Uploaded by User72877

BukuPAK2cetakok

advertisement
Buku Ajar
PENGANTAR AKUNTANSI 2
Ni Kadek
Sinarwati
Undiksha
Press
5
PENGANTAR AKUNTANSI 2
Penulis:
NI KADEK SINARWATI,S.E.,M.Si.,Ak.
ISBN : 978-602-1213-78-0
Editor:
Dr. ANANTAWIKRAMA TUNGGA A.,S.E.,M.Si.,Ak
Penyunting:
Prof. Dr. I WAYAN LASMAWAN,M.Pd
Desain Sampul dan Tata Letak:
I Gusti Ngurah Bagus Dirgayusa S. dan Dewa Kadek Darmada
Redaksi:
Gedung Jurusan S1 Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha),
Jalan Udayana No.12 (Kampus Tengah) Singaraja Bali,
Telp (0362) 22570-23884, Fax. 25735
Email: [email protected]
Cetakan pertama, Februari 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk dan
dengan cara apapun tanpa ijin tertulis penerbit
i
Pengantar Akuntansi 2
ii
Pengantar Akuntansi 2
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas Asung Wara NugrahaNya penulisan Buku Ajar Pengantar Akuntansi
2 ini dapat diselesaikan. Buku Ajar Pengantar Akuntansi 2 ini membahas
tentang: Akuntansi Kas, Akuntansi Investasi Pada Surat Berharga, Akuntansi
Piutang, Akuntansi Persediaan, Akuntansi Aktiva Tetap, Akuntansi Utang
Lancar, Akuntansi Utang Jangka Panjang dan Akuntansi Modal.
Buku ini ditujukan kepada mahasiswa, dosen dan siapa saja yang
berminat untuk mempelajari materi Pengantar Akuntansi 2. Penulis menyadari
bahwa buku ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak mengandung
kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat berterimakasih apabila pembaca
bersedia memberikan kritik saran, sehingga dapat digunakan untuk
penyempurnaan pada edisi berikutnya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu proses terbitnya buku ini. Semoga buku ini bermanfaat dan dapat
memberikan kontribusi pada khasanah ilmu pengetahuan.
Singaraja, Februari 2015
Penulis
iii
Pengantar Akuntansi 2
DAFTAR ISI
LEMBAR HAK CIPTA ………………………………………………………………………….
i
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………………………………….
ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………..
iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………
iv
BAB I. AKUNTANSI KAS
A. Pentingnya Pengendalian Intern Terhadap Kas ……………………..
B. Cara Pengendalian Intern Terhadap Kas ………………………………..
C. Catatan Ganda Kas ………………………………………………………………..
D. Laporan Bank …………………………………………………………………………
E. Laporan Rekonsiliasi Bank ……………………………………………………..
F. Bank Overdraft ……………………………………………………………………..
G. Kas Kecil ………………………………………………………………………………..
H. Selisih Kas ……………………………………………………………………………..
I. Penyajian Kas di Neraca ………………………………………………………..
1
2
4
4
4
11
11
13
14
BAB II. AKUNTANSI INVESTASI PADA SURAT BERHARGA
A. Tujuan Investasi Surat Berharga …………………………………………..
B. Pencatatan Investasi Surat Berharga Saham ………………………..
C. Pencatatan Investasi Surat Berharga Obligasi ………………………
D. Penilaian Surat Berharga ……………………………………………………..
E. Penyajian Surat Berharga …………………………………………………….
F. Penjualan Kembali Surat Berharga Yang Sudah
Dicadangkan Penurunan Nilainya …………………………………………
BAB III. AKUNTANSI PIUTANG
A. Klasifikasi Piutang ………………………………………………………………..
B. Akuntansi Piutang Dagang …………………………………………………..
C. Piutang Wesel ……………………………………………………………………..
D. Penyajian Piutang di Neraca ………………………………………………..
E. Akuntansi Piutang Wesel …………………………………………………….
F. Penyajian Piutang di Neraca ……………………………………………….
20
22
23
29
31
31
36
37
43
46
49
50
iv
Pengantar Akuntansi 2
BAB IV AKUNTANSI PERSEDIAAN
A. Arti Penting Persediaan ……………………………………………………
B. Cara Pencatatan Persediaan …………………………………………….
C. Perhitungan Harga Perolehan Persediaan ………………………..
D. Kesalahan Dalam Penghitungan Persediaan …………………….
E. Item Yang Termasuk Persediaan ………………………………………
F. Penyajian Persediaan Di Neraca ……………………………………….
53
54
59
66
66
67
BAB V AKUNTANSI AKTIVA TETAP
A. Karakteristik Dan Klasifikasi Aktiva Tetap …………………………
B. Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap ………………………
C. Cara-Cara Perolehan Aktiva Tetap …………………………………..
D. Penyusutan Aktiva Tetap …………………………………………………
E. Pengeluaran Selama Pemakaian Aktiva Tetap ………………….
75
76
79
84
88
BAB VI AKUNTANSI UTANG LANCAR
A. Definisi Utang Lancar ………………………………………………………
B. Jenis Utang Lancar ………………………………………………………….
C. Utang Kontinjensi ……………………………………………………………
D. Penyajian Utang Lancar Di Neraca …………………………………..
93
94
100
101
BAB VII AKUNTANSI UTANG JANGKA PANJANG
A. Karakteristik Utang Obligasi …………………………………………….
B. Jenis-Jenis Obligasi ………………………………………………………….
C. Akuntansi Obligasi ………………………………………………………….
BAB VIII AKUNTANSI MODAL SAHAM
A. Definisi Dan Jenis Saham …………………………………………………
B. Menjual Saham Secara Tunai ………………………………………….
C. Menjual Saham Secara Pesanan ……………………………………..
D. Modal Sumbangan ………………………………………………………….
E. Dividen…………………………………………………………………………….
F. Penyajian Modal Saham Di Neraca ………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
104
106
107
116
117
119
120
120
122
v
Pengantar Akuntansi 2
BAB I
AKUNTANSI KAS
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
Pentingnya Pengendalian Intern Terhadap Kas
Cara Pengendalian Intern Terhadap Kas
Catatan Ganda Kas
Laporan Bank
Laporan Rekonsiliasi Bank
Bank Overdraft
Kas Kecil
Selisih Kas
Penyajian Kas di Neraca
Kas merupakan aset yang paling likuid, dan merupakan aset yang
pertama kali ada di perusahaan. Kas memiliki tingkat perputaran yang
paling tinggi dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya. Ketika suatu
usaha baru didirikan, pemilik menyetorkan modal salah satunya dalam
bentuk kas, kemudian kas tersebut dibelikan perlengkapan, peralatan,
bahan baku atau barang jadi. Setelah terjadi penjualan barang atau jasa
baik secara tunai maupun kredit, maka berikutnya perusahaan akan
menerima kas. Terdapat dua kriteria yang harus dipenuhi agar suatu
aktiva dapat dinyatakan sebagai kas yaitu:
1. Harus siap digunakan setiap saat untuk membayar semua kewajiban
yang ada sekarang,
2. Bebas dari ikatan apapaun yang membatasi penggunaannya untuk
membayar utang.
A. Pentingnya Pengendalian Intern Terhadap Kas
Pada perusahaan yang masih kecil, dimana semua aktivitas
perusahaan masih dapat dikendalikan oleh pemilik, pengendalian intern
terhadap kas belum begitu diperlukan. Sejalan dengan perkembangan
1
Pengantar Akuntansi 2
perusahaan, semakin besar perusahaan, maka transaksi khususnya yang
berkaitan dengan kas akan semakin banyak dan semakin beragam.
Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dapat dipisahkan menjadi
dua kelompok yakni penerimaan dan pengeluaran kas dari dan untuk
kegiatan operasi maupun dari kegiatan non operasi. Penerimaan kas dari
operasi misalnya penerimaan dari penjualan tunai, penerimaan piutang,
setoran modal oleh pemilik, penerimaan pinjaman dan yang lainnya.
Penerimaan kas yang berasal dari kegiatan non operasi misalnya
penerimaan bunga simpanan di bank, penerimaan hadiah dari undian,
penerimaan kas dari penjualan aset tetap yang tidak digunakan lagi dan
yang lainnya. Pengeluaran kas untuk kegiatan operasi misalnya
pembayaran biaya-biaya operasional seperti pembayaran gaji pegawai,
pembayaran sewa, pembelian bahan baku, pembelian persediaan
barang dan yang lainnya. Sedangkan pengeluaran kas untuk kegiatan
non operasi misalnya pembayaran untuk pembayaran sumbangan,
pembayaran pajak atas hadiah dan yang lainnya.
Praktik-praktik yang mungkin dilakukan untuk menyelewengkan kas
antara lain:
1. Penerimaan kas dari penjualan tunai dicatat lebih rendah dari
yang seharusnya.
2. Tagihan yang timbul dari penjualan kredit tidak dicatat
3. Cek untuk kepentingan pribadi dibebankan sebagai biaya
perusahaan
4. Lapping atau menunda posting.
B. Cara Pengendalian Intern Terhadap Kas
Kas
memiliki karakteristik yang menarik, yang menyebabkannya
mudah untuk diselewengkan. Karakteristik tersebut yakni: tidak ada
identitas, mudah dibawa/dipindahtangankan karena bentuknya kecil dan
ringan serta dapat ditukar sewaktu-waktu menjadi aktiva non kas.
Berdasarkan karakteristik tersebut, maka penting untuk dilakukan
pengendalian intern terhadap kas dengan cara:
1. Pengendalian intern atas penerimaan kas
Beberapa cara untuk melakukan pengendalian intern atas
penerimaan kas adalah:
2
Pengantar Akuntansi 2
a. Hanya karyawan tertentu saja yang secara khusus ditugaskan
untuk menangani penerimaan kas.
b. Melakukan pemisahan tugas antara individu yang menerima
kas, mencatat/membukukan penerimaan kas dan yang
menyimpan kas.
c. Setiap penerimaan kas harus didukung oleh dokumen.
d. Uang kas hasil penerimaan penjualan harian atau hasil
penagihan piutang dari pelanggan harus disetor ke bank.
e. Melakukan pengecekan independen atau verifikasi internal
f. Mengikat karyawan yang menangani penerimaan kas dengan
uang pertanggungan.
2. Pengendalian intern atas pengeluaran kas
Secara garis besar, berikut ini adalah beberapa penerapan prinsip
pengendalian internal atas pembayaran kas dengan menggunakan
cek:
a. Hanya pejabat tertentu saja yang secara khusus memiliki
otorisasi untuk menandatangani cek.
b. Adanya pemisahan tugas antara individu yang menyetujui
pembayaran kas, melakukan pembayaran kas, dan yang
mencatat/membukukan pengeluaran kas.
c. Menggunakan cek yang telah bernomor urut tercetak, setiap
cek harus dilampiri dengan bukti tagihan.
d. Simpanlah blanko cek yang belum terpakai dalam safe deposit
box, dan hanya satu orang tertentu saja yang ditunjuk atau
memiliki kode akses untuk membukanya.
e. Melakukan pengecekan independen atau verifikasi internal.
Bandingkan antara cek dengan bukti tagihan dan cocokkanlah
dengan laporan bank atau rekening koran bulanan.
f. Faktur tagihan (invoices) yang telah dibayat haru segera diberi
stempel “Lunas”.
Selain itu cara lain untuk melakukan pengendalian intern atas
pengeluaran kas adalah dengan penggunaan sistem voucher. Sistem
voucher dirancang untuk membantu dalam pelaksanaan pengasan
terhadap pengeluaran kas. Sistem ini menetapkan ketentuanketentuan sebagai berikut: (1) Kewajiban perusahaan hanya dapat
3
Pengantar Akuntansi 2
terjadi dari transaksi yang telah disetujui (disahkan) oleh orang yang
diberi wewenang oleh perusahaan; (2) prosedur-prosedur yang
berkaitan dengan terjadinya kewajiban, yang meliputi verifikasi,
pengesahan, dan pencatatan, harus ditetapkan; (3) cek hanya dapat
dikleuarkan untuk pembayaran kewajiban yang telah diverifikasi,
disahkan, dan dicatat dengan benar; (4) kewajiban harus dicatat pada
saat terjadi, dan setiap transaksi pembelian harus diperlakukan
sebagai transaksi yang independen. Ketentuan ini harus dipenuhi,
meskipun terjadi lebih dari satu transaksi pembelian dari perusahaan
yang sama dalam satu bulan atau periode faktur lainnya.
C. Catatan Ganda Kas
Prinsip bahwa semua kas harus disetrokan ke bank dan bahwa
pengeluaran kas, kecuali kas kecil harus menggunakan cek dapat
dapat meminimalkan jumlah kas diperusahaan. Jumlah kas minimal
dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan oleh karyawan dan
perampokan oleh pihak luar. Prinsip ini juga memungkinkan
dilakukannya rekonsiliasi karena pencatatan kas dilakukan baik oleh
perusahaan maupun oleh bank. Dicatatnya kas oleh dua pihak ini
dapat menaikkan kualitas pengendalian intern.
D. Laporan Bank
Setiap akhir bulan, giran (pemegang rekening giro) menerima laporan
bank. Laporan ini berisi informasi cek-cek yang telah diuangkan,
setoran-setoran yang telah diterima, dan saldo harian. Laporan bank
juga berisi informasi tentang memo debet dan memo kredit.
Memo debet adalah pengurangan atas rekening giro, selain dari cek
yang dikeluarkan oleh giran. Misalnya memo debet untuk biaya bank
dan cek kosong. Memo kredit adalah penambahan saldo rekening
giro, selain dari setoran langsung giran. Misalnya memo kredit untuk
jasa giro dari bank dan setoran pihak lain.
E. Laporan Rekonsiliasi Bank
Jika perusahaan membuka rekening giro di bank, akan terpelihara dua
catatan yaitu catatan perusahaan dan catatan bank. Karena keduanya
mencatat pos yang sama maka seharusnya dua catatan itu
4
Pengantar Akuntansi 2
menghasilkan saldo yang sama. Namun dalam kenyataannya, dua
catatan itu tidak pernah sama, sehingga perlu dilakukan rekonsiliasi.
Penyebab perbedaan saldo tersebut dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Beda waktu pencatatan
Yang dimaksud dengan beda waktu ppencatatan yakni antara
pemegang giran dan bank berbeda waktu mencatat transaksi yang
sama. Hal ini umumnya terjadi di akhir bulan. Beda waktu
pencatatan ini terdiri dari:
a. Setoran dalam perjalanan/deposit intransit, yakni setoran
perusahaan yang belum diterima oleh bank, misalnya, karena
perusahaan melakukan penyetoran pada sore hari, setelah
kegiatan pembukuan bank berhenti. Setoran ini sudah
menambah saldi di buku perusahaan, tetapi belum menambah
saldo di bank.
b. Cek yang masih beredar/out standing cek, yaitu cek yang sudah
dikeluarkan perusahaan tetapi belum dicairkan ke bank oleh
penerima cek. Out standing cek ini sudah mengurangi saldo
doperusahaan tetapi belum mengurangi saldo di bank.
c. Memo kredit, yaitu penerimaan yang telah diakui dan dicatat
oleh bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan. Termasuk
dalam memo kredit ini yaitu pendapatan jasa giro dan
penerimaan transferan dari pihak lain.
d. Memo debet, yaitu pengeluaran yang telah diakui dan dicatat
oleh bank, namum belum dicatat oleh perusahaan. Termasuk
dalam memo debet ini yakni biaya administrasi bank dan cek
kosong.
2. Kesalahan pencatatan
Bank atau perusahaan (atau kedua-duanya) telah melakukan
kesalahan pencatatan. Sebagai contoh, bank mungkin mengurangi
saldo rekening seorang pemegang giro untuk cek yang ditarik oleh
pemegang giro yang lain. Sementara itu, pemegang giro mungkin
salah mencatat jumlah rupiah cek yang telah diatariknya. Apabila
salah satu pihak atau kedua-duanya melakukan kesalahan
pencatatan, maka dapat dipastikan bahwa saldo menurut
perusahaan tidak akian sama dengan saldo yang tercantum dalam
5
Pengantar Akuntansi 2
laporan bank. Untuk menyamakan saldo tersebut harus dibuat
laporan rekonsiliasi bank, setelah laporan rekonsiliasi bank selesai
dilanjutkan dengan membuat jurnal penyesuaian dan posting
jurnal ke buku besar, sehingga pada buku besar bank yang ada
diperusahaan menunjukkan saldo yang sudah sesuai dengan saldo
simpanan di bank yang nampak pada laporan rekening koran.
Adapun tahap-tahap dalam menyusun laporan rekonsiliasi bank
adalah:
1. Tentukan saldo akhir menurut catatan perusahaan/giran dan
saldo akhir menurut catatan bank/rekening koran bank. Saldo
ini sudah tentu menunjukkan angka yang tidak sama.
2. Tambahkan atau kurangkan pada saldo per bank, hal-hal yang
tercantum dalam pembukuan perusahaan tetapi tidak
tercantum dalam laporan bank.
a. Tambahkan setoran dalam perjalanan/deposi intransit pada
saldo per bank. Setoran dalam perjalanan dapat diketahui
dengan cara membandingkan antara setoran-setoran yang
tercantum dalam laporan bank dengan daftar penerimaan
kas yang terdapat dalam pembukuan perusahaan. Setoran
dalam perjalanan adalah setoran yang tercantum dalam
pembukuan perusahaan, tetapi tidak tercantum sebagai
setoran dalam laporan bank pada bulan yang bersangkutan.
Apabila pada bulan yang lalu terdapat setoran dalam
perjalanan, maka setoran tersebut akan nampak dalam
laporan bank bulan ini. Jika tidak, berarti setoran tersebut
telah hilang.
b. Kurangkan cek dalam perjalanan/out standing cek dari saldo
per bank. Cek dalam perjalanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan antara cek-cek yang diuangkan di bank
seperti tercantum dalam laporan bank dengan cek-cek yang
dikeluarkan perusahaan seperti tercantum dalam jurnal
pengeluaran kas. Cek dalam perjalanan adalah cek yang
telah dikeluarkan perusahaan tetapi tidak nampak dalam
laporan bank, karena penerima cek belum mencairkan cek
tersebut ke bank. Pembandingan ini juga merupakan
6
Pengantar Akuntansi 2
3.
4.
5.
6.
pengujian bahwa semua cek yang telah dibayar oleh bank
adalah merupakan cek perusahaan yang sah dan telah
dicatat dengan benar, baik oleh bank maupun oleh
perusahaan. Cek dalam perjalanan sangat umum terjadi,
sehigga merupakan hal yang paling sering tercantum dalam
suatu laporan bank.
Tambahkan atau kurangkan saldo perbuku, hal-hal yang
tercantum dalam laporan bank, tetapi tidak tercatat dalam
pembukuan perusahaan:
a. Tambahkan saldo pada saldo per buku (a) penerimaanpenerimaan kas langsung melalui bank dan (2) pendapatan
bunga atas saldo giro di bank. Kedua hal tersebut akan dapat
diketahui dengan cara membandingkan antara setoransetoran yang tercantum dalam laporan bank dengan
penerimaan yang terdapat dalam pembukuan perusahaan.
Kadang-kadang perusahaan belum mencatat kedua hal
tersebut, sedangkan bank sudah mencatatnya.
b. Kurangkan dari saldo per buku (a) biaya administrasi bank,
(b) biaya pencetakan cek, dan (c) pengurangan yang telah
dilakukan oleh bank lainnya (misalnya pengurangan karena
adanya pengembalian cek kosong atau cek yang telah lewat
waktu). Hal-hal tersebut akan dapat diketahui dengan cara
membandingkan pengurangan-pengurangan yang terdapat
dalam laporan bank dengan catatan perusahaan dalam
jurnal pengeluaran kas. Kadang-kadang hal di atas belum
dicatat perusahaan sedangkan bank sudah mencatatnya.
Hitunglah saldo per bank dan saldo per buku/perusahaan yang
telah disesuaikan. Kedua saldo tersebut harus sama.
Buatlah jurnal penyesuaian dengan menyesuaian hal-hal
penyebab perbedaan saldo yang terdapat pada bagian saldo
menurut perusahaan.
Perbaiki semua kesalahan yang terdapat dalam pembukuan
perusahaan, dan sampaikan pemberitahuan ke bank jika bank
telah melakukan kesalahan.
Contoh Laporan Rekonsiliasi Bank
7
Pengantar Akuntansi 2
Pada tanggal 1 Oktober 2014, PT. WGAH membuka rekening
giro di Bank BNI dengan setoran mula-mula Rp 40.000.000.
Saldo menurut PT. WGAH pada akhir Oktober menunjukkan
angka Rp 5.051.000 sedangkan menurut BNI saldonya Rp
5.278.000. Setelah dilakukan prosedur rekonsiliasi, diketahui
bahwa perbedaan saldo di atas disebabkan oleh hal-hal berikut:
1. Setoran dalam perjalanan Rp 860.000
2. Cek yang masih beredar Rp 820.000
3. Jasa giro yang diberikan bank Rp 8.000 dan biaya bank Rp
10.000
4. Cek sebesar Rp 211.000 yang diterima perusahaan dari PT.
Karuna ternyata dananya tidak mencukupi.
5. Bank berhasill menagihkan wesel nominal Rp 500.000.
Terhadap jumlah ini dibebankan biaya tagih Rp 20.000
Berdasarkan informasi diatas diminta buatlah:
1. Laporan rekonsiliasi bank
2. Jurnal penyesuaian
3. Buku besar bank BNI pada pencatatan PT WGAH
8
Pengantar Akuntansi 2
1.
Laporan Rekonsiliasi Bank
PT WGAH
LAPORAN REKONSILIASI BANK
PER 31 OKTOBER
Saldo menurut PT WGAH
5.051.000
Ditambah
Penagihan wesel
Jasa giro
480.000
Setoran dalam perjalanan 860.000+
8.000+
488.000+
Jumlah
5.539.000 Jumlah
Dikurangi:
Biaya bank
5.278.000
Ditambah
Jumlah penambah
Cek kosong
Saldo menurut BNI
6.138.000
Dikurangi:
211.000
Cek beredar
820.000-
10.000 –
Jumlah pengurang
221.000 -
Saldo perusahaan yang benar 5.318.000 Saldo bank yang benar
========
5.318.000
========
2. Ayat jurnal penyesuaian
Menurut laporan rekonsiliasi bank di atas, saldo kas yang benar adalah Rp.
5.318.000. Prosedur rekonsiliasi bukanlah prosedur untuk membetulkan
rekening bank dan rekening lainnya di buku besar. Oleh karena itusaldo
rekening-rekening setelah rekonsiliasi tersebut masih tetap menunjukkan
saldo-saldo semula. Untuk membetulkan saldo-saldo buku perusahaan kita
harus membuat jurnal penyesuaian dan mempostingnya ke rekening-rekening
yang bersangkutan. Adapun data untuk membuat jurnal penyesuaian adalah
9
Pengantar Akuntansi 2
laporan rekonsiliasi bank khususnya penyesuaian di bagian saldo menurut
perusahaan. Jurnal-jurnal penyesuaian yang dibuat yaitu:
Tanggal
Keterangan
Debet
31 Okt 2014
Bank BNI
480.000
Biaya Bank
Kredit
20.000
Piutang wesel
500.000
(mencatat penerimaan piutang wesel
dikurangi biaya tagih)
31 Okt 2014
Bank BNI
8.000
8.000
Pendapatan jasa giro
(mencatat penerimaan jasa giro)
31 Okt 2014
Piutang PT Karuna
211.000
211.000
Bank BNI
(mencatat penerimaan piutang dari PT
Karuna ternyata cek dari PT Karuna
kosong)
31 Okt 2014
Biaya bank
10.000
Bank BNI
Jumlah
Pengantar Akuntansi 2
10.000
729.000
729.000
10
10
c. Buku Besar Bank BNI di PT WGAH
Tanggal
Keterangan
Debet
Kredit
31 Okt 2014 Saldo sebelum rekonsiliasi
31 Okt 2014 Penerimaan piutang wesel
31 Okt 2014 Pendapatan jasa giro
31 Okt 2014 Cek Kosong PT Karuna
31 Okt 2014 Biaya bank
Saldo
5.051.000
480.000
5.531.000
8.000
5.539.000
211.000
5.328.000
10.000
5.318.000
F. Bank Overdraft
Bank overdraft terjadi ketika pemilik rekening giro/giran mengeluarkan
cek atau bilyet giro melebihi saldo rekeningnya di bank. Saldo overdraft
pada salah satu rekening di bank disajikan sebagai utang lancar di neraca.
G. Kas Kecil
Salah satu cara pengendalian internal kas adalah segera menyetorkan ke
bank semua penerimaan dan jika terjadi pengeluaran kas sebaiknya
menggunakan cek/bilye giro. Namun untuk pengeluaran yang jumlahnya
relatif kecil misalnya untuk membeli perangko, vas bunga, alas meja,
biaya sosial dan biaya lainnya (yang jumlahnya relatif kecil) penggunaan
cek tidak efektif.
Alasan perlu dibentuknya sebuah dana kas kecil adalah bahwa
pembayaran-pembayaran yang jumlahnya relatif kecil ini, yang sering
terjadi, mungkin pada akhirnya juga dapat menjadi suatu jumlah tertentu
yang cukup signifikan jika ditotal. Oleh sebab itu agar pengeluaranpengeluaran ini juga tetap dimonitor dengan baik maka pengendalian
internal mutlak diperlukan, caranya adalah dengan membentuk sistem
dana kas kecil.
Untuk membentuk suatu kas kecil, perusahaan harus menaksir jumlah
kas yang diperlukan untuk suatu jangka waktu tertentu, misalnya
keperluan seminggu atau sebulan. Berikutnya perusahaan mengeluarkan
Pengantar Akuntansi 2
11
11
cek dan menguangkannya ke bank untuk mengisi dana kas kecil tersebut.
Atas pengeluaran cek ini dibuat jurnal sebagai berikut:
Kas kecil
xxx
Bank
xxx
Dana kas kecil dikelola oleh seorang petugas yang disebut pemegang kas
kecil. Pemegang kas kecil inilah yang bertanggungjawab atas
penyimpanan dan pemakaian kas kecil. Setiap pemakaian kas kecil akan
mengurangi jumlah kas kecil dan menambah jumlah bukti pengeluaran
kas dalam peti kas. Apabila kas kecil hampir habis, maka harus segera diisi
kembali. Untuk melakukan pengisian kembali pemegang kas kecil harus
menunjukkan bukti-bukti pemakaian kas kecil dan menukarkannya ke
kasir perusahaan. Kasir akan membubuhkan cap “Telah Dibayar” pada
setiap lembar bukti pemakaian kas kecil. Selanjutnya kasir mengeluarkan
cek dan menyerahkannya kepada pemegang kas kecil untuk segera
diuangkan. Setelah cek diuangkan maka jumlah saldo kas kecil kembali
seperti semula.
Pada saat terjadi pemakaian kas kecil, perusahaan belum mencatat
transaksi tersebut, tetapi pemegang kas kecil menyimpan bukti
pengeluarannya. Jika kas kecil diisi kembali dan kasir mengeluarkan cek
untuk mengisinya, maka pada saat itu dibuat jurnal dengan mendebet
rekening biaya-biaya dan mengkredit rekening Bank. Pengoperasian kas
kecil seperti diuraikan di atas disebut dengan imprest system/sistem dana
tetap. Terdapat empat kegiatan pada manajemen kas kecil dengan sistem
dana tetap yaitu:
1. Pembentukan kas kecil
Kasir PT WGAH menyerahkan cek senilai Rp. 500.000 kepada
pemegang dana kas kecil. Dana tersebut diperkirakan untuk
membiayai pengeluaran dalam jumlah kecil selama dua minggu.
Transaksi tersebut dijurnal
Dana Kas Kecil
Rp 500.000
Bank
Rp 500.000
2. Menggunakan dana kas kecil
Sampai dengan minggu kedua dana kas kecil yang terpakai sejulah Rp
240.000, untuk pemakaian dana kas kecil tidak terdapat penjurnalan,
Pengantar Akuntansi 2
12
12
melainkan hanya pencatatan memorial yang dibuat oleh pemegang kas
kecil dan mengumpulkan bukti pemakaian kas kecil.
3. Mengisi kembali dana kas kecil
Pada awal minggu ketiga ketika dilakukan pengisian dana kas kecil,
pemegang kas kecil akan menyerahkan bukti pemakaian kas kecil
kepada kasir dan menyerahkan dana sebesar Rp 240.000. Pengisian
kembali kas kecil tersebut di buatkan jurnal sebagai berikut:
Biaya-biaya
Rp 240.000
Kas/bank
Rp 2400.000
Dengan dilakukan pengisian kembali jumlah saldo kas kecil tetap
sejumlah Rp 500.000, selain itu, penjurnalan atas pengisian kembali
dimaksudkan untuk mengakui biaya-biaya yang terjadi dan
menyajikannya pada laporan laba/rugi dan menunjukkan jumlah kas
kecil yang akan dilaporkan di Neraca.
4. Penyesuaian
Dalam hal tidak dilakukan pengisian kembali kas kecil pada akhir
periode, maka perlu dibuat jurnal penyesuaian. Jurnal penyesuaian ini
untuk mengakui biaya sejak pengisian sebelumnya sampai akhir
periode. Misalnya pada contoh diatas tidak dilakukan pengisian kas
kecil sampai dengan akhir periode, maka jurnal yang dibuat adalah:
Biaya-biaya
Rp 240.000
Kas Kecil
Rp 240.000
Dengan jurnal penyesuaian ini maka jumlah kas kecil yang dilaporkan
di Neraca adalah sebesar Rp 260.000 (Rp 500.000- Rp 240.000).
Pada hari kerja pertama periode berikutnya jurnal penyesuaian di ata
dibuatkan jurnal pembali sebagai berikut:
Kas Kecil
Rp 240.000
Biaya-biaya
Rp 240.000
H Selisih Kas
Yang dimaksud dengan selisih kas adalah perbedaan fisik uang dengan
bukti pendukung. Hal ini terjadi karena sulitnya mencari uang receh.
Jika selisih kas menguntungkan dimana fisik uang lebih banyak dari
bukti pendukung maka akan diakui sebagai pendapat di luar usaha,
sedangkan sebaliknya jika fisik bukti pendukung lebih banyak dari fisik
Pengantar Akuntansi 2
13
13
uang maka akan diakui sebagai biaya di luar usaha dan rekening
lawannya adalah kas kecil. Apabila jumlah selisih kas material, hal ini
mungkin disebabkan oleh hal lain diluar kesulitan mencari uang receh.
Kondisi tersebut harus disampaikan kepada manajemen dan dicari
penyebabnya agar bisa dilakukan tindakan korektif dan preventif.
I Penyajian Kas di Neraca
Penyajian aktiva lancar dalam neraca disusun berdasarkan tingkat
likuditasnya. Kas lebih lancar dibandingkan piutang, piutang lebih
lancar dibandingkan dengan persediaan dan seterusnya. Jadi kas
merupakan aktiva lancar yang paling lancar.
Karena kas merupakan aktiva yang paling lancar yang dimiliki
perusahaan, maka kas disajikan pertama/paling atas. Kas terdiri dari
kas di bank, kas diperusahaan dan kas kecil. Sedangkan setara kas
adalah investasi yang sangat likuid yang dapat dikonversi menjadi uang
kas dalam jangka waktu yang sangat segera biasanya kurang dari 3
bulan (90 hari). Investasi ini pada awalnya sengaja dilakukan
perusahaan dengan maksud untuk mendapatkan pendapatan dari
uangnya kas yang menganggur. Contoh dari setara kas ini adalah
sertifikat deposito yang diterbitkan bank, surat berharga yang
diterbitkan oleh perusahaan yang memiliki peringkat kredit yang baik
(commercial paper), obligasi atau surat utang yang diterbitkan
perusahaan, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah/negara.
Rangkuman
1. Pengendalian intern terhadap kas penting dilakukan karena kas
merupakan aktiva lancar yang paling mudah diselewengkan,
hal tersebut karena kas memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.Bentuknya kecil, mudah dipindahtangankan dan bobotnya
ringan
b. Tidak ada identitas siapa pemiliknya
2. Pengendalian intern terhadap kas, dilakukan terhadap
penerimaan dan pengeluaran kas.
3. Pembuatan catatan ganda kas di perusahaan dan di bank
merupakan salah satu cara pengendalian intern terhadap kas.
Pengantar Akuntansi 2
14
14
4. Jika perusahaan memiliki rekening giro di bank, maka pada
setiap akhir periode perusahaan akan menerima laporan bank
atau laporan rekening koran. Saldo catatan kas akhir periode di
bank menurut versi rekening koran dengan saldo catatan kas di
perusahaan
tidak pernah sama, dan untuk menyesuaikan
catatan tersebut dibuat laporan rekonsiliasi bank.
5. Terdapat dua penyebab perbedaan saldo kas di bank dengan
saldo kas menurut catatan bank yakni: (1) beda waktu
pencattan dan (2)kesalahan pencatatan.
6. Bank overdraft terjadi ketika pemilik rekening giro/giran
mengeluarkan cek atau bilyet giro melebihi saldo rekeningnya
di bank.
7. Terdapat dua cara untuk menyelenggarakan kas kecil yakni
sistem dana tetap (imprest sistem) dan sistem berubah-ubah
(fluktuatif sistem). Untuk tujuan pengendalian intern terhadap
kas, metode dana tetap lebih baik digunakan.
8. Yang dimaksud dengan selisih kas adalah perbedaan fisik uang
dengan bukti pendukung.
9. Di Neraca kas disajikan pada urutan pertama karena kas
merupakan aktiva lancar yang paling lancar.
Bahan diskusi
1. Bagaimana pengendalian internal atas penerimaan kas
dilakukan?
2. Bagaimana cara pengendalian internal atas pembayaran kas
yang menggunakan cek?
3. Bagaimana kas disajikan di neraca?
4. Apa yang dimaksud dengan laporan rekonsiliasi bank dan apa
tujuan dibuat laporan rekonsiliasi bank?
5. Mengapa selisih kas dicatat ke dalam rekening
pendpatan/biaya
non
operasional?
Pengantar Akuntansi 2
15
15
Latihan soal
1. Pada waktu memeriksa kas PT WGAH anda menemukan kas
kecil Rp 2500 (Imprest system). Perusahaan mengadakan
pengisian kembali tanggal 15 Januari (sekarang 31
Desember). Dari jumlah kas kecil tersebut menurut
perusahaan Rp 1.850 dikeluarkan sebagai biaya, sedangkan
menurut pemeriksaan hanya Rp 1.250 dikeluarkan sebagai
biaya. Dan pengeluaran lainnya tidak ada buktinya.
Diminta buatlah jurnal-jurnal yang diperlukan untuk
mencatat transaksi yang berhubungan kas kecil di PT WGAH
2. Sebutkan termasuk kelompok kas atau non kas kah, itemitem berikut:
a. NSF checks
b. Saving account
c. Postage stamp
d. Postdated checks
e. US $ 100
f. Cash on hand
g. Cash on sinking fund
h. Travel advanced
i. Bank overdraft
j. Traveller’s checks
3. PT Bintang menyetor kasnya ke bank mandiri setiap hari
dalam rekening gironya. Setiap pengeluaran yang jumlahnya
relatif besar (diluar penggunaan kas kecil) selalu
menggunakan cek. Berikut ini informasi yang berguna untuk
menyusun laporan rekonsiliasi bank.
a. Saldo kas di bank mandiri per buku PT Bintang pada awal
Desember adalah Rp 432.000.000
b. Penerimaan kas selama bulan Desember Rp
1.000.000.000
c. Pengeluaran kas selama bulan Desember Rp
532.000.000
d. Deposit intransit bulan Desember Rp 250.000.000
e. Out standing check bulan Desember Rp 235.600.000
Pengantar Akuntansi 2
16
16
f. Memo debet dari bank untuk biaya bulan Desember Rp
23.400.000
g. Memo kredit dari bank untuk jasa giro Rp 3.200.000
h. Cek PT Lintang sebagai setoan ke PT Bintang langsung
disetor ke bank Mandiri sebesar Rp 67.800.000
i. Setoran UD. Bintang sbesar Rp 137.600.000 oleh bank
mandiri dicatat sebagai setoran PT Bintang.
j. Cek CV Sintang dicatat sebagai cek PT Bintang oleh bank
Mandiri sebesar Rp 117.500.000
k. Cek sebesar Rp 96.000.000 oleh kasir PT Bintang dicatat
sebesar Rp 69.000.000 cek ini untuk membayar utang
dagang ke PT Gemilang
l. Menurut rekening giro saldo PT Bintang di bank Mandiri
per 31 Desember Rp 926.300.000
Diminta buatlah:
a. Laporan rekonsiliasi bank per 31 Desember
b. Buatlah jurnal penyesuaian
4. Pada tanggal 2 Januari 2015 anda menemukan bukti-bukti
kas kecil sebagai berikut:
Uang kertas dan koin
Rp 15.160
Kas bon pegawai
Rp 45.000
Amplop berisi tiket sepak bola
yang ditonton oleh staf
Rp 30.000
Voucher untuk servis printer
Rp 40.000
Materai
Rp 18.000
Voucher untuk telepon
Rp 65.000
Cek mundur untuk tanggal 15 Jan 2015
Rp 5.000.000
NSF Cheks
Rp 7.000.000
Pegawai menukar cek
Rp 9.900.000
Jumlah seluruh kas dan bukti
Rp 400.400
Jumlah kas kecil pada buku kas kecil
Rp 400.000
Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mengakui biaya dan
melakukan koreksi atas selisih kas
Pengantar Akuntansi 2
17
17
Tgl
1
5
7
10
20
24
25
27
28
28
28
5. PT Gargita membuka rekening giro di Mega pada tanggal 1
Februari 2015. Berikut ini informasi yang berkaitan dengan
giro tersebut. Laporan bank untuk bulan Februari sebagai
berikut:
Bank Mega
Jl. Tibung Sari Nomor1
Dalung Badung
Laporan Giro Nomor 721020
Atas nama PT Gargita
Untuk Bulan Februari 2015 (dlm Rp)
Keterangan
Debet
Kredit
Saldo
Setoran awal
100.000.000 100.000.000
Setoran
75.000.000 175.000.000
Cek No 0010
40.000.000
135.000.000
Cek No 0011
53.000.000
82.000.000
Setoran
100.000.000 182.000.000
Cek No 0014
25.000.000
157.000.000
Cek No 0013
30.000.000
127.000.000
Setoran
140.000.000* 267.000.000
Cek No 0016
70.000.000
197.000.000
Biaya bank
12.000.000
185.000.000
Jasa giro
15.000.000 200.000.000
*Jumlah ini adalah setoran CV. Gargita yang keliru
dicatat oleh Bank sebagai setoran PT. Gargita.
Pengantar Akuntansi 2
18
18
Menurut catatan PT Gargita saldo di Bank Mega per 28 Februari
adalah Rp 75.000.000 dengan rician sebagai berikut:
Setoran awal
Rp. 100.000.000
Ditambah: Setoran tambahan
Setoran tanggal 4
Rp 75.000.000
Setoran tanggal 19 Rp 100.000.000
Setoran tanggal 28 Rp 50.000.000 +
Jumlah setoran
Rp 225.000.000+
Saldo sebelum penarikan
Rp 325.000.000
Dikurangi: penarikan cek-cek
Cek Nomer 0010
Rp 40.000.000
Cek Nomer 0011
Rp 35.000.000
Cek Nomer 0013
Rp 30.000.000
Cek Nomer 0014
Rp 25.000.000
Cek Nomer 0015
Rp 40.000.000
Cek Nomer 0016
Rp 70.000.000
Cek Nomer 0017
Rp 10.000.000+
Jumlah penarikan
Saldo kas di Bank per 28 Februari
Rp 250.000.000 –
Rp 75.000.000
Diminta buatlah: Laporan rekonsiliasi bank dan jurnal penyesuaian
Catatan:
1. Jika terdapat perbedaan angka untuk setoran atau cek antara
catatan perusahaan dengan bank maka anggaplah kesalahan
dilakukan oleh perusahaan.
2. Cek no 0012 dibatalkan
Pengantar Akuntansi 2
19
19
BAB II
AKUNTANSI
INVESTASI PADA SURAT BERHARGA
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan memahami:
A. Tujuan Investasi Surat Berharga
B. Pencatatan Investasi Surat Berharga Saham
C. Pencatatan Investasi Surat Berharga Obligasi
D. Penilaian Surat Berharga
E. Penyajian Surat Berharga
F. Penjualan Kembali Surat Berharga Yang Sudah Dicadangkan Penurunan
Nilainya
Jika perusahaan memiliki kas yang menganggur dalam jumlah material,
maka biasanya kas tersebut digunakan untuk berinvestasi dalam surat
berharga jangka pendek. Investasi tersebut biasanya berupa pembelian surat
berharga saham dan obligasi dengan jangka waktu kurang dari tiga bulan.
Suatu investasi dalam surat berharga dikatakan sebagai investasi jangka
pendek jika memiliki ciri-ciri:
1. Jangka waktu penanamannya kurang dari tiga bulan (90 hari)
2. Mampu menghasilkan laba (Profitable)
3. Mempunyai harga pasar yang relatif stabil
4. Dapat dijual setiap saat (marketable)
A. Tujuan Investasi Surat Berharga
Tujuan utama dilakukannya investasi surat berharga jangka pendek
adalah untuk mengoptimalkan pengelolaan kas. Jika diuraikan secara
rinci tujuan perusahaan melakukan investasi dalam surat berharga
adalah:
1. Untuk memperoleh pendapatan bunga dari investasi obligasi atau
dividen dari investasi saham (termasuk keuntungan dari selisih harga
jangka pendek); banyak perusahaan yang tidak puas dengan tingkat
Pengantar Akuntansi 2
20
20
2.
3.
4.
5.
suku bunga yang rendah yang ditawarkan oleh deposito bank
sehingga perusahaan
lebih memilih atau beralih ke alternatif
investasi lain (investasi obligasi dan saham) dengan menerima tingkat
risiko yang lebih tinggi pula. Jika investor melakukan investasi dalam
saham perusahaan akan mendapatkan dividen dan atau keuntungan
dari selisih harga jangka pendek
(capital gain) bukan untuk
mempengaruhi atau mengendalikan perusahaan investee. Jika
investor berinvestasi dalam obligasi maka akan diperoleh
bunga/kupon.
Sebagai antisipasi atau untuk menjamin bahwa perusahaan tetap
dapat melanjutkan kegiatan operasionalnya meskipun dalam kondisi
yang sulit (resei ekonomi); nanti pada saat keadaan perekonomian
kurang menguntungkan, investasi ini akan segera dicairkan. Jadi,
investasi dilakukan untuk memberikan perusahaan ketersediaan
sumber dana yang dapat ditarik kembali pada saat diperlukan.
Memanfaatkan kelebihan kas yang tidak terpakai dalam kegiatan
operasional perusahaan sebagai hasil dari puncak penjualan
musiman; kelebihan kas yang terjadi selama penjualan musiman akan
lebih menguntungkan bagi perusahaan apabila diinvestasikan dalam
bentuk sekuritas (obligasi dan saham) dibanding disimpan di bank.
Nanti, begitu saat penjualan musiman tiba kembali maka investasi ini
akan dicairkan dan dananya akan dipakai untuk membeli persediaan
barang dagangan.
Untuk menjamin tersedianya bahan mentah, mempengaruhi dewan
komisaris, atau untuk mendiversifikasi produk yang ditawarkan;
sebagai contoh adalah perusahaan pembuat helm yang menyerahkan
pekerjaan pengecatannya kepada sebuah perusahaan khusus,
sehingga untuk menjamin kesinambungan dari kontrak pekerjaan
pengecatan ini maka perusahaan pembuat helm tersebut mungkin
akan membeli 20% hingga 50% kepemilikan saham di perusahaan
pengecatan tersebut. Dalam hal ini berarti bahwa alasan perusahaan
melakukan investasi dalam saham adalah untuk mempengaruhi
perusahaan investee.
Untuk mengendalikan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari
perusahaan lain; dalam hal ini perusahaan induk menguasai lebih dari
Pengantar Akuntansi 2
21
21
50% kepemilikan saham di perusahaan anak, di mana perusahaan
induk melalui investasinya tersebut bermaksud bukan lagi hanya
sekedar untuk memperoleh dividen ataupun mempengaruhi
perusahaan anak melainkan lebih dari itu, yaitu ingin mengendalikan
seluruh aktivitas di perusahaan anak.
B. Pencatatan Surat Berharga Saham
Pembelian surat berharga (saham dan obligasi) di debet sebesar harga
perolehannya. Harga perolehan merupakan harga faktur ditambah
dengan biaya pembelian meliputi komisi, pajak dan materai.
1. Pembelian surat berharga saham
Pembelian surat berharga saham dicatat dengan mendebet surat
berharga saham sebesar harga perolehannya. Cara penentuan harga
perolehan adalah dengan mengalikan jumlah lembar saham yang
dibeli dengan harga perlembar dikalikan kurs kemudian hasilnya
ditambah dengan biaya pembelian misalnya biaya komisi dan
materai.
Contoh Pada tanggal 27 September PT Unilever membeli 2.000
lembar saham PT Gudang Garam dengan harga Rp 11.000 per
lembar. Kurs beli saat itu 105% dan biaya pembelian Rp 2.500.000.
Jurnal yang dibuat oleh PT Unilever untuk mencatat transaksi
pembelian saham tersebut adalah
Surat berharga – Saham
Rp 25.600.000
Kas
Rp 25.600.000
Perhitungan
2.000 lembar x Rp 11.000 x 105%
Biaya pembelian
Harga perolehan 2.000 lembar saham
= 23.100.000
= 2.500.000
= 25.600.000
2. Penerimaan dividen kas
Yang dimaksud dengan dividen kas adalah dividen dalam bentuk uang
tunai yang diterima oleh perusahaan yang berinvestasi dalam surat
berharga saham. Selain dividen kas masih ada dividen lainnya yakni
Pengantar Akuntansi 2
22
22
property dividen yakni dividen dalam bentuk aktiva selain kas. Selain
itu ada juga dividen yang diterima dalam bentuk saham.
Dengan menggunakan contoh soal di atas, jika PT. Gudang Garam
membagikan dividen kepada pemegang saham dengan dividen per
lembar adalah Rp 5.000 maka jurnal penerimaan kas yang dibuat oleh
PT Unilever adalah:
Kas
Rp 10.000.000
Pendapatan dividen
Rp 10.000.000
3. Penjualan kembali
Jika obligasi yang telah dibeli kemudian dijual kembali, maka
pencatatannya dilakukan dengan mengkredit rekening surat berharga
sebesar harga perolehan yang dijual. Selisih harga jual
bersih/penerimaan kas bersih dan harga perolehan merupakan
keuntungan atau kerugian.
Misalnya, surat berharga saham PT Gudang Garam yang dibeli pada
tanggal 27 September dijual sebanyak 1.500 lembar pada tanggal 30
November dengan harga jual bersih perlembar Rp 13.500. Jurnal
untuk mencatat penjualan ini adalah:
Perhitungan (dalam Rp):
Harga jual bersih 1.500 lembar x Rp 13.500
Harga perolehan 1.500 lbr (1.500/2.000X25.600.000
Laba penjualan 500 lembar saham
=20.250.000
=19.200.0001.050.000
Jurnal: 30 November
Kas
20.250.000
Surat berharga saham PT G G 19.200.000
Laba penjualan
1.050.000
Laba rugi yang timbul dari penjualan surat berharga dalam laporan
L/R dikelompokkan dalam laba atau rugi di luar usaha.
Pengantar Akuntansi 2
23
23
C. Pencatatan Surat Berharga Obligasi
1. Pembelian surat berharga obligasi
Pembelian obligasi dicatat dengan mendebet rekening surat berharga
obligasi sebesar harga perolehan. Harga perolehan diperoleh dengan
cara mengalikan kurs dengan jumlah lembar dikalikan harga
perlembar kemudian hasilnya ditambahkan dengan biaya pembelian.
Contoh soal
PT Makmur pada tanggal 1 April 2013 membeli 25.000 lembar
obligasi PT Sejahtera dengan nilai nominal Rp 15.000 per lembar.
Kurs obligasi 105%. Biaya pembelian Rp 6.500.000. Bunga obligasi
14% dibayar tiap 31 Maret dan 30 September. Pembelian obligasi ini
dicatat sebagai berikut:
Perhitungan(dalam Rp):
Kurs 105% x 25.000 x Rp 15.000
Biaya pembelian
Harga perolehan
= 393.750.000
= 6.500.000+
= 400.250.000
Jurnal
Surat Berharga Obligasi PT Sejahtera
Kas
400.250.000
400.250.000
2. Penerimaan bunga
Penerimaan bunga atas pembelian obligasi dicatat dengan
mengkredit rekening pendapatan bunga. Jumlah pendapatan bunga
dihitung dengan cara mengalikan periode bulan, sejak tanggal
pembelian sampai dengan tanggal pembayaran bunga kemudian
dibagi 12 (jika persentase bunga tahunan), dikalikan dengan jumlah
lembar dikalikan harga perlembar dikalikan dengan persentase
bunga. Pada tanggal 30 September PT Makmur akan memperoleh
pendapatan bunga atas pembelian obligasi PT Sejahtera.
Jumlah pendapatan bunga yang diterima PT Makmur pada tanggal 30
September dihitung sebagai berikut:
6/12 x 25.000 x Rp 15.000 x 14%
=Rp 26.250.000
Pengantar Akuntansi 2
24
24
Jurnal pada tanggal 30 September
Kas
Rp 26.250.000
Pendapatan bunga
Rp 26.250.000
3. Penjualan kembali
Jika obligasi tersebut dijual kembali, maka jurnal yang dibuat untuk
mencatat penjualan kembali obligasi tersebut adalahdengan
mengkredit rekening surat berharga obligasi sebesar harga perolehan
yang terjual. Selisih antara harga jual bersih dengan harga perolehan
dicatat dalam rekening laba atau rugi di luar usaha. Misalnya pada
tanggal 2 Oktober 2014 seluruh obligasi terjual dengan harga jual
bersih Rp 415.000.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 2 Oktober adalah
Kas
Rp 415.000.000
Surat Berharga-Obligasi PT Sejahtera
Rp 400.250.000
Laba penjualan surat berharga
Rp 14.750.000
4. Transaksi jual beli obligasi tidak pada tanggal bunga
Penjualan maupun pembelian obligasi yang dilakukan pada tanggal
yang tidak sama dengan tanggal bunga menimbulkan istilah bunga
berjalan. Bunga berjalan adalah bunga yang timbul jika tanggal
penjualan atau pembelian obligasi tidak bersamaan dengan tanggal
pembayaran bunga. Lamanya bunga berjalan adalah tanggal bunga
terakhir sebelum tanggal transaksi penjualan atau pembelian sampai
dengan tanggal transaksi penjualan atau pembelian tersebut.
a. Pembelian
Misalnya, pada tanggal 1 April PT Gemilang membeli 5.000 lembar
obligasi PT Senandung, dengan nominal Rp 10.000 per lembar.
Kurs obligasi 110%. Biaya pembelian Rp 2.500.000. Bunga obligasi
14% dibayar tiap 1 Mei dan 1 November. Perhitungan harga
perolehan investasi dan jumlah
kas yang dibayar oleh PT
Gemilang adalah sebagai berikut:
Perhitungan harga perolehan 5.000 lembar obligasi PT Senandung:
Pengantar Akuntansi 2
25
25
Kurs 110% x 5.000 lbr X Rp 10.000
= 55.000.000
Biaya pembelian
= 2.500.000 +
Harga perolehan
= 57.500.000
Bunga berjalan 5 bulan (1 Nov-1 Apr)
5/12x14%x5.000xRp 10.000
= 2.917.000 +
Kas yang dikeluarkan PT Gemilang
= 60.417.000
Bunga berjalan yang dibayar tidak boleh diperlakukan sebagai
penambah harga perolehan investasi, melainkan hanya sebagai
pengurang pendapatan bunga. Terdapat dua cara mencatat bunga
berjalan yakni dengan menggunakan pendekatan laba rugi dan
pendekatan neraca.
1). Jurnal untuk mencatat pembelian obligasi pada tanggal 1 April
dan penerimaan bunga pada tanggal 1 Mei adalah sebagai
berikut:
Jurnal pembelian 1 April
Surat Berharga Obligasi PT S
Rp 57.500.000
Pendapatan bunga
Rp 2.917.000
Kas
Rp 60.417.000
Jurnal penerimaan bunga 1 Mei
Kas
Rp 3.500.000
Pendapatan bunga
Rp 3.500.000*
6/12 x 5.000 lbr x Rp 10.000 x 14%
Jika kedua jurnal diposting, maka rekening pendapatan bunga
akan bersaldo
Rp 583.000. Jumlah ini tepat dengan
perhitungan bunga selama satu bulan bagi PT Gemilang
(1/12x 5.000 lembar x Rp 10.000 x 14%)
2). Pendekatan Neraca
Jika menggunakan pendekatan neraca untuk mencatat bunga
berjalan yang timbul pada saat pembelian obligasi, maka jurnal
pembelian dan penerimaan bunga dicatat sebagai berikut:
Surat berharga obligasi PT S
Rp 57.500.000
Pengantar Akuntansi 2
26
26
Piutang bunga
Kas
Rp 2.917.000
Rp 60.417.000
Ketika menerima bunga untuk pertama kalinya yakni pada
tanggal 1 Mei, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
Kas
Rp 3.500.000
Piutang bunga
Pendapatan bunga
Rp 2.917.000
Rp 583.000
Apabila dua jurnal di atas diposting, maka rekening Piutang
Bunga bersaldo nol dan rekening Pendapatan bunga bersaldo
kredit Rp 2.917.000. Jadi, dengan pendekatan mana pun
untuk mencatat bunga berjalan, pendapatan bunga akan selalu
sama yaitu Rp 2.917.000
Penerimaan bunga pada tanggal-tanggal penerimaan bunga
berikutnya dilakukan dengan mendebet kas dan mengkredit
rekening pendapatan bunga.
b. Penjualan
Selisih antara harga perolehan dengan harga jual yang terjadi pada
saat penjualan investasi sementara obligasi diakui sebagai
kerugian atau keuntungan. Bunga berjalan tidak boleh
diperhitungkan di dalam menentukan kerugian atau keuntungan
penjualan obligasi.
Misalnya pada tanggal 1 Juli 1.000 lembar obligasi PT Senandung
dijual dengan harga jual bersih Rp 14.000.000. Jurnal yang dibuat
oleh PT Gemilang untuk mencatat penjualan surat berharga
obligasi tersebut adalah sebagai berikut:
Jurnal penjualan tanggal 1 Juli
Kas
14.233.300
Surat berharga obligasi PT S
Pendapatan bunga
Laba penjualan surat berharga
Pengantar Akuntansi 2
11.500.000
2.500.000
233.300
27
27
Perhitungan
Harga jual bersih 1.000 lembar
14.000.000
Harga perolehan 1.000 lembar:
(1.000/5.000)xRp 57.500.000
11.500.000
Laba penjualan obligasi
2.5000.00
Harga jual bersih
14.000.000
Bunga berjalan 2 bulan (1 Mei – 1 Juli)
2/12x14%x 1.000 lembarXRp 10.000
233.300+
Kas yang diterima PT Gemilang
14.233.300
c. Penyesuaian bunga berjalan di akhir periode
Masih menggunakan contoh soal PT Gemilang yang membeli surat
berharga obligasi PT Senandung, setelah pada tanggal 1 Juli surat
berharga obligasi PT Senandung dijual sebanyak 1.000, dengan
asumsi sampai dengan tanggal 31 Desember tidak terjadi lagi
transaksi penjualan surat berharga obligasi PT Senandung, maka
akan terdapat sisa 4.000 lembar surat berharga obligasi PT
Senadung yang masih di pegang oleh PT Gemilang. Pada tanggal
31 Desember, disaat PT Gemilang melakukan proses tutup buku,
namun tanggal tutup buku tidak bersamaan dengan tanggal
penerimaan bunga (karena tanggal pembayaran bunga tiap 1 Mei
dan 1 November) maka hak bunga dalam 1 bulan (1 November-31
Desember) perlu dibuatkan jurnal penyesuaian.
Besarnya bunga berjalan adalah 2/12x14%x4.000lembarxRp
10.000= Rp 933.300
Jurnal penyesuaian bunga berjalan tanggal 31 Desember
Piutang bunga
Rp 933.300
Pendapatan bunga
Rp 933.300
Pada tanggal 2 Januari periode berikutnya dibuatkan jurnal
pembalik, tujuannya adalah untuk mempermudah pencatatan
penerimaan bunga tanggal 1 Mei periode berikutnya.. Jurnal
pembalik
yang
dibuat
tanggal
2
Januari
adalah:
Pengantar Akuntansi 2
28
28
Pendapatan bunga
Piutang bunga
Rp 933.300
Rp 933.300
Jika tidak terjadi penjualan obligasi sampai dengan tanggal 1 Mei,
pendapatan bunga yang diterima tanggal 1 Mei adalah
6/12x14%x4.000 lembar x Rp 10.000 = Rp 2.800.000, jurnal yang
dibuat
Kas
Rp 2.800.000
Pendapatan bunga
Rp 2.800.000
D. Penilaian Surat Berharga
Menurut konsep biaya historis, menyatakan bahwa aktiva, utang
modal dan biaya dicatat sebesar harga perolehannya. Dengan
menggunakan konsep ini, investasi dalam surat berharga dicatat sebesar
harga perolehannya. Namun menurut PSAK No. 13 menyebutkan:
“Investasi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar harus dicatat dalam
neraca pada nilai terndah antara biaya dan nilai pasar”.
Yang dimaksud biaya dalam hal ini adalah harga perolehan dan nilai
pasar adalah jumlah yang dapat diperoleh dari penjualan suatu investasi
dalam pasar yang aktif.
Penilaian surat berharga dengan harga terendah antara harga
perolehan/cost dengan harga pasar/market disebut juga dengan metode
COMWIL (Cost Or Market Which Ever Is Lower).
Apabila harga pasar surat-surat berharga yang dimiliki ternyata lebih
rendah dari harga perolehannya dengan selisih yang material, tidak
penurunan tersebut tidak bersifat sementara, maka surat berharga yabg
dicantumkan dalam aktiva lancar dalam neraca tidak boleh melebihi
harga pasarnya. Di sini akan diakui adanya kerugian yang belum terjadi.
Jumlah kerugian yang diakui adalah sebesar selisih dari harga perolehan
dengan harga pasarnya pada tanggal neraca. Pencatatan kerugian yang
diakui dilakukan dengan mendebet rekening rugi penurunan nilai surat
berharga dan kreditnya cadangan penurunan nilai surat berharga. Rugi
penurunan nilai surat berharga termasuk dalam kelompok rugi di luar
usaha dalam laporan laba rugi, sedangkan cadangan penurunan nilai
surat berharga akan di cantumkan di dalam neraca mengurangi rekening
Pengantar Akuntansi 2
29
29
surat berharga. Apabila terjadi penjualan surat berharga yang sudah
diturunkan nilainya maka laba rugi penjualan dihitung dengan
membandingkan harga jual dengan harga perolehan yang baru (sesudah
dikurangi cadangan penurunan nilai surat berharga). Cara yang lebih
rendah antara harga perolehan atau harga pasar dapat diterapkan
kepada surat-surat berharga dengan dua cara:
1. Diterapkan kepada jumlah keseluruhan surat berharga
2. Diterapkan kepada masing-masing elemen surat berharga.
Sebagai contoh penerapan cara-cara di atas misal diketahui data
investasi surat berharga PT WGAH pada tanggal 31 Desember 2014
adalah sebagai berikut (dlm Rp):
Keterangan
Harga
Harga
COMWIL
Perolehan
pasar
masingmasing SB
10.000 lbr obligasi PT Karuna
50.000.000
45.000.000
45.000.000
10.000 lbr saham preferent PT 60.000.000
65.000.000
60.000.000
Nadia, 13%
20.000 lbr saham biasa PT Sasa
40.000.000
47.000.000
40.000.000
Jumlah
150.000.000
157.000.000
145.000.000
Jika
metode comwil diterapkan kepada keseluruhan surat
berharga, maka dibandingkan antara Rp 150.000.000 dengan Rp
157.000.000 yang lebih rendah adalah harga perolehannya, sehingga di
neraca investasi surat berharga disajikan dengan harga Rp 150.000.000
sehingga kerugian yang diakui adalah sebesar Rp 7.000.000
Jika metode comwil diterapkan kepada masing-masing elemen
surat berharga, maka nilai surat berharga di neraca disajikan dengan
harga Rp 145.000.000, sehingga kerugian yang diakui adalah sebesar Rp
5.000.000 (Rp 150.000.000-Rp 145.000.000).
Misalnya comwil diterapkan kepada keseluruhan surat berharga,
jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Desember untuk mengakui kerugian
penurunan surat berharga adalah:
Rugi penurunan surat berharga
Rp 5.000.000
Cadangan penurunan nilai surat berharga
Rp 5.000.000
Pengantar Akuntansi 2
30
30
E. Penyajian Surat Berharga
Di dalam neraca surat berharga disajikan sebagai aktiva lancar, jika
menggunakan metode comwil, surat berharga disajikan sebesar harga
perolehannya dikurangi dengan cadangan penurunan nilai surat
berharga. Masih menggunakan contoh investasi PT WGAH (comwil
secara keseluruhan) surat berharga disajikan dengan nilai Rp
150.000.000 dikurangi cadangan penurunan nilai surat berharga Rp
5.000.000 sehingga nilai bersihnya Rp 145.000.000.
F. Penjualan Kembali Surat Berharga Yang Sudah Dicadangkan Penurunan
Nilainya
Jika surat berharga yang sudah dicadangkan penurunan nilainya
kemudian dijual, maka cadangan penurunan nilai surat berharga ini akan
dihapuskan.
Misalnya tanggal 2 Januari 2015 semua surat berharga PT WGAH
dijual dengan harga jual bersih Rp 175.000.000, penjualan surat
berharga tersebut di jurnal sebagai berikut:
Kas
Rp 175.000.000
Cadangan penurunan nilai surat berharga Rp 5.000.000
SB Obligasi PT Karuna
Rp 50.000.000
SB Saham Preferm PT Nadia
Rp 60.000.000
SB Saham Biasa PT Sasa
Rp 40.000.000
Laba penjualan SB
Rp 30.000.000
Laba penjualan surat berharga sebesar Rp 30.000.000 dihitung dengan
cara sebagai berikut:
Harga jual
Rp 175.000.000
Harga perolehan
Rp 150.000.000
Cadangan penurunan
Rp 5.000.000 Nilai bersih
Rp 145.000.000Laba penjualan
Rp 30.000.000
Apabila tahun 2015 surat berharga dijual tidak sekaligus, maka akan
timbul masalah menghitung penurunan nilai untuk tiap jenis surat
berharga, terutama bila perhitungannya untuk keseluruhan jumlah surat
Pengantar Akuntansi 2
31
31
berharga. Dalam hal penurunan nilai dihitung untuk keseluruhan surat
berharga, dan penjualan surat berharga itu tidak sekaligus, maka tiap
kali terjadi penjualan surat berharga tidak dilakukan penyesuaian pada
rekening cadangan penurunan nilai. Rekening cadangan ini baru akan
disesuaikan pada akhir periode.
Misalnya tanggal 1 Februari 2015 dijual 10.000 lembar obligasi PT
Karuna dengan kurs 110 dan biaya penjualan Rp 1.500.000, perhitungan
dan jurnal penjualan obligasi PT Karuna adalah sebagai berikut:
Harga kurs (110/100)x 10.000 lbr X Rp 5.000 =
Rp 55.000.000
Biaya penjualan
Rp 1.500.000
Harga jual bersih
Rp 53.500.000
Harga perolehan
Rp 50.000.000
Laba penjualan
Rp 3.500.000
Jurnal penjualan
Kas
Rp 55.000.000
SB obligasi PT Karuna
Laba penjualan
Rp 50.000.000
Rp 3.500.000
Dengan jurnal seperti di atas, rekening cadangan penurunan nilai surat
berharga tidak berubah saldonya, yaitu masih sebesar Rp 5.000.000.
Saldo in terbawa sampai dengan tanggal 31 Desember 2015. Pada akhir
tahun 2015 dilakukan perbandingan antara harga perolehan dan harga
pasar surat berharga yang dimiliki, sehingga dapat diketahui berapa
besar penurunan nilainya. Jumlah penurunan nilai ini dibandingkan
dengan saldo rekening cadangan penurunan nilai surat berharga, dan
rekening ini disesuaikan dengan penurunan nilai tanggal 31 Desember
2015.
Misalnya tanggal 31 Desember 2015 harga perolehan surat
berharga Rp 100.000.000 sedangkan harga pasarnya Rp 88.000.000.
Penurunan nilai yang terjadi sebesar Rp 12.000.000 sedangkan saldo
cadangan penurunan yang tersedia dalah Rp 5.000.000, maka jurnal
penyesuaian yang dibuat adalah:
Rugi penurunan nila surat berharga
Rp 7.000.000
Cadangan penurunan nilai surat berharga
Rp 7.000.000
Pengantar Akuntansi 2
32
32
Rangkuman
1. Suatu investasi dalam surat berharga dikatakan sebagai investasi jangka
pendek jika memiliki ciri-ciri: (1)jangka waktu penanamannya kurang dari
tiga bulan (90 hari), (2) mampu menghasilkan laba (Profitable)
(3)mempunyai harga pasar yang relatif stabil (d)dapat dijual setiap saat
(marketable).
2. Tujuan Investasi Surat Berharga adalah:
a. Untuk memperoleh pendapatan bunga dari investasi obligasi atau
dividen dari investasi saham.
b. Sebagai antisipasi atau untuk menjamin bahwa perusahaan tetap dapat
melanjutkan kegiatan operasionalnya.
c. Memanfaatkan kelebihan kas yang tidak terpakai dalam kegiatan
operasional perusahaan sebagai hasil dari puncak penjualan musiman.
d. Untuk menjamin tersedianya bahan mentah.
e. Untuk mengendalikan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari
perusahaan lain.
3. Pencatatan pembelian investasi surat berharga dilakukan dengan mendebet
surat berharga sebesar harga perolehannya.
4. Pembelian surat berharga obligasi dimana tanggal pembelian tidak
bersamaan dengan tanggal pembayaran bunga akan menimbulkan bunga
berjalan.
5. Menurut PSAK No. 13, nvestasi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar
harus dicatat dalam neraca pada nilai terndah antara biaya dan nilai pasar.
6. Jika surat berharga yang sudah dicadangkan penurunan nilainya kemudian
dijual, maka cadangan penurunan nilai surat berharga ini akan dihapuskan.
Bahan Diskusi
1. Apa yang dimaksude dengan investasi pada sekuritas utang dan
sekuritas ekuitas?
2. Apa tujuan perusahaan melakukan investasi pada sekuritas utang dan
sekuritas ekuitas?
Pengantar Akuntansi 2
33
33
3. Bagaimana pencatatan pembelian investasi pada sekuritas utang dan
sekuritas investasi?
4. Apa yang dimaksud dengan bunga berjalan?
5. Bagaimana perlakuan bunga berjalan?
6. Bagaimana penilaian surat berharga?
7. Apa yang disebut dengan metode COMWIL?
8. Jika di kaitkan dengan prinsip akuntansi, prinsip yang manakah yang
mendasari comwil tersebut?
Latihan soal
1. PT Ganendra mempunyai kebijakan penanaman kas yang menganggur
ke dalam surat berharga sejak tahun 2011. Empat tahun sejak 2011
terdapat saldo harga pokok dan harga pasar surat berharga yang dimiliki
PT Ganendra sebagai berikut:
Akhir tahun
Harga Pokok (Rp)
Harga Pasar (Rp)
2011
10.000.000
10.500.000
2012
15.500.000
13.000.000
2013
14.000.000
11.000.000
2014
20.000.000
21.250.000
Diminta:
Buatlah jurnal untuk menyesuaikan nilai surat berharga setiap akhir tahn
selama empat tahun, jika:
a. PT Ganendra menggunakan metode market
b. PT Ganendra menggunakan metode comwil
2. PT Wiweka menanamkan kas yang sementra menganggur pada surat
berharga, sejak tahun 2012 dengan perincian sebagai berikut:
Saham PT Ena 40.000 lembar @ Rp 9.150 = Rp 36.600.000
Saham PT Wahyu 5.000 lbr @ Rp 2.600
= Rp 13.000.000
Obligasi PT Leo 3.000 lbr @Rp 10.000
= Rp 30.000.000 +
Jumlah
Rp 79.600.000
Saham PT Wahyu di jual pada akhir tahun 2014 dengan harga jual Rp
11.500.000. Harga pasar surat berharga tersebut selama tahun 2012
sampai dengan tahun 2014 (dlm Rp)adalah sebagai berikut:
Pengantar Akuntansi 2
34
34
Jenis surat berharga
2012
2013
2014
Saham PT Ena
39.000.000
31.800.000
34.500.000
Saham PT Wahyu
12.000.000
10.900.000
Obligasi PT Leo
31.000.000
31.500.000
30.100.000
Diminta:
Buatlah jurnal-jurnal yang berhubungan dengan surat berharga tersebut
selama 3 tahun pemilikan dan penyajiannya di dalam laporan Neraca
setiap akhir tahun apabila perusahaan menggunakan metode:
a. Harga pokok
b. Comwil
c. Harga pasar
3. PT Ananta selalu mencantumkan nilai surat berharga pada neraca
dengan metode comwil. Pada tanggal 31 Desember 2013 nilai surat
berharga tampak pada Neraca sebagai berikut:
Surat berharga (harga pokok)
Rp 214.500.000
Cadangan penurunan nilai SB
Rp (11.800.000)
Rp 202.700.000
Keterangan terhadap surat berharga sebagai berikut:
Jenis Surat Berharga
Lembar/nominal Harga
Harga
Pokok (Rp)
Pasar (Rp)
Saham PT Tara
40.000
102.500.000
90.000.000
Saham PT Nara
15.000
25.500.000
22.500.000
Obligasi PT Flow 12% per th
Rp 850.000
86.500.000
90.200.000
214.500.000 202.700.000
Jumlah
Pada tanggal 30 Juni 2013 saham PT Nara di jual dengan harga pasar
Rp 20.000.000. Pada tanggal 31 Desember 2014 nilai saham PT Tara Rp
2.100 per lembar dan obligasi PT Flow bernilai 96% dari nilai nominalnya.
Diminta : buat jurnal penjualan saham dan penyesuaian di akhir tahun
2014.
Pengantar Akuntansi 2
35
35
BAB III
AKUNTANSI PIUTANG
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A.
B.
C.
D.
E.
Klasifikasi Piutang
Akuntansi Piutang Dagang
Piutang Wesel
Akuntansi Piutang Wesel
Penyajian Piutang di Neraca
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan volume
penjualan adalah dengan melakukan penjualan secara kredit. Penjualan
secara kredit menimbulkan piutang.
Piutang merupakan klaim terhadap pihak lain untuk membayar sejumlah
tertentu pada periode tertentu akibat dari penyerahan barang atau jasa
pada periode sebelumnya.
A. Klasifikasi Piutang
Pada PSAK No. 9, Paragraf 07e, piutang diklasifikasikan menjadi:
1. Piutang usaha, merupakan piutang akibat penyerahan barang
atau jasa yang berasal dari kegiatan utama perusahaan.
Memiliki saldo normal disebelah debet, diperkirakan akan
dapat ditagih dalam jangka waktu relatif pendek.
2. Piutang lain-lain, piutang yang tidak berasal dari kegiatan
utama perusahaan misalnya piutang bunga, piutang dividen,
piutang pajak dan piutang karyawan.
Berdasarkan tingkat formalitasnya, piutang usaha dibedakan
menjadi piutang dagang dan piutang wesel.
Piutang dagang, timbul sebagai akibat penyerahan barang
dagangan atau penjualan barang dagangan secara kredit.
Umumnya berjangka waktu kurang dari satu tahun, sehingga di
neraca
dikelompokkan
sebagai
aktiva
lancar.
Pengantar Akuntansi 2
36
36
Piutang wesel, merupakan piutang yang disertai dengan perjanjian
tertulis, sehingga dikatakan bersifat lebih formal dibandingkan
dengan piutang dagang. Karena jangka waktunya kurang dari satu
tahun maka piutang wesel juga dikelompokkan sebagai aktiva
lancar.
B. Akuntansi Piutang Dagang
Penilaian piutang menyangkut masalah penentuan nilai piutang
yang harus disajikan di dalam laporan keuangan, yang meliputi:
1. Pengakuan piutang mula-mula
Piutang timbul pertama kali ketika penjualan dilakukan atau
pada saat penghasilan (revenue) diakui. Dengan demikian
ketepatan pengakuan penjualan akan berakibat pada
kesempatan pengakuan piutang mula-mula. Ada tiga cara
melakukan pengakuan penjualan yang berpengaruh terhadap
pengakuan jumlah piutang mula-mula yaitu:
a. Metode kotor
Mengakui jumlah piutang sebesar penjualan tanpa
dipengaruhi oleh potongan yang akan diberikan. Apabila
ternyata debitur mengambil potongan, maka akan diakui
sebagai pengurang jumlah penjualan, bukan sebagai
pengurang jumlah piutang.
b. Metode bersih
Mengakui jumlah piutang setelah dikurangi potongan
penjualan. Apabila ternyata potongan penjualan tidak
dimanfaatkan oleh debitur, maka akan mengakibatkan
timbulnya kelebihan pembayaran atas jumlah piutang.
Kelebihan tersebut dicatat sebagai penghasilan lain-lain
atau penghasilan di luar usaha.
c. Metode cadangan
Mengakui jumlah sebesar jumlah sebelum dikurangi
potongan, tetapi penjualan diakui sebesar jumlah setelah
dikurangi potongan penjualan. Selisih antara pengakuan
piutang dengan penjualan dicatat sebagai cadangan
potongan
penjualan.
Pengantar Akuntansi 2
37
37
Contoh soal:
1) Pada tanggal 1 Desember 2014, PT. Hitankara menjual
barang dengan syarat 2/10, n/30 dengan harga Rp
6.000.000, pencatatan piutang dengan menggunakan
metode kotor, bersih dan cadangan nampak sebagai berikut
(dlm Rp):
Metode kotor
Metode bersih
Piutang
6.000.0000
Piutang 5.880.000
Penjualan
6.000.000
Penjualan 5.880.000
Keterangan
Penjualan kotor
Pot 2%
Piutang bersih
Metode cadangan
Piutang
6.000.000
Cad pot penj
120.000
Penjualan
5.880.000
6.000.000
120.000
5.880.000
2) Pada tanggal 8 Desember 2014 diterima pelunasan piutang
dari penjualan tanggal 1 Oktober sebesar Rp 3.000.000 dan
terjadi penjualan sebesar Rp 3.5000.000. Pencatatan
penerimaan piutang dan penjualan tanggal 8 Oktober
dengan menggunakan ketiga metode disajikan sebagai
berikut:
Pencatatan penerimaan pembayaran piutang
Metode kotor
Kas
2.940.000
Pot Penj
60.000
Piutang
3.000.000
Keterangan
Penerimaan piutang 3.000.000
Potongan 2%
60.000
Kas diterima
2.940.000
Metode bersih
Kas 2.940.000
Piutang 2.940.000
Keterangan
Piutang yang dikredit
50%x5.880.000=
2.940.000
Metode cadangan
Kas
2.940.000
Cadangan pot penj 60.000
Piutang
3.000.000
Cadangan pot penjualan yang
dibatalkan 50%x120.00=60.000
Pencatatan penjualan Rp 3.500.000
Metode kotor
Metode bersih
Piutang
3.500.000
Piutang 3.430.000
Penjualan
3.500.000
Penjualan 3.430.000
Penjualan kotor
Pot 2%
Penjualan bersih
3.500.000
70.000
3.430.000
Metode cadangan
Piutang 3.500.000
Cad pot penj
70.000
Penjualan
3.430.000
Cadangan pot penjualan
2%x3.500.000=70.000
3). Pada tanggal 20 Desember 2014, diterima pelunasan
saldo piutang dari penjualan tanggal 1 Oktober 2014
sebesar Rp 3.000.000
Pengantar Akuntansi 2
38
38
Metode kotor
Kas
3.000.000
Piutang 3.000.000
Metode bersih
Kas 3.000.000
Piutang
2.940.000
Penghasilan di luar usaha 60.000
Metode cadangan
a)Kas 3.000.000
Piutang 3.000.000
b) Cadangan pot penj 60.000
Pengh di luar usaha 60.000
Pelunasan debitur setelah masa potongan, sehingga potongan tidak
diperoleh.
4). Pada tanggal 24 Desember 2014 penjualan barang
dengan harga Rp 10.000.000
Metode kotor
Metode bersih
Piutang 10.000.000
Piutang
9.800.000
Penjualan 10.000.000
Penjualan
9.800.000
Keterangan:
Penjualan kotor
Potongan 2%
Piutang bersih
Metode cadangan
Piutang 10.000.000
Cad Pot penjualan 200.000
Penjualan
9.800.000
10.000.000
200.000
9.800.000
5) Pada tanggal 31 Desember 2014 penyesuaian untuk
rekening piutang
Metode kotor
Metode bersih
Metode cadangan
Tidak ada jurnal Piutang 60.000
Cad Pot Penjulan 60.000
Penghasilan di luar usaha 60.000
Penghasilan di luar ush 60.000
penyesuaian
Menyesuaikan pot penjualan yang tidak dimanfaatkan pelanggan
karena pembayarannya lebih dari 10 hari(setelah masa potongan)
Penyajian Piutang di Laporan Keuangan (dlm Rp)
Metode kotor
Penjualan Kotor
Potongan Penj
Penjualan bersih
Metode bersih
LAPORAN LABA/RUGI
19.500.000 Penjualan
19.110.000
60.000 ........
19.440.000 Pengh di luar usaha 120.000
Metode kotor
Aktiva Lancar
...........
Piutang 13.500.000
Pengantar Akuntansi 2
Metode bersih
NERACA
Aktiva Lancar
...........
Piutang 13.290.000
Metode cadangan
Penjualan
19.110.000
........
Pengh di luar usaha 120.000
Metode cadangan
Aktiva Lancar
...........
Piutang
13.500.000
Cad Pot Penj
210.000
Piutang bersih 13.290.000
39
39
2. Pencatatan kerugian piutang
Penjualan secara kredit selain memberikan manfaat berupa
peningkatan volume penjualan, namun disisi lain juga
menimbulkan risiko yakni timbulnya kerugian berupa piutang
yang tidak bisa ditagih (macet). Untuk mencatat terjadinya
kerugian piutang dapat memilih salah satu dari kedua cara
berikut yakni:
a. Metode penghapusan langsung
Perusahaan yang menggunakan penghapusan langsung atas
kerugian piutangnya, tidak perlu memperkirakan besarnya
piutang yang kira-kira tidak bisa ditagih, sehingga tidak
terdapat rekening cadangan kerugian piutang dalam
pembukuannya.
Pencatatan atas kerugian piutang dilakukan jika benarbenar ada piutang yang tidak bisa ditagih akibat debitur
yang bangkrut atau secara hukum nyata-nyata tidak bisa
melakukan pembayaran atas utangnya.
Jika ada debitur yang sudah pasti tidak mampu membayar
utang dan perusahaan memutuskan untuk menghapus
piutang tersebut maka jurnal yang dibuat untuk mencatat
penghapusan piutang itu adalah:
Beban kerugian piutang
xxx
Piutang
xxx
Perusahaan yang menggunakan metode penghapusan
langsung menyajikan piutang di neraca sejumlah bruto, dan
pencatatan beban kerugian piutang seringkali tidak
bersamaan dengan pengakuan penjualan. Dengan demikian
penggunaan metode penghapusan langsung tidak sesuai
dengan konsep penandingan dan konservatisme.
b. Metode cadangan
Secara akuntansi, penggunaan metode cadangan dalam
pencatatan kerugian piutang lebih tepat dibandingkan
dengan metode penghapusan langsung, terlebih lagi jika
jumlah
kerugian
piutang
cukup
material.
Pengantar Akuntansi 2
40
40
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
metode cadangan dalam mencatat kerugian piutang adalah:
1). Jumlah kerugian piutang yang diperkirakan tidak bisa
ditagih ditaksir dengan menggunakan dua pendekatan
yakni pertama pendekatan neraca, persentase tertentu
dikalikan dengan piutang atau dengan menggunakan
analisa umur piutang. Kedua pendekatan laba/rugi,
persentase tertentu dikalikan dengan penjualan.
2). Setelah diketahui besarnya taksiran kerugian piutang,
maka jurnal untuk mencatat taksiran kerugian piutang
adalah dengan mendebet beban kerugian piutang dan
mengkredit cadangan kerugian piutang.
3). Jika terjadi piutang yang benar-benar tidak bisa ditagih,
berarti cadangan kerugian yang dibentuk sebelumnya
terpakai dan piutang berkurang, sehingga jurnalnya
adalah mendebet cadangan kerugian piutang dan
mengkredit piutang.
4). Apabila piutang yang sudah dihapuskan ternyata bisa
ditagih, mungkin karena ada niat baik dari debitur untuk
tetap menjalin relasi setelah kondisi keuangannya
membaik, maka jurnal yang dibuat ada dua yakni:
pertama saat ada pernyataan tertulis untuk membayar
jurnalnya mendebet piutang dan mengkredit cadangan
kerugian piutang, kedua jika sudah diterima pembayaran
jurnalnya mendebet kas dan mengkredit piutang. Tujuan
dari jurnal pertama mendebet piutang adalah untuk
memunculkan kembali rekening piutang yang sudah
dihapus pada periode sebelumnya.
Perbedaan antara metode penghapusan langsung dengan
metode cadangan disajikan sebagai berikut:
Transaksi
31-12-2014
PT. WGAH memiliki piutang
sebesar Rp 50.000.000 dari
jumlah tersebut Rp 500.000
diperkirakan tidak bisa ditagih
Pengantar Akuntansi 2
Metode
penghapusan langsung
Tidak ada jurnal
Metode cadangan
BKP 500.000
CKP 500.000
41
41
03-03-2015
BKP 100.000
Terdapat piutang kepada UD
Piutang
100.000
Karuna senilai Rp 100.000 tidak
bisa ditagih dan dihapuskan
12-04-15
Piutang 100.000
UD Karuna menyatakan akan
BKP
100.000
melunasi utangnya
15-05-15
Kas
100.000
UD Karuna melunasi utangnya
Piutang 100.000
CKP
100.000
Piutang 100.000
Piutang 100.000
CKP
100.000
Kas
100.000
Piutang 100.000
Kembali kepada metode cadangan, sebelumnya disebutkan
bahwa besarnya cadangan kerugian piutang ditaksir
berdasarkan dua pendekatan yakni:
a. Pendekatan neraca
Besarnya
taksiran kerugian
piutang
dengan
menggunakan pendekatan neraca diperoleh dengan
mengalikan persentase tertentu dari jumlah piutang
dengan menggunakan analisa umur piutang. Langkahlangkah dalam menyusun analisa umur piutang adalah:
1). Piutang dikelompokkan menjadi dua kelompok yakni
piutang yang belum jatuh tempo dan piutang yang
sudah jatuh tempo.
2). Piutang yang sudah jatuh tempo dikelompokkan
lagi berdasarkan kelompok umur, dengan
pegelompokkan umur tiap bulan misalnya 1-30 hari,
31-60 hari, 61-90 hari, 91-120 hari dan di atas 120
hari.
3). Jumlah piutang dalam tiap-tiap kelompok umur
kemudian dikalikan dengan taksiran persentase tidak
tertagih dengan ketentuan semakin ke kanan atau
semakin jauh dari hari jatuh tempo taksiran
persentase tidak tertagih semakin besar.
4). Besarnya taksiran persentase tidak tertagih
ditentukan secara subjektif oleh manajemen
khususnya yang menangani piutang, berdasarkan
pengalam
sebelumnya
atau
berdasarkan
pengalaman
industri
sejenis.
Pengantar Akuntansi 2
42
42
Berikut adalah contoh daftar umur piutang dari UD.
Ganendra per 31 Desember 2014 sebagai berikut:
Nama
Debitur
Jumlah
Saldo
Piutang(Rp)
20.000.000
35.000.000
15.000.000
19.000.000
23.000.000
11.000.000
12.000.000
135.000.000
Ana
Beno
Ciko
Dini
Eri
Fika
Galuh
Jumlah
Taksiran
Persentase
Tak tertagih
Total taksiran
Tak tertagih
Belum
Jatuh
1-30
Tempo
15.000.000 4.000.000
20.000.000 2.000.000
14.000.000 1.000.000
10.000.000 5.000.000
13.000.000 2.000.000
6.000.000 4.000.000
8.000.000 3.000.000
86.000.000 21.000.000
1%
2%
Sudah jatuh tempo (dlm hari)
31-60
61-90
91-120
860.000
204.000
420.000
>120
500.000
500.000
1.000.000 2.000.000 5.000.000 5.000.000
2.000.000 1.000.000 1.000.000
2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000
1.000.000
300.000
700.000
6.800.000 6.200.000 8.000.000 7.000.000
3%
4%
5%
10%
248.000
400.000
700.000
Jumlah taksiran kerugian piutang dan jurnal yang dibuat
untuk mencatat taksiran kerugian piutang adalah:
Beban kerugian piutang
Rp 2.832.000
Cadangan kerugian piutang
Rp 2.832.000
b. Pedekatan laba/rugi
Jika perusahaan menggunakan pendekatan laba/rugi
dalam menghitung taksiran kerugian piutangnya, maka
persentase tertentu dikalikan dengan jumlah penjualan
kredit bersihnya.
Misalnya pada tanggal 31 Desember 2014 UD Ganendra
memiliki penjualan kredit bersih Rp 350.000.000 dan
misalnya ditentukan taskiran kerugian piutang 1,5%
maka besarnya cadangan kerugian piutang adalah
1,5%xRp 350.000.000=Rp 5.250.000
C. Piutang Wesel
Piutang wesel merupakan piutang yang lebih formal dibandingkan
dengan piutang dagang karena piutang wesel disertai dengan
perjanjian tertulis. Surat wesel berbeda dengan promes. Surat
Pengantar Akuntansi 2
43
43
utang (promes) adalah sebuah janji tertulis untuk membayar
sejumlah uang tertentu pada waktu yang telah ditetapkan.
Adapun perbedaan wesel dengan promes adalah:
Letak perbedaan
Isi
Jumlah penarik dan
berkepentingan
Pembuat
Perlunya akseptasi
pihak
Wesel
Promes
Surat perintah untuk Surat
janji
membayar
membayar
yang Dua pihak
Satu
Pemilik piutang
Perlu
untuk
Pemilik utang
Tidak
Terdapat beberapa istilah dalam transaksi piutang wesel yakni:
1. Nilai nominal
Merupakan nilai yang tercantum dalam surat wesel. Nilai ini
merupakan nilai awal utang bagi debitur dan nilai awal piutang
bagi kreditur. Dinyatakan sebagai nilai awal karena belum
ditambah dengan bunga.
2. Jangka waktu wesel
Merupakan saat sejak diterbitkannya wesel sampai dengan
saat tanggal jatuh tempo. Jangka waktu wesel bisa dinyatakan
dalam satuan hari, bulan dan tahun.
3. Tanggal jatuh tempo
Tanggal jatuh tempo dapat dinyatakan dengan tiga cara yaitu:
a. Atas permintaan
Misalnya “Atas permintaan, saya berjanji akan
membayar.....”wesel seperti ini dapat ditagih kapanpun.
b. Pada tanggal tertentu
“Pada tanggal.... saya akan membayar.....
c. Pada akhir periode tertentu
1). Setahun setelah tanggal 3 Maret 2015, saya berjanji akan
membayar.....”
2). Dua bulan setelah tanggal 12 April 2015, saya berjanji
akan membayar....”
3). Sembilan puluh hari setelah tanggal 20 Oktober 2015,
saya berjanji akan membayar...” dll
Apabila jangka waktu wesel dinyatakan dalam satuan bulan,
maka tanggal jatuh tempo dihitung dengan jumlah bulan
Pengantar Akuntansi 2
44
44
dari tanggal penarikan wesel. Misal wesel yang ditarik
tanggal 27 September dengan jangka waktu 2 bulan, maka
tanggal jatuh temponya adalah tanggal 27 November. Jika
wesel ditari diakhir bulan, maka tanggal jatuh temponya
juga diakhir bulan. Misal tanggal penarikan wesel adalah 30
April jangka waktu waktu 4 bulan, maka tanggal jatuh
temonya adalah tanggal 31 Agustus.
Dalam hal wesel dinyatakan dalam satuan harian, maka
ketentuan perhitungan jumlah hari adalah, tanggal
penarikan tidak dihitung, namun tanggal jatuh tempo
dihitung. Misalnya wesel ditarik tanggal 12 April, jangka
waktu 90 hari, maka tanggal jatuh tempo dihitung sebagai
berikut:
April
= 18 hari (tgl 13-tgl 30)
Mei
= 31 hari
Juni
= 30 hari
Juli
= 11 hari tanggal jatuh tempo 11 Juli
Jumlah
= 90 hari
4. Bunga wesel
Bunga wesel dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal
wesel dengan tingkan bunga pertahun kemudian dikalikan
dengan jangka waktu pecahan dari setahun. Jika dibuatkan
rumus nampak sebagai berikut:
Bunga wesel = Nilai nominal x Tingkat bunga per th x Jangka
waktu pecahan dalam setahun
Tingkat bunga yang tertulis dalam wesel adalah tingkat bunga
setahun. Faktor jangka waktu dalam rumus di atas, dinyatakan
dalam pecahan dari setahun. Misalnya 4 buulan ditulis 4/12,
90 hari ditulis 90/365 (satu tahun dianggap 365 hari, kecuali
tahun kabisat dianggap 366 hari). Beberapa contoh
perhitungan bunga wesel adalah sebagai berikut:
Data dalam wesel
Rp 25.000.000,13%, 160 hari
Rp 12.000.000,14%, 5 bulan
Rp 20.000.000, 15%, 1 tahun
Pengantar Akuntansi 2
Perhitungan bunga
Rp 25.000.000x15%x160/365=1.643.835
Rp 12.000.000x14%x5/12=700.000
Rp 20.000.000x15%=3.000.000
45
45
5. Nilai jatuh tempo
Besarnya nilai jatuh tempo dihitung dengan menjumlahkan
nilai nominal dengan besarnya bunga wesel.
Data dalam wesel
Perhitungan bunga
Rp 25.000.000,13%, Rp 25.000.000x15%x160/365=1.643.835
160 hari
Rp 12.000.000,14%, Rp 12.000.000x14%x5/12=700.000
5 bulan
Rp 20.000.000, 15%, Rp 20.000.000x15%=3.000.000
1 tahun
Nilai
jatuh
tempo
Rp 26.643.845
Rp 12.700.000
Rp 23.000.000
D. Akuntansi Piutang Wesel
Piutang wesel terjadi karena beberapa penyebab yakni:
1. Penjualan kredit
Misalnya tanggal 03 Maret 2015, PT Ganen menjual barang
kepada PT Sasa seharga Rp 150.000.000, PT Ganen
menginginkan piutang tersebut dibuatkan wesel dengan jangka
waktu 2 bulan, bunga 11%.
Piutang wesel dicatat sebesar nilai nominalnya, tanpa
memandang ada tidaknya bunga.
Jurnal yang dibuat oleh PT Ganen adalah:
03 Maret 2015
Piutang wesel
Rp 150.000.000
Penjualan
Rp 150.000.000
Sedangkan jurnal yang dibuat oleh PT Sasa
03 Maret 2015
Pembelian
Rp 150.000.000
Utang wesel
Rp 150.000.000
Misal pada tanggal 3 Mei, PT Sasa melunasi utangnya kepada
PT Ganen, maka jurnal untuk mencatat pelunasan piutang
wesel tersebut adalah:
Jurnal yang dibuat oleh PT Ganen
03 Mei 2015
Kas
Rp 152.750.000
Piutang wesel
Rp 150.000.000
Pengantar Akuntansi 2
46
46
Pendapatan bunga
Jurnal yang dibuat oleh PT Sasa
3 Mei 2015
Utang wesel Rp 150.000.000
Biaya bunga Rp 2.750.000
Kas
Rp
2.750.000
Rp 152.750.000
Misal pada tanggal jatuh tempo, dalam hal ini pada tanggal 3
mei 2015, PT Sasa tidak dapat melunasi utangnya kepada PT
Ganen, maka piutang-utang wesel berubah status menjadi
piutang-utang wesel yang menunggak.
Jurnal yang dibuat pada tanggal 5 Mei adalah:
PT Ganen
Piutang wesel yang menunggal
Rp 150.000.000
Pendapatan bunga
Rp 2.750.000
Piutang wesel
Rp 150.000.000
PT Sasa
Utang wesel
Rp 150.000.000
Biaya bunga
Rp 2.750.000
Utang wesel yang menungggak Rp 150.000.000
2. Pemberian pinjaman
Misal tagihan PT Ganen kepada PT Sasa sebesar Rp
150.000.000 timbul bukan karena penjualan, melainkan karena
PT Ganen memberikan pinjaman kepada PT Sasa. Maka jurnal
yang dibuat pada tanggal 03 Maret 2015 adalah:
Jurnal yang dibuat PT Ganen:
Piutang wesel
Rp 150.000.000
Kas
Rp 150.000.000
Jurnal yang dibuat PT Sasa
Kas
Rp 150.000.000
Pengantar Akuntansi 2
47
47
Utang wesel
Rp 150.000.000
Pencatatan atas pelunasan dan kemungkinan tidak dibayarnya
piutang pada saat jatuh temponya sama dengan cara no 1 di
atas.
3. Perubahan dari piutang dagang
Misalkan PT Anan memiliki piutang dagang kepada PT Karuna
seharga Rp 75.000.000, pada tanggal 12 April PT Karuna
mengeluarkan sebuah promes untuk merubah utang
dagangnya menjadi utang wesel. Jurnal yang dibuat pada
tangggal 12 April adalah:
PT Anan
Piutang wesel
Rp 75.000.000
Piutang dagang
Rp 75.000.000
PT Karuna
Utang dagang
Rp 75.000.000
Utang wesel
Rp 75.000.000
Jika piutang wesel belum terbayar diakhir periode (karena
memang belum jatuh tempo), maka perlu dilakukan penyesuaian
atas pendapatan bunga dan biaya bunga serta piutang dan utang
bunga bagi pihak pemegang wesel maupun bagi pihak pembuat
wesel.
Misalkan PT Weka memberikan pinjaman kepada PT Wahyu pada
tanggal 31 Agustus 2014 seharga Rp 200.000.000, kedua pihak
menyepakati pinjaman tersebut dibuatkan wesel, dengan bunga
12% jangka waktu 5 bulan. Wesel tersebut akan jatuh tempo pada
tanggal 31 Januari 2015. Pada tanggal 31 Desember 2014, kedua
pihak akan membuat penyesuaian sebagai berikut:
PT Weka
Piutang bunga
Rp 8.000.000*
Pendapatan bunga
Rp 8.000.000
PT Wahyu
Biaya bunga
Pengantar Akuntansi 2
Rp 8.000.000
48
48
Utang bunga
Rp 8.000.000
*12%x4/12xRp 200.000.000
E. Penyajian Piutang di Neraca
Piutang disajikan di Neraca berdasarkan urutan jatuh temponya.
Jika perusahaan memiliki beberapa jenis piutang, misalnya piutang
dagang, piutang wesel dan piutang lain-lain, maka mana diantara
piutang tersebut yang jatuh temponya paling singkat, maka
piutang tersebut lah yang diletakkan pada urutan paling atas.
Piutang disajikan dalam jumlah bruto disertai dengan cadangan
kerugian piutang, sehingga dapat diketahui nilai bersih yang dapat
direalisasi.
Rangkuman
1. Pada PSAK No. 9, Paragraf 07e, piutang diklasifikasikan menjadi:
Piutang usaha, merupakan piutang akibat penyerahan barang atau
jasa yang berasal dari kegiatan utama perusahaan. Memiliki saldo
normal disebelah debet, diperkirakan akan dapat ditagih dalam jangka
waktu relatif pendek. Piutang lain-lain, piutang yang tidak berasal dari
kegiatan utama perusahaan misalnya piutang bunga, piutang dividen,
piutang pajak dan piutang karyawan.
2.Penilaian piutang menyangkut masalah penentuan nilai piutang yang
harus disajikan di dalam laporan keuangan, yang meliputi:
a. Pengakuan piutang mula-mula
1). Metode kotor
2). Metode bersih
3). Metode cadangan
b. Pencatatan kerugian piutang
1). Metode penghapusan langsung
2). Metode cadangan
3. Terdapat beberapa istilah dalam transaksi piutang wesel yakni:
a. Nilai nominal
b. Jangka waktu wesel c.
Tanggal jatuh tempo
Pengantar Akuntansi 2
49
49
d. Bunga wesel
e. Nilai jatuh tempo
4. Tiga penyebab timbulnya piutang wesel adalah:
a. Penjualan kredit
b. Pemberian pinjaman
c. Perubahan status dari piutang dagang
Piutang wesel dicatat sebesar nilai nominalnya tanpa
memperhatikan ada tidaknya bunga.
5. Piutang disajikan di Neraca dalam jumlah bruto disertai dengan
cadangan kerugian piutang. Piutang yang jangka waktunya
paling singkat disajikan pada urutan paling atas.
Bahan Diskusi
1. Apa yang dimaksud dengan piutang?
2. Bagaimana piutang pada umumnya diklasifikasifikan?
3. Dengan menggunakan metode penghapusan langsung, bagaimana
jurnal yang dibuat untuk mencatat besarnya piutang tak tertagih?
4. Dengan menggunakan metode pencadangan, bagaimana jurnal yang
dibuat untuk mencatat besarnya piutang tak tertagih?
5. Mengapa metode pencadangan dinyatakan lebih baik dari pada
metode penghapusan langsung?
6. Apa karakteristik piutang wesel?
7. Bagaimana cara menentukan tanggal jatuh tempo wesel?
8. Apa yang dimaksud dengan dishonorable notes receivable, dan
bagaimana perlakuan akuntansinya?
9. Bagaimana cara menentukan besarnya estimasi yang layak atas jumlah
piutang tak tertagih?
Pengantar Akuntansi 2
50
50
Latihan Soal
1. UD Anan menggunakan cara penghapusan langsung terhadap piutang
tak tertagih. Berikut ini piutang yang dihapus selama tahun 2014:
Tanggal Piutang
Jumlah Piutang
Nama Pelanggan
12 April 2012
5.000.000
UD Nugraha
03 Maret 2011
4.000.000
UD Gemilang
23 November 2010
6.000.000
UD Senandung
20 Oktober 2011
2.000.000
UD Weka
27 September 2012
3.500.000
UD Kevin
Penjualan kredit tahun 2014 sebesar Rp 200.000.000, berasar hasil
analisis, diperkirakan 1.5% akan tidak tertagih. Akuntan perusahaan
menyarankan mengganti metode langsung dengan metode cadangan
yang jumlahnya ditentukan dari penjualan kredit.
Diminta:
a. Apakah saudara setuju dengan usul Akuntan perusahaan, sertai
alasan pada jawaban anda.
b. Hitung selisih Laba/Rugi pergantian metode tersebut.
2. Tanggal 12 Maret PT Gargitha menjual barang dagangan kepada PT
Karuna dengan memperoleh piutang wesel, sebagai berikut: Piutang
wesel 60 hari bunga 11%, nominal Rp 65.000.000.
Diminta:
a. Buat jurnal penyerahan dan pelunasan wesel oleh PT Gargitha dan
b. Buat jurnal jika seandainya pada saat tanggal jatuh tempo PT
Karuna tidak melunasi piutangnya.
3. Pada akhir tahun 2014, rekening piutang suatu perusahaan bersaldo
debet Rp 400.000.000 dan penjualan bersih selama tahun tersebut Rp.
4.750.000.000. Tentukan jumlah kerugian piutang yang harus
dibebankan di dalam laporan keuangan, dengan catatan:
a. Saldo cadangan penghapusan piutang sebelum penyesuaian Rp
47.500.000 (Kredit).
1). Kerugian piutang diperkirakan 0,5% dari penjualan
2). Dari analisis umur piutang diketahui bahwa taksiran piutang tak
tertagih adalah sebesar Rp 337.500.000
b. Saldo cadangan penghapusan piutang sebelum penyesuaian
Pengantar Akuntansi 2
51
51
Rp 15.000.000 (Debet).
1). Cadangan penghapusan piutang dinaikkan menjadi 1% dari
penjualan bersih.
2). Cadangan ditambah 10% dari saldo piutang di dalam Neraca.
4. Pada tanggal 31 Desember 2014, UD AYA memiliki saldo rekening
piutang sebelum penyesuaian Rp 95.950.000 dan saldo cadangan
penghapusan piutang Rp 7.500.000. Cadangan penghapusan piutang di
dalam Neraca per 31 Desember 2013 ditentukan dengan analisa umur
piutang sebagai berikut;
Jumlah hari piutang
Jumlah piutang (Rp)
Kemungkinan
tak
tertagih (%)
Kurang dari 15 hari
33.000.000
2
16-30 hari
25.000.000
10
31-45 hari
20.950.000
20
46-60 hari
10.000.000
30
61-75 hari
5.000.000
40
Di atas 75 hari
2.000.000
100
Diminta:
a. Hitung saldo cadangan penghapusan piutang sesudah penyesuaian
31 Desember 2014 yang sebaiknya dicantumkan.
b. Hitung nilai bersih piutang yang dapat direalisasi per 31 Desember
2014.
c. Buat jurnal penyesuaian per 31 Desember 2014.
Pengantar Akuntansi 2
52
52
BAB IV
AKUNTANSI PERSEDIAAN
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Arti Penting Persediaan
Cara Pencatatan Persediaan
Perhitungan Harga Perolehan Persediaan
Kesalahan Dalam Penghitungan Persediaan
Item Yang Termasuk Persediaan
Penyajian Persediaan Di Neraca
Jenis persediaan antara perusahaan dagang berbeda dengan perusahaan
manufaktur. Pada perusahaan dagang, hanya terdapat satu jenis persediaan
yakni persediaan barang dagangan. Pada perusahaan manufaktur persediaan
dibedakan menjadi tiga jenis yaitu perediaan bahan baku, persediaan barang
dalam proses dan persediaan barang jadi.
A. Arti Penting Persediaan
Menurut PSAK, persediaan adalah aktiva yang:
1. Tersedian untuk dijual dalam kegiatan usaha normal,
2. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan,
3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (suplies) untuk digunakan
dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Persediaan meliputi:
1. Barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali
2. Barang jadi yang telah diproduksi
3. Barang dalam penyesuaian yang sedang diproduksi
4. Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi
Pada neraca persediaan dikelompokkan sebagai aktiva lancar.
Manajemen harus mengupayakan investasi pada persediaan se efektif
dan se efisien mungkin, karena jika terjadi kelebihan maupun
kekurangan persediaan keduanya sama-sama berakibat tidak baik pada
perusahaan. Kelebihan persediaan berakibat pada peningkatan biaya
Pengantar Akuntansi 2
53
53
penimpanan dan pemeliharaan persediaan, kecepatan kerusakan dan
keusangan serta tertanamnya dana pada pembelian persediaan.
Kekurangan persediaan menimbulkan risiko kehilangan pelanggan serta
pembelian dengan harga yang lebih tinggi akibat lemahnya posisi tawar.
Dengan demikian sangat penting bagi manajemen untuk memikirkan
berapa jumlah ideal persediaan yang harus tersedia di perusahaan.
Pembahasan persediaan pada bab ini difokuskan pada persediaan
barang dagangan pada perusahaan dagang.
B. Cara Pencatatan Persediaan
Pada laporan keuangan baik laporan Laba/Rugi maupun Neraca,
dilaporkan nilai persediaan. Jumlah nilai persediaan merupakan
perkalian antara jumlah unit dengan harga per unitnya. Untuk
mengetahui nilai persediaan terdapat dua cara yang umumnya
digunakan yaitu:
1. Cara fisik
Menurut cara ini nilai persediaan baru dapat diketahui diakhir
periode dengan menghitung jumlah unit persediaan kemudian
dikalikan dengan harga per unit. Keunggulan cara ini adalah nilai
persediaan yang dilaporkan tepat, namun kelemahannya adalah
menggunakan banyak waktu. Cara ini cocok digunakan pada
perusahaan yang relatif masih kecil dengan jumlah persediaan tidak
begitu banyak jumlah dan jenisnya.
Semua transaksi yang berhubungan dengan persediaan seperti
pembelian, ongkos angkut pembelian, potongan pembelian, retur
pembelian, penjualan, potongan penjualan, retur penjualan dan
harga pokok penjualan dicatat dengan menggunakan akun yang
bersangkutan.
2. Cara perpetual
Dengan cara ini, untuk mengetahui nilai persediaan tidak harus
menunggu akhir tahun. Setiap saat diperlukan, nilai persediaan bisa
diketahui dari catatan/kartu tiap jenis persediaan. Pada kartu
persediaan tercatat mutasi persediaan yang berisikan informasinya
Pengantar Akuntansi 2
54
54
tentang kapan barang masuk, berapa jumlahnya yang masuk, kapan
barang keluar dan jumlahnya serta berapa masih saldo barang.
Pada saat terjadi pembelian maka akan ditulis pada kolom masuk,
dan jika terjadi penjualan atau barang rusak maka akan ditulis pada
kolom keluar. Untuk mengetahui apakah kartu barang memberikan
informasi yang tepat, maka pada akhir periode perlu dilakukan
pencocokan jumlah fisik barang dengan jumlah yang tertera pada
kartunya. Jika terdapat perbedaan antara fisik barang dengan kartu,
maka perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian.
Berikut adalah pencatatan
menggunakan cara perpetual
yang
dilakukan
jika
perusahaan
a. Pembelian Tunai dan Retur
Pembelian tunai didebet dengan menggunakan rekening
persediaan sebesar harga perolehan (harga faktur ditambah
dengan biaya kirim, jika biaya kirim tidak ditanggung oleh penjual).
Misalnya tanggal 03 Maret 2014 dibeli tunai 50 unit persediaan
barang dagangan @Rp 50.000, jurnal untuk mencatat pembelian
tersebut adalah:
Tanggal
Maret 03
Keterangan
Persediaan barang dagangan
Kas
Debet
2.500.000
Kredit
2.500.000
Apabila tanggal 05 Maret seperlima barang ternyata rusak atau
tidak sesuai dengan spesifikasi yang masih bisa dikembalikan, maka
jurnal atas retur pembelian tersebut adalah:
Tanggal
Maret 05
Keterangan
Kas
Persediaan barang dagangan
Debet
2.500.000
Kredit
2.500.000
b. Pembelian Kredit
Pembelian kredit biasanya disertai dengan diskon atau potongan
pembelian dengan menggunakan tenggang waktu misalnya 2/10,
n/30 yang artinya diskon akan diberikan sebesar 2% jika
pembayaran dilakukan dalam jangka 10 hari sejak tanggal
pembelian. Pembelian seperti itu boleh dicatat sebesar jumlah
Pengantar Akuntansi 2
55
55
bruto atau sejumlah neto. Agar lebih praktis, maka pada bab ini
pembahasan dilakukan dengan menggunakan cara bruto.
Misalnya tanggal 12 April dibeli persediaan barang dagangan
sebanyak 60 unit @ Rp 30.000 secara kredit dengan syarat 3/15,
n/30. Jurnal yang dibuat untuk mencatat pembelian ini adalah
Tanggal
April
12
Keterangan
Persediaan barang dagangan
Utang dagang
Debet
1.800.000
Kredit
1.800.000
Jika pembayaran dilakukan di atas tanggal 27 April, artinya
pembayaran dilakukan di luar masa potongan, maka jumlah
pembayaran sebanyak Rp 1.800.000 dengan jurnal:
Tanggal
April
28
Keterangan
Utang
Kas
Debet
1.800.000
Kredit
1.800.000
Harga pokok per unit persediaan barang adalah Rp 30.000.
Jika tanggal 27 April dilakukan pembayaran, artinya pembayaran
dilakukan dalam periode potongan, maka potongan yang diperoleh
sebesar 3% x Rp 1.800.000 = Rp 48.000 tidak dicatat sebagai
potongan pembelian, namun dicatat sebagai pengurang
persediaan. Jurnal untuk mencatat pembayaran utang adalah:
Tanggal
April
12
Keterangan
Utang dagang
Persediaan barang
Kas
Debet
1.800.000
Kredit
48.000
1.752.000
Harga pokok per unit persediaan adalah Rp 1.752.000:60 = Rp
29.200. Dengan cara seperti ini, harga pokok per unit produk
berbeda-beda, tergantung dari kapan pembayaran dilakukan.
Secara teori, hal ini tidak dibenarkan, namun hal ini dilakukan
karena alasan kepraktisan.
c. Retur Pembelian Kredit
Pada saat pembelian dilakukan secara kredit, kemudian ditemukan
ada barang yang dibeli dalam keadaan rusak atau tidak sesuai
pesanan, sehingga harus di retur, maka retur harus segera
dilakukan sebelum terjadi pembayaran. Misalnya dengan contoh di
Pengantar Akuntansi 2
56
56
atas barang dikembalikan misalnya tanggal 15 April sebanyak 10
unit, maka jurnal untuk mencatat retur tersebut adalah:
Tanggal
April
15
Keterangan
Utang dagang
Persediaan barang dagangan
Debet
300.000
Kredit
300.000
d. Penjualan Tunai dan Retur
Terdapat dua jurnal yang harus dibuat jika terjadi penjualan. Jurnal
pertama untuk mencatat penerimaan kas dan mencatat nilai
penjualan, sedangkan jurnal kedua untuk mencatat harga pokok
penjualan (HPP) barang dan mengurangi nilai persediaan.
Misalnya tanggal 27 September dijual tunai barang dagangan Rp
7.500.000, harga pokok barang yang dijual adalah Rp 7.000.000.
Transaksi ini dicatat sebagai berikut:
Tanggal
September 27
Keterangan
Kas
Penjualan
(mencatat
pendapatan
penjualan tunai)
Debet
7.500.000
7.500.000
dari
7.000.000
HPP
Persediaan
(mencatat harga
barang yang dijual)
Kredit
7.000.000
pokok
dari
Misalnya tanggal 30 September barang yang dijual tanggal 27
September, di kembalikan oleh pembeli senilai 10% dari penjualan.
Jurnal yang dibuat untuk mencatat retur adalah:
Tanggal
September 30
Keterangan
Retur penjualan
Kas
(mencatat retur
tunai)
Debet
750.000
750.000
penjualan
700.000
Persediaan barang dagangan
HPP
(mencatat harga pokok dari
barang yang dikembalikan
pelanggan)
Pengantar Akuntansi 2
Kredit
700.000
57
57
e. Penjualan Kredit dan Retur
Terdapat dua jurnal untuk mencatat penjualan kredit, jurnal
pertama mendebet piutang dan mengkredit penjualan untuk
mengakui nilai penjualan sebesar harga jual. Jurnal kedua
mendebet HPP dan mengkredit persediaan, sebesar harga pkok
dari barang yang terjual. Misalnya 12 Maret terjadi penjualan
secara kredit sebanyak 75 unit produk dengan harga Rp 15.000 per
unit. Harga pokok produk per unit Rp 12.000 Jurnal untuk
mencatat penjualan kredit ini adalah:
Tanggal
Maret 12
Keterangan
Piutang dagang
Penjualan
(mencatat retur penjualan tunai)
Debet
1.125.000
Kredit
1.125.000
HPP
Persediaan barang dagangan
(mencatat harga pokok dari barang
yang dikembalikan pelanggan)
900.000
900.000
Misalnya tanggal 15 Maret, sebelum pelanggan membayar, 2%
dari barang yang terjual tersebut dikembalikan karena alasan
tertentu, maka jurnal untuk mencatat retur penjualan tersebut
adalah:
Tanggal
Maret 15
Keterangan
Retur penjualan
Piutang dagang
(mencatat retur penjualan tunai)
Debet
22.500
Persediaan barang dagangan
18.000
HPP
(mencatat harga pokok dari
barang
yang
dikembalikan
pelanggan)
Kredit
22.500
18.000
Penjualan kredit biasanya menawarkan potongan tunai untuk
masa pembayaran tertentu, sehingga jumlah kas yang diterima
oleh perusahaan penjual lebih kecil daripada nilai nominal
piutangnya. Pada saat terjadinya, piutang bisa dicatat sejumlah
bruto maupun neto. Pembahasan pada bab ini menggunakan
pencatatan
piutang
sejumlah
bruto.
Pengantar Akuntansi 2
58
58
f. Penerimaan Kas dari Piutang
Kas yang diterima dari pembayaran piutang oleh pelanggan,
dicatat dengan mendebet kas, dan mengkredit piutang. Apabila
terdapat potongan tunai, maka potongan yang diberikan diakui
sebagai potongan penjualan. Misalnya penjualan kredit tanggal 12
Maret bersyarat 3/10, n/30. Tanggal 14 Maret pelanggan
melakukan pembayaran, maka jurnalnya adalah:
Tanggal
Maret 14
Keterangan
Kas
Potongan penjualan
Piutang dagang
Debet
1.091.250
33.750
Kredit
1.125.000
C. Perhitungan Harga Pokok Persediaan
Menurut prinsip akuntansi aktiva dicatat sebesar harga perolehannya.
Dengan demikian persediaan yang merupakan salah satu bagian dari
aktiva lancar juga dicatat sebesar harga perolehannya. Harga perolehan
persediaan meliputi harga faktur ditambah biaya angkut pembelian
dikurangi potongan pembelian dan retur pembelian. Semua biaya yang
dikeluarkan yang berhubungan dengan persediaan seperti biaya
pengurusan pembelian, penerimaan dan penyimpanan seharusnya
dimasukkan dalam penentuan harga perolehan. Namun dalam
prakteknya sering ditemui kesulitan dalam mengalokasikan biaya-biaya
tersebut ke dalam persediaan, sehingga mengacu pada konsep cost and
benefit, biaya tersebut dicatat sebagai biaya operasi pada periode
terjadinya.
Ketika perusahaan menjual barang dagangannya, maka sangat penting
untuk mengetahui berapakah harga perolehan dari barang yang akan
terjual tersebut?. Jika pembelian hanya dilakukan hanya sekali saja, akan
mudah untuk mengetahui harga perolehan dari darang yang akan dijual.
Namun kenyataannya pembelian yang dilakukan oleh perusahaan terjadi
berkali-kali. Misalnya berikut adalah ringkasan pembelian dan penjualan
persediaan
selama
bulan
Maret
dari
Ganen
Pengantar Akuntansi 2
59
59
Tanggal
3
12
23
31
Pembelian
250 unit @ Rp 20.000
50 unit @ Rp 22.000
20 unit @ Rp 21.000
Penjualan
270 unit
-
Saldo
250 unit
300 unit
30 unit
50 unit
Berdasarkan ringkasan di atas maka penting untuk diketahui berapakah
harga perolehan per unit atas penjualan tanggal 23, apakah dipakai
harga perolehan per unit pembelian tanggal 3 sebesar Rp 20.000 atau
harga perolehan per unit pembelian tanggal 12 sebesar Rp 22.000 atau
rata-rata harga perolehan tanggal 3 dan tanggal 12? Permasalahan
kedua yang penting untuk diketahui jawabannya adalah berapakah
harga perolehan per unit sisa 50 unit barang per tanggal 31 Maret
apakah harga per unitnya Rp 20.000, Rp 22.000, Rp 21.000 atau rataratanya?.
Terdapat dua cara yang dapat digunakan untuk mengetahui harga
perolehan per unit persediaan yang terjual dan harga perolehan per unit
persediaan diakhir periode. Cara tersebut adalah:
1. Cara sesungguhnya
Dalam metode ini persediaan sebanyak 50 unit ditelusuri keberadaan
sesungguhnya atau diidentifikasi secara khusus, sehingga cara ini juga
disebut cara identifikasi khusus. Misalnya setelah dilakukan secara
sesungguhnya atas persediaan akhir tanggal 31 Maret ditemukan
bahwa 50 unit persediaan tersebut berasal dari: 20 unit dari
pembelian tanggal 3, 10 unit dari pembelian tanggal 12 dan 20 unit
dari pembelian tanggal tanggal 31. Dengan demikian nilai persediaan
akhir dan harga pokok penjualan akan dapat dihitung sebagai berikut:
Tanggal
Jumlah unit
HP Per unit(Rp) HP Total (Rp)
03
20
20.000
400.000
12
10
22.000
220.000
31
20
21.000
420.000
Harga Pokok Persediaan akhir
1.040.000
Lalu berapakah nilai harga pokok penjualan bulan Maret?, harga
pokok penjualan merupakan harga barang yang tersedia dijual
dikurangi dengan harga pokok persediaan akhir.
Harga barang yang tersedia dijual UD Ganen bulan Maret adalah:
Pengantar Akuntansi 2
60
60
250 unit x Rp 20.000 =
Rp 5.000.000
50 unit x Rp 22.000 =
Rp 1.100.000
20 unit x Rp 21.000 =
Rp 420.000 +
Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual Rp 6.520.000
Harga Pokok Persediaan akhir
Rp 1.040.000 –
Harga Pokok Penjualan
Rp 5.480.000
2. Metode asumsi
Penghitungan harga pokok persediaan akhir dan harga pokok
penjualan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan secara
hati-hati, karena harga pokok persediaan akhir akan disajikan di
neraca sedangkan harga pokok penjualan akan disajikan di laporan
laba/rugi. Penghitungan keduanya dengan menggunakan cara
sesungguhnya/identifikasi khusus, memberikan informasi yang
sangat akurat, namun cara tersebut memiliki kelemahan yaitu tidak
praktis dan menghabiskan waktu yang relatif lama. Untuk mengatasi
kelemahannya, maka digunakan metode asumsi. Maksunya,
persediaan barang tidak diikuti atau tidak ditelusuri arus keluar
masuknya, melainkan diasumsikan bahwa barang yang masuk
terlebih dulu, harga pokok barang tersebutlah yang keluar atau dijual
terlebih dahulu juga, atau diasumsikan barang yang masuk ke gudang
terakhir harga pokok barang tersebut yang dijual pertama. Terdapat
3 cara dalam metode asumsi ini yakni metode Rata-rata, FIFO, LIFO
dimana ketiga cara ini bisa dilakukan secara fisik maupun
perpetual/kartu. Uraian lebih jelas tentang ketiga cara asumsi ini
adalah sebagai berikut:
a. Rata-rata
Metode ini mengasumsikan bahwa harga pokok per unit adalah
harga pokok total dibagi dengan jumlah unit barang. Jadi tidak
perlu dilakukan penelusuran atas barang yang masih tersisa
diakhir periode berasal dari pembelian tanggal berapa. Yang
dilakukan hanya tinggal menjuamlahkan nilai persediaan akhir
barang kemudian dibagi dengan jumlah unitnya.
a1). Rata-rata Fisik
Cara ini disebut juga dengan rata-rata berbobot/weighted
average .
Pengantar Akuntansi 2
61
61
Rumus untuk menghitung harga pokok rata-rata perunit
adalah:
Harga pokok yang tersedia dijual
Harga pokok rata-rata per unit = ------------------------------------------------Total unit barang yang tersedia dijual
Dengan menggunakan contoh soal pembelian UD Ganen selama
bulan Maret pada halaman sebelumnya, nilai persediaan akhir dan
harga pokok penjualan dengan menggunakan cara asumsi ratarata fisik dihitung sebagai berikut:
Rata-Rata Fisik
Tanggal
Jumlah unit
Harga Pokok
Harga Pokok
Per unit(Rp)
Total
03
250
20.000
5.000.000
12
50
22.000
1.100.000
31
20
21.000
420.000
Jumlah
270
6.520.000
Harga pokok rata-rata per unit = Rp 6.520.000/270 = Rp 24.148
Jumlah unit persediaan akhir = 50 unit
Harga pokok persediaan akhir= 50 unit x Rp 24.148= Rp 1.207.400
Harga pokok barang yang tersedia dijual = Rp 6.520.000
Harga pokok persediaan akhir
= Rp 1.207.400
Harga pokok penjualan
= Rp 5.312.600
a2). Rata-rata perpetual
Cara ini disebut juga rata-rata bergerak atau moving average, di
katakan demikian karena rata-ratanya dihitung ulang jika terjadi
pembelian baru. Dengan cara ini pencatatan persediaan
menggunakan kartu. Berikut adalah contoh kartu untuk
menghitung nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan.
Tg
l
3
12
23
31
Ket
Pembelian
Pembelian
Penjualan
Pembelian
Unit
250
50
20
Pengantar Akuntansi 2
Kartu Persediaan Rata-Rata Perpetual
Bertambah
Berkurang
H/U
Total
Unit H/U
Total
20.000 5.000.000
22.000 1.100.000
270 20.333 5.489.910
21.000
420.000
Unit
250
300
30
50
Saldo
H/U
Total
20.000
5.000.000
20.333
6.100.000
20.336
610.090
20.602
1.030.090
62
62
Nilai barang yang tersedia dijual
Harga pokok persediaan akhir
Harga pokok penjualan
Rp 6.520.000
Rp 1.030.090 Rp 5.489.910
b. FIFO
Cara ini mengasumsikan bahwa ketika terjadi penjualan, maka
harga pokok yang dikeluarkan/terjual adalah harga pokok dari
barang yang pertama kali dibeli/masuk ke gudang. Barang yang
masih berada di gudang diakhir periode diasumsikan berasal dari
pembelian terakhir. Dengan menggunakan contoh pembelian UD
Ganen pada bulan Maret, FIFO fisik dan perpetual di hitung
sebagai berikut:
b1). FIFO Fisik
Persediaan akhir 50 unit berasal dari 20 unit pembelian tanggal
31 dan 30 unit pembelian tanggal 12. Perhitungan harga pokok
persediaan akhir dan harga pokok penjualan disajikan sebagai
berikut:
FIFO Fisik
Tanggal
Jumlah unit
Harga Pokok
Harga Pokok
Per unit(Rp)
Total
31
20
21.000
420.000
12
30
22.000
660.000
Jumlah
50
1.080.000
Harga pokok barang yang tersedia dijual = Rp 6.520.000
Harga pokok persediaan akhir
= Rp 1.080.000
Harga pokok penjualan
= Rp 5.440.000
Pengantar Akuntansi 2
63
63
b2)FIFO Perpetual
Kartu persediaan dengan menggunakan cara FIFO perpetual
adalah sebagai berikut:
Tg
l
3
12
Ket
23
Penjualan
31
Pembelian
Pembelian
Pembelian
Unit
250
50
Kartu Persediaan FIFO Perpetual
Bertambah
Berkurang
H/U
Total
Unit H/U
Total
20.000 5.000.000
22.000 1.100.000
250
20
20
21.000
20.000
22.000
420.000
Nilai barang yang tersedia dijual
Harga pokok persediaan akhir
Harga pokok penjualan
5.440.000
Unit
250
250
50
Saldo
H/U
Total
20.000
5.000.000
20.000
22.000
6.100.000
30
30
20
22.000
22.000
21.000
660.000
1.080.000
Rp 6.520.000
Rp 1.080.000 Rp 5.440.000
c. LIFO
Cara ini mengasumsikan bahwa jika terjadi penjualan, maka harga
pokok barang yang pertama kali terjual/keluar adalah harga pokok
dari barang yang terakhir dibeli/masuk digudang. Harga pokok
barang yang terdapat digudang diakhir periode, diasumsikan
berasal dari pembelian diawal.
c1) LIFO Fisik
Persediaan akhir 50 unit bersal dari pembelian tanggal 3 dengan
harga per unit Rp 20.000 sehingga harga pokok persediaan akhir
dan harga pokok penjualan adalah sebagai berikut:
LIFO Fisik
Tanggal
Jumlah unit
Harga Pokok
Harga Pokok
Per unit(Rp)
Total
3
50
20.000
1.000.000
Jumlah
50
1.000.000
Harga pokok barang yang tersedia dijual = Rp 6.520.000
Harga pokok persediaan akhir
= Rp 1.000.000
Harga pokok penjualan
= Rp 5.520.000
Pengantar Akuntansi 2
64
64
c2)LIFO Perpetual
Kartu Persediaan dengan menggunakan cara LIFO Perpetual
adalah sebagai berikut:
Tg
l
3
12
Ket
23
Penjualan
31
Pembelian
Unit
250
50
Pembelian
Pembelian
Kartu Persediaan LIFO Perpetual
Bertambah
Berkurang
H/U
Total
Unit H/U
Total
20.000 5.000.000
22.000 1.100.000
50
220
20
21.000
22.000
20.000
420.000
Nilai barang yang tersedia dijual
Harga pokok persediaan akhir
Harga pokok penjualan
5.500.000
Unit
250
250
50
Saldo
H/U
Total
20.000
5.000.000
20.000
22.000
6.100.000
30
30
20
20.000
20.000
21.000
600.000
1.020.000
Rp 6.520.000
Rp 1.020.000 Rp 5.500.000
Perbandingan hasil perhitungan harga pokok persediaan akhir dan harga
pokok penjualan dengan cara sesungguhnya dan cara asumsi
Hasil
Sesungguh
nya
HP Pers Akhir
HP Penjualan
1.040.000
5.480.000
Cara yang digunakan
Asumsi
Rata-Rata
FIFO
Fisik
Perpetual
Fisik
Perpetual
1.207.400
1.030.090
1.080.000
1.080.000
5.312.600
5.489.910
5.440.000
5.440.000
LIFO
Fisik
1.000.000
5.520.000
Perpetual
1.020.000
5.500.000
Berdasarkan perbandingan hasil perhitungan harga pokok persediaan
akhir dan harga pokok penjualan dengan cara sesungguhnya dan cara
asumsi dengan menggunakan asumsi rata-rata, FIFO, LIFO baik fisik
maupum perpetual kita dapat simpulkan bahwa:
- Nilai tertinggi untuk harga pokok persediaan akhir adalah dengan
menggunakan cara asumsi rata-rata fisik, sedangkan nilai terendah
dengan menggunakan cara asumsi LIFO fisik.
- Nilai tertinggi untuk harga pokok penjualan adalah dengan
menggunakan cara asumsi LIFO fisik, sedangkan nilai terendah adalah
dengan menggunakan cara asumsi rata-rata fisik.
Pengantar Akuntansi 2
65
65
D. Kesalahan Dalam Penghitungan Persediaan
Perhitungan persediaan mempengaruhi dua laporan keuangan yakni
laporan laba/rugi dan laporan neraca. Perhitungan persediaaan akan
mempenagaruhi dua periode, karena persediaan akhir periode ini akan
menjadi persediaan awal periode berikutnya.
Seperti kita ketahui persediaan merupakan bagian dari aktiva lancar,
maka jika salah dalam menghitung persediaan maka nilai aktiva juga
disajikan tidak tepat. Pada laporan laba/rugi, kesalahan menghitung nilai
persediaan akhir menyebabkan kesalahan menghitung harga pokok
penjualan sehingga angka laba kotor dan laba bersih juga salah.
Jika ditemukan kesalahan berkaitan dengan persediaan akan dibuatkan
jurnal penyesuaian untuk memperbaiki kesalahan tersebut, baik
kesalahan diketahui sebelum maupun setelah proses tutup buku
berakhir. Jurnal penyesuaian yang dibuat tergantung dari jenis kesalahan
yang terjadi. Akun-akun yang dipengaruhi jika kesalahan sebelum tutup
buku adalah akun utang dagang, piutang dagang, persediaan, harga
pokok penjualan dan persediaan.
Kesalahan yang terjadi dapat berupa persediaan dicatat lebih kecil atau
lebih besar dari seharusnya.
Jika kesalahan ditemukan setelah proses tutup buku, jurnal perbaikan
pada perusahaan perorangan atau persekutuan jika persediaan dicatat
lebih kecil dari seharusnya adalah:
Persediaan
xxx
Modal
xxx
Sebaliknya jika kesalahan adalah persediaan dicatat lebih besar dari
seharusnya jurnal perbaikan yang dibuat
Modal
xxx
Persediaan.
Bagi perusahaan perseroan jurnal perbaikan menggunakan akun laba
ditahan.
E. Item Yang Termasuk Persediaan
Pada tanggal penyusunan laporan keuangan selain diperlukan ketelitian
dalam menghitung nilai persediaan yang terdapat di gudang dan sudah
pasti menjadi milik perusahaan. Permasalahan lain yang berhubungan
Pengantar Akuntansi 2
66
66
dengan persediaan yang memerlukan penangan yang tepat adalah
terdapatnya persediaan yang secara fisik tidak terdapat di gudang,
namun persediaan tersebut merupakan hak perusahaan sehingga harus
dilaporkan di neraca. Persediaan ini disebut dengan barang dalam
perjalanan. Selain itu terdapat juga persediaan yang secara fisik
terdapat di perusahaan namun persediaan itu bukan hak miliknya
perusahaan. Persediaan ini disebut dengan barang konsinyasi atau
titipan.
1. Persediaan barang dalam perjalanan
Persediaan barang dalam perjalanan terjadi apabila perusahaan
membeli barang dari perusahaan lain(berbeda daerah) dengan syarat
FOB (Free on Board) shipping point , artinya barang menjadi tanggung
jawab pembeli sejak barang tiba di pelabuhan. Walaupun pada
tanggal neraca barang masih belum tiba di gudang pembeli, namun
barang tersebut harus sudah dilaporkan di neraca pembeli.
2. Persediaan barang konsinyasi
Barang konsinya merupakan barang yang dijual secara titipan,
dengan maksud meningkatkan volume penjualan serta bagi yang
menerima titipan mendapatkan manfaat berupa efisiensi
penggunaan modal kerja.
Bagi consignor/pihak yang menitipkan, meskipun fisik barang tidak
terdapat di gudangnya, karena hak milik atas barang ada pada pihak
yang menitipkan, maka barang konsinyasi nampak pada neraca
consignor. Sebaliknya bagi consignee pihak yang menerima titipan,
meskipun fisik barang terdapat di gudangnya, karena barang tersebut
bukan hak miliknya, barang konsinyasi tidak boleh disajikan pada
neracanya.
F. Penyajian Persediaan Di Neraca
Menurut prinsip akuntansi, aktiva disajikan sebesar harga perolehannya.
Harga perolehan merupakan harga beli/faktur ditambah dengan semua
biaya yang dikleuarkan untuk memperoleh aktiva tersebut. Dengan
prinsip ini, maka persediaan di sajikan di neraca sebesar harga
perolehannya.
Pengantar Akuntansi 2
67
67
Selain dengan menggunakan harga perolehan, persediaan juga bisa
disajikan dengan cara lain yakni harga terendah antara harga perolehan
atau harga pasarnya. Cara ini disebut juga dengan COMWIL (Cost Or
Market Whichever Is Lower). Penggunaan cara terendah antara harga
perolehan dengan harga pasar mewajibkan perusahaan membuat jurnal
penyesuaian untuk mengakui perbedaan harga antara harha perolehan
dengan harga pasarnya pada saat dibuat laporan keuangan (di akhir
periode). Harga pasar bukan lah harga jual, karena pada saat tersebut
persediaan tidak dijual, melainkan hanya mengetahui di pasaran
harganya berapa. Sebagai contoh, pada akhir periode persediaan yang
masih tersisa di gudang memiliki harga perolehan Rp 18.000.000,
sedangkan harga pasarnya adalah Rp 17.500.000, maka di neraca
persediaan disajikan dengan harga Rp 17.500.000. Selisih Rp 500.000
diasumsikan terjadi penurunan nilai persediaan dan dicatat dengan
jurnal penyesuaian:
Kerugian penurunan nilai persediaan
Rp 500.000
Cadangan penurunan nilai persediaan
Rp 500.000
Perusahaan tentu memiliki beragam jenis persediaan, sehingga penilaian
persediaan dengan menggunakan comwil bisa dilakukan pada tiap jenis
persediaan, pada tiap kelompok persediaan maupun pada keseluruhan
persediaan. Berikut adalah contoh penilaian persediaan dengan cara
comwil.
Pengantar Akuntansi 2
68
68
Jenis Persediaan
Harga
Perolehan
(Rp)
Kelompok I
Kompor Gas Rinai 2.500.000
Kompor Gas HOCK 2.800.000
5.300.000
Kelompok II
Setrika Maspion
Setrika LG
Setrika Toshiba
Harga
Pasar
(Rp)
Harga terendah antara
Harga perolehan dengan harga pasar
(Rp)
Setiap
Setiap
Keseluruhan
Jenis
Kelompok Persediaan
2.700.000 2.500.000
2.650.000 2.650.000
5.350.000
5.300.000
375.000
350.000
380.000
1.105.000
425.000
325.000
390.000
1.140.000
1.105.000
6.405.000
6.490.000 6.230.000
375.000
325.000
380.000
6.405.000
6.405.000
Selisih Rp 265.000
Antara harga perolehan dengan comwil setiap jenis terdapat selisih Rp 265.000 yang
dilaporkan pada laporan laba/rugi sebagai kerugian penilaian persediaan, dan di
neraca disajikan sebagai pengurang nilai persediaan dengan nama akun cadangan
penurunan nilai persediaan.
Jurnal penyesuaian untuk mencatat penurunan nilai persedaiaan adalah:
Kerugian penurunan nilai persediaan
Rp 265.000
Cadangan penurunan nilai persediaan
Rp 265.000
Rangkuman
1. Menurut PSAK, persediaan adalah aktiva yang:
a. Tersedian untuk dijual dalam kegiatan usaha normal,
b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan,
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (suplies) untuk digunakan
dalam proses produksi atau pemberian jasa.
2. Pencatan persediaan dilakukan dengan dua cara yakni cara fisik dan
cara perpetual. Jika perusahaan menggunakan cara fisik maka semua
transaksi yang berhubungan dengan persediaan seperti pembelian,
ongkos angkut pembelian, potongan pembelian, retur pembelian,
penjualan, potongan penjualan, retur penjualan dan harga pokok
penjualan dicatat dengan menggunakan akun yang bersangkutan.
Keunggulan cara ini adalah nilai persediaan yang dilaporkan tepat,
namun kelemahannya adalah menggunakan banyak waktu.
Pengantar Akuntansi 2
69
69
3.
4.
5.
6.
Semua transaksi yang berhubungan dengan persediaan seperti
pembelian, ongkos angkut pembelian, potongan pembelian, retur
pembelian, penjualan, potongan penjualan, retur penjualan dan
harga pokok penjualan dicatat dengan menggunakan akun yang
bersangkutan.
Penghitungan harga pokok persediaan dilakukan dengan dua cara
yaitu cara sesungguhnya/identifikasi khusus dan cara asumsi yang
terdiri dari rata-rata, FIFO,LIFO baik fisik maupun perpetual
Kesalahan dalam menghitung persediaan mempengaruhi laporan
keuangan neraca di sisi aktiva khususnya aktiva lancar dan pada
laporan laba/rugi kesalahan dalam menghitung nilai persediaan
mempengaruhi nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
Jika pada tanggal neraca masih terdapat persediaan dalam
perjalanan/goods intransit maka penting untuk memperhatikan
syarat pembelian. Syarat FOB shipping point menetapkan bahwa hak
atas barang berpindah dari penjual kepada pembeli jika barang sudah
sampai di pelabuhan. Syarat FOB destination point menetapkan hak
atas barang berpindah dari penjual kepada pembeli jika barang sudah
tiba di gudang pembeli. Barang konsinyasi tetap merupakan hak
consignor meskipun fisik barang terdapat di gudang consignee.
Selain dengan menggunakan harga perolehan, persediaan di neraca
juga bisa disajikan dengan cara comwil, baik pada tiap jenis, per
kelompok maupun secara keseluruhan.
Bahan diskusi
1. Bagaimanakan perusahaan mengklasifikasikan persediaannya?
2. Perusahaan dagang secara sistematis akan selalu menyelenggarakan
catatan persediaan untuk menentukan berapa besarnya barang
dagangan yang tersedia untuk dijual dan juga berapa yang telah laku
terjual. Terdapat dua cara yang lazim dipakai untuk mencatat
persediaan, jelaskan kedua metode tersebut!
3. Apa yang dimaksud dengan harga perolehan persediaan?
4. Bagaimana status kepemilikan atas barang yang masih dalam
perjalanan
dan
barang
konsinyasi?
Pengantar Akuntansi 2
70
70
5. Jelaskan pengaruh kesalahan menghitung nilai persediaan terhadap
laporan keuangan!
6. Jelaskan cara menghitung harga pokok persediaan dengan
menggunakan metode FIFO,LIFO dan Rata-Rata!
7. Dalam kondisi bagaimana perusahaan menyajikan persediaannya di
neraca menggunakan metode comwil?
8. Konsep akuntansi apakah yang mendasari perusahaan menggunakan
metode comwil? Serta bagaimana jurnal yang dibuat jika terjadi
penurunan nilai persediaan?
Latihan soal
1. Persediaan awal dan pembelian sepatu merk “Mewah” selama tahun
2014 sebagai berikut:
Tanggal
unit
Harga per unit (Rp)
1 Januari
160
190.000
5 Mei
200
192.000
28 September
200
188.000
13 Desember
140
186.000
Pada perhitungan fisik persediaan tanggal 31 Desember 2014
(perusahaan menggunakan cara fisik) menunjukkan jumlah 190 unit
sepatu. Diminta isilah harga pokok persediaan akhir dan harga pokok
penjualan menurut metode yang diminta di bawah ini:
Cara Penjualan
HP Pers. Akhir
HPPenjualan
LIFO
FIFO
Rata-rata sederhana
Rata-rata tertimbang
2. Laporan Laba/Rugi UD. Ganen berikut ini disajikan pada akhir tahun
2014 sebelum penyesuaian dan tutup buku (perusahaan
menggunakan cara fisik)
Pengantar Akuntansi 2
71
71
UD Ganen
Laporan Laba/Rugi
Periode 1 sampai dengan 31 Desember 2014 (Rp)
Penjualan bersih
4.862.000.000
HPP
Persediaan 1 Januari 2014
1.136.000.000
Pembelian bersih
3.366.500.000+
Barang siap dijual
4.502.500.000
Persediaan 31 Desember 2014
1.178.000.000 –
Harga pokok penjualan
3.324.500.000Laba kotor
1.537.500.000
Biaya operasi
1.100.500.000Laba bersih
437.500.000
Kesalahan-kesalahan berikut ini ditemukan oleh akuntan pemeriksa:
a. Alat-alat kantor seharga Rp 7.050.000 dihitung sebagai persediaan
dalam perhitungan persediaan.
b. Persediaan barang seharga Rp 3.750.000 tertanggal 31 Desember
2014 fakturnya sudah diterima pada tanggal tersebut, tetapi
barang masih dalam perjalanan (barang datang tanggal 2 Januari
2015). Perusahaan menyepakati dengan penjual menggunakan
FOB shipping point dalam pengiriman barang. Jumlah ini tidak di
masukkan ke dalam persediaan tanggal 31 desember 2014.
c. Pembelian barang seharga Rp 10.750.000 faktur diterima
mendahului darang barangnya. Pencatatn atas barang dilakukan
dua kali yakni pada saat faktur dan barangnya datang.
d. Pesanan penjualan sebesar Rp 12.500.000 pada tanggal 31
Desember 2014 telah dicatat sebagai penjualan, walaupun faktur
baru dikirim beserta barangnya pada tanggal 4 Januari 2015.
Harga pokok barang tersebut Rp 8.125.000
e. Faktur penjualan sebesar Rp 4.000.000 tertanggal 31 Desember
2014 belum dicatat, walaupun barangnya sudah dikirim dengan
syarat FOB shipping point. Harga pokok barang tersebut sudah
tidak diperhitungkan dalam perhitungan HPP per 31 Desember
2014.
Pengantar Akuntansi 2
72
72
f. Terjadi kesalahan menghitung jumlah angka, sehingga persediaan
dicatat lebih besar Rp 6.000.000 dari seharusnya.
Diminta:
a. Buat jurnal penyesuaian/perbaikan atas kesalahn-kesalahan yang
terjadi (semua penjualan dan pembelian selalu dilakukan secara
kredit).
b. Buat perhitungan perbaikan nilai persediaan per 31 Desember
2014.
c. Sajikan laporan Laba/Rugi yang benar.
3. UD Sasa menggunakan cara perpetual dalam mencatat
persediaannya. Berikut ini informasi tentang persediaan untuk bulan
Oktober 2014.
Tanggal Keterangan
Unit
Harga/unit(Rp)
1
Saldo awal
300
30.000
6
Penjualan
200
10
Penjualan
70
14
Pembelian
300
35.000
22
Pembelian
400
27.000
30
Penjualan
650
Diminta:
a. Hitunglah harga pkok persediaan akhir dan harga pokok
penjualan dengan menggunakan cara FIFO,LIFO dan Rata-rata!.
b. Metode manakah yang menghasilkan harga tertinggi dan harga
terendah?
4. UD WGAH menilai persediaan berdasar COMWIL. Berikut adalah
saldo persediaan pada akhir tahun 2014.
Jenis Persediaan
unit
Harga Perolehan Per Unit Harga
Pasar
FIFO
Rata-rata
Per Unit
Televisi
TV 1214
7
1.200.000
1.150.000
1.225.000
TV 0303
4
1.100.000
1.175.000
1.075.000
Lemari Pendingin
LP 2311
10
2.500.000
2.475.000
2.550.000
LP 2709
6
2.575.000
2.525.000
2.600.000
Pengantar Akuntansi 2
73
73
Air Conditioner
AC 2010
8
1.550.000
1.560.000
1.525.000
AC 0910
9
1.490.000
1.575.000
1.500.000
Diminta:
a. Hitung nilai persediaan yang akan dicantumkan di neraca dengan
dasar comwil jika comwil diterapkan pada persediaan secara:
1) Individu/tiap jenis
2) Kelompok
3) Keseluruhan
Asumsikan bahwa cara rata-rata digunakan untuk menentukan
harga pokok.
b. Ulangi permintaan (a) asumsikan bahwa perusahaan
menggunakan cara FIFO untuk menentukan harga pokok.
Pengantar Akuntansi 2
74
74
BAB V
AKUNTANSI AKTIVA TETAP
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A.
B.
C.
D.
E.
KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI AKTIVA TETAP
PENENTUAN HARGA PEROLEHAN AKTIVA TETAP
CARA-CARA PEROLEHAN AKTIVA TETAP
PENYUSUTAN AKTIVA TETAP
PENGELUARAN SELAMA PEMAKAIAN AKTIVA TETAP
Aktiva tetap bagi suatu perusahaan belum tentu menjadi aktiva tetap
bagi perusahaan yang lain. Sebagai contoh bagi perusahaan percetakan,
mesin foto copy merupakan aktiva tetap, sedangkan bagi perusahaan
yang menjual mesin foto copy, maka mesin foto copy tersebut
merupakan aktiva lancar atau persediaan barang dagangan.Bagi hotel
berbintang, spray dan korden mungkin digunakan dalam jangka waktu
kurang dari setahun, sehingga keduanya diklasfikasikan sebagai aktiva
lancar. Berbeda dengan hotel melati, mungkin kedua benda tersebut
digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun sehingga
diklasifikasikan sebagai aktiva tetap. Lalu apa karakteristik aktiva tetap?
A. KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI AKTIVA TETAP
Aktiva tetap adalah yang dibeli dengan tujuan untuk dipergunakan
secara aktif di dalam operasional perusahaan dalam rangka mencari
laba, dan memberikan masa manfaat lebih dari satu periode
akuntansi.
Berdasarkan ada tidaknya wujud fisik, aktiva tetap
dibedakan menjadi aktiva tetap berwujud misalnya tanah, gedung,
mesin, kendaraan dan yang lainnya, dan aktiva tetap tidak tidak
berwujud misalnya paten, trade mark, copyright, franchise dan
goodwill. Berdasarkan terbatas tidaknya masa manfaat, aktiva tetap
dibedakan menjadi aktiva tetap yang memberikan masa manfaat
Pengantar Akuntansi 2
75
75
terbatas misalnya mesin, kendaraan, gedung dan aktiva tetap yang
memberikan masa manfaat tidak terbatas contohnya tanah.
Pembahasan aktiva tetap pada bab ini difokuskan untuk aktiva tetap
berwujud.
B. PENENTUAN HARGA PEROLEHAN AKTIVA TETAP
Menurut prinsip akuntansi, aktiva tetap dicatat sebesar harga
perolehannya. Harga perolehan adalah harga beli/faktur ditambah
dengan semua biaya-biaya yang dikeluarkan sampai dengan aktiva
tetap tersebut siap digunakan dalam kondisi normal.
Harga perolehan diukur dengan kas yang dibayarkan pada suatu
transaksi secara tunai. Dalam hal aktiva tidak dibayar dengan kas,
maka harga perolehan ditetapkan sebesar nilai wajar dari aktiva yang
diperoleh atau aktiva yang diserahkan, yang mana yang lebih layak
berdasarkan bukti atau data yang tersedia. Apabila harga perolehan
telah ditetapkan, maka harga perolehan tersebut akan menjadi dasar
untuk akuntansi selama masa pemakaian aktiva yang bersangkutan.
Biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh aktiva tetap,
berbeda-beda antara satu aktiva tetap dengan aktiva tetap yang lain.
Berikut akan dijelaskan biaya-biaya yang menambah harga perolehan
aktiva tetap pada tiap-tiap jenis aktiva tetap.
1. Tanah
Harga perolehan tanah terdiri dari: harga beli tunai, biaya balik
nama, komisi perantara(kalau ada) dan pajak pembelian. Jika pada
saat dibeli tanah dalam kondisi tidak siap digunakan misalnya
berbatu, tidak rata, dan ditumbuhi tanaman liar, maka biaya yang
dikeluarkan untuk menjadikan tanah siap diisi bangunan,
merupakan harga perolehan tanah.
Jika tanah yang dibeli untuk didirikan bangunan, sementara
sebelumnya pada tanah tesebut terdapat bangunan tua yang
sudah tidak digunakan, maka biaya yang dikeluarkan untuk
meratakan bangunan lama juga merupakan penambah harga
perolehan. Apabila terdapat beberapa komponen dari bangunan
lama yang masih bisa dijual, maka harga jual komponen bangunan
lama
mengurangi
harga
perolehan
tanah.
Pengantar Akuntansi 2
76
76
Contoh UD Ganen membeli sebidang tanah dengan harga Rp
500.000.000 biaya balik nama yang dikeluarkan Rp 2.000.000,
pajak pembelian Rp 2.500.000. Untuk membersihkan tanaman liar
dikeluarkan biaya Rp 200.000 dan pembongkaran gudang lama Rp
500.000. Genteng yang merupakan atap gudang dijual seharga Rp
300.000. Harga perolehan tanah yang dibeli UD Ganen adalah:
Harga beli
Rp 500.000.000
Biaya balik nama
Rp 2.000.000
Pajak pembelian
Rp 2.500.000
Pembersihan
Rp
700.000+
Total pengeluaran
Rp 505.200.000
Hasil penjualan komponen gudang Rp
300.000 –
Total harga perolehan
Rp 504.900.000
Jurnal untuk mencatat perolehan tanah adalah
Tanah
Rp 504.900.000
Kas
504.600.000
2. Gedung
Semua pengeluaran yang berhubungan dengan pembelian atau
pembangunan sebuah gedung harus dibebankan pada rekening
gedung.
Apabila gedung dimiliki melalui pembelian, maka harga
perolehannya meliputi harga beli, biaya notaris. Jika gedung
dibangun sendiri, maka harga perolehannya meliputi semua
pengeluaran untuk membuat gedung, termasuk pembuatan
saluran listrik dan air, jasa arsitek dan biaya IMB. Jika
pembangunan gedung menggunakan dana pinjaman sehingga
menimbulkan biaya bunga, maka biaya bunga boleh dibebankan
sebagai harga perolehan gedung, namun pembebanan tersebut
hanya selama masa konstruksi.
3. Kendaraan
Harga perolehan kendaraan meliputi harga faktur, PPN, biaya
pengecetan dan biaya balik nama. Jika terdapat pembayaran
pajak kendaraan dan premi asuransi yang dibayar dimuka tidak
Pengantar Akuntansi 2
77
77
merupakan komponen harga perolehan, melainkan dibebankan
sebagai biaya operasional pada periode yang bersangkutan.
Contoh: CV WGAH membeli sebuah kendaraan dengan harga Rp
300.000.000, pengeluaran lain yang berhubungan dengan
kendaraan PPN Rp 3.000.000, pengecatan Rp 1.000.000, bea balik
nama 1.500.000, premi asuransi kecelakaan dibayar dimuka Rp
1.200.000 dan biaya pengurusan STNK Rp 3.500.000. Perhitungan
harga perolehan kendaraan adalah sebagai berikut:
Harga faktur
Rp 300.000.000
PPN
Rp 3.000.000
Pengecatan
Rp 1.000.000
Balik nama
Rp 1.500.000
Total harga perolehan
Rp 302.500.000
Jurnal untuk mencatat harga perolehan kendaraan adalah:
Kendaraan
Rp 302.500.000
Pajak kendaraan
Rp 3.500.000
Asuransi dibayar dimuka
Rp 1.200.000
Kas
Rp 307.200.000
4. Mesin
Harga perolehan mesin meliputi harga beli/faktur, PPN, premi
asuransi pengangkutan, biaya pemasangan dan biaya uji coba.
Dalam hal uji coba mesin memerlukan pembelian bahan baku,
maka harga bahan baku merupakan penambah harga perolehan
Jika hasil uji dapat dijual, maka hasil penjualan akan mengurangi
harga perolehan.
Jika terjadi kesalahan dalam pemasangan, maka biaya untuk
memperbaiki kerusakan karena kesalahan pemasangan tidak
boleh menambah harga perolehan mesin dan harus dibebankan
sebagai biaya di luar usaha pada periode terjadinya.
Contoh UD Collour membeli mesin cetak Noritsu dengan harga Rp
250.000.000. PPN 10% dari harga faktur, premi asuransi
pengiriman Rp 200.000, biaya pemasangan Rp 500.000. Untuk
melakukan uji coba cetak dikeluarkan biaya Rp 300.000 dan hasil
uji coba dijual dengan harga Rp 150.000. Pada saat pemasangan
Pengantar Akuntansi 2
78
78
karyawan melakukan kecerobohan sehingga timbul kerusakan dan
mesin harus direparasi yang menghabiskan biaya Rp 400.000.
Perhitungan harga perolehan mesin dan jurnal untuk mencatat
harga perolehan mesin adalah sebagai berikut:
Harga faktur
Rp 250.000.000
PPN
Rp 25.000.000
Premi asuransi pengiriman
Rp
200.000
Biaya pemasangan
Rp
500.000
Biaya bahan uji coba
Rp
300.000+
Jumlah pengeluaran
Rp 276.000.000
Penjualan produk hasil uji coba
Rp
150.000 –
Total harga perolehan mesin
Rp 275.850.000
Jurnal untuk mencatat harga perolehan mesin
Mesin Noritsu
Rp 275.850.000
Biaya di luar usaha
Rp
400.000
Kas
Rp 276.250.000
C. CARA-CARA PEROLEHAN AKTIVA TETAP
Perolehan aktiva tetap memerlukan dana yang relatif besar, oleh
karenanya memperoleh aktiva tetap dengan cara tunai relatif barang
dilakukan.
Jika aktiva tetap diperoleh dengan cara tunai, maka
pencatatan yang dilakukan adalah dengan mendebet aktiva tetap
sebesar harga perolehan dan mengkredit kas.
Selain dengan cara tunai, beberapa cara untuk memperoleh aktiva
tetap adalah:
1. Pembelian Gabungan
Ketika perusahaan melakukan pembelian, kadang terjadi
pembelian dilakukan untuk beberapa jenis aktiva tetap secara
bersamaan dengan harga beli tunggal. Dalam hal seperti itu,
penentuan harga perolehan masing-masing aktiva tetap dilakukan
dengan cara mengalokasikan total harga perolehan ke masingmasing harga perolehan aktiva tetap. Pengalokasian total harga
Pengantar Akuntansi 2
79
79
perolehan ke masing-masing aktiva dapat menggunakan taksiran
harga pasar tiap aktiva tetap.
Contoh PT Anan membeli aktiva tetap yang terdiri dari gedung,
kendaraan dan mesin secara gabungan (lump sum) sebesar Rp
4.000.000.000. Menurut estimasi apraiser nilai pasar masingmasing aktiva tetap adalah gedung Rp 3.500.000.000, kendaraan
Rp 300.000.000 dan mesin Rp 350.000.000. Pengalokasian harga
perolehan gabungan ke masing-masing aktiva tetap dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
Jenis
Aktiva
Gedung
Kendaraan
Mesin
Total
Taksiran
%
Harga Pasar
(Rp)
3.500.000.000 84.34
300.000.000 7.23
350.000.000 8.43
4.150.000.000 100
Perhitungan
Alokasi Harga
Perolehan
(Rp)
84.34%x4.000.000.000 3.373.600.000
7.23%x4.000.000.000
289.200.000
8.43%x4.000.000.000 337.200.000
4.000.000.000
Jurnal untuk mencatat harga perolehan aktiva tetap tersebut
adalah:
Gedung
Rp 3.373.600.000
Kendaraan
Rp 289.200.000
Mesin
Rp 337.200.000
Kas
Rp 4.000.000.000
2. Pembelian Kredit
Pembelian aktiva tetap secara kredit dilakukan dengan alasan
ketidaktersediaan kas dalam jumlah besar. Mengingat nilai aktiva
tetap yang dibeli secara kredit dalam jumlah yang relatif besar,
untuk menjamin kepastian pembayaran, pembeli biasanya akan
mendandatangani wesel bayar, yang secara spesifik menyebutkan
persyaratan mengenai penyelesaian kewajiban. Bunga atas
pembelian kredit tidak termasuk harga perolehan aktiva,
melainkan dicatat sebagai biaya bunga pada periode berjalan.
CV Ananta membeli sebuah mesin pada tanggal 2 Januari 2015
dengan harga Rp 300.000.000, pembayaran pertama 20% dan
sisanya diangsur selama 5 tahun dengan bunga 11% flat
pertahun.
Pengantar Akuntansi 2
80
80
Jurnal untuk mencatat pembelian mesin tersebut adalah:
Tanggal 2 Januari 2015
Mesin
Rp 300.000.000
Kas
Rp 60.000.000
Utang usaha
Rp 240.000.000
Tanggal 2 Februari 2015 (pembayaran angsuran pertama)
Utang usaha
Rp 4.000.000
Biaya bunga
Rp 2.200.000
Kas
Rp 6.200.000
Untuk bulan selanjutnya setiap tanggal 2 selalu dibuat jurnal yang
sama sampai dengan utang usaha tersebut lunas.
Pembelian secara kredit tidak selamanya menyebutkan bunga
secara eksplisit. Bunga bisa juga dinyatakan secara implisit atau
include di dalam harga perolehan mesin.
Contoh
Sebuah peralatan memiliki harga tunai Rp 150.000.000, namun
jika dibeli secara kredit, kontrak pembelian kredit mewajibkan
pembeli membayar uang muka 30% dan sisanya boleh diangsur
dengan angsuran per bulan Rp 3.000.000 selama 5 tahun.
Jurnal untuk mencata pembelian peralatan adalah:
Peralatan Rp 225.000.000
Utang usaha
Rp 180.000.000
Kas
Rp 45.000.000
Pembayaran angsuran pertama pada bulan berikutnya
Utang usaha
Rp 3.000.000
Biaya bunga
Rp 1.250.000*
Kas
Rp 4.250.000
*(Rp 225.000.000-Rp 150.000.000) : 60 bulan
3. Sewa Guna Usaha
Sewa guna usaha sering juga disebut dengan leasing merupakan
cara memperoleh aktiva tetap dengan melakukan sewa namun
Pengantar Akuntansi 2
81
81
pada akhir masa kontrak pihak yang menyewakan atau lessor
memberikan penyewa atau lessee hak opsi untuk membeli aktiva
tetap tersebut(capital lease).
4. Pertukaran
Aktiva tetap bisa juga diperoleh dengan cara ditukar yang kadangkadang disertai dengan penambahan pembayaran atau disebut
dengan tukar tambah. Menurut PSAK No 16 menyatakan bahwa
harga perolehan aktiva tetap yang diperoleh dinilai sebesar nilai
wajar aktiva tetap yang dilepas atau diperoleh, mana yang lebih
andal. Jika nilai wajar/harga pasar baik aktiva lama maupun aktiva
baru tidak dapat ditentukan, maka nilai buku aktiva lama bisa
digunakan sebagai dasar pencatatan. Dalam hal terjadi laba atau
rugi pertukaran aktiva tetap, maka menurut PSAK No 16, laba atau
rugi pertukaran aktiva tetap hanya terjadi pada pertukaran aktiva
tetap tidak sejenis, sedangkan pada aktiva tetap sejenis tidak
terjadi laba/rugi pertukaran karena harga perolehan aktiva tetap
yang baru adalah jumlah yang tercatat dari aktiva tetap lama yang
dilepaskan. Pertukaran aktiva tetap sejenis adalah pertukaran
aktiva tetap yang memiliki sifat dan fungsi yang sama. Sedangkan
pertukaran aktiva tetap tidak sejenis adalah pertukaran aktiva
tetap yang memiliki sifat dan fungsi yang tidak sama, misalnya
truk ditukar dengan mesin atau gedung.
5. Penerbitan sekuritas
Perusahaan dapat menerbitkan saham untuk ditukarkan dengan
tanah, gedung, mesin atau peralatan, dengan mencatat aktiva
tetap tersebut sebesar harga pasar dari aktiva tetap atau surat
berharga mana yang lebih andal. Contoh Perusahaan memperoleh
peralatan dengan menerbitkan 100.000 lembar saham dengan
nilai nominal Rp 1.000 per lembar. Harga pasar saham saat terjadi
pertukaran adalah Rp 1.250 per lembar. Saat itu perusahaan sulit
menentukan nilai pasar peralatan secara objektif. Jurnal untuk
mencatat
perolehan
peralatan
adalah:
Pengantar Akuntansi 2
82
82
Peralatan Rp 125.000.000
Modal saham
Rp 100.000.000
Agio saham
Rp 25.000.000
6. Konstruksi (bangun) sendiri
Ada beberapa alasan perusahaan membuat atau membangun
sendiri aktiva tetap yang diperlukan, diantaranya mengoptimalkan
kapasitas atau tenaga kerja yang menganggur, menginginkan
aktiva tetap yang lebih berkualitas dan melakukan penghematan.
Harga perolehan aktiva tetap yang dibangun sendiri meliputi
semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka membangun aktiva
tetap tersebut, termasuk biaya bunga jika pembangunan
menggunakan dana pinjaman dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Biaya bunga terhitung mulai ketika pengeluaran pertama kali
dilakukan atas proyek dan berlanjut seiring berjalannya proses
kontruksi sampai aktiva tetap selesai dibangun dan siap
digunakan dalam kondisi normal.
b. Tingkat suku bunga yang akan digunakan dalam menghitung
besarnya bunga adalah tingkat suku bunga khusus untuk
konstruksi.
c. Jika periode kontruksi meliputi lebih dari satu periode
akuntansi, maka akumulasi pengeluaran juga mencakup
kapitalisasi bunga tahun sebelumnya.
d. Bunga maksimum yang dapat dikapitalisasi adalah sebesar
total bunga yang terjadi selama periode berjalan, atau total
bunga selama masa kontruksi.
7. Donasi
Menurut prinsip akuntansi aktiva dicatat sebesar harga
perolehannya. Namun dalam hal aktiva tetap diperoleh dari
donatur maka harga perolehannya akan sangat kecil. Dalam hal ini
harga pasar aktiva tetap dapat dipakai sebagai dasar pencatatan
aktiva tetap tersebut. Misalnya CV Ananta memperoleh donasi
berupa mesin dan peralatan dari pemerintah dengan harga pasar
Pengantar Akuntansi 2
83
83
masing-masing Rp 75.000.000 dan Rp 10.000.000. Jurnal untuk
mencatat perolehan aktiva tetap tersebut adalah:
Mesin
Rp 75.000.000
Peralatan Rp 10.000.000
Modal sumbangan
Rp 85.000.000
D. PENYUSUTAN AKTIVA TETAP
Penyusutan aktiva tetap merupakan alokasi secara periodik dan
sistematis dari harga perolehan aktiva tetap selama periode yang
memperoleh masa manfaat aktiva tetap tersebut. Penyusutan terjadi
ketika aktiva tetap telah digunakan dan merupakan beban pada
periode di mana aktiva tetap tersebut digunakan. Penyusutan
dilakukan karena masa manfaat dan potensi aktiva tetap semakin
berkurang. Pengurangan nilai aktiva tetap tersebut dibebankan
menjadi biaya secara bertahap selama masa manfaatnya. Jadi, beban
penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial
dari suatu aktiva tetap. Sifat beban penyusutan secara konsep tidak
berbeda dengan beban yang mengakui pemanfaatan atas premi
asuransi ataupun sewa dibayar dimuka selama periode berjalan.
Beban penyusutan merupakan beban yang tidak memerlukan
pengeluaran kas, karena beban ini merupakan pengalokasian harga
perolehan aktiva tetap menjadi beban selama masa manfaat aktiva
tetap tersebut dengan jurnal:
Beban penyusutan aktiva tetap
xxx
Akumulasi penyusutan aktiva tetap xxx
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya penysutan aktiva tetap
adalah:
1. Harga perolehan aktiva tetap
Merupakan semua pengeluaran yang terjadi dalam rangka
memperoleh aktiva tetap sampai dengan aktiva tetap tersebut
siap digunakan dalam kondisi normal.
2. Nilai residu atau nilai sisa
Merupakan estimasi nilai realisasi pada saat aktiva tetap
tersebut tidak dipakai lagi. Besarnya estimasi nilai residu
Pengantar Akuntansi 2
84
84
tergantung pada kebijakan manajemen mengenai penghentian
aktiva tetap tersebut.
3. Umur ekonomis
Merupakan periode waktu di mana perusahaan dapat
menggunakan aktiva tetap tersebut tanpa harus mengeluarkan
biaya perbaikan secara material. Umur ekonomis berbeda
dengan umur teknis. Umur teknis bisa lebih lama daripada
umur ekonomis. Meskipun secara teknis aktiva tetap masih
dapat digunakan, namun jika aktiva tetap tersebut harus
sering di reparasi dengan mengeluarkan biaya yang material
maka dapat dinyatakan bahwa aktiva tetap tersebut masih
memiliki umur teknis tetapi tidak memiliki umur ekonomis.
Jenis-jenis metode penyusutan aktiva tetap terdiri dari:
1. Metode atas dasar waktu
a. Metode garis lurus
Jumlah beban penyusutan pada tiap periode selalu sama.
Rumus untuk menghitung beban penyusutan adalah:
Harga perolehan-Nilai residu
Penyusutan = ---------------------------------------Umur ekonomis
Misal Awal tahun 2015 Klinik Wiweka membeli peralatan
medis seharga Rp 65.000.000 peralatan tersebut diperkirakan
memiliki umur ekonomis 5 tahun dengan nilai residu Rp
5.000.000.
Besarnya penyusutan per tahun= (65.000.000-5.000.000): 5 =
Rp 12.000.000. Besarnya penyusutan dari tahun 2015 sampai
dengan tahun 2019 selalu sama sebesar Rp 12.000.000
sedangkan jumlah akumulasi penyusutan meningkat, dan nilai
buku semakin menurun. Besarnya nilai penysutan, akumulasi
penyusutan dan nilai buku nampak sebagai berikut.
Pengantar Akuntansi 2
85
85
Akhir Beban penyusutan
tahun
Akumulasi
penyusutan
2015
2016
2017
2018
2019
12.000.000
24.000.000
36.000.000
48.000.000
60.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
Nilai buku
Akhir tahun
65.000.000
53.000.000
41.000.000
29.000.000
17.000.000
5.000.000
b. Metode jumlah angka tahun
Metode jumlah angka tahun mendasarkan pada suatu
pemikiran yang menyatakan bahwa biaya yang berkaitan
dengan penggunaan aktiva tetap sebagian besar disebabkan
oleh dua hal yaitu pemeliharan dan penyusutan aktiva tetap.
Secara normal biaya pemeliharaan besar kecil pada tahun
awal dan membesar pada tahun berikutnya. Metode ini
menginginkan biaya periodik yang berkaitan dengan aktiva
tetap realati stabil selama umur ekonomisnya, sehingga untuk
mengimbangi biaya pemeliharaan yang semakin lama semakin
besar, maka beban penyusutan besar pada tahun awal dan
mengecil pada tahun berikutnya.
Langkah perhitungan penyusutan dengan metode jumlah
angka tahun adalah:
1). Masing-masing tahun diberi angka yang bobotnya sebesar
sisa umur aktiva pada tahun yang bersangkutan. Misalnya
aktiva tetap yang umur ekonomisnya 5 tahun, tahun
pertama diberi angka 5, tahun kedua angka 4 dan
seterusnya. Angka-angka ini disebut angka tahun.
2).Jumlahkan angka-angka tahun pada point 1, yakni
5+4+3+2+1= 15
3). Penyusutan masing-masing-masing tahun adalah dengan
mengalikan “depreciable cost” dengan angka pecahan.
Angka pecahan tersebut, pembilangnya adalah angka
tahun pada tahun yang bersangkutan dan penyebutnya
adalah
jumlah
angka
tahun.
Pengantar Akuntansi 2
86
86
Dengan menggunakan peralatan medis yang dimiliki oleh
klinik wiweka, maka tabel perhitungan penyusutannya
adalah sebagai berikut:
Tahun Pecahan Beban
Akumulasi Nilai
ke
Angka
Penyusutan penyusutan Buku
Tahun
0
65.000.000
1
5/15
20.000.000 20.000.000 45.000.0002
4/15
16.000.000 36.000.000 29.000.000
3
3/15
12.000.000 48.000.000 17.000.000
4
2/15
8.000.000 56.000.000 9.000.000
5
1/15
4.000.000 60.000.000 5.000.000
Jumlah 15/15
60.000.000
2. Metode atas dasar satuan produksi
Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa aktiva tetap yang
diperoleh diharapkan dapat memberikan jasa dalam bentuk hasil
unit produksi tertentu. Metode ini memerlukan suatu estimasi
mengenai total unit produk yang dapat dihasilkan oleh aktiva
tetap.
Harga perolehan-Nilai residu
Tarif penyusutan per unit = ------------------------------------Taksiran jumlah produk
Dengan cara ini jumlah beban penyusutan tiap periode berubahubah sesuai dengan produk yang dihasilkan.
Contoh sebuah mesin cetak yang dibeli pada Januari 2015 dengan
harga perolehan Rp 50.000.000, diakhir umur ekonomisnya mesin
tersebut diperkirakan laku dijual dengan harga Rp 5.000.000.
Taksiran hasil cetakan yang mampu dihasilkan selama umur
ekonomisnya adalah 2.500 unit.
Rp 50.000.000-5.000.000
Tarif penysutan per unit = ---------------------------------2.500
= Rp 18.000 per unit
Misalnya, jumlah produk yang dihasilkan tiap tahun adalah
sebagai
berikut:
Pengantar Akuntansi 2
87
87
Tahun 2015 = 700
Tahun 2016 = 500
Tahun 2017 = 600
Tahun 2018 = 400
Tahun 2019 = 300
Beban penyusutan, akumulasi penyusutan dan nilai buku mesin
cetak selama umur ekonomisnya adalah:
Satuan Beban
Akhir
Akumulasi Nilai
tahun Produk penyusutan penyusutan Buku
ke
0
50.000.000
1
700
12.600.000 12.600.000 37.400.000
2
500
9.000.000 21.600.000 28.400.000
3
600
10.800.000 32.400.000 17.600.000
4
400
7.200.000 39.600.000 10.400.000
5
300
5.400.000 45.000.000 5.000.000
Jumlah 2.500
45.000.000
E. PENGELUARAN SELAMA PEMAKAIAN AKTIVA TETAP
Selama masa pemakaian aktiva tetap, perusahaan mungkin
melakukan pengeluaran-pengeluaran untuk reparasi rutin,
penambahan, atau perbaikan.
Reparasi rutin adalah pengeluaran untuk mempertahankan agar
aktiva tetap beroperasi dengan efisien dan dapat mencapai masa
pemakaian yang diharapkan. Biaya reparasi rutin umumnya tidak
begitu besar jumlahnya, tetapi terjadi berulang-ulang selama umur
ekonomi aktiva tetap. Biaya ini dibebankan sebagai pengeluaran
pendapatan/revenue expenditure selama umur ekonomis aktiva tetap
dengan cara mendebet akun biaya pemeliharaan aktiva tetap pada
periode terjadinya pengeluaran rutin tersebut.
Penambahan dan perbaikan adalah pengeluaran untuk
meningkatkan efisiensi operasi, kapasitas produksi, atau menambah
umur ekonomis aktiva tetap. Pengeluaran ini umumnya dalam jumlah
relatif besar namun jarang terjadi. Pengeluaran untuk penambahan
dan perbaikan akan meningkatkan investasi perusahaan dalm fasilitas
Pengantar Akuntansi 2
88
88
produksi, sehingga disebut pengeluaran modal/capital expenditure.
Perlakuan akuntansinya berbeda-beda tergantung pada sifat
pengeluarannya.
Penambahan, biasanya mengakibatkan bertambah besarnya
fasilitas fisik dan kapasitas produksi. Penambahan dicatat dengan
mendebet akun aktiva yang mengalami penambahan. Misalnya
terjadi penambahan garasi pada suatu gedung, maka pengeluaran
tersebut dicatat dengan mendebet akun gedung.
Perbaikan, bisa diperlakukan dalam berbagai macam bentuk.
Kadang-kadang suatu perbaikan merupakan penggantian suatu
subbagian dari suatu aktiva produktif dengan unit yang baru.
Misalnya gedung yang dulunya menggunakan kap dari kayu karena
sudah lama, maka diganti dengan kap baja ringan.
Pengeluaran untuk perbaikan harus didebet ke akun aktiva yang
bersangkutan. Contoh UD Ganendra melakukan perbaikan untuk
mobil box yang dipakai sebagai armada keliling. Perbaikan besar
berupa turun mesin ini, mengeluarkan biaya Rp 10.000.000
mengakibatkan penambahan umur ekonomis mobil tersebut.
Pengeluaran ini dicatat dengan mendebet akun akumulasi depresiasi
mobil box.
Apabila perbaikan tidak menambah masa manfaat dari suatu
aktiva tetap, maka pengeluaran untuk perbaikan tersebut dicatat
dengan cara yang sama dengan penambahan.
Rangkuman
1. Dilihat dari ada tidaknya wujud fisik aktiva tetap dibedakan aktiva
tetap tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud. Berdasarkan
terbatas tidaknya masa manfaat, aktiva tetap dibedakan menjadi
aktiva tetap yang memberikan masa manfaat terbatas dan aktiva
tetap yang memberikan masa manfaat tidak terbatas.
2. Menurut prinsip akuntansi, aktiva tetap dicatat sebesar harga
perolehannya. Harga perolehan adalah harga beli/faktur ditambah
dengan semua biaya-biaya yang dikeluarkan sampai dengan aktiva
tetap tersebut siap digunakan dalam kondisi normal.
Pengantar Akuntansi 2
89
89
3. Selain dengan cara tunai, aktiva tetap juga dapat diperoleh dengan
cara:
a. Pembelian gabungan
b. Pembelian kredit
c. Sewa guna usaha
d. Pertukaran
e. Penerbitan sekuritas
f. Konstruksi/bangun sendiri
g. Donasi
4. Penyusutan aktiva tetap merupakan alokasi secara periodik dan
sistematis dari harga perolehan aktiva tetap selama periode yang
memperoleh masa manfaat aktiva tetap tersebut. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penyusutan aktiva tetap adalah :
a. Harga perolehan
b. Nilai residu
c. Umur ekonomis
Metode penyusutan aktiva tetap terdiri dari:
a. Metode berdasarkan satuan waktu yang terdiri dari metode garis
lurus dan angka tahun.
b. Metode berdasarkan satuan produksi
5. Selama masa pemakaian aktiva tetap, perusahaan mungkin
melakukan pengeluaran-pengeluaran untuk reparasi rutin,
penambahan, atau perbaikan. Reparasi rutin diperlakukan sebagai
beban pengeluaran dan dicatat dengan mendebet akun
pemeliharaan aktiva tetap pada periode terjadinya. Pengeluaran
untuk penambahan aktiva tetap dicatat dengan mendebet akun
aktiva tetap yang mengalami penambahan. Pengeluaran untuk
perbaikan jika menyebabkan penambahan umur ekonomis aktiva
tetap tersebut, pengeluarannya dicatat dengan mendebet akumulasi
penyusutan aktiva tetap tersebut, sedangkan jika pengeluaran
tersebut tidak menambah umur ekonomis diperlakukan sama dengan
penambahan.
Pengantar Akuntansi 2
90
90
Bahan Diskusi
1. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang harga perolehan termasuk
komponen dari masing-masing harga perolehan aktiva tetap
tersebut.
2. Untuk aktiva tetap yang diperoleh melalui sebuah pembelian
gabungan, bagaimana total harga beli dialokasikan diantara masingmasing aktiva yang dibeli?
3. Aktiva tetap juga dapat diperoleh melalui sewa guna usaha, jelaskan
apa yang dimaksud dengan sewa guna usaha?
4. Bagaimana perlakuan akuntansi untuk mencatat biaya bunga yang
terjadi atas dana yang dipinjam untuk keperluan konstruksi atas
aktiva yang dibangun sendiri?
5. Bagaimana biaya-biaya yang dikeluarkan atas aktiva tetap
diklasifikasikan dan bagaimana perlakuan akuntansinya?
6. Apa makna penyusutan aktiva tetap?
7. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penyusutan aktiva tetap!
8. Metode apa saja yang digunakan untuk menghitung penyusutan
aktiva tetap?
9. Jelaskan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap yang diperoleh dengan
cara donasi!
10.Jelaskan langkah-langkah penghitungan penyusutan aktiva tetap
dengan metode angka tahun!
Latihan Soal
1. UD Ananta membeli mesin pada tanggal 2 Januari 2015 dengan harga
faktur Rp 25.000.000, biaya angkut dan pemasangan Rp 900.000 dan
PPN 10% dari harga faktur. Mesin diperkirakan memiliki umur
ekonomis 5 tahun dengan nilai residu Rp 5.000.000.
Diminta:
a. Buat jurnal untuk mencatat harga perolehan mesin
b. Buat tabel beban penyusutan, akumulasi penyusutan dan nilai
buku mesin.
2. Pada tanggal 3 Maret 2014, UD Ganendra membeli mesin, peralatan
dan kendaraan secara lumpsum dengan membayar Rp 340.500.000.
Pengantar Akuntansi 2
91
91
Harga pasar masing-masing aktiva tersebut jika dibeli secara terpisah
adalah sebagai berikut:
Mesin
Rp 187.500.000
Peralatan
Rp 78.000.000
Kendaraan
Rp 112.500.000
Diminta:
a. Hitunglah harga perolehan masing-masing aktiva tetap
tersebut
b. Buat jurnal untuk mencatat harga perolehan aktiva tetap
tersebut.
3. Pada tanggal 12 April 2014, klinik wiweka membeli sebuah peralatan
medis dengan harga Rp 40.000.000. Biaya angkut dan pemasangan
masing-masing Rp 500.000 dan Rp 400.000. PPN 10% dari harga
faktur. Karena kecerobohan pegawai klinik saat membantu
pemasangan, maka terjadi kerusakan pada peralatan sehingga harus
dikeluarkan biaya reparasi Rp 250.000.
Diminta:
a. Hitunglah harga perolehan peralatan medis tersebut.
b. Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi pembelian peralatan
medis tersebut.
4. Pada tanggal 2 Januari 2015 PT WGAH membeli sebuah mesin
dengan harga Rp 400.000.000. Nilai residu mesin Rp 40.000.000
dengan perkiraan produk sebanyak 1.200.000 unit komponen x.
Perusahaan menggunakan metode unit produk untuk menghitung
biaya depresiasi. Jika tahun 2014 dan 2015 jumlah komponen x yang
dihasilkan masing-masing 15.000 dan 20.000 unit, maka:
a. Hitunglah beban penyusutan tahun 2014 dan 2015
b. Buat jurnal untuk mencatat beban penyusutan tersebut.
Pengantar Akuntansi 2
92
92
BAB VI
AKUNTANSI UTANG LANCAR
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A.
B.
C.
D.
DEFINISI UTANG LANCAR
JENIS UTANG LANCAR
UTANG KONTINJENSI
PENYAJIAN UTANG LANCAR DI NERACA
Dalam rangka mengefisienkan penggunaan kas, seringkali perusahaan
melakukan pembelian secara kredit. Pembelian secara kredit memiliki
keuntungan yakni perusahaan tidak perlu menyediakan modal kerja
dalam jumlah yang relatif besar untuk memenuhi kebutuhan akan
barang jasa untuk menjalankan kegiatan operasional usahanya.
Pembelian barang dagangan secara kredit umumnya dibayar dalam
jangka waktu kurang dari satu periode akuntansi sehingga menimbulkan
utang lancar.
A. DEFINISI UTANG LANCAR
Menurut PSAK No. 9. Paragraf 21 kewajiban(utang) jangka pendek
adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu
tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan. Utang jangka
pendek dapat dikelompokkan menjadi: a. Utang yang jumlahnya
dapat dipastikan di muka, b. Utang yang jumlahnya tergantung
kepada hasil produksi, c. Utang yang jumlahnya ditaskir.
Sedangkan menurut Haryono Jusup, kewajiban lancar adalah
utang yang diharapkan akan dibayar (1) dalam jangka waktu satu
tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan (tergantung mana
yang lebih panjang), dan (2) dengan menggunakan aktiva lancar yang
ada atau hasil dari pembentukan kewajiban lancar yang lain.
Pengantar Akuntansi 2
93
93
B. JENIS UTANG LANCAR
Pembelian barang dan jasa yang dilakukan secara kredit dengan
pembayaran dalam jangka waktu kurang dari satu periode akuntansi
akan menimbulkan utang lancar. Jenis utang lancar terdiri dari:
1. Utang wesel
Pembelian secara kredit yang disertai dengan janji tertulis
menimbulkan utang wesel. Utang wesel ada yang yang berbunga
ada juga yang tidak berbunga. Jika utang wesel tidak berbunga,
maka saat jatuh tempo jumlah yang dibayar sebesar nilai nominal
utangnya.
a. Utang wesel berbunga
Pada tanggal 1 September 2014 UD Gargitha melakukan
pembelian secara kredit dengan menandatangani sebuah
wesel bernilai nominal Rp 75.000.000, bunga 13,5% per tahun,
jangka waktu 6 bulan. Jurnal yang dibuat untuk mencatat
utang wesel tersebut adalah
1 September 2014
Pembelian
Rp 75.000.000
Utang wesel
Rp 75.000.000
31 Desember 2014
Biaya bunga Rp 3.375.000
Utang bunga
Rp 3.375.000
13.5%x4/12xRp 75.000.000
1 Januari 2015
Utang bunga Rp 3.375.000
Biaya bunga
Rp 3.375.000
1 Februari saat wesel jatuh tempo
Utang wesel Rp 75.000.000
Biaya bunga Rp 5.062.500
Kas
Rp 80.062.500
b. Utang wesel tidak berbunga
Jika yang ditandatangani oleh UD Gargitha adalah wesel tanpa
bunga, maka perusahaan penjual akan memotong diskonto
tertentu. Misalnya pada tanggal 1 September 2014, di tanda
Pengantar Akuntansi 2
94
94
tangani wesel tanpa bunga dalam jangka waktu 6 bulan, maka
nilai nominal wesel adalah Rp 80.062.500, namun nilai barang
dan jasa yang diserahkan adlah Rp 75.000.000. Diskonto
sebesar Rp 5.062.500 adalah bunga selama 6 bulan. Jumlah ini
harus dialokasikan selama 6 bulan sejak wesel ditandatangani
sampai dengan pelunasan. Untuk tahun 2014, karena
waktunya 4 bulan, maka alokasinya hanya Rp 3.375.000 sisanya
Rp 1.687.500 untuk tahun 2015. Jurnal yang dibuat oleh UD
Gargitha adalah:
1 September 2014
Pembelian
Rp 75.000.000
Diskonto utang wesel
Rp 5.062.500
Utang wesel
Rp 80.062.500
31 Desember 2014
Biaya bunga
Rp 3.375.000
Diskonto utang wesel
Rp 3.375.000
(mencatat amortisasi diskonto untuk 4 bulan)
1 Februari 2015
Utang wesel
Rp 80.062.500
Kas
Rp 80.062.500
(mencatat pelunasan utang wesel)
2. Utang pajak
Di Indonesia sistem pemungutan pajak yang berlaku adalah self
assesment system yaitu wajib pajak menghitung dan melaporkan
sendiri kewajiban pajaknya. Utang pajak yang harus dihitung dan
dilaporkan baik bagi wajib pajak pribadi maupun wajib pajak
badan adalah:
a. PPN Keluaran
Jika wajib pajak pribadi maupun wajib pajak badan bertindak
selaku Pengusaha Kena Pajak (PKP) maka ketika menyerahkan
Barang/Jasa Kena Pajak, wajib memungut Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) yang disebut dengan PPN Keluaran. PPN tersebut
kemudian di laporkan dan disetorkan ke kas negara, dimana
jumlahnya
10%
dari
BKP/JKP
yang
diserahkan.
Pengantar Akuntansi 2
95
95
Contoh PT WGAH menyerahkan BKP kepada pembeli dengan
harga Rp 25.000.000 belum termasuk PPN, jurnal untuk
mencatat penyerahan BKP tersebut adalah
Kas
Rp 27.500.000
Penjualan Rp 25.000.000
Utang PPN Rp 2.500.000
Paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya, pada saat dilakukan
pelaporan PPN maka jurnal yang dibuat adalah
Utang PPN
Rp 2.500.000
Kas
Rp 2.500.000
b. PPh Badan
Terdapat dua ketentuan pajak penghasilan untuk wajib pajak
badan. Bagi wajib pajak badan yang memiliki peredaran bruto
se tahun di bawah Rp 4.800.000.000 pertahun maka tarif PPh
nya adalah 1% dari peredaran bruto. Sedangkan bagi yang
memiliki peredaran bruto Rp 4.800.000.000 ke atas, maka PPh
terutangnya dihitung dari Penghasilan Kena Pajak (PKP)nya.
Setelah jumlah pajak terutang diketahui maka jurnal untuk
mencatat utang pajak tersebut adalah:
Beban pajak
xxx
Utang PPh
xxx
Pembayaran utang pajak pada bulan berikutnya dicatat dengan
jurnal:
Utang PPh
xxx
Kas
xxx
c. PPh Karyawan
Utang pajak atas penghasilan karyawan timbul pada saat
pembebanan
beban
gaji.
Pada
saat
perusahaan
memperhitungkan beban gaji dan utang pajak atas penghasilan
karyawannya,
maka
jurnal
yang
dibuat
adalah:
Pengantar Akuntansi 2
96
96
Beban gaji dan upah
xxx
Utang gaji dan upah
xxx
Utang PPh karyawan
xxx
(jurnal untuk mencatat pembebanan gaji dan upah)
Pada saat pembayaran gaji jurnalnya adalah:
Utang gaji dan upah
xxx
Kas
xxx
(mencatat pembayaran gaji)
Jika pajak penghasilan karyawan yang dipotong disetorkan ke
kas negara, maka jurnalnya adalah:
Utang PPh karyawan
xxx
Kas
xxx
3. Utang dividen
Dividen adalah pembagian keuntungan kepada pemilik saham.
Dividen terutang pada saat dilakukan pengumuman pembagian
dividen. Misalnya pada tanggal 31 Desember 2014, PT WGAH
mengumumkan pembagian dividen Rp 2.000 per lembar saham,
dengan jumlah saham yang beredar 15.000 lembar. Dividen akan
dibayarkan tanggal 1 Februari 2015. Jurnal untuk mencatat
pengumuman dan pembayaran dividen adalah sebagai berikut:
31 Desember 2014
Laba ditahan
Rp 30.000.000
Utang dividen
Rp 30.000.000
1 Februari 2015
Utang dividen
Rp 30.000.000
Kas
Rp 30.000.000
4. Utang garansi
Utang garansi terjadi ketika perusahaan menjual produk yang
disertai dengan jaminan garansi atas produk yang dijual tersebut.
Utang garansi dicatat pada periode terjadinya penjualan dengan
mendebet akun biaya garansi dan mengkredit akun utang garansi.
Misalnya Tahun
2014 Ganendra elektrik menjual 2.000 unit
barang-barang elektronik dengan harga rata-rata Rp 250.000 per
unit. Harga jual ini meliputi garansi satu tahun untuk suku cadang.
Pengantar Akuntansi 2
97
97
Di perkirakan bahwa 2% produk akan rusak dengan menggunakan
biaya reparasi Rp 40.000 per unit. Di tahun penjulan perusahaan
telah menerima klaim garansi sebanyak 10 buah produk dan
mereparasinya dengan biaya sebesar Rp 400.000. Tanggal 31
Desember 2014, perusahaan perlu menaksir biaya garansi yang
mungkin dikeluarkan di tahun 2015 yang berasal dari penjualan
tahun 2014. Perhitungannya sebagai berikut:
Penjualan
2.000 unit
Persentase taksiran yang rusak
2%
Jumlah taksiran yang rusak
40 unit
Jumlah unit rusak yang sudah direparasi
10 unit
Jumlah unit yang akan direparasi
30 unit
Taksiran biaya reparasi per unit
Rp. 40.000
Taksiran utang garansi
Rp 1.200.000
Jurnal yang dibuat oleh Ganendra Elektrik adalah:
Tahun 2014
Kas
Rp 500.000.000
Penjualan
Rp 500.000.000
(mencatat penjualan 2.000 unit produk dengan harga Rp 250.000
per unit)
Biaya garansi
Rp 400.000
Persediaan suku cadang/utang gaji Rp 400.000
(mencatat biaya garansi yang telah terjadi)
31 Desember 2014
Biaya garansi
Rp 1.200.000
Utang garansi
Rp 1.200.000
(mencatat taksiran utang garansi)
Pada laporan laba rugi tahun 2014 besarnya biaya garansi yang
dilaporkan adalah Rp 1.600.000 yang merupakan bagian dari biaya
pemasaran.
Pengantar Akuntansi 2
98
98
Tahun 2015, realisasi klaim garansi bisa jadi lebih kecil atau lebih
besar dari yang diperkirakan. Selisih biaya garansi yang
sesungguhnya dengan yang diperkirakan dicatat dalam akun
keuntungan atau kerugian atas biaya garansi.
5. Pendapatan diterima dimuka
Penerimaan kas sebelum barang/jasa diserahkan menimbulkan
utang yang disebut pendapatan diterima dimuka.
Misalnya hotel atau penginapan yang menerima uang muka
sebelum tamunya menggunakan fasilitas perusahaan. Demikian
juga dengan perusahaan furniture atau konveksi ataupun jenis
usaha lainnya, mungkin menerima pembayaran dimuka sebelum
barang/jasa diserahkan. Pencatatan atas penerimaan pendapatan
dimuka dan penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
a. Apabila perusahaan menerima pembayaran dimuka dari
pembeli, maka dijurnal dengan mendebet Kas dan mengkredit
Pendapatan diterima dimuka
b. Apabila barang atau jasa telah diserahkan maka dijurnal
dengan mendebet Pendapatan diterima dimuka dan
mengkredit Pendapatan.
Contoh Tanggal 12 April 2014, UD Ananta Furniture menerima
pesanan 500 buah meja belajar dengan harga Rp 75.000 per
buah. Pelanggan membayar uang muka pada tanggal tersebut
10% dari nilai pesanan. Tanggal 12 Mei pesanan diserahkan
dan UD Ananta menerima pelunasan dari pelanggan. Jurnal
yang dibuat oleh UD Ananta Furniture adalah:
12 April 2014
Kas
Rp 3.750.000
Pendapatan diterima dimuka Rp 3.750.000*
12 Mei 2014
Kas
Pendapatan diterima dimuka
Pendapatan
Atau
Pengantar Akuntansi 2
Rp 33.750.000
Rp 3.750.000
Rp 37.500.000
99
99
Pendapatan diterima dimuka
Pendapatan
Kas
Pendapatan
Rp 3.750.000
Rp 3.750.000
Rp 33.750.000
Rp 33.750.000
*500 unitxRp 75.000
DP 10%
Jumlah diterima saat pelunasan
= Rp 37.500.000
= Rp 3.750.000 = Rp 33.750.000
6. Bagian dari utang jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun ini
Kebutuhan perusahaan akan dana dalam jumlah yang besar, dapat
dipenuhi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan
meminjam uang di bank dalam bentuk kredit jangka panjang
dengan jangka waktu lebih dari satu tahun.
Bagian dari utang jangka panjang yang jatuh tempo tiap tahunnya
merupakan utang jangka pendek atau utang lancar.
Misalkan Klinik wiweka meminjam uang di BNI sejumlah Rp
100.000.000 dengan jangka waktu 5 tahun. Pembayaran pokok
pinjaman Rp 20.000.000 disertai dengan bunga merupakan utang
lancar.
C. UTANG KONTINJENSI
Kontinjensi atau lebih dikenal dengan peristiwa atau transaksi yang
mengandung
syarat merupakan transaksi yang paling banyak
ditemukan dalam kegiatan bank sehari-hari. Kontinjensi yang dimiliki
oleh suatu bank dapat berakibat tagihan atau kewajiban bagi bank
yang bersangkutan.
PSAK No. 31 mengatur akuntansi untuk transaksi kontinjensi dalam
suatu perusahaan. Istilah kewajiban bersyarat digunakan untuk
menyatakan kewajiban yang kemungkinan timbulnya tergantung
pada terjadi atau tidaknya satu peristiwa di masa yang akan datang.
Dengan demikian pada tanggal neraca belum terdapat kepastian
mengenai ada tidaknya kewajiban tersebut. Kontinjensi adalah suatu
keadaan yang masih diliputi oleh ketidakpastian mengenai
kemungkinan diperolehnya laba atau rugi oleh suatu perusahaan,
Pengantar Akuntansi 2
100
100
100
yang baru akan terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya
satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang. Transaksi yang
bersifat kontinjensi (bersyarat) ini belum mengikat bank untuk
melakukan tagihan ataupun kewajiban riil saat ini, akan tetapi secara
antisipatif kontinjensi tersebut akan menjadi kewajiban atau tidak
sangat tergantung terjadi atau tidak terjadinya peristiwa yang
berkaitan dengan kontinjensi ini di masa yang akan datang.
D. PENYAJIAN UTANG LANCAR DI NERACA
Dalam laporan keuangan neraca utang lancar disajikan dengan cara:
1. Dilaporkan pada sisi sebelah kanan neraca,
2. disajikan sesuai likiuditasnya, sama seperti aktiva, hutang lancar
yang dapat dengan segera dibayar maka disajikan dalam urutan
yang paling atas,
3. utang terhadap perusahaan afillasi, pemegang saham, karyawan
perusahaan harus dipisahkan dari hutang kepada pihak ketiga
yang independent,
4. aktiva yang dijaminkan dalam penarikan utang lancar harus
diungkapkan dalam laporan keuangan,
5. utang bersyarat harus dijelaskan di dalam neraca,
Rangkuman
1. Menurut PSAK No. 9. Paragraf 21 kewajiban(utang) jangka pendek
adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu
tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan. Utang jangka
pendek dapat dikelompokkan menjadi: a. Utang yang jumlahnya
dapat dipastikan di muka, b. Utang yang jumlahnya tergantung
kepada hasil produksi, c. Utang yang jumlahnya ditaskir.
2. Jenis utang lancar terdiri dari:
a. Utang wesel
b. Utang pajak
c. Utang dividen
d. Utang garansi
Pengantar Akuntansi 2
101
101
101
e. Pendapatan diterima dimuka
f. Bagian dari utang jangka panjang yang jatuh tempo saat ini
3. Istilah kewajiban bersyarat digunakan untuk menyatakan kewajiban
yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidaknya
satu peristiwa di masa yang akan datang. Dengan demikian pada
tanggal neraca belum terdapat kepastian mengenai ada tidaknya
kewajiban tersebut.
4. Ketentuan tentang penyajian utang lancar dineraca adalah: disajikan
disisi kanan neraca, sesuai dengan urutan pelunasannya, utang
kepada pihak yang independent, harus dipisahkan dengan pihak yang
tidak independent, aktiva yang dijaminkan untuk penarikan utang
lancar harus diungkapkan dan utang bersyarat harus dijelaskan dalam
neraca.
Bahan Diskusi
1. Jelaskan bagaimana pencatatan yang dilakukan atas pendapatan
diterima dimuka.
2. Jelaskan langkah-langkah untuk menghitung taksiran utang garansi
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan utang kontinjensi
4. Jelaskan bagaimana pencatatan atas utang dividen
Latihan Soal
1. Buat jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi PT Gargitha berikut
ini:
01-10-2014 Membeli mesin dari Toko Egar dengan harga perolehan
Rp 30.000.000, dengan ketentuan 25% dibayar tunai dan sisanya
dibayar dengan menerbitkan wesel jangka waktu 5 bulan bunga 11%
per tahun
31-12-2014 Mencatat pengakuan utang bunga wesel
01-02-2015 Melunasi utang wesel beserta bunganya
2. PT Karuna menjual barang dagangan dengan memberikan garansi
selama 1 tahun. Berikut adalah data yang berhubungan dengan
penjualan dan taksiran utang garansi tahun 2014.
Saldo taksiran1 Desember 2013
Rp 8.500.000
Pengantar Akuntansi 2
102
102
102
Penjualan tahun 2014
Rp 265.000.000
Biaya garansi yang dikeluarkan tahun 2014
Rp 7.125.000
Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya 5% dari nilai penjualan
akan dikeluarkan untuk biaya garansi dan perusahaan memutuskan
bahwa taksiran tersebut masih layak untuk dipergunakan sebagai
dasar dalam memperkirakan biaya garansi yang akan dikeluarkan
perusahaan.
Diminta:
a.Hitunglah taksiran biaya garansi yang harus dibentuk perusahaan
pada tanggal 31Desember 2014
b. Buat jurnal untuk mencatat transaksi
1). Pengeluaran biaya garansi tahun 2014
2). Pembentukan taksiran biaya garansi tanggal 31 Desember 2014
3. Pada tanggal 2 Januari 2015 UD Ganendra meminjan uang di BRI
sebanyak Rp 300.000.000 dengan bunga 11% per tahun menurun,
dengan biaya provisi 2% dan asuransi 1%. Pembayaran pokok pinjaman
per tahun Rp 60.000.000 disertai bunga dilakukan sejak 2 Januari 2016
sampai dengan 2 Januari 2020.
Diminta:
a. Buat jurnal tanggal 2 Januari 2015 dan 2016.
b. Bagaimana UD Ganendra menyajikan utang tersebut di Neraca per 31
Desember 2015 dan 2016?
4.Berikut ini adalah transaksi-transaksi yang berhubungan dengan utang
wesel PT WGAH:
01.04.14 Membeli peralatan kantor dengan harga perolehan Rp
10.000.000 dengan syarat 2/10,n/30.
10.04.14 Melunasi 50% utang pembelian peralatan kantor tanggal 1
April.
30.04.14 Sisa utang pembelian peralatan tanggal 01.04.14 dilunasi
dengan cara menerbitkan wesel jangka waktu satu tahun,
bunga 13% dibayar saat wesel jatuh tempo.
31.12.2014 Mencatat pengakuan utang bunga wesel
30.04.15 Melunasi utang wesel beserta bunganya.
Diminta: buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Pengantar Akuntansi 2
103
103
103
BAB VII
AKUNTANSI UTANG OBLIGASI
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A. KARAKTERISTIK UTANG OBLIGASI
B. JENIS-JENIS OBLIGASI
C. AKUNTANSI OBLIGASI
Kebutuhan dana dalam jumlah yang besar, misalnya untuk investasi
pada aktiva tetap, keperluan ekspansi menyebabkan perusahaan
mendanai kebutuhan dananya dengan menggunakan utang jangka
panjang.
Utang jangka panjang merupakan utang yang pelunasannya dilakukan
dalam jangka waktu lebih dari satu tahun atau pelunasannya dengan
menggunakan dana yang bukan dari aktiva lancar. Utang jangka panjang
dapat berbentuk utang kredit bank jangka panjang, utang wesel jangka
panjang dan utang obligasi.
A. KARAKTERISTIK UTANG OBLIGASI
Perusahaan yang berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas
(PT), khususnya PT terbuka (Tbk) memenuhi kebutuhan dananya
yang sangat besar dengan menerbitkan surat berharga/sekuritas.
Selain surat berharga berupa saham, surat berharga yang umum
diterbitkan adalah obligasi. Terdapat beberapa keuntungan bagi
debitur memenuhi kebutuhan dananya dengan memilih
menerbitkan obligasi dibandingkan dengan menerbitkan saham,
karena obligasi memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Surat berharga obligasi merupakan surat berharga bersifat
utang, artinya pihak yang menjual/menerbitkan obligasi atau
yang disebut emiten memiliki utang kepada pihak yang
membeli/memegang obligasi atau yang disebut investor.
Hubungan antara penjualan dengan pembeli adalah hubungan
utang
piutang.
Pengantar Akuntansi 2
104
104
104
2. Pemilikan obligasi tidak menimbulkan hak suara dalam
pengelolaan dalam manajemen perusahaan.
3. Pemilik obligasi akan mendapat keuntungan yang bersifat
relatif tetap tergantung dari metode pembayaran bunganya,
sedangkan jika membeli saham mendapatkan diviven yang
relatif tidak tetap karena dividen yang dibayarkan tergantung
dari laba perusahaan.
4. Beban bunga yang dibayarkan oleh pihak penjual obligasi dapat
dikurangkan dari perhitungan laba, sehingga jumlah pajak
menjadi lebih kecil, sedangkan dividen tidak bisa dikurangkan
dalam menghitung laba.
Dengan demikian perbedaan obligasi dengan saham adalah
sebagai berikut:
Letak
Obligasi
Saham
perbedaan
Sifat
Utang
Kepemilikan
Hak
suara Tidak ada
Ada
dalam
pengelolaan
manajemen
perusahaan
Istilah
Bunga
Dividen
keuntungan
Saat pembagian Tergantung
Umumnya
setelah
RUPS
keuntungan
kesepakatan
Stabilitas
Stabil
Kurang stabil
penerimaan
keuntungan
Dapat tidaknya Bunga yang dibayarkan Dividen
yang
mengurangi
kepada
pemegang dibayarkan
kepada
laba
obligasi
dapat pemegang
saham
mengurangi laba
tidak
dapat
mengurangi laba
Pengantar Akuntansi 2
105
105
105
B. JENIS-JENIS OBLIGASI
Obligasi yang diterbitkan oleh emiten jenisnya beragam, sesuai
dengan keinginan emiten. Jenis-jenis obligasi, dilihat dari berbagai
segi antara lain:
1. Ditinjau dari segi peralihan:
a. Obligasi atas unjuk/bearer bonds
Obligasi ini tidak memiliki nama sehingga mudah untuk
dialihkan kepada pihak lain.
b. Obligasi atas nama/registered bonds
Merupakan obligasi yang mencantumkan nama pemiliknya,
sehingga memerlukan persyaratan dan prosedur tertentu
untuk pengalihannya.
2. Ditinjau dari segi jaminan:
a. Obligasi dengan jaminan/secured bonds
Merupakan obligasi yang dijamin dengan jaminan tertentu
yang dapat berbentuk surat-surat atau aktiva tetap.
b. Obligasi tanpa jaminan/unsecured bonds
Yakni obligasi yang hanya disertai jaminan kepercayaan.
3. Ditinjau dari segi cara penetapan dan pembayaran bunga:
a. Obligasi dengan bunga tetap
Merupakan obligasi yang memberikan bunga tetap selama
periode tertentu/flat rate.
b. Obligasi dengan bunga tidak tetap
Merupakan obligasi yang memberikan bunga tidak tetap,
bisa menurun/sliding rate atau mengambang/floating rate.
c. Obligasi tanpa bunga
Yaitu obligasi yang tidak memberikan bunga kepada
pemegangnya, keuntungannya diharapkan dari selisih
antara nilai pembelian dengan nilai pada saat jatuh tempo.
4. Ditinjau dari segi penerbit:
a. Obligasi oleh pemerintah
Merupakan obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, baik
pemerintah pusat, daerah atau perusahaan pemerintah.
Obligasi ini disebut juga surat utang negara/SUN.
b. Obligasi oleh swasta
Pengantar Akuntansi 2
106
106
106
Merupakan obligasi yang diterbitkan oleh pihak swasta.
5. Dilihat dari tanggal jatuh temponya
a. Obligasi ber seri
Yaitu obligasi yang terdiri atas beberapa seri dengan tanggal
jatuh tempo yang berbeda-beda.
b. Obligasi sinking fund
Yaitu obligasi yang memiliki tanggal jatuh tempo yang sama.
C. AKUNTANSI OBLIGASI
Akuntansi obligasi meliputi perhitungan dan pencatatan harga
obligasi, pembelian, penerimaan bunga, bunga berjalan,
penyesuaian atas bunga berjalan, penerimaan pelunasan,
pelepasan dan penyajian utang obligasi di neraca. Berikut dibahas
secara lengkap mengenai hal tersebut.
1. Harga obligasi
Harga bligasi ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu nilai
nominal obligasi, suku bunga nominal, suku bunga efektif,
periode pembayaran bunga dan tanggal jatuh tempo. Harga
obligasi merupakan nilai tunai bunga yang diterima investor
selama jangka waktu investasi ditambah nilai tunai obligasi
yang akan diterima pada tanggal jatuh tempo. Adapun rumus
untuk menghitung harga obligasi adalah sebagai berikut:
Harga obligasi pada tahun 0 =
SBNxNN SBNxNN (SBNxNN) + N
+
+ ...
1
2
n
(1+SBE) (1+SBE)
(1+SBE)
Keterangan:
SBN = suku bunga nominal per periode, yaitu suku bunga yang
tercantum pada sertifikat obligasi.
SBE = suku bunga efektif per periode, yaitu suku bunga yang
berlaku dipasar modal.
NN = nilai nominal
N = periode ke n
Contoh
Pada tanggal 2 Januari 2015 PT WGAH membeli obligasi PT
Wahyu, nominal Rp 100.000.000. Bunga 13% dibayar tiap
Pengantar Akuntansi 2
107
107
107
tanggal 2 Januari. Jatuh tempo 2 Januari 2020. Suku bunga
efektif 10%. Berapa harga obligasi?
13% x Rp 100.000.000 13% x Rp 100.000.000
Harga obligasi 2 jan 15= ----------------------------- + ------------------------------ +
1
2
(1+0,1)
(1+0,1)
=
13% x Rp 100.000.000
----------------------------- +
3
(1+0,1)
= 13% x Rp 100.000.000
------------------------------ +
5
(1+0.1)
= Rp 111.372.360
13% x Rp 100.000.000
------------------------------ +
4
(1+0,1)
Rp 100.000.000
--------------------5
(1+0.1)
Harga obligasi bisa di atas nilai nominal, di bawah nilai nominal
dan sama dengan nilai nominal. Jika suku bunga nominal lebih
tinggi daripada suku bunga efektif, maka obligasi laku di Pasar
Modal di atas nilai nilai nominal, dan sebaliknya. Jika suku
bunga nominal sama dengan suku bunga efektif maka harga
obligasi sama dengan nilai nominalnya.
2. Pembelian
Pencatatan pada saat pembelian obligasi yakni dengan
mendebet akun Investasi obligasi dan mengkredit kas sebesar
harga perolehannya. Harga perolehan merupakan harga beli
ditambah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka
pembelian obligasi seperti komisi dan biaya administrasi.
Dalam hal terjadi bunga berjalan, maka bunga berjalan tidak
termasuk harga perolehan obligasi.
Contoh
Tanggal 2 Januari 2015, PT Karuna membeli obligasi PT sasa,
nominal Rp 150.000.000. Bunga 11% dibayar setahun sekali
tiap 2 Januari. Kurs obligasi 104%. Komisi dan biaya
administrasi Rp 2.0000.000.
Transaksi pembelian dicatat oleh PT Karuna dengan jurnal
sebagai berikut:
Investasi obligasi
Rp 158.000.000
Kas
Rp158.000.000
Perhitungan:
Pengantar Akuntansi 2
108
108
108
Kurs obligasi 104/100xRp 150.000.000
Komisi dan biaya administrasi
Harga perolehan
= Rp 156.000.000
= Rp 2.000.000+
= Rp 158.000.000
3. Penerimaan bunga
Tanggal 2 Januari 2016, PT Karuna memperoleh bunga atas
invetasinya pada PT Sasa. Jumlah bunga yang diperoleh adalah
11% x Rp 150.0000.000=Rp 16.500.000
Jurnal untuk mencatat penerimaan bunga adalah
Kas
Rp 16.500.000
Pendapatan bunga obligasi
Rp 16.500.000
4. Bunga berjalan
Pembayaran bunga obligasi tidak selalu dilakukan sekali
dalam setahun, namun dapat juga tiga kali atau dua kali dalam
setahun, karena demikian maka sangat mungkin terjadi tanggal
pembayaran bunga tidak bersamaan dengan tanggal transaksi
baik pembelian maupun penjualan obligasi.
Perbedaan tanggal pembayaran bunga dengan tanggal
transaksi disebut dengan bunga berjalan. Periode bunga
berjalan adalah sejak tanggal pembayaran bunga terakhir
sampai dengan tanggal transaksi berikutnya.
Dalam menghitung harga perolehan obligasi, bunga berjalan
tidak boleh disertakan sebagai penambah harga perolehan,
karena bunga berjalan yang dibayar oleh investor akan
diterima kembali pada tanggal pembayaran bunga.
Contoh
PT Anita membeli obligasi PT Ananta pada tanggal 1 April
2014. Bunga obligasi 11% per tahun tiap 1 Mei dan 1 Oktober,
nominal Rp 200.000.000 kurs 103%. Biaya komisi dan
administrasi Rp 2.500.000, jangka waktu 5 tahun.
Perhitungan jumlah kas yang harus dibayar oleh investor
sebagai
berikut:
Pengantar Akuntansi 2
109
109
109
Kurs obligasi 103%x Rp 200.000.000
= Rp 206.000.000
Komisi dan administrasi
= Rp 2.5000.000+
Harga perolehan obligasi
= Rp 208.500.000
Bunga berjalan 6 bulan (1 Okt-1 Apr)
(6/12x11%xRp 200.000.000)
= Rp 11.000.000+
Jumlah kas yang harus dibayar
= Rp 219.500.000
Bunga berjalan sebesar Rp 11.000.000 meskipun pengeluaran
yang terjadi pada saat memperoleh obligasi, namun bunga
berjalan tersebut tidak boleh menambah harga perolehan
obligasi, karena pada tanggal 1 Mei PT Anita akan memperoleh
pendapatan bunga yang jumlahnya termasuk pengembalian
bunga pada saat obligasi diperoleh.
Bunga berjalan dapat dicatat sebagai piutang bunga atau
pendapatan bunga tergantung pendekatan yang digunakan,
apakah
menggunakan
pendekatan
Rugi/Laba
atau
menggunakan pendekatan Neraca.
Jika digunakan pendekatan R/L, jurnal untuk mencatat
perolehan obligasi dan bunga berjalan adalah sebagai berikut:
1 April 2014
Investasi Obligasi PT Ananta
Rp 208.500.000
Pendapatan bunga berjalan
Rp 11.000.000
Kas
Rp 219.500.000
Jika bunga berjalan didebet ke pendapatan bunga, maka pada
tanggal penerimaan bunga pertama kali yakni pada tanggal 1
Mei 2014 jurnal yang dibuat adalah sebagai berkut:
Pengantar Akuntansi 2
110
110
110
1 Mei 2014
Kas
Rp 12.833.333
Pendapatan bunga
Rp 12.833.333
Jumlah pendapatan bunga sesungguhnya yang menjadi hak
dan diperoleh oleh PT Anita adalah Rp 12.833.000-Rp
11.000.000 = Rp 1.833.333 yakni bunga selama 1 bulan yaitu
dari tanggal 1 April sampai dengan tanggal 1 Mei
(1/12x11%xRp 200.000.000).
Jika digunaka pendekatan Neraca, untuk mencatat
perolehan obligasi dan bunga berjalan adalah sebagai berikut:
Investasi obligasi
Rp 208.500.000
Piutang bunga
Rp 11.000.000
Kas
Rp 219.500.000
Jika bunga berjalan didebet ke rekening Piutang bunga, maka
pada tanggal 1 Mei 2014, saat penerimaan bunga pertama kali,
jurnal yang dibuat untuk mencatat penerimaan bunga adalah:
1 Mei 2014
Kas
Rp 12.833.333
Piutang bunga
Rp 11.000.000
Pendapatan bunga
Rp 1.833.333
Setelah jurnal ini diinfut, maka akun piutang bunga bersaldo
nol. Pendekatan yang manapun digunakan, menghasilkan hasil
yang sama yakni akun pendapatan bunga bersaldo kredit Rp
1.833.333 yang merupakan pendapatan bunga yang memang
diperoleh PT Anita selama 1 bulan sejak 1 April sampai dengan
1 Mei 2014. Penerimaan bunga pada periode berikutnya
dicatat dengan jurnal mendebet kas dan mengkredit
pendapatan
bunga.
Pengantar Akuntansi 2
111
111
111
5. Penyesuaian atas bunga berjalan
Pada akhir periode akuntansi, harus dibuat jurnal penyesuaian
untuk menyesuaikan hal berikut yaitu:
a. Bunga yang belum diterima jika tanggal bunga tidak tepat
diakhir periode.
Obligasi PT Ananta yang dibeli oleh PT Anita pada contoh
sebelumnya, tanggal pembayaran bunganya tiap 1 Mei dan
1 Oktober, jadi pada tanggal 31 Desember harus dibuat
jurnal penyesuaian untuk mengakui piutang bunga untuk
bulan
November
dan Desember.
Adapun jurnal
penyesuaian untuk mencatat piutang bunga tersebut adalah
sebagai berikut:
31 Desember 2014
Piutang bunga
Rp 3.666.666*
Pendapatan bunga
Rp 3.666.666
*2/12x11%xRp 200.000.000
Pada tanggal 1 Januari 2015, dibuat jurnal pembalik atas
jurnal penyesuaian per 31 Desember 2014, jurnal
pembaliknya adalah:
1 Januari 2015
Pendapatan bunga
Rp 3.666.666
Piutang bunga
Rp 3.666.666
b. Amortisasi agio atau disagio jika harga perolehan tidak
sama dengan nilai nominal.
Jika harga perolehan obligasi di atas nilai nominalnya, maka
akan menimbulkan agio obligasi dan sebaliknya diasgio jika
harga perolehan di bawah nilai nominalnya.
Jurnal untuk mencatat amortisasi agio adalah:
31 Desember
Pendapatan bunga
xxx
Investasi obligasi
xxx
Jurnal untuk mencatat amortisasi disagio adalah:
Pengantar Akuntansi 2
112
112
112
Investasi obligasi
xxx
Pendapatan bunga
xxx
6. Penerimaan pelunasan
Emiten akan melunasi ke investor utang obligasinya pada
tanggal jatuh tempo sebesar nilai nominalnya.
Masih
menggunkan contoh soal obligasi PT Ananta yang dibeli oleh PT
Anita pada tanggal 1 Aril 2014, dengan jangka waktu 5 tahun,
dengan nominal Rp 200.000.000, maka pada tanggal 1 Apri
2019, jurnal yang dibuat oleh PT Anita adalah:
Kas
Rp 200.000.000
Investasi Obligasi
Rp 200.000.000
7. Pelepasan
Apabila obligasi dijual sebelum tanggal jatuh tempo maka
jurnalnya adalah Kas didebet sebesar harga jual bersih
ditambah bunga berjalan kalau ada, dan mengkredit Investasi
obligasi sebesar nilai bukunya. Selisih antara nilai buku dengan
harga jual bersih(tidak termasuk bunga berjalan) diakui sebagai
keuntungan atau kerugian. Jika harga jual lebih tinggi daripada
nilai buku maka diakui sebagai keuntungan dan sebaliknya.
Jika obligasi dibeli dengan harga di atas nilai nominal, maka
nilai buku investasi pada tanggal tertentu adalah sebagai
berikut:
Harga perolehan
xxx
Agio yang sudah diamortisasi
xxx Nilai buku
xxx
Atau
Nilai nominal
xxx
Agio yang belum diamortisasi
xxx+
Nilai buku
xxx
Jika obligasi dibeli dengan harga di bawah nilai nominal, maka
nilai buku investasi pada tanggal tertentu adalah sebagai
berikut:
Pengantar Akuntansi 2
113
113
113
Harga perolehan
Disagio yang sudah diamortisasi
Nilai buku
Atau
Nilai nominal
Disagio yang belum diamortisasi
Nilai buku
xxx
xxx +
xxx
xxx
xxxxxx
8. Penyajian utang obligasi di neraca.
Utang obligasi di neraca disajikan pada kelompok utang jangka
panjang sebesar nilai bukunya. Jika pada tanggal neraca
diketahui nilai pasarnya, maka nilai pasar disajikan dalam tanda
kurung.
Rangkuman
1. Obligasi merupakan surat berharga yang bersifat utang, yang
tidak memiliki hak suara dalam pengelolaan manajemen
perusahaan.
Keuntungannya
disebut
bunga
yang
pembayarannya tergantung kesepakatan. Bunga yang
dibayarkan untuk obligasi dapat dipakai sebagai pengurang
atas laba.
2. Jenis-jenis obligasi dilihat dari berbagai segi yakni: dari segi
peralihan,
jaminan,
pembayaran
dan penetapan
bunga,penerbit dan tangal jatuh tempo.
3. Akuntansi atas utang obligasi meliputi pencatatan atas harga
obligasi, pembelian, penerimaan bunga, bunga berjalan,
penyesuaian atas bunga berjalan, penerimaan pelunasan,
pelepasan dan penyajian utang obligasi di neraca.
Bahan diskusi
1. Bagaimana cara pembeli menentukan besarnya harga obligasi
2. Jelaskan jenis obligasi ditinjau dari segi cara penetapan bunga!
3. Bagaimana penjualan obligasi dicatat dalam pembukuan
debitur?
Pengantar Akuntansi 2
114
114
114
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bunga berjalan!
5. Dari sisi debitur, pendanaan atau pembiayaan dengan cara
menerbitkan obligasi memiliki beberapa keuntungan dibanding
dengan menerbitkan saham. Apa saja keuntungan tersebut?
6. Bagaimana penyajian obligasi di neraca?
7. Bagaimana cara menghitung besarnya keuntungan atau
kerugian saat penjualan obligasi?
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan surat utang negara!
9. Jelaskan apa yang dimaksud dengan agio dan diasagio obligasi!
10. Jelaskan jenis obligasi dilihat dari tanggal jatuh temponya!
Latihan soal
1. Tanggal 3 Maret 2015, PT Ganesha membeli obligasi PT Yaman,
nominal Rp 100.000.000. Bunga 12% dibayar setahun sekali tiap 3
Maret. Kurs obligasi 102%. Komisi dan biaya administrasi Rp
3.0000.000.
Diminta:
a. Buat jurnal perolehan obligasi tanggal 3 Maret 2015
b. Buat jurnal penerimaan bunga tanggal 3 Maret 2016
2. PT Wisesa mengeluarkan obligasi sebagai berikut:
Nominal obligasi
= Rp 11.000 per lembar
Jumlah lembar
= 500 lembar
Bunga
= 12% per tahun
Pembayaran bunga
= tiap tanggal 1 Juli
Jatuh tempo obligasi
= 1 Juli 2015
Obligasi terjual seluruhnya = 1 Juli 2018
Diminta: Hitunglah nilai obligasi pada tanggal 1 Juli 2018, jika suku
bunga efektif:
a. 10%
b. 12%
c. 14%
Pengantar Akuntansi 2
115
115
115
BAB VIII
AKUNTANSI MODAL SAHAM
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu memahami:
A.
B.
C.
D.
E.
F.
DEFINISI DAN JENIS SAHAM
MENJUAL SAHAM SECARA TUNAI
MENJUAL SAHAM SECARA PESANAN
MODAL SUMBANGAN
DIVIDEN
PENYAJIAN MODAL SAHAM DI NERACA
Modal merupakan bagian yang sangat diperlukan untuk dapat
menjalankan kegiatan operasional suatu organisasi. Pada laporan
keuangan modal disajikan pada laporan neraca disisi Pasiva dengan
nama akun yang berbeda sesuai dengan bentuk badan usahanya.
Jika badan usaha berbentuk perusahaan perorangan, maka nama
akum modalnya adalah Modal Pemilik, misalnya Modal Tuan Ganendra,
Modal Tuan Wiweka dan yang lainnya. Jika badan usahanya berbentuk
Firma atau Persekutuan Komanditer (CV) maka nama akun modalnya
sesuai dengan nama-nama pemilik modal badan usaha tersebut, sama
seperti nama akun modal pada badan usaha peroorangan, namun
perbedaannya jika pada badan usaha perorangan hanya terdapat satu
nama pemilik, maka pada badan usaha Firma dan CV terdapat lebih dari
satu nama pemilik modal. Jika badan usahanya berbentuk Perseroan
Terbatas (PT) , maka nama akun modalnya adalah modal saham.
Pembahasan akuntansi modal pada bab ini hanya membahas modal
pada perusahaan perseroan yakni modal saham.
A. DEFINISI DAN JENIS SAHAM
Saham merupakan surat berharga yang bersifat kepemilikan.
Artinya si pemilik saham merupakan pemilik perusahaan. Semakin
besar saham yang dimilikinya, maka semakin besar pula
kekuasaannya di perusahan. Keuntungan yang diperoleh di sebut
Pengantar Akuntansi 2
116
116
116
dividen. Pembagian dividen ditentukan dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).
Pembagian jenis modal menurut undang-undang bagi perusahaan
yang berbentuk PT terdiri dari:
1. Modal dasar, yaitu modal yang pertama kali ada pada saat
perusahaan didirikan.
2. Modal ditempatkan, yaitu modal saham yang sudah dijual
besarnya 25% dari modal dasar.
3. Modal disetor, merupakan modal yang benar-benar telah disetor
yaitu sebesar 50% dari modal yang telah ditempatkan.
4. Saham dalam portefel yaitu modal yang masih dalam bentuk
saham yang belum dijual atau modal dasar dikurangi modal
ditempatkan.
Jenis saham ditinjau dari segi peralihan dan dari segi hak tagih adalah
sebagai berikut:
1. Dari segi peralihan
a. Saham atas unjuk (bearer stock)
Merupakan saham yang tidak mempunyai atau tidak
mencantumkan nama pemiliknya.
b. Saham atas nama (registerd stock)
c. Merupakan saham yang mempunyai atau mencantumkan
nama pemiliknya.
2. Dari segi hak tagih
a. Saham biasa (common stocks)
Saham yang pembagian dividennya dibayar setelah pembagian
dividen saham preferen.
b. Saham preferen (prefered stocks)
Saham yang pembagian dividennya dibayar sebelum
pembagian dividen saham biasa.
B. MENJUAL SAHAM SECARA TUNAI
Perseroan yang menjual saham disebut dengan emiten. Sedangkan
kegiatan penjualannya disebut dengan emisi. Kegiatan penjualan
saham dibantu oleh lembaga yang disebut dengan penjamin emisi
atau underwriter. Terdapat empat jenis penjamin emisi yaitu:
Pengantar Akuntansi 2
117
117
117
1. Full commitment/kesanggupan penuh
Yaitu penjamin emisi mengambil seluruh risiko tidak terjualnya
surat berharga pada batas waktu yang telah ditentukan sesuai
dengan harga penawaran di pasar.
2. Best effort commitment/kesanggupan terbaik
Dalam hal ini penjamin emisi akan berusaha sebaik mungkin untuk
menjualkan surat berharga, namum apabila ada yang tidak laku
dikembalikan kepada emiten.
3. Stand by commitment/kesanggupan siaga
Penjamin berusaha menjual seluruh surat berharga, apabila ada
yang tidak laku maka penjamin bisa membeli dengan harga di
bawah harga pasar.
4. All or none commitment/kesanggupan semua atau tidak sama
sekali.
Penjamin bertugas menjual seluruh surat berharga, apabila ada
yang tidak laku maka emiten membatalkan semua penjualan surat
berharga.
Penjualan saham secara tunai dijurnal dengan mendebet akun kas
sebesar harga kursnya, dan mengkredit akun saham sebesar nilai
nominalnya. Selisih antara harga kurs dengan nilai nominal
merupakan agio dan disagio saham. Agio timbul jika harga kurs
lebih tinggi daripada nilai nominal dan sebaliknya.
Contoh
1). PT WGAH menjual 1.000 lembar saham preferen 7%, nilai
nominal Rp 100.000 dengan kurs 105. Jurnal untuk mencatat
penjualan saham tersebut adalah sebagai berikut:
Kas
Rp 105.000.000
Saham preferen 7%
Rp 100.000.000
Agio saham
Rp 5.000.000
2) PT Karuna menjual 1.000 lembar saham preferen 6%, nilai
nominal Rp 100.000 dengan kurs 98. Jurnal untuk mencatat
penjualan saham tersebut adalah sebagai berikut:
Kas
Rp 98.000.000
Disagio saham
Rp 2.000.000
Saham preferen 6%
Rp 100.000.000
Pengantar Akuntansi 2
118
118
118
3) PT Gargitha menjual 5.000 lembar saham biasa, tanpa nilai
nominal harga yang ditetapkan Rp 20.000 per lembar dengan
harga jual Rp 30.000. Jurnal untuk mencatat penjualan saham
tersebut adalah sebagai berikut:
Kas
Rp 150.000.000
Saham biasa
Rp 100.000.000
Agio saham
Rp 50.000.000
C. MENJUAL SAHAM SECARA PESANAN
Saham yang dijual secara pesanan di catat dengan mengkredit akun
“Modal Saham Biasa Dipesan” sebesar nilai nominalnya, mendebet
akun “kas” sebesar uang muka yang diterima. Selisih harga jual
dengan kas yang diterima didebet ke akun “piutang kepada pemesan
saham biasa dipesan” sedangkan agio dan disagio merupakan selisih
antara nilai nominal dengan harga jual.
Contoh:
Tanggal 23 November 2014 PT Wiweka mendapat pesanan 30.000
lembar saham dari PT Wika, dengan harga per lembar Rp 15.000.
Uang muka 20% nilai nominal saham adalah Rp 14.000 per lembar.
Pesanan akan dibayar tanggal 3 Maret 2015. Jurnal untuk mencatat
penjualan saham adalah:
Kas
Rp 90.000.000
Piutang kepada pemesan saham biasa Rp 360.000.000
Modal saham biasa dipesan
Rp 420.000.000
Agio saham
Rp 30.000.000
Pada tanggal 3 Maret 2015 saat saham dikeluarkan dan tagihan
kepada pemesan diterima, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai
berikut:
Kas
Rp 360.000.000
Modal saham biasa dipesan
Rp 420.000.000
Piutang kepada pemesan saham biasa
Rp 360.000.000
Modal saham biasa
Rp 420.000.000
Pengantar Akuntansi 2
119
119
119
D. MODAL SUMBANGAN
Modal sumbangan terjadi karena adanya sumbangan yang diberikan
kepada perusahaan berupa aktiva tertentu tanpa imbalan.
Penerimaan modal sumbangan mengakibatkan bertambahnya aktiva
dan modal perusahaan. Sumbangan dapat berasal dari pemegang
saham atau donatur.
Pemegang saham mungkin ingin memberi
sumbangan kepada perseroannya dengan memberikan saham yang
dimilikinya. Bagi perseroan hal ini sama dengan memperoleh kembali
sahamnya. Pada saat sumbangan diterima, perseroan tidak membuat
jurnal tetapi membuat suatu catatan atau memorandum. Bila saham
sumbangan dijual, maka perseroan akan membuat jurnal dengan
mendebet akun kas dan mengkredit akun modal sumbangan.
Misalnya salah satu pemegang saham menyumbangkan 15.000
lembar saham biasa. Saham tersebut dijual kembali oleh perseroan
dan laku dengan harga Rp 10.000 per lembar. Catatan dan jurnal yang
dibuat oleh perseroan adalah sebagai berikut:
1. Untuk mencatat penerimaan sumbangan saham:
(catatan/memorandum) diterima sumbangan 15.000 lembar
saham biasa.
2. Untuk mencatat penjualan saham sumbangan
Kas
Rp 150.000.000
Modal sumbangan
Rp 150.000.000
Apabila perseroan menerima sumbangan berupa aktiva lain, maka di
catat dengan mendebet akun aktiva yang bersangkutan dan
mengkredit akun modal sumbangan. Misalnya perseroan menerima
sumbangan berupa sebuah mesin dari donatur, maka sebelum
dilakukan pencatatan harus diperkirakan nilai wajar mesin. Misalnya
nilai wajar mesin adalah Rp 45.000.000, maka jurnal nya adalah:
Mesin
Rp 45.000.000
Modal sumbangan
Rp 45.000.000
E. DIVIDEN
Dividen merupakan pembagian keuntungan kepada pemegang
saham. Dividen yang dibagikan dapat dividen kas dan dividen saham.
Jurnal mendebet akun “Laba Ditahan” dan mengkredit “Utang
Pengantar Akuntansi 2
120
120
120
Dividen” pada saat dilakukan pengumuman pembagian dividen kas.
Pada saat pembayaran dividen jurnal yang dibuat adalah mendebet
kas dan mengkredit utang dividen.
Jika dividen yang dibagikan adalah dividen saham, maka
pembagian dividen dianggap sebagai rekapitalisasi yakni merubah
komposisi modal dari “Laba Ditahan” ke Modal Saham Biasa” sebesar
nilai nominalnya. Agio dan disagio tidak akan timbul jika pada saat
pembagian dividen saham antara nilai nominal saham sama dengan
harga pasarnya. Sebaliknya jika saat pembagian dividen saham harga
pasar lebih tinggi dari pada nilai nominal maka akan timbul agio, dan
sebaliknya.
Contoh
1. PT WGAH memiliki saham beredar sebanyak 8.000 lembar dengan
nilai nominal Rp 6.000 per lembar. Tanggal 30 Desember 2014
diumumkan akan dilakukan pembagian dividen sebesar Rp 2.000
per lembar, dan pembayaran dilakukan tanggal 4 Januari 2015.
Jurnal yang dibuat untuk mencatat pembagian dividen adalah:
Tanggal 30 Des 2014
Laba Ditahan
Rp 16.000.000
Utang dividen
Rp 16.000.000
Tanggal 4 Januari 2015
Utang dividen
Rp 16.000.000
Kas
Rp 16.000.000
2. Misalnya tanggal 1 September 2014, PT WGAH memberikan 1
lembar dividen saham kepada setiap 5 lembar saham. Jumlah
saham PT WGAH yang sekarang beredar 20.000 lembar. Jadi yang
akan dibagikan kepada seluruh pemegang saham adalah 4.000
lembar (20.000 : 5). Jika pada saat dividen saham dibagikan, harga
pasar sahamnya sama dengan nilai nominalnya, maka jurnal yang
dibuat adalah:
Laba ditahan
Rp 24.000.000
Modal saham biasa
Rp 24.000.000*
*Harga pasar Rp 6.000x4.000 lembar
= Rp 24.000.000
Nilai nominal Rp 6.000x4.000 lembar = Rp 24.000.000 Agio atau disagio
=
0
Pengantar Akuntansi 2
121
121
121
Misalnya pada saat pembagian dividen saham harga pasar saham
adalah Rp 7.000 per lembar, maka jurnalnya adalah:
Laba Ditahan
Rp 28.000.000
Modal saham biasa
Rp 24.000.000
Agio saham biasa
Rp 4.000.000
Jika pada saat pembagian dividen saham harga pasar saham
adalah Rp 4.000 per lembar, maka jurnalnya adalah:
Laba Ditahan
Rp 16.000.000
Disagio saham biasa
Rp 8.000.000
Modal saham biasa
Rp 24.000.000
F. PENYAJIAN MODAL SAHAM DI NERACA
Modal disajikan di neraca pada sisi pasiva, di bawah akun utang,
tanpa memperhatikan apakah badan usahanya berbentuk
perusahaan perorangan, Firma, CV maupun perseroan. Khusus untuk
modal saham, penyajiannya di neraca disertai dengan komponen
modal saham yang terdiri dari modal saham biasa, modal saham
preferen jika ada, agio, disagio, dan laba ditahan.
Cara penyajian modal saham di neraca adalah sebagi berikut:
PT WGAH
Neraca per 31 Desember 2014
Utang lancar
Utang jangka panjang
Jumlah utang
Rp 50.000.000
Rp 200.000.000+
Rp 250.000.000
Modal Saham:
Modal saham preferen 5% Rp 300.000.000
Modal saham biasa
Rp 400.000.000
Agio modal saham biasa
Rp 20.000.000+
Rp 720.000.000
Modal saham biasa disetor
Laba ditahan
Rp 30.000.000 +
Total Modal Saham
Rp 750.000.000
Pengantar Akuntansi 2
122
122
122
Rangkuman
1. Saham merupakan surat berharga yang bersifat kepemilikan. Artinya si
pemilik saham merupakan pemilik perusahaan. Semakin besar saham
yang dimilikinya, maka semakin besar pula kekuasaannya di perusahan.
Keuntungan yang diperoleh di sebut dividen. Pembagian dividen
ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. Penjualan saham secara tunai dijurnal dengan mendebet akun kas
sebesar harga kursnya,
dan mengkredit akun saham sebesar nilai
nominalnya. Selisih antara harga kurs dengan nilai nominal merupakan
agio dan disagio saham. Agio timbul jika harga kurs lebih tinggi daripada
nilai nominal dan sebaliknya.
3. Saham yang dijual secara pesanan di catat dengan mengkredit akun
“Modal Saham Biasa Dipesan” sebesar nilai nominalnya, mendebet akun
“kas” sebesar uang muka yang diterima. Selisih harga jual dengan kas
yang diterima didebet ke akun “piutang kepada pemesan saham biasa
dipesan” sedangkan agio dan disagio merupakan selisih antara nilai
nominal dengan harga jual.
4. Jika perusahaan menerima modal sumbangan maka pada saat
diterimanya modal sumbangan tidak dilakukan penjurnalan, namun
hanya dibua catatan memorial saja. Ketika modal sumbangan tersebut
dijual, maka jurnalnya adalah mendebet akun kas dan mengkredit akun
modal sumbangan. Modal sumbangan dapat berupa aktiva. Penerimaan
modal sumbangan yang berupa aktiva dijurnal dengan mendebet akun
aktiva dan mengkredit akun modal sumbangan sebesar nilai wajar dari
aktiva yang diterima.
5. Jenis dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dapat berupa
dividen kas dan dividen saham. Jika dividen yang dibagikan berupa
dividen kas, maka pada saat pengumuman jurnal nya adalah mendebet
akun laba ditahan dan mengkredit akun utang dividen. Sedangkan jika
dividen yang dibagikan dividen saham, maka jurnalnya mendebet akun
laba ditahan dan mengkredit akun modal saham.
6. Di neraca modal saham disajikan disisi pasiva setelah akun utang disertai
dengan komponen modal saham yang terdiri dari saham preferen,
saham
biasa,
agio,
disagio
dan
laba
ditahan.
Pengantar Akuntansi 2
123
123
123
Diskusi
1. Terdiri dari apa saja modal perseroan?
2. Bagaimana akuntansi penjualan saham secara pesanan?
3. Bagaimana akuntansi untuk modal sumbangan?
4. Mengapa penyajian modal saham di neraca disertai dengan
komponennya?
5. Jika anda bertindak sebagai underwriter, jenis underwriter mana yang
akan anda pilih, mengapa?
6. Jelaskan akuntansi penjualan saham secara tunai!
Latihan Soal
1. Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi pengeluaran saham PT
Gargitha berikut:
03-03-2015 Mengeluarkan 5.000 lembar saham biasa nominal Rp 10.000
per lembar di jual secara tunai dengan harga Rp 15.000 per
lembar
12-04-2015 Mengeluarkan 3.000 lembar saham preferen dengan
nominal Rp 8.000 per lembar. Saham tersebut dijual secara
tunai dengan harga Rp 12.000 per lembar.
2. PT Baruna menjual saham secara pesanan, berikut adalah transaksi yang
berhubungan dengan pengeluaran saham untuk bulan April 2015:
04-04-15 Menerima pesanan 1.000 lembar saham biasa nominal Rp
20.000 per lembar. Dalam transaksi ini pemesan membayar
uang muka sebesar 25% dari harga saham.
24-04-15 Menerima pembayaran 50% piutang pesanan saham.
30-04-15 Menerima pelunasan sisa piutang pesanan saham.
Diminta buatlah jurnal transaksi di atas.
Pengantar Akuntansi 2
124
124
124
Daftar Pustaka
Al. Haryono Jusup. Dasar-dasar Akuntansi Jilid 2. Edisi 6. Bagian
Penerbitan STIE YKPN. Yogyakarta. 2003.
Eka Noor Asmara. Buku Soal Latihan Pengantar Akuntansi II. Seri A.
Pusat Penerbitan Akademi Akuntansi YKPN. Yogyakarta.
1995.
Glenn L. Johnson and James A. Gentry, Jr. Principles of Accounting
Introductory. Eight edition. Modern Asia Editions. Japan.
2008.
Hery. Soal-Jawab Akuntansi Menengah. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
2010.
Hery. Akuntansi Aset, Liabilitas, Dan Ekuitas. Penerbit PT Gramedia
Widiasarana Indosnesia. Jakarta. 2014.
Ikatan Akuntan Indonesia. Standar Akuntansi Keuangan. Penerbit
Salemba Empat. Jakarta. 2002.
Kasmir. Bank&Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi keenam. Penerbit PT
Raja Grafindo Persada. Jakarta Utara. 2004.
Mas’ud Machfoedz. Akuntansi Keuangan Menengah. Buku 1. Edisi 2.
Penerbit BPFE.Yogyakarta. 1999.
Nyoman Trisna Herawati. Buku Ajar Pengantar Akuntansi II. Fakultas
Ilmu Sosial. Undiksha. 2012.
Slamet Sugiri. Akuntansi Pengantar 2. Penerbit UPP-AMP YKPN.
Yogyakarta. 2009.
Zaki Baridwan. Intermediate Accounting. Edisi Ketujuh. Penerbit BPFE.
Yogyakarta. 1992
Pengantar Akuntansi 2
125
125
125
Download