Uploaded by User69096

kinerja dan mutu pelayanan keperawatan

advertisement
KINERJA DAN MUTU
PELAYANAN
KEPERAWATAN
PENGERTIAN
 Swanburg dalam Nursalam (2002) merupakan alat yang paling
dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber
daya manusia dan produktivitas .
 hasil atau keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama
periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan
dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih
dahulu dan telah disepakati bersama .
 performance, menurut The Scribner-Bantam English Dictionar y
 melakukan, menjalankan, melaksanakan (to do or carry out, execute);
 memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (to
discharge of fulfill; as vow);
 melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or
complete an understanding); dan
 melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do
what is expected of a person machine).
ASPEK KINERJA MENURUT MITCHEL, T.R.
DAN LARSON DALAM RIDUWAN DAN
KUNCORO (2007)
kualitas hasil kerja (quality of work)
kemampuan (capability)
prakarsa/inisiatif (initiative)
komunikasi (communication)
ketepatan waktu (promtness)
KINERJA PERAWAT, GILLIES 1996 :
 Kemampuan perawat dalam melaksanakan tugas asuhan
keperawatan. Hal serupa juga dikemukakan oleh Nursalam
(2002) di mana kinerja perawat merupakan keberhasilan
pelaksanaan asuhan keperawatan .
 Kinerja perawat dapat diukur baik oleh organisasi yang
bersangkutan dan dilihat dari persepsi pasien. Kinerja perawat
yang diukur dari persepsi pasien lebih dominan pada penilaian
kinerja pelayanan keperawatan .
 Pengertian pelayanan keperawatan adalah bentuk pelayanan
profesional yang merupakan bagian internal dari pelayanan
kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
berbentuk bio-psiko-sosio-spriritual yang komprehensif ditujukan
kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun
sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia .
 Pelayanan keperawatan diberikan dalam bentuk asuhan
keperawatan yang dilakukan melalui proses pengkajian terhadap
bentuk utama tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia,
penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan,
pelaksanaan tindakan dan pengevaluasian (Dep.Kes RI, 2002).
ASUHAN KEPERAWATAN BERMUTU MNRT PERSEPSI
PARA PELAKSANA KEPERAWATAN AKAN DPT
DIPENUHI TERGANTUNG DR BBRP FAKTOR YAITU :
a. apabila perawat diberikan kewenangan utuh untuk
mendesain, mengatur, melaksanakan, dan mengevaluasikan
pelayanan keperawatan yang diberikan;
b. pelayanan keperawatan diberikan dalam lingkungan kerja
praktik keperawatan profesional;
c. kualifikasi dan jumlah tenaga keperawatan memadai;
d. tersedianya sarana dan prasarana yang dapat
memperlancar kegiatan keperawatan seperti peralatan
medik (obat-obatan, set infus, katater, dll), peralatan
keperawatan (alat tenun cukup, materi pencegahan infeksi,
nosokomial, dll), peralatan pendukung keperawatan
(formulir rencana keperawatan, dll);
e. diberlakukannya sistem penghargaan (promosi dan
kompensasi) memadai yang memungkinkan perawat tidak
harus berpikir tentang kepentingan diri, pendidikan, dan
masa depan karirnya.
BENTUK PELAYANAN KEPERAWATAN
TERBAGI MENJADI 6 ASPEK
PENANGANAN, YAITU:
1. Pelayanan keperawatan tunggal dan kelompok.
2. Pelayanan keperawatan umum dan spesialis.
3. Pelayanan keperawatan di rumah sakit dan di luar
rumah sakit.
4. Pelayanan keperawatan klien sakit dan klien sehat.
5. Pelayanan keperawatan individual, keluarga,
kelompok, dan komunitas.
6. Pelayanan keperawatan medis dan kesehatan
masyarakat.
KOMPONEN PELAYANAN YANG
BERHUBUNGAN DGN KEPUASAN PASIEN
MNRT SUPRANTO (2001):
A . Reliability (Kehandalan)
1.
2.
3.
4.
Perawat menerima pasien dengan cepat, kurang dari 15 menit;
perawat memberi pelayanan dengan cepat dan tepat;
pelayanan di ruang instalasi gawat darurat dijalani selama 24 jam;
prosedur pelayanan tidak berbelit-belit.
B. Responsiveness (Ketanggapan)
1. Perawat bersedia mendengar dan menanggapi keluhan pasien;
2. perawat harus terampil dalam menjalankan tugasnya, dengan jalan
berpelatihan secara rutin;
3. sebelum melakukan tindakan, perawat memberikan informasi pada
pasien;
4. perawat merespon keluhan pasien;
5. perawat merespon semua pertanyaan pasien;
6. perawat memberikan perawatan dengan serius.
C. Assurance (Jaminan Pelayanan)
1.
2.
3.
4.
Perawat memberikan pelayanan dengan sopan santun;
perawat memberikan pelayanan dengan sabar;
ketelitian perawat dalam memberikan pelayanan;
perawat bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan.
D. Empathy (Empati)
1. Perawat selalu perhatian kepada pasien;
2. perawat selalu memperhatikan keluhan pasien dan keluarga.
E. Tangibles (Keberadaan)
1.
2.
3.
4.
Perawat berpenampilan bersih dan rapi;
kesiapan peralatan untuk memberikan pelayanan;
kelengkapan peralatan yang dibutuhkan dalam pelayanan;
penataan ruang yang tepat, bersih, rapi, dan nyaman.
PENILAIAN KINERJA PERAWAT
(PERFORMANCE APPRAISAL):
 Pengukuran/penilaian kinerja ( performance appraisal) adalah
proses melalui mana organisasi -organisasi mengevaluasi atau
menilai prestasi kerja.
 Kegunaan pengukuran prestasi kerja antara lain untuk
perbaikan prestasi kerja, penyesuaian -penyesuaian
kompensasi, keputusan-keputusan penempatan, kebutuhan kebutuhan latihan dan pengembangan, perencanaan dan
pengembangan karier, penyimpangan -penyimpangan proses
staf fing, ketidakakuratan informasional, kesalahan -kesalahan
desain pekerjaan, kesempatan kerja yang adil, untuk
memenuhi tantangan-tantangan eksternal, serta untuk
mengetahui efektifitas kerja.
 Penilaian hendaknya memberikan suatu gambaran akurat
mengenai kinerja. Untuk mencapai tujuan ini, sistem penilaian
harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan ( job-related),
praktis, mempunyai standar -standar dan menggunakan berbagai
ukuran yang dapat diandalkan. Job-related berarti bahwa sistem
menilai perilaku-perilaku kritis yang mewujudkan keberhasilan
organisasi. Sedangkan suatu sistem disebut praktis bila
dipahami atau dimengerti oleh para penilai dan karyawan.
 Di samping harus “job-related” dan praktis, evaluasi kinerja
memerlukan standar-standar pelaksanaan kerja ( performance
standar t), dengan mana prestasi kerja diukur. Agar efektif,
standar hendaknya berhubungan dengan hasil -hasil yang
diinginkan pada setiap pekerjaan. Lebih lanjut, evaluasi juga
memerlukan ukuran prestasi kerja yang dapat diandalkan
(performance measures).
MANFAAT PENILAIAN KERJA, NURSALAM
(2002) YAITU:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Meningkatkan prestasi kerja staf baik secara individu atau kelompok
dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk memenuhi
kebutuhan aktualisasi diri dalam kerangka pencapaian tujuan pelayanan
RS.
Peningkatan yang terjadi pada prestasi staf secara perorangan pada
gilirannya akan mempengaruhi atau mendorong SDM secara
keseluruhannya.
Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan tujuan
meningkatkan hasil kar ya dan prestasi dengan cara memberikan umpan
balik kepada mereka tentang prestasinya.
Membantu RS untuk dapat menyusun program pengembangan dan
pelatihan staf yang lebih tepat guna, sehingga RS akan mempunyai
tenaga yang cakap dan trampil untuk pengembangan pelayanan
keperawatan di masa depan.
Menyediakan alat dan sarana untuk membandingkan prestasi kerja
dengan meningkatkan gajinya atau sistem imbalan yang baik .
Memberikan kesempatan kepada pegawai atau staf untuk mengeluarkan
perasaannya tentang pekerjaannya atau hal lain yang ada kaitannya
melalui jalur komunikasi dan dialog, sehingga dapat mempererat
hubungan antara atasan dan bawahan.
PROSES KEGIATAN PENILAIAN KINERJA
PERAWAT(BEACH DALAM NURSALAM,
2002)
1. Merumuskan tanggung jawab dan tugas yang harus dicapai
oleh staf keperawatan. Rumusan tersebut telah disepakati
oleh atasannya sehingga langkah perumusan tersebut dapat
memberikan kontribusi berupa hasil.
2. Menyepakati sasaran kerja dalam bentuk hasil yang harus
dicapai oleh karyawan untuk kurun waktu tertentu dengan
penempatan standar prestasi dan tolak ukur yang telah
ditetapkan.
3. Melakukan monitoring, koreksi, dan memberikan kesempatan
serta bantuan yang diperlukan oleh stafnya.
4. Menilai prestasi kerja staf dengan cara membandingkan
prestasi yang dicapai dengan standar atau tolak ukur yang
telah ditetapkan.
5. Memberikan umpan balik kepada staf/karyawan yang dinilai.
METODE DAN ALAT UKUR PENILAIAN
KINERJA PERAWAT GILLIES 2000:
1. Tingkatan kerja
Menurut Gillies (2000) tingkatan merupakan pengertian
evaluasi kerja yang paling sederhana, cepat, dan tepat.
Tingkatan hanya memberikan evaluasi kerja secara
kasar, karena setiap pekerjaan dibandingkan sebagai
keseluruhan dengan pekerjaan yang lainnya di dalam
departemen. Tingkatan terdiri dari pekerjaan yang
disusun dalam suatu susunan dari kekomplekan yang
tinggi sampai yang rendah. Walaupun tingkatan
membedakan pekerjaan dari yang bernilai besar sampai
bernilai kecil bagi kantor perwakilan, tingkatan tidak
memperlihatkan tingkatan perbedaan nilai di antara
pekerjaan yang tingkatannya berbeda-beda dalam
susunan.
2. Klasifikasi kerja
Menurut Gillies (2000) dalam metode ini, seperti juga
yang lainnya, data pekerjaan harus dikumpulkan dan
gambarannya dicatat sebelum evaluasi dilakukan. Sekali
langkah pendahuluan ini dijalankan, komite evaluasi
kerja harus memilih faktor-faktor yang dapat dibenarkan
untuk dipertimbangkan apabila pekerjaan kelompok
diberi derajat. Sejumlah keperluan derajat pekerjaan
tergantung pada ukuran kantor perwakilan dan besarnya
keahlian serta tanggung jawab dalam keseluruhan
tekanan kerja.
3. Metode Faktor Perbandingan
Faktor perbandingan merupakan teknik kuantitatif dimana
setiap pekerjaan di seluruh departemen
perawatan
dibandingkan dengan yang lainnya, satu demi
satu
(Youngkin dalam Gillies, 2000).
4. Sistem Poin
Setiap pekerjaan dipecah menjadi faktor-faktor yang
dapat dibenarkan, suatu urutan nilai yang diserahkan
kepada
setiap
faktor
yang
berhubungan
dengan
kepentingannya
yang
relatif,
dan
poin-poin
yang
diserahkan setiap faktor yang merupakan suatu jumlah
ruang keseluruhan nilai poin dari pekerjaan. Sebagai
langkah akhir, seluruh poin diubah menjadi nilai dollar, dan
pekerjaan diberikan tingkatan dari tingkat pembayaran
yang paling tinggi sampai yang paling rendah (Folts dalam
Gillies, 2000).
TEKNIK-TEKNIK PENILAIAN YANG
BERORIENTASI PADA MASA LALU
MENURUT HANDOKO (2001)
1. Rating scale
 Pada metode ini, evaluasi subyektif dilakukan oleh
penilai terhadap prestasi kerja dengan menggunakan
skala tertentu dari rendah sampai tinggi.
2. Checklist
 Metode penilaian checklist dimaksudkan untuk
mengurangi beban penilai. Penilai tinggal memilih
kalimat-kalimat atau kata-kata yang
menggambarkan prestasi kerja dan karakteristik
perawat.
3. Metode peristiwa kritis
 Metode ini mendasarkan pada catatan penilai yang menggambarkan
perilaku sangat baik atau sangat jelek dalam kaitannya dengan
pelaksanaan kerja di mana sangat berguna dalam memberikan umpan
balik kepada pegawai, dan mengurangi kesalahan kesan terakhir.
4. Field Review Method (Metode Peninjauan Lapangan)
 Dengan metode ini, wakil ahli departemen personalia turun ke
“lapangan” dan membantu para penyelia dalam penilaian mereka.
5. Tes dan obser vasi prestasi kerja
 Bila jumlah pekerjaan terbatas, penilaian prestasi kerja bisa didasarkan
pada tes pengetahuan dan ketrampilan. Agar berguna tes harus reliabel
dan valid.
6. Metode evaluasi kelompok
 Metode penilaian kelompok berguna untuk pengambilan keputusan
kenaikan upah, promosi dan berbagai bentuk penghargaan
organisasional karena menghasilkan rangking dari yang terbaik sampai
dengan terjelek.
SEDANGKAN TEKNIK-TEKNIK PENILAIAN
YANG BERORIENTASI PADA MASA DEPAN
MENURUT HANDOKO (2001)
1 . Penilaian Diri (Self- Appraisals)
 Berguna bila tujuan evaluasi adalah untuk pengembangan diri.
2. Penilaian Psikologis (Psychological Appraisals)
 Digunakan untuk menilai potensi di waktu yang akan datang,
melalui wawancara, tes psikologi, diskusi review dan lain-lain.
3. Pendekatan Management By Objectives (MBO)
 Setiap karyawan dan penyelia secara bersama-sama
menetapkan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran pelaksanaan
kerja di waktu yang akan datang.
4. Teknik Pusat Penilaian
 Teknik ini merupakan bentuk penilaian yang distandarisasikan
di mana tergantung pada berbagai tipe penilaian dari penilai.
STANDAR INSTRUMEN PENILAIAN KERJA
PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN
ASKEP KEPADA KLIEN (PPNI 2000):
1 . Standar I: Pengkajian Keperawatan
 Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara
sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan.
 Kriteria pengkajian keperawatan, meliputi:
a. Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, observasi,
pemeriksaan fisik serta dari pemeriksaan penunjang.
b. Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang yang terkait, tim
kesehatan, rekam medis, dan catatan lain.
c. Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi:
(1) Status kesehatan klien masa lalu.
(2) Status kesehatan klien saat ini
(3) Status biologis-psikologis-sosial-spiritual.
(4) Respon terhadap terapi.
(5) Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal.
(6) Resiko-resiko tinggi masalah.
2 . St a n da r II: D i a g nosa Ke pe rawat a n
 Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan diagnosa
keperawatan. Adapun kriteria proses:
a. Proses diagnosa terdiri dari analisis, interpretasi data, identifikasi masalah
klien, dan perumusan diagnosa keperawatan.
b. Diagnosa keperawatan terdiri dari: masalah (P), Penyebab (E), dan tanda
atau gejala (S), atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE ).
c. Bekerjasama dengan klien, dan petugas kesehatan lain untuk memvalidasi
diagnosa keperawatan.
d. Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data
terbaru.
3 . St a n da r III: Pe re n c anaa n ke pe rawat an
 Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan
meningkatkan kesehatan klien.
 Kriteria prosesnya, meliputi:
a. Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan, dan rencana
tindakan keperawatan.
b. Bekerjasama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.
c. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
d. Mendokumentasi rencana keperawatan.
4 . S t a n d a r I V: I m p l e m e n t a s i
 Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana asuhan
keperawatan.
 Kriteria proses, meliputi:
a. Bekerjasama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.
b. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
c. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien.
d. Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep, keterampilan
asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan.
e. Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan
respon klien.
5 . S t a n d a r V: E v a l u a s i Ke p e r awat a n
 Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan dalam
pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan.
 Adapun kriteria prosesnya:
a. Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara komprehensif, tepat
waktu dan terus menerus.
b. Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur perkembangan ke arah
pencapaian tujuan.
c. Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan teman sejawat.
d. Bekerjasama dengan klien keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan
keperawatan.
e. Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.
PENILAIAN PELAKSANAAN KERJA PERAWAT SERING
DITEMUKAN BERBAGAI PERMASALAHAN ANTARA
LAIN MENURUT GILLIES DALAM NURSALAM (2002):
1. Pengaruh halo effect
Pengaruh halo effect adalah tendensi untuk menilai pelaksanaan
kerja
bawahannya terlalu tinggi karena salah satu alasan.
Misalnya pegawai
yang dekat dengan penilai keluarga
dekat akan mendapat nilai yang tinggi dan sebaliknya pegawai
yang sering menyatakan pendapat yang tidak
sesuai dengan
pendapat penilai akan mendapat nilai yang rendah.
2. Pengaruh horn
Pengaruh horn adalah kecenderungan untuk menilai
pegawai lebih rendah dari pelaksanaan kerja yang
sebenarnya
karena
alasan-alasan
tertentu.
Seorang
pegawai yang pelaksanaan kerja di atas tingkat rata-rata
sepanjang tahun sebelumnya namun dalam beberapa hari
penilaian pelaksanaan kerja tahunannya telah melakukan
kesalahan terhadap perawatan pasien atau
super visi
pegawai, cenderung menerima penilaian lebih rendah
daripada penilaian sebenarnya.
MANGKUNEGARA (2005 : 5), FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA
a. Faktor kemampuan (ability)
 Secara psikologis, kemampuan pegawai terdiri dari potensi (IQ) dan
kemampuan reality (knowledge+skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ
daiatas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk
jabatannya dan tampil dalam mengerjakan sehari-hari, maka ia akan
lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu,
pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan
keahliannya (the right man in the place, the right man on the right job ).
b. Faktor motivasi
 Motivasi terbentuk dari sikap (atitude) seorang pegawai dalam
menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan
orhanisasi (tujuan kerja). Sikap mental merupakan kondisi mental yang
mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara
maksimal. Sikap mental seorang pegawai harus sikap mental yang siap
secara (siap secara mental, fisik, tujuan, dan situasi). Artinya, seorang
pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami tujuan
utama, dan target kerja yang akan dicapai, mampu memanfaatkan, dan
menciptakan situasi kerja.
J. SUPRIHANTO (1991, HAL. 7), DALAM NN
(2009), ADA BEBERAPA FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PRESTASI KERJA KARYAWAN
A. Upah / Gaji
 Ialah satu faktor dari pada keinginan untuk bekerja adalah untuk
mendapatkan gaji atau upah berupa uang yang dibayarkan perusahaan
sebagai imbalan jasa yang diberikan oleh karyawan. Gaji atau upah yang
diterima karyawan tersebut merupakan jaminan biaya hidup.
 Berdasarkan upah atau gaji yang diterima oleh karyawan sdisesuaikan
dengan pengorbanan yang dilakukan. Semakin tinggi upah yang
diberikan maka karyawan akan berusaha untuk berkerja sebaik mungkin
sehingga aklirnya akan menyebabkan terjadinya peningkatan terhadap
prestasi kerja mereka.
B. Lembur / Premi
 Bagi karyawan yang berkerja melebihi standar dan jam kerja yang telah
ditetapka maka peruahaan akan memberikan premi atau upah lembur
dan premi ini telah ditetapkan sebelumnya. Semakin tinggi premi dan
lembur yang diberikan perusahaan maka karyawan akan semakin giat
bekerja dan meningkatkan prestasinya untuk mendapatkan upah yang
lebih tinggi dari biasanya.
C . Pe n g h a r g a a n - pe n g h a r g a a n
 Pemberian penghargaan juga diperlulcan oleh kar yawan. Karena dengan adanya
penghargaan ini, maka kar yawan akan merasa diperhatikan oleh perusahaan. Jadi, dengan
adanya pemberian penghargaan ini mereka akan bekerja semaksimal mungkin untuk
mendapatkan hasil yang diinginkan.
D. Hadiah
 Hadiah merupakan penghargaan kepada kar yawan yang dapat menunjukkan prestasinya
dengan baik. Dengan pemberian hadiah, maka kar yawan akan merasa bahwa kerja keras
yang dilakukannya telah dihargai perusahaan sehingga dia akan berusaha lagi dengan
sebaik-baiknya pada waktu yang akan datang. Tujuan permberian hadiah dan penghargaan
ini tidak jauh berbeda. Hadiah biasanya dapat berupa uang, sedangkan penghargaan
biasanya berbentuk piagam.
E . Tu n j a n g a n Ke s e h a t a n
 Tunjangan kesahatan sangat diperlukan oleh kar yawan karena dengan adanya tunjangan ini
kar yawan akan dapat bekerja tanpa ketakutan atas kemungkinan yang terjadi di dalam
melaksanakan tugasnya. Misalnya apabila kar yawan pada suatu saat jatuh sakit, maka la
dapat berobat kerumah sakit yang mana biasanya akan ditanggung oleh perusahaan.
F. S a n t u n a n H a r i Tu a
 Untuk memupuk semangat dan gairah kerja pada kar yawan, mereka harus mempunyai
perasaan ama terhadap masa. depan kar yawannya, maka perusahaan sebaiknya
memberikan santunan/jaminan hari tua.
 Dengan adanya santunan hari tua ini, maka kar yawan pada sebelum menjalani masa
pensiunnya, akan bekerja sebaik mungkin untuk meningkatkan prestasinya karena mereka
sudah merasa aman dengan adanya santunan hari tua ini.
PENGERTIAN MUTU
a. Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari
penampilan sesuatu yang sedang diamati.
b. Mutu adalah sifat yang dimiliki oleh suatu
program.
c. Mutu adalah totalitas dari wujud serta ciri
suatu barang atau jasa yang di dalamnya
terkandung pengertian rasa aman atau
pemenuhan kebutuhan para pengguna.
mutu pelayanan hanya dapat diketahui apabila sebelumnya
telah dilakukan penilaian, baik terhadap tingkat
kesempurnaan, sifat, wujud, serta ciri-ciri pelayanan
kesehatan, ataupun terhadap kepatuhan standar pelayanan
dalam praktik sehari-hari melakukan penilaian ini tidaklah
mudah, penyebab utamanya ialah karena mutu pelayanan
tersebut bersifat multi dimensional, tiap orang, tergantung
dari latar belakang kepentingan masing-masing dapat
melakukan penilaian dari dimensi berbeda.
BEBERAPA DEFINISI MUTU PELAYANAN KESEHATAN
ADALAH SEBAGAI BERIKUT
a. Mutu pelayanan kesehatan adalah pelayanan
kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat
kepuasan rata-rata penduduk serta
penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode
etik profesi (Azrul Aswar, 2009).
b. Memenuhi dan melebihi kebutuhan serta harapan
pelanggan melalui peningkatan yang berkelanjutan
atas seluruh proses. Pelanggan meliputi pasien,
keluarga, dan lainnya yang datang untuk mendapatkan
pelayanan dokter, karyawan (Mary R. Zimmerman,
2009).
MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN
 Mutu Pelayanan keperawatan adalah suatu proses kegiatan
yang dilakukan oleh profesi keperawatan dalam pemenuhan
kebutuhan pasien dalam mempertahankan keadaan dari segi
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien (Suarli dan
Bahtiar, 2012).
 Derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan yg dpt
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai
dgn tingkat kepuasan rata -rata penduduk, serta yg
menyelenggarakannnya sesuai dgn standar dan kode etik
profesi yg telah ditetapkan dgn menyesuaikan potensi sumber
daya yg tersedia secara efisien dan efektif serta diberikan
secara aman, dan memuaskan sesuai dgn norma, etika
hukum, dan sosio budaya dgn memperhatikan keterbatasan
dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen
(Morgan, 2007)
MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN
Pelayanan keperawatan profesional dalam
bentuk praktik keperawatan
Praktik keperawatan dalam asuhan
keperawatan
Asuhan keperawatan ada interaksi dan tujuan
(pemenuhan kebutuhan mandiri)
Mutu mengacu pada kepuasan pelanggan
STRATEGI PENINGKATAN MUTU
PELAYANAN
1. Pelanggan dan harapannya, Harapan pelanggan
mendorong upaya peningkatan mutu pelayanan.
Organisasi pelayanan kesehatan mempunyai banyak
pelanggan potensial. Harapan mereka harus diidentifikasi
dan diprioritaskan lalu membuat kriteria untuk menilai
kesuksesan.
2. Perbaikan kinerja, Bila harapan pelanggan telah
diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah
mengidentifikasi dan melaksanakan kinerja staf dan
dokter untuk mencapai konseling, adanya pengakuan,
dan pemberian reward.
3. Proses perbaikan, Proses perbaikan juga penting. Sering kali
kinerja
disalahkan
karena
masalah
pelayanan
dan
ketidakpuasan pelanggan pada saat proses itu sendiri tidak
dirancang dengan baik untuk mendukung pelayanan. Dengan
melibatkan staf dalam proses pelayanan, maka dapat
diidentifikasi masalah proses yang dapat memengaruhi
kepuasan
pelanggan,
mendiagnosis
penyebab,
mengidentifikasi , dan menguji pemecahan atau perbaikan.
4. Budaya yang mendukung perbaikan terus-menerus, Untuk
mencapai pelayanan prima diperlukan organisasi yang tertib.
Itulah sebabya perlu untuk memperkuat budaya organisasi
sehingga dapat mendukung peningkatan mutu. Untuk dapat
melakukannya, harus sejalan dengan dorongan peningkatan
mutu pelayanan terus-menerus (Syafrudin, 2009).
TA B E L 2 . 2 : VA R I A B E L P E N G U K U R A N K E P U A S A N PA S I E N T E R H A D A P
P E L AYA N A N K E S E H ATA N ( I M R O N , 2 0 0 9 : 1 2 )
Variabel yang diukur
Tangibles (berujud)
Reliability (kehandalan)
Responsiveness
(keresponsipan)
Assurance (keyakinan)
Empathy ( empati )
Uraian Kegiatan
Terdiri dari fasilitas fisik, peralatan personil dan
komunikasi
Kemampuan unit pelayanan dalam menciptakan
suatu suasana dalam sistem pelayanan kesehatan
yang dijanjikan dengan tepat
Kemauan untuk membantu pasien bertanggung
jawab terhadap kualitas pelayanan yang diberikan
Pengetahuan dan kesopanan para petugas serta
kemampuan mereka dalam upaya menimbulkan rasa
kepercayaan dan keyakinan yang tinggi kepada
pasien
Suatu persyaratan untuk selalu peduli dan selalu
memberikan perhatian secara pribadi bagi pasien.
Download