Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) PENGARUH KEPADATAN BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN PATIN YANG DI PELIHARA DALAM WADAH HAPPA DI BBIS NOEKELE KABUPATEN KUPANG THE EFFECT OF DIFFERENT DENSITY ON THE GROWTH AND SURVIVAL OF CATIN FISH FRY MAINTAINED IN HAPPA CONTAINERS AT BBIS NOEKELE, KUPANG REGENCY Widia Umar1*, Sunadji1, Yulianus Linggi1 1Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana, Jln. Adisucipto Penfui, Kota Kupang, Kodepos 85228. *Email Korespondensi: ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan patin (Pangasius sp.) yang dipelihara dalam wadah hapa di Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Noekele, Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan kepadatan yang berbeda, yaitu 90 ekor, 120 ekor, dan 150 ekor per hapa, yang masingmasing diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup (survival rate), pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, serta kualitas air (suhu, pH, oksigen terlarut, dan amonia). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA untuk mengetahui signifikansi pengaruh antar perlakuan, dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) jika ditemukan perbedaan yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan patin. Kepadatan yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan patin. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa kepadatan memberikan pengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap survival rate, namun pada pertumbuhan berat mutlak, dan pertumbuhan panjang mutlak tidak signifikan. Kepadatan 90 ekor per hapa memberikan hasil terbaik dengan nilai survival rate, pertumbuhan berat, dan panjang mutlak yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan 120 dan 150 ekor per hapa. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pada kepadatan rendah, persaingan terhadap oksigen, ruang, dan pakan menjadi lebih minimal sehingga mendukung pertumbuhan yang lebih optimal. Oleh karena itu, kepadatan 90 ekor per hapa direkomendasikan sebagai strategi budidaya yang efektif untuk meningkatkan performa benih ikan patin di wilayah tersebut. Kata Kunci: Budidaya hapa, ikan patin, kepadatan, pertumbuhan, survival rate. ABSTRACT. This study aims to determine the effect of different stocking densities on the growth and survival of striped catfish (Pangasius sp.) fry reared in hapa net enclosures at the Central Fish Hatchery (BBIS) Noekele, Kupang Regency. The study employed a Completely 49 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Randomized Design (CRD) with three different stocking densities: 90, 120, and 150 fish per hapa, each replicated three times. The observed parameters included survival rate, absolute weight gain, absolute length gain, and water quality (temperature, pH, dissolved oxygen, and ammonia). Data were analyzed using ANOVA to assess the significance of differences among treatments, followed by the Least Significant Difference (LSD) test if significant differences were found. The results showed that different stocking densities had a significant effect on the survival and growth of catfish fry. ANOVA results indicated that stocking density had a significant effect (p < 0.05) on survival rate, but not on absolute weight gain or absolute length gain. The density of 90 fish per hapa yielded the best results, with higher survival rates, weight gain, and length gain compared to the densities of 120 and 150 fish per hapa. This condition suggests that at lower densities, competition for oxygen, space, and feed is reduced, thereby supporting more optimal growth. Therefore, a stocking density of 90 fish per hapa is recommended as an effective cultivation strategy to enhance the performance of catfish fry in the region. Keywords: Cultivation of hapa, catfish, density, growth, survival rate. PENDAHULUAN jenis Produk Ikan patin mengalami Ikan patin adalah satu dari berbagai kenaikan karena ikan ini memiliki beberpa ikan keunggulan seperti kandungan protein air tawar, yang menjadi komoditas unggulan pemerintah dalam yang peningkatan produktifitasnya (KKP, 2013). kolesterol (70 mg/g) dan kalori (120 kalori Peningkatan setiap 3,5 ons) yang cukup rendah produksi ikan patin tinggi (±20%), (Muhamad ikan patin yang mulai meningkat setiap Keunggulan tersebut menjadikan ikan ini tahunya. Menurut LKJ DJBP (2020), pada mempunyai nilai jual yang lebih tinggi dari rentan tahun 2015 sampai 2019 produksi ikan air tawar lainya, dimana harga pasar ikan patin mengalami kenaikan sebesar ikan patin kurang lebih Rp. 14.000/kg, 10,40% dari target pencapaian 43,57 %. namun ikan lele hanya dijual dengan Di NTT sendiri produksi ikan patin harga Rp. 12.000/kg lele. (Ristanto, mengalami kenaikan dari 4,03 % pada 2013). 2019 (Statistik- KKP, 2019). Mohamad, kadar dipengaruhi oleh permintaan konsumsi tahun 2018 menjadi 10,43 % pada tahun dan dengan 2012). Budidayakan ikan patin di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di daerah seperti Kupang, memang menjadi 50 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana tantangan besar. Beberapa faktor yang Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa menyulitkan termasuk iklim yang panas Tenggara dan tidak stabil serta keterbatasan dalam menggunakan Rancangan Acak Lengkap teknologi dan pengalaman dalam (RAL) dengan tiga perlakuan berbeda budidaya ikan patin patin berdasarkan padat tebar benih ikan patin, membutuhkan kondisi lingkungan yang yaitu 90 ekor (A), 120 ekor (B), dan 150 cukup stabil dan tertentu untuk tumbuh ekor (C) per wadah, dengan masing- dengan dikenal masing perlakuan diulang sebanyak tiga dengan iklim panasnya yang bisa menjadi kali. Pemeliharaan ikan dilakukan dalam tidak menguntungkan bagi pertumbuhan wadah berukuran 2 x 1 x 1,5 meter yang ikan patin, yang umumnya lebih suka dilengkapi perairan yang lebih sejuk dan stabil Kajian menggunakan alat bantu seperti pH yang (2011) meter, DO meter, timbangan digital, dan menyatakan bahwa berdasarkan analisis termometer untuk memantau kondisi data suhu udara selama sekitar 40 tahun lingkungan. baik. Wilayah dilakukan oleh ikan NTT Faqih Timur. Penelitian sistem aerasi, ini serta terakhir, suhu udara tahunan rata-rata di Selama masa penelitian, benih ikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) patin dipelihara dengan pemberian pakan cenderung naik sebesar 0,200C. Skenario dua kali sehari dan dilakukan pengukuran variabilitas iklim memperkirakan bahwa pertumbuhan setiap dua minggu sekali. temperatur akan terus meningkat antara Parameter yang diamati meliputi tingkat 1,30oC sampai dengan 4,60oC pada tahun kelulushidupan 2100 dengan tren sebesar 0 1, 0oC – pertumbuhan berat dan panjang mutlak, 0,40oC serta kualitas air (suhu, DO, pH, dan per tahun (Intergovernmental Panel on Climate Change-IPCC, 2007). (Survival Rate), amonia). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA untuk mengetahui METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan di Balai Benih Ikan Sentral, Desa pengaruh perlakuan secara statistik, dan dilanjutkan dengan uji Beda Terkecil (BNT) apabila Nyata terdapat Noekele, Kelurahan Tuatuka, Kecamatan 51 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Survival Rate (%) Survival Rate (SR) atau tingkat kelulushidupan merupakan salah satu HASIL & PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk indikator utama dalam menilai mengetahui pengaruh kepadatan tebar keberhasilan budidaya ikan, khususnya yang berbeda terhadap pertumbuhan dan pada fase pembenihan. Parameter ini kelangsungan hidup benih ikan patin mencerminkan sejauh mana benih ikan (Pangasius sp.) yang dipelihara dalam mampu bertahan hidup selama periode wadah hapa di BBIS Noekele, Kabupaten pemeliharaan dalam kondisi lingkungan Kupang. tiga dan manajemen budidaya tertentu. Pada perlakuan kepadatan berbeda, yaitu 90 penelitian ini, pengaruh variasi kepadatan ekor/wadah (perlakuan A), 120 ekor/wadah tebar terhadap SR benih ikan patin (perlakuan ekor/wadah (Pangasius sp.) diamati untuk mengetahui (perlakuan C), masing-masing dengan tiga apakah terdapat hubungan antara jumlah ulangan. individu Untuk B), itu, dan digunakan 150 dalam satu wadah dengan Pengamatan dilakukan selama 90 kemampuan adaptasi dan daya tahan pemeliharaan mengukur hidup benih terhadap kondisi lingkungan beberapa parameter utama, yaitu Survival perairan hapa. Analisis SR ini menjadi Rate (SR) atau tingkat kelulushidupan, penting karena tingkat kelulushidupan pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan yang tinggi merupakan prasyarat untuk panjang mutlak, serta parameter kualitas mencapai air seperti suhu, oksigen terlarut (DO), pH, keberlanjutan dalam kegiatan budidaya. hari dengan efisiensi produksi dan dan kadar amonia. Data yang diperoleh dari masing-masing perlakuan kemudian dianalisis untuk melihat perbedaan antar perlakuan dan menentukan kepadatan yang paling optimal bagi pertumbuhan serta kelangsungan hidup benih ikan patin. 52 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana menunjukkan Survival Rate 125 140 100 100 92100 99 120 100 99100 9992 98100 9899 89 88 80 86 83 80 100 80 60 40 20 0 kematian ikan bahwa tidak terjadi pada awal masa pemeliharaan. Namun, mulai minggu ke-4 hingga minggu ke-12, terjadi penurunan SR secara bertahap, khususnya pada perlakuan 90 ekor. SR pada perlakuan 90 ekor turun dari 100% (minggu ke-2) 90 120 menjadi hanya 80% pada minggu ke-12. 150 Ini menunjukkan bahwa kelompok dengan Gambar 1. Survival Rate (%) kepadatan Hasil Analisis ANOVA (lampiran) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95% antar kelompok perlakuan terhadap Survival Rate. Hal ini mengindikasikan bahwa variasi jumlah ikan dalam kolam (kepadatan) berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan ikan. Grafik diatas menyajikan data Survival Rate (SR) ikan selama periode pemeliharaan hingga 14 minggu pada tiga perlakuan yang berbeda, yaitu berdasarkan jumlah ikan dalam kolam: 90 ekor, 120 ekor, dan 150 ekor. Secara umum, SR menunjukkan kecenderungan bertambahnya menurun waktu seiring pemeliharaan, meskipun terdapat variasi antarperlakuan. Pada minggu ke-2, semua perlakuan rendah justru mengalami penurunan tingkat kelulushidupan yang lebih tajam. Sebaliknya, perlakuan dengan 120 dan 150 ekor cenderung menunjukkan SR yang lebih stabil. Perlakuan 150 ekor secara konsisten mempertahankan SR 100% hingga minggu ke-12, dengan sedikit penurunan menjadi 99% pada minggu ke-14. Perlakuan 120 ekor juga menunjukkan kestabilan yang baik, dengan SR tetap di atas 98% pada minggu ke-14. Menariknya, perlakuan 90 ekor menunjukkan lonjakan tidak biasa pada minggu ke-14 dengan SR mencapai 125%, yang secara logis tidak mungkin terjadi kecuali ada kesalahan pencatatan atau penambahan individu secara tidak disengaja. menunjukkan SR sebesar 100%, yang 53 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Data menunjukkan bahwa perlakuan secara maksimal. Kepadatan tebar yang dengan jumlah ikan yang lebih tinggi (120 terlalu dan 150 ekor) justru memiliki tingkat kompetisi pakan, stres, serta penurunan kelulushidupan yang lebih baik dan stabil kualitas air, yang pada akhirnya dapat dibandingkan perlakuan dengan jumlah menghambat pertumbuhan ikan. Oleh ikan lebih sedikit (90 ekor). Hal ini bisa karena itu, analisis terhadap parameter ini dikaitkan dengan berbagai faktor seperti menjadi perilaku sosial ikan, dinamika lingkungan strategi budidaya yang efektif dan efisien. mikro dalam kolam, atau efisiensi adaptasi terhadap kondisi budidaya. tinggi dapat penting dalam menentukan Tabel 1. Pertumbuhan Berat Awal (gram) Perlakuan Pertumbuhan Berat Mutlak (kg) menyebabkan Wo A 0,50 ± 0,000 salah B 0,50 ± 0,000 satu parameter penting dalam menilai C 0,50 ± 0,000 Pertumbuhan merupakan keberhasilan budidaya ikan, termasuk pada tahap pembenihan. Salah satu Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa indikator utama yang digunakan adalah berat awal (Wo) pada ketiga perlakuan, pertumbuhan berat mutlak, yaitu selisih yaitu A, B, dan C, menunjukkan nilai yang antara berat akhir dan berat awal ikan sama, yaitu 0,50 gram, dengan standar selama periode pemeliharaan. Parameter deviasi ini tentang menunjukkan bahwa kondisi awal dari objek efektivitas kondisi budidaya, termasuk atau sampel pada masing-masing kelompok faktor dalam perlakuan berada dalam keadaan yang mendukung peningkatan bobot tubuh seragam dan tidak terdapat variasi antar ikan. pengaruh kelompok. Keseragaman berat awal ini kepadatan tebar yang berbeda terhadap penting untuk menjamin validitas hasil pertumbuhan berat mutlak benih ikan penelitian, patin (Pangasius sp.) diamati untuk perbedaan yang mungkin muncul pada mengetahui tingkat optimal kepadatan tahap akhir perlakuan bukan disebabkan dalam mendukung pertumbuhan ikan oleh perbedaan kondisi awal, melainkan 54 memberikan gambaran kepadatan Pada penelitian tebar, ini, sebesar karena ± 0,000. memastikan http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index Hal ini bahwa Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) oleh pengaruh langsung dari masing- mengindikasikan masing perlakuan yang diberikan. Dengan kelompok tersebut demikian, kesamaan ini memiliki variasi antar individu yang lebih memberikan dasar untuk tinggi. Hasil ini dapat dijadikan dasar untuk melakukan analisis lanjutan terhadap efek analisis statistik lanjutan guna menguji perlakuan signifikansi perbedaan antar perlakuan. berat yang terhadap awal kuat pertumbuhan atau bahwa data pada lebih tersebar dan perubahan yang diteliti. Tabel 3. Pertumbuhan Berat Mutlak (gram) Tabel 2. Pertumbuhan Berat Akhir (gram) Perlakuan Berat akhir (Wt) A 10,96 B 10,45 C 9,7 Perlakuan A B C Wt 10,96 ± 1,69737 10,45 ± 2,28936 9,71 ± 2,30376 Berat awal (Wo) 0,5 0,5 0,5 Berdasarkan Berdasarkan Tabel, terlihat bahwa Pertumbuhan berat mutlak (W) 10,46 9,95 9,2 tabel yang terjadi perbedaan berat akhir (Wt) antar menunjukkan pertumbuhan berat mutlak perlakuan. Perlakuan A menunjukkan berat ikan pada masing-masing perlakuan, akhir tertinggi sebesar 10,96 gram dengan dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan standar deviasi ± 1,69737, diikuti oleh berat mutlak diperoleh dari pengurangan perlakuan B sebesar 10,45 gram dengan berat akhir (Wt) dengan berat awal (Wo), standar deviasi ± 2,28936, dan yang yaitu rumus: terendah adalah perlakuan C sebesar 9,71 W = Wt - Wo gram dengan standar deviasi ± 2,30376. Dari hasil perhitungan tersebut: Perbedaan nilai rata-rata ini menunjukkan adanya pengaruh perlakuan • Perlakuan A menghasilkan pertumbuhan berat mutlak tertinggi terhadap pertumbuhan berat, di mana perlakuan A sebesar tampaknya memberikan hasil paling optimal diperoleh dari berat akhir 10,96 dalam meningkatkan berat akhir sampel. gram dikurangi berat awal 0,5 Meskipun demikian, nilai standar deviasi gram. pada perlakuan B dan C lebih besar dibandingkan dengan A, yang • Perlakuan 10,46 B gram, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,95 gram, 55 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana • sedikit lebih rendah dibandingkan parameter perlakuan A. menyeluruh mengenai respons fisiologis Perlakuan C memiliki pertumbuhan ikan terhadap kondisi lingkungan dan berat mutlak paling rendah, yaitu perlakuan budidaya, khususnya variasi 9,2 gram. kepadatan tebar. Dalam penelitian ini, Interpretasi data memberikan informasi ini pertumbuhan panjang dihitung berdasarkan menunjukkan bahwa kepadatan ikan yang selisih antara panjang rata-rata awal dan lebih rendah (Perlakuan A dengan 90 ekor) akhir benih selama 90 hari pemeliharaan. memberikan hasil pertumbuhan berat yang Pengukuran dilakukan secara berkala untuk lebih kepadatan memantau dinamika pertumbuhan yang sedang (120 ekor) maupun tinggi (150 terjadi di masing-masing perlakuan (90, ekor). 120, optimal dari ini dibandingkan Penurunan pertumbuhan pada dan 150 ekor/wadah). Analisis perlakuan B dan C kemungkinan besar terhadap data pertumbuhan panjang mutlak disebabkan oleh peningkatan kompetisi bertujuan untuk mengevaluasi dampak antar ikan untuk mendapatkan pakan dan kepadatan terhadap perkembangan tubuh ruang, yang pada akhirnya membatasi benih dan membantu menentukan strategi pertumbuhan. Oleh karena itu, padat tebar yang paling efisien guna konteks budidaya kepadatan yang ikan, tepat dalam pengaturan menjadi mendukung hasil budidaya yang optimal faktor penting untuk mendukung pertumbuhan maksimal. Pertumbuhan Panjang Mutlak (Cm) Tabel 4. Panjang Awal (Cm) Perlakuan A B C Lo 6,01 ± 0,654 6,23 ± 0,594 6,12 ± 0,631 Pertumbuhan panjang mutlak menggambarkan peningkatan ukuran Berdasarkan Tabel 4, diketahui bahwa panjang ikan periode panjang awal benih ikan patin (Pangasius tubuh selama pemeliharaan dan menjadi indikator penting sp.) dalam pertumbuhan menunjukkan nilai yang relatif seragam. morfometrik benih ikan patin (Pangasius Perlakuan B memiliki panjang rata-rata awal sp.). Bersama dengan pertumbuhan berat, tertinggi yaitu 6,23 cm dengan standar menilai performa pada masing-masing perlakuan 56 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana deviasi ± 0,594, disusul oleh perlakuan C 0,82111), yang mengindikasikan bahwa sebesar 6,12 cm (± 0,631), dan perlakuan A pertumbuhan pada kelompok A lebih sebesar 6,01 cm (± 0,654). Meskipun merata dibandingkan dengan kelompok terdapat sedikit perbedaan antar perlakuan, B. nilai standar deviasi yang relatif kecil menunjukkan panjang akhir terendah, mengindikasikan bahwa ukuran awal benih yaitu 10,23 cm dengan standar deviasi ± dalam setiap kelompok cukup homogen. 0,68000. Data ini menunjukkan bahwa Kondisi ini penting untuk menjamin bahwa variasi kepadatan tebar memengaruhi perbedaan panjang akhir yang akan diamati pertumbuhan panjang mutlak benih ikan nantinya benar-benar merupakan hasil dari patin, di mana kepadatan yang terlalu perlakuan (yaitu variasi kepadatan tebar), tinggi seperti pada perlakuan C (150 bukan karena perbedaan kondisi awal. ekor/wadah) Keseragaman ukuran awal ini memberikan performa pertumbuhan. Kesamaan hasil dasar yang valid untuk mengevaluasi antara perlakuan A (90 ekor/wadah) dan pertumbuhan morfometrik dan efektivitas B (120 ekor/wadah) mengindikasikan sistem budidaya yang diterapkan dalam bahwa hingga kepadatan menengah, penelitian. pertumbuhan Tabel 5. Panjang Akhir (Cm) Perlakuan A B C Lt 10,57 ± 0,62893 10,57 ± 0,82111 10,23 ± 0,68000 Sementara menguatkan perlakuan A (± 0,62893) lebih kecil panjang menurunkan masih dapat pentingnya pengelolaan kepadatan yang tepat dalam sistem untuk memaksimalkan pertumbuhan morfometrik ikan. Tabel 6. Pertumbuhan Panjang Perlakuan rata-rata akhir yang sama, yaitu 10,57 cm. Namun, nilai standar deviasi pada cenderung C pada kepadatan yang lebih tinggi. Hal ini 90 hari pemeliharaan, benih ikan patin pada perlakuan A dan B memiliki panjang perlakuan optimal, tetapi efektivitasnya menurun budidaya Tabel 4 menunjukkan bahwa setelah itu, A B C Panjang akhir (Lt) 10,57 10,57 10,24 Panjang awal (Lo) 6,01 6,23 6,12 Pertumbuhan Panjang mutlak (L) 4,56 4,34 4,12 dibandingkan dengan perlakuan B (± 57 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Berdasarkan panjang data mutlak ikan pertumbuhan yang dihitung dengan rumus: panjang awal menghasilkan pertumbuhan mutlak yang berbeda. Dengan demikian, kepadatan populasi berpengaruh negatif Pertumbuhan Panjang Mutlak (L) terhadap efisiensi pertumbuhan, = Panjang Akhir (Lt) – Panjang Perlakuan A tampaknya paling optimal Awal (Lo) dalam mendukung pertumbuhan panjang diperoleh hasil sebagai berikut: ikan yang maksimal. Perlakuan A (90 ekor): 10,57 – 6,01 Kualitas Air (DO & °C) • Kualitas = 4,56 cm • • merupakan faktor Perlakuan B (120 ekor): 10,57 – lingkungan yang sangat krusial dalam 6,23 = 4,34 cm keberhasilan Perlakuan C (150 ekor): 10,24 – secara 6,12 = 4,12 cm metabolisme, pertumbuhan, kelangsungan hidup penelitian beberapa Data menunjukkan bahwa semakin tinggi air dan kepadatan ikan, pertumbuhan budidaya langsung ini, ikan, karena memengaruhi ikan. dan Dalam parameter panjang mutlak cenderung menurun. kualitas air yang diamati meliputi suhu, Perlakuan A dengan jumlah ikan paling oksigen terlarut (DO), pH, dan kadar sedikit menghasilkan amonia, yang masing-masing memiliki pertumbuhan panjang mutlak tertinggi, peran penting dalam menjaga stabilitas yaitu 4,56 cm. Sementara Perlakuan B ekosistem dan C menunjukkan pertumbuhan yang mempengaruhi laju metabolisme dan lebih rendah, yaitu masing-masing 4,34 nafsu cm dan 4,12 cm. berperan vital dalam proses respirasi; pH (90 ekor) perairan makan ikan; hapa. oksigen Suhu terlarut pertumbuhan ini menentukan keseimbangan asam-basa kemungkinan besar disebabkan oleh yang memengaruhi kesehatan fisiologis; peningkatan kompetisi antar ikan dalam sedangkan amonia merupakan senyawa memperoleh pakan dan ruang yang toksik memadai. Meskipun panjang akhir pada menyebabkan stres bahkan kematian jika Perlakuan A dan B sama, perbedaan kadarnya Penurunan hasil ekskresi berlebihan. yang dapat Pengamatan 58 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana dilakukan secara berkala untuk seluruh perlakuan secara konsisten memastikan bahwa kondisi perairan tetap berada pada 29,5°C, sedangkan kadar berada DO tercatat stabil pada 21,7 mg/L di dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan benih ikan patin. Dengan semua minggu dan perlakuan. menganalisis hasil pengukuran kualitas air pada tiap perlakuan penelitian ini kepadatan, bertujuan Suhu 29,5°C termasuk dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan ikan untuk air tawar tropis, yang umumnya berkisar mengevaluasi sejauh mana padat tebar antara 26–30°C. Suhu yang stabil ini memengaruhi kondisi lingkungan mikro menunjukkan dalam wadah hapa, serta bagaimana hal budidaya tersebut metabolisme ikan secara normal tanpa berdampak pada performa bahwa lingkungan mendukung aktivitas budidaya secara keseluruhan. menimbulkan stres termal. Stabilitas Tabel 7. Kualitas Air suhu juga penting dalam menjaga laju Parameter Suhu (°C) A (90 ekor) 29,5 B (120 ekor) 29,5 C (150 ekor) 29,5 Kisaran Optimal 26 – 30 DO (mg/L) 21,7 21,7 21,7 5–8 konsumsi pakan dan efisiensi konversi pakan selama masa pemeliharaan. Kadar oksigen terlarut (DO) yang sangat tinggi, yaitu 21,7 mg/L, secara Hal ini dapat dijelaskan oleh kondisi lingkungan budidaya yang dikendalikan dan stabil selama penelitian berlangsung, seperti yang tercermin pada data suhu dan DO yang konstan di semua perlakuan. Hasil pengamatan kualitas air berdasarkan parameter suhu (°C) dan kadar oksigen Oxygen/DO) terlarut selama (Dissolved 14 minggu pemeliharaan ikan pada tiga perlakuan kepadatan berbeda, yaitu 90, 120, dan 150 ekor per kolam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu air teknis sangat mendukung kehidupan ikan karena menjamin ketersediaan oksigen untuk respirasi. Namun, angka ini tergolong tidak biasa karena melebihi kisaran normal DO di perairan tawar (5– 8 mg/L). Nilai tersebut kemungkinan dihasilkan dari sistem aerasi intensif atau penggunaan teknologi pemeliharaan tertentu seperti resirkulasi air yang dilengkapi oksigenasi tinggi. Walaupun demikian, DO yang tinggi secara umum sangat menguntungkan dan pada 59 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana menurunkan risiko stres akibat kekurangan oksigen, terutama pada kepadatan ikan yang tinggi. Kabupaten Kupang, terhadap suhu menjadi DO, faktor pertumbuhan yang memberikan sangat baik dan stabil, baik dari segi maupun dapat disimpulkan bahwa: 1. Kepadatan Kualitas air dalam penelitian ini maka berbeda pengaruh nyata pertumbuhan dan sehingga tidak kelangsungan hidup benih ikan pembatas bagi patin. maupun Hasil uji ANOVA kelangsungan menunjukkan bahwa kepadatan hidup ikan. Oleh karena itu, variasi hasil memberikan pengaruh signifikan (p pertumbuhan dan survival rate yang < 0,05) terhadap survival rate, terjadi pada masing-masing perlakuan namun pada pertumbuhan berat lebih mutlak, dan pertumbuhan panjang dipengaruhi oleh perbedaan kepadatan ikan dibandingkan dengan kondisi kualitas air. mutlak tidak signifikan. 2. Kepadatan 90 ekor per hapa Temuan ini sejalan dengan Effendi merupakan kepadatan terbaik (2009) yang menyatakan bahwa tingkat dalam meningkatkan pertumbuhan kelulushidupan ikan sangat dipengaruhi dan kelangsungan hidup benih oleh faktor kepadatan, di mana kepadatan ikan patin. Pada perlakuan ini terlalu tinggi akan meningkatkan tekanan diperoleh lingkungan, mengurangi pertumbuhan, pertumbuhan berat mutlak, dan dan meningkatkan risiko kematian. pertumbuhan panjang mutlak yang nilai survival rate, relatif lebih tinggi dibandingkan kepadatan 120 dan 150 ekor per KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian hapa. Hal ini menunjukkan bahwa mengenai pengaruh kepadatan berbeda pada terhadap pertumbuhan dan kelangsungan kondisi lingkungan lebih optimal hidup benih ikan patin (Pangasius sp.) dan kompetisi antar ikan lebih yang minimal. dipelihara di dalam hapa di kepadatan lebih rendah, 60 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index e-ISSN:2745-0010 Umar, dkk (2025:49-61) Jurnal Aquatik, Maret 2025; Vol 8(1) ©Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Dengan demikian, dapat Boeuf, G. dan P. Le Bail. 1999. Does Light disimpulkan bahwa untuk menunjang Have an Influence on Fish Growth. budidaya benih ikan patin yang optimal di Aquaculture. 177. 129-152. Kabupaten Kupang, kepadatan 90 ekor Boyd, C. E. (1990). Water quality in ponds per hapa merupakan rekomendasi yang for paling efektif. Auburn University. aquaculture. Birmingham: Broodstock Center, Satker PBIAT Janti, Klaten Berdasarkan Ciri Morfologi DAFTAR PUSTAKA dan Pola Baras E, Raynaud T, Slembrouck J, Protein. Jurusan Biologi, Fakultas Caruso D, Cochet C, Legendre M. Matematika dan Pengetahuan Alam, 2011. between Universitas Sebelas Maret. 62 hlm. temperature and size on the growth, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. size heterogeneity, mortality, and 2020. Data Produktivitas Ikan Patin. cannibalism in cultured larvae and Kementerian juveniles Perikanan. Jakarta. Interactions of Pangasianodon the Asian catfish hypophthalmus Pita Serta Kandungan Kelautan Effendi, H. (2009). Telaah kualitas air bagi (Sauvage). Aquaculture Research pengelolaan sumber 42: 260– 276. lingkungan perairan. Bianingrum. 2015. Perbedaan Intensitas Cahaya terhadap daya dan Yogyakarta: Kanisius. H. 2002: Bagi Pengelolaan Pertumbuhan dan Sintasan Benih Sumber Daya dan Ikan Perairan. Kanisius. Sepat Siam Performa dan Trichopodus pectoralis. Departemen Budidaya Effendi, Lingkungan Effendi, MI, 1997. Biologi Perikanan. Peraian, Fakultas Perikanan dan Yayasan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Nusantara.Yogyakarta. Pustaka Bogor. 61 http://ejurnal.undana.ac.id/jaqu/index