Uploaded by User63433

PENGARUH KEPEMIMPINAN

advertisement
PENGARUH KEPEMIMPINAN, PENGAWASAN, DAN MOTIVASI
KERJA TERHADAP PENINGKATAN DISIPLIN GURU
Disusun oleh :
NIM :
Mata Kuliah :
JURUSAN
UNIVERSITAS
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur selalu penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah tentang “Pengaruh Kepemimpinan, Pengawasan, Dan
Motivasi Kerja Terhadap Peningkatan Disiplin Guru”.
Teriring ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan
serta motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan
masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik serta saran yang bersifat membangun
guna perbaikan dan peningkatan kualitas makalah di masa yang akan datang dari pembaca
adalah sangat berharga bagi penulis.
Demikian makalah ini penulis susun, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua serta
menjadi tambahan referensi bagi penyusunan makalah dengan tema yang senanda di waktu
yang akan datang.
Agustus 2020
Penulis
1
BAB I
1.1 Latar Belakang
Berkembangnya zaman, menuntut manusia untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri
agar mampu bersaing dengan perubahan. Salah satu faktor dasar peningkatan kualitas
tersebut adalah pada bidang pendidikannya. Ditinjau dari perspektif secara umum,
pendidikan memegang peran sangat krusial bagi kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan
dengan pendidikanlah manusia mampu berpikir secara lebih baik, kreatif serta inovatif dalam
menyikapi masalah-masalah dalam kehidupannya. Sebuah pendidikan dikatakan sukses
apabila dalam proses pembelajaran tersebut berjalan dengan baik dan mencapai tujuan
pendidikan yang diharapkan.
Sesuai dengan UU No. 20 Th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
menyebutkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar serta
terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik supaya para
peserta didik mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
dalam berbagai bidang seperti spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Melihat hal ini dapat kita simpulkan bahwa pendidikan mempunyai peranan yang amat
penting guna menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa, hal ini
dikarenakan pendidikan sendiri ialah sebuah wahana yang digunakan dalam tujuannya untuk
meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia. Oleh karena itu, pendidikan di
Indonesia memiliki peranan yang sangat penting karena mampu menjadi bekal di masa
depan. Tentunya dalam usaha mewujudkan hal ini, manajemen pendidikan di sekolahsekolah Indonesia menjadi hal yang sangat krusial untuk diperhatikan.
Namun hasil observasi di lapangan kerap menunjukkan kondisi-kondisi yang kurang
memuaskan terkait kedisiplinan serta keprofesionalan guru di Indonesia. Banyak guru yang
krang maksimal dalam memberdayakan diri serta mengembangkan prfesionalitasan dirinya.
Hal ini akan berkaitan dengan ketidakmaksimalan pemutakhiran pengetahuan yang mereka
2
miliki dalam jangka waktu yang terus berkembang dan berkelanjutan. Namun ini tidaklah
menggambarkan keseluruhan guru di Indonesia, tentunya masih banyak guru yang rajin serta
kompeten dalam mengurus dan mengayomi pendidikan Indonesia.
Penulis melakukan beberapa observasi sederhana dibeberapa lokasi yang tidak
disebutkan guna nama baik sekolah, dimana hasil yang didapat rata-rata konflik internal yang
kerap terjadi di sekolah-sekolah yang melibatkan guru bahkan kepala sekolah. Hal ini
menunjukkan belum terciptanya iklim kepemimpinan yang baik, iklim kerja serta motivasi
berprestasi yang tinggi disekitar sekolah. Ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi
kualitas suatu sekolah sebagai outputnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa disiplin kerja sangat
berkaitan dengan motivasi berprestasi yang kuat agar dapat menjadi luar biasa. Jika motivasi
tersebut tidak dijaga maka akan memudarkan semangat serta kinerja kerja para guru serta
kedisiplinan guru. Berdasarkan kondisi tersebut, penulis berinisiatif untuk melakukan
penulisan makalah dengan judul: “Pengaruh Kepemimpinan, Pengawasan, dan Motivasi
Kerja terhadap Peningkatan Disiplin Guru di Indonesia.” agar mampu mengetahui serta
memahami secara jelas dan komprehensif mengenai kaitan tiga aspek tersebut terhadap
peningkatan kedisiplinan guru-guru di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah yang telah diuraikan di atas, maka didapat rumusan masalah
yang ingin penulis jawab yaitu ”Bagaimana Pengaruh Kepemimpinan, Pengawasan, dan
Motivasi Kerja terhadap Peningkatan Disiplin Guru di Indonesia”
1.3 Tujuan Penulisan
Dengan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui, memahami serta menghayati pengaruh kepemimpinan, pengawasan, serta
motivasi kerja terhadap peningkatan disiplin para guru di Indonesia.
1.4 Manfaat Penulisan
Untuk mengetahui dan memahami pengaruh kepemimpinan, pengawasan, serta motivasi
kerja terhadap peningkatan disiplin para guru di Indonesia.
3
BAB II
STUDI LITERATUR
2.1 Konseptualisasi Kepemimpinan
Seorah ahli Hasibuan (2010:157) mengungkapkan definisi pemimpin sebagai seorang
yang menggunakan kewenangan serta kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain,
dimana mereka mengemban tanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam pencapaian
suatu tujuan. Sedangkan Kartono (2010:18) menjelaskan bahwa seorang pemimpin adalah
mereka yang secara pribadi memiliki kemampuan serta kelebihan, khususnya pada suatu lini
bidang hingga akhirnya ia mampu mempengaruhi orang lainnya untuk bersama-sama
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu sesuai yang diarahkannya demi pencapaian satu atau
beberapa tujuan.
Sedangkan kepemimpinan merupakan proses yang dilalui dalam mempengaruhi berbagai
keputusan seperti; tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut, bahkan interprestasi
mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitasaktivitas
untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan
dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi (Veitsal Rivai
dan Deddy Mulyadi (2010:2)).
2.2 Pengawasan
Pengawasan adalah suatu kegiatan yang mencoba mengukur serta membandingkan sesuatu
yang sedang atau telah dilaksanakan dengan kriteria norma standar tertentu atau rencanarencana yang ditetapkan (Handoko, 2004). Hal ini dilakukan secara menyeluruh terkait
pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dengan maksud agar atasan mengetahui segala
sesuatu kegiatan berkenaan dengan pelaksanaan penugasan tugas terhadap bawahannya.
Menurut J. Winardi (2001:4) ketika menyelidiki berbagai macam pandangan &
pendapat mengenai motivasi berkaitan menggunakan konduite & kinerja, dan motivasi
meliputi pengarahan tujuan. Sebuah konsep yg dipakai untuk memperlihatkan kekuatan-
4
kekuatan yg mampu menghipnotis seseorang individu atau yg terdapat pada diri individu
tersebut, yg mengorganisasikan & mengarahkan konduite.
2.3 Kinerja
Kinerja didefinisikan menjadi output kerja secara kualitas & kuantitas yg dicapai oleh
seseorang karyawan pada melaksanakan tugasnya sinkron menggunakan tanggung jawab yg
diberikan kepadanya, Menurut Mangkunegara (2011:67) dan Rachmawati (2008:85)
mengemukakan bahwa “ Kinerja lebih adalah taraf keberhasilan yg dicapai seorang untuk
mengetahui sejauh mana seorang mencapai prestasi kerja yg diukur atau dinilai “. Dari
pengertian ini bisa dikatakan kinerja adalah alat pengukur dalam menilai berhasil atau
tidaknya seseorang karyawan pada melaksanakan tugas & tanggung jawab yg dibebankan
kepadanya.
Kinerja berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sesuatu yg hendak
dicapai, prestasi yg diperlihatkan & kemampuan kerja. Kinerja digunakan manajemen untuk
melakukan evaluasi secara periodik tentang efektifitas operasional suatu organisasi &
pegawai menurut sasaran, baku & kinerja yg sudah ditetapkan sebelumnya. Dengan kinerja,
organisasi & manajemen bisa mengetahui sajauh mana keberhasilan & kegagalan
pegawainya pada menjalankan jujur yg diterima.
2.4 DISIPLIN KERJA
Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan terhadap aturan, baik tertulis dan tidak
tertulis yg sudah ditetapkan. Disiplin kerja dalam dasarnya selalu diperlukan sebagai
karakteristik setiap asal daya insan pada organisasi, lantaran menggunakan kedisplinan
organisasi akan berjalan baik & mampu mencapai tujuannya dengan baik pula (Setiyawan &
Waridin, 2006:189). Disiplin kerja merupakan suatu indera yg dipakai para manajer untuk
berkomunikasi dengan karyawan supaya mereka bersedia untuk mengganti suatu konduite
dan menjadi suatu upaya untuk menaikkan pencerahan & kesediaan seorang mentaati seluruh
peraturan organisasi & kebiasaan-kebiasaan yg berlaku (Veithzal Rivai & Ella Jauvani, 2009:
825).
5
Siagian (2004:305) mengemukakan bahwa disiplin karyawan pada manajemen asal
daya insan berangkat berdasarkan pandangan bahwa tidak terdapat insan yg sempurna,
tanggal berdasarkan kesalahan & kekhilafan. Jadi disiplin karyawan merupakan suatu bentuk
training karyawan yg berusaha memperbaiki & membangun pengetahuan ,perilaku &
konduite karyawan sebagai akibatnya konduite karyawan tadi secara sukarela berusaha
bekerja secara koperatif menggunakan para karyawan lain dan menaikkan prestasi kerja.
Berdasarkan pengertian diatas disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah suatu perilaku,
tingkah laku, & perbuatan yg sinkron menggunakan peraturan baik tertulis juga nir tertulis,
& apajika melanggar akan terdapat hukuman atas pelanggarannya.
2.5 Hubungan antara kepemimpinan terhadap Disiplin
Kepemimpinan dalam dasarnya menekankan untuk menghargai tujuan individu
sebagai dampaknya nantinya para individu akan mempunyai keyakinan bahwa kinerja aktual
akan melampaui asa kinerja mereka. Seorang pemimpin wajib menerapkan gaya
kepemimpinan untuk mengelola bawahannya, lantaran seseorang pemimpin akan sangat
mensugesti keberhasilan organisasi pada mencapai tujuannya
(Waridin & Bambang Guritno, 2015). Suranta (2012) & Tampubolon (2012)
menyatakan bahwa faktor kepemimpinan pula berpengaruh terhadap disiplin karyawan. Dari
pendapat para pakar tadi dapat disimpulkan bahwa masih ada interaksi yg erat & imbas antara
faktor kepemimpinan & faktor kinerja karyawan.
2.6 Hubungan antara Motivasi terhadap Disiplin
Motivasi adalah sebuah keahlian pada mengarahkan karyawan dalam tujuan
organisasi supaya mau bekerja & berusaha sebagai akibatnya harapan para karyawan &
tujuan organisasi bisa tercapai. Motivasi seorang melakukan suatu pekerjaan lantaran adanya
suatu kebutuhan hayati yg wajib dipenuhi. Kebutuhan ini bisa berupa kebutuhan irit yaitu
untuk memperoleh uang, sedangkan kebutuhan nonekonomis bisa diartikan menjadi
kebutuhan untuk memperoleh penghargaan & harapan lebih maju.
6
Dengan segala kebutuhan tadi, seorang dituntut buat lebih ulet & aktif pada bekerja,
buat mencapai hal ini dibutuhkan adanya motivasi pada melakukan pekerjaan, lantaran bisa
mendorong seorang bekerja & selalu berkeinginan buat melanjutkan usahanya. Oleh lantaran
itu apabila pegawai yg memiliki motivasi kerja yg tinggi umumnya memiliki kinerja yg tinggi
pula.
Suharto & Cahyono (2005) & Hakim (2006) menjelaskan bahwa terdapat keliru satu
faktor yg mensugesti kinerja yaitu faktor motivasi, dimana motivasi adalah syarat yg
menggerakan seorang berusaha buat mencapai tujuan atau mencapai output yg diinginkan.
Rivai (2004) menerangkan bahwa semakin bertenaga motivasi kerja,kinerja pegawai akan
semakin tinggi. Hal ini berarti bahwa setiap peningkatan motivasi kerja pegawai akan
menaruh peningkatan yg sangat berarti bagi peningkatan kinerja pegawai pada melaksanakan
pekerjaannya.
2.7 Hubungan antara Pengawasan terhadap Disiplin
Menurut Budi Setiyawan & Waridin (2006) & Aritonang (2005) menyatakan bahwa
Pengawasan kerja pengajar merupakan salah satu dari bagian faktor kinerja. Disiplin kerja
wajib dimiliki oleh setiap pengajar & wajib dibudayakan pada kalangan karyawan atau
pengajar supaya sanggup mendukung tercapainya tujuan organisasi adalah wujud menurut
kepatuhan terhadap anggaran kerja & jua menjadi tanggung jawab diri terhadap perusahaan.
Pelaksanaan disiplin dilandasi pencerahan & keinsafan akan terciptanya suatu syarat
yg serasi antara asa & kenyataan. Untuk membentuk syarat yg serasi tadi terlebih dahulu
wajib diwujudkan keselarasan antara kewajiban & hak karyawan. Sehingga bisa disimpulkan
bahwa disiplin adalah perilaku kesetiaan & ketaatan seorang atau sekelompok orang terhadap
peraturanperaturan baik tertulis dan juga yang tidak tertulis, yg tercermin pada bentuk
tingkah laku.
7
BAB III
METODE PENELITIAN
Menurut prof. Sugiyono (1999:10) metode penelitian adalah sebuah cara ilmiah
untuk mengumpulkan dan mendapatkan data dengan tujuan dan teknik tertentu. Penulisan
kali ini menggunakan jenis penulisan deskriptif. Tujuan dari penulisan deskriptif ini adalah
untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Demi mendapatkan data faktual yang komprehensif, pada penelitian penulis kali ini
menggunakan beberapa teknik pengumpulan data berupa studi literature atau kajian pustaka
yang ditujukan untuk mempelajari dan menggunakan teori-teori yang berhubungan dengan
pengukuran kedisiplinan dan juga menggunakan kuisoner yang diberikan kepada 45
responden.
Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif. Berdasarkan
permasalahan yang tertulis pada rumusan masalah dan pendekatan yang penulis gunakan,
penulis menganalisa data-data yang diperoleh dengan teknik analisis data kualitatif.
8
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam suatu organisasi ataupun lembaga yang berdiri yang terbentuk secara
structural, pemimpin menjadi seseorang yang sudah seharusnya memiliki kemampuan dalam
mengarahkan dan menjadi teladan yang baik bagi setiap individu yang dipimpinnya. Dinilai
juga sebagai agen perubahan yang mampu mempengaruhi dan menentukan individu untuk
mampu mencapai tujuan organisasinya, gaya kepemimpinan seseorang sering kali menjadi
tolak ukur dalam berhasil atau tidaknya capaian suatu organisasi. Konsep kepemimpinan
dalam satu definisi saja yaitu “kepemimpinan adalah merupakan suatu pengaruh hubungan
antara pimpinan dan pengikut (followers) yang bermaksud pada perubahan dan hasil nyata
yang mencerminkan tujuan bersama” Dari definisi tersebut tercakup tujuh unsur yang
esensial dalam kepemimpinan yaitu: pemimpin (leader), pengaruh (Influence), pengikut
(Follower), maksud (Intention), tujuan bersama (shared purpose), perubahan (change),
tanggung jawab pribadi (Personal responbility).
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan melalui pengelolaan data melalui
analisis data yang didapatkan dari para responden menunjukkan bahwa adanya hubungan
antara kepemimpinan terhadap kedisiplinan ataupun sebaliknya. Penelitian ini menunjukkan
bahwa kepemimpinan sangatlah berpengaruh terhadap kedisiplinan dalam suatu organisasi
dimana pun itu. Karena gaya kepemimpinanlah yang dapat mempengaruhi bawahannya atau
anggota suatu organisasi sehingga gaya kepemimpinan yang menentukan kedisiplinan itu
akan meningkat ataupun menurun. Hasil Kuisoner yang dijawab oleh 45 responden ini
menunjukkan bahwa proporsi responden dengan kepemimpinan baik yaitu sebanyak 35
orang, yakni memiliki kedisiplinan yang baik sebanyak 10 (55,6%) orang dan responden
dengan kedisiplinan kurang baik yaitu 8 orang (44,4). Sedangkan, dari 10 reponden yang
memiliki kepemimpinan kurang baik, memiliki kedisiplinan baik yaitu 25 (92,6%) dan yang
memiliki kedisiplinan kurang baik yaitu 2 orang (7,4%). Dapat disimpulkan bahwa semakin
baik kepemimpinan seorang atasan maka salah satu unsur penentu keberhasilan suatu
organisasi akan baik pula (Farzan, 2016).
9
Dalam jalannya suatu lembaga atau organisasi yang menuntut adanya target disetiap
langkahnya, tentu memerlukan suatu system sebagai pengendalian agar strategi yang
dijalannya dalam internal maupun ekternal organisasi itu tidak menyimpang dari yang
seharusnya dijalannkan guna mencapai ataupun mewujudkan tujuan dari organisasi tersebut.
System inilah yang kemudian dinamakan pengawasan, salah satu dari poin yang digunakan
dalam ilmu manajemen sebagai fungsi dalam mengupayakan keberhasilan suatu organisasi.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Winarti (2013), pengawasan merupakan salah satu fungsi
manajemen yang perlu diupayakan dalam mencapai tujuan organisasi yang efektif. Bagi
organisasi yang menerapkan pengawasan dengan efektif maka hal itu baik untuk mencegah
adanya berbagai kesalahan ataupun bahkan kecurangan dalam organisasi yang mungkin
terjadi seperti penyimpangan, pemborosan, penyelewengan, hambatan, kesalahan, kegagalan
dalam pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas dari organisasi tersebut. Selain itu
pengawasan juga berupa suatu proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah
dilaksanakan, menilainya dan bila perlu mengoreksi, dengan maksud supaya pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan rencana semula.
Kemudian, pengawasan dihubungkan dengan kedisiplinan dalam suatu organisasi.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan melalui pengelolaan data melalui analisis data
yang didapatkan dari para responden menunjukkan bahwa kedisiplinan juga dipengaruhi oleh
tingkat pengawasan yang dilakukan didalam suatu organisasi. Hasil penelitian menunjukan
bahwa dari 45 responden yang menjawab kuisioner yang diberikan menghasilkan tiga
kelompok jawaban yang diantaranya (35 77,8%) responden yang memiliki pengawasan
cukup dan 10 (22,2) responden diantaranya masih memiliki kedisiplinan kurang, berdasarkan
data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab sehingga 10 (22,2%)
responden tersebut masih dikatakan tidak disiplin adalah pengawasan yang terlalu berlebihan
oleh pimpinan kepada bawahannya dalam melaksanakan pekerjaannya sehingga sebagian
petugas kurang nyaman dengan kondisi yang selalu ditekan. Dengan demikian dapat terlihat
bahwa, pengawasan seorang pemimpin kepada bawahannya sangat mempengaruhi
10
kedisiplinan para anggota organisasinya, namun tetap tak bisa dipungkiri bahwa segala
sesuatu yang berlebihan akan menghasilkan hasil yang tidak baik pula.
Selain gaya kepemimpinan dan pengawasan, fakto lain yang juga dinilai sebagai
penentu kedisiplinan dalam suatu organisasi ialah motivasi setiap individu dalam organisasi
tersebut. Motivasi dianggap berpengaruh karena motivasi merupakan suatu perasaan yang
berasal dari dalam diri seseorang sendiri yang dapat dipicu pula oleh dorongan dari luar diri
seseorang tersebut yang secara tak sadar dapat mempengaruhi perasaan, sikap bahkan kondisi
seseorang pada saat tertentu. Menurut Mangkunegara (2007) Motivasi merupakan suatu
sikap (attitude) pimpinan atau pegawai terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan
organisasinya. Pegawai yang bersikap positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan
motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika pegawai tersebut bersikap negatif terhadap situasi
kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja mencakup antara lain
hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja
dan kondisi kerja.
Hal ini pun ditunjukkan leh hasil penelitian yang dilakukan oleh Farzan (2016) bahwa
motivasi juga mempengaruhi kedisiplinan seseorang. Hal ini karna berkaitan terhadap
semangat bekerja yang ditimbulkan dari adanya rasa motivasi yang tinggi. Penelitian yang
dilakukan dengan mengambil sampel pegawai Puskesmas Motaha dapat di identifikasi
motivasi cukup sebanyak 77,8% dan kurang sebanyak 22,2%. Hal ini juga tentu bukan hanya
dipicu oleh motivasi yang berasal dari dalam diri, namun juga dipengaruhi oleh motivasi
sesama pegawai dan bahkan motivasi dari atasannya. Apabila terjalin hubungan yang baik
antar sesame pegawai dan antara atasan dan bawahan, maka akan menciptakan iklim kerja
yang menyenangkan sehingga dapat mempengaruhi jiwa seseorang sehingga timbul
semangat kerja sebagai motivasinya.
11
BAB V
5.1 Kesimpulan
Dalam suatu organisasi ataupun lembaga yang berdiri yang terbentuk secara
structural, pemimpin menjadi seseorang yang sudah seharusnya memiliki kemampuan dalam
mengarahkan dan menjadi teladan yang baik bagi setiap individu yang dipimpinnya. Dinilai
juga sebagai agen perubahan yang mampu mempengaruhi dan menentukan individu untuk
mampu mencapai tujuan organisasinya, gaya kepemimpinan seseorang sering kali menjadi
tolak ukur dalam berhasil atau tidaknya capaian suatu organisasi.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan melalui pengelolaan data melalui
analisis data yang didapatkan dari para responden menunjukkan bahwa adanya hubungan
antara kepemimpinan terhadap kedisiplinan ataupun sebaliknya. Penelitian ini menunjukkan
bahwa kepemimpinan sangatlah berpengaruh terhadap kedisiplinan dalam suatu organisasi
dimana pun itu. Karena gaya kepemimpinanlah yang dapat mempengaruhi bawahannya atau
anggota suatu organisasi sehingga gaya kepemimpinan yang menentukan kedisiplinan itu
akan meningkat ataupun menurun.
5.2 Saran
Setelah membaca makalah di atas, maka diharapkan pembaca mampu mengetahui
serta memahami bagaimana keterkaitan antara aspek yang beragam terhadap peningkatan
disiplin kerja. Khususnya bagaimana pengaruh kepemimpinan, pengawasan, serta motivasi
kerja terhadap peningkatan disiplin para guru di Indonesia.
12
DAFTAR PUSTAKA
A.A.Anwar Prabu Mangkunegara. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
H.B. Siswanto, 2013. Pengantar Manajemen, Cetakan Kesembilan. Jakarta: PT.Bumi
Aksara Hasmin, Nazir Harudi, Gunawan. 2016. Pengaruh Motivasi, Disiplin dan kompetensi
Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten
Soppeng. Makassar: Jurnal Mirai Manajemen, Vol. 1, No. 1. Hasibuan, Malayu.
2010.
Manajemen Sumber Daya Manusia: Pengertian. Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Heidi Rachman Ranupandojo dan Suad Husnan, 2006. Manajemen Personalia. Yogyakarta
: BPFE.
Ida Ayu Brahmasari, Agus Suprayetno. 2008. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepemimpinan dan
Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Serta Dampaknya pada
Kinerja Perusahaan (Studi Kausu pada PT. Pei Hai International Wiratama
Indonesia). Surabaya: Jurnal Manajemen Petra, Vol. 7. Ike Rachmawati. K, 2008.
Andi J. winardi. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta
Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal itu ?. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada. Keputusan Menteri. 2002. No. 045/2002/Pasal 1 Tentang
Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
13
Download