Uploaded by common.user68747

Laporan Mandiri

advertisement
Toufan Dhimas Hardandi
1710312044
M3 Sistem Kesehatan Nasional
Latar Belakang
Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan Undangundang Dasar (UUD) 1945, yaitu melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka pembangunan kesehatan
diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya dapat terwujud.
Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi
penyelenggaraan kepemerintahan, seperti Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, Undang undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Undangundang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(SPPN), dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangungan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. Disamping itu secara global
terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian Millenium Development
Goals (MDGs), sehingga diperlukan penyesuaian dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan.
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 merupakan penyesuaian dari SKN
1982 dan SKN 2004. SKN 1982 terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1) Pemikiran dasar pembangunan kesehatan,
2) Rencana pembangunan jangka panjang bidang kesehatan, dan
3) Bentuk pokok SKN. Selanjutnya pada akhir 1999 ditetapkan Rencana
Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat Tahun 2010. Rencana ini pada
intinya mengandung Butir 1) dan 2) dari SKN 1982 yang lebih dikembangkan sesuai
keperluannya. Pada 10 Februari 2004 ditetapkan SKN 2004 yang pada intinya
mengandung Butir 1) dan 3) dari SKN 1982. SKN 2004 yang pada hakikatnya
merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan, penting untuk
dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan
perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. Dalam
mengantisipasi ini, perlu mengacu terutama pada arah, dasar dan strategi
pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang nomor 17 Tahun
2007 tentang RPJPN Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Bidang kesehatan Tahun 2005-2025.



Tujuan nasional Bangsa indonesia dalam Pembukaan UUD 1945 yang
diselenggarakan melalui pembangunan nasional
Percepatan pembangunan kesehatan melalui SKN dengan terobosan Desa
Siaga, Jamkesmas, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K)
Perubahan lingkungan strategis: UU 32/2004 Pemerintah Daerah, UU 33/2004
Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemda, UU 25/2004 Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), UU 17/2007 RPJPN 2005-2025,
dan upaya percepatan MDGs
Definisi SKN
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan
pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya Bangsa Indonesia dalam
satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam
kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Dasar 1945. Menurut Pepres No 72 tahun 2012 SKN adalah “Pengelolaan
kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara
terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.”
Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua
komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan
diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan, 2) Pemberdayaan dan
kemandirian, 3) Adil dan merata, serta 4) Pengutamaan dan manfaat.
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) perlu dilaksanakan dalam konteks
Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan
sosial, seperti: kondisi kehidupan sehari-hari, tingkat pendidikan, pendapatan
keluarga, distribusi kewenangan, keamanan, sumberdaya, kesadaran masyarakat, serta
kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.
Maksud dan Kegunaan SKN
Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam
rangka pemenuhan hak asasi manusia, memperjelas penyelenggaraan 3 pembangunan
kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang
Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025, memantapkan kemitraan dan kepemimpinan
yang transformatif, melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan
bermutu, serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan
nasional.
SKN disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan
kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi:
1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata,
2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak pada rakyat,
3) Kebijakan pembangunan kesehatan, dan
4) Kepemimpinan.
Pendekatan pelayanan kesehatan primer secara global telah diakui sebagai pendekatan
yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan
kebijakan kesehatan yang responsif gender.
Landasan SKN
 Landasan Idiil : Pancasila (Sila ke-2 dan ke-5)
 Landasan Konstitusional : UUD 1945
o Pasal 28 A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup
dan kehidupannya
o Pasal 28 B ayat 2
Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan
berkembang;
o Pasal 28 C ayat 1
Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh
manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi
meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia
o Pasal 28 H
Ayat 1
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal,
dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan
Ayat 3
Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat
o Pasal 34
Ayat 2
Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai
dengan martabat kemanusiaan
Ayat 3
Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
 Landasan Operasional : Peraturan perundangan berkaitan pelaksanaan SKN
Dasar Sistem Kesehatan Nasional
 HAM
Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan UUD
1945, untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat, maka
setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia.
Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan
bahwa setiap orang berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan
derajat kesehatan yang setinggitingginya tanpa membedakan suku, golongan,
agama, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi. Setiap anak dan perempuan
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
 Sinergisme dan Kemitraan yang dinamis
SKN akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi
koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergisme (KISS), baik antar pelaku,
antar subsistem SKN maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN.
Dengan tatanan ini, maka sistem atau sektor lain, seperti pembangunan





prasarana, keuangan dan pendidikan, perlu berperan secara bersama-sama
dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional.
Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang
kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat
termasuk swasta, dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masingmasing. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring
yang berhasilguna dan berdayaguna, agar diperoleh sinergisme yang lebih
mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.
Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik
Diperlukan komitmen yang tinggi dan dukungan serta kerjasama yang
baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan
kesehatan yang baik (good governance). Pembangunan kesehatan
diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum, terbuka (transparan),
rasional, profesional, serta bertanggungjawab dan bertanggung-gugat
(akuntabel).
Dukungan Regulasi
Harus ada dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan
perundangundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan didukung
pula oleh penerapannya (law enforcement).
Antisipatif dan Proaktif
Setiap pelaku pembangunan harus mampu melakukan antisipasi atas
perubahan yang akan terjadi, berdasarkan pengalaman masa lalu atau
pengalaman yang terjadi di negara lain. Dengan mengacu pada antisipasi
tersebut, pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap
perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Responsif Gender
Dalam penyelenggaraan SKN, setiap penyusunan rencana kebijakan
dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan
kesetaraan dan keadilan gender. Kesetaraan gender dalam pembangunan
kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk
memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu
berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan dan
kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan.
Kearifan Lokal
Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan
menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan
hasilguna dan dayaguna pembangunan kesehatan, yang dapat diukur secara
kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari
meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. Dengan demikian kebijakan
pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN,
walaupun pelaksanaan praktisnya dalam rencana pembangunan daerah di
bidang kesehatan, dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta
kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan
kesehatan dasar bagi rakyatnya.
Bentuk Pokok Sistem Kesehatan Nasional
Tujuan SKN
terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik
masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasilguna dan
berdayaguna, sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.
Kedudukan SKN
 Suprasistem
Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. SKN bersama dengan
berbagai sistem nasional lainnya, diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa
Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu
melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian, abadi dan keadilan sosial. Dalam kaitan ini, undang-undang yang
berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam
pembangunan kesehatan.
 Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional
Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang
tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan juga
tanggung jawab dari berbagai sektor lain terkait. Dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan, SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. Dalam
penyelenggaraan pembangunan nasional, SKN dapat bersinergi secara dinamis
dengan berbagai sistem nasional lainnya seperti: Sistem Pendidikan Nasional,
Sistem Perekonomian Nasional, Sistem Ketahanan Pangan Nasional, Sistem
Hankamnas, dan Sistem-sistem nasional lainnya.
 Kedudukan SKN terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah
Dalam pembangunan kesehatan, SKN merupakan acuan bentuk dan cara
penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah.
 Kedudukan SKN terhadap sistem kemasyarakatan termasuk swasta
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh
dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun
dalam berbagai sistem kemasyarakatan. Di pihak lain, berbagai sistem
kemasyarakatan merupakan bagian integral dari SKN. Dalam kaitan ini SKN
dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan.
Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif
swasta. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN.
Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang
setara, terbuka, dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta.
SKN dapat mewarnai potensi swasta, sehingga sejalan dengan tujuan
pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan.
Subsistem SKN meliputi :







Subsistem Upaya Kesehatan
Bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna,
terpadu dan berkualitas, meliputi upaya peningkatan, pencegahan, pengobatan
dan pemulihan, yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Subsistem Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Pengelolaan penelitian dan pengembangan, pemanfaatan dan
penapisan teknologi dan produk teknologi kesehatan yang diselenggarakan
dan dikoordinasikan guna memberikan data kesehatan yang berbasis bukti
untuk menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.
Subsistem Pembiayaan Kesehatan
Bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian,
pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
Subsistem SDM Kesehatan
Bentuk dan cara penyelenggaraan SDM Kesehatan yang meliputi:
upaya perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, serta pembinaan dan
pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan
pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya. SDM Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk
tenaga kesehatan strategis, dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga
pendukung/penunjang kesehatan, yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan
dirinya dalam upaya dan manajemen kesehatan.
Subsistem Farmasi, Alkes dan Makanan
Bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin
keamanan, khasiat/manfaat, mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan
makanan minuman, khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan
keterjangkauan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Sediaan farmasi
adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika.
Subsistem Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan
bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya
kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, pengaturan hukum kesehatan,
pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya
guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Subsistem Pemberdayaan Masyarakat
Bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan, baik
perorangan, kelompok, maupun masyarakat secara terencana, terpadu, dan
berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
Proses Penyelenggaraan SKN
Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan,
proses, luaran, dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain, sebagai berikut:
1. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia, subsistem
pembiayaan kesehatan, dan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan minuman.
2. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan, subsistem
pemberdayaan masyarakat, dan subsistem manajemen dan informasi
kesehatan.
3. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang
berhasilguna dan berdayaguna, bermutu, merata, dan berkeadilan.
4. Lingkungan dari SKN meliputi: berbagai keadaan yang menyangkut ideologi,
politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan baik nasional,
regional maupun global yang berdampak terhadap pembangunan kesehatan.
Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan
Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN.
M3 Dasar Hukum dan Peraturan Jaminan sosial termasuk JKN
Menurut UU No 12 tahun 2011, Peraturan Perundang Undangan adalah
peraturan tertulis yang memuat norma hukum, mengikat secara umum, dibentuk atau
ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang
ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.
Hierarki Perundang-undangan
1. UUD 1945  Pembukaan Alinea 3 (Ketahanan Nasional  Kesehatan
Nasional)
2. TAP MPR
3. UU / PP Pengganti UU
4. Peraturan Pemerintah  Ditetapkan oleh presiden untuk menjalankan UU
5. Peraturan Presiden  Dibuat oleh presiden
6. Peraturan Daerah Provinsi
7. Peraturan Daerah Kab/Kota
PMK ?
Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (dalamnya
termasuk PMK dan KMK) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum
mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih
tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.
Mengeluarkan UU, Perpres, PMK, dsb sebagai regulasi jaminan kesehatan nasional
Undang-Undang
 UU No. 40 Th 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
 UU No. 36 Th 2009 Tentang Kesehatan
 UU No. 24 Th 2011 Tentang Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial
Peraturan Pemerintah
 PP No. 101 Th 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
Peraturan Presiden
 PERPRES No. 32 Th 2014 Tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan dana
Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama milik Pemerintah Daerah
 PERPRES No. 105 Th 2013 Tentang Pemeliharaan Kesehatan Menteri dan
Pejabat Tertentu








PERPRES No. 106 Th 2013 Tentang Pemeliharaan Kesehatan Anggota DPR,
DPD, MK, Hakim MA
PERPRES No. 107 Th 2013 Tentang YANKES Tertentu Berkaitan Dengan
KEMHAN, TNI, Kepolisian
PERPRES No. 108 Th 2013 Tentang Bentuk dan Isi Laporan Pengelolaan
Program JAMSOS
PERPRES No. 109 Th 2013 Tentang Penahapan Kepesertaan Program
JAMSOS
PERPRES No. 110 Th 2013 Tentang Gaji Upah Manfaat DEWAS dan Direksi
BPJS
PERPRES No. 111 Th 2013 Tentang Perubahan Atas PERPRES No. 12 Th
2013 Tentang JAMKES
Perpres No 28 Th 2018 tentang jaminan kesehatan Pasal 17 ayat 2 : Kewajiban
pendaftaran berlaku paling lambat 1 Januari 2019
Perpres No 64 tahun 2020 : Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor
82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan
PMK (Peraturan Menteri Kesehatan)  bersifat umum, abstrak dan berlaku secara
terus menerus
 PMK No. 19 th 2014 Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional
untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya operasional Pada
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama milik Pemerintah Daerah
 PMK No 27 Tahun 2014 Sistem INA-CBGs
 PMK No. 001 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan
 PMK No. 69 th 2013 Tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Program Jaminan
Kesehatan
 PMK No. 71 th 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan Pada JKN
KMK (Keputusan Menteri Kesehatan)  Individual, kongkret dan berlaku sekali
selesai
 KMK No. 046 Th 2014 Tentang TIM Monitoring dan Evaluasi
Penyelelnggaraan JKN
 KMK No. 326 Th 2013 Tentang Penyiapan Penyelenggaraan JKN
 KMK No. 328 Th 2013 Tentang Formularium Nasional
 KMK No. 455 Th 2013 Tentang Asosiasi Fasilitas Kesehatan
Surat Edaran
 SE No. 900/2280/SJ MENDAGRI DANA KAPITASI JKN
 SE No. HK_MENKES_32_1_2014 Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Bagi
Peserta BPJS Kesehatan
 SE No. HK_MENKES_31_1_2014 Pelaksanaan Standar Tarif Pelayanan
Kesehatan di JKN
Peraturan BPJS
 Peraturan BPJS Kesehatan No. 2 Th 2014 Tentang Unit Pengendali
 Peraturan BPJS Kesehatan No. 1 Th 2014 Tentang Penyelenggaraan Jaminan
Kesehatan
 Panduan Praktis Admininstrasi Klaim Faskes BPJS Kesehatan
M3 Pengertian dan Peran JKN dan SJSN
Universal Health Covarage
Semua orang dan komunitas dapat menggunakan layanan kesehatan promotif,
preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif yang mereka butuhkan, dengan kualitas
yang memadai agar efektif, sambil juga memastikan bahwa penggunaan layanan ini
tidak mengekspos pengguna untuk kesulitan keuangan. UHC melampaui semua
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang terkait dengan kesehatan dan
membawa harapan tentang kesehatan dan perlindungan yang lebih baik bagi yang
termiskin di dunia.
Definisi UHC ini mencakup tiga tujuan terkait:
 Kesetaraan dalam akses ke layanan kesehatan - setiap orang yang
membutuhkan layanan harus mendapatkannya, tidak hanya mereka yang
mampu membayarnya;
 Kualitas pelayanan kesehatan harus cukup baik untuk meningkatkan
kesehatan penerima pelayanan; dan
 Orang harus dilindungi dari risiko finansial, memastikan bahwa biaya
penggunaan layanan tidak membuat orang berisiko mengalami kerugian
finansial.
Konsep utama UHC mencakupi : 3 / 4 dimensi UHC pada 2010




Cakupan Penduduk (Siapa yang ditanggung ?) breadth
Cakupan Layanan Kesehatan yang disediakan (Pelayanan apa saja yang
ditanggung ?) depth
Pengeluaran (Proporsi biaya apa saja yang ditanggung ?) Height
Mutu Pelayanan kesehatan (4 dimensi)
Konsep UHC bukanlah hal baru. Ini mulai berkembang di Eropa dengan reformasi
yang diperkenalkan oleh Bismarck di Jerman pada abad ke-19 dan pengenalan
Layanan Kesehatan Nasional di Inggris pada tahun 1946. Konstitusi WHO tahun 1948
dan Deklarasi Alma-Ata tahun 1978 secara tidak langsung menekankan UHC sebagai
alat penting untuk mencapai "Kesehatan untuk Semua." Namun, hanya dalam dekade
terakhir konsep tersebut telah menerima pengakuan yang jauh lebih besar. Resolusi
pada Majelis Dunia ke-58 pada tahun 2005 mendorong negara-negara di dunia untuk
menanamkan UHC dalam sistem kesehatan mereka, dan Laporan Kesehatan Dunia
(2010) mengusulkan peningkatan pembiayaan untuk perawatan kesehatan untuk
mencapai tujuan ini.
SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional)  UU RI No 40 tahun 2004 ttg SJSN
Definisi
Suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial (bentuk perlindungan
sosial untuk menjamin seluruh rakyat memenuhi kehidupan dasar) oleh beberapa
badan penyelenggara jaminan sosial (Jamsostek, Taspen, Asabri, Askes)  Pasal 1
ayat 2
Fungsi
SJSN memiliki lima fungsi, yaitu :
 Instrumen negara untuk pencegahan kemiskinan serta pemberdayaan
masyarakat miskin dan tidak mampu
 Instrumen negara untuk penciptaan pendapatan hari tua bagi peserta, karena
iuran jaminan hari tua pada dasarnya merupakan penangguhan sebagian
pendapatan di usia produktif untuk dibayarkan pada hari tua
 Instrumen negara untuk redistribusi pendapatan dari peserta berpendapatan
tinggi kepada peserta berpendapatan rendah melalui ketentuan besaran iuran
ditetapkan sesuai tingkat pendapatan untuk manfaat yang sama, serta adanya
bantuan iuran bagi masyarakat miskin
 Instrumen negara untuk meminimalisasi peredaran uang di masyarakat (uang
primer) untuk tujuan investasi jangka panjang melalui penguncian dana publik
oleh program jaminan hari tua dan jaminan pensiun
 Instrumen negara sebagai pengikat berdirinya Negara Republik Indonesia
karena adanya kepastian pemenuhan kebutuhan hidup dasar yang layak untuk
mewujudkan persatuan bangsa dan kesejahteraan sosial.
Asas, Tujuan dan Prinsip Penyelenggaraan SJSN
Asas
Asas SJSN menjamin kelangsungan program dan hak peserta yang diselenggarakan
berdasarkan
 Asas kemanusiaan  berkaitan dengan penghargaan terhadap martabat
manusia
 Asas manfaat  asas yang bersifat operasional menggambarkan pengelolaan
yang efektif dan efisien.
 Asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia  asas yang bersifat ideal
Tujuan
Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya
kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya.
 Pasal 3
Prinsip  Pasal 4
1. Prinsip kegotong royongan. Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong
royong dari peserta yang mampu kepada peserta yamg kurang mampu dalam
bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; peserta yang berisiko rendah
membantu yang berisiko tinggi; dan peserta yang sehat membantu yang sakit.
Melalui prinsip kegotong-royongan ini jaminan sosial dapat menumbuhkan
keadalan sosial bagi keseluruhan rakyat Indonesia.
2. Prinsip nirlaba. Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan mencari laba
(nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan sosial, akan tetapi tujuan utama
penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peserta. Dana amanat, hasil pengembangannya, dan surplus
anggaran akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.
3. Prinsip keterbukaan,. Prinsip yang mendasari seluruh kegiatan pengelolaan
dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
4. Kehati-hatian; prinsip pengelolaan dana secara cermat, teliti, aman dan tertib.
5. Akuntabilitas; prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang
akurat dan dapat dipertanggungjawabka
6. Prinsip portabilitas. Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan
yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal
dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
7. Prinsip kepesertaan bersifat wajib. Kepesertaan wajib dimaksudkan agar
seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun
kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan
dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan
penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor
formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menajdi peserta secara
mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat
mencakup seluruh rakyat.
8. Prinsip dana amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan
titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya
dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
9. prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam UndangUndang ini adalah hasil berupa dividen dari pemegang saham yang
dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial.
Landasan dan Filosofis SJSN
 Pemikiran mendasar yang melandasi penyusunan SJSN bagi penyelenggaraan
jaminan sosial untuk seluruh warga negara adalah sebagai berikut : UUD
Negara RI Tahun 1945 Pasal 28H ayat (3)
 Penyelenggaraan SJSN adalah wujud tanggung jawab Negara dalam
pembangunan perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial : UUD Negara
RI Tahun 1945 Pasal 34 ayat (2)
 Program jaminan sosial ditujukan untuk memungkinkan setiap orang mampu
mengembangkan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermanfaat :
Tercantum dalam UUD Negara RI Tahun 1945 Pasal 28H ayat (3)
 Penyelenggaraan SJSN berdasarkan asas kemanusiaan dan berkaitan dengan
penghargaan terhadap martabat manusia. UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 2
 SJSN bertujuan untuk terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi
setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 3
Landasan Yuridis SJSN



UUD Negara Republik Indonesia Perubahan Kedua (2000) Dan Perubahan
Keempat (2002)
UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN)
UUNo. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU
BPJS)
Landasan Sosiologis
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat tersebut direspon oleh hukum.
Salah satu di antaranya adalah hukum jaminan sosial. Pemerintah membentuk dan
mengundangkan UU SJSN untuk menyikapi dinamika masyarakat dan menangkap
semangat jamannya, menyerap aspirasi, dan cita-cita hukum masyarakat.
Penyelenggaraan program jaminan sosial diubah secara mendasar untuk memberi
kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip
dana amanat diberlakukan. Dana dikumpulkan dari iuran peserta sebagai dana titipan
kepada BPJS untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana
tersebut untuk kesejahteraan peserta.
Sistem jaminan sosial nasional dibuat sesuai dengan “paradigma tiga pilar” yang
direkomendasikan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Pilar-pilar itu
adalah:



Program bantuan sosial untuk anggota masyarakat yang tidak mempunyai
sumber keuangan atau akses terhadap pelayanan yang dapat memenuhi
kebutuhan pokok mereka. Bantuan ini diberikan kepada anggota masyarakat
yang terbukti mempunyai kebutuhan mendesak, pada saat terjadi bencana
alam, konflik sosial, menderita penyakit, atau kehilangan pekerjaan. Dana
bantuan ini diambil dari APBN dan dari dana masyarakat setempat.
Program asuransi sosial yang bersifat wajib, dibiayai oleh iuran yang ditarik
dari perusahaan dan pekerja. Iuran yang harus dibayar oleh peserta ditetapkan
berdasarkan tingkat pendapatan/gaji, dan berdasarkan suatu standar hidup
minimum yang berlaku di masyarakat.
Asuransi yang ditawarkan oleh sektor swasta secara sukarela, yang dapat
dibeli oleh peserta apabila mereka ingin mendapat perlindungan sosial lebih
tinggi daripada jaminan sosial yang mereka peroleh dari iuran program
asuransi sosial wajib. Iuran untuk program asuransi swasta ini berbeda
menurut analisis risiko dari setiap peserta.
Program SJSN UU SJSN menetapkan 5 (lima) program jaminan sosial, yaitu:
1. Jaminan kesehatan
program jaminan sosial yang diselenggarakan secara nasional dengan
tujuan untuk menjamin agar peserta dan anggota keluarganya memperoleh
manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan.
2. Jaminan kecelakaan kerja
Program jaminan sosial yang diselenggarakan secara nasional dengan
tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pelayanan kesehatan dan
santunan uang tunai apabila ia mengalami kecelakaan kerja atau menderita
penyakit akibat kerja.
3. Jaminan hari tua
Program jaminan sosial yang diselenggarakan secara nasional dengan
tujuan untuk menjamin agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki
masa pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.
4. Jaminan pensiun
Program jaminan sosial yang diselenggarakan secara nasional dengan
tujuan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak pada saat peserta
mengalami kehilangan atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia
pensiun atau mengalami cacat tetap total.
5. Jaminan kematian
Program jaminan sosial yang diselenggarakan secara nasional dengan
tujuan untuk memberikan santunan kematian yang dibayarkan kepada ahli
waris peserta yang meninggal dunia
Organisasi dalam SJSN : DJSN dan BPJS
1. DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional)
Definisi
Dewan yang dibentuk dengan UU SJSN untuk perumusan kebijakan
umum dan sinkronisasi penyelenggaraan SJSN. DJSN bertanggung jawab
kepada presiden
Anggota DJSN
Keanggotaan DJSN sebanyak 15 (lima belas) orang terdiri dari empat unsur,
yaitu:
(1) pemerintah (5 orang)
(2) organisasi pemberi kerja (2 orang)
(3) organisasi pekerja (2 orang),
(4) tokoh/ahli yang memahami bidang jaminan sosial (6 orang).
Dalam melaksanakan tugasnya, DJSN dibantu oleh Sekretariat Dewan yang
dipimpin oleh seorang Sekretaris yang diangkat dan diberhentikan oleh Ketua
DJSN.
Tugas DJSN (6 Tugas)
Dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagai perumusan kebijakan
umum dan sinkronisasi penyelenggaraan SJSN, DJSN bertugas:






melakukan kajian dan penelitian yang berkaitan dengan
penyelenggaraan jaminan sosial
mengusulkan kebijakan investasi Dana Jaminan Sosial Nasional
mengusulkan anggaran jaminan sosial bagi penerima bantuan iuran dan
tersedianya anggaran operasional kepada Pemerintah
memberikan konsultasi kepada BPJS tentang bentuk dan isi laporan
pertanggungjawaban pengelolaan program
menerima tembusan laporan pengelolaan tahunan dan laporan
keuangan tahunan yang telah diaudit oleh akuntan publik untuk
penyampaian pertanggungjawaban tahunan BPJS kepada Presiden
mengajukan kepada Presiden usulan anggota pengganti antarwaktu
Dewan Pengawas dan/atau anggota Direksi BPJ
Wewenang DJSN
Untuk menjamin terselenggaranya program jaminan sosial dan kesehatan
keuangan BPJS, DJSN berwewenang melakukan :



Pengawasan
Monitoring
Evaluasi penyelenggaraan program jaminan sosial
2. BPJS (Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial)
Definisi
Badan hukum yang dibentuk dengan UU BPJS untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial.
UU No. 24 Tahun 2011 membentuk dua BPJS, yaitu:
(1) BPJS Kesehatan, berfungsi menyelenggarakan program jaminan
kesehatan.
(2) BPJS Ketenagakerjaan, berfungsi menyelenggarakan program jaminan
kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, dan jaminan pensiun.
BPJS bertanggungjawab kepada Presiden. Organ BPJS terdiri dari Dewan
Pengawas dan Direksi. Anggota Direksi BPJS diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden.
Presiden menetapkan Direktur Utama. BPJS diawasi oleh pengawas internal
dan pengawas eksternal.
Pengawasan internal dilaksanakan oleh organ BPJS, yaitu Dewan Pengawas
dan sebuah unit kerja di bawah Direksi yang bernama Satuan Pengawas
Internal.
Pengawasan eksternal dilaksanakan oleh badan-badan di luar BPJS, yaitu
DJSN, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Tugas BPJS : 7 Tugas
Dalam rangka melaksanakan fungsi sebagai penyelenggara program
jaminan kesehatan sosial bagi seluruh penduduk Indonesia, BPJS Kesehatan
bertugas :
 menerima pendaftaran Peserta JKN;
 memungut dan mengumpulkan iuran JKN dari Peserta, Pemberi Kerja,
dan Pemerintah
 menerima bantuan iuran dari Pemerintah
 mengelola dana jaminan sosial untuk kepentingan Peserta
 mengumpulkan dan mengelola data Peserta JKN
 Membayarkan manfaat, dan/membiayai pelayanan kesehatan sesuai
dengan ketentuan program jaminan sosial
 memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada Peserta dan masyarakat.
Wewenang BPJS : 8 Wewenang
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, BPJS Kesehatan berwewenang
untuk :








menagih pembayaran iuran;
menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi jangka pendek dan
jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas,
solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai
melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan Peserta dan
Pemberi Kerja dalam memenuhi kewajibannya
membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar
pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang
ditetapkan oleh Pemerintah
membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan
mengenakan sanksi administratif kepada Peserta atau Pemberi Kerja
yang tidak memenuhi kewajibannya
melaporkan Pemberi Kerja kepada instansi yang berwenang
menangani ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam
memenuhi kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka
penyelenggaraan program jaminan sosial.
Hak BPJS : 2 Hak
Dalam melaksanakan kewenangannya, BPJS berhak untuk :
 memperoleh dana operasional untuk penyelenggaraan program yang
bersumber dari dana jaminan sosial dan/atau sumber lainnya
 memperoleh hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program
jaminan sosial dan DJSN setiap 6 (enam) bulan.
Kewajiban BPJS : 11 Kewajiban
Dalam melaksanakan tugasnya, BPJS berkewajiban untuk:
 Memberikan nomor identitas tunggal kepada Peserta










mengembangkan aset dana jaminan sosial dan aset BPJS untuk sebesarbesarnya kepentingan Peserta
memberikan informasi melalui media massa cetak dan elektronik mengenai
kinerja, kondisi keuangan, serta kekayaan dan hasil pengembangannya
memberikan manfaat kepada seluruh Peserta sesuai dengan UU SJSN
memberikan informasi kepada Pesertamengenai hakdan kewajiban untuk
mengikuti ketentuan yang berlaku
memberikan informasi kepada Peserta mengenai prosedur untuk mendapatkan
hak dan memenuhi kewajibannya
memberikan informasi kepada Peserta mengenai saldo jaminan hari tua dan
pengembangannya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun
memberikan informasi kepada Peserta mengenai hak pensiun 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun
membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktikum aktuaria yang
lazim dan berlaku umum
melakukan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dalam
penyelenggaraan jaminan sosial
melaporkan pelaksanaan setiap program, termasuk kondisi keuangan, secara
berkala 6 (enam) bulan sekali kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN
Bagaiaman SJSN Berjalan ?
Dana Jaminan Sosial Berperan Sentral
Dana jaminan sosial dibangun dari iuran peserta dan anggaran pemerintah.
Iuran Program :
 Sebelum memasuki usia kerja dan tidak bekerja, iuran program jaminan
kesehatan ditanggung oleh orang tua.

Di usia kerja, iuran jaminan kesehatan ditanggung oleh pekerja. Bagi pekerja
yang menerima upah, iuran jaminan kesehatan ditanggung bersama pemberi
kerja untuk seorang istri dan sebanyak-banyaknya tiga orang anak.
 Di usia pensiun, iuran jaminan kesehatan ditanggung oleh pekerja yang
dibayarkan dari pemotongan dana pensiun sebesar ketentuan yang berlaku.
Iuran dibayarkan langsung oleh BPJS Ketenagakerjaan, atau badan
penyelenggara pensiun pegawai negeri (Taspen dan Asabri) kepada BPJS
Kesehatan. Jika peserta tidak memiliki dana pensiun, maka peserta membayar
sendiri iuran program jaminan kesehatan.
Pemerintah turut mendanai SJSN dengan APBN untuk empat komponen biaya, yaitu :
 menyubsidi iuran jaminan sosial bagi orang miskin dan tidak mampu, yang
dikenal sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI).
 mendanai modal awal pendirian BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan
paling banyak sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua trilyun) untuk masing-masing
BPJS.
 mengalokasikan dana penyelamatan kepada BPJS saat terjadi krisis keuangan
atau kondisi tertentu yang mengancam keberlangsungan program jaminan
sosial.
 mendanai pembuatan peraturan perundang-undangan dan kebijakan jaminan
sosial, serta pengawasan penyelenggaraannya.
Iuran adalah Tulang Punggung
Iuran yang dibayarkan oleh peserta adalah tulang punggung pendanaan
SJSN. Iuran peserta menjadi bagian terbesar dari dana jaminan sosial yang dikelola
oleh BPJS. Dana jaminan sosial sebesar-besarnya dipergunakan untuk membiayai
manfaat jaminan sosial, dan hanya sebagian kecil digunakan untuk membiayai
administrasi penyelenggaraan jaminan sosial. Biaya administrasi paling tinggi 10%
dari pendapatan iuran BPJS Kesehatan
Peserta membayar iuran program jaminan kesehatan kepada BPJS
Kesehatan. Iuran program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan
hari tua, dan jaminan pensiun dibayarkan kepada BPJS Ketenagakerjaan
Pada lingkaran ketiga dijelaskan tiga manfaat yang diperoleh Peserta program
jaminan sosial nasional, yaitu uang tunai, pelayanan rehabilitasi, dan pelayanan
kesehatan
Program jaminan kesehatan memberikan pemeliharaan dan pelayanan kesehatan
untuk peserta dan anggota keluarganya. Manfaat program jaminan kesehatan
komprehensif, terdiri dari pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan,
perawatan, dan rehabilitasi medis.
Manfaat program jaminan kecelakan kerja mencakup pelayanan kesehatan,
rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi kerja, serta santunan uang tunai.
Manfaat program ini hanya untuk peserta.
Manfaat program jaminan kematian berupa santunan uang tunai yang diberikan
sekaligus pasca kematian peserta. Penerima manfaat program ini adalah ahli waris
peserta.
Manfaat program jaminan hari tua berupa uang tunai yang diberikan sekaligus saat
peserta memasuki usia pensiun, atau meninggal dunia. Uang yang diterima oleh
peserta berasal dari tabungan iuran yang dibayarkan berkala berikut hasil
pengembangan dananya.
Manfaat program jaminan pensiun berupa uang tunai yang dibayarkan berkala setiap
bulan kepada peserta, atau jandanya/dudanya, atau anak yatimnya/piatunya. Besar
manfaat program pensiun tergantung pada besar upah/gaji terakhir sebelum pensiun
dan periode mengiur.
Perlindungan Pendapatan Dan Aset Keluarga Oleh Lima Program Jaminan
Sosial


Program jaminan kesehatan mengambil alih beban dan tanggung jawab
keluarga terhadap biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan untuk
mengobati penyakit yang dialami oleh peserta atau keluarganya. Biaya
pelayanan kesehatan, terutama perawatan di rumah sakit atau pengobatan
jangka panjang seringkali melampaui jumlah pendapatan rutin, sehingga
tagihan rumah sakit harus dibiayai dari penjualan aset atau pengeluaran
tabungan. Program jaminan kesehatan mengatasi risiko ini.
Program jaminan kecelakaan kerja menggantikan kehilangan pendapatan
selama pekerja tidak mampu bekerja pasca kecelakaan kerja. Jika pekerja
tidak mampu bekerja selamanya karena cacat tetap total, atau jika pekerja
meninggal dunia, program jaminan kecelakaan kerja memberi pengganti
pendapatan yang hilang berupa uang pensiun/uang santunan. Program jaminan
kecelakaan kerja membiayai pelayanan kesehatan untuk pengobatan dan
pemulihan pasca kecelakaan kerja. Program jaminan kecelakaan kerja
membiayai pelatihan kerja bagi para penyandang cacat pasca kecelakaan kerja.



Program jaminan kematian mendanai santunan yang diperuntukkan untuk
membiayai penguburan dan memberikan santuan kepada ahli waris.
Program jaminan hari tua memberikan sejumlah dana yang dapat digunakan
untuk membiayai kebutuhan di masa awal pensiun.
Program jaminan pensiun memberikan keberlangsungan pendapatan kepada
pekerja dan keluarganya di masa purna bakti. Program pensiun memberikan
keberlangsungan pendapatan pasca pekerja meninggal dunia kepada
janda/duda. Manfaat pensiun terus berlanjut pasca wafatnya janda/ duda
pekerja dengan memberikan pensiun kepada anak yatim piatunya sepanjang
anak-anak tersebut berusia dalam batasan yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan.
Membangun tata kelola yang baik
Tata kelola yang baik akan mengantarkan penyelenggaraan program jaminan
sosial yang berfungsi, kuat, dan berkesinambungan dalam jangka panjang :
 Pada seperempat diagram bagian kanan atas, dijelaskan pemanfaatan dana
pemerintah dan sebagian kecil dana jaminan sosial untuk penyelenggaraan
program jaminan sosial.
 Kedua dana ini digunakan untuk membiayai tiga aspek penyelenggaraan
program jaminan sosial, yaitu aspek kebijakan dan peraturan perundangundangan, aspek administrasi penyelenggaraan dan aspek pengawasan BPJS.
 Ketiga aspek tersebut dikelola berdasarkan prinsip tata kelola yang baik guna
tercapainya keberlangsungan penyelenggaraan jaminan sosial dalam jangka
waktu panjang.
Terdapat tiga fungsi utama yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan SJSN.
 Penyelenggara adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
 Pengawas Eksternal adalah DJSN bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK),
dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
 Pembentuk peraturan dan kebijakan adalah lembaga pemerintah dan
pemerintah daerah.
Prinsip utama adalah gotong royong dan 3 Pilar Penyangga
SJSN dilaksanakan dengan prinsip gotong-royong wajib. Pekerja wajib
mendaftar dan membayar iuran berkala kepada BPJS. Pekerja yang menerima upah
dan bekerja pada pemberi kerja/majikan didaftarkan oleh majikannya atau
perusahaannya. Pekerja dan majikan menanggung bersama iuran jaminan sosial.
Penyelenggaraan SJSN dengan prinsip gotong-royong wajib bertumpu pada tiga pilar
utama, yaitu :
 Pilar pertama adalah legislasi dan regulasi
Gotong-royong wajib dalam penyelenggaraan program jaminan sosial
membutuhkan dasar hukum yang kuat. Landasan hukum tertinggi
penyelenggaraan SJSN diatur dalam UUD NRI 1945 dan peraturan
perundangan jaminan sosial, yaitu UU SJSN dan UU BPJS beserta peraturan
pelaksanaannya.
 Pilar kedua adalah sistem manajemen informasi.
Penyelenggaran jaminan sosial dengan prinsip gotong-royong wajib
memerlukan sistem manajemen dan informasi yang baik. Penggunaan
instrumen-instrumen teknologi informasi terkemuka akan mempermudah,
mempermurah dan mempercepat tata kerja BPJS serta memperkecil risiko
terjadi kecurangankecurangan.
 Pilar ketiga adalah budaya asuransi sosial.
Gotong-royong wajib dalam penyelenggaraan perlindungan
pendapatan dan aset keluarga dengan mekanisme asuransi sosial adalah
budaya baru bagi bangsa Indonesia. Budaya asuransi sosial perlu segera
dibangun untuk menanamkan keyakinan publik terhadap SJSN dan
penyelenggaraan program-program jaminan sosial nasional. BPJS beserta
Pemerintah adalah pihak yang paling berkepentingan untuk melaksanakan
pembinaan budaya asuransi sosial dan kewajiban membayar iuran
M3 Kepesertaan, Faskes dan Layanan JKN (Tata Cara, Prosedur dan Syarat)
JKN
Definisi
Bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Sistem Jaminan Sosial
Nasional ini diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang
bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia
terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan masyarakat yang layak.
Prinsip JKN  Mirip dengan prinsip SJSN
Penyelenggara JKN
1. Kepesertaan
Peserta terdiri dari 2 yaitu :





PBI : orang fakir miskin dan tidak mampu yang dibiayai oleh pemerintah
Non-PBI : orang-orang yang selain diatas
Terdiri dari :
PPU (Pekerja Penerima Upah) dan Anggota Keluarga :
 Pegawai Negeri dan Swasta, Polri / TNI, Pejabat Negara
PBPU (Pekerja Bukan Penerima Upah) dan Anggota Keluarga :
 Pekerja Mandiri, WNA paling singkat 6 bulan
Bukan Pekerja dan Anggota Keluarga
 Investor, Pemberi Kerja, Penerima Pensiun, Veteran, Perintis
Kemerdekaan
Penerima Pensiun
 Pegawai Negeri dan Swasta, Polri / TNI, Pejabat Negara yang memiliki
hak pensiun
WNI Luar Negeri
 Jaminan kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar negeri diatur
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri. (6 bulan
diluar negeri)
Hak dan Kewajiban Peserta
Hak Peserta
 Mendapatkan kartu peserta sebagai identitas peserta untuk memperoleh
pelayanan kesehatan.
 Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta
prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
 Mendapatkan pelayann kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerja
dengan BPJS Kesehatan, dan
 Menyampaikan keluhan / pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau
tertulis kepada BPJS Kesehatan.
Kewajiban Peserta
 Mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya sebagai peserta BPJS
Kesehatan.
 Membayar iuran
 Memberikan data dirinya dan anggota keluarganya secara lengkap dan
benar
 Melaporkan perubahan data dirinya dan anggota keluarganya, antara
lain perubahan golongan, pangkat atau besaran gaji, pernikahan,
perceraian, kematian, kelahiran, pindah alamat dan pindah fasilitas
kesehatan tingkat pertama.
 Menjaga kartu peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh
orang yang tidak berhak.
 Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.
2. Pembiayaan
Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan
secara teratur oleh Peserta, Pemberi Kerja, dan/atau Pemerintah untuk
program Jaminan Kesehatan (pasal 16, Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan
Kesehatan).
Pembayar Iuran



PBI  Dibayar oleh pemerintah melalui menkes dengan persetujuan
menkeu
Non-PBI : PPU  Pemberi Kerja dan Pekerja sebanyak 5 % (Proporsi
4 % : 1 %)
Non-PBI : PBPU  Dibayar oleh perserta bersangkutan
Besarnya iuran ditentukan oleh presiden melalui Perpres, Hal ini diatur
terakhir oleh Perpres No 64 tahun 2020 : Perubahan Kedua Atas Peraturan
Presiden Nomor 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan
Sejak 1 Juli 2020, Iuran untuk PBPU dan PPU sebagai berikut :
Kelas I : Rp 80.000  Rp 150.000
Kelas II : Rp 51.000  Rp 100.000
Kelas III : Rp 25.500  Rp 42.000 (Mekanisme liat di Perpres)
Pembayaran Iuran
Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan
berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu
jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).
Membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan
secara berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan). Apabila tanggal 10
(sepuluh) jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja
berikutnya. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda
administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang
tertunggak dan dibayar oleh Pemberi Kerja.
BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN
sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta. Dalam hal terjadi kelebihan atau
kekurangan pembayaran iuran, BPJS Kesehatan memberitahukan secara
tertulis kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat belas)
hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan pembayaran
iuran diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan berikutnya.
Cara Pembayaran
Pembayaran FKTP : Sistem Kapitasi dan Non-Kapitasi
Pembayaran FKTL : Sistem INA-CBGs
Pertanggung Jawaban :
BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan
yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak
dokumen klaim diterima lengkap. Besaran pembayaran kepada Fasilitas
Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan
asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar
tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang bersifat
non medis berupa akomodasi. Misalnya: Peserta yang menginginkan kelas
perawatan yang lebih tinggi daripada haknya, dapat meningkatkan haknya
dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau membayar sendiri selisih
antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar
akibat peningkatan kelas perawatan, yang disebut dengan iur biaya
(additional charge).
BPJS Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam
bentuk laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1
Januari sampai dengan 31 Desember). Laporan yang telah diaudit oleh
akuntan publik dikirimkan kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN
paling lambat tanggal 30 Juni tahun berikutnya.
3. Pelayanan
Ada 2 Pelayanan : Pelayanan medis dan non medis
Prosedur Pelayanan : Sistem Rujukan dari FKTP ke FKTL kecuali gawat
darurat
Kompensasi Pelayanan : Jika suatu daerah belum ada fasilitas kesehatan
yang memenuhi syarat, berikut beberapa kompensasi :
 Pergantian Uang Tunai (Pelayanan Kesehatan dan Transportasi)
 Pengiriman Tenaga Kesehatan
 Penyedian Fasilitas Kesehatan tertentu
Penyelenggara :
Semua Fasilitas Kesehatan yang menjalin kerja sama dengan BPJS
Kesehatan baik fasilitas kesehatan milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan
swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing (suatu
proses penilaian atas fasilitas kesehatan standar yang ditentukan) dan
rekredensialing.( proses seleksi ulang terhadap pemenuhan persyaratan dan
kinerja pelayanan bagi fasilitas kesehatan yang telah dan akan melanjutkan
kerja sama dengan BPJS Kesehatan)
Manfaat Pelayanan :
Pelayanan Medis : Preventif, Promotif, Kuratif dan Rehabilitatif
Manfaat yang tidak dijamin meliputi :
 Tidak sesuai prosedur
 Pelayanan diluar faskes yang berkerjasama dengan BPJS
 Pelayanan bertujuan kosmetik
 General checkup pengobatan alternatif
 Pengobatan untuk mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi
 Pelayanan kesehatan pada saat bencana
 Pasien Bunuh Diri /Penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk
menyiksa diri sendiri/ Bunuh Diri/Narkoba.
Syarat dan Pendaftaran JKN
PBI : Fakir Miskin dan Orang tidak mampu
Syarat :
 Fakir Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber
mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi
tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak
bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya.
 Orang Tidak Mampu adalah orang yang mempunyai sumber mata
pencaharian, gaji atau upah, yang hanya mampu memenuhi kebutuhan
dasar yang layak namun tidak mampu membayar Iuran bagi dirinya
dan keluarganya.
Pendaftaran :
 Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak mampu yang menjadi peserta
PBI dilakukan oleh lembaga yang menyelenggarakan urusan
Pemerintahan di bidang statistik (Biro Pusat Statistik) yang diverifikasi
dan divalidasi oleh Kementerian Sosial.
 Selain peserta PBI yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, juga
terdapat penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah
berdasarkan SK Gubernur/Bupati/Walikota bagi Pemda yang
mengintegrasikan program Jamkesda ke program JKN.
Non PBI : PPU dan PBPU
Syarat :
 Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya termasuk warga
negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan
dan anggota keluarganya
 Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya termasuk
warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam)
bulan dan anggota keluarganya
 Bukan Pekerja dan anggota keluarganya.
PPU (Pekerja Penerima Upah)
 Perusahaan / Badan usaha mendaftarkan seluruh karyawan beserta
anggota keluarganya ke Kantor BPJS Kesehatan dengan melampirkan :
a. Formulir Registrasi Badan Usaha / Badan Hukum Lainnya
b. Data Migrasi karyawan dan anggota keluarganya sesuai format yang
ditentukan oleh BPJS Kesehatan.
 Perusahaan / Badan Usaha menerima nomor Virtual Account (VA)
untuk dilakukan pembayaran ke Bank yang telah bekerja sama
(BRI/Mandiri/BNI)
 Bukti Pembayaran iuran diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan untuk
dicetakkan kartu JKN atau mencetak e-ID secara mandiri oleh
Perusahaan / Badan Usaha.
PBPU
 Calon peserta mendaftar secara perorangan di Kantor BPJS Kesehatan
 Mengisi formulir Daftar Isian Peserta (DIP) dengan melampirkan
Fotokopi Kartu Keluarga (KK), Fotokopi KTP/Paspor, dan Pasfoto 3 x
4 sebanyak 1 lembar. Untuk anggota keluarga menunjukkan Kartu
Keluarga/Surat Nikah/Akte Kelahiran.
 Setelah mendaftar, calon peserta memperoleh Nomor Virtual Account
(VA)
 Melakukan pembayaran iuran ke Bank yang bekerja sama
(BRI/Mandiri/BNI)
 Bukti pembayaran iuran diserahkan ke kantor BPJS Kesehatan untuk
dicetakkan kartu JKN.
FKTP  Bahas LO 5
FKTL
Berdasarkan Jenis pelayanan Rumah Sakit dibagi 2 :
 Umum  rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada
semua bidang dan jenis penyakit.
 Khusus  pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis
penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ,
jenis penyakit atau kekhususan lainnya.
Pelayanan kesehatan yang diberikan berupa :

Pelayanan medik dan penunjang medik (umum, spesialis dan
subspesialis)
 Pelayanan keperawatan dan kebidanan
 Pelayanan non medik (gizi, farmasi, sarana prasarana)
Klasifikasi RS (PMK No 3 tahun 2020)  Liat tabel dalam lampiran PMK
RS Umum :
 Kelas A : Jumlah tempat tidur 250
 Kelas B : Jumlah tempat tidur 200
 Kelas C : Jumlah tempat tidur 100
 Kelas D : Jumlah tempat tidur 50
 Kelas D Pratama (Ketentuan UU)
RS Khusus :
 Kelas A : Jumlah tempat tidur 100
 Kelas B : Jumlah tempat tidur 75
 Kelas C : Jumlah tempat tidur 25
Tipe rumah sakit lainnya :
Tipe A : Faskes III, Izin oleh Menkes
 Jenis rumah sakit dengan pelayanan kesehatan pusat. Artinya, rumah sakit
tipe A merupakan rujukan tertinggi (top referral hospital)
Tipe B : Faskes II, Izin oleh Gubernur
 pelayanan kedokteran medis spesialis luas hingga sub-spesialis lebih
terbatas. Biasanya, rumah sakit tipe B juga dijadikan rujukan di rumah
sakit kabupaten.
Tipe C : Faskes II, Izin oleh Bupati / Walikota
 Fasilitas kesehatan (faskes) tingkat dua. Rumah sakit ini menyediakan
pelayanan kesehatan dari kedokteran sub-spesialis namun lebih terbatas.
Tipe D : Faskes I, Izin oleh Bupati / Walikota
 rumah sakit tipe D yang merupakan rumah sakit transisi atau sementara.
Tipe E
 Rumah sakit yang hanya memiliki 1 bidang ilmu khusus (RS Khusus)
M3 BPJS dan Faskes Tingkat Pertama (Sistem Berjenjang)
Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan
medis, yaitu:
 Dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh fasilitas kesehatan
tingkat pertama
 Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk
ke fasilitas kesehatan tingkat kedua
 Pelayanan kesehatan tingkat kedua di faskes sekunder hanya dapat diberikan
atas rujukan dari faskes primer.
 Pelayanan kesehatan tingkat ketiga di faskes tersier hanya dapat diberikan atas
rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer.
 Pelayanan kesehatan di faskes primer yang dapat dirujuk langsung ke faskes
tersier hanya untuk kasus yang sudah ditegakkan diagnosis dan rencana
terapinya, merupakan pelayanan berulang dan hanya tersedia di faskes tersier.
Sistem Pembayaran FKTP :
https://bpjskesehatan.go.id/bpjs/dmdocuments/5fb1dc8414591e392ab5a3f70e2ab35a.pdf
Paketan sistem pembayaran kesehatan  INA-CBGs (PMK No 27 Tahun 2014)
Indonesian Case Based Groups  sistem pembayaran dengan sistem "paket",
berdasarkan penyakit yang diderita pasien menggunakan kode khusus
Tarif Paket Casemix telah ditentukan dalam PMK No 69 tahun 2013
Sistem pembayaran dengan :
 Metode pembayaran prospektif (global budget, Perdiem, Kapitasi,
Cased based payment/Casemix)  metode pembayaran yang
dilakukan atas layanan kesehatan yang besarannya sudah diketahui
sebelum pelayanan kesehatan diberikan
 Metode pembayaran retrospektif (fee for service)
Metode pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang
diberikan kepada pasien berdasar pada setiap aktifitas layanan yang
diberikan, semakin banyak layanan kesehatan yang diberikan semakin
besar biaya yang harus dibayarkan
Sistem pembiayaan prospektif menjadi pilihan karena :
 dapat mengendalikan biaya kesehatan
 mendorong pelayanan kesehatan tetap bermutu sesuai standar
 Membatas pelayanan kesehatan yang tidak diperlukan berlebihan atau
under use
 Mempermudah administrasi klaim
 Mendorong provider untuk melakukan cost containment
M3 ICD dan ICPC
ICD
International Statistical Classification of Diseases and Related Health
Problems atau disingkat ICD adalah suatu sistem klasifikasi penyakit dan beragam
jenis tanda-tanda, simptoma, kelainan, komplain dan penyebab eksternal dari suatu
penyakit.
The International Classification of Diseases ini diterbitkan oleh Organisasi
Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) dan digunakan di seluruh dunia
untuk morbiditas dan mortalitas statistik, sistem pembayaran klaim asuransi, dan
mendukung pengambilan keputusan yang otomatis dalam perawatan kesehatan.
Penggunaan ICD-10 dimulai pada tahun 1983, dan revisi baru disahkan oleh the
Forty-third World Health Assembly pada bulan Mei 1990. Versi terbaru mulai
digunakan di negara-negara anggota WHO mulai tahun 1994. Sistem klasifikasi ICD10
ini
memungkinkan lebih
dari 155.000 kode
yang
berbeda dan berbagai diagnosa dan
prosedur baru,
penambahan yang
signifikan pada 17.000 kode yang tersedia di ICD-9. Pengaplikasian ICD-10
ini relatif cepat di sebagian
besar
dunia. Beberapa bahan
materi
tentang
ICD tersedia secara online oleh WHO.
ICD 10  ICD 11 Berlaku pada 1 Januari 2022
Ketentuan Mekanisme Liat di KP
ICPC  International Classification of Primary Care
ICPC terdiri dari 17 bab:

A Umum dan tidak ditentukan
















B Darah, organ pembentuk darah, limfatik, limpa
D Pencernaan
F Mata
H Telinga
K Peredaran Darah
L Muskuloskeletal
N Neurologis
P Psikologis
R Pernapasan
S Kulit
T Endokrin, metabolik dan nutrisi
U Urologi
W Kehamilan, persalinan, keluarga berencana
X Sistem kelamin wanita dan payudara
Y Sistem genital pria
Z Masalah sosial
Download