Uploaded by common.user73959

ANTROPOLOGI KESEHATAN KEL 5

advertisement
ANTROPOLOGI
KESEHATAN
DISUSUN OLEH :
DWI RATNA SARI (3181122009)
KARINA ITA APULINA (3182122017)
SARI DAME MARBUN (3183322027)
ZIRANA PADILLAH HUSNA (3181122010)
Ahli-ahli Antropologi dan Petugas
Kesehatan
Sumbangan ilmu-ilmu Kesehatan terhadap Ilmu Antropologi
1.
●
Memasuki lapangan yang kaya dan beraneka ragam.
Kesehatan menawarkan kepada ilmu antropologi berbagai bidang penelitian yang khusus, yang langsung dapat
dibandingkan dengan subjek-subjek tradisional seperti masyarakat rumpun dan desa-desa. Para ahli Antropologi tidak cukup
hanya mempelajari mengenai pranata kesehatan saja, namun harus dapat memasuki pranata kesehatan. Pranata-pranata
kesehatan dalam pengertian yang sangat luas ialah sejumlah lapangan penelitian yang sangat produktif bagi para ahli
antropologi. Di masa lalu, para ahli antropologi dapat memasuki komuniti masyarakat rumpun, desa-desa petani dan daerah
kumuh di kota atas usaha mereka sendiri. Untuk memasuki masyarakat pedesaan, seseorang ahli antropologi berusaha untuk
memperoleh sepucuk surat pengantar dari seorang otoritas yang lebih tinggi, yaitu pimpinan desa tersebut. Bila seorang ahli
antropologi dapat meyakinkan penduduk desa tentang maksud baiknya, maka ia diizinkan untuk tinggal. Gambaran itu sangat
berbeda dengan pranata kesehatan masa kini. Sepucuk surat pengantar saja tidak cukup. Seorang ahli antropologi yang akan
bekerja di rumah sakit atau difakultas kedokteran harus diterima oleh seluruh pranata kesehatan tersebut
2. Dorongan Intelektual
●
Spesialis-spesialis kesehatan dan kesehatan masyarakat merasa tertarik pada banyak
hal yang juga menjadi perhatian para ahli antropologi: tingkah laku manusia,
bagaimana kelakuan berubah, serta hubungan antara penyakit, lingkungan dan
kebudayaan. Kerjasama dengan para petugas kesehatan dan petugas kesehatan
masyarakat yang mampu akan memberi dorongan yang dapat dibandingkan dengan
yang didapatkan oleh ahli-ahli antropologi dari sesama rekan mereka sendiri dan
seringnya kontak seperti itu membuka pandangan yang samasekali baru, bukan hanya
untuk pemikiran dan penelitian, melainkan juga untuk keterlibatan profesional yang
permanen.
Sumbangan Ilmu Antropologi bagi Ilmu kesehatan
Kegunaan ilmu antropologi bagi ilmu-ilmu kesehatan terletak dalam tiga kategori utama, yaitu :
1.
Ilmu antropologi memberikan suatu cara yang jelas dalam memandang masyarakat secara
keseluruhan maupun anggota individual mereka.
2.
Ilmu antropologi memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan
proses-proses perubahan sosial dan budaya, dan juga untuk membantu memahami keadaan di
mana para warga di “kelompok sasaran” melakukan respons terhadap kondisi yang berubah dan
adanya kesempatan baru.
3.
Ahli antropologi menawarkan kepada ilmu-ilmu kesehatan suatu metodologi penelitian yang
longgar dan efektif untuk menggali serangkaian masalah teoritis dan praktis yang sangat luas,
yang dihadapi dalam berbagai program kesehatan.
1. Perspektif Antropologi
●
Meskipun perspektif antropologi meliputi banyak pokok dan sub-pokok, dua konsep utama khususnya cocok
dengan ilmu-ilmu kesehatan. Yaitu pendekatan holistik dan relativisme budaya.
a.
Pendekatan holistik
●
Kini tentunya sudah jelas bahwa ahli-ahli antropologi berorientasi kepada sistem. Mereka menekankan pada
keseluruhan dari bagian-bagian. Tidak seperti ahli ilmu sosial lainnya, para ahli antropologi hanya sedikit tertarik
kepada unit-unit yang terpisah di dalam sistem, demi kepentingan mereka sendiri serta pengaruh dari variabel
bebas khusus terhadap variabel terikat
●
b. Relativisme kebudayaan
●
Unsur kedua dalam perspektif antropologi yang kami yakin bersifat kritis terhadap ilmu-ilmu kesehatan adalah
relativisme kebudayaan, suatu kemauan untuk memandang dengan simpati bentuk-bentuk budaya dari masyarakat
2. Perubahan : proses dan persepsi
●
Dalam hal ini, membahas mengenai persepsi dan cara-cara di mana konsep
dipergunakan (dan disalahgunakan) dalam program kesehatan. Standar-standar
kesehatan dan peningkatan usia panjang yang semakin bertambah, baik di barat
maupun di negara-negara berkembang sampai sekarang dicapai melalui pelayanan
kesehatan lingkukngan, imunisasi, dan kampanye khusus mengenai penyakit seperti
cacar dan malaria. Namun kini kita sudah sampai pada batas dari pendekatanpendakatan ini, dan semakin lama semakin nampak oleh kita bahwa kesehatan
tergantung kepada perubahan individu dalam perilaku kesehatannya. Makin lama,
tanggung jawab atas kesehatan yang lebih baik makin dilemparkan atas individu
daripada atas keadaan atau profesi kesehatan.
3. Metodologi penelitian Antropologi
●
Metodologi penelitian antropologi tidka berasal dari laboratorium atau dari korelasi
statistik, melainkan dari suatu tipe komitmen sejarah alam hingga penelitian lapangan.
Dalam program-program kesehatan, penentuan dari kategori kesehatan yang penting
mengikuti bukan mendahului penelitian dan kuantifikasi berikutnya dapat didasarkan
pada penemuan-penemuan yang relevan. Bahkan ahli sosiologi kesehatan,
sebagaimana yang dilihat, bila mempelajari keseluruhan sistem seperti rumah sakit
atau fakultas kedokteran dan sekolah perawat, sering kembali kepada pendekatan
antropologi, paling sedikit untuk sebagian dari data mereka.
Premise
●
Ahli antropologi tidak hanya mengamati tingkah laku lara anggota suatu kelompok,
namun juga ingin menerangkan, mengapa orang bertingkahlaku seperti yang mereka
lakukan. Premis - premis (asumsi atau dalil-dalil) harus dipikirkan terletak pada suatu
kontinum, dari kutub luar dan sadar sampai pada kutub dalam dan di bawah sadar.
Baik yang terdahulu atau yang kemudian, semuanya memainkan peranan yang sangat
penting dalam menentukan tingkahlaku individual dan kelompok, karena semua
tingkah laku tampaknya merupakan respons atau suatu fungsi dari premis-premis,
sehingga bagaimanapun tingkah kesadaran mereka, memberikan ciri bagi seorang
individu.
a. Premise Profesional
Tingkahlaku para petugas kesehatan (dan beberapa konsekuensi dari tingkah laku
ini) sering dapat dimengerti secara lebih baik jika kita menganggapnya sebagai
suatu fungsi dari premis profesional. Para petugas kesehatan masyarakat sering
membenarkan kegiatan-kegiatan mereka atas dasar bahwa menikmati kesehatan
yang baik adalah nilai yang maksimum untuk kebanyakan orang.
Antropologi dan Kedokteran
dalam Dunia yang Berubah I :
Pelajaran dari Masa Lalu
“MASALAH” KESEHATAN MASYARAKAT
Dalam hal kemampuan nya untuk mencegah atau mengobati penyakit infeksi,
memusnahkan penyakit dari masa lalu seperti malaria, cacar, untuk mencegah kematian
balita dan untuk memperbaiki melalui pembedahan, maka pengobatan ilmiah tidaklah
terkalahkan. Apapun tingkatan kebudayaannya, mengakui superiotasnya, paling tidak yang
berkenaan dengan beberapa penyakit. Bagian terbesar dari masyarakat pada umumnya lebih
ingin mendapatkan pengobatan ilmiah.
Hampir selalu terjadi penolakan yang keras jika Program-program kesehatan ilmiah,
khususnya Program-program pencegahan, diperkenalkan ke daerah-daerah di mana sistem
medis tradisional nya masih kuat. Harapan utama dari para spesialis kesehatan internasional
tercampak dari waktu ke waktu, setelah dengan keheranan mereka menemukan bahwa
Program-program yang secara teknis dirasakan baik ternyata gagal sama sekali atau hanya
berhasil sebagian saja.
PENOLAKAN DALAM MASYARAKAT PENERIMA PELAYANAN
KESEHATAN BARU
●
Pada umumnya semua orang bersifat etnosentris; mereka menganggap bahwa
cara cara dan kepercayaan tradisional mereka, dan mereka menganggap bahwa caracara itu adalah sama dengan, dan mungkin lebih baik daripada cara-cara pada
masyarakat lainnya. Kepercayaan mengenai kesehatan, gambaran mengenai jasmani
dan konsep-konsep tentang penyakit adalah bagian dari pandangan hidup yang jarang
dipertanyakan, demikian pula unsur-unsur individu yang membentuk totalitas tersebut
diterima sepenuhnya.
1. Model "berlawanan"
Secara singkat, pandangan-pandangan tiap masyarakat tentang kesehatan dan
penyakit merupakan bagian dari pribadinya yang terdalam, yang tidak bisa begitu saja
disisihkan sebelum ada bukti yang sangat nyata yang memberikan indikasi bahwa tidak ada
penyelesaian lain yang lebih baik. Sebagaimana dinyatakan oleh Polgar, masalahnya bukan
sekedar model "perahu-perahu kosong" yaitu asumsi yang keliru bahwa "anggur yang baru,"
yaitu informasi dan praktek kesehatan ilmiah, dapat dituangkan kedalam pikiran-pikiran
yang secara esensial tidak memiliki kepercayaan mengenai penyakit. (Polgar 1963 : 441).
2. Dikotomi Kognitif
Dikotomi dasar antara penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan oleh dokter
dan yang tidak, selanjutnya ditemukan di bagian-bagian yang terpisah jauh di dunia. Tipe
dikotomi Kognitif kedua, yakni antara penyakit-penyakit "kami" dan penyakit-penyakit
"mereka" juga nampak.
4. Persepsi tentang tingkahlaku peranan
●
●
Pada waktu pengobatan ilmiah mula-mula dapat diperoleh masyarakat yang semula
tergantung pada metode- metode tradisional, salah satu penolakan yang utama bersumber
pada metode-metode tradisional, salah satu penolakan yang utama bersumber dariharapan
yang berbeda antara pasen dan dokter mengenai tingkah laku peranan yang tepat.
Dalam pengobatan medis barat hanya terdapat sedikit saja ritual. Perlengkapanperlengkapan di kamar periksa jarang terlihat dan pemerikasaan biasanya sepintas lalu;
maka dokter sering nampak sebagai kelengkapan yang tidak diperlukan dalam hal distribusi
obat. Dalam berbagai masyarakat tradisional lainnya, orang menerima obat dari barat,
tetapi memandang si pemberi obat dengan perasaan tidak menyukainya. Di negara-negara
yang sedang berkembang, para dokter sering kali merasa bahwa mereka merendahkan diri
sendiri maupun ilmu mereka, pada waktu mereka mendengarkan dengan simpatik uraianuraian mengenai sebab-sebab penyakit yang bersifat magis atau supranatural. Kadangkadang mereka mencemooh kepercayaan tradisional, dengan demikian mereka
menjauhkan pasien-pasien yang ingin berobat kepada pada dokter tersebut dari keahlian
klinis mereka.
●
Para ahli antropologi kesehatan pada umumnya yakin bahwa terapi dalam
situasi antar budaya atau antar lapisan sosial akan paling efektif apabila dokter
yang bersangkutan memiliki pengertian terhadap kepercayaan mengenai
pengobatan dan harapan atas perawatan dari para pasien yang datang untuk
berkonsultasi. Para ahli antropologi dari Smithsonian Institute yang
mempelajari program-program kesehatan masyarakat di Amerika Latin pada
awal Tahun 1950 menekankan pentingnya pengetahuan mengenai pengobatan
rakyat. Ahli-ahli antropologi menunjukkan bahwa pemahaman atas pengobatan
rakyat akan membantu para petugas kesehatan dalam meyatakan unsur-unsur
pengobatan dan pencegahan sehingga mereka dapat dimengerti oleh para
pasien yang hanya terbiasa dengan pengobatan tradisional. Dan bahwa percaya
kepada sistemyang baru dapat ditumbuhkan pada diri pasien apabila mereka
melihat bahwa para petugas kesehatan itu memahami kepercayaan mereka.
5. Pengobatan, Pencegahan, dan Konsep Memelihara
●
●
●
Masyarakat tradisional, merefleksikan pandangan hidup yang lebih luas : memelihara
(kesehatan) gaya barat kurang dihargai. Orang-orang eropa dan amerika telah selama dua
abad mendapat kesempatan untuk memahami pentingnya pemeliharaan kesehatan. Dalam
kehidupan sehari hari, masyarakat amerika telah belajar untuk mencegah daripada
mengobati. Dalam hal ini pengobatan preventif konsisten dengan pandangan hidup kita
yang luas, dan kita menerima sedemikian adanya bahwa hal itu merupakan suatu cara yang
bijaksana.
Pada masyarakat tradisional tidak ada kesepalatan dasar bahwa pemeliharaan adalah
penting bagi kelancaran suatu masyarakat, maka tidaklah mengherankan apabila
masyarakat pra-industri kurang tanggap terhadap pemeliharaan tubuh manusia melalui
aktivitas pengobatan preventif. Bentuk-bentuk utama dari pengobatan preventif tidak
konsisten dengan pandangan umum masyarakat tradisional dan mereka tidak akan
menerimanya dengan kegairahan relatif yang serupa dengan yang ditunjukkan oleh orangorang Eropa maupun Amerika.
PENOLAKAN DALAM BIROKRASI MEDIS ILMIAH
●
●
Jika para pekerja kesehatan masyarakat mulai berpikir dalam kerangka budaya
untuk menyadari bahwa penduduk pribumi tidak selalu menganggap
pengobatan Barat memberikan suatu keuntungans eperti yang mereka anggap,
maka mereka menyimpulkan bahwa hambatan “budaya” dan “Sosial” tertanam
dalam cra-cara anggota kelompok sasaran
Para ahli antropologi yang bekerja dalam program kesehatan masyarakat
internasional terdahulu juga telah memiliki pandangan yang sama. Dipercaya
bahwa apabila bentuk-bentuk sosial dan budaya dari masyarakat penerima
dipelajari, maka hal itu akan memungkinkan perencanaan program-program
kesehatan yang dapat dipahami secara jelas oleh masyarakat yang
bersangkutan. Masyarakat gagal untuk memahami pengobatan Barat, dan jika
pengobatan itu dapat dikemukaan kepada mereka melalui cara-cara yang
sedemikian rupa, sehingga mereka dapat melihat berbagai keuntungannya yang
nyata, maka mereka akan dengan senang hati menerimanya.
1. Asumsi Perencanaan yang Keliru
●
Banyak perencanaan internasional yang senantiasa didasarkan atas asumsi
bahwa cara-cara yang berhasil dengan baik di negara-negara Barat adalah
model yang harus diikuti pula oleh negara-negara berkembang. Briant percaya
bahwa “tim kesehatan” di bawah seorang dokter dan dari sejumlah pekerja
sosial yang bervariasi, yang khususnya dilatih untuk tugas-tugas khusus dan
untuk bekerjasama sebagai suatu unit, merupakan jawaban bagi masalahmasalah kesehatan di negara berkembang. Dalam hal ini masalah utamanya
adalah, dokter secara simultan ingin mempertahankan peranan tradisionalnya
sebagai ahli diagnosis dan mengobati sekaligus, suatu peranan yang jelas tak
bisa digabungkan dengan arah tujuan tim. Disisi lain ada keengganan dokter
untuk membagi aktivitasnya dengan orang-orang lain, karena erat hubungannya
dengan perasaan bahwa tidak ada orang lain selain dokter yang dapat
memberikan pertolongan.
2. Pengobatan Klinis versus Pencegahan
●
Model barat yang tidak cocok bagi negara berkembang adalah perbedaan yang
dilakukan di amerika antara sektor pengobatan swasta, kuratif, klinis, dengan
sektor pengobatan umum, preventif dan kesehatan masyarakat. Amerika
penekanannya adalah pada usaha swasta, banyak fakultas kedokteran dan
sejumla besar pasien yang sanggup membayar untuk pelayanan kesehatan dan
sistem ganda tersebut tampak wajar pada wilayah ini. sedangkan pada negara
berkembang relatif sedikit sekali terdapat orang yang mampu untuk
berkonsultasi dengan para dokter swasta. Kebutuhan kesehatan hanya dipenuhi
dari klinik pemerintah, yang gratis dan bersubsidi dimana pelayanan kuratif dan
preventif digabungkan. Pada negara berkembang kemajuan utama dalam
tingkatab kesehatan lebih ditujukan pada kesehatan masyarakat daripada
pelayanan klinik.
3. Prioritas Pribadi dari para Petugas Kesehatan
●
Masalah berikutnya yaitu program kesehatan yang didasarkan atas pengobatan
ilmiah adalah seringnya para petugas kesehatan berasumsi bahwa prioritas
pribadi mereka adalah yang merupakan prioritas kelompok sasaran pula. Pada
negara berkembang, para petugas kesehatan masyarakat bukan tanpa alasan
menekankan tindakan preventif, namun daftar prioritas dari rata rata orang
mengenal tindakan preventif berbeda jauh dibawah tindakan kuratif, yakni
perhatian langsung terhadap kebutuhan-kebutuhan kesehatan mereka
sebagaimana yang mereka persepsikan. Keculai jika para anggota kelompok
sasaran mempunyai atau kemudian mempunyai pandangan yang sama mengenai
prioritas kesehatan dengan yang dirasakan oleh para spesialis yang ingin
membantu mereka, perhatian dan kerjasama dalam proyek-proyek khusus akan
sulit tercapai.
4. Asumsi Keliru Mengenai Pengambilan Keputusan
●
●
Hubungan dokter-pasien dan pendidik kesehatan- klien pada negara
berkembang
memiliki
kecenderungan
kelompok
kesehatan
yang
mengasumsikan bahwa pasien atau calon pasien membuat keputusan mengenai
pertolongan medis yang dicarinya. Kenyataannya, keputusan medis dalam dunia
tradisional biasanya merupakan keputusan kelompok, dan melibatkan hal-hal
seperti status, pangkat, usia,jenis kelamin, dan peranan-peranan tradisional.
Asumsi keliru yang serupa mengenai siapa yang membuat keputusan sering
merupakan ciri pada pusat pelayanan ibu dan anak pada negara berkembang.
Para ibu dan calon ibu nampak merupakan sasaran pendidikan yang nyata.
Tidaklah mengherankan apabila bagi sebagian besar dari mereka, suatu pusat
pelayanan kesehatan baru dapat dipandang sebagai saingan langsung, sebagai
aktivitas pemerintah yang dianggap mengganggu dan membahayakan status
serta kekuasaan mereka dalam keluarga mereka; karena itu mereka
menentangnya dengan keras.
5. Kekurangan-Kekurangan dalam Pelayanan Kesehatan
●
Reaksi negatif timbul karena nyatanya, pengobatan ilmiah tidak terlalu baik,
cara penyampaiannya tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, atau
disertai efek sampingan yang dipandang merugikan oleh masyarkaat yang
bersangkutan. Praktek birokratis lainnya yang pada kesan pertama nampak
tidak mendukung pemanfaatan pelayanan kesehatan dapat dipandang sebagai
kekurangan-kekurangan dalam pelayanan kesehatan.
6. Konflik peranan Profesional
●
Cohen telah meminta perhatian terhadap dilema etika dan kebijaksanaan yang
walaupun berbeda bentuknya dengan “hambatan-hambatan” seperti yang baru
diutarakan, ternyata dapat dipandang sebagai bagian dari masalah yang lebih
luas dalam memberi perawatan kesehatan kepada semua yang
membutuhkannya. Cohen menggambarkan betapa banyak kaum profesional
kesehatan yang mengalami dilema etika yang mereka hadapi. Mereka
memagami kewajiban moral sebagai kaum profesional kesehatan, yakni
membantu mereka yang membutuhkan; dalam tindakannya , mereka juga
dibatasi oleh badan-badan peraturan yang membedakan antara para klien yang
layak dan tidak layak dilayani. Hal-hal mengenai etika dan kebijaksanaan, dan
jawaban yang memuaskan bagi semua pihak yang bersangkutan sungguh tidak
mudah diperoleh
TERIMAKASIH
Download