Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 STUDI KOMPARATIF JUMLAH KUMAN PADA PERLATAN MAKAN PADA PENCUCIAN DENGAN PERENDAMAN DAN AIR MENGALIR Syamsu khaldun1, Alfina Baharuddin2 1,2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Makassar Corresponding author:: [email protected] Abstrak Berdasarkan Permenkes No. 304 pasal 9 ayat 1 dijelaskan bahwa peralatan makan yang digunakan harus memenuhi syarat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Studi Komparati Pencucian Alat Makan Dengan Perendaman dan Air Mengalir Terhadap Jumlah Kuman Pada Alat Makan di Warung Makan G Kota Makassar Tahun 2017. Populasi dalam penelitian yaitu alat makan yang digunakan di Warung Makan G, berupa piring, sendok, dan gelas. Metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 18 yang terbagi menjadi dua perlakuan yaitu 9 perendaman dan 9 air mengalir. Hasil Laboratorium dengan proses perendaman diperoleh jumlah kuman tertinggi pada piring kedua sebanyak 13 koloni/cm2, gelas pertama sebanyak 19,4 koloni/cm2, dan sendok kedua sebanyak 39,60 koloni/cm2. Sedangkan, proses air mengalir diperoleh jumlah kuman tertinggi pada piring ketiga sebanyak 1 koloni/cm2, gelas ketiga sebanyak 1 koloni/cm2, sendok ketiga sebanyak 1,68 koloni/cm2. Hasil penelitian diperoleh bahwa semua peralatan makan tidak memenuhi syarat berdasarkan Permenkes 1096/Menkes/Per/VI/2011 Tentang persyaratan Hygiene Sanitasi Jasa Boga yaitu 0 koloni/cm². Kepada masyarakat yang memiliki warung makan disarankan menggunakan proses air mengalir, karena terbukti lebih efektif menurunkan jumlah angka kuman. Kata kunci :Jumlah Angka Kuman, Uji Usap Alat Makan Pencucian Alat Makan PENDAHULUAN Salah satu upaya penyehatan lingkungan adalah dengan penyehatan makanan dan minuman agar tidak terjadi kontaminasi pertumbuhan kuman dan bahan additif pada makanan berasal dari proses penanganan makanan yang disajikan oleh pedagang, sehingga tidak menjadi mata rantai penularan penyakit dan gangguan kesehatan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pengolahan makanan adalah kualitas peralatan yang digunakan dalam mengolah bahan makanan, maupun yang digunakan untuk menyajikan kepada konsumen (Samosir, 2011). Menurut WHO menyebutkan bahwa angka kematian global akibat diare selama tahun 2002 adalah sebesar 1,8 juta orang. Angka kesakitan global karena PBM (Penyakit Berbasis Masyarakat) sulit sekali untuk diperkirakan. Selain diare, terdapat lebih dari 250 jenis penyakit karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman. Salah satu upaya peningkatan, pencegahan, maupun pemulihan yang dilakukan pemerintah di dalam meningkatkan derajat kesehatan adalah usaha sanitasi makanan yang meliputi Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 332 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 pengamanan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, pengangkutan makanan, penyimpanan makanan dan penyajiannya (Samosir, 2011). Berdasarkan Laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nasional kasus keracunan tahun 2010 yang disebabkan oleh makanan menduduki peringkat kelima sebanyak 592 kasus. Kasus keracunan pangan yang terjadi di Jakarta pada anak sekolah dasar tahun 2010 sebesar 13,5%. Data surveilans KLB (Kejadian Luar Biasa) keracunan pangan tahun 2010 terdapat 163 kejadian dan bedasarkan jenis pangannya diketahui jajanan pangan berkontribusi terhadap kasus keracunan sebesar 13,5% (Jilfer dkk, 2013). Masyarakat Indonesia sejak dahulu kala sudah memiliki budaya tentang makanan tradisional yang mantap. Diberbagai daerah di Indonesia terdapat beranekaragam masakan, jajanan dan minuman tradisional yang memungkinkan masyarakat Indonesia memilih dan mengkonsumsi makanan yang lezat, sehat dan aman, sesuai dengan moral budaya dan keyakinan masyarakat (Susanto, 2010). Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 dinyatakan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Dasar dari pembangunan kesehatan salah satunya penyelenggaraan upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh pemerintah dan masyarakat serta dilaksanakan terutama melalui upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilakukan secara terpadu (Ruslan dkk, 2014). Berdasarkan data Dinas Kesehatan (DINKES) Kota Makassar kasus keracunan yang disebabkan oleh makanan pada tahun 2014 sebanyak 70 korban, tahun 2015 sebanyak 128 korban dan tahun 2016 sebanyak 109 korban. Sedangkan, kasus diare pada tahun 2014 sebanyak 26.485 korban, tahun 2015 sebanyak 28.257 korban dan tahun 2016 sebanyak 22.052 korban. Sehingga total korban kasus keracunan yang disebabkan oleh makanan dan kasus diare selama 3 tahun terakhir ini yaitu kasus keracunan makanan sebanyak 307 korban dan kasus diare sebanyak 76.794 korban (Dinkes, 2017). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Repoblik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/VII/2003 tentang persyaratan hygiene sanitasi rumah makan dan restoran yaitu terdiri dari persyaratan lokasi dan bangunan, persyaratan fasilitas sanitasi seperti air bersih, persyaratan dapur, ruang makan, gudang makanan, persyaratan bahan makanan dan makanan jadi, persyaratan pengolahan makanan, persyaratan tempat penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi, persyaratan penyajian makanan, dan persyaratan peralatan yang digunakan (Ifka dkk, 2013). Pedagang merupakan tempat untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat terpisahkan, disamping memberikan pelayanan yang peraktis dan cepat adalah salah satu alasan masyarakat suka mengkonsumsi makanan yang siap saji yang disediakan oleh pedagang makanan. Keterbatasan waktu untuk mengolah makanan karena padatnya aktifitas seharihari adalah alasan lain mengapa masyarakat lebih suka memilih untuk membeli makanan ditempat pedagang makanan (Depkes RI, 2003). Timbulnya bahaya keracunan dalam makanan dapat terjadi karena makanan telah terkontaminasi oleh bakteri pathogen. Salah satu kontaminan yang paling sering dijumpai pada makanan adalah bakteri Escherichia coli. Escherichia coli merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya polusi kotoran dan kondisi sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu, dan produk susu lainnya. Bakteri Escherichia coli berasal dari tinja manusia dan hewan, tertular ke dalam Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 333 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 makanan karena perilaku penjamah makanan yang tidak hygenis, pencucian peralatan yang tidak bersih, kesehatan para pengolah dan penjamah makanan serta penggunaan air pencuci yang mengandung Escherichia coli (Jilfer, dkk 2013). Kondisi penjual makanan sering kali tidak memperhatikan proses pencucian peralatan makan yang hygiene akan memberikan peluang besar terjadinya kontaminasi pada makanan dan minuman yang disajikan kepada konsumen yang berkunjung (Ruslan dkk, 2014). Berdasarkan hasil penelitian Sulistiyani dkk (2004), menunjukkan bahwa bilasan dengan menggunakan perasan daun jeruk purut dapat menurunkan jumlah mikroba pada alat makan. Didapat hasil rata-rata jumlah mikroba sebelum dicuci perasan daun jeruk purut adalah 13.2 x 103 koloni/cm2 dengan jumlah terendah 10.3 x 103 dan tertinggi 15.9 x 103. Rata-rata jumlah mikroba setelah dicuci dengan perasan daun jeruk purut adalah 9.7 x 102 koloni per cm2 dengan jumlah terendah 7.1 x 102 dan tertinggi 15.0 x 102 koloni/cm2. Pentingnya kebersihan alat makan dalam kesehatan tercantum dalam Permenkes 2011 yang disajikan dalam persyaratan peralatan makanan bahwa tidak boleh bakteri lebih dari 100 2 koloni/cm permukaan alat dan tidak mengandung E.Coli. Gangguan kesehatan yang dapat ditimbulkan dari peralatan makan yang tidak bersih seperti penyakit saluran pencernaan misalnya diare, gastroentritis dan sebagainya (Permenkes, 2011). Berdasarkan pertimbangan dan pentingnya pengawasan makanan dan alat makan maka perlu dilakukan penelitian tentang “Studi Komparatif Pencucian Alat Makan dengan Perendaman dan Air Mengalir Terhadap Jumlah Kuman pada Alat Makan di Warung Makan G Kota Makassar Tahun 2017”. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini di lakukan di Warung Makan G dan dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2017. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dengan data analisa Laboratorium untuk mengetahui jumlah kuman pada alat makan. Variable dependen yang diteliti adalah jumlah kuman pada alat makan dan minum. Sedangkan, variable independen yang diteliti adalah proses pencucian dengan perendaman dan proses pencucian air mengali HASIL Tabel 1. Perendaman Piring di Warung Makan G Kota Makassar Parameter Biologi (Angka Lempeng Total) Alat Makan Piring 1 Piring 2 Piring 3 Satuan Hasil Pengujian CPU/cm 2 1 CPU/cm 2 13 2 1,43 Berdasarkan tabel 1 dari hasil pengujian di laboratorium BTKL didapatkan bahwa jumlah kuman pada piring satu sebanyak 1 CPU/cm2, piring kedua sebanyak 13 CPU/cm2, dan piring ketiga sebanyak 1,43 CPU/cm2. Tabel 2. Perendaman Gelas di Warung Makan G Kota Makassar Parameter Biologi (Angka Lempeng Total) Alat Makan Gelas 1 Gelas 2 Gelas 3 Satuan Hasil Pengujian CPU/cm 2 19,4 CPU/cm 2 1,3 CPU/cm 2 1,24 Berdasarkan tabel 2 dari hasil pengujian di laboratorium BTKL didapatkan bahwa jumlah kuman pada gelas satu sebanyak 19,4 CPU/cm2, gelas kedua sebanyak 1,3 CPU/cm2, dan gelas ketiga sebanyak 1,24 CPU/cm2. Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 334 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 Tabel 3. Perendaman Warung Makan G Kota Makassar Parameter Biologi (Angka Lempeng Total) Alat Makan Sendok 1 Sendok 2 Sendok 3 Sendok di gelas kedua sebanyak 0,49 CPU/cm2, dan gelas ketiga sebanyak 1 CPU/cm2 Satuan Hasil Pengujian Tabel 6. Air mengalir sendok di Warung Makan G Kota Makassar CPU/cm 2 5 CPU/cm 2 CPU/cm 2 5 CPU/cm2, sendok ketiga sebanyak 5 CPU/cm2. 39,60 dan Tabel 4. Air mengalir piring di Warung Makan G Kota Makassar Parameter Alat Makan Satuan Hasil Pengujian Biologi (Angka Lempeng Total) Piring 1 Piring 2 Piring 3 CPU/cm 2 CPU/cm 2 CPU/cm 2 0,99 0,54 1 Berdasarkan tabel 4 dari hasil pengujian di laboratorium BTKL didapatkan bahwa jumlah kuman pada piring satu sebanyak 0,99 CPU/cm2, piring kedua sebanyak 0,54 CPU/cm2, dan piring ketiga sebanyak 1 CPU/cm2 Tabel 5. Air mengalir Warung Makan G Kota Makassar Parameter Biologi (Angka Lempeng Total) Alat Makan Gelas 1 Gelas 2 Gelas 3 Alat Makan Biologi (Angka Lempeng Total) Sendok 1 Sendok 2 Sendok 3 39,60 Berdasarkan tabel 3 dari hasil pengujian di laboratorium BTKL didapatkan bahwa jumlah kuman pada sendok satu sebanyak 5 CPU/cm2, sendok kedua sebanyak Parameter gelas di Satuan Hasil Pengujian CPU/cm 2 1,11 CPU/cm 2 1 CPU/cm 2 1,68 Berdasarkan tabel 6 dari hasil pengujian di laboratorium BTKL didapatkan bahwa jumlah kuman pada sendok satu sebanyak 1,11 CPU/cm2, sendok kedua sebanyak 1 CPU/cm2, dan sendok ketiga sebanyak 1,68 CPU/cm2. Tabel 7. Perbandingan Hasil Pengujian Proses Perendaman dan Proses Air Mengalir di Warung Makan G Kota Makassar Alat makan Perendaman Piring 1 1 CPU/cm² Piring 2 13 CPU/cm² Piring 3 1,43 CPU/cm² Gelas 1 19,4 CPU/cm² Gelas 2 1,3 CPU/cm² Satuan Hasil Pengujian Gelas 3 1,24 CPU/cm² CPU/cm 2 0,32 Sendok 1 5 CPU/cm² CPU/cm 2 0,49 Sendok 2 39,60 CPU/cm² CPU/cm 2 1 Sendok 3 5 CPU/cm² Air Mengalir <1 CPU/cm² 0,54 CPU/cm² 1 CPU/cm² 0,32 CPU/cm² 0,49 CPU/cm² 1 CPU/cm² 1,11 CPU/cm² 1 CPU/cm² 1,68 CPU/cm² Berdasarkan tabel 5.5 dari hasil pengujian di laboratorium BTKL didapatkan bahwa jumlah kuman pada gelas satu sebanyak 0,32 CPU/cm2, Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 335 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 PEMBAHASAN Pencucian dengan perendaman Berdasarkan hasil laboratorium pencucian peralatan makan dan minum dengan proses perendaman diperoleh bahwa pada tabel 5.1 jumlah kuman tertinggi terdapat pada piring kedua yaitu sebanyak 13 koloni/cm2. Pada tabel 5.2 jumlah kuman tertinggi terdapat pada gelas pertama yaitu sebanyak 19,4 koloni/cm2. Pada tabel 5.3 jumlah kuman tertinggi terdapat pada sendok kedua yaitu sebanyak 39,60 koloni/cm2. Banyaknya jumlah koloni pada peralatan makan tersebut dikarenakan pada proses pencucian perendaman terdapat kotoran-kotoran dari hasil bilasan peralatan makan akan terakumulasi pada air rendaman tersebut sehingga dapat mencemari peralatan lain yang akan dicuci. Pencucian dengan air mengalir Berdasarkan hasil laboratorium pencucian peralatan makan dan minum dengan proses air mengalir diperoleh bahwa pada tabel 5.4 jumlah kuman tertinggi terdapat pada piring ketiga yaitu sebanyak 1 koloni/cm2. Pada tabel 5.5 jumlah kuman tertinggi terdapat pada gelas ketiga yaitu sebanyak 1 koloni/cm 2. Pada tabel 5.6 jumlah kuman tertinggi terdapat pada sendok ketiga yaitu sebanyak 1,68 koloni/cm2. Hal ini di sebabkan karna beberapa faktor yang menyebakan keberadaan jumlah kuman pada alat makan yaitu kualitas air pencucian, cara pencucian oleh penjamah makan, adanya sumber pencemaran dari arah angin, kondisi ruang penyimpanan dan kondisi rak penyimpanan. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa metode pencucian dengan air mengalir lebih baik dari pada pencucian alat makan dengan metode perendaman. Hal tersebut dikarenakan pada proses pencucian air mengalir semua kotoran yang terlarut akan mengalir tanpa mencemari alat makan kembali. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Jimmy (2013), Didapat hasil jumlah kuman dengan metode perendaman rata-rata sebesar 1192,5 koloni/cm2, sedangkan jumlah kuman dengan metode air mengalir rata-rata sebesar 3140 koloni/cm2. Perbedaan jumlah kuman tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai kondisi warung makan, penjamah makanan, jenis makanan, serta proses pencucian peralatan makan dan minum yang kurang baik. Untuk kondisi warung itu sendiri faktor penentu jumlah angka kuman dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, mulai dari kebersihan warung dan lokasi atau letak warung. Lokasi warung jika terletak di pinggir jalan raya makan dimungkinkan banyak pencemaran udara akibat debu sehingga berdampak pada kualitas bahan pangan yang dijual. Faktor yang disebabkan oleh proses pencucian alat makan dan minum yang kurang baik yaitu karena alat pencuci yang digunakan bukan spon tetapi menggunakan sisa kain pakaian. Dan tahap pencuciannya juga tidak memenuhi syarat kesehatan. Faktor yang berasal dari jenis makanan dan minuman dapat dijabarkan dari kebersihan alat makan dan minum yang dapat diukur dari bahan makanan dan minuman yang disajikan menggunakan peralatan makan tersebut apakah mudah dibersihkan atau tidak. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, dari 10 pernyataan ada 2 yang tidak memenuhi syarat Depkes RI (2006) yaitu pertama, sebelum mencuci peralatan makan direndam terlebih dahulu. Kedua, peralatan makan tersebut ditempatkan secara benar (penirisan dengan cara terbalik atau miring). Berdasarkan hasil lembar Check List menu terfavorite yang di lakukan selama 2 hari di warung makan G yaitu dari 7 menu makanan yang tersedia, 3 menu yang paling banyak di favoritkan yaitu nasi goreng sebanyak 13 orang, nasi campur sebanyak 5 orang, dan gado-gado sebanyak 5 orang. Hasil penelitian Andi Rahmat Reski Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 336 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 dkk (2014), diperoleh larutan bonggol nanas konsentrasi 7,5% dapat menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan dengan persentase penurunan tertinggi pada pembilasan pertama untuk mangkuk sebesar 99,33%, sendok sebesar 100% dan terendah pada pembilasan kesepuluh diperoleh mangkuk sebesar 6,88% dan sendok sebesar 45,20%. Hasil penelitian Haderiah dkk (2015), pemeriksaan kualitas bakteriologis peralatan makan dapat dilihat pada pagi hari dan sore hari pada piring didapatkan ratarata pada rumah makan MR yaitu 1887 dan MJ 1207, pada sendok MR 185 dan MJ yaitu 2470, pada gelas MR yaitu 837 dan MJ 1624,Pada garpu MR yaitu 535 dan MJ 2032, pada mangkok MR yaitu 1035 dan MJ yaitu 557. Pada pemeriksaan MPN Coliform sebanyak 4/100 ml contoh air, sedangkan pada rumah makan MJ didapatkan sebanyak 14/100 ml contoh air. Hasil penelitian Budon (2013) menunjukkan bahwa jumlah kuman pada semua peralatan makan yang digunakan di kantin tidak ada yang memenuhi syarat sesuai dengan Permenkes 1096/Menkes/Per/VI/2011, Sedangkan teknik pencuciannya menggunakan teknik yang sama yaitu melakukan pembuangan sisa makanan, menggunakan deterjen, menggunakan satu bak pembilas dan tidak menggunakan air mengalir, tidak melakukan perendaman, kemudian tidak ditiriskan dengan sempurna sehingga mengeringkan dengan menggunakan kain lap yang tidak selalu diganti. Dalam hal penyimpanan peralatan makan, semua kantin melakukan cara mangkuk tidak dibalik, peralatan tidak disimpan dalam kondisi kering dan tidak disimpan pada lemari atau rak yang tertutup. KESIMPULAN 1. Jumlah kuman tertinggi melalui proses pencucian dengan perendaman diperoleh bahwa sampel piring sebesar 13 koloni/cm2, sampel gelas sebesar 19,4 koloni/cm2, dan sampel sendok sebesar 39,60 koloni/cm2. 2. Jumlah kuman tertinggi melalui proses pencucian dengan air mengalir diperoleh bahwa sampel piring sebesar 1 koloni/cm2, sampel gelas sebesar 1 koloni/cm2, dan sampel sendok sebesar 1,68 koloni/cm2. SARAN 2. 1. Masyarakat baik pemilik warung makan dan pedagang makanan disarankan pada proses pencucian alat makan menggunakan metode air mengalir, karena terbukti lebih efektif menurunkan jumlah angka kuman. Setiap pedagang makanan diharuskan tetap menjaga kebersihan khususnya pada peralatan makan yang akan disajikan untuk konsumen. DAFTAR PUSTAKA Andi rahmat reski dkk, 2014. Kemampuan larutan bonggol nanas dalam menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan. Universitas Hasanudddin, Makassar. Anwar dkk. Pedoman bidang Studi Makanan dan Minuman pada Instansi Tenaga Sanitasi. Jakarta 1990. Budon, Andi Sarifah. 2013. Studi Kualitas Bakteriologis Air Pencucian Dan Peralatan Makan di Kantin UIN Alauddin Makassar. Universitas Islam Negeri. Makassar. Bobihu, J. 2012. Sanitasi pencucian peralatan makanan pada pedagang kaki lima di Kebumen. Chandra, Ayu Wilis. 2013. Kondisi Higiene Sanitasi Dan Karakteristik Hidangan Di Paguyuban Pkl Wiyung Surabaya. Depkes RI, 2003. Keputusan Kesehatan RI 715/Menkes/SK/V/2003 Mentri No. Tentang Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 337 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 Persyaratan Higiene Jasaboga, Jakarta. Sanitasi Depkes RI. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Kumpulan Modul Kursus Hygiene Sanitasi Makanan & Minuman. Jakarta: Sub Direktorat Sanitasi Makanan dan Bahan Pangan Direktorat Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Dinkes, 2017. Data Kasus Keracunan Makanan dan Kasus Diare Kota Makassar. Haderiah dkk, 2015. Studi Kualitas Bakteriologis Peralatan Makan Pada Rumah Makan di Kota Makassar. Herry, Muhammad. 2013. Evaluasi Penerapan Higiene Dan Sanitasi penyelenggaraan Makanan Di RSUD Sunan kalijaga Kabupaten Demak tahun 2013. Ichsan, Muhammad Hadiansyah. 2014. Gambaran Angka Kuman Dan Bakteri Escherichia Coli Pada Peralatan Makan Rumah Makan Di Pasar Pinasungkulan Kota Manado. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi. Manado. Ifka W.Kobis, Jootje M.L.Umboh, Victor Pijoh. 2013. Gambaran Keberadaan Escherichia coli pada peralatan makan dirumah makan Pasar Bersehati Kota Manado. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Jimmy, Tomam Azari. 2013. Studi komparatif pencucian alat makan dengan perendaman dan air mengalir terhadap jumlah kuman pada alat makan di warung makan Bu AM Gonilan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jilfer Poli, Henry palandeng, J. Sinolunga. 2013. Hubungan antara perilaku penjamah makanan dengan angka kuman pada peralatan makan di warung makan kawasan pantai malalayang kota manado. Kepmenkes, 2003. Keputusan Mentri Kesehatan RI No.942/Menkes/SK/VII/2003 Tentang Persyaratan Penjamah Makanan. Merta, I Wayan. 2011. Observasi Angka Kuman Usap Alat Makan Di Panti Asuhan Tat Twam Asi Renon Denpasar. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Denpasar. Mirdan, 2016. Studi bakteriologi pada alat makan yang digunakan pada warung makan pasar sentral Makassar Tahun 2015. Universitas Muslim Indonesia. Mukono, 2009. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Airlangga University Press, Surabaya. Nunik Agustin Rahayu. 2012. Studi deskriptif karakteristik higiene dan sanitasi pada alat pengolah makanan gado-gado di lingkungan pasar johar kota semarang. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.109/Menkes/Per/IV/2003 Tentang Persyaratan Rumah Makan. Permenkes RI No.715/Menkes/SK/2003 memuat Persyaratan Kesehatan Jasa Boga yang meliputi persyaratan umum lokasi, bangunan, fasilitas, dan lain-lain. Jakarta. Permenkes No.1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasaboga. Jakarta. Permenkes No.416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Persyaratan Air Bersih Secara Fisik. Puspita, Rizsa Ningtyas. 2015. Upaya Penjamah Makanan Dalam Menjaga Kualitas Ditinjau Dari Aspek Food Safety Pada Warung Makan Di Sekitar Universitas Negeri Semarang. Samosir, Ainun. 2011. Hubungan Perilaku Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 338 9-10 April 2018 Prosiding Seminar Nasional 2018 Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN: 2622-0520 Penjamah Pembuatan Pliek Pada Industri Rumah Tangga Dengan Terdapatnya Jamur Aspergillus Niger Di Kecamatan Darul Besar Tahun 2011. Imarah Aceh Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT), 339 9-10 April 2018