Uploaded by common.user78450

Profil Kepribadian, Dinamika Psikologikal dan Kondisi Kesehatan Mental Manusia Beragama: Tujuan Trilogi Agama Islam (Maa Huwal Iman, Maa Huwal Islam, Maa Huwal Ihsan)

advertisement
MAKALAH
KAJIAN PSIKOLOGI AGAMA
Tentang
Profil Kepribadian, Dinamika Psikologikal dan Kondisi Kesehatan Mental
Manusia Beragama: Tujuan Trilogi Agama Islam
(Maa Huwal Iman, Maa Huwal Islam, Maa Huwal Ihsan)
Disusun Oleh
RAHMAT HIDAYAT
NIM. 2020010012
Dosen Pembimbing :
Prof. Dr. Yahya Jaya, M.A
Dr. Ulfatmi, M.Ag
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
IMAM BONJOL PADANG
2020 M/ 1442 H
0
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelum melangkah ke masalah hubungan antara kepribadian
manusia dan tingkah lakunya secara berurutan akan dikemukakan dulu yang
menyangkut kepribadian itu sendiri. Kepribadian adalah sesuatu yang pasti
terdapat dalam diri setiap manusia, baik manusia itu beragama maupun tidak.
Secara umum kepribadian terdapat dalam diri setiap individu yang normal.
Sedangkan orang yang tidak normal kepribadiannya tidak tertentu dan tidak
dapat diamati secara pasti, walaupun pada dasarnya setiap kepribadian itu
dapat diamati melalui gejala-gejala yang tampak.
Kepribadian dalam khasanah peradaban dan pemkiran Islam telah
mendapatkan posisi yang penting meski tidak pernah disebut teori. Konsepkonsep kepribadian tersebut semuanya berbahan buku yang sama, yaitu dua
raja dalil ( Al-Qur’an dan Al-Hadits). Penafsiran keduanya menjadi karyakarya tulis yang luar biasa. Memang tidak mudah untuk menyusun teori
alternatif bagi teori kepribadian. Belajar dari teori-teori kepribadian yang
ditawarkam psikologi kontemporer.
Sebenarnay tidak pantas untuk menyandingkan firman Allah dan
sabda Rasulullah SAW dengan kata-kata keilmuan psikologi, terutama
psikologi barat. Tetapi selama ilmu itu bersifat eksakta dan sains murni maka
ia merupakan bagian dari sunatullah yang boleh di sadur sebagai khasanah
kekayaan intelektual.
Pada ilmu psikologi kepribadian dibahas dalam kajian ilmu yang
termasuk bagian dari psikologi secara tersendiri. Maka hal itu memunculkan
ilmu baru yaitu psikologi kepribadian. Kemudian dalam psikologi agama juga
dibahas kepribadian orang beragama atau dapat dikatakan kepribadian orang
menurut pandangan atau sudut pandang agama.
Dalam pandangan psikologi agama manusia mempunyai kepribadian
yang berbeda-beda, maka dari itu menimbulkan sikap keagamaan yang
berbeda-beda pula. Disamping itu juga menimbulkan sesuatu yang berbeda,
1
jika orang tersebut berbeda agama, karena agama yang satu dengan agama
yang lain berbeda.
Sebagai salah satu ilmu dalam kependidikan dan dakwah, kesehatan
mental dalam islam dapat diartikan sebagai as-sa’adah yang diperoleh melalui
kebajikan dan hidayah serta usaha amar makruf dan nahi mungkar. Hakikat
kesehatan mental/jiwa itu dalam islam adalah keimanan dan ketakwaan serta
terletak dalam jiwa/mental atau hati/Qalbu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kepribadian ?
2. Bagaimana dinamika psikologikal manusia ?
3. Bagaimana kondisi kesehatan mental manusia beragama ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian kepribadian !
2. Mengetahui dinamika psikologikal manusia !
3. Mengetahui kondisi kesehatan mental manusia beragama !
2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepribadian
1. Pengertian dan Teori Kepribadian
Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah:
1) Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan
mental atau intelektual. Pengertian secara definitif yang dikemukakan
dalam Oxford Dictionary:
Mentality = Intellectual Power.
= Integrated activity of the organism.
2) Personality, menurut Wibters Dictionary adalah:
a. The totality of personality’s characteristic.
b. An integrated group of constitution of trends behavior tendencies act.
3) Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan
seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya.
4) Identity, yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat
mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and
persistance of personality).1
Selanjutnya berdasarkan pengertian dari kata-kata tersebut, beberapa
ahli mengemukakan definisinya sebagai berikut:
1) Allport
Dengan mengecualikan beberapa sifat kepribadian dapat dibatasi
sebagai cara bereaksi yang khas dari seseorang individu terhadap
perangsang sosial dan kualitas penyesuaian diri yang dilakukannya
terhadap segi sosial dari lingkungannya.
2) Mark A. May
Apa
yang
memungkinkan
seseorang
berbuat
efektif
atau
memungkinkan seseorang mempunyai pengaruh terhadap orang lain.
Dengan kata lain kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang.
1
Jalaluddin, Psikologi Agama Edisi Revisii 2002, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2002), h. 160
3
3) Woodwort
Kualitas dari tingkah laku seseorang.
4) Morisson
Keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang individu dengan jalan
menampilkan hasil-hasil kultural dari evolusi sosial.
5) Hartmann
Susunan yang terintegritaskan dari ciri-ciri umum seseorang individu
sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas yang
diperlihatkannya kepada orang lain.
6) L.P Thorp
Sinonim dengan pikiran tentang berfungsinya seluruh individuindividu secara organisme yang meliputi seluruh aspek yang secara
verbal terpisah-pisah seperti: Intelek, watak , motif dan emosi, minat,
kesediaan untuk bergaul dengan orang lain (sosialias) dan kesan
individu yang ditimbulkanya pada orang lain serta efektivitas sosial
pada umumnya.
7) C.H Judd:
Hasil lengkap serta merupakan suatu keseluruhan dari proses
perkembangan yang telah dilalui individu.
8) Wetherington
Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas wetheringthon
menyimpulkan, bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan
individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena
pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
b. Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku
seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek
saja dari keseluruhan itu.
4
c. Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada
pada pkiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai
perangsang sosial seseorang.
d. Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti
bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan
dari tingkah laku seseorang.
e. Kepribadian tidak berkembang secara pasif saja, setiap orang
mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri
kepada lingkungan sosial. 2
2. Tipe-tipe Kepribadian
Dalam pembagian tipe kepribadian berdasarkan psikologis Prof.
Heyman mengemukakan, dalam diri manusia terdapat tiga unsur:
emosionalitas, aktivitas dan sekunder.
a. Emosionalitas, merupakan unsur yang mempunyai sifat yang
didominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah: kurang
respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, ingin
menguasai, bercita-cita yang dinamis, pemurung suka berlebihlebihan.
b. Aktivitas, yaitu sifat yang dikuasai oleh aktivitas gerakan, sifat umum
yang tampak adalah: lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang
dan selalu melindungi kepentingan orang lemah.
c. Fungsi sekunder (proses pengiring), yaitu sifat yang didominasi oleh
kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak adalah: watak tertutup,
tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya.
Selanjutnya
menggunakan
dalam
rumus
pembagian
dengan
simbol
tipe
kepribadian
huruf
:
A
Heyman
(Aktivitas)
E
(Emosionalitas) dan S (Proses pengiring). Jika terdapat tanda positif
berarti fungsi tersebut dominan dan tanda negatif menunjukkan tidak
adanya dominasi dimaksud. Tipe yang dikemukakan adalah:
2
Ibid., h. 161
5
1) Tipe Geppasioner/ berpassi
(+A, +E, +S). Sifatnya serba istimewa, disegani dan berbakat jadi
pemimpin.
2) Tipe Sentimentil (+E, -A , +S). Sifatnya banyak cita-cita tapi tidak
ada kemauan dan usaha melaksanakan.
3) Tipe Choleris
(+E, +A , -S). Sifatnya banyak usaha, tak dapat menyimpan.
4) Tipe Nerveous
(+E, -A , -S). Sifatnya gugup, pemalas dan singkat pikiran.
5) Tipe Plegmatis
(-E, +A , +S). Sifatnya kurang belas kasihan antara sesama.
6) Tipe Apateis (-E, -A , +S).
Sifatnya acuh tak acuh terhadap semua masalah.
7) Tipe Sanguinis (-E, +A, -S).
Sifatnya suka berbuat tetapi tanpa rencana dan tanpa pikir lebih dulu
8) Tipe Amorph
(-E, -A , -S). Sifatnya tidak mau tahu dalam segala masalah.
3. Struktur Kepribadian
Struktur adalah “komposisi pengaturan bagian-bagian komponen
dan susunan suatu kompleks keseluruhan”. 3 Jamens P. Chaplin
mendefinisikan struktur dengan “suatu organisasi permanen, pola atau
kumpulan unsur-unsur yang bersifat relatif stabil, menetap dan abadi”.
Para psikolog menggunakan istilah ini untuk menunjukkan pada prosesproses yang memiliki stabilitas.4 Struktur kepribadian memiliki arti
“ingrasi
dari
sifat-sifat
dan
sistem-sistem
yang
menyusun
kepribadian.8Atau lebih tepatnya “aspek-aspek kepribadian yang bersifat
relatif stabil, menetap dan abadi serta merupakan unsur-unsur pokok
pembentukan tingkah laku individu”.
3
Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), h. 126.
J.P. Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi, Terjemahan Kartini Kartono, (Jakarta:
Rajawali, 1989), h. 480-490.
4
6
Pada pengertian tersebut menunjukkan tiga elemen pokok, yaitu
pertama, struktur kepribadian adalah suatu komponen yang mesti ada
dalam setiap pribadi, yang menentukan konsep “ kepribadian” sebenarnya;
kedua, eksistensi struktur dalam kepribadian manusia memiliki ciri relatif
stabil, menetap dan dan abadi. Maksud dari ciri ini adalah banwa secara
proses psikologis aspek-aspek yang terdapat pada kepribadian itu memiliki
natur menetap sesuai dengan irama dan pola perkembangannya. Secara
potensial masing-masing aspek kepribadian ini menetap dan tidak ada
perubahan, tapi secara aktual aspek-aspek ini berubah sesuai dengan
lingkungan yang mempengaruhinya. Pola seperti ini merupakan ketentuan
yang ditetapkan oleh Tuhan; ketiga, kepribadian seseorang merupakan
wujud konkret dan aktualisasi dari proses integrasi sistem-sistem atau
aspek-aspek struktur.
Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan
manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah belah dalam fungsi-fungsi.
Memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self atau memahami
manusia seutuhnya. Pemahaman kepribadian sangat dipengaruhi oleh
paradigma yang menjadi acuan dalam pengembangan teori psikologi
kepribadian. Para ahli kepribadian memiliki paradigma masing-masing
yang dapat mempengaruhi pola pikirnya tentang kepribadian manusia
secara sistemik. Teori-teori kepribadian dapat dikelompokkan pada empat
paradigma yang menjadi acuan dasar. Adapun paradigma yang paling
banyak berkembang di masyarakat adalah paradigma psikoanalisis dengan
teori psikoanalisis klasik yang dicetuskan oleh Sigmund Freud.
Sigmund Freud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga
sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego, dan super ego. Dalam diri
orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam
susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya
selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok.
Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu
sama lainnya, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak
7
dapat menyesuaikan diri. Individu menjadi tidak puas dengan dirinya dan
lingkungannya. Dengan kata lain efisiensinya menjadi berkurang. 5
Dalam teori Sigmund
Freud,
elemen pendukung
struktur
kepribadian manusia adalah:
a) Id (Das Es)
Id adalah sistem kepribadian yang asli dan dibawa sejak lahir. Dari Id
ini kemudian akan muncul ego dan super ego. Saat dilahirkan, Id berisi
semua aspek psikologis yang diturunkan seperti insting, impuls, dan
drives. Id berada dalam daerah unconscious dan beroperasi
berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha
memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Id tidak mampu
menilai atau membedakan benar-salah dan tidak tahu moral.
b) Ego (Das Ich)
Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke
keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang diemban oleh ego
sebagai prinsip kenyataan (objective/reality principle). Segala bentuk
dorongan naluri dasar dari id hanya dapat direalisasi dalam bentuk
nyata melalui bantuan ego.
c) Super Ego (Das Uber Ich)
Suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian
besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah
membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan
keadilan dan moral. Super ego merupakan kode modal seseorang dan
berfungsi pula sebagai pengawastindakan yang dilakukan oleh ego.
Jika tindakan iti sesuai dengan pertimbangan moral moral dan
keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang.
Sebaliknya, jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa
rasa gelisa dan cemas.6
5
Op.Cit., Jalaluddin, h. 170.
Semiun Yustinus. Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik FREUD, (Yogyakarta:
Penerbit Kanisius, 2006), h. 60-66.
6
8
Super ego mempunyai dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani.
Timbulnya super ego ini bersumber dari suara hati (conscience)
sehingga fungsinya; (1) merintangi impuls-impuls id, terutama impulsimpuls seksual dan agresif yang aktualisasinya sangat ditentang
masyarakat; (2) mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang
moralitas daripada realistik; (3) mengejar kesempurnaan. Jadi super
ego menentang ukuran baik buruk id ataupun ego, dan membuat dunia
menuntut gambarannya sendiri yang tidak rasional bahkan menunda
dan merintangi pemuasan insting.7
B. Dinamika Psikologikal Manusia Beragama
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, dinamika diartikan sebagai gerak
atau kekuatan secara terus menerus yang dimiliki sekumpulan orang dalam
masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat
tersebut.8 Refia Juniarti Hendrastin dan Budi Purwoko menyebutkan,
dinamika adalah adanya interaksi dan interdependensi (saling ketergantungan)
antara anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok secara
keseluruhan.
Hurclok menjelaskan dinamika adalah suatu tenaga kekuatan, selalu
bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap
keadaan yang terjadi dan merupakan suatu faktor yang berkaitan dengan
pematangan dan faktor belajar, pematangan merupakan suatu kemampuan
untuk memahami makna yang sebelumnya yang tidak mengerti terhadap objek
kejadian.
Melalui uraian di atas dapat dipahami bahwa dinamika merupakan
tenaga kekuatan yang selalu berkembang dan berubah. Bagi sesorang yang
mengalami dinamika maka mereka harus siap dengan keadaan apapun yang
terjadi. 9
7
Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Rajawali, 1990), h. 149.
Daryanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Apolo, 1998), h. 101.
9
Zora Krispriana, Hubungan Konsep Diri Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Akir,
(Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah), h. 30.
8
9
Dinamika psikologis dijelaskan oleh beberapa ahli sebagai keterkaitan
antara berbagai aspek psikologis dalam menjelaskan suatu fenomena atau
konteks tertentu.
Walgito
menjelasakan
bahwa
dinamika psikologis
merupakan suatu tenaga kekuatan yang terjadi pada diri manusia yang
mempengaruhi mental atau psikisnya untuk mengalami perkembangan dan
perubahan dalam tingkah lakunya sehari-hari baik itu dalam pikiranya,
perasaannya maupun perbuatannya. 10
Saptoto mendefenisikan dinamika psikologis sebagai keterkaitan antara
berbagai aspek psikologis yang ada dalam diri seseorang dengan faktor-faktor
dari luar yang mempengaruhinya. Fathurrochman dan Djalaludin Ancok
menggunakan istilah dinamika psikologis untuk menjelaskan secara lebih
lanjut hubungan prosedur objektif dengan penilaian keadilan.11
Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika
yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur
tersebut adalah:
1. Energi rohaniah yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas ruhaniah seperti
berpikir, mengingat, mengamati dan sebagainya.
2. Naluri, berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan,
minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmani dan gerak hati.
Naluri mempunyai sumber (pendorong), maksud dan tujuan.
3. Ego (Aku sadar), yang berfungsi untuk merendahkan ketegangan dalam
diri dengan cara melakukan aktivitas penyesuaian dorongan yang ada
dengan kenyataan objektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk
menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi
kegelisahan atau ketegangan batin.
4. Super ego-ideal, yang berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin baik
berupa penghargaan (rasa senang, puas, berhasil) maupun berupa
hukuman (rasa bersalah, berdosa, menyesal).
10
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010), h. 26.
Fathorrochman & Djalaludin Ancok, Dinamika Psikologis Penilaian Keadilan, (Jurnal
Psikologi UGM, 20 12), h. 41-60.
11
10
Dalam kaitan dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian
manusia sebenarnya telah diatur untuk menyelaraskan tingkah laku manusia
agar tercapai ketentraman dalam batinnya. Secara fitrah manusia memang
terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, namun terkadang naluri
mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan
dengan realita yang ada.
C. Kondisi Kesehatan Mental Manusia Beragama
1. Pengertian Kesehatan Mental
Dari segi bahasa kesehatan mental terdiri dari dua kata yaitu:
kesehatan dan mental. Kesehatan yang kata dasarnya sehat mendapat
awalan ke dan akhiran an, menyatakan hal atau keadaan, sedangkan sehat
berarti bebas dari rasa sakit, jadi kesehatan memiliki arti keadaan badan
seseorang yang tidak sakit.12 Mental berasal dari bahasa latin yaitu: mens,
mentil, yang artinya: jiwa, roh, nyawa, sukma, semangat.13
Kesehatan mental adalah (Mental Bygiene) adalah ilmu yang
meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan peraturan serta prosedurprosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani, orang yang sehat
mentalnya adalah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu
merasa tenang, aman dan tenteram. Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan
istilah psikosomatik (kejiwa badanan).
Dimaksudkan dengan istilah tersebut menjelaskan bahwa, terdapat
hubungan yang erat antara jiwa dan badan, jika jiwa berada dalam kondisi
yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah dan sebagainya, maka
badan turut menderita.14 Kesehatan mental dalam kehidupan manusia
merupakan masalah yang amat penting karena menyangkut soal kualitas
dan kebahagiaan manusia. Tanpa kesehatan yang baik orang tidak akan
mendapatkan kebahagiaan dan sumber daya manusia yang tinggi.15
12
Departemen Pendidikan, Kamus Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 890
Kartini Kartono dan Jenny Andri, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam,
(Bandung: Mandar Maju, 1989), h. 3
14
Op.Cit., Jalaluddin, h. 148.
15
Yahya Jaya, Kesehatan Mental, (Padang: Angkasa Raya, 2002), h. 68.
13
11
Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor
(Penyebab terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti
mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri
dan lingkungannya. Noto Soedirdjo, menyatakan bahwa ciri-ciri orang
yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untuk
bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Sedangkan
menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan seseorang
terhadap stressor berbeda-beda karena faktor genetic, proses belajar dan
budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima
oleh seseorang dengan orang lain juga berbeda.
Menurut C. Maninger sehat mental merupakan penyesuaan manusia
terhadap dunia lingkungannnya dan terhadap diri orang lain dengan
keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. 16 Sedangkan kesehatan
mental dalam Islam berhubungan dengan konsep kebahagiaa. Sumber
kebahagiaan manusia dating dari dua arah, yaitu dari manusia dan dari
tuhan. 17
Zakiah Daradjat merumuskan pengertian kesehatan mental dalam
pengertian yang luas dalam memasukkan aspek keagamaan didalamnya
sebagai berikut:
Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguhsungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian
diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya,
berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk
mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di
akhirat.18
Dalam hal ini orang sehat mentalnya adalah orang yang memiliki
rasa cinta dan pekerjaan atau ego yang kuat dan super ego. Sebaliknya
orang yang tidak memilikinya adalah orang yang terganggu dan sakit
16
Sutarjo Wiramiharja, Pengantar Psikologi Abnormal, (Bandung: Refika Aditama,
2005), h. 9-10.
17
Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo,2011), h. 26.
18
Op, Cit, Ramayulis, h. 141.
12
jiwanya. 19 Dengan masuk dan dipadukannya keimanan dan ketaqwaan
agama dalam pengertian kesehatan mental sebagai yang dikemukakan
zakiah daradjad di atas, maka jelaslah terdapat relevansi yang sangant kuat
antara agama islam dan kesehatan mental. Oleh karena itu terdapat
relevansi yang sangat kuat antara agama islam dan ilmu kesehatan mental,
maka terdapa pulalah peranan positif agama islam dengan peranan
kesehatan mental. Peranan agama islam dalam kesehatan mental antara
lain dapat dilihat dalam pengobatan dan pengentasan gangguan kejiwaan. 20
Dalam pengertian yang luas kesehatan mental dapat diartikan
sebagai terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsifungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan
dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan serta bertujuan
untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat.
Dari beberapa definisi kesehatan mental tersebut maka dapat
dipahami bahwa definisi kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian
yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya
penyesuaian
diri
antara
manusia
dengan
dirinya
sendiri
dan
lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketakwaan, serta bertujuan
untuk mencapai hidup yang bermakna yaitu bahagia di dunia dan di
akhirat. Dengan demikian fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan,
sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup harus dapat saling membantu
dan bekerja sama satu dengan lainnya sehingga dapat tercapai
keharmonisan yang dapat menjauhkan orang dari perasaan ragu dan
bimbang serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin.
Didalam UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang kesehatan jiwa
memberikan defenisi Kesehatan Jiwa/mental adalah kondisi dimana
seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan
sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat
19
20
Ibid, Yahya Jaya, h. 69.
Ibid, Yahya Jaya, h. 130.
13
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu
memberikan kontribusi untuk komunitasnya. 21
2. Ciri-ciri Orang yang Memiliki Kesehatan Mental
Ciri-ciri kesehatan mental dikelompokkan kedalam enam kategori,
yaitu:22
a. Memiliki sikap batin (attitude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
b. Aktualisasi diri.
c. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi psikis yang ada.
d. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (mandiri).
e. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada.
f. Mampu menyelaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri.
3. Iman, Islam dan Ihsan dalam Kesehatan Mental
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
ِ ‫عن عمر ر‬
‫س ِعْن َد‬
‫و‬
‫ل‬
‫ج‬
‫ن‬
‫َن‬
‫ا‬
‫م‬
‫ن‬
‫ي‬
‫ب‬
:
‫ال‬
‫ق‬
‫ا‬
‫ض‬
‫َي‬
‫أ‬
‫ه‬
‫ن‬
‫ع‬
‫هللا‬
‫ي‬
‫ض‬
َ
َ
ُ
ً
َ
ْ
ْ
َ
َ
ْ
ْ
ُ
ُ َ َ ََ ُ ْ َ
ٌُْ ُ َ َ
ِ ‫رسوِل‬
ِ
‫ات يَ ْوٍم إِ ْذ طَلَ َع َعلَْي نَا َر ُج ٌل‬
‫هللا‬
َ َ‫صلَّى هللاُ َعلَْيه َو َسلَّ َم ذ‬
َ
ُْ َ
ِ ِ ‫اض الثِي‬
ِ‫ش‬
ِ
ِ
‫ الَ يَُرى َعلَْي ِه أَثَُر‬،‫َّع ِر‬
‫ي‬
‫ب‬
‫د‬
‫ي‬
‫د‬
ُ
ْ ‫اب َشديْ ُد َس َواد الش‬
ْ
َ
ََ َ
ِ ‫ والَ ي ع ِرفُه‬،‫الس َف ِر‬
‫َّب صلى هللا‬
‫ل‬
‫ج‬
‫َّت‬
‫ح‬
،
‫د‬
‫َح‬
‫أ‬
‫َّا‬
‫ن‬
‫م‬
ِ ِ‫س إِ ََل الن‬
َّ
َ
ٌ
ُ ْ َ َ َّ
َ َ َ َ
ِ
ِ
‫ض َع َك َّفْي ِه َعلَى‬
َ ‫َسنَ َد ُرْكبَ تَ ْيه إِ ََل ُرْكبَ تَيْه َوَو‬
ْ ‫عليه وسلم فَأ‬
ِ‫ال رسو ُل هللا‬
ِ ِ
ِ
ِ ْ ‫ َي ُُمَ َّمد أ‬:‫ال‬
ُْ َ َ ‫ فَ َق‬،‫َخ ِْبِِن َع ِن اْ ِإل ْسالَم‬
َ َ َ‫فَخ َذيْه َوق‬
ِ‫ اْ ِإل ِسالَ ُم أَ ْن تَ ْش َه َد أَ ْن الَ إِلَهَ إ‬: ‫صلى هللا عليه وسلم‬
َّ
‫هللا‬
‫ال‬
ُ
ُِ‫هللا وت‬
ِ ‫وأ ََّن ُُم َّم ًدا رسو ُل‬
َّ ‫الصالََة َوتُ ْؤِِت‬
‫ص ْوَم‬
‫م‬
‫ي‬
‫ق‬
َّ
ْ
ُ َ‫الزكاََة َوت‬
ُْ َ َ َ
َ َ
َ
21
UU Republik Indonesia, UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, Bab I,
22
Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung, . 1995), h. 10
Pasal 1
14
ِ ِ‫ضا َن وََت َّج الْب يت إ‬
: ‫ال‬
‫ع‬
‫ط‬
‫ت‬
‫اس‬
‫ن‬
َ َ‫ت إِلَْي ِه َسبِْيالً ق‬
َ
َ
َ ‫َرَم‬
َ ْ ْ
َ َْ ُ َ
ِ ‫ فَع‬،‫ص َدقْت‬
َ
‫َخِ ِْبِِن َع ِن‬
‫ي‬
‫و‬
‫ه‬
‫ل‬
‫أ‬
‫س‬
‫ي‬
‫ه‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ن‬
‫ب‬
‫ج‬
َ َ‫ ق‬،ُ‫ص ِدقُه‬
ُ
َ
َ
ْ ‫ فَأ‬:‫ال‬
َ َُ ُ ْ َ ُ ْ َ َ َ
ِ َ‫اْ ِإلْْي‬
‫ أَ ْن تُ ْؤِم َن ِِبهللِ َوَمالَئِ َكتِ ِه َوُكتُبِ ِه َوُر ُسلِ ِه َوالْيَ ْوِم‬: ‫ال‬
َ َ‫ان ق‬
ِ‫اآلخ ِر وتُؤِمن ِِبلْ َق َد ِر خ ِْيهِ و َش ِره‬
ِ
‫ال‬
‫ال‬
‫ق‬
.
َ َ‫ ق‬،‫ت‬
َ
َ
ْ
ْ
َ ْ‫ص َدق‬
َ
َ َ
َ َ
ِ ‫فَأَخِِبِِن ع ِن اْ ِإلحس‬
‫ك تَ َر ُاه فَِإ ْن ََْل‬
َ َ‫ ق‬،‫ان‬
َ َّ‫ أَ ْن تَ ْعبُ َد هللاَ َكأَن‬:‫ال‬
َ ْْ
َْ
(‫ )رواه مسلم‬.‫تَ ُك ْن تَ َراهُ فَِإنَّهُ يََر َاك‬
Artinya: Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata: Ketika kami
duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat
hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh
dan
tidak
ada
seorangpun
diantara
kami
yang
mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi
lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya
(Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata:
“Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka
bersabdalah
Rasulullah
Shallallahu’alaihi
wasallam:
“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah
(Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi
Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan
shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji
jika mampu”, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kami
semua heran,
dia
yang bertanya dia
pula
yang
membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan
aku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab15
Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman
kepada takdir yang baik maupun yang buruk”, kemudian
dia berkata: “anda benar”. Kemudian dia berkata lagi:
“Beritahukan aku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan
engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka
Dia melihat engkau”. (HR. Muslim)
a. Maa Huwal Iman dalam Kesehatan Mental
Seperti yang telah diketahui bahwa diantara pengertian
kesehatan mental adalah berlandaskan kepada agama, yaitu keimanan
dan ketaqwaan. Hal ini dapat dimengerti sebagai indikator orang yang
memiliki indikator orang yang memiliki kesehatan mental adalah
orang-orang
yang
senantiasa
melaksanakan
aktivitas-aktivitas
keagamaan sesuai dengan iman yang melekat pada dirinya. Sedangkan
ketaqwaan merupakan kristalisasi. Atau dengan kata lain iman sebagai
kepercayaan sedangkan taqwa sebagai perwujudan dari iman tersebut.
Nurkhalis majid menyatakan bahwa sistem ibadah merupakan
salah satu kelanjutan logis sistem iman. Dengan demikian bahwa
ibadah sebagai institusi iman, atau institusi yang menengahi antara
iman dan konsekwensinya, yaitu amal perbuatan. Oleh karena itu
dalam alqur’an kata iman selalu diiringi dengan amal perbuatan
ٰۤ
ِ ‫الصلِ ٰح‬
ٰ ‫اِ َّن الَّ ِذيْ َن اٰ َمنُ ْوا َو َع ِملُوا‬
َِِّۗ‫ك ُُ ْم َخ ْْيُ الَِِْبي‬
َ ‫ت اُوٰل ِٕى‬
misalnya Allah SWT. berfirman
Artinya: Sesungguhnya orang yang beriman dan beramal shaleh,
mereka itu adalah sebaik baiknya makhluk. (QS. AlBayyinah : 7)
Sebagai sikap batin, iman bisa berada pada tingkat keabstrakan
yang sangat tinggi yaitu sulit ditangkap hubungannya dengan
perlakuannya sehari-hari. Dalam ibadah sebagai simbol amal yang
16
dapat melahirkan ketaqwaan seseorang hamba Allah merasakan
kehampiran spiritual kepada khaliqnya. Pengalaman kerohanian ini
sendiri merupakan sesuatu yang dapat disebut inti rasa keagamaan atau
religiusitas, yang memiliki tingkat keabsahan tertinggi. 23
Keimanan mempunyai pengaruh besar atas diri manusia .
pengaruh itu terutama membuat manusia percaya pada diri sendiri,
meningkatkan kemampuannya untuk sabar dan kuat menanggung
derita kehidupan membangkitkan rasa tenang dan tenteram dalam jiwa,
menimbulkan kedamaian hati dan memberi perasaan bahagia.
Keimanan kepada Allah dibarengi dan diikuti oleh ketaqwaan
kepada-Nya. Pengertian Taqwa dalam bahasa alqur’an banyak sekali
maksudnya diantaranya takut, (yang berarti takut melanggar ketentuan
Allah), menjaga atau membentengi diri dari berbagai dorongan yang
tercela dan perbuatan munkar, menjaga diri dari tingkah laku yang
tidak terpuji.
Iman dan taqwa mempunyai hubungan yang erat dengan soal
kejiwaan dan kesehatan mental manusia. Iman dan taqwa adalah jalan
utama menuju kesehatan mental. Dari segi kejiwaan, sesungguhnya
iman dan taqwa dapat dijadikan landasan bagi pembinaan mental
spiritual manusia. Oleh karena itu pantas pula iman dan taqwa
berfungsi sebagai penyelamat hidup manusia baik di dunia maupun di
akhirat sekaligus berpredikat tertinggi dalam kehidupan beragama.
Bahkan
Allah
dengan
tegas
menjanjikan
keberkatan
dan
keberuntungan berupa kebahagiaan jasmani dan rohani, fisik dan
mental kepada mukmin dan muttaqin. 24
b. Maa Huwal Islam dalam Kesehatan Mental
Seorang yang mengaku islam berarti ia melaksanakan, tunduk
dan patuh serta berserah diri sepenuh hati terhadap hukum-hukum dan
23
24
Op. Cit, Ramayulis, h. 179
Ibid, h. 180
17
aturan-aturan Allah yang dalam hidupnya selalu dalam kondisi aman
dan damai yang pada akhirnya dapat mendatangkan keselamatan di
dunia dan diakhirat. Penegrtian islam secara terminologi adalah
oengajuan dan berserah diri secara mutlak kepada zat yang maha
benar, yakni Allah. Pengaengakuan dan berserah diri itulah
diwujudkan dalam perilaku nyata, baik perilaku rohani maupun
jasmani, seperti shalat, puasa zakat, dan menunaikan ibadah haji, serta
ibadah
lainnyabaik
ritual.25Kepribadian
ibadah
muslim
ritual
maupun
menmbulkan
lima
ibadah
non
karakter
ideal
diantaranya.
1. Karakter Syahadatain, yaitu karakter yang mampu menghilangkann
dari pembebasan diri dari segala belenggu atau dominasi tuhan-tuhan
yang temporal dan relatif seperti materi dan hawa nafsu sebagaimana
firman Allah surat Al-Furqan ayat 43
ِ‫اَرءيت م ِن َّاَّت َذ ا‬
ٰ
ۙ ‫ت تَ ُك ْو ُن َعلَْي ِه َوكِْي ًال‬
‫ن‬
‫ا‬
‫ف‬
‫ا‬
‫ىه‬
‫و‬
ُ
ٗ
‫ه‬
‫ٰل‬
ْ
َ
َ
َ
ٰ
َ ُ َ َ َ َ َ َْ َ
Artinya: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu
dapat menjadi pemelihara atasnya. (QS. Al-Furqan :43)
Kemudian mengisi diri sepenuh hati dengan Allah, tuhan yang
mutlak. Hanya Allah yang patut disembah dan dipatuhi, sebab dia
merupakan yang maha segala galanya. Kepribadian syahadatain juga
menghendaki adanya karakter yang selalu cinta dan mematuhi perintah
rasul dan menjauhi larangannya serta berusah mentauladani tingkah
lakunya yang mulia sebab rasul merupakan sosok manusia yang
paripurna (Insan Kamil)
2. Karakter Mushalli, yaitu karakter yang mampu berkomunikasi dengan
Allah (illahi) dan sesama manusia (insani). Komunikasi illahiyah
ditandai dengan takbir. Sedangkan komunikasi insaniah ditandai
dengan
25
salam.
Karakter
Mushalli
Ibid. h. 181
18
juga
menghendaki
adanya
keberhasilan dan kesucian lajir dan bathin. Kesucian lahir diwujudkan
dalam wudhu’ QS. Al-Maidah ayat 6:
‫الص ٰلوةِ فَا ْْ ِسلُ ْوا ُو ُج ْوَُ ُك ْم‬
َّ ‫ٰاَيَيُّ َها الَّ ِذيْ َن اٰ َمنُ ْاوا اِذَا قُ ْمتُ ْم اِ ََل‬
‫َواَيْ ِديَ ُك ْم اِ ََل الْ َمَرافِ ِق َو ْام َس ُح ْوا بُِرءُ ْو ِس ُك ْم َواَْر ُجلَ ُك ْم اِ ََل‬
ِ ْ َ‫الْ َك ْعب‬
‫ي َواِ ْن ُكْن تُ ْم ُجنُبًا فَاطَّ َّهُرْوا َواِ ْن ُكْن تُ ْم َّم ْر ٰا‬
‫ضى اَْو َع ٰلى‬
ٰۤ ِ
ٰۤ
ٰۤ
ِ
ِ
ِ
ٰ
‫َس َف ٍر اَْو َجاءَ اَ َح ٌد مْن ُك ْم م َن الْغَا ِٕىط اَْو ل َم ْستُ ُم الن َساءَ فَلَ ْم‬
ٰۤ
ِ
ِ
َِ
ِ
ِ
‫صعْي ًدا طَيبًا فَ ْام َس ُح ْوا ب ُو ُج ْوُ ُك ْم‬
‫ا‬
‫و‬
‫م‬
‫م‬
‫ي‬
‫ت‬
‫ف‬
‫ء‬
‫ا‬
‫م‬
‫ا‬
‫و‬
‫د‬
‫َت‬
َّ
َ
ُ
َ
َ ُْ َ ً َ ْ
‫َواَيْ ِديْ ُك ْم ِمنْهُ َما يُِريْ ُد ٰاّللُ لِيَ ْج َع َل َعلَْي ُك ْم ِم ْن َحَرٍٍ َّوٰل ِك ْن‬
‫يُِّريْ ُد لِيُطَ ِهَرُك ْم َولِيُتِ َّم نِ ْع َمتَهٗ َعلَْي ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَ ْش ُكُرْو َن‬
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu
sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh)
kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu
junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau
menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak
membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al-Maidah: 6)
Sedangkan kesucian bathin diwujudkan dalam bentuk keikhlasan dan
kekusyukan tergambar dalam surat Al-Mukminun ayat 1-2.
ِ ‫( الَّ ِذين ُم ِِف ص ٰلو ِتِِم خ‬١ ) ‫قَ ْد اَفْلَح الْم ْؤِمنُو َن‬
(٢) ‫اش ُع ْو َن‬
َ ْ َ ْ ُْ َْ
ْ ُ َ
Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya.
(QS. Al-Mukminun: 1-2)
19
3. Karakter Muzzaki, yaitu karakter berani mengorbankan harta bendanya
untuk kebersihan dan kesucian jiwanya surat at-taubah ayat 103 serta
untuk pemerataan kesejahteraan umat pada umumnya. Karakter
muzzaki menghendaki adanya pencarian harta secara halal dan
mendistribusikannya dengan cara yang halal pula. Ia menuntut adanya
produktifitas dan kreativtas.
4. Karakter Sha’im, yaitu karakter yang mampu mengendalikan dan
menahan diri dari nafsu-nafsu rendah, diantaranya karakter Sha’im
adalah menahan makan, minum dan hubungan sexual pada waktu,
tempat dan cara yang dilarang. Apabila dirinya terbebas dari nafsunafsu yang rendah itu maka ia berusaha mengisi diri dengan tingkah
laku yang baik, seperti berbuka dan sahur, shalat sunat malam, dan
bertadarus Al-Qur’an.
5. Karakter haji, yaitu karakter yang mengorbankan harta, waktu, bahkan
nyawa demi memenuhi panggilan Allah SWT. Karakter ini
menghasilkan jiwa yang egaliter, memiliki wawasan yang inklusif dan
pluralistik, melawan kebatilan, serta meningkatkan wawasan wisata
spiritual. 26
Ditinjau dari segi kejiwaan hubungan yang erat antara agama
islam dan kesehatan jiwa tidak hanya terletak pada pengertian dan
tujuannya, akan tetapi juga terlihat pada metode, prinsip dan penyebab
gangguan kejiwaan masing-masing. Pada umumnya apa yang menjadi
prinsip, metode dan gangguan kejiwaan dalam ilmu kesehatan jiwa
adalah menjadi prinsip, metode dan gangguan kejiwaan dalam ilmu
agama islam. Sekalipun antara keduanya ada perbedaan. Antara agama
islam dan kesehatan mental terdapat perbedaan dan persamaan.
Persamaan terletak pada esensi dan tujuan, yaitu pada jiwa serta
memuliakan kemanusiaan manusia 27
26
27
Ibid, Ramayulis, h. 161-162
Op.Cit, Yahya Jaya, h. 128
20
c. Maa Huwal Ihsan dalam Kesehatan Mental
Menurut pengertian Ihsan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah
SAW menerusi hadis Abu Hurairah, yaitu seseorang menyembah Allah
SWT seolah-olah dia melihatNya. Jika dia tidak berupaya untuk
melihat Allah SWT, maka sesungguhnya Allah SWT melihat segala
amal perbuatannya. Menyembah Allah SWT bererti mengabdikan diri
kepadanya dengan ibadah menurut kaedah dan cara yang sebaikbaiknya sama ada pada zahir (perbuatan lahiriah) atau batin yaitu
ikhlas pada niat.
Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang yang baik disebut
(muhsin) adalah orang yang mengetahui akan hal-hal yang baik,
mengaplikasian dengan prosedur yang baik, dan dilakukan dengan niat
yang baik pula, orang yang berbuat baik berarti menempuh jalan yang
baik berarti menempuh jalan yang tidak beresiko, sehingga hidupnya
terhindar dari permusuhan, pertikaian dari iri hati. Ihsan secara istilah
sebagaimana yang tergambar dalam hadis di atas, usaha untuk
memperbaiki kualitas perilaku. Kualitas itu dicapai melalui upaya
mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga dalam gerak gerik
tingkah lakunya seakan-akan melihat Allah SWT. Apabila ia tidak
mampu melihat-Nya maka sesungguhya ia telah melihatnya. 28
28
Op.Cit, Ramayulis, h. 181
21
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah: Mentality, yaitu
situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual.
Personality, menurut Wibters Dictionary adalah: The totality of
personality’s characteristic, An integrated group of constitution of trends
behavior tendencies act. Individuality, adalah sifat khas seseorang yang
menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya.
Identity yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat
mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance
of personality).
2. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, dinamika diartikan sebagai gerak
atau kekuatan secara terus menerus yang dimiliki sekumpulan orang dalam
masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup
masyarakat tersebut. Dinamika psikologis sebagai keterkaitan antara
berbagai aspek psikologis yang ada dalam diri seseorang dengan faktorfaktor dari luar yang mempengaruhinya. Fathurrochman dan Djalaludin
Ancok menggunakan istilah dinamika psikologis untuk menjelaskan
secara lebih lanjut hubungan prosedur objektif dengan penilaian keadilan.
Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika
yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur
tersebut adalah: (1) Energi rohaniah (2) Naluri (3) Ego (Aku sadar (4)
Super ego-ideal.
3. Kesehatan mental adalah (Mental Bygiene) adalah ilmu yang meliputi
sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan peraturan serta prosedur-prosedur
untuk mempertinggi kesehatan rohani, orang yang sehat mentalnya adalah
orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman
dan tenteram. Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah psikosomatik
(kejiwa badanan)Didalam UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang kesehatan
jiwa memberikan defenisi Kesehatan Jiwa/mental adalah kondisi dimana
22
seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan
sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu
memberikan kontribusi untuk komunitasnya
B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan
dari makalah ini, baik dari segi penulisan maupun isi. Penulis berharap
kritik/saran dan masukan dari pembaca, guna untuk perubahan yang lebih baik
di kemudian harinya.
23
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Isep Zainal. 2011. Bimbingan Penyuluhan Islam. Jakarta: Raja Grafindo.
Chaplin, J.P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. Terjemahan Kartini Kartono.
Jakarta: Rajawali.
Daradjat, Zakiah. 1995. Kesehatan Mental. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.
Daryanto. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Apolo.
Departemen Pendidikan. 1999. Kamus Besar Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Fathorrochman & Djalaludin Ancok. 2012. Dinamika Psikologis Penilaian
Keadilan. Jurnal Psikologi UGM.
Jalaluddin. 2002. Psikologi Agama Edisi Revisii 2002. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Jaya, Yahya. 2002. Kesehatan Mental. Padang: Angkasa Raya.
Kartono, Kartini dan Jenny Andri. 1989. Hygiene Mental dan Kesehatan Mental
dalam Islam. Bandung: Mandar Maju.
Krispriana, Zora. Hubungan Konsep Diri Dengan Perilaku Merokok Pada
Remaja Akir. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Ramayulis. 2013. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam mulia.
Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali.
UU Republik Indonesia. UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Bab
I. Pasal 1.
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Wiramiharja, Sutarjo. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika
Aditama.
Yustinus, Semiun. 2006. Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik FREUD.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
24
Download