Uploaded by User20892

tugas TTG bu hellen kelas C

advertisement
TUGAS
TEKNOLOGI TEPAT GUNA
PRODUK
SELIMUT SERBAGUNA ANTI HIPOTERMI
OLEH :
Kelas C
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur tim penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
maka tim penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah pembuatan produk
teknologi tepat guna yang berjudul “Selimut Serbaguna Anti Hipotermi”. Dalam
penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi
dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, tim
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan
yang setimpal dari Allah SWT.
Dalam Penulisan makalah ini, tim penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang dimiliki tim penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat di harapkan
oleh tim penulis demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Tim penulis
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi tim
penulis sendiri. Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga bermanfaat bagi kita
semua.
Lampung Timur, Oktober 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu indikator sensitif untuk mengetahui derajat kesehatan suatu negara
adalah Angka Kematian Bayi (AKB), Di Indonesia Jumlah kasus kematian Bayi
turun dari 33.278 di tahun 2015 menjadi 32.007, dan pada tahun 2017 di semester
pertama sebanyak 10.294 kasus. Demikian pula dengan angka kematian ibu (AKI)
turun dari 4.999 tahun 2015 menjadi 4912, dan ditahun 2017 (Semester 1) sebanyak
1712 kasus. Namun demikian AKB di Indonesia masih termasuk tinggi dibandingkan
dengan negara tetangga seperti: Malaysia dan Singapura yang sudah di bawah 10
kematian/1.000 kelahiran bayi.(Kemenkes RI, 2017)
Tingginya angka Kematian Bayi berusia kurang dari 1 (satu) tahun di Indonesia
di sebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor bayi dan faktor ibu. Penyebab kematian bayi
perinatal di Provinsi Lampung tahun 2015 disebabkan karena asfiksia sebesar
37,14% dan kematian neonatal terbesar disebabkan BBLR sebesar 28,18%, lain-lain
(Hipotermi). (Din-Kes Provinsi Lampung 2015). Untuk menciptakan bayi sehat Air
Susu Ibu (ASI) sangatlah berperan penting. Salah satu upaya untuk meningkatkan
keberhasilan pemberian ASI adalah melalui pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini
(IMD). (Maryunani. 2012) Bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan IMD
terdapat dalam Per-Men No. 33 Tahun 2012 pasal 9 ayat 1 dan ayat 2. Ayat 1
berbunyi “Tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib
melakukan inisiasi menyusui dini paling singkat selama 1 (satu) jam” (Kemenkes RI,
2012).
Inisiasi Menyusui Dini merupakan suatu kesempatan yang diberikan kepada bayi
segera setelah lahir dengan cara meletakkan bayi di perut ibu, kemudian dibiarkannya
bayi untuk menemukan puting susu ibu dan menyusu hingga puas. Proses ini
dilakukan paling kurang 60 menit (1 jam) pertama setelah bayi lahir (Depkes, 2008).
Pelaksanaan IMD dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal sebelum bayi
usia 1 bulan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka salah satu yang dilakukan
pemerintah adalah promosi IMD. Upaya ini untuk mendukung keberhasilan program
pemberian ASI Eksklusif (Roesli, 2012).
Cakupan pelaksanaan IMD dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016,
persentase bayi baru lahir yang mendapat IMD pada tahun 2016 sebesar 51,9% yang
terdiri dari 42,7% mendapatkan IMD dalam <1 jam setelah lahir, dan 9,2% dalam
satu jam atau lebih. Persentase tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (73%) dan terendah
Bengkulu (16%). Di provinsi lampung tahun 2016 angka IMD pada bayi baru lahir
sebesar 48,5 dengan capaian yang mendapatkan IMD <1 jam setelah lahir 41,5 %,
dan 7 % mendapatkan IMD > 1 jam. Capaian angka capaian cakupan IMD di provinsi
Lampung masih dibawah rata2 nasional. (Kemenkes RI, 2016)
Bayi baru lahir sangatlah rentan terhadap hipotermi, IMD dan perawatan metode
kanguru merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi hypotermi pada bayi,
karena dengan IMD akan terjadi pelekatan antara kulit daerah dada bayi ke kulit ibu
(Kemenkes RI, 2010). Saat pelaksanaan IMD penulis mengamati area punggung bayi
masih terpapar dengan udara di sekitarnya yang dapat menyebabkan bayi kedinginan,
disebabkan hilangnya panas tubuh bayi secara konveksi. Alternatif untuk mengatasi
kedinginan dengan menggunakan selimut. Selimut bayi yang digunakan dalam
pelaksanaan IMD sangat bervariasi dan beragam, Selimut yang beragam ini penulis
amati kurang praktis untuk pelaksanaan IMD oleh sebab itu penulis tertarik membuat
produk teknologi tepat guna berupa selimut yang praktis dalam pelaksanaan IMD
sekaligus dapat digunakan sebagai perawatan metode kanguru yang penulis beri
nama “Selimut serbaguna anti hipotermi”. Ke khasan selimut ini adalah
digunakannya aluminium foil dibawah selimut area punggung bayi, yang berfungsi
untuk menahan panas tubuh bayi. Aluminium foil juga merupakan penghantar panas
yang baik untuk energi listrik dan penghangat ruangan, selain itu Alumunium foil
juga bekerja sebagai penghambat oksigen dan cahaya. Selimut juga dilengkapi
dengan kantung metode kanguru dan tali yang praktis digunakan untuk skin to skin
dengan ibu maupun ayah bayi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hipotermi
Hipotermia adalah suatu keadaan dimana tubuh merasa sangat
kedinginan. Setelah panas dipermukaan tubuh hilang maka akan terjadi
pendinginan pada jaringan dalam dan organ tubuh. Menurut Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirahardjo (2001),bayi hipotermia adalah bayi dengan suhu
badan dibawah normal.adapun suhu normal pada neonatus adalah 36,5o-37,5oC.
Gejala awal pada hipotermi apabila suhu <36o C atau kedua kaki dan
tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi
sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 320-36o C). Disebut hipotermia berat
bila suhu <32oC diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat mengukur
sampai
25oC.
Menurut
Indarso
F(2001), disamping
sebagai
suatu
gejala,hipotermia merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Menurut Sandra M.T (1997), hipotermi yaitu suatu kondisi dimana suhu tubuh
inti turun sampai dibawah 35o C.
Sewaktu kulit bayi menjadi dingin, saraf afferen menyampaikan pada
sentral pengatur panas di hipothalamus. Saraf yang dari hipothalamus sewaktu
mencapai brown
fat memacu
trigliseridadioksidasi
menjadi
pelepasan noradrenalin
gliserol
dan
lokal
asam
sehingga
lemak.Blood
gliserol level meningkat, tetapi asam lemak secara lokal dikonsumsi untuk
menghasilkan panas. Daerah brown fat menjadi panas, kemudian didistribusikan
ke beberapa bagian tubuh melalui aliran darah.
Ini menunjukkan bahwa bayi akan memerlukan oksigen tambahan dan
glukosa untuk metabolisme yang digunakan untuk menjaga tubuh tetap
hangat.Methabolicther mogenesis yang
efektif
memerlukan integritas
dari
sistem syaraf sentral,kecukupan dari brown fat, dan tersedianya glukosa serta
oksigen. Perubahan fisiologis akibat hipotermia yang terjadi pada sistem syaraf
pusat antara lain depresi linier dari metabolisme otak, amnesia, apatis, disartria,
pertimbangan yang terganggu adaptasi yang salah, EEG yang abnormal, depressi
kesadaran yang progresif, dilatasi pupil, dan halusinasi. Dalam keadaan berat
dapat terjadi kehilangan autoregulasi otak, aliran darah otak menurun, koma,
refleks okuli yang hilang, dan penurunanyangprogressif dari aktivitas EEG.
Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Suhu
normal pada bayi neonatus adalah adalah 36,5-37,5 derajat Celsius (suhu ketiak).
Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru
lahir, terutama dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg Gejala awal hipotermi
apabila suhu kurang dari 36 derajat Celsius atau kedua kaki dan tangan teraba
dingin.
B. Inisiasi Menyusu Dini
Inisiasi Menyusu Dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini
adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Asalkan dibiarkan kontak
kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya satu jam segera setelah lahir. Cara bayi
melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan the breast crawl atau merangkak
mencari payudara (Roesli, 2008).
Inisiasi menyusu dini yaitu bayi yang baru lahir, setelah tali pusat
dipotong, di bersihkan agar tidak terlalu basah dengan cairan dan segera
diletakkan diatas perut atau dada ibu, biarkan minimal 30 menit sampai 1 jam,
bayi akan merangkak sendiri mencari puting ibu untuk menyusu (Rulina, 2007:1).
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah perilaku pencarian puting payudara ibu
sesaat setelah bayi lahir (Prasetyono, 2009).
Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat dipotong, letakkan bayi
tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Biarkan kontak
kulit ke kulit ini menetap selama setidaknya 1 jam bahkan lebih sampai bayi dapat
menyusu sendiri. Apabila ruangan bersalin dingin, bayi di beri topi dan di
selimuti. Ayah atau keluarga dapat memberi dukungan dan membantu ibu selama
proses bayi menyusu ini. Ibu diberi dukungan untuk mengenali saat bayi siap
untuk menyusu, menolong bayi bila diperlukan (JNPK, 2007).
Pentingnya kontak kulit dan menyusu sendiri
a) Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari
payudara. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypotermia).
b) Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih
stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian
energi.
c) Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit
ibunya dan ia akan menjilat-jilat kulit ibu, menelan bakteri baik di kulit ibu.
Bakteri baik ini akan berkembang biak membentuk koloni di kulit dan usus
bayi, menyaingi bakteri jahat dari lingkungan.
d) “Bonding” (ikatan kasih sayang) antara ibu-bayi akan lebih baik karena pada
1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur
dalam waktu yang lama.
e) Makanan awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari
susu manusia, misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu
pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.
f) Bayi yang diberi kesempatan menyusu lebih dini lebih berhasil menyusui
ekslusif dan akan lebih lama disusui.
g) Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan
sekitarnya, emutan, jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran
hormon oksitosin.
h) Bayi mendapatkan ASI kolostrum yaitu ASI yang pertama kali keluar. Cairan
emas ini kadang juga dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi kesempatan
inisiasi menyusu dini lebih dulu mendapatkan kolostrum daripada yang tidak
diberi kesempatan. Kolostrum, ASI istimewa yang kaya akan daya tahan
tubuh, penting untuk ketahanan terhadap infeksi, penting untuk pertumbuhan
usus, bahkan kelangsungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat lapisan yang
melindungi dinding usus bayi yang masih belum matang sekaligus
mematangkan dinding usus ini.
i) Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk
pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan
mengazankan anaknya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya
yang amat indah.
Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini secara umum
a) Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu
b) Disarankan untuk tidak mengurangi penggunaan obat kimiawi. Dapat diganti
dengan
cara
non-kimiawi
misalnya
pijat,
aromaterapi,
gerakan
atau hypnobirthing.
c) Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya
melahirkan normal, di dalam air atau dengan jongkok.
d) Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua
tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan kulit bayi sebaiknya
dibiarkan.
e) Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat dengan
kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimum satu jam
atau setelah menyusu awal selesai. Keduanya diselimuti, jika perlu gunakan
topi bayi.
f) Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan
sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
g) Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku
bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit atau satu
jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya diri ibu.
Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya
selama satu jam, walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu
jam. Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu jam,
biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil
menyusu pertama.
h) Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada ibu
yang melahirkan dengan tindakan seperti operasi Caesar.
i) Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah satu jam
atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasif, misalnya suntikan vitamin
K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.
j) Rawat gabung yaitu ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24 jam
ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu.
Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI keluar)
dihindarkan.
C. Metode kanguru
Pengertian Kangaroo Mother Care (KMC) atau Perawatan Metode
Kangguru (PMK) adalah kontak kulit antara ibu dan bayi secara dini, terusmenerus serta dikombinasi dengan pemberian ASI eksklusif. Tujuannnya adalah
agar bayi kecil tetap hangat. Dapat dimulai segera setelah lahir atau bayio telah
stabil. KMC dapat dilakukan di rumah sakit atau di rumah setelah bayi pulang.
Bayi tetap dapat di rawat dengan KMC meskipun belum dapat menyusu, berikan
ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif pemberian minum.
Meski namanya kanguru, metode ini bukan berasal dari Australia, metode
ini meniru perilaku binatang asal Australia yang menyimpan anaknya di kantung
perutnya, sehingga diperoleh suhu optimal bagi kehidupan bayi. Metode ini
asalnya bukan dari Australia melainkan dikembangkan di Kolombia.
Prinsip metode ini adalah menggantikan perawatan bayi baru lahir dalam
inkubator dengan meniru kanguru. Ibu bertindak seperti ibu kanguru yang
mendekap bayinya dengan tujuan mempertahankan suhu bayi stabil dan optimal
(36,5oC- 37,5oC). Suhu optimal ini diperoleh dengan kontak langsung kulit bayi
dengan secara terus-menerus.Bayi yang dapat bertahan dengan cara ini adalah
yang keadaan umumnya baik, suhu tubuhnya stabil (36,5oC- 37,5oC) dan mampu
menyusui dengan baik. Metode ini dihentikan jika bayi telah mencapai bobot
badan minimal 2500 g dan suhu tubuh optimal 37oC, dan bayi bisa menyusui
dengan baik.
Beberapa penelitian menyebutkan metode ini memberikan manfaat yang
dapat dirasakan langsung oleh bayi dan ibu :
a) Untuk meningkatkan Berat Badan terutama pada BBLR
b) Menjaga kehangatan, agar suhu tubuh bayi tetap normal. Suhu optimal didapat
lewat kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi (skin to skin contact). Suhu ibu
merupakan sumber panas yang efisien dan murah.
c) Mempercepat pengeluaran ASI dan meningkatkan keberhasilan menyusui
sehingga Inisiasi Menyusu Dini juga akan cepat tercapai dalam tahap metode ini
dan apabila ASI sudah keluar manfaat ekonomis juga akan dirasakan. Ibu selain
mudah, praktis dan murah dapat meyusui bayinya, tidak perlu juga membeli susu
formula yang harganya cukup mahal
d) Menjalin ikatan batin antara ibu dan bayi. Metode ini tentunya akan lebih
mendekatkan ikatan batin ibu dan si bayi, karena apabila bayi berada di inkubator,
tentunya hubungan bayi dan ibu akan ”terbatas”. Dengan metode KMC ini akan
diketahui pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi
terjadi karena berbagai rangsangan seperti skin to skin contact. Bayi akan merasa
aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar
denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Bayi dapat
merasakan sentuhan lembut ibu, ungkapan rasa sayang dan perhatian seorang ibu.
Bayi prematur yang mendapat banyak sentuhan ibu, menurut penelitian,
menunjukkan kenaikan berat badan yang cepat dari pada jika si bayi jarang
disentuh.
e) Perlindungan dari infeksi
f) Mengurangi lama menangis pada bayi
g) Dapat mengurangi biaya rumah sakit. Hal ini berkaitan dengan penggunaan
ikubator di rumah sakit yang cukup mahal, sehingga dengan menggunakan
asuhan metode kangguru dapat mengurangi biaya rumah sakit.
h) Metode bisa dilakukan oleh anggota keluarga lain, jika ibu perlu istirahat,
termasuk ayah, saudara,atau petugas kesehatan. Bila tidak ada yang
menggantikan , bayi diberi pakaian hangat atau topi, dan diletakkan di box bayi
dalam ruangan yang hangat.
Langkah-langkah metode kanguru
Bila metode kanguru dilakukan dengan baju kanguru
a) Badan ibu sudah dalam keadaan bersih, dan dada tidak terhalang BH
b) Memakaikan topi , popok dan kaos kaki pada bayi
c) Meletakkan bayi diantara payudara, dada bayi menempel pada dada ibu.
d) Memalingkan kepala ke sisi kanan/kiri dengan sedikit menengadah
e) Memposisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk , seperti katak.
f) Memakaikan baju model kanguru, dengan batas kain atas berada dibawah
telinga bayi
g) Mengikat dengan kencang agar ibu dapat beraktivitas dengan bebas seperti
berdiri, duduk , jalan, makan dan mengobrol.
h) Mengenakan pakaian luar sebagai penutup.
Waktu Pelaksanaan Metode Kanguru
a) Segera setelah lahir
b) Sangat awal, setelah 10-15 menit
c) Awal, setelah umur 24 jam
d) Menengah, setelah 7 hari perawatan
e) Lambat, setelah bayi bernafas sendiri tanpa O2
f) Setelah keluar dari perawatan incubator
Kriteria keberhasilan Perawatan Metode Kanguru
a) Suhu tubuh bayi stabil dan optimal (36,50C -37,50 C)
b) Kenaikan berat badan stabil
c) Produksi ASI adekuat
d) Bayi tumbuh dan berkembang optimal
e) Bayi dapat menetek kuat
Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan alternatif pengganti incubator
dalam perawatan BBLR, dengan beberapa kelebihan antara lain: merupakan cara
yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar yaitu adanya
kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi
bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia),
PMK memudahkan pemberian ASI, perlindungan dari infeksi, stimulasi,
keselamatan dan kasih sayang. PMK dapat menurunkan kejadian infeksi, penyakit
berat, masalah menyusui dan ketidakpuasan ibu serta meningkatnya hubungan antara
ibu dan bayi serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi.
D. Alumunium Foil
Aluminium ditemukan oleh Sir Humprey Davy dalam tahun 1809 sebagai suatu
unsur, dan pertama kali direduksi sebagai logam oleh H. C. Oersted, tahun 1825.
Secara industri Paul Heroult di perancis dan C. M. Hall di amerika serikat secara
terpsah telh memperoleh logam aluminum dari alumina dengan cara elektrolisa dari
garamnya yang terfusi. Sampai sekarang proses Heroult Hal masih dipakai untuk
memproduksi aluminium.
Aluminium adalah logam yang paling banyak terdapat di kerak bumi, dan unsur
ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon. Aluminium terdapat di kerak bumi
sebanyak kira-kira 8,07% hingga 8,23% dari seluruh massa padat dari kerak bumi,
dengan produksi tahunan dunia sekitar 30 juta ton pertahun dalam bentuk bauksit dan
bebatuan lain (corrundum, gibbsite, boehmite, diaspore, dan lain-lain). Sulit
menemukan aluminium murni di alam karena aluminium merupakan logam yang
cukup reaktif.
Aluminium murni adalah logam yang lunak, tahan lama, ringan, dan dapat
ditempa dengan penampilan luar bervariasi antara keperakan hingga abu-abu,
tergantung kekasaran permukaannya.
Aluminium murni 100% tidak memiliki kandungan unsur apapun selain
aluminium itu sendiri, namun aluminium murni yang dijual di pasaran tidak pernah
mengandung 100% aluminium, melainkan selalu ada pengotor yang terkandung di
dalamnya. Pengotor yang mungkin berada di dalam aluminium murni biasanya
adalah gelembung gas di dalam yang masuk akibat proses peleburan dan
pendinginan/pengecoran yang tidak sempurna, material cetakan akibat kualitas
cetakan yang tidak baik, atau pengotor lainnya akibat kualitas bahan baku yang tidak
baik (misalnya pada proses daur ulang aluminium). Umumnya, aluminium murni
yang dijual di pasaran adalah aluminium murni 99%, misalnya aluminium foil.
Sifat – sifat aluminium
Sifat-sifat penting yang dimiliki aluminium sehingga banyak digunakan sebagai
material teknik adalah sebagai berikut:
a) Berat jenisnya ringan (hanya 2,7 gr/cm³, sedangkan besi ± 8,1 gr/ cm³)
b) Tahan korosi. Sifat bahan korosi dari aluminium diperoleh karena terbentuknya
lapisan aluminium oksida (Al2O3) pada permukaan aluminium (fenomena
pasivasi). Pasivasi adalah pembentukan lapisan pelindung akibat reaksi logam
terhadap komponen udara sehingga lapisan tersebut melindungi lapisan dalam
logam dari korosi. Lapisan ini membuat Al tahan korosi tetapi sekaligus sukar
dilas, karena perbedaan melting point (titik lebur).
c) Penghantar listrik dan panas yang baik. Aluminium juga merupakan konduktor
panas dan elektrik yang baik. Jika dibandingkan dengan massanya, aluminium
memiliki keunggulan dibandingkan dengan tembaga, yang saat ini merupakan
logam konduktor panas dan listrik yang cukup baik, namun cukup berat.
d) Mudah di fabrikasi/ditempa. Sifat lain yang menguntungkan dari aluminium adalah
sangat mudah difabrikasi, dapat dituang (dicor) dengan cara penuangan apapun.
Dapat deforming dengan cara: rolling, drawing, forging, extrusi dll. Menjadi
bentuk yang rumit sekalipun.
e) Kekuatannya
rendah
tetapi
pemaduan
(alloying)
kekuatannya
bisa
ditingkatkan. Kekuatan dan kekerasan aluminium tidak begitu tinggi dengan
pemaduan dan heat treatment dapat ditingkatkan kekuatan dan kekerasannya.
f) Kekuatan mekanik meningkat dengan penambahan Cu, Mg, Si, Mn, Zn, dan Ni.
g) Sifat elastisnya yang sangat rendah, hampir tidak dapat diperbaiki baik dengan
pemaduan maupun dengan heat treatment.
BAB III
PEMBAHASAN
Pada saat dilakukanya IMD dipelukan selimut untuk menjaga kehangatan suhu
badan bayi. Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan
cenderung mengalami stress fisik akibat adanya perubahan suhu di luar uterus. Fluktuasi
(naik turunya) suhu di dalam uterus minimal, rentang maksimal hanya 0,6ºC karena
cairan ketuban dalam uterus suhunya relatif tetap. Suhu di dalam uterus sekitar 36ºC37ºC sedangkan suhu ruangan sekitar 24ºC-32ºC. Mekanisme pengaliran panas ini
dijelaskan melalui mekanisme fisika dasar yaitu radiasi, konduksi, konveksi, dan
evaporasi. (Potter, Patricia A, Perry, Anne G; 2010).
Pembentukan panas (heat production) dalam tubuh manusia bergantung pada
tingkat metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh:
1). BMR, terutama terkait dengan sekresi hormon tiroid, 2). Aktivitas otot, terjadi
penggunaan energi menjadi kerja dan menghasilkan panas. 3). Termogenesis menggigil
(shivering thermogenesis); aktivitas otot yang
merupakan upaya tubuh untuk
mempertahankan suhu tubuh selama terpapar dingin. 4). Termogenesis tak-menggigil
(non-shivering thermogenesis) Hal ini terjadi pada bayi baru lahir. Sumber energi
pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada bayi baru lahir, brown fat ditemukan pada
skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat berbeda dengan lemak biasa, ukurannya lebih
kecil, mengandung lebih banyak mitokondria, banyak dipersarafi saraf simpatis, dan
kaya dengan suplai darah. Stimulasi saraf simpatis oleh suhu dingin akan meningkatkan
konsentrasi cAMP di sel brown fat, yang kemudian akan mengativasi fosforilasi oksidatif
di mitokondria melalui lipolisis. Hasil dari fosforilasi oksidatif ialah terbentuknya panas
yang kemudian akan dibawa dengan cepat oleh vena yang juga banyak terdapat di sel
brown fat. Brown fat ini merupakan sumber utama diet-induced thermogenesis.
(Fransson AL 2005)
Selimut serbaguna anti hipotermi merupakan selimut yang didesain khusus untuk
IMD maupun Perawatan Metode Kanguru yang berfungsi terutama untuk mencegah
hilangnya panas tubuh bayi secara konveksi. Dari hasil penelitian yang dilakukan
Sudarmi (2018) didapatkan adanya pengaruh penggunaan turtle blanket terhadap suhu
tubuh bayi setelah 60 menit pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), dengan rata-rata
suhu tubuh bayi setelah intervensi terjadi peningkat menjadi 36.82C, sedangkan suhu
tubuh bayi yang menggunakan selimut kontemporer (kontrol) setelah 60 menit
pelaksanaan IMD hanya meningkat rata-rata 36,36C. ada perbedaan peningkatan suhu
tubuh rata-rata 0.46C. Menurut pengamatan penulis dengan penggunaan turtle blanket
suhu tubuh bayi menjadi lebih cepat hangat, dengan tubuh yang hangat menyebabkan
bayi lebih cepat menyesuaikan/ beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian Smita Srivastava et al. yang berjudul Effect
of Very Early Skin to Skin Contact on Success at Breastfeeding and Preventing Early
Hypothermia in Neonates, Hasil When axillary temperatures in the babies were
compared at the start and end of 2 h period, the temperature gain was higher in babies
in the intervention group when compared to the control group (P < 0.0001). (Ketika suhu
aksila pada bayi dibandingkan pada awal dan akhir periode 2 jam, kenaikan suhu lebih
tinggi pada bayi dalam kelompok intervensi bila dibandingkan dengan kelompok kontrol
(P <0,0001). (Srivastava. 2014) Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa suhu
kelompok bayi yang diberikan Selimut Inisiasi Menyusu Dini (SIMDi) lebih tinggi dari
kelompok bayi yang diberikan selimut kontemporer pada saat IMD.
Mekanisme utama pada bayi baru lahir untuk mempertahankan termoregulasi
adalah dengan cara non-shivering termoregulation, yaitu mekanisme yang dipengaruhi
oleh sistem saraf simpatis untuk menstimulasi proses metabolik dengan melakukan
oksidasi terhadap jaringan lemak coklat. Peningkatan metabolisme jaringan lemak coklat
akan meningkatkan produksi panas dari dalam tubuh (Yunanto, 2010).
Usaha untuk menjaga bayi tetap hangat saat berada di luar lingkungan bayi
dengan cara mengeringkan tubuh bayi sesegera mungkin terkecuali telapak tangan dan
kaki, menunda memandikan bayi, meletakkan bayi ke dada ibu, membiarkan kulit ibu
melekat pada kulit bayi (skin to skin) (Kemenkes RI, 2010). Saat proses Inisiasi
Menyusu Dini (IMD) untuk mencegah bayi kedinginan dapat diberikan selimut yang
akan menyelimuti bagian punggung bayi dan ibunya serta kepala bayi diberi topi.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penggunaan selimut serbaguna anti hipotermi saat IMD dan Perawatan
Metode Kanguru (PMK) merupakan cara mengurangi hipotermi pada bayi dan
merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, dengan
beberapa kelebihan antara lain: merupakan cara yang efektif untuk memenuhi
kebutuhan bayi yang paling mendasar yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu,
dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi
mendapatkan
kehangatan
(menghindari
bayi
dari
hipotermia),
PMK
memudahkan pemberian ASI, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan
dan kasih sayang.
Ke khasan selimut ini adalah digunakannya aluminium foil dibawah
selimut area punggung bayi, yang berfungsi untuk menahan panas tubuh bayi.
Aluminium foil juga merupakan penghantar panas yang baik untuk energi listrik
dan penghangat ruangan, selain
itu Alumunium foil juga bekerja sebagai
penghambat oksigen dan cahaya. Selimut juga dilengkapi dengan kantung
metode kanguru dan tali yang praktis digunakan untuk skin to skin dengan ibu
maupun ayah bayi.
B. Saran
Selimut serbaguna anti hipotermi ini dapat digunakan lebih efektif bagi
bidan untuk membantu memenuhi sebagian besar kebutuhan dasar bayi, antara
lain kehangatan, ASI, perlindungan infeksi, dan stimulasi pada bayi normal dan
BBLR.
DAFTAR PUSTAKA
Https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/1198
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pelatihan APN Bahan Tambahan IMD. Jakarta :
JNPKKR-JHPIEGO.
Prasetyono, Dwi Sunar. 2009. Buku Pintar ASI Eksklusif. Jakarta : Diva Press.
Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini plus ASI Ekslusif. Jakarta : Pustaka Bunda
Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir dengan Hipoterm Sedang Terhadap
Bayi. 2009.
Ronaldo. 2009. Pertolongan Pertama untuk Bayi dan Anak (terjemahan). Jakarta
(halaman 90-91)
Penanganan Esensial dasar Kegawat-Daruratan Obstetri dan Bayi Baru Lahir. Jakarta
(halaman 75-76)
Saifudin,Abdul Bari,George Adriaansz, Gulardi Hanifa
Wiknjosastro,
DjokoWaspodo.2009.AcuanNasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta (halaman372-374).
Wiknjosastro,Gulardi
H,George
Adriaansz,Omo
Abdul
Madjid,R.Soerjo
Hardjono,J.M.Seno Adjie.2008.Asuhan Persalinan Normal.Jakarta( Halaman
123-126).
Hanani.
2011. Kangaroo
Mother
Care. http://sihhanani.blogspot.co.id/2011/11/kangaroo-mothercare.html diakses : 10 oktober 2015.
Kholipah, S & Tri Iin. 2014. Perawatan Metode Kangguru Perencanaan Penyuluhan
Pendidikan
Kesehatan
tentang
perawatan
BBLR . http://ncembidan.blogspot.co.id/2014/02/askeb-v-perawatan-metodekanguru.html diakses : 10 0ktober 2015.
Rahmayanti. 2011. Pelaksanaan Perawatan Metode Kangguru Pada Ibu Yang Memiliki
BBLR
di
Rumah
Sakit
Budi
Kemuliaan
Jakarta
Tahun
2011 . http://lib.ui.ac.id/ diakses : 10 oktober 2015.
L
A
M
P
I
R
A
N
Download