globalisasi dan korelasinya dengan industri manufaktur yang

advertisement
Murtianingsih: Globalisasi dan korelasinya dengan industri ....
GLOBALISASI
DAN
KORELASINYA
MANUFAKTUR
YANG
MERUPAKAN
PEREKONOMIAN
33
DENGAN
LEADING
INDUSTRI
SECTOR
Murtianingsih
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Asia Malang
ABSTACT
The research aims to examine the correlation between the globalization of the manufacturing industry in
Indonesia by using product moment correlation analysis. Globalization requires countries to make the process of
structural transformation, the transformation process carried out by industrialization because the industrial sector
is able to boost economic growth.
Industrialization in Indonesia has experienced rapid growth in the period before the economic crisis, but
since the 1997-crisis the performance of the industrial sector in decline. This condition describes the sensitivity of
the industrial sector to external factors. Characteristics of the industry in different countries, in the Indonesian
industry's contribution to GDP is still below countries Thailand and Malaysia, this may indicate an appreciation of
the national exchange is reflected in the international trade balance.
Various economic phenomenons which occurred in countries that dominate international trade such as the
USA, Japan, and European Union can be stimulation for the industrial sector. Correlation of test results suggest
that there is a positive relationship between the partial index on manufacturing industry listed on the New York
stock Exchange and the negative correlation between the values of the rupiah against the dollar as a proxy of
globalization on the development of the domestic industry is the leading sector in the Indonesian economy.
Keywords: Globalization, Exchange Rate, Stock Price Global Industry, Manufacturing sector stock price, product
moment correlation analysis.
ABSTRAK
Penelitian bertujuan menguji korelasi antara globalisasi dengan industri manufaktur di Indonesia dengan
menggunakan alat analisa korelasi product moment. Globalisasi menuntut banyak negara untuk melakukan proses
transformasi struktural, proses transformasi dilakukan dengan indistrialisasi karena sektor industri mampu
mendorong pertumbuhan ekonomi.
Industrialisasi di Indonesia pernah mengalami pertumbuhan yang cepat pada masa sebelum terjadinya
krisis ekonomi, namun sejak terjadinya krisis pada tahun 1997 kinerja sektor industri mengalami kemerosotan.
Kondisi ini menggambarkan kepekaan sektor industri terhadap faktor eksternal. Karakteristik industri di berbagai
negara berbeda, di Indonesia kontribusi industri terhadap pembentukan PDB masih berada di bawah negara
Thailand dan Malaysia, hal ini dapat menunjukkan apresiasi terhadap nilai rupiah yang tercermin dari neraca
perdagangan internasional.
Berbagai gejala ekonomi yang terjadi di negara-negara yang menguasai perdagangan internasional
seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa dapat menjadi stimulasi bagi sektor perindustrian. Hasil uji korelasi
menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara indeks sektoral pada industri manufaktur yang terdaftar di
New York stock Exchange dan korelasi negatif antara Nilai tukar rupiah terhadap dollar sebagai proksi dari
globalisasi terhadap perkembangan industri dalam negeri yang merupakan leading sector perekonomian di
Indonesia.
Kata Kunci : Globalisasi, Nilai Tukar Rupiah, Harga Saham Industri Global, Harga Saham sektor Manufaktur,
analisis korelasi product moment.
PENDAHULUAN
Globalisasi
merupakan
suatu
proses
pergerakan ekonomi yang dinamis dimana hambatan
dan proteksi terhadap lalulintas perdagangan di dunia
sudah semakin berkurang. Hal ini menjadi stimulasi
bagi iklim investasi dan sistem kapital di suatu
negara. Globalisasi tidak hanya memberikan
perubahan positif namun juga resiko bagi kelompok
masyarakat tertentu. Di Indonesia pertumbuhan
ekonomi
berkembang
cukup
tinggi
sejak
diberlakukannya deregulasi dan liberalisasi di bidang
perdagangan dan investasi pada tahun 1980 terutama
pada sektor industri dan padat tenaga kerja.
Pertumbuhan tinggi di sektor manufaktur membawa
34
Jurnal JIBEKA Volume 9 Nomor 2 Agustus 2015: 33 - 39
pengaruh terhadap perubahan pendapatan perkapita
masyarakat Indonesia dan juga memberi peluang
terhadap mobilitas dana dari luar ke dalam negeri
yang selanjutnya akan mengapresiasi fluktuasi nilai
tukar mata uang.
Proses transformasi struktur perekonomian
dilakukan sebagai perimbangan era globalisasi
dengan merubah pola pertanian tradisional ke sektor
manufaktur yang modern dan berkembangnya sektor
jasa. Kondisi ini akan memicu perubahan yaitu
beralihnya tenaga kerja dari sektor pertanian ke
industri dan jasa yang modern. Manufaktur
merupakan leading sector dalam perekonomian,
sehingga seluruh negara akan melakukan proses
industrialisasi
untuk
menjamin pertumbuhan
ekonomi (Chenery dalam Tambunan, 2006).
Industrialisasi di Indonesia pernah mengalami
pertumbuhan yang cepat dan memberikan kontribusi
terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto
(PDB) melampaui sektor pertanian sebelum krisis
ekonomi tahun 1997. Namun semenjak terjadi krisis
ekonomi yang diawali negara Thailand dan Malaysia
kinerja sektor industri mengalami kemerosotan.
Sebagai ilustrasi tahun 2005-2006 pertumbuhan
sektor industri dibawah pertumbuhan ekonomi
nasional kurang lebih 4,5 % sedangkan tahun 2010
pertumbuhan industri juga masih dibawah
pertumbuhan nasional yaitu 5,09% (Kementrian
Perindustrian, 2011).
Karakteristik industrialisasi di setiap negara
berbeda - beda, di Indonesia perkembangan industri
manufaktur dalam kontribusi terhadap pembentukan
produk domestik bruto (PDB) masih relatif kecil jika
dibandingkan negara ASEAN yang lainnya seperti
Malaysia dan Thailand. Struktur ini menggambarkan
bahwa apresiasi terhadap nilai tukar rupiah masih lebih
rendah jika dibandingkan Malaysia dan Thailand. Griffing
dan Stulz (2001) dalam studinya “International
Competition and Exchange Rate Shocks” menyatakan
bahwa pergerakan industri antar negara lebih berdampak
terhadap perubahan nilai tukar dari pada persaingan di
bidang lain.
Dornbush and Fischer (1980) menyatakan
bahwa fluktuasi nilai tukar merupakan efek dari
persaingan internasional dan neraca perdagangan.
Persaingan internasional (competitive international)
masih didominasi oleh negara-negara dengan struktur
perekonomian yang kuat seperti Amerika Serikat,
Jepang, dan negara-negara di Uni Eropa. Sehingga
pergerakan industri global sangat dimungkinkan
membawa dampak terhadap pergerakan industri
dalam negeri. Chu- Sheng Tai and Zahid Iqbal
(2011); that although both exchange rate and global
industry shocks are statiscally significant in
explaining the performance of these industries
relative to their domestic markets, economically the
global industries shock plays the major role in
determining this performance. Kondisi menandakan
bahwa industri global memiki hubungan yang cukup
signifikan dengan perkembangan industri dalam
negeri dibandingkan dengan nilai tukar mata uang.
Berdasarkan pada beberapa kajian empiris
tersebut maka penelitian ini akan menguji globalisasi
dan korelasinya terhadap perkembangan industri
manufaktur di Indonesia sebagai leading sector
perekonomian dengan menggunakan analisa korelasi.
Diharapkan dari hasil penelitian dapat dijadikan
acuan untuk industri dalam negeri agar memiliki
competitive advantage terhadap industri global.
TINJAUAN PUSTAKA
Chu- Sheng Tai and Zahid Iqbal (2011) dalam
penelitiannya yang berjudul “ How Important is
Global industry shock in explaining the ralative
performance of global industries ” menyatakan
bahwa nilai tukar dan pergerakan industri global
mempunyai hubungan yang signifikan dengan pasar
domestik. Dari sudut pandang perekonomian
pergerakan industri global lebih dominan perannya
dalam menjelaskan hubungan tersebut.
Fabozzi et.al (2010:664) “ An exchange rate is
defined as the amount of one currency that can be
exchange per unit of another currency, or the price of
one currency in terms in another currency.
1. Globalisasi
Globalisasi merupakan proses yang merujuk
pada penyatuan seluruh warga dunia menjadi
masyarakat global, hal ini mencerminkan bahwa
seluruh bangsa akan menjadi terikat satu sama
lain untuk mewujudkan satu tatanan kehidupan
baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan
mengabaikan batas geografis dan budaya
masyarakat.
2. Industrialisasi
Dhumairy (2006) menyatakan bahwa
terdapat 4 teori yang dapat diimplementasikan
dalam proses industrialisasi yaitu : (1) keunggulan
kompetitif (comparative advantage); industri
adalah keunggulan komparatif suatu negara, (2)
keterkaitan industri (industry linkage) ; industri
memiliki keterkaitan dengan sektor-sektor
ekonomi lain, (3) penciptaan lapangan kerja
(employment creation); industri diciptakan untuk
menyerap tenaga kerja, (4) loncatan teknologi
(technology jump); industri dikembangkan dengan
teknologi
yang
tinggi
sehingga
akan
mengakibatkan alih teknologi terhadap sektor
ekonomi lain.
Murtianingsih: Globalisasi dan korelasinya dengan industri ....
3. Nilai Tukar Mata Uang
Tilak Abeysinghe and
Tan Lin Yeok
(1998), pada umumnya depresiasi nilai tukar akan
merangsang ekspor dan mengurangi impor
sementara apresiasi nilai tukar akan merugikan
ekspor dan mendorong impor.
4. Industri Manufaktur Di Indonesia
Perkembangan sektor industri di Indonesia
yang mengalami pasang surut menjadi penting
untuk merumuskan kebijakan yang mampu
mendorong peranan sektor industri dalam
pembentukan PDB. Reindustrialisasi merupakan
konsep untuk menggerakan industri domestik
yang dimulai tahun 2008. Reindustrialisasi adalah
melakukan perubahan yang komprehensif dan
holistik dalam proses mendorong kembali industri
manufaktur di Indonesia (Hariyadi, 2009).
5. Kerangka Konseptual
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini
yang didasari pada kajian empiris sebelumnya
yaitu bahwa globalisasi mampu menjelaskan
hubungan dengan industri domestik, digambarkan
dalam kerangka berikut :
Gambar 1: Kerangka Konsep Penelitian
METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
korelasional, menurut (Riduwan dan Kuncoro,
2011) penelitian korelasional yaitu penelaahan
hubungan linier antar 2 variabel bebas (X) dengan
variabel terikat (Y), dimana tujuan penelitian ini
mengetahui derajad koefisien korelasi antara
globalisasi yang diproksikan dengan nilai tukar
mata uang terhadap dollar Amerika Serikat dan
harga saham industri global dengan industri
manufaktur di Indonesia yang diproxikan dengan
harga saham sektoral.
2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data kuantitatif (angka/bilangan) yang
berupa nilai tukar mata uang rupiah terhadap
dollar Amerika Serikat berdasarkan Bank
35
Indonesia, indeks harga saham industri global
yang diperoleh dari New York stock Exchange
dan indeks saham sektoral (manufaktur) pada
Bursa Efek Indonesia. Data kualitatif yang
menggambarkan kondisi industri manufaktur di
Indonesia.
Sumber data dalam penelitian ini
menggunakan data sekunder yaitu data yang
dipublikasikan oleh Bank Indonesia dan Bursa
Efek Indonesia serta indek harga saham industri
global yang dipublikasikan oleh New York Stock
Exchange (NYSE). Serta berbagai data mengenai
perkembangan ekonomi Indonesia yang di
publikasikan oleh Biro Pusat statistik.
3. Definisi Operasional Variabel
Definisi
operasional
variabel
yang
digunakan dalam penelitian meliputi : Variabel 1
adalah globalisasi yang di proxikan dengan nilai
tukar mata uang rupiah terhadap Dollar USA
yang menggunakan kurs tengah antara kurs jual
dan kurs beli yang dipublikasikan oleh Bank
Indonesia dan pergerakan industri global (harga
saham sektor manufaktur di New York Stock
Exchange) merujuk pada penelitian Chu-Seng
Thai dan Zahid Iqbal (2011). Sedangkan variabel
2 adalah industri manufaktur yang diukur melalui
pergerakan harga saham sektoral yaitu indeks
sektor manufaktur.
4. Teknik Analisa Data dan Uji Hipotesis
Teknik analisa yang digunakan adalah
statistik diskriptif untuk menjelaskan bagaimana
data dikumpulkan dan kemudian diringkas
untuk memberikan gambaran suatu data.
Penelitian ini menggunakan analisis Korelasi
Product Moment Pearson dengan tujuan untuk
mengetahui hubungan linier antara globalisasi
dengan pergerakan industri manufaktur di
Indonesia dalam kurun waktu 2008-2013.
Persamaan model korelasi yang digunakan
adalah :
Persamaan model korelasi 1 : korelasi antara
pergerakan industri global dengan industri
manufaktur di Indonesia.
rx1y =
Persamaan model korelasi 2 : korelasi antara
fluktuasi nilai tukar dengan pergerakan industri
manufaktur di Indonesia
36
Jurnal JIBEKA Volume 9 Nomor 2 Agustus 2015: 33 - 39
rx2y =
Keterangan model korelasi :
X1 : Harga saham sektoral industri global
X2 : Fluktuasi Nilai tukar rupiah terhadap
Dollar
Y : Harga saham sektoral industri manufaktur
di Indonesia
5.
Uji Hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan linier antara
globalisasi dengan pergerakan industri
manufaktur di Indonesia pada taraf signifikansi α
= 5% yang menandakan batas toleransi kesalahan
terhadap hasil adalah maximal 5% sehingga
dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H0 : Diduga tidak terdapat hubungan linier
antara globalisasi dengan
pergerakan industri manufaktur di
Indonesia
Ha : Diduga terdapat hubungan linier antara
globalisasi dengan
pergerakan industri manufaktur di
Indonesia
Kriteria Hasil pengujian :
H0 diterima jika signifikansi α > 0,05
H0 ditolak jika signifikansi α < 0,05
Produk Domestik Bruto Nasional. Penyumbang
terbesar pertumbuhan industri nasional pada
tahun ini adalah sektor makanan, minuman dan
tembakau 34,35%. Industri alat angkut, mesin dan
peralatan sebesar 28,13%, sementara industri
pupuk kimia dan karet 12, 44%, barang kulit dan
alas kaki 8,81%, dan barang kayu serta hasil
hutan 5, 75%. Pertumbuhan industri manufaktur
pada tahun 2011 mencapai 4,10% , namun tidak
semua subsektor mengalami kenaikan karena ada
beberapa subsektor yang mengalami penurunan.
Pada tahun 2012 pemerintah Indonesia
memutuskan ada kenaikan harga BBM yang
ditetapkan per 1 April, pada saat ini pertumbuhan
industri relatif stabil pada angka 4,12%. Sub
sektor makanan dan minuman serta tembakau
memberikan kontribusi sebesar 35,20% terhadap
pertumbuhan industri manufaktur nasional.
2. Globalisasi
Sejak terjadinya krisis ekonomi di Amerika
yang bermula pada pertengahan tahun 2008
merambat ke berbagai negara dikarenakan
Amerika menyerap produk dari banyak negara
atau daya beli masyarakatnya sangat tinggi
sehingga dengan terjadinya krisis daya beli
masyarakatnya menurun, selain itu situasi ini juga
berdampak ke banyak negara.
Pada masa pasca krisis menurut catatan
International Monetary Fund hingga tahun 2013
pertumbuhan ekonomi global mencapai rata-rata
2,5% yang tidak jauh berbeda dengan tahun 2012.
ANALISA DAN PEMBAHASAN
1. Sektor Industri Manufaktur
Guncangan ekonomi yang melanda Amerika
Serikat pada tahun 2008 juga menyeret ekonomi
Indonesia dalam kondisi yang rentan, pada tahun
itu sektor industri hanya tumbuh sebesar 5,69%
yang bisa dikatakan turun dibandingkan tahun
sebelumnya. Industri alat angkut, mesin dan
peralatan menjadi industri dengan laju
pertumbuhan tertinggi 12,9 %, sedangkan industri
pupuk kimia dan karet menjadi industri dengan
laju pertumbuhan tertinggi kedua sebesar 6,23%.
Industri ini memiliki prospek yang baik dalam
tiga tahun terakhir karena memiliki rata-rata
pertumbuhan diatas sub sektornya.
Tahun 2009 pertumbuhan sektor industri
mencapai 1,54%, meningkat signifikan pada
tahun 2010 sebesar 4,65% (year on year) yang
mencerminkan bahwa sektor industri mampu
memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan
3. Pergerakan Indeks Manufaktur di NYSE
Gambar 2 : Pergerakan Indeks Industri
Manufaktur di NYSE
Sumber data : Data Diolah “New York Stock
Exchange”
Berdasarkan gambar tersebut menunjukkan
pergerakan harga saham indeks sektoral (
Manufactur industry) di USA yang mengalami
Murtianingsih: Globalisasi dan korelasinya dengan industri ....
trend kenaikan, walaupun sempat turun di tahun
2009 pada kuartal ke dua dengan estimasi nilai
Gross Domestik Product (GDP) hanya sebesar 1,4
% (www.forbes.com/sites/realspin/2013/04/12)
dikarenakan krisis global yang melanda Amerika
Serikat yang bermula pada Oktober 2008.
37
meningkat terus, kondisi ini mencerminkan
bahwa reaksi pasar terhadap iklim investasi di
sektor industri sangat baik.
4. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap
Dollar
Gambar 3 : Kurs rupiah Terhadap Dollar
6.
Hasil Uji Hipotesis
Sumber data : Bank Indonesia
Gambar 3 diatas menunjukan bahwa
nilai tukar rupiah terhadap dollar tahun 20082009 juga terdepresiasi karena krisis global yang
dipicu oleh krisis ekonomi yang terjadi di
Amerika. Selain itu melemahnya rupiah juga
dipicu oleh meningkatnya nilai impor Indonesia
dari tahun ke tahun yang menyebabkan adanya
transaksi pembayaran ke luar negeri dan semakin
tinggi nilai impor maka akan semakin tinggi pula
permintaan valuta asing.
5. Pergerakan Indeks Manufaktur di BEI
Gambar 4: Indeks Sektor Manufaktur di BEI
Sumber data : data diolah berdasarkan Bursa Efek
Indonesia
Berdasarkan gambar 4 diatas dapat dilihat
bahwa harga saham sektor industri manufaktur
mengalami trend naik dari tahun 2008-2013. Pada
tahun 2008-2009 cenderung stabil meskipun pada
saat yang sama terjadi krisis global, namun
industri dalam negeri mampu bertahan dan
bersifat kompetetif. Sementara itu tahun 20102013 harga saham indeks sektor manufaktur
Berdasarkan tabel 1 tersebut didapat angka
positif 1 dengan tingkat signifikansi kurang dari
0,05% antara industri global yang dalam penelitian
ini diproxikan dengan harga saham sectoral indeks
pada New York stock Exchange yang menandakan
pergerakan searah dan berkorelasi signifikan.
Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar
menghasilkan angka korelasi negatif -0,485 yaitu
menggambarkan pergerakan yang tidak searah dan
signifikan.
Korelasi Antara Nilai Tukar dengan Industri
Manufaktur
Fluktuasi Nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika Serikat (USA) merupakan efek dari kondisi
perdagangan Indonesia dengan berbagai negara. Nilai
tukar mata uang dipengaruhi oleh kondisi supply –
demand pada mata uang rupiah. Jika permintaan
meningkat, sementara penawarannya tetap atau
menurun maka nilai tukar akan menguat dan berlaku
sebaliknya.
Berdasarkan
hasil
uji korelasi
menunjukkan hasil negatif, pada periode pengamatan
pertama 2008-2009, dimana nilai rupiah melemah
pada level Rp. 10.330 per $ USA (kurs tengah selama
tahun 2009) yang tahun sebelumnya kurs rupiah
berada pada kisaran Rp. 9.755 per $ USA (kurs
tengah selama tahun 2008), sedangkan di tahun 2009
harga indeks sektoral justru mengalami kenaikan 12
% dari harga indeks rata-rata tahun sebelumnya.
Pada tahun 2010 nilai rupiah juga cukup
stabil, harga saham sektor manufaktur juga menguat
pada level 708. Pada tahun ini sektor manufaktur
38
Jurnal JIBEKA Volume 9 Nomor 2 Agustus 2015: 33 - 39
memberikan kontribusi pada produk domestik bruto
sebesar 24,1%. Perbaikan keuangan global yang
dibarengi dengan kebijakan makro ekonomi di
Indonesia menjadi akomodatif terhadap proses
pemulihan ekonomi yang stabil.
Korelasi Antara Indeks Sektor Manufaktur di
New York Stock Exchange dengan Industri
Manufaktur di Indonesia
Berdasarkan hasil uji korelasi antara indeks
sektoral yaitu industri manufaktur yang listing di
New York Stock exchange (NYSE) diperoleh nilai
positif sempurna 1 yang menandakan bahwa terdapat
korelasi antara pergerakan harga saham sektoral di
NYSE dengan indeks sektoral di Bursa efek
Indonesia (BEI). Pada tahun 2008-2009 dimana
terjadi krisis keuangan di Amerika Serikat yang
memicu penurunan harga saham sektoral pada
triwulan terakhir di tahun 2008 dan tri wulan pertama
di tahun 2009.
Korelasi Globalisasi Dengan Industri Manufaktur
Di Indonesia
Aktivitas ekonomi yang terjadi di negara lain
juga merembet ke kondisi ekonomi nasional, dalam
penelitian ini ketika Amerika serikat sebagai negara
maju mengalami krisis finansial yang terjadi pada
tahun 2008 ternyata juga memberikan efek terhadap
aktivitas yang terjadi pada pasar modal Indonesia
“BEI”. Ketika nilai tukar rupiah berada pada level
11.000 an per dollar USA di tri wulan terakhir tahun
2008 dan tri wulan pertama tahun 2009 maka harga
saham sektor manufaktur juga turun diperiode yang
sama.
Indonesia menjadikan permintaan valas semakin
tinggi namun indeks sektoral mengalami kenaikan
yang mencerminkan kebijakan pemerintah Indonesia
bersifat akomodatif yang membuat ekonomi nasional
stabil.
Saran
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap sektor manufaktur di Indonesia
dan investor, namun masih terdapat kelemahan dalam
pelaksanaanya, antara lain : indeks sektor manufaktur
yang digunakan hanya industri yang listing di New
York Stock Exchange serta kurs mata uang hanya
rupiah terhadap Dollar. Untuk penelitian selanjutnya
sebaiknya menggunakan beberapa indeks sektor
manufaktur selain di New York Stock exchange,
misalnya yang listing di Tokyo, Singapura dan Eropa.
Serta kurs mata uang yang dipakai juga
menggunakan Euro dan Yen yang dapat
mencerminkan kondisi ekonomi dunia.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
PENUTUP
Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
terdapat korelasi positif antara pergerakkan indeks
sektor manufaktur di New York stock Exchange
dengan pergerakan sektor manufaktur di Indonesia.
Kondisi ini menandakan bahwa ekonomi global
membawa dampak terhadap ekonomi nasional,
dimana kondisi industri di beberapa negara maju juga
menjadi stimulasi terhadap industri dalam negeri
yang tercermin dari perdagangan saham di Bursa
Efek Indonesia.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika
berkorelasi negatif terhadap pergerakkan harga
saham indeks sektor manufaktur di Bursa Efek
Indonesia, ketika nilai tukar rupiah melemah di tahun
2009 yang dikarenakan tingginya nilai impor
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Chu Sheng Tai and Zahid Iqbal, 2011, How
Important is Global Industry Shock is
Explaining the Relative Performance of
Global Industries?, Department of Acounting
anf Finance, Jese H. Jones School Business,
Texas Southern University, Houston Texas
USA.
Dhumairy, 2001, Perekonomian Indonesia,
Jakarta, Erlangga.
Dornbusch, R. and Fischer, S., 1980, Exchange
Rate and Current Account, American
Economic Review, Vol. 70, pp-960-71.
Fabozzi, Franco, P, Modligiani,Jones, Frank, J.,
(2010), Foundation of Financial Market &
Inovation, Parctice hall, Cloth, 696 PP.
Griffin, J. and Stulz, R, 2001, International
Competion and Exchange Rate Shocks : a
cross-industry analysis of stock Returns, The
Review Financial studies, Vol 14, pp. 251-41.
Hariyadi BS, 2009, Bangun kemandirian
Melalui Reindustrialisasi, Bisnis Indonesia on
line, http://web.bisnis.com/artikel.
Kementrian Perindustrian, 2011.
Riduwan dan Kuncoro, 2011, Path Analysis,
Bandung, Alfabeta.
Tambunan, Chenery, Tulus Tahi Hamonangan,
2006, Perekonomian Indonesia sejak Orde
Lama Hingga Pasca Krisis, Jakarta, Pustaka
Quantum.
Murtianingsih: Globalisasi dan korelasinya dengan industri ....
10. Tilak Abey Singhe and Tan Lin Yeok, 1998,
Exchange Rate Appreciation and Export
39
Competitiveness. The Case of Singapore,
Australian National University
Download