Uploaded by sarisitiwahyuni0209

Makalah ikatan atom kristal

advertisement
Makalah Pendahuluan Fisika Zat Padat
IKATAN ATOM DALAM KRISTAL
KELOMPOK 1
RIZKI AMELIA
(4172121031)
SARI SITI WAHYUNI
(4171121033)
SRI WAHYUNI BR GINTING
(4171121034)
STEVEN A. S. TELAUMBANUA
(4173321053)
YUNI S. P SIMBOLON
(4171121038)
YANA NOVITA BERUTU
(4173321060)
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pendahuluan Fisika Zat Padat
Yang Diampu Oleh :
Prof. Dr.Makmur Sirait, M.Si
PROGRAM STUDI FISIKA
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan yang maha kuasa karena berkat rahhmat-Nya kami
diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah yang diberikan kepada
kami pada Mata Kuliah Pendahuluan Fisika Zat Padat.
Dalam penyusunan tugas makalah ini kami banyak mendapat dukungan, bimbingan,
serta semangat dari banyak pihak sehingga kami bisa menyelesaikannya tepat waktu. Untuk
itulah dengan penuh rasa hormat kami ucapkan terima kasih.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih
memerlukan pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
dari pembaca sangat kami harapkan agar nantinya dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal
dan demi kesempurnaan tugas berikutnya. Dalam kesempatan ini kami juga mohon maaf jika
ada hal-hal yang tidak berkenan dalam makalah ini dan proses yang dilalui dalam
penyusunannya.
Akhir kata, kami ucapkan terimakasih kepada semua yang berpartisipasi demi
terselesaikannya tugas ini dan semoga kita terus dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Medan, 23 Maret 2020
Penulis
Kelompok 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berkembangnya ilmu pengetahuan diera modern yang sangat pesat ini, dan dengan
perkembangan zaman yang semakin pesat, kebutuhan akan efektifitas dan efisiensi sangat
diutamakan dalam bidang. Hal tersebut telah mendorong manusia untuk berkreasi dan
berinovasi dalam bidang ilmu pengetahuan untuk menciptakan suatu ilmu pengetahun yang
lebih efektif dan efisien yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak
munculnya berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat membantu kehidupan manusia.
Menambah masuk hampir disegala bidang kehidupan, sebagai contohnya adalah dibidang
ilmu pengetahuan Fisika Zat Padat.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan pembahasan
tentang salah satu dalam bidang ilmu pegetahuan dibidang Fisika Zat Padat. Yang akan
membahas tentang :
Pembahasan Kekristalan Zat Padat, Pembahasan Ikatan Atomik dalam Kristal,
Pembahasan Gaya-gaya Antar Atom, Pembahasan Macam-macam Ikatan Atom dalam
Kristal.
Kristal atau hablur adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya
terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat
cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya bisa
berupa kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya "terpasang" pada kisi atau
struktur kristal yang sama, tetapi, secara umum, kebanyakan kristal terbentuk secara simultan
sehingga menghasilkan padatan polikristalin. Misalnya, kebanyakan logam yang kita temui
sehari-hari merupakan polikristal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Kekristalan Zat Padat.?
2. Bagaimana Ikatan Atomik dalam Kristal?
3. Apa Gaya – gaya Antar atom ?
4. Apa Macam-macam Ikatan Atom dalam Kristal?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu kekristalan zat padat
2. Mengetahui bagaimana ikatan atomik dalam kristal
3. Mengetahui apa saja gaya- gaya antar atom
4. Mengetahui apa saja macam-macam ikatan atom dalam kristal.
1.4 Manfaat
Setelah mempelajari fisika zat padat tersebut mahasiswa dapat memahami dan
mengetahui tentang kekeristalan zat padat, gaya apa saja yang terdapat antar atom dan
macam-macam ikatan atom didalam Kristal.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kekristalan Zat Padat
Kristal adalah suatu padatan dimana atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas
secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi.
Secara umum, zat cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada
kondisi ideal, hasilnya bisa berupa kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya
"terpasang" pada kisi atau struktur kristal yang sama, tapi, secara umum, kebanyakan kristal
terbentuk secara simultan sehingga menghasilkan padatan polikristalin. Misalnya,
kebanyakan logam yang kita temui sehari-hari merupakan polikristal.
Struktur kristal mana yang akan terbentuk dari suatu cairan tergantung pada kimia
cairannya sendiri, kondisi ketika terjadi pemadatan, dan tekanan ambien. Proses terbentuknya
struktur kristalin dikenal sebagai kristalisasi.
Kristal dapat terbentuk dalam;
ü Kristal tunggal
ü Polikristal
ü Mikrokristal
ü Nanokristal
Amorf yaitu zat padat yang tidak memiliki bentuk pengulangan keteraturan, jangkauan
keteraturan atom biasanya sampai tetangga kedua.
2.2
Ikatan Atomik dalam Kristal
Struktur spasial terbangun oleh gaya-gaya antar atom dalam kristal Dari jarak atom
dalam kristal yang berkisar sekitar 1Å bersifat listrik-magnet;
 Tarik-menarik (coulomb)
 Tolak-menolak antar lawan elektron
 Jarak stabil antara ion-ion tergantung dari kesetimbangan antara dua macam gaya
tadi.
 macam dan kekuatan ikatan atomik ditentukan oleh struktur elektron dari atomatom yang membentuk kristal
 ikatan atomik sangat ditentukan oleh kecenderungan atom-atom dalam kristal
untuk memperoleh konfigurasi elektron seperti yang dipunyai oleh atom-atom gas
mulia.
2.3 Macam-macam Ikatan Atom Dalam Kristal
Ikatan-ikatan kimia antara atom-atom dalam kristal dapat diklasifikasikan menjadi
empat ikatan utama yaitu ikatan ionik, ikatan kovalen, ikatan van der Walls, dan ikatan
logam. Pada ikatan-ikatan atom-atom tersebut gaya repulsif dan atraktif bekerja dalam
mekanisme yang berbeda.
1. Ikatan Ionik
Ikatan ionik terbentuk dari ion positif dan negatif yaitu kation (+) dan anion (-), Hal
ini sesuai dengan Hukum Coulomb. Ikatan ionik dihasilkan dari gaya elektrostatik dari
muatan ion yang berbeda, sehingga gaya yang timbul dalam ikatannya sangat kuat yang salah
satu sifat dari ikatan ionik ini adalah membentuk padatan atau kristal. Ikatan ionik dalam
kristal sama dengan ikatan ionik dalam molekul. Ikatan ionik terjadi bila atom-atom yang
memiliki energi ionisasi rendah akan melepaskan elektron-elektronnya berinteraksi dengan
atom-atom lain yang memiliki afinitas elektron tinggi. Atom pertama akan menjadi ion
positip dan atom kedua akan menjadi ion negatif. Dalam kristal ionik ion-ion ini berada
bersama dalam konfigurasi keseimbangan dalam mana gaya tarik antara kedua ion menjadi
dominan dari pada gaya tolak antara kedua ion. Dalam kasus molekul, kristal dari semua jenis
ikatannya dilindungi oleh gaya kohesif yang dihasilkan oleh prinsip eksklusi yang
memerlukan keadaan energi tinggi bila shell elektron dari atom-atom berbeda saling
tumpang-tindih.
Kristal ikatan ion dapat terbentuk saat pemadatan garam, baik dari lelehan cairan
maupun kondensasi larutan. Jenis struktur kristal ionik yang biasa ditemukan yaitu kristal
NaCl, CsCl, MgO, SiO2, LiF.
Konfigurasi ssusunan Na+ dan Cl- dalam kristal NaCl
ditunjukan oleh gambar 1.
= Na+
= Cl-
Gambar. 2
Struktur kristal NaCl
Pada gambar 2 menunjukkan bahwa masing-masing ion memiliki enam tetangga
terdekat dari ion jenis yang lain, yang menyatakan struktur kristal pusat muka (F). Dalam
kristal NaCl jarak antara ion-ion terdekat tersebut adalah 5,62 A. Struktur yang berbeda
ditemukan pada kristal Cesium-Clorida. Salah satu ion terletak pada pusat kubus sedangkan
ion jenis lainnya berada pada posisi di titik-titik sudut kubus. Struktur tersebut merupakan
struktur kristal pusat badan (I). Masing-masing ion akan mememiliki delapan ion tetangga
terdekat. Pada kristal CsCl jarak terdekatnya adalah 4,11 A.
Kebanyakan padatan ionik adalah sangat keras, memiliki ikatan yang kuat antara ionion penyusunya, dan memilki titik lebur yang tinggi.
Cairan polar seperti air dapat
melarutkan beberapa kristal ionik, tetapi cairan kovalen seperti gasolin tidak dapat
melarutkan kristal ionik.
Energi kohesif dari sebuah kristal ionik adalah energi yang dapat dihasilkan dari
pembentukan kristal oleh atom-atom netralnya. Energi kohesif biasanya dinyatakan dalam
ev/molekul atau kkal/mole. Kontribusi utama terhadap energi kohesif dari sebuah kristal
ionik adalah energi potensial elektrostatik (energi potensial coulomb) dari ion-ion.
Tinjaulah ion Na+ pada gambar 1 memiliki enam ion Cl- tetangga terdekat yang masingmasing jaraknya adalah r. Energi potensial dari ion Na+ karena enam ion Cl- adalah;
V1  
6.e2
4o .r
Maka tetangga terdekat berikutnya adalah 12 ion Na+ , masing-masing dengan jarak
r√2, maka energi potensial yang dihasilkan adalah;
12.e2
V2  
4o .r 2
Jika penjumlahan dilanjutkan untuk ion-ion terdekat berikutnya maka diperoleh
jumlah energi potensial dari ion Na+ untuk seluruh ion-ion terdekat adalah;
V 
.e2 
12

 ....
6 
4o .r 
2

 1,748
V  
.e 2
4o .r
.e 2
4o .r
2.2
Besaran α disebut konstanta Madelung dari kristal dan memiliki nilai yang sama
untuk semua kristal sejenis. Akan tetapi untuk CsS menghasilkan nilai α yang berbeda,
dimana α = 1,763 dan ZnS yang memiliki struktur kristal yang sama memiliki α = 1,638.
Sumbangan energi potensial yang dihasilkan oleh gaya tolakan akibat prinsip eksklusi
dapat dinyatakan dalam bentuk:
Vrep 
B
rn
2.3
Tanda dari Vrep adalah positip yang berhubungan dengan sebuah interaksi tolakan
(repulsive) dan kebergantungfan pada r-n (dimana n adalah sebuah bilangan besar) berkaitan
dengan sebuah gaya dalam uinterval sangat dekat yang berubah secara cepat terhadap
penurunan jarak antar inti r.
Sehingga jumlah keseluruhan energi potensial ion karena interaksinya dengan ion-ion
yang lainnya adalah;
V = Vcoul + Vrep.
 .e2
B
V 

4 . o .r r n
2.4
Pada keadaan kesetimbangan jarak terdekat ion dinyatakan ro, energi potensial adalah
minimum dan selanjutnya (dV/dr) = 0 pada r = ro.
 dV

 dr
 .e2
nB



0

r  ro 4 . o .ro2 ron 1
B
 .e2 n 1
ro
4 . o .n
diperoleh
2.5
dengan memasukkan persamaan 2.5 ke persamaan 2.4 diperoleh energi portensial ion dalam
keadaan kesetimbangan adalah;
V 
 .e2  1 
1  
4 . o .ro  n 
2.6
n pada persamaan 2.6 dapat diperoleh dari pengamatan kompresibilitas dari kristal ionik.
Nilai rata-rata untuk n ≈ 9 berarti bahwa gaya tolakan (repulsive) berubah agak tajam
terhadap r. Pada jarak kesetimbangan interaksi tolakan akibat prinsip eksklusi mengurangi
energi potensial kurang lebih 11 %.
Pada sebuah kristal NaCl, jarak kesetimbangan antara ion terdekat adalah r o = 2.81 A,
karena α = 1,478 dan n = 9 maka energi potensial dari dari sebuah ion adalah;
V 
=-
 .e2  1 
1  
4 . o .ro  n 
9 x109 x1,748 x(1,6 x1019 ) 2  1 
1   = - 1,27 x 10-18 joule
2,81
 9
= -7,97 ev
Oleh karena itu, perhitungan tidak dapat dilakukan untuk masing-masing ion lebih
dari satu kali , maka hanya setengah bagian dari energi potensial ini atau – 3,99 ev saja yang
menjadi sumbangan energi per ion terhadap energi kohesif kristal. Dalam perhitungan energi
kohesif kristal juga harus memasukkan sumbangan dari energi yang diperlukan untuk
memindahkan elektron dari sebuah atom Na ke sebuah atom CL yang menghasilkan
pasangan ion Na+- Cl-. Energi pemindahan elektron ini adalah selisih antara energi ionisasi
+5,14 ev dan energi afinitas elektron –3,61 ev yaitu sebesar 1,53 ev. Dengan demikian
masing-masing atom menyumbangkan 0,77 ev kepada energi kohesifnya. Oleh karena itu
jumlah energi kohesif per atomadalah
Ekohesif = (-3,99 + 0,77) ev/atom = -3,22 ev/atom
Gambaran empiris untuk energi kohesif dari sebuah kristal ionik dapat ditentukan dari
pengukuran panas penguapannya, energi disosiasi dan energi pemindahan elektron. Untuk
NaCl menghasilkan pengukuran 3,28 ev yang mendekatai hasil perhitungan. Terdapat dua
sumbangan energi kohesif dari kristal ionik yang belum tercakup dalam perhitungan di atas
yaitu; (1) energi interaksi van der Walls antara ion-ion terdekat dan energi titik nol dari
ossilasi ion-ion pada posisi kesetimbangn.
Sifat kristal ionik
1. Keras dan stabil
2. Merupakan konduktor yang buruk, karena tidak ada elektron bebas
3.
4.
5.
6.
Suhu penguapannya tinggi sekitar 1000 sampai 2000 K
Tidak tembus cahaya
Mudah larut dalam cairan polar (air)
Menyerap radiasi infra merah
2. Ikatan Kovalen Pada kristal
Ikatan kovalen terjadi sebagai sebuah bentuk ikatan antara dua atom atas dasar
pemakaian elektron bersama dalam ememnuhi kesetabilan struktur elektronik. Atom-atom
yang berikatan kovalen menyumbangkan satu atau dua elektron-elektro valensinya pada
ikatan dan eketron-elektron tersebut dipakai bersama oleh kedua atom yang berikatan. Gaya
kohesif dalam kristal kovalen muncul dari adanya interaksi elektron-elektron antara atomatom berdekatan.
Krital-kristal dari ikatan kovalen murni relatif sedikit ditemukan di alam. Contoh
kristal dengan ikatan kovalen yang banyak ditemukan adalah intan (diamond), Silikon,
Germanium, SiC, Dalam SiC masing-masing atom dikelilingi oleh empat atom yang lain
seperti pada diamond dalam struktur tetrahedral yang ditunjukkan oleh gambar 2. Hampir
semua kristal kovalen bersifat keras, memiliki titik lebur tinggi, dan tidak dapat larut dalam
semua jenis larutan alami, serta memilki energi kohesif antara 3 ev/atom sampai 5 ev/atom.
Struktur
Atom S
Atom Zn
Gambar 3.
Struktur tetrahedral dengan ikatan kovalen dari SzS
Sifat-Sifat Utama Ikatan Kovalen
Ketika dua atom didekatkan, timbul interaksi antar elektronnya dengan akibat orbit
atom serta tingkat energi masing-masing atom teralihkan menjadi orbit molekul; dua orbit
atom yang identik dari kedua atom, sewaktu terpisah jauh, beralih menjadi dua orbit molekul
yang berbeda.Pada salah satu orbit molekul itu, fungsi gelombang elektron bertumpang tindih
sedemikian rupa sehingga energiinya lebih rendah daripada energi total kedua atom sewaktu
terpisah jauh. Inilah orbit ikat yang membentuk molekul stabil. Orbit molekul lainnya (orbit
antiikat) memiliki energi yang lebih tinggi daripada energi total kedua atom sewaktu terpisah
jauh. Karena itu, orbit ini tidak membentuk molekul stabil. Asas larangan Pauli juga berlaku
pada orbit molekul, tiap orbit molekul paling banyak dapat didiisi oleh dua elektron yang
berkaitan dengan kedua arah berlawanan spin elektron.
Macam-Macam Ikatan Kovalen
1. Ikatan Kovalen Polar
Ikatan Kovalen yang terjadi antara dua atom yang berbeda, contoh HF, HF memiliki
keelektronegatifan yang berbeda
2. Ikatan Kovalen Non Polar
Ikatan kovalen yang terjadi diantara dua atom yang sama, dan kelektronegatifan yang
sama,, contoh O2
3. Ikatan Kovalen Koordinasi
Ikatan kovalen dengan elektron berasala dari satu atom, contoh BF3NH3.
Kristal kovalen
Atom-atom kristal kovalen diselenggarakan bersama dalam jaringan tiga dimensi oleh
ikatan kovalen saja. Grafit dan intan, alotrop karbon, adalah contoh yang baik. Karena ikatan
kovalen yang kuat dalam tiga dimensi, berlian memiliki kekerasan tertentu dan titik leleh
tinggi. Quartz (SiO2) adalah contoh lain dari kristal kovalen. Distribusi dari atom silikon
dalam kuarsa mirip dengan karbon dalam berlian, tetapi dalam kuarsa atom oksigen antara
setiap pasangan atom Si..
Contoh ikatan kovalen : Atom hidrogen (H) memiliki konfigurasi 1s1 akan lebih stabil jika
pemakaian bersama sepasang elektron dengan sebuah elektron hidrogen yang lain sehingga
membentuk molekul H2.
3. Ikatan Logam (Ikatan Metalik)
Apabila sejumlah besar atom bergabung dengan berbagi elektron masing-masing, ini
disebut ikatan logam. Logam seperti besi, tembaga, seng, aluminium, dan lain-lain, yang
membentuk materi mentah banyak perkakas dan instrumen yang kita lihat atau gunakan
sehari-hari, mendapatkan badan yang padat dan rapat karena ikatan-ikatan logam yang
terbentuk oleh atom-atomnya. Para ilmuwan tidak mampu menjawab pertanyaan mengapa
elektron-elektron pada kulit elektron atom memiliki kecenderungan itu. Yang paling menarik,
makhluk hidup menjadi ada karena kecenderungan ini.
Dalam interaksi antar atom logam, ikatan kimia dibentuk oleh gaya tarik menarikmenarik elektron oleh inti (nucleus) yang berbeda. Asalnya elektron milik satu atom yang
ditarik oleh inti atom tetangganya yang bermuatan +, dan elektron ini disharing dengan gaya
tarik yang sama oleh inti lain yang mengitarinya. Akibat jumlah elektron valensi yang rendah
dan terdapat jumlah ruang kososng yang besar, maka e- memiliki banyak tempat untuk
berpindah.
Keadaan demikian menyebabkan e- dapat berpindah secara bebas antar kationkation
tersebut. Elektron ini disebut “delocalized electron” dan ikatannya juga disebut “delocalized
bonding”. Elektron bebas dalam orbit ini bertindak sebagai perekat atau lem. Kation yang
tinggal berdekatan satu sama lain saling tarik menarik dengan elektron sebagai semennya.
Pada umumnya unsur dalam sistem periodik adalah logam, atom logam dapat berikatan
sambung menyambung kesegala arah sehingga dapat menjadi molekul yang besar, akibatnya
ikatanya kuat dan menjadikan logam berbentuk padat.
Ikatan Logam adalah disebut golongan I karena bervalensi I, Pada Kristal logam
atom-atom nya membentuk suatu ikatan yang dikenal dengan nama ikatan logam, misaln nya
padan Na, Fe, Cu, dan sebagainya.

Setiap logam mempunyai elektron valensi (elektron terluar) yang sangat
mudah bergerak.

Elektron-elektron valensi dilukiskan sebagai lautan awan/gas elektron yamg
membungkus ion-ion positif.

Ikatan antara gas elektron ini disebut ikatan logam

Sebagai contoh, perhatikan atom natrium (11Na) dengan konfigurasi elektron
dalam orbital atom sebagai berikut :
Ikatan Hidrogen : Ikatan O-H: Terjadi karena keelektronegatifan unsur-unsur dalam ikatan
kovalen H < C < N < O < F.
Energi Ikatan
Jarak Antar
Per atom (eV)
Atom (Å)
FCC
0,1
3,76
Khlor
Tetragonal
0,3
4,34
Hidrogen
HCP
0,01
3,75
Silikon
Kubik (intan)
3,7
2,35
Bahan
Struktur
Argon
Kubik (ZnS)
3,4
2,80
Kubik (fluorit)
1,0
2,92
KCl
Kubik (NaCl)
7,3
3,14
AgBr
Kubik (NaCl)
5,4
2,88
BaF2
Kubik (fluorit)
17,3
2,69
Na
BCC
1,1
3,70
Ag
FCC
3,0
2,88
Ni
FCC
4,4
2,48
4. Ikatan Van der Walls
Mekanisme ikatan Van der Walls terjadi pada semua padatan, akan tetapi ikatan ini
lebih dominan tampak pada gas mulia. Energi ikat untuk padatan gas mulia dan molekul
lainnya ditunjukkan pada tabel 2.1
Padatan
Simbul
Energi Kohesif
Titik lebur
Neon
Ne
0,026 ev/atom
24 K
Argon
Ar
0,088 ev/atom
84 K
Krypton
Kr
0,12 ev/atom
117 K
Xenon
Xe
0,17 ev/atom
161 K
Hidrogen
H2
0,01 ev/atom
14 K
Oksigen
O2
0,09 ev/atom
54 K
Nitrogen
N2
0,081 ev/atom
63 K
Clorine
Cl2
0,32 ev/atom
172 K
Hidrogen
HCl
0,22 ev/atom
158 K
Clorida
Energi kohesif dari beberapa padatan yang dicantumkan tabel 2.1 bila dibandingkan
dengan energi kohesif pada ikatan ionik tampak sangat kecil sekali, yang menunjukkan
bahwa ikatan Van der Walls adalah sangat lemah sekali.
Untuk menjelaskan energi ikat pada ilatan Van der Walls, tinjaulah kristal dari
golongan gas mulia. Pertama tinjaulah komponen energi repulsifnya. Konfigurasi elektronik
dari golongan gas mulia adalah simetri bola dan penurunan jarak atomic akan menghasilkan
meningkatkan terjadinya tumpang-tindih dari sel-sel electron atom yang berdekatan.
Pembatasan terhadap jarak keberadaan dari fungsi gelombang electron memberi mendorong
electron ke keadaan energi lebih tinggi, karena prinsip Larangan Pauli mencegah dari dua
banyak menempati keadaan-keadaan energi lebih rendah. Peristiwa ini sama dengan gaya
repulsive inter-elektronik dan gaya ini menghasilkan energi potensial. Data eksperimen
menunjukkan bahwa energi repulsif dalam gas mulia sebanding dengan 1/r12.
Selanjutnya untuk menentukan energi ikatan dari gas mulia , maka faktor enrgi dari
gaya tarikan (attractive force) antara dua atom netral yang menyusun kristal tersebut. Energi
ini dikontribusi oleh adanya momen dipole yang berflukstuasi antara atom-atom tetangga.
Dari teori elektrostatik medan listrik pada sumbu dipole dengan momen p pada jarak r dari
dipole adalah
2p
4 . o r 3
. Dengan demikian pasangan dari atom-atom terdekat akan memiliki
energi interaksi yang bergantung pada –(p/r3)2.
Kedua energi yang dijelaskan di atas akan berkontribusi energi kristal yang terikat
oleh gaya van der Walls yang dinyatakan dengan;
A
B
E = E   6  12
r
r
yang dikenal dengan potensial Lennard-Jones
2.7
Download