Uploaded by common.user152465

Asuhan Keperawatan Nyeri Pasca Operasi Tumor Payudara

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA AMAN DAN NYAMAN NYERI PADA
Ny. R DENGAN POST OPERASI TUMOR MAMAE DEXTRA DI RUANG ANGGREK
RSU PRIMA MEDIKA PEMALANG
DISUSUN OLEH
WAHYU MEGA NINGRUM
112025040188
PROGRAM PROFESI NERS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2026
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN AMAN DAN NYAMAN
NYERI POST OPERASI TUMOR MAMAE DEXTRA DI RUANG ANGGREK
RSU PRIMA MEDIKA PEMALANG
Nama Mahasiswa
: Wahyu Mega Ningrum
NIM
: 112025040188
Hari/ tanggal
; 9 Mei 2026
Tempat praktek
: Ruang Anggrek RSU Prima Medika Pemalang
A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
a. Identitas Pasien
Nama
: Ny. R
Umur
: 63 tahun, 3 bulan, 1 hari
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Suku/Bangsa
: Jawa/ Indonesia
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Pedagang
Alamat
: Jl. kerinci wanarejan selatan
Tanggal masuk Rs
: 9 Mei 2026 No. RM:079942
Diagnosa Masuk
: Tumor Mamae Dextra
b. Penanggung jawab
Nama
: Tn. P
Jenis Kelamin
: laki-laki
Umur
: 67 tahun
Status
: Suami
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Petani
Alamat
: Wanarejan Selatan
2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan utama
Ny. R mengatakan bahwa paudara kanannya ada benjolan sudah lama dan semakin kesini
semakin nyeri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. R merasakan ada benjolan dipayudara sebelah kanannya sudah lama kurang lebih 6
bulan. Benjolan dirasakan semakin besar dan tambah nyeri, akhirnya ny.R memberanikan
diri untuk periksa.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit apapun
d. Riwayat Alergi
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi apapun, baik obat maupun makanan.
e. Riwayat Sosial
Pasien mengatakan sebelum sakit dirinya masih aktif untuk mengerjakan semua
pekerjaan-pekerjaan.
f. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan keluarganya tidak mempunyai riwayat penyakit diabetes militus,
hipertensi, penyakit jantung, dll, serta tidak memiliki riwayat penyakit menular seperti
Hepatitis dan TBC.
3. POLA FUNGSIONAL
1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Ny. R mengatakan sudah bisa memahami dan menerima keadaannya sekarang. Klien dan
keluarga mengatakan apabila ada anggota keluarganya yang sakit langsung dibawa ke pusat
pelayanan kesehatan terdekat.
2. Pola Nutrisi-Metabolik
Sebelum sakit pasien mengatakan tidak ada masalah dengan pola makannya. Pasien
mengatakan biasanya makan 3x sehari, minum air putih ± 2000 ml per hari dan tidak
memiliki pantangan terhadap makanan. Hanya menjaga pola makan untuk mengurangi
konsumsi nasi dan minum teh manis. Selama sakit pasien mengatakan tidak ada ada
penurunan nafsu makan, Pasien mampu menghabiskan 1 porsi jatah makan dari rumah sakit,
pasien minum ± 2000 ml perharinya.
Antropometri:
๐ต๐ต
58
BB = 58 kg
IMT
= (๐‘‡๐ต)2 = (1,6)2 = 18,12
TB = 160 cm
kategori = berat badan normal
Biochemical:
Leukosit = 10440 10ห„3/uL
Hemoglobin = 13,1
Eritrosit
Hematokrit = 32,3%
= 3,8310ห„6/mL
Clinical Sign
: Pasien tampak lemas dan mukosa bibir lembab
Dietary
: Nasi
3. Pola Eliminasi
Sebelum Sakit
Pasien mengatakan BAB nya teratur 1x sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning
kecoklatan. BAK lebih sering ± 9 – 10 kali sehari, warna kuning jernih.
Sesudah Sakit
Pasien mengatakan BAB nya teratur 1x sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning
kecoklatan. BAK sering ± 7 – 8 kali sehari, warna kuning jernih.
4. Pola aktivitas dan Latihan
Selama sakit Ny. R tampak lemas, hanya berbaring ditempat tidur
5. Pola kognitif dan Persepsi
Klien dapat berkomunikasi dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan perawat. Pasien
tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Klienhanya berbaring ditempat tidur. Dengan
pengkajian nyeri didapatkan hasil:
P = nyeri karena benjolan dipayudara kanan
Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit
R = nyeri pada payudara kanan
S = skala nyeri 7
T = nyeri hilang timbul
6. Pola persepsi dan konsep diri
Gambaran Diri: Pasien Ny. R tetap optimis dengan kondisi tubuhnya saat ini
Ideal Diri
: Pasien Ny. R mampu menerima kondisi dirinya
Harga Diri
: Pasien Ny. R mengatakan terkadang masih merasa malu dengan
kondisinya. Pasien berusaha untuk tetap menerima dan mensyukuri apa yang terjadi pada
dirinya
Peran
: Peran diri Pasien Ny. R minimal, baik sebagai ibu pekerja maupun ibu dari
anak-anaknya
Identitas
: Pasien Ny. R mengetahui dirinya sebagai seorang istri dan ibu.
7. Pola Tidur dan Istirahat
Terjadi perubahan pola istirahat sebelum dan setelah sakit. Sebelum sakit klien mengatakan
biasa tidur siang selama 1 jam. Setelah sakit klien sering terbangun saat tidur malam
dikarenakan merasa nyeri.
8. Pola hubungan dengan orang lain
Klien mengatakan sebelum sakit dirinya masih aktif berosialisasi dengan tetangganya dan
masih jualan. Setelah sakit peran pasien minimal karena harus dirawat di rumah sakit,
sehingga pasien tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, tapi keluarganya selalu memberikan
dukungan kepada pasien Ny. R.
9. Pola Seksual dan Reproduksi
Klien berjenis kelamin Perempuan dan sudah menikah, memiliki seorang suami serta 4 anak,
anak 1-2 perempuan, anak 2-4 laki-laki. Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit
kelamin dan penyakit menular seksual lainnya.
10. Pola Mekanisme Koping
Pasien Ny. R mengatakan saat mempunyai masalah, menyelesaikannya dengan cara
bermusyawarah dengan keluarganya dan dalam melakukan pengambilan keputusan pasien
dibantu oleh anak-anaknya.
11. Pola Nilai-Kepercayaan
Klien mengatakan beragama Islam. Pasien menyerahkan sesuatu kepada Allah SWT, pasien
hanya dapat berusaha dan berdoa semoga agar cepat diberi kesembuhan.
4. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Baik
Kesadaran
: Composmentis, GCS : 15 E4 M6 V5
Tanda-tanda vital
1. Tekanan Darah
: 120/80 mmHg
2. Nadi
: 88x/ menit
3. RR
: 20x/ menit
4. Suhu
: 36แต’ C
Pemeriksaan setiap system tubuh
1. Airway
Pergerakan dada simetris
Suara nafas Suara Dasar Vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan
2. B1 (Breathing) sistem pernafasan
Inspeksi : bentuk dada normochest
a. Inspeksi
: bentuk dada normochest, pola nafas 22 x/ menit, tidak menggunakan otot
bantu nafas, tidak tampak cuping hidung, tidak menggunakan alat bantu nafas
b. Palpasi
: vocal fremitus teraba getaran diseluruh lapang paru
c. Perkusi
: sonor
d. Auskultasi : Suara Dasar Vesikuler, tidak terdapat suara nafas tambahan
e. B2 (Circulation) sistem peredaran darah
a. Inspeksi
: CRT < 2 detik, konjungtiva tidak anemis
b. Palpasi
: akral hangat
f. B3 (Neurologi) sistem persarafan
a. GCS
: 15 composmentis
b. Olfaktorius: pasien mampu mencium bau pada kedua lubang hidung
c. Optikus
: pasien mampu membaca dengan jarak 30 cm
d. Okulomotorikus, trokhlearis, abdusen: mampu melihat kesegala arah
e. Trigeminus: pasien mampu merasakan rangsangan di dahi, pipi dan dagu. Pasien
mampu mengunyah
f. Facialis : pasien mampu merasakan rasa makanan, pasien mampu tersenyum simetris
dan mengerutkan dahi.
g. Akustikus : tidak ada gangguan pendengaran
h. Glosofaringeus dan Vagus : pasien mampu menelan dan ada refleks muntah
i. Aksesoris : pasien mampu mengangkat bahu
j. Hipoglosus : pasien mampu menggerakan lidah ke segala arah
g. B4 (Bladder) sistem perkemihan
Tidak ada keluhan pada sistem perkemihan
h. B5 (Bowel) sistem pencernaan
a. Inspeksi : bentuk abdomen simetris, tidak ada distensi abdomen, tidak accites, tidak
merasakan mual dan muntah.
b. Auskultasi : peristaltik usus 10 x/ menit
i. B6 (Bone) sistem musculoskeletal dan integument
Warna kulit sawo matang, kakuatan otot
5
5
5
5
Ekstermitas atas dan bawah klien tidak ada gangguan maupun kelainaan.
PQRST
P = nyeri karena jahitan dipayudara sebelah kanan
Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit
R = nyeri pada payudara kanan
S = skala nyeri 7
T = nyeri hilang timbul
5.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan
Hasil
Satuan
Nilai Normal
Leukosit
10,44
10ˆ3 IU/mL
3.6 – 11
Eritrosit
4,30
10ˆ6/Ul
3.8 – 5.2
Hemoglobin
13,1
g/dL
11.7 – 15.5
Hematokrit
38,1
%
35 – 47
MCV
30,5
fL
80 – 100
MCH
30,5
Pg
26 – 34
MCHC
34,4
g/dL
32 – 36
Trombosit
318
10ˆ3 IU/mL
150 – 440
RDW
12,6
%
11,6-14,8
MPV
8,3
fL
4,00-11,00
Waktu prothombin
H 12,3
detik
9,4-11,3
PPT kontrol
14,4
detik
HEMATOLOGI
KOAGULASI
Plasma prothombin time (PPT)
Partial thromboplastin time (PTTK)
Waktu thromboplastin
28,3
detik
APTT kontrol
31,0
detik
b. Pemeriksaan radiologi: terlampir
c. Pemeriksaan ekg: terlampir
d. Program terapi
9 Mei 2026
Infus RL 20 tpm
Parasetamol 1 gr/ 8 jam iv
Inj ceftriaxone 2x1 gr iv
23,4-31,5
Inj Ranitidine 2x50 mg
Inj. Ketorolac 2x30 mg
10 Mei 2026
Infus RL 20 tpm
Parasetamol mg/ 8 jam iv
Inj ceftriaxone 2x1 gr iv
Inj Ranitidine 2x50 mg
Inj. Ketorolac 2x30 mg
11 Mei 2026
Infus RL 20 tpm
Parasetamol 1 gr/ 8 jam iv
Inj ceftriaxone 2x1 gr iv
Inj Ranitidine 2x50 mg
Inj. Ketorolac 2x30 mg
A. ANALISIS DATA
NO Tanggal/Jam
Data Fokus
Etiologi
Daftar
TTD
Masalah
1.
9 Mei 2026/
DS :
09.00 WIB
- Pasien mengeluh nyeri pada
payudara sebelah kanan
DO :
Agen
pencedera fisik
(jahitan
dipayudara
kanan)
- P = nyeri karena jahitan
dipayudara kanan
Nyeri akut
wahyu
- Q = nyeri seperti ditusuk dan
terasa senit senit
-R
= nyeri pada payudara
kanan
- S = skala nyeri 7
- T = nyeri hilang timbul
- Klien
tampak
meringis
kesakitan
2.
9 Mei 2026/
DS :
09.00 WIB
- Klien mengatakan badan
Efek prosedur
Resiko
infasif
infeksi
terasa panas
DO :
- Terdapat jahitan post op
pada payudara kanan
- TD 120/70
- Nadi 89
- Suhu 38,1
- RR 20
B. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invansif
Wahyu
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Tanggal/
1.
Diagnosa
Jam
Keperawatan
9 Mei
Nyeri
2026/
berhubungan
10
WIB
.00
dengan
Tujuan
TTD
Intervensi
akut Setelah
dilakukan Manajemen
tindakan
Nyeri Wahyu
Identifikasi skala nyeri
agen keperawatan selama
pencedera
3x24 jam diharapkan
biologis
Nyeri Akut : Tingkat
(benjolan
Nyeri
(L.08066)
dipayudara
dapat
teratasi,
kanan
dengan kriteria hasil
:
1. Ukur TTV klien
2. Identifikasi
skala
nyeri pasien
3. Anjurkan
teknik
nonfarmakologis
menggunakan teknik
relaksasi nafas dalam
1. Pasien
untuk
mengatakan
mengurangi
rasa nyeri
keluhan
nyeri
menurun
dari
skala 7 ke skala 3
2. Wajah
pasien
tampak
tidak
4. Kolaborasi pemberian
analgetik
sesuai
advise dokter
meringis
2.
9 Mei
Resiko infeksi Setelah
2026/
berhubungan
10.00
WIB
dilakukan Pencegahan infeksi
tindakan
dengan
efek keperawatan selama
prosedur
3x24 jam diharapkan
invansif
pasien
1. Observasi
kondisi
luka
pada
operasi
pasien
melaporkan 2. Memonitor
tingkat
infeksi
menurun
dengan 3. Lakukan
kriteria hasil:
1. Luka oprasi tidak
kemerahan, tidak
hasil
laboratorium
perawatan
luka: ganti balut
Wahyu
bengkak
dan 4. Kolaborasi
tidak bernanah
2. Nafsu
pemberian antibiotik
makan
sesuai advise dokter
pasien meningkat
ditandai
dengan
menghabiskan 1
porsi makan
3. Leukosit
dalam
batas normal (3,6
– 11 ribu)
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No
1.
Tanggal/
Diagnosa
Jam
Keperawatan
9 Mei
Nyeri
2026/
berhubungan
identifikasi
dengan
nyeri
12.00
WIB
Implementasi
akut 1.Melakukan
agen
TTD
1. S: Klien mengatakan payudara
Wahyu
kanan terasa nyeri
O:
pencedera
2. Mengukur
biologis
klien
(benjolan
skala
Respon
TTV - P = nyeri karena ada benjolan
dipayudara kanan
3. Menganjurkan
- Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa
dipayudara
teknik
senit senit
kanan)
nonfarmakologis
- R = nyeri pada payudara kanan
menggunakan
- S = skala nyeri 7
teknik
relaksasi - T = nyeri hilang timbul
aromaterapi untuk
mengurangi
nyeri
rasa
2. S: O:
- TD 120/70 mmHg
4. Melakukan
- Nadi 89x/menit
kolaborasi
- Suhu 38,7oC
pemberian
- RR 20x/menit
analgetik
sesuai
advise dokter
3. S: klien mengatakan nyeri agak
berkurang
O: skala nyeri 6
4. S: klien mengatakan bersedia
diberikan obat anti nyeri
O: parasetamol 1 gr /8 jam
Ketorolac 30 mg/ 8 jam
2.
9Mei
Resiko
2026/
berhubungan
observasi
dengan
luka operasi pada
10.15
WIB
infeksi 1.Melakukan
efek
prosedur
pasien
invansif
2.Memonitor
1. S: Klien mengatakan luka jahitan Wahyu
kondisi pada payudara kanan masih sakit
O: luka klien masih belum kering
2.S: hasil
laboratorium
O:
Hemoglobin 13,1
3.Melakukan
- Leukosit 10440
kolaborasi
- Trombosit 318000
pemberian
- Gds:120
antibiotik
sesuai
advise dokter
3.S:
klien
mengatakan
bersedia
diberikan obat antibiotik
K
O:
o
- Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam
l
a
b
o
r
a
s
i
1.
10 Mei
Nyeri
2026/
berhubungan
10.30
WIB
dengan
akut 1.Melakukan
identifikasi
1. S: Klien mengatakan masih terasa
skala nyeri
agen nyeri
pencedera fisik
Wahyu
O:
2.Mengukur
TTV
klien
- P = nyeri karena jahitan dipayudara
3.Menganjurkan
kanan
teknik
- Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa
nonfarmakologis
senit senit
menggunakan teknik - R = nyeri pada payuadra kanan
relaksasi nafas untuk - S = skala nyeri 5
mengurangi
rasa - T = nyeri hilang timbul
nyeri
2.S: -
4.Melakukan
O:
kolaborasi
- TD 110/70 mmHg
pemberian analgetik - Nadi 107x/menit
sesuai advise dokter - Suhu 36,9oC
- RR 20x/menit
3. S: klien mengatakan nyeri
berkurang
O: pasien tampak menirukan Teknik
nafas dalam
4.S: klien mengatakan bersedia
diberikan obat anti nyeri
O: parasetamol 500mg/8 jam
Ketorolac 30mg/8 jam
2.
10 Mei
Resiko
2026/
berhubungan
dengan
infeksi 1.Melakukan
efek
observasi
1. S: Klien mengatakan luka pada Wahyu
kondisi payudara kanan nyerinya berkurang
11.30
prosedur
luka
WIB
invansif
pasien
operasi
pada
O: luka klien tidak ada nanah dan
kemerahan
2.Memonitor
hasil 2.S: -
laboratorium
O:
3.Melakukan
- GDS 113
perawatan luka: ganti - Hemoglobin 13,1
balut
- Leukosit 10440
4.Melakukan
Trombosit 318000
kolaborasi
pemberian antibiotik 3.S: sesuai advise dokter
O: klien dilakukan perawatan luka
setelah operasi (10/5/2026)
4.S:
klien
mengatakan
bersedia
diberikan obat antibiotik
O:
- Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam
1.
11 Mei
Nyeri
2026/
berhubungan
09.00
WIB
dengan
akut 1.Melakukan
identifikasi
1. S: Klien mengatakan kakinya masih
skala terasa nyeri
agen nyeri
O:
pencedera fisik 2.Mengukur
(Post Operasi)
TTV
klien
- P = nyeri karena post operasi
3.Menganjurkan
payudara kanan
teknik
- Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa
nonfarmakologis
senit senit
menggunakan teknik - R = nyeri pada kaki kanan
relaksasi
nafas - S = skala nyeri 4
daalam
untuk - T = nyeri terus menerus
mengurangi
rasa 2.S: -
nyeri
O:
Wahyu
4.Melakukan
- TD 120/79 mmHg
kolaborasi
- Nadi 100x/menit
pemberian analgetik - Suhu 37oC
sesuai advise dokter
- RR 20x/menit
3. S: klien mengatakan nyeri
berkurang
O: skala nyeri 4
4. S: klien mengatakan bersedia
diberikan obat anti nyeri
O:
- Parasetamol 500mg/8 jam
- Dexametasone tappering 10mg/ 12
jam
2.
11 Mei
Resiko
2026/
berhubungan
09.30
WIB
dengan
infeksi 1.Melakukan
observasi
efek luka
1. S: Klien mengatakan luka pada Wahyu
kondisi payudara
operasi
kanan
klien
sakitnya
pada berkurang
prosedur
pasien
O: luka klien tidak ada nanah,
invansif
2..Melakukan
kemerahan dan mulai membaik
kolaborasi
pemberian antibiotic 2.S:
klien
mengatakan
bersedia
dan anti nyeri sesuai diberikan obat antibiotik
advise dokter
O:
- Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam
- Injeksi ketorolac 30mg/8 jam
- Inj pct 1gr/12 jam
B. EVALUASI KEPERAWATAN
No
Tanggal/ jam
1.
9 Mei 2026/
13.30 WIB
Diagnosa Keperawatan
Nyeri
akut
SOAP (subjectif, objektif, assasement, planning)
berhubungan S: Klien mengatakan nyarinya agak berkurang
dengan agen pencedera fisik setelah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam
(Post Operasi)
O:
Skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi nafas
dalam :
- P = nyeri karena post operasi dipayudara kanan
- Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit
- R = nyeri pada payudara kanan
- S = skala nyeri 6
Skala nyeri setelah diberikan terapi relaksasi nafas
dalam menjadi 6
- TD 120/70 mmHg
- Nadi 89x/menit
- Suhu 37,7oC
- RR 20x/menit
A: masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera fisik (Post Operasi) belum teratasi
P: lanjutkan intervensi:
1. Identifikasi skala nyeri
2. Ukur TTV klien
3. Anjurkan terapi nonfarmakologis menggunakan
terapi relaksasi aromaterapi untuk mengurangi
rasa nyeri
4. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai advise
dokter
2.
9 Mei 2026/
13.30 WIB
Resiko infeksi berhubungan S:
dengan efek prosedur invansif
(D.0139)
- Klien mengatakan luka pada paydara kanan masih
sakit
- klien mengatakan bersedia diberikan obat
antibiotik
O:
- luka klien masih belum kering
Hemoglobin 13,1
- Leukosit 10440
- Trombosit 318000
- Gds:120
- klien dilakukan perawatan luka 32hari sekali
setelah operasi
- Injeksi pct 1gr/8 jam
- Injeksi cfetriaxon 1gr/12 jam
- Inj ketorolac 30mg/8jam
- Inj ranitidine 50mg/12 jam
- A: masalah Resiko infeksi berhubungan dengan
efek prosedur invansif belum teratasi
P: lanjutkan intervensi:
- Observasi kondisi luka operasi pada pasien
- Memonitor hasil laboratorium
- Lakukan perawatan luka: ganti balut
- Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advise
dokter
1.
10 Mei 2026/
14.30 WIB
Nyeri
akut
berhubungan S: Klien mengatakan nyerinya berkurang setelah
dengan agen pencedera fisik dilakukan teknik relaksasi nafas dalam
(Post Operasi) (D.0077)
O:
Skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi nafas
dalam :
- P = nyeri karena post operasi payudara kanan
- Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit
- R = nyeri pada payuadara kanan
- S = skala nyeri 6
Skala nyeri setelah diberikan terapi relaksasi nafas
dalam menjadi 5
- TD 120/70 mmHg
- Nadi 89x/menit
- Suhu 37,7oC
- RR 20x/menit
A: masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera fisik (Post Operasi) belum teratasi
P: lanjutkan intervensi:
1.Identifikasi skala nyeri
2.Ukur TTV klien
3.Anjurkan terapi nonfarmakologis menggunakan
terapi relaksasi aromaterapi untuk mengurangi rasa
nyeri
4.Kolaborasi pemberian analgetik sesuai advise
dokter
2.
10 Mei 2026
14.30 WIB
Resiko infeksi berhubungan S:
dengan efek prosedur invansif
- Klien mengatakan luka pada luka jahitan
dipayudara kanan sakitnya berkurang
O:
- luka klien tidak ada nanah dan kemerahan
- Klien dilakukan perawatan luka setelah operasi
(10/5/2026)
- Injeksi pct 1 gr/12 jam
- Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam
- Inj ketorolac 30mg/12 jam
- Injeksi ranitidine 50 mg/12 jaam
A: masalah Resiko infeksi berhubungan dengan
efek prosedur invansif belum teratasi
P: lanjutkan intervensi:
- Observasi kondisi luka operasi pada pasien
- Memonitor hasil laboratorium
- Lakukan perawatan luka: ganti balut
- Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advise
dokter
1.
11 Mei 2026/
10.00 WIB
Nyeri
akut
berhubungan S: Klien mengatakan nyerinya berkurang setelah
dengan agen pencedera fisik dilakukan teknik relaksasi nafas dalam
(Post Operasi)
O:
Skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi nafas
dalam :
- P = nyeri karena post operasi dipayudara kanan
- Q = nyeri seperti ditusuk dan terasa senit senit
- R = nyeri pada payudara kanan
- S = skala nyeri 3
Skala nyeri setelah diberikan terapi relaksasi nafas
dalam menjadi 3
- klien dilakukan perawatan luka dan luka mulai
membaik
A: masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera fisik (Post Operasi) teratasi
P: hentikan intervensi
- Dengan tatap mempertahankan kondisi sekarang
- Apabila merasakan nyeri lakukan Teknik
relaksasi nafas dalam
2.
11 Mei 2026/
10.30 WIB
Resiko infeksi berhubungan S:
dengan efek prosedur invansif
- Klien mengatakan luka pada kaki kiri klien
sakitnya berkurang
- klien mengatakan kakinya lebih nyaman setelah
dilakukan perawatan luka
- klien mengatakan bersedia diberikan obat
antibiotic
O:
- luka klien tidak ada nanah, kemerahan dan mulai
membaik
- GDS 113
Hemoglobin 13,1
- Leukosit 10440
- Trombosit 318000
- Gds:120
- Injeksi pct 1 gr/12 jam
- Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam
- Inj ketorolac 30mg/12 jam
- Injeksi ranitidine 50 mg/12 jaam
A: masalah Resiko infeksi berhubungan dengan
efek prosedur invansif teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi:
- Observasi kondisi luka operasi pada pasien
- Memonitor hasil laboratorium
- Lakukan perawatan luka: ganti balut
- Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advise
dokter
Download