Uploaded by User93497

CHAPTER I-II-2021

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan bagi kehidupana manusia merupakan kebutuhan primer atau mutlak
yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu
kelompok manusia dapat hidup berkembang dengan cita-cita untuk maju, sejahtera,
dan bahagia menurut konsep pandangan hidupnya. Dalam pengertian sederhana dan
umum makna pendidikan adalah usaha sadar manusia untuk menumbuhkan dan
mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai
dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan agama.
Penulis akan memberikan penjelasan dan pembahasan mengenai pendidikan dan
pembentukan karakter, yang di dalamnya akan dibahas secara singkat tentang
pendidikan dan pembentukan karakter dan hubungan antara pendidikan dan
pembentukan karakter. Karena pendidikan karakter merupakan hal yang paling
penting dan mendasar untuk membentuk suatu manusia yang ideal dan cerdas.
Urgensi Pendidikan Karakter memiliki fungsi dan tujuan pendidikan nasional,
jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, harus diselenggarakan secara sistematis
guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter
peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan
berinteraksi dengan masyarakat.
Dalam konteks keindonesiaan, penerapan pendidikan karakter
merupakan
kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena melihat fakta dilapangan
mengenai akhlak dan moral, banyaknya terjadi penyimpangan moral merupakan salah
satu alasan mengantarkan pendidikan karakter dalam ranah pendidikan dengan
1
mengacu pada cita-cita bangsa. Diharapkan melalui pendidikan karakter ini, akan
tercapainya tujuan pendidikan bangsa yang cerdas dan berkahlak mulia serta menjadi
manusia yang seutuhnya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, kami merumuskan beberapa masalah, diantaranya :
1.
Apa pengertian karakter ?
2.
Apa saja dimensi pendidikan karakter ?
3.
Apa definisi Pendidikan Karakter ?
4.
Apa saja Tujuan Pendidikan Karakter ?
5.
Apa saja saluran-saluran Pendidikan Karakter ?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui apa itu karakter.
2.
Untuk mengetahui apasaja dimensi pendidikan karakter.
3.
Untuk mengetahui apa itu pendidikan karakter.
4.
Untuk mengetahui apa saja tujuan dari pendidikan karakter.
5.
Untuk mengetahui apa saja saluran-saluran pendidikan karakter.
D. Sistematika Penulisan
Pada Bab I Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang, tujuan penulisan,
rumusan masalah dan sistematika penulisan dari isi makalah kami.
Pada Bab II Pembahasan, menguraikan mengenai apa yang dimaksud dengan
karakter, apa saja dimensi dari karakter, apa pengertian pendidikan karakter, serta
tujuan pendidikan karakter.
Pada Bab III Penutup, menguraikan menngenai kesimpulan dan saran untuk
melengkapi makalah kami.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Karakter
Sebelum memahami lebih jauh mengenai konsep dasar karakter, berikut
merupakan beberapa pengertian karakter :
1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter memiliki arti “sifat-sifat
kejiwaan atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya”.
Karakter juga dapat berarti “huruf”.
2. Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan, hati,
jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat,
temperamen,
watak”.
Adapun
berkarakter,
adalah
berkepribadian,
berperilaku, bersifat, dan berwatak.
3. Menurut Ditjen Mandikdasmen-Kementrian Pendidikan Nasional, karakter
adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang
bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari
keputusan yang ia buat.
4. W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata
dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat
diamati pada individu.
5. Gulo W, (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau
dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya
mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
3
6. Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang
lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai
kepribadian.
7. Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa Yunani
“karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk
tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak
jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek,
sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai
orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan
personality(kepribadian) seseorang.
8. Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laku
dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit
maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian
kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian
(personality) maupun karakter berwujud tingkah laku yang ditujukan
kelingkungan
sosial,
keduanya
relatif
permanen
serta
menuntun,
mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau
menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan
dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur,
kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.
Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut
4
dengan berkarakter mulia.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral
knowing), sikap moral (moral feeling) dan perilaku moral (moral
behavior).Karakter didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan
untuk berbuat baik dan melakukan perbuatan kebaikan.
Karakter didapatkan dan dapat dilihat dari refleksi sikap seseorang
dalam kehidupannya, jika ia banyak berbuat kebaikan maka ia dinilai
berkarakter baik, dan sebaliknya orang yang berbuat jahat dinilai berkarakter
buruk. Semua penilaian tersebut tak lepas dari cara pandang orang lain
terhadap sikap-sikap yang ditunjukan oleh diri orang yang bersangkutan.
B. Dimensi Karakter yang Baik
1. Karakter Mulia
Karakter mulia berari individu memiliki pengetahuan tentang potensi
dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti : reflektif, percaya diri,
rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat,
bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani,
dapat dipercaya, jujur, menempati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah,
pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti,
berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja,
bersemangat,
dinamis,
hemat/efisien,
menghargai
waktu,
pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan
estetis, sportif, tabah, terbuka, tertib.
Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau
unggul, dan individu juga mampu bertidak sesuai potensi dan kesadarannya
5
tersebut.Karakter adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu
(intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang
berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya,
sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada
umumnya dengan mengoptimalkan potensi (Pengetahuan) dirinya dan disertai
dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
2. Nilai Karakter
Berdasarkan nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum,
etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir
nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, dan lingkungan serta kebangsaan.
a. Nilai karakter dalam hubungan dengan Tuhan
Yaitu religius : pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang
diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan/atau
ajaran agamanya.
b. Nilai karakter dalam hubungan dengan diri sendiri (personal)
1) Jujur :Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan tindakan, dan perkerjaan, baik terhadap diri dan
pihak lain.
2) Bertanggung jawab :Sikap dan perilaku seseorang untu
melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang
6
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat,
lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan
YME.
3) Bergaya hidup sehat :Segala upaya untuk menerapkan
kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat
dan
menghindarkan
kebiasaan
buruk
yang
dapat
mengganggu kesehatan.
4) DisiplinTindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan
patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja keras :Perilaku yang menunjukkan upaya sungguhsungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna
menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaikbaiknya.
6) Percaya diri :Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri
terhdapat pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan
harapannya.
7) Berjiwa wirausaha :Sikap dan perilaku yang mandiri dan
pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan
cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadaan
produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan
operasinya.
8) Berpikir logis, kritis, dan inovatif :Berrpikir dan melakukan
sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan
cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah
7
dimiliki.
9) Mandiri : Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung
pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
10) Ingin tahu : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
11) Cinta ilmu : Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang
tinggi terhadap pengetahuan.
c. Nilai karakter dalam hubungan dengan sesama
1) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
2) Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang
mengjadi miliki/hak diri sendiri dan orang lain serta
tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
3) Patuh pada aturan-aturan social
4) Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan
dengan masyarakat dan kepertingan umum.
5) Menghargai karya dan prestasi orang lain
6) Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan
mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
7) Santun
8) Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa
maupun tata perilakunya ke semua orang.
8
9) Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang
menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
d. Nilai karakter dalam hubungan dengan lingkungan
1) Penduli sosial dan lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan
pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upayaupaya untuk memperbaiki kerusahakan alam yang sudah terjadi dan
selalau memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan.
2) Nilai kebangsaan
Cara berfikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
3) Nasionalis
Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap
bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
bangsanya.
4) Menghargai keberagaman
Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal
baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku dan agama.
9
C. Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Sudrajat (2010), pendidikan karakter adalah suatu sistem
penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa
(YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga
menjadi insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen
(stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan
itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas
hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana
prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Pendidikan Karakter Menurut Lickona, Secara sederhana pendidikan
karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk
mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang
tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang
disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian
pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu
seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan
nilai-nilai etika yang inti.
Pendidikan karakter atau pendidikan watak sejak awal munculnya
pendidikan oleh para ahli dianggap sebagai suatu hal yang niscaya. John
Sewey, misalnya, pada tahun 1916 yang mengatakan bahwa sudah merupakan
hal yang lumrah dalam teori pendidikan bahwa pembentukan watak
10
merupakan tujuan umum pengajaran dan pendidikan budi pekerti di sekolah.
Kemudian pada tahun 1918 di Amerika Serikat (AS), Komisi Pembaharuan
Pendidikan Menengah yang ditunjuk oleh Perhimpunan Pendidikan Nasioanal
melontarkan sebuah pernyataan bersejarah yaitu mengenai tujuan-tujuan
pendidikan umum.Lontaran itu dalam sejarah kemudian dikenal sebagai
“Tujuh Prinsip Utama Pendidikan”, diantaranya sebagai berikut :
1. Kesehatan
2. Penguasaan proses-proses fundamental
3. Menjadi anggota keluarga yang berguna
4. Pekerjaan
5. Kewarganegaraan
6. Penggunaan waktu luang secara bermanfaat
7. Watak susila
Pendidikan ke arah terbentuknya karakter bangsa para siswa
merupakan tanggungjawab semua guru. Oleh karena itu, pembinaannya pun
harus oleh guru. Dengan demikian, kurang tepat jika dikatakan bahwa
mendidik para siswa agar memiliki karakter bangsa hanya ditimpahkan pada
guru mata pelajaran tertentu, misalnya guru PKN atau guru pendidikan agama.
Walaupun dapat dipahami bahwa yang dominan untuk mengajarkan
pendidikan karakter bangsa adalah para guru yang relevan dengan pendidikan
karakter bangsa.Tanpa terkecuali, semua guru harus menjadikan dirinya
sebagai sosok teladan yang berwibawa bagi para siswanya
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan
karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design
11
pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan.
Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan,
pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.
Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosialkultural tersebut dikelompokan kedalam beberapa factor diantaranya :
1. Olah Hati (Spiritual and emotional development);
2. Olah Pikir (intellectual development);
3. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development)
4. Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).
1. Ciri Dasar Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman
terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan
berpedoman pada norma tersebut. Empat ciri dasar pendidikan karakter yang
dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang
bernama FW Foerster:
a. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian,
dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak
mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi
situasi baru.
b. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan
dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak
didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan
dari pihak luar.
c. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam
12
mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar
penghormatan atas komitmen yang dipilih.
2. Pentingnya Pendidikan Karakter
Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk
memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman
seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang
tanpa kita sadari telah terabaikan.Yaitu memberikan pendidikan karakter pada
anak didik. Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang
kecakapan kognitif. Ada sebuah kata bijak mengatakan “ ilmu tanpa agama
buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Sama juga artinya bahwa
pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena
buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan
dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya,
pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh
sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu,
penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam
pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai
sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu
dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi
unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki
karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan penelitian di
Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak
semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan
13
kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan
orang lain (soft skill).
D. Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa
dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan
individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada
tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang
diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang
akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus. Tujuan
jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis yang semakin
mendekatkan dengan kenyataan yang idea, melalui proses refleksi dan
interaksi secara terus menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil
langsung yang dapat dievaluasi secara objektif.
Pendidikan
karakter
juga
bertujuan
meningkatkan
mutu
penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada
pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh,
terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui
pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri
meningkatkan
dan
menggunakan
pengetahuannya,
mengkaji
dan
menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak
mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter, pada tingkatan institusi, mengarah pada
pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku,
tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikan oleh semua
14
warga sekolah masyarakat sekitar. Budaya sekolah merupakan ciri khas,
karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Tujuan mulia pendidikan karakter ini akan berdampak langsung pada
prestasi anak didik. Menurut Suyanto, ada beberapa penelitian yang
menjelaskan dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang
tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong
royong,
berjiwa
patriotik,
berkembang
dinamis,
berorientasi
ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa
kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak
pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan
Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi
pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada
pencapaian akademis.
Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap
orang dapat menyetujui nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius,
atau bias budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk
membantu siswa memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu
sebagai berikut:
1) Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal
melakukan apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta
keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang
15
baik, patuh, berdiri dengan keluarga, teman dan negara.
2) Respect (Respek)
Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun,
bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan
mengancam, memukul atau menyakiti orang lain, damailah dengan
kemarahan, hinaan dan perselisihan.
3) Responsibility (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin,
berpikirlah sebelum bertindak, mempertimbangkan konsekuensi,
bertanggung jawab atas pilihan anda.
4) Fairness (Keadilan)
Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran
terbuka, mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari
orang lain, jangan menyalahkan orang lain sembarangan.
5) Caring (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli,
ungkapkan rasa syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang
membutuhkan.
6) Citizenship (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja
sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga
yang baik, mentaati hukum dan aturan, menghormati otoritas,
melindungi lingkungan hidup.
16
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya
dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan
kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan
pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Nilainilai karakter yang dikembangkan dalam dunia pendidikan didasarkan pada 4 sumber,
yaitu ; Agama, Pancasila, budaya bangsa dan tujuan pendidikan nasional itu sendiri.
B. Saran
Sebagai pendidik maupun calon pendidik, pendidikan karakter menjadi suatu
hal yang sudah sepatutnya terkuasai oleh pelaku pendidik dalam menciptakan peserta
didik berkarakter yang tahu akan pembatasan nilai-nilai moral yang menunjang dalam
pencapaian tatanan kehidupannya.
17
Download