LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA Tn “B” DENGAN IBU TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI DESA SELOREJO KEC NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG Dosen Pembimbing : Rahajeng Siti Nur Rahmawati, M.Keb Disusun Oleh : Selvyra Eka Masturina (P17321183040) KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN KEDIRI 2021 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku (Kepmenkes no.900/Menkes/SK/VII/2002). Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan. Bidan di Komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat di wilayah tertentu. Bidan yg bekerja di komunitas harus mengenal kondisi kesehatan di masyarakat yangg selalu mengalami perubahan, sehingga bidan harus tanggap terhadap perubahan tersebut. Para ahli mendefinisikan komunitas atau masyarakat dari sudut pandang yang berbeda. WHO mendefinisikan komunitas sebagai kelompok social yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta adanya saling mengenal dan berinteraksi Antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Kebidanan komunitas merupakan konsep dasar bidan dalam melayani keluarga dan masyarakat di wilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah bidan yang melayani keluarga dan masyarakat di luar rumah sakit. Di dalam konsep tersebut tercakup berbagai unsur. Unsur-unsur tersebut adalah bidan sebagai pelaksana pelayanan, pelayanan kebidanan, dan komunitas sebagai sarana pelayanan, ilmu dan teknologi kebidanan, serta factor yang mempengaruhi seperti lingkungan, masing-masing usnur memiliki karekteristik. Pendekatan baru mengenai kualitas pelayanan menuntut pergeseran titik tekan pelayanan kesehatan terutama kebidanan dari yang berorientasi target peencapaian menjadi berorientasi penjagaan mutu pelayanan. Pendekatan semacam ini mengharuskan pihak pengelola program untuk mengoordinasi semua kegiatan yang berbasis klinik seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, swasta atau yang 2 berbasis pada masyarakat seperti posyanddu, polindes, bidan di desa, petugas penyalur kontrasepsi (CBD), dan lainnya. 1.2 Tujuan 1.2.1. Tujuan Umum Membantu masyarakat dalam mengupayakan hidup sehat sehingga mencapai derajat kesehatan yang optimal. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak pada keluarga b. Menemukan masalah yang ada dan memprioritaskannya c. Merumuskan berbagai alternative pemecah masalah d. Mendorong dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi keluarga dalam upaya mendorong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan, serta menanamkan perilaku hidup sehat 1.3 Metode Pengumpulan Data Dalam penyusunan laporan ini menggunakan metode wawancara dan pendataan 1.4 Sistematika Penulisan Halaman Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Metode pengumpulan Data 1.4 Sistematika Penulis BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Teori Kurang Gizi 2.2 Konsep Teori KB 2.3 Konsep Teori Hipertensi BAB III TINJAUAN KASUS BAB IV PEMBAHASAN Berisi analisis tentang kesenjangan antara teori dan praktik BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Teori Kurang gizi A. Definisi Gizi Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhandan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu,setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat. Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasadisebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga,zat pembangun dan zat pengatur. Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak jugadapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalahkacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam,daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan.Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh. B. Definisi Kurang Gizi Malnutrisi adalah keadaan patologis akibatkekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut saat lebih zat gizi. Gizi kurang pada keadaan awalnya tidakditentukan kelainan biokimia tapi pada keadaan lanjut akan didapatkan kadar albuminrendah, sedangkan globulin meninggi. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Gizi kurang adalah suatu keadaanyang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang kurang sumber protein, penyerapan yang buruk atau kehilangan zat gizi secara berlebih. C. Faktor Penyebab Gizi Kurang a. Tidak tersedianya makanan secara adekuat Tidak tersedinya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang,maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yangadekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atauakar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. b. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu (ASI), dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukupmengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat,vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapatdisiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuanyang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidakmemenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. c. Pola makan yang salah Suatu studi "positive deviance" mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunyasendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnyaASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknyalebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak.Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuhyang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkandesa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapatmenyebabkan anak menderita gizi buruk. d. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaanmemberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur,santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup sehingga anak menjadi sering sakit (frequentinfection) e. Infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksidan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karenakeduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akanmeyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi. D. PATOFISIOLOGI Sebenarnya malnutrisi (Gizi kurang) merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu host, agent, environment Memang faktor diet makanan memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan dalam keadaan keluarga makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak, merupakan halyang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibat katabolisme protrein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera di ubah menjadi karbohidrat di hepar dan di ginjal selama puasa jaringan lemak di pecah jadi asam lemak, gliseraal dan keton bodies, asam lemak dan keton bodies sebagaisumber energi kalau kekurangan makan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kirakira kehilangan separuh tubuh. Proses patogenesis terlihat pada faktor lingkungan dan manusia (host dan environment ) yang didukung oleh asupan-asupan zat-zat gizi, akibat kekurangan zat gizimaka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan, apabila keadaanini berlangsung lama. Maka simpanan zat gizi ini akan habis ahirnya terjadi pemerosotan jaringan. Pada saat ini orang sudah dapat digolongkan sebagai malnutrisi , walaupun hanya baru dengan ditandai dengan penurunan berat badan dan pertumbuhan terhambat.Patofisiologi menurut Nurcahyono (2007), Pada keadaan ini yang muncul adalah pertumbuhan yang kurang atau disertai mengecilnya otot dan menghilangnya lemak di bawah kulit. Kelainan demikian merupakan proses psikologis untuk kelangsungan jaringanhidup. Tubuh memerlukan energi dan dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan E. Manisfestasi Klinis a. Marasmus Menurut Anggoro (2007) marasmus adalah kekurangan energi pada makananyang menyebabkan cadangan protein lebih terpakai sehingga anak menajdi kurus danemosional dan tanda-tanda kurus (simpanan lemak dan protein yang disertai gangguanfisiologi sampai terjadinya oedem aktivitas metabolik normal/rendah). Menurut Sugiono (2007) marasmus merupakan akibat dari kelaparan yanghampir menyeluruh. Seorang anak yang mengalami marasmus, mendapatkan sangatsedikit makanan, sering disebabkan karena ibu tidak dapat memberikan ASI. Badannyasangat kurus akibat hilangnya otot dan lemak tubuh. Hampir selalu disertai terjadinyainfeksi. Jika anak mengalami cedera atau infeksi yang meluas, prognosanya buruk dan bisa berakibat fatal. Menurut Purhadi (2007) Marasmus umumnya dialami masyarakat yangmenderita kelaparan. Marasmus adalah permasalahan serius yang terjadi di Negara-negara berkembang. Menurut data WHO sekitar 49% dari 10,4 juta kematian yangterjadi pada anakanak di bawah usia 5 tahun di Negara berkembang berkaitan dengandefisiensi energi dan protein sekaligus. Marasmus juga umum terjadi pada anak-anakmiskin perkotaan, anak-anak dengan penyakit kronik dan akan-anak dipenjara.Tingginya jumlah penderita marasmus tak hanya menimbulkan resiko kematian tapi jugamenyebabkan syaraf otak tidak berkembang optimal. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein lebih terpakai sehingga anak menjadi kurus dan emosional yang diakibatkan oleh kelaparan secara menyeluruh. Menurut Nurcahyo (2007). Pada keadaan ini yang menyolok adalah pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai otot dan menghilangnya lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian merupakan proses fisiologis. Untukkelangsungan hidup jaringan, tubuh yang memerlukan energi yang dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan, sehingga harus dapat dari tubuh sendiri, sehingga cadangan protein digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut.Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu memenuhikebutuhan energi, akan tetapi juga untuk memungkinkan sintesis glukosa dan metabolitesensial lainnya seperti asam amino untuk komponen homeostatic. Oleh karena itu pada marasmus berat kadang-kadang masih ditemukan asam amino yang normal sehingga hatimasih dapat membentuk cukup albumia.Tanda dan Gejala Menurut Hamzah (2006) tanda-tanda marasmus adalah: a) Otot akan mengecil/atrofi b) Apatis c) Sangat kecil/kurus d) BB kurang, tidak sesuai umur e) Kulit kedodoran f) Muka seperti orang tua dan kulit kering g) Perut buncit dengan gambaran usus yang nyata h) Vena superfisialis tampak jelas , ubun-ubun cekung, tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol. b. Kwashiorkor Menurut Ngastiyah (2005) kwashiorkor adalah gangguan gizi disertai dengan edema. Sebab utama penyakit ini adalah defisiensi protein. Penyakit kwashiorkor umunya terjadi pada anak dari keluarga social ekonomi yang rendah karena tidak mampu membeli makanan yang mengandung protein hewani seperti : daging, hati, usus,susu, dsb. Sebenarnya selain protein hewani protein nabati terdapat pada kedelai,kacang-kacangan juga dapat menghindarkan kekurangan protein tersebut apabila diberikan, tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua anak menderita defisiensi protein ini. Sering kurangnya pengetahuan juga adanya factor takhayul turut menjadi penyebab pula. Kwashiorkor biasanya dijumpai pada golongan umur tertentu yaitu bayi pada masa disapih dan pada anak pra sekolah yang merupakan golongan umur yangrelatif memerlukan lebih banyak protein untuk tumbuh sebaikbaiknya. Menurut Widodo (2005) kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut busung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah tangandan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit.Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kwashiorkor adalah suatukeadaan gangguan gizi yang diakibatkan karena kurangnya protein dalam tubuh. Menurut Judarwanto (2005) pada kwashiorkor yang klasik gangguan metabolikdan perubahan sel menyebabkan ederma dan perlemean hati. Kelainan ini merupakangejala yang mencolok. Kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang dibutuhkan untuk sintesis. Karena dalam dietterdapat cukup karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asamamino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan ke otot.Berkurangnya asam amino dalam serum merupakan penyebab kurangnya ke otot.Berkurangnya asam amino dalam serum merupakan penyebab kurangnya pembentukanalbumin oleh hepar sehingga kemudian timbul ederma.Gejala Klinis Menurut Aditya (2006), gejala klinis kwashiorkor adalah : a) Oedem di seluruh tubuh terutama kaki b) Wajah membulat dan sembab c) Otot-otot mengecil lebih nyata apabila diperiksa dalam posisi berdiri dan duduk. d) Perubahan status mental, cengeng, rewel, kadang apatis. e) Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia) f) Pembesaran hati g) Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut h) Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluasi i) Pandangan mata anak tampak sayu j) Penatalaksanaan Menurut Hamzah (2006) prinsip pengobatan kwashiorkor adalah: a) Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologi tinggi,tinggi kalori, cukup cairan, vitamin, dan mineral. b) Makanan harus mudah dicerna dan diserap. c) Makanan yang diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan sangat rendah d) Penanganan terhadap penyakit penyerta e) Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizitambahan. F. Status Gizi Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh.Perlunya deteksi dini status gizi mengingat penyebabnya sangat kompleks, pengelolaan gizi buruk memerlukan kerjasama yang komprehensif dari semua pihak. Bukan hanya dari dokter maupun tenaga medis, namun juga pihak orang tua,keluarga, pemuka masyarakat maupun agama dan pemerintah. Langkah awal pengelolaan gizi buruk adalah mengatasi kegawatan yang ditimbulkannya, dilanjutkan dengan "frekuenfeeding" (pemberian makan yang sering, pemantauan akseptabilitas diet penerimaan tubuhterhadap diet yang diberikan), pengelolaan infeksi dan pemberian stimulasi. Perlunya pemberian diet seimbang, cukup kalori dan protein serta pentingnya edukasi pemberianmakan yang benar sesuai umur anak, Pada daerah endemis gizi buruk perlu distribusimakanan yang memadai.Menurut Menkes No. 9201 menkes/SK/VIII/2002 status gizi ditentukan berdasarkan Z-SCORE berdasarkan berat badan (kg) terhadap umur (bulan) yangdiklasifikasikan sebagai berikut : - Gizi Lebih: apabila berat badan balita berada > +2 SD (Standar Deviasi) - Gizi Baik : apabila berat badan balita berada antara <-2 SD - Gizi Buruk: apabila berat badan balita <-3 SD a. Penilaian Status Gizi Secara Langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik. 1) Antropometri Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. a) Indeks Masa Tubuh (IMT) Atau Body Mass Index (BMI) Salah satu contoh penilaian ststus gizi dengan antropometri adalah Indeks MassaTubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badankurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih. Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkanuntuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat. Untukmemantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibuhamil, dan olahragawan.Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan rumus:IMT = Berat Badan (kg)/(Tinggi Badan (cm)/100)² 2.2 Konsep Teori KB A. PENGERTIAN Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu untuk mendapatkan objek-objek tertentu, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kehamilan yang diinginkan, mengatur interval kehamilan, menentukan jumlah anak dalam keluarga, mengontrol saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri. Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, alat yang digunakan untuk menunda kehamilan dan menjarangkan jarak kelahiran. Menurut WHO (dalam Imbarwati, 2009), keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk: a. Mendapatkan objektif2 tertentu b. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan c. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan d. Mengatur interval diantara kelahiran e. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri f. Menentukan jumlah anak dalam keluarga Dalam Imbarwati (2009) juga dijelaskan bahwa kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan.Sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan.Jadi kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. B. TUJUAN Tujuan menggunakan kontrasepsi adalah untuk menjarangkan kelahiran, mengendalikan jumlah anak, dan untuk kesehatan reproduksi wanita.Serta mencapai keluarga yang sejahtera. Menurut Imbarwati (2009) kebijakan Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui usaha penurunan tingkat kelahiran. Kebijakan KB ini bersama-sama dengan usaha pembangunan yang lain selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan keluarga. C. STRATEGI PELAKSANAAN KB Terbagi dalam 2 strategi, yaitu: 1. Strategi dasar - Meneguhkan kembali program di daerah - Menjamin kesinambungan program 2. Strategi operasional - Peningkatan kapasitas system pelayanan program KB nasional - Peningkatan kualitas program dan program prioritas - Penggalangan dan pemantapan komitmen - Dukungan regulasi dan kebijakan - Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan D. JENIS-JENIS KB Menurut Kusumaningrum (2009), terdapat beberapa jenis kontrasepsi, diantaranya: 1. Kontrasepsi PIL Tablet yang mengandung hormone estrogen dan progesterone sintetik disebut pil kombinasi dan hanya mengandung progesterone sintetik saja disebut Mini Pil atau Pil Progestrin. 1.1 Cara Kerja a. Menekan ovulasi Jika seorang wanita minum pil KB setiap hari maka tidak akan terjadi ovulasi (tidak ada sel telur). Tanpa ovulasi tidak akan terjadi kehamilan. b. Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu c. Mengganggu pertumbuhan endometrium, sehingga menyulitkan proses implantasi d. Memperkental lender serviks (mencegah penetrasi sperma) 1.2 Efektivitas Efektivitas teoritis untuk pil sebesar 99,7% sedangkan efektivitas praktisnya sebesar 90-96%. Artinya pil cukup efektif jika tidak lupa meminum pil secara teratur. 1.3 Keuntungan a. Mudah penggunaannya dan mudah didapat b. Mengurangi kehilangan darah (akibat haid) dan nyeri haid c. Mengurangi resiko terjadinya KET (Kehamilan Ektopik Terganggu) dan Kista Ovarium d. Mengurangi resiko terjadinya kanker ovarium dan Rahim e. Pemulihan kesuburan hampir 100% 1.4 Baik untuk wanita yang: - Masih ingin punya anak - Punya jadwal harian yang rutin 1.5 Kontraindikasi a. Menyusui (khsusu pil kombinasi) b. Pernah sakit jantung c. Tumor/keganasan d. Kelainan jantung, varices, dan darah tinggi e. Perdarahan pervaginam yang belum diketahui sebabnya f. Penyakit gondok g. Gangguan fungsi hati & ginjal h. Diabetes, epilepsy, dan depresi mental i. Tidak dianjurkan bagi wanita mur >40 tahun 1.6 Efek Samping Penggunaan pil KB pada sebagian wanita dapat menimbulkan efek samping, antara lain mual, berat badan bertambah, sakit kepala (berkunangkunang) perubahan warna kulit dan efek samping ini dapat timbul berbulanbulan. 2. Suntik Kontrasepsi suntikan adalah hormone yang diberikan secara suntikan/injeksi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Adapun jenis suntikan hormone ini ada yg terdiri atas 1 hormon, & ada pula yg terdiri atas dua hormone sebagai contoh jenis suntikan yg terdiri 1 hormon adalah Depo Provera, Depo Progestin, Depo Geston & Noristerat. Sedangkan yg terdiri dari atas dua hormone adalah Cyclofem dan Mesygna. KB suntik sesuai untuk wanita pada semua usia reproduksi yang menginginkan kontrasepsi yang efektif, reversible, dan belum bersedia untuk sterilisasi. 2.1 Cara Kerja Depo provera disuntikkan setiap 3 bulan sedangkan Noristerat setiap 2 bulan.Wanita yang mendapat suntikan KB tidak mengalami ovulasi. 2.2 Efektivitas Dalam teori: 99,75%. Dalam praktek: 95-97%. 2.3 Keuntungan a. Merupakan metode yang telah dikenal oleh masyarakat b. Dapat dipakai dalam waktu yang lama c. Tidak mempengaruhi produksi air susu ibu 2.4 Baik untuk Wanita yang: a. Calon akseptor yg tinggal di daerah terpencil b. Lebih suka disuntik daripada makan pil c. Menginginkan metode yang efektif dan bisa dikembalikan lagi d. Mungkin tidak ingin punya anak lagi e. Tidak khawatir kalau tidak mendapat haid 2.5 Kontraindikasi a. Hamil atau disangka hamil b. Perdarahan pervaginam yg tidak diketahui sebabnya c. Tumor/keganasan d. Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis, penyakit paru berat, varices 2.6 Efek Samping Efek samping dari suntikan Cyclofem yg sering ditemukan adalah mual, BB bertambah, sakit kepala, pusing2 dan kadang2 gejala tersebut hilang setelah beberapa bulan atau setelah suntikan dihentikan. Sedang efek samping dari suntikan Depo Provera, Depo Progestin, Depo Geston, dan Noristeat yg sering dijumpai adalah menstruasi tidak teratur, masa menstruasi akan lebih lama, terjadi bercak perdarahan bukan mungkin menjadi anemia pada beberapa klien. 3. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) AKDR atau spiral, atau Intra-Uterine Devices (IUD) adalah alat yang dibuat dari polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yg ditempatkan di dalam rahim.Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan dapat dilepaskan bila berkeinginan untuk mempunyai anak. 3.1 Cara Kerja AKDR ini bekerja dengan mencegah pertemuan sperma dengan sel telur. Imbarwati (2009), menjelaskan cara kerja IUD sebagai berikut: a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri c. Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus 3.2 Efektivitas Sangat efektif (0,5-1 kehamilan per 100 wanita setelah pemakaian selama 1 tahun) 3.3 Keuntungan a. Tidak terganggu faktor lupa b. Metode jangka panjang (perlindungan sampai 10 tahun dengan menggunakan tembaga T 380 A) c. Mengurangi kunjungan ke klinik d. Lebih murah dari pil dalam jangka panjang 3.4 Baik untuk Wanita yang: a. Menginginkan kontrasepsi dengan tingkat efektivitas yg tinggi, & jangka panjang b. Tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan anak c. Memberikan ASI d. Berada dalam masa postpartum dan tidak memberikan ASI e. Berada dalam masa pasca aborsi f. Mempunyai resiko rendah terhadap PMS g. Tidak dapat mengingat untuk minum sebutir pil setiap hari h. Lebih menyukai untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang memang tidak boleh menggunakannya i. Yang benar-benar membutuhkan alat kontrasepsi darurat 3.5 Kontraindikasi a. Hamil atau diduga hamil b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin c. Pernah menderita radang rongga panggul d. Penderita perdarahan pervaginam yg abnormal e. Riwayat kehamilan ektopik f. Penderita kanker alat kelamin 3.6 Efek samping a. Perdarahan dank ram selama minggu2 pertama setelah pemasangan. Kadang-kadang ditemukan keputihan yg bertambah banyak. Disamping itu pada saat berhubungan (senggama0 terjadi expulsi (IUD bergeser dari posisi) sebagian atau seluruhnya b. Pemasangan IUD mungkin meninmbulkan rasa tidak nyaman dan dihubungkan dengan resiko infeksi rahim. 3.7 Waktu Penggunaan IUD Dalam Imbarwati (2009) dijelaskan penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada saat: a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL) d. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi e. Selama 1-5 hari setelah senggama yg tidak dilindungi 3.8 Waktu Kontrol IUD Menurut Imbarwati (2009), waktu kontrol IUd yang harus diperhatikan adalah: a. 1 bulan pasca pemasangan b. 3 bulan kemudian c. Setiap 6 bulan berikutnya d. Bila terlambat haid 1 minggu e. Perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya 4. AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit) Adalah 2 kapsul kecil yang terbuat dari silicon berisi 75 gram hormone levonorgestrel yang ditanam di bawah kulit. 4.1 Cara Kerja AKBK atau sering disebut dengan implant secara tetap melepaskan hormone tersebut dalam dosis kecil ke dalam darah. Bekerja dengan cara: a. Lendir serviks menjadi kental b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi c. Menekan ovulasi 4.2 Efektivitas Dalam teori: 99,7%. Dalam praktek: 97-99% 4.3 Keuntungan a. Sekali pasang untuk 3 tahun b. Tidak mempengaruhi produksi ASI c. Tidak mempengaruhi tekanan darah d. Pemeriksaan panggul tidak diperlukan sebelum pemakaian e. Baik untuk wanita yang tidak ingin punya anak lagi tetapi belum mantap untuk di tubektomi 4.4 Baik untuk wanita yang: a. Ingin metode yang praktis b. Mungkin tidak ingin punya anak lagi c. Tinggal di daerah terpencil d. Tak khawatir jika tak dapat haid 4.5 Kontraindikasi a. Hamil atau disangka hamil b. Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya c. Tumor/keganasan d. Penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis 4.6 Efek samping Kadang2 pada saat pemasangan akan terasa nyeri. Selain itu ditemukan haid yang tidak teratur, sakit kepala, kadang2 terjadi spotting atau anemia karena perdarahan yg kronis. 4.7 Waktu Mulai Menggunakn Implant a. Implant dapat dipasang selama siklus haid ke-2 sampai hari ke-7 b. Bila tidak hamil dapat dilakukan setiap saat c. Saat menyusui 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan d. Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan e. Bila setelah beberapa minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, insersi dilakukan setiap saat jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari 5. Kondom Pria Adalah sarung karet tipis yang dipakai oleh pria pada waktu bersenggama 5.1 Cara Kerja Sarung karet ini mencegah sperma bertemu dengan ovum 5.2 Efektivitas Dalam teori: 98%. Dalam praktek: 85%. Efektif jika digunakan benar tiap kali berhubungan.Namun efektivitasnya kurang jika dibandingkan metode pil, AKDR, suntikan KB. 5.3 Keuntungan a. Dapat dipaki sendiri b. Dapat mencegah penularan penyakit kelamin c. Tidak mempengaruhi kegiatan menyusui d. Dapat digunakan sebagai pendukung metode lain e. Tidak mengganggu kesehatan f. Tidak ada efek samping sistemik g. Tersedia secara luas h. Tidak perlu resep atau penilaian medis i. Tidak mahal (jangka pendek) 5.4 Baik untuk pasangan yang: a. Ingin menunda kehamilan atau ingin menjarangkan anak b. Jarang bersenggama c. Pasangan yang takut menularkan & tertular penyakit kelamin d. Wanita yang kemungkinan sudah hamil 5.5 Kontraindikasi Alergi. 6. Kontrasepsi Mantap (Kontap) Adalah pemotongan/pegikatan kedua saluran telur wanita (tubektomi) atau kedua saluran sperma laki-laki (vasektomi). Operasi tubektomi ada beberapa macam cara antara lain adalah Kuldoskopik, Kolpotomi, Posterior, Laparoskopi, dan Minilaparotomi. Cara yang sering diapaki di Indonesia adalah Laparoskopi dan Mini laparotomi. 6.1 Cara Kerja Hal ini mencegah pertemuan sel telur dengan sperma 6.2 Efektivitas Dalam teori: 99,9%. Dalam praktek: 99%. 6.3 Keuntungan a. Paling efektif b. Mengakhiri kesuburan selamanya (keberhasilan pengembalian tidak bisa dijamin). c. Tidak perlu perawatan khusus 6.4 Baik untuk pasangan yang: a. Sudah yakin tidak ingin punya anak lagi b. Jika hamil akan membahayakan jiwanya c. Ingin metode yang tidak mengganggu 6.5 Kontraindikasi Tidak ada. 6.6 Efek Samping Jarang, ringan, dan bersifat sementara misalnya bengkak, nyeri, dan infeksi luka operasi.Pada vasektomi infeksi dan epididimis terjadi pada 1-2% pasien. Pada tubektomi perdarahan, infeksi, kerusakan organ lain dan komplikasi karena anastesi dapat terjadi. 2.3 Konsep Teori Hipertensi A. Definisi Hipertensi Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau peningkatan abnormal secara terus menerus lebih dari suatu periode, dengan tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90mmHg. (Aspiani, 2014) B. Etiologi Hipertiens Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan menurut (Aspiani, 2014) : a. Hipertensi primer atau hipertensi esensial Hipertensi primer atau hipertensi esensial disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor yang memengaruhi yaitu : (Aspiani, 2014) 1) Genetik Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi, beresiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini. Faktor genetik ini tidak dapat dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang memliki tekanan darah tinggi. 2) Jenis kelamin dan usia Laki - laki berusia 35- 50 tahun dan wanita menopause beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi. Jika usia bertambah maka tekanan darah 11 meningkat faktor ini tidak dapat dikendalikan serta jenis kelamin laki–laki lebih tinggi dari pada perempuan. 3) Diet Konsumsi diet tinggi garam secara langsung berhubungan dengan berkembangnya hipertensi. Faktor ini bisa dikendalikan oleh penderita dengan mengurangi konsumsinya, jika garam yang dikonsumsi berlebihan, ginjal yang bertugas untuk mengolah garam akan menahan cairan lebih banyak dari pada yang seharusnya didalam tubuh. Banyaknya cairan yang tertahan menyebabkan peningkatan pada volume darah. Beban ekstra yang dibawa oleh pembuluh darah inilah yang menyebabkan pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan tekanan darah didalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan tekanan darah meningkat. 4) Berat badan Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat badan dalam keadaan normal atau ideal. Obesitas (>25% diatas BB ideal) dikaitkan dengan berkembangnya peningkatan tekanan darah atau hipertensi. 5) Gaya hidup Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan pola hidup sehat dengan menghindari faktor pemicu hipertensi yaitu merokok, dengan merokok berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap dalam waktu sehari dan dapat menghabiskan berapa putung rokok dan lama merokok berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi alkohol yang sering, atau berlebihan dan terus menerus dapat meningkatkan tekanan darah pasien sebaiknya jika memiliki tekanan darah tinggi pasien diminta untuk menghindari alkohol agar tekanan darah pasien dalam batas stabil dan pelihara gaya hidup sehat penting agar terhindar dari komplikasi yang bisa terjadi. G. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder terjadi akibat penyebab yang jelas.salah satu contoh hipertensi sekunder adalah hipertensi vaskular rena, yang terjadiakibat stenosi arteri renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat aterosklerosis.stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjal sehingga terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasn renin, dan pembentukan angiostenin II. Angiostenin II secara langsung meningkatkan tekanan darahdan secara tidak langsung meningkatkan sintesis andosteron dan reabsorbsi natrium. Apabila dapat dilakukan perbaikan pada stenosis,atau apabila ginjal yang terkena diangkat,tekanan darah akan kembali ke normal (Aspiani, 2014). C. Patofisiologi Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian cardiac output (curah jantung) dengan total tahanan prifer. Cardiac output (curah jantung) diperoleh dari perkalian antara stroke volume dengan heart rate (denyut jantug). Pengaturan tahanan perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Empat sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara lain sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskular (Udjianti, 2010). Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di vasomotor, pada medula diotak. Pusat vasomotor ini bermula pada saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Titik neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah (Padila, 2013). Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Padila, 2013). Meski etiologi hipertensi masih belum jelas, banyak faktor diduga memegang peranan dalam genesis hiepertensi seperti yang sudah dijelaskan dan faktor psikis, sistem saraf, ginjal, jantung pembuluh darah, kortikosteroid, katekolamin, angiotensin, sodium, dan air (Syamsudin, 2011). Sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah (Padila, 2013). Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran keginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cendrung mencetuskan keadaan hipertensi (Padila, 2013). D. Tanda dan Gejala Hipertensi Tanda dan gejala utama hipertensi adalah (Aspiani, 2014) menyebutkan gejala umum yang ditimbulkan akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi tidak sama pada setiap orang, bahkan terkadang timbul tanpa tanda gejala. Secara umum gejala yang dikeluhkan oleh penderita hipertensi sebagai berikut: a. Sakit kepala b. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk c. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa ingin jatuh d. Berdebar atau detak jantung terasa cepat e. Telinga berdenging yang memerlukan penanganan segera Menurut teori (Brunner dan Suddarth, 2014) klien hipertensi mengalami nyeri kepala sampai tengkuk karena terjadi penyempitan pembuluh darah akibat dari vasokonstriksi pembuluh darah akan menyebabkan peningkatan tekanan vasculer cerebral, keadaan tersebut akan menyebabkan nyeri kepala sampe tengkuk pada klien hipertensi. E. Klasifikasi Hipertensi Menurut (WHO, 2018) batas normal tekanan darah adalah tekanan darah sistolik kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80 mmHg. Seseorang yang dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder (Aspiani, 2014). Hipertensi primer adalah peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya. Dari 90% kasus hipertensi merupakan hipertensi primer. Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi primer adalah genetik, jenis kelamin, usia, diet, berat badan, gaya hidup. Hipertensi sekunder adalah peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Dari 10% kasus hipertensi merupakan hipertensi sekunder. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain: penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan, peningkatan volume intravaskular, luka bakar dan stres (Aspiani, 2014). F. Komplikasi Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan ateri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi yaitu : (Aspiani, 2014) a. Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di otak dan akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan darah tinggi. b. Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila membentuk 12 trombus yang bisa memperlambat aliran darah melewati pembuluh darah. Hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Sedangkan hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan. c. Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi. Penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, disebut dekompensasi. Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa, banyak cairan tertahan diparu yang dapat menyebabkan sesak nafas (eudema) kondisi ini disebut gagal jantung. d. Ginjal tekanan darah tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Merusak sistem penyaringan dalam ginjal akibat ginjal tidak dapat membuat zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan dalam tubuh. G. Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan nonfarmakologis dengan modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan mengobati tekanan darah tinggi , berbagai macam cara memodifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu : (Aspiani, 2014) b. Pengaturan diet 1) Rendah garam, diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah pada klien hipertensi. Dengan pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi stimulasi sistem renin- angiostensin sehingga sangata berpotensi sebagai anti hipertensi. Jumlah asupan natrium yang dianjurkan 50-100 mmol atau setara dengan 3-6 gram garam per hari. 2) Diet tinggi kalium, dapat menurunkan tekanan darah tetapi mekanismenya belum jelas. Pemberian kalium secara intravena dapat menyebabkan vasodilatasi, yang dipercaya dimediasi oleh oksidanitat pada dinding vaskular. 3) Diet kaya buah sayur. 4) Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner. H. Penurunan berat badan Mengatasi obesitas, pada sebagian orang dengan cara menurunkan berat badan mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja jantung dan voume sekuncup. Pada beberapa studi menunjukan bahwa obesitas berhubungan dengan kejadian hipertensi dan hipertrofi ventrikel kiri. Jadi, penurunan berat badan adalah hal yangs angat efektif untuk 18 menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan (1 kg/minggu) sangat dianjurkan. Penurunan berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu menjadi perhatian khusus karenan umumnya obat penurunan penurunan berat badan yang terjual bebas mengandung simpasimpatomimetik, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal jantung dan terjadinya eksaserbasi aritmia. I. Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kedaan jantung. olahraga isotonik dapat juga meningkatkan fungsi endotel, vasoldilatasin perifer, dan mengurangi katekolamin plasma. Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat dianjurkan untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga meningkatkan kadar HDL, yang dapat mengurangi terbentuknya arterosklerosis akibat hipertensi. J. Memeperbaiki gaya hidup yang kurang sehat dengan cara berhenti merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol, penting untuk mengurangi efek jangka oanjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung. K. Penatalaksanaan Farmakologis 1) Terapi oksigen 2) Pemantauan hemodinamik 3) Pemantauan jantung 4) Obat-obatan : (a) Diuretik : Chlorthalidon, Hydromax, Lasix, Aldactone, Dyrenium Diuretic bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung 19 dengan mendorong ginjal meningkatkan ekskresi garam dan airnya. Sebagai diuretik (tiazid) juga dapat menurunkan TPR. Penghambat enzim mengubah angiostensin II atau inhibitor ACE berfungsi untuk menurunkan angiostenin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiostenin I menjadi angiostenin II. Kondisi ini menurunkan darah secara langsung dengan menurunkan TPR, dan secara tidak langsung dengan menurunakan sekresi aldosterne, yang akhirnya meningkatkan pengeluaran natrium LEMBAR PENGESAHAN Asuhan Kebidanan Keluarga Risiko Tinggi Pada Keluarga “Tn B” di Desa Selorejo Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, telah diperiksa dan disetujui pada : Hari Tanggal : Selasa : 16 Februari 2021 Mengetahui, Bidan Polindes............. NIP. Mahasiswa NIM. Pembimbing Institusi _______________________ NIP. POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI KEBIDANAN KEDIRI ASUHAN KEBIDANAN PADA KELUARGA Pengkajian Hari Tanggal : Asuhan Kebidanan Komunitas Tn. B : Senin : 8 Januari 2021 I. PENGKAJIAN A. DATA UMUM 1. Data wilayah dan Kepala Keluarga Kecamatan : Ngunut Kelurahan/Desa : Selorejo RT : 01 RW/ Dusun : 01 Alamat : Jl. Jati no. 04 Nama Kepala Keluarga Jenis Kelamin Umur Pendidikan Agama Pekerjaan Penghasilan Keadaan Kesehatan : : : : : : : : Budiono Laki-laki 36 th SD Islam Petani 500.000-1.000.000 Gizi kurang 1. Data Anggota Keluarga No Nama Hub. dg KK 1 Budiono 2 3 4 Yeni Irawati Alfin Tia Amanda Kepala Keluarga Istri Anak Anak L/ P L Umur P L P 35 6 1,5 36 Pendidika n Tamat SD Pekerjaa n Petani Agama Suku/bangsa Islam Jawa Tamat SD TK B Belum sekolah IRT Pelajar Tidak bekerja Islam Islam Islam Jawa Jawa Jawa 2. Tipe keluarga: Keluarga Inti (Nuclear Family) keluarga inti suami, istri dan dua orang anak. 3. Sifat Keluarga: a. Pengambil keputusan : Suami b. Kebiasaan hidup sehari-hari: 1) Kebiasaan istirahat/tidur keluarga : Biasanya anggota keluarga istirahat siang antara pukul 13.00 – 15.00 WIB , istirahat malam biasanya pukul 22.00 – 04.30 WIB. 2) Kebiasaan makan keluarga dan contoh menu sehari-hari (cara makan, alat yang dipakai dsb) Ibu memasak pada pagi hari untuk dimakan sampai malam .Alat yang dipakai memasak kompor gas . Piring dan gelas terbuat dari plastik. 3) Kebiasaan dalam personal hygiene Keluarga mandi 2 kali sehari, mencuci rambutnya 3 hari sekali. 4) Sarana hiburan keluarga Menonton TV 5) Pengunaan waktu luang keluarga Berkumpul malam hari dengan keluarga 4. Faktor Lingkungan a. Rumah (permanen/semi permanen, ukuran,ventilasi,jendela, lantai, atap, air minum/air bersih jml penghuni) Rumah permanen, ukuran rumah 5x10 meter, terdapat ventilasi disetiap kamar ventilasi baik, lantai terbuat dari ubin, dinding terbuat dari tembok, atap terbuat dari genteng, air minum menggunakan air rebusan, jumlah penghuni rumah 4 orang. Terdapat sumur untuk kebutuhan air bersih. b. Pembuangan sampah Terdapat lubang untuk pembakaran sampah di belakang rumah c. Jamban dan kamar mandi Terdapat jamban dan kamar mandi di belakang rumah d. Pekarangan dan selokan Pekarangan sempit, selokan di belakang tertutup tanah e. Kandang ternak Tidak terdapat kandang ternak f. Denah rumah dan lingkungan Teras Ruang TV Ruang Tamu Kamar Kamar WC g. Sarana komunikasi dan transportasi Handphone dan sarana transportasi keluarga sepeda (1) dan motor (1) h. Fasilitas pelayanan kesehatan : ke Puskesmas Pembantu atau Puskesmas Balesono B. DATA KESEHATAN 1. Keluarga memiliki jaminan kesehatan: KIS 2. Riwayat Kesehatan Keluarga: NO 1 2 3 4 3. 4. Anggota Keluarga Budiono Zeni Alfin Amanda Usia Jenis Penyakit Lama Sakit 36 35 6 1,5 Hipertensi Hipertensi Kurang Gizi 2 tahun Tidak tahu Tidak tahu Tidak tahu Riwayat Kematian dalam Keluarga NO Anggota Keluarga Usia 1 Tidak ada Tidak ada 2 3 4 Sebab Kematian Tidak Ada Tempat Pengobatan Puskesmas Puskesmas Posyandu Keterangan Tidak Ada Riwayat Keluarga Berencana (KB) a. Jumlah pasangan usia subur dalam keluarga: 2 b. Jumlah wanita usia subur dalam keluarga : 1 c. PUS/WUS menggunakan alat kontrasepsi: □ Ya Tidak d. Mulai menjadi peserta KB: e. Pelayanan KB didapatkan dari: f. Akseptor yang dibina □ Ya Tidak g. Jenis alat kontrasepsi yang digunakan : h. Lama pemakaian alat kontrasepsi: i. Komplikasi alat kontrasepsi: j. Pernah ganti cara: - Jenis: - k. Jika tidak menggunakan alat kontrasepsi, alasan karena ingin hamil lagi 5. Pengetahuan Orang Tua tentang Tumbuh Kembang Anak Tumbuh kembang anak kurang di perhatikan oleh orang tua sehingga gizi yang didapatkan tidak mencukupi 6. Harapan Keluarga terhadap Petugas Kesehatan Harapan orangtua agar petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan secara rutin dan gratis 7. Data Ibu Hamil a. Saat ini ada ibu hamil dalam keluarga: □ Ya Tidak b. Usia ibu saat ini 35 tahun c. Kehamilan ini adalah yang ke............................................................................................................................. d. Usia kehamilan ibu saat ini: □ TM 1 (0-3 bulan) □ TM2 (4-6 bulan) □ TM3(7-9 bulan) e. Ibu hamil TM III dengan berat badan kurang dari 45 kg: □ Ya □ Tidak f. Apakah ibu memeriksakan kehamilannya: □ Ya ....... kali □ Tidak, Alasan : □Tidak ada biaya □ Tidak sempat □Tidak tahu □...................................................... g. Pemeriksaan kehamilan pertama kali dilakukan pada usia kehamilan ............................................................... h. Ibu hamil mengkonsumsi Fe: □ TM 1 (0-3 bulan) □ TM2 (4-6 bulan) □ TM3(7-9 bulan) i. Ibu hamil mengkonsumsi iodium □ Ya □ Tidak j. Apakah ibu mendapatkan imunisasi TT: □ Ya, ....... kali (L/TL) □ Tidak k. Adakah keluhan yang dirasakan ibu hamil saat ini □ lemah, letih, lesu □Pusing □Mual dan muntah □Bengkak □......................................... 8. Data Ibu Nifas dan Menyusui a. Apakah ada buteki dalam keluarga: Ya b. Apakah ibu meneteki anaknya: Ya c. Lama menyusui: □ < 1 bulan □ 1-6 bulan d. Apakah ASI diberikan secara eksklusif □Ya e. Bila tidak menyusui alasan: f. Kunjungan ibu nifas: □ 6 jam □ 1-3 hari g. Ibu nifas mengkonsumsi vitamin A: □ Ya 9. □ Tidak □ Tidak □ 6-12 bulan □ Tidak □ 6 hari □ Tidak > 12 bulan □ 6 minggu Data Bayi a. Jumlah kelahiran hidup dalam keluarga 2 b. Jumlah bayi dalam keluarga 0 c. Adakah kelahiran BBLR: □ Ya Tidak d. Tempat persalinan: □ RS □ Puskesmas □ Polindes BPM/RB e. Persalinan ditolong oleh Bidan f. Saat melahirkan apakah dilakukan IMD? Ya □ Tidak g. Pemberian vitamin K pada BBL: Ya □ Tidak h. DDTK pada bayi dilakukan pada usia: □ 3 bulan □ 6 bulan □ 9 bulan bulan i. Adakah bayi yang menderita diare □ Ya Tidak j. Bayi penderita diare sembuh □mati 10. Data Anak Balita a. Jumlah anggota keluarga yang berusia balita: 1 anak b. DDTK pada balita apras dilakukan 2kali/tahun: Ya □ Tidak c. Apakah setiap bulan balita dibawa ke posyandu dan ditimbang Ya □ Rumah 12 □ Tidak d. Bila Tidak, alasannya: □ Jauh □ Tidak ada waktu e. Imunisasi yang sudah diberikan: BCG DPT....kali □ Lain Polio .......kali Hepatitis .......kali Campak f. Bila imunisasi tidak diberikan, alasan : g. Apakah anak memiliki buku KIA: Ya □ Tidak h. Apakah anak memiliki KMS: Ya □ Tidak i. Pemantauan berat badan anak berdasarkan KMS saat ini: □ Di daerah garis hijau Di atas garis hijau sampai kuning □ Di bawah garis titik □ Di bawah garis merah l. Penanganan balita gizi kurang: Sasaran Jenis PMT Baduta Biskuit Entrasol Tidak diberikan MP ASI Bubur berisi nasi, tempe 11. Data Anak Usia Sekolah dan Remaja a. Pendidikan : SD : Kelas : SMP : Kelas : SMA : Kelas : PT : Semester : b. Kegiatan anak di luar sekolah: □ keagamaan, sebutkan mengaji alqur’an □ karang taruna □ olah raga, sebutkan sepak bola □ Lain-lain, sebutkan Tidak ada c. Bagaimana penggunaan waktu luang anak: musik/TV □ olah raga □ rekreasi □ lain-lain,sebutkan d. Kebiasaan anak: □ merokok □ alkohol □ lain-lain, sebutkan Tidak ada Kenaikan BB I II III 100gram 300gram 500gram □ keagamaan, □ narkoba 12. Data Anggota Keluarga Usia Lanjut a. Adakah anggota keluarga yang berusia lebih dari 60 tahun (lansia): □ Ya Tidak b. Apakah lansia memiliki keluhan kesehatan : □ Ya □ Tidak c. Penggunaan waktu senggang lansia: □ Berkebun/pekerjaan rumah □ jalan-jalan □ Senam □ lain-lain, sebutkan……………………… d. Adakah posyandu lansia di tempat tinggal saudara: □ Ya □ Tidak e. Apakah lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia: □ Ya, .........kali/bulan , □ Tidak f. Jika tidak, alasan □ Tidak mau □ Tidak tahu II. ANALISA DATA No Data 1 Ibu mengatakan dalam keluarga yang memiliki riwayat penyakit hipertensi - Ibu mengatakan 2 anaknya susah makan - tidak suka makan sayur selain sayur bayam saja dan kurang makan buah 3 Ibu mengatakan belum menjadi akseptor kb Ibu mengatakan menggunakan metode alamiah Analisa dan Intepretasi Ketidaktauan keluarga tentang dampak panjang dari hipertensi An. T susah makan dan berat badan kurang Ketidaktauan ibu bahwa apabila terjadi kehamilan lagi pada usia ibu saat ini termasuk resiko tinggi Diagnosa Kebutuhan KIE tentang penyakit hipertensi Kebutuhan KIE tentang gizi kurang Ibu belum menjadi akseptor kb III. RENCANA MASALAH KESEHATAN SESUAI DENGAN PRIORITAS : 1. Melakukan Kolaborasi dengan dokter spesialis jantung untuk merencanakan KIE kepada Tn. B dan Ny. Dan cara penanganan hipertensi apabila sudah akut tentang dampak dari hipertensi karena Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung coroner. 2. Motivasi ibu untuk ber-KB dengan memberikan penjelasan kesehatan tentang manfaat dan pentingnya KB yang lebih dari pengetahuan ibu. Berikan penjelasan kesehatan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi 3. Melakukan kolabrasi dengan ahli gizi dengan merencanakan memberikan konseling dan edukasi mengenai gizi seimbang, menarik, dan bervariasi untuk baduta. Cara memberikan MP-ASI dan PMT , diberikan contoh pemenuhan gizi seimbang yang ekonomis dan pemantauan secara berkala mengenai pola makan. IV. PENATALAKSANAAN MASALAH KESEHATAN SESUAI DENGAN PRIORITAS : 1. Memberikan KIE kepada Tn. B dan Ny. Y tentang dampak dari hipertensi dan berkolaborasi dengan dokter spesialis jantung untung dilakukan pemeriksaan lebih lanjut . 2. Memberikan KIE kepada Ny. Y dan Motivasi ibu untuk ber-KB dengan memberikan penjelasan kesehatan tentang manfaat dan pentingnya KB yang lebih dari pengetahuan ibu. Berikan penjelasan kesehatan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi 3. Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi dengan memberikan konseling dan edukasi mengenai gizi seimbang, menarik, dan bervariasi untuk baduta. SKALA PRIORITAS MASALAH 1. Kurang pengetahuan tentang dampak panjang dari hipertensi KRITERIA 1. Sifat masalah BOBOT 1 PERHITUNGAN 2x1 SKORE 2 PEMBENARAN Ancaman Kesehatan bsgi suami Karena suami masih belum bisa menjaga asupan makanannya. 2. Kemungkinan masalah dapat diubah 2 1x2 2 Suami memiliki kemauan untuk menjaga asupan makan 1 3. Potensi untuk mengubah masalah 1x1 1 Pikiran suami dapat terbuka setelah diberikan konseling mengenai dampak panjang hipertensi 1 2x1 1 4. Menonjolkan masalah JUMLAH Suami menyadari perlu mengatasi masalah tersebut 8 2. Ibu belum menjadi akseptor kb KRITERIA 1. Sifat masalah BOBOT 1 PERHITUNGAN 2x1 SKORE PEMBENARAN 2 Ancaman Kesehatan bagi ibu, dimana ibu tidak menyadari bila tidak ber KB dapat menyebabkan kehamilan berikutnya 2. Kemungkinan masalah dapat diubah 2 1x2 2 Masalah bisa diubah jika proses penyuluhan dan pendekatan berhasil 3. Potensi untuk mengubah masalah 1 3x1 3 Masalah bisa diubah dengan ibu mau ber KB Ibu menyadari perlu mengatasi masalah tersebut 4. Menonjolkan masalah 1 2x1 2 Jika tidak ber kb akan hamil lagi sementara usia ibu merupakan factor resiko tinggi kehamilan JUMLAH 9 3. Kurang pengetahuan orang tua tentang gizi buruk KRITERIA 1. Sifat masalah BOBOT 1 PERHITUNGAN 2x1 SKORE 2 PEMBENARAN Ancaman Kesehatan bagi bayi Karena kurangnya gizi yang disebabkan oleh kuragnya pengetahuan orang tua tentang gizi buruk. Ibu memiliki 2. Kemungkinan masalah dapat diubah 2 1x2 2 kemauan untuk memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Pikiran orang tua 1 2x1 2 3. Potensi untuk mengubah masalah dapat terbuka setelah diberikan konseling mengenai bahayanya gizi buruk. Orang tua menyadari perlu 1 2x1 2 4. Menonjolkan masalah JUMLAH mengatasi masalah tersebut 8 DOKUMENTASI BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pembahasan Bidan di komunitas (community midwifery) adalah bidan yang bekerja disuatu lokasiatau daerah atau area tertentu. Kebidanan komunitas adalah konsep dasar bidan dalam melayani keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas adalah upaya yang dilakukan bidan untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan ibu dan anak balita dalam keluarga dan masyarakat (Ambarwati, 2009). Bertujuan meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khususnya dan masyarakat dalam hal : 1. Mengkaji keadaan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di masyarakat seperti mengumpulkan data masyarakat 2. Menganalisa kesehatan masyarakat yaitu mengkaji dan melakukan penilaian terhadap permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat 3. Mengantisipasi masalah kesehatan yang mungkin terjadi 4. Melakukan tindakan segera terhadap masalah kesehatan. 5. Menyusun perencanaaan asuhan kebidanan terhadap masalah kesehatan yang. 6. Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan terhadap keluarga yang didasarkan kepada rencana strategi kegiatan yang telah dilaksanakan 7. Mengevaluasi tindakan asuhan kebidanan terhadap keluarga yaitu keluarga mau menjaga kesehatan dan asupan gizi . BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Setelah melakukan studi kasus asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. B dapat ditarik kesimpulan bahwa status kesehatan keluarga Tn. B kurang baik. 5.2 Saran 1. Diharapkan ada peningkatan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya 2. Dapat menngkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah kesehatan dasar dalam keluarga DAFTAR PUSTAKA Adriani, M.& Wirjatmadi B., (2014). Gizi dan kesehatan balita. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Almatsier,S. (2011). Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Marmi. 2016. Buku Ajar Pelayanan KB. Pustaka Pelajar: Yogyakarta Munadar, B. 2017. Peran Informasi Keluarga Berencana Pada Persepsi Dalam Praktik Keluarga Berenana. Jurnal Swarnabhumi Triyanto E. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu Yogyakarta: Graha Ilmu; 2014. http://berbagi.net/databerbagi/gizi-buruk,-ancaman-generasi-yang-hilang-2.html