Uploaded by common.user84589

PROPOSAL TESIS FIX

advertisement
USULAN PENELITIAN
PENGARUH KOMPETENSI APARATUR DAN
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH DAERAH DENGAN KOMITMEN
ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(Studi Empiris Pada Organisasi Perangkat Daerah
Provinsi Sulawesi Tengah)
MADRAWATI
PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
PASCASARJANA
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2021
1
PENGARUH KOMPETENSI APARATUR DAN
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH DAERAH DENGAN KOMITMEN
ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(Studi Empiris Pada Organisasi Perangkat Daerah
Provinsi Sulawesi Tengah)
Oleh
MADRAWATI
C 302 19 007
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2021
2
PENGESAHAN
PENGARUH KOMPETENSI APARATUR
DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH DAERAH DENGAN KOMITMEN
ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(Studi Empiris Pada Organisasi Perangkat Daerah
Provinsi Sulawesi Tengah)
Oleh
MADRAWATI
C 302 19 007
Telah disetujui oleh Pembimbing pada tanggal
Seperti tertera di bawah ini
Palu,
2021
Dr. H. Mohammad Iqbal B, SE., M.Si., Ak., CA
Ketua
Dr. Sudirman, SE., M.Si., Ak., CA
Anggota
Mengetahui
Dr. H. Mohammad Iqbal B, SE., M.Si., Ak., CA
Koordinator Program Studi Magister Akuntansi
ii
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL .............................................................................................................
i
PENGESAHAN ...............................................................................................
ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................
iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................
v
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
vi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vii
BAB I
BAB II
BAB III
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................
1.2 Rumusan Masalah ................................................................
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ...............................................................
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................
2.2 Teori Keagenan ....................................................................
2.3 Teori Keagenan dalam Organisasi Pemerintahan ................
2.4 Kualitas Laporan Keuangan.................................................
2.4.1 Unsur Laporan Keuangan .........................................
2.4.2 Karakteristik Laporan Keuangan ..............................
2.5 Kompetensi Aparatur ...........................................................
2.5.1 Pengertian Kompetensi .............................................
2.5.2 Manfaat Kompetensi ................................................
2.6 Pemanfaatan Teknologi Informasi .......................................
2.7 Komitmen Organisasi ..........................................................
2.8 Kerangka Pemikiran ............................................................
2.9 Hipotesis Penelitian .............................................................
2.9.1 Hubungan Kompetensi Aparatur pada
Kualitas Laporan Keuangan .....................................
2.9.2 Hubungan Pemanfaatan Teknologi Informasi
pada Kualitas Laporan Keuangan ............................
2.9.3 Hubungan Kompetensi Aparatur pada Kualitas
Laporan Keuangan melalui Komitmen Organisasi ..
2.9.4 Hubungan Pemanfaatan TI pada Kualitas
Laporan Keuangan melalui Komitmen
Organisasi ................................................................
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ....................................................................
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian................................................
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ............
1
8
9
9
11
18
20
22
22
23
26
26
26
28
31
34
36
36
36
37
38
41
41
41
iii
3.4
3.5
3.6
3.7
Operasional Variabel ...........................................................
Jenis dan Sumber Data.........................................................
Teknik Pengumpulan Data ..................................................
Instrumen Penelitian ............................................................
3.7.1 Skala Sikap dan Dasar Interpretasi ..........................
3.8 Transformasi Data ...............................................................
3.9 Pengujian Data .....................................................................
3.9.1 Pengujian Validitas ..................................................
3.9.2 Pengujian Reliabilitas ..............................................
3.10 Metode Analisis Data ..........................................................
3.10.1 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) ............
3.10.2 Evaluasi Model Struktural (Inner Model)................
3.10.3 Pengujian Hipotesis .................................................
3.10.4 Uji MRA (Moderated Regression Analysis)............
DAFTAR RUJUKAN ......................................................................................
43
45
46
46
47
48
50
50
50
51
52
53
54
55
61
iv
DAFTAR TABEL
TABEL 2.1
TABEL 3.1
TABEL 3.2
TABEL 3.3
TABEL 3.4
Halaman
Matriks Penelitian Terdahulu ..............................................
14
Daftar OPD Provinsi Sulawesi Tengah ...............................
41
Matriks Operasionalisasi Variabel .......................................
45
Skor Jawaban Pernyataan Kuesioner ...................................
47
Dasar Interpretasi Skor Item Variabel .................................
48
v
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR 2.1
Halaman
Kerangka Pemikiran...........................................................
36
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
: Kuesioner Penelitian
vii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pelaporan keuangan pemerintah di Indonesia merupakan sesuatu hal yang
menarik untuk dikaji, mengingat semakin menguatnya tuntutan akuntabilitas atas
lembaga lembaga publik, baik di pusat maupun daerah. Salamun (2007:107)
menyatakan bahwa tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik
menimbulkan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk
memberikan informasi yang lebih baik kepada publik, salah satunya laporan
keuangan yang merupakan bagian dari pelaporan keuangan.
Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan
mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas
pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan
untuk membandingkan realisasi (pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan)
dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi
efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan
ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan. Pelaporan keuangan tidak
hanya meliputi komponen laporan keuangan, tetapi juga meliputi laporan-laporan
lain yang diperlukan.
Laporan keuangan yang ideal adalah laporan keuangan yang memenuhi
karakteristik kualitatif serta dapat dipertanggungjawabkan kinerja keuangannya
kepada publik, karena laporan keuangan yang dihasilkan nantinya harus
1
dimanfaatkan bagi seluruh entitas sebagai pedoman dalam membuat kebijakankebijakan dan keputusan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Karakteristik
kualitatif merupakan ukuran-ukuran normatif sebuah laporan keuangan yang
harus diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuan
dari laporan keuangan yang dihasilkan. Sebagaimana yang disebutkan dalam
kerangka konseptual akuntansi pemerintah (PP No.24 tahun 2005 yang telah
direvisi menjadi PP No.71 tahun 2010 tentang SAP berbasis akrual) karakteristik
laporan keuangan antara lain: relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat
dipahami. Jika informasi yang terdapat di dalam Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah memenuhi kriteria karakteristik kualitatif, berarti pemerintah daerah telah
mampu mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan
daerah.
Penyusunan
dan
penyajian
laporan
keuangan
sebagai
wujud
pertanggungjawaban APBN/APBD dalam rangka akuntabilitas dan keterbukaan
dalam pengelolaan keuangan negara menjadi tanggungjawab masing-masing
entitas pelaporan. Badan Pengawas Keuangan (BPK) bertanggungjawab dalam
melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara
serta memberikan pendapat berupa opini atas laporan keuangan entitas yang telah
diperiksa berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (UU No. 15 Tahun
2004). Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) kabupaten/kota setiap
tahunnya mendapat penilaian berupa opini dari BPK.
Berdasarkan Undang-undang No.15 Tahun 2004 terdapat 4 (empat) jenis
opini yang diberikan oleh BPK RI yaitu, Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP),
2
Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), Opini Tidak Wajar, dan Pernyataan
Menolak memberi Opini atau Tidak Memberi Pendapat (TMP). Keempat jenis
opini yang dapat diberikan oleh BPK tersebut dasar utamanya adalah kewajaran
penyajian pos pos Laporan Keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP). Ketika BPK memberikan Opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), artinya dapat
dikatakan bahwa laporan keuangan suatu entitas pemerintah daerah tersebut
disajikan dan diungkapkan secara wajar (L.I, 2020).
Opini WTP merupakan impian seluruh institusi baik pusat dan daerah,
sebab dengan opini WTP institusi yang besangkutan dapat mengekspresikan
akuntabilitasnya sebagai entitas kepada para stakeholdernya (publik/masyarakat).
Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah
memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD) Provinsi Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 2019. LKPD Provinsi
Sulawesi Tengah telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material,
posisi keuangan per 31 Desember 2019, dan realisasi anggaran, operasional, serta
perubahan ekuitas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai standar
akuntansi pemerintahan. Berdasarkan laporan BPK bahwa Pemerintah Daerah
Provinsi Sulawesi Tengah telah memperoleh predikat WTP ketujuh kalinya yaitu
sejak tahun 2012 hingga tahun 2019.
Meskipun LKPD Provinsi Sulawesi Tengah mendapat predikat WTP
selama tujuh tahun berturut-turut, namun di dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
Semesteran (IHPS) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi
3
Sulawesi Tengah pada tiga tahun terakhir yaitu tahun 2017 hingga tahun 2019,
diketahui bahwa terdapat beberapa kelemahan di dalam laporan keuangan
pemerintah daerah terutama berkenaan dengan sistem pengendalian antara lain
berupa kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan keuangan,
kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja
serta kelemahan struktur pengendalian internal (Supriyadi, 2019).
Kelemahan di dalam sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan
keuangan antara lain berupa pencatatan transaksi yang tidak akurat atau bahkan
transaksi yang tidak dicatat, aset tetap yang belum diinventarisasi hingga
pencatatan persediaan yang tidak tertib. Hal ini tentu akan menyulitkan Badan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dalam menyusun laporan
keuangan pemerintah daerah yang andal. Masalah utama di dalam laporan
keuangan pemerintah daerah tentu berkaitan dengan aset tetap. Kenyataannya,
banyak aset tetap dalam OPD yang belum dilaporkan kepada BPKAD serta
kepemilikan aset pemerintah daerah yang belum jelas. Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) mensyaratkan penyajian aset tetap memenuhi karakteristik
pelaporan keuangan sehingga aset tetap dalam laporan keuangan memang benarbenar ada, lengkap dan telah mencakup seluruh transaksi aset tetap selama periode
yang dilaporkan, memang dimiliki dan dikuasai oleh pemerintah daerah serta
telah dinilai, dilaporkan dan diklasifikasikan dalam laporan keuangan sesuai
dengan SAP.
Beberapa permasalahan lain juga yang sering terjadi terjadi dalam
penyusunan laporan keuangan yaitu keterlambatan Organisasi Perangkat Daerah
4
menyampaikan data, dan sistem informasi akuntansi maupun pelaporan belum
didukung dengan sumber daya manusia yang memadai. Hal ini ditandai adanya
bantuan dari tenaga ahli di bidang akuntansi/infomasi teknologi pada Badan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam
pembuatan laporan keuangan Pemerintah (Supriyadi, 2020)
Beberapa kelemahan dan permasalahan yang terjadi di Pemerintah
Provinsi Sulawesi Tengah di atas dapat dikatakan bahwa karakteristik laporan
keuangan yang andal masih belum terpenuhi, masih kurangnya kompetensi
sumber daya manusia dan faktor pemanfaatan teknologi informasi yang kurang
baik
dalam
pencatatan
laporan
keuangan
yang
berkemungkinan
ikut
mempengaruhi kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi
Tengah. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian terdahulu tentang
kompetensi aparatur yang dilakukan oleh Zubaidi, dkk (2019); Lasmara dan
Rahayu (2016); Wati, dkk (2014); Indrawan, dkk (2017) bahwa kompentensi
sumber daya manusia berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah. Wati, dkk (2014) juga menjelaskan bahwa keberhasilan suatu entitas
bukan hanya dipengaruhi oleh jumlah sumber daya manusia yang dimilikinya
melainkan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Kompetensi
merupakan dasar seseorang untuk mencapai kinerja tinggi dalam menyelesaikan
kinerjanya.
Sumber daya manusia yang memiliki kompetensi baik akan dapat
menyelesaikan pekerjaanya secara efisien, efektif, dan ekonomis. Penelitian lain
yang dilakukan oleh Kesuma, dkk (2017); Irsan, dkk (2019) menunjukkan hasil
5
yang bebeda yaitu kompetensi aparatur pemerintah tidak memiliki pengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan. Selain kompetensi sumber daya manusia
faktor lain yang juga ikut mempengaruhi baik buruknya kualitas laporan keuangan
adalah dukungan pemanfaatan teknologi informasi. Hal ini didukung oleh hasil
penelitian yang dilakukan Zubaidi, dkk (2019); Darwis dan Meliana (2020);
Baturante, dkk (2018); Ardianto dan Eforis (2019); Yulianto dan Hariwibowo
(2019); Putri dan Agustiawan (2020) menunjukkan pemanfaatan teknologi
informasi dapat mempengaruhi kualitas laporan keuanga pemerintah daerah.
Menurut Darwis dan Meliana (2020) semakin dimanfaatkan teknologi informasi
maka kualitas laporan keuangan akan sangat baik, demikian pula sebaliknya
apabila kurang memanfaatkan teknologi informasi akan mengakibatkan kualitas
laporan keuangan akan kurang baik.
Hal ini terjadi karena teknologi informasi dimungkinkan dapat membantu
operator pemerintah dalam menyusun laporan keuangan pemerintah serta
memudahkan mengolah data keuangan secara sistematis, sehingga pemanfaatan
teknologi informasi akan meminimalisasi berbagai kesalahan yang diakibatkan
human error, karena semua aktivitas pengelolaan keuangan akan tercatat secara
lebih sistematis dan pada akhirnya akan mampu menyajikan laporan keuangan
daerah yang berkualitas. Namun, beberapa penelitian lain yang dilakaukan oleh
Pangestu, dkk (2019); Wardani, dkk (2018) menunjukkan pemanfaatan teknologi
informasi tidak dapat mempengaruhi kualitas laporan keuangan.
Menurut Andrianto dan Rahmawati (2017) sebagai wujud dalam
pencapaian tujuan organisasi, komitmen organisasi merupakan faktor yang juga
6
memiliki peranan. Komitmen organisasi merupakan keinginan untuk tetap
menjadi anggota organisasi. Seseorang yang memiliki komitmen yang kuat
terhadap organisasi akan menunjukkan kesediaan untuk mempertahankan
keanggotannya dalam organisasi dan berusaha keras mencapai tujuan organisasi.
Komitmen Organisasi dibangun atas dasar kepercayaan pegawai atas nilai-nilai
organisasi, kerelaan pegawai membantu mewujudkan tujuan organisasi dan
loyalitas untuk tetap menjadi anggota organisasi. Hal ini berarti bahwa pemerintah
daerah harus mampu menciptakan sikap kerja dari para karyawannya dengan
memegang komitmen untuk mencapai tujuan dari penyelenggaraan keberadaan
serta fungsi dari dibentuknya birokrasi pemerintahan daerah dan memiliki hasrat
yang lebih besar untuk tetap bekerja di kantor pemerintahan tersebut dengan tetap
memegang prinsip akuntabilitas terutama saat melakukan penyusunan laporan
keuangan pemerintah daerah.
Komitmen organisasi dalam penelitian ini berperan sebagai variabel
pemoderasi karena komitmen organisasi memiliki fungsi untuk memperkuat
hubungan antara kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan serta
pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan daerah. Sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratifah dan Ridwan (2012); Andelina dan
Haryanto (2017) komitmen organisasi berhasil memoderasi hubungan antara
kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan serta sistem informasi
akuntansi dan kualitas laporan keuangan. Komitmen organisasi yang baik dapat
mempengaruhi organisasinya untuk mencapai tujuannya. Laporan keuangan
pemerintah daerah yang berkualitas merupakan salah satu tujuan organisasi,
7
sehingga pemerintah daerah akan meningkatkan kompetensi aparatur dan
pemanfaatan teknologi informasi agar kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah dapat berkualitas. Beberapa penelitian lain yang dilakuakan oleh Mariani,
dkk (2019); Siwambudi, dkk (2017); Fathia, dkk (2020) menunjukkan komitmen
organisasi tidak dapat mempengaruhi kompetensi aparatur dan kualitas laporan
keuangan serta pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan.
Berdasarkan
fenomena
dan
adanya
ketidakkonsistenan
penelitian
sebelumnya maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan fokus
pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Judul penelitian ini adalah
“Pengaruh Kompetensi Aparatur dan Pemanfaatan Teknologi Informasi
terhadap Kualitas Laporan Keuangan dengan Komitmen Organisasi sebagai
Variabel Moderasi (Studi Empiris pada Organisasi Perangkat Daerah
Provinsi Sulawesi Tengah)”.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apakah kompetensi aparatur berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan.
2.
Apakah pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas
laporan keuangan.
3.
Apakah komitmen organisasi memperkuat hubungan antara kompetensi
aparatur dan kualitas laporan keuangan.
4.
Apakah komitmen organisasi memperkuat hubungan antara pemanfaatan
teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan.
8
1.3 Tujuan Penelitian
1.
Untuk menguji dan menganalisis pengaruh kompetensi aparatur terhadap
kualitas laporan keuangan.
2.
Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pemanfaatan teknologi informasi
terhadap kualitas laporan keuangan.
3.
Untuk menguji dan menganalisis pengaruh komitmen organisasi memperkuat
hubungan antar kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan.
4.
Untuk menguji dan menganalisis pengaruh komitmen organisasi memperkuat
hubungan antar pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan
keuangan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Aspek Teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat mengembangakan ilmu pengetahuan
khususnya akuntansi sektor publik dan akuntansi keprilakuan.
2.
Aspek Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan tentang peningkatan kualitas
laporan keuangan, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi aparatur
pemerintah daerah. Peneliti selanjutnya juga dapat menjadikan hasil
penelitian ini sebagai referensi untuk melakukan penelitian di masa depan.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan salah satu acuan bagi penelitian saat ini.
Penelitian terdahulu dapat dijadikan sebagai data pendukung untuk melengkapi
teori-teori yang relevan dengan fenomena penelitian yang sedang dibahas. Oleh
karena itu, peneliti telah melakukan kajian terhadap beberapa hasil penelitian
terdahulu yang berkaitan dengan kompetensi aparatur, pemanfaatan teknologi dan
komitmen organisasi terhadap kualitas laporan keuangan .
Zubaidi, dkk (2019) melakukan penelitian tentang kompetensi sumber
daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas laporan
keuangan di kantor pendidikan dan kebudayaan Situbondo. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan
teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan di kantor
pendidikan dan kebudayaan Situbondo. Penelitian yang dilakukan oleh Baturante,
dkk (2018) bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan
pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
Ardianto dan Eforis (2019) juga melakukan penelitian tentang penerapan
standar akuntansi pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi
sumber daya manusia, penerapan sistem pengendalian intern pemerintah, dan
sistem akuntansi keuangan daerah terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi
dan kompetensi sumber daya manusia berpengaruh signifikan terhadap kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah. Yulianto dan Hariwibowo (2019)
melakukan penelitian tentang analisis faktor pendukung, sistem pengendalian
intern pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi dalam peningkatan kualitas
laporan keuangan SKPD di Kabupaten Wonosobo. Hasil penelitiannya
menunjukkan faktor kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi
informasi berpengaruh terhadap SAP.
Putri dan Agustiawan (2020) melakukan penelitian tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi dan pemanfaatan
teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah. Wisna (2013) melakukan penelitian tentang bagaimana pengaruh
teknologi informasi terhadap kualitas akuntansi sistem informasi dan dampaknya
terhadap kualitas informasi akuntansi. Hasil penelitian ini bahwa teknologi
informasi berpengaruh terhadap kualitas sistem informasi akuntasi sehingga
mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Welly dan Saputra (2019) meneliti
tentang faktor penentu kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Hasilnya
menunjukkan kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan sistem
informasi akuntansi keuangan daerah juga berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kualitas laporan keuangan.
11
Mariani, dkk (2019) meneliti tentang the power of commitments for
moderating human resource competency and reporting information systems to the
quality of financial statements (empirical study on the work unit of the ministry of
research technology and higher education in bali province). Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan sistem pelaporan
informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan.
Komitmen organisasi tidak dapat memperkuat pengaruh kompetensi sumber daya
manusia terhadap kualitas laporan keuangan. Sedangkan adanya komitmen
organisasi mampu memperkuat pengaruh sistem informasi pelaporan terhadap
kualitas laporan keuangan.
Siwambudi, dkk (2017) melakukan penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui dan memperoleh bukti empiris mengenai komitmen organisasi
sebagai pemoderasi pengaruh kompetensi sumber daya manusia dan sistem
pengendalian intern pada kualitas laporan keuangan. Hasil penelitian bahwa
kompetensi sumber daya manusia tidak berpengaruh pada kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah, dan interaksi komitmen organisasi dengan
kompetensi sumber daya manusia tidak berpengaruh pada kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah. Ratifah dan Ridwan (2012) meneliti tentang
pengaruh sistem akuntansi keuangan daerah terhadap kualitas laporan keuangan
dengan komitmen organisasi
sebagai pemoderasi. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa sistem akuntansi keuangan daerah memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Begitu pula dengan menambahkan
12
komitmen organisasi sebagai variabel moderasi, sistem akuntansi keuangan
daerah memiliki pengaruh yang signifikan.
Andelina dan Haryanto (2017) meneliti tentang pengaruh penerapan sistem
akuntansi keuangan daerah dan kompetensi sumber daya manusia terhadap
kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi
di SKPD Kabupaten Demak. Hasil penelitian ditemukan komitmen organisasi
berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan SKPD Kabupaten Demak.
Fathia, dkk (2020) meneliti tentang pengaruh penerapan sistem pengendalian
internal pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber
daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi
sebagai variabel moderating (studi kasus organisasi pemerintah daerah pada
Kabupaten Rokan Hilir). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa komitmen
organisasi hanya berhasil memoderasi hubungan antara sistem pengendalian
internal terhadap kualitas laporan keuangan daerah, sedangkan komitmen
organisasi tidak berhasil memoderasi hubungan antara pemanfaatan teknologi
informasi dan kompetensi sumber daya manusia terhadap kualitas laporan
keuangan daerah.
Hasil-hasil penelitian tersebut menjadi dasar peneliti untuk mengkaji dengan
menguji dan menganalisis pengaruh kompetensi aparatur dan pemanfaatan
teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen
organisasi sebagai variabel moderasi . Berikut matriks
penelitian terdahulu
termuat dalam tabel 2.1.
13
Tabel 2.1
Matrix Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti dan judul
Persamaan Penelitian
Perbedaan
Penelitian
1
2
Zubaidi, dkk (2019).
1.
Pengaruh Kompetensi
Sumber Daya Manusia dan
Pemanfaatan Teknologi
Informasi terhadap
Kualitas Laporan
2.
Keuangan.
3.
4.
1. Variabel penelitian
2. Subjek Penelitian
3. Motode Analisis
4. Alat Statistik
Baturante, dkk (2018).
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kualitas
Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah
Provinsi Sulawesi Selatan.
1.
2.
3.
4.
3
Penelitian
Variabel penelitian
Subjek Penelitian
Metode Analisis
Alat Statistik
Ardianto dan Eforis
(2019).
Pengaruh Penerapan
Standar Akuntansi
Pemerintah, Pemanfaatan
Teknologi Informasi,
Kompetensi Sumber Daya
Manusia, Penerapan
Kompetensi SDM
(X1), Pemanfaatan
TI (X2, Kualitas
Laporan Keuangan
(Y).
-
1. Kompetensi
Sumber Daya
Manusia (X1), ,
Pemanfaatan
Teknologi
Informasi (X2),
Kualitas Laporan
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. Kompetensi SDM
(X1), Pemanfaatan
TI (X2), Kualitas
Laporan Keuangan
(Y)
2. –
3. –
4. –
1.
2.
3.
4.
–
Dinas
Pendidikan
dan
Kebudayaan
Situbondo.
Regresi Linier
Berganda
SPSS
1. Sistem
Pengendalian
Intern
Pemerintah,
Penerapan
Standar
Akuntansi
Pemerintahan,
Review Atas
Laporan
Keuangan Dan
Budaya
Birokrasi
2. OPD Provinsi
Sulawesi
Selatan
3. Deskripsi dan
Eksploratori
4. SPSS
1. SAP,
Penerapan
SPIP, Sistem
Keuangan
Daerah
2. SKPD
Wilayah
Kabupaten
14
No
Nama Peneliti dan judul
Persamaan Penelitian
Perbedaan
Penelitian
Penelitian
Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah, Dan
Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah
Terhadap Kualitas
Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (Studi
Empiris Pada Skpd
Wilayah Kabupaten
Tangerang).
Tangerang
3. Analisis Linier
Berganda
4. SPSS 21
1.
2.
3.
4.
Variabel penelitian
Subjek Penelitian
Metode Analisis
Alat Statistik
4
Yulianto dan Hariwibowo 1.
(2019).
Analisis Faktor Pendukung
Peningkatan Kualitas
Laporan Keuangan SKPD
di Kabupaten Wonosobo.
2.
3.
1. Variabel penelitian
4.
2. Subjek Penelitian
3. Metode Analisis
4. Alat Statistik
5
Putri dan Agustiawan
(2020).
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kualitas
Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (Studi
pada OPD Kabupaten
Kampar).
1.
2.
3.
4.
Variabel penelitian
Subjek Penelitian
Metode Analisis
Alat Statistik
Kompetensi SDM
(X1), Pemanfaatan
TI, Kualitas
Laporan
Keuangan (Y)
–
–
SmartPLS 3.2.7
1. Pemanfaatan TI
(X2), Kualitas
Laporan Keuangan
(Y).
2. –
3. –
4. –
1. SPIP sebagai
sebagai
variabel
independen,
dan SAP
sebagai
variabel
pemoderasi
2. SKPD
Kabupaten
Wonosobo
3. SEM
4. –
1. Penerapan
SAP, Sistem
akuntansi
keuangan
daerah,
Pemahaman
akuntansi
2. OPD
Kabupaten
Kampar
3. Analisis Linier
Berganda
4. SPSS
15
No
Nama Peneliti dan judul
Persamaan Penelitian
Penelitian
6
Wisna (2013).
The Effect of Information
Technology on the Quality
of Accounting Information
system and Its impact on
the Quality of Accounting
Information.
1.
2.
3.
4.
7
8
Variabel penelitian
Subjek Penelitian
Metode Analisis
Alat Statistik
Mariani, dkk (2019).
The Power Of
Commitments For
Moderating Human
Resource Competency And
Reporting Information
Systems To The Quality Of
Financial Statements
(Empirical Study On The
Work Unit Of The Ministry
Of Research Technology
And Higher Education In
Bali Province).
1.
2.
3.
4.
Penelitian
1. Teknologi
Informasi (X2),
Kualitas Laporan
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. Kualitas
Sistem
Informasi
2. Institut dan
politeknik di
Bandung
3. Analisis Jalur
4. –
1. Kompetensi SDM
(X1), Pemanfatan
Sistem Informasi
Akuntansi (X2),
Kualitas Laporan
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. Penerapan
SAP
2. OPD
Kabupaten
Pali
3. Analisis Linier
Berganda
4. SPSS
1. Kompetensi SDM
(X1), Teknologi
Informasi (X2),
Komitmen
Organisasi sebagai
variabel Moderasi),
Kualitas Laporan
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. SmartPLS 3.0
1. –
2. Unit Kerja
Kementerian
Riset
Teknologi dan
Pendidikan
Tinggi
Provinsi Bali
3. PLS
4. –
Variabel penelitian
Subjek Penelitian
Metode Analisis
Alat Statistik
Welly dan Saputra (2019).
Faktor Penentu Kualitas
Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah.
1.
2.
3.
4.
Perbedaan
Variabel penelitian
Subjek Penelitian
Metode Analisis
Alat Statistik
16
No
Nama Peneliti dan judul
Persamaan Penelitian
Penelitian
9
10
11
Siwambudi (2017).
Komitmen Organisasi
Sebagai Pemoderasi
Pengaruh Kompetensi
Sdm Dan Sistem
Pengendalian Intern Pada
Kualitas Laporan
Keuangan.
1. Variabel penelitian
2. Subjek Penelitian
3. Metode Analisis
4. Alat Statistik
Ratifah dan Ridwan
(2012).
Komitmen Organisasi
Memoderasi Pengaruh
Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah terhadap
Kualitas Laporan
Keuangan.
1. Variabel penelitian
2. Subjek Penelitian
3. Metode Analisis
4. Alat Statistik
Andelina dan Hariyanto
(2017).
Pengaruh Penerapan
Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah Dan
Kompetensi Sumber Daya
Manusia Terhadap
Kualitas Laporan
Keuangan Dengan
Komitmen Organisasi
Sebagai Variabel Moderasi
(Studi Empirik Pada Skpd
Kabupaten Demak).
Perbedaan
Penelitian
1. Kompetensi SDM
(X1), Pemanfaatan
TI (X2), Komitmen
Organisasi sebagai
Var. Moderasi,
Kulaitas Lap.
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. SPIP
2. SKPD
Kabupaten
Klungkung
3. MRA
4. IBM SPSS 17
1. Komitmen
Organisasi sebagai
Variabel Moderasi,
Kualitas Laporan
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. SAKD
2. SKPD Kab.
Karawang
3. MRA
4. IBM SPSS
1. Kompetensi SD
(X1), Komitmen
Organisasi sebagai
Var. Moderasi,
Kualitas Lap.
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. Penerapan
SAKD
2. SKPD
Kabupaten
Demak
3. MRA
4. SPSS
1. Variabel penelitian
2. Subjek Penelitian
3. Metode Analisis
17
No
Nama Peneliti dan judul
Persamaan Penelitian
Penelitian
12
4. Alat Statistik
Fathia, dkk (2020).
Pengaruh Penerapan
Sistem Pengendalian
Internal Pemerintah,
Pemanfaatan Teknologi
Informasi, Dan
Kompetensi Sumber Daya
Manusia Terhadap
Kualitas Laporan
Keuangan Dengan
Komitmen Organisasi
Sebagai Variabel
Moderating (Studi Kasus
Organisasi Pemerintah
Daerah Pada Kabupaten
Rokan Hilir).
Perbedaan
Penelitian
1. Kompetensi SDM
(X1), Pemanfaatan
TI (X2), Komitmen
Organisasi sebagai
Var. Moderasi,
Kualitas Laporan
Keuangan (Y)
2. –
3. –
4. –
1. Penerapan
SPIP
2. OPD
Kabupaten
Rokan Hilir
3. MRA
4. SPSS 21
1. Variabel penelitian
2. Subjek Penelitian
3. Metode Analisis
4. Alat Statistik
Sumber : Data diolah Peneliti, 2020
2.2 Teori Keagenan
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu orang atau
lebih (principal) memerintah orang lain (agent) untuk melakukan suatu jasa atas
nama principal serta memberi wewenang kepada agent untuk membuat keputusan
yang terbaik bagi principal (Jensen dan Meckling, 1976). Zimmerman (1997)
menyatakan bahwa agency problem terjadi pada semua organisasi, baik sektor
publik maupun sektor swasta. Pada sektor swasta, agency problem terjadi antara
pemegang saham sebagai principal dan manajemen sebagai agent. Pada sektor
publik, agency problem terjadi antara pejabat yang terpilih sebagai agent dan para
18
pemilih (masyarakat) sebagai principal. Agency problem muncul ketika principal
mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan kepada agent, atau dalam
perjanjian kontrak kerja antara principal dan agent. Hubungan kontrak kerja,
pihak agent secara moral bertanggung jawab dalam memaksimalkan keuntungan
principal, namun di sisi lain agent juga berkepentingan dalam memaksimalkan
kesejahteraan mereka sendiri (Girsang, 2015).
Menurut Girsang (2015), terdapat 2 permasalahan agensi yaitu adanya
informasi asimetris dimana agent secara umum memiliki lebih banyak informasi
dari principal dan terjadinya konflik kepentingan akibat ketidaksamaan tujuan,
dimana agen tidak selalu bertindak sesuai dengan tujuan kepentingan principal.
Akuntabilitas publik merupakan kewajiban pihak pemegang amanah (agent)
untuk
memberikan
pertanggungjawaban,
menyajikan,
melaporkan,
dan
mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya
kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak untuk meminta
pertanggungjawaban tersebut (Girsang, 2015). Pemerintah dalam hal ini
bertanggungjawab memberikan informasi yang transparan dan akuntabel, salah
satunya yaitu melalui kepatuhan dalam penyusunan laporan keuangan
pemerintahan sekaligus pengungkapan dan penyajian laporan sewajar mungkin.
Jensen dan Meckling (1976), menjelaskan bahwa terdapat perbedaan
kepentingan antara principal dan agent, sehingga agent tidak selamanya
mengikuti keinginan principal. Hubungan keagenan tersebut juga terjadi di
pemerintahan antara rakyat sebagai agent dan pemerintah sebagai principal.
Pemerintah dapat melakukan kebijakan yang hanya mementingkan pemerintah
19
dan penguasa dan mengorbankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Untuk
mengurangi konflik maka diperlukan monitoring oleh principal atas apa yang
dilakukan oleh agent. Laporan keuangan dan pengungkapan informasi kepada
publik adalah salah satu bentuk alat monitoring untuk mengurangi agency cost.
Konsep pemberian informasi melalui internet kepada publik dapat dijadikan alat
untuk mengurangi konflik keagenan (Girsang, 2015).
2.3 Kualitas Laporan Keuangan
2.3.1 Unsur Laporan Keuangan
Berdasarkan PP 71 Tahun 2010 tentang SAP, laporan
keuangan
pemerintah terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran (budgetary reports),
laporan finansial, dan CaLK. Laporan pelaksanaan anggaran terdiri dari LRA dan
Laporan Perubahan SAL. Laporan finansial terdiri dari Neraca, LO, LPE, dan
LAK. CaLK merupakan laporan yang merinci atau menjelaskan lebih lanjut
atas pos pos laporan pelaksanaan anggaran maupun laporan finansial dan
merupakan laporan yang tidak terpisahkan dari laporan pelaksanaan anggaran
maupun laporan finansial.
2.3.2 Karakteristik Laporan Keuangan
Kualitas laporan keuangan dapat dikatakan baik adalah apabila informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami, dan memenuhi
kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan, sehingga laporan
keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Namun demikian, perlu disadari bahwa laporan keuangan tidak menyediakan
20
semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Secara umum, laporan keuangan menggambarkan pengaruh
dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non
keuangan.
Berdasarkan PP No.71 Tahun 2010 tentang SAP, karakteristik kualitatif
laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam
informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya . Keempat karakteristik
yang merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan
pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki:
1.
Relevan
Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat
di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu
pengguna laporan keuangan mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini dan
memprediksi masa depan serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi di
masa lalu. Dengan demikian informasi laporan keuangan yang relevan dapat
dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Informasi yang relevan yaitu:
(a) Memiliki Manfaat Umpan Balik (Feedback Value)
Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan alat mengoreksi
ekspektasi di masa lalu.
(b) Memiliki Manfaat Prediktif (Predictive Value)
Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang
akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini.
(c) Tepat Waktu
21
Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna
dalam Pengambilan keputusan.
(d) Lengkap
Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin
yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir
informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan
dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat
dicegah.
2.
Andal
Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian
yang
menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta
dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau
penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara
potensial dapat menyesatkan. Informasi yang andal memenuhi karakteristik:
(a) Penyajian Jujur
Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya
yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk
disajikan.
(b) Dapat Diverifikasi (Verifiability)
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan
apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda,
hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh.
22
(c) Netratitas
Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada
kebutuhan pihak tertentu.
3.
Dapat Dibandingkan
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika
dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan
keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan
secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila
suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun.
Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan
menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah akan
menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi
yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode
terjadinya perubahan.
4.
Dapat Dipahami
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh
pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan
batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna diasumsikan memiliki
pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas
pelaporan, serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang
dimaksud.
23
2.4 Kompetensi Apratur
2.4.1 Pengertian Kompetensi
Berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab
yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat
dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Menurut Emron, dkk (2017:140) kompetensi adalah kemampuan individu
untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar dan memiliki keunggulan yang
didasarkan pada hal-hal yang menyangkut pengetahuan, keahlian dan sikap.
Menurut Wibowo (2017:271), kompetensi adalah suatu kemampuan atau
melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan yang dilandasi oleh keterampilan dan
pengetahuan.
2.4.2 Manfaat Kompetensi
Manfaat kompetensi menurut Emron, dkk (2017:160) kompetensi begitu
penting dalam dunia usaha sebagai dasar perekrutan (recruitmen). Bahkan
beberapa pakar menyatakan IQ tinggi belum tentu menjamin keberhasilan karna
hasil IQ lebih banyak kearah “kecendrungan”. Menurut hasil penelitian beberapa
pakar terhadap CEO (Chiep Executive Officer) yang telah berhasil di berbagai
Negara, sumbangan IQ dalam keberhasilan hidup dan pengembangan karier
seseorang hanya mencapai 20% sedangkan 80% justru di pengaruhi oleh
kecerdasan emosional (Emotional Quotience). Bahkan ia sampai kepada
rekomendasi bahwa perlu mengganti tes intelegensi dengan tes yang mendasarkan
kompetensi (Barrett & Depinet dalam Sudarmanto, 2009:97).
24
Pentingnya kompetensi ini membuat sistem perkembangannya bagi setiap
perusahan/organisasi yang ingin sukses wajib dan harus dilakukan seluas-luasnya,
lebih-lebih pada perusahaan modern saat ini. Adapun indikator dari kompetensi
aparatur menurut UU RI No.20 Tahun 2003 meliputi (1) Pengetahuan
(Knowledge), (2) Keterampilan (Skill), (3) Sikap (Attitude).
1.
Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan atau knowledge adalah hasil penginderaan manusia atau hasil
tahu seseorang terhadap suatu objek melalui panca indra yang dimilikinya. Panca
indra manusia guna penginderaan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan untuk menghasilkan
pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap
objek. Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indra pendengaran
dan indra penglihatan (Notoatmodjo, 2014:112).
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat erat
hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka akan semakin
luas pengetahuannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah tidak mutlak
berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh
dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non
formal (Notoatmodjo, 2014:112).
2.
Keterampilan (Skill)
Keterampilan (skill) berarti kemampuan untuk mengoperasikan suatu
pekerjaan secara mudah dan cermat yang membutuhkan kemampuan dasar (basic
ability) (Robbins, 2000:494). Keterampilan akan dapat dicapai atau ditingkatkan
25
dengan latihan tindakan secara berkesinambungan. Keterampilan tidak hanya
membutuhkan training saja tetapi kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang
dapat lebih membantu menghasilkan sesuatu yang bernilai dengan lebih cepat
(Robbins, 2000:495).
3.
Sikap (Attitude)
Menurut Notoadmodjo (2003:124) mengemukakan bahwa sikap (attitude)
adalah merupakan reaksi atau respon dari seseorang terhadap stimulus atau obyek.
2.5 Pemanfaatan Teknologi Informasi
Teknologi informasi dapat diartikan sebagai suatu teknologi yang
digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun,
menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan
informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu,
yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan
informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Pemanfaatan teknologi
informasi dalam penelitian ini adalah semua aspek yang berkaitan dengan
perubahan cara kerja dari yang semula dilakukan secara manual menuju sistem
yang terkomputerisasi.
Teknologi informasi meliputi komputer (mainframe, mini, micro),
perangkat lunak (software), database, jaringan (internet, intranet), electronic
commerce, dan jenis lainnya yang berhubungan dengan teknologi informasi.
Teknologi informasi selain sebagai teknologi komputer (hardware dan software)
untuk pemrosesan dan penyimpanan informasi, juga berfungsi sebagai teknologi
26
komunikasi untuk penyebaran informasi. Komputer sebagai salah satu komponen
dari teknologi informasi merupakan alat yang bisa melipat-gandakan kemampuan
yang dimiliki manusia dan komputer juga bisa mengerjakan sesuatu yang manusia
mungkin tidak mampu melakukannya (Wilkinson, et al. 2000:40).
Menurut Wilkinson, et al. (2000:42) yang lebih penting dari semua
perubahan kerja dari manual menjadi sistem yang terkomputerisasi ini adalah
peningkatan dalam hal:
1.
Pemrosesan transaksi dan data lainnya lebih cepat.
2.
Keakurasian dalam perhitungan dan pembandingan lebih besar.
3.
Kos pemrosesan masing-masing transaksi lebih rendah.
4.
Penyiapan laporan dan output lainnya lebih tepat waktu.
5.
Tempat penyimpanan data lebih ringkas dengan aksesibilitas lebih tinggi
ketika dibutuhkan.
6.
Pilihan pemasukan data dan penyediaan output lebih luas/banyak, dan
7.
Produktivitas lebih tinggi bagi karyawan dan manager yang belajar untuk
menggunakan komputer secara efektif dalam tanggung jawab rutin dan
pembuatan keputusan.
Perkembangan teknologi informasi tidak hanya dimanfaatkan pada
organisasi bisnis tetapi juga pada organisasi sektor publik, termasuk
pemerintahan. Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi
Keuangan Daerah disebutkan bahwa untuk menindaklanjuti terselenggaranya
proses pembangunan yang sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang
baik (Good Governance), pemerintah, dan pemerintah daerah berkewajiban untuk
27
mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk
meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan
informasi keuangan daerah kepada pelayanan publik. Pemerintah perlu
mengoptimalisasi pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk membangun
jaringan sistem informasi manajemen dan proses kerja yang memungkinkan
pemerintahan bekerja secara terpadu dengan menyederhanakan akses antar unit
kerja. Saat ini telah di kenal istilah E-Goverment (E-Gov), pemerintah digital,
online pemerintah atau pemerintah transformasi. Melalui penerapan E-Gov
pemerintah dapat mempermudah akses informasi bagi masyarakat, unit bisnis,
pegawai, stakeholder, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan.
Adapun indikator dari pemanfaatan teknologi informasi menurut Wilkinson, et al.
(2000:45) meliputi (1) penggunaan komputer dan, (2) jaringan.
1.
Komputer
Menurut Wilkinson, et al. (2000:47) Komputer adalah alat elektronik yang
menerima inputdata, mengolah data, dan memberikan informasi dengan
menggunakan suatu program yang tersimpan di memori komputer (stored
program) dan menyimpan program dan hasil pengolahan yang bekerja secara
otomatis.
2.
Jaringan
Menurut Wilkinson, et al. (2000:49) jaringan komputer adalah sebuah
sistem yang terdiri atas komputer-komputer yang didesain untuk dapat berbagi
sumber daya (printer, CPU), berkomunikasi (surel, pesan instan), dan dapat
mengakses informasi (peramban web). Tujuan dari jaringan komputer adalah agar
28
dapat mencapai tujuannya, setiap bagian dari jaringan komputer dapat meminta
dan memberikan layanan (service). Pihak yang meminta/menerima layanan
disebut klien (client) dan yang memberikan/mengirim layanan disebut peladen
(server). Desain ini disebut dengan sistem client-server, dan digunakan pada
hampir seluruh aplikasi jaringan komputer.
2.7 Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi dipandang sebagai suatu orientasi nilai terhadap
organisasi yang menunjukkan individu sangat memikirkan dan mengutamakan
pekerjaan dan organisasinya. Individu akan berusaha memberikan segala usaha
yang dimilikinya dalam rangka membantu organisasi mencapai tujuannya. Berikut
ini adalah beberapa defenisi komitmen organisasi menurut para ahli. Griffin
(2004:84)
menjelaskan,
komitmen
organisasi
merupakan
sikap
yang
mencerminkan sejauh mana seseorang individu atau pegawai mengenal dan terikat
pada organisasinya. Robbins dan Judge (2007) bahwa komitmen organisasi adalah
suatu keadaan dimana seorang pegawai memihak kepada tujuan-tujuan organisasi
serta berkeyakinan untuk tetap menjadi anggota dari organisasi. Hal serupa juga
diungkapkan oleh Allen dan Meyer (1990) menyatakan bahwa komitmen
organisasi adalah keyakinan yang kuat dan penerimaan nilai-nilai serta tujuan
organisasi, dengan melibatkan diri dan loyal untuk terus berada di organisasi.
Begitupula dengan (Sopiah, 2008:97) menyatakan komitmen organisasi
sebagai keadaan dimana karyawan percaya dan mau menerima tujuan-tujuan
organisasi. Namun, intensitas komitmen antara karyawan yang satu dengan
29
lainnya terhadap organisasinya berbeda-beda karena adanya pengaruh dari
berbagai sumber. Porter (1974:205) mendefenisikan komitmen organisasi sebagai
kekuatan relatif individual terhadap suatu organisasi dan keterlibatannya dalam
organisasi tertentu, yang dicirikan oleh tiga faktor psikologis yaitu; (1) Keinginan
yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi tertentu, (2) Keinginan untuk
berusaha sekuat tenaga demi organisasi, dan (3) Kepercayaan yang pasti dan
penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka komitmen organisasi adalah suatu
sikap dan perilaku individu untuk menyelaraskan perilakunya dengan kebutuhan
dan tujuan organisasi yang mendapat dorongan dari dalam diri individu untuk
mau berusaha menggunakan cara apapun demi tercapainya kebutuhan dan tujuan
organisasi tersebut. Adapun indikator dari komitmen organisasi menurut (Allen
dan Meyer, 1990) meliputi (1) komitmen afektif, (2) komitmen normatif, dan (3)
komitmen berkelanjutan.
1.
Komitmen Afektif
Komitmen ini mengacu pada hubungan emosional anggota terhadap
organisasi. Orang-orang ingin terus bekerja untuk organisasi tersebut karena
mereka sependapat dengan tujuan dan nilai dalam organisasi tersebut. Orangorang dengan tingkat komitmen afektif yang tinggi memiliki keinginan untuk
tetap berada di organisasi karena mereka mendukung tujuan dari organisasi
tersebut dan bersedia membantu untuk mencapai tujuan tersebut.
30
2.
Komitmen Normatif
Komitmen ini mengacu pada perasaan karyawan dimana mereka
diwajibkan untuk tetap berada di organisasinya karena adanya tekanan dari yang
lain. Karyawan yang memiliki tingkat komitmen normatif yang tinggi akan sangat
memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tentang mereka jika mereka
meninggalkan organisasi tersebut. Mereka tidak ingin mengecewakan atasan
mereka dan khawatir jika rekan kerja mereka berpikir buruk terhadap mereka
karena pengunduran diri tersebut.
3.
Komitmen Berkelanjutan
Komitmen ini mengacu pada keinginan karyawan untuk tetap tinggal di
organisasi tersebut karena adanya perhitungan atau analisis tentang untung dan
rugi dimana nilai ekonomi yang dirasa dari bertahan dalam suatu organisasi
dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. Semakin lama karyawan
tinggal dengan organisasi, semakin karyawan takut kehilangan apa yang telah
diinvestasikan di dalam organisasi selama ini.
2.8 Kerangka Pemikiran
Kualitas laporan keuangan dapat dikatakan baik adalah apabila informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami, dan memenuhi
kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan, sehingga laporan
keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Untuk peningkatan kualitas informasi pelaporan keuangan, pemerintah wajib
31
mengikuti Peraturan Pemerintah No.71 Tahun 2010 tentang SAP yang berbasis
akrual. Berdasarkan hal ini kualitas laporan keuangan dipengaruhi oleh
kompetensi aparatur, karena semakin berkompeten aparatur sebuah organisasi
maka akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan.
Pemanfaatan teknologi juga mempengaruhi kualitas laporan keuangan,
untuk mendukung peningkatan kualitas laporan keuangan perlu adanya
pemanfaatan teknologi sehingga informasi yang disajikan di dalam laporan
keuangan dapat mewujudkan pelaporan dan pengungkapan yang jelas.
Pemanfaatan teknologi informasi oleh pemerintah daerah dan organisasi
perangkat daerah (OPD) diatur dalam PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem
Informasi Keuangan Daerah, dan pemanfaatan teknologi juga dipengaruhi oleh
sumber daya manusia yang berkualitas.
Faktor lain yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan adalah
komitmen organisasi. Sebagai wujud dalam pencapaian tujuan organisasi,
komitmen organisasi merupakan faktor yang memiliki peranan penting.
Komitmen organisasi merupakan keinginan untuk tetap menjadi anggota
organisasi. Seseorang yang memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi
akan menunjukkan kesediaan untuk mempertahankan keanggotannya dalam
organisasi dan berusaha keras mencapai tujuan organisasi. Komitmen Organisasi
dibangun atas dasar kepercayaan pegawai atas nilai-nilai organisasi, kerelaan
pegawai membantu mewujudkan tujuan organisasi dan loyalitas untuk tetap
menjadi anggota organisasi (Andrianto dan Rahmawati, 2017).
32
Hal ini berarti bahwa pemerintah daerah harus mampu menciptakan sikap
kerja dari para karyawannya dengan memegang komitmen untuk mencapai tujuan
dari penyelenggaraan keberadaan serta fungsi dari dibentuknya birokrasi
pemerintahan daerah dan memiliki hasrat yang lebih besar untuk tetap bekerja di
kantor pemerintahan tersebut dengan tetap memegang prinsip akuntabilitas
terutama saat melakukan penyusunan laporan keuangan.
Laporan keuangan
pemerintah daerah yang berkualitas merupakan salah satu tujuan organisasi,
sehingga pemerintah daerah akan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia
dan pemanfaatan teknologi informasi agar kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah lebih baik dari sebelumnya. Adapun gambar kerangka pemikiran dari
penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:
PEMANFAATAN
TI (X1)
H3
KOMITMEN
ORGANISASI (Z)
KUALITAS
LAPORAN
KEUANGAN (Y)
H4
KOMPETENSI
APARATUR (X2)
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
33
2.9 Hipotesis Penelitian
2.9.1 Pengaruh Kompetensi Aparatur Terhadap Kualitas Laporan
Keuangan
Menurut Sunyoto (2012:165) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
produktivitas manusia dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi antara
lain pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), kemampuan (abilities), sikap
(attitude), dan perilaku (behavior). Pendapatnya Warisno (2008) menyatakan
bahwa kegagalan SDM pemerintah daerah dalam memahami dan menerapkan
logika akuntansi akan berdampak pada kekeliruan laporan keuangan yang dibuat
dan ketidaksesuaian laporan dengan standar yang ditetapkan pemerintah. Sumber
daya manusia yang berkompeten dalam bidang akuntansi dan keuangan dapat
meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan yang berkualitas
dalam hal pengelolaan dan penatausahaan keuangan daerah sehingga dapat
menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas dengan tepat waktu dan andal.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa kompetensi aparatur dapat
mempengaruhi kuliatas laporan keuangan yaitu penelitian yang dilakukan oleh
Kesuma dkk (2017); Zubaidi dkk (2019), Ardianto dan Eforis (2019); Yulianto
dkk (2019); Anggreni dkk (2018); Welly dan Seputra (2019), hasil penelitian yang
mereka lakukan menunjukkan bahwa kompetensi aparatur berpengaruh signifikan
terhadap kualitas laporan keuangan. Penelitian yang dilakukan oleh Lasmara dan
Rahayu (2016) membuktikan bahwa faktor yang paling dominan yang
mempengaruhi kualitas laporan keuangan yaitu kompetensi sumber daya manusia
hal ini di sebabkan bahwa untuk penyusunan laporan keuangan dibutuhkan
34
sumber daya manusia yang mengerti tata cara pengelolaan keuangan. Berdasarkan
uraian di atas maka hipotesis yang dapat diajukan:
H1 : Kompetensi aparatur berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan.
2.9.2 Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas
Laporan Keuangan
Menurut Amriani (2014) kompleksitas transaksi keuangan akibat
penerapan akuntansi berbasis akrual berdampak pada penyusunan laporan
keuangan berbasis akrual yang jauh lebih kompleks sehingga dapat dipastikan
bahwa penerapan akuntansi berbasis akrual di lingkungan pemerintahan
membutuhkan sistem akuntansi dan sistem berbasis IT yang lebih rumit.
Penggunaan teknologi informasi yang andal diperlukan untuk menunjang
keberhasilan pengolahan data baik pada masa transisi maupun dalam aplikasi
penuh dari basis akrual sehingga kualitas laporan keuangan dapat tercapai.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Darwis dan Meliana (2020)
menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap
kualitas laporan keuangan, artinya semakin dimanfaatkan teknologi informasi
maka kualitas laporan keuangan akan sangat baik, demikian pula sebaliknya
apabila kurang memanfaatkan teknologi informasi akan mengakibatkan kualitas
laporan keuangan akan kurang baik. Hal ini terjadi karena teknologi informasi
dimungkinkan dapat membantu pegawai-pegawai pemerintahan dalam menyusun
laporan keuangan pemerintah serta memudahkan dalam mengolah data keuangan
secara sistematis, sehingga pemanfaatan teknologi informasi akan meminimalisasi
berbagai kesalahan yang diakibatkan human error, karena semua aktivitas
35
pengelolaan keuangan akan tercatat secara lebih sistematis dan pada akhirnya
akan mampu menyajikan laporan keuangan daerah yang berkualitas.
Hasil penelitian yang dilakuakan oleh Wisna (2013); Zubaidi dkk (2019);
Baturante dkk (2018); Indrawan dkk (2017); Ardianto dan Eforis (2019); Yulianto
dan Hariwibowo (2019); Putri dan Agustiawan (2020) menunjukkan bahwa
pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan
pemerintah daerah. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang dapat
diajukan:
H2 : Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan.
2.9.3 Pengaruh Kompetensi Aparatur Terhadap Kualitas
Keuangan Dimoderasi Oleh Komitmen Organisasi
Laporan
Sumber daya manusia merupakan elemen terpenting dalam suatu
organisasi, oleh karena itu pengelolaan sumber daya manusia dilakukan sebaik
mungkin agar mampu memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya
pencapaian tujuan organisasi. Pegawai yang memiliki komitmen yang tinggi
terhadap organisasinya
akan berusaha meningkatkan kinerjanya dengan
memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya dan akan mendorong terwujudnya
laporan keuangan pemerintahan daerah (LKPD) yang berkualitas. Namun
sebaliknya, komitmen pegawai yang rendah cenderung mengakibatkan terjadinya
penurunan kinerja dan akan memperlemah kualitas informasi laporan keuangan
pemerintah daerah (LKPD) yang dihasilkan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Andelina dan Hariyanto (2017)
menunjukkan bahwa hubungan kompetensi SDM dan komitmen organisasi
36
berpengaruh positif terhadap Kualitas Laporan Keuangan SKPD Kabupaten
Demak. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat diajukan :
H3 : Kompetensi aparatur berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan
dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi.
2.9.4 Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas
Laporan Keuangan Dimoderasi Oleh Komitmen Organisasi
Pemanfaaatan
teknologi
informasi
bertujuan
untuk
membantu
mempercepat proses dalam penyajian laporan keuangan agar tepat waktu.
Pegawai yang memiliki komitmen tinggi terhadap organisasinya akan mempunyai
tanggung jawab dan kesadaran untuk menunjukkan dedikasi dan dukungan yang
kuat dalam pencapaian tujuan organisasi dengan memanfaatkan teknologi
informasi agar penyajian laporan keuangan tepat waktu dan berkualitas. Hal ini
menunjukan semakin tinggi komitmen organisasi, maka semakin tinggi pula
pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah.
Hasil penelitian yang dilakuakn oleh Alminanda dan Marfuah (2018)
menunjukkan bahwa komitmen organisasi memperkuat pemanfaatan teknologi
informasi terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Penelitian yang
dilakukan oleh Mariani dkk (2019) juga menunjukkan bahwa komitmen
organisasi mampu memperkuat pengaruh sistem informasi pelaporan terhadap
kualitas laporan keuangan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat
diajukan:
H4: Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi.
37
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan
metode survei. Menurut Sugiyono (2013:11) pengertian metode survey yaitu
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan angket sebagai alat penelitian
yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari
adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan
kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel, sosiologis maupun
psikologis. Alasan mengapa menggunakan metode survei yaitu
1. Untuk kelengkapan data. Metode survei adalah metode kuantitatif, namun
biasanya survei yang dilakukan cenderung lebih sederhana dengan alat
analisis statistik yang sederhana pula (statistik deskriptif) karena sifatnya
hanya sebagai pelengkap data atau informasi. Dengan adanya informasi
atau tambahan data dari hasil survei, maka informasi yang terjadi menjadi
lebih kaya dan lengkap. Sehingga deskripsi detil hasil akhir penelitianpun
benar-benar komprehensif dan memberi kesimpulan yang meyakinkan,
2. Untuk kebutuhan penelitian. Setelah data terkumpul kemudian diolah
peneliti merasa kurang puas dengan hasil penelitiannya, sehingga dia
membutuhkan penelitian lanjutan agar lebih komprehensif.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi atau tempat penelitian yaitu pada 39 Organisasi Perangkat Daerah
yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah dengan waktu penelitian selama 1 bulan
yaitu mulai tanggal 1 Februari hingga 31 Februari 2021.
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Sulawesi Tengah yang terdiri dari 39 OPD.
Tabel 3.1
Daftar OPD Provinsi Sulawesi Tengah
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Nama OPD
Badan Pendapatan Daerah
Dinas Kesehatan Daerah
Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Daerah
Dinas Pariwisata
Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah
Dinas Kehutanan
Dinas Perhubungan Daerah
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah
Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah
Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
Dinas Perkebunan dan Peternakan
Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik
Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang
Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan
Dinas Pemuda dan Olahraga Daerah
Dinas Sosial Daerah
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura
Badan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah
Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah
42
No
Nama OPD
21 Badan Perpustakaan dan Kearsipan
22 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah
23 Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
24 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah
25 Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
26 Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil
27 Dinas Lingkungan Hidup Daerah
28 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
29 Badan Kepegawaian Daerah
30 Dinas Pangan
31 Badan Penanggulangan Bencana Daerah
32 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
33 Inspektorat Daerah
34 Sekretariat Daerah
35 Sekretariat DPRD
36 Badan Penghubung
37 Satuan Polisi Pamong Praja Daerah
38 Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
39 Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Sumber : Data Diolah oleh Peneliti (2021)
Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan sampling jenuh
(sensus) yang merupakan teknik pengambilan sampel dari seluruh anggota
populasi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 39 OPD, tiap OPD dipilih 3
(tiga) responden yang terdiri dari :
1. Kepala OPD atau Sekretaris OPD, selaku pengguna anggaran dan
pengguna barang serta yang mengetahui kompetensi aparatur pada
masing-masing OPD.
2. Kepala Sub Bagian Keuangan dan Aset, selaku pejabat penatausahaan
keuangan (PPK).
43
3. Staf Sub bagian Keuangan dan Aset, selaku admin aplikasi SIMDA
penyusunan laporan keuangan.
Maka jumlah responden dalam penelitian ini yaitu 117 responden.
3.4 Operasionalisasi Variabel
Operasionalsasi variabel dimaksudkan untuk menerangkan variabel yang
digunakan sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, masing-masing variabel
didefinisikan. Penelitian ini menggunakan tiga variabel, yaitu variabel bebas
(independen) yang dilambangkan dengan simbol X, variabel terikat (dependen)
yang dilambangkan dengan simbol Y, serta variabel moderasi yang dilambangkan
dengan simbol Z. Dimana variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kompetensi
Aparatur (X1) dan Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2), variabel terikat adalah
Kualitas Laporan Keuangan (Y) sedangkan variabel moderasi adalah Komitmen
Organisasi (Z).
1.
Kompetensi Aparatur (X1)
Berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang
dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat
dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
2. Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2)
Menurut Wilkinson, et al. (2000:40) pemanfaatan teknologi informasi
merupakan penggunaan secara optimal
database, jaringan,
dari komputer, perangkat lunak,
electronic commerce, dan jenis lainnya yang
44
berhubungan dengan teknologi. Pemerintah daerah berkewajiban untuk
mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk
meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan
informasi keuangan daerah kepada pelayanan publik .
3.
Kualitas Laporan Keuangan (Y)
Berdasarkan PP No.71 tahun 2010, kualitas laporan keuangan tersebut
dapat dilihat dari karakteristik kualitatif laporan keuangan tersebut.
Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang
perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi
tujuannya.
Adapun
karakteristik kualitatif
laporan
keuangan
yaitu:
relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami.
4.
Komitmen Organisasi Pemerintah (Z)
Allen dan Meyer (1990) menyatakan bahwa komitmen organisasi adalah
keyakinan yang kuat dan penerimaan nilai-nilai serta tujuan organisasi,
dengan melibatkan diri dan loyal untuk terus berada di organisasi.
Tabel 3.2
Matriks Operasionalisasi Variabel
No
1
2
Variabel
Kompetensi
Aparatur (X1)
Pemanfaatan
Teknologi
Informasi (X2)
Indikator
1. Pengetahuan (Knowledge
2. Keterampilan (Skill)
3. Sikap (Attitude)
(UU RI No.20 Tahun 2003)
1. Penggunaan komputer dan
2. Jaringan
(Wilkinson, et al. 2000)
Skala
No Item
Ordinal
1-9
Ordinal
10 - 14
45
No
3
4
Variabel
Kualitas
Laporan
Keuangan (Y)
Komitmen
Organisasi (Z)
1.
2.
3.
4.
Indikator
Skala
No Item
Relevan
Andal
Dapat dibandingkan
Dapat dipahami
(PP No. 71 Tahun 2010)
Ordinal
15 - 26
Ordinal
27 - 37
1. Komitmen afektive
2. Komitmen normative
3. Komitmen berkelanjutan
(Allen dan Meyer, 1990)
Sumber: Data Diolah oleh Peneliti (2020)
3.5 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang
merupakan data atau informasi yang di dapatkan dalam bentuk angka. Data
kuantitatif dapat di proses menggunakan rumus matematika atau dapat juga di
analisis dengan sistem statistik.
Sumber data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer merupakan data penelitian yang bersumber sacara langsung tanpa
melalui media perantara. Data primer dalam penelitian ini berupa data kuesioner
yang diperoleh peneliti langsung dari responden yaitu kepala OPD atau sekretaris
OPD, kepala sub bagian keuangan dan aset, dan staf operator aplikasi SIMDA
OPD Provinsi Sulawesi Tengah. Data sekunder merupakan data penelitian yang
bersumber dari OPD Provinsi Sulawesi Tengah. Data ini berupa informasi data
OPD, nama OPD dan profil OPD.
46
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Adapun cara untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1.
Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data dalam bentuk
pengajuan pertanyaan/pernyataan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan/
pernyataan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan harus diisi oleh
responden. Kuesioner yang dibuat akan disebarkan dan diisi oleh seluruh
pengelola keuangan di seluruh OPD Provinsi Sulawesi Tengah selaku
responden, yang mana peneliti sangat mengharapkan kejujuran dari setiap
individu dalam pengisian kuesioner tersebut.
2.
Observasi (pengamatan), adalah alat pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang
diselidiki. Melakukan observasi ini, peneliti secara langsung mendatangi
instansi, utamanya ke beberapa sumber data untuk mengambil data secara
langsung.
3. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya
jawab langsung dengan responden. Teknik wawancara dilakukan untuk
mendukung setiap pernyataan kuisioner yang akan diisi maupun jawaban
kuisioner yang telah diisi oleh responden.
3.7 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data dalam penelitian. Instrumen penelitian adalah perangkat untuk menggali data
47
primer dari responden atau informan sebagai sumber data terpenting dalam sebuah
penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan angket atau kuesioner.
3.7.1 Skala Sikap dan Dasar Interpretasi
Kuesioner penelitian yang digunakan dalam penelitian ini akan diukur
dengan menggunakan skala likert, dimana responden diberikan beberapa alternatif
untuk memilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat. Skala likert secara
umum menggunakan lima kemungkinan jawaban atau angka penilaian sebagai
berikut:
Tabel 3.3
Skor Jawaban Pernyataan Kuesioner Menurut Skala Likert
No
Pilihan
Bobot (skor)
1
Sangat Setuju
5
2
Setuju
4
3
Ragu-Ragu
3
4
Tidak Setuju
2
5
Sangat Tidak Setuju
1
Sumber: Sugiyono (2014:133)
Tanggapan responden yang telah diberi bobot kemudian dibuatkan
distribusi frekuensi dan diinterpretasikan meannya. Penyajian data dalam bentuk
daftar distribusi frekuensi, adalah dimaksudkan sebagai upaya menyusun urutan
data ke dalam kelaskelas interval, untuk kemudian ditentukan jumlah
(frekuensinya), berdasarkan data yang sesuai dengan batas-batas interval kelasnya
(Supangat, 2010:21). Langkah-langkahnya dimulai dari menetapkan jarak (range).
Cara mengetahui range adalah melalui selisih antara bobot nilai tertinggi dan
48
bobot nilai terendah, yaitu 5 – 1 = 4. Untuk mengetahui panjang kelas (P) pada
tiap
interval
kelas
dapat
𝑃=
digunakan
rumus
sebagai
berikut:
𝑅
4
= = 0,8
𝑏
5
Dimana:
P = Panjang Kelas
R = Range
b = Banyak Kelas
Berdasarkan nilai panjang kelas yang diperoleh sebesar 0,8 maka mean
dari tanggapan responden dikelompokkan berdasarkan interval atau batasannya
sebagai berikut:
Tabel 3.4
Dasar Interpretasi Skor Item dalam Variabel Penelitian
Nilai Skor
Interpretasi
>1,0 – 1,8
Tidak Berpartisipasi/Tidak Berkualitas/Tidak Baik
>1,8 – 2,6
Kurang Berpartisipasi/Kurang Berkualitas/Kurang Baik
>2,6 – 3,4
Cukup Berpartisipasi/Cukup Berkualitas/Cukup Baik
>3,4 – 4,2
Berpartisipasi/Berkualitas/Baik
>4,2 – 5,0
Sangat Berpartisipasi/Sangat Berkualitas/Sangat Baik
Sumber: Modifikasi dari Stemple Jr. dalam Noermijati (2010)
3.8 Transformasi Data
Untuk mengukur variabel-variabel dalam penelitian ini dilakukan
penyebaran kuesioner kepada responden. Untuk setiap jawaban diberi skor dan
skor yang diperoleh mempunyai tingkat pengukuran ordinal. Oleh karena itu
seluruh variabel yang berskala ordinal terlebih dahulu dinaikkan atau
49
ditransformasikan tingkat kepengukurannya ke tingkat interval melalui Method Of
Successive Interval (Riduwan dan Kuncoro 2014:30), dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Perhatikan setiap item pernyataan dalam kuesioner.
2. Untuk setiap item tersebut, tentukan berapa orang responden yang
mendapatkan skor 1, 2, 3, 4, 5 yang disebut frekuensi (F).
3. Setiap frekuensi dibagi dengan banyaknya responden dan hasilnya disebut
proporsi (P).
4. Hitung proporsi kumulatif (Pk).
5. Gunakan tabel normal, (Fd) yang sesuai dengan nilai Z.
6. Nilai densitas normal (Fd) yang sesuai dengan nilai Z.
7. Tentukan nilai interval (scale value) untuk setiap skor jawaban sebagai
berikut:
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘£π‘Žπ‘™ (π‘†π‘π‘Žπ‘™π‘’ π‘‰π‘Žπ‘™π‘’π‘’) =
(𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑑𝑦 π‘Žπ‘‘ πΏπ‘œπ‘€π‘’π‘Ÿ πΏπ‘–π‘šπ‘–π‘‘) − (𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑑𝑦 π‘Žπ‘‘ π‘ˆπ‘π‘π‘’π‘Ÿ πΏπ‘–π‘šπ‘–π‘‘)
(π΄π‘Ÿπ‘’π‘Ž π‘ˆπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘ˆπ‘π‘π‘’π‘Ÿ πΏπ‘–π‘šπ‘–π‘‘) − (π΄π‘Ÿπ‘’π‘Ž π‘ˆπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿ πΏπ‘œπ‘€π‘’π‘Ÿ πΏπ‘–π‘šπ‘–π‘‘)
8. Sesuai dengan skala ordinal ke interval, yaitu scale value (SV) yang nilainya
terkecil (harga negatif yang terbesar) diubah menjadi sama dengan 1 (satu).
Transformasi scale value = Y = SV + |SV min | + 1
Dimana:
Density at Lower Limit = Kepadatan batas bawah
Density at Upper Limit = Kepadatan batas atas Area
Under Upper Limit
= Daerah di bawah batas atas Area
Under Lower Limit
= Daerah di bawah batas bawah
50
3.9 Pengujian Data
Data penelitian ini diperoleh dengan cara menyerahkan daftar pertanyaan
kepada responden melalui kuesioner, jawaban dari para responden atas pertanyaan
tersebut merupakan ukuran yang dapat diuji. Data yang diperoleh dari para
responden perlu pengujian validitas dan reliabilitas untuk menghindari hal-hal
yang bias dan meragukan keabsahan penelitian ini.
3.9.1
Pengujian Validitas
Ghozali (2016:76) menyatakan bahwa uji validitas digunakan untuk
mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan
valid jika pertanyaan/pernyataan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan
suatu yang akan di ukur oleh kuesioner tersebut. Valid tidaknya suatu instrument
dapat diketahui dengan membandingkan indeks korelasi Pearson Product
Moment, hasil penelitian yang valid bila nilai r hitung > r tabel atau nilai
signifikansi hasil korelasi < alpha (0,05).
3.9.2
Pengujian Reliabilitas
Ghozali (2016:78) mendefinisikan reliabilitas sebagai alat untuk mengukur
suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner
dikatakan reliabel atau handal apabila jika jawaban seseorang terhadap 80
pertanyaan/pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Instrument penelitian dapat dikatakan reliabel (handal) bila memiliki koefisien
keandalan reliabilitas sebesar 0,6 atau lebih. Uji reliabilitas yang digunakan
adalah dengan melihat Alpha Cronbach atau koefisien reliabilitas.
51
3.10 Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode analisis Structural Equation Model
(SEM) dengan pendekatan Variance Based SEM atau lebih dikenal dengan
Partial Least Square (PLS). Dalam penelitian ini menggunakan WarpPLS yang
dimana metode bootstrapping atau penggandaan dilakukan secara acak, maka
asumsi normalitas tidak akan menjadi malasah dalam WarpPLS. Analisis
WarpPLS adalah pengembangan dari analisis PLS. Mengingat WarpPLS adalah
pengembangan dari PLS maka hal tersebut berlaku sama dengan PLS (Solimun,
2017) yaitu penggunaan PLS dalam penelitian sesuai dengan tujuan penelitian,
dimana penelitian ini bertujuan untuk melakukan prediksi dan mengembangkan
teori, sementara itu Covarian Based SEM lebih ditujukan untuk menguji dan
mengkonfirmasi teori.
Terdapat beberapa alasan penggunaan PLS, yakni; (1) Metode statistik ini
tepat digunakan dalam menguji efek prediksi hubungan antar variabel laten dalam
suatu model; (2) PLS dapat digunakan pada sampel dengan jumlah kecil dan tidak
mensyaratkan adanya distribusi data yang normal (Abdillah dan Jogiyanto,
2015:45). Disisi lain, pada model penelitian ini terdapat lebih dari satu variabel
dependen dan pengukuran konstruknya menggunakan indikator; (3) PLS dapat
menggabungkan metode regresi dan analisis faktor dalam satu teknik statistika
(Abdillah dan Jogiyanto, 2015:69). Oleh karena itu, PLS sangat cocok untuk
dipilih sebagai analisis data pada penelitian ini.
52
3.10.1 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model)
Analisa outer model dilakukan untuk memastikan measurement yang
digunakan layak untuk dijadikan pengukuran valid atau reliabel. Analisa outer
model menspesifikasikan hubungan antar variabel laten dengan indikatorindikatornya, atau dengan kata lain outer model mendefinisikan bagaimana setiap
indikator berhubungan dengan variabel latennya. Uji yang dilakukan pada analisa
outer model terdiri dari:
1.
Convergent Validity
Menurut Bambang dan Lina (2005: 103-104). Convergent validity
merupakan bagian dari measurement model yang dalam SEM-PLS biasanya
disebut sebagai outer loading. Terdapat dua kriteria untuk menilai outer loading
yang memenuhi syarat Convergent validity untuk konstruk reflektif yaitu (1) outer
loading harus di atas 0,50 dan (2) nilai p signifikan yaitu p <0,05 (Bambang dan
Lina, 2005:65). Dengan syarat tersebut, pengukuran konstruk yang diteliti
dianggap telah memenuhi syarat Convergent validity. Namun jika nilai outer
loading dibawah 0,50 atau nilai p signifikan diatas 0.05 maka maka item tersebut
dinyatakan tidak valid atau harus dikeluarkan dari instrument pengukuran.
2.
Composite Reliability
Penilaian dari composite reliability ini dilakukan dengan melihat output
dari view latent variable coefficients. Suatu konstruk dinyatakan reliabel jika
menunjukkan nilai composite reliability > 0,70. Suatu konstruk dikatakan handal
(reliable) jika nilai reliabilitasnya tinggi yang dinilai dengan koefisien reliabilitas
53
yang berkisar antara 0-1. Nilai composite reliability dan cronbach’s alpha
nilainya > 0,70 dapat dikatakan reliabel (Bambang dan Lina, 2005:73).
3.
Discriminan validity
Discriminan validity, melihat bagaimana validitas dari konstruk yang
terbentuk dibandingakn dengan konstruk yang lainnya. Discriminan validity
dilihat berdasarkan nilai Average Variance Extracted (AVE) yaitu AVE harus >
0,5 (Ghozali, 2008:25).
3.10.2 Evaluasi Model Struktural (Inner Model)
Analisa inner model atau analisa struktural model dilakukan untuk
memastikan bahwa model struktural yang dibangun robust dan akurat. Analisis ini
menunjukkan hubungan antara variabel sesuai dengan kebijakan teori serta hasil
penelitian sebelumnya. Hasil inner model dapat dilihat dari beberapa indikator,
yaitu:
1.
Koefisien Determinasi (R2 ). Besar kecilnya R2 menunjukkan besar kecilnya
pengaruh variabel eksogen terhadap variabel indogen. Apabila nilai R2
sebesar 0.67; 0.33; 0.19 dapat disimpulkan model tersebut kuat; moderat; dan
lemah (Lathan dan Ghozali, 2012: 87).
2.
Predictive Relevance (Q2 ). Q2 mengukur seberapa baik nilai observasi yang
dihasilkan oleh model penelitian. Nilai Q2 berkisar antara 0 sampai dengan 1.
Semakin mendekati nilai 1 menunjukkan nilai obeservasi menghasilkan
model semakin baik. Sebaliknya mendekati nilai 0 akan menhasilkan model
yang tidak baik. Kriteria kuat lemahnya medel berdasarkan Q2 yaitu 0.35
(model kuat); 0.15 (model moderat); dan 0.02 (model lemah).
54
3. Goodnes of Fit Index (GoF). Koefisien GoF memiliki nilai 0 sampai dengan
1. Semakin mendekati nilai 1, model menunjukkan tingkat ketepatan yang
semakin tinggi. Sebaliknya semakin menjauh dari nilai 1 atau semakin
mendekati 0, model dinyatakan tingkat ketepatannya semakin lemah. Kriteria
kuat dan lemahnya model berdasarkan pengukuran GoF yaitu 0.36 (GoF
large); 0.25 (GoF medium) dan 0.10 (GoF small) (Lathan dan Ghozali,
2012:89)
3.10.3 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk menjelaskan arah hubungan antara
variabel independen dan variabel dependennya. Pengujian ini dilakukan dengan
cara analisis jalur (path analysis) atau model yang telah dibuat. Program
WarpPLS 6.0 dapat secara simultan menguji model struktural yang komplek
sehingga dapat diketahui hasil analisis jalur dalam satu kali analisis regresi. Hasil
korelasi antar konstruk diukur dengan melihat path coefficients dan tingkat
signifikansinya yang kemudian dibandingkan dengan hipotesis yang terdapat pada
bab tiga. Suatu hipotesis dapat diterima atau harus ditolak secara statistik dapat
dihitung melalui tingkat signifikansinya. Tingkat siginifikansi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sebesar 5%. Apabila tingkat signifikansi yang dipilih
sebesar 5% maka tingkat signifikansi atau tingkat kepercayaan 0.05 untuk
menolak suatu hipotesis (Hair, et.al., 2014). Berikut ini yang digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan yaitu:
1. p-value ≥ 0.05, maka Ho diterima
2. p-value ≤ 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
55
3.10.4 Uji MRA (Moderated Regression Analysis)
Moderated Regression Analysis menggunakan pendekatan analitik yang
mempertahankan integritas sampel dan memberikan dasar untuk mengontrol
pengaruh variabel moderasi. Menurut Ghozali (2016:215) untuk menggunakan
MRA dengan dua variabel prediktor (X), maka kita harus membandingkan tiga
persamaan regresi untuk menentukan jenis variabel moderasi. Ketiga persamaan
tersebut adalah:
Y = b1X1 + b2X2 + e.........................................................................(1)
Y = b1X1 + b2X2 + b3Z + e..............................................................(2)
Y = b1X1 + b2X2 + b3Z + b4X1Z + b5X2Z + e...............................(3)
Persamaan (1) merupakan persamaan multiple regression analysis atau
analisis regresi berganda. Persamaan ini digunakan untuk mengetahui pengaruh
kompetensi aparatur, pemanfaatan teknologi informasi pada kualitas laporan
keuangan. Teknik analisis ini digunakan peneliti untuk menguji hipotesis 1, 2, 3,
dan 4. Jika pada persamaan (2) koefisien b3 signifikan serta pada persamaan (3)
koefisien b4 dan b5 tidak signifikan, maka variabel Z bukan variabel moderasi,
tetapi merupakan variabel independen, intervening, exogen, anteseden, atau
prediktor. Jika pada persamaan (2) koefisien b3 tidak signifikan serta pada
persamaan (3) koefisien b4 dan b5 signifikan, maka variabel Z merupakan pure
moderator (moderator murni). Jika pada persamaan (2) koefisien b3 tidak
signifikan serta pada persamaan (3) koefisien b4 dan b5 juga tidak signifikan,
maka variabel Z merupakan homologizer moderator. Jika pada persamaan (2)
koefisien b3 signifikan serta pada persamaan (3) koefisien b4 dan b5 juga
signifikan, maka variabel Z merupakan quasi moderator.
56
Menurut Ghozali (2016:140) apabila setelah dilakukan pengujian jenis
variabel moderasi didapatkan hasil bahwa variabel komitmen organisasi
merupakan pure moderator (moderator murni) maka persamaan regresi untuk
menguji hipotesis 4 dan 5 dalam penelitian ini menjadi:
Y = b1X1 + b2X2 + b3X1Z + b4X2Z + e.........................................(4)
Keterangan:
Y
= kualitas laporan keuangan
b1
= Standardized Koefisien variabel X1
b2
= Standardized Koefisien variabel X2
b3
= Standardized Koefis ien hasil perkalian variabel X1 dan Z
b4
= Standardized Koefisien hasil perkalian variabel X2 dan Z
X1
= kompetensi aparatur
X2
= pemanfatan teknologi
X1Z = interaksi kompetensi aparatur dan komitmen organisasi
X2Z = interaksi pemanfaatan teknologi informasi dan komitmen organisasi
e
= Error
57
DAFTAR RUJUKAN
Abdillah, Willy. dan Jogiyanto, Hartono. 2015. Partial Least Square (PLS)
Alternatif Structural Equation Modeling (SEM) dalam Penelitian Bisnis.
Ed.1. Yogyakarta: Andi.
Andelina, M.W. dan Hariyanto, A. 2017. Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap
Kualitas Laporan Keuangan Dengan Komitmen Organisasi Sebagai
Variabel Moderasi (Studi Empirik Pada Skpd Kabupaten Demak. Jurnal
Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan, 8(2): 132-152.
Alminanda, Putri. dan Marfuah. 2018. Peran Komitmen Organisasi Dalam
Memoderasi Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Sistem
Pengendalian Intern Dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap
Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal Analisis Bisnis
Ekonomi, 16(2): 118-132.
Anggreni, Ni Made, M,. Widanaputra ,A.A G.P. dan Putri, I.G A.M. 2018.
Pengaruh Good Governance dan Kompetensi Sumber Daya Manusia
pada Kualitas Laporan Keuangan di Kota Denpasar. E-Jurnal Akuntansi
Universitas Udayana, 22(1): 352-380.
Aulia, R., Darwanis. dan Dana, S. 2012. Pengaruh Kompetensi Pelatihan, dan
Sistem Akuntansi Instansi Terhadap Kualitas Pertanggungjawaban
Laporan Keuangan Dana Dekonsentransi. Jurnal Akuntansi, 2(1): 142153.
Ardianto, Rama. dan Eforis, Chermian. 2019. Pengaruh Penerapan Standar
Akuntansi Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Kompetensi
Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah, Dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap Kualitas
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Skpd
Wilayah Kabupaten Tangerang). Jurnal Bina Akuntansi, 6 (1): 95-136.
Andrianto, Elvin. dan Rahmawati, Diana. 2017. Pengaruh Kapasitas Sumber Daya
Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Pemoderasi (Studi
Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Di Kabupaten Sleman).
Jurnal akuntansi dab bisnis, 3(1): 23-37.
Attila, Gyorgy. 2012. Agency Problems in Public Sector. Bucharest Academy of
Economic Studies Faculty of Finance, Assurance, Banks and Stock
Exchange, 1(1): 708-712.
Allen. dan Mayer 1990. The Measurement And Antecedents Of Affective,
Continuance And Normative Commitment To The Organization. Journal
of Occupational Psychology , 63(1): 1-18.
Amriani, T.N. 2014. Menyongsong Penerapan Akuntansi Pemerintahan Berbasis
Akrual. Melalui http://www.bppk.kemenkeu.go.id [07/11/2020].
Bambang, Prasetyo. dan Lina Miftahul Jannah. 2005. Metode Penelitian
Kuantitatif:Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Baturante, N., Kamase, J. dan Nassaruddin, F. 2018. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi
Sulawesi Selatan. Journal of Managemen & Business, 1(2): 117-127.
Darwis, H. dan Meliana. 2020. Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan
Sistim Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan.
JEAMM, 1(2): 76-87.
Donsu, Jenita, D.T. 2017. Psikologi Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka Baru
Press.
Emron, E., Yohny anwar. dan Imas komariyah. 2017. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Bandung: Alfabeta.
Fathia, N., Tanjung, A.R. dan Indrawati, N. 2020. Pengaruh Penerapan Sistem
Pengendalian Internal Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi,
Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating
(Studi Kasus Organisasi Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Rokan
Hilir). Pekbis Jurnal, 12(1): 39‐54.
Gilardi, Fabrizio. 2001. Principal agent models go to Europe:Indeendent
regulatory agencies as ultimate of delegation. Paper preentd at the ECPR
General Conference, Canterbury (UK).
Girsang, Heri, Atapson, V. 2015. Analisa Faktor-Faktor yang Mempenngauhi
Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi
58
pada LKPD Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah Periode 2010-2012).
Skripsi. Semarang: FEB UNDIP.
Griffin, R. W. 2004. Manajemen. Jakarta: Erlangga.
Governmental Accounting Standards Boards (GASB). 1999. “Concepts Statement
No. 1: Objectives of Financial Reporting in Governmental Accounting
Standards Boards Series Statement No. 34: Basic Financial Statement
and Management Discussion and Analysis for State and Local
Government”. Norwalk.
Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS
23 (Edisi 8). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
. 2008. Structural Equation Modelling (Edisi 2). Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Hair., et al. 2014. “Multivariate Data Analysis, New International Edition”. New
Jersey: Pearson.
Hevesi, G, Alan. 2005. Standards for Internal Control in New York State
Government. Melalui :www.osc.state.ny.us. [25/11/2020].
Halim., Abdullah. 2010. Hubungan dan Masalah Keagenan Di Pemerintah
Daerah: (Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi). Jurnal
Akuntansi Pemerintah, 2(1): 54-64.
Hullah, P, Tangkuman. dan Budiarso. 2012. Pengaruh Sumber Daya Manusia
Dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Keterandalan
Pelaporan Keuangan Pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal
Riset Akuntansi Dan Auditing. Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi
Unsrat, 3(2): 201-214.
Iskandar. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: Gunung
Persada Press.
Indrawan, K.O., Wahyuni M.A. dan Yuniarta G.A. 2017. Pengaruh Kualitas
Sumber Daya Manusia Di Bidang Akuntansi, Teknologi Informasi Dan
Penerapan Standar Akuntansi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada
Koperasi Di Kabupaten Buleleng. e-journal S1 Ak Universitas
Pendidikan Ganesha Jurusan Akuntansi Program S1, 7(1): 115-124.
59
Irsan, Mohammad., Suratno. dan Mulyadi, J.M.V. 2019. Pengaruh Standar
Akuntansi Pemerintahan, Sistem Informasi Akuntansi Dan Kompetensi
Pengelolaan Keuangan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Jurnal
Ekobisman, 3(3): 193-210.
Jensen, M, C., dan Meckling, W. 1976. Theory of the firm: Managerial behavior,
agency cost and ownership structure. Journal of Finance Economic,
(3):305-360.
Jogiyanto. 2006. Filosofi Pendekatan dan Penerapan Pembelajaran Metode Kasus.
Yogyakarta: CV Andi offset.
Kesuma, D.P. dan Anwa, C. 2017. Pengaruh Good Governance, Penerapan
Standar Akuntansi Pemerintah, Sistem Pengendalian Internal Pemerintah
Dan Kompetensi Aparatur Pemerintah Terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Pemerintah Pada Satuan Kerja Kementerian Pariwisata. Jurnal
Ilmiah WIDYA Ekonomika, 1(2): 141-146.
Lasmara, Freddie. dan Rahayu, Sri. 2016. Pengaruh Kompetensi Sumberdaya
Manusia, Perangkat Pendukung dan Peran Auditor Internal terhadap
Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci.
Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah, 3(4): 231-242.
Lupia. and McCubbins. 2000. Representation Or Abdication ? How Citizens Use
Institution
To
Help
Delegation
Succeed.
Melalui
http://ssrn.com/abstract58 [25/11/2020].
L, I. 2020. Ragam Opini BPK. Melalui https://www.bpk.go.id/news/ragam-opinibpk [18/12/2020].
Lathan, H. dan Ghozali, I. 2012. Partial Last Squares Konsep, Teknik dan
Aplikasi Menggunakan Program Smart PLS 2.0 M3. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Mahmudi. 2011. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: UII Press.
Mariani, Ni Luh, Eka., Yuesti, Anik. dan Sudja, Nengah. 2019. The Power Of
Commitments For Moderating Human Resource Competency And
Reporting Information Systems To The Quality Of Financial Statements
(Empirical Study On The Work Unit Of The Ministry Of Research
Technology And Higher Education In Bali Province). IJSEGCE, 2(2):
21-29.
60
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Rineka Cipta.
Noermijati. 2010. Kajian Deskriptif Tentang Kondisi Faktor Intrinsik dan
Ekstrinsik serta Kepuasan Kerja Manajer Menengah-Bawah. Malang : UM
Press.
. 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurillah. 2014. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem
Akuntansi Keuangan Daerah (SKAD), Pemanfaatan Tekonologi
Informasi Dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Pemerintah (Studi Empiris Pada SKPD Kota Depok). Jurnal
pemerintahan, 1(3): 78-97.
Pangestu, Marisa, E., Wafirotin, Khusnatul, Z. dan Hartono, Arif. 2019. Pengaruh
Kualitas Sumber Daya Manusia, Sistem Pengendalian Intern, Dan
Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Di Satuan Kerja Perangkat Daerah (Skpd) Kabupaten Ponorogo.
ISOQUANT: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi, 3(2): 108119.
Porter, L.W., Steers, R.M. dan Mowday, R. T. and Baulian, P.V. 1974.
Organization Commitment, Job satisfaction, and Turnover Amog
Psychiatric. Technicians.
Putri, N.R. dan Agustiawan. 2020. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi pada OPD Kabupaten
Kampar). Muhammadiyah Riau Accounting and Business Journal, 1(2):
234-254.
Republik Indonesia. 2003. Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara. Jakarta: Legalitas.
. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Legalitas.
. 2004. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia No. 15
Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara. Jakarta: Legalitas.
. 2005. Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 tentang
Sistem Informasi Keuangan Daerah. Jakarta: Legalitas.
61
. 2005. Peraturan pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah. Jakarta: Legalitas.
. 2005. Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 24
Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Legalitas.
. 2008. Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Jakarta: Legalitas.
. 2010. Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 71
Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Legalitas.
Ratifah, Ifa. dan Ridwan, Mochammad. 2012. Komitmen Organisasi Memoderasi
Pengaruh Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap Kualitas Laporan
Keuangan. Trikonomika, 11(1): 29–39.
Robbins, SP., Judge. 2007. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.
Robbins, SP. 2008. Perilaku Organisasi. Jilid I dan II. Jakarta: Prenhallindo.
Riduwan. dan Kuncoro. 2014. Cara Menggunakan dan Memakai Path Analysis
(Analisis Jalur). Cetakan ke-6. Bandung: Alfabeta.
Salamun, Suyono. 2007. Analisis Laporan Keuangan Daerah. Melalui
www.google.co.id. [26 November 2020].
Siwambudi, I.G.N., Yasa G.W. dan Badera, I.D.N. 2017. Komitmen Organisasi
Sebagai Pemoderasi Pengaruh Kompetensi Sdm Dan Sistem
Pengendalian Intern Pada Kualitas Laporan Keuangan. E-Jurnal
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 6(1): 385-416.
Sutabri, Tata. 2014. Analisis Sistem Informasi. Yokyakarta: CV. Andi Offset
Scott, R.W. 2014. Financial Accounting Theory Ed 7e. Canada: Pearson.
Sudarmanto. 2009. Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sopiah. 2008. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: CV. Andi Offset
Sunyoto, D. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : CAPS
Suliyanto. 2006. Metode Riset Bisnis. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
62
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Supangat, A. 2010. Statistik Dalam Kajian Deskriptif, Inferensi, dan
Nonparametrik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Supriyadi, Edi. 2019. BPK temukan masalah dalam laporan keuangan sembilan
daerah di Sulteng. Melalui https://www.antaranews.com/berita/891726/
[26/11/ 2020].
Sofyan, Yamin. dan Heri, Kurniawan. 2011. Generasi Baru Mengolah Data
Penelitian dengan partial Least Square Path Modeling. Jakarta: Penerbit
Salemba Infotek.
Solimun, Achmad, Adji. 2017. Metode Statistika Multivariat Pemodelan
Persamaan Struktural (SEM) Pendekatan WarpPLS. Malang: UB Press.
Wati, Kadek, D., Herawati, N.T. dan Sinarwati, Ni Kadek. 2014. Pengaruh
Kompetensi Sdm, Penerapan Sap, Dan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah. e-Journal S1 Ak
Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Akuntansi Program S1, 2(1):
134-152.
Wardani, D.K., Ayem. dan Ningrum, T.I. 2018. Pengaruh Kualitas Sumber Daya
Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Penerapan Standar
Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Pengadilan Agama Batam. Prosiding Seminar Nasional
Multimedia & Artificial Intelligence. ISBN: 978-602-52470-4-0.
Widjajanto, Nugroho. 2001. Sistem Informasi Akuntansi (Edisi 4). Jakarta:
Erlangga.
Wati, Kadek, Desiana. 2014. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia,
Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan, Dan Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah. EJournal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha, 2(1).
Warisno, 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi.
Jurnal akuntansi dan Bisnis, 2(1): 97-111.
Welly. dan Seputra, Riqki. 2019. Faktor Penentu Kualitas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah. Jurnal Akuntanika, 5(2): 78-92.
63
Wibowo. 2017. Manajemen Kinerja. Edisi Kelima. Depok: PT. Raja Grafindo
Persada.
Wisna. 2013. Pengaruh Teknologi Informasi terhadap Kualitas Sistem Informasi
Akuntansi dan Dampaknya terhadap Kualitas Informasi akuntan. Jurnal
Penelitian Keuangan dan Akuntansi, 4 (15): 69-75.
Wilkinson., Joseph. dan Willy. 2000. Accounting Information Systems.Fourth
Edition. New York: John Wiley & Sons.
Yulianto, Krist, S., dan Hariwibowo, Ignatius, N. 2019. Analisis Faktor
Pendukung Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan SKPD di
Kabupaten Wonosobo. InFestasi : Jurnal Bisnis dan Akuntansi , 15( 2):
162 – 176.
Yudianto, M, Jafar, Noor. 2007. Jaringan Komputer dan Pengertiannya. Melalui
https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/38407188/Ilmu-komputerJaringan-Komputer-Dan-Pengertiannya.pdf?1438920799 [27/12/ 2020].
Zimmerman, B.J. and Risemberg, R. 1997. Self-regulatory dimensions of
academic learning and motivation. In G. D. Phye (Ed.), Handbook of
academic learning: Construction of knowledge. San Diego: Academic
Press.
Zubaidi, N., Cahyono, D. dan Maharani, A. 2019. Pengaruh Kompetensi Sumber
Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas
Laporan Keuangan. IJSSB, 3(2):68-7.
64
LAMPIRAN I
KUESIONER
PENELITIAN
65
Download