Uploaded by common.user62980

16724 4727 Makro Molekul dan Hasil Alam

advertisement
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah buku Penuntun Praktikum Kimia Organik II ini
dapat kami selesaikan. Buku ini disusun dengan tujuan untuk memberikan
bekal dan pengetahuan dasar bagi peserta Praktikum Kimia Organik II
di
Laboratorium Dasar Bersama. Penuntun praktikum ini disusun dengan
kerangka yang konsisten meliputi tujuan percobaan, dasar teori, alat dan bahan
yang digunakan dan prosedur percobaan. Posedur percobaan disusun
sedemikian agar percobaan ini dapat dilakukan dalam waktu 2 jam. Penuntun
praktikum ini juga dilengkapi dengan Satuan Acara
perkuliahan (SAP
Praktikum) dan Garis Garis Besar Program Pembelajaan (GBPP) dengan
harapan supaya praktikum berjalan sesuai dengan tujuan istruksonal yang telah
ditentukan.
Keberhasilan praktikum sangat bergantung pada pengamatan yang lebih
teliti, disiplin pada prosedur, ketekunan dan berfikir secara kritis sewaktu
melakukan percobaan. Oleh karena itu kepada praktikan diharapkan sekali
untuk mempelajari dasar teori, langkah percobaan dan prinsipnya sebelum
melakukan probaan.
Akhirnya kami mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya
kepada Ibu Dr. Muharni, M.Si. selaku pimpinan Laboratorium Dasar Bersama
UNSRI. Kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak untuk
perbaikan buku ini dimasa yang akan datang sangat diharapkan.
Wasalam,
Inderalaya, Januari 2013
Penyusun
1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………………. 1
Petunjuk Umum……………………………………………………………………… 3
Halaman
Percobaan 1
Pembuatan Metil Orange (Diazotasi)……………….
6
Percobaan 2
Sintesis Asetanilida (Asetilasi)……………………..
14
Percobaan 3
Sintesis Dibenzalaseton (Kondensasi Aldol)………
20
Percobaan 4
Sintesis Iodoform (Substitusi Elektrofilik Alifatik.…
27
Percobaan 5
Sintesis p-nitroasetanilida (Subt Elektrofilik Aromatik)
29
2
PERATURAN UMUM
I. SEBELUM MELAKUKAN PRAKTIKUM
1. Praktikan diwajibkan mempelajari panduan praktikum dan latar belakang
teori serta reaksi reaksi kimia yang berkaitan dengan percobaan yang
akan dilakukan.
2. Praktikan dianjurkan untuk membaca pustaka yang berkaitan dengan
topik yang akan dicoba.
3. Sebelum melakukan suatu pecobaan, peserta akan mengikuti tes awal
praktikum, peserta tidak diperkenankan terlambat.
4. Memeriksa peralatan, pereaksi dan sampel serta kelengkapan praktikum
yang akan digunakan dalam percobaan.
II. PADA SAAT MELAKUKAN PRAKTIKUM
1. Praktikan wajib memakai jas lab yang bersih dan memadai untuk
melindungi badan dan pakaian. Gunakan selalu kaca mata pelindung
dan sarung tangan ketika bekerja dengan zat zat yang berbahaya dan
iritan.
2. Jangan melakukan pekerjaan, penyiapan sampe atau percobaan tanpa
pengawasan dari asisten atau petugas pembimbing praktikum
3. Pilih tempat yang tepat untuk melakukan percobaan. Percobaan yang
melibatkan zat- zat berbahaya harus dilakukan dalam lemari asam
4. Bila percobaan menggunakan zat atau pelarut mudah terbakar, jauhkan
percobaan tersebut dari api. Bila percobaan itu memerlukan pemanasan,
gunakanlah penangas air.
5. Bila mengencerkan asam pekat (seperti H2SO4), tuangkanlah asam itu
perlahan lahan melalui dinding tabung atau wadah yang dimiringkan
dan telah terisi air secukupnya. Kocok hati hati, bila perlu wadah atau
tabung direndam dalam air dingin.
3
6. Alat pemanas jangan dibiarkan menyala jika tidak digunakan
untuk
mnghindari kebakaran dan pemborosan.
7. Bahan bahan kimia di laboratorium kimia organic harus dianggap
berbahaya dan beracun. Cucilah tangan anda setiap akan meninggalkan
laboratorium.
8. Jika anda terkena zat kimia segeralah cuci dengan sabun dan bilaslah
dengan air yang banyak. KECUALI APABILA ANDA TERKENA
TUMPAHAN ATAU CIPRATAN BROM, FENOL ATAU ASAM SULFAT
PEKAT, HINDARI MEMBILAS DENGAN AIR!!! Jika terkena brom dan
fenol, segera bilas dengan anti brom dan antifenol yang disediakan di
laboratorium, setelah beberapa saat bilaslah dengan air yang banyak.
Jika terkena asam sulfat pekat laplah bagian tubuh anda yang terkena
asam dengan tissue kering kemudian setelah beberapa saat cucilah
dengan air sabun dan air yang banyak.
9. Zat zat kimia berikut sangat iritan, kecuali dalam konsentrasi encer:
asam sulfat, asam nitrat, asam klorida (HCl), asam asetat dan kalium
hidroksida dan natrium hidroksida. Berhati hatilah!
10. Meja dan tempat bekerja harus selalu dalam keadaan bersih. Bila ada
pereaksi yang tumpah langsung bersihkan dengan sedikit air dan dilap.
11. Bacalah label atau etiket pereaksi dengan teliti sebelum digunakan.
12. Jagalah
kemurnian
pereaksi
dan
pelarut
dengan
cara
tidak
mencampuradukkan pipet atau spatel untuk mengambil zat.
III. SETELAH PERCOBAAN SELESAI
1. Catatlah semua pengamatan dan ukuran ukuran yang dihasilkan dalam
buku kerja.
2. Cucilah alat alat yang telah digunakan lalu bilas dengan air suling untuk
memudahkan saudara atau teman yang akan melakukan percobaan
berikutnya
4
3. Bersihkan meja, rapikan botol botol pereaksi ditempat semula dan
buanglah sampah pada tempatnya. Matikan listrik dan alat pemanas dan
tutup semua kran air sebelum meninggalkan lab.
5
Percobaan I
Pembuatan Metil orange
(Reaksi Diazotasi)
Tujuan percobaan:
1. Memahami prinsip prinsip pembuatan senyawa azo (metilorange)
2. Memahami prinsip reaksi diazotasi (reaksi kopling)
Dasar Teori
Garam diazonuim dapat bereaksi dengan senyawa-senyawa aromatic yang
sangat reaktif seperti fenol atau amina tanpa reaksi substitusi elektrofilik pada
kedudukan reakif yaitu para dan orto dari fenol atau amina. Substitusi para
hampir selalu terjadi dan memberikan hasil warna azo. Metil orange termasuk
dalam kelompok zat warna dan dikenal sebagai “zat warna azo”, mengandung
gugus –N=N- terikat pada dua cincin aromatik.
Metil orange adalah zat warna yang banyak digunakan sebagai indikator dalam
titrasi. Pada larutan yang bersifat basa metil orange berwarna kuning dan pada
larutan yang bersifat asam akan berwarna merah.
H-Metilorange(aq)
H+(aq)
+
Metilorange- (aq)
6
Ket: Kiri: Methyl orange dalam larutan asam
Kanan: Methyl orange dalam larutan basa
Zat warna azo dibentuk melalui kopling suatu ion diazonium dengan suatu fenol
atau amin aromatic. Beberapa ion diazonium terurai cepat dalam larutan
sehingga dapat diharapkan reaksi kopling berlangsung cepat.
N
N
+
H
ion diazonium
NR2
N
arilamina
N
NR2
senyawa azo
Laju dimana suatu ion diazonium bergabung dengan suatu amina aromatik
sebanding terhadap konsentrasi produk ion diazonium dan amina bebas. Pada
pH tinggi ion diazonium dikonfersi menjadi diazoat yang tidak reaktf dan pada
pH rendah amina bebas dikonfersi menjadi garam ammonium tak reaktif. Hanya
pada pH sedang akan didapatkan konsentrasi spesies yang dibutuhkan
ArNH2 + H2O
ArNHR2
k1
k2
ArN2O + 2H+
ArNR2
+ H+
Garam benzendiazonium dalam medium yang dibuffer dengan natrium asetat
akan mengalami reaksi kopling dengan amina primer atau sekunder
membentuk senyawa diazoamino. Dengan anilin, terbentuk diazoaminobenzen,
C6H5-N=N-C6H5 . Untuk menghindari reaksi ini, diazotasi dilakukan dalam
medium asam kuat karena amina bebas bereaksi membentuk senyawa
diazoamino.
7
Reduksi senyawa azo akan menghasilkan amina aromatik primer. Sebagai
contoh, reduksi metil orange dengan natrium hidrosulfit (Na2S2O4) dalam
larutan
netral
atau
basa
menghasilkan
p-aminodimetilanilina
(N,N-
dimetilfenilenediamina) dan asam sulfanilat.
Dalam percobaan ini akan dibuat zat warna azo yaitu metil orange
dengan mereaksikan asam sulfanilat dengan asam nitrit menghasilkan garam
diazonium. Reaksi ini disebut juga diazotasi. Kemudian diikuti reaksi coupling
dengan dimetilanilin berikut dengan penambahan NaOH akan terbentuk
senyawa metil orange.
Mekanisme reaksi pembentukan metil orange:
8
Alat dan bahan:
Beaker glass
penangas air
penyaring vakum (penyaring Buchner)
Asam sulfanilat 5 g
natrium karbonat 1,5 g
natrium nitrit 2 g
HCl pekat 5 mL
As. Asetat glacial 1,5 mL
Dimetilanilin 3,1 mL
Lar NaOH 20% 40 mL
Sifat fisik
Senyawa
BM
Densitas (g/mol)
TD(oC)
TL(oC)
Asam sulfanilat
173.19
padat
-
288
N,N-Dimetilanilin
121.18
0.956
193-194
1.5-2.5
Natrium nitrit
69.00
2.168
-
271
Asam asetat glasial
60.05
1.049
116-117
-
NaCl 15 g
Prosedur:
-
Didalam beaker glass, Larutkan asam sulfanilat (5 g) dalam larutan Na2CO3
(1,5 g) dalam 50 mL air suling , kocok sampai diperoleh larutan jernih.
-
Dinginkan larutan dalam wadah berisi es, tambahkan larutan natrium nitrit (2
g dalam 15 mLair), kemudian secara perlahan masukkan kedalam HCl
pekat (5mL) didalam 25 mL air es (es yang sudah ditumbuk), aduk terus
menerus. Terbentuk garam diazonium berwarna merah
-
Dalam beaker glass lain, larutkan dimetilanilin 3,1 mL dalam 1,5 mL asam
asetat glacial, dinginkan dalam wadah berisi es dan tambahkan campuran
kedalam suspensi asam sulfanilat, aduk kuat.
-
Biarkan larutan selama 10 menit, (“red” metil orange akan terpisah), aduk
terus, perlahan lahan tambahkan 40 mL larutan NaOH 20% untuk merubah
bentuk zat warna asam menjadi garam natrium orange.
9
-
Panaskan campuran reaksi sampai hampir mendidih, tambahkan 15 g NaCl
kedalamnya dan lanjutkan pemanasan pada 80-90oC sampai diperoleh
larutan jernih.
-
Dinginkan larutan sampai dingin dalam wadah bersi es. Saring produk
dengan penyaring vakum, bilas dengan etanol dan keringkan di udara.
-
Rekristalisasi dengan air panas dan tentukan rendemen hasil.
Pertanyaan pra praktek
1. Pada titrasi apakah metilorange digunakan sebagai indikator?
Bagaimana perubahan warna indicator pada titik ekivalen? Jelaskan
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
………………………………………………
2. Apa yang dimaksud reaksi kopling? Jelaskan dengan contoh
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
………………………………………………
10
Hasil dan pembahasan
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
11
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Kesimpulan
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
12
Pertanyaan pascapraktek:
1. Gambarkan struktur m‐bromo‐N,N‐diethylaniline
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
………………………………………………………
2. Jelaskan mengapa gugus amino pada aniline merupakan pengarah orto
dan para?
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
………………………………………………………
3. Tuliskan persamaan reaksi diazotasi aniline
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
………………………………………………………
13
Percobaan II
Reaksi Asetilasi : Sintesis Asetanilida
Tujuan percoabaan:
1. Mensintesis asetanilida dengan mereaksikan aniline dan anhidrida
asetat.
2. Memurnikan asetanilida dengan rekristalisasi
3. Menentukan % rendemen hasil sintesis
Dasar Teori
Reaksi dari zat pengasilasi (alifatik atau aromatik) dengan ammonia atau
amina (primer atau sekunder) merupakan reaksi umum untuk membuat amida.
Umumnya sebagai agen pengasil digunakan asil halida (umumnya asil klorida)
dan anhidrida asam. Klorida asam lebih reaktif daripada anhidrida karena
keberadaan atom klor yang elektronegatif sehingga atom karbon menjadi lebih
susceptible terhadap penyerangan nukleofil.
Amina primer dan sekunder, alkohol dan fenol dapat diasetilasi secara
langsung dengan menggunakan campuran anhidrida asetat dan asam asetat
atau dengan asetil klorida. Asetilasi amina dengan cara yang sama akan
menghasilkan amida. Amida adalah basa sangat lemah dan merupakan salah
satu derivat asam karboksilat yang penting dalam sintesis.
Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis yang
digolongkan sebagai amida primer, dimana satu atom hidrogen pada anilin
digantikan dengan satu gugus asetil. Asetanilida berbentuk butiran berwarna
putih (kristal) tidak larut dalam minyak parafin dan larut dalam air dengan
bantuan kloral anhidrat. Asetanilida atau sering disebut fenilasetamida
mempunyai rumus molekul C6H5NHCOCH3 dan berat molekul 135,16 g/gmol.
Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Kraft pada tahun 1872 dengan
cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga terbentuk asetofenon
oksim yang kemudian dengan bantuan katalis dapat diubah menjadi
asetanilida. Pada tahun 1899 Beckmand menemukan asetanilida dari reaksi
14
antara benzilsianida dan H2O dengan katalis HCl. Lalu, pada tahun 1905
Weaker menemukan asetanilida dari anilin dan asam asetat.
Asetanilida
adalah suatu senyawa amida yang distabilkan oleh
resonansi yang melibatkan pasangan elektron tak berikatan dari atom nitrogen
dan gugus karbonil. Asetanilida merupakan senyawa yang berguna sebagai
prekusor dalam sintesis asetaminofen dan penisilin. Asetanilida dapat dibuat
dengan mereaksikan anhidrida asetat dengan anilin. Sintesis asetanilida
merupakan reaksi substitusi nukleofilik asil antara anilin dan asetat anhidrat.
Anilin adalah senyawa amina aromatik. Dalam hal ini anilin (suatu amina)
bertindak sebagai nukleofil dan gugus asil dari asam asetat bertindak sebagai
elektrofil.
C6H5NH2 + (CH3CO)2O
C6H5NHCOCH3 + CH3COOH
Asetanilida sedikit larut dalam air dan stabil hampir pada semua kondisi.
Kristal murni berbentuk pelat dan berwarna putih. Asetanilida digunakan
sebagai inhibitor hidrogen peroksida dan digunakan untuk menstabilkan pernis.
Dalam
industri farmasi, Asetanilida digunakan untuk memproduksi 4-
asetamidobenzensulfonilklorida, suatu intermediet kunci pada pembuatan obat
obat sulfa. Dan juga sebagai prekusor pada sintesis penisilin.
Reaksi sintesis asetanilida:
Alat dan bahan:
Hot plate
Corong Buchner
Beaker glass 150& 250 mL)
Tabung reaksi
Gelas ukur
Batang pengaduk
Kertas saring
Pengukur titik leleh
Corong Buchner
Anilin 200 g
anhidrida asetat 20 tetes
Batu es
15
Sifat fisik
Senyawa
BM
TL
Densitas
Sifat
Asetanilida
135,17
114oC
------
Anilin
93,13
184oC
1,002 g/mL
Iritan kulit dan mata
Anhidrida
asetat
102,09
138oC
1,082 g/mL
Iritan, toksik bila terhirup
dan mudah meledah
Iritan
Prosedur percobaan:
1. Masukkan 150-200 mg aniline (sekitar 10 tetes) kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 5 mL aquades dan 20 tetes anhidrida asetat menggunakan
pipet tetes, Aduk selama 5 menit sampai terbentuk padatan
3. Lakukan kristalisasi produk dengan cara menambahkan 5 mL air dan
panaskan tabung dalam beaker glass berisi air panas sambil sekali
sekali diaduk.
4. Keluarkan tabung dari beaker glass, biarkan selama 3-5 menit kemudian
masukkan kedalam air es.
5. Bila kristalisasi telah sempurna, saring produk dengan menggunakan
corong Buchner. Biarkan sampai produk kering sempurna
6. Timbang produk dan tentukan % hasil
acetanilide
Buchner
funnel
vacuum(suction)
filtrate
16
% asetanilida hasil = massa asetanilida hasil percobaan
Massa asetanilida teoritis
x 100
Hasil dan pembahasan
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
17
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
Kesimpulan
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
18
Pertanyaan pascapraktek
1. Tuliskanlah mekanisme reaksi pembuatan asetanilida
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
………………………………………………………
2. Jika pada proses kristalisasi tidak terbentuk Kristal sarankanlah dua cara
untuk memacu proses terbentuknya Kristal
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
3. Apa persyaratan (sifat) yang diharapkan dari suatu pelarut untuk
kristalisasi?
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
19
Percobaan III
Sintesis Dibenzalaseton
(Kondensasi Aldol)
Tujuan Percobaan:
1. Mensistensis dibenzalaseton melalui reaksi kondensasi aldol antara
aseton dan bezaldehid
2. Mengkarakterisasi senyawa hasil sintesis
Dasar Teori
Kondensasi adalah suatu reaksi dimana dua molekul kecil bergabung
membentuk satu molekul besar dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul
kecil (misalnya molekul air). Kondensasi aldol adalah suatu reaksi organik
dimana suatu enol atau ion enolat bereaksi dengan senyawa karbonil
membentuk β-hidroksialdehid atau β-hidroksiketon, diikuti dehidrasi untuk
menghasilkan enon.
Reaksi Kondensasi aldol penting dalam sintesis organik, merupakan suatu
metode yang baik untuk membentuk ikatan karbon-karbon.Dalam bentuk biasa,
reaksi ini melibatkan adisi nukleofilik suatu enolat pada suatu aldehid untuk
membentuk β-hidroksi keton atau “aldol” (aldehid+alkohol), suatu unit structural
yang dijumpai pada molekul alami obat-obatan.
Bagian pertama reaksi ini adalah sebuah reaksi aldol, sedangkan bagian
kedua reaksi ini adalah reaksi dehidrasi. Dehidrasi dapat diikuti oleh
dekarboksilasi ketika terdapat sebuah gugus karboksil yang aktif. Produk adisi
aldol dapat didehidrasi via dua mekanisme, yakni mekanisme enolat yang
menggunakan basa kuat dan mekanisme enol yang menggunakan katalis
asam.
20
Mekanisme enolat:
Mekanisme enol:
Kondensasi antara aldehida atau keton dengan karbonil dari aldehida
atau keton yang lain disebut kondensasi aldol silang (cross aldol condensation).
Reaksi ini dapat terjadi karena suatu aldehida tanpa hidrogen  tidak dapat
membentuk ion enolat sehingga tidak dapat berdimerisasi dalam suatu
kondensasi aldol. Tapi jika aldehida ini dicampur dengan aldehida atau keton
lain yang memiliki H maka kondensasi keduanya dapat terjadi. Suatu
kondensasi aldol silang sangat berguna bila hanya satu senyawa karbonil yang
memiliki H. Jika tidak maka akan diperoleh suatu produk campuran.
Reaksi kondensasi aldol silang yang melibatkan penggunaan senyawa
aldehida aromatis dan senyawa alkil keton atau aril keton sebagai reaktannya
dikenal sebagai reaksi Claisen schmidt. Reaksi ini melibatkan ion enolat dari
senyawa keton yang bertindak sebagai nukleofil untuk menyerang karbon
karbonil senyawa aldehida aromatis menghasilkan senyawa -hidroksi keton,
21
yang selanjutnya mengalami dehidrasi menghasilkan senyawa ,-keton tak
jenuh.
Dalam percobaan ini, aseton digunakan sebagai senyawa pembentuk
enolat, penambahan benzaldehid diikuti dengan dehidrasi untuk membentuk
gugu benzal. Seperti sikloheksanon, hidrogen α aseton dapat dienolisasi pada
kedua sisi gugus karbonil sehingga aseton dapat ditambahkan pada dua
molekul benzaldehid. Kondensasi aseton dengan dua molekul benzaldehid
menghasilkan dibenzalaseton seperti reaksi berikut. Nama sistematik untuk
dibenzalaseton adalah 1,5‐diphenil‐1,4‐pentadien‐3‐on.
Sifat fisik:
Senyawa
BM g/mol
TL °C
TD °C
Aseton
Benzaldehyde
Dibenzalaseton
Etanol
NaOH
58.08
106.12
224
46.07
40.00
110
-
56
178
78.5
-
Density
g/mL
0.731
1.044
0.791
2.130
Alat dan Bahan
Benzaldehida 0.9 g
aseton 0,3 mL
etanol 5 mL
NaOH 40% 2 mL
batu es
kertas lakmus
Labu bundar
Pipet tetes
batang pengaduk
Beaker glass
corong Buchner
Prosedur percobaan
-
Masukkan 0,9 g benzaldehyde kedalam labu bundar.
-
Tambahkan secara hati hati 0,3 mL acetone dengan pipet tetes.
-
Tambahkan 5 mL etanol 95% . Aduk campuran ini dalam wadah berisi
es.
22
-
Setelah 15 menit, tambahkan secara perlahan lahan 2 mL larutan NaOH
40% kedalam campuran ini , aduk dengan batang pegaduk kaca.
-
Keluarkan labu dari wadah es, biarkan pada suhu kamar selama 10
menit
-
Masukkan 10 g es kedalam beaker kecil. Tuangkan campuran reaksi
kedalam es, aduk sampai terbentuk endapan.
-
Kumpulkan endapan dengan penyaring vakum (penyaring Buchner),
cuci/bilas dengan air suling. Uji etesan terakhir dengan kertas lakmus.
Lanjutkan pencucian jika larutan masih basa.
-
Pindahkan endapan kedalam erlemeyer
-
Lakukan rekristalisasi dengan air dan etanol. Tambahkan 2-3 mL etanol
dan putar tabung melingkar dalam uap air panas.
-
Jika endapan telah larut sempurna, tambahkan beberapa tetes air
sampai terbentuk kabut. Panaskan kembali campuran dan biarkan dingin
pada suhu ruang. Jika endapan tidak larut sempurna, tambahkan
beberapa etes etanol sampai diperoleh larutan jernih.
-
Biarkan larutan mencapai temperature ruang, akan terbentuk Kristal
Dinginkan labu dalam wadah es selama 5-10 menit.
-
Karakterisasi Kristal hasil sintetsis dengan menentukan titik leleh,
bandingkan dengan literatur.
% hasil = massa benzalaseton hasil sintesis x 100
Massa benzalaseton teori
Hasil dan pembahasan
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
23
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
24
Kesimpulan
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
25
Pertanyaan pascapraktek.
1. Tuliskan mekanisme reaksi pembentukan dibenzalaseton.
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
………………………………………………………
2. Apa fungsi NaOH dalam reaksi sintesis ini?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
………………………………………………………
3. Apakah syarat suatu molekul keton atau aldehid dapat mengalami reaksi
kondensasi aldol?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………..
26
Percobaan IV
Sintesis Iodoform
(Substitusi Elektrofilik Alifatik)
Tujuan Percobaan:
1. Mensistensis iodoform melalui reaksi substitusi elektrofilik senyawa
alifatik.
2. Menentukan rendemen hasil sintesis
Dasar Teori
Pusat reaktif pada substrat kaya elektron, reaksi akan berlangsung melalui dua
cara, yaitu substitusi pada senyawa alifatik jenuh dan substitusi pada ikatan tak
jenuh atau pada atom karbon aromatik. Rekasi substitusi elektrofilik (SE) dapat
terjadi secara unimolekuler (SE1) atau bimolekuler (SE2).
Produk reaksi ini adalah retensi, sedangkan hasil reaksi SE1 merupakan
campuran rasemat. Substitusi elektrofilik biasanya terjadi pada senyawa
organologam, dimana logam kurang elektronegatif dibandingkan dengan
karbon. Reaksi SE1 akan berkurang reaktivitasnya jika didalamnya ada gugus
yang merupakan donor elektron dan akan menjadi naik rekaktivitasnya jika ada
gugus penarik elektron. Naiknya polaritas pelarut menyebabkan reaksi SE1
berlangsung cepat, sedangkan perubahan pelarut tidak banyak mempengaruhi
kecepatan pada reaksi SE2.
Alat dan Bahan
Erlenmeyer 100 ml
Aseton
Gelas ukur 10 ml
Aquades
Gelas ukur 50 ml
Natrium hidroksida 10%
Corong gelas
Larutan iodin
Termometer
27
Prosedur Percobaan
1. Masukkan aseton sebanyak 3 ml, aquades 30 ml dan larutan natrium
hidroksida 10% sebanyak 15 ml ke dalam erlenmeyer 100 ml.
2. Kemudian tambahkan kedalamnya setetes demi setetes larutan iodin
sambil dikocok sampai warna iodin tetap ada.
3. Panaskan hingga 60
0
C dalam waterbath, jika larutan menjadi tidak
berwarna setelah 2 menit, tambahkan lagi larutan iodin dan panaskan
kembali.
4. Dinginkan campuran, saring endapan kuning iodoform dan rekristalisasi
dengan metanol air (1 : 1).
28
Percobaan V
Sintesis p-nitroasetanilida
(Substitusi Elektrofilik Aromatik)
Tujuan Percobaan:
1. Mensistensis p-nitroasetanilida melalui reaksi substitusi elektrofilik
senyawa aromatik.
2. Menentukan rendemen hasil sintesis
Dasar Teori
Reaksi substitusi elektrofilik aromatik melibatkan penggantian atom hidrogen
(sebagai proton) dari inti aromatik oleh spesies kekurangan elektron (elektrofil).
Selama reaksi, mungkin pada awalnya, kompleks-π terbentuk sebagai hasil dari
interaksi antara elektrofil yang mendekat dan orbital-π yang terdelokalisasi dan
kemudian sepasang elektron dikeluarkan dari π-sistem oleh elektrofil untuk
diberikan pada suatu intermediatyang dinamakan
ion benzeninium atau
kompleks-σ. Yang terakhir tidak lagi memiliki struktur aromatik karena atom
karbon yang mengandung elektrofil menjadi hibridisasi sp3dan sisa empat
elektron-π pada kompleks terdelokalisasi lima sp2 karbon yang tersisa.
Akhirnya, kompleks-σ kehilangan proton dari karbon yang mengandung
elektrofil dan dua elektron yang mengikat proton ke karbon menjadi bagian dari
sistem-π, mengembalikan delokalisasi lengkapnya.
Ketika benzena monosubstitusi dikenai substitusi elektrofilik tambahan,
kehadiran kelompok yang sudah ada tidak hanya menentukan reaktivitas inti
benzena terhadap serangan elektrofilik lebih lanjut tetapi juga menentukan
posisi kelompok yang masuk dalam cincin benzena, yaitu apakah akan
menempati posisi orto atau meta atau para. Ini dikenal sebagai orientasi.
Beberapa kelompok sebagian besar bersifat pengarah-meta, sementara yang
lain bersifat pengarah-orto dan -para. Eksperimen dengan beberapa contoh
umum dari kelas ini dijelaskan di sini.
29
Alat dan Bahan
Beker gelas 50 ml
Asam asetat glasial
Beker gelas 250 ml
Asetanilida
Corong gelas
Asam sulfat pekat
Gelas ukur 25 ml
Asam nitrat pekat
Gelas ukur 10 ml
Air es
Termometer
Prosedur Percobaan
1. Masukkan 12 ml asam asetat glasial ke dalam beker gelas 250 ml dan
tambahkan kedalamnya asetanilida sebanyak 1 gram, aduk terus.
2. Kemudian tambahkan secara bertahap sambil diaduk asam sulfat pekat
sebanyak 24 ml. Campuran menjadi hangat dan hasilnya adalah larutan
jernih.
3. Dinginkan campuran tersebut hingga 0 – 2 0C dalam wadah berisi es lalu
tambahkan asam nitrat pekat sebanyak 6 ml dan asam sulfat pekat 4 ml
setetes demi setetes sambil terus diaduk.
4. Setelah semua asam telah ditambahkan, keluarkan beker gelas dari wadah
berisi es dan biarkan pada suhu kamar selama 30 – 40 menit. Kemudian
tuangkan campuran reaksi tersebut ke dalam beker gelas yang berisi es
yang sudah dihancurkan dan aduk.
5. o-nitroasetanilida
yang
larut
tetap
dalam
larutan,
sementara
p-
nitroasetanilida yang tidak larut akan mengendap sebagai padatan.
6. Saring produk (p-nitroasetanilida), cuci dengan air dingin kemudian saring
lalu rekristalisasi dengan etanol panas.
30
Download