BAB III PERAN DAN FUNGSI LEMBAGA KERJASAMA (LKS

advertisement
BAB III
PERAN DAN FUNGSI LEMBAGA KERJASAMA (LKS) BIPARTIT DALAM
PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
A. Bipartit Sebagai Mekanisme Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial.
Di dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan juga
mengutamakan bipartit sebagai penyelesaian perselisihan hubungan industrial seperti
yang disebutkan pada Pasal 136 :
(1) Penyelesaian perselisishan hubungan industrial wajib dilaksanakan oleh
pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh secara
musyawarah untuk mufakat.
(2) Dalam hal penyelesaian secara musyawarah untuk mufakat sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) tidak tercapai, maka pengusaha dan pekerja/buruh
atau serikat pekerja/serikat buruh menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial melalui prosedur penyelesaian perselisihan hubungan industrial
yang diatur dengan undang-undang.
Kemudian didalam Pasal 151 ayat (2) dan (3) disebutkan :
(2) Dalam hal segala upaya telah dilakukan tetapi pemutusan hubungan kerja tidak
dapat dihindari maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan
oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh
apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat
pekerja/serikat buruh.
(3) Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud ayat (2) benar-benar tidak
menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan
kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga
penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Universitas Sumatera Utara
Dari Pasal 136 dan 151 ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan sangat jelas dinyatakan mengutamakan bipartit dalam penyelesaian
perselisihan.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun
2003 Tentang Ketenagakerjaan, penyelesaian perselisihan hubungan industrial
menganut prinsip-prinsip dalam menyelesaikan perselisihan yaitu sebagai berikut 60:
1. Musyawarah untuk mufakat
Penyelesaian perselisihan hubungan industrial dilakukan melalui musyawarah
untuk mufakat secara bipartit adalah wajib sebelum menempuh penyelesaian lebih
lanjut. Dan begitu pula dalam penyelesaian melalui mekanisme diluar pengadilan
adalah mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
2. Bebas memilih lembaga penyelesaian perselisihan
Para pihak untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial yang mereka
hadapi berdasarkan kesepakatan bebas memilih penyelesaian melalui lembaga
arbitrase, konsiliasi ataupun mediasi untuk menyelesaikan perselisihan yang
mereka hadapi sebelum melakukan gugatan melalui Pengadilan Hubungan
Industrial.
3. Cepat adil dan murah
60
Muzni Tambusai, Kepastian Hukum Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial,
(Jakarta : Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, 2005), hlm. 14.
Universitas Sumatera Utara
Penyelesaian perselisihan melalui lembaga Pengadilan Hubungan Industrial
menganut prinsip cepat, adil dan murah. Hal tersebut dapat dilihat dari segi waktu
penyelesaian yaitu : bipartit 30 hari, bila memilih salah satu dari lembaga arbitrase,
konsiliasi atau mediasi dimana melalui lembaga tersebut waktu penyelesaiannya
30 hari kerja. Apabila kedua belah pihak ataupun salah satu tidak dapat menerima
anjuran konsiliasi atau mediasi dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan
Hubungan Industrial. Waktu penyelesaian pada Pengadilan Hubungan Industrial
adalah 50 hari kerja dimana untuk perselisihan kepentingan dan antar serikat
pekerja/serikat buruh putusan Pengadilan Hubungan Industrial adalah final.
Sementara perselisihan hak dan PHK para pihak atau salah satu pihak dapat
mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung apabila tidak dapat menerima putusan
Pengadilan Hubungan Industrial. Mahkamah Agung mengambil keputusannya
paling lama 30 hari kerja. Disamping dari segi waktu, undang-undang memberikan
kesempatan kepada para pihak untuk meminta putusan sela dan pemeriksaan acara
cepat agar pemeriksaan sengketa dipercepat. Prinsip adil tercermin dari
penyelesaian yang dilakukan melalui musyawarah dan serta bila dilihat dari segi
putusan Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial dan Mahkamah Agung yang
diputus oleh Hakim majelis terdiri dari Hakim karir dan Hakim Ad-Hoc
diharapkan dapat mengambil keputusan mencerminkan rasa keadilan. Prinsip
murah, bahwa beracara di Pengadilan Hubungan Industrial pihak yang berperkara
tidak dikenakan biaya perkara hingga pada pelaksanaan eksekusi yang nilai
gugatannya dibawah Rp.150.000.000,- tidak adanya upaya banding kepada
Universitas Sumatera Utara
pengadilan tinggi serta pembatasan perselisihan hubungan industrial yang dapat
dilakukan kasasi ke Mahkamah Agung.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial membagi 4 jenis Perselisihan Hubungan Industrial sebagaimana
disebut pada Pasal 1 angka 1sampai angka 5 sebagai berikut :
1.
Perselisihan Hubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang
mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha
dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya
perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan
hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu
perusahaan.
2. Perselisihan hak adalah perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak,
akibat adanya pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan, perjanjian kerja, perjanjian perusahaan, atau perjanjian
kerja bersama.
3. Perselisihan kepentingan adalah perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja
karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan, dan atau
perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, atau
peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
4. Perselisihan pemutusan hubungan kerja adalah perselisihan yang timbul karena
tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang
dilakukan oleh salah satu pihak.
5. Perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh adalah perselisihan antara serikat
pekerja/serikat buruh dengan serikat pekerja/serikat buruh lain hanya dalam
satu perusahaan, karena tidak adanya persesuaian paham mengenai
keanggotaan, pelaksanaan hak, dan kewajiban keserikatpekerjaan.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial juga mengutamakan penyelesaian bipartit yang berpedoman
kepada musyawarah dan mufakat antara pekerja/buruh dengan pengusaha
sebagaimana disebut pada Pasal 3 sebagai berikut :
1. Perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih
dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai
mufakat.
Universitas Sumatera Utara
2. Penyelesaian perselisihan melalui bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
harus diselesaikan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal
dimulainya perundingan.
3. Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) salah satu pihak menolak untuk berunding atau telah dilakukan
perundingan tetapi tidak mencapai kesepakatan, maka perundingan bipartit
dianggap gagal.
Penyelesaiaan perselisihan hubungan industrial menganut penyelesaian di luar
pengadilan dan melalui pengadilan. Undang-undang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial menganut penyelesaian di luar pengadilan dan melalui
Pengadilan Hubungan Industrial. Adapun pengaturan tersebut dimaksudkan adalah
untuk mencegah terjadinya pelimpahan perselisihan kepada pengadilan. Oleh karena
penyelesaian perselisihan hubungan industrial mengutamakan penyelesaian win-win
solution yaitu melalui musyawarah untuk mufakat. Dengan harapan timbulnya
perselisihan hubungan industrial tidak akan mengganggu proses produksi barang
maupun jasa di perusahaan.
1. Penyelesaian Diluar Pengadilan
Perselisihan hubungan industrial melalui Pengadilan Hubungan Indutrial,
penggugat harus melampirkan risalah penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi.
Oleh karena apabila gugatan tidak dilampiri risalah tersebut, hakim wajib
mengembalikan gugatan kepada penggugat. Dari ketentuan tersebut diatas dapat kita
tarik kesimpulan bahwa penyelesaian perselisihan hubungan industrial diluar
pengadilan sifatnya adalah wajib.
Penyelesaian perselisihan hubungan industrial di luar pengadilan dilakukan
melalui lembaga ataupun mekanisme :
Universitas Sumatera Utara
a. Bipartit;
b. Mediasi;
c. Konsiliasi;
d Arbitrase.
a. Penyelesaian Melalui Mekanisme Bipartit
Penyelesaian melalui perundingan bipartit adalah perundingan antara
pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat
buruh dengan pengusaha untuk
menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. Penyelesaian melalui perundingan
bipartit adalah wajib, oleh karenanya apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak
mencatatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan, tanpa melampirkan bukti bahwa upaya penyelesaian melalui
perundingan bipartit telah dilakukan maka instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan akan mengembalikan berkasnya untuk dilengkapi.
Berbeda dengan Lembaga Kerjasama Bipartit sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dimana Lembaga
Kerjasama Bipartit adalah sebagai forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya
terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang sudah tercatat pada
institusi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh.
Kerjasama bipartit adalah suatu bentuk kerjasama antara pengusaha dengan
pekerja/buruh yang telah dilembagakan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 106
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang dikenal dengan
Universitas Sumatera Utara
istilah Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit. Kerjasama bipartit ini tidak dapat
diartikan secara fisik tetapi lebih banyak dalam bidang konsepsi dan pemikiran serta
persamaan persepsi. Penyelesaian secara bipartit maupun LKS Bipartit memiliki
tujuan yang sama yaitu untuk menyelesaiakan persoalan yang timbul antara
pekerja/buruh dengan pengusaha. LKS Bipartit sebagai forum komunikasi dan
konsultasi yang juga bertujuan untuk mengantisipasi perbedaan pendapat antara
pekerja/buruh dengan pengusaha. Dengan kata lain bahwa LKS Bipartit sebagai
upaya preventif dalam mencegah timbulnya perselisihan hubungan industrial.
Keberadaan LKS Bipartirt sebagai upaya preventif terhadap timbulnya
perselisihan hubungan industrial akan mendukung jalannya bipartit. Artinya LKS
Bipartit maupun mekanisme bipartit sama-sama perlu dibudayakan. LKS Bipartit
sebagai pencegah dan bipartit sebagai mekanismenya. Pada saat terjadi perselisihan
hubungan industrial di suatu perusahaan maka kedua belah pihak (pengusaha dan
pekerja/buruh) dapat langsung menyelesaikannya dengan cara bipartit (mekanisme)
karena sudah terbentuk LKS Bipartit. Maka dengan demikian tujuan akhirnya dari
mekanisme bipartit dan LKS Bipartit adalah menciptakan hubungan industrial yang
harmonis di perusahaan.
Pada dasarnya pekerja/buruh dengan pengusaha memiliki tujuan yang sama
yaitu peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Untuk mencapai tujuan ini
masalah bipartit perlu dilembagakan supaya kedua belah pihak memperoleh manfaat
atas keberadaan Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit.
Dengan adanya Lembaga
Universitas Sumatera Utara
Kerjasama (LKS) Bipartit ini maka mekanisme bipartit akan semakin mudah untuk
dijalankan.
Perundingan bipartit, diselesaikan paling lama 30 hari kerja sejak tanggal
dimulainya perundingan dan setiap perundingan harus dibuat risalah perundingan,
sekurang-kurangnya memuat61 :
(a) Nama lengkap dan alamat para pihak;
(b) Tanggal dan tempat perundingan;
(c) Pokok masalah atau alasan perselisihan;
(d) Pendapat para pihak;
(e) Kesimpulan atau hasil perundingan; dan
(f) Tanggal serta tanda tangan para pihak yang melakukan perundingan.
Penyelesaian melalui perundingan sebagaimana dimaksud diatas, apabila
mencapai kesepakatan, dibuat perjanjian bersama yang ditanda tangani oleh para
pihak dimana sifatnya adalah mengikat dan menjadi hukum serta wajib dilaksanakan
oleh para pihak62.
Untuk keperluan pelaksanaannya, para pihak wajib didaftarkan pada
pengadilan
hubungan industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah para pihak
mengadakan perjanjian bersama dan Pengadilan Hubungan Industrial memberikan
“Akta Bukti Pendaftaran Perjanjian Bersama” dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Perjanjan Bersama63. Melalui Akta Pendaftaran Perjanjian Bersama
tersebut, pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada
61
Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
62
Pasal 7 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial.
63
Pasal 7 ayat (3) dan (4) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah Perjanjian
Bersama didaftarkan untuk mendapatkan penetapan eksekusi64.
b. Penyelesaian Melalui Mediasi
Mediasi hubungan industrial yang selanjutnya disebut mediasi adalah
penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antara serikat
pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang
ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang netral. Mediator disini adalah
pegawai institusi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan
yang memenuhi syarat-syarat sebagai mediator yang ditetapkan oleh Menteri untuk
bertugas melakukan mediasi dan mempunyai kewajiban memberikan anjuran tertulis
kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihan hak, perselisihan
kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antara serikat
pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan.
Mediator berada di setiap kantor instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan Kabupaten/Kota yang harus memenuhi syarat sebagai berikut65 :
(a) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
(b) Warga Negara Indonesia;
(c) Berbadan sehat menurut surat keterangan dokter;
(d) Mengetahui peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan;
(e) Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak bercela;
(f) Berpendidikan sekurang-kurangnya lulusan strata 1 (S1); dan
(g) Syarat lain yang ditetapkan oleh Menteri.
64
Pasal 7 ayat (5) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
65
Pasal 9 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
Universitas Sumatera Utara
Penyelesaian perselisihan melalui mediasi, mengutamakan penyelesaian
musyawarah untuk mufakat, dan apabila dalam perundingan tersebut dicapai
kesepakatan, dibuat Perjanjian Bersama yang ditanda tangani oleh para pihak dan
disaksikan oleh Mediator dan didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial untuk
mendapatkan Akta Bukti Pendaftaran.
Penyelesaian melalui mediasi, bila tidak tercapai kesepakatan proses
penyelesaiaan selanjutnya adalah66 :
(a) Mediator mengeluarkan anjuran secara tertulis sebagai pendapat atau saran
yang diusulkan oleh mediator kepada para pihak dalam upaya menyelesaikan
perselisihan mereka.
(b) Anjuran tersebut dalam waktu selambat-lambatnya 10 hari kerja sejak sidang
mediasi pertama harus sudah disampaikan kepada para pihak.
(c) Para pihak harus sudah memberikan jawaban secara tertulis kepada mediator
yang isinya menyetujui atau menolak dalam waktu selambat-lambatnya 10
hari kerja setelah menerima anjuran.
(d) Pihak yang tidak memberikan jawaban dianggap menolak anjuran.
(e) Namun apabila para pihak menyetujui anjuran, maka dalam waktu selambatlambatnya 3 hari kerja sejak anjuran disetujui, mediator harus sudah selesai
membantu para pihak membuat Perjanjian Bersama untuk didaftarkan pada
Pengadilan Hubungan Industrial guna mendapatkan Akta Bukti Pendaftaran.
Waktu penyelesaian pada mediator adalah dalam waktu selambat-lambatnya
30 hari kerja terhitung sejak menerima pelimpahan. Pada dasarnya penyelesaian
perselisihan hubungan industrial melalui mediasi adalah wajib, dalam hal ketika
instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan menawarkan kepada para
pihak yang berselisih tidak memilih lembaga konsiliasi atau arbitrase untuk
menyelesaikan perselisihan yang dihadapi para pihak.
66
Pasal 13ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
c. Penyelesaian Melalui Konsiliasi
Konsiliasi hubungan industrial yang selanjutnya disebut konsiliasi adalah
perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan
antara serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui
musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih konsiliator yang netral.
Konsiliator disini adalah seorang atau lebih yang memenuhi syarat-syarat sebagai
konsiliator ditetapkan oleh menteri, yang bertugas melakukan konsiliasi dan wajib
memberikan anjuran tertulis kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan
perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan
antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan.
Konsiliator dapat memberikan konsiliasi apabila telah terdaftar pada kantor
instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kabupaten/Kota. Syarat
menjadi konsiliator adalah67 :
(a) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
(b) Warga Negara Indonesia;
(c) Berumur sekurang-kurangnya 45 tahun;
(d) Pendidikan minimal lulusan strata satu (S1);
(e) Berbadan sehat menurut surat keterangan dokter;
(f) Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela;
(g) Memiliki pengalaman di bidang hubungan industrial sekurang-kurangnya 5
(lima) tahun;
(h) Menguasai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan; dan
(i) Syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh menteri.
Penyelesaian melalui konsiliasi, dilakukan berdasarkan kesepakatan para
pihak yang berselisih yang dibuat secara tertulis untuk diselesaikan oleh konsiliator.
67
Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
Para pihak dapat mengetahui nama konsiliator yang akan dipilih dan disepakati dari
daftar nama konsiliator yang dipasang dan diumumkan pada kantor instansi
pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat.
Konsiliator dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial pada
dasarnya adalah melalui musyawarah untuk mufakat. Dalam perundingan yang
mencapai kesepakatan, dibuat Perjanjian Bersama yang ditanda tangani oleh para
pihak dan disaksikan oleh konsiliator, untuk didaftarkan pada Pengadilan Hubungan
Industrial guna mendapatkan Akta Bukti Pendaftaran. Sebaliknya bila tidak dicapai
kesepakatan, maka 68:
(a) Konsiliator menggunakan anjuran tertulis;
(b) Dalam waktu selambat-lambatnya 10 hari kerja sejak sidang konsiliasi
pertama, anjuran tertulis harus sudah disampaikan kepada para pihak;
(c) Para pihak harus sudah memberikan jawaban tertulis kepada konsiliator yang
isinya menyetujui atau melakukan anjuran dalam waktu selambat-lambatnya
10 hari sejak menerima anjuran;
(d) Pihak yang tidak memberikan jawaban atau pendapatnya dianggap sebagai
menolak anjuran;
(e) Terhadap anjuran konsiliator apabila para pihak menyetujui, maka dalam
waktu selambat-lambatnya 3 hari kerja sejak anjuran disetujui, konsiliator
harus sudah selesai membantu para pihak membuat perjanjian bersama untuk
kemudian didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial untuk mendapatkan
Akta Bukti Pendaftaran.
(f) Sehingga penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui lembaga
konsiliasi dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari kerja terhitung
sejak menerima permintaan penyelesaian perselisihan.
d. Penyelesaian Melalui Arbitrase
\
Arbitrase Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut arbitrase adalah
penyelesaian suatu perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat
68
Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan, di luar Pengadilan Hubungan
Industrial melalui kesepakatan tertulis dari para pihak yang berselisih untuk
menyerahkan penyelesaian perselisihan kepada arbitrase yang putusannya mengikat
para pihak dan bersifat final.
Arbiter yang dimaksud disini adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para
pihak yang berselisih dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh menteri untuk
memberikan keputusan mengenai perselisihan kepentingan, dan perselisihan antar
serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan yang diserahkan
penyelesaiannya melalui arbitrase yang putusannya mengikat para pihak dan bersifat
final.
Dengan demikian syarat untuk dapat ditetapkan sebagai arbiter adalah 69:
(a) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
(b) Cakap melakukan tindakan hukum;
(c) Warga Negara Indonesia;
(d) Berumur sekurang-kurangnya 45 tahun;
(e) Pendidikan minimal lulusan strata satu (S1);
(f) Berbadan sehat menurut surat keterangan dokter;
(g) Menguasai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang dibuktikan
dengan sertifikat atau bukti kelulusan telah mengikuti ujian arbitrase;
(h) Memiliki pengalaman di bidang hubungan industrial sekurang-kurangnya 5
tahun.
Penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui arbiter dilakukan atas
dasar kesepakatan para pihak yang berselisih. Kesepakatan tersebut dibuat dalam
bentuk Surat Perjanjian Arbitrase, rangkap 3 (tiga) dan masing-masing pihak
69
Pasal 31ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
mendapatkan 1 (satu) yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. Adapaun Surat
Perjanjian Arbitrase yang dibuat sekurang-kurangnya memuat70 :
(a) Nama lengkap dan alamat atau tempat kedudukan para pihak yang berselisih;
(b) Pokok-pokok persoalan yang menjadi perselisihan dan yang diserahkan kepada
arbitrase untuk diselesaikan dan diambil putusan;
(c) Jumlah arbiter yang disepakati;
(d) Pernyataan
para pihak yang berselisih untuk tunduk dan menjalankan
keputusan arbitrase;
(e) Tanggal dan tempat pembuatan surat perjanjian, tanda tangan para pihak yang
berselisih.
Penunjukan arbiter dapat dilakukan
melalui arbiter tunggal atau beberapa
arbiter sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang. Untuk penunjukan arbiter tunggal, para
pihak harus sudah mencapai kesepakatan dalam waktu selambat-lambatnya 7 hari
kerja, tentang nama arbiter dimaksud. Namun apabila penunjukan beberapa arbiter
(majelis) dalam jumlah gasal, masing-masing pihak berhak memilih seorang arbiter
dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja, sementara untuk arbiter ketiga
sebagai Ketua Majelis Arbitrase ditentukan oleh para arbiter yang ditunjuk selambatlambatnya 7 hari kerja sejak ditunjuk oleh para pihak.
Penunjukan arbiter sebagaimana dimaksud diatas dilakukan secara tertulis
dalam bentuk Perjanjian Penunjukan Arbiter dengan para pihak yang berselisih.
Perjanjian Penunjukan Arbiter sekurang-kurangnya memuat hal sebagai berikut 71:
(a) Nama lengkap dan alamat atau tempat kedudukan para pihak yang berselisih
dan arbiter;
70
Pasal 32ayat (3) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
71
Pasal 34 ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
(b) Pokok-pokok persoalan yang menjadi perselisihan dan yang diserahkan
kepada arbiter untuk diselesaikan dan diambil keputusan;
(c) Biaya arbitrase dan honorarium arbiter;
(d) Pernyataan para pihak yang berselisih untuk tunduk dan menjalankan
keputusan arbitrase;
(e) Tanggal dan tempat pembuatan surat perjanjian, dan tanda tangan para pihak
yang berselisih dan arbiter;
(f) Pernyataan arbiter atau para arbiter untuk tidak melampaui kewenangannya
dalam penyelesaian perkara yang ditanganinya; dan
(g) Tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat
kedua dengan salah satu pihak yang berselisih.
Para pihak yang berselisih ada kalanya tidak sepakat untuk menunjuk arbiter
tunggal maupun beberapa arbiter, maka atas permohonan salah satu pihak Ketua
Pengadilan dapat mengangkat arbiter dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh mentri.
Arbiter yang menerima penunjukan sebagai arbiter, harus memberitahukan secara
tertulis mengenai penerimaan penunjukannya kepada para pihak yang berselisih.
Penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui arbitrase, arbiter harus
mengupayakan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berselisih. Apabila
upaya perdamaian dicapai kesepakatan arbiter atau majelis arbiter wajib membuat
akta perdamaian yang ditandatangani oleh para pihak yang berselisih dan arbiter atau
majelis arbiter.
Akta perdamaian dimaksud didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial
pada Pengadilan Negeri dimana wilayah arbiter mengadakan perdamaian untuk
mendapatkan Akta Bukti Pendaftaran, yang akan dapat digunakan sebagai dasar
permohonan eksekusi, apabila Akta Perdamaian yang telah dicapai tidak
dilaksanakan oleh salah satu pihak melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada
Pengadilan Negeri tempat pendaftaran Akta Perdamaian.
Universitas Sumatera Utara
Upaya mencapai perdamaian adakalanya tidak mencapai kesepakatan (gagal),
maka arbiter atau majelis arbiter meneruskan sidang arbitrase yang dilakukan secara
tertutup, kecuali pihak yang berselisih menghendaki lain dimana setiap kegiatan
pemeriksaan dan sidang arbitrase dibuat berita acara pemeriksaan oleh arbiter atau
majelis arbiter.
Pemeriksaan perselisihan hubungan industrial oleh arbiter atau majelis arbiter,
apabila telah dianggap cukup, arbiter atau majelis arbiter mengambil putusan yang
didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, perjanjian, kebiasaan,
keadilan, dan kepentingan umum. Adapun putusan arbitrase memuat 72:
(a) Kepala putusan yang berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa”.
(b) Nama lengkap dan alamat arbiter atau majelis arbiter;
(c) Nama lengkap dan alamat para pihak;
(d) Hal-hal yang termuat dalam surat perjanjian yang diajukan oleh para pihak
yang berselisih;
(e) Ikhtisar dari tuntutan, jawaban, dan penjelasan lebih lanjut dari para pihak yang
berselisih;
(f) Pertimbangan yang menjadi dasar putusan;
(g) Pokok Putusan;
(h) Tempat dan tanggal putusan;
(i) Mulai berlakunya putusan; dan
(j) Tanda tangan arbiter atau majelis arbiter.
Putusan arbitrase mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi para pihak
yang berselisih dan merupakan putusan yang bersifat akhir dan tetap. Putusan
tersebut didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di
wilayah arbiter menetapkan putusan. Terhadap putusan arbitrase yang tidak
72
Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
dilaksanakan, maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi
melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang daerah
hukumnya meliputi tempat kedudukan para pihak terhadap siapa putusan itu harus
dijalankan, agar putusan diperintahkan untuk dijalankan. Pengadilan Negeri, dalam
waktu selambat-lambatnya 30 hari kerja harus sudah menyelesaikan perintah
pelaksanaan eksekusi terhitung setelah permohonan didaftarkan pada Panitera
Pengadilan Negeri dengan tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan
arbitrase.
Putusan arbitrase, oleh salah satu pihak dapat mengajukan permohonan
pembatalan kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari kerja
sejak ditetapkan putusan arbiter, apabila putusan diduga mengandung unsur sebagai
berikut73 :
(a) Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan
dijatuhkan diakui atau dinyatakan palsu;
(b) Setelah putusan diambil, ditemukan dokumen yang bersifat menetukan yang
disembunyikan oleh pihak lain;
(c) Putusan diambil dari tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam
pemeriksaan perselisihan;
(d) Putusan melampaui kekuasaan arbitrase hubungan industrial; atau
(e) Putusan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari kerja terhitung
sejak menerima permohonan, memutuskan permohonan pembatalan dan menetapkan
akibat dari pembatalan baik seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase. Penyelesaian
perselisihan hubungan industrial melalui arbitrase dilakukan dalam waktu selambat73
Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
lambatnya 30 hari kerja sejak penandatanganan surat perjanjian penunjukan arbiter
dan atas kesepakatan para pihak, arbiter berwenang untuk memperpanjang jangka
waktu penyelesaian 1(satu) kali perpanjangan selambat-lambatnya 14 hari kerja.
Suatu perselisihan yang sedang atau telah diselesaikan melalui arbitrase tidak dapat
diajukan ke Pengadilan Hubungan Industrial.
2. Penyelesaian Melalui Pengadilan Hubungan Industrial
Gugatan perselisihan hubungan industrial diajukan kepada Pengadilan
Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat
pekerja/buruh bekerja yang sekarang ada di ibukota propinsi. Pengajuan gugatan
dimaksud harus melampirkan risalah penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi.
Hakim Pengadilan Hubungan Industrial wajib mengembalikan gugatan kepada pihak
penggugat apabila gugatan penggugat tidak melampirkan risalah penyelesaian
melalui mediasi atau konsiliasi.
Penggugat dapat sewaktu waktu mencabut gugatannya sebelum tergugat
memberikan jawaban, apabila tergugat sudah memberikan jawaban atas gugatan,
pencabutan gugatan akan dikabulkan pengadilan apabila disetujui tergugat.
Tugas dan wewenang Pengadilan Hubungan Industrial adalah memeriksa dan
memutus 74:
a. tingkat pertama mengenai perselisihan hak;
b. tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan;
74
Pasal 56 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
Universitas Sumatera Utara
c. tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja;
d. tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat
buruh hanya dalam satu perusahaan.
Majelis hakim dalam mengambil putusannya mempertimbangkan hukum,
perjanjian yang ada, kebiasaan dan keadilan yang dibacakan dalam sidang terbuka
untuk umum, dimana putusan pengadilan harus memuat :
a. Kepala putusan berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhahan Yang Maha
Esa”;
b. Nama, jabatan, kewarganegaraan, tempat kediaman, atau tempat kedudukan para
pihak yang berselisih;
c. Ringkasan pemohon/penggugat dan jawaban termohon/tergugat yang jelas;
d. Pertimbangan terhadap setiap bukti dan data yang diajukan, hal yang terjadi dalam
persidangan selama sengketa itu diperiksa;
e. Aturan hukum yang menjadi dasar putusan;
f. Amar putusan tentang sengketa;
g. Hari, tanggal putusan, nama hakim, Hakim Ad hoc yang memutus, nama panitera,
serta keterangan tentang hadir atau tidaknya para pihak.
Majelis hakim wajib memberikan putusan penyelesaian perselisihan dalam
waktu selambat-lambatnya 50 hari terhitung sejak sidang pertama. Putusan dimaksud
dalam waktu selambat-lambatnya 7 hari setelah putusan dibacakan, panitera
pengganti harus sudah menyampaikan pemberitahuan putusan kepada pihak yang
tidak hadir dan selambat-lambatnya 14 hari kerja setelah putusan ditandatangani
Universitas Sumatera Utara
panitera muda harus sudah menerbitkan salinan putusan serta dalam waktu selambatlambatnya 7 hari kerja setelah salinan putusan diterbitkan harus sudah mengirimkan
salinan putusan kepada para pihak. Apabila perselisihan hak dan/atau perselisihan
kepentingan diikuti dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja maka pengadilan
wajib memutus terlebih dahulu perkara perselisihan hak dan/atau perselisihan
kepentingan.
3. Penyelesaian Perselisihan Melalui Mahkamah Agung
Putusan Pengadilan Hubungan Industrial mengenai perselisihan hak dan
perselisihan pemutusan hubungan kerja mempunyai kekuatan hukum tetap apabila
tidak diajukan permohonan kasasi kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambatlambatnya 14 hari kerja terhitung :
a. Bagi pihak yang hadir, sejak putusan dibacakan oleh sidang majelis hakim;
b. Bagi pihak yang tidak hadir, sejak tanggal menerima pemberitahuan putusan.
Permohonan kasasi harus disampaikan secara tertulis melalui sub.
kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial Pengadilan Negeri setempat, dan dalam
waktu selambat-lambatnya 14 hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan
permohonan kasasi harus sudah disampaikan oleh sub kepaniteraan pengadilan
kepada ketua Mahkamah Agung.
Di dalam Pasal 115 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial disebutkan bahwa penyelesaian perselisihan hak
atau perselisihan pemutusan hubungan kerja pada Mahkamah Agung selambat-
Universitas Sumatera Utara
lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan
kasasi.
Sanksi administrasi diberlakukan kepada mediator dan panitera muda
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 116 yaitu sebagai berikut:
(1) Mediator yang tidak dapat menyelesaikan perselisihan hubungan industrial
dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja tanpa alasan yang
sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dapat dikenakan sanksi
administratif berupa hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi pegawai negeri sipil.
(2). Panitera Muda yang tidak menerbitkan salinan putusan dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah putusan ditandatangani
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 dan panitera yang tidak mengirimkan
salinan kepada para pihak paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 107 dapat dikenakan sanksi administratif sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sanksi adminstratif juga diberikan kepada konsiliator dan arbiter yaitu
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 117 sampai dengan Pasal 121 Undang-Undang
No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial sebagai
berikut :
(1) Konsiliator yang tidak menyampaikan anjuran tertulis dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 23
ayat (2) butir b atau tidak membantu para pihak membuat perjanjian bersama
dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (2) huruf e dapat dikenakan sanksi administratif berupa
teguran tertulis.
(2) Konsiliator yang telah mendapatkan teguran tertulis sebanyak 3 (tiga) kali
sebagaimana dimkasud dalam ayat (1) dapat dikenakan sanksi administratif
berupa pencabutan sementara sebagai konsiliator.
(3) Sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) baru dapat dijatuhkan setelah
yang bersangkutan menyelesaikan perselisihan yang sedang ditanganinya.
(4) Sanksi administratif pencabutan sementara sebagai konsiliator diberikan untuk
jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan.
Universitas Sumatera Utara
Konsiliator dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan tetap sebagai
konsiliator dalam hal :75
(a) konsiliator telah dijatuhi sanksi administratif berupa pencabutan sementara
sebagai konsiliator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (2) sebanyak
3 (tiga) kali;
(b) terbukti melakukan tindak pidana kejahatan;
(c) menyalahgunakan jabatan; dan atau
(d) membocorkan keterangan yang diminta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
ayat (3)
Pasal 119 :
(1) arbiter yang tidak dapat menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam
waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja dan dalam jangka waktu
perpanjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dan ayat (3) atau
tidak membuat berita acara kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 48, dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis
(2) arbiter yang telah mendapat teguran tertulis 3 (tiga) kali sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dapat dikenakan sanksi administratif berupa
pencabutan sementara sebagai arbiter.
(3) sanksi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) baru dapat dijatuhkan
setelah yang bersangkutan menyelesaikan perselisihan yang sedang
ditanganinya.
(4) sanksi administratif pencabutan sementara sebagai arbiter diberikan untuk
jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan.
Pasal 120 :
(1) arbiter dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan tetap sebagai
arbiter dalam hal :
a. arbiter paling sedikit telah 3 (tiga) kali mengambil keputusan arbitrase
perselisihan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52
ayat (1) huruf d dan e dan Mahkamah Agung telah mengabulkan
permohonan peninjauan kembali atas putusan-putusan arbiter tersebut;
b. terbukti melakukan tindak pidana kejahatan;
c. menyalahgunakan jabatan;
75
Pasal 118 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
Universitas Sumatera Utara
d. arbiter telah dijatuhi sanksi adminstratif berupa pencabutan sementara
sebagai arbiter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) sebanyak 3
(tiga) kali.
(2) sanksi administratif berupa pencabutan tetap sebagai arbiter sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) mulai berlaku sejak tanggal arbiter menyelesaikan
perselisihan yang sedang ditanganinya.
Pasal 121 :
(1) sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117, Pasal 118, Pasal
119, dan Pasal 120 dijatuhkan oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk.
(2) tata cara pemberian dan pencabutan sanksi akan diatur lebih lanjut dengan
keputusan menteri.
Sanksi pidana diberlakukan kepada :
a. barang siapa yang diminta keterangan oleh mediator, tidak memberikan keterangan
termasuk membuka buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan;
b. barang siapa yang diminta keterangan oleh konsiliator, tidak memberikan
keterangan termasuk membuka buku dan memperlihatkan surat-surat yang
diperlukan;
c. barang siapa yang diminta keterangan oleh arbiter tidak memberikannya, termasuk
membuka buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan;
d. konsiliator yang tidak manjaga kerahasiaan;
e. arbiter yang tidak merahasiakan semua keterangan yang diminta;
f. setiap orang yang tidak bersedia menjadi saksi atau saksi ahli untuk memenuhi
panggilan untuk memberikan kesaksian yang dipanggil majelis hakim;
g. barang siapa yang tidak bersedia memberikan keterangan temasuk membuka buku
dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan.
Universitas Sumatera Utara
Sanksi pidana tersebut diatur pada pasal yang berbunyi sebagai berikut 76:
(1) barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
ayat (1), Pasal 22 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 47 ayat (1) dan ayat (3), Pasal
90 ayat (2), kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam)
bulan dan atau denda paling sedikit Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
(2) perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana
pelanggaran
B. Bipartit Sebagai Mekanisme Ditinjau dari Segi Filsafat Indonesia
Berdasarkan Musyawarah Mufakat dan Keadilan Hukum
Didalam sila ke 4 Pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, telah menggambarkan bahwa
sebelum diambil suatu keputusan yang menyangkut kepentingan bersama maka
haruslah didahulukan musyawarah mufakat.
Dengan sila kerakyatan yang dimpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga
masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Dalam
menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan
mengutamakan kepentingan negara dan kepentingan masyarakat.
Karena mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, maka pada
dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain.
Sebelum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dahulu
diadakan musyawarah. Keputusan diusahakan secara mufakat. Musyawarah untuk
76
Pasal 122 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
Universitas Sumatera Utara
mencapai mufakat ini diliputi oleh semangat kekeluargaan, yang merupakan ciri khas
bangsa Indonesia.
Manusia Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil
keputusan musyawarah, karena itu semua pihak yang bersangkutan harus
menerimanya dan melaksanakannya dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab. Di
sini kepentingan bersamalah yang diutamakan diatas kepentingan pribadi dan
golongan. Pembicaraan dalam musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai
dengan hati nurani yang luhur. Keputusan-keputusan yang diambil harus dapat
dipertanggungjawbakan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan,
mengutamakan persatuan dan kesatuan, demi kepentingan bersama.
Dalam melaksanakan permusyawaratan, kepercayaan diberikan kepada wakilwakil yang dipercayainya.77Secara institusional dalam bidang kehidupan berbangsa ,
Pancasila telah diwujudkan dengan kesediaan beberapa ratus suku menjadi satu
bangsa, bangsa Indonesia, dengan derajat yang sama bagi tiap-tiap suku. Persatuan
suku-suku menjadi satu bangsa itu dibuktikan dengan nyata dengan diterimanya
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di atas bahasa yang dimiliki oleh tiap-tiap
suku. Disamping itu dapat disebut juga pengakuan bendera merah putih sebagai
bendera kebangsaan serta lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.
77
Darji Darmodiharjo, C.S.T. Kansil dan Kasmiran Wuryo, Menjadi Warga Negara
Pancasila, (Jakarta : P.N. Balai Pustaka, 1979), hlm. 29-30.
Universitas Sumatera Utara
Di dalam bidang kehidupan bernegara telah pula melembaga unsur-unsur
Pancasila yang dijabarkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia
sebagai
wadah
Pancasila
telah
membentuk
dan
mengoperasikan
Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), jabatan
presiden, wakil presiden dan menteri, Badan Pemeriksa Keuangan dan lembagalembaga negara lainnya. Lagipula daerah Republik Indonesia telah dibagi-bagi
menjadi daerah propinsi dan kabupaten sebagai daerah otonom, sedang puluhan ribu
desa telah dikukukan dengan pemerintahan yang diberi wewenang menyelenggarakan
pemerintahan langsung bagi masyarakat desa.
Dalam kaitannya dengan hukum yang berlaku bagi bangsa dan negara
Indonesia, Pancasila telah dinyatakan kedudukannya oleh para pendiri negara ini
sebagaimana terlihat dalam UUD 1945 dalam penjelasan umum. Di sana ditegaskan,
bahwa Pancasila adalah cita hukum (Rechtsidee) yang menguasai hukum dasar
negara, baik hukum dasar yang tertulis maupun hukum dasar yang tidak tertulis.
Hukum ketenagakerjaan adalah salah satu hukum yang berlaku di Indonesia
yang mengatur masalah hubungan industrial. Dalam Pasal 102 Undang-Undang No.
13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan disebutkan :
1. Dalam melaksanakan hubungan
industrial, pemerintah mempunyai fungsi
menetapkan kebijakan, memberikan pelayanan, melaksanakan pengawasan, dan
melakukan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan
ketenagakerjaan.
Universitas Sumatera Utara
2.
Dalam
melaksanakan
hubungan
industrial,
pekerja/buruh
dan
serikat
pekerja/serikat buruh mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan
kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan
aspirasi secara demokratis, mengembangkan ketrampilan, dan keahliannya serta
ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta
keluarganya.
3. Dalam melaksanakan hubungan industrial, pengusaha mempunyai fungsi
menciptakan kemitraan, mengembangkan usaha, memperluas lapangan kerja, dan
memberikan kesejahteraan pekerja/buruh secara terbuka, demokratis, dan
berkeadilan.
Hubungan industrial (industrial relation) di Indonesia merupakan hubungan
yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang
terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh dan pemerintah, yang didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Dalam proses produksi di perusahaan pihakpihak yang terlibat secara langsung adalah pekerja/buruh dan pengusaha, sedangkan
pemerintah termasuk sebagai para pihak dalam hubungan industrial karena
berkepentingan untuk terwujudnya hubungan kerja yang harmonis sebagai syarat
keberhasilan suatu usaha, sehingga produktivitas dapat meningkat yang pada
akhirnya akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan dapat meningkatkan
kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
Peran pemerintah dalam hubungan indsutrial ini diwujudkan dengan
mengeluarkan berbagai kebijakan, peraturan perundang-undangan yang harus ditaati
Universitas Sumatera Utara
oleh para pihak, serta mengawasi atau menegakkan peraturan tersebut sehingga dapat
berjalan secara efektif, serta membantu dalam penyelesaian perselisihan hubungan
industrial. Dengan demikian, kepentingan pemerintah dalam hubungan industrial
adalah menjamin keberlangsungan proses produksi secara lebih luas.78
Pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh dalam melaksanakan
hubungan industrial berfungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya,
menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasinya secara
demokratis, mengembangkan ketrampilan dan keahliannya serta ikut memajukan
perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya.
Pengusaha/organisasi pengusaha dalam melaksanakan hubungan industrial
mempunyai fungsi menciptakan kemitraan, mengembangkan usaha, memperluas
lapangan kerja dan memberikan kesejahteraan pekerja/buruh secara terbuka,
demokratis dan berkeadilan. Oleh karena itu hubungan industrial tidak hanya dilihat
dari konteks hubungan antara pekerja dan pengusaha semata, peraturan-peraturan
ketenagakerjaan, tetapi juga tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial, ekonomi
dan politik karena di dalamnya mencakup pola konsep keadilan, kekuasaan, hak dan
tanggung jawab. Pada akhirnya tujuan hubungan industrial adalah untuk
meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja dan pengusaha, tujuan ini
saling berkaitan dan terkait satu dengan yang lainnya yang berarti bahwa
pengurangan terhadap yang satu akan mempengaruhi yang lain. Tingkat produktivitas
78
Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & di Luar
Pengadilan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 18.
Universitas Sumatera Utara
perusahaan misalnya sangat ditentukan oleh tingkat produktivitas pekerja,
produktivitas
yang
tinggi
hanya
dimungkinkan
jika
perusahaan
tersebut
memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya. Peningkatan kesejahteraan pekerja
hanya layak jika produktivitas perusahan meningkat.
Semua pihak yang terlibat dalam proses produksi terutama pengusaha, perlu
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif melalui bipartit untuk mencapai
produktivitas yang diinginkan. Melalui bipartit dapat dibangun kemitraan antara
pengusaha dengan pekerja/buruh sehingga tercipta damai di tempat kerja.
Hubungan kemitraan antara pekerja/buruh dan pengusaha akan terganggu jika
salah satu pihak memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lain, sehingga
pemenuhan kebutuhan atau kepentingan salah satu pihak dirugikan. Untuk
mengarahkan dan mengembalikan hubungan kerja sama antara pekerja dan
pengusaha dalam kegiatan tersebut, hukum ketenagakerjaan sebagai pedoman dalam
hubungan industrial mempunyai kedudukan dan peranan yang penting. Melalui
perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang aspiratif diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan kedua belah pihak.
Kemitraan antara pekerja/buruh dan pengusaha merupakan konsep yang harus
dikembangkan dalam hubungan industrial, jika pihak pekerja/buruh dan pengusaha
menginginkan perusahaannya maju dan berkembang serta dapat bersaing dalam
tataran nasional dan internasional. Dengan demikian, hubungan kemitraan antara
pekerja/buruh dan pengusaha ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemajuan
Universitas Sumatera Utara
perusahaan. Untuk itu masing-masing pihak harus konsisten melaksanakan
kewajibannya masing-masing.
Hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha didasari adanya
kesepakatan kedua belah pihak tentu tidak selamanya harmonis adakalanya terjadi
perselisihan dan bahkan terjadi pemutusan hubungan kerja. Betapapun harmonisnya
hubungan kerja antara pengusaha dengan pekerja/buruh tetap ada perselisihan, yang
perlu menjadi perhatian pengusaha dan pekerja/buruh adalah bahwa penyelesaian
perselisihan yang terbaik adalah penyelesaian oleh para pihak yang berselisih dengan
musyawarah mufakat (bipartit) yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.
Penyelesaian musyawarah mufakat (bipartit) ini tidak ada kalah menang tetapi samasama menang.
Ditinjau dari beberapa perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang
pernah berlaku dan yang sedang berlaku di Indonesia tetap mendahulukan sistem
bipartit. Seperti yang pernah berlaku antara lain :
1. Undang-Undang No. 22 Tahun 1957 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Perburuhan pada Pasal 2 ayat (1) disebutkan : bila terjadi perselisihan
perburuhan, maka serikat buruh dan majikan mencari penyelesaian perselisihan
itu secara damai dengan jalan perundingan. Dalam memori penjelasan UndangUndang No. 22 Tahun 1957 Tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan
disebutkan : “perlu ditegaskan bahwa yang menjadi pokok pikiran dari UndangUndang ini ialah bahwa adalah tingkat pertama pihak-pihak yang berselisih harus
sendiri menyelesaikan kesukaran-kesukaran mereka dalam lapangan perburuhan
Universitas Sumatera Utara
dengan
jalan perundingan yang langsung antara kedua belah pihak”. Bila
perundingan antara kedua belah pihak itu menghasilkan persetujuan-persetujuan
itu disusun menjadi suatu perjanjian perburuhan.
Dalam memori penjelasan Undang-Undang No 22 Tahun 1957 Tentang
Perselisihan
Perburuhan
sangat
jelas
memakai
sistem
bipartit
dalam
meyelesaikan persoalan perselisihan hubungan industrial.
2. Undang-Undang No. 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di
Perusahaan Swasta pada Pasal 2 menyatakan : “ bila setelah diadakan segala usaha
pemutusan
hubungan
kerja
tidak
dapat
dihindarkan,
pengusaha
harus
merundingkan maksudnya untuk memutuskan hubungan kerja dengan organisasi
buruh yang bersangkutan atau dengan buruh sendiri dalam hal buruh itu tidak
menjadi anggota dari salah satu organisasi buruh”. Dari pasal ini sangat jelas
menyatakan bahwa yang diutamakan dalam penyelesaian perselisihan pemutusan
hubungan kerja adalah dengan cara musyawarah mufakat (bipartit).
Pada penjelasan Undang-Undang No. 12 Tahun 1964 Tentang Pemutusan
Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta di dalam pokok-pokok pikiran yang
diwujudkan dalam Undang-Undang ini dalam garis besarnya antara lain adalah
sebagai berikut :
1. Pokok pangkal yang harus dipegang teguh dalam menghadapi masalah pemutusan
hubungan kerja ialah bahwa sedapat mungkin pemutusan hubungan kerja harus
dicegah dengan segala daya upaya bahkan dalam beberapa hal dilarang.
Universitas Sumatera Utara
2. Karena pemecahan yang dihasilkan oleh perundingan antara pihak-pihak yang
berselisih sering kali lebih dapat diterima oleh yang bersangkutan daripada
penyelesaian yang dipaksakan oleh pemerintah, maka dalam sistem undangundang ini, penempuhan jalan perundingan ini merupakan kewajiban, setelah daya
dan upaya tersebut pada 1 tidak memberikan hasil.
Baik pada Pasal 2 maupun dalam pokok-pokok yang terkandung pada
Undang-Undang No. 12 Tahun 1964 Tentang Pemutusan Hubungan Kerja di
Perusahaan Swasta menginginkan penyelesaian pemutusan hubungan kerja secara
bipartit yaitu musyawarah mufakat. Walaupun undang-undang tersebut tidak berlaku
lagi semenjak berlakunya Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial, akan tetapi undang-undang tersebut tetap
mengutamakan sitem bipartit.
3. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
Undang-undang ini dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial selalu
mengutamakan sistem bipartit. Dalam Pasal 136 yang berbunyi :
(1) Penyelesaian perselisihan hubungan industrial wajib dilaksanakan oleh
pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh secara
musyawarah untuk mufakat.
(2) Dalam hal penyelesaian secara musyawarah untuk mufakat sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) tidak tercapai, maka pengusaha dan pekerja/buruh
atau serikat pekerja/serikat buruh menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial melalui prosedur penyelesaian perselisihan hubungan industrial
yang diatur dengan undang-undang.
Universitas Sumatera Utara
Pasal 151 yang berbunyi :
(1) Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah,
dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan
hubungan kerja.
(2) Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja
tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib
dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan
pekerja/buruh apabila pekerja/buurh yang bersangkutan tidak menjadi anggota
serikat pekerja/serikat buruh.
(3) Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benar-benar
tidak menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan
hubungan kerja dengan pekerja/buurh setelah memperoleh penetapan dari
lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Pasal 152 yang berbunyi sebagai berikut :
(1) Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis
kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial disertai alasan
yang menjadi dasarnya.
(2) Permohonan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diterima
oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan indsutrial apabila telah
dirundingkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2).
(3) Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat diberikan
oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika ternyata
maksud untuk memutuskan hubungan kerja telah dirundingkan, tetapi
perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Dari Pasal 136, Pasal 151 dan Pasal 152 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan sangatlah jelas bahwa penyelesaian perselisihan hubungan
industrial wajib dimulai melalui bipartit, apabila gagal bipartit baru kemudian
ditempuh melalui lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
4. Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
Universitas Sumatera Utara
Di dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial ini bipartit merupakan langkah pertama yang wajib
dilaksanakan dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial seperti pada :
a. Pasal 3
(a) Perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih
dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai
mufakat.
(b) Penyelesaian perselisihan melalui bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) harus diselesaikan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal
dimulainya perundingan.
(c) Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sebagimana dimaksud dalam
ayat (3) salah satu pihak menolak untuk berunding atau telah dilakukan
perundingan tetapi tidak mencapai kesepakatan, maka perundingan bipartit
dianggap gagal.
Setelah perundingan gagal, maka salah satu atau kedua belah pihak
mencatatkan perselisihan tersebut ke instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4 yang berbunyi sebagai
berikut :
b. Pasal 4
(1) Dalam hal perundingan bipartit gagal sebagaimana dimaksud dalam pasal 3
ayat (3), maka salah satu atau kedua belah pihak mencatatkan perselisihannya
kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat
dengan melampirkan bukti bahwa upaya-upaya penyelesaian melalui
perundingan bipartit telah dilakukan.
(2) Apabila bukti-bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilampirkan,
maka instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan
mengembalikan berkas untuk dilengkapi paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
terhitung sejak tanggal diterimanya pengembalian berkas.
(3) Setelah menerima pencatatan dari salah satu atau para pihak, instansi yang
bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat wajib menawarkan
kepada para pihak untuk menyepakati memilih penyelesaian melalui
konsilisasi atau melalui arbitrase.
Universitas Sumatera Utara
(4) Dalam hal upaya para pihak tidak menetapkan pilihan penyelesaian melalui
konsiliasi atau arbitrase dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja, maka instansi yang
bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan melimpahkan penyelesaian
perselisihan kepada mediator.
(5) Penyelesaian melalui konsiliasi dilakukan untuk penyelesaian perselisihan
kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, atau perselisihan antar
serikat pekerja/serikat buruh.
(6) Penyelesaian melalui arbitrase dilakukan untuk penyelesaian perselisihan
kepentingan atau perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh.
Baik Undang-Undang No. 22 Tahun 1957 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Perburuhan, Undang-Undang No. 12 Tahun 1964 Tentang Pemutusan Hubungan
Kerja di Perusahaan Swasta, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan dan Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial semua undang-undang tersebut mengutamakan
musywarah untuk mufakat dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial.
C. Keberhasilan Penyelesaian Perselisihan Secara Bipartit di Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang
1. Data 3 (tiga) Tahun Terakhir yang Sudah Selesai dan Tidak Selesai Dalam
Bipartit.
Dari hasil penelitian di kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kabupaten Deli Serdang diperoleh data seperti pada tabel 3 di bawah ini :
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4. Jumlah Kasus Perselisihan Hubungan Industrial pada Kantor Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang tahun 2012 s/d tahun 2014
Jenis Perselisihan
No
1
2
3
Keterangan
Selesai
Anjuran
PHK Hak Kepentingan
PHK % Hak % Kepentingan % PHK Hak Kepentingan
2012 66 15
3
28 42,4 10 66,6
2
66.6 40
3
1
2013 81 25
2
38 46,9 16 64
1
50 43
9
1
2014 104 26
4
56 53,8 21 80,8
2
50 44
9
2
Thn
Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014
Dari tabel diatas maka dapat dilihat bahwa pada tahun 2012 jumlah kasus
yang masuk ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang
adalah 84 kasus. Kasus yang selesai sebanyak 40 kasus dengan jenis sebagai berikut :
1. Pemutusan hubungan kerja sebanyak 28 kasus yang persentasenya 42,42%
2. Perselisihan hak sebanyak 10 kasus yang persentasenya 66,6%
3. Perselisihan kepentingan sebanyak 2 kasus yang persentasenya 66,66%
Jumlah kasus yang tidak selesai adalah 44 kasus.
Untuk tahun 2013 jumlah kasus yang masuk ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang adalah 108 kasus dan kasus yang selesai
sebanyak 55 kasus dengan jenis sebagai berikut :
1. Pemutusan hubungan kerja sebanyak 38 kasus yang persentasenya 46,91%
2. Perselisihan hak sebanyak 16 kasus yang persentasenya 64%
3. Perselisihan kepentingan sebanyak 1 kasus yang persentasenya 50%
Jumlah kasus yang tidak selesai pada tahun 2013 adalah 53 kasus. Kemudian untuk
tahun 2014 jumlah kasus yang masuk ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan
Universitas Sumatera Utara
Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang adalah : 134 kasus dan yang selesai sebanyak
79 kasus dengan jenis sebagai berikut :
1. Pemutusan hubungan kerja sebanyak 56 kasus yang persentasenya 53,8%
2. Perselisihan hak sebanyak 21 kasus yang persentasenya 80,8%
3. Perselisihan kepentingan sebanyak 2 kasus yang persentasenya 50%
Jumlah kasus yang tidak selesai pada tahun 2014 adalah 55 kasus.
Dari data tahun 2012 yang tidak selesai secara bipartit adalah 44 kasus. Tahun
2013 sebanyak 53 kasus dan tahun 2014 sebanyak 55 kasus. Terhadap semua kasuskasus yang tidak selesai secara musyawarah ini , maka mediator mengeluarkan
anjuran kepada kedua belah pihak yaitu pekerja/buruh dan pengusaha sebagaimana
disebutkan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial sebagai berikut :79
Dalam hal tidak tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan hubungan
industrial melalui mediasi maka :
a. mediator mengeluarkan anjuran tertulis;
b. anjuran tertulis sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam waktu selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak sidang mediasi pertama harus sudah
disampaikan kepada para pihak:
c. para pihak harus sudah memberikan jawaban secara tertulis kepada mediator
yang isinya menyetujui atau menolak anjuran tertulis dalam waktu selambatlambatnya10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima anjuran tertulis;
d. pihak yang tidak memberikan pendapatnya sebagaimana dimaksud dalam huruf
c dianggap menolak anjuran tertulis;
e. dalam hal para pihak menyetujui anjuran tertulis sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sejak anjuran
tertulis disetujui, mediator harus sudah selesai membantu para pihak membuat
Perjanjian Bersama untuk kemudian didaftar di Pengadilan Negeri di wilayah
79
Pasal 13 ayat 2 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
hukum pihak-pihak mengadakan Perjanjian Bersama untuk mendapatkan akta
bukti pendaftaran.
Apabila kedua belah pihak atau salah satu pihak tidak dapat menerima isi
anjuran dari mediator tersebut maka para pihak atau salah satu pihak dapat
melanjutkan ke pengadilan hubungan industrial sebagaimana disebut dalam UndangUndang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
sebagai berikut:80
(1) Dalam hal anjuran tertulis sebagimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) huruf
a ditolak oleh salah satu pihak atau para pihak, maka para pihak atau salah
satu phak dapat melanjutkan penyelesaian perselisihan ke Pengadilan
Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat.
(2) Penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan
dengan pengajuan gugatan oleh salah satu pihak di Pengadilan Hubungan
Industrial pada Pengadilan Negeri setempat.
Pengadilan hubungan industrial yang memeriksa dan mengadili perselisihan
hubungan industrial dilaksanakan oleh Majelis Hakim yang beranggotakan 3 (tiga)
orang yakni seorang Hakim Pengadilan Negeri dan 2 (dua) orang Hakim Ad Hoc
yang pengangkatannya diusulkan oleh organisasi pengusaha dan organisasi
pekerja/organisasi buruh serta dibantu oleh panitera muda dan panitera pengganti81.
2. Penyebab Kegagalan Bipartit
Walaupun
pesan
Undang-Undang
No.
13
Tahun
2003
Tentang
Ketenagakerjaan dan Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial bahwa setiap persoalan perselisihan harus lebih
80
Pasal 14 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
81
Pasal 60, pasal 63 ayat 2,pasal 88 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial.
Universitas Sumatera Utara
dahulu diselesaikan melalui bipartit, tetapi penyelesaian melalui bipartit tidak semua
dapat selesai. Tidak selesainya perselisihan tersebut melalui bipartit dikarenakan
beberapa alasan sebagai berikut 82 :
a. Pihak pekerja/buruh
Setelah pekerja/buruh dipecat oleh pengusaha maka pekerja/buruh tidak mau lagi
datang ke perusahaan untuk merundingkannya dengan pengusaha ataupun melapor
kepada serikat pekerja/serikat buruh yang ada pada perusahaan tersebut tetapi yang
dilakukan pekerja/buruh adalah melapor kepada Dinas Tenaga Kerja atau meminta
bantuan kepada pengacara. Ketika ditanya mengapa tidak dirundingkan dengan
pengusaha, maka pekerja/buruh menjawab pada saat diberhentikan pengusaha,
pekerja/buruh yang telah diberhentikan tersebut tidak diperbolehkan oleh
pengusaha untuk memasuki lokasi perusahaan dan diusir oleh satpam (security).
Ada pula Pekerja yang mengatakan telah benci melihat pengusaha dan biarlah
berjumpa di Dinas Tenaga Kerja saja.
b. Pihak pengusaha
Akibat
kesalahan
pekerja/buruh
yang
dilakukannya
seperti
pencurian,
penggelapan, penghasutan kepada teman sekerja, maka pengusaha merasa sangat
keberatan apabila pekerja/buruh tersebut masuk ke lokasi perusahaan karena akan
dicontoh oleh pekerja-pekerja lain. Pengusaha berpendapat bahwa lebih baik
bertemu dengan pekerja tersebut di kantor Dinas Tenaga Kerja.
82
Wawancara dengan Bapak Mustamar SH, M.H.,Kepala Bidang Perselisihan Hubungan
Industrial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang pada tanggal 14 September
2015 di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang.
Universitas Sumatera Utara
c. Faktor Lain
Faktor lain dalam hal ini adalah adanya pihak lain yang ingin campur tangan agar
kasus tersebut berlanjut ke Pengadilan Hubungan Industrial. Hal ini dapat terjadi
apabila perselisihan yang timbul maka pihak pekerja/buruh secara langsung
memberikan kuasa kepada orang lain dan orang lain tersebut tidak ingin kasus itu
selesai, kalau boleh sampai ke Pengadilan Hubungan Industrial bahkan ke
Mahkamah Agung.
d. Kurangnya peran serikat pekerja/serikat buruh
Seharusnya bila sudah ada serikat pekerja/serikat buruh berdiri di perusahaan
maka sudah dapat membantu pekerja/buruh tersebut apabila terjadi perselisihan.
Pekerja/buruh tersebut dapat meminta bantuan serikat pekerja/serikat buruh untuk
mrngurus perselisihan atau membela pekerja/buruh. Kenyataannya banyak
pekerja/buruh tidak mau meminta bantuan kepada serikat pekerja/serikat buruh
dengan alasan bahwa serikat pekerja/serikat buruh tersebut telah main mata
dengan pengusaha padahal tuduhan tersebut tidak benar. Selain itu bahwa di
perusahaan tersebut belum ada terbentuk serikat pekerja/serikat buruh.
Keempat faktor ini yang menjadikan pengusaha enggan melakukan bipartit
dengan pekerja/buruh ditempat kerja atau di lingkungan perusahaan. Pemerintah
melalui Dinas Tenaga Kerja baik di kabupaten/kota maupun di tingkat propinsi
bahkan pada tingkat Kementrian Tenaga Kerja selalu mengadakan penyuluhan
tentang pentingnya dilakukan bipartit antara pekerja/buruh dengan pengusaha.
Universitas Sumatera Utara
3. Persoalan Hukum yang dihadapi perusahaan dalam mengunakan mekanisme
bipartit dalam penyelesaian perselisihan
Konsultasi
bipartit
sebenarnya
tidak
hanya
untuk
mencegah
atau
mengantisipasi timbulnya masalah. Banyak aspek lain, termasuk upaya peningkatan
produktivitas dan partisipasi pekerja/buruh dalam perusahaan dapat dibicarakan
secara bipartit. Oleh karena itu fungsi konsultasi bipartit dapat mencakup berbagai hal
di perusahaan yang lebih luas.
Perlu dipahami bahwa adanya Lembaga Kerjasama Bipartit sama sekali tidak
mengganti fungsi serikat pekerja/serikat buruh di dalam perundingan. Lembaga
Kerjasama Bipartit sebagai forum komunikasi dan konsultasi bukan merupakan
forum musyawarah atau perundingan. Forum musyawarah atau perundingan
dimaksudkan untuk mencapai kesepakatan sedangkan forum konsultasi/komunikasi
tidak dimaksudkan untuk mencapai kesepakatan.
Dengan fungsi tersebut, maka di perusahaan dapat dibentuk Lembaga
Kerjasama Bipartit. Keanggotaannya meliputi wakil dari pekerja/buruh atau serikat
pekerja/serikat buruh dan manajemen. Khusus wakil dari pekerja/buruh dapat
dilengkapi dengan pekerja/buruh yang mewakili satuan kerja tertentu di luar serikat
pekerja/serikat buruh. Hal ini sangat tergantung dari kondisi perusahaan masingmasing. Proses mekanisme kerja Lembaga Kerjasama Bipartit juga dapat bervariasi
dimana dari satu perusahaan ke lain perusahaan dapat berbeda. Tetapi satu prinsip
yang perlu dipegang adalah bahwa Lembaga Kerjasama Bipartit dapat berfungsi
Universitas Sumatera Utara
dengan optimal apabila didukung dan mendapatkan komitmen dari manajemen
puncak.
Masalah ketenagakerjaan adalah masalah hukum. Semakin maju suatu industri
di suatu negara maka masalah hubungan kerja menjadi masalah sosial dan hukum.
Hukum suatu bangsa senantiasa merupakan bagian dari suatu proses sosial yang lebih
besar, yang dijalankan oleh bangsa tersebut. Khusus membicarakan perkembangan
hukum, sama sekali tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan proses-proses yang
berlangung dalam masyarakat itu sendiri. Proses-proses seperti perubahan terjadi oleh
karena berbagai bidang atau segi kehidupan masyarakat tengah mengadakan
penyesuaian atau mencari bentuknya yang tepat untuk memenuhi tuntutan-tuntutan
yang baru, baik tuntutan fisik maupun idiil83.
Objek ilmu hukum tidak hanya norma hukum, tetapi juga perilaku manusia
yang ditentukan oleh norma hukum sebagai syarat atau konsekuensi, dengan kata
lain, perilaku yang terkandung dalam norma hukum. Hubungan antar manusia
merupakan objek ilmu hukum hanya dalam konteks hubungan hukum, yakni sebagai
hubungan yang diatur oleh norma-norma hukum84.
Tidak jauh berbeda dengan hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha
ada hubungan antara atasan dengan bawahan yang setiap harinya terjadi karena ada
pekerjaan kecuali hari libur dan diluar jam kerja. Hubungan antara pekerja/buruh
83
Satjipto Rahardjo, Pemanfaatan Ilmu-Ilmu Sosial Bagi Pengembangan Ilmu Hukum,
(Bandung : Alumni, 1997), hlm. 137.
84
Hans Kelsen, Teori Hukum Murni Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, (Bandung :
Nusamedia & Nuansa, 2007), hlm. 80-81.
Universitas Sumatera Utara
dengan pengusaha pada mulanya adalah hubungan yang ditimbulkan karena adanya
perjanjian kemudian diawasi ole hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu
hukum ketenagakerjaan.
Hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha adalah hubungan kerja
yang diatur hukum ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh pemerintah (heteronom).
Hukum ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak cukup mengatur
seluruh hubungan kerja, syarat kerja dan kondisi kerja. Oleh karena itu pengusaha
dengan pekerja/buruh membuat perjanjian kerja, pengusaha membuat peraturan
perusahaan, pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh mengadakan perjanjian
kerja bersama (otonom).
Kebebasan antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan
perjanjian atau kesepakatan tetap berpedoman kepada Undang-Undang No. 13 Tahun
2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 52. Dari segi norma hukum, budaya hukum dan
masalah sosial/non hukum yang berhubungan dengan masalah perselisihan hubungan
industrial dan mekanisme bipartit maka berdasarkan wawancara dengan pengusaha
berpendapat bahwa 85:
a. Pengusaha selalu beranggapan apabila sesuatu perselisihan diselesaikan melalui
bipartit maka akan menjadi contoh kepada pekerja/buruh yang lain bahwa apabila
pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh kemudian ditindak oleh pengusaha
janganlah diselesaikan melalui bipartit dan pengusaha merasa kurang wibawanya
85
Wawancara dengan Bapak Simon Lumban Tobing selaku APK (Asisten Personalia Kebun)
pada tanggal 14 September 2015 di Kantor PTPN III Kebun Sei Putih, Galang.
Universitas Sumatera Utara
di perusahaan. Apalagi penyelesaian bipartit itu mengeluarkan sejumlah uang
untuk membayar kompensasi kepada pekerja seperti pesangon dan penghargaan
masa kerja akan mempermalukan pengusaha. Pengusaha lebih bersedia membayar
pesangon dan penghargaan masa kerja di Kantor Dinas Tenaga Kerja dengan
sebutan pesangon dan penghargaan masa kerja diganti namanya menjadi uang
pisah atau good will atau nama lain dengan tidak menyebut pesangon dan
penghargaan masa kerja walaupun besar dan nilainya sama dengan pesangon dan
penghargaan masa kerja.
b. Pengusaha beranggapan pembayaran dengan cepat melalui bipartit akan membuat
pekerja tidak jera dan akan mengulangi lagi perbuatannya tersebut di tempat kerja
yang baru. Pengusaha juga beranggapan bahwa hal ini tidak mendidik.
c. Pengusaha juga mengatakan bahwa pengusaha menyukai mekanisme bipartit ini
karena merupakan sistem yang perlu dibudayakan menjadi suatu budaya hukum
dalam hubungan kerja. Akan tetapi dapat berdampak sosial bagi pekerja/buruh lain
sehingga kurang takut berbuat tidak disiplin di lingkungan perusahaan. Bila
pekerja/buruh tidak disiplin di lingkungan perusahaan akan menurunkan
produktivitas kerja. Demikian hasil wawancara dengan perusahaan.
Bipartisme dapat dilihat dari dua segi :86
a. Sebagai “lembaga” di mana di dalam perusahaan terdapat lembaga secara fisik
yang melaksanakan berbagai fungsi di luar keserikatpekerjaan/keserikatburuhan.
86
Suwarto, ibid., hlm. 26-28.
Universitas Sumatera Utara
b. Sebagai “mekanisme” di mana di perusahaan tidak terdapat lembaga secara fisik
dan apabila timbul berbagai masalah yang memerlukan pembahasan maka
konsultasi/pembahasan
dilakukan
oleh
wakil
pekerja/buruh
atau
serikat
pekerja/serikat buruh dan wakil manajemen yang merupakan dua pihak yang
berkepentingan. Salah satu contohnya ialah perundingan penyelesaian perselisihan
antara pekerja/buruh atau organisasinya dengan manajemen.
Keberadaan bipartit baik dari segi lembaga yang dikenal dengan Lembaga
Kerjasama (LKS) Bipartit maupun dari segi mekanisme atau sistemnya merupakan
kedua hal yang sangat penting dibudayakan dalam hubungan industrial dan dalam
lingkungan perusahaan khususnya. Bipartit sebagai lembaga yang diwujudkan dalam
Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit di perusahaan adalah sebagai forum komunikasi,
konsultasi dan musyawarah bagi pekerja/buruh dengan pengusaha. Sebagaimana
fungsi dari LKS Bipartit itu sendiri yakni :
1. Sebagai forum komunikasi, konsultasi untuk musyawarah antara pengusaha dan
wakil serikat pekerja/serikat buruh atau pekerja/buruh pada tingkat perusahaan.
2. Sebagai forum untuk membahas masalah dan persoalan hubungan industrial di
perusahaan
guna
meningkatkan
produktivitas
kerja
dan
kesejahteraan
pekerja/buruh yang menjamin kelangsungan usaha dan kesempatan kerja.
3. Sebagai forum kerjasama dalam hal konsepsi pemikiran dan penyamaan persepsi87.
Melihat dari fungsi LKS Bipartit tersebut maka unsur komunikasi dan
partisipasi merupakan unsur yang paling hakiki di dalam kerjasama di tempat kerja.
87
Pedoman LKS Bipartit, op. cit., hlm. 10.
Universitas Sumatera Utara
LKS Bipartit dipakai sebagai wadah dimana pekerja/buruh dan pengusaha satu sama
lain dapat menyampaikan masalah atau persoalannya. Kedua belah pihak juga dapat
memberikan informasi tentang masalah yang sedang dihadapi atau mungkin yang
akan terjadi pada waktu yang akan datang yang berdampak pada satuan kerja maupun
perusahaan. LKS Bipartit yang secara rutin mengadakan pertemuan memungkinkan
terjadinya pertukaran pendapat secara teratur yang dapat menghasilkan rasa saling
pengertian, konsensus, dan penyelesaian masalah untuk kepentingan bersama diantara
kedua belah pihak.
Dengan demikian LKS Bipartit sebagai forum/wadah komunikasi, konsultasi
dan
musyawarah
antara
pekerja/buruh
dengan
pengusaha
adalah
upaya
pecegahan/preventif terhadap timbulnya perselisihan hubungan industrial.
Bipartit bila dipandang dari segi sistem atau mekanisme adalah merupakan
perundingan antara pekerja/buruh dengan pengusaha. Mekanisme ini melibatkan 2
(dua) unsur yaitu pekerja/buruh atau Serikat Pekerja/Serikat Buruh dengan
pengusaha. Sebagaimana pesan dari Undang-undang Ketenagakerjaan dan UndangUndang
Penyelesaian
Perselisihan
Hubungan
Industrial
bahwa
di
dalam
penyelesasian perselisihan hubungan industrial mewajibkan penyelesaian secara
bipartit. Penyelesaian perselisihan ini membahas, mendiskusikan dan menyelesaikan
masalah hubungan industrial termasuk penyelesaian perselisihan berdasarkan
musyawarah mufakat.
Bipartit dari segi lembaga maupun sistem sangat perlu dibudayakan di
perusahaan. Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. LKS Bipartit sebagai
Universitas Sumatera Utara
forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah sedangkan bipartit sebagai sistem
adalah prosedur atau cara yang digunakan dalam mendiskusikan, membahas dan
menyelesaikan masalah hubungan industrial yang timbul antara kedua belah pihak.
Keberadaan LKS Bipartit di suatu perusahaan akan mendukung bipartit itu
sendiri. Sebagai upaya preventif terhadap timbulnya perselisihan hubungan industrial
maka LKS Bipartit akan mengurangi perbedaan pendapat yang timbul antara
pekerja/buruh dengan pengusaha.
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
SANKSI DAN PELAKSANAAN SANKSI PASAL 190 UNDANG-UNDANG
NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN TERHADAP
PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMBENTUK LEMBAGA KERJASAMA
(LKS) BIPARTIT
A. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pasal 190 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan
Setiap undang-undang ataupun peraturan apabila tidak ada sanksinya dan
tidak ada pengawasan dari pemerintah, maka undang-undang atau peraturan itu tidak
akan berjalan. Hukum ditaati orang karena hukum itu bersifat memaksa, dalam hal ini
dapat ditinjau dari batasan-batasan yang dikemukakan oleh beberapa sarjana hukum
seperti 88:
a. Menurut P. Borst hukum ialah keseluruhan peraturan bagi kelakuan atau perbuatan
manusia di
dalam masyarakat yang pelaksanaannya dapat dipaksakan dan
bertujuan mendapatkan tata atau damai dan keadilan.
b. Menurut Van Kan hukum adalah keseluruhan peraturan hidup yang bersifat
memaksa untuk melindungi kepentingan manusia didalam masyarakat.
c. Disamping unsur verlof, belofte, dan disposisi menurut Paul Scholten ―Recht is
bevel‖. Bevel adalah perintah yang berarti bahwa hukum mempunyai sifat
memaksa.
Sifat hukum ketenagakerjaan adalah merupakan perintah atau larangan
dengan menggunakan kata-kata “harus”, “wajib”, dan “tidak boleh” atau “dilarang”.
88
R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 1992), hlm. 66-67.
Universitas Sumatera Utara
Sanksi terhadap pelanggaran atas peraturan biasanya ialah tidak sahnya atau batalnya
tindakan yang melanggar itu. Bahkan sering kali juga tindakan melanggar itu
diancam pula dengan pidana kurungan atau denda.
Hukum ketenagakerjaan yang dibuat Belanda di Indonesia pada waktu
Indonesia dijajah Belanda telah mengenal sanksi yang dikenal dengan poenale sanksi.
Untuk
menjamin
perusahaan
mendapatkan
buruh
yang
tetap
melakukan
pekerjaannya, maka dalam Algemene Politie Strafreglement ditambahkan ketentuan
(stbl 1872 No. 111) yang menetapkan bahwa buruh yang tiada dengan alasan yang
dapat diterima, meninggalkan atau menolak melakukan pekerjaannya dapat dipidana
dengan denda antara Rp.16 dan Rp. 25 atau dengan kerja paksa selama 7 sampai 12
hari. Baik diluar maupun dalam Stafen General di Nederland atauran poenale sanksi
itu yang memberi kedudukan unggul diluar batas kepada pengusaha dan membuka
pintu untuk penyalahgunaan, mendapat kecaman cukup pedas, sehingga pada tahun
1879 dicabut kembali89.
Setelah Indonesia merdeka dengan keluarnya Undang-Undang Kerja Tahun
1948 No. 12 yang berlaku di seluruh Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 1
Tahun 1951 Tentang Persyaratan Berlakunya Undang-Undang Kerja Tahun 1948 No.
12 yaitu pada Pasal 8 disebutkan bahwa majikan dan pegawai yang mengawasi tidak
memenuhi kewajibannya dihukum kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau
denda sebanyak-banyaknya lima ratus rupiah dan jika pelanggaran ini terjadi di dalam
waktu dua tahun semenjak yang melanggar dikenakan hukuman yang tidak dapat
89
Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, (Jakarta : Djambatan, 1974), hlm. 23.
Universitas Sumatera Utara
berubah lagi karena pelanggaran yang sama, maka dijatuhi hukuman kurungan
selama-lamanya enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya seribu rupiah.
Undang-Undang No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Mengenai Tenaga Kerja dalam Pasal 17 juga disebutkan bahwa peraturan
perundangan tersebut dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran
peraturannya dengan
hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda
setinggi-tingginya Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) dan tindak pidana tersebut adalah
pelanggaran. Undang-undang ini dinyatakan tidak berlaku lagi setelah keluarnya
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
Pelaksanaan
peraturan
perundang-undangan
dibidang
ketenagakerjaan
dilakukan dengan pengawasan karena peraturan perundang-undangan tersebut adalah
bagian dari perlindungan hak asasi manusia bagi pekerja/buruh. Perundang-undangan
untuk melindungi buruh hanya akan mempunyai arti bila pelaksanaannya diawasi
oleh suatu ahli, yang harus mengunjungi tempat kerja pada waktu-waktu tertentu
untuk dapat menjalankan tiga tugas yang pokok yaitu 90:
a. Melihat dengan jalan memeriksa dan menyelidiki sendiri apakah ketentuanketentuan dalam perundang-undangan dilaksanakan dan jika tidak demikian
halnya mengambil tindakan-tindakan yang wajar untuk menjamin pelaksanaannya
itu;
b. Membantu baik buruh maupun pimpinan perusahaan dengan jalan memberi
penjelasan-penjelasan teknis dan nasihat yang mereka perlukan agar mereka
90
Iman Soepomo, ibid., hlm. 59-60.
Universitas Sumatera Utara
menyelami apakah yang dimintakan oleh peraturan dan bagaimanakah
melaksanakannya;
c. Menyelidiki keadaan perburuhan dan mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk
penyusunan perundang-undangan perburuhan dan penetapan kebijaksanaan
pemerintah.
Badan pengawasan ini pengawasan kesehatan kerja dan pengawasan
keamanan kerja pertama-tama bertanggung jawab atas pelaksanaan peraturan
mengenai perlindungan bagi buruh seperti waktu kerja, waktu istirahat, pekerjaan
orang muda, dan wanita serta kesehatan dan keamanan kerja. Pengawasan ini sendiri
bukanlah alat perlindungan melainkan lebih merupakan cara untuk menjamin
pelaksanaan peraturan perlindungan.
Pengawasan pada permulaan perkembangannya di bidang industri sebagian
besar ditujukan kepada pabrik dimana pertama-tama dirasakan perlunya peraturan
perlindungan. Penggunaan cara-cara produksi dengan mesin di pabrik yang
mempekerjakan sejumlah buruh termasuk banyak wanita dan anak jelas memerlukan
aturan-aturan untuk melindungi buruh terhadap akibat buruk dari kerja lembur dan
bahaya khusus terhadap kesehatan dan keselamatan yang timbul dari pekerjaan di
pabrik
Pengawasan bagi pengusaha akan memberi jalan untuk mendapatkan
penjelasan dari pihak pengawas (pemerintah) mengenai kewajiban pengusaha
menurut undang-undang ketenagakerjaan. Pelaksanaan peraturan perundangundangan ketenagakerjaan di perusahaan oleh pengawas dari pemerintah dapat
Universitas Sumatera Utara
mengakibatkan hubungan kerja antara pengusaha dengan pekerja/buruh semakin
harmonis.
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mengenal 2
(dua) jenis sanksi yaitu sanksi pidana dan sanksi administratif. Sanksi pidana diatur
mulai dari Pasal 183 s/d Pasal 189 sedangkan sanksi administratif diatur di dalam
Pasal 190 yang berbunyi sebagai berikut 91:
(1) Menteri atau pejabat yang ditunjuk mengenakan sanksi administratif atas
pelanggaran ketentuan-ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 5, Pasal 6,
Pasal 15, Pasal 25, Pasal 38 ayat (2), Pasal 45 ayat (1), Pasal 47 ayat (1), Pasal
48, Pasal 87, Pasal 106, Pasal 126 ayat (3), dan Pasal ayat (1) dan ayat (2)
undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa :
a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. pembatasan kegiatan usaha;
d. pembekuan kegiatan usaha;
e. pembatalan persetujuan;
f. pembatalan pendaftaran;
g. penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi;
h. pencabutan ijin.
(3) Ketentuan mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh menteri.
Pasal 190 tersebut dikenakan terhadap pelanggaran 12 (dua belas) pasal
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Khusus terhadap
Pasal 106 yang disebut dalam ayat (1) dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang
mempekerjakan 50 (lima puluh) orang pekerja/buruh atau lebih wajib membentuk
Lembaga Kerjasama Bipartit. Namun demikian belum ada pelaksanaan sanksi
91
Pasal 190 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
Universitas Sumatera Utara
administratif tersebut bagi perusahaan yang tidak membentuk Lembaga Kerjasama
Bipartit sampai sekarang92
B. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
Tentang Sanksi Administrasi
Banyak pasal-pasal didalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan yang pelaksanaannya harus diatur oleh Menteri Tenaga Kerja
Republik Indonesia. Untuk sanksi didalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan ada 2 (dua) macam yaitu sanksi pidana dan sanksi
administratif. Sanksi administratif terhadap pengusaha yang mempekerjakan 50 (lima
puluh) pekerja/buruh atau lebih yang tidak mau membentuk Lembaga Kerjasama
Bipartit sampai saat ini peraturan pelaksanaan penjatuhan sanksi belum ada
dikeluarkan oleh Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI adalah merupakan
peraturan pelaksana dari Undang-Undang Ketenagakerjaan, apabila pasal-pasal dari
undang-undang tersebut memerlukan peraturan menteri dalam pelaksanaannya.
Banyaknya pasal-pasal dari undang-undang yang harus dilaksanakan melalui
peraturan menteri akan membuat undang-undang itu semakin kurang berpihak kepada
masyarakat. Begitu pula dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang pelaksanaan
pasal-pasalnya banyak diatur dengan peraturan menteri tenaga kerja RI maka undangundang itu kurang berpihak kepada pekerja/buruh, mungkin saja akan berpihak
92
Wawancara dengan Bapak Mustamar SH, MH. Selaku Kepala Bidang Hubungan Industrial
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang pada tanggal 16 November 2015 di
Kantornya.
Universitas Sumatera Utara
kepada pengusaha sehingga menteri tenaga kerja mengeluarkan peraturan yang
berpihak kepada pengusaha atau tidak mengeluarkan, sehingga undang-undang
tersebut tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya, padahal undang-undang itu
harus terjamin pelaksanaannya melalui pengawasan.
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 176 Bab
XIV Pengawasan, dinyatakan : “pengawasan ketenagakerjaan dilakukan oleh pegawai
pengawas ketenagakerjaan yang mempunyai kompetensi dan independen guna
menjamin pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan”.
Konvensi ILO No. 81 tahun 1947 mengenai pengawasan ketenagakerjaan
dalam industri dan perdagangan yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang No.
21 Tahun 2003 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 81 Concerning The Labour
Inspection in Industry and Commerce (Konvensi ILO No. 81 Mengenai Pengawasan
Ketenagakerjaan Dalam Industri dan Perdagangan) dinyatakan :
Pasal 1 bagian I Pengawasan Ketenagakerjaan Dalam Industri :
Setiap anggota Organisasi Perburuhan Internasional yang memberlakukan konvensi
ini harus melaksanakan sistem pengawasan ketenagakerjaan di tempat kerja industri.
Pasal 2 :
(1) Sistem pengawasan ketenagakerjaan di tempat kerja industri harus diterapkan di
seluruh tempat kerja dimana ketentuan perundang-undangan mengenai kondisi
kerja dan perlindungan pekerja/buruh saat melaksanakan pekerjaannya dapat
ditegakkan oleh pengawas ketenagakerjaan.
Universitas Sumatera Utara
(2) Perundang-undangan atau peraturan nasional dapat mengecualikan pelaksanaan
konvensi ini bagi perusahaan pertambangan dan transportasi atau bagian dari
kedua jenis perusahaan tersebut.
Pengawasan ketenagakerjaan diselenggarakan guna mewujudkan keadilan
sosial melalui pembentukan, penerapan dan penegakan hukum ketenagakerjaan dan
secara operasional pelaksanaan pengawasan dilakukan oleh pegawai pengawas
ketenagakerjaan. Pengawasan ketenagakerjaan dilakukan terhadap objek pengawasan
ketenagakerjaan meliputi perusahaan, tempat kerja, pekerja/buruh, mesin, peralatan,
pesawat, bahan, instalasi, proses produksi, cara kerja, lingkungan kerja, norma kerja
dan syarat kerja. Disamping pengawasan penerapan seluruh peraturan perundangundangan ketenagakerjaan terhadap objek pengawasan, pengawasan ketenagakerjaan
juga mempunyai kewajiban untuk mengawasi dan melaporkan pelaksanaan
penerapan Konvensi ILO yang telah diratifikasi93.
Belum keluarnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja terhadap pelaksanaan
sanksi administratif akan berdampak buruk terhadap lestarinya hubungan industrial
yang harmonis di perusahaan. Lestarinya hubungan industrial yang harmonis di
perusahaan akan meningkatkan produktivitas dan akan meningkatkan kesejahteraan
pekerja/buruh.
93
M.S.M. Simanihuruk, Reformasi Pengawas Ketenagakerjaan, (Jakarta : DPP Asosiasi
Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia, 2006), hlm. 3-4.
Universitas Sumatera Utara
C. Data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Deli Serdang
bahwa belum ada satu pun perusahaan yang dikenakan sanksi administratif karena
pengusaha tidak membentuk Lembaga Kerjasama Bipartit. Sanksi ini tidak dijatuhkan
oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi karena belum keluarnya Peraturan
Menteri Tenaga Kerja yang mempengaruhi keinginan pengusaha untuk membentuk
Lembaga Kerjasama Bipartit.
Jumlah perusahaan yang terdaftar di kantor Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang adalah sebanyak 669 perussahaan. Perusahaan
yang telah membentuk Lembaga Kerjasama Bipartit hanya 15 perusahaan. Berarti
persentasenya adalah : 15/669 × 100% = 2,1%.
Pejabat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Deli Serdang,
menyatakan bahwa mereka tetap mengadakan penyuluhan kepada pengusaha agar
membentuk Lembaga Kerjasama Bipartit di perusahaan walaupun peraturan
pelaksana sanksi administratif tersebut belum ada.
Penyuluhan kepada pengusaha untuk pembentukan Lembaga Kerjasama
Bipartit sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. PER.
32/MEN/XII/2008 Tentang Tata Cara Pembentukan dan Susunan Keanggotaan
Lembaga Kerjasama Bipartit menyatakan :94
(1) Pembinaan LKS Bipartit dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota.
94
Pasal 15 PER. 32/MEN/XII/2008 Tentang Tata Cara Pembentukan dan Susunan
Keanggotaan Lembaga Kerjasama Bipartit .
Universitas Sumatera Utara
(2) Dalam melakukan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) instansi
yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota dapat
mengikutsertakan organisasi pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh.
(3) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. sosialisasi kepada pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau
pekerja/buruh dalam rangka pembentukan LKS Bipartit.
b. memberikan bimbingan dalam rangka pembentukan dan pengembangan
LKS Bipartit.
Pembiayaan LKS Bipartit ditanggung oleh pengusaha dan pelaporan sebagaimana
disebut pada Pasal 1695 yaitu : “Segala biaya yang diperlukan untuk pembentukan
dan pelaksanaan kegiatan LKS Bipartit dibebankan pada Perusahaan”.
Tujuan pembentukan LKS Bipartit adalah untuk untuk menciptakan hubungan
industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan di perusahaan96 sehingga LKS
Bipartit ini sangat diperlukan di setiap perusahaan untuk mencegah terjadinya
perbedaan pendapat antara pekerja/buruh dengan pengusaha yang dapat menimbulkan
perselisihan.
Pengawas Ketenagakerjaan dan mediator seharusnya bisa berperan sebagai
pembina dan dapat juga sebagai konsultan bagi pengusaha maupun pekerja/buruh,
sehingga permasalahan ketenagakerjaan di tempat kerja sedini mungkin dapat
diantisipasi. Namun kenyataannya belum bisa, disebabkan :
1. Kurangnya informasi;
2. Kurangnya pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan
mengingat peraturan tersebut banyak sekali;
95
Pasal 16 PER. 32/MEN/XII/2008 Tentang Tata Cara Pembentukan dan Susunan
Keanggotaan Lembaga Kerjasama Bipartit.
96
Pasal 2 PER. 32/MEN/XII/2008 Tentang Tata Cara Pembentukan dan Susunan
Keanggotaan Lembaga Kerjasama Bipartit.
Universitas Sumatera Utara
3. Pegawai teknis fungsional pengawas ketenagakerjaan maupun mediator merangkap
menjabat struktural sehingga pelaksanaan kegiatan pembinaan dan pengawasan
kurang optimal;
4. Dalam melaksanakan pembinaan, penyuluhan serta pengawasan kurang didukung
sarana dan prasarana yang memadai97.
Tidak adanya peraturan pelaksana dalam menjalankan sanksi administratif
Pasal 190 menjadi kendala bagi pegawai pengawas untuk melakukan penindakan
terhadap perusahaan yang tidak membentuk LKS Bipartit.
Undang-Undang
No.
13
Tahun
2003
Tentang
Ketenagakerjaan
mengamanatkan kewajiban bagi setiap perusahaan yang memenuhi syarat untuk
membentuk LKS Bipartit. Hal ini menjadi suatu dilematis apabila dikaitkan dengan
sifat hukum ketenagakerjaan yang normatif yang artinya apabila dilanggar maka akan
ada sanksinya. Lemahnya penindakan oleh pegawai pengawas dikarenakan ketiadaan
peraturan pelaksana menjadikan hukum yang sifatnya normatif itu berubah menjadi
suatu himbauan atau anjuran, oleh karena itu perlu adanya suatu kepastian hukum di
dalam pelaksanaannya.
97
http : // www.naker.go.id/news/2015/01/26studi-deteksi-dini-kerawanan-hubunganindustrial diakses pada tanggal 19 November 2015 pukul 10.09 wib.
Universitas Sumatera Utara
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian dari Bab II, Bab III dan Bab IV maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Sebanyak 669 perusahaan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kabupaten Deli Serdang hanya 15 perusahaan yang memiliki LKS Bipartit.
Keberadaan LKS Bipartit di Kabupaten Deli Serdang yang sebesar 2% ini
dirasakan manfaatnya dalam mencegah terjadinya perselisihan di perusahaan.
2. LKS Bipartit yang berfungsi sebagai forum komunikasi dan konsultasi mengenai
hal ketenagakerjaan di perusahaan adalah sebagai antisipasi terhadap timbulnya
perselisihan (upaya preventif) yang berperan dalam mengurangi perselisihan
hubungan industrial. Sedangkan dalam hal penyelesaian perselisihan hubungan
industrial maka dipedomanilah Undang-undang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial yang didalamya mengatur mekanisme bipartit, mediasi,
konsiliasi, arbitrase dan pengadilan hubungan industrial.
3. Sanksi bagi perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh 50 (lima puluh) orang
atau lebih adalah sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Pasal 190 ayat (2)
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yaitu berupa :
teguran, peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan
usaha, pembatalan persetujuan, pembatalan pendaftaran, penghentian sementara
sebagian atau seluruh alat produksi dan pencabutan ijin. Sanksi administratif
Universitas Sumatera Utara
tersebut belum dapat dijalankan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kabupaten Deli Serdang karena sampai saat ini belum keluar peraturan pelaksana
Menteri Tenaga Kerja RI tentang sanksi administratif untuk Pasal 190 tersebut.
Kewajiban setiap perusahaan yang memenuhi syarat untuk membentuk LKS
Bipartit menjadi suatu anjuran atau himbauan yang bersifat tidak mengikat.
B. Saran
1.Setiap perusahaan hendaknya membentuk LKS Bipartit supaya komunikasi antara
pekerja/buruh dengan pengusaha tidak terhambat. Apabila pengusaha dan
pekerja/buruh memanfaatkan sarana LKS Bipartit yang ada di perusahaan maka
bila timbul perselisihan dikemudian hari, dapat diselesaikan secara bipartit.
2. Menteri Tenaga Kerja diharapkan segera mengeluarkan peraturan pelaksana sanksi
administratif seperti diatur dalam Pasal 190 ayat (2) Undang-Undang No. 13
Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan sehingga Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi dapat menindak pengusaha yang tidak membentuk LKS Bipartit.
3. Serikat Pekerja/Serikat Buruh diharapkan dapat mendorong pengusaha untuk
membentuk LKS Bipartit agar terjalin komunikasi yang lancar diantara kedua
belah pihak sehingga tercipta hubungan industrial yang harmonis di perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
Download