USULAN PENELITIAN PENGARUH KOMPETENSI APARATUR DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Empiris Pada Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah) MADRAWATI PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI PASCASARJANA UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2021 1 PENGARUH KOMPETENSI APARATUR DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Empiris Pada Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah) Oleh MADRAWATI C 302 19 007 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2021 2 PENGESAHAN PENGARUH KOMPETENSI APARATUR DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Empiris Pada Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah) Oleh MADRAWATI C 302 19 007 Telah disetujui oleh Pembimbing pada tanggal Seperti tertera di bawah ini Palu, 2021 Dr. H. Mohammad Iqbal B, SE., M.Si., Ak., CA Ketua Dr. Sudirman, SE., M.Si., Ak., CA Anggota Mengetahui Dr. H. Mohammad Iqbal B, SE., M.Si., Ak., CA Koordinator Program Studi Magister Akuntansi ii DAFTAR ISI Halaman JUDUL ............................................................................................................. i PENGESAHAN ............................................................................................... ii DAFTAR ISI .................................................................................................... iii DAFTAR TABEL ............................................................................................ v DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vii BAB I BAB II BAB III PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................... TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................ 2.2 Teori Keagenan .................................................................... 2.3 Teori Keagenan dalam Organisasi Pemerintahan ................ 2.4 Kualitas Laporan Keuangan................................................. 2.4.1 Unsur Laporan Keuangan ......................................... 2.4.2 Karakteristik Laporan Keuangan .............................. 2.5 Kompetensi Aparatur ........................................................... 2.5.1 Pengertian Kompetensi ............................................. 2.5.2 Manfaat Kompetensi ................................................ 2.6 Pemanfaatan Teknologi Informasi ....................................... 2.7 Komitmen Organisasi .......................................................... 2.8 Kerangka Pemikiran ............................................................ 2.9 Hipotesis Penelitian ............................................................. 2.9.1 Hubungan Kompetensi Aparatur pada Kualitas Laporan Keuangan ..................................... 2.9.2 Hubungan Pemanfaatan Teknologi Informasi pada Kualitas Laporan Keuangan ............................ 2.9.3 Hubungan Kompetensi Aparatur pada Kualitas Laporan Keuangan melalui Komitmen Organisasi .. 2.9.4 Hubungan Pemanfaatan TI pada Kualitas Laporan Keuangan melalui Komitmen Organisasi ................................................................ METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian .................................................................... 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian................................................ 3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ............ 1 8 9 9 11 18 20 22 22 23 26 26 26 28 31 34 36 36 36 37 38 41 41 41 iii 3.4 3.5 3.6 3.7 Operasional Variabel ........................................................... Jenis dan Sumber Data......................................................... Teknik Pengumpulan Data .................................................. Instrumen Penelitian ............................................................ 3.7.1 Skala Sikap dan Dasar Interpretasi .......................... 3.8 Transformasi Data ............................................................... 3.9 Pengujian Data ..................................................................... 3.9.1 Pengujian Validitas .................................................. 3.9.2 Pengujian Reliabilitas .............................................. 3.10 Metode Analisis Data .......................................................... 3.10.1 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) ............ 3.10.2 Evaluasi Model Struktural (Inner Model)................ 3.10.3 Pengujian Hipotesis ................................................. 3.10.4 Uji MRA (Moderated Regression Analysis)............ DAFTAR RUJUKAN ...................................................................................... 43 45 46 46 47 48 50 50 50 51 52 53 54 55 61 iv DAFTAR TABEL TABEL 2.1 TABEL 3.1 TABEL 3.2 TABEL 3.3 TABEL 3.4 Halaman Matriks Penelitian Terdahulu .............................................. 14 Daftar OPD Provinsi Sulawesi Tengah ............................... 41 Matriks Operasionalisasi Variabel ....................................... 45 Skor Jawaban Pernyataan Kuesioner ................................... 47 Dasar Interpretasi Skor Item Variabel ................................. 48 v DAFTAR GAMBAR GAMBAR 2.1 Halaman Kerangka Pemikiran........................................................... 36 vi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I : Kuesioner Penelitian vii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pelaporan keuangan pemerintah di Indonesia merupakan sesuatu hal yang menarik untuk dikaji, mengingat semakin menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga lembaga publik, baik di pusat maupun daerah. Salamun (2007:107) menyatakan bahwa tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada publik, salah satunya laporan keuangan yang merupakan bagian dari pelaporan keuangan. Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi (pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan) dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan. Pelaporan keuangan tidak hanya meliputi komponen laporan keuangan, tetapi juga meliputi laporan-laporan lain yang diperlukan. Laporan keuangan yang ideal adalah laporan keuangan yang memenuhi karakteristik kualitatif serta dapat dipertanggungjawabkan kinerja keuangannya kepada publik, karena laporan keuangan yang dihasilkan nantinya harus 1 dimanfaatkan bagi seluruh entitas sebagai pedoman dalam membuat kebijakankebijakan dan keputusan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Karakteristik kualitatif merupakan ukuran-ukuran normatif sebuah laporan keuangan yang harus diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuan dari laporan keuangan yang dihasilkan. Sebagaimana yang disebutkan dalam kerangka konseptual akuntansi pemerintah (PP No.24 tahun 2005 yang telah direvisi menjadi PP No.71 tahun 2010 tentang SAP berbasis akrual) karakteristik laporan keuangan antara lain: relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami. Jika informasi yang terdapat di dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah memenuhi kriteria karakteristik kualitatif, berarti pemerintah daerah telah mampu mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan daerah. Penyusunan dan penyajian laporan keuangan sebagai wujud pertanggungjawaban APBN/APBD dalam rangka akuntabilitas dan keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara menjadi tanggungjawab masing-masing entitas pelaporan. Badan Pengawas Keuangan (BPK) bertanggungjawab dalam melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara serta memberikan pendapat berupa opini atas laporan keuangan entitas yang telah diperiksa berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (UU No. 15 Tahun 2004). Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) kabupaten/kota setiap tahunnya mendapat penilaian berupa opini dari BPK. Berdasarkan Undang-undang No.15 Tahun 2004 terdapat 4 (empat) jenis opini yang diberikan oleh BPK RI yaitu, Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), 2 Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), Opini Tidak Wajar, dan Pernyataan Menolak memberi Opini atau Tidak Memberi Pendapat (TMP). Keempat jenis opini yang dapat diberikan oleh BPK tersebut dasar utamanya adalah kewajaran penyajian pos pos Laporan Keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Ketika BPK memberikan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), artinya dapat dikatakan bahwa laporan keuangan suatu entitas pemerintah daerah tersebut disajikan dan diungkapkan secara wajar (L.I, 2020). Opini WTP merupakan impian seluruh institusi baik pusat dan daerah, sebab dengan opini WTP institusi yang besangkutan dapat mengekspresikan akuntabilitasnya sebagai entitas kepada para stakeholdernya (publik/masyarakat). Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 2019. LKPD Provinsi Sulawesi Tengah telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan per 31 Desember 2019, dan realisasi anggaran, operasional, serta perubahan ekuitas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai standar akuntansi pemerintahan. Berdasarkan laporan BPK bahwa Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah telah memperoleh predikat WTP ketujuh kalinya yaitu sejak tahun 2012 hingga tahun 2019. Meskipun LKPD Provinsi Sulawesi Tengah mendapat predikat WTP selama tujuh tahun berturut-turut, namun di dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semesteran (IHPS) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi 3 Sulawesi Tengah pada tiga tahun terakhir yaitu tahun 2017 hingga tahun 2019, diketahui bahwa terdapat beberapa kelemahan di dalam laporan keuangan pemerintah daerah terutama berkenaan dengan sistem pengendalian antara lain berupa kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan keuangan, kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja serta kelemahan struktur pengendalian internal (Supriyadi, 2019). Kelemahan di dalam sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan keuangan antara lain berupa pencatatan transaksi yang tidak akurat atau bahkan transaksi yang tidak dicatat, aset tetap yang belum diinventarisasi hingga pencatatan persediaan yang tidak tertib. Hal ini tentu akan menyulitkan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dalam menyusun laporan keuangan pemerintah daerah yang andal. Masalah utama di dalam laporan keuangan pemerintah daerah tentu berkaitan dengan aset tetap. Kenyataannya, banyak aset tetap dalam OPD yang belum dilaporkan kepada BPKAD serta kepemilikan aset pemerintah daerah yang belum jelas. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mensyaratkan penyajian aset tetap memenuhi karakteristik pelaporan keuangan sehingga aset tetap dalam laporan keuangan memang benarbenar ada, lengkap dan telah mencakup seluruh transaksi aset tetap selama periode yang dilaporkan, memang dimiliki dan dikuasai oleh pemerintah daerah serta telah dinilai, dilaporkan dan diklasifikasikan dalam laporan keuangan sesuai dengan SAP. Beberapa permasalahan lain juga yang sering terjadi terjadi dalam penyusunan laporan keuangan yaitu keterlambatan Organisasi Perangkat Daerah 4 menyampaikan data, dan sistem informasi akuntansi maupun pelaporan belum didukung dengan sumber daya manusia yang memadai. Hal ini ditandai adanya bantuan dari tenaga ahli di bidang akuntansi/infomasi teknologi pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam pembuatan laporan keuangan Pemerintah (Supriyadi, 2020) Beberapa kelemahan dan permasalahan yang terjadi di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di atas dapat dikatakan bahwa karakteristik laporan keuangan yang andal masih belum terpenuhi, masih kurangnya kompetensi sumber daya manusia dan faktor pemanfaatan teknologi informasi yang kurang baik dalam pencatatan laporan keuangan yang berkemungkinan ikut mempengaruhi kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian terdahulu tentang kompetensi aparatur yang dilakukan oleh Zubaidi, dkk (2019); Lasmara dan Rahayu (2016); Wati, dkk (2014); Indrawan, dkk (2017) bahwa kompentensi sumber daya manusia berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Wati, dkk (2014) juga menjelaskan bahwa keberhasilan suatu entitas bukan hanya dipengaruhi oleh jumlah sumber daya manusia yang dimilikinya melainkan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Kompetensi merupakan dasar seseorang untuk mencapai kinerja tinggi dalam menyelesaikan kinerjanya. Sumber daya manusia yang memiliki kompetensi baik akan dapat menyelesaikan pekerjaanya secara efisien, efektif, dan ekonomis. Penelitian lain yang dilakukan oleh Kesuma, dkk (2017); Irsan, dkk (2019) menunjukkan hasil 5 yang bebeda yaitu kompetensi aparatur pemerintah tidak memiliki pengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. Selain kompetensi sumber daya manusia faktor lain yang juga ikut mempengaruhi baik buruknya kualitas laporan keuangan adalah dukungan pemanfaatan teknologi informasi. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Zubaidi, dkk (2019); Darwis dan Meliana (2020); Baturante, dkk (2018); Ardianto dan Eforis (2019); Yulianto dan Hariwibowo (2019); Putri dan Agustiawan (2020) menunjukkan pemanfaatan teknologi informasi dapat mempengaruhi kualitas laporan keuanga pemerintah daerah. Menurut Darwis dan Meliana (2020) semakin dimanfaatkan teknologi informasi maka kualitas laporan keuangan akan sangat baik, demikian pula sebaliknya apabila kurang memanfaatkan teknologi informasi akan mengakibatkan kualitas laporan keuangan akan kurang baik. Hal ini terjadi karena teknologi informasi dimungkinkan dapat membantu operator pemerintah dalam menyusun laporan keuangan pemerintah serta memudahkan mengolah data keuangan secara sistematis, sehingga pemanfaatan teknologi informasi akan meminimalisasi berbagai kesalahan yang diakibatkan human error, karena semua aktivitas pengelolaan keuangan akan tercatat secara lebih sistematis dan pada akhirnya akan mampu menyajikan laporan keuangan daerah yang berkualitas. Namun, beberapa penelitian lain yang dilakaukan oleh Pangestu, dkk (2019); Wardani, dkk (2018) menunjukkan pemanfaatan teknologi informasi tidak dapat mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Menurut Andrianto dan Rahmawati (2017) sebagai wujud dalam pencapaian tujuan organisasi, komitmen organisasi merupakan faktor yang juga 6 memiliki peranan. Komitmen organisasi merupakan keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi. Seseorang yang memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi akan menunjukkan kesediaan untuk mempertahankan keanggotannya dalam organisasi dan berusaha keras mencapai tujuan organisasi. Komitmen Organisasi dibangun atas dasar kepercayaan pegawai atas nilai-nilai organisasi, kerelaan pegawai membantu mewujudkan tujuan organisasi dan loyalitas untuk tetap menjadi anggota organisasi. Hal ini berarti bahwa pemerintah daerah harus mampu menciptakan sikap kerja dari para karyawannya dengan memegang komitmen untuk mencapai tujuan dari penyelenggaraan keberadaan serta fungsi dari dibentuknya birokrasi pemerintahan daerah dan memiliki hasrat yang lebih besar untuk tetap bekerja di kantor pemerintahan tersebut dengan tetap memegang prinsip akuntabilitas terutama saat melakukan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. Komitmen organisasi dalam penelitian ini berperan sebagai variabel pemoderasi karena komitmen organisasi memiliki fungsi untuk memperkuat hubungan antara kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan serta pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan daerah. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratifah dan Ridwan (2012); Andelina dan Haryanto (2017) komitmen organisasi berhasil memoderasi hubungan antara kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan serta sistem informasi akuntansi dan kualitas laporan keuangan. Komitmen organisasi yang baik dapat mempengaruhi organisasinya untuk mencapai tujuannya. Laporan keuangan pemerintah daerah yang berkualitas merupakan salah satu tujuan organisasi, 7 sehingga pemerintah daerah akan meningkatkan kompetensi aparatur dan pemanfaatan teknologi informasi agar kualitas laporan keuangan pemerintah daerah dapat berkualitas. Beberapa penelitian lain yang dilakuakan oleh Mariani, dkk (2019); Siwambudi, dkk (2017); Fathia, dkk (2020) menunjukkan komitmen organisasi tidak dapat mempengaruhi kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan serta pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan. Berdasarkan fenomena dan adanya ketidakkonsistenan penelitian sebelumnya maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan fokus pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Judul penelitian ini adalah “Pengaruh Kompetensi Aparatur dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas Laporan Keuangan dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris pada Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah)”. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah kompetensi aparatur berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. 2. Apakah pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. 3. Apakah komitmen organisasi memperkuat hubungan antara kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan. 4. Apakah komitmen organisasi memperkuat hubungan antara pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan. 8 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh kompetensi aparatur terhadap kualitas laporan keuangan. 2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan. 3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh komitmen organisasi memperkuat hubungan antar kompetensi aparatur dan kualitas laporan keuangan. 4. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh komitmen organisasi memperkuat hubungan antar pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Aspek Teoritis Diharapkan hasil penelitian ini dapat mengembangakan ilmu pengetahuan khususnya akuntansi sektor publik dan akuntansi keprilakuan. 2. Aspek Praktis Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan tentang peningkatan kualitas laporan keuangan, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi aparatur pemerintah daerah. Peneliti selanjutnya juga dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai referensi untuk melakukan penelitian di masa depan. 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu merupakan salah satu acuan bagi penelitian saat ini. Penelitian terdahulu dapat dijadikan sebagai data pendukung untuk melengkapi teori-teori yang relevan dengan fenomena penelitian yang sedang dibahas. Oleh karena itu, peneliti telah melakukan kajian terhadap beberapa hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan kompetensi aparatur, pemanfaatan teknologi dan komitmen organisasi terhadap kualitas laporan keuangan . Zubaidi, dkk (2019) melakukan penelitian tentang kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan di kantor pendidikan dan kebudayaan Situbondo. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan di kantor pendidikan dan kebudayaan Situbondo. Penelitian yang dilakukan oleh Baturante, dkk (2018) bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Ardianto dan Eforis (2019) juga melakukan penelitian tentang penerapan standar akuntansi pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia, penerapan sistem pengendalian intern pemerintah, dan sistem akuntansi keuangan daerah terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Yulianto dan Hariwibowo (2019) melakukan penelitian tentang analisis faktor pendukung, sistem pengendalian intern pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi dalam peningkatan kualitas laporan keuangan SKPD di Kabupaten Wonosobo. Hasil penelitiannya menunjukkan faktor kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap SAP. Putri dan Agustiawan (2020) melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Wisna (2013) melakukan penelitian tentang bagaimana pengaruh teknologi informasi terhadap kualitas akuntansi sistem informasi dan dampaknya terhadap kualitas informasi akuntansi. Hasil penelitian ini bahwa teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas sistem informasi akuntasi sehingga mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Welly dan Saputra (2019) meneliti tentang faktor penentu kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Hasilnya menunjukkan kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. 11 Mariani, dkk (2019) meneliti tentang the power of commitments for moderating human resource competency and reporting information systems to the quality of financial statements (empirical study on the work unit of the ministry of research technology and higher education in bali province). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan sistem pelaporan informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Komitmen organisasi tidak dapat memperkuat pengaruh kompetensi sumber daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan. Sedangkan adanya komitmen organisasi mampu memperkuat pengaruh sistem informasi pelaporan terhadap kualitas laporan keuangan. Siwambudi, dkk (2017) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh bukti empiris mengenai komitmen organisasi sebagai pemoderasi pengaruh kompetensi sumber daya manusia dan sistem pengendalian intern pada kualitas laporan keuangan. Hasil penelitian bahwa kompetensi sumber daya manusia tidak berpengaruh pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah, dan interaksi komitmen organisasi dengan kompetensi sumber daya manusia tidak berpengaruh pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Ratifah dan Ridwan (2012) meneliti tentang pengaruh sistem akuntansi keuangan daerah terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai pemoderasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sistem akuntansi keuangan daerah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Begitu pula dengan menambahkan 12 komitmen organisasi sebagai variabel moderasi, sistem akuntansi keuangan daerah memiliki pengaruh yang signifikan. Andelina dan Haryanto (2017) meneliti tentang pengaruh penerapan sistem akuntansi keuangan daerah dan kompetensi sumber daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi di SKPD Kabupaten Demak. Hasil penelitian ditemukan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan SKPD Kabupaten Demak. Fathia, dkk (2020) meneliti tentang pengaruh penerapan sistem pengendalian internal pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating (studi kasus organisasi pemerintah daerah pada Kabupaten Rokan Hilir). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa komitmen organisasi hanya berhasil memoderasi hubungan antara sistem pengendalian internal terhadap kualitas laporan keuangan daerah, sedangkan komitmen organisasi tidak berhasil memoderasi hubungan antara pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan daerah. Hasil-hasil penelitian tersebut menjadi dasar peneliti untuk mengkaji dengan menguji dan menganalisis pengaruh kompetensi aparatur dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi . Berikut matriks penelitian terdahulu termuat dalam tabel 2.1. 13 Tabel 2.1 Matrix Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti dan judul Persamaan Penelitian Perbedaan Penelitian 1 2 Zubaidi, dkk (2019). 1. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas Laporan 2. Keuangan. 3. 4. 1. Variabel penelitian 2. Subjek Penelitian 3. Motode Analisis 4. Alat Statistik Baturante, dkk (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. 1. 2. 3. 4. 3 Penelitian Variabel penelitian Subjek Penelitian Metode Analisis Alat Statistik Ardianto dan Eforis (2019). Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Kompetensi SDM (X1), Pemanfaatan TI (X2, Kualitas Laporan Keuangan (Y). - 1. Kompetensi Sumber Daya Manusia (X1), , Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2), Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. Kompetensi SDM (X1), Pemanfaatan TI (X2), Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. 2. 3. 4. – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Situbondo. Regresi Linier Berganda SPSS 1. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan, Review Atas Laporan Keuangan Dan Budaya Birokrasi 2. OPD Provinsi Sulawesi Selatan 3. Deskripsi dan Eksploratori 4. SPSS 1. SAP, Penerapan SPIP, Sistem Keuangan Daerah 2. SKPD Wilayah Kabupaten 14 No Nama Peneliti dan judul Persamaan Penelitian Perbedaan Penelitian Penelitian Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, Dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Skpd Wilayah Kabupaten Tangerang). Tangerang 3. Analisis Linier Berganda 4. SPSS 21 1. 2. 3. 4. Variabel penelitian Subjek Penelitian Metode Analisis Alat Statistik 4 Yulianto dan Hariwibowo 1. (2019). Analisis Faktor Pendukung Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan SKPD di Kabupaten Wonosobo. 2. 3. 1. Variabel penelitian 4. 2. Subjek Penelitian 3. Metode Analisis 4. Alat Statistik 5 Putri dan Agustiawan (2020). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi pada OPD Kabupaten Kampar). 1. 2. 3. 4. Variabel penelitian Subjek Penelitian Metode Analisis Alat Statistik Kompetensi SDM (X1), Pemanfaatan TI, Kualitas Laporan Keuangan (Y) – – SmartPLS 3.2.7 1. Pemanfaatan TI (X2), Kualitas Laporan Keuangan (Y). 2. – 3. – 4. – 1. SPIP sebagai sebagai variabel independen, dan SAP sebagai variabel pemoderasi 2. SKPD Kabupaten Wonosobo 3. SEM 4. – 1. Penerapan SAP, Sistem akuntansi keuangan daerah, Pemahaman akuntansi 2. OPD Kabupaten Kampar 3. Analisis Linier Berganda 4. SPSS 15 No Nama Peneliti dan judul Persamaan Penelitian Penelitian 6 Wisna (2013). The Effect of Information Technology on the Quality of Accounting Information system and Its impact on the Quality of Accounting Information. 1. 2. 3. 4. 7 8 Variabel penelitian Subjek Penelitian Metode Analisis Alat Statistik Mariani, dkk (2019). The Power Of Commitments For Moderating Human Resource Competency And Reporting Information Systems To The Quality Of Financial Statements (Empirical Study On The Work Unit Of The Ministry Of Research Technology And Higher Education In Bali Province). 1. 2. 3. 4. Penelitian 1. Teknologi Informasi (X2), Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. Kualitas Sistem Informasi 2. Institut dan politeknik di Bandung 3. Analisis Jalur 4. – 1. Kompetensi SDM (X1), Pemanfatan Sistem Informasi Akuntansi (X2), Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. Penerapan SAP 2. OPD Kabupaten Pali 3. Analisis Linier Berganda 4. SPSS 1. Kompetensi SDM (X1), Teknologi Informasi (X2), Komitmen Organisasi sebagai variabel Moderasi), Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. SmartPLS 3.0 1. – 2. Unit Kerja Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Provinsi Bali 3. PLS 4. – Variabel penelitian Subjek Penelitian Metode Analisis Alat Statistik Welly dan Saputra (2019). Faktor Penentu Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. 1. 2. 3. 4. Perbedaan Variabel penelitian Subjek Penelitian Metode Analisis Alat Statistik 16 No Nama Peneliti dan judul Persamaan Penelitian Penelitian 9 10 11 Siwambudi (2017). Komitmen Organisasi Sebagai Pemoderasi Pengaruh Kompetensi Sdm Dan Sistem Pengendalian Intern Pada Kualitas Laporan Keuangan. 1. Variabel penelitian 2. Subjek Penelitian 3. Metode Analisis 4. Alat Statistik Ratifah dan Ridwan (2012). Komitmen Organisasi Memoderasi Pengaruh Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap Kualitas Laporan Keuangan. 1. Variabel penelitian 2. Subjek Penelitian 3. Metode Analisis 4. Alat Statistik Andelina dan Hariyanto (2017). Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderasi (Studi Empirik Pada Skpd Kabupaten Demak). Perbedaan Penelitian 1. Kompetensi SDM (X1), Pemanfaatan TI (X2), Komitmen Organisasi sebagai Var. Moderasi, Kulaitas Lap. Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. SPIP 2. SKPD Kabupaten Klungkung 3. MRA 4. IBM SPSS 17 1. Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderasi, Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. SAKD 2. SKPD Kab. Karawang 3. MRA 4. IBM SPSS 1. Kompetensi SD (X1), Komitmen Organisasi sebagai Var. Moderasi, Kualitas Lap. Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. Penerapan SAKD 2. SKPD Kabupaten Demak 3. MRA 4. SPSS 1. Variabel penelitian 2. Subjek Penelitian 3. Metode Analisis 17 No Nama Peneliti dan judul Persamaan Penelitian Penelitian 12 4. Alat Statistik Fathia, dkk (2020). Pengaruh Penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating (Studi Kasus Organisasi Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Rokan Hilir). Perbedaan Penelitian 1. Kompetensi SDM (X1), Pemanfaatan TI (X2), Komitmen Organisasi sebagai Var. Moderasi, Kualitas Laporan Keuangan (Y) 2. – 3. – 4. – 1. Penerapan SPIP 2. OPD Kabupaten Rokan Hilir 3. MRA 4. SPSS 21 1. Variabel penelitian 2. Subjek Penelitian 3. Metode Analisis 4. Alat Statistik Sumber : Data diolah Peneliti, 2020 2.2 Teori Keagenan Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu orang atau lebih (principal) memerintah orang lain (agent) untuk melakukan suatu jasa atas nama principal serta memberi wewenang kepada agent untuk membuat keputusan yang terbaik bagi principal (Jensen dan Meckling, 1976). Zimmerman (1997) menyatakan bahwa agency problem terjadi pada semua organisasi, baik sektor publik maupun sektor swasta. Pada sektor swasta, agency problem terjadi antara pemegang saham sebagai principal dan manajemen sebagai agent. Pada sektor publik, agency problem terjadi antara pejabat yang terpilih sebagai agent dan para 18 pemilih (masyarakat) sebagai principal. Agency problem muncul ketika principal mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan kepada agent, atau dalam perjanjian kontrak kerja antara principal dan agent. Hubungan kontrak kerja, pihak agent secara moral bertanggung jawab dalam memaksimalkan keuntungan principal, namun di sisi lain agent juga berkepentingan dalam memaksimalkan kesejahteraan mereka sendiri (Girsang, 2015). Menurut Girsang (2015), terdapat 2 permasalahan agensi yaitu adanya informasi asimetris dimana agent secara umum memiliki lebih banyak informasi dari principal dan terjadinya konflik kepentingan akibat ketidaksamaan tujuan, dimana agen tidak selalu bertindak sesuai dengan tujuan kepentingan principal. Akuntabilitas publik merupakan kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Girsang, 2015). Pemerintah dalam hal ini bertanggungjawab memberikan informasi yang transparan dan akuntabel, salah satunya yaitu melalui kepatuhan dalam penyusunan laporan keuangan pemerintahan sekaligus pengungkapan dan penyajian laporan sewajar mungkin. Jensen dan Meckling (1976), menjelaskan bahwa terdapat perbedaan kepentingan antara principal dan agent, sehingga agent tidak selamanya mengikuti keinginan principal. Hubungan keagenan tersebut juga terjadi di pemerintahan antara rakyat sebagai agent dan pemerintah sebagai principal. Pemerintah dapat melakukan kebijakan yang hanya mementingkan pemerintah 19 dan penguasa dan mengorbankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Untuk mengurangi konflik maka diperlukan monitoring oleh principal atas apa yang dilakukan oleh agent. Laporan keuangan dan pengungkapan informasi kepada publik adalah salah satu bentuk alat monitoring untuk mengurangi agency cost. Konsep pemberian informasi melalui internet kepada publik dapat dijadikan alat untuk mengurangi konflik keagenan (Girsang, 2015). 2.3 Kualitas Laporan Keuangan 2.3.1 Unsur Laporan Keuangan Berdasarkan PP 71 Tahun 2010 tentang SAP, laporan keuangan pemerintah terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran (budgetary reports), laporan finansial, dan CaLK. Laporan pelaksanaan anggaran terdiri dari LRA dan Laporan Perubahan SAL. Laporan finansial terdiri dari Neraca, LO, LPE, dan LAK. CaLK merupakan laporan yang merinci atau menjelaskan lebih lanjut atas pos pos laporan pelaksanaan anggaran maupun laporan finansial dan merupakan laporan yang tidak terpisahkan dari laporan pelaksanaan anggaran maupun laporan finansial. 2.3.2 Karakteristik Laporan Keuangan Kualitas laporan keuangan dapat dikatakan baik adalah apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami, dan memenuhi kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan, sehingga laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Namun demikian, perlu disadari bahwa laporan keuangan tidak menyediakan 20 semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Secara umum, laporan keuangan menggambarkan pengaruh dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan. Berdasarkan PP No.71 Tahun 2010 tentang SAP, karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya . Keempat karakteristik yang merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: 1. Relevan Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu pengguna laporan keuangan mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini dan memprediksi masa depan serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi di masa lalu. Dengan demikian informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Informasi yang relevan yaitu: (a) Memiliki Manfaat Umpan Balik (Feedback Value) Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan alat mengoreksi ekspektasi di masa lalu. (b) Memiliki Manfaat Prediktif (Predictive Value) Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini. (c) Tepat Waktu 21 Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam Pengambilan keputusan. (d) Lengkap Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah. 2. Andal Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Informasi yang andal memenuhi karakteristik: (a) Penyajian Jujur Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. (b) Dapat Diverifikasi (Verifiability) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh. 22 (c) Netratitas Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. 3. Dapat Dibandingkan Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan. 4. Dapat Dipahami Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan, serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud. 23 2.4 Kompetensi Apratur 2.4.1 Pengertian Kompetensi Berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Menurut Emron, dkk (2017:140) kompetensi adalah kemampuan individu untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar dan memiliki keunggulan yang didasarkan pada hal-hal yang menyangkut pengetahuan, keahlian dan sikap. Menurut Wibowo (2017:271), kompetensi adalah suatu kemampuan atau melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan. 2.4.2 Manfaat Kompetensi Manfaat kompetensi menurut Emron, dkk (2017:160) kompetensi begitu penting dalam dunia usaha sebagai dasar perekrutan (recruitmen). Bahkan beberapa pakar menyatakan IQ tinggi belum tentu menjamin keberhasilan karna hasil IQ lebih banyak kearah “kecendrungan”. Menurut hasil penelitian beberapa pakar terhadap CEO (Chiep Executive Officer) yang telah berhasil di berbagai Negara, sumbangan IQ dalam keberhasilan hidup dan pengembangan karier seseorang hanya mencapai 20% sedangkan 80% justru di pengaruhi oleh kecerdasan emosional (Emotional Quotience). Bahkan ia sampai kepada rekomendasi bahwa perlu mengganti tes intelegensi dengan tes yang mendasarkan kompetensi (Barrett & Depinet dalam Sudarmanto, 2009:97). 24 Pentingnya kompetensi ini membuat sistem perkembangannya bagi setiap perusahan/organisasi yang ingin sukses wajib dan harus dilakukan seluas-luasnya, lebih-lebih pada perusahaan modern saat ini. Adapun indikator dari kompetensi aparatur menurut UU RI No.20 Tahun 2003 meliputi (1) Pengetahuan (Knowledge), (2) Keterampilan (Skill), (3) Sikap (Attitude). 1. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan atau knowledge adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek melalui panca indra yang dimilikinya. Panca indra manusia guna penginderaan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan untuk menghasilkan pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indra pendengaran dan indra penglihatan (Notoatmodjo, 2014:112). Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat erat hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka akan semakin luas pengetahuannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal (Notoatmodjo, 2014:112). 2. Keterampilan (Skill) Keterampilan (skill) berarti kemampuan untuk mengoperasikan suatu pekerjaan secara mudah dan cermat yang membutuhkan kemampuan dasar (basic ability) (Robbins, 2000:494). Keterampilan akan dapat dicapai atau ditingkatkan 25 dengan latihan tindakan secara berkesinambungan. Keterampilan tidak hanya membutuhkan training saja tetapi kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang dapat lebih membantu menghasilkan sesuatu yang bernilai dengan lebih cepat (Robbins, 2000:495). 3. Sikap (Attitude) Menurut Notoadmodjo (2003:124) mengemukakan bahwa sikap (attitude) adalah merupakan reaksi atau respon dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. 2.5 Pemanfaatan Teknologi Informasi Teknologi informasi dapat diartikan sebagai suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Pemanfaatan teknologi informasi dalam penelitian ini adalah semua aspek yang berkaitan dengan perubahan cara kerja dari yang semula dilakukan secara manual menuju sistem yang terkomputerisasi. Teknologi informasi meliputi komputer (mainframe, mini, micro), perangkat lunak (software), database, jaringan (internet, intranet), electronic commerce, dan jenis lainnya yang berhubungan dengan teknologi informasi. Teknologi informasi selain sebagai teknologi komputer (hardware dan software) untuk pemrosesan dan penyimpanan informasi, juga berfungsi sebagai teknologi 26 komunikasi untuk penyebaran informasi. Komputer sebagai salah satu komponen dari teknologi informasi merupakan alat yang bisa melipat-gandakan kemampuan yang dimiliki manusia dan komputer juga bisa mengerjakan sesuatu yang manusia mungkin tidak mampu melakukannya (Wilkinson, et al. 2000:40). Menurut Wilkinson, et al. (2000:42) yang lebih penting dari semua perubahan kerja dari manual menjadi sistem yang terkomputerisasi ini adalah peningkatan dalam hal: 1. Pemrosesan transaksi dan data lainnya lebih cepat. 2. Keakurasian dalam perhitungan dan pembandingan lebih besar. 3. Kos pemrosesan masing-masing transaksi lebih rendah. 4. Penyiapan laporan dan output lainnya lebih tepat waktu. 5. Tempat penyimpanan data lebih ringkas dengan aksesibilitas lebih tinggi ketika dibutuhkan. 6. Pilihan pemasukan data dan penyediaan output lebih luas/banyak, dan 7. Produktivitas lebih tinggi bagi karyawan dan manager yang belajar untuk menggunakan komputer secara efektif dalam tanggung jawab rutin dan pembuatan keputusan. Perkembangan teknologi informasi tidak hanya dimanfaatkan pada organisasi bisnis tetapi juga pada organisasi sektor publik, termasuk pemerintahan. Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah disebutkan bahwa untuk menindaklanjuti terselenggaranya proses pembangunan yang sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance), pemerintah, dan pemerintah daerah berkewajiban untuk 27 mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan informasi keuangan daerah kepada pelayanan publik. Pemerintah perlu mengoptimalisasi pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk membangun jaringan sistem informasi manajemen dan proses kerja yang memungkinkan pemerintahan bekerja secara terpadu dengan menyederhanakan akses antar unit kerja. Saat ini telah di kenal istilah E-Goverment (E-Gov), pemerintah digital, online pemerintah atau pemerintah transformasi. Melalui penerapan E-Gov pemerintah dapat mempermudah akses informasi bagi masyarakat, unit bisnis, pegawai, stakeholder, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan. Adapun indikator dari pemanfaatan teknologi informasi menurut Wilkinson, et al. (2000:45) meliputi (1) penggunaan komputer dan, (2) jaringan. 1. Komputer Menurut Wilkinson, et al. (2000:47) Komputer adalah alat elektronik yang menerima inputdata, mengolah data, dan memberikan informasi dengan menggunakan suatu program yang tersimpan di memori komputer (stored program) dan menyimpan program dan hasil pengolahan yang bekerja secara otomatis. 2. Jaringan Menurut Wilkinson, et al. (2000:49) jaringan komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer-komputer yang didesain untuk dapat berbagi sumber daya (printer, CPU), berkomunikasi (surel, pesan instan), dan dapat mengakses informasi (peramban web). Tujuan dari jaringan komputer adalah agar 28 dapat mencapai tujuannya, setiap bagian dari jaringan komputer dapat meminta dan memberikan layanan (service). Pihak yang meminta/menerima layanan disebut klien (client) dan yang memberikan/mengirim layanan disebut peladen (server). Desain ini disebut dengan sistem client-server, dan digunakan pada hampir seluruh aplikasi jaringan komputer. 2.7 Komitmen Organisasi Komitmen organisasi dipandang sebagai suatu orientasi nilai terhadap organisasi yang menunjukkan individu sangat memikirkan dan mengutamakan pekerjaan dan organisasinya. Individu akan berusaha memberikan segala usaha yang dimilikinya dalam rangka membantu organisasi mencapai tujuannya. Berikut ini adalah beberapa defenisi komitmen organisasi menurut para ahli. Griffin (2004:84) menjelaskan, komitmen organisasi merupakan sikap yang mencerminkan sejauh mana seseorang individu atau pegawai mengenal dan terikat pada organisasinya. Robbins dan Judge (2007) bahwa komitmen organisasi adalah suatu keadaan dimana seorang pegawai memihak kepada tujuan-tujuan organisasi serta berkeyakinan untuk tetap menjadi anggota dari organisasi. Hal serupa juga diungkapkan oleh Allen dan Meyer (1990) menyatakan bahwa komitmen organisasi adalah keyakinan yang kuat dan penerimaan nilai-nilai serta tujuan organisasi, dengan melibatkan diri dan loyal untuk terus berada di organisasi. Begitupula dengan (Sopiah, 2008:97) menyatakan komitmen organisasi sebagai keadaan dimana karyawan percaya dan mau menerima tujuan-tujuan organisasi. Namun, intensitas komitmen antara karyawan yang satu dengan 29 lainnya terhadap organisasinya berbeda-beda karena adanya pengaruh dari berbagai sumber. Porter (1974:205) mendefenisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan relatif individual terhadap suatu organisasi dan keterlibatannya dalam organisasi tertentu, yang dicirikan oleh tiga faktor psikologis yaitu; (1) Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi tertentu, (2) Keinginan untuk berusaha sekuat tenaga demi organisasi, dan (3) Kepercayaan yang pasti dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. Berdasarkan penjelasan di atas, maka komitmen organisasi adalah suatu sikap dan perilaku individu untuk menyelaraskan perilakunya dengan kebutuhan dan tujuan organisasi yang mendapat dorongan dari dalam diri individu untuk mau berusaha menggunakan cara apapun demi tercapainya kebutuhan dan tujuan organisasi tersebut. Adapun indikator dari komitmen organisasi menurut (Allen dan Meyer, 1990) meliputi (1) komitmen afektif, (2) komitmen normatif, dan (3) komitmen berkelanjutan. 1. Komitmen Afektif Komitmen ini mengacu pada hubungan emosional anggota terhadap organisasi. Orang-orang ingin terus bekerja untuk organisasi tersebut karena mereka sependapat dengan tujuan dan nilai dalam organisasi tersebut. Orangorang dengan tingkat komitmen afektif yang tinggi memiliki keinginan untuk tetap berada di organisasi karena mereka mendukung tujuan dari organisasi tersebut dan bersedia membantu untuk mencapai tujuan tersebut. 30 2. Komitmen Normatif Komitmen ini mengacu pada perasaan karyawan dimana mereka diwajibkan untuk tetap berada di organisasinya karena adanya tekanan dari yang lain. Karyawan yang memiliki tingkat komitmen normatif yang tinggi akan sangat memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tentang mereka jika mereka meninggalkan organisasi tersebut. Mereka tidak ingin mengecewakan atasan mereka dan khawatir jika rekan kerja mereka berpikir buruk terhadap mereka karena pengunduran diri tersebut. 3. Komitmen Berkelanjutan Komitmen ini mengacu pada keinginan karyawan untuk tetap tinggal di organisasi tersebut karena adanya perhitungan atau analisis tentang untung dan rugi dimana nilai ekonomi yang dirasa dari bertahan dalam suatu organisasi dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. Semakin lama karyawan tinggal dengan organisasi, semakin karyawan takut kehilangan apa yang telah diinvestasikan di dalam organisasi selama ini. 2.8 Kerangka Pemikiran Kualitas laporan keuangan dapat dikatakan baik adalah apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami, dan memenuhi kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan, sehingga laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Untuk peningkatan kualitas informasi pelaporan keuangan, pemerintah wajib 31 mengikuti Peraturan Pemerintah No.71 Tahun 2010 tentang SAP yang berbasis akrual. Berdasarkan hal ini kualitas laporan keuangan dipengaruhi oleh kompetensi aparatur, karena semakin berkompeten aparatur sebuah organisasi maka akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Pemanfaatan teknologi juga mempengaruhi kualitas laporan keuangan, untuk mendukung peningkatan kualitas laporan keuangan perlu adanya pemanfaatan teknologi sehingga informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan dapat mewujudkan pelaporan dan pengungkapan yang jelas. Pemanfaatan teknologi informasi oleh pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah (OPD) diatur dalam PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah, dan pemanfaatan teknologi juga dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan adalah komitmen organisasi. Sebagai wujud dalam pencapaian tujuan organisasi, komitmen organisasi merupakan faktor yang memiliki peranan penting. Komitmen organisasi merupakan keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi. Seseorang yang memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi akan menunjukkan kesediaan untuk mempertahankan keanggotannya dalam organisasi dan berusaha keras mencapai tujuan organisasi. Komitmen Organisasi dibangun atas dasar kepercayaan pegawai atas nilai-nilai organisasi, kerelaan pegawai membantu mewujudkan tujuan organisasi dan loyalitas untuk tetap menjadi anggota organisasi (Andrianto dan Rahmawati, 2017). 32 Hal ini berarti bahwa pemerintah daerah harus mampu menciptakan sikap kerja dari para karyawannya dengan memegang komitmen untuk mencapai tujuan dari penyelenggaraan keberadaan serta fungsi dari dibentuknya birokrasi pemerintahan daerah dan memiliki hasrat yang lebih besar untuk tetap bekerja di kantor pemerintahan tersebut dengan tetap memegang prinsip akuntabilitas terutama saat melakukan penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan pemerintah daerah yang berkualitas merupakan salah satu tujuan organisasi, sehingga pemerintah daerah akan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi agar kualitas laporan keuangan pemerintah daerah lebih baik dari sebelumnya. Adapun gambar kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut: PEMANFAATAN TI (X1) H3 KOMITMEN ORGANISASI (Z) KUALITAS LAPORAN KEUANGAN (Y) H4 KOMPETENSI APARATUR (X2) Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran 33 2.9 Hipotesis Penelitian 2.9.1 Pengaruh Kompetensi Aparatur Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Menurut Sunyoto (2012:165) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas manusia dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi antara lain pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), kemampuan (abilities), sikap (attitude), dan perilaku (behavior). Pendapatnya Warisno (2008) menyatakan bahwa kegagalan SDM pemerintah daerah dalam memahami dan menerapkan logika akuntansi akan berdampak pada kekeliruan laporan keuangan yang dibuat dan ketidaksesuaian laporan dengan standar yang ditetapkan pemerintah. Sumber daya manusia yang berkompeten dalam bidang akuntansi dan keuangan dapat meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan yang berkualitas dalam hal pengelolaan dan penatausahaan keuangan daerah sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas dengan tepat waktu dan andal. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kompetensi aparatur dapat mempengaruhi kuliatas laporan keuangan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Kesuma dkk (2017); Zubaidi dkk (2019), Ardianto dan Eforis (2019); Yulianto dkk (2019); Anggreni dkk (2018); Welly dan Seputra (2019), hasil penelitian yang mereka lakukan menunjukkan bahwa kompetensi aparatur berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Penelitian yang dilakukan oleh Lasmara dan Rahayu (2016) membuktikan bahwa faktor yang paling dominan yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan yaitu kompetensi sumber daya manusia hal ini di sebabkan bahwa untuk penyusunan laporan keuangan dibutuhkan 34 sumber daya manusia yang mengerti tata cara pengelolaan keuangan. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang dapat diajukan: H1 : Kompetensi aparatur berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. 2.9.2 Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Menurut Amriani (2014) kompleksitas transaksi keuangan akibat penerapan akuntansi berbasis akrual berdampak pada penyusunan laporan keuangan berbasis akrual yang jauh lebih kompleks sehingga dapat dipastikan bahwa penerapan akuntansi berbasis akrual di lingkungan pemerintahan membutuhkan sistem akuntansi dan sistem berbasis IT yang lebih rumit. Penggunaan teknologi informasi yang andal diperlukan untuk menunjang keberhasilan pengolahan data baik pada masa transisi maupun dalam aplikasi penuh dari basis akrual sehingga kualitas laporan keuangan dapat tercapai. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Darwis dan Meliana (2020) menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan, artinya semakin dimanfaatkan teknologi informasi maka kualitas laporan keuangan akan sangat baik, demikian pula sebaliknya apabila kurang memanfaatkan teknologi informasi akan mengakibatkan kualitas laporan keuangan akan kurang baik. Hal ini terjadi karena teknologi informasi dimungkinkan dapat membantu pegawai-pegawai pemerintahan dalam menyusun laporan keuangan pemerintah serta memudahkan dalam mengolah data keuangan secara sistematis, sehingga pemanfaatan teknologi informasi akan meminimalisasi berbagai kesalahan yang diakibatkan human error, karena semua aktivitas 35 pengelolaan keuangan akan tercatat secara lebih sistematis dan pada akhirnya akan mampu menyajikan laporan keuangan daerah yang berkualitas. Hasil penelitian yang dilakuakan oleh Wisna (2013); Zubaidi dkk (2019); Baturante dkk (2018); Indrawan dkk (2017); Ardianto dan Eforis (2019); Yulianto dan Hariwibowo (2019); Putri dan Agustiawan (2020) menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang dapat diajukan: H2 : Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. 2.9.3 Pengaruh Kompetensi Aparatur Terhadap Kualitas Keuangan Dimoderasi Oleh Komitmen Organisasi Laporan Sumber daya manusia merupakan elemen terpenting dalam suatu organisasi, oleh karena itu pengelolaan sumber daya manusia dilakukan sebaik mungkin agar mampu memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Pegawai yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasinya akan berusaha meningkatkan kinerjanya dengan memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya dan akan mendorong terwujudnya laporan keuangan pemerintahan daerah (LKPD) yang berkualitas. Namun sebaliknya, komitmen pegawai yang rendah cenderung mengakibatkan terjadinya penurunan kinerja dan akan memperlemah kualitas informasi laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) yang dihasilkan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Andelina dan Hariyanto (2017) menunjukkan bahwa hubungan kompetensi SDM dan komitmen organisasi 36 berpengaruh positif terhadap Kualitas Laporan Keuangan SKPD Kabupaten Demak. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat diajukan : H3 : Kompetensi aparatur berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi. 2.9.4 Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dimoderasi Oleh Komitmen Organisasi Pemanfaaatan teknologi informasi bertujuan untuk membantu mempercepat proses dalam penyajian laporan keuangan agar tepat waktu. Pegawai yang memiliki komitmen tinggi terhadap organisasinya akan mempunyai tanggung jawab dan kesadaran untuk menunjukkan dedikasi dan dukungan yang kuat dalam pencapaian tujuan organisasi dengan memanfaatkan teknologi informasi agar penyajian laporan keuangan tepat waktu dan berkualitas. Hal ini menunjukan semakin tinggi komitmen organisasi, maka semakin tinggi pula pemanfaatan teknologi informasi dan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Hasil penelitian yang dilakuakn oleh Alminanda dan Marfuah (2018) menunjukkan bahwa komitmen organisasi memperkuat pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Penelitian yang dilakukan oleh Mariani dkk (2019) juga menunjukkan bahwa komitmen organisasi mampu memperkuat pengaruh sistem informasi pelaporan terhadap kualitas laporan keuangan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat diajukan: H4: Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi. 37 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Menurut Sugiyono (2013:11) pengertian metode survey yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan angket sebagai alat penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel, sosiologis maupun psikologis. Alasan mengapa menggunakan metode survei yaitu 1. Untuk kelengkapan data. Metode survei adalah metode kuantitatif, namun biasanya survei yang dilakukan cenderung lebih sederhana dengan alat analisis statistik yang sederhana pula (statistik deskriptif) karena sifatnya hanya sebagai pelengkap data atau informasi. Dengan adanya informasi atau tambahan data dari hasil survei, maka informasi yang terjadi menjadi lebih kaya dan lengkap. Sehingga deskripsi detil hasil akhir penelitianpun benar-benar komprehensif dan memberi kesimpulan yang meyakinkan, 2. Untuk kebutuhan penelitian. Setelah data terkumpul kemudian diolah peneliti merasa kurang puas dengan hasil penelitiannya, sehingga dia membutuhkan penelitian lanjutan agar lebih komprehensif. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi atau tempat penelitian yaitu pada 39 Organisasi Perangkat Daerah yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah dengan waktu penelitian selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 Februari hingga 31 Februari 2021. 3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Sulawesi Tengah yang terdiri dari 39 OPD. Tabel 3.1 Daftar OPD Provinsi Sulawesi Tengah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama OPD Badan Pendapatan Daerah Dinas Kesehatan Daerah Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Daerah Dinas Pariwisata Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Dinas Kehutanan Dinas Perhubungan Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Dinas Perkebunan dan Peternakan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Dinas Pemuda dan Olahraga Daerah Dinas Sosial Daerah Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Badan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah 42 No Nama OPD 21 Badan Perpustakaan dan Kearsipan 22 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah 23 Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu 24 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah 25 Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 26 Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil 27 Dinas Lingkungan Hidup Daerah 28 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 29 Badan Kepegawaian Daerah 30 Dinas Pangan 31 Badan Penanggulangan Bencana Daerah 32 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 33 Inspektorat Daerah 34 Sekretariat Daerah 35 Sekretariat DPRD 36 Badan Penghubung 37 Satuan Polisi Pamong Praja Daerah 38 Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 39 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumber : Data Diolah oleh Peneliti (2021) Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan sampling jenuh (sensus) yang merupakan teknik pengambilan sampel dari seluruh anggota populasi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 39 OPD, tiap OPD dipilih 3 (tiga) responden yang terdiri dari : 1. Kepala OPD atau Sekretaris OPD, selaku pengguna anggaran dan pengguna barang serta yang mengetahui kompetensi aparatur pada masing-masing OPD. 2. Kepala Sub Bagian Keuangan dan Aset, selaku pejabat penatausahaan keuangan (PPK). 43 3. Staf Sub bagian Keuangan dan Aset, selaku admin aplikasi SIMDA penyusunan laporan keuangan. Maka jumlah responden dalam penelitian ini yaitu 117 responden. 3.4 Operasionalisasi Variabel Operasionalsasi variabel dimaksudkan untuk menerangkan variabel yang digunakan sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, masing-masing variabel didefinisikan. Penelitian ini menggunakan tiga variabel, yaitu variabel bebas (independen) yang dilambangkan dengan simbol X, variabel terikat (dependen) yang dilambangkan dengan simbol Y, serta variabel moderasi yang dilambangkan dengan simbol Z. Dimana variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kompetensi Aparatur (X1) dan Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2), variabel terikat adalah Kualitas Laporan Keuangan (Y) sedangkan variabel moderasi adalah Komitmen Organisasi (Z). 1. Kompetensi Aparatur (X1) Berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. 2. Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2) Menurut Wilkinson, et al. (2000:40) pemanfaatan teknologi informasi merupakan penggunaan secara optimal database, jaringan, dari komputer, perangkat lunak, electronic commerce, dan jenis lainnya yang 44 berhubungan dengan teknologi. Pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan informasi keuangan daerah kepada pelayanan publik . 3. Kualitas Laporan Keuangan (Y) Berdasarkan PP No.71 tahun 2010, kualitas laporan keuangan tersebut dapat dilihat dari karakteristik kualitatif laporan keuangan tersebut. Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Adapun karakteristik kualitatif laporan keuangan yaitu: relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami. 4. Komitmen Organisasi Pemerintah (Z) Allen dan Meyer (1990) menyatakan bahwa komitmen organisasi adalah keyakinan yang kuat dan penerimaan nilai-nilai serta tujuan organisasi, dengan melibatkan diri dan loyal untuk terus berada di organisasi. Tabel 3.2 Matriks Operasionalisasi Variabel No 1 2 Variabel Kompetensi Aparatur (X1) Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2) Indikator 1. Pengetahuan (Knowledge 2. Keterampilan (Skill) 3. Sikap (Attitude) (UU RI No.20 Tahun 2003) 1. Penggunaan komputer dan 2. Jaringan (Wilkinson, et al. 2000) Skala No Item Ordinal 1-9 Ordinal 10 - 14 45 No 3 4 Variabel Kualitas Laporan Keuangan (Y) Komitmen Organisasi (Z) 1. 2. 3. 4. Indikator Skala No Item Relevan Andal Dapat dibandingkan Dapat dipahami (PP No. 71 Tahun 2010) Ordinal 15 - 26 Ordinal 27 - 37 1. Komitmen afektive 2. Komitmen normative 3. Komitmen berkelanjutan (Allen dan Meyer, 1990) Sumber: Data Diolah oleh Peneliti (2020) 3.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang merupakan data atau informasi yang di dapatkan dalam bentuk angka. Data kuantitatif dapat di proses menggunakan rumus matematika atau dapat juga di analisis dengan sistem statistik. Sumber data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data penelitian yang bersumber sacara langsung tanpa melalui media perantara. Data primer dalam penelitian ini berupa data kuesioner yang diperoleh peneliti langsung dari responden yaitu kepala OPD atau sekretaris OPD, kepala sub bagian keuangan dan aset, dan staf operator aplikasi SIMDA OPD Provinsi Sulawesi Tengah. Data sekunder merupakan data penelitian yang bersumber dari OPD Provinsi Sulawesi Tengah. Data ini berupa informasi data OPD, nama OPD dan profil OPD. 46 3.6 Teknik Pengumpulan Data Adapun cara untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data dalam bentuk pengajuan pertanyaan/pernyataan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan/ pernyataan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan harus diisi oleh responden. Kuesioner yang dibuat akan disebarkan dan diisi oleh seluruh pengelola keuangan di seluruh OPD Provinsi Sulawesi Tengah selaku responden, yang mana peneliti sangat mengharapkan kejujuran dari setiap individu dalam pengisian kuesioner tersebut. 2. Observasi (pengamatan), adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Melakukan observasi ini, peneliti secara langsung mendatangi instansi, utamanya ke beberapa sumber data untuk mengambil data secara langsung. 3. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab langsung dengan responden. Teknik wawancara dilakukan untuk mendukung setiap pernyataan kuisioner yang akan diisi maupun jawaban kuisioner yang telah diisi oleh responden. 3.7 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Instrumen penelitian adalah perangkat untuk menggali data 47 primer dari responden atau informan sebagai sumber data terpenting dalam sebuah penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan angket atau kuesioner. 3.7.1 Skala Sikap dan Dasar Interpretasi Kuesioner penelitian yang digunakan dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan skala likert, dimana responden diberikan beberapa alternatif untuk memilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat. Skala likert secara umum menggunakan lima kemungkinan jawaban atau angka penilaian sebagai berikut: Tabel 3.3 Skor Jawaban Pernyataan Kuesioner Menurut Skala Likert No Pilihan Bobot (skor) 1 Sangat Setuju 5 2 Setuju 4 3 Ragu-Ragu 3 4 Tidak Setuju 2 5 Sangat Tidak Setuju 1 Sumber: Sugiyono (2014:133) Tanggapan responden yang telah diberi bobot kemudian dibuatkan distribusi frekuensi dan diinterpretasikan meannya. Penyajian data dalam bentuk daftar distribusi frekuensi, adalah dimaksudkan sebagai upaya menyusun urutan data ke dalam kelaskelas interval, untuk kemudian ditentukan jumlah (frekuensinya), berdasarkan data yang sesuai dengan batas-batas interval kelasnya (Supangat, 2010:21). Langkah-langkahnya dimulai dari menetapkan jarak (range). Cara mengetahui range adalah melalui selisih antara bobot nilai tertinggi dan 48 bobot nilai terendah, yaitu 5 – 1 = 4. Untuk mengetahui panjang kelas (P) pada tiap interval kelas dapat π= digunakan rumus sebagai berikut: π 4 = = 0,8 π 5 Dimana: P = Panjang Kelas R = Range b = Banyak Kelas Berdasarkan nilai panjang kelas yang diperoleh sebesar 0,8 maka mean dari tanggapan responden dikelompokkan berdasarkan interval atau batasannya sebagai berikut: Tabel 3.4 Dasar Interpretasi Skor Item dalam Variabel Penelitian Nilai Skor Interpretasi >1,0 – 1,8 Tidak Berpartisipasi/Tidak Berkualitas/Tidak Baik >1,8 – 2,6 Kurang Berpartisipasi/Kurang Berkualitas/Kurang Baik >2,6 – 3,4 Cukup Berpartisipasi/Cukup Berkualitas/Cukup Baik >3,4 – 4,2 Berpartisipasi/Berkualitas/Baik >4,2 – 5,0 Sangat Berpartisipasi/Sangat Berkualitas/Sangat Baik Sumber: Modifikasi dari Stemple Jr. dalam Noermijati (2010) 3.8 Transformasi Data Untuk mengukur variabel-variabel dalam penelitian ini dilakukan penyebaran kuesioner kepada responden. Untuk setiap jawaban diberi skor dan skor yang diperoleh mempunyai tingkat pengukuran ordinal. Oleh karena itu seluruh variabel yang berskala ordinal terlebih dahulu dinaikkan atau 49 ditransformasikan tingkat kepengukurannya ke tingkat interval melalui Method Of Successive Interval (Riduwan dan Kuncoro 2014:30), dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Perhatikan setiap item pernyataan dalam kuesioner. 2. Untuk setiap item tersebut, tentukan berapa orang responden yang mendapatkan skor 1, 2, 3, 4, 5 yang disebut frekuensi (F). 3. Setiap frekuensi dibagi dengan banyaknya responden dan hasilnya disebut proporsi (P). 4. Hitung proporsi kumulatif (Pk). 5. Gunakan tabel normal, (Fd) yang sesuai dengan nilai Z. 6. Nilai densitas normal (Fd) yang sesuai dengan nilai Z. 7. Tentukan nilai interval (scale value) untuk setiap skor jawaban sebagai berikut: πππππ πΌππ‘πππ£ππ (πππππ ππππ’π) = (π·πππ ππ‘π¦ ππ‘ πΏππ€ππ πΏππππ‘) − (π·πππ ππ‘π¦ ππ‘ πππππ πΏππππ‘) (π΄πππ πππππ πππππ πΏππππ‘) − (π΄πππ πππππ πΏππ€ππ πΏππππ‘) 8. Sesuai dengan skala ordinal ke interval, yaitu scale value (SV) yang nilainya terkecil (harga negatif yang terbesar) diubah menjadi sama dengan 1 (satu). Transformasi scale value = Y = SV + |SV min | + 1 Dimana: Density at Lower Limit = Kepadatan batas bawah Density at Upper Limit = Kepadatan batas atas Area Under Upper Limit = Daerah di bawah batas atas Area Under Lower Limit = Daerah di bawah batas bawah 50 3.9 Pengujian Data Data penelitian ini diperoleh dengan cara menyerahkan daftar pertanyaan kepada responden melalui kuesioner, jawaban dari para responden atas pertanyaan tersebut merupakan ukuran yang dapat diuji. Data yang diperoleh dari para responden perlu pengujian validitas dan reliabilitas untuk menghindari hal-hal yang bias dan meragukan keabsahan penelitian ini. 3.9.1 Pengujian Validitas Ghozali (2016:76) menyatakan bahwa uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan/pernyataan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan suatu yang akan di ukur oleh kuesioner tersebut. Valid tidaknya suatu instrument dapat diketahui dengan membandingkan indeks korelasi Pearson Product Moment, hasil penelitian yang valid bila nilai r hitung > r tabel atau nilai signifikansi hasil korelasi < alpha (0,05). 3.9.2 Pengujian Reliabilitas Ghozali (2016:78) mendefinisikan reliabilitas sebagai alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal apabila jika jawaban seseorang terhadap 80 pertanyaan/pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Instrument penelitian dapat dikatakan reliabel (handal) bila memiliki koefisien keandalan reliabilitas sebesar 0,6 atau lebih. Uji reliabilitas yang digunakan adalah dengan melihat Alpha Cronbach atau koefisien reliabilitas. 51 3.10 Metode Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM) dengan pendekatan Variance Based SEM atau lebih dikenal dengan Partial Least Square (PLS). Dalam penelitian ini menggunakan WarpPLS yang dimana metode bootstrapping atau penggandaan dilakukan secara acak, maka asumsi normalitas tidak akan menjadi malasah dalam WarpPLS. Analisis WarpPLS adalah pengembangan dari analisis PLS. Mengingat WarpPLS adalah pengembangan dari PLS maka hal tersebut berlaku sama dengan PLS (Solimun, 2017) yaitu penggunaan PLS dalam penelitian sesuai dengan tujuan penelitian, dimana penelitian ini bertujuan untuk melakukan prediksi dan mengembangkan teori, sementara itu Covarian Based SEM lebih ditujukan untuk menguji dan mengkonfirmasi teori. Terdapat beberapa alasan penggunaan PLS, yakni; (1) Metode statistik ini tepat digunakan dalam menguji efek prediksi hubungan antar variabel laten dalam suatu model; (2) PLS dapat digunakan pada sampel dengan jumlah kecil dan tidak mensyaratkan adanya distribusi data yang normal (Abdillah dan Jogiyanto, 2015:45). Disisi lain, pada model penelitian ini terdapat lebih dari satu variabel dependen dan pengukuran konstruknya menggunakan indikator; (3) PLS dapat menggabungkan metode regresi dan analisis faktor dalam satu teknik statistika (Abdillah dan Jogiyanto, 2015:69). Oleh karena itu, PLS sangat cocok untuk dipilih sebagai analisis data pada penelitian ini. 52 3.10.1 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) Analisa outer model dilakukan untuk memastikan measurement yang digunakan layak untuk dijadikan pengukuran valid atau reliabel. Analisa outer model menspesifikasikan hubungan antar variabel laten dengan indikatorindikatornya, atau dengan kata lain outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya. Uji yang dilakukan pada analisa outer model terdiri dari: 1. Convergent Validity Menurut Bambang dan Lina (2005: 103-104). Convergent validity merupakan bagian dari measurement model yang dalam SEM-PLS biasanya disebut sebagai outer loading. Terdapat dua kriteria untuk menilai outer loading yang memenuhi syarat Convergent validity untuk konstruk reflektif yaitu (1) outer loading harus di atas 0,50 dan (2) nilai p signifikan yaitu p <0,05 (Bambang dan Lina, 2005:65). Dengan syarat tersebut, pengukuran konstruk yang diteliti dianggap telah memenuhi syarat Convergent validity. Namun jika nilai outer loading dibawah 0,50 atau nilai p signifikan diatas 0.05 maka maka item tersebut dinyatakan tidak valid atau harus dikeluarkan dari instrument pengukuran. 2. Composite Reliability Penilaian dari composite reliability ini dilakukan dengan melihat output dari view latent variable coefficients. Suatu konstruk dinyatakan reliabel jika menunjukkan nilai composite reliability > 0,70. Suatu konstruk dikatakan handal (reliable) jika nilai reliabilitasnya tinggi yang dinilai dengan koefisien reliabilitas 53 yang berkisar antara 0-1. Nilai composite reliability dan cronbach’s alpha nilainya > 0,70 dapat dikatakan reliabel (Bambang dan Lina, 2005:73). 3. Discriminan validity Discriminan validity, melihat bagaimana validitas dari konstruk yang terbentuk dibandingakn dengan konstruk yang lainnya. Discriminan validity dilihat berdasarkan nilai Average Variance Extracted (AVE) yaitu AVE harus > 0,5 (Ghozali, 2008:25). 3.10.2 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) Analisa inner model atau analisa struktural model dilakukan untuk memastikan bahwa model struktural yang dibangun robust dan akurat. Analisis ini menunjukkan hubungan antara variabel sesuai dengan kebijakan teori serta hasil penelitian sebelumnya. Hasil inner model dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu: 1. Koefisien Determinasi (R2 ). Besar kecilnya R2 menunjukkan besar kecilnya pengaruh variabel eksogen terhadap variabel indogen. Apabila nilai R2 sebesar 0.67; 0.33; 0.19 dapat disimpulkan model tersebut kuat; moderat; dan lemah (Lathan dan Ghozali, 2012: 87). 2. Predictive Relevance (Q2 ). Q2 mengukur seberapa baik nilai observasi yang dihasilkan oleh model penelitian. Nilai Q2 berkisar antara 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati nilai 1 menunjukkan nilai obeservasi menghasilkan model semakin baik. Sebaliknya mendekati nilai 0 akan menhasilkan model yang tidak baik. Kriteria kuat lemahnya medel berdasarkan Q2 yaitu 0.35 (model kuat); 0.15 (model moderat); dan 0.02 (model lemah). 54 3. Goodnes of Fit Index (GoF). Koefisien GoF memiliki nilai 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati nilai 1, model menunjukkan tingkat ketepatan yang semakin tinggi. Sebaliknya semakin menjauh dari nilai 1 atau semakin mendekati 0, model dinyatakan tingkat ketepatannya semakin lemah. Kriteria kuat dan lemahnya model berdasarkan pengukuran GoF yaitu 0.36 (GoF large); 0.25 (GoF medium) dan 0.10 (GoF small) (Lathan dan Ghozali, 2012:89) 3.10.3 Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan untuk menjelaskan arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependennya. Pengujian ini dilakukan dengan cara analisis jalur (path analysis) atau model yang telah dibuat. Program WarpPLS 6.0 dapat secara simultan menguji model struktural yang komplek sehingga dapat diketahui hasil analisis jalur dalam satu kali analisis regresi. Hasil korelasi antar konstruk diukur dengan melihat path coefficients dan tingkat signifikansinya yang kemudian dibandingkan dengan hipotesis yang terdapat pada bab tiga. Suatu hipotesis dapat diterima atau harus ditolak secara statistik dapat dihitung melalui tingkat signifikansinya. Tingkat siginifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5%. Apabila tingkat signifikansi yang dipilih sebesar 5% maka tingkat signifikansi atau tingkat kepercayaan 0.05 untuk menolak suatu hipotesis (Hair, et.al., 2014). Berikut ini yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yaitu: 1. p-value ≥ 0.05, maka Ho diterima 2. p-value ≤ 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. 55 3.10.4 Uji MRA (Moderated Regression Analysis) Moderated Regression Analysis menggunakan pendekatan analitik yang mempertahankan integritas sampel dan memberikan dasar untuk mengontrol pengaruh variabel moderasi. Menurut Ghozali (2016:215) untuk menggunakan MRA dengan dua variabel prediktor (X), maka kita harus membandingkan tiga persamaan regresi untuk menentukan jenis variabel moderasi. Ketiga persamaan tersebut adalah: Y = b1X1 + b2X2 + e.........................................................................(1) Y = b1X1 + b2X2 + b3Z + e..............................................................(2) Y = b1X1 + b2X2 + b3Z + b4X1Z + b5X2Z + e...............................(3) Persamaan (1) merupakan persamaan multiple regression analysis atau analisis regresi berganda. Persamaan ini digunakan untuk mengetahui pengaruh kompetensi aparatur, pemanfaatan teknologi informasi pada kualitas laporan keuangan. Teknik analisis ini digunakan peneliti untuk menguji hipotesis 1, 2, 3, dan 4. Jika pada persamaan (2) koefisien b3 signifikan serta pada persamaan (3) koefisien b4 dan b5 tidak signifikan, maka variabel Z bukan variabel moderasi, tetapi merupakan variabel independen, intervening, exogen, anteseden, atau prediktor. Jika pada persamaan (2) koefisien b3 tidak signifikan serta pada persamaan (3) koefisien b4 dan b5 signifikan, maka variabel Z merupakan pure moderator (moderator murni). Jika pada persamaan (2) koefisien b3 tidak signifikan serta pada persamaan (3) koefisien b4 dan b5 juga tidak signifikan, maka variabel Z merupakan homologizer moderator. Jika pada persamaan (2) koefisien b3 signifikan serta pada persamaan (3) koefisien b4 dan b5 juga signifikan, maka variabel Z merupakan quasi moderator. 56 Menurut Ghozali (2016:140) apabila setelah dilakukan pengujian jenis variabel moderasi didapatkan hasil bahwa variabel komitmen organisasi merupakan pure moderator (moderator murni) maka persamaan regresi untuk menguji hipotesis 4 dan 5 dalam penelitian ini menjadi: Y = b1X1 + b2X2 + b3X1Z + b4X2Z + e.........................................(4) Keterangan: Y = kualitas laporan keuangan b1 = Standardized Koefisien variabel X1 b2 = Standardized Koefisien variabel X2 b3 = Standardized Koefis ien hasil perkalian variabel X1 dan Z b4 = Standardized Koefisien hasil perkalian variabel X2 dan Z X1 = kompetensi aparatur X2 = pemanfatan teknologi X1Z = interaksi kompetensi aparatur dan komitmen organisasi X2Z = interaksi pemanfaatan teknologi informasi dan komitmen organisasi e = Error 57 DAFTAR RUJUKAN Abdillah, Willy. dan Jogiyanto, Hartono. 2015. Partial Least Square (PLS) Alternatif Structural Equation Modeling (SEM) dalam Penelitian Bisnis. Ed.1. Yogyakarta: Andi. Andelina, M.W. dan Hariyanto, A. 2017. Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderasi (Studi Empirik Pada Skpd Kabupaten Demak. Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan, 8(2): 132-152. Alminanda, Putri. dan Marfuah. 2018. Peran Komitmen Organisasi Dalam Memoderasi Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Sistem Pengendalian Intern Dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal Analisis Bisnis Ekonomi, 16(2): 118-132. Anggreni, Ni Made, M,. Widanaputra ,A.A G.P. dan Putri, I.G A.M. 2018. Pengaruh Good Governance dan Kompetensi Sumber Daya Manusia pada Kualitas Laporan Keuangan di Kota Denpasar. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 22(1): 352-380. Aulia, R., Darwanis. dan Dana, S. 2012. Pengaruh Kompetensi Pelatihan, dan Sistem Akuntansi Instansi Terhadap Kualitas Pertanggungjawaban Laporan Keuangan Dana Dekonsentransi. Jurnal Akuntansi, 2(1): 142153. Ardianto, Rama. dan Eforis, Chermian. 2019. Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, Dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Skpd Wilayah Kabupaten Tangerang). Jurnal Bina Akuntansi, 6 (1): 95-136. Andrianto, Elvin. dan Rahmawati, Diana. 2017. Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Pemoderasi (Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Di Kabupaten Sleman). Jurnal akuntansi dab bisnis, 3(1): 23-37. Attila, Gyorgy. 2012. Agency Problems in Public Sector. Bucharest Academy of Economic Studies Faculty of Finance, Assurance, Banks and Stock Exchange, 1(1): 708-712. Allen. dan Mayer 1990. The Measurement And Antecedents Of Affective, Continuance And Normative Commitment To The Organization. Journal of Occupational Psychology , 63(1): 1-18. Amriani, T.N. 2014. Menyongsong Penerapan Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual. Melalui http://www.bppk.kemenkeu.go.id [07/11/2020]. Bambang, Prasetyo. dan Lina Miftahul Jannah. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif:Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Baturante, N., Kamase, J. dan Nassaruddin, F. 2018. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Journal of Managemen & Business, 1(2): 117-127. Darwis, H. dan Meliana. 2020. Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Sistim Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. JEAMM, 1(2): 76-87. Donsu, Jenita, D.T. 2017. Psikologi Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Emron, E., Yohny anwar. dan Imas komariyah. 2017. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Alfabeta. Fathia, N., Tanjung, A.R. dan Indrawati, N. 2020. Pengaruh Penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating (Studi Kasus Organisasi Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Rokan Hilir). Pekbis Jurnal, 12(1): 39β54. Gilardi, Fabrizio. 2001. Principal agent models go to Europe:Indeendent regulatory agencies as ultimate of delegation. Paper preentd at the ECPR General Conference, Canterbury (UK). Girsang, Heri, Atapson, V. 2015. Analisa Faktor-Faktor yang Mempenngauhi Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi 58 pada LKPD Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah Periode 2010-2012). Skripsi. Semarang: FEB UNDIP. Griffin, R. W. 2004. Manajemen. Jakarta: Erlangga. Governmental Accounting Standards Boards (GASB). 1999. “Concepts Statement No. 1: Objectives of Financial Reporting in Governmental Accounting Standards Boards Series Statement No. 34: Basic Financial Statement and Management Discussion and Analysis for State and Local Government”. Norwalk. Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 23 (Edisi 8). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. . 2008. Structural Equation Modelling (Edisi 2). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Hair., et al. 2014. “Multivariate Data Analysis, New International Edition”. New Jersey: Pearson. Hevesi, G, Alan. 2005. Standards for Internal Control in New York State Government. Melalui :www.osc.state.ny.us. [25/11/2020]. Halim., Abdullah. 2010. Hubungan dan Masalah Keagenan Di Pemerintah Daerah: (Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi). Jurnal Akuntansi Pemerintah, 2(1): 54-64. Hullah, P, Tangkuman. dan Budiarso. 2012. Pengaruh Sumber Daya Manusia Dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Keterandalan Pelaporan Keuangan Pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Riset Akuntansi Dan Auditing. Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Unsrat, 3(2): 201-214. Iskandar. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: Gunung Persada Press. Indrawan, K.O., Wahyuni M.A. dan Yuniarta G.A. 2017. Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia Di Bidang Akuntansi, Teknologi Informasi Dan Penerapan Standar Akuntansi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada Koperasi Di Kabupaten Buleleng. e-journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Akuntansi Program S1, 7(1): 115-124. 59 Irsan, Mohammad., Suratno. dan Mulyadi, J.M.V. 2019. Pengaruh Standar Akuntansi Pemerintahan, Sistem Informasi Akuntansi Dan Kompetensi Pengelolaan Keuangan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Jurnal Ekobisman, 3(3): 193-210. Jensen, M, C., dan Meckling, W. 1976. Theory of the firm: Managerial behavior, agency cost and ownership structure. Journal of Finance Economic, (3):305-360. Jogiyanto. 2006. Filosofi Pendekatan dan Penerapan Pembelajaran Metode Kasus. Yogyakarta: CV Andi offset. Kesuma, D.P. dan Anwa, C. 2017. Pengaruh Good Governance, Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah, Sistem Pengendalian Internal Pemerintah Dan Kompetensi Aparatur Pemerintah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pada Satuan Kerja Kementerian Pariwisata. Jurnal Ilmiah WIDYA Ekonomika, 1(2): 141-146. Lasmara, Freddie. dan Rahayu, Sri. 2016. Pengaruh Kompetensi Sumberdaya Manusia, Perangkat Pendukung dan Peran Auditor Internal terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci. Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah, 3(4): 231-242. Lupia. and McCubbins. 2000. Representation Or Abdication ? How Citizens Use Institution To Help Delegation Succeed. Melalui http://ssrn.com/abstract58 [25/11/2020]. L, I. 2020. Ragam Opini BPK. Melalui https://www.bpk.go.id/news/ragam-opinibpk [18/12/2020]. Lathan, H. dan Ghozali, I. 2012. Partial Last Squares Konsep, Teknik dan Aplikasi Menggunakan Program Smart PLS 2.0 M3. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Mahmudi. 2011. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: UII Press. Mariani, Ni Luh, Eka., Yuesti, Anik. dan Sudja, Nengah. 2019. The Power Of Commitments For Moderating Human Resource Competency And Reporting Information Systems To The Quality Of Financial Statements (Empirical Study On The Work Unit Of The Ministry Of Research Technology And Higher Education In Bali Province). IJSEGCE, 2(2): 21-29. 60 Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta. Noermijati. 2010. Kajian Deskriptif Tentang Kondisi Faktor Intrinsik dan Ekstrinsik serta Kepuasan Kerja Manajer Menengah-Bawah. Malang : UM Press. . 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nurillah. 2014. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SKAD), Pemanfaatan Tekonologi Informasi Dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah (Studi Empiris Pada SKPD Kota Depok). Jurnal pemerintahan, 1(3): 78-97. Pangestu, Marisa, E., Wafirotin, Khusnatul, Z. dan Hartono, Arif. 2019. Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia, Sistem Pengendalian Intern, Dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Di Satuan Kerja Perangkat Daerah (Skpd) Kabupaten Ponorogo. ISOQUANT: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi, 3(2): 108119. Porter, L.W., Steers, R.M. dan Mowday, R. T. and Baulian, P.V. 1974. Organization Commitment, Job satisfaction, and Turnover Amog Psychiatric. Technicians. Putri, N.R. dan Agustiawan. 2020. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi pada OPD Kabupaten Kampar). Muhammadiyah Riau Accounting and Business Journal, 1(2): 234-254. Republik Indonesia. 2003. Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Jakarta: Legalitas. . 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Legalitas. . 2004. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Jakarta: Legalitas. . 2005. Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. Jakarta: Legalitas. 61 . 2005. Peraturan pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Jakarta: Legalitas. . 2005. Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Legalitas. . 2008. Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Jakarta: Legalitas. . 2010. Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Legalitas. Ratifah, Ifa. dan Ridwan, Mochammad. 2012. Komitmen Organisasi Memoderasi Pengaruh Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Trikonomika, 11(1): 29–39. Robbins, SP., Judge. 2007. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat. Robbins, SP. 2008. Perilaku Organisasi. Jilid I dan II. Jakarta: Prenhallindo. Riduwan. dan Kuncoro. 2014. Cara Menggunakan dan Memakai Path Analysis (Analisis Jalur). Cetakan ke-6. Bandung: Alfabeta. Salamun, Suyono. 2007. Analisis Laporan Keuangan Daerah. Melalui www.google.co.id. [26 November 2020]. Siwambudi, I.G.N., Yasa G.W. dan Badera, I.D.N. 2017. Komitmen Organisasi Sebagai Pemoderasi Pengaruh Kompetensi Sdm Dan Sistem Pengendalian Intern Pada Kualitas Laporan Keuangan. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 6(1): 385-416. Sutabri, Tata. 2014. Analisis Sistem Informasi. Yokyakarta: CV. Andi Offset Scott, R.W. 2014. Financial Accounting Theory Ed 7e. Canada: Pearson. Sudarmanto. 2009. Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sopiah. 2008. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: CV. Andi Offset Sunyoto, D. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : CAPS Suliyanto. 2006. Metode Riset Bisnis. Yogyakarta: CV. Andi Offset. 62 Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta. Supangat, A. 2010. Statistik Dalam Kajian Deskriptif, Inferensi, dan Nonparametrik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Supriyadi, Edi. 2019. BPK temukan masalah dalam laporan keuangan sembilan daerah di Sulteng. Melalui https://www.antaranews.com/berita/891726/ [26/11/ 2020]. Sofyan, Yamin. dan Heri, Kurniawan. 2011. Generasi Baru Mengolah Data Penelitian dengan partial Least Square Path Modeling. Jakarta: Penerbit Salemba Infotek. Solimun, Achmad, Adji. 2017. Metode Statistika Multivariat Pemodelan Persamaan Struktural (SEM) Pendekatan WarpPLS. Malang: UB Press. Wati, Kadek, D., Herawati, N.T. dan Sinarwati, Ni Kadek. 2014. Pengaruh Kompetensi Sdm, Penerapan Sap, Dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah. e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Akuntansi Program S1, 2(1): 134-152. Wardani, D.K., Ayem. dan Ningrum, T.I. 2018. Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pengadilan Agama Batam. Prosiding Seminar Nasional Multimedia & Artificial Intelligence. ISBN: 978-602-52470-4-0. Widjajanto, Nugroho. 2001. Sistem Informasi Akuntansi (Edisi 4). Jakarta: Erlangga. Wati, Kadek, Desiana. 2014. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan, Dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah. EJournal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha, 2(1). Warisno, 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi. Jurnal akuntansi dan Bisnis, 2(1): 97-111. Welly. dan Seputra, Riqki. 2019. Faktor Penentu Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal Akuntanika, 5(2): 78-92. 63 Wibowo. 2017. Manajemen Kinerja. Edisi Kelima. Depok: PT. Raja Grafindo Persada. Wisna. 2013. Pengaruh Teknologi Informasi terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi dan Dampaknya terhadap Kualitas Informasi akuntan. Jurnal Penelitian Keuangan dan Akuntansi, 4 (15): 69-75. Wilkinson., Joseph. dan Willy. 2000. Accounting Information Systems.Fourth Edition. New York: John Wiley & Sons. Yulianto, Krist, S., dan Hariwibowo, Ignatius, N. 2019. Analisis Faktor Pendukung Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan SKPD di Kabupaten Wonosobo. InFestasi : Jurnal Bisnis dan Akuntansi , 15( 2): 162 – 176. Yudianto, M, Jafar, Noor. 2007. Jaringan Komputer dan Pengertiannya. Melalui https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/38407188/Ilmu-komputerJaringan-Komputer-Dan-Pengertiannya.pdf?1438920799 [27/12/ 2020]. Zimmerman, B.J. and Risemberg, R. 1997. Self-regulatory dimensions of academic learning and motivation. In G. D. Phye (Ed.), Handbook of academic learning: Construction of knowledge. San Diego: Academic Press. Zubaidi, N., Cahyono, D. dan Maharani, A. 2019. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas Laporan Keuangan. IJSSB, 3(2):68-7. 64 LAMPIRAN I KUESIONER PENELITIAN 65