LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPERTENSI (Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah I) Disusun Oleh : Kelompok 6 Semester IV Kelas A Aisyah Latifa Amalia (201905008) Arindra Dwi Angraini (201905013) Elda Mariyani (201905025) Fadiyah Hurryos (201905030) PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN DAN NERS STIKes MITRA KELUARGA BEKASI 2021 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan innayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hipertensi. Kelompok 6 mengucapkan dan menyampaikan rasa terima kasih kepada Dosen Pengasuh Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah I, yakni Ibu Ns. Lisbeth Pardede, M.Kep., yang telah memberikan pengetahuan kepada kami terutama tentang mata kuliah ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktunya. Kami menyadari betul bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya hanya kepada Allah kita berserah diri dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan kami Kelompok 6 khususnya, dan mudah-mudahan Allah selalu memberikan Ridho-Nya, AamiinYa Rabbal ‘Alaamiin. Bekasi, Maret 2021 Penyusun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) merupakan masalah kesehatan utama di negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat. Tekanan darah adalah kekuatan yang bekerja dengan mengalirkan darah ke dinding arteri tubuh, pembuluh darah utama dalam tubuh. Hipertensi terjadi ketika tekanan darah terlalu tinggi. Hipertensi didiagnosis jika, ketika diukur pada dua hari yang berbeda, pembacaan tekanan darah sistolik pada kedua hari tersebut adalah ≥140 mmHg dan / atau pembacaan tekanan darah diastolik pada kedua hari tersebut adalah ≥90 mmHg (WHO, 2019). Data dari WHO, 2019 menunjukkan bahwa saat ini jumlah orang dewasa dengan hipertensi meningkat dari 594 juta pada tahun 1975 menjadi 1,13 miliar pada tahun 2015, dengan peningkatan tersebut sebagian besar terlihat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan faktor risiko hipertensi pada populasi tersebut. Asia Tenggara berada di posisi ke-3 tertinggi dengan prevalensi sebesar 25% terhadap total penduduk. Hasil Riskesdas, 2018 menunjukan bahwa Provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi tertinggi sebesar 44,13% diikuti oleh Jawa Barat sebesar 39,6%, Kalimantan Timur sebesar 39,3%. Provinsi Papua memiliki prevensi hipertensi terendah sebesar 22,2% diikuti oleh Maluku Utara sebesar 24,65% dan Sumatera Barat sebesar 25,16%. Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena terjadi sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya menyandang hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Kerusakan organ target akibat komplikasi Hipertensi akan tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Untuk itu, pentingnya perawat mempelajari serta memperdalam wawasan tentang Hipertensi, agar dapat memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang tepat untuk masyarakat. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep penyakit Hipertensi dan konsep Asuhan keperawatan pada pasien dengan Hipertensi. 2. Tujuan Khusus Diharapkan mahasiswa mampu : a. Memahami definisi dari Hipertensi b. Mengetahui anatomi dan fisiologi yang berkaitan dengan Hipertensi c. Mengetahui klasifikasi dari Hipertensi d. Memahami etiologi dari Hipertensi e. Memahami patofisiologi dari Hipertensi f. Mengetahui patoflowdiagram dari Hipertensi g. Mengetahui manifestasi klinis pasien dengan Hipertensi h. Mengetahui komplikasi yang terjadi dari Hipertensi i. Mengetahui pemeriksaan diagnostik Hipertensi j. Memahami penatalaksanaan medis Hipertensi k. Memahami pengkajian keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan Hipertensi l. Memahami diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan Hipertensi m. Memahami intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien dengan Hipertensi n. Memahami implementasi keperawatan pada pasien dengan Hipertensi o. Memahami evaluasi keperawatan pada pasien dengan Hipertensi C. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini menggunakan metode Deskriptif dan Studi Kepustakaan. Studi Kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku buku, literatur - literatur, catatan - catatan, dan laporan - laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. yang ditinjau dari berbagai sumber yang empiris dan relevan sehingga mahasiswa/i atau pembaca dapat mudah untuk memahami isi makalah ini. D. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan di dalam makalah ini, data yang kami urutkan berdasarkan isi terdiri atas : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Penulisan C. Metode Penulisan D. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Medik 1. Definisi Hipertensi 2. Anatomi dan Fisiologi yang berkaitan dengan Hipertensi 3. Klasifikasi Hipertensi 4. Etiologi Hipertensi 5. Patofisiologi Hipertensi 6. Patoflowdiagram Hipertensi 7. Manifestasi Klinis Hipertensi 8. Komplikasi Hipertensi 9. Pemeriksaan Diagnostik Hipertensi 10. Penatalaksanaan Medis Hipertensi B. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Keperawatan 2. Diagnosa Keperawatan 3. Intervensi Keperawatan 4. Implementasi Keperawatan 5. Evaluasi Keperawatan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Medik 1. Definisi Hipertensi Hipertensi terjadi jika tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal dan terus-menerus pada beberapa kali pemeriksaan tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor risiko yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal (Majid, 2018). Hipertensi berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik atau tekanan diastolik atau tekanan keduanya. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi persisten di mana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Smeltzer et al., 2010). Hipertensi terjadi sebagai respons peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya hipertensi (Kemenkes RI, 2016), yaitu : a. Genetik : respons neurologi terhadap stres atau kelainan eksresi atau transport Natrium b. Obesitas : terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat c. Stres lingkungan d. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada usia lanjut serta pelebaran pembuluh darah. 2. Anatomi dan Fisiologi yang berkaitan dengan Hipertensi Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardivaskular, adapun anatomi dan fisiologi dari sistem kardiovaskular. Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem transpor tertutup, yaitu : a. Jantung sebagai organ pemompa b. Komponen darah sebagai pembawa materi oksigen dan nutrisi c. Pembuluh darah sebagai media yang mengalirkan komponen darah. Ketiga komponen itu berfungsi dengan baik seluruh jaringan dan organ tubuh menerima oksigen dan nutrisi yang adekuat. Otot jantung, pembuluh darah, sistem konduksi, suplai darah, dan saraf jantung harus bekerja secara sempurna agar sistem kardiovaskular dapat berfungsi dengan baik. Semua komponen tersebut bekerja bersama-sama dan mempengaruhi denyutan, tekanan, dan volume pompa darah untuk menyuplai aliran darah ke seluruh jaringan sesuai kebutuhan tubuh. a. Jantung Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua ruang yang berdinding tipis disebut atrium (serambi) dan dua ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel (bilik). Fungsi kontraktilitas otot jantung sebagai pompa merupakan bagian terpenting dari fungsi jantung. b. Darah Darah merupakan alat pembawa (carrier) pada sistem kardiovaskular. Secara normal, volume darah yang berada dalam sirkulasi pada seorang laki - laki dengan berat badan 70 kg berkisar 8% dari berat badan atau sekitar 5600 ml. Dari jumlah tersebut, sekitar 55% merupakan plasma. Volume komponen darah harus memiliki jumlah yang sesuai dengan rentang yang normal agar sistem kardiovaskular dapat berfungsi secara normal. c. Pembuluh darah Pembuluh darah terdiri dari arteri, arteriol, kapiler, venula, dan vena. Masing-masing memiliki struktur yang berbeda sesuai dengan ukuran dan otot yang melapisi dinding pembuluh darah. Aorta dan arteri-arteri besar memfasilitasi keluaran darah yang berasal dari jantung. Tekanan dan elastisitas dinding pembuluh darah berfluktuasi sesuai dengan tekanan aliran menuju jaringan. 3. Klasifikasi Hipertensi Adapun klasifikasi Hipertensi menurut Kardiyudiani & Susanti, 2019 a. Klasifikasi berdasarkan Penyebabnya Berdasarkan penyebabnya, hipertensi terbagi menjadi 2 macam, yaitu : 1) Hipertensi esensial (primer) yaitu hipertensi yang tidak disebabkan oleh kondisi atau penyakit lain, tetapi terdapat banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, sistem rennin angiotensin, efek dari eksresi Natrium (Na), obesitas, merokok, dan stres. 2) Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang menentukan spesifik atau komplikasi dari kondisi/penyakit lain, seperti diabetes, penyakit ginjal, pheochromocytoma, Sindrom Cushing, hiperplasia adrenal kongenital, hipertiroidisme, kehamilan, sleep apnea, dan kegemukan. hiperparatiroidisme, b. Klasifikasi berdasarkan derajat Hipertensi 1) Klasifikasi derajat hipertensi berdasarkan JNC – VIII Tabel. Klasifikasi Hipertensi Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik (mmHg) (mmHg) < 120 dan < 80 Pre Hipertensi 120 – 139 atau 80 - 89 Hipertensi derajat I 140 – 159 atau 90 - 99 Hipertensi derajat II ≥ 160 atau ≥ 100 Derajat Normal (Sumber : Bell et al., 2018) 2) Klasifikasi menurut ESH dan ESC Tabel. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan European Society of Hipertension (ESH) dan European Society pf Cardiology (ESC) Derajat Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik (mmHg) (mmHg) Optimal < 120 dan < 80 Normal 120 – 129 dan/atau 80 – 84 Normal Tinggi 130 – 139 dan/atau 85 – 89 Hipertensi derajat I 140 – 159 dan/atau 90 – 99 Hipertensi derajat II 160 – 179 dan/atau 100 – 109 Hipertensi derajat III Hipertensi terisolasi Sistolik ≥ 180 ≥ 140 dan/atau dan (Sumber : Mancia et al., 2013) ≥ 110 < 90 c. Hipertensi berdasarkan Bentuknya Berdasarkan bentuknya, hipertensi terbagi menjadi 3 macam, yaitu : 1) Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) 2) Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi) 3) Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) c. Hipertensi Pada Kehamilan Pada masa kehamilan, seorang wanita dapaa mengalami hipertensi. Hipertensi pada kehamilan umumnya terbagi menjadi 4, yaitu : 1) Preeklampsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan organ - organ, seperti kerusakan ginjal yang terlihat dari tingginya kadar protein pada urine (proteinuria). 2) Hipertensi kronik, yaitu hipertensi yang sudah ada sebelum wanita yang bersangkutan mengandung janin. 3) Preeklampsia pada hipertensi kronik, yaitu kondisi gabungan dari preeklampsia dan hipertensi kronik. 4) Hipertensi gestasional (hipertensi transien), yaitu komplikasi kehamilan dengan tekanan darah tinggi tetapi tanpa adanya yang ditandai proteinuria. d. Hipertensi jenis lain Hipertensi jenis lain yaitu hipertensi pulmonal, yang merupakan kondisi peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri paruparu yang mengakibatkan sesak napas, pusing, dan pingsan ketika seseorang ebraktivitas. Hipertensi pulmonal termasuk penyakit berat yang ditandai menurunnya toleransi dalam melakukan aktivitas dan gagal jantung kanan. 4. Etiologi Hipertensi Hipertensi esensial (primer) tidak memiliki kelainan dasar patologis yang jelas, namun beberapa data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan hipertensi, yaitu : a. Faktor Keturunan Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tdak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi (Wade et al., 2003). Faktor genetik tampaknya bersifat multifaktorial akibat defek pada beberapa gen yang berperan pada pengaturan tekanan darah. b. Ciri Perseorangan 1) Usia : Dengan bertambahnya umur, maka tekanan darah juga akan meningkat. Setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku (Nuraini, 2015). 2) Jenis kelamin : Pria mempunyai risiko 2,3x lebih banyak mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dibanding wanita. Setelah memasuki menopause, prevalensi Hipertensi pada wanita meningkat. Setelah usia 65 tahun, akibat faktor hormonal pada wanita kejadian Hipertensi lebih tinggi daripada pria (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Hal tersebut dapat terjadi karena wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun. 3) Stres : Stres dapat meningkatkan tekanan darah sewaktu. Hormon adrenalin akan meningkat sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan jantung memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun meningkat. 4) Kurang olahraga : Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu. Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri. 5) Pola asupan garam dalam diet : Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. 6) Kebiasaan Merokok : Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. Sebaliknya, hipertensi yang disebabkan oleh kondisi tertentu atau komplikasi dari penyakit lain termasuk dalam jenis hipertensi sekunder. Tekanan darah tinggi jenis ini sering kali muncul secara tiba-tiba dan dapat menjadi lebih parah dibandingkan hipertensi esensial (primer). Berbagai kondisi yang dapat melatarbelakangi hipertensi sekunder antara lain sleep apnea, masalah tiroid, masalah ginjal, hingga konsumsi obat-obat tertentu seperti pil KB, dekongestan, dan obat-obatan ilegal. 5. Patofisiologi Hipertensi Hipertensi bisa terjadi melalui beberapa cara sebagai berikut : a. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak darah pada setiap detiknya atau stroke volume. b. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Oleh sebab itu, setiap denyut jantung darah dipaksa melalui pembuluh darah yang sempit dibandingkan biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan darah. Hal ini juga terjadi pada usia lanjut, di mana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. c. Tekanan darah juga dapat meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) mengerut untuk sementara waktu akibat perangsangan saraf atau hormon di dalam darah. d. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat. Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi maka tekanan darah akan menurun. Hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, dan total peripheral resistance (TPR). Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme. Akan tetapi, peningkatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup, sehingga tidak menimbulkan hipertensi. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau oldesteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir, sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik. Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan TPR, jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar untuk mendorong darah melintasi pembuluh darah yang menyempit. Hal ini disebabkan peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Jika peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrofi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat, sehingga ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada hipertrofi, saraf- saraf otot juga mulai tegang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup. Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. 6. Patoflow diagram 7. Manifestasi Klinis Hipertensi Manifestasi klinis yang dapat muncul akibat hipertensi menurut Elizabeth J. Corwin ialah bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun. Manifestasi klinis yang timbul dapat berupa nyeri kepala saat terjaga yang kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah intrakranium, penglihatan kabur akibat kerusakan retina, ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf, nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus, edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi atau hemiplegia atau gangguan tajam penglihatan. Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang kunang. 8. Komplikasi Hipertensi Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal. Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi stroke dimana terjadi perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna. Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β). a. Otak Stroke merupakan kerusakan target organ pada otak yang diakibatkan oleh hipertensi. Stroke timbul karena perdarahan, tekanan intra kranial yang meninggi, atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang mendarahi otak mengalami hipertropi atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerahdaerah yang diperdarahinya akan berkurang. Arteri-arteri di otak yang mengalami arterosklerosis melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma. Ensefalopati juga dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna atau hipertensi dengan onset cepat. Tekanan yang tinggi pada kelainan tersebut menyebabkan peningkatan tekanan kapiler, sehingga mendorong cairan masuk ke dalam ruang intertisium di seluruh susunan saraf pusat. Hal tersebut menyebabkan neuron-neuron di sekitarnya kolap dan terjadi koma bahkan kematian. b. Kardiovaskular Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami arterosklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga miokardium tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Kebutuhan oksigen miokardium yang tidak terpenuhi menyebabkan terjadinya iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi infark. c. Ginjal Penyakit ginjal kronik dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler-kepiler ginjal dan glomerolus. Kerusakan glomerulus akan mengakibatkan darah mengalir ke unit unit fungsional ginjal, sehingga nefron akan terganggu dan berlanjut menjadi hipoksia dan kematian ginjal. Kerusakan membran glomerulus juga akan menyebabkan protein keluar melalui urin sehingga sering dijumpai edema sebagai akibat dari tekanan osmotik koloid plasma yang berkurang. Hal tersebut terutama terjadi pada hipertensi kronik. d. Retinopati Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah pada retina. Makin tinggi tekanan darah dan makin lama hipertensi tersebut berlangsung, maka makin berat pula kerusakan yang dapat ditimbulkan. Kelainan lain pada retina yang terjadi akibat tekanan darah yang tinggi adalah iskemik optik neuropati atau kerusakan pada saraf mata akibat aliran darah yang buruk, oklusi arteri dan vena retina akibat penyumbatan aliran darah pada arteri dan vena retina. Penderita retinopati hipertensif pada awalnya tidak menunjukkan gejala, yang pada akhirnya dapat menjadi kebutaan pada stadium akhir. Kerusakan yang lebih parah pada mata terjadi pada kondisi hipertensi maligna, di mana tekanan darah meningkat secara tiba-tiba. Manifestasi klinis akibat hipertensi maligna juga terjadi secara mendadak, antara lain nyeri kepala, double vision, dim vision, dan sudden vision loss. 9. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan penunjang untuk pasien hipertensi sebenarnya cukup dengan menggunakan tensi meter tetapi untuk melihat komplikasi akibat hipertensi, maka diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain (Kemenkes, 2016) : a. Hemoglobin/hematokrit : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor risiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia. b. Blood Urea Nitrogen (BUN)/kreatinin : untuk mem- berikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. c. Glukosa : untuk mengkaji adanya hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. d. Urinalisa : untuk mengkaji tekanan darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan adanya Diabetes Mellitus. e. EKG : untuk menunjukan pola regangan, di mana luas dan peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. f. Foto thorak : untuk mengkaji adanya pembesaran jantung. 10. Penatalaksanaan Medis Penanganan hipertensi menurut JNC VII bertujuan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovakuler dan ginjal. a. Non Farmakologis Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur. 1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih : peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi. 2) Meningkatkan aktifitas fisik : orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi. 3) Mengurangi asupan natrium 4) Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol : kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi. b. Terapi Farmakologi Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB) diuretik tiazid (misalnya bendroflumetiazid). Adapun contoh contoh obat anti hipertensi antaralain yaitu : 1) Beta‐bloker, (misalnya propanolol, atenolol), 2) Penghambat angiotensin converting enzymes (misalnya captopril, enalapril), 3) Antagonis angiotensin II (misalnya candesartan, losartan), 4) Calcium channel blocker (misalnya amlodipin, nifedipin) 5) Alpha‐blocker (misalnya doksasozin). Yang lebih jarang digunakan adalah vasodilator dan antihipertensi kerja sentral dan yang jarang dipakai, guanetidin, yang diindikasikan untuk keadaan krisis hipertensi. B. Konsep Asuhan Keperawatan Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan, yang meliputi : pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. 1. Pengkajian Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes, et al (2001) adalah : a. Identitas klien Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, Pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor registrasi, dan diagnose medis b. Keluhan utama Sering terjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan dalah pusing, sakit kepala, dan penurunan tingkat kesadaran. c. Penyakit sekarang d. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya, diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif dan kegemukan. Pengkajian obat-obatan yang sering digukana klien seperti pemakaian obat anti hipertensi, anti lipidemia, penghambat beta dan lainnya. Adanya riwayat merokok, penggunaan alcohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya. e. Riwayat penyakit keluarga Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes mellitus atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu. f. Pengkajian psikospiritual Pengkajian psikologis klien hipertensi meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Dalam pola tata nilai dan kepercayaan, klien biasanya jarang melakukan ibadah spiritual karena tingkah laku yang tidak stabil dan kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri atas dua masalah : keterbatasan yang diakibatkan oleh deficit neurologis dalam hubungannya dengan peran social klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis di dalam system dukungan individu. g. Aktivitas istirahat Gejala : Kelelahan umum, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup Tanda : 1) Frekuensi jantung meningkat 2) Perubahan irama jantung h. Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi atherosclerosis, penyakit jantung kongesti/ katup dan penyakit serebrovaskuler. Tanda : 1) Kenaikan TD (pengukuran serial dan kenaikan TD diperlukan untuk menegakkan diagnosis) 2) Nada denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis 3) Denyut apical : Titik poin maksismum impuls kemungkinan bergeser dan sangat kuat 4) Frekuensi/irama : Takikardia berbagai distritma 5) Bunyi, jantung terdengar bunyi jantung I pada dasar bunyi jantung II dan bunyi jantung III murmur atenosis vascular i. Integritas ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi euphoria, marah, factor stress, multiple (hubungan keuangan yang berkaitan dengan pekerjaan) Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), Gerakan fisik cepat, pernafasan mengelam peningkatan pola bicara. j. Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (riwayat penyakit ginjal) k. Makanan/Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan (meningkat/menurun) riwwayat pengguna diuretic. Tanda : 1) BB normal atau obesitas 2) Adanya edema 3) Kongestiva 4) Glikosuria (hamper 10% hipertensi adalah diabetic) l. Neurosensory Gejala : 1) Keluhan pusing/pening, sakit kepala 2) Berdenyut, sakit kepala sub occipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam) 3) Kelemahan pada satu sisi tubuh 4) Gangguan penglihatan 5) Episode staktis Tanda : 1) Status mental, pola bicara, proses fikir atau memori 2) Respon motoric : penurunan kekuatan genggamantangan, perubahan retinal optic m. Nyeri/ Ketidaknyamanan Gejala : 1) Angina (penyakit arteri coroner/keterlibatan jantung) 2) Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudasi 3) Sakit kepala occipital berat, seperti yang pernah terjadi sebelumnya 4) Nyeri abdomen/massa n. Pernapasan Gejala : 1) Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas kerja 2) Riwayat merokok, batuk dengan/tanpa sputum Tanda : 1) Distress respirasi 2) Bunyi napas tambahan 3) Sianosis o. Keamanan Gejala : 1) Gangguan koordinasi/ cara berjalan 2) Hypotensia postural Tanda : 1) Frekuensi jantung meningkat 2) Perubahan irama jantung (tachypnea) p. Pembelajaran/Penyebab Gejala : 1) Factor resiko keluarga : hipertensi, penyakit jantung, DM q. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan penunjang untuk pasien hipertensi sebenarnya cukup dengan menggunakan tensi meter tetapi untuk melihat komplikasi akibat hipertensi, maka diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain (Kemenkes, 2016) : 1) Hemoglobin/hematokrit : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor risiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia. 2) Blood Urea Nitrogen (BUN)/kreatinin : untuk mem- berikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. 3) Glukosa : untuk mengkaji adanya hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. 4) Urinalisa : untuk mengkaji tekanan darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan adanya Diabetes Mellitus. 5) EKG : untuk menunjukan pola regangan, di mana luas dan peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. 6) Foto thorak : untuk mengkaji adanya pembesaran jantung. 3. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul a. Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular. b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. umum, c. Nyeri Akut (nyeri kepala) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler cerebral dan iskemia). d. Deficit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang proses penyakit dan merawat diri. 4. Intervensi Keperawatan a. Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan curah jantung meningkat Kriteria hasil : Curah Jantung (L.02008) Rencana Tindakan : Perawatan Jantung (I.02075) a. Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung seperti kelelahan b. Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung seperti : peningkatan BB c. Monitor tekanan darah d. Monitor intake dan output cairan e. Monitor BB setiap hari pada waktu yang sama f. Monitor saturasi oksigen g. Monitor keluhan nyeri dada : intensitas, lokasi, radiasi, durasi, presivitasi yg mengurangi nyeri h. Monitor aritma : kelainan irama&frekuensi i. Monitor nilai lab jantung : elektrolit, enzim jantung, BNP, NT proBNP j. Periksa TD & frekuensi nadi sebelum & sesudah aktivitas k. Periksa TD & frekuensi nadi sebelum pemberian obat : beta blocker, ACE inhibitor l. Posisikan pasien semi-fowler/fowler dengan kaki kebawah/posisi nyaman m. Berikan diet jantung yg sesuai (mis. Batasi asupan kafein, natrium, kolesterol, dan makanan tinggi lemak) n. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi o. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat p. Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres, jika perlu b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan toleransi aktivitas meningkat Kriteria hasil : Toleransi Aktivitas (L.05047) 1) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari 2) Pasien mampu berpindah tanpa bantuan 3) Pasien mengatakan keluhan lemah berkurang Rencana tindakan : Manajemen energi (I.050178) 1) Monitor kelelahan fisik dan emosional 2) Monitor pola dan jam tidur 3) Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mis: cahaya, suara, kunjungan) 4) Berikan aktifitas distraksi yang menenangkan 5) Anjurkan tirah baring 6) Anjurkan melakukan aktifitas secara bertahap 7) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan c. Nyeri Akut (nyeri kepala) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler cerebral dan iskemia). Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat nyeri menurun Kriteria hasil : Tingkat nyeri (L.08066) 8) Pasien mengatakan nyeri berkurang dari skala 4 menjadi 2 9) Pasien menunjukan ekspresi wajah tenang 10) Pasien dapat beristirahat dengan nyaman Rencana tindakan : (Manajemen nyeri I.08238) 1) Identifikasi lokasi, karakteristik nyeri, durasi, frekuensi, intensitas nyeri 2) Identifikasi skala nyeri 3) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri 4) Berikan terapi non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis: akupuntur, terapi musik hopnosis, biofeedback, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin) 5) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan) 6) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri 7) Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri 8) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu d. Deficit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang proses penyakit dan merawat diri. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat pengetahuan meningkat Kriteria Hasil : Tingkat pengetahuan (L.12111) 4) Pasien melakukan sesuai anjuran 5) Pasien tampak mampu menjelaskan kembali materi yang disampaikan 6) Pasien mengajukan pertanyaan Rencana Tindakan : Edukasi kesehatan (I.12383) 1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi 2) Identifikasi factor-faktor yang dapat meningkatkan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat 3) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan dan 4) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan 5) Berikan kesempatan untuk bertanya 6) Jelaskan factor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan 7) Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat 8) Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat 5. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2012) dalam (Ayunda & Ali, 2014). Implementasi merupakan langkah keempat dari proses keperawatan yang telah direncanakan oleh perawat untuk dikerjakan dalam rangka membantu klien untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan dampak atau respons yang ditimbulkan oleh masalah keperawatan dan Kesehatan (Zaiding Ali, 2014) dalam (Ayunda & Ali, 2014) Dari intervensi yang telah diberikan maka diharapkan kebutuhan oksigen terpenuhi, gangguan rasa nyaman hilang, tekanan darah stabil atau normal. 6. Evaluasi Keperawatan Perawat mengevaluasi hasil perkembangan pasien dan memastikan bahwa pasien telah pulih dari penyakit hipertensi, gangguan rasa nyaman, serta kebutuhan oksigen terpenuhi. Evaluasi disusun menggunakan Subjektif, Objektif, Analisa, Planning/ rencana tindak lanjut (SOAP) secara operasional dengan tahapan dengan sumatif (dilakukan selama proses asuhan keperawatan) dan formatif yaitu dengan proses dan evaluasi akhir. Evaluasi dapat dibagi menjadi dalam 2 jenis, yaitu: a. Evaluasi berjalan (sumatif), yaitu jenis evaluasi yang dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai adalah format SOAP (Setiadi, 2008) dalam (Ayunda Tri, 2012). b. Evaluasi akhir (formatif), yaitu jenis evaluasi yang dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data, masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi (Setiadi, 2008) dalam (Ayunda Tri, 2012). BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat. Hipertensi terjadi apabila tekanan darah terlalu tinggi, hipertensi juga dapat di diagnosis setelah pengukuran 2 hari yaitu ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi seperti keturunan (genetik), usia, jenis kelamin, stress, kurang olahraga, merokok, serta pola asupan garam dalam diet. Oleh sebab itu, penderita hipertensi harus menghindari faktor - faktor yang dapat memicu terjadinya hipertensi. Pada penyakit hipertensi terdapat faktor risiko utama seperti terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongensif, stroke, gangguan penglihatan serta penyakit ginjal. B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas yang sudah kami susun maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan: 1. Bagi klien a. Bagi klien hipertensi sebaiknya harus mengetahui dan menghindari faktor pencetus terjadinya hipertensi. b. Klien harus menjaga pola asupan garam, jika klien memiliki berat badan berlebih karena sifat garam adalah mengikat air. c. Klien harus melakukan olahraga ringan tidak perlu terlalu berat. d. Klien disarankan untuk tidak memiliki aktivitas kebiasaan merokok atau stop merokok. 2. Bagi perawat Para perawat yang memberikan asuhan keperawatan kepada klien hipertensi harus mengetahui faktor apa yang mencetus sehingga terjadinya hipertensi. Oleh karena itu, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam pengobatan klien hipertensi. DAFTAR PUSTAKA Ayunda, T. R. I., & Ali, Z. (2014). PASIEN HIPERTENSI. Bachrudin, M, & Najib, Moh. (2016). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Pusdik SDM Kesehatan Bell, K., Twiggs, J., & Olin, B. R. (2018). Hypertension : The Silent Killer : Updated JNC-8 Guideline Recommendations. Kardiyudiani, N. K., & Susanti, B. A. D. (2019). Keperawatan Medikal Bedah 1 (I. K. Dewi (ed.)). PT. Pustaka Baru. Kementerian Kesehatan RI. (2019). Faktor risiko penyebab Hipertensi. 13 Mei 2019. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantungdan-pembuluh-darah/page/11/faktor-risiko-penyebab-hipertensi Majid, A. (2018). Asuhan Keperawatam ada Pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Pustaka Baru Press. Mancia, G., Fagard, R., Narkiewicz, K., Redon, J., Zanchetti, A., Böhm, M., Christiaens, T., Cifkova, R., De Backer, G., Dominiczak, A., Galderisi, M., Grobbee, D. E., Jaarsma, T., Kirchhof, P., Kjeldsen, S. E., Laurent, S., Manolis, A. J., Nilsson, P. M., Ruilope, L. M., … Wood, D. A. (2013). The Task Force for the management of arterial hypertension of the European Society of Hypertension (ESH) and of the European Society of Cardiology (ESC). European Heart Journal, 34(28), 2159–2219. https://doi.org/10.1093/eurheartj/eht151 Nuraini, B. (2015). Risk Factors of Hypertension. J Majority, 4(5), 10–19. Organization, W. H. (2019). Hypertension. https://www.who.int/news-room/factsheets/detail/hypertension Smeltzer, S., Bare, B., Hinkle, J., & Cheever, K. (2010). Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Lippincot Williams and Wilkins. Wade, A. H., Weir, D. N., Cameron, A. P., & Tett, S. E. (2003). Using a problem detection study (PDS) to identify and compare health care provider and consumer views of antihypertensive therapy. Journal of Human Hypertension, 17(6), 397–405. https://doi.org/10.1038/sj.jhh.1001565 Ibrahim, I. (2011). Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Hipertensi. Idea Nursing Journal, 2(1), 60–69. Samita, L. (2018). Asuhan Keperawatan pada Tn. MR dengan Gangguan Sistem Cardiovaskuler Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kambang. Sari, N. P. (2020). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hipertensi yang di Rawat di Rumah Sakit. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 53, Issue 9).