Uploaded by common.user85832

PROPOSAL SKIRPSI

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asalusul, dan hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintah
Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UU Nomor
6 Tahun 2014
tentang Desa (Nafidah dan Anisa, 2017) . Lahirnya Undang-Undang Nomor 6
Tahun 2014 tentang Desa yang mengemban paradigma dan konsep baru
kebijakan tata kelola desa secara nasional. Undang-undang tentang desa telah
memberikan kesempatan yang besar bagi desa untuk mengurus tata
pemerintahannya sendiri serta pelaksanaan pembangunan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang
Pengelolaa Keuangan Desa mengatakan Dana Desa adalah dana yang
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukan
bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
kabupaten/kota
dan
digunakan
untuk
membiayai
penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan masyarakat, dan
pemberdayaan masyarakat. Pemerintah menganggarkan Dana Desa secara
1
nasional dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahun. Dana
Desa bersumber dari belanja pemerintah dengan mengefektifkan program
yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan (Kurnia, 2019).
Pemerintah desa diharapkan untuk lebih mandiri dalam mengelola
pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk
didalamnya kewenangan dalam pengelolaan keuangan desa (Hasanah, 2020).
Pemerintahan yang baik mengandung prinsip profesionalisme, akuntabilitas,
transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, keefektifan dan supremasi
hukum Peraturan Pemerintah No. 101 tahun 2000 (Setyanto, 2018).
Dalam mewujudkan pemerintahan yang baik salah satunya harus
akuntabel dalam mengelola keuangan. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk
memberikan pertanggungjawaban ataumenjawab dan menerangkan kinerja
dan tindakan seseorang, badan hukum dan pimpinan organisasi kepada pihak
yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau
pertanggungjawaban (Adisasmita, 2011 dalam Ngakil dan M. Elvan Kaukab,
2020). Selanjutnya, dalam Sedarmayanti (2009), akuntabilitas yakni adanya
pembatasan dan pertanggungjawaban tugas yang jelas. Akuntabilitas dalam
pemerintah desa sangat penting karena merupakan salah satu bentuk media
pertanggungjawaban pemerintah desa sebagai entitas yang mengelola dana
desa (Hasanah et al., 2020).
Akuntabilitas pada dasarnya adalah bentuk kewajiban pemberian
informasi dan pengungkapan atas aktivitas dan kinerja keuangan pemerintah
2
kepada pihak-pihak yang berwenang melalui media pertanggungjawaban
secara periodik (Setiawan dkk, 2017 dalam Hasanah, Nurhayati, dan Purnama
2020). Salah satu jenis akuntabilitas yang perlu diperhatikan adalah
akuntabilitas keuangan. Dan instrumen terpenting dari akuntabilitas keuangan
adalah
dimana
laporan
pertanggungjawaban
keuangan
pemerintah
mencerminkan bentuk akuntabilitas (Setyanto dan Eko. Ritchi, 2018).
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang
Perubahan Pengelolaan Keuangan Desa yang sebelumnya diatur dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 menyebutkan
bahwa pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban
keuangan desa.
Berdasarkan UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 3
ayat (1) mengenai ketentuan pengelolaan keuangan negara dinyatakan bahwa
pada prinsipnya pengelolaan keuangan negara oleh pemerintah (pusat dan
daerah) harus dikelola secara tertib taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggungjawab dengan
memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Ketentuan pengelolaan keuangan
negara sebagaimana dimaksud adalah mencakup keseluruhan kegiatan
perencanaan, penguasaan, penggunaan, pengawasan dan pertanggungjawaban
untuk menciptakan akuntabilitas pengelolaan keuangan (Mustofa, 2012).
3
Fenomena yang terkait dengan akuntabilitas pengelolaan keuangan
dana desa di Kecamatan Selomerto pada tahun 2019 masih banyak masalah
terutama terkait dengan masalah terkendala pada keterlambatan pelaporan
realisasi anggaran dana desa pada system open data desa Kabupaten
Wonosobo. Kurangnya kesadaran pihak desa dalam melakukan kewajibannya
membuat laporan realisasi anggaran secara tepat waktu dapat berdampak pada
terlambatnya pengalokasian dana desa pada tahap berikutnya. Berikut daftar
desa yang terlambat menyajikan laporan realisasi anggaran dana desa tahun
2019.
Tabel 1.1
Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
Terlambat
Tahun 2019
No.
Nama Desa
Total Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara
1.
2.
Bumitirto
Candi
Rp. 1,289,395,321
Rp. 1,134,841,526
Tahun Anggaran : 2019
Jenis Laporan
: Semester 1
Desa
: Bumitirto, Selomerto.
Dibuat pada
WIB
: Jumat, 20 Sep 2019 01:44
Tahun Anggaran : 2019
4
Jenis Laporan
: Semester 2
Desa
: Candi, Selomerto.
Dibuat pada
WIB
: Jumat, 01 Feb 2019 01:49
Diperbarui pada Senin, 06 Jan 2020 03:27 WIB
3.
Simbarejo
Rp. 1,107,747,906
Tahun Anggaran : 2019
Jenis Laporan
: Semester 1
Desa
: Simbarejo, Selomerto.
Dibuat pada
: Kamis, 03 Okt 2019 23:00
WIB
4.
Sidorejo
Rp. 1,083,261,796
Tahun Anggaran : 2019
Jenis Laporan
: Semester 1
Desa
: Sidorejo, Selomerto.
Dibuat pada
: Senin, 02 Sep 2019 04:18
WIB
5.
Plobangan
Rp. 1,070,102,149
Tahun Anggaran : 2019
Jenis Laporan
: Semester 2
Desa
: Plobangan, Selomerto.
Dibuat pada
WIB
: Senin, 24 Feb 2020 01:44
Sumber : www.opendatadesa.wonosobokab.go.id (2019)
Dilihat dari tabel 1.1 5 desa di Kecamatan Selomerto belum
melaksanakan prinsip akuntabilitas secara maksimal dalam pengelolaan dana
desa yang dapat dilihat dari penyajian laporan realisasi dana desa yang telah
melewati
batas
yang
telah
ditentukan
dan
penyerahan
laporan
5
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan dana desa setiap semester.
Laporan
realisasi
penggunaan
dana
desa
disampaikan
kepada
Bupati/Walikota setiap semester, sebagaimana tercantum dalam pada pasal
41 Permendagri 113/2014, disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah
tahun anggaran berkenaan. Penyampaian laporan realisasi penggunaan dana
desa dilakukan :
a. Untuk semester I paling lambat minggu keempat bulan Juli tahun
anggaran berjalan.
b. Untuk semester II paling lambat minggu keempat bulan Januari tahun
anggaran berikutnya.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi akuntabilitas keuangan dana
desa. Salah satunya adalah kualitas laporan keuangan. Laporan keuangan
dinilai berkualitas adalah laporan keuangan yang memenuhi empat
karakteristik yaitu dapat dipahami (understandability), relevan (relevance),
andal (reliability), dan dapat dibandingkan (comparability). Kualitas
pelaporan keuangan yang memenuhi empat karakteristik dapat meningkatkan
kredibilitasnya dan pada gilirannya akan dapat mewujudkan transparansi dan
akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa (Fikrian, 2017). Hasil
penelitian Kusumawardhani and Muanas (2020) menunjukkan bahwa kualitas
laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan
keuangan.
6
Selain kualitas laporan keuangan, penyajian laporan keuangan juga
dapat mempengaruhi akuntabilitas. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI,
2015), penyajian laporan keuangan merupakan suatu penyajian terstruktur dari
posisi keuangan dan kinerja suatu entitas. Dengan kata lain, penyajian laporan
keuangan adalah catatan tertulis yang menyampaikan kegiatan bisnis dan
kinerja keuangan suatu
perusahaan.
Penyajian
laporan keuangan
oleh
pemerintah pusat dan daerah dimaksudkan untuk mewujudkan good
governance. Hasil penelitian Angelina (2016) menunjukkan bahwa penyajian
laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan
keuangan.
Ketidakmampuan
laporan
keuangan
dalam
melaksanakan
akuntabilitas, tidak saja disebabkan karena laporan tahunan yang tidak
memuat semua informasi relevan yang dibutuhkan para pengguna, akan tetapi
juga karena laporan tersebut tidak dapat secara langsung tersedia dan
aksesibel pada para pengguna potensial (Jones 1985 dan stecollini 2002,
dalam Leverage, 2012). Aksesibilitas menurut perspektif tata ruang adalah
keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau
kemudahan seseorang atau kendaraan untuk bergerak dari suatu tempat ke
tempat lain dengan aman, nyaman, serta kecepatan yang wajar. Aksesibilitas
dalam laporan keuangan sebagai kemudahan seseorang untuk memperoleh
informasi laporan keuangan (Mulyana 2009, dalam Angelina, 2016). Hasil
7
penelitian Kusumawardhani and Muanas (2020) menunjukkan bahwa
aksesbilitas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan.
Dalam mewujudkan akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa
yang akuntabel perlu adanya integritas kepala desa dan aparat pemerintahan
desa dalam melaksanakan kegiatan dan laporan kegiatan. Integritas dalam
Kamus Besar Bahasa Iindonesia adalah suatu mutu, sifat, atau keadaan yang
menunjukkan satu kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan
kemampuan yang memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Integritas
sebagai suatu kesatuan diri yang merupakan konsisten pada komitmen yang
telah ditentukan peraturan (Ardiani, 2019). Seseorang yang punya integritas
yang tinggi maka orang tersebut semakin berkomitmen terhadap regulasi yang
ada (Ubaidillah dan Arumsari, 2018). Hasil penelitian Susi Ardiani (2018)
menunjukkan bahwa integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas
pengelolaan keuangan.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan
oleh Fikrian (2017). Perbedaan penelitian Fikrian (2017) dengan penelitian ini
adalah pada variabel independen yang diteliti. Pada penelitian ini
ditambahkan variabel baru yaitu integritas. Alasan penambahan integritas
sebagai variabel independen baru adalah jika seluruh lapisan pemerintahan
desa mempunyai integritas yang baik, maka kewajiban pertanggungjawaban
mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan hingga pelaporan kinerja
8
pemerintahan desa terkait pengelolaan dana desa akan dilaksanakan secara
tertib, terkendali, serta efisien dan efektif, sehingga diharapkan laporan
keuangannya akan lebih akuntabel.
Penelitian ini mengambil lokasi pada Aparatur Pemerintahan Desa
Kabupaten Wonosobo, sedangkan penelitian Fikrian (2010) mengambil lokasi
pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Pekanbaru. Alasan mengambil
lokasi penelitian pada Aparatur Pemerintahan Desa Kabupaten Wonosobo
karena di KabupatenWonosobo terdapat 5 desa dari 22 desa dan 2 kelurahan
yang harus memperbaiki ketepatan waktu dalam penyerahan laporan realisasi
anggaran dana desa guna meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana desa
karena terlambat menyajikan laporan realisasi dana desa tahun 2019 kedalam
system open data desa Kabupaten Wonosobo.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan
sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pengelolaan dana
desa di Kecamatan Selomerto yang kurang akuntabel, maka pertanyaan yang
diajukan dalam rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah
kualitas
laporan
keuangan
berpengaruh
positif
terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto?
2. Apakah penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto ?
9
3. Apakah aksesbilitas laporan keuangan berpengaruh positif akuntabilitas
pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto ?
4. Apakah integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan
dana desa di Kecamatan Selomerto ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk membuktikan pengaruh kualitas laporan keuangan terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto.
2. Untuk membuktikan pengaruh penyajian laporan keuangan terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto.
3. Untuk membuktikan pengaruh aksesbilitas laporan keuangan terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kecamatan Selomerto.
4. Untuk membuktikan pengaruh integritas terhadap akuntabilitas pengelolaan
dana desa di Kecamatan Selomerto.
1.4 Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Praktis
Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
masukan bagi pemerintah agar dapat lebih akuntabel dalam pengelolaan
dana desa. Diharapkan dengan adanya akuntabilitas pada pengelolaan
keuangan desa dapat memberikan dampak yang positif terhadap kinerja
pemerintah
dan
dapat
memberikan
informasi
tentang
pentingnya
akuntabilitas pengelolaan keuangan desa, sehingga aparatur pemerintahan
desa dapat menunjukkan bahwa aparatur pemerintahan desa tersebut telah
10
mempertanggung jawabkan pengelolaan dana desa sehingga dapat
meningkatkan kepercayaan masyarakat.
2. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat mengembangkan literatureliteratur akuntansi yang sudah ada, dan memperkuat penelitian
sebelumnya yaitu berkaitan dengan akuntabilitas pengelolaan dana desa
dan memberikan referensi kepada pihak lain yang tertarik dengan
akuntabilitas dana desa. Dapat menjadi bahan perbandingan serta
pengembangan lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya.
BAB II
TELAAH TEORI
2.1. Telaah Teori
2.1.1. Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa
11
Akuntabilitas dalam bahasa inggris biasa disebut accountability
atau accountable yang artinya “dapat dipertanggungjawabkan”.
Akuntabilitas (accountability) adalah kewajiban untuk memberikan
pertanggungjawaban atau menjawab, dan menerangkan kinerja serta
tindakan seseorang badan hukum, pimpinan atau organisasi kepada
pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta
kelerangan atau pertanggungjawaban (Waluyo, 2009).
Menurut
(Ubaidillah
dan
Arumsari,
2018)
pengertian
akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah bentuk kewajiban
pertanggungjawaban seseorang (pimpinan, pejabat atau pelaksana)
kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta
keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam mengelola keuangan
dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik.
Sedangkan menurut Miftahul (2017) Akuntabilitas pengelolaan dana
desa adalah kesediaan dari para pengelola dana desa untuk menerima
tanggung jawab atas apa yang ditugaskan kepadanya secara efisien,
efektif, berkeadilan, dan dilaksanakan secara transparan dengan
melibat- kan masyarakat.
Mardiasmo, (2002) dalam Makalalag, (2017) menjabarkan
akuntabilitas adalah kewajiban pihak pemegang amanah untuk
memberikan pertanggungjawaban, menyajikan dan mengungkapkan
segala aktivitasnya dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya
12
kepada pihak pemberi amnah (principal) yang memiliki hak dan
kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.
Menurut Lembaga Administrasi dan Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan RI (2000:12) dalam Kurnia, Sebrina, dan
Halmawati (2019), akuntabilitas adalah kewajiban memberikan
pertanggungjawaban atau menjawab dan menjelaskan kinerja serta
tindakan seseorang/pimpinan organisasi kepada pihak yang memiliki
hak
atau
yang
berwewenang
meminta
pertanggungjawaban.
Akuntabilitas pengelolaan keuangan merupakan pertanggungjawaban
mengenai integritas keuangan, pengungkapan, dan ketaatan terhadap
peraturan perundangan-undangan. Sasaran pertanggungjawaban ini
adalah laporan keuangan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku mencakup penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang
oleh instansi pemerintah (LAN dan BPKP, 2003).
(Mardiasmo,
2002
dalam
Kurnia,
2019)
mengatakan
akuntabilitas adalah prinsip pertanggungjawaban publik yang berarti
bahwa proses penganggaran yang dimulai dari :
a. Perencanaan pemerintah desa menyusun perencanaan pembangunan
desa sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada
perencanaan pembangunan kabupaten/kota.
b. Pelaksanaan belanja desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan yang disepakati dalam musyawarah desa dan sesuai
13
dengan prioritas pemerintah baik pemerintah pusat maupun
pemerintah provinsi/kabupaten/kota.
c. Penatausahaan keuangan desa adalah kegiatan pencatatan yang
khususnya dilakukan oleh bendahara desa. Bendahara desa wajib
melakukan pencatatan terhadap seluruh transaksi yang ada berupa
penerimaan dan pengeluaran.
d. Pelaporan dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan
kewajibannya dalam pengelolaan keuangan desa, kepala desa
memiliki kewajiban untuk menyampaikan laporan. Laporan tersebut
bersifat periodik semesteran dan tahunan, yang disampaikan ke
Bupati/Walikota dan ada juga yang disampaikan ke BPD.
e. Pertanggungjawaban dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak
dan kewajibannya dalam pengelolaan dana desa, kepala desa
mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan, kepala desa
wajib membuat laporan realisasi penggunaan dana desa.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
akuntabilitas pengelolaan keuangan
merupakan pertanggungjawaban
atas segala kegiatan pengelolaan keuangan daerah mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pertanggungjawaban, serta
pengawasan
harus
benar-benar
dapat
dilaporkan
dan
dipertanggungjawabkan.
2.1.2. Kualitas Laporan Keuangan
14
Kualitas laporan keuangan adalah penyajian laporan keuangan
yang memiliki kriteria antara lain: kesesuaian dengan SAP, kecukupan
pengungkapan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
dan efektifitas sistem pengendalian intern (Yuliani 2010, dalam
Pratiwi, 2016). Laporan keuangan yang berkualitas merupakan salah
satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas pengelolaan keuangan publik.
Dengan demikian tidak adanya laporan keuangan berkualitas
menunjukan lemahnya akuntabilitas (Hasanah 2020).
Definisi kualitas menurut (Mulyana 2010, dalam Savira dan
Suharsono, 2013) kualitas diartikan sebagai kesesuaian dengan
standar, diukur berbasis kadar kesesuaian, serta dicapai melalui
pemeriksaan. Laporan keuangan dapat dikatakan sebagai informasi
yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk
pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang berkualitas apabila
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut disusun
dengan baik, benar sesuai dengan prinsip akuntansi juga dapat
dipahami oleh pemakai informasi.
Sedangkan
menurut
(Defitri,
2016
dalam
Savira
dan
Suharsono, 2013) kualitas laporan keuangan yaitu kemampuan
menyajikan informasi laporan keuangan yang dapat dipahami, dan
memenuhi kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan,
bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material serta
15
dapat
diandalkan
sehingga
laporan
keuangan
tersebut
dapat
dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Kualitas pelaporan keuangan dimaksud dapat meningkatkan
kredibilitasnya dan pada gilirannya akan dapat mewujudkan
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan pemerintahan
daerah. Kualitas pelaporan keuangan secara jelas dijabarkan dalam
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan yang sekarang menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 71
Tahun 2010, bahwa kualitas pelaporan keuangan pemerintah dapat
memenuhi kualitas yang dikehendaki jika memenuhi unsur kualitatif
laporan keuangan (Dodi Fs Lumentu dan Sahmin Noholo, 2015 ).
Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Peraturan
Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu
diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi
tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat
normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah daerah
dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu (Neli Sri Mulyati1,
Eva Faridah, 2019) :
1. Relevan
Laporan keuangan dikatakan relevan apabila informasi yang
termuat didalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna
16
dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau
masa kini dan memprediksi masa depan serta mengoreksi hasil
evaluasi meraka di masa lalu.
2. Andal
Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang
menyesatkan,
menyajikan
fakta
secara
jujur,
dan
dapat
diverifiakasi.
3. Dapat dibandingkan
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih
berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode
sebelumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal maupun
eksternal.
4. Dapat dipahami
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat
dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk yang
disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
kualitas laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses kegiatan
akuntansi yang mampu memberikan suatu informasi keuangan yang
dapat dipahami oleh pemakai dan dapat digunakan untuk pengambilan
keputusan dimasa yang akan datang.
2.1.3. Penyajian Laporan Keuangan
17
Menurut (Halim dan Abdullah, 2008 dalam Fikrian, 2017)
menyatakan bahwa penyajian laporan keuangan adalah salah satu
pelaksanaan akuntabilitas pengelolaan keuangan publik dengan
menyajikan segala bentuk transaksi ke dalam laporan keuangan yang
diambil dari seluruh proses yang dilakukan sampai dengan dibuatnya
neraca lajur. Data yang diproses berdasarkan neraca lajur itulah
digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan (Wardana,
2016).
Menurut Ayu Ayuning (2019) penyajian laporan keuangan
adalah penyajian informasi keuangan pemerintah daerah yang
memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan yang berdasarkan
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
Berdasarkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi
Pemerintah
menyatakan
bahwa
laporan
keuangan
merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan
transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi
mengenasi posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih,
arus kas, hasil operasi, dan perubahan ekuitas suatu entitas pelaporan
yang
bermanfaat
bagi
para
pengguna
dalam
membuat
dan
mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya (Miftahul,
2017).
18
(BPKP 2015, dalam Wardana, 2016) menyatakan laporan
keuangan yang harus dibuat oleh pemerintah desa antara lain :
1. Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa.
2. Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa.
3. Laporan Realisasi Penggunaan Dana Desa.
4. Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa.
Penyajian laporan keuangan merupakan hal yang sangat
penting. Pengungkapan atas informasi ini merupakan suatu elemen
dasar dari transparansi dan akuntabilitas. Entitas pelaporan menyajikan
informasi untuk membantu para pengguna dalam memperkirakan hasil
operasi entitas dan pengelolaan aset, seperti halnya dalam pembuatan
dan evaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya ekonomi
(Salomi J. Hehanussa, 2015).
Menurut (Diamond 2002, dalam Salomi J. Hehanussa, 2015),
informasi keuangan di dalam laporan keuangan dapat memberikan
manfaat yaitu:
1.
Meningkatkan akuntabilitas para manajer (kepala daerah dan para
pejabat pemda) untuk tidak saja bertanggung jawab pada kas
masuk dan kas keluar, tetapi juga pada aset dan utang yang
dikelola;
2.
Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah.
19
3.
Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan
semua sumber daya dan kewajiban;
4.
Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk
pengambilan keputusan.
Tujuan Penyajian Laporan Keuangan Menurut Nordiawan
dalam Superdi (2017), tujuan penyajian laporan keuangan adalah:
a). Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode
berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran
b). Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh
sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang
ditetapkan
c). Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi
yang digunakan
d). Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan
mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya.
e). Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi
entitas pelaporanberkaitan dengan sumbersumber penerimaannya
f). Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan
entitas pelaporan.
Dari pengertian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa
penyajian
laporan
keuangan
daerah
adalah
bentuk
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara dan daerah
20
mengenai laporan posisi keuangan dan transaksi- transaksi yang
dilakukan oleh suatu entitas pelaporan malalui penyajian laporan
keuangan. Sehingga pemerintah dituntut untuk mampu menyajikan
laporan keuangan yang secara wajar dan diungkap secara lengkap agar
laporan keuangan yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan
sehingga terciptalah transparansi dan akuntabilitas suatu laporan
keuangan sesuai harapan.
2.1.4. Aksesbilitas Laporan Keuangan
Rohman
(2009)
mengemukakan bahwa
dalam
Savira
dan
Suharsono
(2013)
aksesibilitas dalam perspektif tata ruang
adalah keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke
tempat lainnya atau kemudahan seseorang atau kendaraan
bergerak
serta
dari
untuk
suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman,
kecepatan
yang
wajar.
Menurut Mulyana (2006)
mengemukakan bahwa aksesibilitas dalam laporan keuangan sebagai
kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi laporan keuangan.
Aksesibilitas adalah memberikan kemudahan akses bagi para
pengguna laporan keuangan tidak hanya kepada lembaga dan badan
pengawasan tetapi juga kepada masyarakat yang memberikan
kepercayaan kepada pemerintah untuk mengelola dana desa (Sarah
Hasibuan, 2020). Kemudahan akses yang diberikan oleh pemerintah
akan menguntungkan masyarakat dan juga orang-orang yang
21
mempunyai kepentingan untuk mengambil data yang sudah disediakan
dan juga akan digunakan sebagaimana mestinya (Musdalifah, 2020).
Menurut (Permendagri 113 dalam Wardana, 2016) laporan
keuangan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi atau
pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah wajib
diinformasikan
secara
tertulis
kepada
menggunakan media yang mudah diakses
masyarakat
dengan
masyarakat. Dalam
demokrasi yang terbuka, akses ini tersedia di berbagai media,
seperti surat kabar, majalah, stasiun televisi, dan internet (Salomi J.
Hehanussa, 2015).
Dari pengertian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa
aksesibilitas merupakan kemudahan berbagai pihak pengguna laporan
keuangan untuk mengetahui informasi keuangan daerah. Aksesibilitas
laporan keuangan daerah yang baik akan mewujudkan komunikasi
yang baik pula antara publik dan pemerintah. Proses inilah yang
mendukung penggunaan informasi keuangan daerah yang efektif.
2.1.5. Integritas
Secara bahasa integritas atau integrity berarti keutuhan,
kebulatan, kejujuran, kesamaan antara hati, ucapan, dan tindakan.
Integritas erat kaitannya dengan moral dan etika. Sementara menurut
Hay Consultant, integritas adalah konsistensi antara tindakan yang
diyakini seseorang. Mengungkapkan maksut, gagasan dan perasaannya
22
secara terbuka dan langsung juga menghargai keterbukaan dan
kejujuran orang lain, bahkan dalam situasi sulit sekalipun (Ir
Dhianingwulan, 2019).
Faktor
pembentuk
integritas
yang
manjadi
landasan
pengembang alat ukur integritas dalam penelitian berasal dari konsep
yang dikemukanan oleh psikologi humanistic Rogers (1961) adalah :
1. Jujur
Individu dikatakan jujur apabila menerima dan mampu
bertanggung jawab atas perasaaan serta perilaku sebagaimana
adanya. Meski memegang erat prinsip kejujuran, namun dalam
situasi yang penuh tipu muslihat dan harus menghadapi orang yang
tidak jujurm individu yang memiliki integritas tinggi akan
bertindak dan menegur dengan mempertimbangkan berbagai hal
serta tidak menyakiti.
2. Teguh
Teguh artinya tidak menyalahi prinsip dalam menjalankan
kewajiban, tidak dapat disuap atau diajak melakukan perbuatan
curang meskipun ada godaan materi atau dorongan dari orang lain.
3. Memiliki self-control yang kuat
Self-control didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam
mengontrol atau memantau respon agar sesuai dengan tujuan hidup
dan standar moral yang dimiliki. Untuk bisa memperlakukan orang
23
lain, bahkan orang yang sesungguhnya tidak disukai secara baik,
individu harus memiliki self- control yang kuat.
4. Memiliki self-esteem yang tinggi
Self-esteem adalah kepercayaan bahwa individu mampu
berpelaku sesuai dengan moral keyakinan.
Dengan bersandar pada beberapa pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa esensi integritas adalah kejujuran, ketulusan, dan
kesediaan memegang teguh standar moral yang tinggi. Integritas
ditunjukkan oleh kesesuaian antara nilai-nilai yang dipegang dan
kebiasaan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan dan kesesuaian
antara ungkapan dan perasaan.
2.2. Review Penelitian Sebelumnya
Tabel 2.1
Review Penelitian Sebelumnya
No.
Nama
Judul Penelitian
Peneliti
1.
Sampel
Alat
Variabel
Hasil
Penelitian
Analisis
Independen
Penelitian
Penyajian
berpengaruh
Rahma,
Pengaruh Penyajian, Bappeda
Regresi
Dkk
Aksebilitas Laporan Kabupaten
Linier
(2020)
Keuangan
Berganda
Bappeda
Pinrang
Terhadap
Transparansi
positif
Aksebilitas
berpengaruh
positif
Pengelolaan
24
Keuangan Kabupaten
Pinrang
2.
Ardiani
Pengaruh
Integritas Kepala Desa, Regresi
(2019)
Terhadap
Sekretaris
Akuntabilitas
Desa,
Pengelolaan
Keuangan
Keuangan Dana Desa Dan
(Studi
Kasus
Integritas
berpengaruh
Tata Kelola
berpengaruh
Linier
Kaur Berganda
Badan
Di Permusyawar
Kecamatan
atan Desa Di
Rambutan
19
Kabupaten
Yang Ada Di
Banyuasin).
Kecamatan
Desa
Rambutan Di
Kabupaten
Banyuasin
Provinsi
Sumatera
Selatan Yang
Berjumlah
76 Orang
3.
Ubaidilla
h,
Tata 122
SEM
Dkk Kelola Dan Integritas Responden
(2018)
4.
Pengaruh
positif
Terhadap
Atau
Desa
Akuntabilitas
Dari
18
Pengelolaan
Dana Kecamatan
Desa
Kabupaten
Moh.
Magetan.
Rahayu,
The Effect Of The 54
Dkk
Presentation
(2018)
Financial
Integritas
berpengaruh
positif
Orang Regresi
Of Pegawai
Linier
Statment Yang Terdiri Berganda
Presentation
Of
berpengaruh
Financial positif
Statement
25
And
Accessibility Dari Kepala
Financial
Statment Bagian,
Accessibility
On
Regional Bendahara
Financial
berpengaruh
Statment
positif
Regresi
Kualitas
berpenga ruh
Linier
Laporan
Berganda
Keuangan
Financial
Bagian,
Management
Keseluruhan
Accountability
Pegawai
(Case
Bagian
Umum, Dan
Kepala
Sub
Bagian
Di
Sekretariat
Daerah Kota
Mataram
Sebagai
Sampel
Dalam
Penelitian
Ini.
5.
(Fikrian,
Pengaruh
2017)
Laporan
Kualitas Kepala
Keuangan, SKPD,
Penyajian
Laporan Kepala
Keuangan
Dan Bagian
Aksesibilitas
Laporan
Penyajian
Keuangan
Keuangan Dan Kepala
Laporan
Keuangan
Terhadap
Bagian
Aksesibilitas
Akuntabilitas
Perencanaan
Laporan
Pengelolaan
Dari
Keuangan
Keuangan Daerah
SKPD Yang
Setiap
berpenga ruh
berpenga ruh
Terdapat Di
Kota5Pekanb
aru,
26
Sehingga
Total
Responden
Sebanyak 96
6.
Lumentut
Pengaruh
,Dkk
(2015)
Kualitas Aparat
Regresi
Kualitas
berpengaruh
Pelaporan Keuangan Pengawas
Linier
Pelaporan
positif
Terhadap
Intrn
Berganda
Keuangan
Akuntabilitas
Pemerintah
Pemerintah
Kota
Daerah Yang
Ada
Gorontalo Pada
(Studi Kasus Pada Inspektorat
Inspektorat
Kota Kota
Gorontalo)
Gorontalo
Yaitu
Sebanyak 55
Orang
7.
Sumiyati
Pengaruh Penyajian 30
(2015)
Laporan
Keuangan Kabupaten
Daerah
Linier
Dan Rokan Hilir Berganda
Aksesibilitas
8.
SKPD Regresi
Dikalikan
4
Laporan
Keuangan Orang Yang
Daerah
Terhadap Menjadi
Penyajian
berpengaruh
Laporan
positif
Keuangan
Daerah
berpengaruh
Aksesibilitas
Akuntabilitas
Responden
Laporan
Pengelolaan
Di
Keuangan
Keuangan Daerah (
SKPD
Christy
Pengaruh Penyajian Kepala
Natalia
Laporan
Lewiir
Daerah
(2012)
Aksesibilitas
Setiap
Keuangan SKPD
Regresi
, Linier
Dan Sekretaris
Berganda
positif
Penyajian
berpengaruh
Laporan
positif
Keuangan
Pada SKPD,
Laporan
Keuangan Kepala
Aksesibilitas
berpengaruh
Daerah
Terhadap Bidang,
Laporan
positif
27
Akuntabilitas
Kepala
Pengelolaan
Bidang,
Keuangan
Sub
Keuangan
Daerah Kepala
Kabupaten Klaten
Bagian,
Kepala
Sub
Bagian.
Sumber : Kumpulan beberapa jurnal yang diolah, 2020
2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Hipotesis Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel independen
dan variable dependen. Variabel independen meliputi kualitas laporan
keuangan, penyajian laporan keuangan, aksesbilitas laporan keuangan, dan
integritas. Variabel dependennya adalah akuntabilitas pengelolaan dana
desa.
(LAN dan BPKP, 2000 dalam Hasanah, 2020) mengemukakan
bahwa akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah “kewajiban untuk
memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan
kinerja aparatur desa kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan
untuk mempertanggungjawabkan.” Menurut Setiawan dkk. (2017), pada
dasarnya akuntabilitas merupakan pemberian informasi dan pengungkapan
atas aktifitas dan kinerja keuangan pemerintah kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
28
2.3.1 Pengaruh
Kualitas
Laporan
Keuangan
terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Dana
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
dalam Savira & Suharsono (2013) laporan keuangan dikatakan
berkualitas apabila informasi yang dihasilkan dapat mendukung
pengambilan keputusan dan mudah dipahami oleh para pemakai.
Menurut Hasanah (2020) laporan keuangan yang berkualitas
merupakan
salah
satu
bentuk
pelaksanaan
akuntabilitas
pengelolaan keuangan. Semakin berkualitas laporan keuangan
maka akuntabilitas pengelolaan keuangan desa akan semakin baik.
Sebaliknya jika laporan keuangan tidak berkualitas, maka akan
terjadi penurunan dalam Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan
Desa.
Hasil penelitian Fikrian (2017) Kualitas laporan keuangan
berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Semakin berkualitas laporan keuangan maka akuntabilitas
pengelolaan keuangan daerah akan semakin baik. Demikian pula
penelitian yang dilakukan oleh Dodi Fs Lumentu, Sahmin Noholo,
2015)
menunjukkan
bahwa
kualitas
laporan
keuangan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas. Laporan
keuangan yang berkualitas merupakan salah satu bentuk atau
29
pertanggungjawaban
pemerintah
dalam
melaksanakan
akuntabilitas.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa
dengan adanya laporan keuangan yang berkualitas merupakan
salah satu bentuk mekanisme pertanggungjawaban (akuntabilitas)
dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan laporan keuangan
pemerintah daerah perlu dilengkapi dengan pengungkapan yang
memadai
mengenai
informasi-informasi
yang
dapat
mempengaruhi keputusan, maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut :
H2 : Kualitas Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap
pengelolaan keuangan dana desa,
2.3.2 Pengaruh
Penyajian
Laporan
Keuangan
terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Dana
Penyajian laporan keuangan merupakan faktor penting
untuk
menciptakan
akuntabilitas
pengelolaan
keuangan.
Pemerintah harus bisa menyusun laporan keuangan sesuai standar
akuntansi yang diterima umum dan memenuhi karakteristik
kualitatif laporan keuangan. Penyajian informasi yang utuh dalam
30
laporan keuangan akan menciptakan transparansi dan nantinya
akan mewujudkan akuntabilitas (Nordiawan, 2010).
Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Rahma dan Maryadi (2020) penyajian laporan keuangan
berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan.
Artinya bahwa dengan meningkatnya penyajian keuangan daerah
maka akan diikuti dengan peningkatan akuntabilitas pengelolaan
keuangan akan menjadi semakin baik.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Christy
Natalia Lewiir (2012) menunjukkan bahwa penyajian laporan
keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan
keuangan. Semakin baik penyajian laporan keuangan pemerintah
maka akan berimplikasi terhadap peningkatan terwujudnya
akuntabilitas pengelolaan keuangan.
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apabila
penyajian laporan keuangan daerah semakin disusun secara
lengkap, semakin dapat diselesaikan tepat waktu, semakin
menyediakan informasi yang dapat mengoreksi aktifitas keuangan
di masa lalu, semakin jujur transaksi yang seharusnya disajikan
dalam laporan keuangan, semakin dapat dijadikan sebagai tolak
ukur dalam penyusunan anggaran tahun berikutnya, serta semakin
dapat dipahami oleh pengguna karena dinyatakan dalam bentuk
31
serta istilah yang disesuaikan dengan batas kemampuan pengguna,
maka akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah cenderung
semakin baik pula, begitu sebaliknya maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut :
H2 : Penyajian Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap
akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa.
2.3.3 Pengaruh
Aksesbilitas
Laporan
Keuangan
terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Dana
Pemerintah harus memberikan kemudahan akses bagi para
pengguna laporan keuangan. Apalah artinya menyajikan laporan
keuangan dengan baik tapi tidak memberikan kemudahan akses
bagi para pengguna laporan keuangan, maka usaha untuk
menciptakan akuntabilitas pengelolaan keuangan desa tidak akan
berjalan dengan baik. Pemerintah harus mampu memberikan
kemudahan akses bagi para pengguna laporan keuangan, tidak
hanya kepada lembaga dan badan pengawasan tetapi juga kepada
masyarakat
yang
telah
memberikan
kepercayaan
kepada
pemerintah desa untuk mengelola dana publik (Christy Natalia
Lewiir, 2012).
Dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kurniawan
dan Rahayu (2019) aksesibilitas laporan keuangan secara
berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan.
32
Diperkuat dengan penelitian Sumiyati (2015) menemukan bahwa
variabel aksesibilitas laporan keuangan daerah berpengaruh positif
terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan.
Dari uraian sebelumnya
dapat
disimpulkan
bahwa
terciptanya akuntabilitas pengelolaan keuangan desa tergantung
kepada akses publik terhadap laporan keuangan yang dapat dibaca
dan dipahami dapat diakses melalui media seperti surat kabar,
majalah, radio, stasiun televisi dan website,
maka dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Aksesbilitas Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap
akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa.
2.3.4
Pengaruh Integritas terhadap Akuntabilitas Pengelolaan
Dana Desa
Hasil penelitian dari Ardiani (2019) integritas berpengaruh
positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa.
Sejalan dengan penelitian (Ubaidillah dan Arumsari, 2018)
berpengaruh
positif
terhadap
akuntabilitas
pengelolaan
keuangan dana desa.
Dari uraian di atas dapat di simpulkan dalam mewujudkan
akuntabilitas pengelolaan keuangan dana desa yang akuntabel
perlu adanya integritas di kepala desa dan aparat pemerintahan
desa dalam melaksanakan kegiatan dan laporan kegiatan.
33
Integritas sebagai suatu kesatuan diri yang merupakan
konsisten pada komitmen yang telah ditentukan paraturan.
Komitmen
perasaan,
mencerminkan
logika,
tindakan
prinsip,
dan
motivasi,
regulasi.
keyakinan,
Maka
dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Integritas berpengaruh positif terhadap akuntabilitas
pengelolaan keuangan dana desa.
Untuk menjelaskan hipotesis di atas, peneliti menggambarkan model
penelitian sebagai berikut :
Gambar 2.1
Model Penelitian
Kualitas Laporan
Keuangan (X1)
34
Penyajian Laporan
Keuangan (X2)
Aksresbilitas
Laporan Keuangan
(X3)
Akuntanbilitas
Pengelolaan Dana Desa
(Y)
Integritas (X4)
35
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.
Metode kuantitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang digunakan
untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan bertujuan untuk menguji
hipotesis yang telah di tetapkan (Sugiyono, 2009).
3.2. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
3.2.1. Populasi
Sugiyono (2001) mendefinisikaan populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya. Yang dijadikan populasi dalam
penelitian ini adalah semua desa di Kecamatan Selomerto Kabupaten
Wonosobo yang berjumlah 22 desa dan 2 kelurahan.
3.2.2. Sampel
Sampel adalah subset dari populasi, terdiri dari beberapa
anggota populasi (Ferdinand, 2006). Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan menggunakan purposive sampling yaitu metode
36
yang dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas
strata, random atau daerah tetapi berdasarkan atas adanya tujuan
tertentu (Arikunto, 2012). Sampel dalam penelitian ini adalah pegawai
di 5 desa di Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo dengan
kriteria :
1.
Kepala Desa
2.
Sekertaris Desa
3.
Kepala Seksi
4.
Kepala Umum
5.
Kepala Dusun
Alasan pemilihan sampel di karekan kepala desa dan aparatur
desa adalah pengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
3.3. Jenis dan Sumber Data
3.3.1. Jenis Data
Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka-angka
(Sugiyono, 2012). Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah jawaban
dari kuesioner yang dibagikan kepada responden.
3.3.2. Sumber Data
37
Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang
merupakan data yang berasal dari sumber asli ataupun pertama
(Sarwono, 2006). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari
pengisian kuesioner yang diisi langsung oleh responden. Responden
adalah orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan
penelitian baik peranyaan tertulis maupun lisan (Arikunto, 2003).
Responden dalam penelitian ini
kepala desa, sekretaris desa dan
bendahara desa.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan
peneliti adalah dengan menggunakan angket / kuesioner. Kuesioner adalah
teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2008).
Alasan menggunakan metode ini adalah bahwa subyek penelitian merupakan
orang yang paling tahu tentang dirinya, dan pernyataan subyek yang diberikan
adalah benar dan dapat dipercaya. Jawaban atas daftar pertanyaan yang harus
diisi oleh responden dibuat dengan menggunakan skala likert 5 poin (Prasetyo
& Jannah, 2006).
3.5. Variabel Penelitian
38
Menurut Sugiyono (2012) variabel penelitian adalah suatu atribut atau
sifat nilai dari orang, objyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Berdasarkan pokok permasalahan yang telah dirumuskan di
atas, maka variabel - variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Variabel terikat atau dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah pengelolaan keuangan dana desa.
2. Variabel bebas atau independen adalah variabel yang mempengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau
terikat (Sugiyono, 2012). Variabel independen dalam penelitian ini adalah
sistem keuangan desa (siskeudes), transparansi, akuntabilitas dan partisipasi
masyarakat.
3.6. Definisi dan Pengukuran Variabel
3.6.1. Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa (Y)
Menurut
(Ubaidillah
dan
Arumsari,
2018)
pengertian
akuntabilitas pengelolaan dana desa adalah bentuk kewajiban
pertanggungjawaban seseorang (pimpinan, pejabat atau pelaksana)
kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta
39
keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam mengelola keuangan
dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik.
Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari penelitian Lianto
(2018) yang terdiri atas 5
pertanyaan dan disusun berdasarkan 5
indikator dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan
skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat setuju).
Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Penatausahaan
4. Pelaporan
5. Pertanggungjawaban
3.6.2. Kualitas Laporan Keuangan (X1)
Menurut Defitri (2013) dalam Savira dan Suharsono (2016)
kualitas laporan keuangan yaitu kemampuan menyajikan informasi
laporan keuangan yang dapat dipahami, dan memenuhi kebutuhan
pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian
yang menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan sehingga
laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode
sebelumnya. Variabel ini diukur dengan instrumen kuesioner dari
40
penelitian Nugroho (2018) yang terdiri atas 4 pertanyaan dan disusun
berdasarkan 4 indikator. Indikator yang digunakan dalampenelitian ini
adalah :
1. Relevan
2. Andal
3. Dapat dibandingkan
4. Dapat dipahami
3.6.3. Penyajian Laporan Keuangan (X2)
Penyajian laporan keuangan yaitu suatu penyajian
terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu
entitas (Salomi J. Hehanussa, 2015). Variabel ini diukur
dengan instrumen kuesioner dari penelitian Rizky (2015) yang
terdiri atas 7 pertanyaan dan disusun berdasarkan 7 indikator
dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan
skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat
setuju). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Memiliki Manfaat umpan balik
2. Memiliki manfaat prediktif
3. Tepat waktu
41
4. Lengkap
5. Penyajian jujur
6. Dapat diverifikasi
7. Dapat dipahami penggunaanya
3.6.4. Aksesbilitas (X3)
Aksesibilitas adalah memberikan kemudahan akses
bagi para pengguna laporan keuangan tidak hanya kepada
lembaga dan badan pengawasan tetapi juga kepada masyarakat
yang memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk
mengelola dana desa (Sarah Hasibuan, 2020). Variabel ini
diukur dengan instrumen kuesioner dari penelitian Ibnu
Wardana (2016) yang terdiri atas 3 pertanyaan dan disusun
berdasarkan 3 indikator dengan menggunakan 5 point
pengukuran skala likert dengan skor terendah 1 (sangat tidak
setuju) dan tertinggi 5 (sangat setuju). Indikator yang
digunakan dalam penelitian ini adalah :
1). Terbuka di media massa
2). Mudah diakses
3). Ketersediaan informasi
42
3.6.5. Integritas (X4)
Menurut
Development
Dimensions
Internasional
(DID), integritas adalah menerima norma norma sosial, moral,
dan organisasional; memegang teguh prinsip – prinsip moral
(Ir Dhianingwulan, 2019). Variabel ini diukur dengan
instrumen kuesioner dari penelitian Hapsari (2018)
yang
terdiri atas 4 pertanyaan dan disusun berdasarkan 4 indikator
dengan menggunakan 5 point pengukuran skala likert dengan
skor terendah 1 (sangat tidak setuju) dan tertinggi 5 (sangat
setuju). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Kejujuran sumber daya manusia
2. Keberanian sumber daya manusia
3. Sumber daya manusia bersikap bijaksana
4. Sumber daya manusia bertanggung jawab atas tugasnya
3.7. Tehnik Analisis Data
3.7.1. Uji Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberi gambaran atau deskripsi suatu data yang
dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, minimum,
dan range (Ghozali, 2016).
43
3.7.2. Uji Kualitas Data
3.7.2.1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid
tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika
pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan
sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Jadi validitas
ingin mengukur apakah pertanyaan dalam kuesioner yang
sudah kita buat betul betul dapat mengukur apa yang hendak
kita ukur (Ghozali, 2016). Pengujian validitas yang digunakan
adalah Corelasi Pearson. Signifikansi Corelasi Pearson yang
dipakai dalam penelitian ini adalah 0,05. Apabila nilai
signifikansinya < 0,05 maka butir pertanyaan tersebut valid dan
apabila nilai signifikansinya > 0,05, maka butir pertanyaan
tersebut tidak valid (Ghozali, 2016).
3.7.2.2. Uji Reliabilitas
Ghozali (2016) menyatakan bahwa reliabilitas adalah
alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator
dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel
atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah
konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas
yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Shot atau
pengukuran sekali saja, dimana pengukurannya hanya sekali
44
dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain
atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Reliabilitas
diukur dengan uji statistik Cronbach Alpha. Suatu konstruk
atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai
Cronbach Alpha > 0,70 (Nunnally, 1994 dalam Ghozali, 2016).
3.7.3. Uji Asumsi Klasik
3.7.3.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki
distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F
mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi
normal. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual
berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan
uji statistik (Ghozali, 2016). Pengujian normalitas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji KolmogorovSmirnov.
Apabila
data
hasil
perhitungan
one-sample
Kolmogorov-Smirnov menghasilkan nilai diatas 0,05, maka
model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sebaliknya,
apabila data hasil perhitungan one-sample KolmogorovSmirnov menghasilkan nilai dibawah 0,05, maka model regresi
tidak memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2016).
3.7.3.2. Uji Multikolonieritas
45
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi
di
antara
variabel
independen.
Jika
variabel
independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak
ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang
nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan
nol (Ghozali, 2016). Dalam penelitian ini, multikolonieritas
dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya variance
inflation factor (VIF). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk
menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤
0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10 (Ghozali, 2016).
3.7.3.3. Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari
residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka
disebut
Homokedastisitas
dan
jika
berbeda
disebut
Heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
Homokedastisitas
atau
tidak
terjadi
Heterokedastisitas
(Ghozali, 2016). Pengujian heterokedastisitas yang digunakan
46
dalam penelitian ini menggunakan uji glejser, yaitu dengan
meregresikan variabel independen terhadap nilai absolut
residual. Dasar pengambilan keputusan dalam uji glejser yang
dilakukan adalah:
a.
Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar dari 0,05 maka
tidak terjadi gejala heterokedastisitas dalam model regresi
b.
Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil dari 0,05 maka
terjadi gejala heterokedastisitas dalam model regresi.
3.7.3.4. Goodness of Fit Model (Uji F)
Nilai F hitung digunakan untuk menguji ketepatan
model atau goodness of fit
apakah model persamaan yang
terbentuk masuk dalam kriteria cocok (fit) atau tidak. Uji F ini
sering juga disebut sebagai uji simultan, yaitu untuk menguji
apakah variabel bebas yang digunakan dalam model mampu
menjelaskan perubahan nilai variabel tergantung atau tidak.
Untuk menyimpulkan apakah model masuk dalam kategori
cocok (fit) atau tidak, kita harus membandingkan F hitung
dengan F tabel. Jika nilai F hitung > nilai F tabel, maka dapat
disimpulkan bahwa model persamaan regresi yang terbentuk
masuk kriteria cocok atau fit (Suliyanto, 2011). Bisa juga
dihitung dengan menggunakan tingkat signifikansi. Jika tingkat
47
signifikansi < 0,05 maka
model persamaan regresi yang
terbentuk masuk kriteria cocok atau fit.
3.7.3.5. Uji Hipotesis
Model yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam
penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda
.Persamaannya adalah sebagai berikut :
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4+ β5X5+ β6X6+e
Keterangan :
Y
: Transparansi laporan keuangan
α
: Nilai konstan
β
: Koefsien arah regresi
X1
: Unsur Lingkungan Pengendalian
X2
: Unsur Penilaian Resiko
X3
: Unsur Kegiatan Pengendalian
X4
: Unsur Informasi dan Komunikasi
X5
: Unsur Pemantauan
X6
: Aksesibilitas Laporan Keuangan
E
: Erorr
Jika koefisien regresi (β1,β2,β3,β4) signifikan dan positif,
berarti bahwa tekanan eksternal, komitmen pimpinan, faktor
48
politik dan pengendalian internal memiliki pengaruh positif
terhadap transparansi laporan keuangan.
Pengujian hipotesis dengan menggunakan tingkat signifikan
0,05. jika nilai signifikansi < 0,05, maka hipotesis diterima,
yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara
individual dan signifikan mempengaruhi variabel dependen
(Ghozali, 2016).
3.7.3.6. Koefisien Determinasi (R²)
Uji Koefisien Determinasi bertujuan untuk mengukur
seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi
variabel dependen. Nilai koefisien determinasi antara nol
sampai dengan satu. Jika hasil menunjukkan bahwa nilai R²
semakin kecil, maka semakin rendah tingkat kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel
dependen. Namun sebaliknya, tingkat kemampuan variabel
independen dalam menjelaskan variabel dependen semakin
tinggi apabila nilai R² semakin besar (Ghozali, 2016).
49
Daftar Pustaka
Ardiani, S. (2019). Pengaruh Integritas Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan
Keuangan Dana Desa ( Studi Kasus Di Kecamatan Rambutan Kabupaten
Banyuasin ). 3.
Christy Natalia Lewiir, C. H. K. (2012). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN
KEUANGAN DAERAH DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN
DAERAH TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN
DAERAH KABUPATEN KLATEN. The SAGE Encyclopedia of Qualitative
Research Methods, 1–14. https://doi.org/10.4135/9781412963909.n349
Dodi Fs Lumentu, Sahmin Noholo, A. L. (2015). Pengaruh kualitas pelaporan
keuangan terhadap akuntabilitas pemerintah daerah kota gorontalo (studi kasus
pada inspektorat kota gorontalo).
Fikrian, H. (2017). PENGARUH KUALITAS LAPORAN KEUANGAN,
PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN AKSESIBILITAS LAPORAN
KEUANGAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH. JOMFekom, 4(1), 256–279.
https://media.neliti.com/media/publications/125589-ID-analisis-dampakpemekaran-daerah-ditinja.pdf
Hasanah, S., Nurhayati, E., & Purnama, D. (2020). Akuntabilitas Pengelolaan
Keuangan Desa: Studi Pada Pemerintah Desa di Kecamatan Cibeureum
Kabupaten Kuningan. Reviu Akuntansi Dan Bisnis Indonesia, 4(1), 17–27.
https://doi.org/10.18196/rab.040149
IR DHIANINGWULAN. (2019). Bab Ii Landasan Teori. Journal of Chemical
Information and Modeling, 53(9), 8–24.
Kurnia, R., Sebrina, N., & Halmawati. (2019). Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa
50
(Studi Kasus pada Desa-Desa di Wilayah Kecamatan Luhak Nan Duo
Kabupaten Pasaman Barat). Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 1(1), 159–180.
Kurniawan, D., & Rahayu, S. (2019). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN
KEUANGAN DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN TERHADAP
AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. 6(1), 705–714.
Makalalag, A. J., Nangoi, G. B., & Karamoy, H. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan
Dana Desa di Kecamatan Kotamobagu Selatan Kota Kotamobagu. Jurnal Riset
Akuntansi Dan Auditing “Goodwill,” 8(1).
https://doi.org/10.35800/jjs.v8i1.15334
Miftahul, fauziyah R. (2017). Pengaruh Penyajian dan Aksesibilitas Laporan
Keuangan Daerah Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah.
Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Musdalifah. (2020). PENGARUH PERAN PERANGKAT DESA, AKSESIBILITAS
LAPORAN KEUANGAN DAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DESA
TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DI
KECAMATAN TEMON Disusun. 1–20.
Mustofa, A. I. (2012). Accounting Analysis Journal. Accounting Analysis Journal,
1(1), 264–272.
Nafidah, L. N., & Anisa, N. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa di
Kabupaten Jombang. Akuntabilitas, 10(2), 273–288.
https://doi.org/10.15408/akt.v10i2.5936
Neli Sri Mulyati1, Eva Faridah, B. P. (2019). Pengaruh Sistem Pengendalian Intern
Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Jurnal SIKAP (Sistem Informasi,
Keuangan, Auditing Dan Perpajakan), 1(1), 60–71.
https://doi.org/10.32897/sikap.v2i1.64
51
Ngakil, I., & Kaukab, M. E. (2020). Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan
Keuangan Desa di Kabupaten Wonosobo. Journal of Economic, Management,
Accounting and Technology, 3(2), 92–107.
https://doi.org/10.32500/jematech.v3i2.1283
Pratiwi, L. S. W. I. R. D. (2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas
Laporan. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 20(2), 179–191.
Priharjanto, A. N. A. (2020). Pengaruh Kualitas Laporan Keuangan, Kapasitas
Sumber Daya Manusia, dan Aksesibilitas terhadap Pemanfaatan Laporan
Keuangan. Jurnal Ilmiah Akuntansi Kesatuan, 13(1), 39–53.
https://doi.org/10.37641/jiakes.v8i2.372
Rahma A, Maryadi, H. S. W. (2020). JPENGARUH PENYAJIAN, AKSEBILITAS
LAPORAN KEUANGAN BAPPEDA TERHADAP TRANSPARANSI
PENGELOLAAN KEUANGAN KABUPATEN PINRANG. 1(1), 106–117.
Salomi J. Hehanussa. (2015). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN
DAERAH DAN AKSESIBILITAS LAPORAN KEUANGAN DAERAH
TERHADAP TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH KOTA AMBON. Journal of Chemical Information
and Modeling, 02(01), 82–90.
Sarah Hasibuan, N. (2020). Pengaruh Penyajian Laporan Pertanggungjawaban Dan
Aksesibilitas Terhadap Transparansi Dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana Di
Desa Sialang Rindang Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu. 8(2).
Savira, F., & Suharsono, Y. (2013). faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
laporan keuangan. Journal of Chemical Information and Modeling, 01(01),
1689–1699.
Setyanto, Eko. Ritchi, H. (2018). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
52
AKUNTABILITAS KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH (Survey atas
Kompetensi Aparatur, Kualitas Software SIA Penerapan SPI dan Penerapan
SAP pada Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten di Provinsi Jawa Barat) Eko.
Ilmiah Akuntansi, 9(1), 51–69.
Sumiyati, S. (2015). Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan Daerah dan Aksesibilitas
Laporan Keuangan Daerah terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan
Daerah ( Studi pada Skpd Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir). Jurnal Online
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau, 2(2), 34008.
Superdi. (2017). PENGARUH PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN,
AKSESIBILITAS DAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
(studi empiris pada satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Sijunjung).
JOMFekom, 4(1), 2015–2028.
Ubaidillah, M., & Arumsari, D. (2018). Pengaruh tata kelola dan integritas terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa. Hasil Penelitian Dan Pengabdian Kepada
Masyarakat UNIPMA, 271–277.
Wardana, I. (2016). Akuntabilitas Dalam Pengelolaan Keuangan Desa (Studi Pada
Pemerintah Desa di Kabupaten Magelang). Jurnal Akuntansi, 1979, 1–10.
53
Download