Uploaded by gmt.computerstore

bahan radio

advertisement
P:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, pendengar setia Mumpuni di mana pun berada.
Senang sekali saya, Mas Panca, bisa kembali menemani Anda semua dalam program Bincang
Makna bersama IPARI.
Hari ini kita akan membahas tema yang sangat penting dan dekat dengan kehidupan rumah tangga,
yaitu: “Pencegahan KDRT melalui Terapi Qur’an.”
Sudah hadir bersama kita di studio, narasumber kita, Kang Anwar, beliau adalah [Penyuluh Agama
Islam, Ketua LDNU Mesuji dan Ketua Jam’iyyah Ruqyah Aswaja Mesuji]. Kita sapa dulu.
Assalamu’alaikum, apa kabar?
N:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, kabar baik. Semoga pendengar
[Mumpuni] juga dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Swt.
P:
Amin ya Rabbal ‘alamin. Terima kasih sudah berkenan hadir. Tema kita menarik sekaligus agak
“berat”: KDRT dan terapi Qur’an.
Mungkin langsung saja, sebelum kita masuk ke “terapi Qur’an”, saya minta Kang Anwar
menjelaskan dulu: sebenarnya apa yang dimaksud dengan KDRT dan bagaimana Islam
memandangnya?
SEGMEN 1 – KDRT DALAM PANDANGAN ISLAM (± 10–15 menit)
N:
Baik, terima kasih.
Pertama, kita perlu sepakat dulu: KDRT itu bukan urusan sepele dan bukan sekadar “urusan rumah
tangga” yang tidak boleh disentuh orang lain. Dalam banyak kasus, KDRT itu:
 menyakiti fisik,
 melukai jiwa,
 dan merusak masa depan anak-anak yang menyaksikannya.
Secara sederhana, KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga itu bisa berupa:
 Kekerasan fisik: memukul, menampar, mendorong, menendang, melempar barang, dan
sejenisnya.
 Kekerasan psikis: memaki, menghina, merendahkan, mengancam, mengontrol secara
berlebihan, mengucilkan, atau diam berhari-hari untuk menghukum.
 Kekerasan seksual: memaksa hubungan seksual tanpa persetujuan, atau dengan cara yang
merendahkan martabat.
 Kekerasan ekonomi: menahan nafkah untuk menghukum, mengontrol semua uang secara
zalim, melarang pasangan bekerja tanpa alasan syar’i yang jelas.
Dan penting digarisbawahi: korban KDRT tidak selalu istri.
Suami bisa jadi korban, anak bisa jadi korban, bahkan orang tua lansia juga bisa jadi korban di
dalam rumah tangga.
Nah, dalam Islam, semua bentuk itu pada dasarnya masuk kategori zulm – kezaliman. Dan
kezaliman ini diharamkan secara tegas.
Ada sebuah hadits qudsi, Allah Berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan
Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR.
Muslim)
Jadi, ketika seseorang memukul pasangannya, memaki, merendahkan, mengancam, itu bukan “hak
suami” atau “hak istri”, tapi ia sedang melakukan kezaliman yang diharamkan.’
P:
Berarti, tidak ada istilah “suami boleh keras demi mendidik”, ya?
N:
Betul. Itu salah satu mitos yang perlu kita luruskan.
Kalau kita kembali ke tujuan pernikahan dalam Qur’an, Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat
21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di
antaramu rasa kasih dan sayang.”
Di sini ada tiga kata kunci: sakinah, mawaddah, rahmah – ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.
Kalau rumah tangga isinya teror, ketakutan, ancaman, dan luka batin, berarti itu sudah keluar dari
ideal Qur’ani ini. Jadi, tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.
P:
Berarti, dari awal kita harus tegaskan ke pendengar bahwa KDRT itu bukan hak, tapi kezaliman?
N:
Iya. Itu fondasi. Karena kalau fondasi berpikirnya sudah salah – misalnya, “saya berhak memukul
istri demi mendidik” – maka terapi apa pun tidak akan efektif.
Maka, sebelum bicara “terapi Qur’an”, kita betulkan dulu cara baca Qur’annya.
SEGMEN 2 – TERAPI QUR’AN: PIKIRAN, EMOSI, & RELASI (± 20–25 menit)
P:
Baik. Sekarang kita masuk ke inti: apa yang dimaksud dengan “terapi Qur’an” dalam konteks
pencegahan KDRT ini?
N:
Saya mencoba merangkai begini:
“Terapi Qur’an” di sini bukan sekadar membaca ayat tertentu lalu berharap masalah hilang dalam
semalam. Tetapi menjadikan Qur’an sebagai:
 Terapi cara berpikir (kognitif),
 Terapi hati & emosi,
 Terapi relasi & komunikasi.
Mari kita bahas satu-satu.
2.1. Terapi Cara Berpikir
Sering kali kekerasan lahir dari cara baca agama yang keliru.
Contohnya:
 “Laki-laki pemimpin, jadi wajar lebih keras.”
 “Istri harus taat total, kalau tidak boleh dipukul.”
Ini bahaya, karena membungkus nafsu berkuasa dengan bahasa agama.
Salah satu ayat yang sering dijadikan dalih adalah QS. An-Nisa’ ayat 34. Ayat ini berbicara tentang
laki-laki sebagai qawwam (pemimpin) dan tentang nusyuz.
Sayangnya, sebagian orang hanya mengambil sepotong ayat untuk membenarkan memukul istri,
tanpa melihat:
 konteksnya,
 syarat-syaratnya,
 dan bagaimana Nabi mencontohkannya.
Padahal, dalam hadits disebutkan bahwa Nabi tidak pernah memukul istri dan tidak pernah
memukul pembantu.
Beliau juga bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik
di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Jadi, kalau ada orang yang merasa “laki-laki sejati itu tegas dan boleh kasar”,
kita justru perlu balik bertanya:
“Kalau ingin meniru Nabi, apakah Nabi memukul istrinya?”
Jawabannya: tidak.
Ada juga ayat lain, QS. At-Taubah ayat 71:
“Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi
sebagian yang lain…”
Artinya, relasi suami-istri itu kesalingaN: saling menolong, saling menguatkan, bukan hubungan
tuan dan bawahan.
Jadi, terapi Qur’an pada tahap pertama adalah:
meluruskan mindset, bahwa:
 KDRT bukan hak,
 kekerasan bukan cara mendidik,
 dan memanipulasi ayat untuk membenarkan kekerasan adalah bentuk penyimpangan.
2.2. Terapi Hati & Emosi
P:
Kalau soal emosi, khususnya marah, sering jadi pemicu KDRT. Qur’an dan hadits memberi
panduan apa saja?
N:
Betul. Banyak kasus KDRT terjadi saat pelaku mengaku “khilaf karena marah”.
Maka, terapi kedua adalah pengelolaan emosi marah.
Dalam QS. Ali Imran ayat 134, Allah memuji orang bertakwa dengan ciri:
“...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah
mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ada tiga level:
 Menahan marah.
 Memaafkan.
 Bahkan berbuat baik.
Kalau baru sedikit tersinggung, langsung membentak, memukul, melempar barang, maka itu bukan
ciri orang yang menahan marah, berarti takwa kita masih perlu dipertanyakan.
 Lalu, dalam hadits, Nabi memberi tips praktis:
 Kalau marah dalam keadaan berdiri → duduk.
 Kalau masih marah → berbaring.
Beliau juga menganjurkan berwudhu, karena marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api,
yang dipadamkan dengan air.
Ini bisa kita jadikan “langkah darurat” di rumah:
Kalau suasana memanas, jangan lanjut debat. Stop dulu, ubah posisi, ambil wudhu, ambil jeda.
Jangan mengambil keputusan saat emosi sedang di puncak.
Selain itu, Qur’an juga mengajarkan dzikir sebagai penenang hati.
Dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Artinya, orang yang rutin berdzikir, shalat dengan khusyuk, membaca dan merenungkan Qur’an,
seharusnya semakin sulit untuk menyakiti orang lain, apalagi pasangan yang setiap hari hidup
bersamanya.
Kalau tilawah jalan, dzikir jalan, tapi di rumah masih menakutkan, berarti ada yang salah dengan
kualitas hubungan kita dengan ayat-ayat itu.
2.3. Terapi Relasi & Komunikasi
P:
Bagaimana dengan relasi dan komunikasi di dalam rumah? Apakah Qur’an memberi panduan?
N:
Sangat banyak. Salah satunya musyawarah.
Dalam QS. Asy-Syura ayat 38, Allah memuji orang beriman yang urusan mereka diputuskan
dengan musyawarah di antara mereka.
Dalam konteks keluarga, ini bisa diterjemahkan menjadi praktik seperti:
Ada “rapat keluarga” mingguan,
suami-istri (dan anak jika sudah besar) duduk bersama,
membahas:
apa yang disyukuri minggu ini,
apa yang sedang mengganjal,
apa yang ingin diperbaiki di rumah.
Dengan aturan:
tidak memotong pembicaraan,
tidak meninggikan suara,
tidak menghina.
Qur’an juga mengatur adab berbicara dengan beberapa istilah:
Qaulan ma’rufa → perkataan yang baik.
Qaulan layyina → kata-kata lembut.
Qaulan sadida → kata-kata yang lurus/jujur.
Kebalikannya adalah:
kata-kata kasar,
merendahkan,
ancaman.
Itu semua termasuk kekerasan psikis yang bisa meninggalkan luka sangat dalam.
Apalagi kalau dihadapan anak. Anak yang tumbuh dengan menyaksikan orang tuanya saling
menghina, besar Kemungkinan:
menganggap kekerasan itu normal,
dan mengulang pola itu ketika dewasa.
Terapi Qur’an di level relasi adalah:
mengubah budaya komunikasi di rumah menjadi budaya yang Qur’ani.
SEGMEN 3 – LANGKAH PRAKTIS MENCEGAH KDRT DI RUMAH (± 10–15 menit)
P:
Baik, ini bagian yang biasanya paling ditunggu pendengar: apa langkah praktis yang bisa dilakukan
di rumah, supaya “terapi Qur’an” tadi benar-benar terasa dan KDRT bisa dicegah?
N:
Ada beberapa langkah sederhana tapi kalau dikerjakan rutin, insya Allah efeknya besar.
3.1. Tilawah & Tadabbur Singkat Harian
Alokasikan 5–10 menit sehari, misalnya setelah Magrib atau sebelum tidur.
Suami dan istri membaca beberapa ayat, khususnya ayat-ayat tentang:
keluarga,
sabar,
rahmah,
adab bicara.
Lalu, setiap orang menyebut satu pelajaran singkat:
“Menurut saya, ayat ini mengingatkan saya untuk.”
Ini latihaN:
mendengarkan,
membuka hati,
sekaligus menghadirkan Qur’an sebagai cermin bersama.
3.2. “Jeda Qur’ani” Saat Konflik
Sepakati sebuah kode di rumah. Misalnya:
kalau salah satu bilang: “pause” atau “istirahat dulu”,
kedua belah pihak wajib berhenti bicara.
Langkahnya:
Stop debat.
Ambil wudhu, bisa sambil membaca istighfar.
Setelah 10–15 menit, baru lanjut bicara dengan kepala lebih dingin.
Ini bukan lari dari masalah, tapi mencegah masalah berkembang menjadi kekerasan.
3.3. Latihan Mengapresiasi Pasangan
Setiap hari, minimal satu kali:
suami menyebut satu kebaikan istri hari itu,
istri menyebut satu kebaikan suami hari itu.
Ini sejalan dengan sikap syukur dalam Islam.
Kalau terbiasa melihat dan mengucapkan kebaikan pasangan, peluang untuk menyakiti akan
berkurang.
3.4. Kapan Harus Mencari Bantuan?
Ini penting: terapi Qur’an tidak berarti menutup mata terhadap bantuan profesional dan hukum.
Dalam kaidah fikih ada prinsiP:
“La dharar wa la dhiraar” – Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan
orang lain.
Jadi, kalau:
kekerasan sudah berulang,
makin parah,
atau sampai mengancam jiwa,
maka korban tidak wajib bertahan dengan alasan “sabar”.
Justru harus:
mencari pertolongaN:
keluarga yang amanah,
tokoh agama yang bijak,
konselor/psikolog,
lembaga layanan,
bahkan aparat penegak hukum jika diperlukan.
Terapi Qur’an di sini berfungsi:
menguatkan hati,
menjaga korban agar tidak putus asa,
membimbing pelaku bertaubat dengan benar,
tapi tidak membenarkan tinggal dalam situasi yang terus-menerus berbahaya.
Download