Rekayasa Ide Manajemen Penjaminan Mutu Pendidikan dan Supervisi Pendidikan KONSEP MUTU DAN GERAKAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN NAMA NIM DOSEN PENGAMPU MATAKULIAH : : : : ADE AMRIANI 8196114008 Dr. YUNARTO M. M. Pd MANAJEMEN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN & SUPERVISI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI S3 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN Oktober 2020 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT. dimana atas segala nikmat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan tugas rekayasa ide yang berjudul “Konsep Mutu dan Gerakan Penjaminan Mutu Pendidikan” untuk pemenuhan tugas pada mata kuliah Penjaminan Mutu dan Supervisi Pendidikan pada kelas Pascasajrana Manajemen Pendidikan Tahun 2020. Terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas ini, serta kepada Bapak Dr. Yuniarto M, M.Pd. selaku Dosen Penjaminan Mutu Pendidikan dan Supervisi Pendidikan Universitas Negeri Medan yang telah memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis. Penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan penulis sendiri khususnya. Medan, 7 Oktober 2020 Ade Amiriani 1|Page DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi A. Pendahuluan B. Pembahasan 1. Bangkitnya Penjaminan Mutu di Indonesia 2. Defenisi Mutu dan Penjaminan Mutu 3. Problematika penjaminan Mutu Pendidikan C. Kesimpulan dan Rekomendasi D. Daftar Pustaka 2|Page A. Pendahuluan Sudah merupakan pendapat umum bahwa kemakmuran suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas atau mutu pendidikan bangsa yang bersangkutan. Bahkan lebih spesifik lagi , bangsa - bangsa yang berhasil mencapai kemakmuran dan kesejahteraan dewasa ini adalah bangsa- bangsa yang melaksanakan pembangunan nasional dengan menekankan pada pembangunan pendidikan guna pengembangan kualitas sumber daya manusia .Pengembangan sumber daya manusia, dari aspek pendidikan berarti pengembangan pendidikan dalam hal ini kualitas sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki kemampuan yang relevan dan diperlukan dalam kehidupannya . Peningkatan Mutu Pendidikan melalui standarisasi dan profesionalisasi yang sedang dilakukan dewasa ini menurut pemahaman berbagai pihak terhadap perubahan yang terjadi dalam berbagai komponen sistem pendidikan. perubahan kebijakan pendidikan dari sentralisasi menjadi desentralisasi telah menekan bahwa pengambilan kebijakan berpindah dari pemerintah pusat ( top goverment) ke pemerintahan daerah( district government) yang berpusat di pemerintah kota dan kabupaten. Dengan demikian, kewenangan - kewenangan penyelenggaraan pendidikan , khususnya pendidikan dasar dan menengah berada di pundak pemerintah kota dan kabupaten, sehingga implementasinya akan di warnai oleh political will pemerintah daerah , yang di tuangkan dalam Peraturan Daerah ( Perda).Dalam hal ini , tentu saja yang paling menentukan adalah Bupati / Walikota , Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD) , dan Kepala Dinas Pendidikan beserta jajarannya.Oleh karena itu , merekalah yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu / kualitas pendidikan di daerahnya, meskipun tidak selamanya demikian , karena dalam pelaksanaannya tidak sedikit penyimpanan dam salah penafsiran terhadap kebijakan yang di gulirkan , sehingga menimbulkan berbagai kerancuan bahkan penurunan kualitas. Dalam konteks otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan , keberhasilan dan kegagalan pendidikan di sekolah sangat bergantung pada guru , kepala sekolah dan pengawas , karena ketiga figur tersebut merupakan kunci yang menentukan serta menggerakkan berbagai komponen dan dimensi sekolah yag lain ( Mulyasa, 2012) .Dalam posisi tersebut baik buruk komponen sekolah yang lain sangat di tentukan oleh kualitas guru, kepala Sekolah dan pengawas, tanpa mengurangi arti penting tenaga pendidikan yang lain. Konsep dasar dan strategi penjaminan mutu pendidikan kajian penting bagi pendidik dan tenaga kependidikan , Karena mereka merupakan komponen utama yang bertanggung 3|Page jawab dalam mengendalikan dan meningkatkan mutu pendidikan . Penjaminan mutu tersebut dilakukan. Pendidikan di harapkan mempunyai pengaruh yang signifikan pada pembentukan sumberdaya manusia namun demikian istilah mutu tetap saja merupakan konsep yang dapat mengelincirkan orang . Banyak orang berbicara sesuatu yang bermutu adalah mahal, meskipun diakui bahwa yang bermutu itu cenderung mempunyai harga yang lebih tinggi, namun tidak selamanya yang berharga tinggi dan mahal itu berarti bermutu, karena harga itu dampak dari mutu dan bukan sebaliknya. oleh karena itu pemahaman akan konsep mutu serta orientasinya perlu mendapatkan pencermatan guna terhindar dari jebakan praktis , yang belakangan ini cenderung terjadi juga di dunia pendidikan ( persekolahan). Gerakan Mutu terpadu mulai di laksanakan dalam pendidikan pada tahun 1980-an di Amerika dan Inggris dan pada tahun 1990-an kedua Negara tersebut benar-benar dilanda gelombang gerakan mutu terpadu. Sebab-sebab umum rendahnya mutu pendidikan bisa di sebabkan oleh beberapa sumber yang mencakup desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat ,lingkungan kerja yang buruk ,sistem dan prosedur yang tidak sesuai ,jadwal kerja yang tidak teratur, sumber daya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai. Sedangkan sebab-sebab khusus kegagalan mutu sering diakibatkan oleh prosedur dan aturan yang tidak diikuti atau di taati, meskipun itu mungkin juga akibat kegagalan komunikasi atau kesalahpahaman . Mengetahui sebab kegagalan mutu dan memperbaikinya adalah tugas kunci seorang manajer, sehingga tidak ada lagi individu yang dipersalahkan sementara kesalahan sejati ada pada kebijakan dan sistem. Untuk itu , dikembangkan pendekatan Manajemen Mutu Strategis (Straregic Quality Management). Seperti guru-guru melakukan kontrol mutu yang mendesain karakteristik dan standar program studi sehingga dapat memenuhi kebutuhan para pelajar. 4|Page B. PEMBAHASAN 1. Bangkitnya Penjaminan Mutu di Indonesia Gerakan Mutu terpadu mulai di laksanakan dalam pendidikan pada tahun 1980-an di Amerika dan Inggris dan pada tahun 1990-an kedua Negara tersebut benar-benar dilanda gelombang gerakan mutu terpadu, Di Indonesia, Proses pendidikan memegang peranan yang sangat penting. Manusia membutuhkan pendidikan yang bermutu dalam kehidupannya. Dalam UU Pendidikan Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 1 dinyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan mempunyai peran besar dalam kehidupan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan selama ini juga tidak terlepas dari sebuah proses pendidikan. Kehidupan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas system pendidikan yang diterapkan pada bangsa tersebut. Pendidikan akan memproduksi manusia kreatis yang mampu menjawab persoalan sebuah bangsa. Pendidikan dengan kata lain mempunyai peran yang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak zaman dahulu hingga memasuki zaman globalisasi saat ini. Sistem pendidikan di Indonesia dirancang dengan tujuan meningkatkan kualitas SDM (UUSPN No. 20 Tahun 2003 pasal 3). Fungsi Sistem pendidikan nasional menurut UUSPN No. 20 Tahun 2003 adalah :Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. UUSPN tersebut menyatakan kualitas sumber daya manusia yang diinginkan oleh bangsa Indonesia adalah kualitas yang menyeluruh. SDM yang berkualitas tidak hanya dilihat dari penguasaan ilmu pengetahua semata. Kemajuan dan perbaikan mutu pendidikan dipengaruhi banyak faktor. Dalam perspektif kebijakan pemerintah, salah satu faktor penilaian kemajuan dan pencapaian mutu pendidikan yang ideal bisa dilihat dari sudut pandang pelaksanaan 8 Standar 5|Page Nasional Pendidikan (PP No 19 Tahun 2005) atau proses dan sistem penjaminan mutu pendidikan (Permendiknas No 63 Tahun 2009). Kemudian untuk mendetailkan penjaminan mutu pendidikan di indonesia dijelaskan dalam Pedoman umum sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah tahun 2016. 2. Defenisi Mutu dan Penjaminan Mutu Secara umum ‘mutu’ dapat didefinisikan sebagai “karakteristik produk atau jasa yang ditentukan oleh customer dan diperoleh melalui pengukuran proses serta perbaikan yang berkelanjutan” (Soewarso, 1996: 7). Pendapat ini lebih menekankan kepada pelanggan yaitu, apabila suatu pelanggan mengatakan sesuatu itu bermutu baik, maka barang/jasa tersebut dapat dianggap bermutu. Mutu menurut Edward Sallis (1993:24) adalah kepuasan terbaik dan tercapainya kebutuhan/keinginan pelanggan. Dan menurut Hoy (2000:15), yaitu “Quality is often defined in term of outcomes to match a customer’s satisfaction”, mutu adalah kepuasan terhadap lulusan berkualitas dan pelayanan yang baik. Berkaitan dengan manajemen mutu modern, Joseph M. Juran (1980:18) mengembangkan konsep trilogi kualitas, yaitu: perencanaan kualitas (quality planning), pengendalian kualitas (quality control) dan perbaikan kualitas (quality improvement). Perencanaan kualitas (quality planning), yaitu suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan dengan cara: memenuhi kebutuhan pelanggan/konsumen, menentukan market segment (segmen pasar) produk, mengembangkan karakteristik produk sesuai dengan permintaan konsumen, dan mengembangkan proses yang mendukung tercapainya karakteristik produk. Pengendalian kualitas (quality control), yaitu suatu proses dimana produk benarbenar diperiksa dan dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki. Caranya: mengevaluasi performa produk, membandingkan antara performa aktual dan target, serta melakukan tindakan jika terdapat perbedaan/penyimpangan. Sedangkan perbaikanan kualitas (quality improvement), yaitu suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Caranya: mengidentifikasi proyek perbaikan membangun infrastruktur yang memadai, membentuk tim, 6|Page (improvement), melakukan pelatiha pelatihan yang relevan, diagnosa sebab-akibat, cara penanggulangan masalah, cara mencapai target sasaran. Definisi lain untuk memahami mutu yaitu “….mutu adalah jasa pelayanan atau produk yang menyamai atau melebihi kebutuhan dan harapan pelanggan” (Margono, 2002: 5). Konsep ini masih menekankan kepada pelanggan, yaitu dapat diartikan produk tersebut bermutu baik. Sedangkan menurut Deming (1986), “the difficulty in defining quality is to translate quality is to translate future needs of the user into measureable characteristics, so that a product can be designed and turned out to give satisfaction at a price that the user will pay”. Definisi ini menekankan pada konteks, persepsi costumer dan kebutuhan serta kemampuan pelanggan. Artinya untuk mendefinisikan mutu, terlebih dahulu perlu dipahami karakteristik tentang mutu itu sendiri. Deming sebenarnya menekankan bagaimana suatu produk atau jasa itu dipersepsikan oleh pelanggan, dan kapan persepsi pelanggan itu berubah, dengan demikian semakin pelanggan merasa puas, maka selama itu pula produk/jasa dianggap bermutu. Definisi mutu menurut Field (1993) adalah “sebagai ukuran dari produk atau kinerja pelayanan terhadap satu spesifikasi pada satu titik tertentu”. Pendapat ini lebih menekankan pada “ukuran”. Ukuran di sini, tentunya bergantung pada jenis barang atau jasa yang dihasilkan sebagai hasil kinerja manusia, baik yang berupa benda maupun non-benda, yaitu berupa jasa layanan, seperti halnya dalam bidang pendidikan, yang merupakan salah satu bentuk industri jasa atau pelayanan, yaitu pelayanan akademik. Sesuai dengan definisi di atas dapat dikatakan bahwa mutu adalah suatu karakter atau batasan tertinggi dari suatu produk atau jasa layanan yang dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan. Oleh sebab itu, sudah selayaknya, jasa pelayanan pendidikan harus dapat menghasilkan mutu yang baik, karena dengan mutu yang baik, pendidikan akan mampu merebut pangsa kerja yang semakin sempit dan menantang untuk selalu direbut sekecil apapun peluang tersebut. untuk itu berikut penulis uraian konsep pendidikan yang bermutu. Dalam kaitannya dengan konsep pendidikan yang bermutu, Sallis (1993:280) menganalogikan bahwa pendidikan adalah jasa yang berupa proses kebudayaan. Pengertian ini berimplikasi pada adanya masukan (input) dan keluaran (output). Masukan dapat berupa peserta didik, sarana prasarana seta fasilitas belajar lainnya termasuk lingkungan, sedangkan keluarannya adalah lulusan atau alumni, yang 7|Page kemudian menjadi ukuran mutu, mengingat produk pendidikan merupakan jasa pelayanan, maka mutu jasa pelayanan pendidikan sangat tergantung sikap pemberi layanan di lapangan serta harapan pemakai jasa pendidikan. Hal ini berarti jasa pelayanan pendidikan tidak berwujud benda (intangible) secara langsung, namun secara kualitatif mutu jasa/pelayanan pendidikan dapat dilihat dari soft indicator seperti kepedulian dan perhatian pada keinginan /harapan dan kepuasan pelanggan jasa pendidikan. Hoy et al, (2000) menjelaskan bahwa mutu pendidikan adalah hasil penilaian terhadap proses pendidikan dengan harapan yang tinggi untuk dicapai dari upaya pengembangan bakat-bakat para pelanggan pendidikan melalui proses pendidikan. Demikian mutu pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu perbaikan proses pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mencapai keunggulan dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain pengertian mutu pendidikan yang diuraikan di atas, mutu pendidikan dapat juga diartikan sebagai seseorang yang telah mencapai tujuan kurikulum (objective of curriculum) yang dirancang untuk pengelolaan pembelajaran siswa (Suryadi, 1993:159). Konsep ini lebih menekankan kepada pengawasan dalam pencapaian tujuan kurikulum pembelajaran, sehingga indikator umumnya adalah semakin tujuan kurikulum tercapai, maka dapat dikategorikan suatu pendidikan yang bermutu. Ditegaskan lebih jauh bahwa mutu pendidikan adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin. Analisis konsep ini lebih menekankan kepada kinerja lembaga, yaitu kecenderungan semakin efektif dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan dan semakin baik hasil yang dicapai, maka dapat dikatakan pendidikan tersebut memiliki mutu yang baik. Agar mutu pendidikan yang baik dapat tercapai, maka mutu tersebut harus didukung oleh sekolah yang bermutu. Sekolah yang bermutu adalah “sekolah yang secara keseluruhan dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan (masyarakat)” (Margono, 2002). Pendapat ini cukup beralasan, karena terlalu banyak pengelolaan sekolah, yang mengabaikan kepuasan dan kebutuhan pelanggan, sehingga hasilnya pun akhirnya tidak mampu untuk berkompetisi guna meraih peluang dalam berbagai bidang, khususnya dalam menghadapi kondisi global dimana sekolah diharapkan dapat berperan lebih efektif dalam mengembangkan fungsi pendidikan. 8|Page 3. Problematika Penjaminan Mutu Pendidikan (Pendidikan Dasar) Sebab-sebab umun rendahnya mutu pendidikan mutu pendidikan bisa di sebabkan oleh beberapa sumber yang mencakup desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk , sistem dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang serampangan, sumber daya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai. Sedangkan sebab-sebab khusus kegagalan mutu sering diakibatkan oleh prosedur dan aturan yang tidak diikuti atau di taati, meskipun itu mungkin juga akibat kegagalan komunikasi atau kesalahpahaman. Secara makro problema penjamin mutu pendidikan adalah sebagai berikut : 1. Masalah Yang Terkait Dengan Makna Penjaminan Mutu : Banyak terjadi kesalahpahaman ditingkat satuan pendidikan mengenai penjaminan mutu. Misalnya, sertifikat ISO yang diperoleh satuan pendidikan berbagai tingkatan dipandang sebagai legitimasi yang tinggi bahwa satuan pendidikan bersangkutan telah mendapat jaminan dan pengakuan internasional mengenai mutu pendidikan yang dimilikinya. Padahal ISO merupakan standar layanan, bukan lembaga penjaminan mutu pendidikan, terutama yang terkait dengan praktek akademik satuan pendidikan ; 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP) belum dipahami secara utuh dan belum mampu diterapkan dengan baik dan luas oleh setiap program dan/atau satuan pendidikan; visi, misi, dan program yang dirumuskan serta dimiliki oleh setiap satuan pendidikan seringkali bersifat abstrak dan kurang berkorelasi dengan kegiatan peningkatan dan penjaminan mutu program dan/atau satuan pendidikan. 2. Masalah Regulasi Peraturan pendidikan yang kurang progresif, konsisten, dan terintegrasi sehingga relatif menyulitkan bagi pihak-pihak berkepentingan dalam pelaksanaan penjaminan mutu ; belum adanya standar mutu internal, ‘key performance indicators’, dan sasaran mutu akademik dan non-akademik di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan yang siap memacu mutu pendidikan;belum adanya pengembangan sistem penilaian kinerja secara berjenjang, mulai dari kinerja institusi, unit, dan individu; dan BSNP belum menyiapkan penjabaran standar secara menyeluruh untuk semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan yang akan menjadi dasar penyelenggaraan penjaminan mutu. 3. 9|Page Masalah Penentuan Dan Implementasi Kebijakan Penjaminan Mutu: Peningkatan mutu pendidikan belum berjalan dengan baik dan terpadu terutama di tingkat satuan pendidikan. keberadaan satuan pendidikan bertaraf internasional belum jelas tolak ukurnya dan belum melalui assessment oleh badan akreditasi nasional/internasional. praktik program dan/atau satuan pendidikan dan/atau kelas internasional di Indonesia selama ini lebih bersandar pada rezim perizinan yang dikeluarkan oleh birokrasi pendidikan, bukan berdasarkan akreditasi. Di negara-negara maju, hal itu dilakukan berdasarkan hasil akreditasi oleh badan akreditasi independen dan profesional. 4. Masalah Tentang Esensi Data Data mutu pendidikan yang terjamin akurasi, kelengkapan, dan updating-nya belum dikelola dengan baik oleh program dan satuan pendidikan, unit kerja di lingkungan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota/Kabupaten, dan unit-unit utama di lingkungan Pemerintah. Data mutu pendidikan belum dianalisis oleh pemangku kepentingan, walaupun seringkali digunakan untuk perumusan serta implementasi kebijakan, program, dan penganggaran pendidikan. Penggunaan data yang mentah sifatnya dan belum “bunyi” dalam pengambilan kebijakan berdampak pada rendahnya mutu serta tidak tepatnya kebijakan yang dirumuskan dan dilaksanakan saat ini ; • Belum terbangunnya budaya proses pengambilan keputusan berdasarkan data. Di tingkat satuan pendidikan, pengambilan keputusan lebih berdasarkan keinginan, otoritas, dan apa yang menjadi bayangan pemimpin satuan pendidikan serta berdasarkan tuntutan dari birokrasi pendidikan (pusat dan daerah) dan tidak banyak mengacu pada realitas obyektif; • Hasil pemetaan mutu pendidikan belum dimanfaatkan secara optimal untuk penentuan kebijakan, penyusunan program dan alokasi anggaran pendidikan; • Monitoring dan evaluasi internal di setiap satuan pendidikan belum berjalan optimal sehingga menghasilkan data dasar untuk perbaikan mutu berkelanjutan. 5. Masalah Kejujuran/ Obyektivitas Program dan/atau satuan pendidikan kurang jujur dalam mengevaluasi dirinya, sehingga peringkat mutu yang ada dan dipublikasikan selama ini belumlah 10 | P a g e sepenuhnya terpercaya; hasil akreditasi yang dilakukan oleh badan akreditasi terhadap satuan pendidikan, baik di tingkat program studi, jurusan maupun institusi, belum mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya. Sikap kompromi dan pertimbangan-pertimbangan subyektif (tetapi merasa perlu ditempuh) masih turut berbicara dalam kegiatan akreditasi. kegiatan penjaminan mutu kurang ditopang aspek pembiayaan yang memadai, sehingga mengganggu tingkat kejujuran, obyektivitas, profesionalitas, dan kesungguhan kerja unit penjaminan mutu dan badan akreditasi. 6. Masalah Kelembagaan: Belum terlalu jelasnya pembagian peran dan fungsi antar lembaga terkait serta antara pemerintah pusat dan daerah dalam penyelenggaraan pendidikan, kapasitas pemerintah daerah masih sangat bervariasi dan belum terstandarisasi prosedur dan operasionalnya dalam menjalankan penjaminan mutu pendidikan. Penjaminan mutu cenderung ditekankan pada tingkat program dan/atau satuan pendidikan semata, tetapi kurang menekankan peran pemerintah dan pemerintah daerah di dalamnya. Padahal program dan/atau satuan pendidikan, terutama swasta, masih membutukan fasilitasi dan peran pemerintah dalam proses penjaminan mutu. Siklus penjaminan mutu (internal dan eksternal) masih terpisah dan belum berjalan secara sinergis untuk penjaminan dan peningkatan mutu berkelanjutan melalui RKS dan RKAS. • Belum melembaganya tim pengembang pada program dan/atau setiap satuan pendidikan. Kalaupun ada program dan/atau satuan pendidikan yang memiliki tim pengembang, pada umumnya masih pada tataran formalitas dan belum berfungsi sebagaimana diharapkan; • Fungsi pemetaan dan fasilitasi oleh lembaga pembinaan penjaminan mutu belum terintegrasi dan berjalan efektif; • Lembaga akreditasi seperti BAN-S/M belum mampu berkoordinasi dalam mengakreditasi program dan satuan pendidikan secara menyeluruh dan berkelanjutan dan melakukan kolaborasi dalam menjamin pelayanan akses terhadap data mutu pendidikan kepada publik untuk penelitian dan pengembangan mutu pendidikan; • Lembaga evaluasi eksternal atau akreditasi selain BAN seperti ABET, ACCB, Cambridge Examination Syndicate dan lain-lain belum diatur 11 | P a g e secara baik dalam bentuk prosedur operasional standar dan dikembangkan untuk percepatan dan perluasan akreditasi mutu setiap satuan pendidikan; • RSBI, SBI, dan kelas-kelas internasional belum memiliki standar keinternasionalannya (terakreditasi secara internasional) dan belum menegakkan akuntabilitasnya. 7. Masalah Budaya Mutu: Budaya mutu belum tumbuh dan berkembang secara optimal dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. kurangnya kesadaran (awereness) dan komitmen pemimpin satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan di daerah maupun pengelola pendidikan di pusat terhadap pentingnya penjaminan mutu. 8. Masalah Layanan Khusus: Penjabaran standar untuk Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) belum diatur penjaminan mutunya, penjaminan mutu untuk pendidikan jarak jauh dalam berbagai bentuk misalnya berbasis modul dan e-learning belum berjalan secara efektif. Penjaminan mutu untuk pendidikan keagamaan sesuai dengan PP No. 55/2007 belum berjalan secara efektif; 9. Masalah yang terkait dengan standar mandiri: Belum dikembangkannya standar mandiri dalam sistem penjaminan mutu pendidikan. Standar mandiri sesungguhnya penting dikembangkan, mengingat selain ada program dan satuan pendidikan negeri juga terdapat program dan satuan pendidikan swasta, dan dalam praktik standar mandiri itu dikembangkan program dan satuan pendidikan tertentu. Program dan satuan pendidikan kebanyakan belum mampu merumuskan dan menentukan standar mutu pendidikan (akademiknya) sendiri, sehingga proses pembelajaran berlangsung tanpa target yang pasti dan titik ukuran yang konsisten untuk memantau kemajuan yang sedang dilakukan sekarang dan akan dicapai secara berkelanjutan di masa mendatang. 10. Masalah yang terkait dengan akuntabilitas publik: Penjaminan mutu yang ada dan berlangsung selama ini belum memasukan dan mempertimbangkan akuntabilitas publik di dalamnya, sehingga masyarakat seperti kehilangan hak, kesempatan, proporsi, dan kurang terlindungi dalam penjaminan mutu pendidikan, program dan/atau satuan pendidikan kurang 12 | P a g e terbuka dalam menjelaskan dan mempublikasikan hasil evaluasi dirinya. Badan-badan akreditasi kurang terbuka dalam mengumumkan secara rinci ke publik mengenai proses, metode, ukuran, indikator, dan hasil akreditasi yang dilakukan. 11. Masalah yang terkait dengan keengganan melakukan penjaminan mutu: Ada kecenderungan program dan/atau satuan pendidikan seperti tidak memiliki waktu untuk melakukan penjaminan mutu internal dan atau evaluasi diri karena sudah terlalu disibukan oleh rutinitas yang cukup padat. umumnya juga kurang memiliki motivasi dalam melakukan evaluasi diri. Kegiatan penjaminan mutu seringkali dipandang sebagai beban yang memberatkan dan merepotkan program dan/atau satuan pendidikan dan belum menerapkan sanksi dan penghargaan terhadap kinerja setiap program dan/atau satuan pendidikan. kegiatan penjaminan mutu tidak jarang dilakukan karena merasa ada semacam ancaman internasional, termasuk semakin banyaknya peserta didik berbakat dari keluarga kaya yang lebih memilih belajar di luar negeri daripada di dalam negeri. Ada pula yang melakukannya hanya dalam rangka mendapatkan bantuan Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau lembaga internasional dalam melaksanakan RSBI, SBI atau program dan satuan pendidikan berkeunggulan lokal lainnya 12. Masalah yang terkait dengan kepentingan dan pragmatisme elite : Di beberapa daerah, program dan/atau satuan pendidikan, terutama di tingkat pendidikan dasar seringkali diintervensi oleh birokrasi pendidikan (Dinas Pendidikan), dan tak jarang pula pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi alat politik dari elite kekuasaan lokal. Intervensi elite kekuasaan dan birokrasi dapat dan telah mengganggu konsentrasi program dan satuan pendidikan dalam mencapai dan memelihara pendidikan yang bermutu. 13 | P a g e C. Kesimpulan dan Rekomendasi • Kesimpulan Sebab-sebab umum rendahnya mutu pendidikan bisa di sebabkan oleh beberapa sumber yang mencakup desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat ,lingkungan kerja yang buruk ,sistem dan prosedur yang tidak sesuai ,jadwal kerja yang tidak teratur, sumber daya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai. Sedangkan sebab-sebab khusus kegagalan mutu sering diakibatkan oleh prosedur dan aturan yang tidak diikuti atau di taati, meskipun itu mungkin juga akibat kegagalan komunikasi atau kesalahpahaman. Secara makro problema penjamin mutu pendidikan adalah sebagai berikut : 1) Masalah Yang Terkait Dengan Makna Penjaminan Mutu, 2) Masalah Regulasi , 3) Masalah Penentuan Dan Implementasi Kebijakan Penjaminan Mutu, 4. Masalah Tentang Esensi Data, 5) Masalah Kejujuran/ Obyektivitas, 6. Masalah Kelembagaan, 7). Masalah Budaya Mutu, 8). Masalah Layanan Khusus, 9). Masalah yang terkait dengan standar mandiri, 10). Masalah yang terkait dengan akuntabilitas publik, 11). Masalah yang terkait dengan keengganan melakukan penjaminan mutu, 12). Masalah yang terkait dengan kepentingan dan pragmatisme elite. • Rekomendasi Perlunya peraturan Pendidikan yang progresif, konsisten, dan terintegrasi sehingga relatif menyulitkan bagi pihak-pihak berkepentingan dalam pelaksanaan penjaminan mutu ; dan juga perlu adanya standar mutu internal, ‘key performance indicators’, dan sasaran mutu akademik dan non-akademik di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan yang siap memacu mutu pendidikan. Dan perlu dilaksanakan pengembangan sistem penilaian kinerja secara berjenjang, mulai dari kinerja institusi, unit, dan individu; dan BSNP menyiapkan penjabaran standar secara menyeluruh untuk semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan yang akan menjadi dasar penyelenggaraan penjaminan mutu. Program dan/atau satuan pendidikan diharapkan benar-benar jujur dalam mengevaluasi dirinya, sehingga peringkat mutu yang ada dan dipublikasikan bisa dipercaya; hasil akreditasi yang dilakukan oleh badan akreditasi terhadap satuan pendidikan, baik di tingkat program studi, jurusan maupun institusi, belum mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya. Sikap kompromi dan pertimbangan-pertimbangan subyektif (tetapi merasa perlu ditempuh) masih turut berbicara dalam kegiatan akreditasi. Kegiatan 14 | P a g e penjaminan mutu perlu ditopang aspek pembiayaan yang memadai, sehingga mengganggu tingkat kejujuran, obyektivitas, profesionalitas, dan kesungguhan kerja unit penjaminan mutu dan badan akreditasi. Perlu dikembangkannya standar mandiri dalam sistem penjaminan mutu pendidikan. Standar mandiri sesungguhnya penting dikembangkan, mengingat selain ada program dan satuan pendidikan negeri juga terdapat program dan satuan pendidikan swasta, dan dalam praktik standar mandiri itu dikembangkan program dan satuan pendidikan tertentu. Program dan satuan pendidikan kebanyakan belum mampu merumuskan dan menentukan standar mutu pendidikan (akademiknya) sendiri, sehingga proses pembelajaran berlangsung tanpa target yang pasti dan titik ukuran yang konsisten untuk memantau kemajuan yang sedang dilakukan sekarang dan akan dicapai secara berkelanjutan di masa mendatang 15 | P a g e Daftar Pustaka BAN.SM.2011. Pengertian Akreditasi Sekolah/Madrasah. (Online). http://jakarta.bapsmdki.or.id/berita/read/pengertian-akreditasi-sekolah-madrasah Depdiknas. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1. Koonsep Dasar. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. 2016. Pedoman Umum Sistem Penajminan Mutu Pendidikan Dasar dan menengah; Dokumen 2. J akarta: Depdiknas. Ginting, Rosalina dan Titik Haryati. 2012. Kepemimpinan dan Konteks Peningkatan Mutu Pendidikan, Jurnal Ilmiah CIVIS Volume II No 2, Juli 2012 Permasalahan dalam pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan.http://vloggerpedia.blogspot.com/2019/10/permasalahan-dalampelaksanaan.html 16 | P a g e