Uploaded by User86257

LAPORAN PENDAHULUAN ISPA

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ISPA
A. Konsep Dasar ISPA
1. Pengertian
ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atau maupun bawah yang
disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun rietsia,
tanpa atau disertai radang parenkim paru. (Alsagaff & Mukty, 2010).
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang
menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung
hingga kantong paru (alveoli) termasuk jaringan adneksanya seperti
sinus/rongga disekitar hidung (sinus para nasal), rongga telinga tengah, dan
pleura (Widoyono,2011).
2. Etiologi ISPA
Ispa disebabkan beberapa hal :
a. Bakteri
meliputi
Streptacoccus
Diplococcus
pyogenes,
pneumoniae,
Staphylococcus
aureus,
Pneumococcus,
Haemophilus
influenze, dan lain – lain.
b. Jamur meliputi Aspergilus sp., Candinda albicans, Histoplasma, dan
lain – lain.
c. Virus meliputi Orthomyxovirus, Paramyxovirus, Metamyxovirus,
Adenovirus, dan lain-lain
d. ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteria maupun riketsia, sedangkan
infeksi bakterial sering merupakan penyulit ISPA yang disebabkan oleh
virus, terutama bila ada epidemi atau pandemi. Penyulit bakterial
umumnya disertai peradangan parenkim. (Alsagaff & Mukty, 2010).
3. Patofisiologi Ispa
Bakteri
Virus
(Streptococcus)
(Mikrovirus, Adnovirus)
Jamur
ISPA
Silia yang terdapat
pada saluran
pernapasan bergerak
ke atas
Reaksi Antibodi
Antigen permukaan
Radang pada
saluran pernapasan
atas
Peningkatan
produksi mukus
Virus masuk ke
faring
Bersihan Jalan
Napas Tidak Efektif
Infeksi
Tubuh mengigil dan
demam
Merusak lapisan
epitel & mukosa
saluran pernapsan
Sakit saat mengunyah
Iritasi
Anoreksia
Peningkatan Suhu
Tubuh
Peradangan
Perubahan Nutrisi :
Kurang dari kebutuhan
tubuh
Batuk kering
Nyeri Akut
4. menuhan Kebutuhan Oksigenasi
a. Pengertian
Oksigenasi adalah kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar
yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh,
mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ dan sel tubuh.
(Sulistyo Andarmoyo, 2012).
Manusia membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. Tanpa oksigen
dalam sirkulasi aliran darah, individu akan meninggal dalam
hitungan menit. Oksigen diberikan ke sel dengan mempertahankan
jalan napas tetap terbuka dan sirkulasi yang adekuat. Pemenuhan
kebutuhan oksigen pada klien yang mengalami ISPA akan
mengalami hambatan, karena terjadi perubahan dalam pemenuhan
kebutuhan oksigen dan fungsi pernapasan yang dipengaruhi oleh
kondisi seperti: pergerakkan udara masuk atau keluar dari paru, difusi
oksigen dan karbon dioksida, dan transport oksigen dan karbon
dioksida melalui darah keseluruh jaringan. Pada penyakit ISPA klien
mengalami gangguan kebersihan jalan napas yang mengakibatkan
suplai oksigen dalam tubuh berkurang.
b. Faktor yang mempengaruhi fungsi pernapasan
1)
Hiperventilasi
Hiperventilasi adalah peningkatan pergerakan udara masuk dan
keluar dari paru. Selama hiperventilasi, frekuensi dan kedalaman
pernapasan meningkat, dan lebih banyak CO2 yang dibuang
daripada yang dihasilkan.
2)
Hipoventilasi
Hipoventilasi adalah penurunan pergerakkan udara masuk dan
keluar dari paru. Denga hipoventilasi, CO2 sering kali
menumpuk dalam darah, sebuah kondisi yang disebut
hiperkarbia (hiperkapnia).
3)
Hipoksia
Hipoksia adalah suatu kondisi ketidak cukupan oksigen ditempat
manapun di dalam tubuh, dari gas yang diinspirasi ke jaringan.
Hipoksia dapat dihubungkan dengan setiap bagian dalam
pernapasan – ventilasi, difusi gas, atau transport gas oleh darah
dan dapat disebabkan oleh setiap kondisi yang mengubah satu
atau semua bagian dalam proses tersebut. (Kozier, 2010).
5. anifestasi Klinis Ispa
Tanda dan gejala secara umum yang sering didapat adalah:
a. Retinitis
b. Nyeri tenggorakan
c. Batuk – batuk dengan dahak kuning / putih kental.
d. Nyeri retrostenal dan konjungtivitis.
e. Suhu badan meningkat antara 4 – 7 hari
f.
Malaise
g. Mialgia, nyeri kepala
h. Anoreksia, mual
i.
Muntah – muntah dan insomnia.
j.
Kadang – kadang dapat juga terjadi diare
k. Bila peningkatan suhu berlangsung lama biasanya menunjukkan
bahwa penyulit. (Alsagaff & Mukty, 2010).
6. Penatalaksanaan Ispa
a. Penatalaksanaan Medis
1) Antipiretik dan analgetik : Asetoal, Parecetamol,
Metampiron Antitusif
Noskapin Antibiotik
2) Vitamin C
: Kodein – HCL,
b.
Penatalaksanaan Keperawatan
1) Kompres air hangat/dingin
2) Perasan jeruk nipis dicampur kecap/madu
3) Inhalasi buatan
4) Fisioterapi dada
7. Pemeriksaan penunjang Ispa
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Ada tiga cara pemeriksaan
yang lazim dikerjakan, yaitu :
a. Biakan Virus
Bahan berasal dari secret hidung atau hapusan dinding belakang
faring kemudian dikirim dalam media gelatin lactalbumine dan
ekstrak yeast (GLY) dalam suhu 40C. Untuk enterovirus dan
adenovirus selain bahan diambil dari dua tempat dapat juga diambil
dari tinja dan hapusan rektum. Untuk pembiakan Mikoplasma
pneumonia digunakan media tryticase, soya boilon dan bovine
albumin (TSB).
b. eaksi Serologis
Reaksi serologis yang digunakan anatara lain adalah pengikatan
komplemen, reaksi hambatan hemadsorpsi, reaksi hambatan
hemaglutinasi, reaksi netralisasi, RIA serta ELISA.
c. Diagnostik Virus secara langsung
Dengan cara khusus yaitu imonofluoresensi RIA, ELISA dapat
didentifikasi virus influenza, RSV dan mikoplasma pneumonia,
mikropon electron juga dipergunakan pada pemeriksaan virus
corona. Selain itu, jumlah leukosit dan hitung jenis. Leukositosis
dengan peningkatan sel PMN di dalam darah maupun sputum
menandakan ada infeksi sekunder oleh karena bakteri. Jarang terjadi
leokositosis yang paling sering jumlah leukosit normal atau rendah
(Alsagaff & Mukty, 2010).
8. Komplikasi Ispa
Komplikasi yang sering terjadi antara lain :
a. Otitis media.
b. Sinusitis.
c. Bronchitis.
d. Bronkopneumonia.
e. Pleuritis (Alsagaff & Mukty, 2010).
9. Pencegahan ISPA
Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain :
a. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah
kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit
ISPA. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima
sempurna, banyak minum air putih, olahraga dengan teratur, serta
istirahat yang cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap
sehat. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita
akan semakin meningat, sehingga dapat mencegah vius / bakteri
penyakit yang akan masuk ke tubuh kita.
b. Imunisasi
Pemberian imunisasi sangat diperlukan baik pada anak – anak
maupun orang dewasa. Imunisasi dilakukan untuk menjaga
kekebalan tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam
penyakit yang disebabkan oleh virus / bakteri.
c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan
mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah,
sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang
bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat
memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan
sehat bagi manusia.
d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus /
bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit
ini melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit
penyakit ini biasanya berupa virus / bakteri diudara yang umumnya
berbentuk aerosol (anatu suspensi yang melayang diudara). Adapun
bentuk aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran
pernapasan yang dikeluarkan dari tubuh secara droplet dan melayang
diudara), yang kedua duet (campuran antara bibit penyakit).
B. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Konsep dasar keluarga
a. Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tinggal bersama,
sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam
interelasi sosial, peran dan tugas. (Allender dan Spradley, 2001).
Keluarga adalah dua atau lebih indvidu yang berasal dari sekelompok
keluarga yang sama atau yang berbeda dan saling mengikutsertakan
dalam kehidupan yang terus menerus, biasanya bertempat tinggal
dalam satu rumah, mempunyai ikaatan emosional dan adanya
pembagian tugas antara satu dengan yang lainnya. (Stanhope dan
Lancester, 1996)
Jadi kesimpulannya keluarga adalah dua orang atau lebih yang
tinggal bersama dalam satu atap (serumah) karena hubungan darah,
perkawinan, atau adopsi, ikatan emosional yang mempunyai peran
masing – masing dalam keluarga.
b. Tipe Keluarga
Keluarga memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai
macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial, maka
tipe keluarga juga akan berkembang mengikutinya. Agar dapat
mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat
kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga
(Friedman, Bowden & Jones, 2013).
1)
Tradisional
a) The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b) The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang
hidup bersama dalam satu rumah.
c) Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua dan
anak sudah memisahkan diri.
d) The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan
karena mengejar karir / pendidikan yang terjadi pada wanita.
e) The extended family
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama
dalam satu rumah seperti nuclear family disertai paman,
tante, orang tua (kakek nenek), keponakan.
f) The single – parent family
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu)
dengan anak, hal ini yang terjadi biasanya melalui proses
perceraian, kematian atau karena ditinggalkan (menyalahi
hukum pernikahan).
g) Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah
satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang
bekerja di luar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga
pada saat “weekends” atau pada waktu – waktu tertentu.
h) Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur
yang tinggal bersama dalam satu rumah.
i) Kin – network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau
saling berdekatan dan saling menggunakan barang – barang
dan pelayanan yang sama. Contoh : dapur, kamar mandi,
televii, telepone, dan lain – lain.
j) Blended family
Duda atau janda (karena perceraian) yang menikh kembali
dan membesarkan anak dari hasil perkawinan atau dari
perkawinan sebelumnya.
k) The single adult living alone / single – adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri
karena pilihannya atau perpisahan (separasi) seperti :
perceraian, atau ditinggal mati.
2)
Non Tradisional
a)
The un maried teenage mother
Kelurga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu)dengan
anak dari hubungan tanpa nikah.
b) The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri.
c)
Commune family.
Bebrapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak
ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu
rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman, yang
sama; sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok /
membesarkan anak bersama.
d) The nonmarital heterosexual cohabiting family.
Keluarga yang hidup bersama berganti – ganti pasangan
tanpa melaui pernikahan.
e)
Gay and lesbian familes
Seseoarng yang mempunyai persamaan seks hidup bersama
sebagimana ‘marital partners’.
f)
Cohabitating family
Orang deawas yang hidup bersama diluarg ikatan
perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
g) Group - marriage family
Beberapa orang deawasa yang menggunakan alat – lat
rumah tangga bersama, yang saling merasa saling menikah
satu dengan yang lainnya, berbagai seuatu termasuk seksual
dan membesarkan anaknya. Group network family.
h) Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan / nilai – nilai,
hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan
barang – barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan
bertanggung jawab membesarkan anaknya.
i)
Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga
/ saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua
anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan
kembali keluarga yang aslinya.
j)
Homeless family.
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan
yang permanen karena krisis peronal yang dihubungkan
dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
k) Gang.
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang – orang
muda yang mencarai ikatan emosional dan keluarga yang
mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan
kriminal dalam kehidupannya.
c. Fungsi Keluarga
1) Friedman (1998)
Secara umum fungsi keluarga adalah sebagai berikut :
a)
Fungsi afektif, adalah fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota
keluarga berhubungan dengan orang lan.
b) Fungsi sosialisasi, adalah fungsi mengembangkan dan tempat
melatih
anak
untuk
berkehidupan
sosial
sebelum
meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain
diluar rumah.
c)
Fungsi reproduksi, adalah fungsi untuk mempertahankan
generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
d) Fungsi ekonomi, adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi
keutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e)
Fungsi perawatan / pemeliharaan kesehatan, adalah fungsi
untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga
agar tetap memiliki produktivitas tinggi.
2) UU No. 10 tahun 1992 jo PP No. 21 tahun 1994
Secara umum fungsi keluarga adalah sebagai berikut :
a)
Fungsi keagamaan
(1) Membina norma ajaran – ajaran agama sebagai dasar
tujuan hidup seluruh anggota keluarga.
(2) Menerjemahkan agama kedalam tingkah laku hidup sehari
– hari kepada seluruh anggota keluarga.
(3) Memberikan contoh konkrit dalam hidup sehari – hari
dalam pengalaman dari ajaran agama.
(4) Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak
tentang keagamaan yang kurang diperolehnya disekolah
atau masyarakat.
(5) Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan keluarga
beragama sebagai fondasi menuju keluarga kecil bahagia
sejahtera.
b) Fungsi budaya
(1) Membina tugas – tugas keluarga sebagai lembaga untuk
meneruskan norma – norma dan budaya masyarakat dan
bangsa yang ingin dipertahankan.
(2) Membina tugas – tugas keluarga sebagai lembaga untuk
menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai.
(3) Membina tugas – tugas keluarga sebagai lembaga yang
anggotanya mencari pemecahan masalah dari berbagai
pengaruh negative globalisasi dunia.
(4) Membina tugas – tugas keluarga sebagai lembaga yang
baik sesuai dengan norma bangsa indonesia dalam
menghadapi tantangan globalisasi.
(5) Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras, dan
seimbang dengan budaya masyarakat atau bangsa untuk
menjunjung terwujudnya norma keluarga kecil bahagia
sejahtera.
c)
Fungsi cinta kasih
(1) Menumbuh kembangkan potensi kasih sayang yang telah
ada antar anggota keluarga kedalam simbol – simbol nyata
secara optimal dan terus-menerus.
(2) Membina tingkah laku saling menyangani baik antar
anggota keluarga secara kuantitatif dan kualitatif.
(3) Membina pratik kecintaan terhadap kehidupan duniawi
dan ukhrowi dalam keluarga secara serasi, selaras dan
seimbang.
(4) Membina rasa, sikap, dan praktik hidup keluarga yang
mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai
pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
d) Fungsi perlindungan
(1) Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik
dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari
luar keluarga.
(2) Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis
dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang
dari luar.
(3) Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan
keluarga sebagai modal menuju keluarga kecil bahagia
sejahtera.
e)
Fungsi reproduksi
(1) Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan
reproduksi sehat bagi anggota keluarga maupun bagi
keluarga sekitarnya.
(2) Membina
contoh
pengalaman
kaidah
–
kaidah
pembentukan keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik
maupun mental.
(3) Mengamalkan kaidah – kaidah reproduksi sehat, baik yang
berkaitan dengan waktu melahirkan, jarak antara 2
anak dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam
keluarga.
(4) Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai
modal yang kondusif menuju keluarga kecil bahagia
sejahtera.
f)
Fungsi sosialisasi
(1) Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan
keluarga sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi
anak pertama dan utama.
(2) Menyadari,
merencanakan
dan
mencipatakan
kehidupan keluarga sebagai pusat tempat anak dapat
mencari
pemecahan
dari
berbagai
konflik
dan
permasalahan yang dijumpainya baik dilingkungan
sekolah maupun masyarakat.
(3) Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak
tentang hal – hal yang diperlukan untuk meningkatkan
kematangan dan kedawasaan (fisik dan mental), yang
tidak kurang diberikan oleh lingkungan sekolah maupun
masyarakat.
(4) Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi
dalam keluarga sehingga tidak saja dapat bermanfaat
positif bagi anak, tetapi juga bagi orang tua dalam
rangka perkembangan dan kematangan hidup bersama
menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
g) Fungsi ekonomi
(1) Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun
didalam lingkungan keluarga dalam rangka menopang
kelangsungan dan perkembangan kehidupan keluarga.
(2) Mengelola
ekonomi
keluarga
sehingga
terjadi
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara
pemasukan dan pengeluaran keluarga.
(3) Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar
rumah dan perhatiannya terhadap anggota keluarga
berjalan secara serasi, selaras, dan seimbang.
(4) Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai
modal untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan
sejahtera.
h) Fungsi pelestarian lingkungan
(1) Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian
lingkungan internal keluarga.
(2) Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian
lingkungan eksternal keluarga.
(3) Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian
lingkungan yang serasi, selaras, dan seimbang antara
lingkungan
keluarga
dengan
lingkungan
hidup
masyarakat sekitarnya.
(4) Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian
lingkungan hidup sebagai pola hidup keluarga menuju
keluarga kecil bahagia sejahtera.
3) Effendy (2012 : 36)
Ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya,
adalah :
a)
Asih, adalah memberikan kash sayang, perhatian, rasa aman,
kehangatan kepada keluarga sehingga memungkinkan
mereka
tumbuh
dan
berkembang
sesuai
usia
dan
kebutuhannya.
b) Asuh, adalah
menuju
kebutuhan pemeliharaan dan
keperawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara,
sehingga diharapkan menjadikan mereka anak – anak yang
sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
c)
Asah, adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak,
sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam
mempersiapkan masa depannya.
d. Struktur keluarga
Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga
melaksanakan fungsi keluarga dimasyarakat. Struktur keluarga terdiri
dari bermacam
– macam, diantaranya adalah :
1)
Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ayah.
2)
Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ibu.
3)
Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami.
4)
Keluarga kawin
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
e. Peran Keluarga
Peran adalah sesuatu yang diharapkan secara normatif dari seseorang
dalam situasi sosial tertentu agar dapat memenuhi harapan – harapan.
Peran keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh
seseorang
dalam
konteks
keluarga.
Jadi
peranan
keluarga
menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan
yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola
perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Dalam UU Kesehatan nomor 23 tahun 1992 pasal 5 menyebutkan
“Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan
meningkatkan
derajat
kesehatan
perorangan,
keluarga,
dan
lingkungan”. Dari pasal diatas jelas bahwa keluarga berkewajiban
menciptakan dan memelihara kesehatan dalam upaya meningkatkan
tingkat derajat kesehatan yang optimal.
Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing – masing, antara
lain adalah :
1)
Ayah
Ayah sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung / pengayom, pemberi rasa
aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota
masyarakat kelompok sosial tertentu.
2)
Ibu
Ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak
– anak, pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah
tambahan keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat
kelompok sosial tertentu.
3)
Anak
Anak berperan sebagai pelaku psikososial sesuai dengan
perkembangan fisik, mental, sosial, dan spiritual.
f. Tahap Perkembangan Keluarga
1) Duvall (1985)
Membagi keluarga dalam 8 tahap perkembangan, yaitu :
a) Keluarga baru (Berganning Family)
Pasangan baru menikah yang belum mempunyai anak. Tugas
perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
(1) Membina hubungan intim yang memuaskan.
(2) Menetapkan tujuan bersama.
(3) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan
kelompok sosial.
(4) Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB.
(5) Persiapan menjadi orang tua.
(6) Memahami
prenatal
care
(pengerian
kehamilan,
persalinan, dan menjadi orang tua).
b) Keluarga dengan anak pertama < 30 bln (Child Bearing)
Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan
meniimbulkan krisis keluarga.
Tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
(1) Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi,
seksual, dan kegiatan).
(2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan
pasangan.
(3) Membagi peran dan tanggung jawab (bagaimana peran
orang tua terhadap bayi dengan memberi sentuhan dan
kehangatan.
(4) Bimbingan
orang
tua
tentang
pertumbuhan
perkembangan anak.
(5) Konseling KB post partum 6 minggu.
(6) Biaya / dana Child Bearing.
dan
(7) Memfasilitasi role learing anggota keluarga.
(8) Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
c) Keluarga dengan anak pra sekolah
Tugas
perkembangannya
adalah
menyesuaikan
pada
kebutuhan pada anak pra sekolah (sesuai dengan tumbuh
kembang,
proses
belajar
dan
kontak
sosial)
dan
merencanakan kelahiran berikutnya.
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
(1) Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.
(2) Membantu anak bersosialisasi.
(3) Beradaptasi dengan anak baru lahir, anak yang lain juga
terpenuhi.
(4) Mempertahankan hubungan di dalam maupun diluar
keluarga.
(5) Pembagian waktu, individu, pasangan dan anak.
(6) Pembagian tanggung jawab.
(7) Merencanakan kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh
dan kembang anak.
d) Keluarga dengan anak usia sekolah (6 – 13 th)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
(1) Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar
rumah, sekolah dan lingkungan lebih luas.
(2) Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya
intelektual.
(3) Menyediakan aktifitas untuk anak.
(4) Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikut
sertakan anak.
(5) Memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya
kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
e) eluarga dengan anak remaja (13 – 20 th)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
(1) Pengembangan terhadap remaja (memberikan kebebasan
yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja
adalah seorang yang dewasa muda dan mulai memiliki
otonomi).
(2) Memelihara komunikasi terbuka (cegah pergaulan
komunikasi).
(3) Memelihara hubungan intim dalam keluarga.
(4) Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan
anggota keluarga untu memenuhi kebutuhan tumbuh
kembang anggota keluarga.
f) Keluarga dengan anak dewasa (anak I meninggalkan rumah)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
(1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
(2) Mempertahankan keintiman.
(3) Membantu orang tua memasuki masa tua
(4) Membantu anak untuk mandiri dimasyarakat
(5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
g) Keluarga usia pertengahan (Midle age family)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini
adalah :
(1) Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam
mengolah minat sosial dan waktu santai.
(2) Memulihkan hubungan antara generasi muda tua.
(3) Keakrapan dengan pasangan.
(4) Memelihara hubungan / kontak dengan anak dan keluarga.
(5) Persiapan masa tua / pensiun
h) Keluarga lanjut usia
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
(1) Penyesuian tahap masa pensiun dengan cara merubah
cara hidup.
(2) Menerima kematian pasangan, kawan dan
mempersiapkan n.
(3) Mempersiapkan
kematian
pasangan,
kawan
dan mempersiapkan kematian.
(4) Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
(5) Melakukan life review masa lalu.
2) Carter & Mc Goldrick (1989)
Membagi keluarga dalam 5 tahap perkembangan, yaitu :
a)
Keluarga antara (masa bebas / pacaran) dengan usia dewasa
muda.
b) Terbentuknya keluarga baru melalui suatu perkawinan.
c)
Keluarga dengan memiliki anak usia muda (anak usia bayi
sampai usia sekolah).
d) Keluarga yang memiliki anak dewasa.
e)
Keluarga yang mulai melepas anaknya untuk keluar rumah.
f)
Keluarga lansia
C. Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dimana seorang
perawat mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga yang
dibinanya. Tahap pengakajian ini merupakan proses yang sistematis
dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan keluarga. (Setiadi, 2008). Cara
pengumpulan data tentang keluarga dapat dilakukan antara lain dengan :
a. Wawancara
Wawancara yaitu menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan
dengan masalah yang dihadapi keluarga dan merupakan suatu
komunikasi yang direncanakan. Tujuan komunikasi / wawancara
disini adalah :
1) Mendapatkan informasi yang diperlukan
2) Meningkatkan
hubungan
perawat
–
keluarga
dalam
komunikasi.
3) Membantu keluarga untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan.
b. awancara dengan keluarga dikaitkan dalam hubungannya dengan
kejadian – kejadian pada waktu lalu dan sekarang:
1) Pengamatan
Pengamatan dilakukan yang berkaitan dengan hal – hal yang tidak
perlu ditanyakan (ventilasi, penerangan, kebersihan).
2) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan hanya pada anggota keluarga yang
mempunyai masalah kesehatan.
3) Pengkajian asuhan keperawata keluarga menurut teori / model
Family Centre Nursing Friedman, meliputi 7 komponen
pengkajian yaitu :
a) Data Umum
(1) Identitas kepala keluarga :
(a) Nama kepala keluarga (KK) :
(b) Umur (KK)
:
(c) Pekerjaan kepala keluarga (KK :
(d) Pendidikan kepala keluarga (KK) :
(e) Alamat dan nomor telepone
(2) Komposisi anggota keluarga :
:
(3) Genogram
Genogram harus menyangkut minimal 3 generasi, harus
tertera nama, umur, kondisi kesehatan tiap keterangan
gambar. Terdapat keterangan gambar dengan simbol
berbeda (Friedman, 1998) seperti:
Laki – laki
:
Perempuan
:
Meninggal dunia
:
Tinggal serumah
: ......................
Pasien yang di dentifikasi
: Kawin:
Cerai
:
Anak adopsi
:
Aborsi / keguguran
:
(4) Tipe keluarga :
(5) Suku bangsa :
(a) Asal suku bangsa keluarga.
(b) Bahasa yang dipakai keluarga.
(c) Kebiasaan keluarga yang dipengaruhi suku yang
dapat mempengaruhi kesehatan.
(6) Agama :
(a) Agama yang dianut keluarga.
(b) Kepercayaan yang mempengaruhi keluarga.
(7) Status sosial ekonomi keluarga :
(a) Rata – rata penghasilan seluruh anggota keluarga.
(b) Jenis pengeluaran keluarga tiap bulan.
(c) Tabungan khusus kesehatan.
(d) Barang (harta benda) yang dimiliki keluarga
(perabot, transportasi).
(e) Aktifitas rekreasi keluarga.
b) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga.
(1) Tahap perkembangan keluarga saat ini (ditentukan anak
tertua).
(2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
(3) Riwayat keluarga saat ini :
(a) Riwayat terbentuknya keluarga inti.
(b) Penyakit yang diderita keluarga prang tua (adanya
penyakit menular atau penyakit menular di
keluarga).
(4) Riwayat keluarga sebelumnya (suami istri) :
(a) Riwayat penyakit keturunan dan penyakit menular di
keluarga.
(b) Riwayat kebiasaan / gaya hidup yang mempengaruhi
kesehatan.
c) Lingkungan :
(1) Karasteristik rumah.
(2) Ukuran rumah (luas rumah).
(3) Kondisi dalam dan luar rumah :
(a) Kebersihan rumah.
(b) Ventilasi rumah.
(c) Saluran
pembuangan
(d) Air bersih.
air limbah (SPAL).
(e) Pengelolaan sampah.
(f) Kepemilikan rumah.
(g) Kamar mandi / WC.
(h) Denah rumah.
(4) Karasteristik tetangga dan
komunitas tempat tinggal:
(a) Apakah ingin tinggal dengan satu
suku saja.
(b) Aturan dan kesepakatan penduduk
setempat.
(c) Budaya setempat yang
mempengaruhi kesehatan.
(d) Mobilitas geografis keluarga :
(e) Perkumpulan keluarga dan interaksi
dengan masyarakat.
(f) Sistem pendukung keluarga
Termasuk siapa saja yang terlibat bila
keluarga mengalami masalah.
d) Struktur keluarga
(1) Pola komunikasi keluarga :
(a) Cara dan jenis komunikasi yang
dilakukan keluarga.
(b) Cara
keluarga
memecahkan keluarga.
(2) Struktur kekuatan keluarga :
(a) Respon keluarga bila ada anggota
keluarga yang mengalami
masalah.
(b) Power yang dgunakan keluarga.
(3) Struktur peran (formal dan informal)
(a)
Peran seluruh anggota keluarga
(b)
Nilai dan norma keluarga
(4) Fungsi keluarga
(a) Fungsi afektif
(b) Fungsi sosialisasi
(5) Fungsi perawatan keluarga
(a) Kondisi perawatan kesehatan seluruh anggota (bukan
hanya kalau sakit diapakan tetapi bagaimana prevensi /
promosi).
(b) Bila ditemui data maladaptif, langsung lakukan
penjajagan tahap II (berdasarkan 5 tugas keluarga seperti
bagaimana keluarga mengenal masalah, mengambil
keputusan, merawat anggota keluarga, memodifikasi
lingkungan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan).
(6) Stress dan koping keluarga
(a) Stressor jangka panjang dan
jangka pendek serta kekuatan
keluarga.
(b) Respon keluarga terhadap stress.
(c) Strategi koping yang digunakan.
(d) Strategi adaptasi yang disfungsional:
(e) Adakah cara keluarga mengatasi
masalah secara maladaptif.
(7) Pemeriksaan fisik (head to toe)
(a)
Tanggal pemeriksaan fisik yang
dilakukan.
(b)
Pemeriksaan kesehatan dilakukan
pada seluruh anggota keluarga.
(c)
Aspek pemeriksaan fisik mulai
vital sign, rambut, kepala, mata
mulut
THT,
leher,
thoraks,
abdomen, ekstrimitas atas dan
bawah, sistem genetilia.
(8) Harapan keluarga
(a) Terhadap
masalah
kesehatan keluarga.
(b) Terhadap petugas kesehatan yang
ada.
Pedoman Pengakajian Tahap II
1) Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah, seperti :
a)
Persepsi terhadap keparahan penyakit.
b) Pengertian.
c)
Tanda dan gejala.
d) Faktor penyebab.
e)
Persepsi keluarga terhadap masalah.
2) Ketidak mampuan keluarga mengambil keputusan, meliputi
a)
Sejauh mana keluarga mengerti
mengenai sifat dan luasnya masalah.
b) Masalah dirasakan keluarga.
c)
Keluarga menyerah terhadap masalah
yang dialami.
d) Sikap
negatif
terhadap
e)
Kurang
percaya
f)
Informasi yang salah.
terhadap
masalah kesehatan.
tenaga kesehatan.
3) Ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang
sakit, meliputi :
a)
Bagaimana keluarga mengetahui
keadaan sakit.
b) Sifat dan perkembangan perawatan
yang dibutuhkan.
c)
Sumber – sumber yang ada
dalam keluarga.
d) Sikap keluarga terhadap yang sakit.
4) Ketidak mampuan keluarga memelihara lingkungan, meliputi:
a)
Keuntungan / manfaat
pemeliharaan
lingkungan.
b) Pentingnya hygiene sanitasi.
c)
Upaya pencegahan penyakit.
5) Ketidak mampuan keluarga menggunakan
fasilitas keluarga, meliputi :
a)
Keberadaan fasilitas kesehatan.
b) Keutungan yang didapat.
c)
Kepercayaan keluarga terhadap
petugas kesehatan.
d) Pengalaman keluarga yang kurang baik.
e)
Pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh keluarga.
2. Diagnosa Keperawatan (menjelaskan jenis diagnosa
keperawatan aktual, risiko, dan potensial / sejahtera).
Diagnosa keperawatan adalah keputusan tentang respon keluarga tentang
masalah kesehatan actual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi
keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan keluarga sesuai
dengan kewenangan perawat. Tahap dalam diagnosa keperawatan keluarga
antara lain.:
a. Analisa data
Setelah data terkempul maka selanjutnya dilakukan analisa data, yaitu
mengkaitkan data dan menghubungkan dengan konsep teori dan prinsip
yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah
kesehatan dan keperawatan keluarga. Cara menganalisa data adalah :
1)
Validasi data, yaitu meneliti kembali data
yang terkumpul dalam format pengkajian.
2)
Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan bio-psiko-sosial dan
spiritual.
3)
Mengembangkan standart.
4)
Membuat kesimpulan tentang kesenjangan yang diketemukan.
5)
Ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat
perkembangan kesehatan keluarga untuk melakukan analisa
data, yaitu :
a) Keadaan kesehatan yang normal bagi setiap anggota
keluarga, yang meliputi :
(1) Keadaan kesehatan fisik, mental dan sosial anggota keluarga.
(2) Keadaan pertumbuhan dan perkembangan
anggota keluarga.
(3) Keadaan gizi anggota keluarga.
(4) Status imunisasi anggota keluarga.
(5) Kehamilan dan KB.
b) Keadaan rumah dan saritasi lingkungan, yang meliputi :
(1) Rumah yang meliputi ventilasi, penerangan,
kebersihan, kontruksi, luas rumah dan sebagainya.
(2) Sumber air minum.
(3) Jamban keluarga.
(4) Tempat pembuangan air limbah.
(5) Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya.
c) Karakteristik keluarga, yang meliputi :
(1) Sifat-sifat keluarga.
(2) Dinamika dalam keluarga.
(3) Komunikasi dalam keluarga.
(4) Interaksi antar anggota keluarga
(5) Kesanggupan keluarga dalam membawa
perkembangan anggota keluarga
(6) Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga
Dalam proses analisa, data dikelompokka menjadi 2 yaitu data
subyektif dan objektif
NO DATA
ETIOLOGI
MASALAH
Data subyektif :

Data objektif :

Perumusan masalah keperawatan keluarga dapat diarahkan
kepada sasaran individu dan atau keluarga. Komponen diagnosis
keperawatan
keluarga
meliputi
problem,
etiologi
dan
sign/simpton.
b. Masalah (problem)
Tujuan penulisan pernyataan masalah adalah menjelaskan status
kesehatan atau masalah kesehatan secara jelas dan 1sesingkat
mungkin. Daftar diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan
NANDA (1995) dalam setiadi (2008) adalah sebagai berikut :
1) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah lingkungan
a)
Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (higienis
lingkungan)
(1) Resiko terhadap cidera
(2) Resiko terjadi infeksi (penularan penyakit)
2) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur komunikasi
a) Komunikasi keluarga disfungsional
(1) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur
peran
(a) Berduka dan diantisipasi
(b) Berduka disfungsional
(c) Isolasi sosial
(d) Perubahan dalam proses keluarga
(e) Potensial peningkatan menjadi orang tua
(f) Perubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua)
(g) Perubahan penampilan peran
(h) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
(i)
Gangguan citra tubuh
(2) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi afektif
(a) Perubahan proses keluarga
(b) Perubahan menjadi orang tua
(c) Potensial peningkatan menjadi orang tua
(d) Berduka yang diantisipasi
(e) Koping keluarga tidak efektif, menurun
(f) Resiko terhadap tindakan kekerasan
(3) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi sosial
(a)
Perubahan proses keluarga
(b)
Perilaku mencari bantuan kesehatan
(c)
Konflik peran orang tua
(d)
Perubahan menjadi orang tua
(e)
Potensial peningkatan menjadi orang tua
(f)
Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
(g)
Perubahan pemeliharaan kesehatan
(h)
Kurang pengetahuan
(i)
Ketidakpatuhan
(j)
Gangguan identitas pribadi
(4) Diagnosa keperawatan keluarga pada fungsi
keperawatan keluarga
(a) Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan
(b) Perilaku mencari pertolongan kesehatan
(c) Resiko terhadap penularan penyakit
(5) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah koping
(a) Potensial peningkatan koping keluarga
(b) Koping keluarga tidak efektif.
c. Penyebab (etiologi)
Dikeperawatan keluarga etiologi ini mengacu kepada 5 tugas
keluarga, yaitu :
1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
3) Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang
terlalu muda
4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan (memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada)
d. Tanda (sign)
Tanda dan gejala adalah sekumpulan data subyektif dan objektif yang
diperoleh perawat dari keluarga yang mendukung masalah dan
penyebab. Tanda dan gejala dihubungkan dengan kata-kata “yang
dimanifestasikan dengan”.
Perumusan diagnosa keperawatan keluarga sama dengan diagnosa
diklinik yang dapat dibedakan menjadi 4 kategori yaitu :
1) Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai data yang ditemukan
yaitu dengan ciri dari pengkajian didapatkan tanda dan gejala dari
gangguan kesehatan. Diagnosa keperawatan aktual memiliki tiga
komponen diantaranya adalah problem, etiologi dan simpton.
2) Resiko (ancaman kesehatan)
Diagnosa
keperawatan
resiko
memiliki
dua
komponen
diantaranya adalah problem dan etiologi. Ciri diagnosa resiko
adalah sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi
gangguan.
3) Wellnes (keadaan sejahtera)
Keputusan klinik tentang keadaan keluarga dalam transisi dari
tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi
sehingga kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Ada 2 kunci
yang harus ada dalam diagnosa ini, yaitu :
(1) Sesuatu yang menyenangkan pada tingkat kesejahteraan
yang lebih tinggi
(2) Adanya status dan fungsi yang efektif
4) Sindrom
Diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa aktual dan resiko
tinggi
yang
diperkirakan
akan
muncul
karena
suatu
kejadian/situasi tertentu. Menurut NANDA ada 2 diagnosa
keperawatan sindrom, yaitu :
a) Syndrom trauma pemerkosaan (rape trauma syndrome)
Pada kelompok ini menunjukan adanya tanda dan gejala,
seperti cemas, takut, sedih, gangguan tidur dan lain-lain.
b) Resiko sindrom penyalahgunaan (risk for disuse syndrome)
Misalnya resiko gangguan proses fikir, resiko gangguan
gambaran diri dan lain-lain.
e. Perioritas Masalah
Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa
keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung
dengan menggunakan skala prioritas (skala Baylon
dan Maglaya) sebagai berikut:
1)
Tentukan skor untuk tiap kriteria.
2)
Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan
dengan bobot.
Skor
X Bobot
Angka tertinggi
3)
Jumlahkan skor untuk semua kriteria.
4)
Skor tertinggi adalah 5, dan sama untuk seluruh
bobot.
Kriteria
Bobot
Skor
Sifat Masalah
1
Aktual: 3
Risiko : 2
Potensial:
1
Kemungkinan
2
masalah
Mudah: 2
Sebagian:
untuk
1
dipecahkan
Tidak
dapat:0
Potensi
1
Tinggi : 3
masalah
Cukup : 2
untuk dicegah
Rendah:1
Manonjolnya
masalah
1
Segera
diatasi : 2
Tidak
segera
diatasi : 1
Tidak
dirasakan
adanya
masalah:0
3. Perencanaan Keperawatan (dimulai dari penapisan dan
perencanaan keperawatan)
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses
keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan (jangka
panjang / pendek), penetapan standart dan kriteria serta menentukan
perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga.
a. Tujuan jangka panjang
Menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan
mandiri. Dan lebih baik ada batas waktunya, misalnya dalam waktu 2 hari.
Pencantuman jangka waktu ini adalah untuk mengarahkan evaluasi
pencapaian pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Contoh : Setelah
diberikan asuhan keperawatan selama 2 hari seluruh keluarga Bapak A
dapat merawat anggota keluarga yang sakit dan dapat mencegah penularan
penyakit.
b. Tujuan jangka pendek
Ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang
dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan. Contoh :
1)
Keluarga Bapak A dapat mengenal dampak permasalahan penyakit Ibu
A tidak segera diobati.
2)
Bayi yang belum diimunisasi dari keluarga tersebut harus segera diberi
imunisasi BCG, DPT dan Polio.
3)
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan
keperawatan adalah:
a)
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan.
b) Merupakan hasil akhir yang ingin dicapai.
c)
Harus objektif atau merupakan tujuan operasional langsung dari
kedua belah pihak (keluarga dan perawat).
d) Mencakup kriteria keberhasilan sebagai dasar evaluasi.
c. Penetapan Kriteria dan Standar
Merupakan
standar
evaluasi
yang
merupakan
gambaran tentang faktor – faktor yang dapat
memberikan petunjuk bahwa tujuan telah tercapai
dan digunakan dalam membuat pertimbangan.
Bentuk dari standar dan kriteria ini adalah pernyataan
verbal (pengetahuan), sikap dan psikomotor.
Tabel 2.3 Kriteria dan Standart dalam rencana
keperawatan keluarga
N
Kriteria
Pengetahuan
Pengetahuan
a. Keluarga
o
1
mampu menyatakan pengertian
hipertensi secara umum
b. Keluarga
mampu menyebutkan
jenis
makanan yang dapat menurunkan hipertensi dan juga
meningkatkan tekanan darah
c. Keluarga dapat menyebutkan akibat jika tekanan darah
tidak terkontrol secara rutin.
d. Keluarga
mampu melakukan pemeriksaan tekanan
darah sendiri.
2
Sikap
a. Keluarga
memutuskan
mampu
untuk
membuat rencana kontrol setiap 2 minggu
sekali ke puskesmas.
b. Keluarga mampu membuat rencana
membeli
tensi sendiri.
Psikomotor a. Keluarga menyediakan
3
mengurangi
jenis makanan yang dapat
darah tinggi.
b. Keluarga dapat mengolah makanan yang mengurangi darah
tinggi.
c. Keluarga
mampu melakukan pengukuran tekanan darah
sendiri.
d.
Fokus dari intervensi keperawatan keluarga antara lain meliputi
kegiatan yang bertujuan : Menstimulasi kesadaran atau penerimaan
keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara:
1) Memberi informasi yang tepat.
2) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang
kesehatan.
3) Mendorong sikap emosi yang sehat yang mendukung upaya
kesehatan masalah.
e.
Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan keluarga
yang tepat, dengan cara :
1) Mengidentifikasi
konsekwensi
tidak melakukan tindakan.
2) Mengidentifikasi sumber – sumber yang dimilki keluarga.
3) Mendiskusikan tentang konsekwensi tiap tindakan
f.
Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota yang sakit,
dengan cara :
1) Mendemontrasikan cara perawatan.
2) Menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah.
3) Mengawasi keluarga melakukan perawatan.
g.
Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat
lingkungan menjadi sehat, dengan cara :
h.
1)
Menemukan sumber – sumber yang dapat digunakan keluarga.
2)
Melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.
Memotivasi keluarga untuk memanfaaatkan fasilitas kesehatan yang
ada, dengan cara :
1) Membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
2) Rencana
tindakan
keluarga
diarahkan
untuk
mengubah
pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga, sehingga pada akhirnya
keluarga mampu memenuhi kebutuhan kesehatan anggota
keluarganya dengan bantuan minimal dari perawat.
4. Tindakan Keperawatan Keluarga
Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Pada tahap ini,
perawat yang mengasuh keluarga sebaiknya tidak bekerja sendiri, tetapi perlu
melibatkan tim perawatan kesehatan di rumah.
Ada 3 tahap dalam tindakan keperawatan keluarga, yaitu:
a.
Tahap 1 : Persiapan
Persiapan ini meliputi kegiatan – kegiatan :
1)
Kontrak dengan keluarga (kapan dilaksanakan, berapa lama
waktunya, materi yang akan di diskusikan, siapa yang melaksanakan,
anggota keluarga yang perlu mendapatkan informasi).
2)
Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
3)
Mempersiapkan lingkungan yang kondusif.
4)
Mengidentifikasi aspek – aspek hukum dan etik.
Kegiatan ini bertujuan agar keluarga dan perawat mempunyai kesiapan
secara fisik dan psikis pada saat implementasi.
b.
Tahap 2 : Intervensi
Tindakan keperawatan keluarga berdasrkan kewenangan dan tanggung
jawab perawat secara profesional adalah :
1) Independent
Adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat sesuai dengan
kompetensi keperawatan tanpa petunjuk dan perintah dari tenaga
kesehatan lainnya.
Tipe tindakan independent keperawatan dapat dikategorikan
menjadi 4, yaitu :
a) Tindakan diagnostik
(1) Wawancara dengan klien.
(2) Observasi dan pemeriksaan fisik.
(3) Melakukan
pemeriksaan
laboratorium sederhana, misalnya (Hb) dan
membaca
hasil
dari
pemeriksaan
laboratorium tersebut.
b) Tindakan terapeutik
Tindakan untuk mencegah mengurangi, dan
mengatasi masalah klien. Misalnya : Untuk
mencegah gangguan integritas kulit dengan
melakukan mobilisasi dan memberikan bantal
air pada bagian tubuh yang tertekan.
Contoh penulisian : 11/10/2014 Lakukan
mobilisasi klien tiap 2 jam dan beri bantal air
pada bagian tubuh yang tertekan.
c) Tindakan edukatif
Tindakan
untuk
merubah
perilaku
klien
melalui promosi kesehatan dan pendidikan
kesehatan kepada klien. Misalnya : Perawat
mengajarkan kepada klien cara injeksi insulin.
Contoh penulisan : 11/10/2019 mengajarkan
klien cara injeksi insulin.
d) Tindakan merujuk
Tindakan kerja sama denga tim kesehatan
lainnya.
Contoh penulisan : 11/10/2019 Konsul dengan
ahli terapi fisik mengenai kemajuan klien
menggunakan walker pada tanggal 12/10/2009.
2) Interdependent
Adalah suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja
sama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya
tenaga sosial, ahli gizi, fisioterapi, dan dokter dan
yang lainnya.
Misalnya dalam hal : Pemberian obat – obatan sesuai
dengan terapi dokter. Jadi jenis, dosis, efek samping
menjadi tanggung jawab dokter, tetapi pemberian obat
sampai
atau
tidak
menjadi
tanggung
jawab
rencana
tindakan
medis.
perawat.Dependent
Adalah
pelaksanaan
Misalnya dokter menuliskan “perawatan kolostomy”.
Tindakan
keperawatan
adalah
mendefinisikan
perawatan kolostomi berdasarkan kebutuhan individu
dari klien.
c.
Tahap 3 : Dokumentasi
Pelaksanaan tindakan kepearwatan harus
diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan
akurat terhadap suatu kejadian dalam proses
keperawatan.
5. Evaluasi
Tahap
penilaian
atau
evaluasi
adalah
perbandingan yang sistematis dan terencana
tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang
telah
ditetaptakan,
dilakukan
dengan
cara
bersinambungan dengan melibatkan klien dan
tenaga kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah
untuk
melihat kemampuan keluarga dalam
mencapai tujuan.
a.
Tahap Evaluasi
Evaluasi disusun menggunakan SOAP secara
operasional dengan tahapan dengan sumatif
(dilakukan
selama
keperawatan) dan
proses
auhan
formatif yaitu dengan
proses dan evaluasi akhir.
1)
Evaluasi Berjalan (Sumatif)
Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian
format catatan perkembangan dengan berorientasikan
kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format
yang dipakai adalah format SOAP.
2)
Evaluasi Akhir (Formatif)
Eveluasi
jenis
ini
dikerjakan
dengan
cara
membandingkan antara tujuan yang akan dicapai.
Bila
terdapat
kesenjangan
diantara
keduanya,
mungkin semua tahap dalam proses keperawatan
perlu di tinjau kembali, agar didapat data – data,
masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi
b.
Metode evaluasi
Metode yang dipakai
dalam evaluasi antara
lain adalah :
c.
1)
Observasi langsung
2)
Wawancara
3)
Memeriksa laporan
4)
Latihan stimulasi
Mengukur pencapaian tujuan keluarga
Faktor yang dievaluasi ada beberapa
komponen, meliputi :
1) Kognitif (pengetahuan)
Lingkup evaluasi pada kognitif adalah :
a)
Pengetahuan
keluarga
penyakitnya.
b) Mengontrol gejala – gejalanya.
c)
Pengobatan.
mengenai
d) Diet, aktifitas, persediaan alat – alat.
e)
Risiko komplikasi.
f)
Gejala yang harus dilaporakan.
g) Pencegahan.
Informasi ini dapat diperoleh dengan cara :
a)
Interview, dengan cara :
(1) Menanyakan kepada keluarga
untuk mengingat beberapa fakta
yang sudah diajarkan.
(2) Menanyakan
kepada
keluarga
untuk
menyatakan informasi yang spesifik dengan
kata – kata keluarga sendiri (pendapat
keluarga sendiri).
(3) Mengajak keluarga pada situasi hipotesa dan
tindakan yang tepat terhadap apa yang
ditanyakan.
b) Kertas dan pensil
Perawat menggunakan kertas dan pensil untuk
mengevaluasi pengetahuan keluarga terhadap
hal – hal yang telah diajarkan.
2) Afektif (status emosional)
Dengan cara observasi secara langsung, yaitu dengan
cara observasi eksperesi wajah, postur tubuh, nada
suara, isi pesan secara verbal pada waktu melakukan
wawancara.
3) Psikomotor
Adalah dengan cara melihat apa yang dilakukan
keluarga sesuai dengan yang diharapkan.
d.
Penentuan keputusan pada tahap evaluasi
Ada tiga kemungkinan keputusan pada tahap
ini, yaitu :
a.
Keluarga telah mencapai hasil yang ditentukan dalam
tujuan, sehingga rencana mungkin dihentikan.
b.
Keluarga masih dalam proses mencapai hasil yang
ditentukan, sehingga perlu penambahan waktu,
resources, dan intervensi sebelum tujuan berhasil.
c.
Keluarga tidak dapat mencapai hasil yang telah
ditentukan, sehingga perlu :
a)
Mengkaji ulang masalah atau respon yang lebih
akurat.
b) Membuat outcome yang baru, mungkin outcome
pertama tidak realitis atau mungkin keluarga
tidak menghendaki terhadap tujuan yang disusun
oleh perawat.
c)
Intervensi keperawatan harus dievaluasi dalam
hal ketepatan untuk mencapai tujuan sebelmnya.
Download