Uploaded by evaainahusna33

jawaban

advertisement
Saya akan menjawab pertanyaan dari saudara Rikho Yudistira, Jawaban dari saya Tentu saja boleh
menggunakan benda yang sebenarnya itu akan lebih membantu Guru dalam menjelaskan materi dan
peserta didik dapat memahami materi dengan mudah karena benda yang digunakan kongrit. Serta
Model pembelajaran ini bisa dilaksanakan dengan bantuan media lainnya seperti menggunakan
OHP, Proyektor, ataupun dengan menggunakan poster. Namun dipenelitian kami memang lebih
menekankan pada media gambar saja karena media gambar ini lebih mudah dicari dan juga mudah
digunakan. Akan lebih baik lagi dengan adanya benda yang sebenarya dan adanya gambar dalam
penyampian materi yang akan diajarkan.
Assalamualiku wr wb
Nama : Eva Aina Husna
Nim : 1700005348
Ditujukan untuk kelompok 7
Pertanyaanya : Seperti yang sudah dijelaskan pada kelompok anda bahwa Metode PBL ini lebih
menakankan pada masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang
berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Materi apa yang cocok diterapkan dengan
metode ini dan seperti apa?
Sekian terimakasih
Apakah metode Jigsaw ini dapat digunakan untuk materi lain serta dapat digunakan untuk
pemebelajaran tematik? Jika ada bagaimana cara menerapkannya untuk materi tersebut.
Sekian terimakaish
Contohnya Pembelajaran pada Bahasa Indonesia menulis puisi dengan metode examples non
examples akan melatih siswa untuk belajar lebih aktif, karena metode ini merupakan metode
pembelajaran aktif. Dalam hal ini, guru harus mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan
dalam pembelajaran. Selain itu, guru juga harus bisa membuat situasi belajar yang dapat membuat
siswa lebih aktif selama pembelajaran. Pembelajaran dengan metode examples non examples dapat
dilakukan dengan beberapa langkah.
a. Langkah pertama, guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai. Dalam pembelajaran menulis puisi, guru mempersiapkan gambar yang sesuai dengan
contoh puisi yang diberikan guru, misalnya guru menempel gambar pemandangan di sawah, maka
contoh puisi yang diberikan berhubungan dengan sawah. Gambar yang diberikan guru adalah
gambar lingkungan yang ada di sekitar sekolah.
b. Langkah kedua, guru menempelkan gambar yang telah dipersiapkan di papan tulis. Gambar yang
ditempel diusahakan berukuran besar sehingga siswa yang duduk di belakang juga dapat melihat
gambar tersebut dengan jelas.
c. Langkah ketiga, guru memberi petunjuk dan tujuan pembelajaran tentang menulis puisi. Selain itu,
guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/ menganalisis gambar, dalam
tahap ini guru juga menjelaskan sedikit tentang materi pembelajaran tentang menulis puisi.
d. Langkah ke empat, guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang masing-masing kelompok
terdiri atas 2-3 orang siswa. Kemudian guru menyuruh siswa untuk mengamati gambar dan
selanjutnya siswa diminta untuk mengamati objek secara langsung di sekitar sekolah untuk
dituliskan ke dalam sebuah puisi. Hasil pekerjaan tersebut ditulis pada kertas.
e. Langkah kelima, tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil pekerjaannya yang
berupa puisi. Tidak harus semua anggota kelompok ikut maju membacakan puisi hasil pekerjaannya,
tetapi cukup perwakilan dari setiap kelompok yang maju dan membacakan hasil pekerjaannya di
depan keles.
f. Tahap keenam, guru memberikan penguatan kepada siswa yang telah maju, misalnya dengan
pujian atau tambahan nilai. Kemudian siswa lain menanggapi pembacaan puisi yang dilakukan
temannya, bisa berupa kritik atau saran dalam pembacaan puisi tersebut.
g. Tahap ketujuh merupakan tahap terakhir, yaitu guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya tentang kemudahan dan kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran hari itu.
Setelah itu guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
Saya mau nnya nih kan ini tentang example non example kan? Brrti tntng gambar² kan yaa? Nahh yg
saya tanyakan apakah ini cocok untuk smua kelas dari kelas 1-6 ? Atau hanya bbrapa kelas saja?
Terus nnti ini bahan untuk membuat gambarnya ini dari bahan apa yaa? Apakah awet untuk di pakai
bbrapa tahun atau hanya sekali pakai saja?
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan mbak Wulan, memang benar bahwa metode example
non example ini menggunakan gambar gambar. Metode ini bisa digunakan untuk semua kelas baik
itu kelas bawah ataupun tinggi. Untuk bahan membuat gambar tergantung dari gurunya masing
masing akan menggunakan gambar berbahan apa, bahannya bisa menggunakan kertas print biasa
seperti (A4, F4 dll) kemudian kertas print print an tersebut bisa dilaminating agar awet dan jika
terkena air tidak akan basah ataupun robek. Bisa juga menggunakan banner yang lebih awet namun
tentu saja akan lebih mahal biayanya hehe.. Bahan bahan seperti yang sudah dijelaskan mungkin
dapat bertahan hingga 2-6 kali pemaikan , tergantung dari pemaiknyya dan juga merawatnya.
Namun untuk yang berbahan banner mungkin bisa dipakai sampai 1 tahun lebih jika cara
merawatnya benar dan sesuai.
Karena menurut kelompok kami metode example non example ini cocok digunakan untuk mata
pelajaran khususnya tematik, sesuai bahwa model pembelajaran Example Non Example adalah
model yang menggunakan media gambar dalam penyampaian materi yang bertujuan mendorong
siswa untuk berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung
dalam contoh-contoh gambar yang disajikan atau disiapkan. Sudah terbukti pada beberapa hasil
penelitian yang relevan, mungkin bisa dilihat lagi Mba Ridha pada halaman 23 pada proposal
penelitian kami. Banyak sekali metode yang bisa digunakan untuk menyelelaikan permasalahan ini
tentunya. Namun kelompok kami memilih metode example non example karena beberapa alasan
yang sudah disampaikan di atas.
Solusi yang digunakan jika ada peserta didik yang kurang memahami belajar menggunakan gambar
yaitu dengan cara Belajar sambil bermain tentu adalah salah satu sebuah kondisi yang diidamkan
oleh siswa. Apalagi pembelajaran tersebut terdapat media yang menyenangkan maka peserta didik
tidak akan bosan. Dengan menerapkan media gambar, diharakan dalam pembelajaran dapat
bermanfaat secara fungsional bagi semua siswa, sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa
diharapkan akan lebih aktif termotivasi untuk belajar. Sebagai seorang guru akan
mempertimbangkan hal ini dan melihat situasi dan kondisi didalam kelas tersebut dengan cara
mempertimbangkan apakah jika menggunakan metode ini peserta didik cenderung menangkap
materi dengan mudah atau tidak, jika Cuma satu siswa saja yang tidak dapat memahami materi
maka guru akan memberi pengertian kepada peserta didik tersebut dan mengajarnya dengan
perlahan agar peserta didik tersebut menerima materi dari guru dengan jelas serta paham.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Mas Zainul, Banyak model pembelajaran yang dapat
digunakan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, salah satunya menggunakan
model pembelajaran Example Non Example. Tentu saja cocok untuk digunakan dalam pembelajaran
tematik karena Model ini dapat melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan
masalah-masalah yang terkandung dalam contoh-contoh gambar sesuai dengan tujuan materi yang
diajarkan oleh guru. Peserta didik diminta untuk berperan aktif. Bisa anda lihat di dalam penelitian
kami secara keseluruhan disitu juga sudah dijelaskan bahwasannya Guru tidak hanya sebagai inti
dari pembelajaran saja, namun guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan
program pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya, peralatan yang diperlukan untuk
pelaksanaan belejar harus sudah tersedia serta guru harus bisa memiliki pemahaman yang luas
tentang tema yang akan dipilih dalam mata pelajaran. Sehingga saling berhubungan antara satu
dengan yang lainnya. Karena pembelajaran tematik ini merupakan suatu pembelajaranyang
menggabungkan antara materi pelajaran dengan pengalaman belajar.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Arda, ya solusinya yaitu dengan cara Belajar sambil
bermain tentu adalah salah satu sebuah kondisi yang diidamkan oleh siswa. Apalagi pembelajaran
tersebut terdapat media yang menyenangkan maka peserta didik tidak akan bosan. Dengan
menerapkan media gambar, diharakan dalam pembelajaran dapat bermanfaat secara fungsional
bagi semua siswa, sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa diharapkan akan lebih aktif
termotivasi untuk belajar. Jangan cenderung dengan ceramah ataupun membaca saja itu akan
mudah membuat siswa bosan. Kemudian guru juga harus gembira saat mengajar karena jika gurunya
tidak semngat belajar siswapun ikutan bosen mendengarnya dan ajak siswa untuk bercanda
seperlunya saja. Setelah akhir materi guru juga bisa memberi reward berupa hadiah barang ataupun
mendapatkan point tambahan itu akan membuat siswa smengat belajar.
Pertanyaan saya adalah apa alasan teman2 dari klmpok 8 memilih atau mengadakan penelitian disd
muhammadiyah prambanan? Apakah sd tersebut sudah menerapkan pembelajarn example non
example disekolahnya?
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Mbak Heni, kami memilih sd muhammadiyah
prambanan karena memang disana Proses pembelajaran guru masih terbiasa dengan menggunakan
model terdahulu yaitu model konvensional, metode ceramah dan tanya jawab. Sehingga
pembelajaran disana belum efektif dan efisien. Mungkin mbak Heni bisa membaca kembali
identifikasi masalah yang sudah kami jabarkan pada penelitian kami.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Mbak Nana, maaf jika ada kekurangan karena belum
sepenuhnya paham pada pertanyaan tersebut hhe. Sistem Evaluasi yang diharapkan yaitu Tujuannya
agar evaluasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, sistematis, efisien dan dapat dipertanggung
jawabkan. perencanaan evaluasi membantu untuk mengetahui apakah standar dalam menyatakan
sikap atau perilaku telah mencapai sasaran atau tidak, jika demikian sasaran akan dinyatakan
ambigu dan akan kesulitan merancang tes untuk mengukur prestasi siswa, perencanaan evaluasi
harus dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai dan komprehensif sehingga perencanaan
tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam menetapkan tujuantujuan tingkah laku (behavioral objective) atau indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan
pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat. Agar
kompetensi yang akan diuji sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar dan
indikator yang terbagi dalam tiga domain kongnitif, afektif, dan psikomotor, Seperti yang sudah
kami jelaskan bisa dibaca lagi pada penelitian kami dihalaman 21 pada point Hasil Belajar.
Download