KELIMPAHAN HAMA KUTU DAUN (Aphis gossypii Glover) PADA PERTANAMAN SAYURAN DI KECAMATAN PAAL MERAH KOTA JAMBI SEBAGAI MATERI AJAR PADA MATA KULIAH ENTOMOLOGI ARTIKEL OLEH: EKARISTY REBECCA RRA1C416004 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI 2020 Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 1 KELIMPAHAN HAMA KUTU DAUN (Aphis gossypii Glover) PADA PERTANAMAN SAYURAN DI KECAMATAN PAAL MERAH KOTA JAMBI SEBAGAI MATERI AJAR PADA MATA KULIAH ENTOMOLOGI 1) Ekaristy Rebecca 1), Asni Johari 2), Desfaur Natalia 3) Mahasiswa Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi 2) Dosen Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA Universitas Jambi Email: [email protected] Abstrak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi yang terdapat di Kelurahan Paal Merah, Kelurahan Lingkar Selatan, Kelurahan Eka Jaya, Kelurahan Talang Bakung, dan Kelurahan Payo Selincah pada bulan September 2019–Januari 2020. Sampel diidentifikasi dan dilakukan juga pengambilan data lingkungan. Data lingkungan yang diamati terdiri dari pengukuran suhu, kelembaban udara dan pengukuran intensitas cahaya. Data dianalisis secara kuantitatif yang diperoleh dari data kelimpahan hama kutu daun. Hasil penelitian meneliti kutu daun yang ditemukan dipertanaman sayuran dikhususkan pada hama kutu daun yang spesiesnya Aphis gossypii. Kelimpahan kutu daun yang tertinggi terdapat pada lahan pertanaman di stasiun II yaitu Kelurahan Lingkar Selatan pada tanaman sayuran sawi dengan kelimpahan kutu daun sebesar 1.66 m-2. Kelimpahan kutu daun yang terendah terdapat pada lahan pertanaman di stasiun IV yaitu Kelurahan Talang Bakung pada tanaman sayuran kangkung dengan kelimpahan kutu daun sebesar 0.15 m-2. Dari hasil penelitian disarankan agar data kelimpahan hama ini dapat dijadikan sebagai informasi penting bagi petani dan salah satu bahan ajar dalam mata kuliah Entomologi. Penelitian ini juga disarankan untuk dapat dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kutu daun karena merupakan hama yang merugikan hasil panen sayuran seperti yang terdapat di pertanaman sayuran pada Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. Kata kunci: Kutu daun, Kelimpahan, Tanaman sayuran Jambi, Agustus 2020 Mengetahui dan menyetujui Pembimbing I Pembimbing II Prof. Dr. Dra. Hj. Asni Johari, M.Si NIP. 196811081993032002 Desfaur Natalia, S.Pd., M.Pd NIDK. 201501052004 Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 2 ABUNDANCE OF PEST LEAVES (Aphis gossypii Glover) IN VEGETABLING IN VILLAGE PAAL MERAH JAMBI CITY AS TEACHING MATERIALS ONCOLLEGE OF ENTOMOLOGY 1) Ekaristy Rebecca 1), Asni Johari 2), Desfaur Natalia 3) Biology Education Students Majoring in Mathematics and Natural Sciences Faculty of Jambi University 2) Biology Education Lecturer, PMIPA Department, Jambi University Email: [email protected] Abstract. This research was carried out in the Paal Merah Subdistrict of Jambi City located in the Paal Merah Kelurahan, Kelurahan Selatan Selatan, Eka Jaya Kelurahan, Talang Bakung Kelurahan, and Payo Selincah Kelurahan in September 2019 - January 2020. Samples were used and also carried out on environmental data. Environmental data consisting of measurements of temperature, humidity and measurement of light intensity. Data were analyzed quantitatively obtained from the abundance of aphids. The results consider the aphids found in vegetable crops to be specialized in aphids whose species is Aphis gossypii. The highest abundance of aphids was found in the land planted at Station II, Kelurahan Lingkar Selatan on mustard vegetable vegetables with aphids abundance of 1.66m-2. The lowest abundance of aphids was found in the land planted at Station IV, Talang Bakung Village on kale vegetables with an abundance of aphids of 0.15m-2. From the results of the research it is suggested that this pest abundance data can be made as important information for farmers and one of the teaching materials in Entomology courses. This study also suggests further research on aphids because pests are detrimental to vegetable yields such as those found in vegetable growing in the Paal Merah District of Jambi City. Keywords : Aphids, Abundance, Vegetable plants. Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 3 PENDAHULUAN Kecamatan Paal Merah kota jambi ini memiliki 5 Kelurahan yang berpotensi di bidang pertanian. Yaitu Kelurahan Paal Merah, Kelurahan Lingkar Selatan, Kelurahan Eka Jaya, Kelurahan Talang Bakung, dan Kelurahan Payo Selincah. Daerah Kecamatan Paal Merah Kota Jambi banyak penduduk yang berprofesi sebagai petani, khususnya petani sayuran. Tanaman sayurannya seperti selada, sawi, kacang panjang, terung, tomat, cabe, ketimun, kangkung, bayam dan lain-lain yang ditanam diluas lahan Pertanian kurang lebih 2.958 Ha (BPS Kota Jambi, 2016). Survei yang telah dilakukan oleh peneliti, didapatkan juga data bahwa sebagian besar petani mengeluhkan tentang kualitas panen mereka yang terkadang kurang baik. Bukan hanya dikarenakan oleh kondisi lingkungan dan cuaca saja, tetapi juga dikarenakan tanaman yang mereka tanam terserang oleh hama kutu daun. Hama yang banyak terdapat pertanaman sayuran menurut para petani salah satunya adalah hama kutu daun. Serangan dari kutu daun ini dapat mengakibatkan berkurangnya kualitas panen dan hasil panen bagi para petani sayuran. Hama ini sering terlihat di helai daun, ranting, cabang, batang dan tangkai buah tanaman inang, sehingga dapat menyebabkan daun mengecil dan keriting, lalu berangsur-angsur menguning dan layu. Koloni kutu daun yang ada di bagian pucuk tunas juga dapat menyebabkan tepinya mengulung atau melengkung, sehingga juga membuat tanaman menjadi menguning kemudian layu dan daun-daun akan berguguran ke tanah. Dampak dari populasi kutu daun ini dapat menyebabkan tanaman inang yang ditinggalinya tersebut mengalami kerusakan pada bagian-bagian tanaman seperti pada buah yang mengkerut, bahkan dapat menyebabkan kematian pada tanaman itu sendiri. Kutu daun ini termasuk ke dalam Family Aphididae, bangsa Homoptera. Tanaman inangnya antara lain kapas, buncis, blewah, seledri, tomat, ketimun, bawang, labu air, jeruk, alpukat, sawi dan kentang. Kutu daun ini sering mengeluarkan cairan yang mengandung madu. Cairan tersebut biasanya membasahi lembaran daun, batang atau bagian tanaman yang lainnya yang kemudian ditumbuhi oleh cendawan yang berwarna hitam jelaga, akibatnya aktivitas fotosintesis dapat terhambat (Subiyakto, 1992:28) Jumlah kutu daun yang menjadi hama pada tanaman pertanian sekitar 450 spesies, 100 spesies diantaranya merupakan hama penting karena mampu menurunkan nilai ekonomi. Spesies kutu daun yang dominan menjadi hama pertanian berasal dari kelompok Aphididae. Kutu daun termasuk dalam kelompok hama yang cukup merugikan pada tanaman sayuran. Tanaman yang terserang oleh kutu daun ini menunjukkan gejala kerdil, daun keriting dan layu sehingga serangannya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas produksi sayuran, khususnya sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi (Blackman & Eastop, 2007:29). Kutu daun juga dapat berperan sebagai vektor penyakit CMV yang dapat ditularkan secara mekanis lebih dari 60 jenis kutu daun melalui biji beberapa tanaman inang. Penularan penyakit CMV ini ditentukan oleh aktivitas serangga vektor (Gonzalves & Garnsey 1989:592). Kerugian yang ditimbulkan oleh kutu daun ini berkisar antara 625%, sedangkan sebagai vektornya Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 4 dapat mencapai lebih dari 80% (Miles 1987:321). Peranan kutu daun sebagai vektor virus penyakit ini sangat dikhawatirkan bagi para petani sayuran. Penelitian dilakukan peneliti untuk bahan ajar mata kuliah entomologi mahasiswa Pendidikan Biologi dan sebagai informasi ilmiah bagi masyarakat tentang kelimpahan hama kutu daun pada pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di pertanaman sayuran pada Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. Terdapat 5 stasiun pertanaman sayuran yaitu Kelurahan Paal Merah, Kelurahan Lingkar Selatan, Kelurahan Talang Bakung, Kelurahan Eka Jaya dan Kelurahan Payo Selincah. Sampel kutu daun yang diperoleh kemudian diidentifikasi di Laboratorium FKIP PMIPA Pendidikan Biologi Universitas Jambi dan Laboratorium Dasar dan Terpadu Universitas Jambi. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 15 September 2019 s/d 8 Januari 2020. Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-eksploratif. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel dan dokumentasi lapangan dengan cara menjelajah keberadaan hama kutu daun secara langsung dilapangan. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel kutu daun di 5 stasiun yang ada pada Kecamatan Paal Merah Kota Jambi yaitu pada stasiun I adalah Kelurahan Paal Merah dimana pertanaman sayuran yang dijumpai disana seperti sawi dan bayam. Stasiun II adalah Kelurahan Lingkar Selatan dimana pertanaman sayuran disana seperti sawi dan cabai. Stasiun III yaitu kelurahan Eka Jaya dimana pertanaman sayuran yang ditemukan disana seperti kangkung dan selada. Stasiun IV adalah Kelurahan Talang Bakung dimana tanaman sayuran yang djumpai disana adalah kangkung dan sawi. Dan Stasiun V yaitu Kelurahan Payo Selincah dimana tanaman sayuran yang dijumpai disana seperti selada dan sawi. Penentuan Plot pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Berdasarkan pada hasil survei lokasi menunjukkan bahwa terdapat variasi habitat pada pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. Plot penelitian ini dimodifikasi dari menurut pendapat Manopo et.al (2012:6) dengan menyesuaikan lahan pertanaman sayuran yang ada di kawasan Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. Pada tiap petakan tanaman sayuran yang berbeda selanjutnya dijadikan sebagai plot pengamatan dapat dilihat pada (Gambar 3.1) Pengambilan sampel dilakukan dengan metode irisan diagonal menggunakan line transek dengan menetapkan 5 sub plot yang tersebar secara diagonal berukuran 3m x 3m dengan mengambil 4 sub plot pada tiap sudut plot dan 1 plot pada bagian tengah plot. Pengamatan pada setiap sub plot dilakukan sebagai titik pengambilan sampel. Menurut pendapat Sugiyono (2016:85) menyatakan bahwa purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Alasan peneliti menggunakan teknik Purposive sampling ini karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan fenomena yang diteliti. Oleh karena itu, penulis memilih teknik Purposive Sampling yang menetapkan pertimbangan-pertimbangan atau kriteria-kriteria tertentu yang harus Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 5 dipenuhi oleh sampel-sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Menentukan tempat pengambilan sampel dari setiap plot ditentukan satu petak sawah kemudian dibagi 5 sub plot pengamatan yang tersebar secara diagonal dengan ukuran 3m x 3m (Monopo, 2012:5). Penelitian Monopo dan pendapat Sugiyono ini menjadi dasar peneliti untuk mengambil sampel dan menggunakan teknik purposive sampling dengan metode irisan diagonal. Sub Plot Sub Plot Keterangan : = Plot Penelitian = Sub Plot/ titik pengamatan 3m Sub 3m 3m Plot 3m Sub Plot Sub Plot Gambar 1. Rancangan plot penelitian dengan metode irisan diagonal Populasi dan Sampel Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah semua hama kutu daun yang ada dipertanaman sayuran pada 5 stasiun Kelurahan seperti Kelurahan Paal Merah, Kelurahan Lingkar Selatan, Kelurahan Eka Jaya, Kelurahan Talang Bakung dan Kelurahan Payo Selincah. Masingmasing stasiun tersebut akan dibuat garis transek, kemudian akan dibuat 5 sub plot dengan masing-masing ukuran 3m x 3m. Pada satu plot akan diambil helaian daun yang rusak dan terdapat hama kutu daun. Sampel yang didapat tersebut akan dihitung secara langsung dilapangan. Pengambilan sampel ini dilakukan sebanyak 6x pengulangan pada pertanaman sayuran tersebut. Teknik Pengambilan Sampel Sampel yang akan diambil yaitu hama kutu daun yang masih muda. Hal ini dikarenakan pertumbuhan populasi kutu daun cenderung mengikuti pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Peningkatan populasi hama ini hanya ada pada tanaman yang berumur beberapa minggu saja, hal ini juga disebabkan karena semakin banyak pucuk daun muda pada tanaman maka semakin banyak pula kelimpahan hama kutu daun yang ada ditanaman tersebut (Muis et al. 1992:17). Menurut pendapat Trisna (2014:256), penurunan populasi hama kutu daun disebabkan salah satunya adalah umur tanaman yang semakin tua sehingga menyebabkan populasi hama kutu daun menjadi berkurang. Pada sub plot yang sudah ditentukan, selanjutnya dilakukan pengambilan sampel hama kutu daun. Kelimpahan hama kutu daun ini dilakukan pada daun sayuran dari pucuknya. Pengambilan nimfa atau imago kutu daun hanya dilakukan dengan metode dengan cara menangkap secara langsung (hand picking) yaitu dengan menggunakan tangan untuk setiap hama kutu daun yang ditemukan pada sub plot. Kutu daun itu mobilitasnya sangat rendah, sehingga pengambilan hama ini dapat dilakukan secara langsung menggunakan tangan. Menurut pendapat Mulyana (2010:83), hand picking adalah pembasmian hama menggunakan tangan dilakukan untuk menanggulangi jenis hama ulat dan belalang dengan intensitas serangan skala kecil. Populasi kutu daun terdapat pada bagian tumbuhan (daun dan batang), sehingga dilakukan dengan cara hand picking yaitu dengan cara mengambil bagian tumbuhan tersebut dari 5 titik stasiun dengan Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 6 menggunakan tangan secara langsung, dan masing-masing titik diwakili oleh ± 10 batang tanaman dan masing-masing batang tersebut diambil dengan 4 helai daun yang terserang oleh hama lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik bening atau dengan botol spesimen, kemudian diberi alkohol 70% agar membunuh atau menghambat pertumbuhan hama tersebut. Botol spesimen tersebut diberi kertas label yang berisi informasi tanaman inang, lokasi stasiun, dan tanggal pengambilan sampel. Selanjutnya, dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi (Watson, 2007:18). Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini melakukan observasi secara langsung disetiap Kelurahan yang ada di pertanaman sayuran Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. Selanjutnya, menentukan Kelurahan mana saja yang akan menjadi stasiun, lalu membuat rancangan plot penelitian, menentukan plot serta garis transek, penyediaan alat-bahan, studi literature dan dokumentasi. Pengambilan data lingkungan seperti thermometer dimana berfungsi untuk mengukur suhu di suatu tempat. Lalu higrometer untuk mengukur tingkat kelembaban pada suatu tempat, dan luxmeter untuk mengukur besarnya intensitas cahaya di suatu tempat. Data lingkungan ini diambil langsung pada masing-masing stasiun sebagai data penunjang. Analisis Data Sampel yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui kelimpahan kutu daun. Variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah kelimpahan kutu daun. Rumus yang digunakan untuk menghitung kelimpahan atau populasi kutu daun adalah rumus Meyer (1996) sebagai berikut : I = IS A Keterangan : I = Kelimpahan individu (m¯²) IS = Rata-rata kelimpahan individu per sampel A = Luas area pertanahan (m²) Kriteria menurut (Magurran, 2004 : 30): I ≤ 0.4 = kategori rendah 0.5 ≤ I ≥ 0.6 = katagori sedang 0,7 ≤ I ≥ 1 = kategori tinggi Prosedur Penelitian Prosedur penelitian kelimpahan hama kutu daun pada pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi adalah: 1. Studi Pendahuluan Studi pendahuluan ini di mulai dengan melakukan survei lokasi. Tujuannya untuk menentukan lokasi penelitian mana yang akan diamati kelimpahan hama kutu daunnya dan lokasi penelitian tersebut berada di pertanaman sayuran pada Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. 2. Persiapan Alat dan Bahan Penelitian Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah meteran, kayu, tali raffia, luxmeter, thermometer, higrometer, botol koleksi, alkohol 70%, kantong plastik bening, alat tulis, kertas label, jarum pentul, kaca objek, kaca preparat, mikroskop compound, mikroskop fluorescence, laptop, handphone dan buku identifikasi. Alat pengukur lingkungan seperti luxmeter, thermometer, higrometer. Luxmeter adalah alat untuk mengukur tingkat penerangan dengan satuan lux (Wiwin, 2015:322). Menurut pendapat Kanginan (2007:52-53), thermometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu, Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 7 ataupun perubahan suhu, sedangkan menurut pendapat (WMO, 1988), hygrometer adalah sebuah alat yang digunakan untuk menentukan kelembaban atmosfer yang mana dapat menunjukkan kelembaban yang relatif. 3. Pengamatan Kelimpahan Hama Kutu Daun Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling melalui survei dengan pengamatan secara langsung pada pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah. Pengamatan dilakukan dari pukul 08:00 AM-11:00 AM yaitu pada sayuran seperti sawi, bayam, kangkung, selada, dan cabai. 4. Identifikasi Hama Kutu Daun Identifikasi dilakukan dengan pengamatan bagian-bagian morfologi seperti antena, oseli, thoraks (pronotum, motanotum, mesonotum), warna sayap, abdomen, dan bagianbagian yang penting lainnya dengan menggunakan Mikroskop Compound dengan perbesaran 1600x. Identifikasi juga dilakukan dengan menggunakan kata kunci identifikasi Martin (1987, 2000) identifikasi hama kutu daun dilakukan di Laboratorium CRC Universitas Jambi menggunakan mikroskop fluorescence dengan perbesaran 10x, 20x dan 40x. 5. Dokumentasi Dokumentasi dilakukan dengan menggunakan kamera ponsel Iphone 64 MP dilaboratorium FKIP PMIPA Pendidikan Biologi dan Laboratorium CRC Universitas Jambi. Pengambilan foto preparat mengkombinasikan kamera ponsel Iphone 64 MP dengan Mikroskop Compound. Pengambilan foto dengan mengarahkan kamera ponsel di tengah-tengah atas lensa okuler. Letak lensa kamera dengan lensa okuler diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil detail foto dari preparat yang menjadi fokus foto. Dokumentasi ini digunakan untuk memperjelas morfologi dari kutu daun. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian Kecamatan Paal Merah Kota Jambi terletak di sisi selatan Kota Jambi, dengan ketinggian rata-rata 12 m dari permukaan air laut. Batas-batas Kecamatan Paal Merah tersebut sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jambi Timur, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi sebelah barat berbatas dengan Paal Merah dan Kota Baru. Keadaan wilayah Kecamatan Paal merah datar dengan luas 280,05 km2 (BPS Kota Jambi, 2019 : 3). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi, ditentukan 5 stasiun yang ada pertanaman sayuran yaitu Kelurahan Paal Merah sebagai stasiun I, Kelurahan Lingkar Selatan sebagai stasiun II, Kelurahan Eka Jaya sebagai stasiun III, Kelurahan Talang Bakung sebagai stasiun IV dan Kelurahan Payo Selincah sebagai stasiun V. Oleh karena itu, peneliti menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai 5 stasiun penelitian. Lokasi penelitian merupakan kawasan yang dimanfaatkan warga sebagai tempat menanam jenis sayuran-sayuran, dikarenakan tempat tersebut masih memiliki kondisi lingkungan yang cukup baik seperti suhu, cahaya, kelembaban udara dan Ph tanah. Kelurahan Paal Merah adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Paal Merah. Kelurahan Paal Merah ini memiliki luas 51 km2 atau 18.21 % dari Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 8 luas Kecamatan (BPS Kota Jambi, 2019:3). Adapun kegiatan kunjungan yang dilakukan peneliti ke lokasi pertanaman sayuran di Kelurahan Paal Merah yaitu : A. Sayuran sawi Subjek pemilik lahan pertanian adalah Bapak Januri dengan luas tanah sebesar 20 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Januri adalah sayuran sawi B. Sayuran bayam Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak Sutris dengan luas tanah sebesar 20 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Sutris yaitu sayuran bayam. Kelurahan Lingkar Selatan adalah Kelurahan di Kecamatan Paal Merah. Kelurahan Lingkar Selatan dengan luas 17,2 km2 atau 6.14% dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi, 2019:3). Kegiatan kunjungan ini dilakukan peneliti ke lokasi pertanaman sayuran di Kelurahan Lingkar Selatan yaitu : A. Sayuran sawi Subjek pemilik lahan pertanian adalah Bapak Edi dengan luas tanah sebesar 20 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Edi adalah sayuran sawi. B. Sayuran cabai Subjek pemilik lahan tersebut adalah Bapak Bento dengan luas tanah sebesar 15 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Bento adalah cabai. Kelurahan Eka Jaya adalah Kelurahan di Kecamatan Paal Merah dengan luas wilayah Kelurahan Eka Jaya adalah 80.73 km2 atau 28.83 % dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi, 2019:3). Adapun kegiatan kunjungan yang dilakukan peneliti ke lokasi pertanaman sayuran di Kelurahan Eka Jaya Kota Jambi yaitu : A. Sayuran kangkung Subjek pemilik lahan pertanaman sayuran ini adalah Bapak Ismanto dengan luas tanah sebesar 10 tumbuk dan jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Ismanto adalah sayuran kangkung. B. Sayuran selada Subjek pemilik lahan pertanaman sayuran adalah Bapak Budi dengan luas tanah sebesar 15 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami Bapak Budi adalah sayuran selada. Kelurahan Talang Bakung adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Paal Merah. Kelurahan Talang Bakung ini memiliki luas 86.4 km2 atau 30.85% dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi, 2019:3). Adapun kegiatan kunjungan yang dilakukan peneliti ke lokasi pertanaman sayuran di Kelurahan Talang Bakung yaitu : A. Sayuran kangkung Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak Endah dengan luas tanah sebesar 20 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Endah adalah sayuran kangkung. B. Sayuran sawi Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak Bento dengan luas tanah sebesar 15 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami Bapak Bento adalah sayuran sawi. Kelurahan Payo selincah adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Paal Merah. Kelurahan Payo Selincah ini memiliki luas 44.72 km2 atau 15.97% dari luas Kecamatan (BPS Kota Jambi, 2019:3). Adapun juga kegiatan kunjungan yang dilakukan peneliti ke lokasi pertanaman sayuran di Kelurahan Payo Selincah yaitu : A. Sayuran selada Subjek pemilik lahan pertanian adalah Bapak Hari dengan luas tanah sebesar 15 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Hari adalah sayuran selada. B. Sayuran sawi Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 9 Subjek pemilik lahan ini adalah Bapak Sumari dengan luas tanah sebesar 15 tumbuk. Jenis sayuran yang ditanami oleh Bapak Sumari adalah sayuran sawi. Morfologi dan Identifikasi Kutu Daun Spesies kutu daun (Aphis gosyypii) yang diperoleh dari pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi sebagai berikut: No Gambar Deskripsi 1. b a c d e f g 2. Morfologi ima go kutu daun dengan meng gunakan mikr oskopcompou ndperbesaran 1600xdengan skala 1:0,04µ. Keterangan: a. Kepala b. Antenna c. Mata berwarna hitam d. Tubuh berwarna hijau muda e. Abdomen f. Kaki berjumlah empat pasang g. Cauda dan sifunkuli Morfologi antenna kutu daun dengan menggunakan mikroskop flu orescence perbesaran 10xdengan skala 1:6µ. No Gambar Deskripsi 3. Morfologi cauda dan sifunkuli kutu daun dengan menggunakan mikroskop fluorescence perbesaran 40xdengan skala 1:1,5µ. 4. Morfologi kaki kutu daun dengan menggunakan mikroskop fluorescence perbesaran 20x dengan skala 1:3µ. 5. Morfologi abdomen kutu daun dengan mengg unakan mikros kop fluorescence perbesaran 20x dengan skala 1:3µ. Berdasarkan Gambar (2) tersebut, morfologi dan identifikasi kutu daun tersebut menggunakan 2 jenis mikroskop yang berbeda. Mengamati morfologi kutu daun (Aphis gosyypii) menggunakan Microscope compound yaitu dengan perbesarannya 1600x, dapat dilihat pada Gambar 2 (g) sedangkan untuk mengidentifikasi kutu daun, peneliti menggunakan microscope fluorescence dengan perbesaran 10x dimana terdapat bagian thoraks pada kutu daun yang dapat dilihat pada Gambar 2 (a) dan bagian antena dari kutu daun yang dapat dilihat pada Gambar 2 (b). Kemudian Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 10 dengan perbesaran 20x, peneliti menemukan bagian struktur tubuh kutu daun yang lain seperti abdomen yang dapat dilihat pada Gambar 2 (c), bagian kaki kanan dari kutu daun (leg of right) yang dapat dilihat pada Gambar 2 (d), dan kaki kiri dari kutu daun (leg of left) yang dapat dilihat pada Gambar 2 (e). Kemudian dengan perbesaran 40x dimana peneliti menemukan bagian struktur tubuh kutu daun berupa cauda dan sifunkuli yang dapat dilihat pada Gambar 2 (f). Berdasarkan Gambar 2 tersebut, morfologi kutu daun ini berukuran kecil, ukuran tubuhnya antara 1-6 mm. Tubuhnya lunak berwarna hijau dan berbentuk seperti buah pear. Siklus hidupnya 7-10 Hari. Kutu daun ini memiliki ciri-ciri lain dimana kutu ini bewarna hijau, tidak bersayap, memiliki 2 pasang kaki dan 2 pasang tangan yang ramping, memiliki antena yang panjangnya berukuran kurang lebih 3-7 ruas seperti bulu yang tegak, bagian abdomen kutu ini bertekstur lembut dan terdiri dari head, Cornicle, sifunkuli, kauda. Lokasi Survei dan Jenis Tanaman Ditemukan di Setiap Stasiun Berdasarkan hasil pengambilan sampel kutu daun yaitu dengan Hand Packing, telah diperoleh jumlah total hama kutu daun yang didapatkan di pertanaman sayuran pada setiap stasiun penelitian. Hal ini dirincikan pada Tabel 4.11 sebagai berikut : Tabel 1. Jenis dan Jumlah Kutu Daun yang Ditemukan di Stasiun I-V Famili/ spesies - CB = SD = KG = IN = PN = cabai selada kangkung penyemprotan insektisida panen Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa kutu daun yang ditemukan pada waktu penelitian hanya satu spesies dari family Aphididae. Kutu daun dengan jumlah yang tertinggi terdapat pada stasiun II Kelurahan Lingkar Selatan yaitu pada tanaman sawi sebanyak 249 kutu daun dan tanaman cabai sebanyak 142 kutu daun dengan total kutu daun dari dua jenis tanaman adalah sebanyak 391. Kelimpahan Kutu Daun Pada Setiap Stasiun Berdasarkan hasil penelitian, kelimpahan kutu daun sebagai berikut : Tabel 2. Data Kelimpahan Kutu Daun di Stasiun I-V Data Stasiun I SW BY Stasiun II SW Stasiun III Stasiun IV CB KG SD KG Stasiun V SW SD SW Rata-rata 213 62 249 142 24 118 31 227 99 247 Kelimpahan Luas Lahan 200 200 150 150 100 150 200 150 150 150 (m2) I = IS/A (m-2) 1.07 0.31 1.66 0.95 0.24 0.79 0.15 1.51 0.66 1.65 Keterangan : SW = sawi BY = bayam CB = cabai SD = selada KG = kangkung I = Kelimpahan individu (m¯²) IS = Rata-rata kelimpahan A = Luas area bertanah (m²) Stasiun I = Kelurahan Paal Merah Stasiun II = Kelurahan Lingkar Selatan Stasiun III = Kelurahan Eka Jaya Stasiun IV = Kelurahan Talang Bakung Stasiun V = Kelurahan Payo Selincah Jum Stasiun Peng- I II III IV V ulang kutu an ke- SW BY SW CB KG SD KG SW SD SW daun Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa hasil analisis data 1 0 7 27 23 0 0 4 28 0 25 114 dari kutu daun pada 2 21 13 32 35 6 14 9 34 11 36 kelimpahan 211 36 18 38 49 10 22 11 42 18 41 285 Aphididae/ 3 pertanaman sayuran di Kecamatan Paal 4 44 24 45 IN 8 26 7 47 27 47 275 Aphis 5 53 PN 51 14 IN 31 PN 36 23 43 Merah 251 Kota Jambi ini kelimpahan kutu gossypii 6 59 56 21 25 - 40 20 55 276 daun yang tertinggi adalah pada stasiun Tot 213 62 249 142 24 118 31 227 99 247 1412 II (pertanaman sayuran di Kelurahan Keterangan : - Stasiun I. Kelurahan Paal Merah, Stasiun II. Lingkar Selatan) dimana kelimpahan Kelurahan Lingkar Selatan, Stasiun III. kutu daun yang berada pada sawi Kelurahan Eka Jaya, Stasiun IV. Kelurahan tersebut sebesar 1.66 m-2. Talang Bakung, Stasiun V Kelurahan Payo Selincah. - SW = sawi - BY = bayam Parameter Lingkungan Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 11 Parameter lingkungan yang diukur diantaranya adalah suhu, kelembaban, intensitas cahaya dan kelembaban tanah. Hasil untuk parameter lingkungan pada setiap stasiun sebagai berikut : Tabel 3. Parameter lingkungan Kelembaban merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangbiakan kutu daun. Semakin tinggi suatu kelembaban, maka perkembangbiakan hama kutu tersebut juga semakin banyak. Peneliti juga mengukur intensitas cahaya menggunakan Stasiun luxmeter dimana intensitas cahaya No. Parameter I II III IV V SW BY SW CB KG SD KG SW SD SW terendah yaitu berkisar 3.071 lux 1 Suhu ( C) 28,2 33.1 27.5 28.7 32,3 32.5 34.3 30.0 31.4 29.7 terdapat pada lahan pertanaman sayuran 2 Kelemba72.0 51.0 72.0 64.9 31.0 42.0 30.0 31.0 38.3 32.0 ban (%) kangkung di stasiun IV (Kelurahan 3 Intensitas Cahaya 5.392 3.052 7.842 6.521 4.781 3.082 3.071 4.213 3.514 4.328 Bakung), dan yang tertinggi Talang (Lux) terdapat pada lahan pertanaman sayuran (Data observasi dilahan pertanaman sawi di stasiun II (Kelurahan Lingkar sayuran pada kunjungan minggu ke-III) Selatan) yaitu berkisar 7.842 lux. Keterangan: Intensitas cahaya merupakan faktor SW = sawi yang mempengaruhi perkembangbiakan BY = bayam kutu daun. Semakin tinggi intensitas CB = cabai SD = selada cahaya tersebut, maka KG = kangkung perkembangbiakan kutu daun juga Stasiun I = Kelurahan Paal Merah semakin besar. Stasiun II = Kelurahan Lingkar Selatan 0 Stasiun III = Kelurahan Eka Jaya Stasiun IV = Kelurahan Talang Bakung Stasiun V = Kelurahan Payo Selincah Berdasarkan Tabel 3, peneliti memperoleh data parameter lingkungan dimana peneliti mengukur suhu di lahan pertanian tersebut menggunakan thermometer dan memperoleh suhu tertinggi berkisar 34,30C yaitu pada lahan pertanaman sayuran kangkung di stasiun IV (Kelurahan Talang Bakung), sedangkan suhu yang terendahnya berkisar 27.50C pada lahan pertanaman sayuran sawi di stasiun II (Kelurahan Lingkar Selatan). Semakin rendahnya suhu dilahan pertanaman sayuran, maka semakin pesat perkembangbiakan populasi suatu kutu daun. Peneliti juga mengukur kelembaban menggunakan hygrometer dimana kelembaban tertinggi terdapat pada stasiun II (Kelurahan Lingkar Selatan) pada sayuran sawi yaitu berkisar 72%. Dan yang terendah ada pada lahan pertanaman sawi di stasiun IV (Kelurahan Talang Bakung) yaitu berkisar 30% pada sayuran kangkung. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, kelimpahan hama kutu daun yang paling banyak yaitu pada stasiun II (pertanaman sayuran di Kelurahan Lingkar Selatan) dimana kelimpahan kutu daun yang berada pada sayuran sawi tersebut sebesar 1.66 m-2 dengan hama sebanyak 249 kutu daun. Hal ini terjadi dikarenakan pada saat penelitian, peneliti juga mengambil data lingkungan berupa suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya salah satunya distasiun II. Pada stasiun II diperoleh suhu sebesar 27,50C. Suhu ini termasuk suhu yang optimal untuk hama yang berada dipertanaman sayuran. Hal ini diperkuat dengan menurut pendapat pracaya (2001:17) mengatakan bahwa, temperature yang optimal untuk suatu hama yaitu antara 25-300C, sehingga semakin rendah suhu tersebut, maka populasi dari hama kutu daun juga semakin meningkat. Sedangkan untuk data kelembaban yang diperoleh peneliti di stasiun II ini Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 12 sebesar 72%. Kelembaban yang diperoleh ini termasuk kelembaban yang optimal untuk suatu hama. Hal ini sesuai dengan menurut pendapat Pracaya (2001:19) mengatakan bahwa, kelembaban udara yang cocok untuk suatu hama dilingkungan sekitar 60%80%, sehingga semakin tinggi tingkat kelembabannya, maka semakin banyak kelimpahan dari suatu hama kutu daun tersebut. Peneliti juga memperoleh data intensitas cahaya dimana pada stasiun II ini intesitas cahaya sebesar 7.842 lux. Intensitas cahaya ini termasuk intensitas yang optimal untuk suatu hama. Hal ini diperkuat dengan menurut pendapat Pertamawati (2010) mengatakan bahwa, rata-rata intensitas cahaya yang optimal berkisar 748-886 (x10) lux. Sehingga semakin tinggi suatu intensitas cahaya, maka perkembangbiakan kutu daun semakin besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelimpahan hama kutu daun yang paling banyak ditemukan yaitu berada pada stasiun II (pertanaman sayuran di Kelurahan Lingkar Selatan). Sedangkan kelimpahan hama kutu yang sedikit ditemukan oleh peneliti yaitu berada pada stasiun IV (pertanaman sayuran di Kelurahan Talang Bakung) dimana kelimpahan kutu daunnya sebesar 0,15 m-2 dengan hama sebanyak 31 kutu daun. Hal ini terjadi dikarenakan pada saat penelitian, peneliti juga mengambil data lingkungan berupa suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya salah satunya distasiun IV. Pada stasiun IV diperoleh suhu sebesar 34,30C. Suhu ini termasuk suhu yang tinggi dan tidak cocok untuk suatu hama. Karena semakin tinggi suhu lingkungan, maka populasi dari hama kutu daun semakin menurun. Sedangkan untuk data kelembaban yang diperoleh peneliti di stasiun IV ini sebesar 30%. Kelembaban yang diperoleh ini termasuk kelembaban rendah sehingga semakin rendah tingkat kelembaban lingkungan, maka semakin berkurang tingkat kelimpahan hama kutu daun tersebut. Peneliti juga memperoleh data intensitas cahaya dimana pada stasiun IV intensitas cahayanya sebesar 3.071 lux. Intensitas cahaya ini termasuk intensitas kurang optimal untuk suatu hama. Sehingga semakin rendah suatu intensitas cahaya, maka perkembangbiakan kutu daun semakin berkurang. Maka dapat disimpulkan bahwa kelimpahan hama kutu daun yang paling sedikit ditemukan yaitu berada pada stasiun IV (pertanaman sayuran di Kelurahan Talang Bakung). Jenis Tanaman Sayuran Paling Banyak Ditemukan Kutu Daun Pada waktu melakukan penelitian, peneliti menemukan hama kutu daun yang tertinggi yaitu pada stasiun II (Pertanaman Sayuran di Kelurahan Lingkar Selatan) dan stasiun V (Pertanaman Sayuran di Kelurahan Payo Selincah) dengan tanaman sayuran sawi yaitu kelimpahan kutu daun pada stasiun II sebesar 1.66 m-2 termasuk kategori tinggi dan jumlah kutu daun yang ditemukan sebanyak 249 kutu daun. Kemudian untuk stasiun V dengan tanaman sayuran sawi juga ditemukan kutu daun sebanyak 247 kutu daun dan kelimpahan kutu daun sebesar 1.6467 m-2 juga termasuk kategori tinggi. Hal ini sesuai pendapat Magurran (2004 : 30) yang mengatakan bahwa kelimpahan yang tinggi bila kelimpahan antara 0.7 m-2 sampai dengan 1 m-2. : Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 13 1,8 1,66 1,6 Kelimpahan Kutu Daun 1,6467 1,4 1,2 1 1,1513 1,065 0,9467 0,8 0,7867 0,66 0,6 0,4 0,31 0,24 0,2 0 Stasiun I Stasiun II 0,155 Stasiun III Stasiun IV Stasiun V Jenis Pertanaman Sayur di Stasiun I-V Sawi Bayam Cabai Kangkung Selada Gambar 3. Grafik Kelimpahan Kutu Daun (m-2) Keterangan : Stasiun I = Stasiun II = Stasiun III = Stasiun IV = Stasiun V = Kelurahan Paal Merah Kelurahan Lingkar Selatan Kelurahan Eka Jaya Kelurahan Talang Bakung Kelurahan Payo Selincah Hasil penelitian kelimpahan kutu daun di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi ini memiliki kelimpahan dengan jumlah 8.9833 m-2 total hama kutu daunnya atau sebanyak 1.412 kutu daun. Berdasarkan Gambar 4.7 pada grafik kelimpahan kutu daun diketahui bahwa tanaman sayuran sawi merupakan tanaman yang sangat disukai oleh kutu daun. Hal ini terlihat pada stasiun I (Kelurahan Paal Merah) tanaman sawi dimana ditemukan kelimpahan kutu daun sebesar 1.065 m2 dengan kategori tinggi dan tanaman bayam sebesar 0.31 m-2 dengan kategori rendah. Pada stasiun II (Kelurahan Lingkar Selatan) tanaman sawi ditemukan kelimpahan kutu daun sebesar 1.66 m-2 dengan kategori tinggi dan tanaman cabai sebesar 0.94675 m-2 dengan kategori tinggi, adapun juga distasiun III (Kelurahan Eka Jaya) ditemukan kelimpahan kutu daun sebesar 1.065 m-2 dengan kategori tinggi pada tanaman kangkung dan tanaman selada sebesar 0.7867 m-2 dengan kategori tinggi, kemudian di stasiun IV (Kelurahan Talang Bakung) tanaman kangkung ditemukan kelimpahan kutu daun sebesar 0.155m-2 dengan kategori rendah dan tanaman sawi ditemukan 1.5133 m-2 dengan kategori tinggi, di stasiun V (Kelurahan Payo Selincah) kelimpahan kutu daun tanaman selada sebesar 0.66 m-2 dengan katergori sedang dan tanaman sawi ditemukan kelimpahan kutu daun sebesar 1.6467 m-2 dengan kategori tinggi. Pada penelitian ini, sayuran sawi merupakan jenis sayuran yang sangat disukai oleh kutu daun. Hal ini dikarenakan xylem dan floem di tanaman sawi ini sangat besar untuk mengangkut hasil fotosintesis yang mengandung glukosa dan air, hal tersebut yang dapat menyebabkan kutu daun menghisap cairan floem pada sayuran sawi, dan membuat kutu daun menyukai sayuran sawi. Selain itu, jika jaringan floem besar seperti di tulang daun atau ranting, maka ukuran tubuh kutu daun juga akan ikut membesar, sebaliknya jika jaringan floem yang dihisap kecil seperti di lamina daun, maka ukuran tubuh kutu daun menjadi kecil. Hal tersebut diperkuat dengan menurut pendapat Irsan (2010:5) yang mengatakan bahwa, kutu daun menyukai sayuran sawi, dikarenakan sayuran ini lebih banyak mengandung cairan floem dari pada tanaman inang caisin yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh ukuran tubuh suatu spesies kutu daun dapat berbeda-beda karena kualitas cairan floem yang dihisap oleh kutu daun tersebut. Selain sayuran sawi, peneliti juga menemukan kelimpahan kutu daun yang cukup tinggi pada jenis sayuran salah satunya pada cabai. Kutu daun yang ditemukan pada cabai sebesar 142 kutu daun. Kutu daun menyukai cabai dikarenakan cabai mengandung air dan Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 14 hasil fotosintesis yang menghasilkan glukosa, serta tumbuhan ini memiliki bunga sebelum berbuah yang menghasilkan aroma harum bagi kutu daun, sehingga membuat hama kutu daun menyukai cabai. Selain itu, pada saat melakukan penelitian, lokasi pertanaman cabai tersebut sedang musim kemarau sehingga menyebabkan populasi hama kutu daun ini meningkat lebih banyak. Hal ini diperkuat dengan menurut pendapat Kori dkk. (2018:118) yang mengatakan bahwa, salah satu hama yang sering menimbulkan kerusakan pada tanaman cabai adalah kutu daun. Kelimpahan serangga kutu daun dipengaruhi oleh kemampuan bereproduksi dan didukung dengan kondisi lingkungan yang sesuai dan kebutuhan makanan yang cukup menyebabkan tingginya kelimpahan hama pada areal pertanaman cabai sehingga cabai merupakan jenis sayuran yang sangat disukai oleh hama kutu daun. Selain sawi dan cabai, peneliti pun juga meneliti jenis sayuran yang sering dijumpai oleh hama kutu daun yaitu seperti pada sayuran selada. Selada merupakan salah satu jenis sayuran yang disukai oleh hama kutu daun. seperti pada stasiun III (Kelurahan Eka Jaya) dimana sayuran selada ini terdapat kutu daun sebanyak 118 kutu daun dengan kelimpahannya 0.7867 m-2 dengan kategori tinggi. Pada stasiun V (Kelurahan Payo Selincah) sayuran selada juga ditemukan kutu daun sebanyak 99 kutu daun dengan kelimpahan 0.66 m-2 dengan kategori sedang. Selada merupakan tanaman yang banyak mengandung cairan dimana floem dan xylem mengangkut hasil fotosintensis yang menghasilkan rasa manis pada daun sehingga membuat kutu daun menyukai sayuran ini. Hal ini sesuai pendapat Magurran (2004 : 30) yang mengatakan bahwa kelimpahan kategori sedang bila kelimpahan antara 0.5 m-2 sampai dengan 0.6 m-2 Hal ini sesuai dengan menurut pendapat Kosmas (2012:34) mengatakan bahwa, hama yang paling mengganggu tanaman selada salah satunya dikarenakan adanya hama kutu daun. Warna daun hijau pada selada ini dipengaruhi oleh zat klorofil, sehingga membuat selada terlihat cerah dan membuat kutu daun menyukai sayuran selada. Peneliti menyimpulkan bahwa kutu daun menyukai tanaman sawi, cabai dan selada karena tanaman tersebut mengandung air dan hasil fotosintesis yang menghasilkan air dan rasa manis, dan tidak menyukai mangan (Mn) karena kutu daun berkembangbiak populasinya dengan cara menghisap cairan tanaman yang membuat nutrisi pada kutu daun untuk tumbuh dan berkembang. Jenis Tanaman Sayuran Sedikit Ditemukan Kutu Daun Peneliti menemukan kelimpahan kutu daun yang sedikit pada sayuran kangkung distasiun III (Kelurahan Eka Jaya) dengan -2 kelimpahannya sebesar 0.24 m dengan kategori rendah, dan pada stasiun IV (Kelurahan Talang Bakung) dengan tanaman kangkung juga, ditemukan kelimpahan kutu daun yang sedikit sebesar 0.155m-2 dengan kategori rendah. Sayuran kangkung merupakan jenis sayuran yang sedikit terdapat hama kutu daun dikarenakan ketika peneliti melakukan kegiatan survei ke pertanaman sayuran di stasiun III (Kelurahan Eka Jaya) ternyata petani tersebut telah melakukan penyemprotan insektisida sebelumnya sehingga kelimpahan hama kutu daun berkurang Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 15 pada sayuran kangkung tersebut. Tujuan petani melakukan penyemprotan tersebut dikarenakan hama yang menyerang ditanaman sayurannya telah banyak, sehingga petani memutuskan untuk mengambil tindakan yaitu dengan melakukan penyemprotan insektisida pada tanaman sayurannya. Selain itu, ketika melakukan penelitian, ternyata pada pertanaman sayuran distasiun IV (Kelurahan Talang Bakung) sayuran kangkung disana telah dipanen oleh petaninya pada minggu ke-5. Sehingga total hama kutu daun yang ditemukan sedikit/kurang efesien. Kondisi tersebut diperkuat menurut pendapat Mardiningsih, dkk (2010:181) mengatakan bahwa, perlakuan insektisida nabati mimba berbahan aktif azadiractin dan rerak berbahan aktif saponin berpengaruh terhadap penurunan populasi Aphis gossypii atau kutu daun. Selain itu, morfologi sayuran kangkung ini berongga dan berbuku, sehingga membuat kutu daun sulit mendapatkan nutrisi makanan dari tanaman ini. Hal tersebut sesuai dengan menurut pendapat Anjasmara (2018:135) mengatakan bahwa, kutu daun menyerang sayuran kangkung tidak begitu berat dikarenakan faktor morfologi tanamanan kangkung yang memiliki batang berongga dan daunnya yang kecil, sehingga kutu daun sulit mendapatkan nutrisi makanan dari tanaman. Tetapi disisi lain, kutu daun juga menyukai kangkung dikarenakan kutu daun adalah hama yang sangat senang menghisap cairan tanaman kangkung. Kutu daun ini bersembunyi di bawah permukaan daun/dibalik lengkungan daun tanaman kangkung lalu sambil menghisap cairan tanaman sehingga kutu daun ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman kangkung (Anjasmara, 2018:135). Selain sayuran kangkung, peneliti juga menjumpai jenis sayuran lain yang sedikit terdapat hama kutu daun seperti pada sayuran bayam. Pada stasiun I (Kelurahan Paal Merah) dengan tanaman bayam ditemukan kutu daun sebanyak 62 kutu daun dengan kelimpahan kutu daun 0.31 m-2 dengan kategori rendah. Hal ini dikarenakan pada saat peneliti mensurvei ke lahan pertanaman sayuran tersebut pada minggu ke-6 dimana sayuran bayam telah dipanen oleh petaninya sehingga total hama kutu daun yang ditemukan kurang efesien yang menyimpulkan bahwa sayuran tersebut terserang hama kutu daun sedikit pada sayuran bayam. Hal ini sesuai pendapat Magurran (2004 : 30) yang mengatakan bahwa kelimpahan yang rendah bila kelimpahan ≥ 0.4 m-2 Pendapat Rukmana (1994:1630) memperkuat pernyataan tentang bayam yang menyatakan bahwa, sayuran bayam kurang disukai oleh hama kutu daun. Hal ini dikarenakan pada suhu tinggi, sayuran bayam akan kekurangan mangan (Mn) yang akan membuat daun bayam bintik-bintik kuning pada daun dan tepi daun menjadi keriting, sedangkan kutu daun menyukai suhu rendah tetapi bayam menghasilkan mangan yang tinggi sehingga membuat kurang disukai oleh hama kutu daun dan mengakibatkan populasi kutu daun sedikit ditemui pada sayuran bayam. Peneliti menyimpulkan bahwa tanaman sayuran yang sedikit ditemukan kutu daun adalah kangkung dan bayam, dikarenakan struktur morfologi tanaman kangkung yang berongga dan berbuku serta tindakan petani yang melakukan semprot insektisida pada tanaman kangkung. Pada tanaman bayam sedikit ditemukan Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 16 kutu daun disebabkan minggu ke-6 survei peneliti ke lahan pertanaman sayuran, petani telah memanen sayuran tersebut. Analisis Data Kelimpahan Kutu Daun Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, peneliti telah memaparkan data yang dapat dilihat pada Tabel 4.12 dimana penemuan hama kutu daun yang banyak ditemukan rata-rata pada sayuran sawi, cabai dan selada. Kelimpahan kutu daun sayuran sawi sebesar 1.66 m-2 dengan kategori tinggi dan hama sebanyak 249 kutu daun yang terdapat pada stasiun II (Kelurahan Lingkar Selatan). Sayuran sawi merupakan sayuran yang banyak ditemukan hama kutu daun, hal ini dikarenakan pada saat melakukan penelitia ke lokasi pertanaman sayuran, kondisi lahannya terawat dan tanahnya subur. Hal ini diperkuat dengan menurut pendapat Bandini (1999: 26) mengatakan bahwa syaratnya tanah harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak mudah mengembang (becek) maka pertanaman sayuran tersebut menjadi tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain sayuran sawi, kelimpahan kutu daun yang banyak juga dijumpai pada cabai. kelimpahan kutu daun pada cabai ini berada di stasiun II (Kelurahan Lingkar Selatan) dengan kelimpahan kutu daunnya 0,95 m-2 dengan kategori tinggi dan hama sebanyak 142 kutu daun. cabai banyak ditemukan hama kutu daun, hal ini dikarenakan pada saat melakukan penelitia ke lokasi pertanaman sayuran, kondisi tanahnya subur dikarenakan tanahnya tanah lempung dengan keadaan yang lembab. Hal ini sesuai dengan menurut pendapat Zulkarnain (2016:58) mengatakan bahwa, cabai akan tumbuh baik bila ditanah lempung. Pada saat melakukan penelitian ke lahan tersebut, kondisi cuaca nya pada saat itu sedang musim kemarau sehingga banyak kutu daun yang berada pada cabai. Selain itu, kelimpahan dengan rata-rata kutu daun yang banyak ditemukan yaitu pada sayuran selada. Pada stasiun III (Kelurahan Eka Jaya) sayuran selada memiliki kelimpahan kutu daun sebesar 0,79 m-2 dengan kategori tinggi dengan hama 118 kutu daun. Sayuran selada ini merupakan salah satu sayuran yang banyak juga ditemukan hama kutu daun, hal ini dikarenakan pada saat melakukan penelitian ke lokasi pertanaman sayuran, kondisi lahan disana pas, yaitu pada musim kemarau. Dikarenakan kutu daun berkembangbiak pada saat kemarau sehingga menyebabkan meningkatnya kelimpahan kutu daun. Hal ini sesuai dengan pendapat Setiadi (2011:134), mengatakan serangan kutu daun biasanya terjadi pada awal musim kemarau, yaitu saat udara kering dan suhu tinggi. Oleh karena itu, kondisi lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan sayuran merupakan syarat utama keberhasilan usaha tani, disamping faktor sifat-sifat tanaman itu sendiri dan teknik budi daya yang diterapkan. Kondisi lingkungan setiap wilayah atau daerah berbeda-beda. Di daerah dengan kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan syarat tumbuhnya, tanaman akan menderita penyakit fisiologis sehingga pertumbuhan terhambat dan produktivitas rendah. Sehingga lokasi untuk usaha tani harus berada pada daerah yang memiliki kondisi lingkungan yang sesuai. Selain kondisi lingkungan dilahan pertanaman sayuran, populasi kutu daun dipengaruhi oleh jenis tanaman sayuran dilahan pertanaman sayuran yang berbeda-beda seperti sawi, selada, cabai, kangkung, dan Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 17 bayam. Sehingga morfologi setiap sayuran pun berbeda-beda juga contohnya sawi, cabai, selada dan bayam memiliki morfologi batang dan daunnya mengandung air dan glokasa dan struktur batangnya padat yang disukai kutu daun, sedangkan kangkung badang dan daun juga mengandung air dan glokosa tetapi struktur batang kangkung berongga dan berbuku sehingga kutu daun kurang menyukai kangkung. Kemudian faktor lain yang mempengaruhi kelimpahan kutu daun adalah tindakan petani dilahan pertanaman sayuran seperti menyemprot insektisida dan memanen tanaman sebelum peneliti selesai mengambil data sehingga kesimpulan peneliti kurang efisien. Implikasi Berdasarkan hasil penelitian dapat dipaparkan implikasi secara teoritis dan praktis sebagai berikut : 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan bahan ajar pada Mata Kuliah Entomologi untuk Mahasiswa Biologi. 2. Implikasi praktis, dapat digunakan sebagai bahan ajar bagi tenaga pendidik dalam praktik mengajar sekaligus sebagai acuan pelaksanaan bagi penelitian yang berkaitan dengan kutu daun. Serta juga sebagai informasi penting bagi para petani bahwa lahan pertanaman sayuran yang sedang digarapnya terserang serangga atau hama kutu daun yang dapat merugikan hasil panen sayuran dan diharapkan para petani dapat mengatasi populasi kutu daun di tanaman sayuran yang DAN mereka miliki. SIMPULAN, IMPLIKASI SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Pertanaman Sayuran Kecamatan Paal Merah Kota Jambi, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kelimpahan kutu daun yang diteliti peneliti pada pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi adalah dikhususkan pada spesies Aphis gossypii. Adapun pertanaman sayuran yang ditemukan peneliti paling banyak antara lain sawi, cabai dan selada. Dengan kelimpahan kutu daun sebesar 1.66 m-2 untuk sawi distasiun II, 0.9467 m-2 untuk cabai distasiun II, dan 0.7867 m-2 untuk selada distasiun III. 2. Kelimpahan kutu daun dipengaruhi oleh morfologi tanaman sayuran yang mengandung air dan hasil fotosintensis yang mengandung gula dan rasa manis sehingga disukai oleh kutu daun dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dilahan pertanaman sayuran itu sendiri. Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan saran secara teoritis dan praktis sebagai berikut : 1. Hasil penelitian ini sebagai salah satu bahan ajar pada mata kuliah Entomologi. 2. Hasil dari data penelitian terhadap kelimpahan hama kutu daun dapat dijadikan sebagai sumber informasi penting bagi para petani. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kutu daun yang merupakan serangga atau hama pada pertanaman sayuran di Kecamatan Paal Merah Kota Jambi. Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 18 Cahyono B. 2003. Teknik Budi Daya dan Analisa Usaha Tani Cabai Rawit. Yogyakarta : Kanisius. Anjasmara P. 2018. Jadi Kaya Hanya Modal 10 Juta. Yogyakarta : Campbell, NA. & Reece, JB.2010. Genesis. Biologi edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta : Erlangga. Bandini Y., dan Azis N., 1995. Bayam. DAFTAR RUJUKAN Jakarta : Penebar Swadaya. Christina. 1991. Hama Jakarta : Kanisius. Tanaman. Blackman RL, & Eastop VF. 2000. Endro, S. dan Andoko A. 2005. Aphids on the World’s Crop: an Bertanam sayuran Organik di Identification and Information Pekarangan.. Jakarta : Guide 2nd eds. The Natural Agromedia Pustaka. History Museum: London. Gonzalves, D. and Garnsey SM. 1989. Cross protection techniques for Blackman RL. & Eastop VF. 2006. control of plant virus diseases Aphids on the World’s intropic. Plant. Vol 6 (6) ISSN: Herbaceous Plants and Shrubs: 2278-3413. London. Blackman RL & Eastop VF. 2007. Handayani, F. 2018. Kelimpahan Jenis Trips (Thysanoptera) Pada Taxonomy issues. Printed and Pertanaman Sayuran di Bound in The UK by Cromwell Kecamatan Jambi Selatan Kota Press, Trowbridge: London. Jambi Sebagai Pengayaan Bahan Ajar Mata Kuliah BPS Kota Jambi, 2014. Kota Jambi Entomologi. Skripsi. FKIP Dalam Angka 2014. Jambi : Universitas Jambi. Badan Pusat Statistik Kota Jambi. Herlinda, Siti, Riyanto, Irsan, Chandra & Umayah, Abu. 2008. BPS Kota Jambi, 2016. Kota Jambi Perkembangan Populasi Aphi Dalam Angka 2016. Jambi : gossypii Glover (Homoptera : Badan Pusat Statistik Kota Aphididae) dan Kumbang Jambi. Lembing Pada Tanaman Cabai Merah dan Rawit di Inderalaya. BPS Kota Jambi. 2019. Kecamatan Jurnal Jurusan Hama dan Paal Merah Dalam Angka 2019. Penyakit Tumbuhan. Faperta, Jambi : Badan Pusat Statistik Organ Ilir (UNSRI) : Bogor. Kota Jambi. Vol. 11 (1) ISSN : 1411-7525. BPTP Lampung. 2012. Pengendalian C. 2008. Perbandingan Hama dan Penyakit Tanaman Irsan keanekaragaman Spesies dan Sayuran. Bandar Lampung. Kelimpahan Arthropoda Predator Penghuni Tanah di Sawah Lebak yang di Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 19 Aplikasikan dan Tanpa Aplikasi Martin, JH. 1987. An identification Insektisida. Jurnal Entomologi guide to common whitefly pest Indonesia. Vol.5 (2): 96-107. species of the world (Homopera: Aleyrodidae). Jumar. 2000. Etimologi Pertanian. Tropical pest Management Jakarta : PT. Rineka Cipta. Vol.33 (4) ISSN : 298-322. Kanginan, M. 2007. Fisika untuk SMA Martin, JH., Mifsud D. & Rapisarda C. 2. Jakarta : Erlangga. 2000. The whiteflies (Hemiptera : Aleyrodidae) of Europe and Kori A, Ketut A, Dwi W. 2018. the Mediterranean Basin Pengaruh Populasi Kutu Daun Bulletin of Entomological pada Tanaman Cabai Besar reseach. Vol.1 (9) ISSN : 407(Capsicum Annuum L.) 448. terhadap Hasil Panen. Bali: Universitas Udayana. Vol.7 (1) Meyer, E. 1996. Methods in Soil ISSN: 2301-6515. Biology. Springer Verla: Berlin. Kosmas, S. 2012. Budidaya Selada Miles MB. & Huberman MA. 1987. Keriting, Selada Lollo Rossa, Qualitative Data Analysis a Dan Selada Romaine Secara Sourcebook of New Methode. Aeroponik. Skripsi. Lembang Sage Publications: London. Bandung : IPB. Muis A, Haswanuddin A, Surapati U & Kusnaedi. 1997. Pengendalian Hama Fachruddin.1992. Intensitas Tanpa Pestisida. Jakarta : PT. Serangan Pstv dan Fluktuasi Penebar Swadaya. Populasi Aphis craccivora Serta Predatornya Pada Empat Waktu Magurran, AE. 2004. Measuring Tanam. Jurnal Agrikam. Vol.15 Biological Diversity. Blackwill (1). 17-23. Publishing, Maiden. Mulyana, D. dan Ceng A. 2010.7 Jenis Manoppo, S. 2012. Studi Pembuatan Kayu Penghasil Rupiah. Jakarta Crakers dengan Sukun Selatan : PT. Agromedia (Artocarpus communis) Pustaka. Pragelatinisasi. Skripsi. Program Pasca Sarjana. Universitas Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Hassanudin : Makassar. Suatu Pendekatan Biologis. PT Gramedia. Jakarta Mardiningsih, T. Sukmana, N. Tarigan, dan S. Suriati. 2010. Efektivitas Oktafiani, DW. 2018. Keanekaragaman Insektisida Nabati Berbahan Jenis Kumbang Lembing Aktif Azadirachtin Dan Saponin (Coleoptera: Coccinellidae) Terhadap Mortalitas Dan Pada Pertanaman Sayuran di Intensitas Serangan Aphis Kecamatan Paal Merah Kota Gossypii Glover. Vol. 21 (2) Jambi Untuk Pengayaan Materi ISSN : 171 – 183. Entomologi. Skripsi. FKIP Universitas Jambi. Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 20 Subiyakto S. 1991. Pengendalian Pertamawati. 2010. Pengaruh Serangga Hama Penyakit dan Fotosintesis Terhadap Gulma Padi. Jakarta : Kansius. Pertumbuhan Tanaman Kentang (Solanium tuberosum L.) dalam Subiyakto S. 1992. Pestisida Untuk Lingkungan Fotoautrotof Secara Tanaman. Yogyakarta : Invitro. Jurnal Sains dan Kanisius. Teknologi Indonesia. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Tanaman. Jakarta : Penebar Bandung : PT Alfabet. Swadaya. Suheiti E., Araz M., Dewi N., Kiki S. Pracaya. 2001. Hama dan Penyakit 2010. Laporan Akhir Prima Tanaman. Jakarta : Penebar Tani Lahan Kering Dataran Swadaya. Rendah Iklim Basah di Kelurahan Paal Merah Kota Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Jambi. Badan Penelitian dan Tanaman. Jakarta : Penebar Pengembangan Pertanian: Swadaya. Departemen Pertanian. Pracaya. 2011. Hama dan Penyakit Tarwotjo, S. 2009. Dasar-Dasar Gizi Tanaman. Jakarta : Penebar Kuliner. Grasindo: Jakarta Swadaya. Trisna. 2014. Pengaruh Penggunaan Pradhana, RA., Mudjiono, G., dan Jaring Berwarna Terhadap Karindah, S. 2014. Kelimpahan Serangga Aphis Keanekaragaman Serangga dan gossypii pada Tanaman Cabai Laba-laba pada Pertanaman Rawit (Capsicum frutescens L.). Padi Organik dan Fakultas Pertanian Universitas Konvensional. Vol.1(2) ISSN : Udayana. Vol.3 (4) ISSN: 23013238-4336. 6515. Rukmana, R. 1994. Bertanam, Tjahjadi, N. 1991. Hama dan Penyakit Pengolahan dan Pascapanen Tanaman. Kanisius : Bayam. Yogyakarta : Kanisius. Yogyakarta. Setiadi. 2011. Bertanam Cabai di Watson GW.2007. Identification of Lahan dan Pot. Jakarta : whiteflies (Hemiptera: Penebar Swadaya. Aleyrodidae). Kuala Lumpur: Institute of Biological Sciences, Subiyakto S. 1989.Tanaman University Malaya. Vol.7 (7) Perkebunan, Pengendali Hama ISSN: 2320-5407. dan Penyakit. Yogyakarta : Kanisius. Wiwin, F.2015. Peran Teknologi Dalam Meningkatkan Mutu Dan Daya Saing Produk Nasional Di Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 21 Pasar Internasional. Jakarta: UI.Vol.8 (11) ISSN: 17-23. WMO. 1988. Technical Regulations. General Meteorological Standards and Recommended Practices. Vol.1 (4) ISBN: 9263-18049. Zulkarnain, H. 2016. Budidaya Sayuran Tropis. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Ekaristy Rebecca (RRA1C416004) Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi 22