Uploaded by ekaristy040900

Artikel Ekaristy Rebecca

advertisement
KELIMPAHAN HAMA KUTU DAUN (Aphis gossypii Glover) PADA
PERTANAMAN SAYURAN DI KECAMATAN PAAL MERAH
KOTA JAMBI SEBAGAI MATERI AJAR PADA
MATA KULIAH ENTOMOLOGI
ARTIKEL
OLEH:
EKARISTY REBECCA
RRA1C416004
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
1
KELIMPAHAN HAMA KUTU DAUN (Aphis gossypii Glover) PADA
PERTANAMAN SAYURAN DI KECAMATAN PAAL MERAH
KOTA JAMBI SEBAGAI MATERI AJAR PADA
MATA KULIAH ENTOMOLOGI
1)
Ekaristy Rebecca 1), Asni Johari 2), Desfaur Natalia 3)
Mahasiswa Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi
2)
Dosen Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA Universitas Jambi
Email: [email protected]
Abstrak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi yang
terdapat di Kelurahan Paal Merah, Kelurahan Lingkar Selatan, Kelurahan Eka
Jaya, Kelurahan Talang Bakung, dan Kelurahan Payo Selincah pada bulan
September 2019–Januari 2020. Sampel diidentifikasi dan dilakukan juga
pengambilan data lingkungan. Data lingkungan yang diamati terdiri dari
pengukuran suhu, kelembaban udara dan pengukuran intensitas cahaya. Data
dianalisis secara kuantitatif yang diperoleh dari data kelimpahan hama kutu daun.
Hasil penelitian meneliti kutu daun yang ditemukan dipertanaman sayuran
dikhususkan pada hama kutu daun yang spesiesnya Aphis gossypii. Kelimpahan
kutu daun yang tertinggi terdapat pada lahan pertanaman di stasiun II yaitu
Kelurahan Lingkar Selatan pada tanaman sayuran sawi dengan kelimpahan kutu
daun sebesar 1.66 m-2. Kelimpahan kutu daun yang terendah terdapat pada lahan
pertanaman di stasiun IV yaitu Kelurahan Talang Bakung pada tanaman sayuran
kangkung dengan kelimpahan kutu daun sebesar 0.15 m-2. Dari hasil penelitian
disarankan agar data kelimpahan hama ini dapat dijadikan sebagai informasi
penting bagi petani dan salah satu bahan ajar dalam mata kuliah Entomologi.
Penelitian ini juga disarankan untuk dapat dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang kutu daun karena merupakan hama yang merugikan hasil panen sayuran
seperti yang terdapat di pertanaman sayuran pada Kecamatan Paal Merah Kota
Jambi.
Kata kunci: Kutu daun, Kelimpahan, Tanaman sayuran
Jambi, Agustus 2020
Mengetahui dan menyetujui
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Dra. Hj. Asni Johari, M.Si
NIP. 196811081993032002
Desfaur Natalia, S.Pd., M.Pd
NIDK. 201501052004
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
2
ABUNDANCE OF PEST LEAVES (Aphis gossypii Glover) IN
VEGETABLING IN VILLAGE PAAL MERAH JAMBI CITY
AS TEACHING MATERIALS ONCOLLEGE OF
ENTOMOLOGY
1)
Ekaristy Rebecca 1), Asni Johari 2), Desfaur Natalia 3)
Biology Education Students Majoring in Mathematics and Natural Sciences
Faculty of Jambi University
2)
Biology Education Lecturer, PMIPA Department, Jambi University
Email: [email protected]
Abstract. This research was carried out in the Paal Merah Subdistrict of Jambi
City located in the Paal Merah Kelurahan, Kelurahan Selatan Selatan, Eka Jaya
Kelurahan, Talang Bakung Kelurahan, and Payo Selincah Kelurahan in September
2019 - January 2020. Samples were used and also carried out on environmental
data. Environmental data consisting of measurements of temperature, humidity
and measurement of light intensity. Data were analyzed quantitatively obtained
from the abundance of aphids. The results consider the aphids found in vegetable
crops to be specialized in aphids whose species is Aphis gossypii. The highest
abundance of aphids was found in the land planted at Station II, Kelurahan
Lingkar Selatan on mustard vegetable vegetables with aphids abundance of
1.66m-2. The lowest abundance of aphids was found in the land planted at Station
IV, Talang Bakung Village on kale vegetables with an abundance of aphids of
0.15m-2. From the results of the research it is suggested that this pest abundance
data can be made as important information for farmers and one of the teaching
materials in Entomology courses. This study also suggests further research on
aphids because pests are detrimental to vegetable yields such as those found in
vegetable growing in the Paal Merah District of Jambi City.
Keywords : Aphids, Abundance, Vegetable plants.
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
3
PENDAHULUAN
Kecamatan Paal Merah kota
jambi ini memiliki 5 Kelurahan yang
berpotensi di bidang pertanian. Yaitu
Kelurahan Paal Merah, Kelurahan
Lingkar Selatan, Kelurahan Eka Jaya,
Kelurahan Talang Bakung, dan
Kelurahan Payo Selincah. Daerah
Kecamatan Paal Merah Kota Jambi
banyak penduduk yang berprofesi
sebagai petani, khususnya petani
sayuran. Tanaman sayurannya seperti
selada, sawi, kacang panjang, terung,
tomat, cabe, ketimun, kangkung, bayam
dan lain-lain yang ditanam diluas lahan
Pertanian kurang lebih 2.958 Ha (BPS
Kota Jambi, 2016).
Survei yang telah dilakukan
oleh peneliti, didapatkan juga data
bahwa
sebagian
besar
petani
mengeluhkan tentang kualitas panen
mereka yang terkadang kurang baik.
Bukan hanya dikarenakan oleh kondisi
lingkungan dan cuaca saja, tetapi juga
dikarenakan tanaman yang mereka
tanam terserang oleh hama kutu daun.
Hama
yang
banyak
terdapat
pertanaman sayuran menurut para
petani salah satunya adalah hama kutu
daun.
Serangan dari kutu daun ini
dapat mengakibatkan berkurangnya
kualitas panen dan hasil panen bagi
para petani sayuran. Hama ini sering
terlihat di helai daun, ranting, cabang,
batang dan tangkai buah tanaman
inang, sehingga dapat menyebabkan
daun mengecil dan keriting, lalu
berangsur-angsur menguning dan layu.
Koloni kutu daun yang ada di bagian
pucuk tunas juga dapat menyebabkan
tepinya mengulung atau melengkung,
sehingga juga membuat tanaman
menjadi menguning kemudian layu dan
daun-daun akan berguguran ke tanah.
Dampak dari populasi kutu daun ini
dapat menyebabkan tanaman inang
yang ditinggalinya tersebut mengalami
kerusakan pada bagian-bagian tanaman
seperti pada buah yang mengkerut,
bahkan dapat menyebabkan kematian
pada tanaman itu sendiri.
Kutu daun ini termasuk ke
dalam Family Aphididae, bangsa
Homoptera. Tanaman inangnya antara
lain kapas, buncis, blewah, seledri,
tomat, ketimun, bawang, labu air, jeruk,
alpukat, sawi dan kentang. Kutu daun
ini sering mengeluarkan cairan yang
mengandung madu. Cairan tersebut
biasanya membasahi lembaran daun,
batang atau bagian tanaman yang
lainnya yang kemudian ditumbuhi oleh
cendawan yang berwarna hitam jelaga,
akibatnya aktivitas fotosintesis dapat
terhambat (Subiyakto, 1992:28)
Jumlah kutu daun yang menjadi
hama pada tanaman pertanian sekitar
450 spesies, 100 spesies diantaranya
merupakan hama penting karena
mampu menurunkan nilai ekonomi.
Spesies kutu daun yang dominan
menjadi hama pertanian berasal dari
kelompok Aphididae. Kutu daun
termasuk dalam kelompok hama yang
cukup merugikan pada tanaman
sayuran. Tanaman yang terserang oleh
kutu daun ini menunjukkan gejala
kerdil, daun keriting dan layu sehingga
serangannya menjadi salah satu faktor
yang
menyebabkan
menurunnya
kualitas dan kuantitas produksi sayuran,
khususnya sayuran di Kecamatan Paal
Merah Kota Jambi (Blackman &
Eastop, 2007:29).
Kutu daun juga dapat berperan
sebagai vektor penyakit CMV yang
dapat ditularkan secara mekanis lebih
dari 60 jenis kutu daun melalui biji
beberapa tanaman inang. Penularan
penyakit CMV ini ditentukan oleh
aktivitas serangga vektor (Gonzalves &
Garnsey 1989:592).
Kerugian yang ditimbulkan
oleh kutu daun ini berkisar antara 625%, sedangkan sebagai vektornya
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
4
dapat mencapai lebih dari 80% (Miles
1987:321). Peranan kutu daun sebagai
vektor virus penyakit ini sangat
dikhawatirkan bagi para petani sayuran.
Penelitian dilakukan peneliti
untuk bahan ajar mata kuliah
entomologi mahasiswa Pendidikan
Biologi dan sebagai informasi ilmiah
bagi masyarakat tentang kelimpahan
hama kutu daun pada pertanaman
sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota
Jambi.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
pertanaman sayuran pada Kecamatan
Paal Merah Kota Jambi. Terdapat 5
stasiun pertanaman sayuran yaitu
Kelurahan Paal Merah, Kelurahan
Lingkar Selatan, Kelurahan Talang
Bakung, Kelurahan Eka Jaya dan
Kelurahan Payo Selincah. Sampel kutu
daun yang diperoleh kemudian
diidentifikasi di Laboratorium FKIP
PMIPA Pendidikan Biologi Universitas
Jambi dan Laboratorium Dasar dan
Terpadu Universitas Jambi. Penelitian
ini dilaksanakan mulai tanggal 15
September 2019 s/d 8 Januari 2020.
Desain Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian
deskriptif-eksploratif.
Penelitian ini dilakukan dengan cara
pengambilan sampel dan dokumentasi
lapangan dengan cara menjelajah
keberadaan hama kutu daun secara
langsung dilapangan. Penelitian ini
dilakukan dengan cara pengambilan
sampel kutu daun di 5 stasiun yang ada
pada Kecamatan Paal Merah Kota
Jambi yaitu pada stasiun I adalah
Kelurahan
Paal
Merah
dimana
pertanaman sayuran yang dijumpai
disana seperti sawi dan bayam. Stasiun
II adalah Kelurahan Lingkar Selatan
dimana pertanaman sayuran disana
seperti sawi dan cabai. Stasiun III yaitu
kelurahan Eka Jaya dimana pertanaman
sayuran yang ditemukan disana seperti
kangkung dan selada. Stasiun IV adalah
Kelurahan Talang Bakung dimana
tanaman sayuran yang djumpai disana
adalah kangkung dan sawi. Dan Stasiun
V yaitu Kelurahan Payo Selincah
dimana tanaman sayuran yang dijumpai
disana seperti selada dan sawi.
Penentuan Plot pengambilan
sampel dilakukan dengan teknik
purposive sampling. Berdasarkan pada
hasil survei lokasi menunjukkan bahwa
terdapat
variasi
habitat
pada
pertanaman sayuran di Kecamatan Paal
Merah Kota Jambi. Plot penelitian ini
dimodifikasi dari menurut pendapat
Manopo
et.al
(2012:6)
dengan
menyesuaikan
lahan
pertanaman
sayuran yang ada di kawasan
Kecamatan Paal Merah Kota Jambi.
Pada tiap petakan tanaman sayuran
yang berbeda selanjutnya dijadikan
sebagai plot pengamatan dapat dilihat
pada (Gambar 3.1) Pengambilan
sampel dilakukan dengan metode irisan
diagonal menggunakan line transek
dengan menetapkan 5 sub plot yang
tersebar secara diagonal berukuran 3m
x 3m dengan mengambil 4 sub plot
pada tiap sudut plot dan 1 plot pada
bagian tengah plot. Pengamatan pada
setiap sub plot dilakukan sebagai titik
pengambilan sampel.
Menurut pendapat Sugiyono
(2016:85)
menyatakan
bahwa
purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel sumber data
dengan pertimbangan tertentu. Alasan
peneliti menggunakan teknik Purposive
sampling ini karena tidak semua sampel
memiliki kriteria yang sesuai dengan
fenomena yang diteliti. Oleh karena itu,
penulis memilih teknik Purposive
Sampling
yang
menetapkan
pertimbangan-pertimbangan
atau
kriteria-kriteria tertentu yang harus
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
5
dipenuhi oleh sampel-sampel yang
digunakan dalam penelitian ini.
Menentukan
tempat
pengambilan sampel dari setiap plot
ditentukan satu petak sawah kemudian
dibagi 5 sub plot pengamatan yang
tersebar secara diagonal dengan ukuran
3m x 3m (Monopo, 2012:5).
Penelitian
Monopo
dan
pendapat Sugiyono ini menjadi dasar
peneliti untuk mengambil sampel dan
menggunakan
teknik
purposive
sampling dengan metode irisan
diagonal.
Sub
Plot
Sub
Plot
Keterangan :
= Plot Penelitian
= Sub Plot/
titik pengamatan
3m
Sub
3m
3m
Plot
3m
Sub
Plot
Sub
Plot
Gambar 1. Rancangan plot penelitian
dengan metode irisan diagonal
Populasi dan Sampel
Populasi dan sampel dalam
penelitian ini adalah semua hama kutu
daun yang ada dipertanaman sayuran
pada 5 stasiun Kelurahan seperti
Kelurahan Paal Merah, Kelurahan
Lingkar Selatan, Kelurahan Eka Jaya,
Kelurahan
Talang
Bakung
dan
Kelurahan Payo Selincah. Masingmasing stasiun tersebut akan dibuat
garis transek, kemudian akan dibuat 5
sub plot dengan masing-masing ukuran
3m x 3m. Pada satu plot akan diambil
helaian daun yang rusak dan terdapat
hama kutu daun. Sampel yang didapat
tersebut akan dihitung secara langsung
dilapangan. Pengambilan sampel ini
dilakukan sebanyak 6x pengulangan
pada pertanaman sayuran tersebut.
Teknik Pengambilan Sampel
Sampel yang akan diambil
yaitu hama kutu daun yang masih
muda.
Hal
ini
dikarenakan
pertumbuhan populasi kutu daun
cenderung mengikuti pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Peningkatan
populasi hama ini hanya ada pada
tanaman yang berumur beberapa
minggu saja, hal ini juga disebabkan
karena semakin banyak pucuk daun
muda pada tanaman maka semakin
banyak pula kelimpahan hama kutu
daun yang ada ditanaman tersebut
(Muis et al. 1992:17).
Menurut
pendapat
Trisna
(2014:256), penurunan populasi hama
kutu daun disebabkan salah satunya
adalah umur tanaman yang semakin tua
sehingga menyebabkan populasi hama
kutu daun menjadi berkurang.
Pada sub plot yang sudah
ditentukan,
selanjutnya
dilakukan
pengambilan sampel hama kutu daun.
Kelimpahan hama kutu daun ini
dilakukan pada daun sayuran dari
pucuknya. Pengambilan nimfa atau
imago kutu daun hanya dilakukan
dengan metode dengan cara menangkap
secara langsung (hand picking) yaitu
dengan menggunakan tangan untuk
setiap hama kutu daun yang ditemukan
pada sub plot. Kutu daun
itu
mobilitasnya sangat rendah, sehingga
pengambilan hama ini dapat dilakukan
secara langsung menggunakan tangan.
Menurut pendapat Mulyana
(2010:83), hand picking adalah
pembasmian
hama
menggunakan
tangan dilakukan untuk menanggulangi
jenis hama ulat dan belalang dengan
intensitas serangan skala kecil.
Populasi kutu daun terdapat
pada bagian tumbuhan (daun dan
batang), sehingga dilakukan dengan
cara hand picking yaitu dengan cara
mengambil bagian tumbuhan tersebut
dari
5
titik
stasiun
dengan
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
6
menggunakan tangan secara langsung,
dan masing-masing titik diwakili oleh ±
10 batang tanaman dan masing-masing
batang tersebut diambil dengan 4 helai
daun yang terserang oleh hama lalu
dimasukkan ke dalam kantong plastik
bening atau dengan botol spesimen,
kemudian diberi alkohol 70% agar
membunuh
atau
menghambat
pertumbuhan hama tersebut. Botol
spesimen tersebut diberi kertas label
yang berisi informasi tanaman inang,
lokasi stasiun, dan tanggal pengambilan
sampel. Selanjutnya, dibawa ke
laboratorium
untuk
diidentifikasi
(Watson, 2007:18).
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian
ini
melakukan
observasi secara langsung disetiap
Kelurahan yang ada di pertanaman
sayuran Kecamatan Paal Merah Kota
Jambi.
Selanjutnya,
menentukan
Kelurahan mana saja yang akan
menjadi
stasiun,
lalu
membuat
rancangan plot penelitian, menentukan
plot serta garis transek, penyediaan
alat-bahan,
studi
literature
dan
dokumentasi.
Pengambilan
data
lingkungan seperti thermometer dimana
berfungsi untuk mengukur suhu di
suatu tempat. Lalu higrometer untuk
mengukur tingkat kelembaban pada
suatu tempat, dan luxmeter untuk
mengukur besarnya intensitas cahaya di
suatu tempat. Data lingkungan ini
diambil langsung pada masing-masing
stasiun sebagai data penunjang.
Analisis Data
Sampel
yang
diperoleh
dianalisis secara deskriptif untuk
mengetahui kelimpahan kutu daun.
Variabel yang akan diamati dalam
penelitian ini adalah kelimpahan kutu
daun. Rumus yang digunakan untuk
menghitung kelimpahan atau populasi
kutu daun adalah rumus Meyer (1996)
sebagai berikut :
I = IS
A
Keterangan :
I = Kelimpahan individu (m¯²)
IS = Rata-rata kelimpahan individu
per sampel
A = Luas area pertanahan (m²)
Kriteria menurut (Magurran, 2004 :
30):
I ≤ 0.4
= kategori rendah
0.5 ≤ I ≥ 0.6 = katagori sedang
0,7 ≤ I ≥ 1 = kategori tinggi
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian kelimpahan
hama kutu daun pada pertanaman
sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota
Jambi adalah:
1. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan ini di mulai
dengan melakukan survei lokasi.
Tujuannya untuk menentukan lokasi
penelitian mana yang akan diamati
kelimpahan hama kutu daunnya dan
lokasi penelitian tersebut berada di
pertanaman sayuran pada Kecamatan
Paal Merah Kota Jambi.
2. Persiapan Alat dan Bahan
Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah meteran,
kayu, tali raffia, luxmeter, thermometer,
higrometer, botol koleksi, alkohol 70%,
kantong plastik bening, alat tulis, kertas
label, jarum pentul, kaca objek, kaca
preparat,
mikroskop
compound,
mikroskop
fluorescence,
laptop,
handphone dan buku identifikasi.
Alat
pengukur
lingkungan
seperti
luxmeter,
thermometer,
higrometer. Luxmeter adalah alat untuk
mengukur tingkat penerangan dengan
satuan lux (Wiwin, 2015:322). Menurut
pendapat
Kanginan
(2007:52-53),
thermometer
adalah
alat
yang
digunakan untuk mengukur suhu,
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
7
ataupun perubahan suhu, sedangkan
menurut pendapat (WMO, 1988),
hygrometer adalah sebuah alat yang
digunakan
untuk
menentukan
kelembaban atmosfer yang mana dapat
menunjukkan kelembaban yang relatif.
3. Pengamatan Kelimpahan Hama
Kutu Daun
Metode yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah metode purposive
sampling melalui survei dengan
pengamatan secara langsung pada
pertanaman sayuran di Kecamatan Paal
Merah. Pengamatan dilakukan dari
pukul 08:00 AM-11:00 AM yaitu pada
sayuran seperti sawi, bayam, kangkung,
selada, dan cabai.
4. Identifikasi Hama Kutu Daun
Identifikasi dilakukan dengan
pengamatan bagian-bagian morfologi
seperti
antena,
oseli,
thoraks
(pronotum, motanotum, mesonotum),
warna sayap, abdomen, dan bagianbagian yang penting lainnya dengan
menggunakan Mikroskop Compound
dengan perbesaran 1600x. Identifikasi
juga dilakukan dengan menggunakan
kata kunci identifikasi Martin (1987,
2000) identifikasi hama kutu daun
dilakukan di Laboratorium CRC
Universitas
Jambi
menggunakan
mikroskop
fluorescence
dengan
perbesaran 10x, 20x dan 40x.
5. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan
menggunakan kamera ponsel Iphone 64
MP dilaboratorium FKIP PMIPA
Pendidikan Biologi dan Laboratorium
CRC Universitas Jambi. Pengambilan
foto
preparat
mengkombinasikan
kamera ponsel Iphone 64 MP dengan
Mikroskop Compound. Pengambilan
foto dengan mengarahkan kamera
ponsel di tengah-tengah atas lensa
okuler. Letak lensa kamera dengan
lensa okuler diatur sedemikian rupa
untuk mendapatkan hasil detail foto
dari preparat yang menjadi fokus foto.
Dokumentasi ini digunakan untuk
memperjelas morfologi dari kutu daun.
HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Kecamatan Paal Merah Kota
Jambi terletak di sisi selatan Kota
Jambi, dengan ketinggian rata-rata 12
m dari permukaan air laut. Batas-batas
Kecamatan Paal Merah tersebut sebagai
berikut: sebelah utara berbatasan
dengan Kecamatan Jambi Timur,
sebelah selatan berbatasan dengan
Kecamatan
Jambi
Luar
Kota,
Kabupaten Muaro Jambi sebelah timur
berbatasan dengan Kecamatan Jambi
Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi
sebelah barat berbatas dengan Paal
Merah dan Kota Baru. Keadaan
wilayah Kecamatan Paal merah datar
dengan luas 280,05 km2 (BPS Kota
Jambi, 2019 : 3).
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan peneliti di Kecamatan
Paal Merah Kota Jambi, ditentukan 5
stasiun yang ada pertanaman sayuran
yaitu Kelurahan Paal Merah sebagai
stasiun I, Kelurahan Lingkar Selatan
sebagai stasiun II, Kelurahan Eka Jaya
sebagai stasiun III, Kelurahan Talang
Bakung sebagai stasiun IV dan
Kelurahan Payo Selincah sebagai
stasiun V. Oleh karena itu, peneliti
menjadikan tempat-tempat tersebut
sebagai 5 stasiun penelitian. Lokasi
penelitian merupakan kawasan yang
dimanfaatkan warga sebagai tempat
menanam
jenis
sayuran-sayuran,
dikarenakan tempat tersebut masih
memiliki kondisi lingkungan yang
cukup baik seperti suhu, cahaya,
kelembaban udara dan Ph tanah.
Kelurahan Paal Merah adalah
salah
satu Kelurahan di Kecamatan Paal
Merah. Kelurahan Paal Merah ini
memiliki luas 51 km2 atau 18.21 % dari
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
8
luas Kecamatan (BPS Kota Jambi,
2019:3). Adapun kegiatan kunjungan
yang dilakukan peneliti ke lokasi
pertanaman sayuran di Kelurahan Paal
Merah yaitu :
A. Sayuran sawi
Subjek pemilik lahan pertanian adalah
Bapak Januri dengan luas tanah sebesar
20 tumbuk. Jenis sayuran yang
ditanami oleh Bapak Januri adalah
sayuran sawi
B. Sayuran bayam
Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak
Sutris dengan luas tanah sebesar 20
tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami
oleh Bapak Sutris yaitu sayuran bayam.
Kelurahan
Lingkar
Selatan
adalah
Kelurahan di Kecamatan Paal Merah.
Kelurahan Lingkar Selatan dengan luas
17,2 km2 atau 6.14% dari luas
Kecamatan (BPS Kota Jambi, 2019:3).
Kegiatan kunjungan ini dilakukan
peneliti ke lokasi pertanaman sayuran
di Kelurahan Lingkar Selatan yaitu :
A. Sayuran sawi
Subjek pemilik lahan pertanian adalah
Bapak Edi dengan luas tanah sebesar 20
tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami
oleh Bapak Edi adalah sayuran sawi.
B. Sayuran cabai
Subjek pemilik lahan tersebut adalah
Bapak Bento dengan luas tanah sebesar
15 tumbuk. Jenis sayuran yang
ditanami oleh Bapak Bento adalah
cabai.
Kelurahan Eka Jaya adalah
Kelurahan di Kecamatan Paal
Merah
dengan luas wilayah Kelurahan Eka
Jaya adalah 80.73 km2 atau 28.83 %
dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi,
2019:3). Adapun kegiatan kunjungan
yang dilakukan peneliti ke lokasi
pertanaman sayuran di Kelurahan Eka
Jaya Kota Jambi yaitu :
A. Sayuran kangkung
Subjek pemilik lahan pertanaman
sayuran ini adalah Bapak Ismanto
dengan luas tanah sebesar 10 tumbuk
dan jenis sayuran yang ditanami oleh
Bapak
Ismanto
adalah
sayuran
kangkung.
B. Sayuran selada
Subjek pemilik lahan pertanaman
sayuran adalah Bapak Budi dengan luas
tanah sebesar 15 tumbuk. Jenis sayuran
yang ditanami Bapak Budi adalah
sayuran selada.
Kelurahan
Talang
Bakung adalah
salah
satu Kelurahan di Kecamatan Paal
Merah. Kelurahan Talang Bakung ini
memiliki luas 86.4 km2 atau 30.85%
dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi,
2019:3). Adapun kegiatan kunjungan
yang dilakukan peneliti ke lokasi
pertanaman sayuran di Kelurahan
Talang Bakung yaitu :
A. Sayuran kangkung
Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak
Endah dengan luas tanah sebesar 20
tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami
oleh Bapak Endah adalah sayuran
kangkung.
B. Sayuran sawi
Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak
Bento dengan luas tanah sebesar 15
tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami
Bapak Bento adalah sayuran sawi.
Kelurahan
Payo
selincah
adalah
salah
satu Kelurahan di Kecamatan Paal
Merah. Kelurahan Payo Selincah ini
memiliki luas 44.72 km2 atau 15.97%
dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi,
2019:3). Adapun juga kegiatan
kunjungan yang dilakukan peneliti ke
lokasi
pertanaman
sayuran
di
Kelurahan Payo Selincah yaitu :
A. Sayuran selada
Subjek pemilik lahan pertanian adalah
Bapak Hari dengan luas tanah sebesar
15 tumbuk. Jenis sayuran yang
ditanami oleh Bapak Hari adalah
sayuran selada.
B. Sayuran sawi
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
9
Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak
Sumari dengan luas tanah sebesar 15
tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami
oleh Bapak Sumari adalah sayuran
sawi.
Morfologi dan Identifikasi Kutu
Daun
Spesies kutu daun (Aphis
gosyypii)
yang
diperoleh
dari
pertanaman sayuran di Kecamatan Paal
Merah Kota Jambi sebagai berikut:
No
Gambar
Deskripsi
1.
b
a
c
d
e
f
g
2.
Morfologi ima
go kutu daun
dengan meng
gunakan mikr
oskopcompou
ndperbesaran
1600xdengan
skala
1:0,04µ.
Keterangan:
a. Kepala
b. Antenna
c. Mata
berwarna
hitam
d. Tubuh
berwarna
hijau muda
e. Abdomen
f. Kaki
berjumlah
empat
pasang
g. Cauda dan
sifunkuli
Morfologi
antenna kutu
daun dengan
menggunakan
mikroskop flu
orescence
perbesaran
10xdengan
skala 1:6µ.
No
Gambar
Deskripsi
3.
Morfologi
cauda
dan
sifunkuli kutu
daun dengan
menggunakan
mikroskop
fluorescence
perbesaran
40xdengan
skala 1:1,5µ.
4.
Morfologi
kaki kutu daun
dengan
menggunakan
mikroskop
fluorescence
perbesaran
20x
dengan
skala 1:3µ.
5.
Morfologi
abdomen kutu
daun
dengan mengg
unakan mikros
kop
fluorescence
perbesaran
20x
dengan
skala 1:3µ.
Berdasarkan
Gambar
(2)
tersebut, morfologi dan identifikasi
kutu daun tersebut menggunakan 2
jenis
mikroskop
yang berbeda.
Mengamati morfologi kutu daun (Aphis
gosyypii) menggunakan Microscope
compound yaitu dengan perbesarannya
1600x, dapat dilihat pada Gambar 2 (g)
sedangkan untuk mengidentifikasi kutu
daun,
peneliti
menggunakan
microscope
fluorescence
dengan
perbesaran 10x dimana terdapat bagian
thoraks pada kutu daun yang dapat
dilihat pada Gambar 2 (a) dan bagian
antena dari kutu daun yang dapat
dilihat pada Gambar 2 (b). Kemudian
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
10
dengan
perbesaran
20x,
peneliti
menemukan bagian struktur tubuh kutu
daun yang lain seperti abdomen yang dapat
dilihat pada Gambar 2 (c), bagian kaki
kanan dari kutu daun (leg of right) yang
dapat dilihat pada Gambar 2 (d), dan kaki
kiri dari kutu daun (leg of left) yang dapat
dilihat pada Gambar 2 (e). Kemudian
dengan perbesaran 40x dimana peneliti
menemukan bagian struktur tubuh kutu
daun berupa cauda dan sifunkuli yang
dapat dilihat pada Gambar 2 (f).
Berdasarkan Gambar 2 tersebut,
morfologi kutu daun ini berukuran kecil,
ukuran tubuhnya antara 1-6 mm. Tubuhnya
lunak berwarna hijau dan berbentuk seperti
buah pear. Siklus hidupnya 7-10 Hari. Kutu
daun ini memiliki ciri-ciri lain dimana kutu
ini bewarna hijau, tidak bersayap, memiliki
2 pasang kaki dan 2 pasang tangan yang
ramping, memiliki antena yang panjangnya
berukuran kurang lebih 3-7 ruas seperti
bulu yang tegak, bagian abdomen kutu ini
bertekstur lembut dan terdiri dari head,
Cornicle, sifunkuli, kauda.
Lokasi Survei dan Jenis Tanaman
Ditemukan di Setiap Stasiun
Berdasarkan hasil pengambilan
sampel kutu daun yaitu dengan Hand
Packing, telah diperoleh jumlah total hama
kutu daun yang didapatkan di pertanaman
sayuran pada setiap stasiun penelitian. Hal
ini dirincikan pada Tabel 4.11 sebagai
berikut :
Tabel 1. Jenis dan Jumlah Kutu Daun yang
Ditemukan di Stasiun I-V
Famili/
spesies
-
CB =
SD =
KG =
IN =
PN =
cabai
selada
kangkung
penyemprotan insektisida
panen
Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat
bahwa kutu daun yang ditemukan pada waktu
penelitian hanya satu spesies dari family
Aphididae. Kutu daun dengan jumlah yang
tertinggi terdapat pada stasiun II Kelurahan
Lingkar Selatan yaitu pada tanaman sawi
sebanyak 249 kutu daun dan tanaman cabai
sebanyak 142 kutu daun dengan total kutu daun
dari dua jenis tanaman adalah sebanyak 391.
Kelimpahan Kutu Daun Pada Setiap Stasiun
Berdasarkan
hasil
penelitian,
kelimpahan kutu daun sebagai berikut :
Tabel 2. Data Kelimpahan Kutu Daun di
Stasiun I-V
Data
Stasiun
I
SW
BY
Stasiun
II
SW
Stasiun
III
Stasiun
IV
CB KG SD KG
Stasiun
V
SW SD SW
Rata-rata
213 62 249 142 24 118 31 227 99 247
Kelimpahan
Luas Lahan
200 200 150 150 100 150 200 150 150 150
(m2)
I = IS/A (m-2) 1.07 0.31 1.66 0.95 0.24 0.79 0.15 1.51 0.66 1.65
Keterangan :
SW = sawi
BY = bayam
CB = cabai
SD = selada
KG = kangkung
I = Kelimpahan individu (m¯²)
IS = Rata-rata kelimpahan
A = Luas area bertanah (m²)
Stasiun I = Kelurahan Paal Merah
Stasiun II = Kelurahan Lingkar Selatan
Stasiun III = Kelurahan Eka Jaya
Stasiun IV = Kelurahan Talang Bakung
Stasiun
V = Kelurahan Payo Selincah
Jum
Stasiun
Peng- I
II
III
IV
V
ulang
kutu
an ke- SW BY SW CB KG SD KG SW SD SW daun
Berdasarkan Tabel 2, dapat
dilihat bahwa hasil analisis data
1
0
7 27 23 0
0 4 28 0 25 114
dari kutu daun pada
2
21 13 32 35 6
14 9 34 11 36 kelimpahan
211
36 18 38 49 10 22 11 42 18 41 285
Aphididae/ 3
pertanaman
sayuran
di Kecamatan Paal
4
44 24 45
IN 8
26 7 47 27 47 275
Aphis
5
53 PN 51 14 IN 31 PN 36 23 43 Merah
251
Kota Jambi ini kelimpahan kutu
gossypii
6
59 56 21 25 - 40 20 55 276
daun
yang
tertinggi adalah pada stasiun
Tot
213 62
249 142 24 118 31 227 99 247 1412
II (pertanaman sayuran di Kelurahan
Keterangan :
- Stasiun I. Kelurahan Paal Merah, Stasiun II. Lingkar Selatan) dimana kelimpahan
Kelurahan Lingkar Selatan, Stasiun III. kutu daun yang berada pada sawi
Kelurahan Eka Jaya, Stasiun IV. Kelurahan tersebut sebesar 1.66 m-2.
Talang Bakung, Stasiun V Kelurahan Payo
Selincah.
- SW = sawi
- BY = bayam
Parameter Lingkungan
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
11
Parameter lingkungan yang
diukur diantaranya adalah suhu,
kelembaban, intensitas cahaya dan
kelembaban tanah. Hasil untuk
parameter lingkungan pada setiap
stasiun sebagai berikut :
Tabel 3. Parameter lingkungan
Kelembaban merupakan faktor yang
mempengaruhi perkembangbiakan kutu
daun.
Semakin
tinggi
suatu
kelembaban, maka perkembangbiakan
hama kutu tersebut juga semakin
banyak. Peneliti juga mengukur
intensitas
cahaya
menggunakan
Stasiun
luxmeter
dimana intensitas cahaya
No. Parameter
I
II
III
IV
V
SW BY SW CB KG SD KG SW SD
SW
terendah
yaitu berkisar 3.071 lux
1 Suhu ( C) 28,2 33.1 27.5 28.7 32,3 32.5 34.3 30.0 31.4 29.7
terdapat pada lahan pertanaman sayuran
2 Kelemba72.0 51.0 72.0 64.9 31.0 42.0 30.0 31.0 38.3 32.0
ban (%)
kangkung di stasiun IV (Kelurahan
3 Intensitas
Cahaya
5.392 3.052 7.842 6.521 4.781 3.082 3.071 4.213 3.514
4.328 Bakung), dan yang tertinggi
Talang
(Lux)
terdapat pada lahan pertanaman sayuran
(Data observasi dilahan pertanaman
sawi di stasiun II (Kelurahan Lingkar
sayuran pada kunjungan minggu ke-III)
Selatan) yaitu berkisar 7.842 lux.
Keterangan:
Intensitas cahaya merupakan faktor
SW = sawi
yang mempengaruhi perkembangbiakan
BY = bayam
kutu daun. Semakin tinggi intensitas
CB = cabai
SD = selada
cahaya
tersebut,
maka
KG = kangkung
perkembangbiakan kutu daun juga
Stasiun I = Kelurahan Paal Merah
semakin besar.
Stasiun II = Kelurahan Lingkar Selatan
0
Stasiun III = Kelurahan Eka Jaya
Stasiun IV = Kelurahan Talang Bakung
Stasiun V = Kelurahan Payo Selincah
Berdasarkan Tabel 3, peneliti
memperoleh data parameter lingkungan
dimana peneliti mengukur suhu di
lahan pertanian tersebut menggunakan
thermometer dan memperoleh suhu
tertinggi berkisar 34,30C yaitu pada
lahan pertanaman sayuran kangkung di
stasiun IV (Kelurahan Talang Bakung),
sedangkan suhu yang terendahnya
berkisar 27.50C pada lahan pertanaman
sayuran sawi di stasiun II (Kelurahan
Lingkar Selatan). Semakin rendahnya
suhu dilahan pertanaman sayuran, maka
semakin
pesat
perkembangbiakan
populasi suatu kutu daun. Peneliti juga
mengukur kelembaban menggunakan
hygrometer
dimana
kelembaban
tertinggi terdapat pada stasiun II
(Kelurahan Lingkar Selatan) pada
sayuran sawi yaitu berkisar 72%. Dan
yang terendah ada pada lahan
pertanaman sawi di stasiun IV
(Kelurahan Talang Bakung) yaitu
berkisar 30% pada sayuran kangkung.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian
yang diperoleh, kelimpahan hama kutu
daun yang paling banyak yaitu pada
stasiun II (pertanaman sayuran di
Kelurahan Lingkar Selatan) dimana
kelimpahan kutu daun yang berada
pada sayuran sawi tersebut sebesar 1.66
m-2 dengan hama sebanyak 249 kutu
daun. Hal ini terjadi dikarenakan pada
saat penelitian, peneliti juga mengambil
data
lingkungan
berupa
suhu,
kelembaban, dan intensitas cahaya
salah satunya distasiun II. Pada stasiun
II diperoleh suhu sebesar 27,50C. Suhu
ini termasuk suhu yang optimal untuk
hama yang berada dipertanaman
sayuran. Hal ini diperkuat dengan
menurut pendapat pracaya (2001:17)
mengatakan bahwa, temperature yang
optimal untuk suatu hama yaitu antara
25-300C, sehingga semakin rendah
suhu tersebut, maka populasi dari hama
kutu daun juga semakin meningkat.
Sedangkan untuk data kelembaban
yang diperoleh peneliti di stasiun II ini
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
12
sebesar 72%. Kelembaban yang
diperoleh ini termasuk kelembaban
yang optimal untuk suatu hama. Hal ini
sesuai dengan menurut pendapat
Pracaya (2001:19) mengatakan bahwa,
kelembaban udara yang cocok untuk
suatu hama dilingkungan sekitar 60%80%, sehingga semakin tinggi tingkat
kelembabannya, maka semakin banyak
kelimpahan dari suatu hama kutu daun
tersebut. Peneliti juga memperoleh data
intensitas cahaya dimana pada stasiun
II ini intesitas cahaya sebesar 7.842 lux.
Intensitas
cahaya
ini
termasuk
intensitas yang optimal untuk suatu
hama. Hal ini diperkuat dengan
menurut pendapat Pertamawati (2010)
mengatakan bahwa, rata-rata intensitas
cahaya yang optimal berkisar 748-886
(x10) lux. Sehingga semakin tinggi
suatu
intensitas
cahaya,
maka
perkembangbiakan kutu daun semakin
besar. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa kelimpahan hama kutu daun
yang paling banyak ditemukan yaitu
berada pada stasiun II (pertanaman
sayuran di Kelurahan Lingkar Selatan).
Sedangkan kelimpahan hama
kutu yang sedikit ditemukan oleh
peneliti yaitu berada pada stasiun IV
(pertanaman sayuran di Kelurahan
Talang Bakung) dimana kelimpahan
kutu daunnya sebesar 0,15 m-2 dengan
hama sebanyak 31 kutu daun. Hal ini
terjadi
dikarenakan
pada
saat
penelitian, peneliti juga mengambil
data
lingkungan
berupa
suhu,
kelembaban, dan intensitas cahaya
salah satunya distasiun IV. Pada stasiun
IV diperoleh suhu sebesar 34,30C. Suhu
ini termasuk suhu yang tinggi dan tidak
cocok untuk suatu hama. Karena
semakin tinggi suhu lingkungan, maka
populasi dari hama kutu daun semakin
menurun. Sedangkan untuk data
kelembaban yang diperoleh peneliti di
stasiun
IV
ini
sebesar
30%.
Kelembaban yang diperoleh ini
termasuk kelembaban rendah sehingga
semakin rendah tingkat kelembaban
lingkungan, maka semakin berkurang
tingkat kelimpahan hama kutu daun
tersebut. Peneliti juga memperoleh data
intensitas cahaya dimana pada stasiun
IV intensitas cahayanya sebesar 3.071
lux. Intensitas cahaya ini termasuk
intensitas kurang optimal untuk suatu
hama. Sehingga semakin rendah suatu
intensitas
cahaya,
maka
perkembangbiakan kutu daun semakin
berkurang. Maka dapat disimpulkan
bahwa kelimpahan hama kutu daun
yang paling sedikit ditemukan yaitu
berada pada stasiun IV (pertanaman
sayuran di Kelurahan Talang Bakung).
Jenis Tanaman Sayuran Paling
Banyak Ditemukan Kutu Daun
Pada
waktu
melakukan
penelitian, peneliti menemukan hama
kutu daun yang tertinggi yaitu pada
stasiun II (Pertanaman Sayuran di
Kelurahan Lingkar Selatan) dan stasiun
V (Pertanaman Sayuran di Kelurahan
Payo Selincah) dengan tanaman
sayuran sawi yaitu kelimpahan kutu
daun pada stasiun II sebesar 1.66 m-2
termasuk kategori tinggi dan jumlah
kutu daun yang ditemukan sebanyak
249 kutu daun. Kemudian untuk stasiun
V dengan tanaman sayuran sawi juga
ditemukan kutu daun sebanyak 247
kutu daun dan kelimpahan kutu daun
sebesar 1.6467 m-2 juga termasuk
kategori tinggi. Hal ini sesuai pendapat
Magurran (2004 : 30) yang mengatakan
bahwa kelimpahan yang tinggi bila
kelimpahan antara 0.7 m-2 sampai
dengan 1 m-2. :
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
13
1,8
1,66
1,6
Kelimpahan Kutu Daun
1,6467
1,4
1,2
1
1,1513
1,065
0,9467
0,8
0,7867
0,66
0,6
0,4
0,31
0,24
0,2
0
Stasiun I
Stasiun II
0,155
Stasiun III
Stasiun IV
Stasiun V
Jenis Pertanaman Sayur di Stasiun I-V
Sawi
Bayam
Cabai
Kangkung
Selada
Gambar 3. Grafik Kelimpahan Kutu
Daun (m-2)
Keterangan :
Stasiun I =
Stasiun II =
Stasiun III =
Stasiun IV =
Stasiun V =
Kelurahan Paal Merah
Kelurahan Lingkar Selatan
Kelurahan Eka Jaya
Kelurahan Talang Bakung
Kelurahan Payo Selincah
Hasil penelitian kelimpahan
kutu daun di Kecamatan Paal Merah
Kota Jambi ini memiliki kelimpahan
dengan jumlah 8.9833 m-2 total hama
kutu daunnya atau sebanyak 1.412 kutu
daun.
Berdasarkan Gambar 4.7 pada
grafik kelimpahan kutu daun diketahui
bahwa
tanaman
sayuran
sawi
merupakan tanaman yang sangat
disukai oleh kutu daun. Hal ini terlihat
pada stasiun I (Kelurahan Paal Merah)
tanaman sawi dimana ditemukan
kelimpahan kutu daun sebesar 1.065 m2
dengan kategori tinggi dan tanaman
bayam sebesar 0.31 m-2 dengan kategori
rendah. Pada stasiun II (Kelurahan
Lingkar Selatan) tanaman sawi
ditemukan kelimpahan kutu daun
sebesar 1.66 m-2 dengan kategori tinggi
dan tanaman cabai sebesar 0.94675 m-2
dengan kategori tinggi, adapun juga
distasiun III (Kelurahan Eka Jaya)
ditemukan kelimpahan kutu daun
sebesar 1.065 m-2 dengan kategori
tinggi pada tanaman kangkung dan
tanaman selada sebesar 0.7867 m-2
dengan kategori tinggi, kemudian di
stasiun IV (Kelurahan Talang Bakung)
tanaman
kangkung
ditemukan
kelimpahan kutu daun sebesar 0.155m-2
dengan kategori rendah dan tanaman
sawi ditemukan 1.5133 m-2 dengan
kategori tinggi, di stasiun V (Kelurahan
Payo Selincah) kelimpahan kutu daun
tanaman selada sebesar 0.66 m-2 dengan
katergori sedang dan tanaman sawi
ditemukan kelimpahan kutu daun
sebesar 1.6467 m-2 dengan kategori
tinggi.
Pada penelitian ini, sayuran
sawi merupakan jenis sayuran yang
sangat disukai oleh kutu daun. Hal ini
dikarenakan xylem dan floem di
tanaman sawi ini sangat besar untuk
mengangkut hasil fotosintesis yang
mengandung glukosa dan air, hal
tersebut yang dapat menyebabkan kutu
daun menghisap cairan floem pada
sayuran sawi, dan membuat kutu daun
menyukai sayuran sawi. Selain itu, jika
jaringan floem besar seperti di tulang
daun atau ranting, maka ukuran tubuh
kutu daun juga akan ikut membesar,
sebaliknya jika jaringan floem yang
dihisap kecil seperti di lamina daun,
maka ukuran tubuh kutu daun menjadi
kecil.
Hal tersebut diperkuat dengan
menurut pendapat Irsan (2010:5) yang
mengatakan
bahwa,
kutu
daun
menyukai sayuran sawi, dikarenakan
sayuran ini lebih banyak mengandung
cairan floem dari pada tanaman inang
caisin yang lainnya. Hal ini disebabkan
oleh ukuran tubuh suatu spesies kutu
daun dapat berbeda-beda karena
kualitas cairan floem yang dihisap oleh
kutu daun tersebut.
Selain sayuran sawi, peneliti
juga menemukan kelimpahan kutu daun
yang cukup tinggi pada jenis sayuran
salah satunya pada cabai. Kutu daun
yang ditemukan pada cabai sebesar 142
kutu daun. Kutu daun menyukai cabai
dikarenakan cabai mengandung air dan
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
14
hasil fotosintesis yang menghasilkan
glukosa, serta tumbuhan ini memiliki
bunga
sebelum
berbuah
yang
menghasilkan aroma harum bagi kutu
daun, sehingga membuat hama kutu
daun menyukai cabai. Selain itu, pada
saat melakukan penelitian, lokasi
pertanaman cabai tersebut sedang
musim kemarau sehingga menyebabkan
populasi hama kutu daun ini meningkat
lebih banyak.
Hal ini diperkuat dengan
menurut pendapat Kori dkk. (2018:118)
yang mengatakan bahwa, salah satu
hama yang sering menimbulkan
kerusakan pada tanaman cabai adalah
kutu daun. Kelimpahan serangga kutu
daun dipengaruhi oleh kemampuan
bereproduksi dan didukung dengan
kondisi lingkungan yang sesuai dan
kebutuhan makanan yang cukup
menyebabkan tingginya kelimpahan
hama pada areal pertanaman cabai
sehingga cabai merupakan jenis
sayuran yang sangat disukai oleh hama
kutu daun.
Selain sawi dan cabai, peneliti
pun juga meneliti jenis sayuran yang
sering dijumpai oleh hama kutu daun
yaitu seperti pada sayuran selada.
Selada merupakan salah satu jenis
sayuran yang disukai oleh hama kutu
daun. seperti pada stasiun III
(Kelurahan Eka Jaya) dimana sayuran
selada ini terdapat kutu daun sebanyak
118 kutu daun dengan kelimpahannya
0.7867 m-2 dengan kategori tinggi. Pada
stasiun V (Kelurahan Payo Selincah)
sayuran selada juga ditemukan kutu
daun sebanyak 99 kutu daun dengan
kelimpahan 0.66 m-2 dengan kategori
sedang. Selada merupakan tanaman
yang banyak mengandung cairan
dimana floem dan xylem mengangkut
hasil fotosintensis yang menghasilkan
rasa manis pada daun sehingga
membuat kutu daun menyukai sayuran
ini. Hal ini sesuai pendapat Magurran
(2004 : 30) yang mengatakan bahwa
kelimpahan kategori sedang bila
kelimpahan antara 0.5 m-2 sampai
dengan 0.6 m-2
Hal ini sesuai dengan menurut
pendapat
Kosmas
(2012:34)
mengatakan bahwa, hama yang paling
mengganggu tanaman selada salah
satunya dikarenakan adanya hama kutu
daun. Warna daun hijau pada selada ini
dipengaruhi oleh zat klorofil, sehingga
membuat selada terlihat cerah dan
membuat kutu daun menyukai sayuran
selada.
Peneliti menyimpulkan bahwa
kutu daun menyukai tanaman sawi,
cabai dan selada karena tanaman
tersebut mengandung air dan hasil
fotosintesis yang menghasilkan air dan
rasa manis, dan tidak menyukai mangan
(Mn)
karena
kutu
daun
berkembangbiak populasinya dengan
cara menghisap cairan tanaman yang
membuat nutrisi pada kutu daun untuk
tumbuh dan berkembang.
Jenis Tanaman Sayuran Sedikit
Ditemukan Kutu Daun
Peneliti
menemukan
kelimpahan kutu daun yang sedikit
pada sayuran kangkung distasiun III
(Kelurahan
Eka
Jaya)
dengan
-2
kelimpahannya sebesar 0.24 m dengan
kategori rendah, dan pada stasiun IV
(Kelurahan Talang Bakung) dengan
tanaman kangkung juga, ditemukan
kelimpahan kutu daun yang sedikit
sebesar 0.155m-2 dengan kategori
rendah.
Sayuran kangkung merupakan
jenis sayuran yang sedikit terdapat
hama kutu daun dikarenakan ketika
peneliti melakukan kegiatan survei ke
pertanaman sayuran di stasiun III
(Kelurahan Eka Jaya) ternyata petani
tersebut telah melakukan penyemprotan
insektisida
sebelumnya
sehingga
kelimpahan hama kutu daun berkurang
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
15
pada sayuran kangkung tersebut.
Tujuan
petani
melakukan
penyemprotan tersebut dikarenakan
hama yang menyerang ditanaman
sayurannya telah banyak, sehingga
petani memutuskan untuk mengambil
tindakan yaitu dengan melakukan
penyemprotan insektisida pada tanaman
sayurannya.
Selain
itu,
ketika
melakukan penelitian, ternyata pada
pertanaman sayuran distasiun IV
(Kelurahan Talang Bakung) sayuran
kangkung disana telah dipanen oleh
petaninya pada minggu ke-5. Sehingga
total hama kutu daun yang ditemukan
sedikit/kurang efesien.
Kondisi tersebut diperkuat
menurut pendapat Mardiningsih, dkk
(2010:181)
mengatakan
bahwa,
perlakuan insektisida nabati mimba
berbahan aktif azadiractin dan rerak
berbahan aktif saponin berpengaruh
terhadap penurunan populasi Aphis
gossypii atau kutu daun.
Selain itu, morfologi sayuran
kangkung ini berongga dan berbuku,
sehingga membuat kutu daun sulit
mendapatkan nutrisi makanan dari
tanaman ini.
Hal tersebut sesuai
dengan menurut pendapat Anjasmara
(2018:135) mengatakan bahwa, kutu
daun menyerang sayuran kangkung
tidak begitu berat dikarenakan faktor
morfologi tanamanan kangkung yang
memiliki batang berongga dan daunnya
yang kecil, sehingga kutu daun sulit
mendapatkan nutrisi makanan dari
tanaman.
Tetapi disisi lain, kutu daun
juga menyukai kangkung dikarenakan
kutu daun adalah hama yang sangat
senang menghisap cairan tanaman
kangkung. Kutu daun ini bersembunyi
di bawah permukaan daun/dibalik
lengkungan daun tanaman kangkung
lalu sambil menghisap cairan tanaman
sehingga kutu daun ini dapat
menghambat pertumbuhan tanaman
kangkung (Anjasmara, 2018:135).
Selain
sayuran
kangkung,
peneliti juga menjumpai jenis sayuran
lain yang sedikit terdapat hama kutu
daun seperti pada sayuran bayam. Pada
stasiun I (Kelurahan Paal Merah)
dengan tanaman bayam ditemukan kutu
daun sebanyak 62 kutu daun dengan
kelimpahan kutu daun 0.31 m-2 dengan
kategori rendah. Hal ini dikarenakan
pada saat peneliti mensurvei ke lahan
pertanaman sayuran tersebut pada
minggu ke-6 dimana sayuran bayam
telah dipanen oleh petaninya sehingga
total hama kutu daun yang ditemukan
kurang efesien yang menyimpulkan
bahwa sayuran tersebut terserang hama
kutu daun sedikit pada sayuran bayam.
Hal ini sesuai pendapat Magurran
(2004 : 30) yang mengatakan bahwa
kelimpahan
yang
rendah
bila
kelimpahan ≥ 0.4 m-2
Pendapat Rukmana (1994:1630) memperkuat pernyataan tentang
bayam yang menyatakan bahwa,
sayuran bayam kurang disukai oleh
hama kutu daun. Hal ini dikarenakan
pada suhu tinggi, sayuran bayam akan
kekurangan mangan (Mn) yang akan
membuat daun bayam bintik-bintik
kuning pada daun dan tepi daun
menjadi keriting, sedangkan kutu daun
menyukai suhu rendah tetapi bayam
menghasilkan mangan yang tinggi
sehingga membuat kurang disukai oleh
hama kutu daun dan mengakibatkan
populasi kutu daun sedikit ditemui pada
sayuran bayam.
Peneliti menyimpulkan bahwa
tanaman
sayuran
yang
sedikit
ditemukan kutu daun adalah kangkung
dan bayam, dikarenakan struktur
morfologi tanaman kangkung yang
berongga dan berbuku serta tindakan
petani yang melakukan semprot
insektisida pada tanaman kangkung.
Pada tanaman bayam sedikit ditemukan
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
16
kutu daun disebabkan minggu ke-6
survei peneliti ke lahan pertanaman
sayuran, petani telah memanen sayuran
tersebut.
Analisis Data Kelimpahan Kutu
Daun
Berdasarkan hasil pembahasan
sebelumnya, peneliti telah memaparkan
data yang dapat dilihat pada Tabel 4.12
dimana penemuan hama kutu daun
yang banyak ditemukan rata-rata pada
sayuran sawi, cabai dan selada.
Kelimpahan kutu daun sayuran sawi
sebesar 1.66 m-2 dengan kategori tinggi
dan hama sebanyak 249 kutu daun yang
terdapat pada stasiun II (Kelurahan
Lingkar Selatan). Sayuran sawi
merupakan sayuran yang banyak
ditemukan hama kutu daun, hal ini
dikarenakan pada saat melakukan
penelitia ke lokasi pertanaman sayuran,
kondisi lahannya terawat dan tanahnya
subur. Hal ini diperkuat dengan
menurut pendapat Bandini (1999: 26)
mengatakan bahwa syaratnya tanah
harus
subur,
gembur,
banyak
mengandung bahan organik, tidak
mudah mengembang (becek) maka
pertanaman sayuran tersebut menjadi
tumbuh dan berkembang dengan baik.
Selain sayuran sawi, kelimpahan
kutu daun yang banyak juga dijumpai
pada cabai. kelimpahan kutu daun pada
cabai ini berada di stasiun II (Kelurahan
Lingkar Selatan) dengan kelimpahan
kutu daunnya 0,95 m-2 dengan kategori
tinggi dan hama sebanyak 142 kutu
daun. cabai banyak ditemukan hama
kutu daun, hal ini dikarenakan pada
saat melakukan penelitia ke lokasi
pertanaman sayuran, kondisi tanahnya
subur dikarenakan tanahnya tanah
lempung dengan keadaan yang lembab.
Hal ini sesuai dengan menurut pendapat
Zulkarnain (2016:58) mengatakan
bahwa, cabai akan tumbuh baik bila
ditanah lempung. Pada saat melakukan
penelitian ke lahan tersebut, kondisi
cuaca nya pada saat itu sedang musim
kemarau sehingga banyak kutu daun
yang berada pada cabai.
Selain itu, kelimpahan dengan
rata-rata kutu daun yang banyak
ditemukan yaitu pada sayuran selada.
Pada stasiun III (Kelurahan Eka Jaya)
sayuran selada memiliki kelimpahan
kutu daun sebesar 0,79 m-2 dengan
kategori tinggi dengan hama 118 kutu
daun. Sayuran selada ini merupakan
salah satu sayuran yang banyak juga
ditemukan hama kutu daun, hal ini
dikarenakan pada saat melakukan
penelitian ke lokasi pertanaman
sayuran, kondisi lahan disana pas, yaitu
pada musim kemarau. Dikarenakan
kutu daun berkembangbiak pada saat
kemarau
sehingga
menyebabkan
meningkatnya kelimpahan kutu daun.
Hal ini sesuai dengan pendapat Setiadi
(2011:134), mengatakan serangan kutu
daun biasanya terjadi pada awal musim
kemarau, yaitu saat udara kering dan
suhu tinggi.
Oleh karena itu, kondisi
lingkungan
yang
sesuai
bagi
pertumbuhan sayuran merupakan syarat
utama
keberhasilan
usaha
tani,
disamping faktor sifat-sifat tanaman itu
sendiri dan teknik budi daya yang
diterapkan. Kondisi lingkungan setiap
wilayah atau daerah berbeda-beda. Di
daerah dengan kondisi lingkungan yang
tidak sesuai dengan syarat tumbuhnya,
tanaman akan menderita penyakit
fisiologis
sehingga
pertumbuhan
terhambat dan produktivitas rendah.
Sehingga lokasi untuk usaha tani harus
berada pada daerah yang memiliki
kondisi lingkungan yang sesuai.
Selain
kondisi
lingkungan
dilahan pertanaman sayuran, populasi
kutu daun dipengaruhi oleh jenis
tanaman sayuran dilahan pertanaman
sayuran yang berbeda-beda seperti
sawi, selada, cabai, kangkung, dan
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
17
bayam. Sehingga morfologi setiap
sayuran pun berbeda-beda juga
contohnya sawi, cabai, selada dan
bayam memiliki morfologi batang dan
daunnya mengandung air dan glokasa
dan struktur batangnya padat yang
disukai kutu daun, sedangkan kangkung
badang dan daun juga mengandung air
dan glokosa tetapi struktur batang
kangkung berongga dan berbuku
sehingga kutu daun kurang menyukai
kangkung.
Kemudian faktor lain yang
mempengaruhi kelimpahan kutu daun
adalah
tindakan
petani
dilahan
pertanaman
sayuran
seperti
menyemprot insektisida dan memanen
tanaman sebelum peneliti selesai
mengambil data sehingga kesimpulan
peneliti kurang efisien.
Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian
dapat dipaparkan implikasi secara
teoritis dan praktis sebagai berikut :
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai tambahan
bahan ajar pada Mata Kuliah
Entomologi untuk Mahasiswa Biologi.
2. Implikasi praktis, dapat digunakan
sebagai bahan ajar bagi tenaga pendidik
dalam praktik mengajar sekaligus
sebagai acuan pelaksanaan bagi
penelitian yang berkaitan dengan kutu
daun. Serta juga sebagai informasi
penting bagi para petani bahwa lahan
pertanaman sayuran yang sedang
digarapnya terserang serangga atau
hama kutu daun yang dapat merugikan
hasil panen sayuran dan diharapkan
para petani dapat mengatasi populasi
kutu daun di tanaman sayuran yang
DAN mereka miliki.
SIMPULAN, IMPLIKASI
SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan di Pertanaman Sayuran
Kecamatan Paal Merah Kota Jambi,
maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Kelimpahan kutu daun yang diteliti
peneliti pada pertanaman sayuran di
Kecamatan Paal Merah Kota Jambi
adalah dikhususkan pada spesies Aphis
gossypii. Adapun pertanaman sayuran
yang ditemukan peneliti paling banyak
antara lain sawi, cabai dan selada.
Dengan kelimpahan kutu daun sebesar
1.66 m-2 untuk sawi distasiun II, 0.9467
m-2 untuk cabai distasiun II, dan 0.7867
m-2 untuk selada distasiun III.
2. Kelimpahan kutu daun dipengaruhi
oleh morfologi tanaman sayuran yang
mengandung air dan hasil fotosintensis
yang mengandung gula dan rasa manis
sehingga disukai oleh kutu daun dan
dipengaruhi oleh faktor lingkungan
dilahan pertanaman sayuran itu sendiri.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian
dapat dikemukakan saran secara teoritis
dan praktis sebagai berikut :
1. Hasil penelitian ini sebagai salah satu
bahan ajar pada mata kuliah
Entomologi.
2. Hasil dari data penelitian terhadap
kelimpahan hama kutu daun dapat
dijadikan sebagai sumber informasi
penting bagi para petani.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang kutu daun yang
merupakan serangga atau hama pada
pertanaman sayuran di Kecamatan Paal
Merah Kota Jambi.
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
18
Cahyono B. 2003. Teknik Budi Daya
dan Analisa Usaha Tani Cabai
Rawit. Yogyakarta : Kanisius.
Anjasmara P. 2018. Jadi Kaya Hanya
Modal 10 Juta. Yogyakarta :
Campbell, NA. & Reece, JB.2010.
Genesis.
Biologi edisi Kedelapan Jilid 3.
Jakarta : Erlangga.
Bandini Y., dan Azis N., 1995. Bayam.
DAFTAR RUJUKAN
Jakarta : Penebar Swadaya.
Christina. 1991. Hama
Jakarta : Kanisius.
Tanaman.
Blackman RL, & Eastop VF. 2000.
Endro, S. dan Andoko A. 2005.
Aphids on the World’s Crop: an
Bertanam sayuran Organik di
Identification and Information
Pekarangan..
Jakarta
:
Guide 2nd eds. The Natural
Agromedia Pustaka.
History Museum: London.
Gonzalves, D. and Garnsey SM. 1989.
Cross protection techniques for
Blackman RL. & Eastop VF. 2006.
control of plant virus diseases
Aphids
on
the
World’s
intropic. Plant. Vol 6 (6) ISSN:
Herbaceous Plants and Shrubs:
2278-3413.
London.
Blackman RL & Eastop VF. 2007. Handayani, F. 2018. Kelimpahan Jenis
Trips (Thysanoptera) Pada
Taxonomy issues. Printed and
Pertanaman
Sayuran di
Bound in The UK by Cromwell
Kecamatan Jambi Selatan Kota
Press, Trowbridge: London.
Jambi
Sebagai
Pengayaan
Bahan Ajar Mata Kuliah
BPS Kota Jambi, 2014. Kota Jambi
Entomologi. Skripsi. FKIP
Dalam Angka 2014. Jambi :
Universitas Jambi.
Badan Pusat Statistik Kota
Jambi.
Herlinda, Siti, Riyanto, Irsan, Chandra
& Umayah, Abu. 2008.
BPS Kota Jambi, 2016. Kota Jambi
Perkembangan Populasi Aphi
Dalam Angka 2016. Jambi :
gossypii Glover (Homoptera :
Badan Pusat Statistik Kota
Aphididae)
dan
Kumbang
Jambi.
Lembing Pada Tanaman Cabai
Merah dan Rawit di Inderalaya.
BPS Kota Jambi. 2019. Kecamatan
Jurnal Jurusan Hama dan
Paal Merah Dalam Angka 2019.
Penyakit Tumbuhan. Faperta,
Jambi : Badan Pusat Statistik
Organ Ilir (UNSRI) : Bogor.
Kota Jambi.
Vol. 11 (1) ISSN : 1411-7525.
BPTP Lampung. 2012. Pengendalian
C.
2008.
Perbandingan
Hama dan Penyakit Tanaman Irsan
keanekaragaman
Spesies dan
Sayuran. Bandar Lampung.
Kelimpahan
Arthropoda
Predator Penghuni Tanah di
Sawah
Lebak
yang
di
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
19
Aplikasikan dan Tanpa Aplikasi Martin, JH. 1987. An identification
Insektisida. Jurnal Entomologi
guide to common whitefly pest
Indonesia. Vol.5 (2): 96-107.
species of the world
(Homopera:
Aleyrodidae).
Jumar. 2000. Etimologi Pertanian.
Tropical pest Management
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Vol.33 (4) ISSN : 298-322.
Kanginan, M. 2007. Fisika untuk SMA Martin, JH., Mifsud D. & Rapisarda C.
2. Jakarta : Erlangga.
2000. The whiteflies (Hemiptera
: Aleyrodidae) of Europe and
Kori A, Ketut A, Dwi W. 2018.
the
Mediterranean
Basin
Pengaruh Populasi Kutu Daun
Bulletin of
Entomological
pada Tanaman Cabai Besar
reseach. Vol.1 (9) ISSN : 407(Capsicum
Annuum
L.)
448.
terhadap Hasil Panen. Bali:
Universitas Udayana. Vol.7 (1) Meyer, E. 1996. Methods in Soil
ISSN: 2301-6515.
Biology. Springer Verla: Berlin.
Kosmas, S. 2012. Budidaya Selada Miles MB. & Huberman MA. 1987.
Keriting, Selada Lollo Rossa,
Qualitative Data Analysis a
Dan Selada Romaine Secara
Sourcebook of New Methode.
Aeroponik. Skripsi. Lembang
Sage Publications: London.
Bandung : IPB.
Muis A, Haswanuddin A, Surapati U &
Kusnaedi. 1997. Pengendalian Hama
Fachruddin.1992.
Intensitas
Tanpa Pestisida. Jakarta : PT.
Serangan Pstv dan Fluktuasi
Penebar Swadaya.
Populasi Aphis craccivora Serta
Predatornya Pada Empat Waktu
Magurran, AE. 2004. Measuring
Tanam. Jurnal Agrikam. Vol.15
Biological Diversity. Blackwill
(1). 17-23.
Publishing, Maiden.
Mulyana, D. dan Ceng A. 2010.7 Jenis
Manoppo, S. 2012. Studi Pembuatan
Kayu Penghasil Rupiah. Jakarta
Crakers
dengan
Sukun
Selatan : PT. Agromedia
(Artocarpus
communis)
Pustaka.
Pragelatinisasi. Skripsi. Program
Pasca
Sarjana.
Universitas Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut
Hassanudin : Makassar.
Suatu Pendekatan Biologis. PT
Gramedia. Jakarta
Mardiningsih, T. Sukmana, N. Tarigan,
dan S. Suriati. 2010. Efektivitas Oktafiani, DW. 2018. Keanekaragaman
Insektisida Nabati Berbahan
Jenis
Kumbang
Lembing
Aktif Azadirachtin Dan Saponin
(Coleoptera:
Coccinellidae)
Terhadap
Mortalitas
Dan
Pada Pertanaman Sayuran di
Intensitas
Serangan
Aphis
Kecamatan Paal Merah Kota
Gossypii Glover. Vol. 21 (2)
Jambi Untuk Pengayaan Materi
ISSN : 171 – 183.
Entomologi. Skripsi. FKIP
Universitas Jambi.
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
20
Subiyakto S. 1991. Pengendalian
Pertamawati.
2010.
Pengaruh
Serangga Hama Penyakit dan
Fotosintesis
Terhadap
Gulma Padi. Jakarta : Kansius.
Pertumbuhan Tanaman Kentang
(Solanium tuberosum L.) dalam Subiyakto S. 1992. Pestisida Untuk
Lingkungan Fotoautrotof Secara
Tanaman.
Yogyakarta
:
Invitro. Jurnal Sains dan
Kanisius.
Teknologi Indonesia.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian
Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Tanaman. Jakarta : Penebar
Bandung : PT Alfabet.
Swadaya.
Suheiti E., Araz M., Dewi N., Kiki S.
Pracaya. 2001. Hama dan Penyakit
2010. Laporan Akhir Prima
Tanaman. Jakarta : Penebar
Tani Lahan Kering Dataran
Swadaya.
Rendah
Iklim
Basah
di
Kelurahan Paal Merah Kota
Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit
Jambi. Badan Penelitian dan
Tanaman. Jakarta : Penebar
Pengembangan
Pertanian:
Swadaya.
Departemen Pertanian.
Pracaya. 2011. Hama dan Penyakit Tarwotjo, S. 2009. Dasar-Dasar Gizi
Tanaman. Jakarta : Penebar
Kuliner. Grasindo: Jakarta
Swadaya.
Trisna. 2014. Pengaruh Penggunaan
Pradhana, RA., Mudjiono, G., dan
Jaring Berwarna Terhadap
Karindah,
S.
2014.
Kelimpahan Serangga Aphis
Keanekaragaman Serangga dan
gossypii pada Tanaman Cabai
Laba-laba pada Pertanaman
Rawit (Capsicum frutescens L.).
Padi
Organik
dan
Fakultas Pertanian Universitas
Konvensional. Vol.1(2) ISSN :
Udayana. Vol.3 (4) ISSN: 23013238-4336.
6515.
Rukmana,
R.
1994.
Bertanam, Tjahjadi, N. 1991. Hama dan Penyakit
Pengolahan dan Pascapanen
Tanaman.
Kanisius
:
Bayam. Yogyakarta : Kanisius.
Yogyakarta.
Setiadi. 2011. Bertanam Cabai di Watson GW.2007. Identification of
Lahan dan Pot. Jakarta :
whiteflies
(Hemiptera:
Penebar Swadaya.
Aleyrodidae). Kuala Lumpur:
Institute of Biological Sciences,
Subiyakto
S.
1989.Tanaman
University Malaya. Vol.7 (7)
Perkebunan, Pengendali Hama
ISSN: 2320-5407.
dan Penyakit. Yogyakarta :
Kanisius.
Wiwin, F.2015. Peran Teknologi
Dalam Meningkatkan Mutu Dan
Daya Saing Produk Nasional Di
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
21
Pasar Internasional. Jakarta:
UI.Vol.8 (11) ISSN: 17-23.
WMO. 1988. Technical Regulations.
General
Meteorological
Standards and Recommended
Practices. Vol.1 (4) ISBN:
9263-18049.
Zulkarnain, H. 2016. Budidaya Sayuran
Tropis. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi
22
Download