidak merasakan mual dan muntah. b. Auskultasi : peristaltik usus 10 x/ menit i. B6 (Bone) sistem musculoskeletal dan integument Warna kulit sawo matang, kakuatan otot 5 5 5 5 Ekstermitas atas dan bawah klien tidak ada gangguan maupun kelainaan. PQRST P = nyeri karena jahitan dipayudara sebelah kanan Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit R = nyeri pada payudara kanan S = skala nyeri 7 T = nyeri hilang timbul 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Leukosit 10,44 10ˆ3 IU/mL 3.6 – 11 Eritrosit 4,30 10ˆ6/Ul 3.8 – 5.2 Hemoglobin 13,1 g/dL 11.7 – 15.5 Hematokrit 38,1 % 35 – 47 MCV 30,5 fL 80 – 100 MCH 30,5 Pg 26 – 34 MCHC 34,4 g/dL 32 – 36 Trombosit 318 10ˆ3 IU/mL 150 – 440 RDW 12,6 % 11,6-14,8 MPV 8,3 fL 4,00-11,00 Waktu prothombin H 12,3 detik 9,4-11,3 PPT kontrol 14,4 detik HEMATOLOGI KOAGULASI Plasma prothombin time (PPT) Partial thromboplastin time (PTTK) Waktu thromboplastin 28,3 detik APTT kontrol 31,0 detik b. Pemeriksaan radiologi: terlampir c. Pemeriksaan ekg: terlampir d. Program terapi 9 Mei 2026 Infus RL 20 tpm Parasetamol 1 gr/ 8 jam iv Inj ceftriaxone 2x1 gr iv 23,4-31,5 Inj Ranitidine 2x50 mg Inj. Ketorolac 2x30 mg 10 Mei 2026 Infus RL 20 tpm Parasetamol mg/ 8 jam iv Inj ceftriaxone 2x1 gr iv Inj Ranitidine 2x50 mg Inj. Ketorolac 2x30 mg 11 Mei 2026 Infus RL 20 tpm Parasetamol 1 gr/ 8 jam iv Inj ceftriaxone 2x1 gr iv Inj Ranitidine 2x50 mg Inj. Ketorolac 2x30 mg A. ANALISIS DATA NO Tanggal/Jam Data Fokus Etiologi Daftar TTD Masalah 1. 9 Mei 2026/ DS : 09.00 WIB - Pasien mengeluh nyeri pada payudara sebelah kanan DO : Agen pencedera fisik (jahitan dipayudara kanan) - P = nyeri karena jahitan dipayudara kanan Nyeri akut wahyu - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit -R = nyeri pada payudara kanan - S = skala nyeri 7 - T = nyeri hilang timbul - Klien tampak meringis kesakitan 2. 9 Mei 2026/ DS : 09.00 WIB - Klien mengatakan badan Efek prosedur Resiko infasif infeksi terasa panas DO : - Terdapat jahitan post op pada payudara kanan - TD 120/70 - Nadi 89 - Suhu 38,1 - RR 20 B. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik 2. Resiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invansif Wahyu C. INTERVENSI KEPERAWATAN No Tanggal/ 1. Diagnosa Jam Keperawatan 9 Mei Nyeri 2026/ berhubungan 10 WIB .00 dengan Tujuan TTD Intervensi akut Setelah dilakukan Manajemen tindakan Nyeri Wahyu Identifikasi skala nyeri agen keperawatan selama pencedera 3x24 jam diharapkan biologis Nyeri Akut : Tingkat (benjolan Nyeri (L.08066) dipayudara dapat teratasi, kanan dengan kriteria hasil : 1. Ukur TTV klien 2. Identifikasi skala nyeri pasien 3. Anjurkan teknik nonfarmakologis menggunakan teknik relaksasi nafas dalam 1. Pasien untuk mengatakan mengurangi rasa nyeri keluhan nyeri menurun dari skala 7 ke skala 3 2. Wajah pasien tampak tidak 4. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai advise dokter meringis 2. 9 Mei Resiko infeksi Setelah 2026/ berhubungan 10.00 WIB dilakukan Pencegahan infeksi tindakan dengan efek keperawatan selama prosedur 3x24 jam diharapkan invansif pasien 1. Observasi kondisi luka pada operasi pasien melaporkan 2. Memonitor tingkat infeksi menurun dengan 3. Lakukan kriteria hasil: 1. Luka oprasi tidak kemerahan, tidak hasil laboratorium perawatan luka: ganti balut Wahyu bengkak dan 4. Kolaborasi tidak bernanah 2. Nafsu pemberian antibiotik makan sesuai advise dokter pasien meningkat ditandai dengan menghabiskan 1 porsi makan 3. Leukosit dalam batas normal (3,6 – 11 ribu) D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN No 1. Tanggal/ Diagnosa Jam Keperawatan 9 Mei Nyeri 2026/ berhubungan identifikasi dengan nyeri 12.00 WIB Implementasi akut 1.Melakukan agen TTD 1. S: Klien mengatakan payudara Wahyu kanan terasa nyeri O: pencedera 2. Mengukur biologis klien (benjolan skala Respon TTV - P = nyeri karena ada benjolan dipayudara kanan 3. Menganjurkan - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa dipayudara teknik senit senit kanan) nonfarmakologis - R = nyeri pada payudara kanan menggunakan - S = skala nyeri 7 teknik relaksasi - T = nyeri hilang timbul aromaterapi untuk mengurangi nyeri rasa 2. S: O: - TD 120/70 mmHg 4. Melakukan - Nadi 89x/menit kolaborasi - Suhu 38,7oC pemberian - RR 20x/menit analgetik sesuai advise dokter 3. S: klien mengatakan nyeri agak berkurang O: skala nyeri 6 4. S: klien mengatakan bersedia diberikan obat anti nyeri O: parasetamol 1 gr /8 jam Ketorolac 30 mg/ 8 jam 2. 9Mei Resiko 2026/ berhubungan observasi dengan luka operasi pada 10.15 WIB infeksi 1.Melakukan efek prosedur pasien invansif 2.Memonitor 1. S: Klien mengatakan luka jahitan Wahyu kondisi pada payudara kanan masih sakit O: luka klien masih belum kering 2.S: hasil laboratorium O: Hemoglobin 13,1 3.Melakukan - Leukosit 10440 kolaborasi - Trombosit 318000 pemberian - Gds:120 antibiotik sesuai advise dokter 3.S: klien mengatakan bersedia diberikan obat antibiotik K O: o - Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam l a b o r a s i 1. 10 Mei Nyeri 2026/ berhubungan 10.30 WIB dengan akut 1.Melakukan identifikasi 1. S: Klien mengatakan masih terasa skala nyeri agen nyeri pencedera fisik Wahyu O: 2.Mengukur TTV klien - P = nyeri karena jahitan dipayudara 3.Menganjurkan kanan teknik - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa nonfarmakologis senit senit menggunakan teknik - R = nyeri pada payuadra kanan relaksasi nafas untuk - S = skala nyeri 5 mengurangi rasa - T = nyeri hilang timbul nyeri 2.S: - 4.Melakukan O: kolaborasi - TD 110/70 mmHg pemberian analgetik - Nadi 107x/menit sesuai advise dokter - Suhu 36,9oC - RR 20x/menit 3. S: klien mengatakan nyeri berkurang O: pasien tampak menirukan Teknik nafas dalam 4.S: klien mengatakan bersedia diberikan obat anti nyeri O: parasetamol 500mg/8 jam Ketorolac 30mg/8 jam 2. 10 Mei Resiko 2026/ berhubungan dengan infeksi 1.Melakukan efek observasi 1. S: Klien mengatakan luka pada Wahyu kondisi payudara kanan nyerinya berkurang 11.30 prosedur luka WIB invansif pasien operasi pada O: luka klien tidak ada nanah dan kemerahan 2.Memonitor hasil 2.S: - laboratorium O: 3.Melakukan - GDS 113 perawatan luka: ganti - Hemoglobin 13,1 balut - Leukosit 10440 4.Melakukan Trombosit 318000 kolaborasi pemberian antibiotik 3.S: sesuai advise dokter O: klien dilakukan perawatan luka setelah operasi (10/5/2026) 4.S: klien mengatakan bersedia diberikan obat antibiotik O: - Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam 1. 11 Mei Nyeri 2026/ berhubungan 09.00 WIB dengan akut 1.Melakukan identifikasi 1. S: Klien mengatakan kakinya masih skala terasa nyeri agen nyeri O: pencedera fisik 2.Mengukur (Post Operasi) TTV klien - P = nyeri karena post operasi 3.Menganjurkan payudara kanan teknik - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa nonfarmakologis senit senit menggunakan teknik - R = nyeri pada kaki kanan relaksasi nafas - S = skala nyeri 4 daalam untuk - T = nyeri terus menerus mengurangi rasa 2.S: - nyeri O: Wahyu 4.Melakukan - TD 120/79 mmHg kolaborasi - Nadi 100x/menit pemberian analgetik - Suhu 37oC sesuai advise dokter - RR 20x/menit 3. S: klien mengatakan nyeri berkurang O: skala nyeri 4 4. S: klien mengatakan bersedia diberikan obat anti nyeri O: - Parasetamol 500mg/8 jam - Dexametasone tappering 10mg/ 12 jam 2. 11 Mei Resiko 2026/ berhubungan 09.30 WIB dengan infeksi 1.Melakukan observasi efek luka 1. S: Klien mengatakan luka pada Wahyu kondisi payudara operasi kanan klien sakitnya pada berkurang prosedur pasien O: luka klien tidak ada nanah, invansif 2..Melakukan kemerahan dan mulai membaik kolaborasi pemberian antibiotic 2.S: klien mengatakan bersedia dan anti nyeri sesuai diberikan obat antibiotik advise dokter O: - Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam - Injeksi ketorolac 30mg/8 jam - Inj pct 1gr/12 jam B. EVALUASI KEPERAWATAN No Tanggal/ jam 1. 9 Mei 2026/ 13.30 WIB Diagnosa Keperawatan Nyeri akut SOAP (subjectif, objektif, assasement, planning) berhubungan S: Klien mengatakan nyarinya agak berkurang dengan agen pencedera fisik setelah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam (Post Operasi) O: Skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi nafas dalam : - P = nyeri karena post operasi dipayudara kanan - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit - R = nyeri pada payudara kanan - S = skala nyeri 6 Skala nyeri setelah diberikan terapi relaksasi nafas dalam menjadi 6 - TD 120/70 mmHg - Nadi 89x/menit - Suhu 37,7oC - RR 20x/menit A: masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (Post Operasi) belum teratasi P: lanjutkan intervensi: 1. Identifikasi skala nyeri 2. Ukur TTV klien 3. Anjurkan terapi nonfarmakologis menggunakan terapi relaksasi aromaterapi untuk mengurangi rasa nyeri 4. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai advise dokter 2. 9 Mei 2026/ 13.30 WIB Resiko infeksi berhubungan S: dengan efek prosedur invansif (D.0139) - Klien mengatakan luka pada paydara kanan masih sakit - klien mengatakan bersedia diberikan obat antibiotik O: - luka klien masih belum kering Hemoglobin 13,1 - Leukosit 10440 - Trombosit 318000 - Gds:120 - klien dilakukan perawatan luka 32hari sekali setelah operasi - Injeksi pct 1gr/8 jam - Injeksi cfetriaxon 1gr/12 jam - Inj ketorolac 30mg/8jam - Inj ranitidine 50mg/12 jam - A: masalah Resiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invansif belum teratasi P: lanjutkan intervensi: - Observasi kondisi luka operasi pada pasien - Memonitor hasil laboratorium - Lakukan perawatan luka: ganti balut - Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advise dokter 1. 10 Mei 2026/ 14.30 WIB Nyeri akut berhubungan S: Klien mengatakan nyerinya berkurang setelah dengan agen pencedera fisik dilakukan teknik relaksasi nafas dalam (Post Operasi) (D.0077) O: Skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi nafas dalam : - P = nyeri karena post operasi payudara kanan - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit - R = nyeri pada payuadara kanan - S = skala nyeri 6 Skala nyeri setelah diberikan terapi relaksasi nafas dalam menjadi 5 - TD 120/70 mmHg - Nadi 89x/menit - Suhu 37,7oC - RR 20x/menit A: masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (Post Operasi) belum teratasi P: lanjutkan intervensi: 1.Identifikasi skala nyeri 2.Ukur TTV klien 3.Anjurkan terapi nonfarmakologis menggunakan terapi relaksasi aromaterapi untuk mengurangi rasa nyeri 4.Kolaborasi pemberian analgetik sesuai advise dokter 2. 10 Mei 2026 14.30 WIB Resiko infeksi berhubungan S: dengan efek prosedur invansif - Klien mengatakan luka pada luka jahitan dipayudara kanan sakitnya berkurang O: - luka klien tidak ada nanah dan kemerahan - Klien dilakukan perawatan luka setelah operasi (10/5/2026) - Injeksi pct 1 gr/12 jam - Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam - Inj ketorolac 30mg/12 jam - Injeksi ranitidine 50 mg/12 jaam A: masalah Resiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invansif belum teratasi P: lanjutkan intervensi: - Observasi kondisi luka operasi pada pasien - Memonitor hasil laboratorium - Lakukan perawatan luka: ganti balut - Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advise dokter 1. 11 Mei 2026/ 10.00 WIB Nyeri akut berhubungan S: Klien mengatakan nyerinya berkurang setelah dengan agen pencedera fisik dilakukan teknik relaksasi nafas dalam (Post Operasi) O: Skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi nafas dalam : - P = nyeri karena post operasi dipayudara kanan - Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit - R = nyeri pada payudara kanan - S = skala nyeri 3 Skala nyeri setelah diberikan terapi relaksasi nafas dalam menjadi 3 - klien dilakukan perawatan luka dan luka mulai membaik A: masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (Post Operasi) teratasi P: hentikan intervensi - Dengan tatap mempertahankan kondisi sekarang - Apabila merasakan nyeri lakukan Teknik relaksasi nafas dalam 2. 11 Mei 2026/ 10.30 WIB Resiko infeksi berhubungan S: dengan efek prosedur invansif - Klien mengatakan luka pada kaki kiri klien sakitnya berkurang - klien mengatakan kakinya lebih nyaman setelah dilakukan perawatan luka - klien mengatakan bersedia diberikan obat antibiotic O: - luka klien tidak ada nanah, kemerahan dan mulai membaik - GDS 113 Hemoglobin 13,1 - Leukosit 10440 - Trombosit 318000 - Gds:120 - Injeksi pct 1 gr/12 jam - Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam - Inj ketorolac 30mg/12 jam - Injeksi ranitidine 50 mg/12 jaam A: masalah Resiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invansif teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi: - Observasi kondisi luka operasi pada pasien - Memonitor hasil laboratorium - Lakukan perawatan luka: ganti balut - Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advise dokter