KAJIAN TEORITIS PRODUKSI BUNYI BAHASA DALAM STUDI FONETIK ARTIKULATORIS Arya Maheswara Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau e-mail: [email protected] Abstrak Fonetik sebagai salah satu cabang dari ilmu fonologi yang mengkaji bunyi bahasa baik dari produksi pembentukannya, frekuensinya, transmisinya, dan cara penerimaannya oleh telinga. Studi fonetik berkaitan dengan jenis studi fonetik artikulatoris, fonetik akustis, dan fonetik auditoris. Salah satu fokus utama yang menjadi pembahasan dalam artikel ini adalah produksi bunyi bahasa dalam studi fonetik artikulatoris. Fonetik artikulatoris berperan dalam aspek fonetik yang berfokus pada bunyi ujaran suatu bahasa yang diproduksi oleh organ-organ produksi bunyi. Penulisan artikel ini berdasarkan metode pengkajian penelitian pustaka. Dalam artikel ini, pembahasan berfokus pada rangkaian teori dan perspektif mengenai seputar produksi bunyi bahasa dalam fonetik artikulatoris. Kata Kunci: Fonetik, Artikulatoris, Alat Bicara, Bunyi. Abstract Phonetics is a branch of phonology that studies language sounds in terms of their production, frequency, transmission and how they are received by the ear. Phonetic studies relate to the types of studies of articulatory phonetics, acoustic phonetics and auditory phonetics. One of the main focuses discussed in this article is the production of language sounds in the study of articulatory phonetics. Phonetic articulators play a role in the phonetic aspect which focuses on the speech sounds of a language produced by the sound production organs. The writing of this article is based on the literature research review method. In this article, the discussion focuses on a series of theories and perspectives regarding the production of language sounds in articulatory phonetics. Keywords: Phonetics, Articulatory, Speech Tools, Sounds. PEDAHULUAN Setiap manusia yang terlahir di dunia diberkahi dengan kemampuan untuk berbicara dan mendengar. Namun, terdapat pula beberapa orang yang mendapatkan suatu “keunikan” tertentu dari Tuhan Yang Maha Esa, seperti tidak mampu untuk berbicara ataupun mendengar. Kemampuan manusia untuk berbicara termasuk salah satu aspek dalam berbahasa. Berbicara dengan bahasa mengandung makna bunyi dari alat bicara dan makna dari bunyi itu sendiri (Mailani et al., 2022) Berbicara dalam bahasa menjadi alat bagi manusia untuk mennyampaikan ide dan ekspresi secara lisan (Gani & Saidah, 2019). Berbicara melibatkan pengubahan pikiran menjadi suatu wujud bunyi bermakna yang diucap melalui alat ucap. Proses berbicara atau komunikasi lisan yang melibatkan alat-alat ucap disebut dengan produksi bunyi bahasa. Proses produksi bunyi bahasa tidak terlepas dari peran dan fungsi alat bicara pada manusia. Alat bicara manusia nantinya bekerja untuk menghasilkan suatu bunyi (Jannah,2019) Produksi bunyi bahasa meliputi proses terjadinya bunyi bahasa melalui mekanisme alat-alat bicara. Rangkaian produksi bunyi bahasa melibatkan peran fonetik artikulatoris. Fokus fonetik artikulatoris dipusatkan pada penutur bunyi bahasa. Dengan demikian, bagi seorang pengkaji bunyi bahasa akan membutuhkan pengetahuan mengenai struktur dan mekanisme alat bicara manusia (Muslich, 2024:9). Fonetik artikulatoris merupakan jenis studi fonetik yang paling dekat hubungannya dengan linguistik dibandingkan jenis studi fonetik lainnya. Hal tersebut dikarenakan studi fonetik artikulatoris dalam kajiannya banyak membahas bahasa dari segi bunyi yang dihasilkan oleh alat- alat bicara dalam tubuh manusia. Sedangkan, pada studi fonetik akustik lebih berfokus pada bidang fisika dan studi fonetik auditoris yang lebih berfokus pada bidang neurologi. Studi fonetik artikulatoris membantu dalam memahami bagaimana pengaturan bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap manusia dan bagaimana bunyi-bunyi bahasa diucapkan oleh penutur bahasa. Dalam kajian fonologi, pengaruh fonetik artikulatoris mengacu pada bagaimana mekanisme realisasi bunyi ujaran bahasa. Kajian teoritis fonetik artikulatoris yang berkembang dapat memberikan wawasan, gambaran, serta pemahaman yang bermanfaat mengenai produksi bunyi dalam studi fonetik artikulatoris. METODE PENGKAJIAN Artikel ini menuliskan hasil kajian melalui metode studi pustaka atau penelitian pustaka (library research). Metode studi pustaka menekankan pada pengumpulan data maupun informasi yang didapat dari bantuan material dalam perpustakaan. Sumber data kajian merupakan data sekunder, yakni data yang didapat secara tidak langsung dari sumber penuturnya, seperti dari buku, artikel penelitian, jurnal ilmiah, dan laporan penelitian yang berkaitan dengan materi yang dibahas. Screening dilakukan terhadap data dan informasi yang dikumpulkan dengan memperhatikan kesesuaian pembahasan sehingga dapat menghasilkan artikel dengan informasi yang berkualitas. PEMBAHASAN A. Pengertian Fonetik Artikulatoris Fonetik memberikan kemudahan bagi manusia untuk memahami pengucapan bahasa dan penyerapan informasi dari penyampaian lisan. Pentingnya pemahaman pengucapan bahasa mendorong peneliti bahasa untuk mempelajari produksi bunyi dari alat bicara manusia (Hermawan, Kuswoyo, dan Nafi’i, 2021). Oleh karena itu, studi fonetik artikulatoris hadir dalam membantu pemahaman mengenai produksi bunyi dari alat bicara manusia. Fonetik Artikulatoris memiliki nama lain yaitu fonetik organis atau fonetik fisiologis. Hal tersebut dikarenakan fonetik artikulatoris mempelajari mengenai proses produksi bunyi oleh a;at ucap manusia yang secara langsung berhubungan dengan ilmu tubuh manusia yang disebut fisiologis (Triadi & Emha, 2021:13). Fonetik artikulatoris berfokus pada telaah mengenai mekanisme alat-alat ucap manusia yang berfungsi untuk menghasilkan suatu bunyi bahasa serta mempelajari pengelompokan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 2014:103). Dalam studi fonetik artikulatoris membahas mekanisme dan posisi alat bicara dalam proses produksi bunyi Bahasa (Lestari, 2021). Fokus telaah dalam studi fonetik artikulatoris diperluas hingga pembahasan mengenai alat-alat bicara dalam produksi bunyi, mekanisme arus udara dalam produksi bunyi, klasifikasi hasil bunyi bahasa, dan ciri-ciri suprasegmental (Ihsan & Siagian, 2023). B. Alat-Alat Bicara Manusia Dalam Produksi Bunyi Fonetik artikulatoris secara rinci berfokus pada pembentukan bunyi (Rosmana, 2016). Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh manusia pada dasarnya merupakan getaran yang timbul akibat energi pada sumber bunyi. Getaran yang dihasilkan dapat dikatakan bunyi ataupun suara apabila getaran tersebut cukup kuat dan mampu diteruskan oleh udara untuk diterima oleh telinga. Dalam mekanisme produksi bunyi bahasa, peran utama adalah arus udara dari paru-paru dan dibantu getaran yang dihasilkan oleh mekanisme alat-alat bicara manusia. Alat bicara manusia didalam fonetik artikulatoris menjadi hal yang paling penting untuk dibicarakan. Dikarenakan alat ucap menjadi sarana untuk memperoleh bunyi bahasa (Faizah, Putri, dan Nabilatuzzahwwa, 2024). Fonetik tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan suara namun juga dapat dimanfaatkan pada dunia biologis. Contohnya gigi untuk menguyah, paru-paru untuk bernafas, lidah untuk mengecap. Tidak hanya itu alat-alat itu juga dapat digunakan untuk berbicara. Sebelum mempelajari bagaimana bunyi dapat diproduksi kita harus dapat mengenal serta memahami nama-nama alat-alat itu untuk dapat memahami nya. Berikut nama-nama alat bicara yang dapat menghasilkan bunyi bahasa: 1. Paru-paru (lung) 2. Batang tenggorok (trachea) 3. Pangkal tenggorok (larynx) 4. Pita suara (vocal cord) 5. Krikoid (cricoid) 6. Tiroid (thyroid) atau lekum 7. Aritenoid (aryhenoid) 8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx) 9. Epiglottis (epiglottis) 10. Akar lidah (root of the tongue) 11. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum) 12. Tengah lidah (middle of tongue, medium 13. Daun lidah (Blade of the tongue, laminum) 14. Ujung lidah (tip of the tongue, apex) 15. Anak tekak (uvula) 16. Langit-langit lunak (soft palate, velum) 17. Langit-langit keras (hard palate, palatum) 18. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum) 19. Gigi atas (upper teeth, dentum) 20. Gigi bawah (lower teeth, dentum) 21. Bibir atas (upper lip, labium) 22. Bibir bawah (lower lip, labium) 23. Mulut (mouth) 24. Rongga mulut (oral cavity) 25. Rongga hidung (nasal caviry) Bagian-bagian dari alat bicara manusia. Alat-alat bicara dalam tubuh manusia dibagi menjadi 3 komponen, yakni komponen sublogtal atau komponen pernapasan, komponen laring, dan komponen supralogtal atau komponen saluran suara (Lapoliwa, 1988:8) Diagram 3 komponen alat bicara manusia. Paru-paru memiliki fungsi dan peran utama dalam pernapasan. Proses pernapasan terbagi menjadi menarik napas, yaitu mengalirkan arus udara masuk ke dalam paru-paru dan menghembuskan nafas, yaitu mengalirkan arus udara keluar dari paru-paru. Keluarnya arus udara dari paru-paru menjadi peran utama dalam proses terjadinya bunyi bahasa. Paru-paru termasuk dalam komponen sublogtal. Dalam kompoenen sublogtal, terjadi proses mengembang dan mengempisnya paru-paru. Proses ini terjadi secara teratur dengan bantuan kinerja dari ronnga dada, otot perut, dan otot paru-paru. Proses ini mnejadi peran yang mutlak dalam pembentukan atau produksi bunyi. Pernapasan sewaktu berbicara dengan pernapasan normal atau sewaktu tidak berbicara merupakan dua hal yang berbeda. Kisaran frekuensi pernapasan saat berbicara adalah 10 hingga 20 kali per menit (Lapoliwa, 1988:9). Sewaktu berbicara, fase menarik nafas terjadi dengan inensitas yang lebih cepat dan fase menghembuskan nafas terjadi dengan intensitas yang lebih lambat. Hal tersebut dapat terjadi karena keterlibatan penghambatan aliran udara dari paru-paru menuju saluran produksi bunyi dalam artikulasi tuturan bunyi sewaktu berbicara Pangkal tenggorokan ataupun laring merupakan rongga dengan empat komponen utama, yakni krikoid, aritenoid, tiroid, dan pita suara. Krikoid yang berperan sebagai tumpuan, aritenoid yang berperan dalam mengatur pergerakan pita suara, tiroid yang berperan sebagai pelindung pita suara, dan pita suara yang berperan sebagai klep penghubung paru-paru dengan mulut ataupun hidung. Laring brserta komponennya disebut sebagai komoponen laring. Komponen Laring Katup pangkal tenggorokan atau bisa disebut epiglotis berada pada pintu masuk tenggorokan yang memiliki fungsi dapat menjaga makanan dan minuman yang akan masuk kebatang tenggorokan. pada saat makan dan minum epiglottis bekerja untuk menutup batang tenggorokan, oleh sebab itu makanan dan minuman tidak akan masuk dan mengganggu saluran produksi bunyi. Faring adalah rongga kerongkongan yang terdapat diantara pangkal tenggorokan dengan rongga mulut dan rongga hidung yang memiliki fungsi utama sebagai tabung udara yang bergetar jika pita suara bergetar. Bunyi yang diperoleh oleh faring disebut faringal. Faring tergolong dalam komponen supralogtal karena faring termasuk bagian dari saluran suara dengan peran penting dalam proses produksi bunyi. Dalam mulut terdapat langit-langit lunak atau bisa disebut velum yang berada di ujung langit-langit yang berdekatan langsung dengan saluran suara memiliki sebutan anak tekak atau bisa disebut juga uvula. Meraka akan naik turun saat kita bernafas agar kita bisa bernafas melalui hidung. Pada saat pembentukan bunyi non-nasal atau oral, velum dan uvula akan menutup rongga hidung dan suara yang dihasilkan bisa disebut Velar. Pada saat pembuatan bunyi, velum berperan sebagai artikulator aktif dan pangkal lidah berperan sebagai artikulator pasif. Saat terjadinya pembuatan bunyi dari pangkal lidah atau bisa disebut dorsum ini dinamakan bunyi dorsal. Ketika dua bunyi ini dijadikan satu, dinamakan dorso-velar, serta bunyi yang terbentuk dari hambatan uvula dinamakan bunyi uvular. Langit-langit keras berada tepat diatas lidah, berbentuk lengkung cekung ke atas. Dalam produksi bunyi, langit-langit keras berperan sebagai artikulator pasif dan ujung lidah ataupun tengah lidah yang berperan sebgaia artikulator aktif. Adapun bunyi yang dihasilkan dari rangkaian artikulator tersebut adalah bunyi palatal, bunyi apikal, bunyi mediaal, bunyi apikopalatal, dan bunyi media-palatal. Gusi dalam terletak tepat di belakang gigi yang menghadap ke lidah. Dalam produksi bunyi, gusi dalam berperan sebagai artikulator pasif dan ujung lidah ataupun daun lidah dapat berperan sebagai artikulator aktif. Bunyi yang dihasilkan dari rangkaian artikuator tersebut diantaranya bunyi alveolar, bunyi apikoalveolar, dan bunyi lamino-alveola. Gigi terbagi menjadi gigi atas dan gigi bawah. Gigi atas memiliki peran yang lebih berfungsi dibandingkan gigi bawah dalam produksi bunyi. Gigi atas berperan sebagai artiklator aktif dengan bibir bawah ataupun ujung lidah yang dapat berperan sebagai artikulator aktif. Rangkaian artikulator tersebut dapat menghasilkan bunyi labial, labiodental, dan bunyi opiko-dental. Lidah memiliki 5 bagian yang dapat berperan menjadi artikulator, yakni akar lidah, pangkal lidah, tengah lidah, daun lidah, serta ujung lidah. Lidah berperan sebagai artikulator aktif dan bekerja sama dengan artikulator pasif seperti ronnga kerongkongan, langit-langit, gusi, ataupun gigi atas. Rangkaian lidah artikulator aktif dengan opsi artikulator pasif yang tersedia dapat menghasilkan bunyi radiko-faringal, apiko-palatal, apiko-alveolar, dan apiko-dental. C. Proses Produksi Bunyi Bahasa Setelah dijelaskan pada sub-pembahasan sebelumnya mengenai alat-alat bicara manusia, telah kita ketahui bahwa keluarnya arus udara dari paru-paru pada komponen sublogtal menjadi peran utama dalam produksi bunyi. Terdapat juga komponen yang penting dan memiliki peranan dalam produksi bunyi bahasa, yakni komponen laring dan komponen supralogtal. Tiga komponen tersebut memiliki peran masing-masing yang penting dalam proses produksi bunyi bahasa. Saat mengucapkan sesuatu, udara yang keluar dari paru-paru melalui penyempitan pada komponen laring menyebabkan udara bergetar. Menurut pandangan studi akustik, udara bergetar tersebut merupakan bunyi. Apabila udara tidak melalui penyempitan dalam komponen faring, maka tidak menghasilkan bunyi bahasa melainkan hanya nafas normal (Verhaar, 2012:) Dalam komponen laring terdapat pita suara yang bekerja mengatur klep antara paru;-paru dengan mulut ataupun hidung. Pita suara memiliki cara kerja tersendiri yang menghasilkan penggolongan bunyi bahasa tertentu. Gerak kerja pita suara diatur oleh tulang rawan yang disebut aritenoid. Dalam cara kerja pita suara, arus udara dalam saluran pernapasan dapat berjalan dengan lancar apabila klep pita suara dibuka selebar mungkin. Sedangkan, udara dari dalam paru-paru dapat terpisah dengan udara dari udara dalam mulut ataupun hidung apabila klep pita suara ditutup serapat mungkin. Hal ini dapat memengaruhi bunyi bahasa yang keluar dari tubuh seorang manusia. Sewaktu pita suara secara bergantian merenggang dan merapat, maka bunyi yang dikeluarkan terkesan berat dan sewaktu pita suara direnggangngkan selebar mungkin, maka bunyi yang dikeluarkan terkesan ringan (Akhyarrudin, Harahap, dan Yusra, 2020: 35-36) Gambaran posisi pita suara. Terdapat empat kemungkinan posisi pita suara, diantaranya: (1). Posisi pita suara agak berimpit, menghasilkan bunyi ujar seperti saat berbicara biasa (2). Posisi pita suara tertutup rapat, menghasilkan bunyi ujar yang keras seperti saat berteriak ataupun saat batuk. (3). Posisi pita suara terbuka lebar, tidak menghasilkan suatu bunyi ujar. Posisi ini biasanya terjadi saat bernapas biasa. (4). Posisi pita suara sebagian tertutup rapat, sebagian berimpit, dan sebagian terbuka, menghasilkan bunyi ujar yang pelan ataupun lembut seperti saat berbisik (Hermawan. Kuswoyo, dan Nafi’i, 2021) Komponen supraglotal turut memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan atau proses produksi bunyi bahasa. Komponen supraglotal dapat disebut sebagai sistem saluran suara. Komponen supraglotal terdiri dari 3 bagian, yakni rongga hidung, rongga mulut, dan faring. Faring berperan sebagai saluran tabung udara yang ikut bergetar apabila pita suara bergetar. Rongga hidung memiliki peran sebagai saluram resonansi dalam pembentukan bunyi. Rongga mulut memiliki peranan yang besar dalam produksi bunyi, yakni sebagai ruang artikulator dalam pembentukan bunyi. Proses produksi bunyi bahasa secara umum dibagi menjadi 4 tahapan, diantaranya: 1. Proses aliran udara, yakni proses mengalirnya udara dari paru-paru dan menggetarkan pita suara. 2. Proses fonasi, yakni proses arus udara bunyi dalam saluran tenggorokan. 3. Proses artikulasi, yakni proses kerja artikulator aktif dan artikulator pasif untuk membentuk bunyi. 4. Proses ora-nasal, yakni proses bunyi yang keluar melalui hidung ataupun melalui mulut (Ladefoged, 1973: 2-3). Kesimpulan Fokus fonologi terhadap studi fonetik artikulatoris mempelajari tentang rangkaian alat bicara manusia beserta mekanismenya dalam menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi bahasa atau bisa juga disebut fon merupakan satuan bunyi yang dihasilkan dari mekanisme proses kerja alat-alat bicara dalam produksi bunyi. Rangkaian alat bicara serta proses produksi bunyi menjadi hal yang penting untuk dipelajari kalangan pelajar dan penutur bahasa untuk mengetahui secara jelas bagaimana ketika kita berbicara, bunyi dapat keluar. Selain itu, studi fonetik artikulatoris mampu membantu peneliti bahasa dalam menganalisis dan mempelajari variasi bahasa. Sejatinya, berbahasa lisan dan keterlibatan mekansime alat ucap akan selalu menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Daftar Pustaka Hermawan, N. F., Kuswoyo., Nafi’i, W. "Fonetik: Artikulatoris, Akustis dan Auditoris serta Pengajarannya." El Wahdah 2.1 (2021): 1-13. Gani, Saida. "Kajian teoritis struktur internal bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik)." A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab 7.1 (2019): 1-20. Ihsan, R. F, dan Siagian, I. Pengaruh Fonologi Pada Kajian Fonetik Dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 9.23 (2023): 621-635. Chaer, A. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, 2014. Veerhar, J. W. M. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012. Faizah, H., Putri, G. J., Nabilatuzzahwa. Bahan Ajar Fonologi Bahasa Indonesia. Pekanbaru: Cendikia Insani, 2024. Ladefoged, Peter. 1973. Preliminaries to Linguistic Phonetics. Chicago and London: The University of Chicago Press. Lapoliwa, H. Pengantar Fonologi I: Fonetik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988. Akhyarrudin., Harahap, E. P., Yusra, H. Bahan Ajar Fonologi. Jambi: Komunitas Gemulun Indonesia, 2020. Rosmana, I. A. (2016). Objek Kajian Fonetik, Alat Ucap, Klasifikasi Bunyi Bahasa, Dan Proses Terbentuknya Bunyi Bahasa. Jurnal Bahasa, 44. Lestari, D. Penerapan Fonetik Artikulatoris dalam Pembelajaran BIPA di Prancis. (2021). Jannah, R. Produksi Organ Bicara Bahasa Arab. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Islam 17.1 (2019): 71-84. Muslich, M. (2024). Fonologi bahasa Indonesia: Tinjauan deskriptif sistem bunyi bahasa Indonesia. Bumi Aksara. Triadi, R. B., & Emha, R. J. (2021). Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. Mailani, O., Nuraeni, I., Syakila, S. A., & Lazuardi, J. (2022). Bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia. Kampret Journal, 1(2), 1-10.