Uploaded by rifqizulfahmi32

makalah tentang poros

advertisement
Kata pengantar
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, maka kami bisa
menyelesaikan makalah yang berjudul “Poros” dan dengan harapan semoga makalah ini bisa
bermanfaat dan menjadikan refrensi bagi kita sehingga lebih mengetahui tentang Poros.
Akhir kata semoga bisa bermanfaat bagi para mahasiswa/i, umum khususnya pada
kelompok kami dan semua yang membaca makalah ini semoga bisa dipergunakan dengan
semestinya.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
1
DAFTAR ISI
Kata pengantar
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 3
1.3 Tujuan .............................................................................................................................. 3
1.4 Manfaat ........................................................................................................................... 3
BAB
LLPEMNBAHASAN…………………………………………………………………………………………………………………
……3
2.1 Penjelasan Tentang Poros ............................................................................................... 4
2.2 Fungsi Poros .................................................................................................................... 5
2.3 Jenis-jenis Poros .............................................................................................................. 5
1.
Poros transmisi ........................................................................................................... 5
2.
Poros mesin ................................................................................................................ 5
3.
Gandar ........................................................................................................................ 5
4.
Spindle ........................................................................................................................ 5
5.
Poros engkol ............................................................................................................... 6
2.4 Bahan yang digunakan untuk membuat poros ............................................................... 7
2.5 Cara pembentukan/pembuatan poros ........................................................................... 7
............................................................................................................................................... 7
2.6 Gaya yang bekerja pada poros ........................................................................................ 8
2.7 Beban pada poros............................................................................................................ 9
2.8 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan poros ............................................. 9
1.
Kekuatan poros .......................................................................................................... 9
2.
Kekakuan poros ........................................................................................................ 10
3.
Putaran kritis ............................................................................................................ 10
4.
Korosi pada poros .................................................................................................... 10
5.
Bahan poros ............................................................................................................. 10
BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 11
1.Kesimpulan : ...................................................................................................................... 11
2.Saran : ................................................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 12
2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, biasanya berpenampang bulat
dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel, engkol, sprocket
dan elemen pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban lentur, beban tarikan, beban tekan
atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya.
(Josep Edward Shigley, 1983).
Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran mesin.
Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakra tali, puli sabuk mesin, piringan kabel,
tromol kabel, roda jalan, dan roda gigi. Dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap
atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar.
Adapun poros engkol yang dalam sejarah poros engkol ditemukan oleh insinyur
muslim yang bernama Al-Jazai ia dipanggil Al-jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah
wilayah yang terletak diantara Tigris dan Efrat, Irak. Sepeti ayahnya ia mengabdi pada rajaraja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Penjelasan dan fungsi dari poros.
2.
Jenis-jenis dan cara pembentukan/pembuatan dari poros.
3.
Beban dan gaya yang bekerja pada poros.
4.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan poros.
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui tentang pengertian dan fungsi dari sebuah poros.
2.
Untuk mengetahui jenis-jenis dan cara pembentukan poros.
3.
Untuk mengetahui gaya-gaya yang bekerja pada poros.
4.
Dapat memilih bahan yang akan dibuat poros.
1.4 Manfaat
1.
Agar pembaca benar-benar memahami tentang poros.
2.
Agar pembaca dapat memilih bahan yang akan digunakan dalam pembuatan poros.
3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Penjelasan Tentang Poros
Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang bulat dimana
terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel, engkol, sprocket dan
elemen pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban lenturan, beban tarikan, beban tekan
atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya.
(Josep Edward Shigley, 1983)
Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran mesin.
Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakra tali, puli sabuk mesin, piringan kabel,
tromol kabel, roda jalan, dan roda gigi, dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap
atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar.
Contoh sebuah poros dukung yang berputar, yaitu poros roda kereta api, As gardan, dan
lain-lain.
Gambar 1.1 Konstruksi Poros pada Kereta Api
Untuk merencanakan sebuah poros, perlu diperhitungkan gaya yang bekerja pada poros di
atas antara lain: gaya dalam akibat beratnya (W) yang selalu berpusat pada titik gravitasinya.
Gaya (F) merupakan gaya luar arahnya dapat sejajar dengan permukaan benda ataupun
membentuk sudut α dengan permukanan benda. Gaya F dapat menimbulkan tegangan pada
poros, karena tegangan dapat rimbul pada benda yang mengalami gayagaya. Gaya yang
timbul pada benda dapat berasal dari gaya dalam akibat berat benda sendiri atau gaya luar
4
yang mengenai benda tersebut. Baik gaya dalam maupun gaya luar akan menimbulkan
berbagai macam tegangan pada kontruksi tersebut.
2.2 Fungsi Poros
Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga bersama-sama dengan
putaran. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakaran tali, puli sabuk mesin, piringan
kabel, tromol kabel, roda jalan dan roda gigi. Dipasang berputar terhadap poros dukung yang
tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar. Contohnya sebuah poros dukung
yang berputar, yaitu poros roda keran dan gerobak.
2.3 Jenis-jenis Poros
Adapun beberapa jenis-jenis poros, yaitu :
1.
Poros transmisi
Poros transmisi berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen
mesin ke elemen mesin yang lain. Poros transmisi mendapatkan beban puntir murni atau
puntir dan lentur yang akan meneruskan daya ke poros melalui kopling, roda gigi, puli sabuk,
sprocket rantai dan lain-lain. Poros ini memindahkan tenaga antara sumber dan mesin yang
menyerap tenaga.
2.
Poros mesin
Poros ini adalah bagian dari mesin itu sendiri. Poros engkol adalah contoh dari poros
mesin.
3. Gandar
Gandar merupakan poros yang tidak mendapatkan beban puntir, fungsinya hanya sebagai
penahan beban, biasanya tidak berputar. Contohnya seperti yang dipasang pada roda-roda
kereta barang, atau pada as truk bagian depan.
4. Spindle
Poros transmisi yang relative pendek, seperti poros utama mesin perkakas, dimana beban
utamanya berupa puntiran disebut spindle. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah
deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.
5
5. Poros engkol
Poros engkol merupakan bagian dari mesin yang dipakai untuk merubah gerakan naik turun
dari torak menjadi gerakan berputar. Poros engkol yang kecil sampai yang sedang biasanya
dibuat dari satu bahan yang ditempa kemudian dibubut, sedangkan yang besar-besar dibuat
dari beberapa bagian yang disambung-sambung dengan cara pengingsutan.
Didalam praktek dikenal 2 macam poros engkol yaitu :
a.
Poros Engkol Tunggal
Poros ini terdiri dari sebuah poros engkol dan sebuah pen engkol. Kedua-duanya diikat
menjadi satu oleh pipi engkol yang pemasangannya menggunakan cara pengingsutan. Pipi
engkol biasanya dibuat daripada baja tuang, sedangkan pen engkolnya dari baja St 50 atau St
60. Jarak antara sumbu pen enkol dengan sumbu poros engkol adalah setengah langkah torak.
Gambar Poros Engkol Tunggal
b.
Poros Engkol Ganda
Poros engkol ini mempunyai 2 buah pipi engkol terdiri dari satu bahan sedang pemasangan
poros engkolnya adalah dengan sambungan ingsutan. Poros-poros engkol ini bahannya dibuat
dari besi tuang khusus. Disamping harga pembuatannya lebih ringan, besi tuang itu
mempunyai sifat dapat menahan getaran-getaran.
Gambar Poros Engkol Ganda
6
2.4 Bahan yang digunakan untuk membuat poros
Poros yang biasanya digunakan untuk putaran tinggi dan beban yang berat pada
umumnya dibuat dari baja paduan (alloy steel) dengan proses pengerasan kulit (case
hardening) sehingga tahan terhadapt keausan. Beberapa diantaranya adalah baja khrom nikel,
baja khrom nikel molebdenum, baja khrom, baja khrom molibden, dll. Sekalipun demikian,
baja paduan khusus tidak selalu dianjurkan jika alasannya hanya karena putaran tinggi dan
pembebanan yang berat saja. Dengan demikian perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis
proses heat treatment yang tepat sehingga akan diperoleh kekuatan yang sesuai.
2.5 Cara pembentukan/pembuatan poros
Pada perancangan bahan poros ini terdapat perlakuan panas. Perlakuan panas adalah
proses pada saat bahan dipanaskan hingga suhu tertentu dan selanjutnya didinginkan dengan
cara tertentu pula. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih baik dan yang
diinginkan sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Sifat yang berhubungan dengan
maksud dan tujuan perlakuan panas tersebut meliputi:
1. Meningkatnya kekuatan dan kekerasannya.
2. Mengurangi tegangan.
3. Melunakkan .
4. Mengembalikan pada kondisi normal akibat pengaruh pengerjaan
sebelumnya.
5. Menghaluskan butir kristal yang akan berpengaruh terhadap keuletan bahan.
Untuk proses pembuatan poros dengan melakukan hardening permukaan. Pemanasan
poros ini dilakukan di atas suhu transformasi fase dan selanjutnya didinginkan dengan cepat
sekali pada suhu kamar. Sehingga terbentuk suatu fase yang stabil pada suhu tinggi,
pengerasan dengan cara ini mengakibatkan terbentuknya susunan yang tidak stabil. Tetapi
inilah yang membuat elemen poros ini tidak mudah aus tergerus oleh gesekan yang ada.
7
Untuk mendapatkan sifat-sifat bahan untuk poros yang lebih baik sesuai dengan karakter
yang diinginkan dapat dilakukan melalui pemanasan dan pendinginan. Tujuannya adalah
mengubah struktur mikro sehingga bahan dikeraskan, dimudahkan atau dilunakan.
Pemanasan bahan dilakukan diatas garis transformasi kira-kira pada 770 derajat C sehingga
perlit yang ada pada bakal poros itu berubah menjadi austenit yang homogen karena terdapat
cukup karbon. Pada suhu yang lebih tinggi ferrit menjadi austenit karena atom karbon difusi
ke dalam ferrit tersebut. Untuk pengerasan baja, pendinginan dilakukan dengan cepat melalui
pencelupan kedalam air, minyak atau bahan pendingin lainnya sehingga atom-atom karbon
yang telah larut dalam austenit tidak sempat membentuk sementit dan ferrit akibatnya
austenit menjadi sangat keras yang disebut martensit. Pada baja setelah terjadi austenit dan
ferrit kadar karbonya akan menjadi makin tinggi sesuai dengan penurunan suhu dan akan
membentuk hipoeutektoid. Pada saat pemanasan maupun pendinginan difusi atom karbon
memerlukan waktu yang cukup. Laju difusi pada saat pemanasan ditentukan oleh unsur-unsur
paduanya dan pada saat pendinginan cepat austenit yang berbutir kasar akan mempunyai
banyak martensit. Austenit serta martensit inilah yang nantinya akan menjadi sumber
kekerasan luar dari poros
2.6 Gaya yang bekerja pada poros
Didalam poros terdapat beberapa gaya antara lain : gaya dalam beratnya (W) yang
selalu berpusat pada titik gravitasinya. Gaya (F) merupaka gaya luar arahnya dapat sejajar
dengan permukaan benda ataupun membentuk sudut α dengan permukaan benda. Gaya (f)
dapat menimbulkan tegangan pada poros, karena tegangan dapat timbul pada benda yang
mengalami gaya-gaya. Gaya yang timbul pada benda dapat berasal dari gaya dalam akibat
berat benda sendiri atau gaya luar yang mengenai benda tersebut. Baik gaya dalam maupun
gaya luar akan menimbulkan berbagai macam tegagan pada konstruksi tersebut.
8
2.7 Beban pada poros
Dalam poros terdapat beberapa beban diantaranya :
1.
Poros dengan beban puntir
Daya dan perputaran, momen puntir yang akan dipindahkan oleh poros ditentukan
dengan mengetahui garis tengah pada poros. Apabila gaya keliling (F) pada sepanjang
lingkaran dengan jari-jari (r) menempuh jarak melalui sudut titik tengah α (dalam radial),
maka jarak ini adalah (r), dan kerja yang dilakukan adalah (F).
2.
Poros dengan beban lentur murni
Poros dengan beban lentur murni biasanya terjadi pada gandar dari kereta tambang
dan lengan robot yang tidak dibebani dengan puntiran, melainkan diasumsikan mendapat
pembebanan lentur saja. Meskipun pada kenyataanya gandar ini tidak hanya mendapat beban
statis, tetapi juga mendapat beban dinamis.
3.
Poros dengan beban puntir dan lentur
Poros dengan beban puntir dan lentur dapat terjadi pada puli atau roda gigi pada
mesin untuk meneruskan daya melalui sabuk, atau rantai. Dengan demikian poros tersebut
mendapat beban puntir dan lentur akibat adanya beban. Beban yang bekerja pada poros
umumnya adalah beban berulang. Jika poros tersebut mempunyai roda gigi untuk
meneruskan daya besar, maka kejutan berat akan terjadi pada saat mulai atau sedang
berputar. Selain itu beban puntir dan lentur juga terjadi pada lengan arbor mesin frais,
terutama pada saat pemakanan.
2.8 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan poros
1.
Kekuatan poros
Poros transmisi akan menerima beban puntir (twisting moment), beban lentur
(bending moment) ataupun gabungan antara beban puntir dan lentur. Didalam perancangan
poros perlu memperhatikan beberapa factor, misalnya : kelelahan, tumbukan dan pengaruh
konsentrasi tegangan bila menggunakan poros bertangga ataupun penggunaan alur pasak
pada poros tersebut. Poros yang dirancang tersebut harus cukup aman untuk menahan bebanbeban tersebut.
9
2.
Kekakuan poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup aman dalam menahan
pembebanan tetapi adanya lenturan atau defleksi yang terlalu besar akan mengakibatkan
ketidak telitian (pada mesin perkakas), getaran mesin (vibration) dan suara (noise). Oleh
karena itu disamping memperhatikan kekuatan poros, kekakuan poros juga harus
diperhatikan dan disesuaikan dengan jenis mesin yang akan ditransmisikan dayanya dengan
poros tersebut.
3.
Putaran kritis
Bila putaran mesin dinaikan maka akan menimbulkan getaran (vibration) pada mesin
tersebut. Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah putaran normal dengan putaran
mesin yang menimbulkan getaran yang tinggi disebut putaran kritis. Hal ini dapat terjadi pada
turbin, motor bakar, motor listrik, dll. Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat
mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi dalam perancangan
poros perlu mempertimbangkan putaran kerja dari poros tersebut agar lebih rendah dari
putaran kritisnya.
4.
Korosi pada poros
Apabila terjadi kontak langsung antara poros dengan fluida korosif maka dapat
mengakibatkan korosi pada poros tersebut, misalnya propeller shaft pada pompa air. Oleh
karena itu pemilihan bahan-bahan poros dari bahan yang tahan korosi perlu mendapatkan
priorotas utama.
5.
Bahan poros
Bahan poros umumnya dibuat dari baja batang yang ditarik dingin dan difinis, baja
karbon konstruksi mesin (s-c) yang dihasilkan dari ingot yang di “kill”. Meskipun demikian
bahan ini kelurusannya agak kurang tetap dan dapat mengalami deformasi karena tegangan
yang kurang seimbang, misalnya bila diberi alur pasak, karena adanya tegangan sisa
diterasnya. Poros-poros yang dipakai untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat
umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang sangat tahan terhadap
keausan.
10
BAB III
PENUTUP
1.Kesimpulan :
Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, biasanya berpenampang bulat
dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear). Poros bisa menerima beban
lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau
berupa gabungan satu dengan lainnya. Berfungsi untuk meneruskan tenaga bersama-sama
dengan putaran.
2.Saran :
Dalam proses pembuatan poros mahasiswa harus mengetahui tahapan-tahapan cara
pengerjaannya sehingga mendapatkan hasil yang baik.
11
DAFTAR PUSTAKA
http://www.wordpress.com
http://PENGERTIAN.PERANCANGAN
http://Makalah.Poros_Elemen-MesinI_Kuliah
12
Download