Uploaded by User60572

KESEIMBANGAN PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL DAN AGAMA DENGAN TUGAS PERKEMBANGAN ANAK

advertisement
KESEIMBANGAN PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL DAN AGAMA
BERSAMAAN DENGAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
SOSIOEMOSI ANAK USIA DINI
Aripan Nugraha Muhamad Ramdan
[email protected]
Abstrak
Manusia dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang dipanggil Ibu, berkembang sejak ia mulai
berada dalam alam rahim (kandungan) hingga sudah tak mampu mengingat banyak hal atau hingga
ia wafat. Begitu banyak hal yang sangat berbeda antara penjelasan konsep psikologi dan konsep
dalam agama (khususnya Islam). Walaupun demikian, ada banyak hal yang juga bisa
dikombinasikan dalam pengaplikasian dan implikasi di kehidupan. Artikel ini mengangkat
kajian-kajian teori singkat fase perkembangan, sosioemosi, dan moral keagamaan berdasarkan
konsep psikologi barat dan tuntunan agama, dengan bertujuan untuk menggali wawasan luas
terkait keseimbangan antara norma, agama, sosioemosi pada anak-anak.
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini fenomena negatif tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, hammpir
semua kalangan dari berbagai usia tersorot oleh media masa; cetak, pertelevisian, maupun,
radio, dll. Hal tersebut yang dilakukan oleh pelaku sangat mempengaruhi kehidupan orang lain,
bahkan merugikan lingkungan sekitarnya.
Dasar dan motif setiap individu pelaku pun berbeda-beda, hal ini bisa terjadi karena
banyak hal yang melatarbelakangi individu tersebut. Nilai-nilai moral, nilai keagamaan, serta
aspek perkembangan yang dilaluinya semenjak individu tersebut dalam kandungan, hingga
dewasa kini.
Nuraini, D. Z., dkk (2020: 3) menjelaskan bahwa dalam perkembangan sosial, anak
dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial dimana mereka berada.
Tututan sosial yang dimaksud adalah anak dapat bersosialisasi dengan baik sesuai dengan tahap
perkembangan dan usahanya, dan cenderung menjadi anak yang mudah bergaul.
Perilaku sosial inilah yang berhubungan langsung dengan orang lain sebagai
aktivitasnya, emosi sang anak sangat mempengaruhi perilaku sosial di lingkungannya,
begitupun dengan perkembangan emosi sang anak yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh
lingkungannya. Tidak setiap anak berhasil melewati perkembangan sosioemosional dengan
baik. Sebagai pendidikan sepatutnya memahami perkembangan sosioemosional anak sebagai
bekal dalam memberikan bimbingan terhadap anak agar mereka dapat mengembangkan
kemampuan sosial dan emosinya dengan baik.
Pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial inilah yang disebut
sebagai perkembangan sosial, hal ini juga diartikan sebagai proses belajar dalam penyesuaian
diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan nilai-nilai moral agama. Anak-anak ketika
dilahirkan kedunia, ia dalam keadaan yang lemah dan membutuhkan bantuan orang lain untuk
menjaga dan merawatnya sehingga ia tumbuh berkembang dan menjadi dewasa (Surana, D.
2001:48).
Salah satu hal penting dalam mempersiapkan perkembangan yang baik bisa dimulai
sejak usia dini. Fase perkembangan yang didasarkan sesuai dengan perkembangannya akan
sangat membantu keberhasilan fungsi dan tugas perkembangan itu sendiri bagi sang anak. Hal
inilah yang mendasari penulis untuk membuat artikel kajian/pembahasan tentang perlunya
keseimbangan dalam penanaman nilai-nilai moral dan nilai-nilai keagamaan bersamaan
dengan tugas-tugas perkembangan sosioemosi anak usia dini.
Pembahasan perkembangan dalam perspektif agama masih kurang terkemuka hingga
kini, beberapa peneliti bahkan mengungkapkan bahwa masih banyak yang menggunakan
referensi dari psikologi perkembangan barat yang menjadi kiblat utama/acuan pegangannya.
Walaupun tidak ada kesalahan dalam pengambilan referensi tersebut sebagai keilmuan, karena
jelas dan berada dalam koridor yang benar. Namun, hal ini masih cukup paradoks apabila dalam
konteks agama yang difokuskan dalam Islam, terlebih bahwa setiap agama, baik Islam maupun
agama lain memiliki pedoman tuntunannya sendiri.
Islam sendiri berpedoman kepada Al-Qur’an, Hadist, serta dilengkapi dengan
pemikiran-pemikiran dari para filsuf dan ilmuwan Islam lainnya. Tentunya dengan menggali
ilmu-ilmu, serta konsep sesuai agama akan cukup kompleks dan tidak menutup kemungkinan
untuk menemukan banyak ilmu pengetahuan dan wawasan yang bisa diseimbangkan dengan
keilmuwan saat ini. Maka dari itu penulis bermaksud untuk menyampaikan bahwa kita bisa
melaksanakan tugas perkembangan sosioemosi anak yang diimbangi dengan nilai-nilai
keagamaan, serta norma-norma kehidupan. Hal ini ditujukan untuk meminimalisir dan
menghindari perilaku-perilaku negatif yang melatarbelakangi fenomena negatif yang terjadi
saat-saat dewasa ini.
PEMBAHASAN
Penyesuaian Fase Perkembangan
Elizabeth B. Hurlock (1991:1) menjelaskan bahwa perkembangan berarti serangkaian
perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.
Eksistensi manusia pada dasarnya terjadi dalam proses perkembangan yang terus menerus.
Pentingnya perkembangan manusia akan membawa perubahan pada diri organisme dalam
pola-pola yang memungkinkan terjadinya fungsi-fungsi baru (Surana, D. 2001:48).
Seperti yang dijelaskan oleh Erik H. Erikson dalam salah satu teorinya yang ia
simpulkan bahwa perkembangan anak itu mengalami delapan tahap dan setiap tahapnya
menawarkan potensi kemajuan atau potensi kemunduran (Human Development;1978).
Fase/masa anak-anak awal ini juga berada pada fase pra-sekolah (preschool age) yaitu
Initiative vs. Guilt (Inisiatif vs. kesalahan). Menurut Erikson pada tahap ini anak mulai inisiatif
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menimbulkan rasa ingin tahu terhadap
segala hal yang dilihatnya dan berinisiatif mencari tahu.
Pembagian perkembangan manusia di dalam Psikologi Perkembangan itu sendiri telah
banyak dikemukakan oleh para ahli, Lester D. Crow dalam bukunya Human Development and
Learning juga menjelaskan bahwa ada tiga fase perkembangan yaitu childhood, maturity dan
adulthood. Childhood ialah masa anak sejak dalam kandungan, lahir, hingga anak sekolah,
maturity ialah proses kematangan anak hingga menjelang dewasa, sedangkan adulthood ialah
masa capaian kedewasaan, yakni pasca maturity.
Pentingnya masa perkembangan ini sangat berpengaruh terhadap masa dewasa sang
anak seperti yang dinyatakan oleh Jhon Locke, ia percaya bahwa pengalaman masa anak-anak
sangat menentukan karakteristik seseorang ketika dewasa. Locke menyarankan para orangtua
untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka dan membantu anak-anaknya menjadi
anggota masyarakat yang berguna (Santrock, Child, h. 7).
Tugas perkembangan anak yang sesuai dengan usianya akan sangat efektif bagi
penyelesaian tugas-tugas perkembangannya. Dalam Islam penyesuaian perkembangan juga
telah diumpamakan oleh Nabi Muhammad melalui sabdanya:
“Kami para Nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia sesuai
dengan tingkat kedudukan mereka dan berbicara sesuai dengan tingkat
kemampuan pemahaman mereka”
Dari pemaparan tersebut, memberi pelajaran bahwa terdapat urgensi dalam
menyesuaikan tugas-tugas perkembangan manusia sesuai fase perkembangannya. Begitu juga
agama Islam telah membagi fase-fase perkembangan manusia seperti yang dijelaskan oleh
Khusni (2018:365) bahwa Ahli fiqh, Abu Zahrah membagi fase perkembangan anak menjadi
empat fase, yaitu:
•
Ash-Shobiy atau At-Tifl (anak kecil)
•
Mumayyiz (mampu membedakan sesuatu)
•
Murahiq (menjelang usia baligh)
•
Baligh (mampu diberi beban hukum, bagi anak laki-laki ditandai dengan bermimpi
basah atau ihtilam sekitar usia 14 tahun, dan darah haid bagi perempuan sekitar
usia 11 tahun).
Khusni (2018:365) juga menjelaskan lebih lanjut bahwa seorang anak seharusnya sudah
dewasa pada usia 15 tahun. Di usia tersebut sang anak sudah bisa bertanggung jawab (taklif)
penuh atas dirinya dalam masalah ibadah, berperilaku (mu’amalah), berlaku adil (jinayat), dll
selambat-lambatnya pada usia 17 tahun bagi wanita dan 18 tahun bagi Iaki-laki. Ketika
menginjak usia 21 tahun, anak laki-laki juga seharusnya benar-benar sudah bisa lepas dari
orangtua tanpa mengurangi kedekatan dan perkhidmatan pada orangtuanya.
Arifin (1990:104) menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an pun memberikan batas-batas
perkembangan sekalipun tidak dengan secara tegas dan eksplisit. Hal ini karena adanya variasi
dan diferensiasi individual serta kekuasaan Tuhan yang sering ditampakkan dalam beberapa
individu dengan kelainan-kelainannya. Fase-fase tersebut diantaranya:
•
Fase Thufulah Awal/Kanak-kanak awal (0-7 tahun)
•
Fase pra Tamyiz/kanak-kanak (2-7 tahun)
•
Fase Thufulah Akhir/kanak-kanak akhir (7-14 tahun)
•
Fase Amrud Pemuda (14 Tahun keatas)
Penyesuaian Tugas Perkembangan Sosioemosi
Perkembangan anak usia dini, hingga anak-anak akhir ini cukup dalam, banyak aspek
yang berkembang seperti Fisik; motorik halus dan motorik kasar. Kognitif; mulai berpikir serta
daya ciptanya. Serta sosioemosi; sikap, perilaku, kebiasaan, moral.
Secara garis besar manusia sejak dalam kandungan hingga wafat mengalami
perkembangan, baik kemajuan maupun kemunduran. Perkembangan setiap individu juga
berbeda, walaupun di fase yang sama, namun kebutuhannya berbeda-beda. Seperti yang
dijelaskan Setiawati (2006:48) bahwa pada usia dini perkembangan masing-masing aspek
memiliki karakteistik khusus yang berbeda pada usia-usia tertentu. Pemberian stimulasi yang
sesuai dengan karakteristik perkembangan anak akan menjadikan berbagai aspek
perkembangan anak berkembang maksimal.
Moral selalu dikaitkan dengan kebiasaan, aturan, dan tatacara suatu kelompok tertentu.
Seperti aturan, norma, dan nilai-nilai keagamaan sebagai moral yang dipegang oleh masyarakat
setempat atau suatu kelompok. Perkembangan moral ini tetntu menjadi salah satu hal yang
penting dalam perkembangan anak, selain untuk membentengi dalam berperilaku sesuai
tuntutan sosial, juga sebagai penjagaan diri individu sang anak dalam mengendalikan dirinya.
Seperti yang telah dikemukankan oleh Hurlock (1991) dalam mendefinisikan perilaku
moral sebagai perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Maka itulah perilaku-
perilaku yang diharapkan, perilaku yang sesuai, dan perilaku kebiasaan masyarakat/kelompok
tersebut.
Jean Piaget menjelaskan tentang perkembangan moral yang hampir sama dengan
prinsip-prinsip perumbuhan kognitif dari teorinya tentang perkembangan intelektual. Piaget
juga menjelaskan bahwa pemikiran anak-anak tentang moralitas dapat dibedakan menjadi dua
tahap yaitu tahap heteronomous morality dan autonomous morality (Sieffert & Hoffnung,
1994).
Heteronomous Morality
Pada tahap ini perkembangan moral yang terjadi pada anak ialah anak-anak akan
mengikuti aturan, menghormati ketentuan-ketentuan dan tidak dapat diubah. Pada tahap ini
anak akan yakin dengan aturan, apabila dilanggar maka hukuman akan segera dikenakan.
Hukuman ini mereka percaya bahwa akan diasosiasikan secara otomatis dengan pelanggaran
yang dilakukan, baik kesalahan/pelanggaran itu disengaja ataupun tidak disengaja.
Autonomous Morality
Di tahap ini anak mulai sadar bahwa aturan dan hukuman merupakan ciptaan manusia,
dan paham bahwa penerapan hukuman harus dengan pertimbangan maksud pelaku/pelanggar
dan akibatnya. Anak mengembangkan penghormatan kepada teman sebayanya, karena merasa
bahwa aturan hanya masalah nyaman dan kontrak sosial yang disepakati bersama.
Kohlberg melanjutkan perluasan dari perkembangan moral Piaget, terdapat tiga
tingkatan dan terbagi menjadi enam tahap, yaitu: Pertama; Moralitas Prakonvensional anak
patuh pada aturan dari luar yang bertimbal balik (hadiah, hukuman, penghargaan). Kedua
Moralitas Konvensional yaitu anak dikendalikan agar menyesuaikan diri dengan peraturan
yang sudah ditetapkan/disepakati (ingin diterima teman sebayanya). Ketiga; Moralitas Pasca
Konvensional ialah sang anak sudah dikendalikan oleh prinsip-prinsip yang dipegangnya.
Seorang peneliti dalam jurnal ilmiahnya membahas pengajaran Adab Islami sebagai
salah satu komponen dalam pengajaran pendidikan Islam sebagai proses meningkatkan
peradaban manusia. Anggraini, A. R. (2018) menjelaskan bahwa seorang peneliti di Malaysia
melihat bahwa nilai-nilai adab dalam sistem pendidikan sudah dipupuk sejak lama dan terus
mengalami perubahan (penyesuaian). Secara langsung diterapkan dalam pendidikan Islam bagi
anak-anak muslim, dan pendidikan moral/nilai-nilai moral bagi non-muslim. Anggraini, A. R.
(2018) juga menambahkan komponen adab yang dikutip dari seorang peneliti Malaysia
tersebut dalam jurnalnya.
Komponen Adab dan Akhlak Islam
Bidang Pembelajaran
Sub-bidang Pembelajaran
Adab dalam Kehidupan • Adab menjaga fitrah lelaki dan perempuan
Sehari-hari
• Adab berteman
• Adab ketika musibah dan menerima nikmat
• Adab berjiran
• Adab menjaga diri dan maruah
• Adab berfikir
• Adab berhias diri
• Adab menjaga orang sakit
• Adab musafir
• Adab bernegara
• Adab dengan pemimpin
• Adab berjuang
Adab dalam Kehidupan • Adab terhadap muslim dan bukan muslim
Bersosial
• Adab menerima dan melayani tamu
• Adab bekerja
• Adab bercakap dalam mejelis
• Adab amar makruf dan nahi mungkar
• Adab di tempat rekreasi
• Adab menjaga kemudahan awam
• Adab ziarah jenazah
• Adab menjaga alam
• Adab memberi dan menerima sedekah
• Adab berjual beli
Adab dalam Menunaikan • Adab membaca Al-qur’an
Ibadah
• Adab di Mesjid atau Surau
• Adab berdoa
• Adab beribadah
Adab terhadap orang tua • Adab dengan orang tua
dan keluarga
• Adab bergaul dengan keluarga
• Adab berbakti dengan ibu bapak
Adab menuntut ilmu
• Adab menjaga harta sekolah
• Adab berguru
• Adab menuntut ilmu
• Adab berpidato
Adab terhadap Allah dan • Adab zikrullah
Rasul
• Adab menghormati Rasulullah SAW
Komponen-komponen tersebut sebagai rincian secara detail mengenai penerapan nilainilai keagamaan dalam beradab, beberapa komponen juga berkaitan dengan sosioemosi anak
dalam proses perkembangan secara psikologis, dan keduanya tentu saja dapat dikombinasikan
dengan seimbang secara kebutuhan secara psikologis dan keagamaan maupun nilai-nilai moral.
Seperti teori Piaget ataupun Kohlberg, dalam menerapkan dan mengenalkan tentang
nilai-nilai norma dan agama, Islam mengajarkan tatacara tertentu dalam berperilaku atau
istilahnya beradab seperti komponen di atas.
SIMPULAN
Cukup banyak hal yang sangat berbeda antara penjelasan konsep psikologi dan konsep
dalam agama (khususnya Islam). Walaupun demikian, hal tersebut tidak menutup
kemungkinan untuk mengkombinasikan dan menyesuaikan keduanya secara seimbang sesuai
kebutuhan dan tugas perkembangan anak tersebut di fase sosioemosinya.
Baik fase perkembangan secara psikologis maupun berdasarkan pada nila-nilai
keagamaan, keduanya memiliki tujuan-tujuan tertentu, seperti; orang tua yang mengharapkan
dikemudian hari bahwa anaknya akan menjadi generasi penerus mereka, bagi keluarga, bagi
agama, juga bagi Negerinya, serta memikirkan bahwa proses perkembangan tersebut akan
mempengaruhi sang anak difase dewasanya kelak.
REFERENSI
Adzim, F. M., (2005). Positive Parenting, Asyik Jadi Orang Tua
Bagi Para Ayah, 7.
Anggraini, A. R., (2018). Implementasi Penanaman Adab (Ta’dib) Pada Anak Usia
Dini Di Kuttab Darussalam Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dedi, S. (2001). Telaah Edukatif Terhadap Fase-fase Perkembangan Manusia
Perspektif Ajaran Islam. Vol. 1; 47-59.
Hidayat, O. S. (2014). Metode Pengembangan Moral
dan Nilai-nilai Agama.
Khusni, M. F. (2018). Fase Perkembangan Anak dan pola Pembinaannya Dalam
Perspektif Islam. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Vol. 2, No. 2.
Nuraini, D. Z., Guptasari, N., dkk. (2020). Perkembangan Sosioemosi Pada
Masa Awal Anak-anak.
Setiawati, F. A. (2006). Pendidikan Moral Dan Nilai-Nilai Agama Pada Anak Usia
Dini: Bukan Sekedar Rutinitas. Paradigma, 1(02).
Download
Random flashcards
hardi

0 Cards oauth2_google_0810629b-edb6-401f-b28c-674c45d34d87

Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

Nomor Rekening Asli Agen De Nature Indonesia

2 Cards denaturerumahsehat

Create flashcards