Uploaded by User93111

1. perkembangan teori evolusi

advertisement
1
PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
dapat menyelesaikan chapter book ini guna memenuhi
tugas untuk mata kuliah Evolusi, dengan judul “Evolusi
Jagat Raya”.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan chapter book
ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak sehingga
dapat terselesaikan tepat waktu. Untuk itu perkenankan
kami menyampaikan terima kasih kepada bapak Dr.
Cartono, M.Pd., M.T. dan ibu Cita Tresnawati, M. Pd.
sebagai dosen pengampu yang telah memberikan
petunjuk dan bimbingannya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa chapter book ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik, saran,
dan masukan yang membangun sangat diperlukan. Akhir
kata kami berharap chapter book ini dapat memberikan
manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.
i
Bandung, Februari 2020
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
PRAKATA ....................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ...................................................... v
PENDAHULUAN ......................................................... vi
BAB I EVOLUSI JAGAT RAYA .................................. 1
A. Evolusi ................................................................. 1
1.
Pengertian Evolusi............................................ 1
2.
Faktor- Faktor Terjadinya Evolusi ................... 3
3.
Jenis-Jenis Evolusi di Alam ............................. 6
B. Jagat Raya ............................................................ 7
1.
Teori Terbentuknya Jagat Raya........................ 9
2.
Galaksi dalam Jagat Raya .............................. 10
3.
Galaksi Bima Sakti (The Milky Ways Galaxy)
17
iii
4.
Nebula ............................................................ 21
5.
Rasi Bintang ................................................... 22
6.
Bintang (The star)........................................... 22
C. Penciptaan Alam Semesta Menurut Alquran ..... 24
1.
Hakikat alam semesta ..................................... 24
2.
Penciptaan Alam Semesta .............................. 28
3.
Hakikat Tujuh Langit ..................................... 53
INDEKS ........................................................................ 66
GLOSARIUM ............................................................... 69
DAFTAR PUSTAKA ................................................... 76
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Galaksi Spiral .............................................. 13
Gambar 2. Galaksi Elips ............................................... 15
Gambar 3. Galaksi Magellan ........................................ 16
Gambar 4. Galaksi Bima Sakti...................................... 18
Gambar 5. Nebula ......................................................... 21
v
PENDAHULUAN
Teori evolusi adalah teori yang paling penting
dalam biologi. Tidak ada gagasan lain dalam biologi
yang
begitu
merangsang
kuat
secara
secara
ilmiah,
intelektual.
atau
lebih
Evolusi
dapat
menambahkan dimensi ketertarikan ekstra ke sisi
yang paling menarik dari sejarah alam. Bagaimana
ahli biologi evolusi modern cenderung berpendapat
bahwa keberadaan seks adalah teka-teki yang paling
dalam
dari
semuanya,
dan
sangat
mungkin
merupakan kesalahan yang setengahnya, makhluk
hidup di planet ini akan lebih baik tanpanya.
Evolusi juga memberi makna pada fakta-fakta
kehidupan yang lebih kering, dan merupakan salah
satu kesenangan subjek untuk melihat bagaimana ada
ide-ide serta fakta-fakta dalam teknik-teknik yang
membingungkan dari laboratorium genetika, dan
seberapa dalam teori-teori tentang sejarah kehidupan
dapat bergantung pada pengukuran lebar daerah yang
disebut "prodissoconch II" dalam cangkang larva
vi
siput, atau jumlah tulang rusuk di ekor trilobita.
Begitu hebatnya kedalaman dan jangkauan biologi
evolusioner yang harus dirasakan.
Evolusi merupakan cabang sains biologi yang
menjelaskan mengenai proses perkembangan dan
perubahan makhluk hidup baik secara genetik
maupun organik. Kemunculan teori evolusi pada
awalnya
tepatnya
pada
fase
fixisme
tidak
dipersoalkan dan tidak menimbulkan berbagai
perdebatan, baik dikalangan
kalangan
agamawan.
ilmuan
Perdebatan
maupun
mulai
hadir
ketika seorang ilmuan berkebangsaan Inggris Charles
Darwin, mempublikasikan
hasil penelitiannya
mengenai spesies makhluk hidup yang menjelaskan
bahwa spesies makhluk hidup tidak diciptakan
secara
terpisah oleh Tuhan tetapi diciptakan
berdasarkan dari nenek moyang yang sama dan
menjadi berbeda satu sama lain akibat seleksi alam.
Penemuan dan penelitian tersebut
kontradiktif
dikalangan
baik
dikalangan
agamawan.
vii
Teori
menimbulkan
ilmuan
maupun
evolusi
Charles
Darwin
menganggap
Sinpanse
memicu
(kera),
pro
manusia berasal
dari
pernyataan
tersebut
yang
kontra, sehingga
karena
teori
evolusi seleksi alam Charles Darwin mayoritas
manusia
evolusi
menyamakannya
yang
lain.
ketidakpercayaan
dan
Hal
dengan
teori
ini mengakibatkan
keraguan
terhadap
teori
perdebatan
teori
evolusi yang sudah berkembang.
Menjelang
evolusi
dengan
seleksi
abad
ke
20,
alam mengalami
berkembangnya ilmu
titik
terang
genetika
yang
menemukan struktur molekul DNA oleh ahli
Botani dari Austria Gregor Mendelan pada tahun
1865. Pada tahun 1950 setelah ditemukan struktur
gen dan kromosom menguatkan penemuan struktur
molekul DNA (Deoxyribonucleic Acid)yang berisi
informasi genetik meragukan teori evolusi seleksi
alamnya Charles Darwin dengan alasan kerumitan
yang
luar biasa dari kehidupan untuk berubah
menjadi species baru dan ketidakabsahan mekanisme
evolusi yang diajukan Charles Darwin.
viii
Dalam surat Al- Hijir ayat 28 Allah berfirman
"Maka
apabila
Aku
telah
menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud.". Firman Allah dalam kalimat
'maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud'
menandakan bahwa manusia lebih tinggi derajatnya
daripada malaikat sekalipun. Jika dalam al-quran
malaikat digambarkan sebagai makhluk Allah yang
Indah maka pantaskah manusia-manusia purba
disebut lebih sempurna daripada malaikat.
Jagat raya yang sangat luas merupakan suatu
keindahan yang luar biasa yang diberikan oleh
Tuhan. Bumi yang saat ini kita tempati dengan
segala isinya yang senantiasa kita nikmati, tentunya
tidak terjadi begitu saja, tidak ada dengan sendirinya
tanpa ada hal besar yang melatar belakangi
keberadaannya. Hal itu pun telah dijelaskan dalam
Al-Qur’an seperti berikut:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu
ix
adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan
antara keduanya…..” (Al Anbiya’ 30).
Jika kita melihat pada ayat Al-Qur’an di atas,
jelas Allah mengatakan bahwa pada mulanya bumi
dan langit adalah satu kesatuan yang tidak terpisah
seperti
saat
ini.
Tetapi
kemudian
Allah
menjadikannya dua bagian yang terpisah seperti
halnya yang kita lihat saat ini. Setiap kemajuan baru
di dalam pemahaman jagat raya ternyata semakin
memperkecil peran kita didalamnya. Walaupun
demikian, setiap kemajuan ini selalu menimbulkan
rasa kekaguman baru pada abad ke tujuh belas
astronom
mengungkapkan
fakta
bahwa
bumi
bukanlah pusat tata surya melainkan salah satu dari
beberapa planet yang mengitari matahari (Anugraha,
2005:152).
Bukti pengembangan jagat raya datangnya dari
pergeseran Doppler cahaya galaksi-galaksi jauh.
Informasi pengembangan jagat raya yang sebagian
besar dihimpun dalam tahun 1920-an dan 1930-an ini
memperlihatkan
bahwa
x
sewaktu
jagat
raya
mengembang setiap galaksi bergerak saling menjauh.
Ini merupakan bukti eksperimental bagi peristiwa
pengembangan jagat raya yang memang telah
diterima kalangan ilmuan ketika teori ini ditemukan.
Ada dua tafsiran mengenai pengembangan. (1) jika
setiap galaksi bergerak saling menjauhi, berarti jauh
di masa lampau jarak antargalaksi lebih dekat. Jadi,
pada masa itu kerapatan jagat raya lebih besar, dan
jika kita menengok lebih jauh lagi ke masa lampau
kita dapati sebuah titik dengan kerapatan tak hingga
ini adalah hipotesis Big Bang yang pertama kali
ditemukan oleh George Gamow. (2) kerapatan jagat
raya tetap tidak berubah. Sewaktu galaksi-galaksi
bergerak saling menjauhi, dalam ruang antar galaksi
terus terciptakan materi baru, agar mempertahankan
kerapatan
jagat
raya
kurang
lebih
konstan
(Krane,2008:694-701).
Model kosmologi standar yang bersandar kepada
prinsip kosmologi, deskripsi fluida sempurna yang
menghasilkan tensor energi-momentum dan teori
relativitas umum Einstein menunjukkan bahwa alam
xi
semesta ini semestinya mengembang, yang dimulai
dari keadaan yang sangat padat dan sangat panas
pada masa lalu yang jangka waktunya berhingga dari
sekarang.
Proses terbentuknya jagat raya ini mendorong
para ilmuwan untuk mencari tahu tentang bagaimana
sebenarnya jagat raya ini tercipta. Hingga akhirnya
lahirlah teori-teori tentang terbentuknya jagat raya
yang dikemukakan oleh para ilmuwan.
xii
BAB I
EVOLUSI JAGAT RAYA
A. Evolusi
1. Pengertian Evolusi
Evolusi (juga dikenal sebagai evolusi biologi,
genetik atau organik) adalah perubahan sifat
mewarisi dari populasi organisme melalui generasi
berturut-turut. Perubahan ini hasil dari interaksi
antara proses-proses yang memperkenalkan variasi
dalam populasi, dan proses lainnya yang menghapus
itu. Akibatnya, varian dengan sifat-sifat tertentu
menjadi lebih, atau kurang, umum. sifat adalah cirianatomi
tertentu,
biokimia
atau
perilaku-yang
merupakan hasil dari interaksi gen-lingkungan.
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan
pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahanperubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses
utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat
yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang
1
diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup
dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika
organisme
bereproduksi,
keturunannya
akan
mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat
diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun
transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada
spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi
gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi
genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara
organisme.
Evolusi
terjadi
ketika
perbedaan-
perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau
langka dalam suatu populasi.
Evolusi berusaha memahami faktor-faktor yang
mendorong terbentuknya berbagai makhluk hidup
yang ada didunia saat ini. Evolusi mempelajari
bagaimana spesies baru dapat muncul dari berbagai
spesias tumbuhan dan hewan dalam jangka waktu
tertentu.
Evolusi
spesies-spesies
juga
yang
mempelajari
berbeda
kekerabatan.
2
dapat
bagaimana
memiliki
2. Faktor- Faktor Terjadinya Evolusi
Evolusi pada umumnya dapat disebabkan oleh dua
faktor penyebab, yaitu antara lain :
a. Faktor Dalam / Faktor Gen / Faktor Genetika
Pada setiap makhluk hidup pasti memiliki
substansi gen pada kromosom. Perubahan pada gen
atau genetika pada makhluk tersebut akan berakibat
pada terjadinya perubahan sifat organisme tersebut.
Perubahan pada gen kromosom dapat terjadi akibat :
a) Mutasi Gen
Mutasi adalah perubahan materi genetik yang
bersifat menurun. Mutasi gen adalah perubahan
pada struktur kimia gen yang bersifat turuntemurun yang terjadi bisa secara spontan atau
tidak spontan oleh zat kimia, radiasi sinar
radioaktif, terinfeksi virus, dan lain sebagainya,
serta kesalahan selama proses meiosis ataupun
replikasi DNA. Mutasi dapat terjadi pada semua
organisme yang merupakan sumber dari adanya
variasi Hereditas. Jika ada satu atau beberapa gen
yang
bermutasi,maka
akan
mengakibatkan
terjadinya perubahan frekuensi gen. Mutasi
3
adalah bahan mentah dari evolusi karena seleksi
alam bekerja pada fenotip, sedangkan fenotipe
muncul dari gen. Agar suatu populasi dapat
bertahan terhadap seleksi alam, populasi itu harus
memiliki variasi genetik yang tinggi. Sebagian
besar mutasi bersifat
buruk. Akan tetapi,
sebagian besar dari kesalahan genetik ini bersifat
resesif dan kemudian akan menjadi target seleksi
alam. Sebagian mutasi yang bersifat baik
misalnya mutasi pada reseptor dipermukaan sel
pada sel pada manusia yang menghambat infeksi
HIV
b) Rekombinasi Gen
Pengertian dan arti definisi rekombinasi gen
adalah penggabungan beberapa gen induk jantan
dan betina ketika pembuahan ovum oleh sperma
yang menyebabkan adanya susunan pasangan
gen yang berbeda dari induknya. Akibatnya
adalah lahirnya variasi spesies baru.
Percobaan yang ilakukan oleh Wilhem Ludwing
Johansen (Denmark 1857-1927) pada tahun 1905
4
dan kelompok peneliti dari universitas Illinois
pada tahun 1985 menunjukka bahwa :
1. Seleksi
sangat
rekomendasi
efektif
pada
terhadap
organisme
yang
melakukan perkawinan silang.
2. Seleksi
merupakan
pembatas,
dan
fakor
pengarah,
penstabil
terhadap
rekomendasi gen.
b. Faktor Lingkungan Luar
Makhluk hidup dalam kesehariannya pasti berada
di lingkungan habitat tempat tinggalnya sesuai
dengan
kondusi
fisik
maupun
kondisi
karakteristiknya. Organisme makhluk hidup dituntut
untuk dapat menyesuaikan atau adaptasi dengan
kondisi lingkungan sekitarnya. Mahluk hidup yang
melakukan perubahan fisik dan karakter secara terusmenerus untuk dapat selalu beradaptasi dengan
lingkungannya
spesies
baru
menyebabkan
yang
munculnya
bermacam-macam
baranekaragam
5
varian
dan
3. Jenis-Jenis Evolusi di Alam
a. Evolusi Kosmik
Evolusi kosmik adalah evolusi yang terjadi pada
lingkungan abiotik atau lingkungan tidak hidup / tak
hidup. Dan ketika kita berbicara masalah evolusi,
adalah gambaran kera dan spesies manusia yang
selalu terbayang di otak kita. Kemudian kita mulai
membayangkan tentang dinosaurus
yang telah
musnah, atau hewan-hewan prehistoris lainnya.
Namun sekarang, gambaran tentang evolusi mulai
berubah. Bukan perihal masalah biologis saja, namun
perihal kosmik secara keseluruhan.
Kosmik ini mempunyai segala ciri dari materi
bilogi. Bintang-bintang muncul dan hancur, diikuti
kehadiran planet dan tata surya baru. Galaksi satu
dengan yang lain tumbuh dan berkembang. Bahkan,
alam semesta inipun tumbuh berkembang hingga
mencapai sebuah titik yang tidak kita ketahui.
Kosmik
ini
begitu
luas,
dan
kemungkinan-
kemungkinan yang ada di dalamnya sangat beragam.
Bayangkan bahwa barangkali di luar sana sama
sekali tidak ada kehidupan, bahwa kita adalah sebuah
6
entitas yang istimewa. Sekarang, cukup ragu untuk
mengatakan bahwa pemikiran saya di masa lalu itu
adalah benar. Kehidupan barangkali dapat tercipta
dimanapun, di setiap sudut kosmik ini.
b. Evolusi Organik
Evolusi organik adalah evolusi yang terjadi pada
lingkungan biotik pada mahluk hidup dari generasi
kegenerasi. evolusi organic adalah perkembangan
progresif organ-organ hewan dan tumbuhan dari
bentuk sederhana menjadi bentuk-bentuk yang lebih
kompleks. Evolusi organis itu merupakan proses yag
sangat lambat, berlangsung lama, dan karenanya
pada
setiap
penambahan
tingkat
kompleksitas
melalui waktu, seperti evolusi system matahari,
evolusi masyarakat manusia, dan sebagainya. Kata
sifat organic menunjuk kepada pengertian spesies
tumbuhan dan hewan.
B. Jagat Raya
Pernahkah kamu memikirkan tentang proses
terbentuknya alam semesta atau jagat raya ini?
Tuhan telah menganugrahkan kita akal untuk berfikir
7
tentang apa yang ada di bumi dan di langit sebagai
ciptaan-Nya. Walau sampai saat ini, masih banyak
sisi gelap dari penciptaan alam semesta ini yang
belum diketahui manusia.
Orang
dikelilingi
melihat
oleh
kenyataan
planet-planet
bahwa
matahari
yang
orbitnya
berbentuk hampir mendekati bentuk lingkaran dan
lintasannya hampir berimpit. Arah peredaran semua
planet itu adalah sama, yaitu berlawanan dengan arah
perputaran jarum jam. Jika kita memandangnya dari
Kutub Utara, ternyata arah revolusi planet-planet itu
sama dengan arah rotasi matahari dan juga arah
satelit-satelit pada planet. Arah seperti ini merupakan
arah negatif, sedangkan arah benda langit yang
berlawanan arah dengan arah tersebut dinamakan
arah positif, seperti arah peredaran matahari terbit
dari timur dan terbenam di barat, jika kita
mengamatinya dari bumi.
8
1. Teori Terbentuknya Jagat Raya
Terdapat dua teori utama yang mendasari terjadinya
alam semesta atau jagat raya ini, yaitu teori ledakan
besar dan teori mengembang dan memampat, sebagai
berikut.
a. Teori ledakan besar (The big bang theory)
Menurut teori ledakan besar, jagat raya berawal
dari adanya suatu massa yang sangat besar dengan
berat jenis besar pula yang mengalami ledakan yang
sangat dahsyat karena adanya reaksi pada inti massa.
Ketika terjadi ledakan besar, bagian-bagian dari
massa tersebut berserakan terpental menjauhi pusat
ledakan. Setelah milyaran tahun kemudian, bagianbagian yang terpental itu membentuk kelompokkelompok yang kita kenal sebagai galaksi-galaksi.
b. Teori
mengembang
dan
memampat
(The
oscillating theory)
Teori ini dikenal pula dengan nama teori
ekspansi dan konstraksi. Menurut teori ini, jagat raya
9
terbentuk karena adanya suatu siklus materi yang
diawali dengan masa ekspansi atau mengembang
yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen,
pada tahap ini terbentuklah galaksi-galaksi.Tahap ini
diperkirakan berlangsung selama 30 milyar tahun,
selanjutnya galaksi-galaksi dan bintang yang telah
terbentuk akan meredup, kemudian memampat yang
didahului dengan keluarnya pancaran panas yang
sangat tinggi. Setelah tahap memampat maka tahap
berikutnya adalah tahap mengembang dan kemudian
memampat lagi.
2. Galaksi dalam Jagat Raya
Galaksi
adalah
kumpulan
bintang
yang
membentuk suatu sistem yang terdiri atas satu atau
lebih benda angkasa yang berukuran besar dan
dikelilingi oleh benda-benda angkasa lainnya sebagai
anggotanya yang bergerak mengelilinginya secara
teratur.
Di dalam ilmu astronomi, galaksi diartikan
sebagai suatu sistem yang terdiri atas bintang10
bintang, gas dan debu yang amat luas, yang
anggotanya
mempunyai
gaya
tarik
menarik
(gravitasi). Suatu galaksi pada umumnya terdiri atas
milyaran bintang-bintang yang mempunyai ukuran,
warna, dan karakteristik yang sangat beraneka
ragam.
Secara
garis besar,
menurut morfologinya,
galaksi dibagi menjadi tiga tipe, yaitu galaksi spiral,
galaksi elips, dan galaksi tak beraturan. Pembagian
tipe ini berdasarkan bentuk atau penampakan
galaksi-galaksi tersebut. Galaksi- galaksi yang
diamati dan dipelajari oleh para astronom sejauh ini
terdiri atas sekitar 75% galaksi spiral, 20% galaksi
elips, dan 5% galaksi tak beraturan. Namun bukan
berarti galaksi spiral adalah galaksi yang paling
banyak terdapat di alam semesta ini.
Sesungguhnya yang paling banyak terdapat di
alam semesta ini adalah galaksi elips. Jika kita
mengambil volume ruang angkasa yang sama, kita
akan menemukan lebih banyak galaksi elips daripada
11
galaksi spiral. Hanya saja galaksi tipe ini banyak
yang redup, sehingga sulit untuk diamati.
a. Galaksi spiral (Spiral galaxy)
Galaksi spiral merupakan tipe yang paling umum
dikenal orang. Mungkin karena bentuk spiralnya
yang indah itu. Jika kita mendengar kata galaksi,
biasanya yang terbayang adalah galaksi tipe ini.
Galaksi kita termasuk galaksi spiral. Bagian-bagian
utama galaksi spiral adalah halo, bidang galaksi
(termasuk lengan spiral), dan bulge (bagian pusat
galaksi yang menonjol). Anggota galaksi spiral
adalah bintang-bintang muda dan tua. Bintangbintang tua terdapat pada gugus-gugus bola yang
tersebar menyelimuti galaksi.
Gugus bola adalah kumpulan bintang-bintang
yang berjumlah puluhan sampai ratusan ribu bintang
yang lahir bersama-sama, mengumpul berbentuk
bola. Gugus-gugus bola inilah yang membentuk halo
bersama sama dengan bintang-bintang yang tidak
terdapat di bidang galaksi.
12
Gambar 1. Galaksi Spiral
(Sumber: www.ipac.jpl.nasa.gov)
Bintang-bintang muda terdapat di lengan spiral
galaksi yang berada di bidang galaksi. Bintangbintang muda ini masih banyak diselimuti materi
antar- bintang, yaitu bahan yang membentuk bintang
itu. Bulge pada galaksi spiral adalah bagian yang
paling padat.
Pada Bima Sakti, pusat galaksi terletak di arah
Rasi Sagitarius, tetapi kita tidak dapat mengamatinya
dengan mudah, sebab materi antarbintang banyak
menyerap cahaya yang berasal dari pusat galaksi itu.
13
Galaksi spiral berotasi dengan kecepatan yang jauh
lebih besar daripada galaksi elips. Kecepatan
rotasinya yang besar itulah menyebabkan galaksi ini
memipih dan membentuk bidang galaksi.
Besar kecilnya kecepatan rotasi pada galaksi
spiral bergantung pada massa galaksi tersebut.
Kecepatan rotasi tiap bagian galaksi spiral sendiri
tidaklah sama. Semakin ke arah pusat galaksi,
kecepatan rotasinya semakin besar. Contoh lain
galaksi spiral selain Bima Sakti adalah galaksi
Andromeda. Ukuran Andromeda ini sedikit lebih
besar daripada Bima Sakti. Galaksi Andromeda dan
Bima Sakti termasuk galaksi spiral raksasa. Jarak
galaksi Andromeda ini sekitar 2,5 juta tahun cahaya.
Untuk
mengarungi
jarak
sejauh
itu,
cahaya
memerlukan waktu 2,5 juta tahun. Ini berarti bahwa
cahaya yang kita terima dari galaksi ini adalah
cahaya yang dikirimnya 2,5 juta tahun yang lalu
yang menggambarkan keadaan galaksi tersebut pada
waktu itu. Jarak ini dalam ukuran astronomi masih
terhitung dekat, jarak ke galaksi-galaksi lainnya jauh
14
lebih fantastis. Bahkan ada yang sampai milyaran
tahun cahaya.
b. Galaksi elips (Elliptical galaxy)
Galaksi berbentuk elips meliputi kurang lebih 17
% dari jumlah galaksi yang telah dikenal. Galaksi ini
menyerupai bentuk dasar bulatan besar yang
berbentuk
lonjong
(elips)
di
angkasa
yang
memancarkan sinar yang relatif terang. Contohnya,
Galaksi Fornax dan Galaksi Skulpter.
Gambar 2. Galaksi elips
(Sumber: www.ipac.jpl.nasa.gov)
15
c.
Galaksi tak beraturan (Irregular galaxy)
Galaksi yang tidak mempunyai bentuk dasar
spiral ataupun elips disebut galaksi tak beraturan.
Dengan kata lain, galaksi ini terlihat seperti suatu
kumpulan bintang dan benda-benda angkasa lainnya
yang letaknya tidak beraturan. Contohnya Galaksi
Magellan
Gambar 3. Galaksi Magellan
(Sumber: Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 1, halaman
214 dan 220)
16
3. Galaksi Bima Sakti (The Milky Ways Galaxy)
Galaksi kita termasuk galaksi spiral berbentuk
seperti cakram dengan garis tengah kira-kira 100.000
tahun cahaya (30.600 pc). Bintang yang lebih tua
ditemukan di pusat tonjolan dengan ketebalan 20.000
tahun cahaya (6.100 pc). Bintang yang lebih muda
ditemukan di lengan spiral. Pusat galaksi berada
dalam gugusan bintang Sagitarius. Kutub utaranya di
Coma Berenices, sedangkan kutub selatannya di
Sculptor. Matahari ada di sudut dalam lengan spiral
Carina Cygnus kira-kira 32.000 tahun cahaya (9.800
pc) dari pusat galaksi. Diperkirakan galaksi berumur
12-14 biliun tahun dan terdiri atas 100 biliun bintang.
17
Gambar 4. Galaksi Bima Sakti
(Sumber: www.ipac.jpl.nasa.gov)
Untuk
membayangkan
bagaimana
kira-kira
bentuk galaksi kita, maka kita dapat membayangkan
dua buah telur mata sapi yang bagian bawahnya
disatukan. Istilah tahun cahaya menggambarkan
jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu
tahun. Dengan kecepatan 300.000 km/s, dalam waktu
satu tahun cahaya akan menempuh jarak sekitar 9,5
juta juta kilometer. Jadi, satu tahun cahaya adalah 9,5
juta juta km. Ini berarti garis tengah galaksi kita
sekitar 100.000 × 9,5 juta juta km, atau 950 ribu juta
juta km (950 diikuti oleh 15 buah nol di
belakangnya). Untuk memudahkan perhitungan,
digunakan satuan jarak yaitu tahun cahaya. Dengan
satuan ini, tebal bagian pusat galaksi kita sekitar
10.000 tahun cahaya.
Lalu, di mana letak Matahari kita? Matahari
terletak sekitar 30.000 tahun cahaya dari pusat Bima
Sakti. Matahari bukanlah bintang yang istimewa,
18
tetapi hanyalah salah satu dari 200 milyar buah
bintang anggota Bima Sakti. Bintang bintang
anggota Bima Sakti ini tersebar dengan jarak dari
satu bintang ke bintang lain berkisar 4 sampai 10
tahun cahaya. Bintang terdekat dengan matahari
adalah Proxima Centauri (anggota dari sistem tiga
bintang Alpha Centauri), yang berjarak 4,23 tahun
cahaya. Semakin ke arah pusat galaksi, jarak
antarbintang semakin dekat, atau dengan kata lain
kerapatan galaksi ke arah pusat semakin besar.
Bima Sakti bukanlah satu-satunya galaksi di alam
semesta ini. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat
dipotret dengan teleskop berdiameter 500 cm di Mt.
Palomar mungkin sampai kira-kira satu milyar buah
galaksi. Jadi, tidak salah jika kita mengira bahwa jika
mempunyai teleskop yang lebih besar, kita akan
dapat melihat jauh lebih banyak lagi.
Sebelum kita memiliki metode pengukuran jarak
yang cukup baik, para astronom mengira Bima Sakti
adalah keseluruhan dari alam semesta. Bercakbercak cahaya yang tampak di langit pada mulanya
19
diklasifikasikan sebagai nebula (kabut), yang juga
adalah anggota Bima Sakti.
Dikenal ada dua macam nebula, yaitu nebula gas
dan nebula spiral. Harlow Shapley dan George Ellery
Hale, merupakan dua orang astronom yang amat
berjasa membangun pengertian tentang galaksi.
Shapley
telah
mengembangkan
metode
untuk
mengukur diameter Bima Sakti, sedangkan Hale,
amat besar perannya dalam pengembangan teleskopteleskop besar, yang digunakan untuk pengamatan
bintang-bintang dan nebula. Atas jasa merekalah,
sehingga kita mengetahui bahwa yang semula
disebut nebula spiral itu adalah galaksi yang juga
seperti Bima Sakti, terdiri atas ratusan juta sampai
milyaran bintang, dan berada amat jauh dari kita,
jauh di luar Bima Sakti. Melalui jalan yang telah
mereka rintis, kita menyadari bahwa Bima Sakti
hanyalah satu dari sekian banyak galaksi yang
bertebaran di alam semesta yang amat luas ini.
20
4. Nebula
Nebula adalah kabut atau awan debu dan gas
yang bercahaya dalam suatu kumpulan sangat luas.
Nebula banyak diyakini oleh para ahli sebagai suatu
materi cikal bakal terbentuknya suatu sistem bintang,
seperti sistem bintang matahari atau biasa disebut
tata surya. Nebula yang terkenal, antara lain Nebula
Orion M42 di rasi Orion dan Nebula Trifid di rasi
Sagitarius.
Gambar 5. Nebula
(Sumber: Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 1, halaman
.179)
21
5. Rasi Bintang
Kelompok bintang-bintang yang membentuk pola
tertentu dan letaknya berdekatan disebut Rasi
Bintang atau Konstelasi Bintang. Contohnya Rasi
Bintang Pari (Crux) merupakan kumpulan dari empat
bintang yang letaknya berdekatan, yakni Bintang
Alfa, Beta, Gamma, dan Delta. Selain Rasi Bintang
Pari, nama-nama rasi bintang lainnya antara lain Rasi
Bintang Orion, Centauri, Ursa Mayor, Lyra, dan
Aquilla.
Di sekitar Ekliptika yang seolah-olah melingkari
bola langit terdapat 12 rasi bintang yang disebut
Zodiak. 12 Rasi bintang yang ada di sekitar ekliptika
adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo,
Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius,
dan Pisces
6. Bintang (The star)
Bintang adalah benda angkasa berbentuk bulat
yang mempunyai cahaya sendiri. Salah satu bintang
yang paling kita kenal adalah bintang Matahari (The
22
Sun Star), nama-nama bintang lainnya yaitu Polaris,
Antares, Aldebaran, Sirius, Spica, Betelguese, Hidra,
Pegasus, Phoenix, Carina, dan lain-lain.
Derajat
terang atau
tingkat
kecemerlangan
bintang disebut magnitudo. Magnitudo Bintang
dihitung mulai dari 1 sampai 6. Bintang yang
magnitudonya 1 lebih terang 2,5 kali daripada
bintang yang bermagnitudo 2, dan seterusnya.
Bintang pada tingkat kecemerlangan lebih terang
daripada bintang bermagnitudo 1 diberi tanda –
(minus). Matahari sebagai salah satu bintang
mempunyai magnitudo sekitar – 26,8, artinya
matahari merupakan bintang yang sangat cemerlang
bila dilihat dari bumi. Hal ini dikarenakan letaknya
paling dekat dengan bumi, sedangkan bintang yang
sangat jauh dan hampir tidak terlihat oleh mata
disebut bintang bermagnitudo 6.
23
C. Penciptaan Alam Semesta Menurut Alquran
1. Hakikat alam semesta
Tafakur terhadap alam semesta merupakan salah
satu cara mengenal Allah SWT. Manusia dengan
menggunakan akal dan pikirannya dalam mengamati
alam
semesta
dan
segala
fenomenanya
akan
mengetahui kebesaran Allah sang pencipta, dimana
alam semesta dan segala fenomenanya merupakan
tanda (ayat) kebesaran Allah.
Ayat-ayat yang menguraikan alam semesta
dengan segala fenomenanya tersebut paling tidak
berjumlah 750 ayat, yang tersebar dalam berbagai
surat. Keseluruhan ayat-ayat tersebut menjelaskan
antara lain
tentang
kejadian
alam,
berbagai
fenomena jagat raya, tujuan penciptaan alam dan
keterkaitan manusia dengan alam itu sendiri (Nata,
2008).
Kejadian alam di dalam alquran tidak terlalu
banyak dijelaskan, terdapat dua pandangan yang
menjelaskan hal tersebut. Pertama, alam dengan
24
segala isinya dan segala hukum yang mengaturnya
secara serasi terjadi dengan sendirinya, tanpa adanya
suatu pencipta dan terjadi secara kebetulan. Kedua,
alam dengan segala isinya yang teratur, terorganisasi
secara
sistematis
dan
segala
hukum
yang
mengaturnya ada yang menciptakan.
Nata (2008) menjelaskan para teolog dalam
memandang kejadian alam berbeda pandangan,
perbedaan
pandangan
ini
didasarkan
dalam
mendefinisikan kata qodim (eksis sejak semula),
sebagai lawan kata hadis (baru). Pandangan pertama
mengatakan bahwa alam ini diciptakan dari tiada,
sang
pencipta
dalam
menciptakan
alam
ini
memulainya dari nol, tanpa diawali oleh sesuatu atau
materi. Pandangan ini didasarkan pada kata qadim
yang didefinisikan sebagai la qadima illa Allah tidak
ada yang eksis sejak semula selain Allah, segala
sesuatu bersifat baru kecuali Allah.
Pandangan kedua, menyatakan alam diciptakan
sang pencipta bukan dari tiada, melainkan diawali
oleh suatu materi. Pandangan kedua mendefinisikan
25
qadim sebagai ma huwa fi hudutsin da‟im (sesuatu
yang
terjadi
secara
terus
menerus;
berkesinambungan), alam semesta diciptakan Allah
dari sesuatu yang telah ada, dari al-maddah al-ula
(materi pertama). Pandangan ini sejalan dengan
pemikiran
filosof
yang
menyatakan
bahwa
penciptaan alam ini dimulai dari sesuatu (al-ijad min
syay‟).
Istilah alam dalam alquran terdapat dua yaitu
pertama kata alam itu sendiri yang berasal dari
bahasa arab. Kata „alam dalam alquran berbentuk
jamak yaitu „alamin yang disebutkan sebanyak 73
kali dalam ayat-ayat yang tersebar dalam 30 surat.
Kata „alamin dalam alquran dimaksudkan sebagai
kumpulan yang sejenis dari makhluk yang berakal
atau yang memiliki sifat-sifat yang mendekati
mahkluk yang berakal (Nata, 2008). Hal ini berarti
kurang tepat jika mengartikan „alamin sebagai
alam semesta.
Menurut Nata (2008) istilah kedua tentang alam
semesta dalam alquran yaitu al-samāwāt wa al26
ardh wa ma baynahuma yang artinya langit dan
bumi
beserta
segala isi
yang terkandung di
dalamnya, baik bersifat materi maupun non materi
serta baik fisik maupun non fisik. Kalimat alsamāwāt wa al-ardh wa ma baynahuma disebutkan
sebanyak 20 kali yang tersebar dalam 15 surat. Alam
semesta sebagai ciptaan Allah dan tunduk kepada
hukum-hukum alamiahnya yang ditentukan Allah,
terlihat begitu rapi, teratur dan harmonis membentuk
satu ekosistem yang jika kesatuan ekosistemnya ini
terganggu, akan membawa malapetaka bagi segala
isinya. Sekalipun keteraturan dan keharmonisan alam
dengan segala fenomenanya membuat manusia
terkagum-kagum, serta banyak hal yang belum dapat
mereka
ketahui,
hendaknya
manusia
tidak
menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sakral.
Sebaliknya,
manusia
harus
meyakini bahwa
ketidaktahuannya pada sebagian fenomena alam
tersebut, adalah menunjukkan ke Maha Kuasaan dan
ke Maha Perkasaan Allah terhadap ciptaan-Nya.
27
Alam menurut segi bahasa adalah segala hal yang
ada di langit dan di bumi. Ilmuwan menyatakan
bahwa alam semesta adalah kosmos yakni ruang
angkasa serta semua benda langit yang terdapat di
dalamnya. Menurut
definisi
„ālam/alam adalah segala sesuatu
ilmu
agama
selain Allah.
Alam bukan saja benda-benda angkasa, atau bumi
dengan segala isinya, tetapi juga
yang terdapat
antara keduanya, bahkan semua yang maujud, baik
yang telah diketahui manusia maupun yang belum
mereka ketahui. Kata „ālam/alam seakar dengan
kata
„alāmah/alamat
artinya sesuatu
yang
menjelaskan sesuatu selainnya. Alam semesta adalah
alamat yang sangat jelas menunjuk Allah, Pencipta
yang Maha Esa, Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui
(Shihab, 2005).
2. Penciptaan Alam Semesta
Ayat alquran yang membahas tentang hidup dan
kehidupan termasuk alam raya dengan segala
fenomenanya kurang lebih berjumlah 750 ayat. Ayatayat alquran yang membahas tentang kejadian
28
penciptaan alam semesta amatlah sedikit. Jika
ditelusuri secara cermat ayat-ayat alquran yang
membahas penciptaan alam, terdapat tiga kata kunci
yang
artinya
menunjukkan
secara
langsung
penciptaan alam semesta, yaitu khalq, bad‟, fathr
(Nata, 2008).
Kata khalq dalam berbagai bentuknya terdapat
dalam alquran sebanyak 261 kali yang tersebar
dalam 75 surat. Sebelas kali diantaranya tersebar
dalam tujuh surat ditujukan kepada pengertian yang
bukan berarti penciptaan. Al-Raghib al-Ashfahaniy
dalam Nata (2008) menjelaskan kata khalq yang
menggambarkan penciptaan langit dan bumi dengan
segala isinya, memiliki dua makna yang pertama
berarti menciptakan sesuatu tanpa bahan/materi (alAn‟ām/6: 1,73; al-A‟rāf/7: 54; Hūd/: 7; alImrān/3: 47). Kedua makna khalq yang berarti
menciptakan
sesuatu setelah sebelumnya ada
bahan/materinya (al-Mu‟minun/23: 12-16).
Kata kunci kedua
yang berkaitan dengan
penciptaan alam semesta secara langsung, di dalam
29
alquran
dijumpai
kata
bad‟ berarti
Allah
menciptakan sesuatu tanpa alat, materi, waktu dan
tempat.
Kata badīu dalam alquran yang berarti
mubdi‟ merupakan suatu ciptaan baru yang belum
ada sebelumnya dan juga dari bahan yang belum ada.
Penciptaan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh
Allah, sehingga kata ini menjadi salah satu nama
dan sifat khusus bagi-Nya. Kata bad‟ dalam
alquran dengan derivasinya disebutkan sebanyak
empat kali dalam empat surat (Nata, 2008).
Menurut Nata (2008) kata kunci ketiga yang
mengandung pengertian penciptaan alam semesta, di
dalam alquran dipergunakan kata fathr. Kata fathr
dengan segala derivasinya terulang dalam alquran
sebanyak 20 kali yang tersebar dalam 17 surat,
sebanyak 14 kali diantaranya mengandung arti
penciptaan. Kata fathr dalam alquran mengandung
pengertian penciptaan dari tiada (Ijad wa Ibda).
Perbedaan kata fathr dengan badi‟ hanya terletak
pada
penekanannya.
Kata
fathr
penekanannya
penciptaan sesuatu dari permulaan sedangkan badi‟
30
titik tekannya pada tiada contoh sebelumnya, dalam
arti pertama kali atau hal yang baru sama sekali.
Tiga kata kunci yang artinya penciptaan alam
semesta, yaitu khalq, bad‟, fathr ditujukan kepada
Allah, hal ini berarti Allah dengan segala kekuasaanNya, ke maha Agungan-Nya menciptakan alam
semesta dengan sesuatu kemampuan yang sama
sekali tidak dimiliki manusia dan itu diciptakan dari
sesuatu yang beluk ada sebelumnya, khalq almuthlaq serta menunjukkan bahwa Allah lah satusatunya pemilik muthlaq dari alam semesta ini,
sekaligus sebagai penguasa tunggal.
Allah adalah realitas tertinggi yang menjadi
sebab
adanya
al- makhlūq (alam semesta dan
manusia). Relasi Allah dengan makhluk-Nya tentu
bukan
relasi
relasi
aktif
pasif.
Relasi
itu
mencerminkan
dan fungsional dimana Allah
beraktivitas di dalam alam semesta. Meskipun Allah
tidak terjangkau oleh makhluk, namun sifat-sifatNya mengejawantah dalam seluruh hukum-Nya di
dalam alam semesta. Kekuasaan
31
Allah
atas
makhluk-Nya bukan sekedar bersifat potensial,
tetapi bersifat aktual (Abdullah, 2010).
Ayat-ayat
tentang
alam
semesta
tidak
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan akan
berbagai informasi ilmiah. Allah menginginkan
proses pencarian pengetahuan dilakukan melalui
pengamatan, penelitian deduktif dan
eksperimen
yang dapat dilakukan sepanjang zaman-karena
keterbatasan indra manusia dan karakter dasar ilmu
pengetahuan
yang bersifat akumulatif. Meskipun
begitu, ayat-ayat alquran tentunya mengandung
berbagai fakta ilmiah tentang alam semesta yang
tidak bisa diperdebatkan karena merupakan wahyu
dari Sang Pencipta, pemilik kebenaran mutlak.
Alquran
bagaimana
dalam
proses
enam
ayat
penciptaan
menjelaskan
alam
semesta,
penghancurannya dan pengembaliannya ke bentuk
semula secara sempurna, indah, teliti, harmonis dan
mengagumkan.
Ayat-ayat
(Thayyarah, 2013):
32
tersebut
meliputi
a. Lalu,
Aku
bersumpah
dengan
tempat
beredarnya bintang-bintang.
b. Dan, sesungguhnya itu benar-benar sumpah
yang
besar
sekiranya kamu mengetahui (al-
Waqi‟ah/56: 75-76).Dan, langit kami bangun
dengan kekuasaan (Kami) dan Kami benar- benar
meluaskannya (adz-Dzariyat/51: 47).
c. Dan, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui
bahwa langit dan bumi dahulunya menyatu,
kemudian
Kami
pisahkan
keduanya…
(al-
Anbiya‟/21: 30).
d. Kemudian, Dia menuju ke langit dan (langit) itu
masih berupa asap (Fushshilat/41: 11).
e. (Ingatlah) pada hari ketika langit Kami gulung
seperti menggulung lembaran-lembaran kertas.
Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama, begitulah Kami akan mengulanginya
lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati.
Sungguh Kami akan melaksanakannya (alAnbiya‟/21: 104).
33
f. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan
bumi yang lain dan (demikian pula) langit
(Ibrahim/14: 48).
Sumpah Allah seperti yang tertera dalam surat alWaqi‟ah/56: 75-76 merupakan
perhatian
bentuk
orang-orang islam
penarik
khususnya dan
manusia secara umum terhadap isi sumpah. Mengapa
Allah bersumpah atas nama orbit bintang-bintang?
Karena manusia dari permukaan bumi tidak mungkin
bisa melihat bintang-bintang secara langsung, tetapi
mereka hanya dapat melihat orbit yang telah dilalui
bintang-bintang itu. Sumpah yang menakjubkan ini
memberikan
perhatian
kepada
ruang.
Sebab,
pemantauan orbit bintang-bintang merupakan titik
tolak pengetahuan manusia mengenai cara Allah
menciptakan alam semesta. Ketika para ilmuwan
mengamati bintang-bintang,
mulai mempelajari
orbit-orbitnya, dan menentukan sifat fisik dan
kimiawinya,
semesta
mereka
yang
menemukan
melingkupi
kita
bahwa
ini
senantiasa
mengembang dan meluas (Thayyarah, 2013).
34
alam
Menurut Thayyarah (2013) bentuk ismi fa‟il
dengan makna mashdar pada kata lamūsi‟ūn (kami
benar-benar
meluaskannya)
pada
surat
adz-
Dzariyat/51: 47 menunjukkan makna perluasan alam
secara terus menerus sejak ia diciptakan hingga pada
suatu saat nanti sesuai kehendak Allah. Jika kita
kembali ke masa lalu bersama proses perluasan itu,
tentunya kita akan menemukan materi alam yang
masih berbentuk satu benda padat. Benda padat itu
memiliki intensitas energi sangat tinggi, di mana
semua hukum fisika terkumpul di dalamnya dan
menjadikannya dalam kondisi yang sangat kritis.
Kemudian benda padat itu meledak atas perintah
Allah dan berubah menjadi gumpalan asap. Dari
gumpalan asap inilah Allah menciptakan bumi dan
benda-benda angkasa lainnya.
Kita akan menemukan materi yang pertama jika
melihat asal muasalnya pada masa lalu, dimana alam
terus mengembang. Materi itu memiliki intensitas
energi yang sangat tinggi, sehingga membuatnya
kritis. Materi itu kemudian meledak dan berubah
35
menjadi gumpalan. Allah menciptakan pusaran yang
mengumpulkan sejumlah materi dan energi di
sekeliling pusat gravitasi dari gumpalan asap
tersebut.
Kumpulan
berakumulasi
dalam
materi
dirinya
dan
energi
hingga
itu
dengan
kekuasaan-Nya terbentuk menjadi beberapa benda
angkasa yang beraneka rupa.
Menurut Purwanto (2012) dalam menafsirkan
surat adz-Dzariyat/51: 47
dengan
jamak
taksir
menjelaskan
samā‟un
samawātun-samāwātun
(langit). Banā-yabnί-binā‟an-bunyānan (membina,
membangun, mendirikan). Aidί jamak taksir dari
yadun (tangan). Mūsiūn isim wazan dari wasi‟ayasi‟u-si‟atan (lapang, luas). Ayat ini sangat
menarik dan menggelitik serta perlu digali lebih
lanjut, hal ini disebabkan oleh dua hal yaitu: alsamā‟a (langit) dalam bentuk tunggal, bukan dalam
bentuk jamak al-samawāt, dan aidin (tangan) dalam
bentuk jamak, bukan tunggal atau dua. Akan tetapi,
dalam konteks ini hanya digunakan untuk membantu
memahami sifat jagat raya yang diwakili oleh
36
sifat
meluasnya
mengingatkan
langit. Langit
pada
temuan
yang
meluas
pergeseran
merah
(redshift) dari cahaya yang dipancarkan galaksigalaksi, dimana galaksi saling menjauh. Di ruang
angkasa, bintang-bintang maupun galaksi- galaksi
tampak
menempel
pada
permukaan
langit.
Dengan demikian, langit meluas meski mata kita
tidak mampu menangkap dan membedakannya.
Apa maksud langit dibangun dengan kekuatan?
Kekuatan apa? Apa maksud langit diluaskan? Sedang
diluaskan? Apa indikasinya? Jika sedang diluaskan
kapan mengerutnya? Jagat raya dengan berbagai
kandungan di dalamnya serta aneka peristiwa yang
berlangsung menimbulkan aneka pertanyaan, tetapi
secara
umum
dikelompokkan
menjadi
tiga
pertanyaan utama. Pertama, tersusun dari unsur
fundamental apakah tubuh alam semesta ini? Kedua,
sesungguhnya apa itu perubahan atau apa yang
dimaksud
perubahan
itu?
Ketiga,
bagaimana
perubahan tersebut terjadi?. Pertama, di alam
semesta ini hanya ada tiga realitas yaitu materi,
37
ruang dan waktu. Materi tersusun dari atom yang
terikat untuk selamanya, sedangkan ruang dan waktu
adalah absolut. Artinya, ruang dan waktu akan selalu
ada bahkan jika materi di alam semesta ini musnah.
Kedua, perubahan
tidak
lebih
dari
sekedar
perpisahan, penggabungan dan pergerakan dengan
berbagai variasinya dari partikel yang tetap tadi.
Ketiga, perubahan dalam ruang dan waktu itu
terlaksana dan diatur oleh hukum-hukum fisika
(Purwanto, 2008).
Apakah alam semesta tak terbatas? Atau ia berbatas
dan dalam keadaan tetap? Dari dulu sekali, ini
sudah
menjadi
perdebatan
para pemikir besar.
Sebagian pemikir besar berpendapat bahwa alam
semesta bukanlah ruang berbatas, sementara yang
lain menyatakan bahwa batas- batasnya sudah ada.
Alquran menggambarkannya sebagai jagat raya yang
terus mengembang dan dinamis. Menurut gambaran
alquran, alam semesta setiap saat mempunyai aspek
baru yang menyimpang dari konsep ruang tak
terbatas; pengembangannya
38
yang terus-menerus
menolak konsep jagat raya berbatas dan keadaan
tetap. Jadi, alquran mengajukan alternatif ketiga,
menghentikan
kontroversi
panas
para
pemikir
(Taslaman, 2010).
Alquran menggambarkan sejumlah fakta yang
telah
dibuktikan
diantaranya
dengan
tentang
sains
adanya
dan
teknologi
ledakan
yang
memisahkan langit dan bumi, adanya perluasan alam
semesta, stabilitas suhu panas dan gambar asap
semesta yang terdapat di ujung-ujung semesta,
serta distribusi unsur-unsur di permukaan semesta
sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Anbiya‟/21:
30 yang artinya “Dan, apakah orang-orang kafir
tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulunya
menyatu, kemudian Kami pisahkan keduanya dan
Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari
air, maka mengapa mereka tidak beriman? (alAnbiya‟/21: 30).
Kata ratqun (menyatu) dalam ayat di atas secara
bahasa adalah antonym dari kata fatqun (berpisah).
Ratqun berarti berkumpul dan berakumulasi. Ini
39
adalah gambaran yang sangat teliti atas kondisi alam
sewaktu masih berbentuk materi pertama, sebelum
terjadi ledakan besar. Alam dalam kondisi ini dapat
dikategorikan berada pada periode masih bersatu.
Adapun kata fatqun berarti ledakan, persebaran, dan
perpisahan. Alam setelah materi pertama meledak
hingga mengalami perluasan dikatakan berada pada
periode pemisahan. Alquan sebagai pelopor teori
ledakan besar dan memberikan fondasi yang kokoh
bagi teori big bang sebagai suatu fakta karena adanya
petunjuk di dalam alquran. Atas dasar ini,
semesta pada mulanya adalah sebuah
padat
alam
materi
(periode masih bersatu) lalu materi itu
meledak (periode pemisahan) dan kemudian berubah
menjadi gumpalan asap/periode asap (Thayyarah,
2013).
Menurut Taslaman (2010) al-Anbiya‟/21: 30
memperingatkan orang kafir karena mengabaikan
mukzijat yang sudah nyata. Hujah pokok kalangan
ateis adalah bahwa materi tidak memiliki awalan dan
bahwa materilah
yang
40
menciptakan
semuanya,
baik makhluk hidup maupun benda mati, secara
kebetulan. Teori big bang berlawanan dengan
pernyataan mendasar ateis karena teori tersebut
menganggap bahwa alam semesta dan waktu
memiliki awalan. “Dan apakah orang-orang kafir
tidak
mengetahui
eksplisit.
Secara
….?
tersirat
Merupakan
dalam
pernyataan
ayat
tersebut
menunjukkan fakta bahwa langit dan bumi dalam
keadaan bersatu sebelum keduanya dipisahkan,
adalah sesuatu yang rasional dan diterima akal
pikiran. Kalimat penutup dari ayat ini, “maka
mengapakah mereka juga tidak beriman? Sangat
jelas, sejarah menguatkan kebenaran ini dan orangorang kafir tetap menyangkal walau bukti telah
ditunjukkan.
Meskipun
demikian,
argumen
ayat
ini,
menentang dalil kaum kafir tentang materi yang
kekal dan memaksa mereka untuk beriman. Einstein
mengatakan bahwa apa yang membuatnya lebih
takjub adalah kemenyeluruhan
tentang
alam
semesta,
41
temuan-temuannya
daripada temuan itu
sendiri. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya
menekankan kenyataan bahwa fenomena ini pada
kenyataannya berada di dalam cakupan kapasitas
mental manusia (Taslaman, 2006).
Para ilmuwan empiris menyatakan alam berubah
menjadi gumpalan debu dan alquran telah sejak
dahulu
menunjukkan
mendasari
mengenai
formasi
alam
proses
semesta
yang
yang
menghasilkan komposisi planet yang terhampar di
jagat raya ini dalam firman berikut:
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu
masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya
dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya
menurut
perintah-Ku
dengan
suka
hati
atau
terpakasa. “keduanya menjawab: “ Kami datang
dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh
langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada
tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit
yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang
dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.
42
Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi
Maha Mengetahui. (Fushshilat/41: 11-12)
Alquran tidak mengajukan metode atau teknik
baru dalam masalah ini. Ia justru menunjukkan
adanya eksistensi sesuatu yang ada di balik alam
semesta dengan menunjukkan kehidupan yang
terjadi
di
alam semesta
menggunakan
adanya
argumentasi
kehidupan
menggunakan
itu
di
pemikiran
sendiri.
Alquran
untuk membuktikan
balik
materi
yang
telah
dengan
diperoleh
manusia melalui pengalamannya dalam mempelajari
alam semesta. Alquran mengajak manusia untuk
mengenal Allah beserta kemahasempurnaan-Nya
melalui kesempurnaan dan keutamaan hukumhukum-Nya serta manifestasi-Nya seperti yang
terlihat dalam dunia materi. (Rahman, 2007).
Alquran menegaskan bahwa ledakan besar
mengubah
alam berbentuk gumpalan asap. Lalu,
dari asap itulah Allah menciptakan semua bendabenda
angkasa.
memenuhi
Asap
ruang-ruang
43
yang
di
tersisa
antara
kemudian
benda-benda
angkasa. Asap tersebut pernah diambil gambarnya di
beberapa sisi jagat raya yang sudah terpantau.
Bahkan, akhir-akhir ini, kita melihat bintang-bintang
baru yang tercipta dari asap tersebut. Bintangbintang itu terletak di dalam kabut (nebula), persis
seperti pada masa awal penciptaan.
Menurut
Thayyarah
(2013)
para
ilmuwan
empiris menyatakan bahwa proses pengembangan
alam semesta tidak mungkin akan berlangsung terus
tiada henti. Pasalnya, proses itu adalah akibat dari
ledakan pertama. Bilamana pengembangan alam
pada saat sekarang mulai melambat dibandingkan
dengan masa awal-awal, akan datang suatu masa
dimana
gravitasi)
kekuatan
dan
pendorong
ledakan
(kontra-
kekuatan gravitasi menjadi
berimbang. Kemudian, bilamana kekuatan kontragravitasi melemah, kekuatan gravitasi akan mulai
menyatukan alam semesta sekali lagi menjadi satu
benda angkasa, persis seperti benda angkasa pertama
pada masa awal penciptaan. Teori ini oleh para
ilmuwan kontemporer dinamakan Teori Runtuhan
44
Besar atau The Big Crunch Theory. Al-Quran
mendahului sains sejauh 1.400 tahun mengenai
prediksi ilmiah ini. Allah telah berfirman, “Ingatlah
pada hari ketika langit Kami gulung
seperti
menggulung
kertas.
lembaran-lembaran
Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama, begitulah Kami mengulanginya lagi (Suatu)
janji yang pasti Kami tepati. Sungguh, Kami akan
melaksanakannya.” (Al-Anbiya‟: 104).
Semua ayat yang telah dijelaskan di atas ini
menunjukkan sejumlah fakta tentang alam semesta
yang harmonis dan teratur diantaranya (El- Naggar,
2010):
a. Terjadinya
proses
perluasan
alam
semesta
sejak pertama kali diciptakannya hingga waktu
yang telah ditentukan oleh Allah.
b. Permulaan diciptakannya alam semesta dari
planet primitif, yaitu periode penyatuan.
c. Pemiasahan planet primitif alam semesta, atau
proses terjadinya ledakan besar, yaitu periode
pemisahannya.
45
d. Berubahnya
materi
pada
planet
primitif
alam semesta ketika dipisahkan menjadi asap,
yaitu periode asap.
e. Diciptakannya bumi dan langit dari asap yaitu
periode pembentukan bumi dan langit.
f. Kepastian kembalinya alam semesta menjadi
planet primitif seperti semula yang darinya
dimulai penciptaannya, yaitu periode panyatuan
keduanya atau digulungnya alam semesta.
g. Kepastian terpisahnya benda kedua ini, atau
ledakannya yang besar, yaitu periode pemisahan
kedua.
h. Kepastian
setelah
berubahnya
penyatuan
kedua
dipisahkannya menjadi gumpalan asap
alam semesta.
i. Diciptakannya bumi kembali selain bumi yang
kita huni sekarang dan langut yang juga bukan
langit tempat kita berteduh sekarang, serta
permulaan perjalanan akhirat.
Semua hakikat alam semesta ini tidak sedikit pun
diketahui oleh manusia, kecuali pada abad ke dua
46
puluh, ketika ilmu modern pada sepertiga pertama
pada abad itu sampai kepada pembuktian bahwa
alam semesta mengalami perluasan. Kemudian
dengan hasil penelitian ini mereka terdorong
mencapai kesimpulan logis bahwa kita kembali
dengan perluasan ini ke belakang bersama waktu,
maka semua bentuk materi dan energi yang tersebar
di alam semesta akan bertemu, sebagaimana ruang
dan waktu juga akan menyatu, dan semua yang
berada di alam semesta berada pada satu titik yang
hampir mendekati nol, atau ketiadaan seperti bentuk
planet primitif sangat kecil, sebagaimana sudah
dipastikan bahwa bentuknya sangat padat dan sangat
panas, sehingga tidak dapat digambarkan oleh akal
manusia, lalu mengalami ledakan, yaitu mengalami
periode pemisahan.
Penciptaan alam dan struktur yang ada pada
seluruh bagian dari jagat raya ini dilaksanakan
dengan perencanaan yang sangat matang. Allah
mengisyaratkan bahwa alam semesta diciptakan
dalam suatu struktur yang sangat harmonis dan
47
selaras. Keterangan yang menjelaskan mengenai hal
tersebut dapat ditemukan dalam banyak ayat di
alquran, di antaranya Surah ar-Ra`d/13: 2:
Allah yang meninggikan langit tanpa tiang
(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas `Arsy. Dia menundukkan
matahari dan bulan; masing-masing beredar
menurut waktu yang telah ditentukan. Dia
mengatur
urusan
(makhluk-Nya),
dan
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar
kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu
(ar-Ra`d/13: 2).
Allah menjelaskan penciptaan sesuatu secara
terstruktur dengan baik. Rincian yang diuraikan
dalam penciptaan adalah dengan menerangkan halhal apa saja yang merupakan kelanjutan dari
penciptaan yang
disebut.
Artinya,
penciptaan
sesuatu akan dilanjutkan dengan penciptaan bendabenda yang terkait dengan benda tersebut.
48
Kata ’Amad bermakna tiang, untuk menyangga
benda-benda yang terbentang di atasnya. Semua
benda yang dibentangkan di atas tanah pasti
memerlukan tiang sebagai penyangga. Konstruksi
langit tanpa tiang hanya mungkin apabila langit itu
berbentuk bola. Dari penemuan ilmiah diungkapkan
bahwa alam semesta merupakan sesuatu yang
bentuknya seperti
menerangkan
sebuah
bagaimana
bola
besar.
Allah
langit ditinggikan tanpa
tiang seperti yang terlihat. Andai saja benda sebesar
dan seluas langit ini mesti memerlukan tiang untuk
menyangganya,
semrawutnya
dapat
alam
dibayangkan
semesta.
Namun
betapa
dengan
kekuasan- Nya, alam semesta dicipta menyerupai
bentuk sebuah bola besar, yang dindingnya menyatu
dengan tiang yang saling bertemu antara dasar,
dinding, dan atap atau langitnya (Lajnah, 2010).
Allah menciptakan benda-benda langit dan
menjelaskan bagaimana menundukkan matahari dan
bulan, dalam arti menetapkan keadaannya yang
meliputi fungsi, gerak rotasi dan revolusinya
49
yang terus berlaku sesuai dengan ketetapan waktu
yang telah ditentukan. Matahari dan bulan selalu
berada
sesuai
dengan
ketetapan
yang
telah
ditentukan. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam
Surah az-Zumar/39: 5, yang berbunyi sebagai
berikut:
Dia menciptakan langit dan bumi dengan
(tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam
atas siang dan memasukkan siang atas malam
dan menundukkan matahari dan bulan, masingmasing berjalan menurut waktu yang ditentukan.
Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha
Pengampun. (az-Zumar/39: 5)
Allah
menjelaskan
keadaan
matahari
yang
bersinar dan bagaimana sinar ini memberikan
pengaruh pada alam raya, yaitu dengan terjadinya
malam dan siang. Fenomena ini merupakan akibat
logis dari pergerakan benda-benda angkasa pada
porosnya.
Seperti
menyebabkan
bumi
yang juga berotasi,
sebagian wilayahnya menghadap
matahari dan mendapat sinar sehingga menjadi
50
terang
dan
sebagian
lainnya
membelakangi
matahari sehingga menjadi gelap. Inilah penyebab
munculnya malam dan siang, sebagaimana yang
dijelaskan Allah pada Surah Ibrahim/14: 33:
Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan
bagimu yang terus- menerus beredar (dalam
orbitnya); dan telah menundukkan malam dan
siang bagimu. (Ibrahim/14: 33)
Allah menjelaskan bahwa pada hakikatnya
matahari yang memiliki cahaya, sedangkan bulan
tidak.
Karena
itu,
bulan
tidak
dapat
memancarkan sinar setiap saat, sebab benda ini
hanya memantulkan sinar matahari. Allah juga
menerangkan bagaimana bulan bergerak pada posisiposisi tertentu, yang ternyata hal itu merupakan
pertanda dari perjalanan waktu. Sehubungan dengan
struktur seperti ini, Allah menginformasikan dalam
Surah Yunus/10: 5:
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan
bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan
51
tujuh langit: tempat-tempat orbitnya, agar kamu
mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan
(waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu
melainkan dengan benar. Dia menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orangorang yang mengetahui. (Yunus/10: 5)
Setelah menjelaskan proses penciptaan bumi
yang dihamparkan bagi makhluk-Nya dan langit
yang
di
atas
sebagai
atap,
Allah
kemudian
menjelaskan penciptaan hujan yang diturunkan dari
langit dan manfaatnya; yaitu, untuk menyuburkan
bumi sehingga bagian ini dapat menumbuhkan
tanaman dan buah-buahan yang bermanfaat sebagai
makanan bagi semua yang hidup di atasnya. Struktur
demikian merupakan grand design dari perencanaan
yang
ditetapkan
Allah.
Isyarat
dari
struktur
penciptaan yang demikian dapat ditemukan pada
Surah al-Baqarah/2: 22 berikut:
(Dialah)
yang
menjadikan
bumi
sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan
Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit,
52
lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buahbuahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu
janganlah
kamu
mengadakan
tandingan-
tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
(al-Baqarah/2: 22).
Demikianlah perencanaan matang dari struktur
alam raya ini. Semua ditetapkan dalam grand design
yang
terarah
dengan
kesempurnaan
yang
mengagumkan. Yang dapat menciptakan hal seperti
ini hanyalah Allah Yang Maha Kuasa, yang tidak
ada satu makhluk pun yang dapat menyamai-Nya
(Lajnah, 2010).
3. Hakikat Tujuh Langit
Tujuh langit yang diciptakan Allah dalam dua
masa (lihat Surah Fussilat/41: 12) merupakan sesuatu
yang belum jelas hakikatnya bagi sebagian besar
masyarakat. Beragam penjelasan yang dikemukakan
para mufasir ketika mereka menguraikan maknanya,
masing-masing menerangkan artinya sesuai dengan
53
pengetahuan dan keyakinannya. Misalnya saja alMaragi,
dalam
karyanya
Tafsirul-Maragi,
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh
langit itu adalah tujuh planet dalam tata surya kita,
selain bumi dan bulan. Sedangkan Hamka, dalam
Tafsir Al- Azhar, berpendapat bahwa yang dimaksud
dengan tujuh adalah untuk menunjukkan adanya
benda-benda langit yang sangat banyak jumlahnya.
Dengan
demikian,
tujuh
itu
bukan
untuk
menunjukkan bilangan enam tambah satu, tetapi
untuk menunjukkan sesuatu yang sangat banyak
(Lajnah, 2010).
Alquran telah menjelaskan bagaimana fenomena
penciptaan langit tujuh diciptakan oleh Allah. Salah
satu ayat yang menjelaskan fenomena tersebut
terdapat pada Surah al-Mulk/67: 3, yaitu:
Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah
kamu lihat sesuatu yang cacat? (al-Mulk/67: 3)
54
Tibaq merupakan ism masdar dari tabaqa yang
artinya tingkatan atau lapisan. Jika disebut tabaqatussamawat berarti tingkatan benda-- benda alam yang
terdapat di ruang angkasa yang luas. Jika disebut
tabaqatul-ardi, artinya lapisan bumi yang terdiri
dari beragam unsur, seperti humus, tanah, pasir,
batu, dan lainnya. Tabaqah diartikan dengan
tingkatan jika berkenaan dengan benda-benda alam
yang satu berada di atas yang lain seperti langit, dan
diartikan sebagai lapisan bila berkaitan dengan
sesuatu yang keberadaannya berdempet atau melekat
tanpa jarak, seperti keadaan struktur bumi (tanah),
sehingga frase pabaqatul-arci artinya lapisan burni,
dan bukan tingkatan bumi. Tibaq dalam ayat ini
merupakan hal (penjelas keadaan) yang disebut
untuk menyatakan keadaan benda-benda di alam raya
yang jumlahnya sangat banyak. Makna yang lebih
sesuai dari kata tersebut pada ayat ini adalah bahwa
Tuhan telah menciptakan benda-benda di alam raya
yang jumlahnya tidak sedikit "dalarn keadaan
bertingkat-tingkat", dalam arti yang satu lebih jauh
55
dari lainnya, karena yang satu berada lebih atas dari
yang lainnya (Lajnah, 2010).
Allah
menciptakan
bertingkat-tingkat.
tujuh
langit
secara
setiap benda alam itu seakan
terapung kokoh di tengah-tengah jagat raya, tanpa
ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali
yang mengikatnya. Langit yang terlihat di alam ini
terwujud tanpa tiang yang menyangganya. Allah
menegaskan fenomena ini dalam Surah Luqman/31:
10, yang berbunyi:
Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana
kamu melihatnya. (Luqman/31: 10)
Menurut sebagian ahli tafsir, kata tujuh langit
diartikan sebagai galaksi-galaksi
ruang angkasa
yang terdapat di
yang jumlahnya sangat banyak.
Pendapat demikian didasarkan pada dua anggapan,
yaitu bahwa angka tujuh dalam bahasa Arab biasa
digunakan
untuk
menunjukkan
sesuatu
yang
jumlahnya banyak atau suatu jumlah enam ditambah
satu. Selain ini, ada pula pakar yang mengatakan
56
bahwa yang dimaksud dengan tujuh lapis langit itu
adalah tujuh bintang yang ada di sekitar matahari.
Namun
tidak
demikian,
mau
ada
pula
mufasir
yang
menjelaskan maknanya, dan hanya
menyerahkan kepada Allah, karena hal itu ada pada
pengetahuan-Nya dan belum diketahui dengan pasti
oleh manusia (Lajnah, 2010). Penciptaan tujuh langit
ini merupakan penyempurnaan dari benda di alam
raya
yang
telah
dicipta.
Ungkapan
tersebut
menunjukkan bahwa semua itu mesti terkait antara
yang satu dengan lainnya. Firman Allah yang
menunjukkan penyempurnaan ciptaan-Nya adalah
sebagai berikut:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang
ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh
langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.
(al- Baqarah/2: 29)
Penciptaan
tersusun
secara
tujuh
langit
ini
diisyaratkan
berlapis- lapis, sesuai dengan
ungkapan pada ayat ini, yaitu bertingkat-tingkat. Ini
57
menandakan bahwa tujuh langit yang dicipta
tidak bertumpuk, tetapi terdapat jarak antara yang
satu dengan lainnya. Selain itu, penciptaan yang
demikian juga menunjukkan betapa besar dan
hebatnya alam ini, serta langitnya yang begitu luas
dan bertingkat-tingkat. Sehubungan dengan hal ini,
layak pula diperhatikan informasi Al-Qur'an pada
Surah Nuh/71: 15: Tidakkah kamu memperhatikan
bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis?
Tibaq dalam ayat ini merupakan hal (penjelas
keadaan) yang dapat diartikan dalam beberapa
makna. Kata ini dapat disebut untuk menyatakan
keadaan benda-benda di alam raya yang jumlahnya
sangat banyak, dan dapat pula diartikan sebagai
keadaan benda-benda yang dicipta itu bertingkattingkat. Makna yang lebih sesuai dari kata tersebut
pada ayat ini adalah bahwa Tuhan telah menciptakan
benda-benda di alam raya yang jumlahnya
sedikit
"dalam
keadaan
tidak
bertingkat-tingkat".
Pengertiannya, yang satu lebih jauh dari lainnya,
58
karena yang satu berada lebih atas dari lainnya. Jadi,
benda-benda di alam raya ini atau langit yang berada
di atas kita, pada hakikatnya adalah yang satu lebih
jauh tingkat keberadaannya dari yang lain (Lajnah,
2010).
Selanjutnya,
Allah
memerintahkan
memandang
dan memperhatikan
dan
yang
apa
mempelajari
sifat
ada
dan
di
manusia
langit,
bumi,
atasnya,
serta
keadaannya.
Misalnya,
perhatikan matahari bersinar dan bulan bercahaya
apa manfaat sinar dan cahaya itu bagi kehidupan
seluruh makhluk. Perhatikan binatang ternak di
padang rumput, tumbuhan yang menghijau, gununggunung yang tinggi menjulang, laut yang terhampar
luas membiru, dan lain sebagainya. Semuanya
tumbuh dan berkembang sesuai dengan aturannya.
Apakah ada cacat atau cela pada makhluk ciptaan
Allah ini?. Allah mempertanyakan apakah masih
ada keraguan pada manusia setelah menyaksikan
semua itu. Apakah mereka masih ragu terhadap
sistem, hukum, dan peraturan yang telah ditetapkan
59
untuk makhluk-Nya? Mahabesar dan Maha Pencipta
Allah, Tuhan Pemelihara alam. Tidak ada suatu cacat
atau cela yang terdapat pada makhluk ciptaan-Nya.
Tujuh langit yang dicipta Allah merupakan
materi-materi yang ada di ruang angkasa. Semuanya
dicipta dalam kondisi yang kokoh dan tidak mudah
rusak. Informasi ini dapat ditemukan dalam Surah
an-Naba/78: 12:
Dan kami bina di atas kamu tujuh buah (langit)
yang kokoh. (an- Naba/78: 12).
Ayat ini menjelaskan tentang kekuasaan Allah
yang terkait dengan penciptaan tujuh langit yang
sangat kokoh. Langit merupakan sesuatu yang ada
di
atas
bumi.
Dalam
berbagai
ayat
telah
diinformasikan bahwa ketujuh langit itu dibangun
tanpa tiang. Namun demikian, dapat diketahui pula
bahwa bangunan
yang tanpa tiang itu
ternyata
sangat kokoh dan belum pernah ambruk selama ini.
Fenomena seperti ini karena setiap langit memiliki
fungsi dan keadaan yang berbeda dari langit
60
lainnya.
Maksudnya,
mempunyai
kegunaan
masing-masing
langit
yang
untuk
berbeda
kepentingan makhluk yang ada di bawahnya. Ada di
antaranya yang berfungsi untuk memperkuat gaya
tarik
bagi
planet-planet,
sehingga
langit
itu
terbentang di angkasa demikian kuat dan tidak
memerlukan tiang bagi keberadaannya. Selain itu,
gaya tarik dari langit itu juga menyebabkan stabilnya
benda-benda langit bergerak pada orbitnya, dan tidak
oleng atau menyimpang dari jalur yang mungkin
dapat menyebabkan tabrakan antara yang satu
dengan lainnya (Lajnah, 2010).
Menurut shihab (2005) dalam menafsirkan surah
al-Mulk/67: 3, Dialah
tujuh
langit
Yang
telah
menciptakan
berlapis-lapis
serasi
dan sangat
harmonis, engkau-siapapun engkau-kini dan masa
datang tidak melihat pada ciptaan ar-Rahman Tuhan
Yang maha rahmat-Nya mencakup seluruh wujudbaik pada ciptaan-Nya yang kecil maupun yang
besar-
sedikit
pun
ketidakseimbangan.
Maka
ulangilah pandangan yakni lihatlah sekali lagi dan
61
berulang-ulang kali disertai dengan upaya berpikir,
adakah
engkau
melihat
atau
menemukannya
padanya, jangan kan besar atau banyak, sedikitpun
keretakan sehingga menjadikannya tidak seimbang
dan rusak? Kemudian setelah sekian lama engkau
terus-menerus memandang dan memandang untuk
mencari
keretakan
dan
ketidakseimbangan,
kembalikanlah lagi pandangan-mu dua kali yakni
pandanglah dan carilah berkali-kali tanpa batas,niscaya akan kembali kepadamu pandanganmu itu
dalam keadaan kecewa, terdiam dan hina karena
tidak menemukan sesuatu cacat yang engkau
upayakan menemukannya dan ia yakin pandanganmu
itu menjadi lelah, tumpul kehilangan daya setelah
berulang-ulang kali membuka mata selebar-lebarnya
dan dengan menggunakan seluruh kemampuannya.
Dari pandangan alquran kita telah melihat bahwa
manusia mempunyai kemampuan untuk memahami
alam. Manusia melalui indra- indra eksternal dan
intelek seharusnya lebih dekat kepada Allah dengan
memahami tanda-tanda ilahi. Satu-satunya cara yang
62
terbuka
yang
dilakukan
setiap
orang
untuk
mendapatkan pengetahuan melalui pengamatan dan
perenungan. Alquran menyediakan rujukan dan
bukti- bukti ilahi dalam bentuk fisik, Allah selalu
memberikan kemampuan memahaminya kepada
manusia-manusia dari kelompok khusus. Beberapa
contoh, misalnya (Effendi, 2003):
a. Para perenung terdapat dalam Yunus/10: 10-11
dan al-Jātsiyah/45: 13.
b. Orang yang arif terdapat dalam al-Baqoroh/2:
164 dan an-Nahl/16: 12.
c. Orang-orang yang memahami (Ulil Albab)
terdapat
dalam
ali-Imran/3:
180
dan
az-
dalam
al-
Zumar/39: 21).
d. Orang-orang beriman terdapat
Jātsiyah/45: 3 dan an- Naml/27: 86.
e. Orang-orang yang bertaqwa terdapat dalam
Yunus/10: 6 dan al- Baqoroh/2: 63.
f. Orang yang berilmu („alim)
ar-Rum/30: 22 dan Yunus/10: 5.
63
terdapat dalam
g. Orang yang ingat/sadar terdapat dalam anNahl/16: 13 dan adz-Dzāriyat/51: 49.
h. Orang yang mendengarkan kebenaran fiman
Allah terdapat dalam ar- Rum/30: 23 dan anNahl/16: 65.
i. Orang-orang yang yakin terdapat dalam alJātsiyah/45: 4 dan adz-Dzāriyat/51: 20-21.
j. Orang-orang
memiliki
yang
wawasan
menguji
kebenaran,
dan memahami terdapat
dalam al-an‟ām/6: 98dan al-Hijr/15: 73-75.
Apa yang dipahami dari kata-kata tafakkur,
ta‟aqqul, tafaqguh yang digunakan dalam alquran
adalah merujuk pada tingkatan-tingkatan persepsi
intelektual yang berbeda dan sebagian diantaranya
diperlukan bagi bagian yang lain. Ulul albab
memiliki karakteristik fokus penalaran, perenungan,
ketaqwaan, pengetahuan, mendengarkan kebenaran,
mampu
menjauhi
menyembah
Allah,
kepalsuan-kepalsuan
bijaksana,
menyadari
ilusi,
dan
mengambil pelajaran dan pengalaman-pengalaman
masa lalu. Ulul albab memiliki hampir seluruh
64
karakteristik di dalam alquran untuk memahami
alam. Mereka memiliki intelek yang dibersihkan dan
dengan demikian, memiliki kemampuan lebih untuk
meraih pengetahuan tentang alam yang lebih
mendalam (Effendi, 2003).
Dengan
mempelajari
demikian
proses
dari
penjelasan
penciptaan
alam
tentang
semesta
menurut alquran di atas ibroh atau pelajaran yang
dapat
diperoleh
diantaranya
akan
semakin
mendekatkan diri kepada Allah, semakin takut akan
kekuasaan Allah, mempelajari alam dengan iman
akan mempertebal keimanan dan Allah mempunyai
skenario tersendiri dengan berbagai ketentuan-Nya.
65
INDEKS
A
Absolut
Alam semesta
Alquran
Astronom
B
Bumi
D
DNA
F
Fase fixisme
Fenomena
Fluida
G
Gugus bola
Galaksi spiral
66
Galaksi Andromeda
Galaksi Fornax
Galaksi Skulpter
Galaksi Bima Sakti
Genetik
Gravitasi
H
Hipotesis
K
Kontradiktif
Kosmologi
L
Langit
M
Matahari
Mekanisme
Mutasi
67
N
Nebula
P
Planet
R
Rasi Bintang
Resesif
Revolusi
S
Spesies
Sinpanse
T
Tafsiran
Teori big bang
Tibaq
68
GLOSARIUM
A
Absolut : Mutlak
Alam semesta : Seluruh ruang waktu kontinu tempat kita
berada, dengan energi dan materi yang dimilikinya.
Alquran : Sebuah kitab suci utama dalam agama Islam,
yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan
oleh Tuhan, kepada Nabi Muhammad.
Astronom : Seseorang yang mencurahkan waktunya
dalam kegiatan astronomi, dan memberikan sumbangan
pada perkembangan ilmu astronomi.
B
Bumi : Planet ketiga dari Matahari yang merupakan
planet terpadat dan terbesar kelima dari delapan planet
dalam Tata Surya.
69
D
DNA : Salah satu jenis asam nukleat yang memiliki
kemampuan pewarisan sifat.
F
Fase fixisme : Teori biologis yang menetapkan bahwa
semua spesies makhluk hidup di planet Bumi diciptakan
seperti sekarang ini.
Fenomena : Hal-hal yang dapat disaksikan dengan
pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara
ilmiah.
Fluida : Segala jenis zat yang dapat mengalir dalam
wujud gas maupun cair.
G
Gugus bola : Kumpulan bintang-bintang yang berjumlah
puluhan sampai ratusan ribu bintang yang lahir bersamasama, mengumpul berbentuk bola.
Galaksi spiral : Tipe galaksi yang terdiri dari piringan
galaksi yang rata dan berputar, yang berisi bintang,
70
medium antarbintang, dan pusat konsentrasi bintangbintang di bagian tengah galaksi.
Galaksi Andromeda : Sebuah galaksi spiral yang
berjarak kira-kira 2,5 juta tahun cahaya dari bumi.
Galaksi Fornax : Sebuah galaksi kecil, tetapi memiliki
lubang hitam sangat besar di tengahnya.
Galaksi Bima Sakti : Galaksi spiral yang besar, yang di
dalamnya terdapat Tata Surya, tempat planet Bumi
beredar mengelilingi matahari.
Genetik : Cabang biologi yang mempelajari pewarisan
sifat gen pada organisme maupun suborganisme.
Gravitasi : Gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua
partikel yang memiliki massa atau bobot di semesta.
H
Hipotesis : Anggapan dasar adalah jawaban sementara
terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena
masih harus dibuktikan kebenarannya.
71
K
Kontradiktif
:
Bersifat
kontradiksi;
berlawanan;
bertentangan.
Kosmologi : Ilmu yang mempelajari tentang struktur dan
sejarah alam semesta berskala besar.
L
Langit : Bagian atas dari permukaan bumi, dan
digolongkan sebagai lapisan tersendiri yang disebut
atmosfer.
M
Matahari : Bintang di pusat tata surya. Bentuknya nyaris
bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan
magnet.
Mekanisme : Teori bahwa semua gejala alam bersifat
fisik dan dapat dijelaskan dalam kaitan dengan
perubahan material atau materi yang bergerak.
72
Mutasi : perubahan yang terjadi pada bahan genetik baik
pada
taraf
tingkatan
gen
maupun
pada
tingkat
kromosom.
N
Nebula : Awan antarbintang yang terdiri dari debu, gas,
dan plasma.
P
Planet : Benda astronomi yang mengorbit sebuah bintang
atau sisa bintang yang cukup besar untuk memiliki
gravitasi sendiri, tidak terlalu besar untuk menciptakan
fusi termonuklir, dan telah "membersihkan" daerah
sekitar orbitnya yang dipenuhi planetesimal.
R
Rasi Bintang : Sekelompok bintang yang tampak
berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus.
Resesif : Gen yang lemah dan tertutupi oleh ekspresi gen
lainnya.
Revolusi : Perubahan.
73
S
Spesies : Suatu peringkat taksonomi yang dipakai dalam
klasifikasi biologis untuk merujuk pada satu atau
beberapa kelompok individu makhluk hidup yang serupa
dan dapat saling membuahi satu sama lain di dalam
kelompoknya sehingga menghasilkan keturunan yang
fertil.
Sinpanse : Nama umum untuk dua spesies yang masih
hidup dari kera dalam genus Pan.
T
Tafsiran : Proses komunikasi melalui lisan atau gerakan
antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat
menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara
simultan atau berurutan.
Teori big bang : Sebuah peristiwa yang menyebabkan
pembentukan
alam
semesta
berdasarkan
kajian
kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan
alam semesta (dikenal juga dengan Teori Ledakan
Dahsyat atau Model Ledakan Dahsyat).
74
Tibaq : Tingkatan atau lapisan.
75
DAFTAR PUSTAKA
J, Douglas. 2017. Evolution 4th. Sinauer Associates, Inc,
23 Pluntree Road, Sunderland, USA.
Ridley, Mark. 2006. Evolution 3rd. UK Copyright,
Designs, and Patents Act 1988.
Wluya, Bagja. 2009. Memahami Geografi 1 SMA/MA :
Untuk Kelas X, Semester 1 dan 2. Jakarta : Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Malik, Adam dan Nurul, Dadan. 2016. Penciptaan Alam
Semesta Menurut Alquran Dan Teori Big Bang. UIN
Sunan Gunung Djati : Bandung.
Rizki, Afif. 2019. Teori Pembentukan Jagad Raya.
https://pahamify.com/blog/artikel/geografi-kelas-x-ipsteori-pembentukan-jagat-raya/. Diakses pada 7 Februari
2021.
Afiyah, Luluk Sayyidatul. 2016. Makalah Evolusi.
https://luluksafiyah.wordpress.com/2016/03/03/makalahevolusi/. Diakses pada 7 Februari 2021.
76
Siti S, Aas. TEORI EVOLUSI MANUSIA DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR’AN. Hal 110. Institut Perguruan
Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) : Jakarta.
Hapy Linawati, Eka. 2019. Teori Evolusi Menurut AlQuran.https://www.kompasiana.com/ekahepylinawati/5d
cfeeac097f364a205155b2/teori-evolusi-menurut-al-quran. Diakses pada 7 Februari 2021.
UNY. Jagad Raya dan Proses Pembentukannya. UNY :
Yogyakarta.
77
Download