pembredelan pers di masa orde baru - USD Repository

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PEMBREDELAN PERS DI MASA ORDE BARU (1966-1998)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Sejarah
Oleh :
Olyvie Bintang Haritajaya
NIM: 121314020
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017
i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
HALAMAN PERSEMBAHAN
Sebagai ungkapan kasih, skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Kepada orangtua tercinta, kedua saudara saya, Fernandus Lucky dan
Bastianus Zaevie dan motivasi saya Vinsen dan Fabian.
2. Teman-teman angkatan 2012 yang telah berjuang bersama selama kuliah
di Sanata Dharma.
3. Teman-teman asrama putri II Pemda Kutai Barat.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
MOTTO
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit
kembali setiap kali kita jatuh.
(Confusius)
Learn from yesterday
Life for today
Hope for tomorrow
(Albert Einstein)
Ada resiko dan harga yang dibayar untuk bertindak tapi semuanya jauh lebih
sedikit dibanding resiko jangka panjang jika hanya berdiam.
(Jhon F. Kennedy)
v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRAK
PEMBREDELAN PERS DI MASA ORDE BARU (1966-1998)
Oleh:
Olyvie Bintang Haritajaya
Universitas Sanata Dharma
2017
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tiga
permasalahan pokok, yaitu: (1) latar belakang pembredelan pers di masa Orde
Baru, (2) bentuk dan alasan pembredelan pers di masa Orde Baru, (3) dampak
pembredelan pers di masa Orde Baru.
Penelitian ini disusun berdasarkan metode penelitian historis faktual dengan
tahapan: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan
historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan multidimensional
yaitu politik, sosial dan ekonomi dengan model penulisan deskriptif analitis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) lahirnya Orde Baru
memberikan perubahan sikap pemerintah terhadap kehidupan pers, dan
munculnya berbagai kebijakan terhadap pers (2) kebijakan-kebijakan pemerintah
terhadap pers sekaligus bentuk alat pemerintah untuk membredel pers dengan
alasan demi menjaga kestabilan politik dan keamanan nasional (3) dampak dari
pembredelan pers memberikan berbagai pengaruh dalam perkembangan pers
Indonesia seperti bidang industri pers, profesi wartawan, tenaga kerja pers, pers
mahasiswa, dan euforia kebebasan pers.
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
THE PROHIBITION OF PRESS DURING NEW ORDER (1966-1998)
By:
Olyvie Bintang Haritajaya
Sanata Dharma University
2017
The purposes of this research are to describe and to analyze three main
problems, such as: (1) The background of the prohibition of press during New
Order; (2) The form and reason of the prohibition of press during New Order; (3)
The impact of the prohibition of press during New Order.
This research was organized based on historically factual research method
using the following steps: selection of a topic, gathering resources, verification,
interpretation and historiography. The approach used in the research is a
multidimensional approach which is politic, social and economic with descriptive
analytic writing model.
The research‟s results show that (1) The inception of New Order changes
the government attitude toward press life, and shows many policies for the press.
(2) The government‟s policies toward press is a tool for the government to
prohibit press with a reason to protect the stability of politic and national security.
(3) The impact of the prohibition of press has given many influences to Indonesia
press development such as in press Industry sector, journalist profession, labor
press, student press, and euphoria of press freedom.
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberi berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
yang berjudul “ Pembredelan Pers di Masa Orde Baru (1966-1998)”. Skripsi ini
disusun untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Pendidikan di
Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan
Ilmu Pendidikan Sosial, Program Studi Pendidikan Sejarah.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari
bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Rohandi, Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Bapak Ignatius Bondan Suratno, S.Pd.,M.Si. Selaku Ketua Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma.
3. Dra. Theresia Sumini, M.Pd. Selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Sejarah Universitas Sanata Dharma yang memberikan kesempatan kepada
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Drs. Sutarjo Adisusilo J.R.,S.Th., M.Pd selaku dosen pembimbing yang
telah sabar membimbing, membantu, dan memberikan banyak pengarahan,
saran serta masukan selama penyusunan skripsi ini.
x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv
HALAMAN MOTTO .................................................................................... v
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...................................... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ..................................... vii
ABSTRAK ...................................................................................................... viii
ABSTRACT ..................................................................................................... ix
KATA PENGANTAR .................................................................................... x
DAFTAR ISI ................................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 9
C. Tujuan Penulisan ................................................................................ 9
D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 9
E. Tinjauan Pustaka ................................................................................ 10
F. Landasan Teori................................................................................... 13
G. Metodologi Penelitian ........................................................................ 41
H. Sistematika Penulisan ........................................................................ 45
BAB II LATAR BELAKANG PEMBREDELAN PERS ........................... 46
A. Lahirnya Orde Baru ........................................................................... 46
B. Sikap Pemerintah Orde Baru terhadap Pers ....................................... 48
C. Kebijakan Pemerintah terhadap Pers ................................................. 55
BAB III BENTUK DAN ALASAN PEMBREDELAN PERS ................... 65
A. Bentuk Pembredelan Pers selama berlakunya UU PP No.11/1966 ... 65
B. Alasan Pembredelan Pers selama berlakunya UU PP No.11/1966.... 67
C. Cara Pembredelan Pers selama berlakunya UU PP No.21/1982 ....... 76
D. Alasan Pembredelan Pers selama berlakunya UU PP No.21/1982.... 77
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB IV DAMPAK PEMBREDELAN PERS .............................................. 86
A. Industri Pers ....................................................................................... 86
B. Profesi Wartawan ............................................................................... 89
C. Tenaga Kerja Pers .............................................................................. 95
D. Kehidupan Pers Mahasiswa ............................................................... 97
E. Euforia Kebebasan Pers ..................................................................... 101
BAB V KESIMPULAN ................................................................................. 106
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 109
LAMPIRAN .................................................................................................... 112
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah press (Inggris) atau pers (Belanda) yang sebenarnya berarti menekan
(pressing) karena mesin cetak menekan kertas untuk memunculkan tulisan. Secara
harafiah pers berarti mencetak dan penyiaran yang tercetak atau publikasi yang
dicetak (printed publication). Berdasarkan penjelasan di atas, pers memiliki dua
pengertian yakni pers dalam arti luas dan pers dalam arti sempit. Pers dalam arti
luas meliputi segala penerbitan, sedangkan pers dalam arti sempit hanya terbatas
pada media massa cetak yaitu, surat kabar, majalah, tabloid dan buletin.1
Berkaitan dengan pengertian di atas, maka yang dimaksud pers dalam penelitian
ini adalah pers dalam arti sempit, yaitu menyangkut produk penerbitan berupa
surat kabar, majalah, tabloid dan buletin.
Awal sejarah pers di Indonesia memiliki ciri-ciri khusus terkait dengan
kehidupan sosial masyarakat, kebudayaan, dan politik. Hal tersebut berpengaruh
dalam perkembangan pers di Indonesia sehingga muncul pers Belanda, pers
Melayu-Tionghoa,
pers
masa
kependudukan
Jepang,
dan
pers
setelah
kemerdekaan Indonesia. Seiring munculnya jenis-jenis pers yang berkembang
maka bahasa pers yang digunakan juga berbeda sesuai dengan kebutuhan.
Secara garis besar perkembangan pers dimulai dari zaman penjajahan
Belanda. Sebagai daerah jajahan, pers hanya diperuntukan bagi orang-orang
Belanda. Usaha pertama untuk memulai mencetak surat kabar resmi dimulai
1
Indah Suryati, 2014, Jurnalistik Suatu Pengantar, Bogor, Ghalia Indonesia, hlm. 25.
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
masa Gubernur Jenderal Van Imhoff, yang pada tahun 1744 menerbitkan
Bataviache Nouvelles yang hanya bertahan kurang lebih selama dua tahun.2 Hal
ini dikarenakan para direktur Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) di
negeri Belanda mendengar tentang surat kabar itu dan langsung menulis kepada
gubernur jenderal isi surat tersebut “Karena kami telah menemukan akibat-akibat
yang membahayakan di negeri ini dalam mencetak dan menerbitkan surat kabar
di Batavia yang mulia pada saat menerima surat ini akan segera melarang
percetakan dan penerbitan surat kabar yang terkait”.3
Perkembangan pers Belanda dalam bidang penerbitan surat kabar resmi dan
penyebarannya masih sangat terbatas dibeberapa daerah besar seperti Batavia,
Yogyakarta, Semarang, Sumatera, dan Kalimantan, yang hanya penting bagi
administrasi ataupun sebagai pusat perdagangan perusahaan-perusahaan Belanda.
Isi dari pers Belanda sudah tentu berorientasi pada pemerintah kolonial.
Pemerintah kolonial tidak peduli dengan keadaan masyarakat Indonesia
kerena dianggap tidak memberikan keuntungan, bahkan untuk mengetahui tentang
surat kabar yang ditulis rakyat pribumi dirasa tidak perlu.4 Oleh sebab itu,
pemerintah kolonial hanya mementingkan perkembangan surat kabar Belanda
karena berguna dalam memonopoli berita perdagangan untuk mendapatkan
keuntungan. Bahasa yang digunakan pers Belanda yaitu bahasa Belanda sehingga
pembaca surat kabar tersebut sangat terbatas hanya kalangan tertentu saja yang
bisa membaca surat kabar berbahasa Belanda, seperti keturunan Indo-Belanda.
2
Abdurrachman Surjomihardjo, 2002, Beberapa Segi Perkembangan Pers di Indonesia, Jakarta,
Kompas Media Nusantara, hlm. 25.
3
Smith Edward Cecil,1986,Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia,Jakarta,Grafiti Pers, hlm.1.
4
Abdurrachman Surjomiharjo, op.cit,hlm.6.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
Peraturan pertama mengenai pers di zaman Hindia Belanda tahun 1856
dalam Reglement op de Drukwerken in Nederlandsch-Indie, yang diperbaharui
tahun 1906, disesuaikan dengan tuntutan keadaan, dapat dikatakan bahwa
Undang-Undang Pers (Drukpersreglement) tahun 1856 lebih bersifat preventif,
sedangkan ketentuan perundang-undangan tahun 1906 mengenai pers bersifat
pengawasan represif.5 Peraturan itu, antara lain disebutkan bahwa sebelum
diterbitkan, satu eksemplar dari semua karya cetak harus dikirimkan terlebih
dahulu kepada kepala pemerintah setempat, pejabat justisi dan Aglemeene
Sectretarie.6 Bila ketentuan ini tidak dipatuhi karya cetak bisa disita, bahkan
disertai dengan penyegelan percetakan atau tempat peyimpanan cetakan tersebut.
Pada 7 September 1931, pemerintah kolonial melahirkan apa yang
kemudian dikenal sebagai Persbreidel Ordonnantie, dan disebutkan bahwa
Gubernur Jenderal diberi hak untuk melarang terbitan tertentu yang dinilai bisa
“mengganggu ketertiban umum”. Pasal 2 peraturan ini menegaskan bahwa
Gubernur Jenderal berhak melarang percetakan, penerbitan dan penyebaran surat
kabar, paling lama delapan hari. Namun, jika sesudah diperbolehkan terbit
kembali surat kabar yang bersangkutan dinilai mengganggu ketertiban umum,
larangan terbit bisa lebih lama, walaupun tidak lebih dari 30 hari berturut-turut.7
Selain Persbreidel Ordonnantie, pada zaman pemerintahan Belanda juga
dikenal tindakan terhadap pers yang disebut Haatzai Artikalen, yaitu pasal-pasal
yang mengancam hukuman terhadap siapapun yang menyebarkan rasa
5
Ibid, hlm. 172.
Aglemene Secretarie adalah sebutan untuk sekretaris Jenderal.
7
Idem.
6
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap pemerintah Nederland atau
Hindia Belanda, yang diatur dalam pasal 154-157 dari Wetboek van Strafrecht.8
Perkembangan pers Melayu-Tionghoa yang muncul di Indonesia mula-mula
dalam bahasa Melayu-Tionghoa karena perantauan Tionghoa yang menetap di
Jawa secara turun-menurun, kebanyakan tidak bisa berbahasa Tionghoa lagi,
bahkan kebiasaan mereka pun berbeda dengan totok Tionghoa. Bahasa sehari-hari
yang mereka gunakan ialah Bahasa Indonesia setempat. Oleh karena itu bahasa
yang digunakan dalam surat kabar ialah bahasa yang mereka kenal, yaitu sejenis
bahasa Melayu yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Hokkian, kemudian dikenal
sebagai bahasa Melayu-Tionghoa. Surat kabar peranakan Tionghoa menggunakan
bahasa Melayu seiring bangkitnya nasionalisme Tionghoa di Hindia Belanda.9
Pers Melayu-Tionghoa memenuhi fungsi untuk berkomunikasi di antara
kaum peranakan Tionghoa dan masyarakat pribumi yang menggunakan Bahasa
Indonesia pada umumnya. Bebarapa surat kabar Melayu-Tionghoa muncul setelah
bangkitnya Nasionalisme, seperti: di pulau Jawa, Li Po (1901),
Pewarta
Soerabaja (1902) dan Perniagaan (1903), Sin Po (1910), Keng po (1923).10
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, pers Belanda dan pers
Tionghoa diambil alih Jepang. Beberapa penerbitan pers Indonesia masih tetap
bisa terbit, tetapi di bawah pengawasan militer Jepang. Edward Cecil Smith
mengutip dari Indonesian Historiography tentang beberapa surat kabar selama
kependudukan Jepang seperti berikut: “Indonesia terbagi dalam dua bagian: Jawa
dan Sumatera dikuasai Angkatan Darat Jepang, sementara Kalimantan, Sulawesi,
8
Ibid. hlm. 173.
Ibid. hlm. 73.
10
Ibid. hlm. 49.
9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
dan daerah sebelah timurnya dikuasai Angkatan Laut. Sebagai media komunikasi
di daerah-daerah tersebut, ada lima surat kabar yang diterbitkan di bawah
pengawasan pemerintahan militer. Surat kabar itu adalah Jawa Shinbun (Jawa),
Sumatera Shinbun (Sumatera), Ceram Shinbun (pulau Seram), Borneo Shinbun
(Kalimantan), dan Celebes Shinbun (Sulawesi).11 Surat kabar berbahasa Indonesia
yang diterbitkan pemerintah Jepang untuk pulau Jawa : Asia Raya (Batavia),
Pembangoenan, Pemandangan, Kung Yung Pao, Tjahja (Bandung), Sinar
Matahari (Yogyakarta), Sinar Baroe (Semarang),
Pewarta Perniagaan (
Surabaya). Selain surat kabar berbahasa Indonesia, beberapa surat kabar Belanda
masih diperbolehkan terbit, yaitu: Soeabajaasch Hendelsblad dan Soeara Asia.12
Peraturan mengenai pers zaman pendudukan Jepang untuk mengatur sarana
publikasi dan komunikasi tertuang dalam Osamu Sereirei (Undang-undang No.16,
tahun 1942). Dengan terbitnya peraturan ini, dikatakan bahwa setiap artikel,
termasuk iklan-iklan yang akan diterbitkan terlebih dahulu harus mendapat cap
dari badan sensor meskipun beritanya berasal dari kantor berita Jepang (Domei).13
Dalam Undang-Undang No.16, terdapat dua segi yang menarik perhatian
yaitu, berlakunya sistem izin terbit dan sensor preventif. Pasal (1) menyatakan
bahwa semua jenis barang cetakan harus memiliki publikasi atau izin terbit. Pasal
(2) melarang semua penerbitan yang sebelumnya memusuhi Jepang, untuk
meneruskan penerbitanya. Penerbitan yang dilarang itu meliputi semua surat
11
Edward Cecil Smith. op.cit. hlm. 71.
Abdurrachman Sosromiharjo. op.cit. hlm. 101.
13
Uka Tjandrasasmita,2010,Arkeologi Islam Nusantara, Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia,
hlm. 274.
12
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
kabar Belanda, Indonesia yang anti Jepang, dan juga surat kabar berbahasa Cina
yang menyerang agresi Jepang terhadap Tiongkok.
Di bawah kekuasaan Jepang, aturan hidup sangat keras, namun rakyat
Indonesia memperoleh pengalaman yang tak ternilai harganya. Mereka bekerja
sebagai pemimpin pemerintahan dan teknisi yang tadinya dipegang Belanda.
Rakyat Indonesia dijadikan satuan-satuan
tempur dan diberi latihan militer,
persiapan yang tidak disengaja untuk revolusi menuju kemerdekaan Indonesia.
Pers setelah kemerdekaan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden
Soekarno yang dipercaya menjadi Presiden pertama Republik Indonesia, pers
mulai mengalami perubahan seiring dengan perkembangan politik. Pers nasional
ikut dalam arus politik sehingga mempengaruhi watak pers nasional dari pers
perjuangan menjadi pers partisan sebagai sarana partai politik. Pergolakan politik
terus terjadi selama era demokrasi Liberal. Pergantian kabinet silih berganti masa
Demokrasi Liberal mengakibatkan kondisi politik negara tidak stabil sehingga
Presiden Soekarno mengubah sistem politik yang berlaku, pada 28 Oktober 1956
dari sistem pemerintahan demokrasi Liberal menjadi Demokrasi Terpimpin.
Ketika itu situasi politik tidak stabil, karena pemberontakan yang terjadi di
berbagai daerah menentang kabinet baru yang dipilih oleh Presiden Soekarno
yaitu kabinet Djuanda Kartawidjaja. Selama masa jabatan kabinet Djuanda,
Presiden Soekarno memperkokoh kekuasaannya dengan ungkapan-ungkapan
kharismatik yang sangat populer ialah: Manifesto politik, Nasakom, Ganefo, Nefo
dan Oldefo.14 Situasi krisis politik yang terjadi karena aksi pemberontakan yang
14
Edward C. Smith. op.cit, hlm.146.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
gagal mencapai kesepakatan perdamaian semakin membuat situasi semakin tidak
terkendali.
Karena
melihat
situasi
semakin
rumit
Presiden
Soekarno
memberlakukan keadaan darurat perang (SOB).15 Dalam keadaan tersebut
penguasa mengeluarkan berbagai peraturan untuk mengontrol pers dan upaya
Presiden Soekarno untuk mengkonsolidasi kekuasaannya melalui ungkapan
revolusi belum selesai.
Pada tanggal 12 Oktober 1960, sebagai Penguasa Perang Tertinggi
(Peperti), Presiden Soekarno mengeluarkan peraturan bahwa setiap penerbitan
harus mendaftarkan diri untuk mendapat surat izin terbit (SIT). Agar izin terbit
diperoleh, pers harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu, seperti setia
kepada manifesto politik, serta turut berjuang menentang imperialisme,
kolonialisme, liberalisme, federalisme, dan separatisme16
Penguasa Demokrasi Terpimpin memandang pers semata-mata dari sudut
kemampuannya dalam memobilisasi massa dan opini publik. Pers dianggap
sebagai alat revolusi yang besar pengaruhnya untuk menggerakan atau
meradikalisasi massa untuk menyelesaikan sebuah revolusi. Oleh karena itu,
rezim Demokrasi Terpimpin merasa perlu menguasai pers, yang dalam praktik
bukannya untuk memperbaiki kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat
tetapi untuk alat revolusi kekuasaan rezim Orde Lama.17 Dalam sejarah pers
Indonesia, salah satu masalah yang menarik adalah pelarangan terbit atau
pembredelan terhadap surat kabar. Ada surat kabar yang dilarang terbit untuk
sementara dan selamanya. Pelarangan terbit itu sering disertai pula penahanan
15
Idem.
Peraturan Panglima Perang Tertinggi, No. 10 diterbitkan tahun 1960.
17
Mansyur Semma, 2008, Negara dan Korupsi, Jakarta, Obor Indonesia, hlm.117.
16
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
terhadap pimpinan surat kabar yang bersangkutan dan juga penahanan tanpa
pengadilan terhadap wartawan terkait pembredelan.
Periode pembredelan dalam penelitian ini difokuskan pada 1966-1998,
dengan analisis berdasarkan Undang-Undang Pokok Pers No.11 tahun 1966 dan
Undang-Undang Pokok Pers No. 21 tahun 1982. Setelah peristiwa G 30 S tahun
1965, Jenderal Soeharto melakukan pembredelan terhadap semua surat kabar PKI
dan yang diduga terkait dengan ormas tersebut. Namun sikap kritis pers terhadap
pemerintahan telah tumbuh mulai dari tahun 1966 dan semakin meningkat ketika
pemerintahan di dominasi oleh Angkatan Darat, serta isu-isu korupsi mulai
merajalela, tetapi pemerintah masih memberikan toleransi terhadap kritik pers,
dan menahan diri untuk melakukan tindakan pemberdelan. Hal ini terlihat dari
data pembredelan menunjukan pemerintah baru melakukan pembredelan tahun
1971, namun Ini artinya pemerintah mulai meletakkan tali kekang untuk
mengendalikan pers. Dapat ditemukan juga pemerintah lebih represif pasca Malari
1974, surat kabar yang di larang terbit (harian dan mingguan) serta majalah, yaitu
harian Nusantara, Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, harian KAMI, The Jakarta
Times, mingguan Wenang, Pemuda Indonesia dan Ekspres, Mingguan Mahasiswa
Indoesia yang (Bandung), Suluh Berita yang terbit di Surabaya, serta Pos
Indonesia yang (Ujung Pandang),18 dan Sinar Harapan.19
18
Ahmad Zaini Abar, 1995, 1966-1974 Kisah Pers Indonesia, Yogyakarta,Lkis, hlm. 1.
Yuli Andanwati.Pembredelan Sinar Harapan Tahun 1986. Avatara E-journal Pendidikan
Sejarah..Vol I . No.3.2013. hlm. 580.
19
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditarik beberapa permasalahan
sebagai berikut.
1. Apa latar belakang pembredelan pers di masa Orde Baru?
2. Bentuk dan alasan pembredelan pers yang dilakukan oleh pemerintah
Orde Baru?
3. Apa dampak dari pembredelan pers bagi perkembangan kehidupan pers?
C. Tujuan Penelitian
1. Menjelaskan latar belakang pembredelan pers pada masa Orde Baru.
2. Menjelaskan bentuk dan alasan pembredelan pers yang dilakukan oleh
pemerintah Orde Baru.
3. Menjelaskan dampak dari pembredelan pers bagi perkembangan pers
pasca Orde Baru.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Universitas Sanata Dharma
Untuk melaksanakan salah satu Tridharma perguruan tinggi khususnya
bidang penelitian yaitu untuk ilmu pengetahuan sosial. Penulisan ini juga
dapat dimanfaatkan sebagai sumber referensi bagi rekan-rekan mahasiswa.
Selain itu, juga dapat dimanfaatkan untuk contoh dalam penulisan skripsi
bagi mahasiswa selanjutnya.
2. Bagi Dunia Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan sejarah Indonesia pada era
Orde Baru, khususnya tentang pembredelan pers 1966-1998.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
3. Bagi Masyarakat Luas
Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pembredelan pers
di masa Orde Baru dan menjadi bahan refleksi tentang kebebasan pers di
masa Orde Baru.
E. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini disusun dengan menggunakan sumber primer berupa Undangundang Pokok Pers, surat kabar, dan sumber sekunder berupa buku, jurnal ilmiah
dalam penulisan skripsi ini banyak menggunakan sumber sekunder berupa bukubuku pokok yang menunjang penulisan skripsi ini.
Beberapa buku yang digunakan antara lain: Beberapa Segi Perkembangan
Pers di Indonesia, karya Abdurrachman Surjomihardjo, et.al. Buku ini
memberikan gambaran tentang sejarah pers di Indonesia, yang memiliki ciri-ciri
khusus yang berhubungan dengan keadaan masyarakat, kebudayaan dan politik.
Buku ini juga menguraikan jenis-jenis pers yang berkembang di Indonesia
yaitu pers Belanda, pers Melayu-Tionghoa, pers Indonesia dan pers daerah.20
Selain memaparkan tentang beberapa jenis-jenis pers yang berkembang pra dan
pasca kemerdekaan Indonesia, ditegaskan pula bahwa kontrol terhadap pers yang
tertuang dalam peraturan berupa Undang-undang pers sudah ada sejak zaman
penjajahan Belanda di nusantara. Oleh sebab itu, semakin memberikan
pemahaman tentang sejarah pers Indonesia hingga saat ini.
Pembredelan Pers di Indonesia tulisan Edward Cecil Smith, semakin
memperlengkap tentang dinamika Pers Indonesia. Meskipun banyak cobaan yang
20
Abdurrachman Surjomihardjo,op.cit, hlm. 6.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
dihadapi pada awal sejarahnya, justru karena cobaan itulah, pers dapat bertahan
sebagai sistem komunikasi. Pers Belanda, pers Tionghoa dan pers Indonesia, yang
saling beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan satu sama lain, meskipun
terdapat sensor dan undang-undang yang melarang mengkritik pemerintah, namun
pers masih tetap dapat bertahan terus di pasaran yang masih terbatas karena
besarnya jumlah penduduk yang buta huruf dan masih sangat kecil mendapat
penghasilan ketika Indonesia baru merdeka.21
Kisah Pers 1966-1974, ditulis Ahmad Zaini Abar
22
yang bermula dari
kajian untuk skripsi, tugas akhir pada jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ahmad Zaini Abar
telah memadukan antara kegemaran dengan disiplin keilmuan formalnya,
sehingga melahirkan karya ini. Buku ini berpretensi mengenali fenomena sosiopolitik dengan difokuskan kepada kekuasaan Orde Baru. Buku karya Ahmad Zaini
Abar memaparkan tentang faktor-faktor politik yang menyebabkan daya kritis dan
kebebasan pers tumbuh dan berkembang, lalu kemudian kehilangan maknanya,
perubahan sikap kritis pers serta sikap pemerintah terhadap pers, dapat dilihat dari
Peristiwa Malari 1974 sebagai tolok ukur.
Pers pra-Malari adalah pers idealis, pers yang menyuarakan hati nurani dan
aspirasi rakyat, berani dan kritis melakukan kontrol sosial. Singkatnya pers praMalari adalah pers yang bebas, merdeka serta akumulatif. Sebaliknya, pers PostMalari pers menjadi kurang idealis, cenderung mewakili kepentingan penguasa,
21
22
Edward.C.Smith, op.cit, hlm. 3.
Ahmad Zaini Abar, op.cit, hlm. 4.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
pemerintah atau negara serta tidak lagi pernah melakukan kontrol sosial secara
kritis. Pers post-Malari adalah pers yang tidak bebas.
David T.Hill dengan bukunya yang berjudul Pers di Masa Orde Baru23
memperlengkap tentang perkembangan pers setelah merdeka khususnya masa
pemerintahan Orde Baru. Orde Baru membangun relasi saling terkait yang pelik
antara kendali keamanan dan undang-undang tangan besi yang mengendalikan
pers.
Pers di bawah pemerintahan Presiden Soeharto yang berusaha untuk
menghilangkan organ-organ partai dan surat kabar-surat kabat yang kritis,
menjinakkan pers pembuat kegaduhan, dan memastikan bahwa para pekerja dan
pihak manajemen pers bertanggung jawab secara mutlak pada pemerintah. 24
Dalam buku ini juga dipaparkan tentang periode-periode pemerintah
melakukan tindakan anti pers atau lebih sering dikatakan sebagai pembredelan
terhadap pers, kebebasan pers yang pernah dijanjikan oleh pemerintahan Presiden
Soeharto dengan Orde Baru-nya hanya sebagai kebebasan semu. Ini terbukti dari
adanya pembredelan terhadap surat kabar maupun majalah karena dianggap
memuat berita yang dapat mengganggu kestabilan politik.
Humanisme dan Kebebasan Pers, editor buku St.Sularto25, memberikan
gambaran tentang kebebasan pers yang ada di Indonesia serta peraturan-peraturan
pasca Indonesia merdeka menjadi semakin mempersempit kebebasan pers yang
sebenarnya sudah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28.
Pada masa Orde Baru dikenal adanya keharusan mendapatkan izin untuk
menerbitkan surat kabar, namun proses untuk mendapatkan izin cukup sulit,
23
David.T.Hill, 2011, Pers di Masa Orde Baru, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Ibid,hlm. 7.
25
St.Sularto,2001, Humanisme dan Kebebasan Pers,Jakarta,Kompas Media Nusantara.
24
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
ditambah kebabasan pers hampir dikatakan tidak ada ketika dalam UndangUndang Pers 1982 mencantumkan pasal keharusan mendapatkan Surat Izin Usaha
Percetakan Pers (SIUPP), meskipun Surat Izin Terbit dihapus, dengan munculnya
SIUPP sebagai alat kontrol terhadap pers oleh pemerintah. Peraturan ini lebih
berat dirasakan oleh industri pers karena ketika surat kabar dan majalah dianggap
memberitakan isu-isu yang dapat menganggu kestabilan keamanan dan politik
serta kehidupan Presiden Soeharto, maka Menteri Penerangan dapat membatalkan
SIUPP yang diberikan. Tindakan tersebut memberikan dampak yang sangat
merugikan bagi industri pers karena surat kabar dan majalah dibredel dan tidak
ada sumber rezeki dari industri pers yang selama ini menjadi sumber kehidupan
bagi para karyawan.
F. Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan beberapa konsep sebagai dasar landasan teori.
Konsep-konsep tersebut antara lain adalah sistem pemerintahan otoriter, teori
totaliter, pers, sistem pers, kebebasan pers, pembredelan dan bahasa dalam pers.
1. Sistem Pemerintahan Otoriter/Fasis
Fasisme berasal dari bahasa Latin Fasces yang berarti „ikatan‟. Pada masa
Roma kuno, petugas hukum mengenakan tanda berupa seikat sambuk dan kapak
sebagai simbol, wewenang dan keadilan. Di tahun 1920 Mussolini mengadopsi
simbol ini dengan memberi nama yang mirip, „Fasci’ untuk kelompok bersenjata
yang dia harapkan dapat membawanya kepada kekuasaan.26
26
Hugh Purcell, 2004, Fasisme, Yogyakarta, Resist Book, hlm. 4.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
Mussolini ditiru seorang Jerman bernama Adolf Hitler. Pengikut -pengikut
Hitler yang revolusioner merupakan anggota Partai Buruh Sosialis Jerman
(National Socialist German Worker’s Party/NSDAP). Dari nama partai inilah
istilah Nazi Jerman dan Fasis Italia cukup memiliki kesamaan antar keduanya,
hingga kata „fasis‟ patut dilekatkan bagi kedua gerakan revolusioner itu. Slogan
Ein Reich, Ein Volk, Ein Fuehrer, dapat digunakan untuk menympulkan apa arti
sebenarnya Fasisme.27
Ein Reich (Negara Totaliter). Menurut doktrin fasis, negar harus totaliter. Ini
berarti negara harus memiliki kekuasaan total atas seluruh aspek kehidupan
rakyatnya. Di negara totaliter rakyat ada untuk kepentingan negara. Hanya ada
satu partai politik dimana setiap orang memberikan suaranya, dan partai ini adalah
pemerintah. Pemerintah mengontrol semuanya: pendidikan dan media massa,
industri dan perdagangan, rekreasi dan agama, bahkan kehidupan berkeluarga.
Ein Volk ( Rasialisme dan Nasionalisme). Kaum fasis percaya bahwa
manusia adalah predator, tetapi hal ini bukan satu-satunya pembenaran mereka
mendukung negara kuat. Secara sederhana, seorang rasialis percaya bahwa rasnya,
entah berasal dari Inggris, Jerman, Cina atau manusia keturunan manapun, adalah
superior atas ras lainnya. Rasialisme berkaitan erat dengan nasionalisme. Seorang
nasionalis adalah seorang yang memiliki kebanggaan atas bangsanya, hingga
terkadang sampai pada taraf memujanya. Yang dimaksud dengan „bangsa‟ di sini
adalah istilah kolektif yang mencakup negara (sebuah sistem pemerintahan),
27
Ibid, hlm. 5.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
masyarakat (sebuah kelompok ras yang disatukan oleh ikatan darah), serta budaya
dan tradisi yang telah berkembang berabad-abad.28
Ein Fuehrer (Prinsip Kepemimpinan). Jika fasisme adalah agama maka
pemimpinnya (Fuehrer) adalah Tuhannya atau God Given ( keturunan Tuhan).
Pada tahun 1920-1945, pemimpin kaum fasis adalah para diktator. Dua dari
mereka Hitler dan Mussolini yang memiliki kekuasan total, menggunakan alatalat demokratik pemilihan umum dan tawar-menawar politik mendapat
kekuasaan. Namun sekali mereka mengambil alih pemerintahan, mereka
menggengam seluruh kekuasaan di tangan mereka. Kata-kata mereka adalah
hukum. Mereka menjadi diktator tidak hanya berkat
mereka.
Seorang fasis
kualitas kepemimpinan
mendukung negara totaliter yang dipimpin seorang
diktator yang populer. Ia selalu yakin dengan superioritas rasnya dan kebesaran
bangsanya. 29
Untuk semakin menjelaskan ciri pemerintahan yang otoriter/fasis teori
totaliterisme yang telah berkembang dapat memberikan gambaran ringkas sebagai
berikut:Rezim totaliter dimanapun bermaksud mengarahkan masa rakyat untuk
membangun suatu masyarakat baru, suatu sistem nilai baru dengan cara-cara yang
revolusioner dengan prinsip tujuan menghalalkan segala cara, di samping
mengontrol semua kekuasaan sosial. Menurut Zbigniew Brzezinki (di samping
Hannah Arendt, Karl Popper, Raymond Aron,dll.) Masyarakat
totaliter
mempunyai unsur pokok, yaitu:30
28
Ibid, hlm. 7.
Ibid, hlm. 14-15.
30
Sutarjo Adisusilo.J.R, 2016, Revolusi Eropa Menjadi Modern, Yogyakarta, Sanata Dharma
University Press, hlm.197.
29
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
1) Suatu ideologi yang menjelaskan dunia, masyarakat manusia dan sejarah,
merupakan ideologi yang harus ditaati, dipropagandakan dan diterima oleh
semua warga negara.
2) Pemusatan kekuasaan sosial dan politik di tangan satu partai (biasanya
didominasi oleh satu orang pemimpin)
3) Intimidasi atas rakyat melalui ketidakpastian hukum teror politis yang
sewenang-wenang.
4) Monopoli negara atas sarana-sarana informasi dan komunikasi
5) Perekonomian yang terpusat dan serba terencana.
Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, maka rezim totaliter ternyata
mengandung unsur paradoksial di dalam dirinya, tidak efisien dan kontra
produktif. Hal ini dapat dicermati dari:
1) Ideologi
Memberlakukan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi negara, berarti
setiap
warga
negara
harus
menerimanya,
membuat
tidak
ada
kemajemukan/pluralisme dalam berbagai hal termasuk pendapat, ide, gagasan,
pikiran, dll. Semua harus seragam. Berbeda berarti menentang, dan mati. Kendati
diindoktinisasikan, ideologi seperti itu tidak akan meresap dalam hati dan dihayati
warga masyarakat. Jika dipelajari maka hal itu hanya lahiriah sifatnya, tetapi
ideologi itu akan dibenci di dalam hati sanubari, kemunafikan merajalela.
Memaksakan ideologi yang hanya dilegitimasikan kekuasaan justru kontra
produktif.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
2) Sistem partai tunggal
Jika dalam suatu negara hanya ada satu atau non multi partai, tetapi satu
partai memonopoli semua kekuasaan negara, maka konsekuensi logisnya adalah
partai dan birokrasi negara tumbuh menjadi sesuatu yang berukuran raksasa dan
tidak dapat tidak menjadi tidak becus dan korupsi, nepotisme maupun kolusi akan
berkembang subur. Sistem partai tunggal menjadi buta kritik, saran dan
penyegaran. Keangkuhan, kesombongan dalam segala hal mengantar partai secara
pelan tapi pasti masuk dalam kehancuran.
3) Teror
Ciri lain pemerintahan totaliter adalah menindas kelompok minoritas
(agama, ras, budaya, sosial, dll) secara sistematis. Di samping itu tidak ada
kepastian hukum sebab hukum untuk mengabdi penguasa dan situasi ini akan
berdampak struktur masyarakat lambat laun akan lumpuh. Ketakutan yang
ditimbulkan oleh penguasa (polisi, tentara, jaksa, hakim, dll), lambat laun akan
berubah menjadi rasa jijik dan benci yang meluas di kalangan rakyat terhadap
penguasa.
4) Kontrol informasi
Radio, TV, Surat Kabar, internet dan alat-alat komunikasi modern amat
membantu propaganda pemerintah. Di pihak lain alat-alat tersebut kendati
dibungkam dibredel, akan tetap menjadi alat komunikasi bagi setiap orang untuk
melawan pemerintah. Dengan kata lain pemerintah totaliter pada dasarnya tidak
akan dapat membungkam rakyatnya dengan memanipulir
informasi atau
membatasi informasi. Pemerintah manapun akan gagal mengontrol dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
memblokir informasi, pembredelan surat kabar, internet dll. Justru mendorong
rakyat mencari dan mempercayai informasi dari luar dan membenci informasi
pemerintahnya.
5) Perekonomian berencana yang terpusat.
Perekonomian berencana yang terpusat terus menerus lambat laun tidak
efisien sebab melenyapkan prinsip-prinsip persaingan sehat. Akibat motivasi
untuk bertindak secara ekonomis hilang. Produktivitas dan kreativitas lenyap demi
mengutamakan loyalitas, komitmen pada partai dan ideologi. Dalam keadaan
seperti ini ekonomi tidak saja stagnan tetapi mundur dan akhirnya runtuh. Dengan
melihat struktur paradoksal totalitarianisme maka hasil akhirnya adalah kekacauan
ekonomi dan hilangnya kredibilitas rakyat terhadap penguasa sebab ideologi yang
dipaksakan demi legitimasi penguasa akan berguna.
Penulis memaparkan teori tentang fasisme dan totalitarisme sebagai suatu
gambaran sejarah ketika negara dipimpin oleh seorang otoriter,gambaran inilah
yang di masa Orde Baru dapat kita lihat, bagaimana seorang pemimpin secara
penuh menggunakan kekuasaanya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menurut Ashadi Siregar31 rezim Orde Baru digerakan oleh budaya negara
berdasarkan norma militerisme dan/ atau fasisme dengan menjalankan prinsip
monopoli mulai dari pengendalian secara fisik, sampai penguasaan alam pikiran
warga. Pengendalian fisik dilakukan antara lain dengan tindakan-tindakan,
sementara penguasaan alam pikiran dilakukan dengan monopoli wacana melalui
penguasaan alat-alat komunikasi dalam masyarakat.
31
Ashadi Siregar. Media Pers dan Negara: Keluar dari Hegemoni. Jurnal Ilmu Komunikasi dan
Ilmu Politik. Vol 4. No.2. 2000. hlm. 176.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
Militerisme dan fasisme dapat berjalan bersamaan, tetapi dapat juga berjalan
terpisah. Militerisme pada dasarnya secara sederhana dapat diartikan sebagai
tindakan dengan menggunakan metode militer dalam kehidupan sipil. Metode
militer yang digerakkan dengan norma fasisme dapat menjadi sangat eksesif jika
budaya negara ini digerakan oleh pimpinan negara yang memiliki kecendrungan
psikopatologis. Kehidupan era Hitler di Jerman dapat menjadi studi mengenai
pola fasisme. Struktur negara Orde Baru tidak memberi tempat kepada struktur
alternatif atau oposisi karena digerakakkan oleh budaya negara dengan norma
militerisme dan fasisme. Dengan norma semacam ini, biasanya terbentuk pula
struktur gelap atau bayangan (hidden Structure) yang berasal dari dalam struktur
resmi negera. Struktur gelap ini di gunakan untuk menjalankan tindakan secara
fisik dan metode lainnya di luar hukum oleh penguasa negara untuk mematikan
setiap tindakan yang dianggap sebagai oposisi. Teror terhadap warga, penculikan
dan penahanan tanpa prosedur hukum, bahkan sampai penembakan misterius
(petrus) yang disebut tindakan shock theraphy dapat menjadi contoh tindakan dari
struktur gelap rezim Orde Baru.32
Demikialah era Orde Baru ditandai oleh struktur sosial dengan kekuasaan
negara bersifat hegemonik dan korporatis ala fasisme. Selain adanya tindakantindakan yang berlangsung melalui struktur negara (resmi dan gelap), penguasaan
alam pikiran warga masyarakat dilakukan dengan mengendalikan media massa.
Media massa dijadikan oleh penguasa negara sebagai sarana pengendalian
masyarakat. Dalam norma otoritarianisme umumnya dan fasisme khususnya
32
Ibid, hlm, 178.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
media massa pada dasarnya hanya menjadi alat bagi kekuasaan, bukan sebagai
sarana masyarakat untuk mendapat fakta dan mengekspresikan dirinya. Lebih
jauh, pengendalian masyarakat adalah kata kunci dalam struktur negara fasis dan
militeristis yang bersifat totalitarian.33
2. Pers
Setelah berakhirnya pemerintahan Presiden Soekarno dengan Orde Lamanya dan digantikan dengan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto salah
satu perubahan yang dilakukan pemerintah yaitu dengan memperbaharui UndangUndang tentang pers yang beberapa kali mengalami perubahan seperti: UndangUndang tentang perubahan atas Undang-Undang No.11 1966 tentang Ketentuanketentuan pokok pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.4
1967.
Pasal 1 a. Pengertian tentang pers diubah sebagai berikut alat revolusi
diubah menjadi alat perjuangan. Setelah mengalami perubahan kata dalam
pengertian pers, menurut Undang-undang No.21 1982 tentang perubahan atas
Undang-Undang
No.11 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers
sebagaimana telah diubah oleh Undang-undang No. 4
1967 yang dimaksud
dengan pers adalah lembaga kemasyarakatan dan alat perjuangan nasional yang
mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa yang bersifat
umum berupa penerbitan yang teratur waktu terbitnya, dilengkapi dengan alat-alat
foto, klise, mesin-mesin stensil atau alat-alat teknik lainnya.34
33
Ibid, hlm, 179.
Undang-Undang Ketentuan Pokok Pers Nomor 21 Tahun 1982.
34
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
Perumusan pers menurut Undang-Undang tersebut di atas sangat sesuai
dengan perumusan yang dikemukakan oleh Oemar Seno Adji, tentang pers dalam
arti sempit yaitu “Pers yang menjelma dalam surat-surat kabar, majalah-majalah,
buku-buku dan lain-lain”.35 Kalau kita telaah lebih dalam kedua perumusan di
atas, maka yang dimaksudkan dengan pers adalah semua alat komunikasi yang
bersifat umum dan terbit secara teratur berupa majalah-majalah, surat kabar,
buku-buku, dan lain sebagainya yang berfungsi sebagai penyebar luas informasi
dan sarana perjuangan untuk mencapai cita-cita pembangunan nasional.
3. Sistem Pers
Pers umumnya tunduk pada sistem pers yang berlaku di mana sistem itu
hidup, sementara sistem pers itu sendiri tunduk kepada sistem politik
pemerintahan yang ada. Bersama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers
berada dalam keterikatan organisasi yang bernama negara. Oleh karenanya, pers
dipengaruhi bahkan ditentukan oleh falsafah dan sistem politik negara di mana
pers itu berada. Singkat kata, perkembangan dan perkembangan dan pertumbuhan
sistem politik di mana pers itu berada, dan merupakan subsistem politik yang ada.
Menurut Fred S. Siebert, dkk dalam buku yang berjudul Four Theories of
the Press, terdapat empat teori pers yang mendukung sistem pers di dunia:36
Pertama Teori Pers Otoriter. Ciri utama dari sistem pers otoriter adalah
fungsi pers sebagai kepanjangan tangan pemerintah yang sedang berkuasa dan
melayani negara. Melalui penerapan hak khusus, lisensi, sensor langsung dan
peraturan organisasi media, individu dijauhkan dari kemungkinan mengkritik
35
Oemar Seno Adji, 1977, Pers Aspek-aspek Hukum, cet.2, Jakarta, Erlangga, hlm.79.
Inge Hutagalung.”Dinamika Sistem Pers di Indonesia” Jurnal Interaksi.Volume II No.2. Juli
2013, hlm.54.
36
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
pemerintah yang berkuasa. Dalam sistem otoriter, pers dapat dimiliki baik secara
publik ataupun perorangan, namun tetap menggunakan pers sebagai alat untuk
memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan pemerintah.
Teori pers otoriter muncul pada zaman Renaissance (pencerahan) abad 17
setelah ditemukannya mesin cetak. Teori ini berkembang dari filsafat kekuasaan
monarki absolut dan kekuasaan pemerintah absolut. Di beberapa negara di dunia,
teori pers otoriter masih di praktikan sampai sekarang. Teori ini muncul dari
filsafat kekuasaan monarki absolut.37
Kedua Teori Pers Liberal. Sistem pers ini merupakan suatu bentuk
perlawanan dari pandangan otoriter. Ciri teori pers Liberal Pers membantu
menemukan kebenaranan dan mengawasi pemerintah sekaligus sebagai media
yang memberikan informasi, menghibur, dan mencari keuntungan. Penguasa tidak
punya hak untuk mengatur isi berita media. Penguasa dalam sistem ini juga tidak
berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menerbitkan media. Pada
sistem ini, siapapun sebenarnya punya hak untuk menerbitkan media asalkan
mempuyai kemampuan ekonomis. Tidak ada izin atau lisensi khusus untuk
menerbitkan media. Apa yang baik dan tidak ditentukan oleh penguasa, tetapi
ditentukan oleh khalayak. Dalam sistem ini, penguasa tidak mempunyai hak untuk
menutup (bredel) media. Teori ini muncul dari filsafat umum tentang rasionalisme
dan hak asasi manusia, teori liberal semula berkembang di Inggris dan digunakan
setelah tahun 1688.
37
Haris Sumadiria, 2014, Sosiologi Komunikasi Massa, Bandung, Remaja Rosdakarya, hlm.69.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
Ketiga,Teori Pers Tanggung Jawab Sosial. Ciri teori ini yaitu media selain
bertujuan untuk memberikan informasi, menghibur, mencari keuntungan, juga
harus dapat memberikan individu hak untuk mengemukakan masalahnya di dalam
forum media, dan jika media tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka ada
pihak yang harus memaksanya. Teori ini, media dikontrol oleh pendapat
masyarakat, tindakan konsumen, kode etik profesional, dan penyiaran, dikontrol
oleh badan pengatur penyiaran. Pengembangan dari teori liberal menghasilkan
teori tanggung jawab sosial, yang dikembangkan pada abad ke 20 di Amerika
Serikat.
Keempat, Teori Pers Totaliter-Soviet. Ciri teori ini yaitu kebebasan pers
yang sebenarnya akan ada dalam masyarakat tanpa kelas kebebasan pada sistem
ini adalah bebas dari kapitalisme, individualisme, burjuasi dan bukan bebas untuk
menyatakan pendapat. Media dikontrol oleh tindakan ekonomi dan politik dari
pemerintah dan badan pengawas, dan hanya anggota partai yang loyal dan
anggota partai ortodoks saja yang dapat menggunakan media secara reguler.
Media dalam sistem Soviet dimiliki dan dikontrol oleh negara dan hanya sebagai
kepanjangan tangan negara. Tujuan teori ini adalah membantu keberhasilan dan
klan kelangsungan sistem Soviet.
Teori ini dikembangkan berdasarkan ideologi Marxis dan nilai kebersamaan
antar kelas maupun antar partai/golongan, yaitu selama kelas kapitalis mengawasi
fasilitas fisik media, kelas buruh tidak mempunyai akses pada saluran komunikasi.
Menurut penulis masa Orde Baru menganut Teori Pers Otoriter. Hal ini
dapat dilihat dari UU PP No.11 1966 terdapat peraturan mengenai surat izin terbit,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
ketika diperbaharui menjadi UU PP No.21 1982 digantikan dengan surat izin
usaha penerbitan pers, mencerminkan usaha nyata ke arah pelaksanaan pers
dikendalikan oleh pemerintah, suatu bentuk pengabdosian terhadap teori pers
otoriter. Pada masa Orde Baru, pers dinyatakan sebagai salah satu media
pendukung keberhasilan pembangunan. Bentuk isi pers Indonesia perlu
mencerminkan pembangunan. Hingga timbul istilah pers pembangunan, dari
kenyataan ini terlihat bahwa pers Indonesia tidak mempunyai kebebasan karena
pers harus mendukung program pemerintah Orde Baru.38
Pers Indonesia masa Orde Baru selain menganut teori pers otoriter juga
menganut teori pers tanggung jawab sosial, hal ini digambarkan dari sebutan pers
nasional adalah pers bebas dan bertanggung jawab, pers diberikan kebebasan
dalam memberitakan isu-isu terkini namun pers harus tetap bertanggung jawab
atas berita yang ditulis. Pertanggung jawaban pers di jabarkan dalam UndangUndang Pokok Pers, Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Kode Etik Jurnalistik,
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sesuai dengan ciri khas teori pers
tanggung jawab sosial ialah media bisa dimiliki oleh perorangan tetapi tidak
berarti perorangan begitu saja mendiktekan keinginannya melalui media.39
Fungsi dan peranan pers berangkat dari beberapa teori pers yang sudah
dikembangkan sejak lama, fungsi pers akhirnya dikaitkan dengan pembangunan
dan kepentingan masyarakat. Dalam pembangunan, Schramm menyebutkan,
fungsi media massa minimal tiga bentuk; meliputi memberitahu rakyat tentang
pembangunan nasional, memusatkan perhatian masyarakat supaya berubah,
38
39
Inge Hutagalung, op.cit, hlm. 56.
Haris Sumadiria, op.cit, hlm. 75.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
kesempatan menimbulkan perubahan, metode/ cara menimbulkan perubahan, jika
mungkin memunculkan aspirasi.
Kusumaningrat mengemukakan, fungsi pers tersebut meliputi : 40
a. Fungsi informatif merupakan fungsi memberi informasi melalui berita
secara teratur kepada khalayak. Pers menghimpun berita yang dianggap
berguna dan penting bagi orang banyak dan kemudian menulisnya. pers
juga memperingatkan khalayak tentang berbagai peristiwa diduga akan
terjadi, seperti perubahan cuaca dan bencana alam.
b. Fungsi kontrol pers yang bertanggung jawab tentu akan masuk ke balik “
panggung” kejadian, menyelidiki pekerjaan pemerintah atau perusahaan.
Pers harus memberitakan perkembangan yang berjalan baik dan tidak
berjalan dengan baik. Fungsi kontrol ini harus dilakukan pers dengan lebih
aktif daripada kelompok masyarakat lainnya. Pers dengan kelebihannya
yang mampu menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang yang
baik dan tidak baik, supaya segera mendapat perhatian dan penanganan
sebagaimana perlunya.
c. Fungsi interpretatif pers memberikan bimbingan bagi masyarakat. Pers
harus menjelaskan kepada masyarakat tentang arti suatu kejadian. Ini
dapat dilakukan pers melalui tulisan pada tajuk rencana (editorial) atau
tulisan-tulisan latar belakang.
d. Fungsi menghibur, para wartawan atau reporter menulis atau menuturkan
kisah-kisah dunia dengan hidup dan menarik. Mereka menyajikan humor,
40
Mondry, 2008, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik, Bogor, Ghalia Indonesia, hlm.72.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
drama dan musik. Mereka menceritakan kisah lucu untuk diketahui,
meskipun kisah itu tidak terlalu penting.
e. Fungsi regeneratif, pers berfungsi menceritakan bagaimana sesuatu
dilakukan di masa lampau, bagaimana dunia ini dijalankan sekarang,
bagaimana sesuatu diselesaikan dan apa yang dianggap dunia itu benar dan
salah. Jadi pers menyampaikan warisan sosial kepada generasi baru supaya
terjadi regenerasi.
4. Kebebasan Pers
Konsep kemerdekaan pers di sini adalah sebagai terjemahan dari the
freedom of the press, yang secara sederhana dapat dianalogikan dengan arti free
from the dom, atau bebas dari penguasa. Dalam perspektif sejarah, pengakuan dan
perlindungan hak untuk merdeka dari pengaruh atau tekanan penguasa sudah di
mulai sejak deklarasi Magna Charta tahun 1215. Khusus dalam bidang pers,
secara eksplisit ditetapkan di dalam pasal 12 Virginia Bill of Right pada 15 Mei
1776 tentang kemerdekaan persurat kabaran.41
Piagam Virginia ini kemudian dimasukan ke dalam Konstitusi Amerika
Serikat 1787, pada tahun 1789, piagam itu diadopsi pula oleh Prancis menjadi
Declaration de droits de I’homme et du citoyen, atau naskah pernyataan Hak
Asasi Manusia (HAM) dan warga negara. Di Indonesia masalah kemerdekaan/
kebebasan pers adalah apakah sudah sesuai dengan konstitusi serta undangundang yang berkaitan dengan fungsi dan peranan pers dalam kehidupan
demokrasi. Hal ini sangat penting dirumuskan, mengingat pengalaman selama ini,
41
Satrio Saptohadi.2011.”Pasang Surut Kebebasan Pers di Indonesia”. Jurnal Dinamika Hukum.
Volume. 11.No.1.Januari.hlm.131.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
hampir setiap sistem politik menyebut dirinya demokratis dan menjamin adanya
kebebasan pers, tetapi dalam praktiknya otoriter dan membelenggu pers.42
Negara Indonesia adalah negara hukum yang berlandaskan Pancasila,
dengan demikian semua perilaku warga negara Indonesia diatur, dan dibatasi oleh
hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Menurut ketentuan pasal pasal 28
Undang-undang dasar 1945, kemerdekaan untuk berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan
undang-undang. Dari ketentuan ini nyatalah bahwa kebebasan pers diakui dan
dijunjung tinggi. Bahkan jika dilihat dari Undang-Undang Pokok Pers No.11
tahun 1966, tentang ketentuan dari UU pokok pers sebagaimana telah diubah
dengan UU No.4 tahun 1967 dan diubah lagi menjadi UU No.21 Tahun 1982,
kebebasan pers dijamin sesuai dengan hak asasi warga negara Indonesia.
Ketentuan ini diatur dalam pasal 5 dari undang-undang berbunyi: (1.) kebebasan
pers sesuai dengan hak asasi warga negara dijamin. (2). Kebebasan pers ini
didasarkan atas dasar tanggung jawab nasional dan pelaksanaan pasal 2 dan pasal
3 Undang-undang ini.43
Kebebasan ini di dalam prakteknya memang sangat diperlukan, terutama
dalam pelakasanaan fungsi pers sebagai barometer, kritik dan koreksi terhadap
kebijaksanaan pemerintah. karena tanpa adanya kebebasan, akan sangat sulit
untuk pers untuk memberitakan kejadian yang sesungguhnya yang terjadi di
42
43
Ibid, hlm.132.
Hamzah,et.al, 1987, Delik-delik pers di Indonesia,Jakarta, Media Sarana Press, hlm.13-14.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
masyarakat.Menurut Oemar Seno Adji, berdasarkan asas demokrasi Pancasila
maka dapat digambarkan kebebasan pers di Indonesia adalah sebagai berikut44:
(1). Kemerdekaan pers harus diartikan sebagai kemerdekaan untuk
mempunyai dan menyatakan pendapat dan bukan sebagai kemerdekaan untuk
memperoleh alat-alat dari expression seperti dikemukakan oleh negara-negara
sosialis. (2). Ia tidak mengundang lembaga sensor preventif. (3). Kebebasan ini
bukanlah tidak terbatas, tidak mutlak dan bukanlah tidak bersyarat sifatnya. (4). Ia
merupakan suatu kebebasan dalam lingkungan batas-batas tertentu, dengan syaratsyarat limitatif dan demokrasi, seperti oleh hukum nasional, hukum internasional
dan ilmu hukum. (5). Kemerdekaan pers ini dibimbing oleh rasa tanggung jawab,
dan membawa kewajiban-kewajiban untuk pers sendiri. (6). Ia merupakan
kemerdekaan yang disesuaikan dengan tugas pers sebagai kritik adalah negatif
dalam karakternya juga positif sifatnya. (7). Aspek positif diatas tidak
mengandung dan tidak membenarkan suatu konklusi, bahwa posisinya adalah
subordinate, tehadap penguasa. (8). Kebebasan adalah suatu kenyataan, bahwa
aspek positif ini jarang ditentukan oleh kaum libertarian sebagai suatu unsur
esensial dalam persoalan mass-communication. (9). Pernyataan bahwa pers itu
tidak subordinated kepada penguasa politik berarti, bahwa konsep autoritarian
adalah tidak acceptable bagi pers Indonesia. (10). Kekebasan pers dalam
lingkungan batas limitatif dan demokratis, dengan menolak tindakan preventif
adalah lazim dalam negara Demokrasi dan karena itu tidak bertentangan dengan
ide pers merdeka.
44
Idem.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
Demikian garis-garis besar di dalam Demokrasi Pancasila yang
dikemukakan Oemar Seno Adji Jelaslah bahwa kemerdekaan pers di Negara
Indonesia mempunyai batas-batas tertentu, dalam arti terbatas oleh pandangan
hidup bangsa Indonesia serta tujuan yang ingin dicapai pembangunan nasional
yang sedang kita laksanakan. Ketentuan yang sesuai dengan ini dapat kita lihat
dalam Ketetapan MPR Nomor : II/MPR/1983, bagian penerangan dan media
massa yang berbunyi: “Dalam rangka meningkatkan peranan pers dalam
pembangunan perlu ditingkatkan usaha pengembangan pers yang sehat, pers
bebas dan bertanggung jawab, yaitu pers yang dapat menjalankan fungsinya
sebagai penyebar informasi yang obyektif, melakukan kontrol sosial yang
konstruktif, menyalurkan aspirasi rakyat dan meluaskan komunikasi dan
partisipasi masyarakat. Dalam hal ini perlu dikembangkan interaksi positif antara
pers, pemerintah dan masyarakat”.45
Menurut Harmoko, prinsip kebebasan pers di Indonesia adalah bekerja bahu
membahu bersama apa saja yang disepakati masyarakat dengan penuh rasa
tanggung jawab. Pers Indonesia mengabdi kepada kepentingan nasional seperti
yang telah ditetapkan
sendiri oleh rakyat. Soemono Mustofa mengatakan
sesungguhnya tidak ada kebebasan pers yang mutlak di dunia ini. Kebebasan pers
pun tunduk pada hukum lingkungan. Tak ada kebebasan pers yang berlaku
sembarang waktu dan di semua negeri, hanya ada ialah kebebasan pers untuk
45
Ibid, hlm.16.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
suatu masyarakat pada suatu masa tertentu dan kebebasan pers di Indonesia ialah
kebebasan yang memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.46
Beberapa konsep kebebasan pers yang berlaku di Indonesia memberikan
kesimpulan bahwa kebebasan pers yang bertanggung jawab, dalam artian pers
diberikan kebebasan dalam memberitakan kejadian-kejadian yang terjadi namun
tetap harus diingat bahwa kebebasan yang diberikan terikat oleh beberapa aturan,
oleh sebab itu dikatakan tidak ada kebebasan mutlak. Dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara tidak ada kebebasan yang mutlak sifatnya.
Kebebasan seorang berhenti apabila melanggar kebebasan orang lain ataupun
melanggar kepentingan umum seperti pada masa Orde Baru pers dianggap sebagai
suatu ancaman jika memuat berita-berita yang dapat menganggu stabilitas
nasional.
5. Pembredelan Pers.
a. Pembredelan.
Undang-Undang Pokok Pers No.11 tahun 1966 dan diperbaharui dengan
UU PP No.21 tahun 1982, penjelasan mengenai istilah pembredelan tidak ada,
setelah berakhirnya Orde Baru dan UU PP No.21 tahun 1982 diperbaharui dengan
UU PP No.40 tahun 1999, dijelaskan dalam BAB I tentang ketentuan umum,
pasal 1 ayat (9) berbunyi: pembredelan
atau pelarangan penyiaran adalah
penghentian penerbitan dan peredaran atau penyiaran secara paksa atau melawan
hukum.
46
T.Atmadi, 1985, Bunga Rampai Sistem Pers Indonesia, Jakarta, Pantja Simpati, hlm. 136.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
Namun selama Orde Baru tindakan pembredelan sering terjadi bahkan
ketika larangan sensor dan pembredelan tercantum dalam UU PP No.11 Tahun
1966, bab II tentang fungsi, kewajiban dan hak pers, pasal 4 berbunyi: terhadap
pers nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan. Serta perturan mengenai
izin terbit yang memiliki makna ganda dalam UU PP No.11 Tahun 1966, Bab IV
tentang hak penerbitan dan fasilitas pers, pasal 8 ayat (1) berbunyi: setiap warga
mempunyai hak penerbitan pers yang bersifat kolektif sesuai dengan hakekatnya
Demokrasi Pancasila dan Pasal 8 ayat (2) berbunyi: untuk ini tidak diperlukan
Surat Izin Terbit (SIT). Namun ketentuan ini di kaburkan dengan Bab IX tentang
peralihan pasal 20 ayat (1) a. Dalam masa peralihan keharusan mendapatkan Surat
Izin Terbit masih berlaku sampai ada keputusan pencabutannya oleh Pemerintah
atau DPR(GR).
Pasal 20 (1) b. Ketentuan-ketentuan mengenai Surat Izin Terbit dalam masa
peralihan diatur oleh pemerintah bersama-sama dengan Dewan Pers. selama
berlakunya UU PP No.11 Tahun 1966, selain peraturan mengenai SIT peraturan
lain yang digunakan untuk membredel pers adalah Surat Izin Cetak (SIC) yang
dikeluarkan oleh Pelaksana Khusus (Laksus) Komando Operasi Pemulihan
Keamanan dan Ketertiban Daerah (Kopkamtibda).
Ketentuan mengenai SIT dalam masa peralihan di atur dalam, peraturan
Menteri Penerangan Republik Indonesia No.03/PER/MENPEN/1969 tentang
Lembaga Surat Izin Terbit dalam masa peralihan bagi penerbitan pers yang
bersifat umum. Bab III tentang pencabutan surat izin terbit.47 Pasal 7 berbunyi:
47
Abdurrachman Surjomiharjo, op.cit, hlm. 384.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
Surat Izin Terbit dicabut akibat dari larangan terbit terhadap penerbitan pers
sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 UU PP No.11 Tahun 1966 yang dikenakan
kepada: (a). Penerbitan pers yang bertolak dari ajaran Komunisme/MarxismeLeninisme. (b). Penerbitan pers yang cenderung kepada pornografi. (c).
Penerbitan pers yang cenderung kepada sadisme dan lain-lain. (d). Penerbitan pers
yang bertentangan dengan Pancasila, seperti halnya yang bertentangan dengan
nilai-nilai agama dan moral kemanusiaan yang adil dan beradab dan keadilan
sosial yang menyangkut tanggung jawab moral terhadap keselamatan generasi
muda bangsa.
Berdasarkan Undang-Undang Pokok Pers 1966 dan Undang-Undang PP
No.21 tahun 1982 maka bentuk atau larangan penerbitan dapat dirinci sebagai
berikut:
a) Pencabutan Surat Izin Cetak.
Bentuk pembredelan dengan bantuk pencabutan SIC terhadap surat kabar
seperti harian Indonesia Raya. Dapat kita lihat dari surat Pelaksana Khusus
Panglima Komando dan Ketertiban Daerah Keamanan dan Ketertiban Daerah
Jakarta Raya dan Sekitarnya, SK No:KEP-007-PK/1/1974 tentang pencabutan izin
cetak surat kabar harian Indonesia Raya.48 dengan pertimbangan. Bahwa
dipandang perlu untuk mengambil tindakan terhadap surat kabar harian Indonesia
Raya dengan pencabutan SIC No.KEP.063.PK/1C/VIII/1973 tanggal 1 Agustus
1973 yang diberikan kepada PT.Badan penerbit “Indonesia Raya” Jln.Veteran I
No.28 Jakarta. Tindakan pencabutan Surat Izin Cetak tersebut atas pertimbangan-
48
Ibid, hlm. 396.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
pertimbangan sebagai beritkut: (a). Surat kabar harian Indonesia Raya telah
melanggar semangat dan jiwa dari ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam TAP.MPR.No.IV/MPR/1973 dan UU No.11 tahun 1966. (b). Surat kabar
harian Indonesia Raya telah memuat tulisan yang dapat merusak kewibawaan &
kepercayaan kepemimpina nasional.
b) Pencabutan Surat Izin Terbit.
Pembredelan selama berlakunya UU PP No.11 tahun 1966 dilakukan
dengan pencabutan SIC, setelah itu dilanjutkan dengan pencabutan SIT. Harian
Indonesia Raya setelah dicabut SICnya oleh Pangkopkamtibda, harian Indonesia
Raya SITnya dicabut oleh Menteri Penerangan Republik Indonesia, surat
keputusan Menteri Penerangan RI No.20/SK/DIRJEN-PG/K/1974 tentang
pencabutan Surat Izin Terbit (SIT) surat kabar harian Indonesia Raya. Bahwa
tindakan pencabutan SIT tersebut didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan
sebagai berikut: 49
(i). Surat kabar harian Indonesia Raya telah melanggar semangat dari
ketentuan-ketentuan
sebagaimana
dimaksud
dalam
ketetapan
MPR
No.IV/MPR/1973 dan Undang-Undang Pokok Pers No.11 Tahun 1966,di mana
dijelaskan bahwa mass media umumnya dan sarana pers khususnya harus menjadi
sarana pembinaan partisipasi rakyat dalam pembangunan dan sebagai saluran
pendapat rakyat yang konstruktif. (ii). Surat kabar harian Indonesia Raya telah
memuat tulisan-tulisan:
49
Ibid, hlm. 399.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
1. Pada hakekatnya menjurus ke arah usaha-usaha untuk melemahkan sendisendi kehidupan negara dan/atau ketahanan nasional. Dengan jalan mengobarkan
isu-isu seperti modal asing,korupsi, dwifungsi, kebobrokan-kebobrokan aparat
pemerintah, masalah asisten pribadi (Aspri), Kopkamtib. 2. Merusak kepercayaan
masyarakat terhadap kepemimpinan nasional. 3. Mendengungkan kepekaankepekaan tanpa memberikan pemecahan yang tepat dan positif, yang dapat
diartikan menghasut rakyat untuk bangkit bergerak untuk mengambil tindakantindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat mengakibatkan gangguan
terhadap ketertiban dan keamanan negara. 4. Menciptakan peluang untuk
mematangkan situasi yang menjurus kepada perbuatan makar.
Bahwa perbuatan harian Indonesia Raya bertentangan dan merupakan
pelanggaran terhadap fungsi dan tanggung jawab pers sebagai mana dimaksud
dalam TAP MPR No.IV/MPR/1973, UU PP No.11 Tahun 1966, Kode Etik
Jurnalistik dan Peraturan Menteri Penerangan RI No.03/1963. Bab III pasal (7d).
Bahwa tindakan pencabutan surat izin terbit terhadap penerbitan yang
bersangkutan tidak bertentangan dengan kebebasan pers, melainkan justru
menegakan kebebasan pers dalam arti sebenarnya dalam rangka tertib demokrasi
Pancasila, dimana pers yang sehat dicita-citakan oleh rakyat Indonesia telah
dirumuskan dalam konsensus nasional, TAP MPR No.IV/MPR/73, yaitu pers
yang bebas dan bertanggung jawab.
Bentuk pembredelan selama berlakunya UU PP No.11 Tahun 1966 seperti
surat izin cetak maupun surat izin terbit merupakan kontrol terhadap pers oleh
pemerintah, bahwa Menteri Penerangan memiliki wewenang yang lebih kuat,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
dimana sebuah surat izin cetak serta izin terbit dapat dicabut hanya dengan
peraturan yang tingkatannya lebih rendah dari Undang-Undang Pokok Pers yang
lebih tinggi kedudukannya menjadi tidak berarti, seperti pasal 4 sudah jelas
mengatakan bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan sensor dan
pembredelan, pasal tersebut menjadi tidak bermakna, karena masih saja terjadi
pelarangan terbit dalam bentuk pencabutan surat izin cetak dan surat izin terbit.
c) Pencabutan SIUPP.
Undang-Undang Pokok Pers No.21 Tahun 1966 tentang perubahan atas
Undang-Undang Pokok Pers No.11 Tahun 1966 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Pokok Pers No.4 Tahun 1967. Peraturan mengenai izin terbit di
hapus seperti yang tercantum dalam UU PP No.21 tahun 1982 pasal 8 ayat (2)
dihapus diganti dengan keterangan cukup jelas. Dan pasal 20 ayat (1) dihapus.
Kedua ayat yang dihapus dalam UU PP No.21 tahun 1982 peraturan mengenai
surat izin terbit yang digunakan selama berlakunya UU PP No.11 tahun 1966.
Peraturan mengenai surat izin terbit dihapus dan digantikan dengan
peraturan baru yang ditambahkan dalam Bab V tentang perusahaan pers, pasal 13
ditambah ayat (5): setiap penerbitan pers yang diselenggarakan oleh perusahaan
pers memerlukan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers selanjutnya disingkat SIUPP
yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Ketentuan-ketentuan tentang SIUPP akan
diatur oleh Pemerintah setelah mendengar pertimbangan Dewan pers.50
Peraturan mengenai SIUPP juga dikeluarkan oleh Menteri Penerangan RI
No.01/PER/MENPEN/1984. Tentang surat izin usaha penerbitan pers. Bab I
50
Undang-Undang Pokok Pers No.21 Tahun 1982.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
tentang ketentuan umum pasal 1 ayat (a) Surat izin usaha penerbitan pers
selanjutnya disingkat SIUPP adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri
Penerangan kepada perusahaan/penerbit pers untuk menyelenggarakan penerbitan
pers. Bab II tentang persyaratan umum pemberian SIUPP pasal 2 berbunyi: setiap
penerbitan pers yang diselenggarakan oleh perusahaan/ penerbitan pers harus
memiliki SIUPP yang dikeluarkan oleh Menteri Penerangan.
Bab VII tentang Sanksi, pasal 13 berbunyi SIUPP yang telah diberikan
kepada perusahaan/penerbit pers dapat
dibatalkan oleh Menteri Penerangan
setelah mendengar Dewan Pers apabila: (a). Perusahaan/penerbitan pers
melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana tersebut dalam bab IV tentang
permodalan dan pemilikan persuahaan/penerbitan pers. (b). Perusahaan pers
melakukan tindakan-tindakan yang tanpa persetujuan Menteri Penerangan
menyalahi ketentuan-ketentuan adsministratif sebagaimana ditetapkan oleh
Menteri Penerangan.
Pembredelan yang dilakukan oleh Menteri Penerangan dapat diambil
contoh dari pencabutan SIUPP majalah mingguan Tempo (Surat Keputusan
Menteri Penerangan RI No.123/KEP/MENPEN/1994,Tgl.21 Juni 1994). Adapun
salah satu yang menjadi pertimbangan pencabutan majalah Tempo ialah seperti
yang tercantum dalam bagian (f) bahwa penilaian terhadap isi penerbitan Tempo
selama ini ada beberapa kasus pemberitaan Tempo yang menunjukan itikad tidak
sejalan dengan pengarahan Dewan harian Dewan Pers tgl.13 Mei 1982 yang telah
diketahui dan ditandatangani oleh Direktur Utama PT.Grafiti Pers dan Pemimpin
Redaksi Tempo. (g). Berdasarkan kenyataan sebagaimana tersebut di atas,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
pemuatan isi beberapa penerbitan Tempo tidak lagi mencerminkan kehidupan pers
yang bebas dan bertanggung jawab, sehingga sesuai dengan pasal 33 huruf (h)
Peraturan Menteri Penerangan No.01/PER/MENPEN/1984 dapat dikenakan
sanksi pembatalan SIUPP.
Pasal 33 huruf (h) berbunyi: menurut penilaian dimana Dewan Pers
sebagaimana dimaksud, perusahaan/penerbitan pers dan penerbitan pers yang
bersangkutan dalam penyelenggarakan penerbitannya tidak lagi mencerminkan
kehidupan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab. Inilah pasal
yang digunakan oleh Menteri Penerangan dalam mencabut SIUPP, seperti yang
dijelaskan bahwa SIUPP merupakan bentuk lain dari pembredelan setelah
dihapuskannya SIT dalam UU PP No.21 tahun 1982. Digantikannya SIT dengan
SIUPP merupakan peraturan yang penuh dengan keritik, sebab SIUPP tidak dapat
digunakan untuk membredel pers, sebab fungsi antara SIT dan SIUPP sangat
berbeda.
Memperjelas kedudukan antara izin terbit dan izin usaha penerbitan pers
Oemar Seno Adji mengatakan, SIT dalam sistematika dan kategori hukum pers,
termasuk Code of Publication. sedangkan SIUPP, masuk dalam kategori Code of
Enterprise. Artinya, SIT mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan
pernyataan pendapat, melalui pers. SIUPP banyak mengatur faktor ekonomis,
yang tidak boleh berhubungan dengan kebebasan menyatakan pendapat melalui
pers. SIUPP lebih merupakan perizinan berdirinya sebuah perusahaan pers.
SIUPP banyak berkaitan dengan hukum dagang, perdata, perpajakan, dan
perburuha. Jadi ia tidak langsung berhubungan dengan hal-hal yang fundamental,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
seperti kebebasan berekspresi melalui pers, yang digolongkan dalam Code of
Publication. 51
SIUPP digunakan untuk membredel pers merupakan hal yang rancu,
sebab SIUPP mengatur masalah bagaimana perusahan pers itu supaya berdiri. Jika
syarat-syarat berdirinya perusahaan pers belum terpenuhi, misalnya modal, maka
SIUPP dapat dibatalkan untuk diberikan. Bukan dibatalkan karena masalah isi
beritanya. Ini menunjukan kekacauan setelah SIT dihapus dan diganti dengan
SIUPP diperkuat dengan peraturan Menteri Penerangan.
Ketika kita melihat ketentuan yang tercantum dalam UU PP No.21 tahun
1982 dengan Peraturan Menteri Penerangan, yang lebih digunakan untuk alasan
dalam membredel pers ialah peraturan Menteri Penerangan. Fakta yang terdapat
dalam surat keputusan pencabutan majalah Tempo
karena pertimbangan isi
majalah tersebut dianggap dapat menganggu kestabilan nasional. Serta yang
melakukan pembredelan adalah Menteri Penerangan, padahal yang berwenang
mencabut SIUPP adalah pemerintah sebab pemerintahlah yang mengeluarkan
SIUPP seperti yang tercantum dalam pasal 13 ayat 5.
6. Bahasa Jurnalistik Indonesia
Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa
jurnalistik. Bahasa pers ialah salah satu ragam bahasa. Bahasa Jurnalistik
memiliki sifat-sifat khas yaitu: singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan
51
Tempo, 11 April 1987.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
menarik. Akan tetapi, jangan dilupakan, bahasa jurnalistik harus didasarkan pada
bahasa Indonesia baku.52
Wojowarsito menjelaskan : bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi
massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi
yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka
dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang
melek huruf dapat menikmati isinya.
Menurut Yus Badudu: bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana,
jelas, lungas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh pemakaian
bahasa dalam surat kabar mengingat bahwa surat kabar dibaca oleh lapisanlapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.53
Karya Latihan Wartawan (IKLW) XVII PWI pusat yang diselenggarakan
atas kerja sama dengan Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YLTKI) dan Friedrich
Stiftung (FES) di Jakarta tanggal 6-10 November 1975 bertema “ Bahasa
Jurnalistik dan Pewartaan” menyetujui sebuah pedoman pemakaian bahasa
Indonesia dalam pers. Pedoman pemakaian bahasa Indonesia dalam pers sebagai
berikut: 54
1.
Wartawan hendaknya secara konsekuen melaksanakan pedoman ejaan
bahasa Indonesia yang disempurnakan. Hal ini juga harus diperhatikan
oleh para korektor oleh karena kesalahan paling menonjol dalam
penerbitan pers sekarang. Ini ialah kesalahan ejaan.
52
Rosihan Anwar, 2004, Bahasa Jurnalistik dan Komposisi, Yogyakarta, Media Abadi, hlm. 3.
Ibid, hlm. 4.
54
Ibid, hlm. 140.
53
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
2.
Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan atau akronim.
Kalaupun harus menulis akronim, maka satu kali dia harus
menjelaskan dalam dalam tanda kurung kepanjangan akronim tersebut
supaya tulisannya dapat dipahami oleh khalayak ramai.
3.
Wartawan hendaknya jangan menghilangkan imbuhan, bentuk awalan
atau prefix. Pemenggalan kata awal m-e dapat dilakukan dalam kepala
berita mengingat keterbatasan ruangan. Akan tetapi pemenggalan
jangan sampai disamaratakan sehingga mempengaruhi pula dalam isi
berita.
4.
Wartawan hendaknya menulis dengan kalimat-kalimat pendek
pengutaraan pikirannya harus logis, teratur, lengkap dengan kata
pokok, sebutan dan kata tujuan (subyek, predikat, obyek).Menulis
dengan induk kalimat dan anak kalimat yang mengandung banyak
kata mudah membuat kalimat tidak dipahami. Lagipula prinsip yang
harus dipegang ialah “satu gagasan atau satu ide dalam satu kalimat.”
5.
Wartawan hendaknya menjatuhkan diri dari ungkapan klise atau
stereotype yang sering dipakai dalam transisi berita seperti kata-kata
“sementara itu”, “dapat ditambahkan”, “perlu diketahui”, “dalam
rangka”,
“selanjutnya”.
Dengan
demikian
dia
menghilangkan
monotomi (keadaan atau bunyi yang selalu sama saja), dan sekaligus
dia menerapkan ekonomi kata atau penghematan dalam bahasa.
6.
Wartawan hendaknya menghilangkan kata mubazir seperti: adalah,
telah, untuk, dari, bahwa dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
7.
Wartawan hendaknya mendisiplinkan
pikirannya supaya jangan
campur-aduk dalam satu kalimat bentuk pasif (di) dengan bentuk aktif
(me). Sebab kalimat aktif terasa lebih hidup dan kuat dari kalimat
pasif.
8.
Wartawan hendaknya menghindari kata-kata asing dan istilah-istilah
yang terlalu teknis ilmiah dalam berita. Kalaupun terpaksa
menggunakannya, maka satu kali harus dijelaskan pengertian atau
maksud.
9.
Wartawan hendaknya sedapat mungkin mentaati kaidah tata bahasa.
10. Wartawan hendaknya ingat bahasa jurnalistik ialah bahasa yang
komunikatif dan spesifik sifatnya, dan karangan yang baik dinilai dari
tiga aspek yaitu: isi, bahasa dan teknik persembahan.
G. Metodologi Penelitian
Penelitian sejarah pada dasarnya memiliki tahapan yaitu:
(1) Pemilihan Topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi, (4)
interpretasi, (5) penulisan.55
1. Pemilihan Topik
Pemilihan topik merupakan langkah pertama dalam penelitian sejarah.
Topik penelitian ini adalah “Pembredelan Pers Masa Orde Baru (1966-1998).
Sikap pemerintah terhadap kebebasan pers di masa Orde Baru menarik untuk
dibahas. Sikap pemerintah semakin berubah ketika pers semakin kritis dalam
55
Kuntowijoyo, 2005, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta, Bentang Pustaka, hlm. 69.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil terhadap
masyarakat.
Topik yang telah dipilih ini memberikan daya tarik tentang kehidupan pers
masa Orde Baru yang semula menjanjikan kebebasan pers, tetapi nyatanya pers
hanya sebagai alat pemerintah untuk memperkuat konsolidasi kekuasaan Orde
Baru, setelah pemerintahan Orde Baru sudah cukup kuat, pemerintah mulai
melakukan tindakan represi terhadap pers. Kebebasan pers masa Orde Baru
semakin sulit, namun setelah berakhirnya Orde Baru kebebasan pers mulai
tumbuh kembali di era reformasi.
2. Pengumpulan Sumber
Setelah pemilihan topik dilakukan, tahap berikutnya adalah pengumpulan
sumber (heuristik). Pengumpulan sumber harus relevan dan sesuai berdasarkan
dengan topik yang akan ditulis. Ada beragam jenis sumber yaitu sumber tertulis,
sumber lisan, benda tinggalan dan sumber kuantitatif56. Pada penelitian ini penulis
menggunakan sumber yang berupa buku, jurnal, surat kabar dan majalah. Karena
sumber yang dicari sangat terbatas di perpustakaan Sanata Dharma, penulis juga
mencari sumber-sumber primer di perpustakaan dan museum lain yang terkait.
Namun penulis sangat mengalami kesulitan dalam mendapatkan sumber
primer berupa surat kabar dan majalah yang terkait dengan topik. Oleh sebab itu
sumber primer berupa surat kabar hanya beberapa saja yang menjadi bahan
penulisan skripsi ini. Lebih banyak menggunakan sumber sekunder berupa buku
untuk lebih memperlengkap sumber primer yang sangat terbatas jumlahnya.
56
Suhartono W. Pranoto, 2010, Teori dan Metodologi Sejarah. Yogyakarta, Graha Ilmu,hlm. 30.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
3. Kritik Sumber (Verifikasi)
Kritik sumber sejarah adalah upaya untuk mendapatkan otentisitas dan
kredibilitas sumber. Yang dimaksud dengan kritik adalah kerja intelektual dan
rasional yang mengikuti metodologi sejarah untuk mendapatkan objektivitas suatu
kejadian.57 Umumnya kritik sumber dilakukan terhadap sumber-sumber pertama.
Kritik ini meliputi verifikasi sumber, yaitu pengujian mengenai kebenaran atau
ketepatan (akurasi) dari sumber itu. Dalam metode sejarah ada dua jenis kritik
sumber, yaitu kritik eksternal (otentisitas dan integritas) dan kritik internal.
Kritik eksternal adalah kritik yang dilakukan untuk mengetahui keaslian
sumber, kritik eksternal bertujuan untuk mengetahui ontetik tidaknya sumber yang
kita miliki, serta harus menggunakan analisa sumber untuk mengetahui apakah
suatu sumber itu asli ataukah turunan. Sumber asli sudah barang tentu lebih tinggi
mutunya dari pada sumber turunan. Kritik ekstern digunakan untuk mengetahui
utuh tidaknya sumber-sumber, harus diatasi dengan kritik isi sumber. Kecuali
untuk mengetahui perubahan-perubahan apa yang dibuat di dalam teks dalam
usahanya menyalinnya, kritik teks juga bertugas mengetahui bagaimana
sesungguhnya isi sumber asli. Asli dalam arti kata yang sesungguhnya dari tangan
pengarang dokumen.58 Kritik Internal mulai bekerja setelah kritik ekstern selesai
menentukan, bahwa dokumen yang kita hadapi memang dokumen yang kita cari.
Kritik intern harus membuktikan, bahwa kesaksian yang diberikan oleh suatu
sumber itu memang dapat dipercaya. Pertama, buktinya diperoleh dengan
penilaian intrinsik, dimulai dengan menentukan sifat dari sumber-sumber itu.
57
Ibid, hlm. 35.
Nugroho Notosusanto, 1978, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer, Jakarta, Yayasan
Indayu, hlm. 38.
58
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
Kedua, menilai sesuatu sumber secara intrinsik, adalah dengan jalan menyoroti
pengarang dari sumber itu. Ketiga, membanding-bandingkan kesaksian berbagai
sumber dan dilakukan dengan menjejerkan kesaksian, dari saksi-saksi yang tidak
berhubungan satu sama lain.59
4. Interpretasi
Interpretasi data juga sering disebut penafsiran data. Data yang telah
diperoleh dari sumber kemudian diinterpretasi. Interpretasi data harus berdasarkan
argumen yang memiliki landasan data yang relevan. Terdapat dua macam
interpretasi yaitu analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan). Fakta-fakta
yang telah diperoleh melalui sumber kemudian diinterpretasi menjadi rangkaian
peristiwa yang dapat diuji kebenarannya. Dengan demikian interpretasi data
tersebut menjadi kuat karena berdasarkan data yang relevan.
Pendekatan politik, ekonomi dan sosial dipakai dalam memahami
Pembredelan Pers di Masa Orde Baru. Pendekatan politik dipilih karena tujuan
pemerintah mengendalikan pers adalah untuk menjaga kestabilan politik,
pengendalian terhadap pers dengan tindakan pembredelan memberikan dampak
kerugian ekonomi dalam industri pers, serta dampak dalam kehidupan sosial
masyarakat jika pemberitaan pers tidak lagi sebagai peyambung lidah rakyat lalu
bagaimana cara masyarakat menyampaikan aspirasinya terhadap penguasa.
5. Penulisan sejarah (Historiografi)
Penulisan sejarah memiliki tiga bagian penting yang harus diperhatikan
yaitu pengantar, hasil penelitian dan kesimpulan. Dalam pengantar menjelaskan
59
Ibid, hlm. 39.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
latar belakang topik yang diteliti, kemudian dalam hasil penelitian akan di
jelaskan hasil penelitian yang diperoleh penulis dan kesimpulan yaitu melakukan
generalisasi dari bab-bab sebelumnya.
H. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi yang berjudul “Pembredelan Pers di Masa Orde Baru
(1966-1998)” mempunyai sistematika penulisan sebagai berikut.
Bab I Berupa pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, permasalahan,
tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan pustaka, landasan teori, metodologi
penelitian dan pendekatan, serta sistematika penulisan.
Bab II Bab ini menyajikan uraian tentang latar belakang pembredelan pers di
Masa Orde Baru
Bab III Bab ini menyajikan uraian tentang bentuk dan alasan pembredelan pers
dilakukan oleh pemerintah Orde Baru
Bab IV Bab ini menyajikan uraian tentang dampak dari pembredelan pers bagi
perkembangan pers di Indonesia pasca Orde Baru.
Bab V Bab ini menyajikan kesimpulan yang berisi tentang jawaban-jawaban
permasalahan yang ada dalam Bab II, III, dan IV
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II
LATAR BELAKANG PEMBREDELAN PERS DI MASA ORDE
BARU
A.
Lahirnya Orde Baru
Pasca peristiwa September 1965, situasi politik menjadi tidak stabil sehingga
kekuatan pemerintah Orde Lama semakin melemah. Keadaan politik tersebut
mengakibatkan perpecahan antara Presiden Soekarno dan Angkatan Darat. Situasi
ketidakstabilan
politik
dikarenakan
perubahan
keanggotaan
kabinet
yang
diumumkan Presiden Soekarno untuk mempertahankan kembali kekuasaanya di
Indonesia. Tindakan Presiden Soekarno yang mengakibatkan hubungannya dengan
kalangan
tentara
khususnya
Angkatan
Darat
menjadi
berubah
karena
memberhentikan Nasution dan beberapa menteri yang pro Angkatan Darat.60
Sikap Presiden Soekarno mengubah kabinet barunya mendapat kritik dari
pihak Angkatan Darat, karena dianggap menteri-menteri yang dipilih hanya orangorang pro-Soekarno, seperti Soebandrio karena Presiden Soekarno menolak namanama yang diusulkan oleh Jenderal Soeharto untuk dikeluarkan dari kabinet.61
Setelah di tolak usulan Jenderal Soeharto, Angkatan Darat menggunakan strategi
dukungan terhadap aksi demonstrasi mahasiswa yang terjadi pasca diumumkan
perubahan kabinet baru Presiden Soekarno.
Demonstrasi yang sering terjadi di Ibukota Jakarta dipelopori oleh beberapa
organisasi mahasiswa seperti KAMI (kesatuan aksi mahasiswa Indonesia dan
60
61
Harold Crouch, 1999, Militer & Politik di Indonesia, Jakarta, Surya Usaha Ningtias, hlm. 200.
Ibid, hlm. 206.
46
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
KAPPI (kesatuan aksi mahasiswa dan pemuda Indonesia). KAMI mulai melakukan
demonstrasi kembali pada saat pelantikan kabinet yang dirombak tanggal 24
Februari 1966. Aksi demonstrasi mahasiswa mengakibatkan Presiden Soekarno
melantik kabinet barunya dalam keadaan marah, karena slogan KAMI menuduh
Presiden Soekarno mengangkat kabinet Gestapu atau kabinet komunis.62
Aksi demonstrasi mahasiswa kembali berlanjut ketika sidang kabinet pada
tanggal 11 Maret 1966, keadaan di luar istana sangat mencekam oleh beberapa
pasukan yang tidak dikenal yang mengakibatkan Presiden Soekarno langsung
meninggalkan sidang kabinet. Melihat situasi politik yang semakin tidak stabil dan
aksi demonstrasi semakin meningkat, Presiden Soekarno memutuskan untuk
menandatangani “Surat Perintah 11 Maret”, berisikan Presiden “memerintahkan”
Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggapnya perlu demi
menjamin keamaan, ketenangan, stabilitas pemerintahan dan revolusi, serta juga
menjamin keselamatan pribadi serta kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/
Pemimpin Besar Revolusi/ Mandataris MPRS demi kesatuan Republik Indonesia
dan untuk meneruskan segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi”. Mayor Jenderal
Soeharto tidak menyia-nyiakan waktu untuk menggunakan kekuasaan yang baru
diterimanya. Pada tanggal 12 Maret 1966 Jenderal Soeharto mengeluarkan perintah
harian ditujukan kepada seluruh jajaran angkatan bersenjata dan rakyat Indonesia.
Ia mengumumkan bahwa perintah Presiden Soekarno kepadanya kemarin telah
menunjukan bahwa “suara hati nurani rakyat sungguh-sungguh telah dilihat,
didengar oleh Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Soekarno yang amat kita cintai,
62
Ibid, hlm. 203.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
juga membuktikan kecintaan Pemimpin Besar Revolusi kepada kita sekalian.63 Pada
hari yang sama Jenderal Soeharto mengeluarkan perintah pertama sebagai
“pemegang Surat Perintah 11 Maret”, atas nama Presiden Soekarno, ia
memerintahkan pembubaran PKI dengan segala organisasinya di seluruh tanah air,
dan tetap harus berpegang teguh kepada Panca Azimat Revolusi Indonesia. Jenderal
Soeharto dan Angkatan Darat mulai memegang kendali pemerintahan secara
perlahan.
Selama bebarapa bulan sesudah 11 Maret suasana politik di Jakarta
mengalami perubahan derastis. Pemerintahan yang didominasi oleh Angkatan Darat
itu melakukan kebijakan yang bertentangan dengan kebijakan-kebijakan pokok
Presiden Soekarno dalam bidang ekonomi dan politik luar negeri, seiring
meningkatnya kegiatan yang penuh semangat dari para pemuda yang bergabung
dalam kesatuan-kesatuan aksi yang telah bangkit melawan Presiden Soekarno, dan
menyatakan lahirnya Orde Baru dengan di keluarkannya surat perintah 11 Maret
1966 untuk menggantikan Orde Lama.
B. Sikap Pemerintah Orde Baru terhadap Pers
Pada periode awal Orde Baru, persepsi sikap dan perlakuan penguasa
terhadap pers, terutama pers non/anti komunis, telah berubah secara berarti.
Pemerintah Orde Baru memandang dan memperlakukan pers non/komunis sebagai
Partner of power-nya untuk “mengganyang” PKI dan simpatisan-simpatisan, serta
sebagai alat konsolidasi kekuasaan Presiden Soekarno. Pers menjadi alat
konsolidasi untuk membangun pemerintahan Orde Baru secara penuh, setelah
63
Ibid, hlm. 212.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
runtuhnya rezim Orde Lama setelah pemerintahan Orde Baru berdiri secara kokoh,
maka sikap pemerintah terhadap pers mulai berubah secara perlahan, karena sikap
kritis pers semakin tumbuh dan pemerintah merasa pemberitaan surat kabar mulai
dapat mengancam keamanan dan kestabilan politik.
Awal Orde Baru pers khususnya surat kabar, sempat menghirup angin segar
dengan terbitnya. Beberapa surat kabar yang pernah dibredel pada masa Orde Lama
dan diperbolehkan terbit kembali seperti harian Nusantara (Maret 1967), Indonesia
Raya (Oktober 1968), Pedoman (Novomber 1968) dan Abadi (Desember 1968).
Sejak pertengahan 1966 peta ideologi pers berada dalam keadaan seimbang
(balance), artinya tidak ada kelompok pers khususnya surat kabar yang
mendominasi penciptaan opini publik dan politik. Untuk mendapat gambaran yang
lebih jelas tentang peta ideologi politik dikutip dari
sebuah pemetaan yang
dilakukan Agasi sebagai berikut: 64
1. Pers Militer, yaitu harian Angkatan Bersenjata, Berita Yudha, Ampera,
Api Pancasila, Pelopor Baru dan Warta Harian. Empat surat kabar ini
adalah surat kabar yang punya hubungan khusus dengan militer, namun
satu sama lain tidak selalu satu pendapat tentang hal-hal tertentu dan
tidak jarang saling bertentangan. Hal ini merupakan refleksi dari belum
terintegrasinya pandangan dan sikap militer dalam menghadapi beberapa
peristiwa politik tertentu.
2. Pers Nasionalis (pers PNI), yaitu Suluh Marhaen dan El-Bahar. Pers ini
bukan pers yang beraliansi dengan PNI tetapi lebih kepada hubungan
baik dengan kelompok pers kiri partai tersebut, serta selalu mendukung
dan mengekspresikan pandangan-pandangan Soekarno, walaupun terbit
di zaman Orde Baru.
3. Pers kelompok intelektual, yaitu harian KAMI,Mahasiswa Indonesia
Nusantara, Indonesia Raya dan Pedoman.
4. Pers kelompok Muslim, yaitu Duta Masyarakat, Angkatan Baru, Suara
Islam, Mercusuar dan Abadi.
5. Pers kelompok Kristiani, yaitu harian Kompas (Katolik) dan Sinar
Harapan (Kristen Protestan).
64
Akhmad Zaini Abar, op.cit, hlm. 56.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
6. Pers kelompok Independen, yaitu harian Merdeka, Jakarta Times serta
Revolusioner.
Peta di atas berdasarkan dengan ekspresi kultural (nilai-nilai, aliran atau
ideologi) yang ditampilkan dalam pemberitaan dan editorialnya. Seperti pers militer
adalah pers yang mengekspresikan pandangan ideologis kelompok militer, yang
walaupun tidak selalu sama, namun sejumlah persoalan politik krusial selalu
terdapat kesamaan pandangan, seperti dalam soal stabilitas, ketertiban politik
nasional, ideologi negara, kepentingan nasional, dan lain-lain. Sedangkan pers
nasionalis adalah pers yang mengekspresikan pandangan ideologi kaum radikal dan
Soekarnois. Pers kelompok intelektual biasanya di hubungkan dengan ekspresi
ideologis kaum intelektual di dalam dan luar kampus yang menginginkan perubahan
atau pembaharuan politik nasional. Pers Muslim adalah pers yang mengekspresikan
pandangan ideologi kaum muslimin pada umumnya. Pers kelompok Kristiani
adalah pers yang mengekspresikan pandangan ideologis umat baik Katolik maupun
Kristen Protestan. Sedangkan pers kelompok independen adalah pers yang tidak
mengekspresikan pandangan ideologis manapun dalam masyarakat.
Kebebasan pers pada awal Orde Baru sempat dirasakan insan pers,
khususnya surat kabar, hal ini terlihat dari pemerintah yang memberikan ruang bagi
pers untuk bekerjasama dalam membangun pemerintahan Orde Baru secara penuh.
Surat kabar berperan penting dalam konsolidasi kekuasaan Orde Baru, hal ini
terlihat dari surat kabar yang menyuarakan anti PKI setelah peristiwa September
1965 dan usaha tersebut mendapat dukungan dari pemerintah, oleh sebab itu sering
dikatakan bahwa pers adalah unsur penting lahirnya Orde Baru. Kebebasan pers
pada masa Orde Baru tidak berlangsung lama, setelah Orde Baru mendapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
dukungan secara penuh dengan Jendral Soeharto diangkat sebagai Presiden secara
resmi bulan Maret 1968, ketika Sidang Umum MPRS V mengangkatnya sebagai
Presiden Republik Indonesia yang kedua. 65
Semboyan pemerintah terhadap pers dimasa Orde Lama adalah pers
terpimpin, maka semboyan pemerintah bagi pers dimasa Orde Baru ialah “pers
bebas dan bertanggung jawab”. Era Orde Baru pers boleh bebas membemberitakan
isu-isu terkini, tetapi harus bertanggung jawab. Bebas dalam pengertian ini
bukanlah makna yang sebenarnya, ini terlihat dari sikap pemerintah terhadap pers
yang mulai kritis, bayang-bayang bredel di masa Orde Baru semakin menghantui
mereka setiap saat ketika mereka memberitakan isu-isu terkini, apakah hal tersebut
bisa dikatakan kebebasan pers. Seperti yang dikatakan Mochtar Lubis bahwa
hubungan baik pemerintah terhadap pers bulan madu yang singkat66.
“Media massa memperlihatkan kesegaran bersikap dan berpikir, serta
keberanian untuk berterus terang. Kemunafikan yang selama ini amat
menonjol di bawah rezim Soekarno seakan telah dihilangkan. Alangkah
segarnya membaca kembali media massa Indonesia selama beberapa tahun
pertama Orde Baru. Akan tetapi “bulan madu” hanya berlangsung
beberapa tahun saja, penguasa bertambah peka terhadap kritik-kritik dalam
pemberitaan media massa. Dikalangan penguasa semakin banyak
diperlihatkan sikap kurang senang dengan terus terangnya kritik-kritik
yang diberitakan media massa khususnya surat kabar dan majalah.”
Setelah PKI dan rezim Demokrasi Terpimpin berakhir, sikap dan perlakuan
penguasa Orde Baru terhadap pers mulai berubah. Hal ini terutama disebabkan
kekuasaan Orde Baru semakin bertambah kuat dan besar setelah rezim Presiden
Soekarno tumbang, tidak ada lagi penghalang atau pun lawan politik Angkatan
Darat atau ABRI pada umumnya untuk memperkuat kekuasaanya. Sejak tahun
65
Harold Crouch, op.cit, hlm. 244.
Mochtar Lubis, 1978, Etos Pers Indonesia” Prisma, No.11, LP3ES, hlm. 35.
66
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
1966, pers Indonesia mulai lebih kritis terhadap kekuasaan Orde Baru, terutama
ditujukan pada fenomena korupsi dalam birokrasi negara Orde Baru.67
Sorotan surat kabar terhadap korupsi semakin sering mewarnai isi berita
dalam surat kabar harian yang sangat dikenal kritis terhadap perkembangan isu
terkini pemerintahan. Sikap pemerintah yang mulai berubah mengakibatkan
pemerintah semakin berhati-hati terhadap pers dan mulai melakukan tindakan yang
bisa dikategorikan sebagai tindakan anti pers, seperti imbauan atau peringatan agar
pers lebih bertenggang rasa dalam melakukan kritiknya terhadap penguasa. Selain
itu juga penguasa melakukan intropeksi diri sebagai reaksi positif dari kritik yang
dilontarkan terhadap dirinya.68
Sementara itu pemerintah yang menghadapi suasana pers yang kritis terus
berkembang tampak merisaukan pemerintah, karena pers sempat diberikan
kebebasan dalam memberitakan isu-isu politik, tetapi sikap pers yang kritis tidak
lagi bisa dibiarkan oleh pemerintah, kebebasan atau keterbukaan ruang bagi pers
dalam memberitakan isu-isu politik, membuat pemerintah menjadi khawatir dapat
membahayakan kestabilan politik yang masih diperlukan untuk melaksanakan
pembangunan Orde Baru.69 Sikap pemerintah yang memperlakukan pers terkadang
sangat sulit untuk mencari perubahan secara fundamental, tetapi perubahan sikap
pemerintah dalam memperlakukan pers dapat kita lihat seiring dengan dinamika
politik yang sedang berkembang.
67
Akhmad Zaini Abar, op.cit, hal. 69.
Ibid, hlm.68.
69
Alfian, 1991, Komunikasi Politik dan Sistem Politik di Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka
Utama, hlm. 65.
68
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
Menghadapi sikap pers yang kritis mulai bangkit kembali, pemerintah tidak
langsung melakukan tindakan anti pers, hal ini masih ditanggapi secara toleransi
oleh pemerintah masih bermanfaat untuk mengintropeksi diri sesuai dengan harapan
masyarakat70.
Pada periode awal pemerintahan Orde Baru tindakan anti pers yang
dilakukan oleh pemerintah masih dianggap dalam batas-batas yang bisa ditoleransi.
Misalnya saja, sebagian besar beberapa surat kabar yang dibredel dimasa Orde Baru
adalah dengan alasan pornografi. Begitu pula, beberapa kasus pelanggaran yang
dilakukan pers telah diselsaikan lewat jalur hukum dan pengadilan bukan
diselesaikan secara politis lewat pembredelan. Sebagai contoh, harian Nusantara
yang dituduh “menghina pemerintah Republik Indonesia dan Presiden Soeharto”,
kemudian penanggung jawab redaksionalnya diajukan ke pengadilan, sedangkan
hariannya tetap boleh terbit. Pada periode tersebut penguasa Orde Baru cenderung
menahan diri untuk melakukan tindakan anti pers. Bahkan pemerintah masih tetap
memberikan suasana kondusif bagai kebebasan pers.
Pada mulanya pers dianggap pemerintah Orde Baru sebagai partner dan
masih memberikan ruang yang bebas tapi pemerintah tidak lagi bisa menahan diri
untuk melakukan tindakan anti pers yang lebih keras terhadap surat kabar yang
sangat kritis terhadap segala isu-isu terkait dengan rezim Orde Baru, pers yang
begitu bebas menurut pemerintah dapat mengakibatkan terganggunya kestabilan
politik. Sikap kritis pers inilah yang dianggap pemerintah harus dibatasi agar tidak
menggangu kestabilan politik akibat pemberitaan yang kritis.
70
Akhmad Zaini Abar, op.cit, hlm. 70.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
54
Peristiwa 15 Januari 1974 menjadi titik tolak rezim orde baru melakukan
politik represif terhadap pers seperti yang dikatakan oleh Rizal Mallarangeng dalam
program Melawan Lupa Metrotv71 :
“Pada tanggal 15 Januari 1974 pemerintah Orde Baru dikejutkan dengan
demonstrasi mahasiswa berujung kerusuhan massa. Para mahasiswa
menganggap kebijakan pemerintah telah menyimpang, kebijakan pemerintah
tidak ditujukan untuk mensejahterakan rakyat. Peristiwa 15 Januari atau lebih
dikenal sebagai peristiwa MALARI menjadi titik tolak politik represif rezim
Orde Baru.”
Sikap pemerintah yang mulai melakukan sikap represif terhadap pers
semakin dirasakan oleh insan pers, seperti yang juga dikatakan oleh Asvi Warman
Adam dalam program Melawan Lupa bahwa peristiwa Malari menjadi tonggak
perubahan sikap pemerintah Orde Baru terhadap pers:72
“ Pasca Peristiwa tersebut beberapa surat kabar dibredel oleh pemerintah,
kondisi keamanan menurut hemat saya mulai berubah dalam arti Presiden Soeharto
benar-benar sangat waspada, didalam memilih para pembantunya atau yang sering
disebut dengan Asisten Pribadi (ASPRI) & melakukan represi yang sangat keras
terhadap mereka yang bersifat kritis terhadap pemerintah. Rezim Presiden Soeharto
juga mulai bertindak represif terhadap setiap bentuk demonstrasi dan gerakan sipil
serta terhadap para tokoh yang bersikap kritis terhadap pemerintah, politik keluarga,
aktivitas bisnis dan krabat Presiden Soeharto. Rezim Orde Baru yang nyaris tanpa
kontrol dan anti kritik ini dalam perkembangannya juga menyebabkan timbulnya
praktik korupsi, kolusi dan nepotisme akibatnya dalam bidang ekonomi
pembangunan nasional tidak merata dan gagal mensejahterakan rakyat. Gerakangerakan yang sifatnya kritis dihadapi dengan sangat keras oleh pemerintah pasca
peristiwa Malari 1974 sejak tahun tersebut, peristiwa Malari bukan hanya sekedar
kerusuhan tapi merupakan tonggak Pemerintahan Presiden Soeharto bersikap lebih
represif.”
71
Melawan Lupa, 16 Januari 2016.
Melawan lupa adalah sebuah program acara documenter di Metro Tv yang akan mengulas berbagai
peristiwa bersejarah yang turut membentuk mengenai sebuah entitas yang hari ini dikenal sebagai
Indonesia. Tayangan ini, seperti judulnya, sedikit banyak berupaya menjadi narasi tanding atas apa
yang selama ini mendifinisikan diri sebagai sejarah nasional Indonesia dengan menyajikan narasinarasi kecil di balik peristiwa-peristiwa besar yang terjadi, melawan lupa ditunjukan bagi siapa saja
yang menolak lupa atas segala hal yang pernah terjadi dalam riwayat Indonesia.
72
Idem.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
C. Kebijakan Pemerintah Orde Baru terhadap Pers
Upaya memahami pola dan gaya pers dan kebijakan pemerintah terhadap pers
pada suatu negara, banyak dilatari falsafah dan ideologi negara tersebut. langkah ini
dilaksanakan
bertolak dari anggapan bahwa falsafah mengejawantah dalam
berbagai produk perundang-undangan yang mengatur sistem sosial politik dan
kebijaksanaan informasi negara.
Selanjutnya ketentuan dalam undang-undang tersebut dijabarkan dalam
peraturan-peraturan pelaksanaan secara langsung mengatur dan mempengaruhi
budaya politik dan kehidupan pers. Demikian juga prinsip-prinsip yang terdapat
dalam undang-undang tersebut, tidak selalu mengejawantah dalam peraturanperaturan pelaksanaanya secara menyeluruh. Acapkali terjadi, ketentuan-ketentuan
yang tercantum dalam peraturan pelaksanaan atau petunjuk pelaksanaan undangundang, hanya menjadi bagian tertentu saja. Sedangkan bagian lain yang mungkin
kurang menguntungkan bagi pemegang otoritas kekuasaan, tetap dibiarkan hanya
bersifat formal dan tidak mempunyai kaitan dengan praktik kehidupan pers itu
sendiri.73
Tidak sedikit negara menyatakan diri sebagai negara demokratis, tetapi dalam
kenyataannya mempraktikkan cara berbangsa dan bermasyarakat yang justru
bertentangan dengan asas-asas demokrasi. Banyak negara mempunyai konstitusi
dan undang-undang yang memberikan perlindungan terhadap hak-hak asasi
manusia, tetapi dalam praktik pemerintahannya menerapkan tindakan otoriter,
73
St.Sularto, Humanisme dan Kebebasan Pers. op.cit, hlm. 91.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
melakukan pengekangan terhadap kebebasan berpendapat, bahkan pembrangusan
pers yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan pemegang otoritas kekuasaan.74
Keadaan semacam itulah yang terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru
atau kurun waktu tahun 1966-1998. Konstitusi memberikan perlindungan dan
jaminan kebebasan menyatakan pendapat dan kebebasan pers, tetapi dalam
kenyataan, kebebasan pers yang terwujud hanya terbatas pada hal-hal yang tidak
mendasar. Terlihat dari kebijakan pemerintah yang represif terhadap pers, semakin
membuat ruang gerak pers menjadi terbatas dan kebijakan pers tersebut
menggambarkan bahwa pers yang diterapkan oleh penguasa adalah tindakan
otoritarian. Kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap pers masa Orde Baru dapat
diuraikan sebagai berikut yang terdapat dalam UU PP No.11 tahun 1966, UU PP
No.4 tahun 1967 penambahan UU No. 1 tahun 1966, UU PP No.21 tahun 1982
perubahan atas UU PP No.11 tahun 1966, adapun beberapa kebijakan terhadap pers
yang terdapat dalam Undang-Undang pokok pers yang beberapa kali mengalami
perubahan pada masa Orde Baru tersebut dapat diuraikan di bawah ini:
1. Surat Izin Terbit (SIT)
UU Pokok Pers No.11 tahun 1966, Pasal 20 (1) a. dalam masa peralihan
keharusan mendapat Surat Izin Terbit masih berlaku sampai keputusan
pencabutannya oleh pemerintah atau DPR (GR).75 Ketentuan mengenai SIT dalam
UU Pokok Pers diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Penerangan
No.03/Per/Menpen/1969.76 Didalam peraturan ini dikemukakan secara terperinci
syarat-syarat untuk mendapatkan SIT beserta cara-caranya. Juga mengenai soal
74
Ibid, hlm. 92.
T. Atmadi, Sistem Pers Indonesia, Jakarta, Gunung Agung, hlm. 131.
76
Abdurrachman Surjomihardjo, op.cit, hlm. 186.
75
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
pencabutannya antara lain ditegaskan bahwa permohonan SIT harus disertai
“pernyataan bahwa penerbitan pers tersebut mengutamakan idiil dengan
menguraikan mission-nya dalam bentuk usaha pengabdiannya terhadap negara dan
bangsa”.
Kesanggupan yang perlu di tanda tangani sebelum mendapatkan izin tertuang
dalam sembilan belas yang perlu disetujui oleh penerbit surat kabar di tahun 1960
sebagai beriktu:
1. Kami sanggup mematuhi pedoman-pedoman yang telah dan/ atau akan
dikeluarkan/diberikan oleh penguasa perang Tertinggi dan lain-lain instansi
pemerintah yang berwenang mengenai penerbitan.
2. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela Manifesto Politik
Republik Indonesia secara keseluruhan.
3. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela program
pemerintah.
4. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela Dekrit Presiden 5
Juli 1959.
5. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela UUD 1945.
6. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela Pancasila.
7. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela Sosialisme
Indonesia.
8. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela Demokrasi
Terpimpin.
9. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela ekonomi terpimpin.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
10. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela kepribadian
nasional indonesia
11. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung dan pembela martabat negara
Republik Indonesia.
12. Penerbitan kami wajib menjadi pendukung alat untuk memberantas
imperialisme dan kolonialisme, liberalisme, federalisme dan sparatisme.
13. Penerbitan kami wajib menjadi pembela/ pendukung dan alat pelaksana dari
politik bebas dan aktif negara Republik Indonesia serta tidak menjadi
pembela/pendukung dan alat dari pada perang Dingin antara blok negara
asing.
14. Penerbitan kami wajib menjadi alat untuk memupuk kepercayaan rakyat
Indonesia terhadap Pancasila.
15. Penerbitan kami wajib menjadi alat untuk memupuk kepercayaan rakyat
Indonesia terhadap manifesto politik Republik Indonesia.
16. Penerbitan kami wajib membantu usaha penyelenggaraan ketertiban dan
keamanan umum serta ketenangan politik.
17. Penerbitan kami tidak akan memuat tulisan-tulisan, lukisan-lukisan atau
gambar-gambar yang bersifat sensasional dan merugikan akhlak.
18. Penerbitan kami tidak akan memuat tulisan-tulisan, lukisan-lukisan atau
gambar-gambara yang mengandung penghinaan terhadap kepala negara atau
kepala pemerintahan dari negara asing yang bersahabat dengan Republik
Indonesia.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
19. Penerbitan kami akan memuat tulisan-tulisan, lukisan-lukisan atau gambargambar yang mengandung pembelaan terhadap organisasi yang dibubarkan
atau dilarang berdasarkan penetapan Presiden No. 7 tahun 1959 dan
Peraturan Presiden No. 13 tahun 1960.
Juga harus disertai dalam permohonan itu, susunan pengasuh penerbitan pers
yaitu: pimpinan umum, pimpinan perusahaan dan pimpinan redaksi, dilengkapi
dengan riwayat hidup masing-masing dan riwayat hidup ini harus telah disahkan
oleh Komando Daerah Angkatan Kepolisian bagian Intel, beserta clearance dari
pihak berwenang, yang menyatakan “tidak berindikasi tersangkut Gestapu/PKI atau
aksi-aksi kontra revolusi lainnya dan tidak melakukan tindak pidana yang dapat
dijatuhi hukuman tambahan sebagaimana tersebut dalam pasal 33 KUHP”.
Beberapa ketentuan lain yang juga harus dipenuhi yaitu: mendapat
rekomendasi tertulis dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) baik daerah maupun
pusat mengenai bidang kewartawanannya, rekomendasi tertulis dari Serikat
Penerbitan Surat kabar (SPS) daerah dan pusat mengenai bidang perusahaannya,
pernyataan tertulis dari percetakan tentang kesanggupannya mencetak surat kabar
harian atau penerbitan berkala yang bersangkutan, dengan mengemukakan kapasitas
cetaknya.77
Mengenai SIT dalam UU Pokok Pers No.11 tahun 1966 ada ketentuan yang
semu yaitu ketentuan pasal (8) untuk ini tidak diperlukan izin terbit, ketentuan
tersebut dikaburkan dengan pasal 20 (1) a. seperti yang telah dijelaskan di atas
bahwa pada masa peralihan SIT diperlukan. Sampai masa Orde Baru hampir
77
Ibid, hlm. 187.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
berakhir keputusan pencabutan pasa 20 UU Pokok Pers itu belum pernah dilakukan.
Berarti pemerintah masih mengkategorikan masa Orde Baru membutuhkan masa
transisi yang cukup lama sebagai masa peralihan. Menanggapi suara-suara dari
kalangan pers agar SIT dicabut, Menteri Sekretaris Negara saat itu Sudharmono,
yang juga merangkap sebagai Menteri Penerangan, hanya mengatakan (8 November
1977) bahwa soal SIT sudah diatur dalam undang-undang . Menpen Sudarmono
berkata: 78
“Mengubah undang-undang itu tidak mudah, dan pemerintah tetap bermaksud
menjalankan undang-undang yang ada dengan sebaik-baiknya.sikap
pemerintah adalah akan mendengar dan menampung suara atau usul mengenai
SIT.”
Lembaga SIT masih tetap dipertahankan “dalam masa peralihan” (pasal 20
UU Pokok Pers 1966) dan ada kemungkinan mencabut izin itu, lagi pula dalam
praktiknya juga terjadi persbredel dan izin terbit dimungkinkan berlakukanya dalam
keadaan yang dianggap darurat. SIT adalah sebagai kebijakan pemerintah terhadap
pers sebagai alat kontrol politik dan besar wewenang penguasa untuk membredel
pers yang dianggap salah satu ciri khas yang menonjol, dan dasar dari wewenang itu
selalu untuk menjaga ketertiban umum.
2. Surat Izin Cetak (SIC)
Pasca peritiwa September 1965 berlaku pula Surat Izin Cetak (SIC), yang
dikeluarkan oleh Pelaksana Khusus (Laksus) Komando Operasi Pemulihan
Keamanan dan Ketertiban Daerah (Kopkamtibda). Namun SIC ditiadakan sejak 3
Mei 1977. Peniadaan SIC ini dengan pertimbangan, keterangan pers Kepala Staf
78
Akhmad Zaini Abar, op.cit, hlm. 56.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
Kopkamtib Laksamana Sudomo, 4 Mei 1977).: “karena telah semakin mantapnya
stabilitas keamanan nasional, semakin meningkatkannya sikap tanggung jawab dan
kesadaran nasional pers Indonesia. Lagi pula secara fungsional pers nasional dibina
oleh Menteri Penerangan”.79 Dengan adanya SIC itu, Laksusda berhak penuh
melakukan pemanggilan kepada wartawan yang dinilai melakukan kesalahan atau
yang dianggap perlu dimintai keterangan. Nomor izin cetak harus dicantumkan
pada setiap penerbitan pers, seperti halnya nomor izin terbit yang dikeluarkan oleh
Menteri penerangan. Ketika SIC masih berlaku, penindakan terhadap pers pada
tahap pertama dilakukan dengan mencabut SIC. Tahap berikutnya, baru SIT-nya
dicabut.
Lembaga surat izin ini memberi penyelenggara kekuasaan negara memiliki
posisi yang kuat sekali dalam mengatur kebijakan pemberitaan pers, sehingga
praktis pers betul-betul kehilangan banyak kemerdekaannya. Pers Indonesia
dikondisikan menjadi anak baik dari sebuah keluarga dan tidak boleh menggangu
harmoni keamaan dan ketertiban keluarga.
Disinilah muncul larangan kepada pers untuk memberitakan hal-hal terkait
dengan “Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA). Disinilah sisi tanggung
jawab pers lebih ditonjolkan. Karenanya, terhadap pers yang secara gegabah
membuat berita menyangkut SARA dapatlah dikategorikan sebagai pers yang tidak
bertanggung jawab, dan karenanya pers tersebut harus dicabut SIT dan SIC-nya.
Setelah SIC dihapuskan pada pada tahun 1977, kebijakan tentang SIT juga
dihapuskan setelah diberlakukannya Undang-undang pokok pers tahun 1982. SIC
79
Ibid, hlm. 186.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
62
dan SIT sebagai alat kontrol pemerintah terhadap pers, yang membuat pers menjadi
lemah karena kebijakan pemerintah yang represif. Kita melihat sejarah pembredelan
pers semakin melembaga, menerusi sejarah pembredelan pers pada zaman kolonial,
kependudukan Jepang dan zaman Orde Lama.80
3. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
Sejak tahun 1966, ketentuan tentang penyelenggara pers di Indonesia
dituangkan dalam UU PP No.11 tahun 1966. Undang-undang ini diperbaharui
dengan UU PP No.4 tahun 1967 dan terakhir diperbaharui dengan UU PP No.21
tahun 1982.81 Kebijakan pers yang tertuang dalam Undang-Undang Pokok Pers
yang sudah tiga kali mengalami perubahan sampai dengan adanya Undang-undang
pokok pers tahun 1982, beberapa perubahan-perubahan dalam pasal-pasal yang
tertuang tidaklah bersifat fundamental, hanya ada beberapa penambahan kebijakan
baru terhadap pers yang secara langsung berlaku terhadap pers Indonesia secara
menyeluruh, yaitu seperti
pasal 13 ditambah ayat (5) yang berbunyi sebagai
berikut: “setiap penerbitan pers yang diselengarakan oleh perusahaan pers
memerlukan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers selanjutnya disingkat SIUPP yang
dikelurakan oleh Pemerintah. Ketentuan-ketentuan tentang SIUPP akan diatur oleh
pemerintah setelah mendengar pertimbangan Dewan pers.82
Keterangan lebih lanjut tentang SIUPP juga dikeluarkan oleh peraturan
Menteri Penerangan No. 01/per/Menpen/1984, yang derajatnya lebih rendah dari
Undang-undang, khusunya pasal 33 butir (h). Pasal yang berbunyi:
80
Hotman M. Siahaan.et.al, 1983, Tajuk-tajuk dalam Terik Matahari: Empat Puluh Tahun Surabaya
Post, Jakarta, Gramedia, hlm. 470.
81
Sularto, Humanisme, op.cit, hlm. 92.
82
T. Atmadi, Sistem Pers Indonesia, op.cit, hlm. 117.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
63
“ Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang telah diberikan kepada
perusahaan/penerbitan pers dapat dibatalkan oleh Menteri Penerangan setelah
mendengar Dewan pers, apabila menurut penilaian Dewan pers perusahaan/penerbit
pers dan penerbitan pers yang bersangkutan dalam penerbitaanya tidak lagi
mencerminkan kehidupan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung
jawab.”
Kebijakan mengenai SIUPP yang tercantum dalam UU PP tahun 1982,
merupakan kebijakan terhadap pers yang kontroversial dikalangan mayarakat
karena bertentangan dengan asas kebebasan pers di alam demokrasi. Seperti yang
ditulis oleh Goenawan Mohammad tentang SIUPP ialah: 83
“Pers bukan lembaga suci. Ia bisa bikin kesalahan. Dan penerbit serta
wartawan bukan manusia yang sepi ing pamri. Dalam hal itu, pers tidak berbeda
sebenarnya dengan lembaga lain; termasuk pemerintah. Yang kemudian jadi soal
ialah ketika pers dianggap punya daya pengaruh yang sangat besar, pemerintah
sebenarnya juga demikian. Tapi bila hak pemerintah untuk “kuat” tak pernah
dipermasalahkan, hak pers untuk berpengaruh cenderung dianggap berbahaya
.sebab itulah dianggap perlu adanya kontrol terhadap pers, baik dengan aturan,
anjuran, maupun juga kekuasaan yang efektif, misalnya larangan terbit. SIUPP
adalah salah satu bentuk kontrol. Tentu kita harus ingat, bukan Cuma Departemen
Penerangan yang menghendaki adanya SIUPP. Surat izin ini lahir dari keinginan
beberapa penerbit sendiri: mereka ingin agar kompetisi (khususnya dalam segi
komersial penerbitan) diatur, hingga tak terjadi persaingan bebas.”
Masyarakat memandang kebijakan mengenai pembatalan SIUPP Surat kabar
dan majalah, merupakan aturan yang bertentangan UU PP No.21 tahun 1982 pasal 4
berbunyi: terhadap pers nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan. Tetapi
pemerintah tidak menganggap demikian. Tindakan pembatalan SIUPP dipandang
tidak bertentangan dengan Undang-Undang Pokok Pers. Pandangan pemerintah itu
tampaknya diperkuat oleh Mahkamah Agung, seperti diketahui, gugatan pengasuh
majalah Tempo terhadap pembatalan SIUPP majalah dan surat kabar berdasarkan
Peraturan Menteri Penerangan No. 01 tahun 1984, ternyata ditolak dengan
83
Goenawan Mohamad, SIUPP, Tempo, 22 Juli 1991.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
64
perkataan lain pembatalan SIUPP tidak melanggar UU Pokok Pers No.21 Tahun
1982. Keputusan Makhamah Agung ini tentu makin memperkuat posisi ketentuan
Peraturan Menteri Penerangan dalam pengaturan corak dan pola kegiatan pers.
Akibat lebih lanjut, setiap prinsip kebebasan pers yang diatur dalam konstitusi dan
Undang-undang pokok pers mengalami pemasungan terstruktur dan tersistem.84
Ketentuan lisensi terbit atau biasa disebut sebagai Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
(SIUPP) pada hakikatnya merupakan instrument politik pemerintah untuk
mengendalikan media pers setelah dihapuskannya SIT dalam Undang-Undang
Pokok Pers No.21 tahun 1982, SIUPP merupakan wujud lain dari SIT yang dihapus
tersebut. Sementara dalam pelaksanaannya pemerintah tidak mengeluarkan SIUPP
baru dengan alasan pasar penanaman modal penuh karena negara ikut memberi
keputusan dalam pasar media.85
Dihalanginya pendatang baru masuk ke usaha pers, diterima bahkan didukung
karena menguntungkan bagi perusahan pers. Sedangkan pers yang masih terbit
boleh bersenang hati karena lowongan pasar. Pengusaha yang ingin berinvestasi di
bidang pers hanya dimungkinkan dengan “membeli” SIUPP yang sudah ada.
Kebijakan pemerintah yang represif mengakibatkan pemasungan terhadap prinsipprinsip universal kebebasan pers ini membawa pengaruh yang cukup mendasar
terhadap penyajian berita, obyektivitas dan kesahihan berita, pola kepemilikan pers,
serta personalia penyelenggara penerbitan pers.
84
85
Sularto, op.cit, hlm. 95.
Ibid, hlm. 160.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB III
BENTUK DAN ALASAN PEMBREDELAN PERS DI
MASA ORDE BARU
A. Bentuk Pembredelan Pers selama berlakunya UU PP No.11 Tahun 1966.
Kebebasan berserikat dan berkumpul, megeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang, UUD 1945 pasal 28, inilah
pasal yang melindungi kebebasan pers nasional, selain pasal 28 dalam UUD 1945,
ketentuan-ketentuan mengenai kehidupan pers, diatur dalam UU PP No.11 tahun
1966.
Prinsip-prinsip dasar pers menyatakan bahwa “pers nasional tidak dikenakan
sensor dan pembredelan.” (bab 2, pasal 4) dan kebebasan pers sesuai dengan hak
azasi warga negara dijamin. (pasal 5 ayat 1), serta “penerbitan tidak memerlukan
surat izin apa pun (bab 4, pasal 8 ayat 2). Pada kenyataannya semua tentang
kebebasan pers yang telah tercantum hanya semu dan hanya sebatas peraturan yang
tidak sampai kepada realisasi dalam kehidupan pers selama Orde Baru.
Pasal-pasal yang tercantum dalam Undang-Undang Pokok Pers No. 11 tahun
1966, ada unsur kekaburan dalam makna yang sebenarnya, seperti tentang masa
peralihan yang tidak jelas sampai kapan (bab 9, pasal 20, ayat 1 a) berbunyi “
dalam masa peralihan keharusan mendapatkan Surat Izin Terbit masih berlaku
sampai ada keputusan pencabutannya oleh pemerintah atau DPR (GR), dan para
penerbit surat kabar wajib memiliki dua izin tersebut yaitu Surat Izin Cetak (SIC)
dari Departemen Penerangan dan Surat Izin Terbit (SIT) dari lembaga keamanan
Militer Kopkamtib, tanpa kedua izin tersebut,secara hukum sebuah pers niscaya tak
65
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
mungkin terbit. Apabila salah satu kedua lembaga tersebut mencabut izin tersebut,
secara efektif surat kabar dan majalah itu dibredel.86
Bentuk pembredelan pers masa berlakunya UU Pokok Pers No.11 Tahun
1966 dikelompokan sebagai berikut :
1. Pencabutan Surat Izin Cetak.
Surat Izin Cetak pers dapat dicabut atau dibatalkan oleh Pelaksana Khusus
Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah (Laksus
Pangkopkamtibda) jika telah menyiarkan tulisan-tulisan yang tidak berdasarkan
pada kebenaran yang dapat menghasut rakyat.87
2. Pancabutan Surat Izin Terbit.
Undang-Undang Pokok Pers No.11 Tahun 1966 pasal 8 ayat 1 berbunyi:
setiap warga negara mempunyai hak penerbitan pers yang bersifat kolektif sesuai
dengan hakikatnya
Demokrasi Pancasila. Pasal 2 berbunyi: untuk ini tidak
diperlukan Surat Izin Terbit (SIT). Pasal terkait SIT dalam UU PP No.11 tahun
1966 memberikan unsur ketidakjelasan tentang ketentuan SIT. Pasal 20 ayat (1a).
Berbunyi: dalam masa peralihan keharusan mendapatkan Surat Izin Terbit masih
berlaku sampai ada keputusan pencabutannya oleh pemerintah dan DPR (GR). Ayat
(1b) berbunyi: ketentuan mengenai Surat Izin Terbit dalam masa peralihan diatur
pemerintah bersama-sama dengan Dewan Pers.
Kejelasan tentang siapa yang berwenang dalam mencabut SIT sebuah surat
kabar dalam UU PP No.11 tahun 1966 tidak dicantumkan sehingga, dalam
pembredelan dalam bentuk pencabutan SIT bisa dilakukan Presiden Soeharto dan
86
David T.Hill, op.cit, hlm. 35.
Abdurrachman Surjomihardjo,op.cit, hlm. 290.
87
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
para pejabatnya yang menganggap pemberitaan surat kabar dapat menganggu
kestabilan nasional. Hal ini digambarkan ketika tahun 1973 yang dianggap tahun
panas dengan suhu politik yang sangat tinggi, pada tanggal 2 Januari 1973,
Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro mencabut SIT harian Sinar Harapan. 88
Pembredelan dengan cara pencabutan SIT oleh Presiden Soeharto dan pejabat
lainnya mesipun tanpa pertimbangan Dewan Pers dianggap sah, oleh sebab itu pers
pun tidak berdaya dan bahkan tidak dapat terbit untuk selamanya ketika pencabutan
SIT sudah terjadi.
B. Alasan pembredelan pers selama berlakunya UU Pokok Pers No.11
Tahun 1966 dikelompokan sebagai berikut:
1) Politik
Alasan politik yang dimaksud dalam skripsi ini dirinci terkait:
a. Kekuasaan, Pemerintahan.
Ketika rezim Orde Baru sedang membangun pondasi sebagai era baru sebagai
pengganti Orde Lama, yang masih membutuhkan banyak dukungan dari berbagai
pihak yang dapat membantu memperkuat konsolidasi kekuasaan Presiden Soeharto,
oleh sebab itu berita-berita yang disampaikan pers tidak boleh menimbulkan
kekacauan yang dapat mengoyahkan kekuatan pemerintahan Orde Baru. seperti
pembredelan menjelang Pemilu pertama yang diselenggarakan pada tahun 1971
dengan alasan telah melanggar ketentuan pemilu.
Pemilu yang berlangsung pada bulan Juli itu adalah pemilu yang pertama kali
diselenggarakan pemerintah Orde Baru. karena itu pemilu ini sangat penting artinya
88
Akhmad Zaini Abar. op.cit.hlm. 72.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
bagi pemerintah Orde Baru untuk mencari dukungan rakyat serta untuk
mendapatkan maupun memperkuat legitimasi politik dari kekuasaanya.89 Oleh seba
itu pemberitaan pers terkait pemilu dapat membahayakan ambisi penguasa Orde
Baru dalam memenangkan pemilu pertama pada tahun 1971.
b. Ideologi.
Pers indonesia adalah pers pancasila yang bebas dan bertanggung jawab,
kehidupan pers harus berdasarkan nilai-nilai Pancasila, oleh sebab itu pers tidak
diperkenankan untuk menulis berita yang tidak berdasarkan nilai-nilai Pancasila
yang mengakibatkan pers yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab. Peraturan
mengenai pers Pancasila tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN), bagian pers dan penerangan.
2) Ekonomi, sosial-politik.
a. korupsi pada masa Orde Baru menjadi sorotan kritis pers, karena dampak
dari korupsi yang merajalela dikalangan para pejabat negara telah
menimbulkan ketimpangan sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Hal inilah yang diperjuangkan pers melalui surat kabar agar pemerintah
memperhatikan kehidupan masyarakat jangan hanya memperkaya diri
sebagai pejabat pemerintah.
b. Alasan pembredelan karena telah membocorkan rahasia negara yang di
kenakan terhadap harian sore Sinar Harapan, hanya sebagai pelampiasan
pemerintah atas situasi ekonomi yang sedang mengalami inflasi, karena
semakin terungkap pemberitaan mengenai kebijakan ekonomi pemerintah
89
Akhmad Zaini Abar, op.cit, hlm. 126.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
dan lambatnya pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan harga kebutuhan
sehari-hari meningkat untuk mengatasi defisit keuangan negara. Serta jika
pemberitaan terkait isu ekonomi dianggap dapat menimbulkan kekhawatiran
dikalangan masyarakat.
3) Keamanan dan Pertahanan.
Menjaga stabilitas nasional merupakan alasan yang paling mendasar
pemerintah dalam membredel pers, karena ketika pers terlalu bebas menyampaikan
kejadian-kejadian terbaru, dan tanggapan dari masyarakat terhadap pemberitaan
tersebut dapat melahirkan konflik serta demonstrasi massa yang dapat
membahayakan keamanan nasional serta elit penguasa, maka pemerintah dengan
senantiasa membredel surat kabar yang dianggap menganggu keamanan demi
terciptanya masyarakat yang tentram
Pemberitaan mengenai dwi fungsi ABRI adalah pemberitaan yang dilarang
selain keluarga Presiden, hal inilah yang terjadi ketika harian Kompas ketika di
bredel tahun 1982, karena memberitakan persoalan dwi fungsi ABRI dan
demonstrasi mahasiswa yang dikhawatirkan akan memperuncing konflik. Kompas
dapat terbit kembali setelah menyanggupi persyaratan dari pemerintah salah satu isi
dari persyaratan tersebut ialah, tidak akan mempersoalkan dwifungsi ABRI.90
4) Suku, Agama, Ras dan Aliran (SARA)
Pemberitaan mengenai pertikaian antar agama, pemberontakan atau
perlawanan terhadap pemerintah pusat oleh kelompok sparatis seperti di Timor
90
St.Sularto, Syukur Tiada Akhir, op.cit, hlm. 23.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
70
Timur, Aceh dan Papua Barat. Tidak dapat diberitakan dengan bebas karena di
bawah pengawasan pemerintah.91
5) Hak Asasi Manusia
Pemberitaan terkait HAM pada masa Orde Baru, hanya beberapa surat kabar
yang berani memberitakan, dengan konsekuensi surat kabarnya ditutup. Karena
pemberitaan mengenai HAM dianggap pemerintah mencorengkan hukum
Indonesia, meskipun hukum berlaku namun ketidakadilan masih terjadi dan
diketahui oleh masyarakat luas, hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan
tindakan anarkis dari masyarakat.
Seperti ketika Tempo mengulas kasus Marsinah seorang buruh dalam laporan
utama Tempo selama bulan Maret 1994, pada tahun tersebut juga Menpen mencabut
SIUPP Tempo, selain alasan pemerintah membredel Tempo karena memuat
kontroversi pembelian 39 kapal bekas Jerman Timur, dibalik pemberitaan tersebut
kasus Marsinah merupakan berita yang tidak diketahui oleh masyarakat jika tidak
ada surat kabar yang berani memberitakan selain Tempo. Marsinah adalah seorang
buruh di PT.Catur Putra Surya, yang ditemukan meninggal setelah melakukan
berbagai aksi untuk menuntut perbaikan nasib bagi buruh PT.CPS, kasus
pengusutan pembunuhan Marsinah berakhir penuh dengan kerahasiaan, hukum
tidak berpihak pada Marsinah.92
Data terkait pembredelan selama berlakunya UU PP No.11 tahun 1966 akan
ditunjukan dalam tabel 1 di bawah ini.
91
92
David.T.Hill, op.cit, hlm. 49.
Tempo, 19 Maret 1994.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
71
Tabel.1 Pembredelan masa Orde Baru selama dibelakukan UU Pokok Pers
No.11 tahun 1966
UU Pokok Pers
Surat kabar Tgl/bln/t
Cara
Alasan
No.11 Tahun 1966
& Majalah
hn
pembredelan
pembredelan
Bab II
Pembredelan terkait isu-isu politik dan keamanan
Fungsi,kewajiban
Duta
27/Juni/ Pencabutan SIT Melanggar
dan hak pers.
Masyarakat
1971
ketentuan pemilu
Pasal 4: Terhiadap
yang ditetapkan
27/Juni/
Pencabutan SIT
pers nasional tidak Harian KAMI
pemerintah
1971
dikenakan sensor
Telah
dan pembredelan
membocorkan
Harian Sinar
Des/
Pencabutan SIT rahasia
negara
Harapan
1972
oleh Kopkamtib (memberitakan
RAPBN
19731974)
Pembredelan terkait isu-isu sosial ekonomi dan keamanan
Harian
Nusantara
Suluh Berita
16/Jan/
1974
Pencabutan
SIT&SIC
19/Jan/
1974
Pencabutan SIC
Mahasiswa
Indonesia
20/Jan/1
974
Harian
KAMI
Harian
Indonesia
Raya
Abadi
21/Jan/1
974
21/Jan/1
974
Pencabutan SIT
21/Jan/1
974
21/Jan/1
974
21/Jan/1
974
21/Jan/1
974
21/Jan/1
974
24/Jan/1
974
Pencabutan SIT
The Jakarta
Times
Mingguan
Wenang
Pemuda
Indonesia
Pedoman
Majalah
Ekspress
Pencabutan SIT
Memberitakan
berita terkait
MALARI
Memberitakan
berita
berjudul
demonstrasi
belum perlu”
Melakukan
pengasutanpenghasutan yang
menganggu
keamanan
&
ketertiban umum
Pencabutan SIT
Pencabutan SIT
Pencabutan SIT
Pencabutan SIT
Pencabutan SIT
Pencabutan SIT
Telah memuat
tulisan-tulisan
yang dapat
merusak
kewibawaan &
kepercayaan
kepemimpinan
nasonal
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
Indonesia
2/Feb/
Pencabutan SIT
Pos
1974
Pembredelan terkait isu-isu politik dan keamanan
Pemberitaan yang
luas dan kritis
Harian
20/Jan/ Via Telepon dan
tentang
Kompas
1978
pencabutan SIT
demonstrasi
mahasiswa pada
akhir 1977-1978
Memberitakan
tentang “dialog
terbuka
dewan
20/Jan/
mahasiswa&senet
Harian Pelita
Pencabutan SIT
1978
mahasiswa
UI
dengan
seluruh
mahasiswa
kampus Salemba
Pemberitaan yang
luas dan kritis
Harian
20/Jan/
tentang
Pencabutan SIT
Merdeka
1978
demonstrasi
mahasiswa pada
akhir 1977-1978
Pemberitaan yang
luas dan kritis
Harian Sinar 20/Jan/1
tentang
Pencabutan SIT
Harapan
978
demonstrasi
mahasiswa pada
akhir 1977-1978
Pemberitaan yang
luas dan kritis
The
20/Jan/1
tentang
Indonesia
Pencabutan SIT
978
demonstrasi
Times
mahasiswa pada
akhir 1977-1978
Pemberitaan yang
luas dan kritis
20/Jan/1
tentang
Sinar Pagi
Pencabutan SIT
978
demonstrasi
mahasiswa pada
akhir 1977-1978
Pemberitaan yang
luas dan kritis
Pembredelan
20/Jan/1
tentang
Pos Sore
dilakuakan
978
demonstrasi
Kopkamtib
mahasiswa pada
akhir 1977-1978
Pembredelan terkait isu-isu politik
Januari/ Pencabutan SIT
Demonstrasi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
73
Salemba
Feb
1978
Tridharma
Kampus
Integritas
Berita ITB
Muhibah
Aspirasi
Jumlah pencabutan surat izin cetak
mahasiswa Anti
Soeharto
Jumlah pencabutan surat izin terbit
28
2
Sumber: David.T.Hill.2011. Pers di Masa Orde Baru. St.Sularto. Humanisme dan
Kebebasan Pers. Bredel 1994, Tempo.
Tabel di atas menjelaskan beberapa hal terkait pembredelan yang dilakukan
pemerintah terhadap pers, dalam tabel telah dipaparkan sejumlah surat kabar,
majalah dan tabloid yang pernah dibredel oleh pemerintah, tetapi tidak semua isi
berita terkait dapat di paparkan karena hanya sebagian kecil sumber primer berupa
surat kabar yang dapat dipaparkan penulis terkait isi tabel di atas.
1) Isi berita surat kabar terkait peristiwa Malari :
Harian Indonesia Raya.
Tajuk Rencana harian Indonesia Raya menjelang kedatangan Perdana Menteri
Jepang Tanaka, diwarnai dengan kritik terhadap pemerintah Indonesia agar
mempertimbangkan kembali hubungan kerjasama Indonesia dan Jepang. Hal ini
terlihat dari isi tajuk rencana pada tanggal 14 Januari 1974 mengatakan “ kita
berharap, setelah berbicara dengan berbagai pemimpin pemerintah di Indonesia,
maka Tanaka akan mengambil prakarsa untuk meletakan saluran-saluran hubungan
Jepang dan Indonesia ke tingkat yang wajar dan patut tidak lagi campur aduk
dengan kepentingan Jakarta lobby dan Jepang lobby.93
93
Atmakusumah (ed). 1997. Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Jakarta:
YOI.hlm. 416.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
Tajuk-tajuk rencana harian Indonesia Raya menjelang kedatangan Perdana
Menteri Jepang ke Indonesia, telah dianggap pemerintah dapat menggoyahkan
kerjasama yang hendak dilakukan pemerintah Indonesia dengan Jepang serta
kestabilan politik nasional. Pasca peristiwa Malari 1974 pemerintah membredel
harian Indonesia Raya yang sejak zaman Orde Lama dikenal harian yang sangat
kritis terhadap kebijakan pemerintah hingga pemerintahan Orde Baru harian ini
masih tetap kritis terhadap fenomena-fenomena korupsi yang terjadi dikalangan
pejabat Indonesia.
Pencabutan SIT Harian Indonesia Raya dengan alasan politik dan keamanan
dianggap melanggar peraturan Kode Etik Jurnalistik pasal 2 ayat 2a dan b:
Wartawan Indonesia tidak menyiarkan (a). Hal-hal yang bersifat destruktif dan
dapat merugikan Negara dan Bangsa. (b).hal-hal yang dapat menimbulkan
kekacauan.
2) Pembredelan Menjelang Sidang Umum MPR Tahun 1978
a. Isi Tajuk Rencana Kompas 1978 berjudul “ Aspirasi Mahasiswa”: 94
pernyataan ABRI yang berkaitan dngan peringatan Tiga Tuntutan Rakyat
(TRITURA) berisikan komentar bahwa ABRI meminta dan memperingatkan
bukanlah isi, persoalan dan aspirasi mahasiswa tetapi caranya. Pembredelan
berdasarkan alasan keamanan. Melanggar peraturan Kode Etik Jurnalistik pasal 2
ayat 2c. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan hal-hal yang dapat menyinggung
perasaan susila, agama, kepercayaan atau keyakinan seseorang atau suatu golongan
yang dilindungi oleh undang-undang.
94
St.Sularto.op.cit.hlm. 12.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
75
b. Isi harian Pelita berjudul “Dialog terbuka DM/SM-UI dengan seluruh
mahasiswa kampus Salemba”95.
Dalam dialog terbuka tersebut mengatakan bahwa aksi yang dilakukan
mahasiwa DM/SM UI akhir-akhir ini sebagai gerakan moral mahasiswa, atas
keresahan yang melanda masyarakat terkait 4K (ketakutan,kemiskinan, kebodohan
dan korupsi).
Pemberitaan surat kabar terkait aksi mahasiswa telah meresahkan pemerintah,
mejelang Sidang Umum MPR 1978 yang akan membahas tentang dicalonkannya
kembali Presiden Soeharto dalam pemilu, Pencalonan Presiden Soeharto untuk
periode selanjutnya banyak mendapat kritik, karena ketimpangan sosial dalam
kehidupan masyarakat semakin meningkat, fenomena korupsi semakin merajalela
dikalangan pejabat.
Pemberitaan terkait demonstrasi mahasiswa dapat menimbulkan konflik yang
dapat menganggu kestabilan nasional, oleh sebab itu perlunya pers yang sehat dan
bertanggung jawab dalam menyampaikan berita. Oleh sebab itu, pemerintah
melakukan tindakan pembredelan dengan mencabut SIT dengan alasan politik dan
keamanan.
Pembredelan terhadap tujuh surat kabar dianggap telah melanggar peraturan
GBHN bab IV D dan angka 4, tentang penerangan dan Pers (d) berbunyi: dalam
rangka meningkatkan peranan pers dalam pembangunan perlu ditingkatkan usaha
pengembangan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab, yaitu pers
yang dapat menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang obyektif,
95
Pelita, 20 Januari 1978.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
76
melakukan komunikasi dan partisipasi masyarakat.dalam hal ini maka perlu
dikembangkan interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat.
C. Bentuk Pembredelan Pers Selama Berlakunya UU Pokok Pers No.21
Tahun 1982.
Pembatalan SIUPP.
Undang-Undang Pers No.21 tahun 1982 ketentuan mengenai SIT pasal 20
ayat 1 dihapus, ketika UU PP ini berlaku larangan terbit terhadap pers tidak lagi
melalui pencabutan SIT, karena peraturan tersebut telah dihapus dalam UU PP
No.21 tahun 1982 yang baru. Namun bukan berarti tidak ada lagi larangan terbit
pers ketika berlakunya UU PP No.21 tahun 1982, serangkaian pembredelan pers
masih terjadi tidak lagi dengan cara pencabutan SIT, namun melalui pencabutan
SIUPP.
Peraturan mengenai SIUPP ditambahkan pada pasal 13 ayat 5 berbunyi: setiap
penerbitan pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers memerlukan Surat Izin
Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Ketentuanketentuan tentang SIUPP akan diatur oleh pemerintah setelah mendengar
pertimbangan Dewan Pers. Serta peraturan Menpen No.01/PER/MENPEN/1984
tentang SIUPP.
Peraturan mengenai SIT dihapus dan digantikan dangan SIUPP, adalah
bentuk lain dari cara pemerintah untuk tetap mengontrol pers dan sewaktu-waktu
dapat membredel pers melalui pembatalan SIUPP yang telah diberikan, yang
memiliki wewenang dalam pembatalan SIUPP ialah Menteri Penerangan. Meskipun
dikatakan bahwa pemerintah mempertimbangkan setelah mendengarkan Dewan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
77
Pers namun tidak pernah pencabutan SIUPP oleh Menpen dilakukan setelah
berdiskusi dengan Dewan Pers sesuai peraturan yang tercantum dalam UU PP
No.21 tahun 1982.
D. Alasan pembredelan Pers Selama Berlakunya Undang-Undang Pokok
Pers No.21 Tahun 1982.
1. Politik, Ideologi, pemerintahan.
Dalam persiapan pemilu, seperti kampanye-kampanye partai politik yang
menjadi basis kekuatan, menjadi bahan berita yang dianggap sensitif terhadap
pemerintah, karena jika ada hal-hal yang tidak diinginkan diberitakan akan sangat
mempengaruhi berjalannya pemilu dan kesempatan untuk menang bagi partai
politik. Oleh sebab itu, pemerintah membredel pers yang dianggap menganggu dan
dapat menimbulkan kekacauan dalam persiapan pemilu.
2. Ekonomi, Sosial dan Politik.
Alasan ekomomi dalam membredel pers seperti ketika pers memuat berita
seputar kebijakan ekonomi dan situasi ekonomi Indonesia pada saat itu, keadaan
perekomomian yang tumbuh secara lambat, menjadi beban tersendiri yang
dirasakan masyarakat, karena harga kebutuhan sehari-hari semakin tinggi, serta
penghasilan kerja kurang dapat memenuhi kebutuhan hidup karena krisis ekomomi
yang terjadi. Oleh sebab itu mengapa pemerintah melarang pers memberitakan
tentang kebijakan ekonomi, dapat menciptakan suasana risau, bingung dikalangan
masyarakat semua menjadi serba tidak menentu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
78
3. Kemananan dan Pertahanan
Alasan keamanan dalam membredel pers tidak berbeda jauh dengan alasan
keamanan ketika berlakunya UU PP No.11 tahun 1966. Karena pemerintah tidak
ingin pers dapat memobilisasi masyarakat dengan informasi yang disampaikan, oleh
sebab itu pers tidak diberikan kebebasan dalam menyampaikan berita yang dapat
melemahkan kekuatan pemerintah. Presiden Soeharto sebagai penguasa tunggal
tidak sedikitpun memberikan ruang bagi pers untuk memberitakan berita-berita
aktual yang dapat menimbulkan ketidakstabilan dalam keamanan dan politik
bangsa. Agar perpecahan yang terjadi dimasa lalu tidak terjadi lagi pada masa Orde
Baru.
4. Suku, Agama, Ras dan Aliran (SARA).
Pertikaian antar agama, pemberontakan atau perlawanan terhadap pemerintah
pusat oleh kelompok sparatis hanya bisa dilaporkan dalam batas tertentu, karena
dikhawatirkan akan menimbulkan konflik berunsur SARA. Beberapa majalah dan
surat kabar demi meningkatkan jumlah oplah, menulis berita sensasional yang
didalamnya terdapat nama pejabat pemerintah dan Nabi Muhammad seperti dimuat
oleh tabloid Monitor dengan angket popularitasnya, telah menimbulkan aksi protes
dari penganut agama Islam dianggap telah mencemarkan dan menghina agama
Islam. Semenjak serangkaian pembredelan massal selama berlakunya UU PP No.11
tahun 1966 yaitu tahun 1974 setelah peristiwa Malari dan tahun 1978 terkait
peristiwa demonstrasi mahasiswa anti Soeharto dan serangkaian pembredelan
lainnya. Namun tindakan anti pers tidak berhenti ketika UU Pokok Pers telah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
79
diperbahpemerintah tampak sangat bersungguh-sungguh dalam menerapkan konsep
kebebasan yang bertanggung jawab dalam dunia pers.
Karena ketentuan pasal 4 yang tidak pernah dirubah meskipun UU pokok pers
mengalami perubahan pada tahun 1967 dan disempurnakan dengan dikeluarkanya
UU Pokok Pers No.21 tahun 1982, pasal 4 menyatakan bahwa pers nasional tidak
dikenakan sensor dan pembredelan, serta dihapuskannya SIT seperti yang tercantum
pada pasal 20 ayat 1, maka pemerintah memerlukan landasan hukum kalau suatu
ketika seperti dalam suasana krisis yang menjurus kepada kemelut politik yang
amat membahayakan, merasa perlu untuk melakukan tindakan preventif terhadap
pers.96
Melalui peraturan Menteri Penerangan RI No.01/Pen/Menpen/1984 tentang
Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), berdasarkan ketentuan yang terkandung
dalam pasal 13 ayat 5 UU PP No.21 tahun 1982, landasan hukum untuk melakukan
tindakan preventif itu dicantumkan, dalam pasal 33 peraturan tersebut, dimuat
ketentuan bahwa Menteri Penerangan setelah mendengar Dewan Pers dapat
membatalkan SIUPP, yang telah diberikan apabila perusahaan/penerbit pers
tersebut melakukan salah satu delapan hal yang tercantum dalam pasal itu.97
96
97
T.Atmadi. dalam sistem pers Indonesia. op.cit.hlm. 121.
Ibid,hlm. 80.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
80
Tabel.2 Pembredelan Pers selama diberlakukan UU Pokok Pers No.21 Tahun
1982.
UU Pokok Pers
No.11 Tahun 1966
Bab II
Fungsi,kewajiban
dan hak pers.
Pasal 4: Terhadap
pers nasional tidak
dikenakan sensor dan
pembredelanh,
Surat kabar
Cara
Alasan
Tgl/bln/thn
& Majalah
pembredelan
pembredelan
Pembredelan terkait isu-isu politik dan keamanan
Memuat berita
“Buntut
Banteng jadi
panjang”.
Majalah
3/April/
Pembatalan
Kerusuhan
Tempo
1982
SIUPP
kampanye
pemilu di
lapangan
Banteng
Kritik terhadap
sejumlah tokoh
sipil kunci dari
tubuh
pemerintahan,
yang ditujukan
terhadap
Tabloid
21/Juni/
Pembatalan
kalangan
Detik
1994
SIUPP
militer dan
menurunkan
spekulasi
seputar calon
pengganti
Presiden
Soeharto.
Pemberitaan
tentang putera
Presiden,
dalam kasus
bank
Majalah
21/Juni/
Pembatalan
pembangunan
Editor
1994
SIUPP
pemerintah
Bapindo, yang
banyak
diwarnai
campur tangan
pejabat.
Memuat artikel
Majalah
Januari/
Pembatalan
tentang “100
Expo
1983
SIUPP
Milioner
Indonesia
Majalah
Ekuin
April/1983
Pembatalan
SIUPP
Mengungkap
kan soal
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
81
harga dasar
minyak
pemerintah.
Pembredelan terkait isu-isu sosial dan ekonomi
Memuat
laporan
Majalah
Pembatalan berupa daftar
Mei/1984
Fokus
SIUPP
“200 orang
kaya
Indonesia”
Memuat
berita tentang
Harian
analisa
Pembatalan
Sinar
9/Okt/1986
seputar
SIUPP
Harapan
kebijakan
ekonomi
pemerintah
Pembredelan terkait isu-isu politik,ideologi
Berita
dianggap
bertentangan
29/Juni/
Pembatalan
Prioritas
dengan nilai1987
SIUPP
nilai sistem
pers
Pancasila
Pembredelan terkait isu-isu SARA
Terkait isu
SARA,
“angket
popularitas”
Majalah
15/Okt/
Pembatalan
yang
Monitor
1990
SIUPP
mengakibatka
n kericuhan
dari kalangan
umat Islam
Memuat
“ilustrasi
Nabi
Muhammad”
yang
Majalah
02/Nov/
Pembatalan
berpotensi
Senang
1990
SIUPP
menimbulkan
konflik
SARA.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
82
Jumlah Pencabutan SIUPP
11
Tabel 2 di atas mencoba menjelaskan tindakan anti pers yang dilakukan
pemerintah dengan cara pembatalan SIUPP, peraturan mengenai SIUPP terdapat
dalam UU PP No.21 tahun 1982 pasal 13 ayat 5 berbunyi: setiap penerbitan pers
yang diselenggarakan oleh perusahaan pers memerlukan Surat Izin Usaha
Penerbitan Pers selanjutnya disingkat SIUPP yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Ketentuan-ketentuan tentang SIUPP akan diatur oleh pemerintah setelah mendengar
pertimbangan Dewan Pers.98
Meskipun peraturan mengenai SIT telah dihapus dalam UU PP No.21 tahun
1982, namun sejatinya pembatalan SIUPP terhadap surat kabar merupakan cara
pembredelan dalam bentuk lain yang dilakukan oleh pemerintah, agar pers tetap
patuh. Tabel di atas telah memaparkan pelarangan terbit terhadap surat kabar,
tabloid dan majalah selama berlakukanya UU PP No.21 tahun 1982, pembredelan
dilakukan pemerintah terkait isi berita yang dimuat oleh surat kabar dan majalah
yang dianggap dapat menganggu kestabilan nasional dengan berbagai alasan seperti
dijelaskan di bawah ini:
a. Berita majalah Tempo berjudul “Buntut Benteng Jadi Panjang”.99
Peristiwa kerusuhan di lapangan Banteng merupakan suatu rencana yang telah
disiapkan sebelumnya. Tujuan pengacauan: selain menggagalkan kampanye Golkar
di lapangan Banteng Jakarta dan demoralisasi Golkar, juga untuk mencapai sasaran
98
99
T.Atmadi.op.cit.hlm. 120.
Tempo. 3 April 1982.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
83
yang bersifat strategis politis-subversif. Sasaran tersebut antara lain: sebagai bunga
api yang diharapkan dapat meledakan kekacauan yang sama di seluruh Indonesia
dengan tujuan menggagalkan pemilu 1982. Kedua menggoyahkan pemerintahan
dan mendiskreditkan pemerintah, sehingga tercipta kondisi dimana rakyat tidak lagi
percaya kepada pemerintah makin meningkat untuk selanjutnya menggulingkan
dan mengganti pemerintah. Kerusuhan terjadi antara dua kubu partai Golkar dan
PPP.
Isi berita terkait peristiwa kerusuhan di lapangan Banteng Jakarta,
mengakibatkan pembatalan SIUPP oleh Menteri Penerangan dengan alasan politik
dan keamanan, dan telah melanggar peraturan Kode Etik Jurnalistik pasal 2 ayat
(2a) berbunyi: wartawan Indonesia tidak menyiarkan hal-hal yang dapat
menimbulkan kekacauan.
b. Majalah Monitor, angket kagum 5 juta.
Isi dari angket tersebut ialah: Presiden Soeharto menduduki urutan pertama,
baru menyusul B.J. Habibie dan Bung Karno. Menteri Penerangan Harmoko berada
diurutan nomor kesembilan, Arswendo Atmowiloto di urutan ke sepuluh dan Nabi
Muhammad SAW berada diranking ke sebelas. Dan dibawah Nabi terdapat nama
bintang film Christine Hakim yang menduduki urutan ke dua belas.
Pembatalan SIUPP Monitor dapat terkena pasal 156 dan 157 KUHP tentang
penghinaan terhadap agama dengan ancaman hukuman selama 2 tahun enam bulan
dan penjara selama 10 tahun. Pembredelan dengan cara membatalkan SIUPP
setelah di hapuskannya SIT dalam UU PP No.21 tahun 1982, kasus pembredelan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
84
Monitor karena memang tingkat valid atau tidaknya sumber berita tidak dapat
dipertanggung jawabkan oleh penulis.
Penulisan berita hanya sesuai dengan keinginan penulis belaka tidak
mempertimbangkan bagaimana reaksi para pembaca ketika angket tersebut di muat
dalam majalah Monitor, sehingga menimbulkan berbagai aksi protes dari penganut
agama Islam. Alasan pembredelan majalah Monitor adalah terkait SARA, selain
dikenakan pasal KUHP juga melanggar peraturan Kode Etik Jurnalistik pasal 3 ayat
2 berbunyi: Wartawan Indonesia meneliti kebenaran sesuatu berita atau keterangan
sebelum menyiarkannya, dengan juga memperhatikan kredibilitas sumber berita
yang bersangkutan. Serta pasal ayat 3: di dalam menyusun suatu berita, wartawan
Indonesia membedakan antara kejadian (Fakta) dan pendapat (opini), sehingga tidak
mencampur-baurkan fakta dan opini.100
c. Pembredelan majalah Tempo tahun 1994.
Majalah Tempo, memuat laporan utama tentang “pembelian 39 kapal eks
Jerman Timur.
Laporan utama Tempo pada tanggal 11 Juni, mengulas tentang pro dan kontra
pembelian kapal bekas dari Jerman Timur. KRI Teluk Lampung yang nyaris
tenggelam mengakibatkan segala hal tentang kapal tersebut di ulas, dari harga
kapal, biaya perbaikan serta penyebab hampir tenggelamnya kapal itu.
Tempo juga mengulas kontroversi pembelian 39 kapal eks Jerman Timur
tersebut, antara Menteri Negara Riset dan Teknologi B.J Habibie dengan Menteri
Keuangan Mar‟ie Muhammad, harga 39 kapal itu dianggap terlalu mahal oleh
100
Oemar Seno Adji,1990, Perkembangan Delik Pers Di Indonesia.Jakarta: Erlangga.hlm.154.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
85
Menteri Keuangan, sehingga 3 kali pengajuan anggaran pembelian oleh tim
pembelian B.J Habibie ditolak.101 pembredelan Tempo dengan alasan kemanan
menyangkut substansi berita, Tempo di tutup dengan Surat Keputusan Nomor
123/KEP/MENPEN/1994 tidak menyelenggarakan kehidupan pers Pancasila yang
sehat dan bertanggung Jawab sehingga menganggu stabilitas nasional. 102 Peraturan
tersebut tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tentang
penerangan dan pers bagian (d). Dalam rangka meningkatkan peranan pers dalam
pembangunan perlu ditingkatkan usaha pengembangan pers yang sehat, pers yang
bebas dan bertanggung jawab, yaitu pers yang dapat menjalankan fungsinya sebagai
penyebar informasi yang obyektif, melakukan kontrol sosial yang konstruktif,
menyalurkan aspirasi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat.
Dalam hal ini maka perlu dikembangkan interaksi positif antara pers, pemerintah
dan masyarakat.
101
Tempo.11 Juni 1994.
Didi Prambadi,et.al,1994,Buku Putih Tempo: Pembredelan itu,Jakarta:Alumni Majalah
Tempo,hlm. 2.
102
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
86
BAB IV
DAMPAK PEMBREDELAN PERS MASA ORDE BARU
A. Industri Pers
Kebijakan pemerintah terhadap pers masa Orde Baru mengakibatkan pers
tidak merasakan kebebasan pers yang telah tercantum dalam UUD 1945 pasa 28,
kuatnya kebijakan terhadap pers yang represif melemahkan posisi pers dan
mengharuskan industri pers melakukan sikap kompromi terhadap Presiden Soeharto
dan Menteri Penerangan yang memiliki kekuasaan mutlak dalam pengendalian
ruang gerak pers.
Pada masa Orde Baru dikenal pers bebas dan bertanggung jawab, kebebasan
harus disertai dengan tanggung jawab sehingga terdapat suatu keseimbangan. Akan
tetapi dalam praktiknya di Indonesia, konsepsi pers bebas dan bertanggung jawab
ini tidak pernah mempunyai kejelasan, khususnya mengenai batasan kebebasan dan
tanggung jawab. Akibat tidak adanya kejelasan batas-batas dan pengertian pers
bebas dan bertanggung jawab, beberapa penerbitan acapkali tersandung dan
dipandang pemerintah melakukan pemberitaan yang bertentangan dengan konsepsi
pers bebas dan bertanggung jawab. Dalam praktik, tidak sedikit sanksi yang
diberikan oleh pemerintah dengan mencabut izin terbit dan pembatalan SIUPP dan
ini dialami surat kabar Sinar Harapan dan Proritas, tabloid Monitor, majalah
Tempo, Editor dan Detik 1994103
Pers bebas dan bertanggung jawab yang tidak memiliki acuan bagi pers dan
hanya slogan dari pemerintah bahwa pers bebas. Namun harus penuh tanggung
103
Sularto,op.cit, hlm. 95.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
87
jawab ketika pers melakukan pelanggaran sebagai pers yang bebas dan konsepsi
seperti itu dapat merugikan bagi industri pers pada umumnya. Kerancuan antara
pers bebas menurut pemerintah dan menurut insan pers pun acapkali terjadi,
menimbulkan keragu-raguan, bahkan ketakutan pers dalam menentukan pola, corak
dan isi pemberitaan. Perbedaan penafsiran mengenai kesesuaian suatu berita dengan
konsepsi pers bebas dan bertanggung jawab, pihak pers pasti berada dalam posisi
yang semakin lemah dengan kebijakan pemerintah tentang bagaimana pers bebas
dan bertanggung jawab masa kepemimpinan Orde Baru dengan bayang-bayang
pembredelan ketika pers mulai dirasa dapat menganggu kestabilan politik.
Menghadapi keadaan semacam ini, kebanyakan penerbitan pers memilih
menerapkan jurnalisme petunjuk yang mengutamakan berita-berita yang berasal
dari pemegang otoritas kekuasaan. Berita-berita yang berasal dari pemegang
otoritas kekuasaan ini pada umumnya memperlihatkan keberhasilan dan kebaikan
pemerintah serta menyiratkan imbauan kepada masyarakat untuk berperan serta
dalam program yang dilaksanakan. Disamping itu, pers juga terpaksa melakukan
sensor diri terhadap bahan berita yang berhasil dikumpulkan. Bahan berita yang
factual dan menarik namun diperkirakan dapat menyinggung kepentingan
pemegang otoritas kekuasaan dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap
kehidupan sosial politik, tidak akan disiarkan. Dengan bersikap demikian pers akan
terhindar dari kemungkinan pembredelan dengan cara pencabutan izin terbit
maupun SIUPP yang menjadi landasan kebijakan terhadap pers.104
104
Ibid, hlm. 96.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
88
Pasca peristiwa Malari 1974 pemerintah semakin mengekang tali kontrol
terhadap pers, karena pers dapat menggoyahkan kestabilan politik yang sejak awal
sudah dengan susah payah dibangun oleh Presiden Soeharto agar tidak ada lagi
kekuatan-kekuatan selain pemerintah yang dapat menyerang penguasa. Sikap kritis
pers dan mahasiswa telah menjadi ancaman menurut penguasa Orde Baru, banyak
kejadian-kejadian yang menghangatkan tajuk-tajuk dalam surat kabar, sejak periode
awal Orde Baru seperti isu-isu tentang korupsi dikalangan pejabat, serta keluarga
Presiden yang ikut memegang proyek yang cukup benyak menyerap dana Ny.Tien
Soeharto dengan proyek TMII, bulog dan fakta-fakta lain tentang penyelewengan
kekuasaan oleh para pejabat.
Jika penguasa dengan represif berupa pembredelan itu merupakan birokrasi
untuk melenyapkan suara sumbang yang dinilai membahayakan stabilitas politik,
dan menimbulkan kerawanan sosial, maka sebagai bentuk lain untuk mempersempit
kebebasan pers yaitu dengan mengadakan seleksi ketat terhadap permohonan
SIUPP yang akan menjadi penerbit dan menjalankan profesi sebagai wartawan.105
Kebijakan pemerintah tentang SIUPP yang terdapat dalam Undang-undang pokok
pers No.21 tahun 1982 bentuk lain dari SIC dan SIT yang telah dihapus dari
Undang-undang pokok pers sebelum tahun 1982, adanya SIUPP semakin
memperluas industri pers bukan hanya pemilik modal dari kalangan industri pers
melainkan juga dari non-pers menumbuhkan sistem kapitalis muda, bahwa dengan
SIUPP sebagai alat kontrol pemerintah juga dapat memberikan keuntungan dengan
berkompetisi agar mendapat SIUPP yang sudah ada. Pada gilirannya dengan
105
Hotman,M. Siahaan, op.cit.hlm. 445.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
89
membuka industri pers kepada pendatang dari sektor bisnis murni non-pers, maka
justru kekuatan pers professional bisa terdesak, sementara pers lemah akan semakin
tersisih dari jajaran pers nasional kita yang semakin mundur dan mengalami
degenerasi.106
B. Profesi Wartawan
Umumnya bahwa kedudukan pers dimata hukum itu sama hal ini yang
berlaku pers Liberal ala barat, seperti pers di Amerika, dan di semua negara yang
disebut Barat, tunduk dan sering diseret ke meja hijau oleh pemerintah, birokrat
ataupun oleh dunia bisnis dan masyarakat dengan tuntutan pidana maupun perdata,
karena dianggap merugikan kepentingan pihak yang terkena pemberitaan negatif
pers.
Di depan hakim, hukum dan pengadilan pers itu sama saja derajatnya dan
bukan diistimewakan. Yang membedakan dengan negara berkembang, seperti
Indonesia di negara yang bercorak manunggal, kekuasaan kehakiman dan yudikatif
maupun cabang legislatif masih sangat resesi posisinya terhadap kuasa eksekutif
yang dominan. Karena itu eksekutif merasa perlu mengambil jalan pintas,
pencabutan SIUPP dan membredel pers, padahal antara 1966-1974, lembaga
eksekutif Indonesia juga sudah pernah berani menghormati kekuasaan yudikatif dan
peradilan, yaitu ketika pemimpin redaksi surat kabar harian Nusantara, Mr. T.D
Hafas, dihadapkan ke meja hijau atas pelanggaran pasal yang terkenal sebagai
haatzai artikelen.
106
Ibid, hlm. 452.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
90
Pembredalan merupakan mimpi buruk bagi pers Indonesia masa Orde Baru,
kehidupan para wartawan pun harus selalu bersikap kompromistis agar surat kabar
tidak dibredel, sehingga kompromi menjadi hal yang biasa masa Orde Baru agar
pers tetap bertahan. Kehidupan para wartawan demi memperjuangkan kebebasan
pers masa Orde Baru bukanlah hal yang mudah dan berjalan begitu saja, semuanya
penuh dengan tekanan dan bayang-bayang pembredelan, yang bahkan bisa
menyebabkan mereka dipenjara dan kehilangan pekerjaan.107
Sebagian dari mereka, yang pendirian bebasnya bertentangan dengan
kebijakan pemerintah dan organisasi wartawan tunggal, harus diungsikan oleh
pimpinannya. Mereka harus digeser dari kedudukan semula di bidang redaksi ke
bidang yang mungkin sama sekali tidak pernah menjadi cita-cita seumur hidup,
seperti perpustakaa, penelitian dan pengembangan atau tata usaha. Beberapa orang
masih boleh mengerjakan karya-karya jurnalistik, tetapi tidak boleh mencantumkan
namanya. Mereka seolah-olah hanyalah sejumlah angka di tengah seonggojan
manusia. Ada pula yang harus bersembunyi “di bawah tanah” untuk menghindari
kejaran polisi yang akan menangkapnya, walaupun pimpinan redaksinya berusaha
membujuk wartawan itu supaya menyerahkan diri.108
Sejumlah wartawan ditangkap, kemudian diintrogasi oleh kepolisian dan
diperiksa oleh kejaksaan, mereka harus divonis pengadilan seolah-olah selalu harus
di penjarakan. Mereka dihukum karena menerbitkan majalah tanpa mendapat surat
izin usaha penerbitan pers (SIUPP) dari Departemen Penerangan atau karena
memuat tulisan yang tidak menyenangkan para pejabat pemerintah dalam terbitan
107
Mochtar Lubis,2008, Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru.
Jakarta:Yayasan Obor Indonesia,Hlm. 15.
108
Sularto,op.cit hlm. 110.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
91
bawah tanah mereka. Akibat psikologis lain terhadap para wartawan, antara lain
timbul rasa ketidakpastian dalam profesi. Juga dalam melakukan tugas sehari-hari
sebagai wartawan, selalu mengalami kesulitan dalam menentukan berita mana yang
boleh dan tidaknya, sumber-sumber berita pun ikut tidak pasti karena takut
memberikan informasi. Kerugian material sudah jelas, dengan tidak terbitnya surat
kabar sampai waktu yang tidak ditentukan. Karena mengambangnya berita-berita
akibat ketidakpastian para wartawan menyebabkan isi surat kabar tidak menarik,
sehingga para langganan kehilangan minat untuk membaca surat kabar, maka
turunlah tiras surat kabar setelah terjadinya pembredelan.109
Pencabutan SIUPP Tempo, Editor, Detik pada tanggal 21 Juni 1994,
memberikan pukulan berat bagi pemimpin redaksi dan para wartawan yang hidup
dibawah naungan majalah yang telah dicabut SIUPPnya, reaksi solidaritas sesama
wartawan membanjiri demonstrasi untuk membantalkan pencabutan SIUPP
terhadap tiga majalah tersebut. Namun apalah arti kebebasan pers bagi penguasa
yang ada hanyalah alasan kenapa SIUPP ketiga majalah tersebut dicabut salah
satunya karena sudah berani mengangkat perkembangan politik, serta sosial dan
pelanggaran HAM.
Dengan alasan-alasan pencabutan SIUPP yang sebenarnya sama dengan
pembredelan hanya itu pembredelan secara legal agar bisa berlindung di bawah
peraturan Menpen ttng SIUPP. Wartawan yang mencoba berjuang membela harkat
pers kini makin mengalami berbagai represi. Hal ini telah ditunjukan secara
berlebihan oleh aparat berseragam loreng. Terutama saat membungkam “aksi 27
109
Abdurrachman Surjomihardjo, op.cit.hlm. 202.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
92
Juni” para wartawan dihadapi dengan tindak kekerasan. Beberapa wartawan
menjadi korban pemukulan. Sikap saling pengertian antara wartawan dengan aparat
keamanan yang terjadi selama ini, pupus sudah. Tekanan terhadap para wartawan
saat ini memang besar. Di tingkat intern, para wartawan yang terlibat aksi mendapat
berbagai tekanan dari pimpinannya.110 Jadi bisa dimaklumi bila tidak ada pemimpin
redaksi yang berani menghadapi desingan “peluru”. Pemimpin redaksi kini lebih
banyak yang bersembunyi dalam berbagai pembelaan dan siasat untuk terus
berjuang dengan cara moderat, dari pada “sesekali berani mati”. Mereka bisa
menindas diri sendiri lewat self sensorship yang merusak jiwa, semangat dan hati
nurani wartawan.111
Pencabutan SIUPP yang memiliki kekuatan di bawah peraturan Menpen
yang mulanya menjadi suatu peristiwa yang bisa dipahami bagi kalangan
konglomerat, bagi para wartawan yang memperjuangakan kebebasan pers dan
idealisme sebagai seorang wartawan sesuai dengan kode etik jurnalistik,
pemberdelan dibalik pencabutan SIT, SIC dan setelah diberlakukannya UU PP
No.11 tahun 1982, dengan di tambahkannya pasal tentang wajib memiliki SIUPP,
pencabutan izin terbit yang telah berubah-ubah hanya menjadi topeng dibalik
pembredelan, izin terbit yang harus dimiliki oleh Pers hanya sebagai alat untuk
melegalkan pembungkaman pembritaan pers yang dapat menggangu kestabilan
politik dan keamanan.
Tindakan pemerintah terhadap pencabutan ataupun pembatalan izin terbit
sudah cukup dipahami oleh pers, namun pembatalan SIUPP Tempo, Detik, Editor
110
Ayu Utami ,et al,1994, Bredel 1994:Kumpulan tulisan tentang pembredelan Tempo, Detik,
Editor,Jakarta:Aliansi Jurnalis Independen.hlm. 17.
111
Ibid. Hlm. 19.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
93
sudah tidak lagi dapat memaksakan para wartawan untuk hidup selalu penuh
dengan kompromi di bawah pemerintahan otoriter. Kehidupan pers yang serba
kompromi dengan penguasa mengakibatkan terjadinya perpecahan dikalangan
pemerintah, ada wartawan yang masih berjuang demi kebebasan pers meskipun
penuh dengan akibat yang membahayakan, dan adapula wartawan yang lebih
memilih kehidupan aman dan mengabaikan kebebasan serta solidaritas sesama
wartawan dengan hidup diantara para pejabat pemerintah.
Wartawan-wartawan yang sudah tidak lagi bisa memahami pemberdelan
ditengah isu perpecahan ditubuh intern wartawan, sejumlah wartawan dari berbagai
kota di Jawa berkumpul, dan kemudian memproklamirkan “Deklarasi Sirnagalih
pada 7 Agustus 1994 yang berisikan sebagai berikut: 112
“Bahwa seungguhnya kemerdekaan berpendapat, memperoleh informasi,
dan kebebasan berserikat adalah hak asasi setiap warga negara. Bahwa sejarah pers
Indonesia berangkat dari pers perjuangan yang menjunjung tinggi kebenaran dan
keadilan serta melawan kesewenang-wenangan. Dalam melaksanakan misi
perjuangannya, pers Indonesia menempatkan kepentingan dan keutuhan bangsa di
atas kepentingan pribadi maupun golongan. Indonesia adalah negara hukum, karena
itu pers Indonesia melandaskan perjuangannya pada prinsip-prinsip hukum yang
adil dan bukan pada kekuasaan. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, maka kami
menyatakan: menolak segala bentuk campur tangan, intimidasi, sensor dan
pembredelan yang mengingkari kebebasan berpendapat dan ak warga negara
memperoleh informasi. Menolak segala upaya mengaburkan semangat pers
Indonesia sebagai pers perjuangan. Menolak pemaksaan informasi sepihak untuk
kepentingan pribadi dan golongan, yang mengatasnamakan kepentingan bangsa.
Menolak penyelewengan hukum dan produk-produk hukum yang bertentangan
dengan Pancasila dan UUD 1945. Menolak wadah tunggal profesi kewartawanan.
Memproklamirkan pendirian Aliansi Jurnalis Independen sebagai salah satu wadah
perjuangan pers Indonesia.
Deklarasi yang dikeluarkan 7 Agustus 1994 itu, mencoba merevitalisasi
peranan pers sebagai kekuatan pembangun, kekuatan pengontrol, yang bukan
112
Ibid, hlm. 122.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
94
sekedar menjadi alat politik pemerintah. Melalui deklarasi tersebut, para wartawan
juga memproklamirkan sebuah organisasi baru yang disebut Aliansi Jurnalis
Independen (AJI). Kehadiran AJI akan menguji dan mempertanyakan kembali
keberadaan PWI sebagai satu-satunya organisasi profesi resmi wartawan. Jelas
dalam kasus pembredelan, PWI lebih meyuarakan kepentingan birokrat Departeman
Penerangan dari pada anggotnya. Rasanya aneh, bila ada ratusan wartawan
kehilangan pekerjaan akibat medianya dibredel tanpa proses peradilan, PWI hanya
berkata bisa memaklumi, sikap PWI yang lebih memihak para pemegang kekuasaan
dari pada solidaritas terhadap sesama wartawan, membuat seroang Mochtar Lubis
keluar dari keanggotaan PWI karena ketika ia di penjara tidak ada tindakan yang
dilakukan oleh PWI. Sikap berani PWI inilah yang memberikan suatu kesadaran
bagi para wartawan yang masih memperjuangkan kebebasan pers meskipun di
bawah tekanan pemerintah, bergabung dalam AJI yang memberikan mereka ruang
baru untuk memperjuangkan kebebasan pers.
Setelah G 30 S, Orde Baru menggunakan PWI sebagai alat untuk
membersihkan pers nasional dari anasir-anasir Orde Lama. PWI ganti memecati
para wartawan yang dituduh terlibat gerakan makar itu atau dekat dengan PKI. Pada
tahun-tahun pemantapan kekuasaan Orde Baru. PWI sudah tak berdaya lagi sebagai
organisasi independen. PWI tak bisa lagi membela anggotanya ketika pemerintah
membreidel puluhan surat kabar terkait dengan peristiwa Malari 1974. PWI
digunakan juga sebagai alat konsolidasi politik, yaitu dengan meresmikannya
sebagai organisasi wartawan satu-satunya di Indonesia, tepatnya pada 20 Mei 1975.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
95
Peresmian itu memudahkan pemerintah untuk melakukan “Golkarisasi” di tubuh
PWI, terutama ketika PWI diketuai Harmoko.
Harmoko sendiri memang tercatat sebagai ironi dalam sejarah pers nasional.
Pada masa-masa awal Orde Baru, ia adalah wartawan yang paling sengit menolak
keinginan pemerintah untuk menjadikan PWI sebagai satu-satunya organisasi
wartawan Indonesia. PWI semakin “jinak” setelah pemerintah berhasil mendudukan
Harmoko sebagai ketua PWI dan Menteri Penerangan. Sehingga PWI dapat
memaklumi ketika menyikapi pembredelan tiga media pada tahun 1994. Kooptasi
negara Orde Baru ke dalam tubuh PWI sedemikian parah sehingga pemerintah
membuatnya menjadi alat adu domba antar wartawan. Tercatat, PWI terlibat konflik
permanen dangan AJI. Konflik bahkan sampai pada tingkat pengingkaran, di mana
PWI tak mengakui kewartawanan yang menjadi anggota AJI. 113
Tidak banyak wartawan yang ikut bergerak menentang pembredelan. Di
bagian redaksi, wartawan justru mendapat himbauan untuk tidak ikut bergerak,
yang nekad harus menanggung resiko dan beberapa konsekuensi. Tampaknya era
pers industri yang lebih mementingkan tiras dari pada idealisme berhasil
mempolarisasi wartawan dalam kotak-kotak kepentingan bisnis perorangan yang
bertopeng di balik kepentingan lembaga. Erosi tak hanya memudarkan etos pers
Indonesia, tapi juga memudarkan solidaritas wartawan Indonesia.
C. Tenaga Kerja Pers.
Ketidakpastian lamanya waktu pembredelan, telah memberikan dampak
terhadap tenaga kerja pers, ada yang beralih kepenerbitan lain, di PHK, dan tetap
113
Taufik Rahzen, et.al, 2007,Tanah air bahasa: seratus jejak pers Indonesia,Jakarta:
I:BOEKOE,hlm. 193.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
96
bekerja dengan resiko penurunan gaji, hal inilah yang dirasakan karyawan pers,
penulis mengambil dua contoh penerbitan pers yang sudah cukup mapan ketika
dibredel seperti harian Kompas dan majalah Tempo.
Selanjutnya penulis mencoba memberikan gambaran dampak pembredelan
terhadap tenaga kerja Kompas namun dalam pemaparan data penulis tidak dapat
memberikan data secara rinci karena data tentang karyawan Kompas tidak
diarsipkan oleh penerbit Kompas ketika pembredelan tahun 1978, penulis
memaparkan data sesuai hasil wawancara dengan pihak Kompas terkait
pembredelan tahun 1978.114 Serta perkiraan jumlah karyawan Kompas 2.500
termasuk wartawan yang dipaparkan Jakob Oetama.
Tabel. 3 Tenaga kerja Kompas
Oplah
275.000 setiap terbit
Pemimpin Umum
P.K Ojong
Pemimpin Redaksi
Jakob Oetama
Wakil Pemimpin Redaksi
P.Swantoro
Sumber: St. Sularto. 2007. Kompas menulis dari dalam. Jakarta: Kompas Media
Nusantara.hlm. 135.
Dapat kita tarik kesimpulan bahwa ketika pada tahun 1978 harian Kompas
sudah memiliki jumlah oplah dan karyawan yang tidak sedikit jumlahnya, oleh
sebab itu pembredelan yang dilakukan oleh pemerintah akan sangat menyedihkan
bagi kelangsungan nasib karyawan yang bernaung di bawah harian Kompas pada
saat itu, sehingga pemimpin redaksi harus memilih jalur berkompromi dengan
Presiden Soeharto agar bisa terbit kembali, karena mempertimbangkan faktor
kemanusiaan oleh sebab itu pihak Kompas tidak dapat menerima begitu saja
pembredelan yang terjadi.
114
Hasil wawancara dengan Ibu Laurensia Fransiska Humas Kompas Gramedia Jakarta, 12 Januari
2017.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
97
Selain pemaparan tentang tenaga kerja Kompas penulis juga memaparkan
penjelasan mengenai jumlah karyawan Tempo penulis mengambil dari halaman
redaksi edisi juni 1994 adapun daftar karyawan Tempo pada saat diberedel
dipaparkan dalam tabel.4 di bawah ini:
Tabel.4 Tenaga kerja Tempo
Oplah
180.000 setiap terbit
Pemimpin Umum
Eric Samola,S.H.
Wakil Pemimpin Umum
Harjoko Trisnadi
Pemimpin Perusahaan
Harjoko Trisnadi
Pemimpin Redaksi
Goenawan Mohamad
Wakil Pemimpin Redaksi
Fikri Jufri
Sumber: Tempo 11 Maret 1994
Tabel.4 di atas mencoba memberikan sedikit gambaran tentang jumlah tenaga
kerja pada Juni 1994 menjelang pembredelan. Dalam buku putih Tempo dibagian
pengantar Goenawan Mohamad mengatakan bahwa hanya sepucuk surat keputusan
Menteri Penerangan, tiba-tiba lebih dari satu juta pembaca Tempo kehilangan hak
untuk mendapatkan informasi pilihan mereka. Sebanyak 300 orang lebih putus dari
pekerjaan. Sekitar 300 agen dan 6.000 pengecer tak punya lagi barang dagangan.
Kira-kira 50 biro iklan luput dari pendapatan. Tabel tenaga kerja Tempo di atas
merupakan gambaran dari sebagain kecil karyawan yang pada saat dibredel
mengalami nasib yang tidak pasti.
D. Kehidupan Pers Mahasiswa
Pada tahun 1966, ketika dirasakan bahwa kelompok mahasiswa itu berguna bagi
kalangan militer di sekitar Mayor Jenderal Soeharto untuk menjatuhkan kekuasaan
Presiden Soekrano, maka kelompok tersebut dipakai untuk kepentingang itu.
Namun ketika mahasiswa mulai bersikap kritis terhadap pemerintahan Orde Baru,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
98
tak segan-segan kakitangan Soeharto bertindak dan menggunakan kekerasan. Pada
Februari 1970 tentara menduduki kampus ITB, karena adanya rangkaian melawan
pemerintah sejak bulan sebelumnya.115
Aksi kritis mahasiswa terkait kinerja pemerintah yang tidak sesuai dengan
asas keadilan serta demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan untuk menyampaikan
aspirasi masyarakat melalui mahasiswa, telah memberikan ketidaknyamanan
dikalangan para pejabat, dan aksi-aksi mahasiswa tersebut dalam menganggu
kestabilan politik jika terus dibiarkan. Setelah saling bekerjasama ikut membangun
Orde Baru, aksi mahasiswa mulai dianggap sebagai ancaman hal ini semakin
memperkokoh keinginan pemerintah untuk membatasi pers mahasiswa setelah
peristiwa Malari 1974 aksi demonstrasi mahasiswa terkait modal asing, asisten
pribadi, dan Undang-undang perkawinan. Setelah peristiwa Malari dan pembredelan
terhadap pers nasional dan beberapa pers mahasiswa, masih terus melakukan kritik
terhadap pemerintah atas fenomena-fenomena ketidakadilan yang dirasakan
masyarakat.
Menjelang sidang umum MPR tahun 1978, pemerintah melakukan tindakan
pembredelan terkait pemberitaan tentang demonstrasi mahasiswa anti Soeharto
dicalonkan kembali menjadi Presiden. Pemerintah memberlakukan kebijakan
Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) merupakan kebijakan yang sangat
fenomenal. kebijakan yang dikeluarkan tahun 1978 tersebut tidak hanya berhasil
115
Asvi Warman Adam,et.all. 2006. Soeharto Sehat. Yogyakarta:Galangpress, hlm. 29.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
99
membungkam dan mematikan kegiatan kemahasiswaan saat itu, tetapi dampaknya
juga terasa hingga saat ini.116
NKK telah berhasil membalikan aktivitas kemahasiswaan yang semula peduli
terhadap persoalan-persoalan kebangsaan menjadi mahasiswa yang lebih asik
dengan duniannya sendiri. Mahasiswa yang semula merasa dekat dan mau
mendengar keluh kesah masyarakat kini menjadi mahasiwa yang terkurung dalam
aktivitas akademik kampus. Kalaupun ada mahasiswa yang perduli pada persoalanpersoalan politik dan kebangsaan, hal itu lebih pada aktivitas sporadis, seperti unjuk
rasa sebagian kecil mahasiswa. Itupun menjadi terasa aneh bagi lingkungan
sekitarnya.
Kebijakan NKK tidak muncul tiba-tiba. Kebijakan ini melalui rangkaian
peristiwa yang sangat panjang dan penuh dinamika. Bisa dikatakan tahun 1966
ketika mahasiswa membantu militer berhasil menumbangkan Orde Lama menjadi
momentumnya. Setelah peristiwa, mahasiswa seperti mempunyai kekuatan moral
untuk terus mengontrol pemerintahan. Tak heran ketika pemerintah melakukan
penyimpangan, terutama korupsi di tahun 1970-an, beberapa organisasi dan pers
mahasiswa mulai mengkritik pemerintah melalui berbagai demonstrasi. Pemerintah
pun menanggapi kritik tersebut masih dengan halus. Begitu juga ketika sebagian
mahasiswa mengampayekan golongan putih atau golput karena mereka menilai
pemilu tahun 1971 tidak jujur dan tidak adil, pemerintah menanggapinya dengan
sikap yang tidak terlalu represif.117
116
Bambang Sigap Sumantri, et.al. 2015. 50 Tahun Kompas Memberi Makna. Jakarta:PT.Kompas
Media Nusantara.hlm. 71.
117
Bambang Singap Sumantri.et.al.op.cit.hlm. 72.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
100
Namun ketika aksi-aksi mahasiswa semakin meluas,terutama saat pemerintah
akan membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di tahun 1973, reaksi
pemerintahan yang dipimpin Presiden Soeharto mulai bertindak keras. Sejumlah
tokoh mahasiswa ditangkap dan sejumlah pers nasional dan pers mahasiswa
dibredel. Reaksi semakin keras ketika di tahun 1974 mahasiswa mulai memprotes
kesenjangan ekonomi dan dominasi modal asing di Indonesia. Puncaknya terjadi
saat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Jakarta pada 15 Januari
1974 dan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi serta massa ada yang membakar
mobil-mobil Jepang, pemerintah tidak bisa lagi berdiam diri. Pemerintah bersikap
sangat represif. Ratusan tokoh mahasiswa ditangkap dan pers dituding sebagai
pengahasut.
Tak cukup itu setelah peristiwa yang disebut “Malapetaka 15 Januari “
(MALARI), pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 028 tahun 1974
yang isinya sangat tegas, melarang kegiatan politik di kampus.
Upaya
membungkam suara kritis mahasiswa tersebut sangat nyata, dampaknya pun terasa,
karena sejak 1974 tidak ada lagi aksi-aksi mahasiswa yang bersifat massal.
Mahasiswapun tiarap menghadapi rezim penguasa yangs semakin kuat dengan
dukungan militer. Sekilas pemerintah berhasil meredam suara kritis mahasiswa.
Padahal, kekecewaan dan ketidakpercayaan mahasiswa terhadap pemerintah
semakin meluas.
Pada awal tahun 1978 mulai muncul berbagai bentuk unjuk rasa yang
mengekspresikan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Apalagi partai Golkar yang
dikendalikan oleh Presiden Soeharto berhasil meraih kemenangan mutlak dalam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
101
pemilu 1977. Puncak menjelang sidang umum MPR 1978, gejolak mahasiswa tak
bisa lagi ditahan, berbagai aksi demonstrasi dilakukan mahasiswa di hampir semua
perguruan tinggi dengan substansi yang sama”menolak terpilihnya kembali
Soeharto sebagai Presiden periode 1978-1983. Berbeda dengan tahun 1966 ketika
mahasiswa mendapat dukungan militer, dalam aksi 1978 mahasiswa seperti berjalan
sendiri tak ada kekuatan politik yang membantu mahasiswa karena sudah
dilumpuhkan terlebih dahulu. Pembredelan terhadap beberapa surat kabar nasional
dan surat kabar mahasiswa dilakukan kembali oleh pemerintah. Upaya
melumpuhkan gerakan mahasiswa semakin efektif ketika pemerintah, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan saat itu Daoed Joesoef mengeluarkan Surat Keputusan
Nomor 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Melalui
kebijakan tersebut kampus steril dari kegiatan politik. Mahasiswa tidak boleh lagi
melakukan kegiatan apapun yang bernuansa politik.
E. Euforia Kebebasan Pers Pasca Orde Baru
Pemerintahan otoriter hanya menyebabkan disintegrasi politik yang pada
akhirnya menyebabkan keruntuhan, sekuat apapun kekuasaan itu pernah memimpin
sebuah negara, jika dijalankan oleh pemerintah yang otoriter pasti tidak bertahan
selamanya. Terbatasnya ruang masyarakat untuk berkembang serta hidup di bawah
tekanan pemerintah dan hanya memfokuskan hanya di satu bidang kehidupan akan
mengakibatkan rakyat menuntut, atas apa yang pernah dijanjikan pemerintah untuk
kehidupan yang sejahtera. Tapi kenyataannya tidaklah semudah membuat janji-janji
untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat, semua butuh waktu yang cukup
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
102
lama. Masyarakat dan pers sangatlah erat kaitannya, karena pers adalah bentuk dari
aspirasi rakyat yang disampaikan terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.
Pemerintahan otoriter penuh dengan tindakan represif, dan pengekangan
tehadap kebebasan menyebabkan kemiskinan budaya dan kemampuan masyarakat.
Pembredelan pers merupakan pengasingan secara spiritual tehadap para jurnalis
tindakan
tersebut
bagaikan
pencorengan
muka
Orde
Baru
dan
politik
pembangunannya. Jika kita dapat belajar dari sejarah, ada beberapa hal yang
mencolok: rezim-rezim represif berakhir karena disintegrasi politik negaranya.
Contoh dari luar seperti sejarah Shah Reza Pahlevi di Iran, meskipun memiliki
tentara yang kuat, intelijen Savak yang terorganisir dan dikenal ganas, dan sumber
keuangan berlimpah, toh berhasil digoyahkan oleh gerakan yang dipimpin ulamaulama tua, mahasiswa, buruh dan kaum pedagang. Lebih mengherankan lagi
negara-negara bekas Uni Soviet dan negara-negara satelitnya di Eropa Timur,
negara-negara yang didirikan melalui revolusi itu, khususnya negara induknya yaitu
Uni Soviet sendiri, mempunyai kekuatan militer dalam sekala super power, hasil
rezim represif itu adalah disintegrasi sistem politik dan ekonomi.118
Singkatnya tindakan-tindakan represif rezim Orde Baru, baik dalam bentuk
berbagai pencabutan izin terbit yang pada akhirnya berbentuk pembatalan SIUPP
ataupun perlakuan terhadap para demonstran sangatlah menghawatirkan bagi
perkembangan demokrasi negeri ini. Tindakan itu diperlihatkan kepada kita bahwa
118
Ibid,hlm. 46.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
103
suksesi yang kelak pasti akan terjadi nanti, akan lebih disebabkan faktor-faktor
alamiah, bukan karena konstitusional. 119
Fakor-faktor alamiah yang akan muncul adalah akibat dari tindakan represif
pemerintah hampir dalam segala bidang, tapi pada masa Orde Baru bidang yang
hanya menjadi fokusnya adalah pembangunan ekonomi serta kestabilan politik,
oleh sebab itu selama Orde Baru demonstrasi yang telah terjadi tidak lain karena
isu-isu politik serta gagalnya pemerintah memberikan kesejahteraan bagi
masyarakat, seperti Peristiwa Malari 1974 adalah demonstrasi yang cukup besar dan
berhasil mengejutkan penguasa bahwa jika, wartawan, cendikiawan dan masyarakat
secara umum jika bergabung menentang pemerintah, pemerintahan yang represif
tidaklah seberapa kekuatannya. Hanya saja aksi tersebut belumlah matang yang
pada akhirnya harus tunduk terhadap pemerintah yang represif kembali.
Corak pemerintahan otoriter hampir mewarnai segala bidang, seperti halnya
terhadap kehidupan pers dipegang penuh oleh Presiden Soeharto dan Menteri
Penerangan, hal ini tercermin dari kebijakan terhadap pers serta lembaga pers hanya
sebagai boneka saja untuk mengontrol pers agar tetap menjaga kestabilan politik
dan keamanan. Selama rezim Orde Baru pers Indonesia hidup dibawah slogan pers
bebas dan bertanggung jawab, dan dibawah bayang-bayang pembredelan. Pada
dasarnya pers dapat menentang budaya politik yang tidak sejiwa dengan falsafah
dan ideologi yang tercantum dalam konstitusi. Walaupun demikian, corak isi dan
pola penyajian berita tetap akan mencerminkan budaya politik yang tumbuh dan
berkembang selama rezim Orde Baru.
119
Idem.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
104
Euforia menuju pers bebas mulai dirasakan sejak berlangsungnya
demokratisasi kehidupan sosial politik pada awal masa pemerintahan Presiden B.J.
Habibie pertengahan tahun 1998 setelah rezim represif Presiden Soeharto dan Orde
Barunya runtuh, pandangan mengenai peranan pers, turut mengalami perubahan.
Seiring dengan adanya perubahan tersebut, peraturan Menteri Penerangan No. 01
tahun 1984 dicabut dengan peraturan Menteri Penerangan No.01 tahun 1998,
sehingga pers nasional mulai memperoleh kebebasan melakukan pengumpulan
berita (news gathering), pengolahan (news editing) dan penyajian bahan berita
(news presenting) serta kebebasan dari berbagai tekanan dan ancaman pihak luar
sewaktu melaksanakan tugas jurnalistik.
Sesuai dengan ketentuan pasal 23 Peraturan Menteri Penerangan No. 01 tahun
1998, kewenangan Menteri Penerangan dibatasi pada pengenaan sanksi
administratif, yakni pemberian peringatan tertulis, pembekuan SIUPP untuk waktu
tertentu dan penyelesaian melalui pengadilan. Meskipun masih memberikan
kewenangan kepada Menteri Penerangan membekukan SIUPP, secara formal,
pencabutan sanksi pembatalan SIUPP yang mempunyai akibat yang sama dengan
akibat pembredelan, akan mengurangi kesenjangan antara undang-undang yang
memuat ketentuan pokok dan peraturan Menteri yang memuat ketentuan
pelaksanaan mengenai pers.
Pencabutan
sanksi
pembatalan
SIUPP
ini
dengan
sendirinya
pula
menempatkan pers nasional pada jalur menuju pers yang bebas dan merdeka.
Hilangnya sanksi pembatalan SIUPP, langsung disikapi pengelola penerbitan pers
dengan melakukan penyesuaian corak dan pola pengumpulan, mengolah berita yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
105
mengandung pro dan kontra, kritik fakta yang tidak sesuai dengan demokrasi,
penyimpangan dan perbuatan melawan hukum yang dilakukan aparatur pemerintah,
ketidakadilan di berbagai bidang, pengingkaran dan penindasan hak-hak asasi
masyarakat dsb. Berita-berita itu ditulis dalam semangat keterbukaan dan perubahan
yang diorientasikan pada upaya menciptakan kehidupan sosial, politik demokratis
dan pencepatan pemulihan perekonomian nasional yang sedang mengalami krisis.
Perubahan tahun 1998 sungguh-sungguh perubahan besar yang bahkan
menyentuh sendi kehidupan masyarakat bangsa dan negara, ikut dirombak ,diubah,
direposisikan kembali. Benar-benar euforia demokrasi, partai-partai mulai berdiri
kembali, pers bebas tidak lagi memerlukan izin terbit, pemilihan umum yang
demokratis diselenggarakan, pemerintah baru, Presiden dan wakil Presiden dipilih
oleh MPR, hasil pemilihan umum.120
120
Jakob Oetama, 2000, Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Jakarta,
Kompas Media Nusantara, hlm.74.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dari BAB II sampai BAB IV, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Lahirnya Orde Baru telah memberikan perubahan sikap pemerintah terhadap
kehidupan pers Indonesia, pers Indonesia yang semula menjadi pers
perjuangan mulai berubah menjadi pers partisan. Pada awal pemerintahan
Orde Baru pers bekerjasama untuk membangun kekuasaan Orde Baru secara
penuh setelah konsolidasi kekuasaan Orde Baru mulai kuat, pemerintah mulai
menunjukan perubahan sikap terhadap pers yang mengkritik kinerja dan
kebijakan yang dianggap tidak adil. Agar pemberitaan pers tidak
menimbulkan kericuhan serta ketidakstabilan politik, maka pemerintah
mengendalikan pers melalui kebijakan-kebijakan yang belaku bagi kehidupan
pers nasional seperti, Surat Izin Terbit (SIT), Surat Izin Cetak (SIT), dan Surat
Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), setelah berlakunya Undang-Undang
Pokok Pers No.21 Tahun 1982.
2. Selama masa Orde Baru terjadi beberapa kali peristiwa besar telah mengubah
sikap Pemerintahan Presiden Soeharto terhadap pers yang semakin
menyempitkan kebebasan pers. Seperti pers gencar mengulas fenomena
korupsi dan penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah, dan puncaknya
ketika surat kabar memberitakan penolakan terhadap modal asing Jepang,
serta dilakukan demonstrasi atas kedatangan Perdana Menteri Jepang ke
Indonesia. Peristiwa meletusnya demostrasi mahasiswa ini dikenal dengan
106
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
107
Peristiwa Malari 1974, pasca peristiwa Malari Pemerintah membredel 11
Surat kabar dan 1 majalah. Peristiwa Malari menjadi tolok ukur tindakan
represif pemerintah terhadap pers Indonesia.
Selama masa Orde Baru Pemerintah membredel dalam beberapa bentuk
seperti: pencabutan SIC dan SIT pada masa berlakunya Undang-Undang Pokok
Pers No.11 Tahun 1966, jumlah pencabutan SIC oleh Laksusda Kopkamtibda
sebanyak 2 kali, dan pencabutan SIT berjumlah 28 kali terhadap surat kabar,
majalah, tabloid. Dihapuskannya SIT dalam Undang-Undang Pokok Pers No.21
Tahun 1982 perubahan atas Undang-Undang Pokok Pers tahun 1966 dan 1967,
kebijakan SIUPP mengantikan SIT yang telah dihapus, maka pembredelan mulai
tahun 1982 dilakukan dengan bentuk pembatalan SIUPP yang dilakukan oleh
Menteri Penerangan dan tidak jarang pembredelan yang dilakukan hanya melalui
telepon yang dikenal dengan budaya telepon. Jumlah pencabutan SIUPP yang
dilakukan oleh Menteri Penerangan 11 kali terhadap surat kabar, majalah dan
tabloid.
Alasan-alasan pemerintah seperti alasan politik, ekonomi, SARA, dan
pronografi dalam mempertimbangkan menjinakan pers melalui tindakan represif
dan berakhir dengan pembredelan, adalah untuk menjaga kestabilan keamanan dan
politik nasional adalah alasan paling utama pemerintah dalam membredel pers, agar
tidak terjadi kericuhan yang dapat menjatuhkan pemerintahan seperti peristiwa
September 1965 yang dikenal dengan G 30 S.
3. Berbagai pembredelan yang terjadi di bawah Pemerintahan Presiden Soeharto
pada masa Orde Baru memberikan berbagai dampak terhadap kehidupan pers,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
108
bukan hanya terkait kebebasan pers yang sama sekali dibatasi. Namun lebih
luas dari itu dampak yang dirasakan bagi keberlangsungan kehidupan pers
nasional, seperti dalam bidang Industri, tenaga kerja pers, profesi wartawan,
kehidupan pers mahasiswa, karyawan pers dan euforia kebebasan pers.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ahmad Zaini Abar. 1995. 1966-1974 Kisah Pers Indonesia. Yogyakarta: Lkis.
Alfian, 1991. Komunikasi Politik dan Sistem Politik di Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Asvi Warman Adam.et.all. 2006. Soeharto Sehat. Yogyakarta: Galangpress.
Atmadi.T. 1985. Sistem Pers Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
Atmakusumah.1981.Kebebasan Pers dan Arus Informasi.Jakarta:Lembaga Studi
Pembangunan.
____________.1997. Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Jakarta:
YOI.
Ayu Utami. et.al. 1994. Bredel 1994: Kumpulan tulisan tentang pembredelan
Tempo, Detik, Editor. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen.
Bambang Sigap Sumantri, et.al. 2015. 50 Tahun Kompas Memberi Makna.
Jakarta:PT.Kompas Media Nusantara.
Crouch Harold. 1999. Militer & Politik di Indonesia. Jakarta:Surya Usaha Ningtias.
Didi Prambadi. et.al. 1994. Buku Putih TEMPO:Pembredelan Itu. Jakarta: Alumni
Majalah Tempo.
Hugh Purcell.2004. Fasisme. Yogyakarta;Resist Book.
Haris Sumadiria. 2014. Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Hamzah.et.al. 1987. Delik-delik pers di Indonesia.Jakarta: Media Sarana Press.
Hotman, M. Siahaan.et.al. Tajuk-tajuk dalam Terik Matahari: Empat Puluh Tahun
Surabaya Post. Surabaya:Yayasan Keluarga Bakti.
Hill, David.T. 2011. Pers di Masa Orde Baru. Jakarta:Obor Indonesia.
Indah Suryati. 2014. Jurnalistik Suatu Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia.
Jakob Oetama. 2000.Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus.
Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Mansyur Semma. 2008. Negara dan Korupsi. Jakarta: Obor Indonesia.
109
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
110
Mochtar Lubis. 2008. Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara
Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mondry.2008. Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor: Ghalia Indonesia.
Nugroho
Notosusanto.
1978.
Masalah
Penelitian
Sejarah
Kontemporer.
Jakarta:Yayasan Indayu.
Oemar Seno Adji. 1977. Pers, Aspek-aspek Hukum.cet.2.Jakarta:Erlangga.
______________.1990. Perkembangan Delik Pers Di Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Rosihan Anwar. 2004. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Yogyakarta:Media
Abadi.
_____________.1992. Indonesia 1966-1983:dari Koresponden Kami di Jakarta,
Jakarta:Pusataka Utama.
Uka Tjandrasasmita. 2010. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia.
Smith. Edward.C. 1986. Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia; penerjemah:
Atmakusumah, et.al. Jakarta: Pustaka Utama GrafitiPers.
Subagyo,et.al. 1987. Rekaman Peristiwa ’86. Jakarta: PT.Sinar Agape Press.
Suhartono W. Pranoto. 2010. Teori dan Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Surjomihardjo Abdurrachman. 2002. Beberapa Segi Perkembangan Pers di
Indonesia. Jakarta:Kompas Media Nusantara.
Sularto. 2001. Humanisme dan Kebebasan Pers. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Sutarjo Adisusilo.J.R. 2016. Revolusi Eropa Menjadi Modern. Yogyakarta: Sanata
Dharma University Press.
________ 2015. Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama.Jakarta:
.Kompas Media Nusantara.
_______ 2007. Kompas menulis dari dalam. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Taufik Rahzen, et. al., 2007. Tanah air bahasa: seratus jejak pers Indonesia.
Jakarta: I:BOEKOE.
Jurnal
Ashadi Siregar. 2000. Media Pers dan Negara: Keluar dari Hegemoni. Jurnal Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Politik. Volume 4. No.2.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
111
Efendi Gazali. 2004. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.Volume 8.No.1.
Inge Hutagalung. 2013.Dinamika Sistem Pers di Indonesia” Jurnal Interaksi.
Volume II No. 2.
Mochtar Lubis. 1978. Etos Pers Indonesia” Prisma, No.11, LP3ES.
Susilastuti. 2000.Kebebasan Pers Pasca Orde Baru. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Volume.4.No.2.
Yuli Andanwati. 2013. Pembredelan Sinar Harapan Tahun 1986. Avatara E-journal
Pendidikan Sejarah..Vol I . No.3.
Sumber Koran
Goenawan Mohamad, SIUPP, Tempo. 22 Juli 1991.
Pelita. 20 Januari 1978
Tempo.21 Februari 1979.
Tempo. 11 April 1987.
Tempo.19 Maret 1994.
Tempo,11 Juni 1994.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
LAMPIRAN
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 1a
PELAKSANA KHUSUS PANGLIMA KOMANDO OPERASI
PEMULIHAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN DAERAH
JAKARTA RAYA DAN SEKITARNYA
SURAT KEPUTUSAN
Nomor: KEP-007-PK/1/1974
TENTANG PENCABUTAN IZIN CETAK SURAT KABAR HARIAN
“INDONESIA RAYA”
PELAKSANAAN KHUSUS PANGLIMA KOMANDO OPERASI
PEMULIHAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN DAERAH JAKARTA
RAYA DAN SEKITARNYA
Menimbang:
1.
Bahwa dipandang perlu untuk mengambil tindakan terhadap surat kabar
“INDONESIA
RAYA”
dengan
pencabuan
Surat
Izin
Cetak
No.
KEP.063.PK/1C/VIII/1973 tanggal 1 Agustus 1973 yang diberikan kepada
PT.BADAN PENERBIT “INDONESIA RAYA” Jln.Veteran I No.28
Jakarta.
2.
Tindakan pencabutan Surat Izin Cetak tersebut atas pertimbanganpertimbangan sebagai berikut:
a. Surat kabar harian INDONESIA RAYA telah melanggar semangat
dan jiwa dari ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
TAP.MPR.NO.IV/MPR/1973 dan UU No.11 tahun 1966.
b. Surat kabar harian INDONESIA RAYA telah memuat tulisan yang dapat
merusak kewibawaan & kepercayaan kepemimpinan nasional.
c. Surat kabar harian INDONESIA RAYA dengan tulisan-tulisannya
dianggap menghasut rakyat, sehingga membuka peluang yang dapat
mematangkan/memperuncing situasi ke arah terjadinya kekacauan-
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
kekacauan seperti pada tanggal 15 dan 16 Januari 1974 dan yang dapat
mengadu domba antara pimpinan yang satu dengan yang lain.
Mengingat :
1. Keputusan Presiden RI No. 19 tahun 1969;
2. Kpts.PANGKOPKAMTIB No.KEP-42/KOPKAM/7/1967.
3. Kpts.LAKSUS
PANGKOPKAMTIB/JAYA
No.KEP.008.PC/11/1967
tanggal 11 November 1967.
4. Kpts.
LAKSUS
PANGKOPKAMTIB/JAYA
No.KEP.063-
PK/IC/VIII/1973 tanggal 1 Agustus 1973.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
PERTAMA : Mencabut Surat Keputusan LAKSUS PANGKOPKAMTIB/JAYA
No. KEP.063-PK/IC/VIII/1973 tanggal 1 Agustus 1973, perihal
Izin Cetak surat kabar harian INDONESIA RAYA yang diberikan
kepada PT.BADAN PENERBIT INDONESIA RAYA (Jl.Veteran I
No.28-Jakarta) yang dicetak pada percetakan PT.Surya Prabha
Jln.Asemka 29-39 Jakarta.
KEDUA : Surat Keputusan ini berlaku mulai saat ditetapkan.
KETIGA : Surat Keputusan ini disampaikan kepada PT.BADAN PENERBIT
INDONESIA RAYA Jln. Veteran I No. 28 Jakarta, untuk diketahui
dan diindahkan.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 21 Januari 1974
AN.PELAKSANA KHUSUS PANGLIMA KOMANDO
OPERASI PEMULIHAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN
DAERAH JAKARTA RAYA DAN SEKITARNYA
Sekretaris
ttd(dan cap)
L.S.M PANGGABEAN S.H
KOLONEL CKH.NRP.12151
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 1b
MENTERI PENERANGAN
REPUBLIK INDONESIA
SURAT KEPUTUSAN MENTERI PENERANGAN
REPUBLIK INDONESIA
No.20/SK/DIRJEN-PG/K/1974
TENTANG PENCABUTAN SURAT IZIN TERBIT (SIT)
SURAT KABAR HARIAN “INDONESIA RAYA”
MENTERI PENERANGAN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang:
a. Bahwa dipandang perlu untuk mengambil tindakan terhadap surat kabar
harian “Indonesia Raya” dengan pencabutan Surat Izin Terbit (SIT)
No.0632/SK/Dir.PDLN/SIT/1968,
tanggal
24
Juli
1968-
0632/Per/SK/DirPP/SIT/1971, tanggal 18 Juni 1971, yang diberikan kepada
PT.Badan Penerbit” INDONESIA RAYA” alamat Jl.Bonang 17 Jakarta.
b. Bahwa tindakan pencabutan Surat Izin Terbit (SIT) tersebut didasarkan
atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
(i) Surat kabar harian “INDONESIA RAYA” telah melanggar semangat
dari ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ketetapan MPR
(TAPMPR) No. IV/MPR/1973 tentang Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN) dan Undang-Undang No.11 Tahun 1966, tentang
ketentuan-ketentuan pokok pers, di mana dijelaskan bahwa mass media
umumnya dan sarana pers khususnya harus menjadi sarana pembinaan
partisipasi rakyat dalam pembangunan dan sebagai saluran pendapat
rakyat yang konstruktif.
(ii) Surat kabar harian “INDONESIA RAYA” telah memuat tulisan-tulisan
yang:
1. Pada hakekatnya menjurus ke arah usaha-usaha untuk melemahkan
sendi-sendi kehidupan bernegara dan/atau ketahanan nasional.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dengan
jalan
mengorbankan
isu-isu
seperti
modal
asing,
korupsi,dwifungsi, kebobrokan-kebobrokan aparat pemerintah,
pertarungan tingkat tinggi, masalah Aspri-Kopkamtib.
2. Merusak kepercayaan masyarakat pada kepemimpinan nasional
3. Mendengungkan kepekaan-kepekaan tanpa memberika pemecahan
yang tepat dan positif, yang dapat diartikan menghasut rakyat untuk
bangkit bergerak untuk mengambil tindakan-tindakan yang tidak
bertanggung jawab yang dapat mengakibatkan gangguan terhadap
ketertiban dan keamanan negara.
4. Menciptakan peluang untuk mematangkan situasi yang menjurus
kepada perbuatan makar.
(iii)
Sekalipun telah diberikan peringatan-peringatan yang tegas dan
keras berkali-kali sejak peristiwa 5 Agustus di Bandung oleh
Kopkamtib terhadap semua media khususnya pers untuk tidak
mempertajam dan memperuncing kontras-kontras sosial yang dapat
menggoncangkan serta merusak stabilitas nasional yang menjadi
syarat mutlak pembangunan, namun ulasan-ulasan, penyajianpenyajian berita maupun tulisn dari surat kabar yang bersangkutan
ternyata tidak menghiraukan peringatan-peringatan tersebut.
(iv)
Surat Izin Cetak dari surat kabar harian yang bersangkutan telah
dicabut oleh Laksus Pangkopkamtibda Jaya pada tanggal 21 Januari
1974.
c. Bahwa pencabutan surat kabar harian “INDONESIA RAYA” itu
bertentangan dengan dan merupakan pelanggaran terhadap fungsi dan
tanggung jawab pers, sebagai mana dimaksud dalam TAP MPR
No.IV/MPR/1973,Undang-undang No.11 tahun 1966 tentang ketentuanketentuan pokok pers, Kode Etik Jurnalistik dan Peraturan Menteri
Penerangan R.I No.03/1969.BAB III Pasal 7d.
d. Bahwa tindakan pencabutan Surat Izin Terbit (SIT) terhadap penerbitan
yang bersangkutan tidak bertentangan dengan kebebasan pers, melainkan
justru menegakkan kebebasan dalam arti sebenarnya dalam rangka tertib
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
demokrasi Pancasila, di mana pers yang dicita-citakan oleh rakyat Indonesia
telah dirumuskan dalam konsensus nasional, TAP MPR No. IV/MPR/73,
yaitu “pers yang bebas dan bertanggung jawab”.
Mengingat:
1. TAP MPR No.IV/MPR/1973
2. Undang-Undang No.11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pers, Khususnya BAB VI, ayat (1) sub c dan d.
3. Peraturan Menteri Penerangan RI No.03/1969, khususnya BAB III
Pasal 7d.
4. Pernyataan Pers Pemerinta-tanggal 17 Januari 1974
Memperhatikan:Pernyataan Pengurus PWI- Pusat di Jakarta tanggal 19 Januari
1974
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN:
PERTAMA
: Mencabut Surat Izin Terbit (SIT) surat kabar harian
“INDONESIA
RAYA”,
yakni
Surat
Izin
Terbit
No.0632/SK/Dir.PDLN/SIT/1968, tanggal 24 Juli 19680632/Per/SK/Dir.PP/SIT/1971, tanggal 18 Juni 1971, dan
karenanya mengenakan larangan terbit bagi surat kabar harian
yang bersangkutan.
KEDUA
: Larangan terbit sebagai dimaksud diktum PERTAMA
meliputi larangan menerbitkan, larangan mencetak dan
larangan mengedarkan.
KETIGA
: Sejak tanggal mulai berlakunya keputusan ini, segala fasilitas
penerbitan yang bersumber pada Surat Izin Terbit (SIT) surat
kabar harian “INDONESIA RAYA” di Jakarta dicabut.
KEEMPAT
: Surat Keputusan ini mulai berlaku tanggal ditetapkan dengan
ketentuan bahwa apabila ternyata dikemudian hari terjadi
kesalahan akan diadakan pembetulan/perbaikan seperlunya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dikeluarkan di : Jakarta
Pada tanggal: 22 Januari 1974
MENTERI PENERANGAN RI
u.b
DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PERS DAN GRAFIKA
ttd. (dan cap)
SOEKARNO,S.H.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 1c
PEMBATALAN SURAT IZIN USAHA PENERBITAN PERS (SIUPP)
MAJALAH MINGGUAN TEMPO
(Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No. 123/KEP/MENPEN/1994,tgl.21
Juni 1994)
MENTERI PENERANGAN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang:
a. Bahwa perlu diambil langkah penertiban terhadap majalah berita
mingguan TEMPO, selanjutnya disebut TEMPO, alamat Gedung Tempo
jln.H.R Rusuna Said Kav.C-17 Kuningan, Jakarta yang diterbitkan oleh
PT.
Grafiti
Pers
dengan
menggunakan
SIUPP
No.025/SK/MENPEN/SIUPP/C.1/1985 tgl.24 Desember 1985.
b. Bahwa TEMPO telah pernah dibekukan sementara SIT-nya pada tgl 12
April
1982
karena
penerbitannya
dinilai
telah
melanggar
dan
membahayakan stabilitas nasional.
c. Bahwa dalam proses pencairan SIT TEMPO yang telah dibekukan sesuai
dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan No.76/KEP/MENPEN/1982
tgl. 12 April 1982, TEMPO telah menerima pengarahan Dewan Harian
Dewan Pers dan secara tulus ikhlas TEMPO menyanggupi untuk
melaksanakan arahan tgl.13 Mei 1982 tsb. Yakni antara lain:
1). TEMPO menyanggupi untuk turut bertanggung jawab menjaga
stabilitas nasional, keamanan, ketertiban dan kepentingan umum, tidak
akan memperuncing keadaan dan bahkan akan meredakan ketegangan
jika terjadi dalam masyarakat.
2).
TEMPO
mengutamakan
menyanggupi
kepentingan
akan
menahan
masyarakat
dan
diri
dan
negara
selalu
di
atas
kepentingan pribadi dan majalah TEMPO.
3). TEMPO selalu akan menjaga nama baik dan kewibawaan
Pemerintah serta pimpinan nasional.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4). TEMPO akan mengindahkan dan memenuhi serta menjalankan
ketentuan yang digariskan peraturan perundang-undangan, Dewan
Pers, Kode Etik Jurnalistik dan ketentuan yang dikeluarkan pemerintah
dalam rangka pembinaan pers yang bebas dan bertanggung jawab.
5). TEMPO akan selalu mengadakan intropeksi, koreksi dan
perbaikan-perbaikan
kedalam,
dalam
rangka
memantapkan
perkembangan pers yang bebas dan bertanggung jawab.
d. TEMPO telah berkali-kali diberikan keringanan dalam rangka pembinaan,
setidak-tidaknya 6 kali dalam bentuk peringatan tertulis, bahkan di
antaranya 3 kali surat peringatan keras dan 33 kali dalam bentuk
peringatan lisan.
e. Bahwa setiap diselenggarakan pertemuan dengan para Pemimpin Redaksi
yang diselenggarakan oleh Dep.Penerangan yang dihadiri juga oleh
TEMPO, senantiasa diperingatan agar penerbitan pers mematuhi ketentuan
peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
f. Bahwa penilaian terhadap isi penerbitan TEMPO selama ini ada beberapa
kasus pemberitaan TEMPO yang menunjukan itikad tidak sejalan dengan
pengarahan Dewan Harian Dewan Pers tgl 13 Mei 1982 yang telah
diketahui dan ditanda tangani oleh Direktur Utama PT.Grafiti Pers dan
Pemimpin Redaksi TEMPO.
g. Berdasarkan kenyataan sebagaimana tsb di atas, pemuatan isi beberapa
penerbitan TEMPO tidak lagi mencerminkan kehidupan pers yang sehat
dan bertanggung jawab, sehingga sesuai dengan pasal 33 huruf (h)
Peraturan
Menteri
Penerangan
No.01/PER/MENPEN/1984
dapat
dikenakan sanksi pembatalan SIUPP .
h. Bahwa langkah penerbitan ini terpaksa diambil dalam rangka pembinaan
dan pengembangan pers nasional yang sehat, bebas dan bertanggung
jawab, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan demi
kepentingan terbinanya stabilitas nasional di negara Republik Indonesia.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Mengingat :
1. Undang-Undnag No.11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.4 tahun 1967
dan Undang-Undang No.21 tahun 1982
2. Keputusan Presiden No.96/M Tahun 1993
3. Peraturan Menteri Penerangan RI No.01/PER/MENPEN/1984 tentang
Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
Memperhatikan :
1. Saran dan pertimbangan pelaksanaan harian Dewan Pers dalam sidangnya
tgl.21 Juni 1994.
2. Saran Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
SURAT
KEPUTUSAN
MENTERI
PENERANGAN
R.I
TENTANG
PEMBATALAN SURAT IZIN USAHA PENERBITAN PERS (SIUPP)
MAJALAH MINGGUAN TEMPO JAKARTA, sebagai berikut:
Pertama :
Membatalkan
Surat
Keputusan
Menteri
Penerangan
RI
No.
025/SK/MENPEN/SIUPP/C.1/1985 tgl. 24 Des. 1985 tentang pemberian SIUPP
kepada PT.Grafiti Pers untuk menerbitkan majalah mingguan TEMPO.
Kedua:
Dengan dibatalkannya SIUPP, maka PT.Grafiti Pers tidak dibenarkan untuk
menerbitkan, mencetak dan mengedarkan majalah mingguan TEMPO sejak
ditetapkannya surat keputusan ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Ketiga :
Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bahwa
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan, akan diadakan pembetulan
seperlunya.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 21 Juni 1994
A.N MENTERI PENERANGAN RI
DIREKTUR JENDERAL
PEMBINAAN PERS DAN GRAFIKA
Ttd.,
Drs. Subrata
NIP.0500;7572
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 1d
SILABUS
Mata Pelajaran
: Sejarah Indonesia
Kelas
: XII
Kopetensi Inti
:
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin taunya tentang
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar Materi Pokok
Pembelajaran
Penilaian
Alokasi Waktu Sumber Belajar
3.5 Mengevaluasi
kehidupan
Politik dan
ekonomi bangsa
Indonesia pada
masa Orde Baru.

Kehidupan
Bangsa
Indonesia di
Masa Orde
Baru dan
Reformasi
 Latar belakang
Mengamati :
 Membaca buku teks,
browsing internet dan
berdiskusi dengan
teman di samping
tentang pembredelan
pers di masa Orde Baru
Observasi:
 Mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
proses
mengumpulkan
 I Wayan
Badrika.2006.
Sejarah Untuk SMA
Kelas XII Program
Ilmu Pengetahuan
Alam, Jilid,2.Jakarta:
Erlangga.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
pembredelan pers
(1966-1998)
data, dan
di masa Orde
pembuatan
Menanya :
Baru
laporan tentang
 Tanya jawab,
 Bentuk dan
Pembredelan pers
berdiskusi, dan
alasan
di masa Orde
memberi komentar
pembredelan pers
Baru (1966-1998)
tentang materi
di masa Orde
Portofolio:
pembredelan pers di
Baru
masa Orde Baru (1966-  Menilai laporan
 Dampak
1998)
makalah peserta
Pembredelan
didik tentang latar
Mengeksplorasikan:
pers bagi
belakang, bentuk
 Di dalam kelompok,
perkembangan
alasan dan
siswa mengumpulkan
pers Indonesia
dampak
informasi terkait latar
pembredelan pers
belakang pembredelan
di masa Orde
pers di masa Orde Baru
Baru (1966-1998)
melalui bacaan dan
Tes tertulis :
internet.
 Menilai
Mengasosiasikan :
kemampuan
 Menganalisis
peserta didik
informasi dan datadalam penguasaan
data yang didapat
materi
dari bacaan maupun
pembredelan pers
dari sumber-sumbers
di masa Orde Baru
yang terkait untuk
1966-1998.
mendapatkan
kesimpulan tentang
latar belakang,
bentuk, alasan dan
dampak pembredelan
pers di masa Orde
Baru.
2x 45 Menit
 Abdurrachman
Surjomihardjo.
2002. Beberapa Segi
Perkembangan Pers
di Indonesia.
Jakarta: Kompas
Media Nusantara.
 Ahmad Zaini Abar.
1995. 1966-1974
Kisah Pers
Indonesia.
Yogyakarta: Lkis.
 Crouch Harold.
1999. Militer &
Politik di Indonesia.
Jakarta: PT.Surya
Usaha Ningtias.
 Hill.T.David.2011.
Pers di Masa Orde
Baru. Jakarta:Obor
Indonesia.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Mengkomunikasikan:
 Hasil analisis
kemudian dilaporkan
dalam bentuk tulisan
berisikan tentang latar
belakang, bentuk,
alasan dan dampak
pembredelan pers di
masa Orde Baru
Yogyakarta, 06 Februari 2017
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Guru Mata Pelajaran
Susanto S.Pd.
Olyvie Bintang Haritajaya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan
: SMA N 1 KASIHAN
Mata Pelajaran
: Sejarah Indonesia
Kelas/Semester
: XII/1
Materi Pokok
: Kehidupan Bangsa Indonesia di Masa Orde Baru
Pertemuan
:1
Alokasi waktu
: 2x45 menit
A. Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan Indikator
Kompetensi Inti
5. Menghayati dan
mengamalkan
ajaran agama
yang dianutnya.
6. Menghayati dan
mengamalkan
perilaku jujur,
disiplin,
tanggung jawab,
peduli (gotong
royong,
kerjasama,
toleran, damai),
santun,
responsif, dan
pro-aktif dan
menunjukan
sikap sebagai
bagian dari
Kompetensi Dasar
a. Menghayati nilai-nilai
persatuan dan
keinginan bersatu
dalam perjuangan
pergerakan nasional
menuju kemerdekaan
bangsa sebagai karunia
Tuhan Yang Maha Esa
terhadap bangsa dan
negara Indonesia.
2.1 Meneladani perilaku
kerjasama, tanggung jawab,
cinta damai para pejuang
untuk mempertahankan
kemerdekaan dan
menunjukannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Indikator
1.1.1 Menunjukan
sikap syukur kepada
Tuhan Yang Maha
Esa atas kemerdekaan
Indonesia dari tangan
penjajah dengan
belajar tekun.
2.1.1 Menunjukan
sikap dan perilaku
cinta tanah air dalam
kehidupan seharihari.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
solusi atas
berbagai
permasalahan
dalam
berinteraksi
secara efektif
dengan
lingkungan
sosial dan alam
serta dalam
menempatkan
diri sebagai
cerminan bangsa
dalam pergaulan
dunia.
7. Memahami,
menerapkan, dan
menganalisis
pengetahuan
faktual,
konseptual,
prosedural
berdasarkan rasa
ingin taunya
tentang ilmu
pengetahuan,
teknologi, seni,
budaya, dan
humaniora
dengan wawasan
kemanusiaan,
kebangsaan,
kenegaraan, dan
peradaban
terkait fenomena
dan kejadian,
serta
menerapkan
pengetahuan
prosedural pada
bidang kajian
yang spesifik
sesuai dengan
bakat minatnya
untuk
memecahkan
3.1 Menganalisis kehidupan
bangsa Indonesia di masa
Orde Baru dan Reformasi
khususnya pembredelan pers
di masa Orde Baru.
3.1.1 Mendeskripsi
latar belakang
pembredelan pers di
masa Orde Baru
1966-1998.
3.1.2Mendeskripsikan
bentuk dan alasan
pembredelan pers di
masa Orde Baru
1966-1998
3.1.3 Menganalisis
dampak pembredelan
pers di masa Orde
Baru 1966-1998
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
masalah.
8. Mengolah,
4.1 Menulis latar belakang
menalar, dan
sejarah pembredelan pers di
menyaji dalam
Indonesia.
ranah konkret
dan ranah
abstrak terkait
dengan
pengembangan
dari yang
dipelajarinya di
sekolah secara
mandiri, dan
mampu
menggunakan
metode sesuai
kaidah keilmuan.
4.1.1 Melaporkan
hasil tulisan
mengenai latar
belakang, bentuk,
alasan dan dampak
pembredelan pers di
masa Orde Baru
1966-1998.
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran peserta didik dapat:
1. Bersyukur
dengan
cara
berdoa
sebelum
dan
sesudah
kegiatan
pembelajaran
2. Menanamkan sikap saling menghormati antar sesama.
3. Menganalisis latar belakang pembredelan pers di masa Orde Baru.
4. Mengidentifikasi bentuk dan alasan pembredelan pers di masa Orde Baru.
5. Menjelaskan dampak dari pembredelan pers di masa Orde Baru.
6. Menyajikan laporan latar belakang pembredelan pers di masa Orde Baru.
C. Materi Ajar
Latar belakang pembredelan pers di masa Orde Baru tahun 1966-1998
1. Latar belakang pembredelan pers di masa Orde Baru.
2. Bentuk dan alasan pembredelan pers di masa Orde Baru.
3. Dampak pembredelan pers terhadap perkembangan pers Indonesia.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
D. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan pembelajaran : Scientific Approach
2. Setrategi pembelajaran
: Cooperative Learning (Problem Solving)
3. Metode Pembelajaran
: Observasi, diskusi, presentasi, tanya jawab,
dan tugas.
E. Sumber Belajar
Sumber buku
I Wayan Badrika.2006. Sejarah Untuk SMA Kelas XII Program Ilmu
Pengetahuan Alam, Jilid,2.Jakarta: Erlangga.
Abdurrachman Surjomihardjo. 2002. Beberapa Segi Perkembangan Pers di
Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Ahmad Zaini Abar. 1995. 1966-1974 Kisah Pers Indonesia. Yogyakarta:
Lkis.
Crouch Harold. 1999. Militer & Politik di Indonesia. Jakarta: PT.Surya
Usaha Ningtias.
Hill.T.David.2011. Pers di Masa Orde Baru. Jakarta:Obor Indonesia.
F. Media Pembelajaran
Alat
: Laptop, LCD.
Bahan
: Gambar tokoh perjuangan
G. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi
 Guru memberikan salam
 Guru menanyakan kehadiran siswa
 Orientasi : guru memusat perhatian
siswa pada materi yang akan dipelajari
Pendahuluan
dengan menampilkan slide.
 Apersepsi: Guru menanyakan latar
belakang kehidupan ekonomi dan
politik di masa Orde Baru.
Alokasi
waktu
15 Menit
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
 Motivasi: guru menyampaikan dampak
kehidupan ekonomi dan politik di masa
Orde Baru
 Guru menyampaikan tujuan dan
rencana kegiatan pembelajaran
 Guru membagi siswa dalam beberapa
kelompok yang beranggotakan 3-5
orang siswa
 Guru memberikan bahan diskusi
pembelajaran
 Mengamati
 Siswa membaca teks atau referensi
yang disediakan oleh guru tentang
pembredelan pers masa Orde Baru
 Guru menampilkan jenis-jenis
suratkabar, majalah dan tabloid dimasa
Orde Baru.
 Menanya
 Siswa dapat melakukan tanya jawab
dalam kegiatan diskusi untuk
mendapatkan pendalaman pengertian
tentang pembredelan pers di masa
Orde Baru
 Mengumpulkan Informasi
 Peserta didik dapat mengumpulkan
informasi melalui internet, teks yang
sudah disediakan atau referensi lain
yang relevan tentang pembredelan
Kegiatan Inti
pers di masa Orde Baru
 Menalar
 Peserta didik mendiskusikan tentang
pembredelan pers masa Orde Baru
teman satu kelompoknya.
 Dalam kelompok diskusi, peserta
didik menganalisis, menghubungkan
dan mengasosiasikan informasiinformasi yang ditemukan melalui
sumber tertulis atau internet tentang
pembredelan pers di masa Orde Baru
 Mengkomunikasikan
 Masing-masing kelompok menyajikan
secara lisan hasil analisis dan
kesimpulan tentang pembredelan di
masa Orde Baru
 Peserta didik yang lain menyimak dan
mencatat informasi dari siswa yang
60 Menit
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI


Penutup


mengungkapkan jawabannya di depan
kelas
Peserta didik melaporkan hasil
analisis dan evalusi dalam bentuk
tulisan yang berisi tentang
pembredelan pers di masa Orde Baru
1966-1998
Guru mengadakan kegiatan refleksi
bersama peserta didik dalam
menyimpulkan hasil kegiatan
pembelajaran.
Peserta didik diberikan tugas untuk
membuat salah satu dampak dari
pembredelan pers di masa Orde Baru
Informasi materi pembelajaran yang
akan datang.
20 Menit
H. PENILAIAN
A. Sikap Spiritual
a. Teknik Penilaian : Non tes (Pengamatan sikap selama proses pembelajaran)
b. Bentuk Instrumen : Lembar penilaian
c. Kisi-kisi:
No
Sikap/Nilai
1. Bersyukur kepada Tuhan
2. Berdoa kepada Tuhan
Butir Intrumen
1
2
d. Instrumen:
No
Nama Peserta Didik
1. Nunung
2. Thomas
3. Dita
Bersyukur
kepada Tuhan
(1-4)
Indikator:
Berdoa
sebelum dan
sesudah
kegiatan
pembelajaran
(1-4)
Nilai Akhir
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Kisi-kisi indikator sikap spiritual: bersyukur kepada
1. Bersyukur dengan tidak sungguh-sungguh
2. Kadang-kadang bersyukur dengan sungguh-sungguh
3. Sering bersyukur
4. Selalu bersyukur dengan sungguh
Kisi-kisi indikator sikap spiritual: berdoa, sebelum dan sesudah kegiatan
pembelajaran
1. Berdoa tidak sungguh-sungguh
2. Kadang-kadang berdoa dengan sungguh
3. Sering berdoa
4. Selalu berdoa dengan sungguh
Pedoman penyekoran
:
Peserta didik memperoleh nilai :
A = Baik Sekali
B = Baik
C =Cukup
D = Kurang
B. Sikap Sosial
: apabila memperoleh skor 8
: apabila memperoleh skor 6
: apabila memperoleh skor 4
: apabila memperoleh skor 2
a. Teknik Penilaian : Non tes (Pengamatan sikap selama proses pembelajaran)
b. Bentuk Instrumen : Lembar penilaian skala sikap
c. Kisi-kisi: Sikap Menghargai
No.
1.
2.
3.
4.
Sikap/nilai
Sikap saling menghormati
Peduli
Santun
Kerja sama
Butir
Instrumen
1
2
3
4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
d. Instrumen
Jumlah
Skor
Indikator
No
1.
2.
3.
Peserta
didik
Memiliki
Peduli Santun
sikap saling (1-4)
(1-4)
menghormati
(1-4)
Kerjasama
(1-4)
Bima
Robert
Joni
Kisi-kisi indikator sikap saling menghormati:
Deskriptor
Tidak saling menghormati
Kurang menghormati
Cukup menghormati
Saling menhormati
Kisi-kisi Indikator sikap peduli :
Skor
1
2
3
4
Deskriptor
Skor
1
2
3
4
Tidak saling peduli
Kurang peduli
Cukup peduli
Sangat peduli
Kisi-kisi indikator sikap santun :
Deskriptor
Tidak pernah bersikap/berperilaku santun
Kurang santun dalam bersikap/berperilaku
Cukup santun dalam bersikap/berperilaku
Sangat santun dalam bersikap/berperilaku
Skor
1
2
3
4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Kisi-kisi indikator sikap kerjasama
Deskriptor
Tidak saling kerja sama
Kuang kerja sama
Cukup kerja sama
Sangat kerja sama
Skor
1
2
3
4
Petunjuk Penyekoran:
Peserta didik memperoleh nilai :
A = : apabila memperoleh skor 12
B=
: apabila memperoleh skor 9
C=
: apabila memperoleh skor 6
D = : apabila memperoleh skor 3
C. Penilaian Sikap Diskusi
a. Teknik
: Non tes (pengamtan sikap selama diskusi)
b. Bentuk instrumen
: Lembar penilaian
c. Kisi-kisi
: Sikap selama diskusi
No.
Butir
Instrumen
1
2
3
4
Sikap/Nilai
1.
2.
3.
4.
Keakifan
Keseriusan
Mengemukakan pendapatan
Bertanya
d. Instrumen :
Nilai
akhir
Indikator
No
Nama
Keaktifan Keseriusan Bertanya
1.
Bima
2.
Robert
3.
Joni
4.
Jhon
5.
Dina
Kisi-kisi indikator penilaian sikap diskusi:
Keaktifan, mengemukakan pendapat, bertanya
Mengemukan
pendapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
a. Skor 1 diperoleh siswa bila tidak terlibat dalam kelompok
b. Skor 2 diperoleh siswa beila terlibat dalam kelompok namun tidak
memberikan masukan.
c. Skor 3 diperoleh siswa terlibat dan memberikan masukan
d. Skor 4 diperoleh siswa bila berperan aktif dalam kelompok
Keseriusan
a.
b.
c.
d.
Sekor 1 diperoleh siswa bila siswa tidak serius dalam mengerjakan tugas
Skor 2 diperoleh siswa bila siswa cukup serius dalam mengerjakan tugas
Skor 3 diperoleh siswa bila siswa serius dalam mengerjakan tugas
Skor 4 diperoleh bila siswa sangat serius dalam mengerjakan tugas
Petunjukan penyekoran :
Peserta didik memperoleh nilai :
A = Baik Sekali
: apabila memperoleh skor 12
B = Baik
: apabila memperoleh skor 9
C = Cukup
: apabila memperoleh skor 6
D = Kurang
: apabila memperoleh skor 3
D. Pengetahuan (Kognitif)
a. Teknik penilaian : tes
b. Bentuk instrumen: lembar tugas
c. Kisi-kisi tugas terstruktur
d. Instrumen : tes essay
1. Bagaimana latar belakang pembredelan pers di masa Orde Baru (19661998)?
2. Apa saja bentuk dan alasan pembredelan pers di masa Orde Baru ?
3. Bagaimana dampak dari pembredelan pers di masa Orde Baru terhadap
kehidupan pers Indonesia?
 Pedoman penskoran
No
Rambu-rambu skor
1. Jawaban lengkap dengan alasan yang tepat
2. Jawaban berdasarkan referensi yang relevan
dengan alasan seadanya
3. Jawaban kurang lengkap
4. Jawaban tidak sesuai dengan soal yang
ditanyakan
Catatatan: setiap skor maksimal 20
Skor
20
15
6
4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
E. Psikomotorik
a. Teknik penilaian: Tes
b. Bentuk Instrumen: Lembar tugas
c. Kisi-kisi:
Tugas
: peserta didik diberi tugas untuk membuat artikel ilmiah.
d. Instrumen:
Soal
: buatlah artikel ilmiah tentang dampak pembredelan pers di masa
Orde Baru dalam bentuk narasi.
Aspek yang dinilai
No
Nama
peserta
didik
Nilai
akhir
Ketepatan
Relevansi Kelengkapan Pembahasan
waktu
(1-4)
(1-4)
(1-4)
(1-4)
1. Bima
2. Robert
3. Joni
Petunjuk penyekoran:
Peserta didik memperoleh nilai:
Baik sekali
Baik
Cukup
Kurang
: apabila memperoleh skor 13-16
: apabila memperoleh skor 9-12
: apabila memperoleh skor 5-8
: apabila memperoleh skor 1-4
Yogyakarta 6 Februari 2017
Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Kasihan
Guru Mata Pelajaran
Susanto,M.Pd.
Olyvie Bintang Haritajaya
NIP.,
Download