Uploaded by common.user152099

Rekonstruksi Etika Pembangunan HRBA di Rempang Eco-City

advertisement
MEMBANGUN TANPA MENGGUSUR: REKONSTRUKSI ETIKA
PEMBANGUNAN BERBASIS HUMAN RIGHTS-BASED APPROACH PADA KASUS
REMPANG ECO-CITY KEPULAUAN RIAU
Tegar Pramudya
Universitas Brawijaya
081394507453
[email protected]
PENDAHULUAN​
Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, ambisi Indonesia dalam pembangunan
ekonomi sudah bergeser menjadi ambisi kolektif yang berfokuskan Proyek Strategis Nasional
(PSN). Berdasarkan pada harapannya, PSN merupakan katalisator pelicin kemajuan yang
menjanjikan masyarakat seputar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), perbaikan
tenaga kerja, dan pemerataan infrastruktur. Akan tetapi, dibalik hal-hal yang baik tersebut
terselip realitas sosiologis yang mengganjal, dimana kekuatan hegemonik masih saja
memaksa masyarakat lokal untuk “mengalah” demi apa yang disebut kepentingan bersama
dalam hal pembangunan nasional.
​
Konflik di Pulau Rempang, Kepulauan Riau, bukan sekedar sengketa lahan biasa.
Peristiwa ini adalah potret nyata bagaimana ambisi besar ekonomi seringkali berbenturan
keras dengan perlindungan hak asasi manusia. Melalui Permenko Ekon Nomor 7 Tahun 2023,
pemerintah berencana menyulap pulau ini menjadi kawasan industri raksasa bernama
Rempang Eco-City. Nilai investasinya pun tidak main-main, mencapai Rp. 175 triliun
(Kemenko Perekonomian, 2023). Namun, dibalik angka yang fantastis itu, ada fakta yang
terlupakan: proyek seluas 17.000 hektar ini direncanakan berdiri tepat di atas 16 Kampung
Tua. Dari sudut pandang masyarakat Rempang tentu kampung-kampung tua itu bukan
sekedar garis batas di atas proyek, melainkan akar sejarah yang telah mereka jaga selama
hampir 2 abad. Tanah ini adalah identitas dan ruang hidup yang diwariskan secara
turun-temurun. Sayangnya, rencana relokasi paksa demi mengakomodasi investasi Xinyi
Group seolah menafikan hubungan batin tersebut. Kebijakan yang terkesan buru-buru inilah
yang pada akhirnya menyulut api kemarahan warga, hingga meletus menjadi bentrokan fisik
yang meninggalkan trauma mendalam bagi mereka yang bertahan.
​
Tragedi Rempang ini sebenarnya menjadi cermin retak bagi arsitektur pembangunan
kita, yang jika dibedah secara hukum dan moral, tampak sangat kering akan rasa empati. Di
lapangan, kita masih menyaksikan wajah kekuasaan yang cenderung dingin dan
transaksional: sebuah logika usang yang seolah menghalalkan pengorbanan hak komunitas
kecil demi mengejar grafik pertumbuhan ekonomi makro. Padahal, kita sejatinya memiliki
opsi untuk menempuh jalan pembangunan yang lebih beradab, di mana ‘investasi’ tidak
diletakkan sebagai musuh bagi harkat ‘manusia’. Akar persoalannya terletak pada pengabaian
prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC). Pada hakikatnya, masyarakat adat berhak
memiliki kedaulatan mutlak untuk menerima atau menolak sebuah proyek sejak fase
perencanaan, tanpa bayang-bayang intimidasi. Namun, ketika hak fundamental ini
diamputasi, masyarakat yang semestinya berperan sebagai aktor utama justru tergilas dan
berakhir menjadi korban dari ambisi kemajuan itu sendiri (Komnas HAM, 2023).
​
Berangkat dari realitas tersebut, esai ini ditulis dengan intensi yang melampaui
sekadar kritik;
tulisan ini menawarkan sebuah peta jalan untuk merajut ulang etika
pembangunan bangsa yang kian timpang. Fokus utamanya adalah mengurai konsepsi Human
Rights-Based Approach (HRBA) sebuah pendekatan berbasis HAM yang hadir sebagai
antitesis bagi model pembangunan yang represif. Melalui kacamata HRBA, kita didorong
untuk merombak paradigma: rakyat tidak boleh lagi dipandang sebagai ‘objek’ yang cukup
dibungkam dengan kompensasi materi, melainkan sebagai subjek berdaulat yang memegang
kendali penuh atas nasib ruang hidupnya. Dengan merefleksikan tragedi Rempang, tulisan ini
berikhtiar mencari titik temu agar kearifan lokal dapat hidup berdampingan dalam napas
Proyek Strategis Nasional (PSN). Cita-citanya sederhana namun esensial: mewujudkan
kemajuan fisik yang inklusif tanpa harus menanggalkan sehelai pun martabat manusia di
dalamnya.
ISI DAN PEMBAHASAN
​
Konflik agraria di Pulau Rempang tidak boleh dipandang sesempit perlawanan warga
terhadap dominasi investor belaka. Jika kita menyelami lebih dalam melalui kacamata
sosiologis Johan Galtung, apa yang terjadi di Rempang adalah manifestasi dari ‘Segitiga
Kekerasan’ yang nyaris sempurna. Kekerasan fisik yang meletus di lapangan hanyalah
puncak gunung es yang kasat mata. Jauh di bawah permukaan, terdapat dua jenis kekerasan
lain yang lebih fundamental dan menjadi motor penggerak konflik, yakni kekerasan struktural
dan kekerasan budaya (Ramadani et al., 2025). Kekerasan struktural ini bekerja secara senyap
melalui kebijakan negara yang memaksakan legalitas hukum tanpa mempedulikan legitimasi
sosial. Penegasan BP Batam pada Maret 2025 bahwa Rempang Eco-City tetap masuk dalam
RPJMN 2025-2029 seolah menjadi ‘cek kosong’ bagi negara untuk melakukan ekspansi
lahan secara sepihak, yang seringkali menggilas hak hidup masyarakat pribumi yang telah
menetap disana selama berabad-abad.
​
Dalam perspektif teori konflik Ralf Dahrendorf, kondisi ini menciptakan jurang relasi
kuasa yang sangat timpang antara otoritas negara dan warga sipil (Azhar & Oliwidyartiza,
2025). Di sini, instrumen hukum tidak lagi berfungsi sebagai perisai pelindung masyarakat
(social defence), melainkan beralih rupa menjadi alat pembenaran bagi ekspansi modal.
Akhirnya, masyarakat adat dipaksa berada di posisi subordinat yang harus ‘mengalah’ demi
narasi besar pertumbuhan ekonomi. Proses ini tidak hanya merampas ruang hidup, tetapi juga
menorehkan luka sejarah yang sangat mendalam bagi identitas dan martabat orang Melayu di
kepulauan tersebut.
​
Ironi terbesar dalam proyek ini terletak pada penggunaan label “Eco-City” atau kota
ramah lingkungan yang justru kontradiktif dengan realitas lapangan. Data investigatif
menunjukkan indikasi kuat praktek Greenwashing. Laporan Komnas Perempuan (2025)
mengungkap bahwa konstruksi pemukiman relokasi di Tanjung Banon justru merusak
ekosistem mangrove seluas lebih dari 2.800 hektare. Padahal, studi Universitas Maritim Raja
Ali Haji mengestimasi nilai ekologis mangrove tersebut mencapai Rp. 75 miliar per tahun
sebagai penahan abrasi dan tempat pemijahan ikan.
​
Lebih jauh lagi, data dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) semakin
mempertegas betapa dipaksakannya ambisi proyek ini. Hitungan mereka menunjukkan
realitas yang mencengangkan: jika proyek ini terus melaju, setiap rumah tangga yang
bertahan harus menanggung beban kerugian lingkungan (potential environmental losses)
senilai Rp. 1,3 miliar setiap tahunnya (Yunus, 2025). Angka ini sangat tragis, mengingat
nilainya mencapai tiga kali lipat dari total pendapatan yang mampu mereka kumpulkan. Fakta
keras ini seketika meruntuhkan segala jenis janji manis kesejahteraan yang didengungkan
pemerintah. Alih-alih mengangkat derajat ekonomi, proyek ini justru berpotensi menyeret
warga ke dalam jurang kemiskinan struktural dengan menghancurkan basis sumber daya
alam yang menjadi tumpuan hidup mereka. Di titik inilah kita sadar, bahwa label ‘Eco’ atau
‘Hijau’ yang ditempelkan hanyalah kemasan kosmetik untuk menutupi kerusakan ekologis
yang ugal-ugalan.
Secara yuridis, masyarakat Rempang terjepit dalam ketidakpastian hukum akibat
dualisme regulasi. Murti dan Susilowati (2024) mengungkap fakta hukum krusial bahwa SK
Walikota Batam Nomor 105/HK/III/2004 sebenarnya telah mengakui eksistensi Kampung
Tua dan tidak merekomendasikan wilayah tersebut untuk diberikan Hak Pengelolaan (HPL)
kepada pihak ketiga. Namun, legalitas historis dan administratif tingkat daerah ini diterjang
oleh regulasi pusat melalui penetapan status Proyek Strategis Nasional (PSN).
Fenomena ini disebut oleh Pramesti dan Prayoga (2024) sebagai “Impuniras
Kebijakan”,
dimana label strategis
nasional seolah memberikan kekebalan bagi
penyelenggara negara untuk mengabaikan prosedur perlindungan HAM standar. Kebijakan
“transmigrasi lokal” yang ditawarkan pemerintah pun dikritik keras oleh pakar agraria IPB,
Rina Mardiana, sebagai eufemisme halus dari pengusiran paksa yang menghilangkan hak
asal-usul masyarakat adat (Yunus, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa hukum penanaman
modal yang ada di Indonesia masih sering kali tumpul ketika berhadapan dengan ambisi
infrastruktur dan mengabaikan kewajiban negara dalam melindungi hak tempat tinggal yang
layak.
​
Untuk memutus kebuntuan konflik dan ketidakpastian yang sudah berlarut-larut ini,
kita butuh perubahan arah yang mendasar; kita harus berani bergeser dari model
pembangunan yang kaku dan terpusat pada kekuasaan negara (State-Centered), menuju
pembangunan yang benar-benar memanusiakan rakyat (People-Centered). Di sinilah
pendekatan berbasis Hak Asasi Manusia (HRBA) hadir sebagai kompas etis. Melalui prinsip
PANEL, nilai-nilai kemanusiaan harus menyatu dalam setiap kebijakan bukan sekedar
tempelan. Dalam situasi ini, partisipasi tidak boleh lagi dianggap sebagai formalitas di atas
kertas, melainkan harus diwujudkan sebagai kedaulatan warga untuk memberikan persetujuan
tanpa paksaan (FPIC). Masyarakat Rempang harus diletakkan kembali di posisi terhormat
sebagai pemilik sah ruang hidupnya, bukan sekedar penonton atau objek yang ‘dibungkam’
dengan ganti rugi materi yang mengabaikan sejarah panjang mereka (WALHI, 2024).
​
Lebih jauh lagi, integrasi prinsip akuntabilitas dan non-diskriminasi menuntut
tanggung jawab negara yang melampaui dimensi finansial, yakni mencakup pemulihan
martabat dan proteksi terhadap resiliensi ekonomi warga. Sebagai manifestasi konkret dari
prinsip pemberdayaan (Empowerment), kebijakan relokasi paksa harus segera digantikan
dengan inovasi “Zonasi Inklusif”. Melalui model ini, 16 Kampung Tua tidak lagi dipandang
sebagai hambatan spasial, melainkan ditetapkan sebagai Heritage Cultural Zone yang
terintegrasi secara harmonis di dalam ekosistem Eco-City. Dengan mentransformasi warga
asli sebagai aktor utama dalam sektor pariwisata sejarah dan budaya, pembangunan tidak lagi
menjadi mesin penggusur identitas, melainkan jembatan yang mensinergikan ambisi ambisi
modernitas dengan keluhuran kearifan lokal tanpa harus saling menegasikan.
PENUTUP
​
Konflik Rempang Eco-City merupakan alarm keras bagi arah pembangunan Indonesia
yang kerap terjebak dalam pragmatisme ekonomi semata. Ambisi mengejar pertumbuhan
melalui status Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam RPJMN 2025-2029 terbukti telah
mencederai amanat konstitusi, khususnya terkait pengakuan terhadap kesatuan masyarakat
hukum adat yang eksis jauh sebelum regulasi investasi diproduksi. Iming-iming label
“Eco-City” memiliki makna paradoks ketika data lapangan menunjukkan degradasi ekologis
masif, yang dimulai dari kerusakan mangrove hingga potensi kerugian lingkungan mencapai
Rp. 1,3 miliar per rumah tangga. Tragedi ini menegaskan bahwa pembangunan yang
direncanakan untuk berkontribusi dalam kemajuan justru menjadi suatu hal yang membuat
nilai-nilai kemanusiaan menjadi mundur apabila etika yang berbasis pada Hak Asasi Manusia
(HAM) dikesampingkan demi kecepatan ekspansi modal.
​
Sebagai langkah taktis untuk mendinginkan tensi konflik dan memulihkan
kepercayaan publik yang telah retak, Pemerintah Pusat melalui Kemenko Perekonomian
harus segera mengambil sikap tegas: berlakukan moratorium atau penghentian total
sementara atas seluruh aktivitas fisik di Pulau Rempang. Momentum ‘jeda’ ini tidak boleh
disia-siakan, melainkan harus dimanfaatkan untuk membentuk tim independen lintas sektoral
melibatkan Komnas HAM, KLHK, hingga pakar agraria guna melakukan audit lingkungan
dan sosial yang jujur dan objektif. Hasil audit inilah yang nantinya wajib menjadi kompas
bagi BP Batam dalam merevisi total Masterplan Rempang Eco-City serta rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) kawasan tersebut.
​
Dalam proses perbaikan ini, pendekatan teknokratis ‘gusur paksa’ harus segera
ditinggalkan. Sebagai gantinya, negara perlu menerapkan integrasi spasial yang beradab, di
mana 16 Kampung Tua dilindungi secara hukum sebagai Zona Cagar Budaya (Cultural
Heritage Zone) yang hidup berdampingan secara harmonis dengan zona investasi. Terakhir,
agar sejarah kelam konflik agraria ini tidak terus berulang, pemerintah mutlak mereformasi
regulasi Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan melembagakan prinsip Free, Prior, and
Informed Consent (FPIC). Prinsip ini harus menjadi ‘syarat mati’ dalam setiap perizinan,
memastikan bahwa persetujuan rakyat adalah pondasi legitimasi yang nyata, bukan sekadar
formalitas administrasi yang dimanipulasi.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar, I. Y., & Oliwidyartiza, N. J. (2025). Analisis Konflik Masyarakat Rempang Terkait
Proyek Strategis Nasional Dalam Pembangunan Rempang Eco City. Jurnal Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, 5(2), 262-275, https://doi.org/10.30742/juispol.v5i2.4917
Badan Pengusahaan Batam. (2025). Masuk RPJMN 2025-2029, BP Batam Paparkan Status
Proyek
Rempang
Eco-City.
BP
Batam.
https://bpbatam.go.id/en/masuk-rpjmn-2025-2029-bp-batam-paparkan-status-proyek-r
empang-eco-city/
Kementerian Perekonomian. (2023). Siapkan Batam dengan Daya Saing Tinggi, Pemerintah
Kembangkan
Kawasan
Rempang.
Diakses
5
Februari
2026,
dari
https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/5086/siapkan-batam-dengan-daya-saing-tingg
i-pemerintah-kembangkan-kawasan-rempang
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. (2024). Keterangan Pers Nomor
72/HM.00/XII/2024: Komnas HAM Meminta Penegakan Hukum Atas Peristiwa
Kekerasan Terhadap Warga di Kampung Sembilang Hulu, dan Sei Bulluh Pulau
Rempang.
Diakses
5
Februari
2026,
dari
https://www.komnasham.go.id/files/20241220-keterangan-pers-nomor-72-hm-00-$A
YTX.pdf
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2025). Laporan Pemantauan Konflik
Pulau Rempang: Dampak dari Pembangunan Proyek Strategis Nasional Rempang
Eco City. Diakses 5 Februari 2026, https://komnasperempuan.go.id/
Murti, A. M., & Susilowati, I. F. (2024). Legal Protection for the Customary Community of
Kampung Tua Pulau Rempang Against the Impact of the Rempang Eco-City Project
in
Batam
city.
Novum:
Jurnal
Hukum,
11(4),
578-600,
https://doi.org/10.2674/novum.v11i04.59301
Pramesti, A. W., & Prayoga, P. E. (2025). Human Rights Impunity in the Implementation of
the Rempang Eco City National Strategic Project Policy. Journal of Constitutional
and Governances Studies, 227-237, https://doi.org/10.20885/JCGS.vol1.iss2.art6
Ramadani, N. S., Rahmawati, S. W., & Subandi Yeyen. (2025). Analisis Konflik Perebutan
Wilayah Pembangunan Eco-City di Rempang, Kepulauan Riau Melalui Teori Johan
Galtung.
Jurnal
Riset
https://doi.org/10.55681/sentri.v4i11.4998
Ilmiah,
4(11),
3450-3462,
United Sustainable Development Group. (2003). The Human Right Based Approach to
Development Cooperation Toward a Common Understanding Among UN Agencies.
Diakses
5
Februari
2026,
dari
https://unsdg.un.org/resources/human-rights-based-approach-development-cooperatio
n-towards-common-understanding-among-un?
WALHI. (2024). Kronik PSN Rempang Eco-City, Kontroversi Investasi Tiongkok, dan
Resistensi
Masyarakat
Rempang.
Diakses
pada
5
Februari
2026,
https://www.walhiriau.or.id/wp-content/uploads/2024/07/Kronik-PSN-Rempang-EcoCity-Kontroversi-Investasi-Tiongkok-dan-resistensi-Masyarakat-Rempang-FINAL-1.
pdf
Yunus, M. (2025). Indonesian Island’s Traditional Residents Face Relocation for
‘Sustainable’
Project.
Eco-Business.
https://www.eco-business.com/news/indonesian-islands-traditional-residents-face-relo
cation-for-sustainable-project/
Download