BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asalusul, dan hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Nafidah dan Anisa, 2017) . Lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengemban paradigma dan konsep baru kebijakan tata kelola desa secara nasional. Undang-undang tentang desa telah memberikan kesempatan yang besar bagi desa untuk mengurus tata pemerintahannya sendiri serta pelaksanaan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaa Keuangan Desa mengatakan Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah menganggarkan Dana Desa secara 1 nasional dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahun. Dana Desa bersumber dari belanja pemerintah dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan (Kurnia, 2019). Pemerintah desa diharapkan untuk lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk didalamnya kewenangan dalam pengelolaan keuangan desa (Hasanah, 2020). Pemerintahan yang baik mengandung prinsip profesionalisme, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, keefektifan dan supremasi hukum Peraturan Pemerintah No. 101 tahun 2000 (Setyanto, 2018). Dalam mewujudkan pemerintahan yang baik salah satunya harus akuntabel dalam mengelola keuangan. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban ataumenjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang, badan hukum dan pimpinan organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban (Adisasmita, 2011 dalam Ngakil dan M. Elvan Kaukab, 2020). Selanjutnya, dalam Sedarmayanti (2009), akuntabilitas yakni adanya pembatasan dan pertanggungjawaban tugas yang jelas. Akuntabilitas dalam pemerintah desa sangat penting karena merupakan salah satu bentuk media pertanggungjawaban pemerintah desa sebagai entitas yang mengelola dana desa (Hasanah et al., 2020). Akuntabilitas pada dasarnya adalah bentuk kewajiban pemberian informasi dan pengungkapan atas aktivitas dan kinerja keuangan pemerintah 2 kepada pihak-pihak yang berwenang melalui media pertanggungjawaban secara periodik (Setiawan dkk, 2017 dalam Hasanah, Nurhayati, dan Purnama 2020). Salah satu jenis akuntabilitas yang perlu diperhatikan adalah akuntabilitas keuangan. Dan instrumen terpenting dari akuntabilitas keuangan adalah dimana laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah mencerminkan bentuk akuntabilitas (Setyanto dan Eko. Ritchi, 2018). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Perubahan Pengelolaan Keuangan Desa yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan desa. Berdasarkan UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 3 ayat (1) mengenai ketentuan pengelolaan keuangan negara dinyatakan bahwa pada prinsipnya pengelolaan keuangan negara oleh pemerintah (pusat dan daerah) harus dikelola secara tertib taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Ketentuan pengelolaan keuangan negara sebagaimana dimaksud adalah mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan, penguasaan, penggunaan, pengawasan dan pertanggungjawaban untuk menciptakan akuntabilitas pengelolaan keuangan (Mustofa, 2012). 3 Fenomena yang terkait dengan akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa di Kecamatan Selomerto pada tahun 2019 masih banyak masalah terutama terkait dengan masalah terkendala pada keterlambatan pelaporan realisasi anggaran dana desa pada system open data desa Kabupaten Wonosobo. Kurangnya kesadaran pihak desa dalam melakukan kewajibannya membuat laporan realisasi anggaran secara tepat waktu dapat berdampak pada terlambatnya pengalokasian dana desa pada tahap berikutnya. Berikut daftar desa yang terlambat menyajikan laporan realisasi anggaran dana desa tahun 2019. Tabel 1.1 Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang Terlambat Tahun 2019 No. Nama Desa Total Anggaran Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 1. 2. Bumitirto Candi Rp. 1,289,395,321 Rp. 1,134,841,526 Tahun Anggaran : 2019 Jenis Laporan : Semester 1 Desa : Bumitirto, Selomerto. Dibuat pada WIB : Jumat, 20 Sep 2019 01:44 Tahun Anggaran : 2019 4 Jenis Laporan : Semester 2 Desa : Candi, Selomerto. Dibuat pada WIB : Jumat, 01 Feb 2019 01:49 Diperbarui pada Senin, 06 Jan 2020 03:27 WIB 3. Simbarejo Rp. 1,107,747,906 Tahun Anggaran : 2019 Jenis Laporan : Semester 1 Desa : Simbarejo, Selomerto. Dibuat pada : Kamis, 03 Okt 2019 23:00 WIB 4. Sidorejo Rp. 1,083,261,796 Tahun Anggaran : 2019 Jenis Laporan : Semester 1 Desa : Sidorejo, Selomerto. Dibuat pada : Senin, 02 Sep 2019 04:18 WIB 5. Plobangan Rp. 1,070,102,149 Tahun Anggaran : 2019 Jenis Laporan : Semester 2 Desa : Plobangan, Selomerto. Dibuat pada WIB : Senin, 24 Feb 2020 01:44 Sumber : www.opendatadesa.wonosobokab.go.id (2019) Dilihat dari tabel 1.1 5 desa di Kecamatan Selomerto belum melaksanakan prinsip akuntabilitas secara maksimal dalam pengelolaan dana desa yang dapat dilihat dari penyajian laporan realisasi dana desa yang telah melewati batas yang telah ditentukan dan penyerahan laporan 5 pertanggungjawaban pengelolaan keuangan dana desa setiap semester. Laporan realisasi penggunaan dana desa disampaikan kepada Bupati/Walikota setiap semester, sebagaimana tercantum dalam pada pasal 41 Permendagri 113/2014, disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berkenaan. Penyampaian laporan realisasi penggunaan dana desa dilakukan : a. Untuk semester I paling lambat minggu keempat bulan Juli tahun anggaran berjalan. b. Untuk semester II paling lambat minggu keempat bulan Januari tahun anggaran berikutnya. Berbagai faktor dapat mempengaruhi akuntabilitas keuangan dana desa. Salah satunya adalah kualitas laporan keuangan. Laporan keuangan dinilai berkualitas adalah laporan keuangan yang memenuhi empat karakteristik yaitu dapat dipahami (understandability), relevan (relevance), andal (reliability), dan dapat dibandingkan (comparability). Kualitas pelaporan keuangan yang memenuhi empat karakteristik dapat meningkatkan kredibilitasnya dan pada gilirannya akan dapat mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa (Fikrian, 2017). Hasil penelitian Kusumawardhani and Muanas (2020) menunjukkan bahwa kualitas laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. 6 Selain kualitas laporan keuangan, penyajian laporan keuangan juga dapat mempengaruhi akuntabilitas. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI, 2015), penyajian laporan keuangan merupakan suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja suatu entitas. Dengan kata lain, penyajian laporan keuangan adalah catatan tertulis yang menyampaikan kegiatan bisnis dan kinerja keuangan suatu perusahaan. Penyajian laporan keuangan oleh pemerintah pusat dan daerah dimaksudkan untuk mewujudkan good governance. Hasil penelitian Angelina (2016) menunjukkan bahwa penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. Ketidakmampuan laporan keuangan dalam melaksanakan akuntabilitas, tidak saja disebabkan karena laporan tahunan yang tidak memuat semua informasi relevan yang dibutuhkan para pengguna, akan tetapi juga karena laporan tersebut tidak dapat secara langsung tersedia dan aksesibel pada para pengguna potensial (Jones 1985 dan stecollini 2002, dalam Leverage, 2012). Aksesibilitas menurut perspektif tata ruang adalah keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau kemudahan seseorang atau kendaraan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman, serta kecepatan yang wajar. Aksesibilitas dalam laporan keuangan sebagai kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi laporan keuangan (Mulyana 2009, dalam Angelina, 2016). Hasil 7 penelitian Kusumawardhani and Muanas (2020) menunjukkan bahwa aksesbilitas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. Dalam mewujudkan akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa yang akuntabel perlu adanya integritas kepala desa dan aparat pemerintahan desa dalam melaksanakan kegiatan dan laporan kegiatan. Integritas dalam Kamus Besar Bahasa Iindonesia adalah suatu mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan satu kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Integritas sebagai suatu kesatuan diri yang merupakan konsisten pada komitmen yang telah ditentukan peraturan (Ardiani, 2019). Seseorang yang punya integritas yang tinggi maka orang tersebut semakin berkomitmen terhadap regulasi yang ada (Ubaidillah dan Arumsari, 2018). Hasil penelitian Susi Ardiani (2018) menunjukkan bahwa integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Fikrian (2017). Perbedaan penelitian Fikrian (2017) dengan penelitian ini adalah pada variabel independen yang diteliti. Pada penelitian ini ditambahkan variabel baru yaitu integritas. Alasan penambahan integritas sebagai variabel independen baru adalah jika seluruh lapisan pemerintahan desa mempunyai integritas yang baik, maka kewajiban pertanggungjawaban mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan hingga pelaporan kinerja 8 pemerintahan desa terkait pengelolaan dana desa akan dilaksanakan secara tertib, terkendali, serta efisien dan efektif, sehingga diharapkan laporan keuangannya akan lebih akuntabel. Penelitian ini mengambil lokasi pada Aparatur Pemerintahan Desa Kabupaten Wonosobo, sedangkan penelitian Fikrian (2010) mengambil lokasi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Pekanbaru. Alasan mengambil lokasi penelitian pada Aparatur Pemerintahan Desa Kabupaten Wonosobo karena di KabupatenWonosobo terdapat 5 desa dari 22 desa dan 2 kelurahan yang harus memperbaiki ketepatan waktu dalam penyerahan laporan realisasi anggaran dana desa guna meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana desa karena terlambat menyajikan laporan realisasi dana desa tahun 2019 kedalam system open data desa Kabupaten Wonosobo. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto yang kurang akuntabel, maka pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Apakah kualitas laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto? 2. Apakah penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto ? 9 3. Apakah aksesbilitas laporan keuangan berpengaruh positif akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto ? 4. Apakah integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto ? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk membuktikan pengaruh kualitas laporan keuangan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto. 2. Untuk membuktikan pengaruh penyajian laporan keuangan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto. 3. Untuk membuktikan pengaruh aksesbilitas laporan keuangan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto. 4. Untuk membuktikan pengaruh integritas terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah agar dapat lebih akuntabel dalam pengelolaan dana desa. Diharapkan dengan adanya akuntabilitas pada pengelolaan keuangan desa dapat memberikan dampak yang positif terhadap kinerja pemerintah dan dapat memberikan informasi tentang pentingnya akuntabilitas pengelolaan keuangan desa, sehingga aparatur pemerintahan desa dapat menunjukkan bahwa aparatur pemerintahan desa tersebut telah 10 mempertanggung jawabkan pengelolaan dana desa sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. 2. Manfaat Teoritis Hasil penelitian diharapkan dapat mengembangkan literatureliteratur akuntansi yang sudah ada, dan memperkuat penelitian sebelumnya yaitu berkaitan dengan akuntabilitas pengelolaan dana desa dan memberikan referensi kepada pihak lain yang tertarik dengan akuntabilitas dana desa. Dapat menjadi bahan perbandingan serta pengembangan lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya. BAB II TELAAH TEORI 2.1. Telaah Teori 2.1.1. Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa 11 Akuntabilitas dalam bahasa inggris biasa disebut accountability atau accountable yang artinya “dapat dipertanggungjawabkan”. Akuntabilitas (accountability) adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab, dan menerangkan kinerja serta tindakan seseorang badan hukum, pimpinan atau organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta kelerangan atau pertanggungjawaban (Waluyo, 2009). Menurut (Ubaidillah dan Arumsari, 2018) pengertian akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang (pimpinan, pejabat atau pelaksana) kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam mengelola keuangan dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik. Sedangkan menurut Miftahul (2017) Akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah kesediaan dari para pengelola dana desa untuk menerima tanggung jawab atas apa yang ditugaskan kepadanya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan dilaksanakan secara transparan dengan melibat- kan masyarakat. Mardiasmo, (2002) dalam Makalalag, (2017) menjabarkan akuntabilitas adalah kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan dan mengungkapkan segala aktivitasnya dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya 12 kepada pihak pemberi amnah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut. Menurut Lembaga Administrasi dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan RI (2000:12) dalam Kurnia, Sebrina, dan Halmawati (2019), akuntabilitas adalah kewajiban memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menjelaskan kinerja serta tindakan seseorang/pimpinan organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau yang berwewenang meminta pertanggungjawaban. Akuntabilitas pengelolaan keuangan merupakan pertanggungjawaban mengenai integritas keuangan, pengungkapan, dan ketaatan terhadap peraturan perundangan-undangan. Sasaran pertanggungjawaban ini adalah laporan keuangan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku mencakup penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang oleh instansi pemerintah (LAN dan BPKP, 2003). (Mardiasmo, 2002 dalam Kurnia, 2019) mengatakan akuntabilitas adalah prinsip pertanggungjawaban publik yang berarti bahwa proses penganggaran yang dimulai dari : a. Perencanaan pemerintah desa menyusun perencanaan pembangunan desa sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten/kota. b. Pelaksanaan belanja desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan yang disepakati dalam musyawarah desa dan sesuai 13 dengan prioritas pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi/kabupaten/kota. c. Penatausahaan keuangan desa adalah kegiatan pencatatan yang khususnya dilakukan oleh bendahara desa. Bendahara desa wajib melakukan pencatatan terhadap seluruh transaksi yang ada berupa penerimaan dan pengeluaran. d. Pelaporan dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya dalam pengelolaan keuangan desa, kepala desa memiliki kewajiban untuk menyampaikan laporan. Laporan tersebut bersifat periodik semesteran dan tahunan, yang disampaikan ke Bupati/Walikota dan ada juga yang disampaikan ke BPD. e. Pertanggungjawaban dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak dan kewajibannya dalam pengelolaan dana desa, kepala desa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan, kepala desa wajib membuat laporan realisasi penggunaan dana desa. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas pengelolaan keuangan merupakan pertanggungjawaban atas segala kegiatan pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pertanggungjawaban, serta pengawasan harus benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan. 2.1.2. Kualitas Laporan Keuangan 14 Kualitas laporan keuangan adalah penyajian laporan keuangan yang memiliki kriteria antara lain: kesesuaian dengan SAP, kecukupan pengungkapan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan efektifitas sistem pengendalian intern (Yuliani 2010, dalam Pratiwi, 2016). Laporan keuangan yang berkualitas merupakan salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas pengelolaan keuangan publik. Dengan demikian tidak adanya laporan keuangan berkualitas menunjukan lemahnya akuntabilitas (Hasanah 2020). Definisi kualitas menurut (Mulyana 2010, dalam Savira dan Suharsono, 2013) kualitas diartikan sebagai kesesuaian dengan standar, diukur berbasis kadar kesesuaian, serta dicapai melalui pemeriksaan. Laporan keuangan dapat dikatakan sebagai informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang berkualitas apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut disusun dengan baik, benar sesuai dengan prinsip akuntansi juga dapat dipahami oleh pemakai informasi. Sedangkan menurut (Defitri, 2016 dalam Savira dan Suharsono, 2013) kualitas laporan keuangan yaitu kemampuan menyajikan informasi laporan keuangan yang dapat dipahami, dan memenuhi kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material serta 15 dapat diandalkan sehingga laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Kualitas pelaporan keuangan dimaksud dapat meningkatkan kredibilitasnya dan pada gilirannya akan dapat mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan pemerintahan daerah. Kualitas pelaporan keuangan secara jelas dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang sekarang menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, bahwa kualitas pelaporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki jika memenuhi unsur kualitatif laporan keuangan (Dodi Fs Lumentu dan Sahmin Noholo, 2015 ). Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah daerah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu (Neli Sri Mulyati1, Eva Faridah, 2019) : 1. Relevan Laporan keuangan dikatakan relevan apabila informasi yang termuat didalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna 16 dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini dan memprediksi masa depan serta mengoreksi hasil evaluasi meraka di masa lalu. 2. Andal Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan, menyajikan fakta secara jujur, dan dapat diverifiakasi. 3. Dapat dibandingkan Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. 4. Dapat dipahami Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses kegiatan akuntansi yang mampu memberikan suatu informasi keuangan yang dapat dipahami oleh pemakai dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dimasa yang akan datang. 2.1.3. Penyajian Laporan Keuangan 17 Menurut (Halim dan Abdullah, 2008 dalam Fikrian, 2017) menyatakan bahwa penyajian laporan keuangan adalah salah satu pelaksanaan akuntabilitas pengelolaan keuangan publik dengan menyajikan segala bentuk transaksi ke dalam laporan keuangan yang diambil dari seluruh proses yang dilakukan sampai dengan dibuatnya neraca lajur. Data yang diproses berdasarkan neraca lajur itulah digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan (Wardana, 2016). Menurut Ayu Ayuning (2019) penyajian laporan keuangan adalah penyajian informasi keuangan pemerintah daerah yang memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan yang berdasarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010. Berdasarkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenasi posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil operasi, dan perubahan ekuitas suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya (Miftahul, 2017). 18 (BPKP 2015, dalam Wardana, 2016) menyatakan laporan keuangan yang harus dibuat oleh pemerintah desa antara lain : 1. Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa. 2. Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa. 3. Laporan Realisasi Penggunaan Dana Desa. 4. Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa. Penyajian laporan keuangan merupakan hal yang sangat penting. Pengungkapan atas informasi ini merupakan suatu elemen dasar dari transparansi dan akuntabilitas. Entitas pelaporan menyajikan informasi untuk membantu para pengguna dalam memperkirakan hasil operasi entitas dan pengelolaan aset, seperti halnya dalam pembuatan dan evaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya ekonomi (Salomi J. Hehanussa, 2015). Menurut (Diamond 2002, dalam Salomi J. Hehanussa, 2015), informasi keuangan di dalam laporan keuangan dapat memberikan manfaat yaitu: 1. Meningkatkan akuntabilitas para manajer (kepala daerah dan para pejabat pemda) untuk tidak saja bertanggung jawab pada kas masuk dan kas keluar, tetapi juga pada aset dan utang yang dikelola; 2. Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah. 19 3. Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban; 4. Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Tujuan Penyajian Laporan Keuangan Menurut Nordiawan dalam Superdi (2017), tujuan penyajian laporan keuangan adalah: a). Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran b). Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan c). Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan d). Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. e). Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporanberkaitan dengan sumbersumber penerimaannya f). Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan. Dari pengertian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa penyajian laporan keuangan daerah adalah bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara dan daerah 20 mengenai laporan posisi keuangan dan transaksi- transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan malalui penyajian laporan keuangan. Sehingga pemerintah dituntut untuk mampu menyajikan laporan keuangan yang secara wajar dan diungkap secara lengkap agar laporan keuangan yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan sehingga terciptalah transparansi dan akuntabilitas suatu laporan keuangan sesuai harapan. 2.1.4. Aksesbilitas Laporan Keuangan Rohman (2009) mengemukakan bahwa dalam Savira dan Suharsono (2013) aksesibilitas dalam perspektif tata ruang adalah keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau kemudahan seseorang atau kendaraan bergerak serta dari untuk suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman, kecepatan yang wajar. Menurut Mulyana (2006) mengemukakan bahwa aksesibilitas dalam laporan keuangan sebagai kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi laporan keuangan. Aksesibilitas adalah memberikan kemudahan akses bagi para pengguna laporan keuangan tidak hanya kepada lembaga dan badan pengawasan tetapi juga kepada masyarakat yang memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk mengelola dana desa (Sarah Hasibuan, 2020). Kemudahan akses yang diberikan oleh pemerintah akan menguntungkan masyarakat dan juga orang-orang yang 21 mempunyai kepentingan untuk mengambil data yang sudah disediakan dan juga akan digunakan sebagaimana mestinya (Musdalifah, 2020). Menurut (Permendagri 113 dalam Wardana, 2016) laporan keuangan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi atau pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah wajib diinformasikan secara tertulis kepada menggunakan media yang mudah diakses masyarakat dengan masyarakat. Dalam demokrasi yang terbuka, akses ini tersedia di berbagai media, seperti surat kabar, majalah, stasiun televisi, dan internet (Salomi J. Hehanussa, 2015). Dari pengertian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa aksesibilitas merupakan kemudahan berbagai pihak pengguna laporan keuangan untuk mengetahui informasi keuangan daerah. Aksesibilitas laporan keuangan daerah yang baik akan mewujudkan komunikasi yang baik pula antara publik dan pemerintah. Proses inilah yang mendukung penggunaan informasi keuangan daerah yang efektif. 2.1.5. Integritas Secara bahasa integritas atau integrity berarti keutuhan, kebulatan, kejujuran, kesamaan antara hati, ucapan, dan tindakan. Integritas erat kaitannya dengan moral dan etika. Sementara menurut Hay Consultant, integritas adalah konsistensi antara tindakan yang diyakini seseorang. Mengungkapkan maksut, gagasan dan perasaannya 22 secara terbuka dan langsung juga menghargai keterbukaan dan kejujuran orang lain, bahkan dalam situasi sulit sekalipun (Ir Dhianingwulan, 2019). Faktor pembentuk integritas yang manjadi landasan pengembang alat ukur integritas dalam penelitian berasal dari konsep yang dikemukanan oleh psikologi humanistic Rogers (1961) adalah : 1. Jujur Individu dikatakan jujur apabila menerima dan mampu bertanggung jawab atas perasaaan serta perilaku sebagaimana adanya. Meski memegang erat prinsip kejujuran, namun dalam situasi yang penuh tipu muslihat dan harus menghadapi orang yang tidak jujurm individu yang memiliki integritas tinggi akan bertindak dan menegur dengan mempertimbangkan berbagai hal serta tidak menyakiti. 2. Teguh Teguh artinya tidak menyalahi prinsip dalam menjalankan kewajiban, tidak dapat disuap atau diajak melakukan perbuatan curang meskipun ada godaan materi atau dorongan dari orang lain. 3. Memiliki self-control yang kuat Self-control didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam mengontrol atau memantau respon agar sesuai dengan tujuan hidup dan standar moral yang dimiliki. Untuk bisa memperlakukan orang 23 lain, bahkan orang yang sesungguhnya tidak disukai secara baik, individu harus memiliki self- control yang kuat. 4. Memiliki self-esteem yang tinggi Self-esteem adalah kepercayaan bahwa individu mampu berpelaku sesuai dengan moral keyakinan. Dengan bersandar pada beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa esensi integritas adalah kejujuran, ketulusan, dan kesediaan memegang teguh standar moral yang tinggi. Integritas ditunjukkan oleh kesesuaian antara nilai-nilai yang dipegang dan kebiasaan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan dan kesesuaian antara ungkapan dan perasaan. 2.2. Review Penelitian Sebelumnya Tabel 2.1 Review Penelitian Sebelumnya No. Nama Judul Penelitian Peneliti 1. Sampel Alat Variabel Hasil Penelitian Analisis Independen Penelitian Penyajian berpengaruh Rahma, Pengaruh Penyajian, Bappeda Regresi Dkk Aksebilitas Laporan Kabupaten Linier (2020) Keuangan Berganda Bappeda Pinrang Terhadap Transparansi positif Aksebilitas berpengaruh positif Pengelolaan 24 Keuangan Kabupaten Pinrang 2. Ardiani Pengaruh Integritas Kepala Desa, Regresi (2019) Terhadap Sekretaris Akuntabilitas Desa, Pengelolaan Keuangan Keuangan Dana Desa Dan (Studi Kasus Integritas berpengaruh Tata Kelola berpengaruh Linier Kaur Berganda Badan Di Permusyawar Kecamatan atan Desa Di Rambutan 19 Kabupaten Yang Ada Di Banyuasin). Kecamatan Desa Rambutan Di Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan Yang Berjumlah 76 Orang 3. Ubaidilla h, Tata 122 SEM Dkk Kelola Dan Integritas Responden (2018) 4. Pengaruh positif Terhadap Atau Desa Akuntabilitas Dari 18 Pengelolaan Dana Kecamatan Desa Kabupaten Moh. Magetan. Rahayu, The Effect Of The 54 Dkk Presentation (2018) Financial Integritas berpengaruh positif Orang Regresi Of Pegawai Linier Statment Yang Terdiri Berganda Presentation Of berpengaruh Financial positif Statement 25 And Accessibility Dari Kepala Financial Statment Bagian, Accessibility On Regional Bendahara Financial berpengaruh Statment positif Regresi Kualitas berpenga ruh Linier Laporan Berganda Keuangan Financial Bagian, Management Keseluruhan Accountability Pegawai (Case Bagian Umum, Dan Kepala Sub Bagian Di Sekretariat Daerah Kota Mataram Sebagai Sampel Dalam Penelitian Ini. 5. (Fikrian, Pengaruh 2017) Laporan Kualitas Kepala Keuangan, SKPD, Penyajian Laporan Kepala Keuangan Dan Bagian Aksesibilitas Laporan Penyajian Keuangan Keuangan Dan Kepala Laporan Keuangan Terhadap Bagian Aksesibilitas Akuntabilitas Perencanaan Laporan Pengelolaan Dari Keuangan Keuangan Daerah SKPD Yang Setiap berpenga ruh berpenga ruh Terdapat Di Kota5Pekanb aru, 26 Sehingga Total Responden Sebanyak 96 6. Lumentut Pengaruh ,Dkk (2015) Kualitas Aparat Regresi Kualitas berpengaruh Pelaporan Keuangan Pengawas Linier Pelaporan positif Terhadap Intrn Berganda Keuangan Akuntabilitas Pemerintah Pemerintah Kota Daerah Yang Ada Gorontalo Pada (Studi Kasus Pada Inspektorat Inspektorat Kota Kota Gorontalo) Gorontalo Yaitu Sebanyak 55 Orang 7. Sumiyati Pengaruh Penyajian 30 (2015) Laporan Keuangan Kabupaten Daerah Linier Dan Rokan Hilir Berganda Aksesibilitas 8. SKPD Regresi Dikalikan 4 Laporan Keuangan Orang Yang Daerah Terhadap Menjadi Penyajian berpengaruh Laporan positif Keuangan Daerah berpengaruh Aksesibilitas Akuntabilitas Responden Laporan Pengelolaan Di Keuangan Keuangan Daerah ( SKPD Christy Pengaruh Penyajian Kepala Natalia Laporan Lewiir Daerah (2012) Aksesibilitas Setiap Keuangan SKPD Regresi , Linier Dan Sekretaris Berganda positif Penyajian berpengaruh Laporan positif Keuangan Pada SKPD, Laporan Keuangan Kepala Aksesibilitas berpengaruh Daerah Terhadap Bidang, Laporan positif 27 Akuntabilitas Kepala Pengelolaan Bidang, Keuangan Sub Keuangan Daerah Kepala Kabupaten Klaten Bagian, Kepala Sub Bagian. Sumber : Kumpulan beberapa jurnal yang diolah, 2020 2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Hipotesis Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel independen dan variable dependen. Variabel independen meliputi kualitas laporan keuangan, penyajian laporan keuangan, aksesbilitas laporan keuangan, dan integritas. Variabel dependennya adalah akuntabilitas pengelolaan dana desa. (LAN dan BPKP, 2000 dalam Hasanah, 2020) mengemukakan bahwa akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah “kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja aparatur desa kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk mempertanggungjawabkan.” Menurut Setiawan dkk. (2017), pada dasarnya akuntabilitas merupakan pemberian informasi dan pengungkapan atas aktifitas dan kinerja keuangan pemerintah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. 28 2.3.1 Pengaruh Kualitas Laporan Keuangan terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Dana Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 dalam Savira & Suharsono (2013) laporan keuangan dikatakan berkualitas apabila informasi yang dihasilkan dapat mendukung pengambilan keputusan dan mudah dipahami oleh para pemakai. Menurut Hasanah (2020) laporan keuangan yang berkualitas merupakan salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Semakin berkualitas laporan keuangan maka akuntabilitas pengelolaan keuangan desa akan semakin baik. Sebaliknya jika laporan keuangan tidak berkualitas, maka akan terjadi penurunan dalam Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa. Hasil penelitian Fikrian (2017) Kualitas laporan keuangan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Semakin berkualitas laporan keuangan maka akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah akan semakin baik. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Dodi Fs Lumentu, Sahmin Noholo, 2015) menunjukkan bahwa kualitas laporan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas. Laporan keuangan yang berkualitas merupakan salah satu bentuk atau 29 pertanggungjawaban pemerintah dalam melaksanakan akuntabilitas. Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa dengan adanya laporan keuangan yang berkualitas merupakan salah satu bentuk mekanisme pertanggungjawaban (akuntabilitas) dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan laporan keuangan pemerintah daerah perlu dilengkapi dengan pengungkapan yang memadai mengenai informasi-informasi yang dapat mempengaruhi keputusan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : H2 : Kualitas Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap pengelolaan keuangan dana desa, 2.3.2 Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Dana Penyajian laporan keuangan merupakan faktor penting untuk menciptakan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Pemerintah harus bisa menyusun laporan keuangan sesuai standar akuntansi yang diterima umum dan memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan. Penyajian informasi yang utuh dalam 30 laporan keuangan akan menciptakan transparansi dan nantinya akan mewujudkan akuntabilitas (Nordiawan, 2010). Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahma dan Maryadi (2020) penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. Artinya bahwa dengan meningkatnya penyajian keuangan daerah maka akan diikuti dengan peningkatan akuntabilitas pengelolaan keuangan akan menjadi semakin baik. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Christy Natalia Lewiir (2012) menunjukkan bahwa penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. Semakin baik penyajian laporan keuangan pemerintah maka akan berimplikasi terhadap peningkatan terwujudnya akuntabilitas pengelolaan keuangan. Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apabila penyajian laporan keuangan daerah semakin disusun secara lengkap, semakin dapat diselesaikan tepat waktu, semakin menyediakan informasi yang dapat mengoreksi aktifitas keuangan di masa lalu, semakin jujur transaksi yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan, semakin dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam penyusunan anggaran tahun berikutnya, serta semakin dapat dipahami oleh pengguna karena dinyatakan dalam bentuk 31 serta istilah yang disesuaikan dengan batas kemampuan pengguna, maka akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah cenderung semakin baik pula, begitu sebaliknya maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : H2 : Penyajian Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa. 2.3.3 Pengaruh Aksesbilitas Laporan Keuangan terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Dana Pemerintah harus memberikan kemudahan akses bagi para pengguna laporan keuangan. Apalah artinya menyajikan laporan keuangan dengan baik tapi tidak memberikan kemudahan akses bagi para pengguna laporan keuangan, maka usaha untuk menciptakan akuntabilitas pengelolaan keuangan desa tidak akan berjalan dengan baik. Pemerintah harus mampu memberikan kemudahan akses bagi para pengguna laporan keuangan, tidak hanya kepada lembaga dan badan pengawasan tetapi juga kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepada pemerintah desa untuk mengelola dana publik (Christy Natalia Lewiir, 2012). Dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kurniawan dan Rahayu (2019) aksesibilitas laporan keuangan secara berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. 32 Diperkuat dengan penelitian Sumiyati (2015) menemukan bahwa variabel aksesibilitas laporan keuangan daerah berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan. Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa terciptanya akuntabilitas pengelolaan keuangan desa tergantung kepada akses publik terhadap laporan keuangan yang dapat dibaca dan dipahami dapat diakses melalui media seperti surat kabar, majalah, radio, stasiun televisi dan website, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : H3 : Aksesbilitas Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa. 2.3.4 Pengaruh Integritas terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian dari Ardiani (2019) integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa. Sejalan dengan penelitian (Ubaidillah dan Arumsari, 2018) berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa. Dari uraian di atas dapat di simpulkan dalam mewujudkan akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa yang akuntabel perlu adanya integritas di kepala desa dan aparat pemerintahan desa dalam melaksanakan kegiatan dan laporan kegiatan. 33 Integritas sebagai suatu kesatuan diri yang merupakan konsisten pada komitmen yang telah ditentukan paraturan. Komitmen perasaan, mencerminkan logika, tindakan prinsip, dan motivasi, regulasi. keyakinan, Maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : H3 : Integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa. Untuk menjelaskan hipotesis di atas, peneliti menggambarkan model penelitian sebagai berikut : Gambar 2.1 Model Penelitian Kualitas Laporan Keuangan (X1) 34 Penyajian Laporan Keuangan (X2) Aksresbilitas Laporan Keuangan (X3) Akuntanbilitas Pengelolaan Dana Desa (Y) Integritas (X4) 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah di tetapkan (Sugiyono, 2009). 3.2. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 3.2.1. Populasi Sugiyono (2001) mendefinisikaan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah semua desa di Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo yang berjumlah 22 desa dan 2 kelurahan. 3.2.2. Sampel Sampel adalah subset dari populasi, terdiri dari beberapa anggota populasi (Ferdinand, 2006). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling yaitu metode 36 yang dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi berdasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto, 2012). Sampel dalam penelitian ini adalah pegawai di 5 desa di Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo dengan kriteria : 1. Kepala Desa 2. Sekertaris Desa 3. Kepala Seksi 4. Kepala Umum 5. Kepala Dusun Alasan pemilihan sampel di karekan kepala desa dan aparatur desa adalah pengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 3.3. Jenis dan Sumber Data 3.3.1. Jenis Data Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka-angka (Sugiyono, 2012). Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah jawaban dari kuesioner yang dibagikan kepada responden. 3.3.2. Sumber Data 37 Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang merupakan data yang berasal dari sumber asli ataupun pertama (Sarwono, 2006). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari pengisian kuesioner yang diisi langsung oleh responden. Responden adalah orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan penelitian baik peranyaan tertulis maupun lisan (Arikunto, 2003). Responden dalam penelitian ini kepala desa, sekretaris desa dan bendahara desa. 3.4. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah dengan menggunakan angket / kuesioner. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2008). Alasan menggunakan metode ini adalah bahwa subyek penelitian merupakan orang yang paling tahu tentang dirinya, dan pernyataan subyek yang diberikan adalah benar dan dapat dipercaya. Jawaban atas daftar pertanyaan yang harus diisi oleh responden dibuat dengan menggunakan skala likert 5 poin (Prasetyo & Jannah, 2006). 3.5. Variabel Penelitian 38 Menurut Sugiyono (2012) variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat nilai dari orang, objyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan pokok permasalahan yang telah dirumuskan di atas, maka variabel - variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Variabel terikat atau dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengelolaan keuangan dana desa. 2. Variabel bebas atau independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono, 2012). Variabel independen dalam penelitian ini adalah sistem keuangan desa (siskeudes), transparansi, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat. 3.6. Definisi dan Pengukuran Variabel 3.6.1. Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa (Y) Menurut (Ubaidillah dan Arumsari, 2018) pengertian akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang (pimpinan, pejabat atau pelaksana) kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta 39 keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam mengelola keuangan dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik. Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari penelitian Lianto (2018) yang terdiri atas 5 pertanyaan dan disusun berdasarkan 5 indikator dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat setuju). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Penatausahaan 4. Pelaporan 5. Pertanggungjawaban 3.6.2. Kualitas Laporan Keuangan (X1) Menurut Defitri (2013) dalam Savira dan Suharsono (2016) kualitas laporan keuangan yaitu kemampuan menyajikan informasi laporan keuangan yang dapat dipahami, dan memenuhi kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan sehingga laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari 40 penelitian Nugroho (2018) yang terdiri atas 4 pertanyaan dan disusun berdasarkan 4 indikator. Indikator yang digunakan dalampenelitian ini adalah : 1. Relevan 2. Andal 3. Dapat dibandingkan 4. Dapat dipahami 3.6.3. Penyajian Laporan Keuangan (X2) Penyajian laporan keuangan yaitu suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas (Salomi J. Hehanussa, 2015). Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari penelitian Rizky (2015) yang terdiri atas 7 pertanyaan dan disusun berdasarkan 7 indikator dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat setuju). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Memiliki Manfaat umpan balik 2. Memiliki manfaat prediktif 3. Tepat waktu 41 4. Lengkap 5. Penyajian jujur 6. Dapat diverifikasi 7. Dapat dipahami penggunaanya 3.6.4. Aksesbilitas (X3) Aksesibilitas adalah memberikan kemudahan akses bagi para pengguna laporan keuangan tidak hanya kepada lembaga dan badan pengawasan tetapi juga kepada masyarakat yang memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk mengelola dana desa (Sarah Hasibuan, 2020). Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari penelitian Ibnu Wardana (2016) yang terdiri atas 3 pertanyaan dan disusun berdasarkan 3 indikator dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat setuju). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1). Terbuka di media massa 2). Mudah diakses 3). Ketersediaan informasi 42 3.6.5. Integritas (X4) Menurut Development Dimensions Internasional (DID), integritas adalah menerima norma norma sosial, moral, dan organisasional; memegang teguh prinsip – prinsip moral (Ir Dhianingwulan, 2019). Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari penelitian Hapsari (2018) yang terdiri atas 4 pertanyaan dan disusun berdasarkan 4 indikator dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat setuju). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Kejujuran sumber daya manusia 2. Keberanian sumber daya manusia 3. Sumber daya manusia bersikap bijaksana 4. Sumber daya manusia bertanggung jawab atas tugasnya 3.7. Tehnik Analisis Data 3.7.1. Uji Statistik Deskriptif Statistik deskriptif memberi gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, minimum, dan range (Ghozali, 2016). 43 3.7.2. Uji Kualitas Data 3.7.2.1. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Jadi validitas ingin mengukur apakah pertanyaan dalam kuesioner yang sudah kita buat betul betul dapat mengukur apa yang hendak kita ukur (Ghozali, 2016). Pengujian validitas yang digunakan adalah Corelasi Pearson. Signifikansi Corelasi Pearson yang dipakai dalam penelitian ini adalah 0,05. Apabila nilai signifikansinya < 0,05 maka butir pertanyaan tersebut valid dan apabila nilai signifikansinya > 0,05, maka butir pertanyaan tersebut tidak valid (Ghozali, 2016). 3.7.2.2. Uji Reliabilitas Ghozali (2016) menyatakan bahwa reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Shot atau pengukuran sekali saja, dimana pengukurannya hanya sekali 44 dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Reliabilitas diukur dengan uji statistik Cronbach Alpha. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,70 (Nunnally, 1994 dalam Ghozali, 2016). 3.7.3. Uji Asumsi Klasik 3.7.3.1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik (Ghozali, 2016). Pengujian normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji KolmogorovSmirnov. Apabila data hasil perhitungan one-sample Kolmogorov-Smirnov menghasilkan nilai diatas 0,05, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sebaliknya, apabila data hasil perhitungan one-sample KolmogorovSmirnov menghasilkan nilai dibawah 0,05, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2016). 3.7.3.2. Uji Multikolonieritas 45 Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2016). Dalam penelitian ini, multikolonieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor (VIF). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10 (Ghozali, 2016). 3.7.3.3. Uji Heterokedastisitas Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homokedastisitas atau tidak terjadi Heterokedastisitas (Ghozali, 2016). Pengujian heterokedastisitas yang digunakan 46 dalam penelitian ini menggunakan uji glejser, yaitu dengan meregresikan variabel independen terhadap nilai absolut residual. Dasar pengambilan keputusan dalam uji glejser yang dilakukan adalah: a. Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar dari 0,05 maka tidak terjadi gejala heterokedastisitas dalam model regresi b. Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil dari 0,05 maka terjadi gejala heterokedastisitas dalam model regresi. 3.7.3.4. Goodness of Fit Model (Uji F) Nilai F hitung digunakan untuk menguji ketepatan model atau goodness of fit apakah model persamaan yang terbentuk masuk dalam kriteria cocok (fit) atau tidak. Uji F ini sering juga disebut sebagai uji simultan, yaitu untuk menguji apakah variabel bebas yang digunakan dalam model mampu menjelaskan perubahan nilai variabel tergantung atau tidak. Untuk menyimpulkan apakah model masuk dalam kategori cocok (fit) atau tidak, kita harus membandingkan F hitung dengan F tabel. Jika nilai F hitung > nilai F tabel, maka dapat disimpulkan bahwa model persamaan regresi yang terbentuk masuk kriteria cocok atau fit (Suliyanto, 2011). Bisa juga dihitung dengan menggunakan tingkat signifikansi. Jika tingkat 47 signifikansi < 0,05 maka model persamaan regresi yang terbentuk masuk kriteria cocok atau fit. 3.7.3.5. Uji Hipotesis Model yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda .Persamaannya adalah sebagai berikut : Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4+ β5X5+ β6X6+e Keterangan : Y : Transparansi laporan keuangan α : Nilai konstan β : Koefsien arah regresi X1 : Unsur Lingkungan Pengendalian X2 : Unsur Penilaian Resiko X3 : Unsur Kegiatan Pengendalian X4 : Unsur Informasi dan Komunikasi X5 : Unsur Pemantauan X6 : Aksesibilitas Laporan Keuangan E : Erorr Jika koefisien regresi (β1,β2,β3,β4) signifikan dan positif, berarti bahwa tekanan eksternal, komitmen pimpinan, faktor 48 politik dan pengendalian internal memiliki pengaruh positif terhadap transparansi laporan keuangan. Pengujian hipotesis dengan menggunakan tingkat signifikan 0,05. jika nilai signifikansi < 0,05, maka hipotesis diterima, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual dan signifikan mempengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2016). 3.7.3.6. Koefisien Determinasi (R²) Uji Koefisien Determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi antara nol sampai dengan satu. Jika hasil menunjukkan bahwa nilai R² semakin kecil, maka semakin rendah tingkat kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Namun sebaliknya, tingkat kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen semakin tinggi apabila nilai R² semakin besar (Ghozali, 2016). 49 Daftar Pustaka Ardiani, S. (2019). Pengaruh Integritas Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Dana Desa ( Studi Kasus Di Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin ). 3. Christy Natalia Lewiir, C. H. K. (2012). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAERAH DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN DAERAH TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN KLATEN. The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research Methods, 1–14. https://doi.org/10.4135/9781412963909.n349 Dodi Fs Lumentu, Sahmin Noholo, A. L. (2015). Pengaruh kualitas pelaporan keuangan terhadap akuntabilitas pemerintah daerah kota gorontalo (studi kasus pada inspektorat kota gorontalo). Fikrian, H. (2017). PENGARUH KUALITAS LAPORAN KEUANGAN, PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. JOMFekom, 4(1), 256–279. https://media.neliti.com/media/publications/125589-ID-analisis-dampakpemekaran-daerah-ditinja.pdf Hasanah, S., Nurhayati, E., & Purnama, D. (2020). Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa: Studi Pada Pemerintah Desa di Kecamatan Cibeureum Kabupaten Kuningan. Reviu Akuntansi Dan Bisnis Indonesia, 4(1), 17–27. https://doi.org/10.18196/rab.040149 IR DHIANINGWULAN. (2019). Bab Ii Landasan Teori. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 8–24. Kurnia, R., Sebrina, N., & Halmawati. (2019). Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa 50 (Studi Kasus pada Desa-Desa di Wilayah Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat). Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 1(1), 159–180. Kurniawan, D., & Rahayu, S. (2019). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. 6(1), 705–714. Makalalag, A. J., Nangoi, G. B., & Karamoy, H. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa di Kecamatan Kotamobagu Selatan Kota Kotamobagu. Jurnal Riset Akuntansi Dan Auditing “Goodwill,” 8(1). https://doi.org/10.35800/jjs.v8i1.15334 Miftahul, fauziyah R. (2017). Pengaruh Penyajian dan Aksesibilitas Laporan Keuangan Daerah Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699. Musdalifah. (2020). PENGARUH PERAN PERANGKAT DESA, AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN DAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DESA TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DI KECAMATAN TEMON Disusun. 1–20. Mustofa, A. I. (2012). Accounting Analysis Journal. Accounting Analysis Journal, 1(1), 264–272. Nafidah, L. N., & Anisa, N. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa di Kabupaten Jombang. Akuntabilitas, 10(2), 273–288. https://doi.org/10.15408/akt.v10i2.5936 Neli Sri Mulyati1, Eva Faridah, B. P. (2019). Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Jurnal SIKAP (Sistem Informasi, Keuangan, Auditing Dan Perpajakan), 1(1), 60–71. https://doi.org/10.32897/sikap.v2i1.64 51 Ngakil, I., & Kaukab, M. E. (2020). Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa di Kabupaten Wonosobo. Journal of Economic, Management, Accounting and Technology, 3(2), 92–107. https://doi.org/10.32500/jematech.v3i2.1283 Pratiwi, L. S. W. I. R. D. (2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laporan. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 20(2), 179–191. Priharjanto, A. N. A. (2020). Pengaruh Kualitas Laporan Keuangan, Kapasitas Sumber Daya Manusia, dan Aksesibilitas terhadap Pemanfaatan Laporan Keuangan. Jurnal Ilmiah Akuntansi Kesatuan, 13(1), 39–53. https://doi.org/10.37641/jiakes.v8i2.372 Rahma A, Maryadi, H. S. W. (2020). JPENGARUH PENYAJIAN, AKSEBILITAS LAPORAN KEUANGAN BAPPEDA TERHADAP TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN KABUPATEN PINRANG. 1(1), 106–117. Salomi J. Hehanussa. (2015). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAERAH DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN DAERAH TERHADAP TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KOTA AMBON. Journal of Chemical Information and Modeling, 02(01), 82–90. Sarah Hasibuan, N. (2020). Pengaruh Penyajian Laporan Pertanggungjawaban Dan Aksesibilitas Terhadap Transparansi Dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana Di Desa Sialang Rindang Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu. 8(2). Savira, F., & Suharsono, Y. (2013). faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Journal of Chemical Information and Modeling, 01(01), 1689–1699. Setyanto, Eko. Ritchi, H. (2018). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI 52 AKUNTABILITAS KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH (Survey atas Kompetensi Aparatur, Kualitas Software SIA Penerapan SPI dan Penerapan SAP pada Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten di Provinsi Jawa Barat) Eko. Ilmiah Akuntansi, 9(1), 51–69. Sumiyati, S. (2015). Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan Daerah dan Aksesibilitas Laporan Keuangan Daerah terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah ( Studi pada Skpd Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir). Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau, 2(2), 34008. Superdi. (2017). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN, AKSESIBILITAS DAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH (studi empiris pada satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Sijunjung). JOMFekom, 4(1), 2015–2028. Ubaidillah, M., & Arumsari, D. (2018). Pengaruh tata kelola dan integritas terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa. Hasil Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA, 271–277. Wardana, I. (2016). Akuntabilitas Dalam Pengelolaan Keuangan Desa (Studi Pada Pemerintah Desa di Kabupaten Magelang). Jurnal Akuntansi, 1979, 1–10. 53