Uploaded by common.user67179

ANATOMI DAN FISIOLOGI PA

advertisement
ANATOMI DAN FISIOLOGI
1. Pengertian pankreas
Pankreas adalah suatu organ berupa kelenjar terletak
retroperiotenial dalam abdomen bagian atas, didepan
vertebrae lumbalis I dan II, dengan panjang dan tebal
sekitar 12,5 cm dan tebal
+2,5 cm. Pankreas terbentang dari atas sampai ke lengkungan besar
dari perut dan biasanya dihubungkan oleh dua saluran ke
duodenum (usus 12 jari). (Ari, 2009).
Menurut Syarifuddin, 2014. Bagian – bagian pankreas :
a. Kepala pankreas
Merupakan bagian yang paling lebar, terletak di
sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan
duodenum dan yang praktis melingkarinya.
b. Badan pankreas
Merupakan bagian utama pada organ itu dan letaknya
di belakang lambung dan di depan vertebra lumbalis
pertama.
c. Ekor pankreas
Merupakan bagian yang runcing di sebelah kiri dan yang
sebenarnya menyentuh limpa.
Pankreas mendapat darah dari arteri lienalis dan arteri
mesenterika superior. Duktus pankreatikus bersatu dengan duktus
koledukus dan masuk ke duodenum, pankreas menghasilkan dua
kelenjar yaitu kelenjar endokrin dan kelenjar eksokrin. Pankreas
menghasilkan endokrin bagian dari kelompok sel yang membentuk
pulau-pulau Langerhans. Pulau–pulau Langerhans berbentuk oval
terbesar di seluruh pankreas. Dalam tubuh manusia terdapat 1 – 2
juta pulau–pulau Langerhans yang dibedakan atas granulasi dan
pewarnaan, setengah
hormon
dari
sel
ini
menyekresi
insulin. (syarifuddin, 2014)
2. Struktur Jaringan Penyusun Pankreas.
Ada dua jaringan utama yang menyusun pankreas :
a. Jaringan Asini.
berfungsi untuk mensekresi getah pecernaan dalam duodenum.
b. Pulau Langerhans
Pulau Langerhans adalah kumpulan sel berbentuk
ovoid, berukuran 76×175 mm dan berdiameter 20
sampai 300 mikron tersebar di seluruh pankreas,
walaupun lebih banyak ditemukan di ekor daripada
kepala dan badan pankreas. Pulau-pulau ini menyusun
1-2% berat pankreas. Pada manusia terdapat 1-2 juta
pulau. Masing-masing memiliki pasokan darah yang
besar dan darah dari pulau Langerhans seperti darah
dari saluran cerna tetapi tidak seperti darah dari organ
endokrin lain, mengalir ke vena hepatika. Sel-sel
dalam pulau dapat dibagi menjadi beberapa jenis
bergantung pada sifat pewarnaan dan morfologinya.
Pada manusia paling sedikit terdapat empat jenis sel :
1) Sel-sel A (alfa) sekitar 20-40% memproduksi
glukagon
menjadi
faktor
hiperglikemik,
mempunayi anti- insulin aktif. Pulau-pulau yang
kaya akan sel A secara embriologis berasal dari
tonjolan pankreas dorsal, dan pulau yang kaya
akan sel F
berasal dari tonjolan pankreas sentral. Kedua
tonjolan ini berasal dari tempat yang berbeda di
duodenum.
2) Sel-sel B (beta) 60-80% fungsinya membuat
insulin, umumnya terletak di bagian tengah pulau.
Sel
beta
yang
ada
di
pulau
langerhans
memproduksi hormon insulin yang berperan dalam
menurunkan kadar glukosa darah dan secara
fisiologi
memiliki
peranan
yang berlawanan
dengan glukosa. Insulin menurunkan
kadar gula darah dengan beberapa cara. Insulin
mempercepat transportasi glukosa dari darah ke
dalam sel, khususnya serabut otot rangka glukosa
masuk ke dalam sel tergantung dari keberadaan
reseptor insulin yang ada di permukaan sel target.
Insulin juga mempercepat perubahan glukosa
menjadi glikogen, menurunkan glycogenolysis dan
gluconeogenesis, menstimulasi perubahan glukosa
atau zat gizi lainnya ke dalam asam lemak
(lipogenesis), dan membantu menstimulasi sintesis
protein.
3) Sel-sel D5- 15% membuat somatostatin
4) Sel-sel F 1% mengandung dan menyekresi
pankreatik polipeptida.
3. Pengaturan sekresi insulin
Pengaturan seresi insulin seperti sekresi glukagon yaitu
langsung ditentukan oleh kadar gula dalam darah dan
berdasarkan dari mekanisme umpan balik (feed back
negative system). Bagaimana pun hormon lainnya secara
tidak langsung juga dapat mempengaruhi produksi insulin.
Sebagai contoh hormon pertumbuhan manusia (HGH)
meningkatkan kadar glukosa darah dan meningkatnya
kadar glukosa mengerakkan (menyebabkan) sekresi
insulin.
Hormon
adrenocorticotropi
(ACTH)
yang
distimulasi oleh sekresi glukocortikoid menghasilkan
hyperglikemia
dan
secara
tidak
langsung
juga
menstimulasi pelepasan insulin. Peningkatan kadar asam
amino dalam darah menstimulasi pelepasan insulin.
Hormon-hormon
pencernaan
seperti
stomatch
dan
interstinal gastrin, sekretin, cholecystokinin (CCK) dan
Gastric Inhibitory Peptide (GIP) juga menstimulasi sekresi
insulin, GHIH (Somatostatin) menghalangi sekresi insulin
(Ari, 2009).
4. Getah pankreas
Getah pankreas mengandung enzim-enzim untuk pencernaan ketiga
jenis makanan utama : protein, karbohidrat, dan lemak. Getah pankreas
juga mngandung ion biakarbonat dalam jumlah besar, yang memegang
peranan penting dalam menetralkan asam yang dikeluarkan oleh
lambung ke dalam duodenum.
Enzim-enzim proteolitik adalah tripsin, kimotripsin, karboksipeptidase,
ribonuklease, deoksiribonuklease. Tiga enzim petama memecahkan
keseluruhan dan secara parsial protein yang dicernakan, sedangkan
neklease memecahkan kedua jenis asam nukleat : asam ribonukleat dan
deoksinukleat. (syarifuddin, 2014)
Enzim pencernaan untuk karbohidrat adalah amilase pankreas, yang
menghidrolisis pati, glikogen, dan sebagian besar karbohidrat lain
kecuali selulosa untuk membentuk karbohidrat, sedangkan enzim- enzim
untuk pencernaan lemak adalah lipase pankreas, yang menghidrolisis
lemak netral menjadi gliserol, asam lemak dan kolesterol esterase, yang
menyebabkan hidrolisis ester-ester kolesterol. (syarifuddin, 2014)
Enzim-enzim proteolitik waktu disintesis dalam sel-sel pankreas
berada dalam bentuk tidak aktif ; tripsinogen, kimotripsinogen, dan
prokarboksipeptidase, yang semuanya secara enzimtik tidak aktif. Zatzat ini hanya menjadi aktif setelah mereka disekresi ke dalam saluran
cerna. Tripsinogen diaktifkan oleh suatu enzim yang dinamakan
enterokinase,
yang disekresi
oleh
mukosa
usus
ketike kimus
mengadakan kontak dengan mukosa. Tripsinogen juga dapat diaktifkan
oleh tripsin yang telah dibentuk. Kimotripsinogen diaktifkan oleh tripsin
menjadi kimotripsin, dan prokarboksipeptidase diaktifkan dengan
beberapa cara yang sama. (Ari, 2009).
Penting bagi enzim-enzim proteolitik getah pankreas tidak diaktifkan
sampai mereka disekresi ke dalam usus halus, karena tripsin dan enzimenzim lain akan mencernakan pankreas sendiri. Sel-sel yang sama, yang
mensekresi enzim-enzim proteolitik ke dalam asinus pankreas serentak
juga mensekresikan tripsin inhibitor. Zat ini disimpan dalam sitoplasma
sl-sel kelenjar sekitar granula-granula enzim, dan mencegah pengaktifan
tripsin di dalam sel sekretoris dan dalam asinus dan duktus pankreas.
(Ari, 2009).
Bila pankreas rusak berat atau bila saluran terhambat, sejumlah besar
sekret pankreas tertimbun dalam daerah yang rusak dari pankreas. Dalam
keadaan ini, efek tripsin inhibitor kadang-kadang kewalahan, dan dalam
keadaan ini sekret pankreas dengan cepat diaktifkan dan secara harfiah
mencernakan seluruh pankreas dalam beberapa jam, menimbulkan
keadaan yang dinamakan pankreatitis akuta. Hal ini sering menimbulkan
kematian karena sering diikuti syok, dan bila tidak mematikan dapat
mengakibatkan insufisiensi pankreas selama hidup. (Ari, 2009).
Enzim-enzim getah pankreas seluruhnya disekresi oleh asinus kelenjar
pankreas. Namun dua unsur getah pankreas lainnya, air dan ion
bikarbonat, terutama disekresi oleh sel-sel epitel duktulus-duktulus kecil
yang terletak di depan asinus khusus yang berasal dari duktulus. Bila
pankreas dirangsang untuk mengsekresi getah pankreas dalam jumlah
besar konsentrasi ion bikarbonat dapat meningkat sampai 145 mEq/liter
(Ari, 2009).
5. Pengaturan sekresi pankreas
Pengaturan syaraf. Bila fase sefalik dan gastrik sekresi lambung
terjadi, impuls parasimpatis secara serentak dihantarkan sepanjang
nervus vagus ke pankreas, mengakibatkan sekresi enzim-enzim dalam
jumlah moderat ke dalam asinus pankreas. akan tetapi sekret dalam
jumlah sedikit mengalir melalui duktus pankreas ke usus karena sedikit
air dan elektrolit disekresi bersama dengan enzim. Oleh karena itu,
sebagian besar enzim untuk sementara disimpan dalam asinus.
Pengaturan hormonal. Setelah makanan masuk usus halus, sekresi
pankreas menjadi banyak, terutama akibat respon hormon sekretin. Dan
kolesistokinin menyebabkan peningkatan sekresi enzim dalam jumlah
besar.
Sekretin merupakan suatu polipeptida yang mengandung 27 asam
amino yang terdapat dalam mukosa usus halus bagian atas dalam bentuk
tidak aktif prosekretin. Bila kimus masuk usus ia menyebabkan
pengeluaran dan pengaktifan sekretin yang selanjutnya diarbsobsi dalam
darah. Sekretin menyebabkan pankreas mengsekresi cairan dalam jumlah
besar yang mengandung konsentrasi ion bikarbonat yang tinggi tetapi
konsentrasi ion klorida rendah. Aliran yang banyak ini dinamakan
sekresi hidrelatik, karena cairan terdiri terutama atas larutan tipis yang
encer dan hampir tidak mengandung enzim. (Ari, 2009).
Sekretin memiliki peranan yang penting karena dua alasan : pertama,
sekretin khususnya dikeluarkan dalam mukosa usus halus setiap saat di
mana pH duodenum di bawah 4,0 sampai 5,0. Kedua, sekresi bikarbonat
oleh pankreas adalah untuk memberikan pH yang sesuai bagi kerja-kerja
enzim pankreas. semua fungsi optimal enzim pankreas bekerja pada
medium yang sedikit alkali atau netral. pH sekresi hidrelatik sekitar 8,0.
(Ari, 2009).
Kolesistokinin adalah suatu polipetida yang mengandung 33 asam
amino disekresi dari mukosa. Sekresi ini khususnya berasal dari adanya
proteosa dan pepton yang merupakan hasil pencernaan parsial protein
dan dari lemak, akan tetapi asam juga akan menyebabkan pengeluaran
kolisistokinin dalam jumlah lebih sedikit. Kolisistokinin masuk kedalam
darah dan menuju ke pankreas tetapi sebagai ganti sekresi hidrelatik,
menyebabkan sekresi enzim-enzim pencernaan dalam jumlah besar yang
efeknya sama seperti perangsangan vagus. Jenis sekresi ini dinamakan
sekresi ekbolik (Ari, 2009).
Fisiologi pankreas
Pankreas merupakan kelenjar eksokrin (pencernaan) sekaligus
kelenjar endokrin
1. Fungsi endokrin
Sel pankreas yang memproduksi hormon disebut sel
pulau
Langerhans, yang terdiri dari sel alfa yang
memproduksi glukagon dan sel beta yang memproduksi
insulin.
2. Glukagon.
Efek glukagon secara keseluruhan adalah meningkatkan
kadar glukosa darah dan membuat semua jenis makanan
dapat
digunakan
untuk
proses
energi.
Glukagon
merangsang hati untuk mengubah glikogen menurunkan
glukosa (glikogenolisis) dan meningkatkan penggunaan
lemak dan asam amino untuk produksi energi. Proses
glukoneogenesis merupakan pengubahan kelebihan asam
amino
menjadi
karbohidrat
sederhana
yang
dapat
memasuki reaksi pada respirasi sel.Sekresi glukagon
dirangsang oleh hipoglikemia. Hal ini dapat terjadi pada
keadaaan lapar atau selama stres fisiologis, misalnya
olahraga.
3. Insulin
Insulin merupakan protein kecil terdiri dari dua rantai
asam amino, satu sama lainnya dihubungkan oleh ikatan
disulfida. Sebelum dapat berfungsi harus beriktan dengan
proteinreseptor yang besar dalam membrane sel. Sekresi
insulin dikendalikan oleh kadar glukosa darah. Kadar gula
darah yang berlebihan akan merangsang sekresi insulin
dan bila kadar glukosa normal atau rendah maka sekresi
insulin akan berkurang. (Corwin, 2009).
Kekurangan insulin dapat menyebabkan kelainan yang
dikenal dengan diabetes meilitus, yang mengakibatkan
glukosa
tertahan
diluar
sel
(cairan
ekstraseluler),
mengakibatkan
sel
jaringan
mengalami
kekurangan
glikosa/ energy dan akan merangsang glikoginelisis di sel
hati dan jaringan. Glukosa akan dilepaskan ke dalam
cairan ekstrasel sehingga terjadi hipergllikemia. Apabila
mencapai nilai tertentu sebagian tidak diabsorpsi ginjal,
dikeluarkan melalui urin sehingga terjadi glukosuria dan
poliuria. (Ari, 2009)
Konsentrasi glukosa darah mempunyai efek yang
berlawanan dengan sekresi glukagon. Penurunan glukosa
darah meningkatkan
sekresi
glukosa
yang rendah.
Pankreas menyekresi glukoagon dalam jumlah yang besar.
Asam amino dari protein meningkatkan sekresi insulin dan
menurunkan
glukosa
darah.
Pada
orang
normal,
konsentrasi glukosa darah diatur sangat sempit 90
mg/100ml. orang yang berpuasa setiap pagi sebelum
makan 120-140 mg/100ml, setelah makan akan meningkat,
setelah dua jam akan kembali ketingkat normal. Sebagian
jaringan dapat menggeser kepenggunaan lemak dan
protein untuk energi bila tidak terdapat glukosa. Glukosa
merupakan satu-satunya zat gizi yang dapat digunakan
oleh otak, retina, dn epitel pergiminativum (Syarifuddin,
2014)
Menurut Syarifuddin, 2014. Fungsi insulin yaitu :
a. Insulin meningkatkan transport glukosa kedalam sel/
jaringan tubuh kecuali otak, tubulus gingal, mukosa
usus halus, dan sel darah merah. Masuknya glukosa
adalah suatu proses difusi, karena perbedaan kontrasi
glukosa bebas antara luar sel dan dalam sel.
b. Meningkatkan transport asam amino ke dalam sel.
c. Meningkatkan sintesis protein di otak dan hati.
d. Menghambat kerja hormone yang sensitif terhadap
lipase, meningkatkan sintesis lipida.
e. Meningkatkan pengambilan kalsium dari
cairan sekresi Menurut Syarifudin, 2014. Efek
insulin yaitu:
Efek insulin yaitu menurunkan kadar glukosa darah
dengan meningkatkan penggunaan glukosa untuk produksi
energi. Insulin meningkatkan transport glukosa dari darah
ke sel dengan meningkatkan permeabilitas membran sel
terhadap glukosa (namun otak, hati, dan sel-sel ginjal tidak
bergantung pada insulin untuk asupan glukosa). Glukosa
digunakan
digunakan
pada
respirasi
sel
untuk
menghasilkan energi. Hati dan otot rangka mengubah
glukosa menjadi glikogen (glikogenesis) yang disimpan
untuk digunakan di lain waktu.
Insulin juga memungkinkan sel-sel untuk mengambil
asam lemak dan asam amino untuk digunakan dalam
sintesis lemak dan protein (bukan untuk produksi energi).
Insulin merupakan hormon vital: kita tidak dapat bertahan
hidup untuk waktu yang lama tanpa hormon tersebut.
Sekresi insulin dirangsang oleh hiperglikemia. Keadaan ini
terjadi
setelah
makan,
khususnya
makanan
tinggi
karbohidrat. Ketika glukosa diabsorbsi dari usus halus ke
dalam darah, insulin disekresikan untuk memungkinkan
sel menggunakan glukosa untuk energi yang dibutuhkan
segera. Kelebihan glukosa akan disimpan di hati dan otot
sebagai glikogen.
Efek insulin pada metabolisme karbohidrat, glukosa
yang diabsorpsi dalam darah menyebabkan sekresi insulin
lebih cepat, meningkatkan penyimpanan dan penggunaan
glukosa dalam hati, dan meningkatkan metabolisme
glukosa dalam otot. Efek insulin pada metabolisme lemak
jangka
panjang.
Kekurangan
insulin
menyebabkan
arterosklerosis, serangan jantung, stroke, dan penyakit
vaaskuler lainnya. Kelebihan insulin menyebabkan sintesis
dan penyimpanan lemak, meningkatkan transpor glukosa
ke dalam sel hati, kelebihan ion sitrat, dan isositrat.
Penyimpanan lemak dalam sel adiposa menghambat kerja
lipase yang sensitif hormone dan meningkatkan tranpor
kedalam lemak. (Syarifuddin, 2014)
Efek insulin pada metabolisme protein : tranpor aktif
banyak asam amino ke dalam sel, membentuk protein baru
meningkatkan translasi messenger RNA, meningkatkan
kecepatan transkripsi DNA. (Syarifuddin, 2014)
Menurut Marya 2013 sekresi insulin ditingkatkan oleh :
a. Peningkatan kadar glukosa plasma
b. Peningkatan kadar asam amino plasma
c. Stimulasi vagus
d. Hormone-hormon enteric seperti GIP, CCK, sekretin,
dan gastrin meningkatkan pelepasan insulin yang
ditimbulkan oleh glukosa.
4. Fungsi eksokrin
a. Kelenjar eksokrin pada paankreas disebut acini, yang
menghasilkan enzim yang terlibat pada proses
pencernaan ketiga jenis molekul kompleks makanan.
b. Enzim pankreatik amilase akan mencerna zat pati menjadi maltosa.
Kita bisa menyebutnya enzim “cadangan” untuk amilase saliva.
c. Lipase akan mengubah lemak yang teremulsi menjadi
asam
lemak
pemisahan
dan
lemak
gliserol.
pada
Pengemulsifan
garam
empedu
atau
akan
meningkatkan luas permukaan sehingga enzim lipase
akan dapat bekerja secara efektif.
d. Tripsinogen adalah suatu enzim yang tidak aktif, yang
akan menjadi tripsin aktif di dalam duodenum. Tripsin
akan mencerna polipeptida menjadi asam-asam amino
rantai pendek.
e. Cairan enzim pankreatik dibawa oleh saluran-saluran
kecil yang kemudian bersatu membentuk saluran yang
lebih besar, dan akhirnya masuk ke dalam duktus
pankreatikus mayor. Duktus tambahan juga bisa
muncul. Duktus pankreatikus mayor bisa muncul dari
sisi medial pankreas dan bergabung dengan duktus
koledokus komunis untuk kemudian menuju ke
duodenum.
f.
Pankreas juga memproduksi cairan bikarbonat yang bersifat basa.
Karena cairan lambung yang memasuki duodenum
bersifat sangat asam, ia harus dinetralkan untuk
mencegah
kerusakan
mukosa
duodenum.
Prose
penetralan ini dilaksanakan oleh natrium bikarbonat di
dalam getah pankreas, dan pH kimus yang berada di
dalam duodenum akan naik menjadi sekitar 7,5.
g. Sekresi cairan pankreas dirangsang oleh hormon
sekretin dan kolesistokinin, yang diproduksi oleh
mukosa
duodenum
ketika
kismus
memasuki
intestinum tenue.
h. Sekretin meningkatkan produksi cairan bikarbonat
oleh pankreas, dan kolesistokinin akan merangsang
sekresi enzim pankreas. (Ari, 2009).
A. Pankreatitis adalah proses inflamasi dimana enzim pankreas autodigest kelenjar.
Kelenjar kadang-kadang menyembuhkan tanpa gangguan fungsi atau perubahan
morfologis, proses ini dikenal sebagai pankreatitis akut.
B. Klasifikasi
1. Pankreatitis akut atau inflamasi pada pankreas terjadi akibat tercernanya organ ini
oleh enzim-enzimnya sendiri, khususnya oleh tripsin.
2. Pankreatitis kronik merupakan kelainan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran
anatomis dan
3. fungsional yang progresif pada pankreas.
C. Etiologi:
1. Batu saluran empedu
2. Infeksi virus atau bakteri
3. Alkoholisme berat
4. Obat seperti steroid, diuretik tiazoid
5. Hiperlipidemia, terutama fredericson tipe V
6. Hiperparatiroidisme
7. Asidosis metabolic
8. Uremia
9. Imunologi seperti lupus eritematosus
10.
Pankreatitis gestasional karena ketidakseimbangan hormonal
Apabila tidak ada riwayat batu empedu dan minum alkohol, medikasi, agen infeksius,
dan penyebab metabolik seperti hiperkalsemia dan hiperparatiroid dianggap sebagai
penyebab. Beberapa obat termasuk 6-mercaptopurine, azathioprine, dan DDI (2’-,3’dideoxyinosine) dapat menyebabkan pankreatitis akut. Trigliserida serum harus di atas
1000 mg/dL untuk dipertimbangkan sebagai penyebab pankreatitis akut jika tidak
ditemukan etiologi lain. Pankreatitis akut idiopatik didefinisikan sebagai pankreatitis
dengan/tanpa etiologi yang dapat ditemukan setelah pemeriksaan awal (termasuk
kadar kalsium dan lemak) dan pemeriksaan radiologi (USG abdomen dan CT scan).4
D. Patofisiologi
Patofisiologi pankreatitis akut masih belum jelas; dapat terjadi apabila faktor
pemeliharaan. hemostasis seluler tidak seimbang. Faktor ekstraseluler (misalnya:
respons saraf dan vaskuler) dan intraseluler (misalnya: aktivasi enzim pencernaan
intrasel, peningkatan sinyal kalsium, dll) dapat berpengaruh. Diduga, kejadian yang
dapat memicu pankreatitis akut adalah kejadian yang mengganggu sel acinar dan
mengganggu sekresi granul zymogen, contohnya pada penggunaan alkohol berlebih,
batu empedu, dan beberapa jenis obat Gangguan sel acinar dimulai dari kekacauan di
membran sel, dapat mengakibatkan
1. Bagian granul lisosom dan zymogen bergabung, dan dapat mengaktivasi
tripsinogen menjadi tripsin.
2. Tripsin intraseluler dapat memicu aktivasi seluruh jalur zymogen.
3. Vesikel sekretorik dikeluarkan dari membran basolateral ke interstitial, fragmen
molekulnya bekerja sebagai chemoattractants untuk sel inflamasi.
Atau Enzim pencernaan diproduksi dalam sel-sel asinar pankreas, dikemas ke
dalam vesikel penyimpanan yang disebut zymogens, dan kemudian dilepaskan
melalui sel duktal pankreas ke dalam saluran pankreas, di mana mereka disekresi
ke dalam usus kecil untuk memulai proses metabolisme.
Dalam fungsi pankreas normal, hingga 15 jenis enzim pencernaan yang
diproduksi di retikulum endoplasma kasar, ditargetkan dalam aparatus Golgi dan
dikemas ke zymogens sebagai proenzymes. Ketika makanan dicerna, saraf vagal,
polipeptida intestinal vasoaktif (VIP), gastrin-releasing peptide (GRP), secretin,
cholecystokinin (CCK), dan encephalins merangsang pelepasan proenzymes ini ke
dalam saluran pankreas.
Para proenzymes perjalanan ke perbatasan kuas dari duodenum, di mana
tripsinogen, yang proenzim untuk tripsin, diaktifkan melalui hidrolisis dari
hexapeptide fragmen N-terminal dengan sikat perbatasan enzim enterokinase.
Tripsin kemudian memfasilitasi konversi proenzymes lain untuk bentuk aktif
mereka.
Sebuah mekanisme umpan balik untuk membatasi aktivasi enzim pankreas
setelah metabolisme yang tepat telah terjadi. Ini adalah hipotesis bahwa
peningkatan kadar tripsin, setelah menjadi terikat dari mencerna makanan,
mengakibatkan penurunan CCK dan tingkat secretin, sehingga membatasi sekresi
pankreas lanjut.
Karena aktivasi prematur enzim pankreas dalam pankreas menyebabkan cedera
organ dan pankreatitis, ada beberapa mekanisme untuk membatasi kejadian ini.
Pertama, protein dijabarkan ke dalam proenzymes aktif. Kemudian, modifikasi
pascatranslasinya sel Golgi memungkinkan pemisahan mereka ke dalam
kompartemen subselular zymogen unik. Para proenzymes yang dikemas dalam
susunan paracrystalline dengan inhibitor protease.
Zymogen butiran memiliki pH asam dan konsentrasi kalsium rendah, yang
merupakan faktor yang mencegah aktivasi dini sampai setelah sekresi telah terjadi
dan faktor ekstraselular telah memicu kaskade aktivasi. Dalam berbagai kondisi,
gangguan mekanisme pelindung ini dapat terjadi, mengakibatkan aktivasi enzim
intraseluler dan autodigestion pankreas menyebabkan pankreatitis akut.
E. Tanda dan gejala klinis
1. Nyeri abdomen yang hebat merupakan gejala utama pankreatitis yang
menyebabkan pasien datang ke rumah sakit. Rasa sakit dan nyeri tekan abdomen
yang disertai nyeri pada punggung, terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas
yang mengalami inflamasi tersebut sehingga timbul rangsangan pada ujung-ujung
saraf. Peningkatan tekanan pada kapsul pankreas dan obstruksi duktus pankreatikus
juga turut menimbulkan rasa sakit.
2. Secara khas rasa sakit yang terjadi pada bagian tengah ulu hati (midepigastrium).
Waktu terjadi sering bersifat akut dan terjdi 24-48 jam setelah makan atau setelah
mengkonsumsi minuman keras; rasa sakit ini dapat bersifat menyebar dan sulit
ditentukan lokasinya. Umumnya rasa sakit menjadi semakin parah setelah makan
dan tidak dapat diredakan dengan pemberian antasid. Rasa sakit ini dapat disertai
dengan distensi abdomen, adanya massa pada abdomen yang dapat diraba tetapi
batasnya tidak jelas dan dengan penurunan peristatis. Rasa sakit yang disebabkan
oleh pankreatitis sering disertai dengn muntah.
3. Pasien tampak berada dalam keadaan sakit berat defens muskuler teraba pada
abdomen. Perut yang kaku atau mirip papan dapat terjadi dan merupakan tanda
yang fatal. Namun demikian abdomen dapat tetap lunak jika tidak terjadi
peritonitis. Ekimosis (memar) didaerah pinggang dan disekitar umbilikus
merupakan tanda yang menunjukkan adanya pankreatitis haemoragik yang berat.
4. Mual dan muntah umumnya dijumpai pada pankreatitis akut. Muntahan biasanya
berasal dari isi lambung tetapi juga dapat mengandung getah empedu. Gejala
panas, ikterus, konfusidan agitasi dapat terjadi.
5. Hipotensi yang terjadi bersifat khas dan mencerminkan keadaan hipovolemia serta
syok yang disebabkan oleh kehilangan sejumlah besar cairan yang kaya protein,
karena cairan ini mengalir kedalam jaringan dan rongga peritoneum. Pasien dapat
mengalami takikardia, sianosis dan kulit yang dingin serta basah disamping gejala
hipotensi. Gagal ginjal akut sering dijumpai pada keadaan ini.
6. Gangguan pernafasan serta hipoksia lazim terjadi, dan pasien dapat
memperlihatkan gejala infiltrasi paru yang difus, dispnoe, tachipnoe dan hasil
pemeriksaan gas darah abnormal. Depresi miokard, hipokalsemia, hiperglikemia
dan koagulopati intravaskuler diseminata dapat pula terjadi pada pankreatitis akut.
F. Penatalaksanaan
1. Manajemen medis pankreatitis akut ringan relatif mudah. Pasien disimpan NPO
(nihil per os-yaitu, tidak melalui mulut), dan intravena (IV) hidrasi cairan
disediakan. Analgesik diberikan untuk menghilangkan rasa sakit. Antibiotik
umumnya tidak diindikasikan.
2. Jika ultrasonograms menunjukkan bukti batu empedu dan jika penyebab
pankreatitis diyakini empedu, kolesistektomi harus dilakukan selama masuk rumah
sakit yang sama. Pakan harus diperkenalkan enteral sebagai anoreksia pasien dan
resolve nyeri. Pasien dapat dimulai pada diet rendah lemak awalnya dan tidak perlu
selalu memulai kemajuan diet mereka menggunakan diet cairan bening.
3. Serum amilase dan lipase tingkat dapat meningkat pada pasien dengan cedera otak
(misalnya, kecelakaan serebrovaskular atau trauma otak). Pasien-pasien ini
umumnya dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan memerlukan ventilasi
mekanis. Peningkatan enzim pankreas dapat naik dan turun berbahaya selama
beberapa hari sampai minggu. Elevasi ini diyakini hasil dari hiperstimulasi dari
pankreas melalui mekanisme sentral, tetapi tidak ada bukti pankreatitis akut hadir
pada studi pencitraan.
4. Pasien dengan pankreatitis akut yang berat memerlukan perawatan intensif. Dalam
hitungan jam ke hari, sejumlah komplikasi (misalnya, syok, kegagalan paru, gagal
ginjal, gastrointestinal [GI] pendarahan, atau kegagalan sistem multiorgan) dapat
berkembang.
5. Tujuan dari manajemen medis untuk memberikan perawatan suportif agresif, untuk
mengurangi peradangan, untuk membatasi infeksi atau superinfeksi, dan untuk
mengidentifikasi dan mengobati komplikasi yang sesuai.
6. Pankreatitis autoimun adalah kondisi langka. Kortikosteroid tidak boleh digunakan
untuk mengobati kondisi ini dalam jangka pendek pada pasien yang diduga
menderita pankreatitis autoimun dan yang hadir dengan pankreatitis akut.
7. Tidak ada pedoman berbasis bukti menentukan kapan pasien harus ditransfer ke
pusat medis yang lebih berpengalaman atau terampil. Namun, jika pankreatitis akut
yang berat disarankan baik oleh kriteria Atlanta [3] atau dengan protein (CRP)
tingkat C-reaktif atas 10 mg / dL, skor Ranson dari 4 atau lebih tinggi, atau akut
Fisiologi dan Evaluasi Kesehatan Kronis (APACHE) skor II dari 9 atau lebih
tinggi, pertimbangkan transfer ke sebuah institusi di mana staf intensivist unit
perawatan kritis dan subspecialist tertarik berpengalaman dalam diagnosis dan
pengobatan pankreatitis tersedia.
8. Selanjutnya rawat inap tergantung pada apakah salah satu komplikasi pankreatitis
berat mengembangkan dan seberapa baik pasien menanggapi pengobatan. Hal ini
berkisar dari beberapa hari sampai beberapa bulan perawatan intensif.
9. Pasien dapat habis ketika rasa sakit mereka dikendalikan dengan baik dengan
analgesia oral, mereka mampu mentoleransi diet oral yang mempertahankan
kebutuhan kalori mereka, dan semua komplikasi telah ditangani secara memadai.
G. Komplikasi
1. Timbulnya Diabetes Mellitus
2. Tetani hebat
3. Efusi pleura (khususnya pada hemitoraks kiri)
4. Abses pankreas atau psedokista.
H. Pemeriksaan penunjang
1. Scan-CT : menentukan luasnya edema dan nekrosis
2. Ultrasound abdomen: dapat digunakan untuk mengidentifikasi inflamasi pankreas,
abses,
pseudositis, karsinoma dan obstruksi traktus bilier.
3. Endoskopi : penggambaran duktus pankreas berguna untuk diagnosa fistula,
penyakit obstruksi bilier dan striktur/anomali duktus pankreas. Catatan : prosedur
ini dikontra indikasikan pada fase akut.
4. Aspirasi jarum penunjuk CT : dilakukan untuk menentukan adanya infeksi.
5. Foto abdomen : dapat menunjukkan dilatasi lubang usus besar berbatasan dengan
pankreas atau faktor pencetus intra abdomen yang lain, adanya udara bebas intra
peritoneal disebabkan oleh perforasi atau pembekuan abses, kalsifikasi pankreas.
6. Pemeriksaan seri GI atas : sering menunjukkan bukti pembesaran
pankreas/inflamasi
7. Amilase serum : meningkat karena obstruksi aliran normal enzim pankreas (kadar
normal tidak menyingkirkan penyakit).
8. Amilase urine : meningkat dalam 2-3 hari setelah serangan.
9. Lipase serum : biasanya meningkat bersama amilase, tetapi tetap tinggi lebih lama.
10. Bilirubin serum : terjadi pengikatan umum (mungkin disebabkan oleh penyakit hati
alkoholik atau penekanan duktus koledokus).
11. Fosfatase Alkaline : biasanya meningkat bila pankreatitis disertai oleh penyakit
bilier.
12. Albumin dan protein serum dapat meningkat (meningkatkan permeabilitas kapiler
dan transudasi cairan kearea ekstrasel).
13. Kalsium serum : hipokalsemi dapat terlihat dalam 2-3 hari setelah timbul penyakit
(biasanya menunjukkan nekrosis lemak dan dapat disertai nekrosis pankreas).
14. Kalium : hipokalemia dapat terjadi karena kehilangan dari gaster; hiperkalemia
dapat terjadi sekunder terhadap nekrosis jaringan, asidosis, insufisiensi ginjal.
15. Trigliserida : kadar dapat melebihi 1700 mg/dl dan mungkin agen penyebab
pankreatitis akut.
16. LDH/AST (SGOT) : mungkin meningkat lebih dari 15x normal karena gangguan
bilier dalam hati.
17. Darah lengkap : SDM 10.000-25.000 terjadi pada 80% pasien. Hb mungkin
menurun karena perdarahan. Ht biasanya meningkat (hemokonsentrasi)
sehubungan dengan muntah atau dari efusi cairan kedalam pankreas atau area
retroperitoneal.
18. Glukosa serum : meningkat sementara umum terjadi khususnya selama serangan
awal atau akut. Hiperglikemi lanjut menunjukkan adanya kerusakan sel beta dan
nekrosis pankreas dan tanda aprognosis buruk. Urine analisa; amilase, mioglobin,
hematuria dan proteinuria mungkin ada (kerusakan glomerolus).
19. Feses : peningkatan kandungan lemak (seatoreal) menunjukkan gagal pencernaan
lemak dan
20. Protein.
I. Penatalaksanaan medis
Tidak ada terapi yang diketahui dapat menghentikan siklus aktivasi enzim
pankreas dengan inflamasi dan nekrosis kelenjar. Tetapi definitif ditujukan pada
penyebab gangguan. Prioritas keperawatan dan medis untuk penatalaksanaan
pendukung dari pankreatitis akut termasuk sebagai berikut:
1. Penggantian cairan dan elektrolit
Penggantian cairan menjadi prioritas utama dalam penanganan pankreatitis akut.
Larutan yang diperintahkan dokter untuk resusitasi cairan adalah koloid atau ringer
laktat. Namun dapat pula diberikan plasma segar beku atau albumin. Tanpa
memperhatikan larutan mana yang dipergunakan. Penggantian cairan digunakan
untuk memberikan perfusi pankreas, yang hal ini diduga mengurangi
perkembangan keparahan rasa sakit. Ginjal juga tetap dapat melakukan perfusi dan
ini dapat mencegah terjadinya gagal ginjal akut. Pasien dengan pankreatitis
hemorragia kut selain mendapat terapi cairan mungkin juga membutuhkan sel-sel
darah merah untuk memulihkan volume. Pasien dengan penyakit
Parah yang mengalami hipertensi, gagal memberikan respon terhadap terapi cairan
mungkinmembutuhkan obat-obatan untuk mendukung tekanan darah. Obat
pilihannya adalah dopamin yang dapat dimulai pada dosis yang rendah (2-5
ug/kg/menit). Keuntungan obat ini adalah bahwa dosis rendah dapat menjaga
perfusi ginjal sementara mendukung tekanan darah.
2. Pasien hipokalsemia berat ditempetkan pada situasi kewaspdaan kejang dengan
ketersediaan peralatan bantu nafas. Perawat bertanggung jawab untuk memantau
kadar kalsium, terhadap pemberian larutan pengganti dan pengevaluasian respon
pasien terhadap kalsium yang diberikan. Penggantian kalsium harus didifusikan
melalui aliran sentral, karena infiltrasi perifer dapat menyebabkan nekrosis
jaringan. Pasien juga harus dipantau terhadap toksisitas kalsium. Hipomagnesemia
juga dapat timbul bersama hipokalsemia danmagnesium yang juga perlu mendapat
penggantian. Koreksi terhadap magnesium biasanya dibutuhkan sebelum kadar
kalsium menjadi normal. Kalium adalah elektrolit lain yang perlu diganti sejak
awal sebelum regimen pengobatan karena muntah yang berhubungan dengan
pangkreatitis akut. Kalium dalam jumlah yang berlebihan juga terdapat dalam
getah pankreas. Kalsium harus diberikan dalam waktu lambat lebih dari satu jam
lebih dengan menggunakan pompa infus. Pada beberapa kasus, hiperglikemia dapat
juga berhubungan dengan dehidrasi atau ketidakseimbangan elektrolit lainnya.
Mungkin diperintahkan pemberian insulin lainnya dengan skala geser, insulin ini
perlu diberikan dengan hati-hati, karena kadar glukagon sementara pada
pankreatitis akut (Hudak dan Gallo, 1996).
3. Pengistirahatan pancreas
Suction nasogastric digunakan pada kebanyakan pasien dengan pankreatitis
akut untuk menekan sekresi eksokrin pankreas dengan pencegahan pelepasan
sekretin dari duodenum. Mual, muntah dan nyeri abdomen dapat juga berkurang
bila selang nasogastric ke suction lebih dini dalam perawatan. Selang nasogastrik
juga diperlukan pasien dengan illeus, distensi lambung berat atau penurunan
tingkat kesadaran untuk mencegah komplikasi akibat aspirasi pulmoner. Puasa
ketat (tak ada masukan peroral) harus dipertahankan sampai nyeri abdomen reda
dan kadar albumin serum kembali normal. Namun parenteral total dianjurkan untuk
pasien pankreatitis mendadak dan parah yang tetap dalam status puasa jangka
panjang dengan suction nasogastrik dengan illeus paralitik, nyeri abdomen terusmenerus atau komplikasi pankreas. Lipid tidak boleh diberikan karena dapat
meningkatkan kadar trigliserida lebih jauh dan memperburuk proses peradangan.
Pada pasien dengan pankreatitis ringan cairan peroral biasanya dapat dimulai
kembali dalam 3-7 hari dengan penggantian menjadi padat sesuai toleransi. Status
puasa yang diperpanjang dapat menyulitkan pasien. Perawatan mulut yang sering
dan posisi yang sesuai serta memberikan pelumasan pada selang nasogastric
menjadi penting dengan mempertahankan integritas kulit dan memaksimalkan
kenyamanan pasien. Dianjurkan tirah baring untuk mengurangi laju metabolisme
basal pasien. Hal ini selanjutnya akan mengurangi rangsangan dari sekresi
pankreas (Hudak dan Gallo, 1996).
4. Penatalaksanaan nyeri
a. Analgesik diberikan untuk kenyamanan pasien maupun untuk mengurangi
rangsangan saraf yang diinduksi stress atau sekresi lambung dan pankreas.
Meferidan (dimerol) digunakan menggantikan morfin karena morfin dapat
menginduksi spasme sfingter oddi.
b. Pencegahan komplikasi
c. Karena sebab utama kematian adalah sepsis maka antibiotika diberikan. Antasid
biasanya diberikan untuk mengurangi pengeluaran asam lambung dan duodenum
dan resiko perdarahan sekunder terhadap gastritis atau duodenitis.
5. Diet
Tinggi kalori tinggi protein rendah lemak .
6. Pemberian enzim pankreas : pankreatin (viakose), pankrelipase (cotozym),
pankrease.
7. Fiberoscopy dengan kanulisasi dan spingterotomi oddi.
J. Intervensi bedah
Terapi bedah mungkin diperlukan dalam kasus pankreatitis akut yang menyertai
penyakit batu empedu. Jika kolesistisis atau obstruksi duktus komunistidak
memberikan respon terhadap terapi konservatif selama 48 jam pertama, maka
kolesistosyomi, koleastektimi atau dekompresi duktus komunis.mungkin diperlukan
untuk memperbaiki perjalanan klinik yang memburuk secara progresif. Sering adanya
kolesistisis gangrenosa atau kolengitis sulit disingkirkan dalam waktu singkat dan
intervensi yang dini mungkin diperlukan, tetapi pada umumnya terapi konservatif
dianjurkan sampai pankreatitis menyembuh, dimana prosedur pada saluran empedu
bisa dilakukan dengan batas keamanan yang lebih besar
Analisis Kasus
1. Kenapa pasien dipasang iv cath no 16 karena kondisi pasien diperlukan terapi cairan yang
besar maka diperlukan iv cath no 16
2. Diberi 5 unit insulin karena GDS pada pasien 350 dan menurun menjadi 300 maka
diberikan 15 unit dalam sehari. 15 unit dibagi 3 menjadi 5 unit
Download