Uploaded by common.user99867

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPERTENSI (Kel.6)

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
HIPERTENSI
(Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah I)
Disusun Oleh :
Kelompok 6
Semester IV Kelas A
Aisyah Latifa Amalia
(201905008)
Arindra Dwi Angraini
(201905013)
Elda Mariyani
(201905025)
Fadiyah Hurryos
(201905030)
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN DAN NERS
STIKes MITRA KELUARGA
BEKASI
2021
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan innayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Hipertensi.
Kelompok 6 mengucapkan dan menyampaikan rasa terima kasih kepada
Dosen Pengasuh Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah I, yakni Ibu Ns. Lisbeth
Pardede, M.Kep., yang telah memberikan pengetahuan kepada kami terutama tentang
mata kuliah ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan
waktunya.
Kami menyadari betul bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan karena
keterbatasan kemampuan dan ilmu yang penulis miliki. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhirnya hanya kepada Allah kita berserah diri dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, dan kami Kelompok 6 khususnya, dan mudah-mudahan
Allah selalu memberikan Ridho-Nya, AamiinYa Rabbal ‘Alaamiin.
Bekasi, Maret 2021
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) merupakan
masalah kesehatan utama di negara maju maupun negara berkembang.
Hipertensi menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum
dan paling banyak disandang masyarakat.
Tekanan darah adalah kekuatan yang bekerja dengan mengalirkan
darah ke dinding arteri tubuh, pembuluh darah utama dalam tubuh. Hipertensi
terjadi ketika tekanan darah terlalu tinggi. Hipertensi didiagnosis jika, ketika
diukur pada dua hari yang berbeda, pembacaan tekanan darah sistolik pada
kedua hari tersebut adalah ≥140 mmHg dan / atau pembacaan tekanan darah
diastolik pada kedua hari tersebut adalah ≥90 mmHg (WHO, 2019).
Data dari WHO, 2019 menunjukkan bahwa saat ini jumlah orang
dewasa dengan hipertensi meningkat dari 594 juta pada tahun 1975 menjadi
1,13 miliar pada tahun 2015, dengan peningkatan tersebut sebagian besar
terlihat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Peningkatan
ini terutama disebabkan oleh peningkatan faktor risiko hipertensi pada
populasi tersebut. Asia Tenggara berada di posisi ke-3 tertinggi dengan
prevalensi sebesar 25% terhadap total penduduk.
Hasil Riskesdas, 2018 menunjukan bahwa Provinsi Kalimantan
Selatan memiliki prevalensi tertinggi sebesar 44,13% diikuti oleh Jawa Barat
sebesar 39,6%, Kalimantan Timur sebesar 39,3%. Provinsi Papua memiliki
prevensi hipertensi terendah sebesar 22,2% diikuti oleh Maluku Utara sebesar
24,65% dan Sumatera Barat sebesar 25,16%.
Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena terjadi sering tanpa
keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya menyandang hipertensi
dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Kerusakan organ target akibat
komplikasi Hipertensi akan tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan
darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak
diobati.
Untuk itu, pentingnya perawat mempelajari serta memperdalam
wawasan tentang Hipertensi, agar dapat memberikan pelayanan asuhan
keperawatan yang tepat untuk masyarakat.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep penyakit Hipertensi
dan konsep Asuhan keperawatan pada pasien dengan Hipertensi.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu :
a. Memahami definisi dari Hipertensi
b. Mengetahui anatomi dan fisiologi yang berkaitan dengan Hipertensi
c. Mengetahui klasifikasi dari Hipertensi
d. Memahami etiologi dari Hipertensi
e. Memahami patofisiologi dari Hipertensi
f. Mengetahui patoflowdiagram dari Hipertensi
g. Mengetahui manifestasi klinis pasien dengan Hipertensi
h. Mengetahui komplikasi yang terjadi dari Hipertensi
i. Mengetahui pemeriksaan diagnostik Hipertensi
j. Memahami penatalaksanaan medis Hipertensi
k. Memahami pengkajian keperawatan yang dilakukan pada pasien
dengan Hipertensi
l. Memahami diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan
Hipertensi
m. Memahami intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien dengan
Hipertensi
n. Memahami implementasi keperawatan pada pasien dengan Hipertensi
o. Memahami evaluasi keperawatan pada pasien dengan Hipertensi
C. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini menggunakan
metode Deskriptif dan Studi Kepustakaan. Studi Kepustakaan adalah teknik
pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku buku, literatur - literatur, catatan - catatan, dan laporan - laporan yang ada
hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. yang ditinjau dari berbagai
sumber yang empiris dan relevan sehingga mahasiswa/i atau pembaca dapat
mudah untuk memahami isi makalah ini.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan di dalam makalah ini, data yang kami urutkan
berdasarkan isi terdiri atas :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Metode Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Medik
1. Definisi Hipertensi
2. Anatomi dan Fisiologi yang berkaitan dengan Hipertensi
3. Klasifikasi Hipertensi
4. Etiologi Hipertensi
5. Patofisiologi Hipertensi
6. Patoflowdiagram Hipertensi
7. Manifestasi Klinis Hipertensi
8. Komplikasi Hipertensi
9. Pemeriksaan Diagnostik Hipertensi
10. Penatalaksanaan Medis Hipertensi
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
2. Diagnosa Keperawatan
3. Intervensi Keperawatan
4. Implementasi Keperawatan
5. Evaluasi Keperawatan
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Medik
1. Definisi Hipertensi
Hipertensi terjadi jika tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.
Hipertensi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan
darah secara abnormal dan terus-menerus pada beberapa kali pemeriksaan
tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor risiko yang tidak
berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah
secara normal (Majid, 2018).
Hipertensi berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik atau tekanan
diastolik atau tekanan keduanya. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai
tekanan darah tinggi persisten di mana tekanan sistoliknya di atas 140
mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi manula,
hipertensi sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90
mmHg (Smeltzer et al., 2010).
Hipertensi terjadi sebagai respons peningkatan cardiac output atau
peningkatan tekanan perifer. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi
terjadinya hipertensi (Kemenkes RI, 2016), yaitu :
a. Genetik : respons neurologi terhadap stres atau kelainan eksresi atau
transport Natrium
b. Obesitas : terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat
c. Stres lingkungan
d. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada usia lanjut serta
pelebaran pembuluh darah.
2. Anatomi dan Fisiologi yang berkaitan dengan Hipertensi
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardivaskular, adapun anatomi
dan fisiologi dari sistem kardiovaskular.
Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem transpor tertutup, yaitu :
a.
Jantung sebagai organ pemompa
b.
Komponen darah sebagai pembawa materi oksigen dan nutrisi
c.
Pembuluh darah sebagai media yang mengalirkan komponen darah.
Ketiga komponen itu berfungsi dengan baik seluruh jaringan dan organ
tubuh menerima oksigen dan nutrisi yang adekuat.
Otot jantung,
pembuluh darah, sistem konduksi, suplai darah, dan saraf jantung harus
bekerja secara sempurna agar sistem kardiovaskular dapat berfungsi
dengan baik.
Semua komponen tersebut bekerja bersama-sama dan
mempengaruhi denyutan, tekanan, dan volume pompa darah untuk
menyuplai aliran darah ke seluruh jaringan sesuai kebutuhan tubuh.
a. Jantung
Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua ruang yang
berdinding tipis disebut atrium (serambi) dan dua ruang yang
berdinding tebal disebut ventrikel (bilik). Fungsi kontraktilitas otot
jantung sebagai pompa merupakan bagian terpenting dari fungsi
jantung.
b. Darah
Darah merupakan alat pembawa (carrier) pada sistem
kardiovaskular. Secara normal, volume darah yang berada dalam
sirkulasi pada seorang laki - laki dengan berat badan 70 kg berkisar
8% dari berat badan atau sekitar 5600 ml.
Dari jumlah tersebut,
sekitar 55% merupakan plasma. Volume komponen darah harus
memiliki jumlah yang sesuai dengan rentang yang normal agar sistem
kardiovaskular dapat berfungsi secara normal.
c. Pembuluh darah
Pembuluh darah terdiri dari arteri, arteriol, kapiler, venula, dan
vena. Masing-masing memiliki struktur yang berbeda sesuai dengan
ukuran dan otot yang melapisi dinding pembuluh darah. Aorta dan
arteri-arteri besar memfasilitasi keluaran darah yang berasal dari
jantung. Tekanan dan elastisitas dinding pembuluh darah berfluktuasi
sesuai dengan tekanan aliran menuju jaringan.
3. Klasifikasi Hipertensi
Adapun klasifikasi Hipertensi menurut Kardiyudiani & Susanti, 2019
a. Klasifikasi berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi terbagi menjadi 2 macam, yaitu :
1) Hipertensi esensial (primer) yaitu hipertensi yang tidak disebabkan
oleh kondisi atau penyakit lain, tetapi terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi
seperti
genetika,
lingkungan,
hiperaktivitas,
susunan saraf simpatik, sistem rennin angiotensin, efek dari
eksresi Natrium (Na), obesitas, merokok, dan stres.
2) Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang menentukan spesifik
atau komplikasi dari kondisi/penyakit lain, seperti diabetes,
penyakit ginjal, pheochromocytoma, Sindrom Cushing, hiperplasia
adrenal
kongenital,
hipertiroidisme,
kehamilan, sleep apnea, dan kegemukan.
hiperparatiroidisme,
b. Klasifikasi berdasarkan derajat Hipertensi
1) Klasifikasi derajat hipertensi berdasarkan JNC – VIII
Tabel. Klasifikasi Hipertensi
Tekanan Sistolik
Tekanan Diastolik
(mmHg)
(mmHg)
< 120
dan < 80
Pre Hipertensi
120 – 139
atau 80 - 89
Hipertensi derajat I
140 – 159
atau 90 - 99
Hipertensi derajat II
≥ 160
atau ≥ 100
Derajat
Normal
(Sumber : Bell et al., 2018)
2) Klasifikasi menurut ESH dan ESC
Tabel. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan European Society of
Hipertension (ESH) dan European Society pf Cardiology (ESC)
Derajat
Tekanan Sistolik
Tekanan Diastolik
(mmHg)
(mmHg)
Optimal
< 120
dan
< 80
Normal
120 – 129
dan/atau
80 – 84
Normal Tinggi
130 – 139
dan/atau
85 – 89
Hipertensi derajat I
140 – 159
dan/atau
90 – 99
Hipertensi derajat II
160 – 179
dan/atau
100 – 109
Hipertensi
derajat
III
Hipertensi
terisolasi
Sistolik
≥ 180
≥ 140
dan/atau
dan
(Sumber : Mancia et al., 2013)
≥ 110
< 90
c. Hipertensi berdasarkan Bentuknya
Berdasarkan bentuknya, hipertensi terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
1) Hipertensi diastolik (diastolic hypertension)
2) Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi)
3) Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension)
c. Hipertensi Pada Kehamilan
Pada masa kehamilan, seorang wanita dapaa mengalami hipertensi.
Hipertensi pada kehamilan umumnya terbagi menjadi 4, yaitu :
1) Preeklampsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan
tekanan darah tinggi dan kerusakan organ - organ, seperti
kerusakan ginjal yang terlihat dari tingginya kadar protein pada
urine (proteinuria).
2) Hipertensi kronik, yaitu hipertensi yang sudah ada sebelum wanita
yang bersangkutan mengandung janin.
3) Preeklampsia pada hipertensi kronik, yaitu kondisi gabungan dari
preeklampsia dan hipertensi kronik.
4) Hipertensi gestasional (hipertensi transien), yaitu komplikasi
kehamilan dengan tekanan darah tinggi tetapi tanpa adanya yang
ditandai proteinuria.
d. Hipertensi jenis lain
Hipertensi jenis lain yaitu hipertensi pulmonal, yang merupakan
kondisi peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri paruparu yang mengakibatkan sesak napas, pusing, dan pingsan ketika
seseorang ebraktivitas. Hipertensi pulmonal termasuk penyakit berat
yang ditandai menurunnya toleransi dalam melakukan aktivitas dan
gagal jantung kanan.
4. Etiologi Hipertensi
Hipertensi esensial (primer) tidak memiliki kelainan dasar patologis
yang jelas, namun beberapa data penelitian telah menemukan beberapa
faktor yang sering menyebabkan hipertensi, yaitu :
a. Faktor Keturunan
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini
berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan
rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan
orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar
untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tdak mempunyai
keluarga dengan riwayat hipertensi (Wade et al., 2003). Faktor genetik
tampaknya bersifat multifaktorial akibat defek pada beberapa gen yang
berperan pada pengaturan tekanan darah.
b. Ciri Perseorangan
1) Usia : Dengan bertambahnya umur, maka tekanan darah juga akan
meningkat. Setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami
penebalan oleh karena adanya penumpukan zat kolagen pada
lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur
menyempit dan menjadi kaku (Nuraini, 2015).
2) Jenis kelamin :
Pria mempunyai risiko 2,3x lebih banyak
mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dibanding wanita.
Setelah memasuki menopause, prevalensi Hipertensi pada wanita
meningkat. Setelah usia 65 tahun, akibat faktor hormonal pada
wanita kejadian Hipertensi lebih tinggi daripada pria (Kementerian
Kesehatan RI, 2019). Hal tersebut dapat terjadi karena wanita yang
belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen
yang
berperan
dalam
meningkatkan
kadar
High
Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan
faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis.
Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya
imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause
wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen
yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan.
Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut
berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami,
yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.
3) Stres : Stres dapat meningkatkan tekanan darah sewaktu. Hormon
adrenalin akan meningkat sewaktu kita stres, dan itu bisa
mengakibatkan jantung memompa darah lebih cepat sehingga
tekanan darah pun meningkat.
4) Kurang olahraga : Olahraga banyak dihubungkan dengan
pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan
teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga
menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang
lebih berat karena adanya kondisi tertentu. Kurangnya aktivitas
fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya
risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif
cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung
mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin
keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula
kekuaan yang mendesak arteri.
5) Pola asupan garam dalam diet : Konsumsi natrium yang berlebih
menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler
meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke
luar,
sehingga
volume
cairan
ekstraseluler
meningkat.
Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan
meningkatnya
volume
darah, sehingga berdampak kepada
timbulnya hipertensi.
6) Kebiasaan Merokok : Merokok menyebabkan peninggian tekanan
darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan
insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri
renal yang mengalami ateriosklerosis.
Sebaliknya, hipertensi yang disebabkan oleh kondisi tertentu atau
komplikasi dari penyakit lain termasuk dalam jenis hipertensi
sekunder. Tekanan darah tinggi jenis ini sering kali muncul secara
tiba-tiba dan dapat menjadi lebih parah dibandingkan hipertensi
esensial (primer). Berbagai kondisi yang dapat melatarbelakangi
hipertensi sekunder antara lain sleep apnea, masalah tiroid, masalah
ginjal,
hingga
konsumsi
obat-obat
tertentu
seperti
pil
KB,
dekongestan, dan obat-obatan ilegal.
5. Patofisiologi Hipertensi
Hipertensi bisa terjadi melalui beberapa cara sebagai berikut :
a. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak
darah pada setiap detiknya atau stroke volume.
b. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui
arteri tersebut. Oleh sebab itu, setiap denyut jantung darah dipaksa
melalui pembuluh darah yang sempit dibandingkan biasanya dan
menyebabkan naiknya tekanan darah.
Hal ini juga terjadi pada usia lanjut, di mana dinding arterinya telah
menebal dan kaku karena arteriosklerosis.
c. Tekanan darah juga dapat meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi,
yaitu jika arteri kecil (arteriola) mengerut untuk sementara waktu
akibat perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
d. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal
sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam
tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah
juga meningkat.
Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri
mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi maka
tekanan darah akan menurun.
Hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, volume
sekuncup, dan total peripheral resistance (TPR). Peningkatan kecepatan
denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau
hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang
berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme. Akan
tetapi, peningkatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan
volume sekuncup, sehingga tidak menimbulkan hipertensi.
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi
apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam
yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau oldesteron maupun
penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan
garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan
peningkatan volume diastolik akhir, sehingga terjadi peningkatan volume
sekuncup dan tekanan darah.
Peningkatan preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan
sistolik. Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada
peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol atau responsivitas
yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal
tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
Pada peningkatan TPR, jantung harus memompa secara lebih kuat dan
dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar untuk
mendorong darah melintasi pembuluh darah yang menyempit. Hal ini
disebabkan peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan
dengan peningkatan tekanan diastolik.
Jika peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri
mungkin mulai mengalami hipertrofi (membesar). Dengan hipertrofi,
kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat, sehingga ventrikel
harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Pada hipertrofi, saraf- saraf otot juga mulai tegang
melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya akan menyebabkan
penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup.
Mekanisme
terjadinya
hipertensi
adalah
melalui
terbentuknya
angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme
(ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan
darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati.
Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah
menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I
diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki
peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik
(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari)
dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin.
Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke
luar
tubuh
(antidiuresis),
sehingga
menjadi
pekat
dan
tinggi
osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler
akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler.
Akibatnya, volume darah meningkat
yang pada akhirnya akan
meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks
adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan
penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler,
aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara
mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan
diencerkan
kembali
dengan
cara
meningkatkan
volume
cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan
tekanan darah.
6. Patoflow diagram
7. Manifestasi Klinis Hipertensi
Manifestasi klinis yang dapat muncul akibat hipertensi menurut
Elizabeth J. Corwin ialah bahwa sebagian besar gejala klinis timbul
setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun. Manifestasi klinis yang
timbul dapat berupa nyeri kepala saat terjaga yang kadang-kadang disertai
mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah intrakranium,
penglihatan kabur akibat kerusakan retina, ayunan langkah tidak mantap
karena kerusakan susunan saraf, nokturia (peningkatan urinasi pada
malam hari) karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus, edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.
Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau
serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara
pada satu sisi atau hemiplegia atau gangguan tajam penglihatan. Gejala
lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga
berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang
kunang.
8. Komplikasi Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit
jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan
penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan
resiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan
mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan
hidup sebesar 10-20 tahun.
Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak
terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital.
Sebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau
tanpa disertai stroke dan gagal ginjal.
Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai
mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina,
gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan
kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan
koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi stroke dimana terjadi
perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat
mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses
tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic
Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi
yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa
penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung
dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung,
antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress
oksidatif. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan
sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan
organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya
ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β).
a. Otak
Stroke merupakan kerusakan target organ pada otak yang
diakibatkan oleh hipertensi. Stroke timbul karena perdarahan, tekanan
intra kranial yang meninggi, atau akibat embolus yang terlepas dari
pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi
pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang mendarahi otak
mengalami hipertropi atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerahdaerah yang diperdarahinya akan berkurang. Arteri-arteri di otak yang
mengalami
arterosklerosis
melemah
sehingga
meningkatkan
kemungkinan terbentuknya aneurisma. Ensefalopati juga dapat terjadi
terutama pada hipertensi maligna atau hipertensi dengan onset cepat.
Tekanan yang tinggi pada kelainan tersebut menyebabkan peningkatan
tekanan kapiler, sehingga mendorong cairan masuk ke dalam ruang
intertisium di seluruh susunan saraf pusat. Hal tersebut menyebabkan
neuron-neuron di sekitarnya kolap dan terjadi koma bahkan kematian.
b. Kardiovaskular
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami
arterosklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat
aliran darah yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga
miokardium
tidak
mendapatkan
suplai
oksigen
yang
cukup.
Kebutuhan oksigen miokardium yang tidak terpenuhi menyebabkan
terjadinya iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi infark.
c. Ginjal
Penyakit ginjal kronik dapat terjadi karena kerusakan progresif
akibat tekanan tinggi pada kapiler-kepiler ginjal dan glomerolus.
Kerusakan glomerulus akan mengakibatkan darah mengalir ke unit
unit fungsional ginjal, sehingga nefron akan terganggu dan berlanjut
menjadi
hipoksia
dan
kematian
ginjal.
Kerusakan
membran
glomerulus juga akan menyebabkan protein keluar melalui urin
sehingga sering dijumpai edema sebagai akibat dari tekanan osmotik
koloid plasma yang berkurang. Hal tersebut terutama terjadi pada
hipertensi kronik.
d. Retinopati
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan
pembuluh darah pada retina. Makin tinggi tekanan darah dan makin
lama hipertensi tersebut berlangsung, maka makin berat pula
kerusakan yang dapat ditimbulkan. Kelainan lain pada retina yang
terjadi akibat tekanan darah yang tinggi adalah iskemik optik
neuropati atau kerusakan pada saraf mata akibat aliran darah yang
buruk, oklusi arteri dan vena retina akibat penyumbatan aliran darah
pada arteri dan vena retina. Penderita retinopati hipertensif pada
awalnya tidak menunjukkan gejala, yang pada akhirnya dapat menjadi
kebutaan pada stadium akhir.
Kerusakan yang lebih parah pada mata terjadi pada kondisi
hipertensi maligna, di mana tekanan darah meningkat secara tiba-tiba.
Manifestasi klinis akibat hipertensi maligna juga terjadi secara
mendadak, antara lain nyeri kepala, double vision, dim vision, dan
sudden vision loss.
9. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang untuk pasien hipertensi sebenarnya cukup
dengan menggunakan tensi meter tetapi untuk melihat komplikasi akibat
hipertensi,
maka
diperlukan
pemeriksaan
penunjang
antara
lain
(Kemenkes, 2016) :
a. Hemoglobin/hematokrit : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor
risiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
b. Blood Urea Nitrogen (BUN)/kreatinin : untuk mem- berikan informasi
tentang perfusi/fungsi ginjal.
c. Glukosa : untuk mengkaji adanya hiperglikemi yang dapat diakibatkan
oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
d. Urinalisa : untuk mengkaji tekanan darah, protein, glukosa,
mengisyaratkan disfungsi ginjal dan adanya Diabetes Mellitus.
e. EKG : untuk menunjukan pola regangan, di mana luas dan peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
f. Foto thorak : untuk mengkaji adanya pembesaran jantung.
10. Penatalaksanaan Medis
Penanganan hipertensi menurut JNC VII bertujuan untuk mengurangi
angka morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovakuler dan ginjal.
a.
Non Farmakologis
Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan
merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol
berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta
meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih : peningkatan
berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan
darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat
penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.
2) Meningkatkan aktifitas fisik : orang yang aktivitasnya rendah
berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Oleh
karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari
penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
3) Mengurangi asupan natrium
4) Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol : kafein dapat
memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih
banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol
lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
b.
Terapi Farmakologi
Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh
JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau
aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau
calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor
(ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor
antagonist/blocker
(ARB)
diuretik
tiazid
(misalnya
bendroflumetiazid). Adapun contoh contoh obat anti hipertensi
antaralain yaitu :
1) Beta‐bloker, (misalnya propanolol, atenolol),
2) Penghambat
angiotensin
converting
enzymes
(misalnya
captopril, enalapril),
3) Antagonis angiotensin II (misalnya candesartan, losartan),
4) Calcium channel blocker (misalnya amlodipin, nifedipin)
5) Alpha‐blocker (misalnya doksasozin).
Yang lebih jarang digunakan adalah vasodilator dan antihipertensi
kerja sentral dan yang jarang dipakai, guanetidin, yang diindikasikan
untuk keadaan krisis hipertensi.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam
praktek keperawatan, yang meliputi : pengkajian, diagnose keperawatan,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat
untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes, et al (2001)
adalah :
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin, Pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal
dan jam MRS, nomor registrasi, dan diagnose medis
b. Keluhan utama
Sering terjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan dalah
pusing, sakit kepala, dan penurunan tingkat kesadaran.
c. Penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya, diabetes
mellitus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi
oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin,
vasodilator, obat-obat adiktif dan kegemukan. Pengkajian obat-obatan
yang sering digukana klien seperti pemakaian obat anti hipertensi, anti
lipidemia, penghambat beta dan lainnya. Adanya riwayat merokok,
penggunaan alcohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian
ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan
merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk
memberikan tindakan selanjutnya.
e. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes
mellitus atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.
f. Pengkajian psikospiritual
Pengkajian psikologis klien hipertensi meliputi beberapa dimensi yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas
mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Dalam pola tata
nilai dan kepercayaan, klien biasanya jarang melakukan ibadah
spiritual
karena
tingkah
laku
yang
tidak
stabil
dan
kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis
dengan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya
hidup individu. Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri atas
dua masalah : keterbatasan yang diakibatkan oleh deficit neurologis
dalam hubungannya dengan peran social klien dan rencana pelayanan
yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis di dalam
system dukungan individu.
g. Aktivitas istirahat
Gejala :
Kelelahan umum, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup
Tanda :
1) Frekuensi jantung meningkat
2) Perubahan irama jantung
h. Sirkulasi
Gejala :
Riwayat hipertensi atherosclerosis, penyakit jantung kongesti/ katup
dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda :
1) Kenaikan TD (pengukuran serial dan kenaikan TD diperlukan
untuk menegakkan diagnosis)
2) Nada denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis
3) Denyut apical : Titik poin maksismum impuls kemungkinan
bergeser dan sangat kuat
4) Frekuensi/irama : Takikardia berbagai distritma
5) Bunyi, jantung terdengar bunyi jantung I pada dasar bunyi jantung
II dan bunyi jantung III murmur atenosis vascular
i. Integritas ego
Gejala :
Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi euphoria, marah,
factor stress, multiple (hubungan keuangan yang berkaitan dengan
pekerjaan)
Tanda :
Letupan suasana hati, gelisah, tangisan yang meledak, otot muka
tegang (khususnya sekitar mata), Gerakan fisik cepat, pernafasan
mengelam peningkatan pola bicara.
j. Eliminasi
Gejala :
Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (riwayat penyakit ginjal)
k. Makanan/Cairan
Gejala :
Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam,
tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan
(meningkat/menurun) riwwayat pengguna diuretic.
Tanda :
1) BB normal atau obesitas
2) Adanya edema
3) Kongestiva
4) Glikosuria (hamper 10% hipertensi adalah diabetic)
l. Neurosensory
Gejala :
1) Keluhan pusing/pening, sakit kepala
2) Berdenyut, sakit kepala sub occipital (terjadi saat bangun dan
menghilang secara spontan setelah beberapa jam)
3) Kelemahan pada satu sisi tubuh
4) Gangguan penglihatan
5) Episode staktis
Tanda :
1) Status mental, pola bicara, proses fikir atau memori
2) Respon
motoric
:
penurunan
kekuatan
genggamantangan,
perubahan retinal optic
m. Nyeri/ Ketidaknyamanan
Gejala :
1) Angina (penyakit arteri coroner/keterlibatan jantung)
2) Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudasi
3) Sakit kepala occipital berat, seperti yang pernah terjadi
sebelumnya
4) Nyeri abdomen/massa
n. Pernapasan
Gejala :
1) Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas kerja
2) Riwayat merokok, batuk dengan/tanpa sputum
Tanda :
1) Distress respirasi
2) Bunyi napas tambahan
3) Sianosis
o. Keamanan
Gejala :
1) Gangguan koordinasi/ cara berjalan
2) Hypotensia postural
Tanda :
1) Frekuensi jantung meningkat
2) Perubahan irama jantung (tachypnea)
p. Pembelajaran/Penyebab
Gejala :
1) Factor resiko keluarga : hipertensi, penyakit jantung, DM
q. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang untuk pasien hipertensi sebenarnya cukup
dengan menggunakan tensi meter tetapi untuk melihat komplikasi
akibat hipertensi, maka diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain
(Kemenkes, 2016) :
1) Hemoglobin/hematokrit : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan
faktor risiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
2) Blood Urea Nitrogen (BUN)/kreatinin : untuk mem- berikan
informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
3) Glukosa : untuk mengkaji adanya hiperglikemi yang dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
4) Urinalisa : untuk mengkaji tekanan darah, protein, glukosa,
mengisyaratkan disfungsi ginjal dan adanya Diabetes Mellitus.
5) EKG : untuk menunjukan pola regangan, di mana luas dan
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.
6) Foto thorak : untuk mengkaji adanya pembesaran jantung.
3. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular.
b. Intoleransi
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
umum,
c. Nyeri Akut (nyeri kepala) berhubungan dengan agen pencedera
fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler cerebral dan iskemia).
d. Deficit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi
tentang proses penyakit dan merawat diri.
4. Intervensi Keperawatan
a. Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan curah
jantung meningkat
Kriteria hasil : Curah Jantung (L.02008)
Rencana Tindakan : Perawatan Jantung (I.02075)
a. Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung seperti
kelelahan
b. Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung seperti
: peningkatan BB
c. Monitor tekanan darah
d. Monitor intake dan output cairan
e. Monitor BB setiap hari pada waktu yang sama
f. Monitor saturasi oksigen
g. Monitor keluhan nyeri dada : intensitas, lokasi, radiasi, durasi,
presivitasi yg mengurangi nyeri
h. Monitor aritma : kelainan irama&frekuensi
i. Monitor nilai lab jantung : elektrolit, enzim jantung, BNP, NT proBNP
j. Periksa TD & frekuensi nadi sebelum & sesudah aktivitas
k. Periksa TD & frekuensi nadi sebelum pemberian obat : beta
blocker, ACE inhibitor
l. Posisikan pasien semi-fowler/fowler dengan kaki kebawah/posisi
nyaman
m. Berikan diet jantung yg sesuai (mis. Batasi asupan kafein, natrium,
kolesterol, dan makanan tinggi lemak)
n. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi
o. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat
p. Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres, jika perlu
b. Intoleransi
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan
umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan toleransi
aktivitas meningkat
Kriteria hasil : Toleransi Aktivitas (L.05047)
1) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari
2) Pasien mampu berpindah tanpa bantuan
3) Pasien mengatakan keluhan lemah berkurang
Rencana tindakan : Manajemen energi (I.050178)
1) Monitor kelelahan fisik dan emosional
2) Monitor pola dan jam tidur
3) Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mis:
cahaya, suara, kunjungan)
4) Berikan aktifitas distraksi yang menenangkan
5) Anjurkan tirah baring
6) Anjurkan melakukan aktifitas secara bertahap
7) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan
makanan
c. Nyeri Akut (nyeri kepala) berhubungan dengan agen pencedera
fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler cerebral dan iskemia).
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat
nyeri menurun
Kriteria hasil : Tingkat nyeri (L.08066)
8) Pasien mengatakan nyeri berkurang dari skala 4 menjadi 2
9) Pasien menunjukan ekspresi wajah tenang
10) Pasien dapat beristirahat dengan nyaman
Rencana tindakan : (Manajemen nyeri I.08238)
1) Identifikasi lokasi, karakteristik nyeri, durasi, frekuensi, intensitas
nyeri
2) Identifikasi skala nyeri
3) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
4) Berikan terapi non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
(mis: akupuntur, terapi musik hopnosis, biofeedback, teknik
imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin)
5) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
6) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
7) Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri
8) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
d. Deficit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi
tentang proses penyakit dan merawat diri.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat
pengetahuan meningkat
Kriteria Hasil : Tingkat pengetahuan (L.12111)
4) Pasien melakukan sesuai anjuran
5) Pasien tampak mampu menjelaskan kembali materi yang
disampaikan
6) Pasien mengajukan pertanyaan
Rencana Tindakan : Edukasi kesehatan (I.12383)
1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
2) Identifikasi
factor-faktor
yang
dapat
meningkatkan
menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
3) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
dan
4) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
5) Berikan kesempatan untuk bertanya
6) Jelaskan factor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
7) Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
8) Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat
5. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi,
2012) dalam (Ayunda & Ali, 2014). Implementasi merupakan langkah
keempat dari proses keperawatan yang telah direncanakan oleh perawat
untuk dikerjakan dalam rangka membantu klien untuk mencegah,
mengurangi, dan menghilangkan dampak atau respons yang ditimbulkan
oleh masalah keperawatan dan Kesehatan (Zaiding Ali, 2014) dalam
(Ayunda & Ali, 2014)
Dari intervensi yang telah diberikan maka diharapkan kebutuhan
oksigen terpenuhi, gangguan rasa nyaman hilang, tekanan darah stabil atau
normal.
6. Evaluasi Keperawatan
Perawat mengevaluasi hasil perkembangan pasien dan memastikan
bahwa pasien telah pulih dari penyakit hipertensi, gangguan rasa nyaman,
serta kebutuhan oksigen terpenuhi. Evaluasi disusun menggunakan
Subjektif, Objektif, Analisa, Planning/ rencana tindak lanjut (SOAP)
secara operasional dengan tahapan dengan sumatif (dilakukan selama
proses asuhan keperawatan) dan formatif yaitu dengan proses dan evaluasi
akhir. Evaluasi dapat dibagi menjadi dalam 2 jenis, yaitu:
a. Evaluasi berjalan (sumatif), yaitu jenis evaluasi yang dikerjakan dalam
bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi
kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai
adalah format SOAP (Setiadi, 2008) dalam (Ayunda Tri, 2012).
b. Evaluasi akhir (formatif), yaitu jenis evaluasi yang dikerjakan dengan
cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai bila terdapat
kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses
keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data, masalah
atau rencana yang perlu dimodifikasi (Setiadi, 2008) dalam (Ayunda
Tri, 2012).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling
umum dan paling banyak disandang masyarakat. Hipertensi terjadi apabila
tekanan darah terlalu tinggi, hipertensi juga dapat di diagnosis setelah
pengukuran 2 hari yaitu ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg
dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi seperti
keturunan (genetik), usia, jenis kelamin, stress, kurang olahraga, merokok,
serta pola asupan garam dalam diet. Oleh sebab itu, penderita hipertensi harus
menghindari faktor - faktor yang dapat memicu terjadinya hipertensi.
Pada penyakit hipertensi terdapat faktor risiko utama seperti terjadinya
penyakit jantung, gagal jantung kongensif, stroke, gangguan penglihatan serta
penyakit ginjal.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas yang sudah kami susun maka ada beberapa hal
yang harus diperhatikan:
1. Bagi klien
a. Bagi klien hipertensi sebaiknya harus mengetahui dan menghindari
faktor pencetus terjadinya hipertensi.
b. Klien harus menjaga pola asupan garam, jika klien memiliki berat
badan berlebih karena sifat garam adalah mengikat air.
c. Klien harus melakukan olahraga ringan tidak perlu terlalu berat.
d. Klien disarankan untuk tidak memiliki aktivitas kebiasaan merokok
atau stop merokok.
2. Bagi perawat
Para perawat yang memberikan asuhan keperawatan kepada klien
hipertensi harus mengetahui faktor apa yang mencetus sehingga terjadinya
hipertensi. Oleh karena itu, perawat juga dapat berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan lainnya dalam pengobatan klien hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
Ayunda, T. R. I., & Ali, Z. (2014). PASIEN HIPERTENSI.
Bachrudin, M, & Najib, Moh. (2016). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Pusdik
SDM Kesehatan
Bell, K., Twiggs, J., & Olin, B. R. (2018). Hypertension : The Silent Killer : Updated
JNC-8 Guideline Recommendations.
Kardiyudiani, N. K., & Susanti, B. A. D. (2019). Keperawatan Medikal Bedah 1 (I.
K. Dewi (ed.)). PT. Pustaka Baru.
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Faktor risiko penyebab Hipertensi. 13 Mei 2019.
http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantungdan-pembuluh-darah/page/11/faktor-risiko-penyebab-hipertensi
Majid, A. (2018). Asuhan Keperawatam ada Pasien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Pustaka Baru Press.
Mancia, G., Fagard, R., Narkiewicz, K., Redon, J., Zanchetti, A., Böhm, M.,
Christiaens, T., Cifkova, R., De Backer, G., Dominiczak, A., Galderisi, M.,
Grobbee, D. E., Jaarsma, T., Kirchhof, P., Kjeldsen, S. E., Laurent, S., Manolis,
A. J., Nilsson, P. M., Ruilope, L. M., … Wood, D. A. (2013). The Task Force
for the management of arterial hypertension of the European Society of
Hypertension (ESH) and of the European Society of Cardiology (ESC).
European Heart Journal, 34(28), 2159–2219.
https://doi.org/10.1093/eurheartj/eht151
Nuraini, B. (2015). Risk Factors of Hypertension. J Majority, 4(5), 10–19.
Organization, W. H. (2019). Hypertension. https://www.who.int/news-room/factsheets/detail/hypertension
Smeltzer, S., Bare, B., Hinkle, J., & Cheever, K. (2010). Brunner and Suddarth’s
Textbook of Medical-Surgical Nursing. Lippincot Williams and Wilkins.
Wade, A. H., Weir, D. N., Cameron, A. P., & Tett, S. E. (2003). Using a problem
detection study (PDS) to identify and compare health care provider and
consumer views of antihypertensive therapy. Journal of Human Hypertension,
17(6), 397–405. https://doi.org/10.1038/sj.jhh.1001565
Ibrahim, I. (2011). Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Hipertensi. Idea
Nursing Journal, 2(1), 60–69.
Samita, L. (2018). Asuhan Keperawatan pada Tn. MR dengan Gangguan Sistem
Cardiovaskuler Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kambang.
Sari, N. P. (2020). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hipertensi yang di
Rawat di Rumah Sakit. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol.
53, Issue 9).
Download