Uploaded by common.user97032

Selvyra Eka Masturina (P17321183040) LP ASUHAN KOMUNITAS PADA KELUARGA

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA
KELUARGA Tn “B” DENGAN IBU TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI DESA
SELOREJO KEC NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG
Dosen Pembimbing :
Rahajeng Siti Nur Rahmawati, M.Keb
Disusun Oleh :
Selvyra Eka Masturina
(P17321183040)
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN KEDIRI
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus
ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku (Kepmenkes no.900/Menkes/SK/VII/2002).
Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang
perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi
di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk
diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik
kebidanan.
Bidan di Komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat di
wilayah tertentu. Bidan yg bekerja di komunitas harus mengenal kondisi kesehatan di
masyarakat yangg selalu mengalami perubahan, sehingga bidan harus tanggap terhadap
perubahan tersebut. Para ahli mendefinisikan komunitas atau masyarakat dari sudut
pandang yang berbeda. WHO mendefinisikan komunitas sebagai kelompok social yang
ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta
adanya saling mengenal dan berinteraksi Antara anggota masyarakat yang satu dengan
yang lainnya. Kebidanan komunitas merupakan konsep dasar bidan dalam melayani
keluarga dan masyarakat di wilayah tertentu.
Kebidanan komunitas adalah bidan yang melayani keluarga dan masyarakat di luar
rumah sakit. Di dalam konsep tersebut tercakup berbagai unsur. Unsur-unsur tersebut
adalah bidan sebagai pelaksana pelayanan, pelayanan kebidanan, dan komunitas sebagai
sarana pelayanan, ilmu dan teknologi kebidanan, serta factor yang mempengaruhi seperti
lingkungan, masing-masing usnur memiliki karekteristik. Pendekatan baru mengenai
kualitas pelayanan menuntut pergeseran titik tekan pelayanan kesehatan terutama
kebidanan dari yang berorientasi target peencapaian menjadi berorientasi penjagaan mutu
pelayanan. Pendekatan semacam ini mengharuskan pihak pengelola program untuk
mengoordinasi semua kegiatan yang berbasis klinik seperti rumah sakit, puskesmas, klinik,
swasta atau yang 2 berbasis pada masyarakat seperti posyanddu, polindes, bidan di desa,
petugas penyalur kontrasepsi (CBD), dan lainnya.
1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Membantu masyarakat dalam mengupayakan hidup sehat sehingga mencapai
derajat kesehatan yang optimal.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu
dan anak pada keluarga
b. Menemukan masalah yang ada dan memprioritaskannya
c. Merumuskan berbagai alternative pemecah masalah
d. Mendorong dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi keluarga dalam upaya
mendorong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan, serta menanamkan perilaku
hidup sehat
1.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan laporan ini menggunakan metode wawancara dan pendataan
1.4 Sistematika Penulisan
Halaman Judul
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode pengumpulan Data
1.4 Sistematika Penulis
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Teori Kurang Gizi
2.2 Konsep Teori KB
2.3 Konsep Teori Hipertensi
BAB III TINJAUAN KASUS
BAB IV PEMBAHASAN
Berisi analisis tentang kesenjangan antara teori dan praktik
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Teori Kurang gizi
A. Definisi Gizi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme
dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhandan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu
membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena
itu,setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4
bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI
adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang
dirinya secara wajar dan sehat.
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi
yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi
biasadisebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga,
pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu
zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari
makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin
terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga,zat pembangun dan zat pengatur.
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi
jalar,kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak
jugadapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas
sehari-hari.Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati
adalahkacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur,
ikan, ayam,daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat
penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.Makanan sumber
zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan.Makanan ini mengandung
berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi
organ-organ tubuh.
B. Definisi Kurang Gizi
Malnutrisi adalah keadaan patologis akibatkekurangan atau kelebihan secara
relatif maupun absolut saat lebih zat gizi. Gizi kurang pada keadaan awalnya
tidakditentukan kelainan biokimia tapi pada keadaan lanjut akan didapatkan kadar
albuminrendah, sedangkan globulin meninggi.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Gizi kurang adalah suatu
keadaanyang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang kurang sumber protein,
penyerapan yang buruk atau kehilangan zat gizi secara berlebih.
C. Faktor Penyebab Gizi Kurang
a. Tidak tersedianya makanan secara adekuat
Tidak tersedinya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial
ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang,maupun kebijaksanaan politik
maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini.
Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yangadekuat. Data
Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik
antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok
atauakar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan
pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang
kekurangan gizi.
b. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang makanan alamiah terbaik
bagi bayi yaitu Air Susu Ibu (ASI), dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan
berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya
cukupmengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A,
asam folat,vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan
baik dapatdisiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan
pengetahuanyang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya
yang tidakmemenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
c. Pola makan yang salah Suatu studi "positive deviance" mempelajari mengapa dari
sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi
buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui
pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh
ibunyasendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal
pentingnyaASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin,
ternyata anaknyalebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada
kualitas pengasuhan anak.Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata
diasuh oleh nenek atau pengasuhyang juga miskin dan tidak berpendidikan.
Banyaknya perempuan yang meninggalkandesa untuk mencari kerja di kota
bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapatmenyebabkan anak menderita gizi
buruk.
d. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang
tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya
kebiasaanmemberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan
padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan
anak anak daging, telur,santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk
mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup sehingga anak menjadi
sering sakit (frequentinfection)
e. Infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan
infeksidan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan,
karenakeduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik
akanmeyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan
dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
D. PATOFISIOLOGI
Sebenarnya malnutrisi (Gizi kurang) merupakan suatu sindrom yang terjadi
akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu
host, agent, environment
Memang faktor diet makanan memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut
menentukan dalam keadaan keluarga makanan, tubuh selalu berusaha untuk
mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.Kemampuan
tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak, merupakan halyang
sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh
jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan
karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibat katabolisme protrein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam
amino yang segera di ubah menjadi karbohidrat di hepar dan di ginjal selama puasa
jaringan lemak di pecah jadi asam lemak, gliseraal dan keton bodies, asam lemak dan
keton bodies sebagaisumber energi kalau kekurangan makan ini berjalan menahun.
Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kirakira kehilangan separuh tubuh.
Proses patogenesis terlihat pada faktor lingkungan dan manusia (host dan
environment ) yang didukung oleh asupan-asupan zat-zat gizi, akibat kekurangan zat
gizimaka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan, apabila
keadaanini berlangsung lama. Maka simpanan zat gizi ini akan habis ahirnya terjadi
pemerosotan jaringan. Pada saat ini orang sudah dapat digolongkan sebagai malnutrisi
, walaupun hanya baru dengan ditandai dengan penurunan berat badan dan
pertumbuhan terhambat.Patofisiologi menurut Nurcahyono (2007), Pada keadaan ini
yang muncul adalah pertumbuhan yang kurang atau disertai mengecilnya otot dan
menghilangnya lemak di bawah kulit. Kelainan demikian merupakan proses psikologis
untuk kelangsungan jaringanhidup. Tubuh memerlukan energi dan dapat dipenuhi oleh
makanan yang diberikan
E. Manisfestasi Klinis
a. Marasmus
Menurut Anggoro (2007) marasmus adalah kekurangan energi pada
makananyang menyebabkan cadangan protein lebih terpakai sehingga anak
menajdi kurus danemosional dan tanda-tanda kurus (simpanan lemak dan protein
yang disertai gangguanfisiologi sampai terjadinya oedem aktivitas metabolik
normal/rendah).
Menurut Sugiono (2007) marasmus merupakan akibat dari kelaparan
yanghampir menyeluruh. Seorang anak yang mengalami marasmus, mendapatkan
sangatsedikit makanan, sering disebabkan karena ibu tidak dapat memberikan ASI.
Badannyasangat kurus akibat hilangnya otot dan lemak tubuh. Hampir selalu
disertai terjadinyainfeksi. Jika anak mengalami cedera atau infeksi yang meluas,
prognosanya buruk dan bisa berakibat fatal.
Menurut
Purhadi
(2007)
Marasmus
umumnya
dialami
masyarakat
yangmenderita kelaparan. Marasmus adalah permasalahan serius yang terjadi di
Negara-negara berkembang.
Menurut data WHO sekitar 49% dari 10,4 juta kematian yangterjadi pada anakanak di bawah usia 5 tahun di Negara berkembang berkaitan dengandefisiensi
energi dan protein sekaligus. Marasmus juga umum terjadi pada anak-anakmiskin
perkotaan, anak-anak dengan penyakit kronik dan akan-anak dipenjara.Tingginya
jumlah penderita marasmus tak hanya menimbulkan resiko kematian tapi
jugamenyebabkan syaraf otak tidak berkembang optimal. Dari keterangan di atas
dapat disimpulkan bahwa marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang
menyebabkan cadangan protein lebih terpakai sehingga anak menjadi kurus dan
emosional yang diakibatkan oleh kelaparan secara menyeluruh.
Menurut Nurcahyo (2007). Pada keadaan ini yang menyolok adalah
pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai otot dan menghilangnya lemak di
bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian merupakan proses fisiologis.
Untukkelangsungan hidup jaringan, tubuh yang memerlukan energi yang dapat
dipenuhi oleh makanan yang diberikan, sehingga harus dapat dari tubuh sendiri,
sehingga cadangan protein digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi
tersebut.Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu
memenuhikebutuhan energi, akan tetapi juga untuk memungkinkan sintesis
glukosa dan metabolitesensial lainnya seperti asam amino untuk komponen
homeostatic. Oleh karena itu pada marasmus berat kadang-kadang masih
ditemukan asam amino yang normal sehingga hatimasih dapat membentuk cukup
albumia.Tanda dan Gejala Menurut Hamzah (2006) tanda-tanda marasmus adalah:
a) Otot akan mengecil/atrofi
b) Apatis
c) Sangat kecil/kurus
d) BB kurang, tidak sesuai umur
e) Kulit kedodoran
f) Muka seperti orang tua dan kulit kering
g) Perut buncit dengan gambaran usus yang nyata
h) Vena superfisialis tampak jelas , ubun-ubun cekung, tulang pipi dan dagu
kelihatan menonjol.
b. Kwashiorkor
Menurut Ngastiyah (2005) kwashiorkor adalah gangguan gizi disertai dengan
edema. Sebab utama penyakit ini adalah defisiensi protein. Penyakit kwashiorkor
umunya terjadi pada anak dari keluarga social ekonomi yang rendah karena tidak
mampu membeli makanan yang mengandung protein hewani seperti : daging, hati,
usus,susu, dsb. Sebenarnya selain protein hewani protein nabati terdapat pada
kedelai,kacang-kacangan juga dapat menghindarkan kekurangan protein tersebut
apabila diberikan, tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua anak menderita
defisiensi protein ini. Sering kurangnya pengetahuan juga adanya factor takhayul
turut menjadi penyebab pula. Kwashiorkor biasanya dijumpai pada golongan umur
tertentu yaitu bayi pada masa disapih dan pada anak pra sekolah yang merupakan
golongan umur yangrelatif memerlukan lebih banyak protein untuk tumbuh sebaikbaiknya.
Menurut Widodo (2005) kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan
protein biasa sering disebut busung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah
tangandan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah, gangguan
kulit.Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kwashiorkor adalah
suatukeadaan gangguan gizi yang diakibatkan karena kurangnya protein dalam
tubuh.
Menurut Judarwanto (2005) pada kwashiorkor yang klasik gangguan
metabolikdan perubahan sel menyebabkan ederma dan perlemean hati. Kelainan
ini merupakangejala yang mencolok. Kekurangan protein dalam diet akan
menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang dibutuhkan untuk
sintesis. Karena dalam dietterdapat cukup karbohidrat, maka produksi insulin akan
meningkat dan sebagian asamamino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang
tersebut akan disalurkan ke otot.Berkurangnya asam amino dalam serum
merupakan penyebab kurangnya ke otot.Berkurangnya asam amino dalam serum
merupakan penyebab kurangnya pembentukanalbumin oleh hepar sehingga
kemudian timbul ederma.Gejala Klinis
Menurut Aditya (2006), gejala klinis kwashiorkor adalah :
a) Oedem di seluruh tubuh terutama kaki
b) Wajah membulat dan sembab
c) Otot-otot mengecil lebih nyata apabila diperiksa dalam posisi berdiri dan
duduk.
d) Perubahan status mental, cengeng, rewel, kadang apatis.
e) Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia)
f) Pembesaran hati
g) Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut
h) Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluasi
i) Pandangan mata anak tampak sayu j)
Penatalaksanaan Menurut Hamzah (2006) prinsip pengobatan kwashiorkor
adalah:
a) Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologi
tinggi,tinggi kalori, cukup cairan, vitamin, dan mineral.
b) Makanan harus mudah dicerna dan diserap.
c) Makanan yang diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan
sangat rendah
d) Penanganan terhadap penyakit penyerta
e) Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan
gizitambahan.
F. Status Gizi
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh gondok
endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium
dalam tubuh.Perlunya deteksi dini status gizi mengingat penyebabnya sangat kompleks,
pengelolaan gizi buruk memerlukan kerjasama yang komprehensif dari semua pihak.
Bukan hanya dari dokter maupun tenaga medis, namun juga pihak orang tua,keluarga,
pemuka masyarakat maupun agama dan pemerintah.
Langkah awal pengelolaan gizi buruk adalah mengatasi kegawatan yang
ditimbulkannya, dilanjutkan dengan "frekuenfeeding" (pemberian makan yang sering,
pemantauan akseptabilitas diet penerimaan tubuhterhadap diet yang diberikan),
pengelolaan infeksi dan pemberian stimulasi. Perlunya pemberian diet seimbang, cukup
kalori dan protein serta pentingnya edukasi pemberianmakan yang benar sesuai umur
anak, Pada daerah endemis gizi buruk perlu distribusimakanan yang memadai.Menurut
Menkes No. 9201 menkes/SK/VIII/2002 status gizi ditentukan berdasarkan Z-SCORE
berdasarkan berat badan (kg) terhadap umur (bulan) yangdiklasifikasikan sebagai
berikut :
-
Gizi Lebih: apabila berat badan balita berada > +2 SD (Standar Deviasi)
-
Gizi Baik : apabila berat badan balita berada antara <-2 SD
-
Gizi Buruk: apabila berat badan balita <-3 SD
a. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu
antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.
1) Antropometri
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik
dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
a) Indeks Masa Tubuh (IMT) Atau Body Mass Index (BMI)
Salah satu contoh penilaian ststus gizi dengan antropometri adalah
Indeks MassaTubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index
(BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi
orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan
berat badan. Berat badankurang dapat meningkatkan resiko terhadap
penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko
terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan
normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang
lebih.
Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang
dianjurkanuntuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan
penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang
sehat. Untukmemantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan
timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya
untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada
bayi, anak, remaja, ibuhamil, dan olahragawan.Untuk mengetahui nilai IMT
ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:Menghitung Indeks Massa Tubuh
(IMT) dengan rumus:IMT = Berat Badan (kg)/(Tinggi Badan (cm)/100)²
2.2 Konsep Teori KB
A. PENGERTIAN
Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu untuk
mendapatkan objek-objek tertentu, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
mendapatkan kehamilan yang diinginkan, mengatur interval kehamilan, menentukan
jumlah anak dalam keluarga, mengontrol saat kelahiran dalam hubungan dengan umur
suami istri.
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, alat yang
digunakan untuk menunda kehamilan dan menjarangkan jarak kelahiran.
Menurut WHO (dalam Imbarwati, 2009), keluarga berencana adalah tindakan
yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk:
a. Mendapatkan objektif2 tertentu
b. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
c. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
d. Mengatur interval diantara kelahiran
e. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri
f. Menentukan jumlah anak dalam keluarga
Dalam Imbarwati (2009) juga dijelaskan bahwa kontrasepsi berasal dari kata
kontra berarti mencegah atau melawan.Sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara
sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan
kehamilan.Jadi kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
B. TUJUAN
Tujuan menggunakan kontrasepsi adalah untuk menjarangkan kelahiran,
mengendalikan jumlah anak, dan untuk kesehatan reproduksi wanita.Serta mencapai
keluarga yang sejahtera.
Menurut Imbarwati (2009) kebijakan Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk
mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui usaha penurunan tingkat kelahiran.
Kebijakan KB ini bersama-sama dengan usaha pembangunan yang lain selanjutnya
akan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
C. STRATEGI PELAKSANAAN KB
Terbagi dalam 2 strategi, yaitu:
1. Strategi dasar
-
Meneguhkan kembali program di daerah
-
Menjamin kesinambungan program
2. Strategi operasional
-
Peningkatan kapasitas system pelayanan program KB nasional
-
Peningkatan kualitas program dan program prioritas
-
Penggalangan dan pemantapan komitmen
-
Dukungan regulasi dan kebijakan
-
Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan
D. JENIS-JENIS KB
Menurut Kusumaningrum (2009), terdapat beberapa jenis kontrasepsi, diantaranya:
1. Kontrasepsi PIL
Tablet yang mengandung hormone estrogen dan progesterone sintetik
disebut pil kombinasi dan hanya mengandung progesterone sintetik saja disebut
Mini Pil atau Pil Progestrin.
1.1 Cara Kerja
a. Menekan ovulasi
Jika seorang wanita minum pil KB setiap hari maka tidak akan terjadi
ovulasi (tidak ada sel telur). Tanpa ovulasi tidak akan terjadi kehamilan.
b.
Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu
c. Mengganggu pertumbuhan endometrium, sehingga menyulitkan proses
implantasi
d. Memperkental lender serviks (mencegah penetrasi sperma)
1.2 Efektivitas
Efektivitas teoritis untuk pil sebesar 99,7% sedangkan efektivitas
praktisnya sebesar 90-96%. Artinya pil cukup efektif jika tidak lupa meminum
pil secara teratur.
1.3 Keuntungan
a. Mudah penggunaannya dan mudah didapat
b. Mengurangi kehilangan darah (akibat haid) dan nyeri haid
c. Mengurangi resiko terjadinya KET (Kehamilan Ektopik Terganggu) dan
Kista Ovarium
d. Mengurangi resiko terjadinya kanker ovarium dan Rahim
e. Pemulihan kesuburan hampir 100%
1.4 Baik untuk wanita yang:
-
Masih ingin punya anak
-
Punya jadwal harian yang rutin
1.5 Kontraindikasi
a. Menyusui (khsusu pil kombinasi)
b. Pernah sakit jantung
c. Tumor/keganasan
d. Kelainan jantung, varices, dan darah tinggi
e. Perdarahan pervaginam yang belum diketahui sebabnya
f. Penyakit gondok
g. Gangguan fungsi hati & ginjal
h. Diabetes, epilepsy, dan depresi mental
i. Tidak dianjurkan bagi wanita mur >40 tahun
1.6 Efek Samping
Penggunaan pil KB pada sebagian wanita dapat menimbulkan efek
samping, antara lain mual, berat badan bertambah, sakit kepala (berkunangkunang) perubahan warna kulit dan efek samping ini dapat timbul berbulanbulan.
2. Suntik
Kontrasepsi
suntikan
adalah
hormone
yang
diberikan
secara
suntikan/injeksi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Adapun jenis suntikan
hormone ini ada yg terdiri atas 1 hormon, & ada pula yg terdiri atas dua hormone
sebagai contoh jenis suntikan yg terdiri 1 hormon adalah Depo Provera, Depo
Progestin, Depo Geston & Noristerat. Sedangkan yg terdiri dari atas dua hormone
adalah Cyclofem dan Mesygna.
KB suntik sesuai untuk wanita pada semua usia reproduksi yang
menginginkan kontrasepsi yang efektif, reversible, dan belum bersedia untuk
sterilisasi.
2.1 Cara Kerja
Depo provera disuntikkan setiap 3 bulan sedangkan Noristerat setiap 2
bulan.Wanita yang mendapat suntikan KB tidak mengalami ovulasi.
2.2 Efektivitas
Dalam teori: 99,75%. Dalam praktek: 95-97%.
2.3 Keuntungan
a. Merupakan metode yang telah dikenal oleh masyarakat
b. Dapat dipakai dalam waktu yang lama
c. Tidak mempengaruhi produksi air susu ibu
2.4 Baik untuk Wanita yang:
a. Calon akseptor yg tinggal di daerah terpencil
b. Lebih suka disuntik daripada makan pil
c. Menginginkan metode yang efektif dan bisa dikembalikan lagi
d. Mungkin tidak ingin punya anak lagi
e. Tidak khawatir kalau tidak mendapat haid
2.5 Kontraindikasi
a. Hamil atau disangka hamil
b. Perdarahan pervaginam yg tidak diketahui sebabnya
c. Tumor/keganasan
d. Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis, penyakit paru berat,
varices
2.6 Efek Samping
Efek samping dari suntikan Cyclofem yg sering ditemukan adalah mual,
BB bertambah, sakit kepala, pusing2 dan kadang2 gejala tersebut hilang setelah
beberapa bulan atau setelah suntikan dihentikan. Sedang efek samping dari
suntikan Depo Provera, Depo Progestin, Depo Geston, dan Noristeat yg sering
dijumpai adalah menstruasi tidak teratur, masa menstruasi akan lebih lama,
terjadi bercak perdarahan bukan mungkin menjadi anemia pada beberapa klien.
3. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
AKDR atau spiral, atau Intra-Uterine Devices (IUD) adalah alat yang dibuat
dari polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yg ditempatkan di dalam
rahim.Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan dapat dilepaskan bila berkeinginan
untuk mempunyai anak.
3.1 Cara Kerja
AKDR ini bekerja dengan mencegah pertemuan sperma dengan sel
telur. Imbarwati (2009), menjelaskan cara kerja IUD sebagai berikut:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri
c. Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi
d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
3.2 Efektivitas
Sangat efektif (0,5-1 kehamilan per 100 wanita setelah pemakaian selama 1
tahun)
3.3 Keuntungan
a. Tidak terganggu faktor lupa
b. Metode jangka panjang (perlindungan sampai 10 tahun dengan
menggunakan tembaga T 380 A)
c. Mengurangi kunjungan ke klinik
d. Lebih murah dari pil dalam jangka panjang
3.4 Baik untuk Wanita yang:
a. Menginginkan kontrasepsi dengan tingkat efektivitas yg tinggi, & jangka
panjang
b. Tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan anak
c. Memberikan ASI
d. Berada dalam masa postpartum dan tidak memberikan ASI
e. Berada dalam masa pasca aborsi
f. Mempunyai resiko rendah terhadap PMS
g. Tidak dapat mengingat untuk minum sebutir pil setiap hari
h. Lebih menyukai untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang
memang tidak boleh menggunakannya
i. Yang benar-benar membutuhkan alat kontrasepsi darurat
3.5 Kontraindikasi
a. Hamil atau diduga hamil
b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit
kelamin
c. Pernah menderita radang rongga panggul
d. Penderita perdarahan pervaginam yg abnormal
e. Riwayat kehamilan ektopik
f. Penderita kanker alat kelamin
3.6 Efek samping
a. Perdarahan dank ram selama minggu2 pertama setelah pemasangan.
Kadang-kadang ditemukan keputihan yg bertambah banyak. Disamping itu
pada saat berhubungan (senggama0 terjadi expulsi (IUD bergeser dari
posisi) sebagian atau seluruhnya
b. Pemasangan IUD mungkin meninmbulkan rasa tidak nyaman dan
dihubungkan dengan resiko infeksi rahim.
3.7 Waktu Penggunaan IUD
Dalam Imbarwati (2009) dijelaskan penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada
saat:
a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil
b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu
pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea
laktasi (MAL)
d. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak
ada gejala infeksi
e. Selama 1-5 hari setelah senggama yg tidak dilindungi
3.8 Waktu Kontrol IUD
Menurut Imbarwati (2009), waktu kontrol IUd yang harus diperhatikan adalah:
a. 1 bulan pasca pemasangan
b. 3 bulan kemudian
c. Setiap 6 bulan berikutnya
d. Bila terlambat haid 1 minggu
e. Perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya
4. AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit)
Adalah 2 kapsul kecil yang terbuat dari silicon berisi 75 gram hormone
levonorgestrel yang ditanam di bawah kulit.
4.1 Cara Kerja
AKBK atau sering disebut dengan implant secara tetap melepaskan
hormone tersebut dalam dosis kecil ke dalam darah.
Bekerja dengan cara:
a. Lendir serviks menjadi kental
b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi
c. Menekan ovulasi
4.2 Efektivitas
Dalam teori: 99,7%. Dalam praktek: 97-99%
4.3 Keuntungan
a. Sekali pasang untuk 3 tahun
b. Tidak mempengaruhi produksi ASI
c. Tidak mempengaruhi tekanan darah
d. Pemeriksaan panggul tidak diperlukan sebelum pemakaian
e. Baik untuk wanita yang tidak ingin punya anak lagi tetapi belum mantap
untuk di tubektomi
4.4 Baik untuk wanita yang:
a. Ingin metode yang praktis
b.
Mungkin tidak ingin punya anak lagi
c. Tinggal di daerah terpencil
d. Tak khawatir jika tak dapat haid
4.5 Kontraindikasi
a. Hamil atau disangka hamil
b. Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya
c. Tumor/keganasan
d. Penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis
4.6 Efek samping
Kadang2 pada saat pemasangan akan terasa nyeri. Selain itu ditemukan
haid yang tidak teratur, sakit kepala, kadang2 terjadi spotting atau anemia
karena perdarahan yg kronis.
4.7 Waktu Mulai Menggunakn Implant
a. Implant dapat dipasang selama siklus haid ke-2 sampai hari ke-7
b. Bila tidak hamil dapat dilakukan setiap saat
c. Saat menyusui 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan
d. Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan
e. Bila setelah beberapa minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali,
insersi dilakukan setiap saat jangan melakukan hubungan seksual selama 7
hari
5. Kondom Pria
Adalah sarung karet tipis yang dipakai oleh pria pada waktu bersenggama
5.1 Cara Kerja
Sarung karet ini mencegah sperma bertemu dengan ovum
5.2 Efektivitas
Dalam teori: 98%. Dalam praktek: 85%. Efektif jika digunakan benar
tiap kali berhubungan.Namun efektivitasnya kurang jika dibandingkan metode
pil, AKDR, suntikan KB.
5.3 Keuntungan
a. Dapat dipaki sendiri
b. Dapat mencegah penularan penyakit kelamin
c. Tidak mempengaruhi kegiatan menyusui
d. Dapat digunakan sebagai pendukung metode lain
e. Tidak mengganggu kesehatan
f. Tidak ada efek samping sistemik
g. Tersedia secara luas
h. Tidak perlu resep atau penilaian medis
i. Tidak mahal (jangka pendek)
5.4 Baik untuk pasangan yang:
a. Ingin menunda kehamilan atau ingin menjarangkan anak
b. Jarang bersenggama
c. Pasangan yang takut menularkan & tertular penyakit kelamin
d. Wanita yang kemungkinan sudah hamil
5.5 Kontraindikasi
Alergi.
6. Kontrasepsi Mantap (Kontap)
Adalah pemotongan/pegikatan kedua saluran telur wanita (tubektomi) atau
kedua saluran sperma laki-laki (vasektomi). Operasi tubektomi ada beberapa
macam cara antara lain adalah Kuldoskopik, Kolpotomi, Posterior, Laparoskopi,
dan Minilaparotomi. Cara yang sering diapaki di Indonesia adalah Laparoskopi dan
Mini laparotomi.
6.1 Cara Kerja
Hal ini mencegah pertemuan sel telur dengan sperma
6.2 Efektivitas
Dalam teori: 99,9%. Dalam praktek: 99%.
6.3 Keuntungan
a. Paling efektif
b. Mengakhiri kesuburan selamanya (keberhasilan pengembalian tidak bisa
dijamin).
c. Tidak perlu perawatan khusus
6.4 Baik untuk pasangan yang:
a. Sudah yakin tidak ingin punya anak lagi
b. Jika hamil akan membahayakan jiwanya
c. Ingin metode yang tidak mengganggu
6.5 Kontraindikasi
Tidak ada.
6.6 Efek Samping
Jarang, ringan, dan bersifat sementara misalnya bengkak, nyeri, dan
infeksi luka operasi.Pada vasektomi infeksi dan epididimis terjadi pada 1-2%
pasien. Pada tubektomi perdarahan, infeksi, kerusakan organ lain dan
komplikasi karena anastesi dapat terjadi.
2.3 Konsep Teori Hipertensi
A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah diatas normal atau peningkatan abnormal secara terus menerus lebih dari
suatu periode, dengan tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas
90mmHg. (Aspiani, 2014)
B. Etiologi Hipertiens
Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan menurut
(Aspiani, 2014) :
a. Hipertensi primer atau hipertensi esensial
Hipertensi primer atau hipertensi esensial disebut juga hipertensi idiopatik
karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor yang memengaruhi yaitu : (Aspiani,
2014)
1) Genetik
Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi, beresiko tinggi
untuk mendapatkan penyakit ini. Faktor genetik ini tidak dapat dikendalikan,
jika memiliki riwayat keluarga yang memliki tekanan darah tinggi.
2) Jenis kelamin dan usia
Laki - laki berusia 35- 50 tahun dan wanita menopause beresiko tinggi untuk
mengalami hipertensi. Jika usia bertambah maka tekanan darah 11 meningkat
faktor ini tidak dapat dikendalikan serta jenis kelamin laki–laki lebih tinggi dari
pada perempuan.
3) Diet
Konsumsi diet tinggi garam secara langsung berhubungan dengan
berkembangnya hipertensi. Faktor ini bisa dikendalikan oleh penderita dengan
mengurangi konsumsinya, jika garam yang dikonsumsi berlebihan, ginjal yang
bertugas untuk mengolah garam akan menahan cairan lebih banyak dari pada
yang seharusnya didalam tubuh. Banyaknya cairan yang tertahan menyebabkan
peningkatan pada volume darah. Beban ekstra yang dibawa oleh pembuluh
darah inilah yang menyebabkan pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya
peningkatan tekanan darah didalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan
tekanan darah meningkat.
4) Berat badan
Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat badan dalam keadaan
normal atau ideal. Obesitas (>25% diatas BB ideal) dikaitkan dengan
berkembangnya peningkatan tekanan darah atau hipertensi.
5) Gaya hidup Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan pola
hidup sehat dengan menghindari faktor pemicu hipertensi yaitu merokok,
dengan merokok berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap dalam waktu
sehari dan dapat menghabiskan berapa putung rokok dan lama merokok
berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi alkohol yang sering, atau
berlebihan dan terus menerus dapat meningkatkan tekanan darah pasien
sebaiknya jika memiliki tekanan darah tinggi pasien diminta untuk
menghindari alkohol agar tekanan darah pasien dalam batas stabil dan pelihara
gaya hidup sehat penting agar terhindar dari komplikasi yang bisa terjadi.
G. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder terjadi akibat penyebab yang jelas.salah satu contoh
hipertensi sekunder adalah hipertensi vaskular rena, yang terjadiakibat stenosi
arteri
renalis.
Kelainan
ini
dapat
bersifat
kongenital
atau
akibat
aterosklerosis.stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjal sehingga
terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasn renin, dan
pembentukan angiostenin II. Angiostenin II secara langsung meningkatkan tekanan
darahdan secara tidak langsung meningkatkan sintesis andosteron dan reabsorbsi
natrium. Apabila dapat dilakukan perbaikan pada stenosis,atau apabila ginjal yang
terkena diangkat,tekanan darah akan kembali ke normal (Aspiani, 2014).
C. Patofisiologi
Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian cardiac output (curah
jantung) dengan total tahanan prifer. Cardiac output (curah jantung) diperoleh dari
perkalian antara stroke volume dengan heart rate (denyut jantug). Pengaturan tahanan
perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Empat sistem
kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara lain sistem
baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan
autoregulasi vaskular (Udjianti, 2010).
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
di vasomotor, pada medula diotak. Pusat vasomotor ini bermula pada saraf simpatis,
yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia
simpatis. Titik neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang
serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah (Padila, 2013).
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
pembuluh darah terhadap rangsangan vasokontriksi. Individu dengan hipertensi
sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa
hal tersebut bisa terjadi (Padila, 2013).
Meski etiologi hipertensi masih belum jelas, banyak faktor diduga memegang
peranan dalam genesis hiepertensi seperti yang sudah dijelaskan dan faktor psikis,
sistem saraf, ginjal, jantung pembuluh darah, kortikosteroid, katekolamin,
angiotensin, sodium, dan air (Syamsudin, 2011).
Sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang
emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas
vasokontriksi.
Medulla
adrenal
mensekresi
epinefrin,
yang
menyebabkan
vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah (Padila, 2013).
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran keginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler.
Semua faktor ini cendrung mencetuskan keadaan hipertensi (Padila, 2013).
D. Tanda dan Gejala Hipertensi
Tanda dan gejala utama hipertensi adalah (Aspiani, 2014) menyebutkan gejala
umum yang ditimbulkan akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi tidak sama pada
setiap orang, bahkan terkadang timbul tanpa tanda gejala. Secara umum gejala yang
dikeluhkan oleh penderita hipertensi sebagai berikut:
a. Sakit kepala
b. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
c. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa ingin jatuh
d. Berdebar atau detak jantung terasa cepat e. Telinga berdenging yang memerlukan
penanganan segera
Menurut teori (Brunner dan Suddarth, 2014) klien hipertensi mengalami nyeri
kepala sampai tengkuk karena terjadi penyempitan pembuluh darah akibat dari
vasokonstriksi pembuluh darah akan menyebabkan peningkatan tekanan vasculer
cerebral, keadaan tersebut akan menyebabkan nyeri kepala sampe tengkuk pada klien
hipertensi.
E. Klasifikasi Hipertensi
Menurut (WHO, 2018) batas normal tekanan darah adalah tekanan darah
sistolik kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80 mmHg.
Seseorang yang dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg
dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi primer dan
hipertensi sekunder (Aspiani, 2014). Hipertensi primer adalah peningkatan tekanan
darah yang tidak diketahui penyebabnya. Dari 90% kasus hipertensi merupakan
hipertensi primer. Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan berkembangnya
hipertensi primer adalah genetik, jenis kelamin, usia, diet, berat badan, gaya hidup.
Hipertensi sekunder adalah peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang
ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Dari 10% kasus
hipertensi merupakan hipertensi sekunder. Faktor pencetus munculnya hipertensi
sekunder antara lain: penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan, peningkatan volume
intravaskular, luka bakar dan stres (Aspiani, 2014).
F. Komplikasi
Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam jangka
panjang akan menyebabkan kerusakan ateri didalam tubuh sampai organ yang
mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi yang dapat terjadi pada
penderita hipertensi yaitu : (Aspiani, 2014)
a. Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di otak dan
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan
darah tinggi.
b. Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila membentuk 12 trombus
yang bisa memperlambat aliran darah melewati pembuluh darah. Hipertensi
kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Sedangkan
hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik
melintasi ventrikel terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko
pembentukan bekuan.
c. Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi. Penderita
hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan
berkurang elastisitasnya, disebut dekompensasi. Akibatnya jantung tidak mampu
lagi memompa, banyak cairan tertahan diparu yang dapat menyebabkan sesak
nafas (eudema) kondisi ini disebut gagal jantung. d. Ginjal tekanan darah tinggi
bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Merusak sistem penyaringan dalam ginjal
akibat ginjal tidak dapat membuat zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang
masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan dalam tubuh.
G. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan nonfarmakologis dengan modifikasi gaya hidup sangat penting
dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan mengobati tekanan darah tinggi , berbagai macam cara memodifikasi
gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu : (Aspiani, 2014)
b. Pengaturan diet
1) Rendah garam, diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah pada klien
hipertensi. Dengan pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi stimulasi
sistem renin- angiostensin sehingga sangata berpotensi sebagai anti
hipertensi. Jumlah asupan natrium yang dianjurkan 50-100 mmol atau setara
dengan 3-6 gram garam per hari.
2) Diet tinggi kalium, dapat menurunkan tekanan darah tetapi mekanismenya
belum jelas. Pemberian kalium secara intravena dapat menyebabkan
vasodilatasi, yang dipercaya dimediasi oleh oksidanitat pada dinding
vaskular.
3) Diet kaya buah sayur.
4) Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner.
H. Penurunan berat badan
Mengatasi obesitas, pada sebagian orang dengan cara menurunkan berat badan
mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja
jantung dan voume sekuncup. Pada beberapa studi menunjukan bahwa obesitas
berhubungan dengan kejadian hipertensi dan hipertrofi ventrikel kiri. Jadi,
penurunan berat badan adalah hal yangs angat efektif untuk 18 menurunkan
tekanan darah. Penurunan berat badan (1 kg/minggu) sangat dianjurkan.
Penurunan berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu menjadi
perhatian khusus karenan umumnya obat penurunan penurunan berat badan yang
terjual bebas mengandung simpasimpatomimetik, sehingga dapat meningkatkan
tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal jantung dan terjadinya
eksaserbasi aritmia.
I. Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kedaan jantung. olahraga isotonik
dapat juga meningkatkan fungsi endotel, vasoldilatasin perifer, dan mengurangi
katekolamin plasma. Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam
satu minggu sangat dianjurkan untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga
meningkatkan kadar HDL, yang dapat mengurangi terbentuknya arterosklerosis
akibat hipertensi.
J. Memeperbaiki gaya hidup yang kurang sehat dengan cara berhenti merokok dan
tidak mengkonsumsi alkohol, penting untuk mengurangi efek jangka oanjang
hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai
organ dan dapat meningkatkan kerja jantung.
K. Penatalaksanaan Farmakologis
1) Terapi oksigen
2) Pemantauan hemodinamik
3) Pemantauan jantung
4) Obat-obatan :
(a) Diuretik : Chlorthalidon, Hydromax, Lasix, Aldactone, Dyrenium
Diuretic bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah
jantung 19 dengan mendorong ginjal meningkatkan ekskresi garam dan
airnya. Sebagai diuretik (tiazid) juga dapat menurunkan TPR.
Penghambat enzim mengubah angiostensin II atau inhibitor ACE
berfungsi untuk menurunkan angiostenin II dengan menghambat enzim
yang diperlukan untuk mengubah angiostenin I menjadi angiostenin II.
Kondisi ini menurunkan darah secara langsung dengan menurunkan TPR,
dan secara tidak langsung dengan menurunakan sekresi aldosterne, yang
akhirnya meningkatkan pengeluaran natrium
LEMBAR PENGESAHAN
Asuhan Kebidanan Keluarga Risiko Tinggi Pada Keluarga “Tn B” di Desa Selorejo
Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, telah diperiksa dan disetujui pada :
Hari
Tanggal
: Selasa
: 16 Februari 2021
Mengetahui,
Bidan Polindes.............
NIP.
Mahasiswa
NIM.
Pembimbing Institusi
_______________________
NIP.
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN KEDIRI
ASUHAN KEBIDANAN PADA KELUARGA
Pengkajian
Hari
Tanggal
: Asuhan Kebidanan Komunitas Tn. B
: Senin
: 8 Januari 2021
I. PENGKAJIAN
A. DATA UMUM
1. Data wilayah dan Kepala Keluarga
Kecamatan
: Ngunut
Kelurahan/Desa
: Selorejo
RT
: 01
RW/ Dusun
: 01
Alamat
: Jl. Jati no. 04
Nama Kepala Keluarga
Jenis Kelamin
Umur
Pendidikan
Agama
Pekerjaan
Penghasilan
Keadaan Kesehatan
:
:
:
:
:
:
:
:
Budiono
Laki-laki
36 th
SD
Islam
Petani
500.000-1.000.000
Gizi kurang
1. Data Anggota Keluarga
No
Nama
Hub. dg KK
1
Budiono
2
3
4
Yeni Irawati
Alfin
Tia Amanda
Kepala
Keluarga
Istri
Anak
Anak
L/
P
L
Umur
P
L
P
35
6
1,5
36
Pendidika
n
Tamat SD
Pekerjaa
n
Petani
Agama
Suku/bangsa
Islam
Jawa
Tamat SD
TK B
Belum
sekolah
IRT
Pelajar
Tidak
bekerja
Islam
Islam
Islam
Jawa
Jawa
Jawa
2. Tipe keluarga: Keluarga Inti (Nuclear Family) keluarga inti suami, istri dan dua orang anak.
3. Sifat Keluarga:
a. Pengambil keputusan : Suami
b. Kebiasaan hidup sehari-hari:
1) Kebiasaan istirahat/tidur keluarga : Biasanya anggota keluarga istirahat siang antara pukul 13.00 –
15.00 WIB , istirahat malam biasanya pukul 22.00 – 04.30 WIB.
2) Kebiasaan makan keluarga dan contoh menu sehari-hari (cara makan, alat yang dipakai dsb)
Ibu memasak pada pagi hari untuk dimakan sampai malam .Alat yang dipakai memasak kompor gas
. Piring dan gelas terbuat dari plastik.
3) Kebiasaan dalam personal hygiene
Keluarga mandi 2 kali sehari, mencuci rambutnya 3 hari sekali.
4) Sarana hiburan keluarga
Menonton TV
5) Pengunaan waktu luang keluarga
Berkumpul malam hari dengan keluarga
4. Faktor Lingkungan
a. Rumah (permanen/semi permanen, ukuran,ventilasi,jendela, lantai, atap, air minum/air bersih jml
penghuni)
Rumah permanen, ukuran rumah 5x10 meter, terdapat ventilasi disetiap kamar ventilasi baik, lantai
terbuat dari ubin, dinding terbuat dari tembok, atap terbuat dari genteng, air minum menggunakan air
rebusan, jumlah penghuni rumah 4 orang. Terdapat sumur untuk kebutuhan air bersih.
b. Pembuangan sampah
Terdapat lubang untuk pembakaran sampah di belakang rumah
c. Jamban dan kamar mandi
Terdapat jamban dan kamar mandi di belakang rumah
d. Pekarangan dan selokan
Pekarangan sempit, selokan di belakang tertutup tanah
e. Kandang ternak
Tidak terdapat kandang ternak
f.
Denah rumah dan lingkungan
Teras
Ruang TV
Ruang
Tamu
Kamar
Kamar
WC
g.
Sarana komunikasi dan transportasi
Handphone dan sarana transportasi keluarga sepeda (1) dan motor (1)
h.
Fasilitas pelayanan kesehatan : ke Puskesmas Pembantu atau Puskesmas Balesono
B. DATA KESEHATAN
1. Keluarga memiliki jaminan kesehatan: KIS
2. Riwayat Kesehatan Keluarga:
NO
1
2
3
4
3.
4.
Anggota Keluarga
Budiono
Zeni
Alfin
Amanda
Usia
Jenis Penyakit
Lama Sakit
36
35
6
1,5
Hipertensi
Hipertensi
Kurang Gizi
2 tahun
Tidak tahu
Tidak tahu
Tidak tahu
Riwayat Kematian dalam Keluarga
NO
Anggota Keluarga
Usia
1
Tidak ada
Tidak ada
2
3
4
Sebab Kematian
Tidak Ada
Tempat
Pengobatan
Puskesmas
Puskesmas
Posyandu
Keterangan
Tidak Ada
Riwayat Keluarga Berencana (KB)
a. Jumlah pasangan usia subur dalam keluarga: 2
b. Jumlah wanita usia subur dalam keluarga : 1
c. PUS/WUS menggunakan alat kontrasepsi: □ Ya
 Tidak
d. Mulai menjadi peserta KB: e. Pelayanan KB didapatkan dari: f. Akseptor yang dibina □ Ya
 Tidak
g. Jenis alat kontrasepsi yang digunakan : h. Lama pemakaian alat kontrasepsi: i. Komplikasi alat kontrasepsi: j. Pernah ganti cara: -
Jenis: -
k. Jika tidak menggunakan alat kontrasepsi, alasan karena ingin hamil lagi
5.
Pengetahuan Orang Tua tentang Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh kembang anak kurang di perhatikan oleh orang tua sehingga gizi yang didapatkan tidak
mencukupi
6.
Harapan Keluarga terhadap Petugas Kesehatan
Harapan orangtua agar petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan secara rutin dan
gratis
7.
Data Ibu Hamil
a. Saat ini ada ibu hamil dalam keluarga: □ Ya
 Tidak
b. Usia ibu saat ini 35 tahun
c. Kehamilan ini adalah yang
ke.............................................................................................................................
d. Usia kehamilan ibu saat ini: □ TM 1 (0-3 bulan) □ TM2 (4-6 bulan) □ TM3(7-9 bulan)
e. Ibu hamil TM III dengan berat badan kurang dari 45 kg: □ Ya
□ Tidak
f. Apakah ibu memeriksakan kehamilannya:
□ Ya ....... kali
□ Tidak, Alasan : □Tidak ada biaya □ Tidak sempat □Tidak tahu
□......................................................
g. Pemeriksaan kehamilan pertama kali dilakukan pada usia kehamilan
...............................................................
h. Ibu hamil mengkonsumsi Fe: □ TM 1 (0-3 bulan) □ TM2 (4-6 bulan) □ TM3(7-9 bulan)
i. Ibu hamil mengkonsumsi iodium □ Ya
□ Tidak
j. Apakah ibu mendapatkan imunisasi TT:
□ Ya, ....... kali (L/TL)
□ Tidak
k. Adakah keluhan yang dirasakan ibu hamil saat ini
□ lemah, letih, lesu □Pusing
□Mual dan muntah □Bengkak
□.........................................
8.
Data Ibu Nifas dan Menyusui
a. Apakah ada buteki dalam keluarga:  Ya
b. Apakah ibu meneteki anaknya:
Ya
c. Lama menyusui: □ < 1 bulan
□ 1-6 bulan
d. Apakah ASI diberikan secara eksklusif □Ya
e. Bila tidak menyusui alasan:
f. Kunjungan ibu nifas: □ 6 jam
□ 1-3 hari
g. Ibu nifas mengkonsumsi vitamin A: □ Ya
9.
□ Tidak
□ Tidak
□ 6-12 bulan
□ Tidak
□ 6 hari
□ Tidak
 > 12 bulan
□ 6 minggu
Data Bayi
a. Jumlah kelahiran hidup dalam keluarga 2
b. Jumlah bayi dalam keluarga 0
c. Adakah kelahiran BBLR: □ Ya
Tidak
d. Tempat persalinan: □ RS □ Puskesmas
□ Polindes
 BPM/RB
e. Persalinan ditolong oleh Bidan
f. Saat melahirkan apakah dilakukan IMD?  Ya
□ Tidak
g. Pemberian vitamin K pada BBL:  Ya
□ Tidak
h. DDTK pada bayi dilakukan pada usia: □ 3 bulan □ 6 bulan
□ 9 bulan
bulan
i. Adakah bayi yang menderita diare □ Ya
Tidak
j. Bayi penderita diare  sembuh
□mati
10. Data Anak Balita
a. Jumlah anggota keluarga yang berusia balita: 1 anak
b. DDTK pada balita apras dilakukan 2kali/tahun:  Ya
□ Tidak
c. Apakah setiap bulan balita dibawa ke posyandu dan ditimbang Ya
□ Rumah
 12
□ Tidak
d. Bila Tidak, alasannya: □ Jauh
□ Tidak ada waktu
e. Imunisasi yang sudah diberikan:  BCG  DPT....kali
□ Lain
 Polio .......kali Hepatitis
.......kali Campak
f. Bila imunisasi tidak diberikan, alasan : g. Apakah anak memiliki buku KIA:
Ya
□ Tidak
h. Apakah anak memiliki KMS:
 Ya
□ Tidak
i. Pemantauan berat badan anak berdasarkan KMS saat ini:
□ Di daerah garis hijau
 Di atas garis hijau sampai kuning
□ Di bawah garis titik
□ Di bawah garis merah
l. Penanganan balita gizi kurang:
Sasaran
Jenis PMT
Baduta
Biskuit
Entrasol
Tidak
diberikan
MP ASI
Bubur
berisi nasi,
tempe
11. Data Anak Usia Sekolah dan Remaja
a. Pendidikan :
SD : Kelas :
SMP : Kelas :
SMA : Kelas :
PT : Semester :
b. Kegiatan anak di luar sekolah:
□ keagamaan, sebutkan mengaji alqur’an
□ karang taruna
□ olah raga, sebutkan sepak bola
□ Lain-lain, sebutkan Tidak ada
c. Bagaimana penggunaan waktu luang anak:
 musik/TV
□ olah raga
□ rekreasi
□ lain-lain,sebutkan
d. Kebiasaan anak:
□ merokok
□ alkohol
□ lain-lain, sebutkan Tidak ada
Kenaikan BB
I
II
III
100gram 300gram 500gram
□ keagamaan,
□ narkoba
12. Data Anggota Keluarga Usia Lanjut
a. Adakah anggota keluarga yang berusia lebih dari 60 tahun (lansia): □ Ya
 Tidak
b. Apakah lansia memiliki keluhan kesehatan
: □ Ya
□ Tidak
c. Penggunaan waktu senggang lansia:
□ Berkebun/pekerjaan rumah
□ jalan-jalan □ Senam
□ lain-lain,
sebutkan………………………
d. Adakah posyandu lansia di tempat tinggal saudara:
□ Ya
□ Tidak
e. Apakah lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia:
□ Ya, .........kali/bulan , □ Tidak
f. Jika tidak, alasan
□ Tidak mau
□ Tidak tahu
II.
ANALISA DATA
No Data
1
Ibu mengatakan dalam
keluarga yang memiliki
riwayat penyakit hipertensi
- Ibu mengatakan
2
anaknya susah makan
- tidak suka makan sayur
selain sayur bayam saja
dan kurang makan buah
3
Ibu mengatakan belum
menjadi akseptor kb
Ibu mengatakan
menggunakan metode
alamiah
Analisa dan Intepretasi
Ketidaktauan keluarga tentang
dampak panjang dari hipertensi
An. T susah makan dan berat
badan kurang
Ketidaktauan ibu bahwa apabila
terjadi kehamilan lagi pada usia
ibu saat ini termasuk resiko
tinggi
Diagnosa
Kebutuhan KIE
tentang penyakit
hipertensi
Kebutuhan KIE
tentang gizi kurang
Ibu belum menjadi
akseptor kb
III. RENCANA MASALAH KESEHATAN SESUAI DENGAN PRIORITAS :
1. Melakukan Kolaborasi dengan dokter spesialis jantung untuk merencanakan KIE kepada
Tn. B dan Ny. Dan cara penanganan hipertensi apabila sudah akut tentang dampak dari
hipertensi karena Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung coroner.
2. Motivasi ibu untuk ber-KB dengan memberikan penjelasan kesehatan tentang manfaat dan
pentingnya KB yang lebih dari pengetahuan ibu. Berikan penjelasan kesehatan tentang
jenis-jenis alat kontrasepsi
3. Melakukan kolabrasi dengan ahli gizi dengan merencanakan memberikan konseling dan
edukasi mengenai gizi seimbang, menarik, dan bervariasi untuk baduta. Cara memberikan
MP-ASI dan PMT , diberikan contoh pemenuhan gizi seimbang yang ekonomis dan
pemantauan secara berkala mengenai pola makan.
IV.
PENATALAKSANAAN MASALAH KESEHATAN SESUAI DENGAN PRIORITAS :
1.
Memberikan KIE kepada Tn. B dan Ny. Y tentang dampak dari hipertensi dan
berkolaborasi dengan dokter spesialis jantung untung dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut .
2. Memberikan KIE kepada Ny. Y dan Motivasi ibu untuk ber-KB dengan memberikan
penjelasan kesehatan tentang manfaat dan pentingnya KB yang lebih dari
pengetahuan ibu. Berikan penjelasan kesehatan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi
3.
Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi dengan memberikan konseling dan edukasi
mengenai gizi seimbang, menarik, dan bervariasi untuk baduta.
SKALA PRIORITAS MASALAH
1. Kurang pengetahuan tentang dampak panjang dari hipertensi
KRITERIA
1. Sifat masalah
BOBOT
1
PERHITUNGAN
2x1
SKORE
2
PEMBENARAN
Ancaman
Kesehatan bsgi
suami
Karena suami
masih belum bisa
menjaga asupan
makanannya.
2. Kemungkinan masalah dapat
diubah
2
1x2
2
Suami memiliki
kemauan untuk
menjaga asupan
makan
1
3. Potensi untuk mengubah
masalah
1x1
1
Pikiran suami
dapat terbuka
setelah diberikan
konseling
mengenai
dampak panjang
hipertensi
1
2x1
1
4. Menonjolkan masalah
JUMLAH
Suami
menyadari perlu
mengatasi
masalah tersebut
8
2. Ibu belum menjadi akseptor kb
KRITERIA
1. Sifat masalah
BOBOT
1
PERHITUNGAN
2x1
SKORE PEMBENARAN
2
Ancaman
Kesehatan bagi ibu,
dimana ibu tidak
menyadari
bila
tidak ber KB dapat
menyebabkan
kehamilan
berikutnya
2. Kemungkinan masalah dapat
diubah
2
1x2
2
Masalah bisa
diubah jika proses
penyuluhan dan
pendekatan
berhasil
3. Potensi untuk mengubah
masalah
1
3x1
3
Masalah bisa
diubah dengan ibu
mau ber KB
Ibu menyadari
perlu mengatasi
masalah tersebut
4. Menonjolkan masalah
1
2x1
2
Jika tidak ber kb
akan hamil lagi
sementara usia ibu
merupakan factor
resiko tinggi
kehamilan
JUMLAH
9
3. Kurang pengetahuan orang tua tentang gizi buruk
KRITERIA
1. Sifat masalah
BOBOT
1
PERHITUNGAN
2x1
SKORE
2
PEMBENARAN
Ancaman
Kesehatan bagi
bayi Karena
kurangnya gizi
yang disebabkan
oleh kuragnya
pengetahuan
orang tua tentang
gizi buruk.
Ibu memiliki
2. Kemungkinan masalah dapat
diubah
2
1x2
2
kemauan untuk
memenuhi
kebutuhan gizi
anaknya.
Pikiran orang tua
1
2x1
2
3. Potensi untuk mengubah masalah
dapat terbuka
setelah diberikan
konseling
mengenai
bahayanya gizi
buruk.
Orang tua
menyadari perlu
1
2x1
2
4. Menonjolkan masalah
JUMLAH
mengatasi
masalah tersebut
8
DOKUMENTASI
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Bidan di komunitas (community midwifery) adalah bidan yang bekerja disuatu
lokasiatau daerah atau area tertentu. Kebidanan komunitas adalah konsep dasar bidan
dalam melayani keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas adalah
upaya yang dilakukan bidan untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan ibu dan anak
balita dalam keluarga dan masyarakat (Ambarwati, 2009). Bertujuan meningkatkan
berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khususnya dan masyarakat dalam
hal :
1.
Mengkaji keadaan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di masyarakat
seperti mengumpulkan data masyarakat
2.
Menganalisa kesehatan masyarakat yaitu mengkaji dan melakukan penilaian
terhadap permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat
3.
Mengantisipasi masalah kesehatan yang mungkin terjadi
4.
Melakukan tindakan segera terhadap masalah kesehatan.
5.
Menyusun perencanaaan asuhan kebidanan terhadap masalah kesehatan yang.
6.
Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan terhadap keluarga yang didasarkan
kepada rencana strategi kegiatan yang telah dilaksanakan
7.
Mengevaluasi tindakan asuhan kebidanan terhadap keluarga yaitu keluarga mau
menjaga kesehatan dan asupan gizi .
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan studi kasus asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn.
B dapat ditarik kesimpulan bahwa status kesehatan keluarga Tn. B kurang baik.
5.2 Saran
1. Diharapkan ada peningkatan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah
kesehatan anggota keluarganya
2. Dapat menngkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah kesehatan
dasar dalam keluarga
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, M.& Wirjatmadi B., (2014). Gizi dan kesehatan balita. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group
Almatsier,S. (2011). Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Marmi. 2016. Buku Ajar Pelayanan KB. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Munadar, B. 2017. Peran Informasi Keluarga Berencana Pada Persepsi Dalam Praktik
Keluarga Berenana. Jurnal Swarnabhumi
Triyanto E. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu Yogyakarta:
Graha Ilmu; 2014.
http://berbagi.net/databerbagi/gizi-buruk,-ancaman-generasi-yang-hilang-2.html
Download