MAKALAH KAJIAN PSIKOLOGI AGAMA Tentang Profil Kepribadian, Dinamika Psikologikal dan Kondisi Kesehatan Mental Manusia Beragama: Tujuan Trilogi Agama Islam (Maa Huwal Iman, Maa Huwal Islam, Maa Huwal Ihsan) Disusun Oleh RAHMAT HIDAYAT NIM. 2020010012 Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Yahya Jaya, M.A Dr. Ulfatmi, M.Ag PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) IMAM BONJOL PADANG 2020 M/ 1442 H 0 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebelum melangkah ke masalah hubungan antara kepribadian manusia dan tingkah lakunya secara berurutan akan dikemukakan dulu yang menyangkut kepribadian itu sendiri. Kepribadian adalah sesuatu yang pasti terdapat dalam diri setiap manusia, baik manusia itu beragama maupun tidak. Secara umum kepribadian terdapat dalam diri setiap individu yang normal. Sedangkan orang yang tidak normal kepribadiannya tidak tertentu dan tidak dapat diamati secara pasti, walaupun pada dasarnya setiap kepribadian itu dapat diamati melalui gejala-gejala yang tampak. Kepribadian dalam khasanah peradaban dan pemkiran Islam telah mendapatkan posisi yang penting meski tidak pernah disebut teori. Konsepkonsep kepribadian tersebut semuanya berbahan buku yang sama, yaitu dua raja dalil ( Al-Qur’an dan Al-Hadits). Penafsiran keduanya menjadi karyakarya tulis yang luar biasa. Memang tidak mudah untuk menyusun teori alternatif bagi teori kepribadian. Belajar dari teori-teori kepribadian yang ditawarkam psikologi kontemporer. Sebenarnay tidak pantas untuk menyandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW dengan kata-kata keilmuan psikologi, terutama psikologi barat. Tetapi selama ilmu itu bersifat eksakta dan sains murni maka ia merupakan bagian dari sunatullah yang boleh di sadur sebagai khasanah kekayaan intelektual. Pada ilmu psikologi kepribadian dibahas dalam kajian ilmu yang termasuk bagian dari psikologi secara tersendiri. Maka hal itu memunculkan ilmu baru yaitu psikologi kepribadian. Kemudian dalam psikologi agama juga dibahas kepribadian orang beragama atau dapat dikatakan kepribadian orang menurut pandangan atau sudut pandang agama. Dalam pandangan psikologi agama manusia mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, maka dari itu menimbulkan sikap keagamaan yang berbeda-beda pula. Disamping itu juga menimbulkan sesuatu yang berbeda, 1 jika orang tersebut berbeda agama, karena agama yang satu dengan agama yang lain berbeda. Sebagai salah satu ilmu dalam kependidikan dan dakwah, kesehatan mental dalam islam dapat diartikan sebagai as-sa’adah yang diperoleh melalui kebajikan dan hidayah serta usaha amar makruf dan nahi mungkar. Hakikat kesehatan mental/jiwa itu dalam islam adalah keimanan dan ketakwaan serta terletak dalam jiwa/mental atau hati/Qalbu. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian kepribadian ? 2. Bagaimana dinamika psikologikal manusia ? 3. Bagaimana kondisi kesehatan mental manusia beragama ? C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui pengertian kepribadian ! 2. Mengetahui dinamika psikologikal manusia ! 3. Mengetahui kondisi kesehatan mental manusia beragama ! 2 PEMBAHASAN A. Pengertian Kepribadian 1. Pengertian dan Teori Kepribadian Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah: 1) Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Pengertian secara definitif yang dikemukakan dalam Oxford Dictionary: Mentality = Intellectual Power. = Integrated activity of the organism. 2) Personality, menurut Wibters Dictionary adalah: a. The totality of personality’s characteristic. b. An integrated group of constitution of trends behavior tendencies act. 3) Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya. 4) Identity, yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance of personality).1 Selanjutnya berdasarkan pengertian dari kata-kata tersebut, beberapa ahli mengemukakan definisinya sebagai berikut: 1) Allport Dengan mengecualikan beberapa sifat kepribadian dapat dibatasi sebagai cara bereaksi yang khas dari seseorang individu terhadap perangsang sosial dan kualitas penyesuaian diri yang dilakukannya terhadap segi sosial dari lingkungannya. 2) Mark A. May Apa yang memungkinkan seseorang berbuat efektif atau memungkinkan seseorang mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Dengan kata lain kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang. 1 Jalaluddin, Psikologi Agama Edisi Revisii 2002, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 160 3 3) Woodwort Kualitas dari tingkah laku seseorang. 4) Morisson Keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang individu dengan jalan menampilkan hasil-hasil kultural dari evolusi sosial. 5) Hartmann Susunan yang terintegritaskan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas yang diperlihatkannya kepada orang lain. 6) L.P Thorp Sinonim dengan pikiran tentang berfungsinya seluruh individuindividu secara organisme yang meliputi seluruh aspek yang secara verbal terpisah-pisah seperti: Intelek, watak , motif dan emosi, minat, kesediaan untuk bergaul dengan orang lain (sosialias) dan kesan individu yang ditimbulkanya pada orang lain serta efektivitas sosial pada umumnya. 7) C.H Judd: Hasil lengkap serta merupakan suatu keseluruhan dari proses perkembangan yang telah dilalui individu. 8) Wetherington Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas wetheringthon menyimpulkan, bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya. b. Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu. 4 c. Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pkiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang. d. Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang. e. Kepribadian tidak berkembang secara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial. 2 2. Tipe-tipe Kepribadian Dalam pembagian tipe kepribadian berdasarkan psikologis Prof. Heyman mengemukakan, dalam diri manusia terdapat tiga unsur: emosionalitas, aktivitas dan sekunder. a. Emosionalitas, merupakan unsur yang mempunyai sifat yang didominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah: kurang respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, ingin menguasai, bercita-cita yang dinamis, pemurung suka berlebihlebihan. b. Aktivitas, yaitu sifat yang dikuasai oleh aktivitas gerakan, sifat umum yang tampak adalah: lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang dan selalu melindungi kepentingan orang lemah. c. Fungsi sekunder (proses pengiring), yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak adalah: watak tertutup, tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya. Selanjutnya menggunakan dalam rumus pembagian dengan simbol tipe kepribadian huruf : A Heyman (Aktivitas) E (Emosionalitas) dan S (Proses pengiring). Jika terdapat tanda positif berarti fungsi tersebut dominan dan tanda negatif menunjukkan tidak adanya dominasi dimaksud. Tipe yang dikemukakan adalah: 2 Ibid., h. 161 5 1) Tipe Geppasioner/ berpassi (+A, +E, +S). Sifatnya serba istimewa, disegani dan berbakat jadi pemimpin. 2) Tipe Sentimentil (+E, -A , +S). Sifatnya banyak cita-cita tapi tidak ada kemauan dan usaha melaksanakan. 3) Tipe Choleris (+E, +A , -S). Sifatnya banyak usaha, tak dapat menyimpan. 4) Tipe Nerveous (+E, -A , -S). Sifatnya gugup, pemalas dan singkat pikiran. 5) Tipe Plegmatis (-E, +A , +S). Sifatnya kurang belas kasihan antara sesama. 6) Tipe Apateis (-E, -A , +S). Sifatnya acuh tak acuh terhadap semua masalah. 7) Tipe Sanguinis (-E, +A, -S). Sifatnya suka berbuat tetapi tanpa rencana dan tanpa pikir lebih dulu 8) Tipe Amorph (-E, -A , -S). Sifatnya tidak mau tahu dalam segala masalah. 3. Struktur Kepribadian Struktur adalah “komposisi pengaturan bagian-bagian komponen dan susunan suatu kompleks keseluruhan”. 3 Jamens P. Chaplin mendefinisikan struktur dengan “suatu organisasi permanen, pola atau kumpulan unsur-unsur yang bersifat relatif stabil, menetap dan abadi”. Para psikolog menggunakan istilah ini untuk menunjukkan pada prosesproses yang memiliki stabilitas.4 Struktur kepribadian memiliki arti “ingrasi dari sifat-sifat dan sistem-sistem yang menyusun kepribadian.8Atau lebih tepatnya “aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil, menetap dan abadi serta merupakan unsur-unsur pokok pembentukan tingkah laku individu”. 3 Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), h. 126. J.P. Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi, Terjemahan Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali, 1989), h. 480-490. 4 6 Pada pengertian tersebut menunjukkan tiga elemen pokok, yaitu pertama, struktur kepribadian adalah suatu komponen yang mesti ada dalam setiap pribadi, yang menentukan konsep “ kepribadian” sebenarnya; kedua, eksistensi struktur dalam kepribadian manusia memiliki ciri relatif stabil, menetap dan dan abadi. Maksud dari ciri ini adalah banwa secara proses psikologis aspek-aspek yang terdapat pada kepribadian itu memiliki natur menetap sesuai dengan irama dan pola perkembangannya. Secara potensial masing-masing aspek kepribadian ini menetap dan tidak ada perubahan, tapi secara aktual aspek-aspek ini berubah sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya. Pola seperti ini merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh Tuhan; ketiga, kepribadian seseorang merupakan wujud konkret dan aktualisasi dari proses integrasi sistem-sistem atau aspek-aspek struktur. Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah belah dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self atau memahami manusia seutuhnya. Pemahaman kepribadian sangat dipengaruhi oleh paradigma yang menjadi acuan dalam pengembangan teori psikologi kepribadian. Para ahli kepribadian memiliki paradigma masing-masing yang dapat mempengaruhi pola pikirnya tentang kepribadian manusia secara sistemik. Teori-teori kepribadian dapat dikelompokkan pada empat paradigma yang menjadi acuan dasar. Adapun paradigma yang paling banyak berkembang di masyarakat adalah paradigma psikoanalisis dengan teori psikoanalisis klasik yang dicetuskan oleh Sigmund Freud. Sigmund Freud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego, dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak 7 dapat menyesuaikan diri. Individu menjadi tidak puas dengan dirinya dan lingkungannya. Dengan kata lain efisiensinya menjadi berkurang. 5 Dalam teori Sigmund Freud, elemen pendukung struktur kepribadian manusia adalah: a) Id (Das Es) Id adalah sistem kepribadian yang asli dan dibawa sejak lahir. Dari Id ini kemudian akan muncul ego dan super ego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan seperti insting, impuls, dan drives. Id berada dalam daerah unconscious dan beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah dan tidak tahu moral. b) Ego (Das Ich) Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang diemban oleh ego sebagai prinsip kenyataan (objective/reality principle). Segala bentuk dorongan naluri dasar dari id hanya dapat direalisasi dalam bentuk nyata melalui bantuan ego. c) Super Ego (Das Uber Ich) Suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral. Super ego merupakan kode modal seseorang dan berfungsi pula sebagai pengawastindakan yang dilakukan oleh ego. Jika tindakan iti sesuai dengan pertimbangan moral moral dan keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang. Sebaliknya, jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa rasa gelisa dan cemas.6 5 Op.Cit., Jalaluddin, h. 170. Semiun Yustinus. Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik FREUD, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), h. 60-66. 6 8 Super ego mempunyai dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani. Timbulnya super ego ini bersumber dari suara hati (conscience) sehingga fungsinya; (1) merintangi impuls-impuls id, terutama impulsimpuls seksual dan agresif yang aktualisasinya sangat ditentang masyarakat; (2) mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralitas daripada realistik; (3) mengejar kesempurnaan. Jadi super ego menentang ukuran baik buruk id ataupun ego, dan membuat dunia menuntut gambarannya sendiri yang tidak rasional bahkan menunda dan merintangi pemuasan insting.7 B. Dinamika Psikologikal Manusia Beragama Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, dinamika diartikan sebagai gerak atau kekuatan secara terus menerus yang dimiliki sekumpulan orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat tersebut.8 Refia Juniarti Hendrastin dan Budi Purwoko menyebutkan, dinamika adalah adanya interaksi dan interdependensi (saling ketergantungan) antara anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok secara keseluruhan. Hurclok menjelaskan dinamika adalah suatu tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan yang terjadi dan merupakan suatu faktor yang berkaitan dengan pematangan dan faktor belajar, pematangan merupakan suatu kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya yang tidak mengerti terhadap objek kejadian. Melalui uraian di atas dapat dipahami bahwa dinamika merupakan tenaga kekuatan yang selalu berkembang dan berubah. Bagi sesorang yang mengalami dinamika maka mereka harus siap dengan keadaan apapun yang terjadi. 9 7 Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Rajawali, 1990), h. 149. Daryanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Apolo, 1998), h. 101. 9 Zora Krispriana, Hubungan Konsep Diri Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Akir, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah), h. 30. 8 9 Dinamika psikologis dijelaskan oleh beberapa ahli sebagai keterkaitan antara berbagai aspek psikologis dalam menjelaskan suatu fenomena atau konteks tertentu. Walgito menjelasakan bahwa dinamika psikologis merupakan suatu tenaga kekuatan yang terjadi pada diri manusia yang mempengaruhi mental atau psikisnya untuk mengalami perkembangan dan perubahan dalam tingkah lakunya sehari-hari baik itu dalam pikiranya, perasaannya maupun perbuatannya. 10 Saptoto mendefenisikan dinamika psikologis sebagai keterkaitan antara berbagai aspek psikologis yang ada dalam diri seseorang dengan faktor-faktor dari luar yang mempengaruhinya. Fathurrochman dan Djalaludin Ancok menggunakan istilah dinamika psikologis untuk menjelaskan secara lebih lanjut hubungan prosedur objektif dengan penilaian keadilan.11 Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur tersebut adalah: 1. Energi rohaniah yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas ruhaniah seperti berpikir, mengingat, mengamati dan sebagainya. 2. Naluri, berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan, minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmani dan gerak hati. Naluri mempunyai sumber (pendorong), maksud dan tujuan. 3. Ego (Aku sadar), yang berfungsi untuk merendahkan ketegangan dalam diri dengan cara melakukan aktivitas penyesuaian dorongan yang ada dengan kenyataan objektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisahan atau ketegangan batin. 4. Super ego-ideal, yang berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin baik berupa penghargaan (rasa senang, puas, berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa, menyesal). 10 Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010), h. 26. Fathorrochman & Djalaludin Ancok, Dinamika Psikologis Penilaian Keadilan, (Jurnal Psikologi UGM, 20 12), h. 41-60. 11 10 Dalam kaitan dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketentraman dalam batinnya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, namun terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan dengan realita yang ada. C. Kondisi Kesehatan Mental Manusia Beragama 1. Pengertian Kesehatan Mental Dari segi bahasa kesehatan mental terdiri dari dua kata yaitu: kesehatan dan mental. Kesehatan yang kata dasarnya sehat mendapat awalan ke dan akhiran an, menyatakan hal atau keadaan, sedangkan sehat berarti bebas dari rasa sakit, jadi kesehatan memiliki arti keadaan badan seseorang yang tidak sakit.12 Mental berasal dari bahasa latin yaitu: mens, mentil, yang artinya: jiwa, roh, nyawa, sukma, semangat.13 Kesehatan mental adalah (Mental Bygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan peraturan serta prosedurprosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman dan tenteram. Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah psikosomatik (kejiwa badanan). Dimaksudkan dengan istilah tersebut menjelaskan bahwa, terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan, jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah dan sebagainya, maka badan turut menderita.14 Kesehatan mental dalam kehidupan manusia merupakan masalah yang amat penting karena menyangkut soal kualitas dan kebahagiaan manusia. Tanpa kesehatan yang baik orang tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan sumber daya manusia yang tinggi.15 12 Departemen Pendidikan, Kamus Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 890 Kartini Kartono dan Jenny Andri, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, (Bandung: Mandar Maju, 1989), h. 3 14 Op.Cit., Jalaluddin, h. 148. 15 Yahya Jaya, Kesehatan Mental, (Padang: Angkasa Raya, 2002), h. 68. 13 11 Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (Penyebab terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. Noto Soedirdjo, menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan seseorang terhadap stressor berbeda-beda karena faktor genetic, proses belajar dan budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima oleh seseorang dengan orang lain juga berbeda. Menurut C. Maninger sehat mental merupakan penyesuaan manusia terhadap dunia lingkungannnya dan terhadap diri orang lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. 16 Sedangkan kesehatan mental dalam Islam berhubungan dengan konsep kebahagiaa. Sumber kebahagiaan manusia dating dari dua arah, yaitu dari manusia dan dari tuhan. 17 Zakiah Daradjat merumuskan pengertian kesehatan mental dalam pengertian yang luas dalam memasukkan aspek keagamaan didalamnya sebagai berikut: Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguhsungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat.18 Dalam hal ini orang sehat mentalnya adalah orang yang memiliki rasa cinta dan pekerjaan atau ego yang kuat dan super ego. Sebaliknya orang yang tidak memilikinya adalah orang yang terganggu dan sakit 16 Sutarjo Wiramiharja, Pengantar Psikologi Abnormal, (Bandung: Refika Aditama, 2005), h. 9-10. 17 Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo,2011), h. 26. 18 Op, Cit, Ramayulis, h. 141. 12 jiwanya. 19 Dengan masuk dan dipadukannya keimanan dan ketaqwaan agama dalam pengertian kesehatan mental sebagai yang dikemukakan zakiah daradjad di atas, maka jelaslah terdapat relevansi yang sangant kuat antara agama islam dan kesehatan mental. Oleh karena itu terdapat relevansi yang sangat kuat antara agama islam dan ilmu kesehatan mental, maka terdapa pulalah peranan positif agama islam dengan peranan kesehatan mental. Peranan agama islam dalam kesehatan mental antara lain dapat dilihat dalam pengobatan dan pengentasan gangguan kejiwaan. 20 Dalam pengertian yang luas kesehatan mental dapat diartikan sebagai terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsifungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat. Dari beberapa definisi kesehatan mental tersebut maka dapat dipahami bahwa definisi kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketakwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna yaitu bahagia di dunia dan di akhirat. Dengan demikian fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu dengan lainnya sehingga dapat tercapai keharmonisan yang dapat menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin. Didalam UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang kesehatan jiwa memberikan defenisi Kesehatan Jiwa/mental adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat 19 20 Ibid, Yahya Jaya, h. 69. Ibid, Yahya Jaya, h. 130. 13 mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. 21 2. Ciri-ciri Orang yang Memiliki Kesehatan Mental Ciri-ciri kesehatan mental dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu:22 a. Memiliki sikap batin (attitude) yang positif terhadap dirinya sendiri. b. Aktualisasi diri. c. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi psikis yang ada. d. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (mandiri). e. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada. f. Mampu menyelaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. 3. Iman, Islam dan Ihsan dalam Kesehatan Mental Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: ِ عن عمر ر س ِعْن َد و ل ج ن َن ا م ن ي ب : ال ق ا ض َي أ ه ن ع هللا ي ض َ َ ُ ً َ ْ ْ َ َ ْ ْ ُ ُ َ َ ََ ُ ْ َ ٌُْ ُ َ َ ِ رسوِل ِ ات يَ ْوٍم إِ ْذ طَلَ َع َعلَْي نَا َر ُج ٌل هللا َ َصلَّى هللاُ َعلَْيه َو َسلَّ َم ذ َ ُْ َ ِ ِ اض الثِي ِش ِ ِ الَ يَُرى َعلَْي ِه أَثَُر،َّع ِر ي ب د ي د ُ ْ اب َشديْ ُد َس َواد الش ْ َ ََ َ ِ والَ ي ع ِرفُه،الس َف ِر َّب صلى هللا ل ج َّت ح ، د َح أ َّا ن م ِ ِس إِ ََل الن َّ َ ٌ ُ ْ َ َ َّ َ َ َ َ ِ ِ ض َع َك َّفْي ِه َعلَى َ َسنَ َد ُرْكبَ تَ ْيه إِ ََل ُرْكبَ تَيْه َوَو ْ عليه وسلم فَأ ِال رسو ُل هللا ِ ِ ِ ِ ْ َي ُُمَ َّمد أ:ال ُْ َ َ فَ َق،َخ ِْبِِن َع ِن اْ ِإل ْسالَم َ َ َفَخ َذيْه َوق ِ اْ ِإل ِسالَ ُم أَ ْن تَ ْش َه َد أَ ْن الَ إِلَهَ إ: صلى هللا عليه وسلم َّ هللا ال ُ ُِهللا وت ِ وأ ََّن ُُم َّم ًدا رسو ُل َّ الصالََة َوتُ ْؤِِت ص ْوَم م ي ق َّ ْ ُ َالزكاََة َوت ُْ َ َ َ َ َ َ 21 UU Republik Indonesia, UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, Bab I, 22 Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung, . 1995), h. 10 Pasal 1 14 ِ ِضا َن وََت َّج الْب يت إ : ال ع ط ت اس ن َ َت إِلَْي ِه َسبِْيالً ق َ َ َ َرَم َ ْ ْ َ َْ ُ َ ِ فَع،ص َدقْت َ َخِ ِْبِِن َع ِن ي و ه ل أ س ي ه ل ا ن ب ج َ َ ق،ُص ِدقُه ُ َ َ ْ فَأ:ال َ َُ ُ ْ َ ُ ْ َ َ َ ِ َاْ ِإلْْي أَ ْن تُ ْؤِم َن ِِبهللِ َوَمالَئِ َكتِ ِه َوُكتُبِ ِه َوُر ُسلِ ِه َوالْيَ ْوِم: ال َ َان ق ِاآلخ ِر وتُؤِمن ِِبلْ َق َد ِر خ ِْيهِ و َش ِره ِ ال ال ق . َ َ ق،ت َ َ ْ ْ َ ْص َدق َ َ َ َ َ ِ فَأَخِِبِِن ع ِن اْ ِإلحس ك تَ َر ُاه فَِإ ْن ََْل َ َ ق،ان َ َّ أَ ْن تَ ْعبُ َد هللاَ َكأَن:ال َ ْْ َْ ( )رواه مسلم.تَ ُك ْن تَ َراهُ فَِإنَّهُ يََر َاك Artinya: Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab15 Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau”. (HR. Muslim) a. Maa Huwal Iman dalam Kesehatan Mental Seperti yang telah diketahui bahwa diantara pengertian kesehatan mental adalah berlandaskan kepada agama, yaitu keimanan dan ketaqwaan. Hal ini dapat dimengerti sebagai indikator orang yang memiliki indikator orang yang memiliki kesehatan mental adalah orang-orang yang senantiasa melaksanakan aktivitas-aktivitas keagamaan sesuai dengan iman yang melekat pada dirinya. Sedangkan ketaqwaan merupakan kristalisasi. Atau dengan kata lain iman sebagai kepercayaan sedangkan taqwa sebagai perwujudan dari iman tersebut. Nurkhalis majid menyatakan bahwa sistem ibadah merupakan salah satu kelanjutan logis sistem iman. Dengan demikian bahwa ibadah sebagai institusi iman, atau institusi yang menengahi antara iman dan konsekwensinya, yaitu amal perbuatan. Oleh karena itu dalam alqur’an kata iman selalu diiringi dengan amal perbuatan ٰۤ ِ الصلِ ٰح ٰ اِ َّن الَّ ِذيْ َن اٰ َمنُ ْوا َو َع ِملُوا َِِّۗك ُُ ْم َخ ْْيُ الَِِْبي َ ت اُوٰل ِٕى misalnya Allah SWT. berfirman Artinya: Sesungguhnya orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka itu adalah sebaik baiknya makhluk. (QS. AlBayyinah : 7) Sebagai sikap batin, iman bisa berada pada tingkat keabstrakan yang sangat tinggi yaitu sulit ditangkap hubungannya dengan perlakuannya sehari-hari. Dalam ibadah sebagai simbol amal yang 16 dapat melahirkan ketaqwaan seseorang hamba Allah merasakan kehampiran spiritual kepada khaliqnya. Pengalaman kerohanian ini sendiri merupakan sesuatu yang dapat disebut inti rasa keagamaan atau religiusitas, yang memiliki tingkat keabsahan tertinggi. 23 Keimanan mempunyai pengaruh besar atas diri manusia . pengaruh itu terutama membuat manusia percaya pada diri sendiri, meningkatkan kemampuannya untuk sabar dan kuat menanggung derita kehidupan membangkitkan rasa tenang dan tenteram dalam jiwa, menimbulkan kedamaian hati dan memberi perasaan bahagia. Keimanan kepada Allah dibarengi dan diikuti oleh ketaqwaan kepada-Nya. Pengertian Taqwa dalam bahasa alqur’an banyak sekali maksudnya diantaranya takut, (yang berarti takut melanggar ketentuan Allah), menjaga atau membentengi diri dari berbagai dorongan yang tercela dan perbuatan munkar, menjaga diri dari tingkah laku yang tidak terpuji. Iman dan taqwa mempunyai hubungan yang erat dengan soal kejiwaan dan kesehatan mental manusia. Iman dan taqwa adalah jalan utama menuju kesehatan mental. Dari segi kejiwaan, sesungguhnya iman dan taqwa dapat dijadikan landasan bagi pembinaan mental spiritual manusia. Oleh karena itu pantas pula iman dan taqwa berfungsi sebagai penyelamat hidup manusia baik di dunia maupun di akhirat sekaligus berpredikat tertinggi dalam kehidupan beragama. Bahkan Allah dengan tegas menjanjikan keberkatan dan keberuntungan berupa kebahagiaan jasmani dan rohani, fisik dan mental kepada mukmin dan muttaqin. 24 b. Maa Huwal Islam dalam Kesehatan Mental Seorang yang mengaku islam berarti ia melaksanakan, tunduk dan patuh serta berserah diri sepenuh hati terhadap hukum-hukum dan 23 24 Op. Cit, Ramayulis, h. 179 Ibid, h. 180 17 aturan-aturan Allah yang dalam hidupnya selalu dalam kondisi aman dan damai yang pada akhirnya dapat mendatangkan keselamatan di dunia dan diakhirat. Penegrtian islam secara terminologi adalah oengajuan dan berserah diri secara mutlak kepada zat yang maha benar, yakni Allah. Pengaengakuan dan berserah diri itulah diwujudkan dalam perilaku nyata, baik perilaku rohani maupun jasmani, seperti shalat, puasa zakat, dan menunaikan ibadah haji, serta ibadah lainnyabaik ritual.25Kepribadian ibadah muslim ritual maupun menmbulkan lima ibadah non karakter ideal diantaranya. 1. Karakter Syahadatain, yaitu karakter yang mampu menghilangkann dari pembebasan diri dari segala belenggu atau dominasi tuhan-tuhan yang temporal dan relatif seperti materi dan hawa nafsu sebagaimana firman Allah surat Al-Furqan ayat 43 ِاَرءيت م ِن َّاَّت َذ ا ٰ ۙ ت تَ ُك ْو ُن َعلَْي ِه َوكِْي ًال ن ا ف ا ىه و ُ ٗ ه ٰل ْ َ َ َ ٰ َ ُ َ َ َ َ َ َْ َ Artinya: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya. (QS. Al-Furqan :43) Kemudian mengisi diri sepenuh hati dengan Allah, tuhan yang mutlak. Hanya Allah yang patut disembah dan dipatuhi, sebab dia merupakan yang maha segala galanya. Kepribadian syahadatain juga menghendaki adanya karakter yang selalu cinta dan mematuhi perintah rasul dan menjauhi larangannya serta berusah mentauladani tingkah lakunya yang mulia sebab rasul merupakan sosok manusia yang paripurna (Insan Kamil) 2. Karakter Mushalli, yaitu karakter yang mampu berkomunikasi dengan Allah (illahi) dan sesama manusia (insani). Komunikasi illahiyah ditandai dengan takbir. Sedangkan komunikasi insaniah ditandai dengan 25 salam. Karakter Mushalli Ibid. h. 181 18 juga menghendaki adanya keberhasilan dan kesucian lajir dan bathin. Kesucian lahir diwujudkan dalam wudhu’ QS. Al-Maidah ayat 6: الص ٰلوةِ فَا ْْ ِسلُ ْوا ُو ُج ْوَُ ُك ْم َّ ٰاَيَيُّ َها الَّ ِذيْ َن اٰ َمنُ ْاوا اِذَا قُ ْمتُ ْم اِ ََل َواَيْ ِديَ ُك ْم اِ ََل الْ َمَرافِ ِق َو ْام َس ُح ْوا بُِرءُ ْو ِس ُك ْم َواَْر ُجلَ ُك ْم اِ ََل ِ ْ َالْ َك ْعب ي َواِ ْن ُكْن تُ ْم ُجنُبًا فَاطَّ َّهُرْوا َواِ ْن ُكْن تُ ْم َّم ْر ٰا ضى اَْو َع ٰلى ٰۤ ِ ٰۤ ٰۤ ِ ِ ِ ٰ َس َف ٍر اَْو َجاءَ اَ َح ٌد مْن ُك ْم م َن الْغَا ِٕىط اَْو ل َم ْستُ ُم الن َساءَ فَلَ ْم ٰۤ ِ ِ َِ ِ ِ صعْي ًدا طَيبًا فَ ْام َس ُح ْوا ب ُو ُج ْوُ ُك ْم ا و م م ي ت ف ء ا م ا و د َت َّ َ ُ َ َ ُْ َ ً َ ْ َواَيْ ِديْ ُك ْم ِمنْهُ َما يُِريْ ُد ٰاّللُ لِيَ ْج َع َل َعلَْي ُك ْم ِم ْن َحَرٍٍ َّوٰل ِك ْن يُِّريْ ُد لِيُطَ ِهَرُك ْم َولِيُتِ َّم نِ ْع َمتَهٗ َعلَْي ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَ ْش ُكُرْو َن Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al-Maidah: 6) Sedangkan kesucian bathin diwujudkan dalam bentuk keikhlasan dan kekusyukan tergambar dalam surat Al-Mukminun ayat 1-2. ِ ( الَّ ِذين ُم ِِف ص ٰلو ِتِِم خ١ ) قَ ْد اَفْلَح الْم ْؤِمنُو َن (٢) اش ُع ْو َن َ ْ َ ْ ُْ َْ ْ ُ َ Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya. (QS. Al-Mukminun: 1-2) 19 3. Karakter Muzzaki, yaitu karakter berani mengorbankan harta bendanya untuk kebersihan dan kesucian jiwanya surat at-taubah ayat 103 serta untuk pemerataan kesejahteraan umat pada umumnya. Karakter muzzaki menghendaki adanya pencarian harta secara halal dan mendistribusikannya dengan cara yang halal pula. Ia menuntut adanya produktifitas dan kreativtas. 4. Karakter Sha’im, yaitu karakter yang mampu mengendalikan dan menahan diri dari nafsu-nafsu rendah, diantaranya karakter Sha’im adalah menahan makan, minum dan hubungan sexual pada waktu, tempat dan cara yang dilarang. Apabila dirinya terbebas dari nafsunafsu yang rendah itu maka ia berusaha mengisi diri dengan tingkah laku yang baik, seperti berbuka dan sahur, shalat sunat malam, dan bertadarus Al-Qur’an. 5. Karakter haji, yaitu karakter yang mengorbankan harta, waktu, bahkan nyawa demi memenuhi panggilan Allah SWT. Karakter ini menghasilkan jiwa yang egaliter, memiliki wawasan yang inklusif dan pluralistik, melawan kebatilan, serta meningkatkan wawasan wisata spiritual. 26 Ditinjau dari segi kejiwaan hubungan yang erat antara agama islam dan kesehatan jiwa tidak hanya terletak pada pengertian dan tujuannya, akan tetapi juga terlihat pada metode, prinsip dan penyebab gangguan kejiwaan masing-masing. Pada umumnya apa yang menjadi prinsip, metode dan gangguan kejiwaan dalam ilmu kesehatan jiwa adalah menjadi prinsip, metode dan gangguan kejiwaan dalam ilmu agama islam. Sekalipun antara keduanya ada perbedaan. Antara agama islam dan kesehatan mental terdapat perbedaan dan persamaan. Persamaan terletak pada esensi dan tujuan, yaitu pada jiwa serta memuliakan kemanusiaan manusia 27 26 27 Ibid, Ramayulis, h. 161-162 Op.Cit, Yahya Jaya, h. 128 20 c. Maa Huwal Ihsan dalam Kesehatan Mental Menurut pengertian Ihsan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW menerusi hadis Abu Hurairah, yaitu seseorang menyembah Allah SWT seolah-olah dia melihatNya. Jika dia tidak berupaya untuk melihat Allah SWT, maka sesungguhnya Allah SWT melihat segala amal perbuatannya. Menyembah Allah SWT bererti mengabdikan diri kepadanya dengan ibadah menurut kaedah dan cara yang sebaikbaiknya sama ada pada zahir (perbuatan lahiriah) atau batin yaitu ikhlas pada niat. Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang yang baik disebut (muhsin) adalah orang yang mengetahui akan hal-hal yang baik, mengaplikasian dengan prosedur yang baik, dan dilakukan dengan niat yang baik pula, orang yang berbuat baik berarti menempuh jalan yang baik berarti menempuh jalan yang tidak beresiko, sehingga hidupnya terhindar dari permusuhan, pertikaian dari iri hati. Ihsan secara istilah sebagaimana yang tergambar dalam hadis di atas, usaha untuk memperbaiki kualitas perilaku. Kualitas itu dicapai melalui upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga dalam gerak gerik tingkah lakunya seakan-akan melihat Allah SWT. Apabila ia tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhya ia telah melihatnya. 28 28 Op.Cit, Ramayulis, h. 181 21 PENUTUP A. Kesimpulan 1. Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah: Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Personality, menurut Wibters Dictionary adalah: The totality of personality’s characteristic, An integrated group of constitution of trends behavior tendencies act. Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya. Identity yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance of personality). 2. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, dinamika diartikan sebagai gerak atau kekuatan secara terus menerus yang dimiliki sekumpulan orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat tersebut. Dinamika psikologis sebagai keterkaitan antara berbagai aspek psikologis yang ada dalam diri seseorang dengan faktorfaktor dari luar yang mempengaruhinya. Fathurrochman dan Djalaludin Ancok menggunakan istilah dinamika psikologis untuk menjelaskan secara lebih lanjut hubungan prosedur objektif dengan penilaian keadilan. Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur tersebut adalah: (1) Energi rohaniah (2) Naluri (3) Ego (Aku sadar (4) Super ego-ideal. 3. Kesehatan mental adalah (Mental Bygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman dan tenteram. Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah psikosomatik (kejiwa badanan)Didalam UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang kesehatan jiwa memberikan defenisi Kesehatan Jiwa/mental adalah kondisi dimana 22 seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya B. Saran Penulis menyadari masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dari makalah ini, baik dari segi penulisan maupun isi. Penulis berharap kritik/saran dan masukan dari pembaca, guna untuk perubahan yang lebih baik di kemudian harinya. 23 DAFTAR PUSTAKA Arifin, Isep Zainal. 2011. Bimbingan Penyuluhan Islam. Jakarta: Raja Grafindo. Chaplin, J.P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. Terjemahan Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali. Daradjat, Zakiah. 1995. Kesehatan Mental. Jakarta: Penerbit Gunung Agung. Daryanto. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Apolo. Departemen Pendidikan. 1999. Kamus Besar Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Fathorrochman & Djalaludin Ancok. 2012. Dinamika Psikologis Penilaian Keadilan. Jurnal Psikologi UGM. Jalaluddin. 2002. Psikologi Agama Edisi Revisii 2002. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jaya, Yahya. 2002. Kesehatan Mental. Padang: Angkasa Raya. Kartono, Kartini dan Jenny Andri. 1989. Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam. Bandung: Mandar Maju. Krispriana, Zora. Hubungan Konsep Diri Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Akir. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Ramayulis. 2013. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam mulia. Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali. UU Republik Indonesia. UU RI No.18 Tahuh 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Bab I. Pasal 1. Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi. Wiramiharja, Sutarjo. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama. Yustinus, Semiun. 2006. Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik FREUD. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 24