Uploaded by common.user59137

Laporan Pendahuluan Gagal Ginjal Akut dan Kronis

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
GAGAL GINJAL AKUT (GGK) / CRONIC KIDNEY DISEASE
Oleh :
NAMA
: Riefky Pratama BPP
NIM
: 21219061
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN 2020
PROGRAM PROFESI NERS
STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG
HEMODIALISA (PEMINATAN)
LAPORAN PENDAHULUAN
GGK (GAGAL GINJAL KRONIS)
A. KAJIAN TEORI
1. Definisi
Gagal ginjal kronik atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddarth, 2001).
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten
dan irreversible. Sedangkan gangguan
fungsi ginjal
yaitu penurunan laju filtrasi
glomerulus yang dapat digolongkan dalam kategori ringan, sedang dan berat (Mansjoer,
2017).
CRF (Chronic Renal Failure) merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif
dan irreversible, yang menyebabkan kemampuan tubuh gagal untuk mempetahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan maupun elektrolit, sehingga timbul gejala uremia
yaitu retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Smeltzer, 2001).
2. Klasifikasi
Cronic Kidney Disease (CKD). Pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan
cronoic renal failure (CRF), namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka
untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5
grade, dengan harapan klien datang/ merasa masih dalam stage – stage awal yaitu 1 dan
2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat (stage) menggunakan terminology
CCT (clearance creatinin test) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. sedangkan CRF
(cronic renal failure) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat
2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF.
a. Gagal ginjal kronik / Cronoic Renal Failure (CRF) dibagi 3 stadium :
1)
Stadium I : Penurunan cadangan ginjal

Kreatinin serum dan kadar BUN normal

Asimptomatik

Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR
2)
Stadium II : Insufisiensi ginjal

Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet)

Kadar kreatinin serum meningkat

Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan)

Ada 3 derajat insufisiensi ginjal:
a) Ringan
40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal
b) Sedang
15% - 40% fungsi ginjal normal
c) Kondisi berat
2% - 20% fungsi ginjal normal
3)
Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia

kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat

ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit

air kemih/ urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010
b. KDOQI (Kidney Disease
Outcome
Quality
Initiative)
merekomendasikan
pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG (Laju Filtrasi
Glomerolus) :
1) Stadium 1
: kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan
LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
2) Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60
-89 mL/menit/1,73 m2)
3) Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2)\
4) Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2)
5) Stadium 5
: kelainan ginjal dengan LFG < 15 mL/menit/1,73m2 atau gagal
ginjal terminal. (Mansjoer, 2017).
3. Etiologi
Menurut Sylvia Anderson (2006) klasifikasi penyebab gagal ginjal kronik adalah
sebagai berikut :
a.
Penyakit infeksi tubulointerstitial
Pielonefritis kronik atau refluks nefropati pielonefritis kronik adalah infeksi
pada ginjal itu sendiri, dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai
pada penderita batu. Gejala–gejala umum seperti demam, menggigil, nyeri
pinggang, dan disuria. Atau memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis
akut, tetapi juga menimbulkan hipertensi dan gagal ginjal (Elizabeth, 2000).
b.
Penyakit peradangan : Glomerulonefritis
Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak.
Peradangan akut glomerulus terjadi akibat peradangan komplek antigen dan
antibodi di kapiler – kapiler glomerulus. Komplek biasanya terbentuk 7 – 10 hari
setelah
infeksi
faring
atau
kulit
oleh
Streptococcus
(glomerulonefritis
pascastreptococcus ) tetapi dapat timbul setelah infeksi lain (Elizabeth, 2000).
Glomerulonefritis kronik adalah peradangan yang lama dari sel – sel
glomerulus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerulonefritis akut yang tidak
membaik atau timbul secara spontan. Glomerulonefritis kronik sering timbul
beberapa tahun setelah cidera dan peradangan glomerulus sub klinis yang disertai
oleh hematuria (darah dalam urin) dan proteinuria ( protein dalam urin ) ringan,
yang sering menjadi penyebab adalah diabetes mellitus dan hipertensi kronik. Hasil
akhir dari peradangan adalah pembentukan jaringan parut dan menurunnya fungsi
glomerulus. Pada pengidap diabetes yang mengalami hipertensi ringan, memiliki
prognosis fungsi ginjal jangka panjang yang kurang baik (Elizabeth, 2000).
c.
Penyakit vaskuler hipertensif : Nefrosklerosis benigna, Nefrosklerosis maligna,
Stenosis arteria renalis
Nefrosklerosis Benigna merupakan istilah untuk menyatakan berubah ginjal
yang berkaitan dengan skerosis pada arteriol ginjal dan arteri kecil.
Nefrosklerosis Maligna suatu keadaan yang berhubungan dengan tekanan
darah tinggi (hipertensi maligna), dimana arteri-arteri yang terkecil (arteriola) di
dalam ginjal mengalami kerusakan dan dengan segera terjadi gagal ginjal.
Stenosis arteri renalis (RAS) adalah penyempitan dari satu atau kedua
pembuluh darah (arteri ginjal) yang membawa darah ke ginjal. Ginjal membantu
untuk mengontrol tekanan darah. Renalis menyempit menyulitkan ginjal untuk
bekerja. RAS dapat menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu. Sering menyebabkan
tekanan darah tinggi dan kerusakan ginjal.
d.
Gangguan jaringan ikat : Lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,
sklerosis sistemik progresif
Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik (LES)
adalah penyakit radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya diduga
karena adanya perubahan sistem imun.
e.
Gangguan congenital dan herediter : Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus
ginjal
f.
Penyakit metabolic : Diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis
g.
Nefropati toksik : Penyalahgunaan analgesi, nefropati timah
h.
Nefropati obstruktif : Traktus urinarius bagian atas (batu/calculi, neoplasma,
fibrosis, retroperitineal), traktus urinarius bawah (hipertropi prostat, striktur uretra,
anomaly congenital leher vesika urinaria dan uretra).
4. Manifestasi klinis
Manifestasi klinik menurut Baughman (2000) dapat dilihat dari berbagai fungsi
sistem tubuh yaitu :
a. Manifestasi kardiovaskuler : hipertensi, pitting edema, edema periorbital, friction
rub pericardial, pembesaran vena leher, gagal jantung kongestif, perikarditis,
disritmia, kardiomiopati, efusi pericardial, temponade pericardial.
b. Gejala dermatologis/system integumen : gatal-gatal hebat (pruritus), warna kulit
abu-abu, mengkilat dan hiperpigmentasi, serangan uremik tidak umum karena
pengobatan dini dan agresif, kulit kering, bersisik, ecimosis, kuku tipis dan rapuh,
rambut tipis dan kasar, memar (purpura).
c. Gejala gastrointestinal : nafas berbau ammonia, ulserasi dan perdarahan pada mulut,
anoreksia, mual, muntah dan cegukan, penurunan aliran saliva, haus, rasa kecap
logam dalam mulut, kehilangan kemampuan penghidu dan pengecap, parotitis dan
stomatitis, peritonitis, konstipasi dan diare, perdarahan darisaluran gastrointestinal.
d. Perubahan
neuromuskular
:
perubahan
tingkat
kesadaran,
kacau
mental,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kedutan otot dan kejang.
e. Perubahan hematologis : kecenderungan perdarahan.
f. Keletihan dan letargik, sakit kepala, kelemahan umum.
g. Pasien secara bertahap akan lebih mengantuk; karakter pernafasan menjadi
Kussmaul ; dan terjadi koma dalam, sering dengan konvulsi (kedutan mioklonik)
atau kedutan otot
5. Komplikasi
Komplikasi penyakit gagal ginjal kronik menurut O’Callaghan (2006) yaitu:
a. Komplikasi Hematologis
Anemia pada penyakit ginjal kronik disebabkan oleh produksi eritropoietin yang
tidak adekuat oleh ginjal dan diobati dengan pemberian eritropoietin subkutan atau
intravena. Hal ini hanya bekerja bila kadar besi, folat, dan vitamin B12 adekuat dan
pasien dalam keadaan baik. Sangat jarang terjadi, antibodi dapat terbentuk melawan
eritropoietin yang diberikan sehingga terjadi anemia aplastik.
b. Penyakit vascular dan hipertensi
Penyakit vascular merupakan penyebab utama kematian pada gagal ginjal kronik.
Pada pasien yang tidak menyandang diabetes, hipertensi mungkin merupakan faktor
risiko yang paling penting. Sebagaian besar hipertensi pada penyakit ginjal kronik
disebabkan hipervolemia akibat retensi natrium dan air. Keadaan ini biasanya tidak
cukup parah untuk bisa menimbulkan edema, namun mungkin terdapat ritme
jantung tripel. Hipertensi seperti itu biasanya memberikan respons terhadap
restriksi natrium dan pengendalian volume tubuh melalui dialysis. Jika fungsi ginjal
memadai, pemberian furosemid dapat bermanfaat.
c. Dehidrasi
Hilangnya fungsi ginjal biasanya menyebabkan retensi natrium dan air akibat
hilangnya nefron. Namun beberapa pasien tetap mempertahankan sebagian filtrasi,
namun kehilangan fungsi tubulus, sehingga mengekskresi urin yang sangat encer,
yang dapat menyebabkan dehidrsi.
d. Kulit
Gatal merupakan keluhan keluhan kulit yang paling sering terjadi Keluhan ini
sering timbul pada hiperparatiroidime sekunder atau tersier serta dapat disebabkab
oleh deposit kalsium fosfat apda jaringan. Gatal dapat dikurangi dengan mengontrol
kadar fosfat dan dengan krim yang mencegah kulit kering. Bekuan uremik
merupakan presipitat kristal ureum pada kulit dan timbul hanya pada uremia berat.
Pigmentasi kulit dapat timbul dan anemia dapat menyebabkan pucat.
e. Gastrointestinal
Walaupun kadar gastrin meningkat, ulkus peptikum tidak lebih sering terjadi pada
pasien gagal ginjal kronik dibandingkan populasi normal. Namun gejala mual,
muntah, anoreksia, dan dada terbakar sering terjadi. Insidensi esofagitis serta
angiodisplasia lebih tinggi, keduanya dapat menyebabkan perdarahan. Insidensi
pankreatitis juga lebih tinggi. Gangguan pengecap dapat berkaitan dengan bau
napas yang menyerupai urin.
f. Endokrin
Pada pria, gagal ginjal kronik dapat menyebabkan kehilangan libido, impotensi, dan
penurunan jumlah serta motilitas sperma. Pada wanita, sering terjadi kehilangan
libido, berkurangnya ovulasi, dan infertilitas. Siklus hormon pertumbuhan yang
abnormal dapat turut berkontribusi dalam menyebabkan retardasi pertumbuhan
pada anak dan kehilangan massa otot pada orang dewasa.
g. Neurologis dan psikiatrik
Gagal ginjal yang
tidak
diobati dapat menyebabkan kelelahan,
kehilangan
kesadaran, dan bahkan koma, sering kali dengan tanda iritasi neurologis (mencakup
tremor, asteriksis, agitasi, meningismus, peningkatan tonus otot dengan mioklonus,
klonus pergelangan kaki, hiperefleksia, plantar ekstensor, dan yang paling berat
kejang). Aktifitas Na+/K+ ATPase terganggu pada uremia dan terjadi perubahan
yang tergantung hormon paratiroid (parathyroid hormone, PTH) pada transpor
kalsium membran yang dapat berkontribusi dalam menyebabkan neurotransmisi
yang abnormal. Gangguan tidur seringterjadi. Kaki yang tidak biasa diam (restless
leg) atau kram otot dapat juga terjadi dan kadang merespons terhadap pemberian
kuinin sulfat. Gangguan psikiatrik seperti depresi dan ansietas sering terjadi dan
terdapat peningkatan risiko bunuh diri.
h. Imunologis
Fungsi imunologis terganggu pada gagal ginjal kronik dan infeksi sering terjadi.
Uremia menekan fungsi sebagaian besar sel imun dan dialisis dapat mengaktivasi
efektor imun, seperti komplemen, dengan tidak tepat.
i. Lipid
Hiperlipidemia sering terjadi, terutama hipertrigliseridemia akibat penurunan
katabolisme trigliserida. Kadar lipid lebih tinggi pada pasien yang menjalani
dialisis peritoneal daripada pasien yang menjalani hemodialisis, mungkin akibat
hilangnya protein plasma regulator seperti apolipoprotein A-1 di sepanjang
membran peritoneal
j. Penyakit jantung
Perikarditis dapat terjadi dan lebih besar kemungkinan terjadinya jika kadar ureum
atau fosfat tinggi atau terdapat hiperparatiroidisme sekunder yang berat. Kelebihan
cairan dan hipertensi dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri atau
kardiomiopati dilatasi. Fistula dialisis arteriovena yang besara dapat menggunakan
proporsi curah jantung dalam jumlah besar sehingga mengurangi curah jantung
yang dapat digunakan oleh bagian tubuh yang tersisa
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk mengatasi penyakit gagal ginjal kronik menurut Corwin
(2001) adalah:
1) Pada penurunan cadangan ginjal dan insufisiensi ginjal, tujuan penatalaksanaan
adalah memperlambat kerusakan nefron lebih lanjut, terutama dengan restriksi
protein dan obat-obat antihipertensi.
2) Pada gagal ginjal, terapi ditujukan untuk mengoreksi ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit.
3) Pada penyakit ginjal stadium-akhir, terapi berupa dialisis atau transplantasi ginjal.
4) Pada semua stadium, pencegahan infeksi perlu dilakukan.
Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik menurut FKUI (2006) meliputi :
1) Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya
2) Pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid (comorbid condition)
3) Memperlambat pemburukan (progression) fungsi ginjal
4) Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular
5) Pencegahan dan terapi terhadap komplikasi
6) Terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal.
7. Patofisiologi
Pada awal perjalanannya, keseimbangan cairan, penanganan garam, dan penimbunan
zat-zat sisa masih bervariasi dan bergantung pada bagian ginjal yang sakit. Sampai
fungsi ginjal turun kurang dari 25% normal, manifestasi klinis gagal ginjal kronik
mungkin minimal karena nefron-nefron sisa yang sehat mengambil alih fungsi
nefron yang rusak. Nefron yang tersisa meningkat kecepatan filtrasi, reabsorpsi, dan
sekresinya serta mengalami hipertrofi. Seiring dengan makin banyaknya nefron yang
mati, maka nefron yang tersisa menghadapi tugas yang semkain berat, sehingga
nefron-nefron tersebut ikut rusak dan akhirnya mati. Sebagaian dari siklus kematian
ini tampaknya berkaitan dengan tuntutan pada nefron-nefron yang ada untuk
meningkatkan reabsorpsi protein. Seiring dengan penyusutan progresif nefronnefron, terjadi pembentukan jaringan parut dan aliran darah ginjal mungkin
berkurang (Elizabeth, 2001).
Meskipun penyakit ginjal terus berlanjut, namun jumlah zat terlarut yang harus
diekskresi oleh ginjal untuk mempertahankan homeostasis tidaklah berubah, kendati
jumlah nefron yang bertugas melakukan fungsi tersebut sudah menurun secara
progresif. Dua adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon terhadap
ancaman ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sisa nefron yang ada mengalami
hipertrofi dalam usahanya untuk melaksanakan seluruh beban kerja ginjal. Terjadi
peningkatan kecepatan filtrasi, beban zat terlarut dan reabsorpsi tubulus dalam setiap
nefron meskipun GFR untuk seluruh massa nefron yang terdapat dalam ginjal turun
di bawah nilai normal. Mekanisme adaptasi ini cukup berhasil dalam
mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi
ginjal yang sangat rendah. Namun akhirnya, kalau sekitar 75% massa nefron sudah
hancur, maka kecepatan filtrasi dan beban zat terlarut bagi setiap nefron demikian
tinggi
sehingga
keseimbangan
glomerulus-tubulus
(keseimbangan
antara
peningkatan filtrasi dan peningkatan reabsorpsi oleh tubulus tidak dapat lagi
dipertahankan. Fleksibilitas baik pada proses ekskresi maupun proses konservasi zat
terlarut dan air menjadi berkurang. Sedikit perubahan pada makanan dapat
mengubah keseimbangan yang rawan tersebut, karena makin rendah GFR (yang
berarti maikn sedikit nefron yang ada) semakin besar perubahan kecepatan ekskresi
per nefron. Hilangnya kemampuan memekatkan atau mengencerkan urine
menyebabkan berat jenis urine tetap pada nilai 1,010 atau 285 mOsm (yaitu sama
dengan plasma) dan merupakan penyebab gejala poliuria dan nokturia (Price, 2006).
8. Pathway
Infeksi
Vaskuler
Zat toksik
Arterio sklerosis
Reaksi antigen antibody
Obstruksi saluran kemih
Tertimbun ginjal
Retensi urine
Suplai darah ginjal turun
Refluks
hidronefrosis
Vaskulerisasi Ginjal
GFR turun
Peningkatan tekanan
iskemia
CKD
Gg. Fungsi renal
Penurunan fungsi eksresi ginjal
P
CES meningkat
Perub. warna
kulit
Gg. Integritas
kulit
kompresi
nekrosis
Sekresi kalium menurun
Sekresi eritropoitin turun
hiperkalemia
Produksi Hb turun
Gg. Penghantaran
oksihemoglobin turun
Retensi Na & H2O
Sindrom uremia
Pruritus
nefron
Tek. kapiler naik
-
Vol. interstisial naik
kelistrikan jantung
Edema
disritmia
HCO3
asidosis
Kelebihan
Intoleransi
Gg.
aktivitas
Perfusi
jaringan
Peningkatan preload
volume cairan
Mual, muntah
Peningkatan beban jantung
Hiperventilasi
Suplai O2
Resiko gangguan
Perub. Pola nafas
Penurunan COP
Edema paru
jaringan
turun
nutrisi
Gg. Pertukaran
gas
Intoleransi
Syncope
(kehilangan
31
kesadaran)
Suplai O2 ke
otak turun
Anaerob
Nyeri sendi
aktivitas
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Fokus Pengkajian
Pengkajian focus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita gagal ginjal
kronik menurut Doeges (2000), dan Smeltzer dan Bare (2002) ada berbagai macam,
meliputi :
a. Demografi
Lingkungan yang tercemar, sumber air tinggi kalsium beresiko untuk gagal ginjal
kronik, kebanyakan menyerang umur 20-50 tahun, jenis kelamin lebih banyak
perempuan, kebanyakan ras kulit hitam.
b. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat infeksi saluran kemih, penyakit peradangan, vaskuler hipertensif, gangguan
saluran penyambung, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik,
nefropati toksik dan neropati obstruktif
c. Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit vaskuler hipertensif, penyakit metabolik, riwayat menderita
penyakit gagal ginjal kronik.
d. Pola kesehatan fungsional
1) Pemeliharaan kesehatan
Personal hygiene kurang, konsumsi toxik, konsumsi makanan tinggi kalsium,
purin, oksalat, fosfat, protein, kebiasaan minum suplemen, kontrol tekanan
darah dan gula darah tidak teratur pada penderita tekanan darah tinggi dan
diabetes mellitus.
2) Pola nutrisi dan metabolic
Perlu dikaji adanya mual, muntah, anoreksia, intake cairan inadekuat,
peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat badan (malnutrisi),
nyeri ulu hati, rasa metalik tidak sedap pada mulut (pernafasan amonia),
penggunanan diuretic, demam karena sepsis dan dehidrasi.
3) Pola eliminasi
Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap lanjut), abdomen
kembung, diare konstipasi, perubahan warna urin.
4) Pola aktivitas dan latihan
Kelemahan ekstrim, kelemahan, malaise, keterbatsan gerak sendi.
5) Pola istirahat dan tidur
Gangguan tidur (insomnia/gelisah atau somnolen)
6) Pola persepsi sensori dan kognitif
Rasa panas pada telapak kaki, perubahan tingkah laku, kedutan otot,
perubahan tingkat kesadaran, nyeri panggul, sakit kepala, kram/nyeri kaki
(memburuk pada malam hari), perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah,
penglihatan kabur, kejang, sindrom “kaki gelisah”, rasa kebas pada telapak
kaki, kelemahan khusussnya ekstremitas bawah (neuropati perifer), gangguan
status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan
berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau.
7) Persepsi diri dan konsep diri\
Perasaan tidak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan, menolak, ansietas,
takut,
marah,
mudah
terangsang,
perubahan
kepribadian,
kesulitan
menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi
peran.
8) Pola reproduksi dan seksual
Penurunan libido, amenorea, infertilitas, impotensi dan atropi testikuler.
e. Pengkajian Fisik
1) Keluhan umum : lemas, nyeri pinggang.
2) Tingkat kesadaran komposmentis sampai koma.
3) Pengukuran antropometri : beratbadan menurun, lingkar lengan atas (LILA)
menur
4) Tanda vital : tekanan darah meningkat, suhu meningkat, nadi lemah,
disritmia, pernapasan kusmaul, tidak teratur.
5) Kepala
a) Mata: konjungtiva anemis, mata merah, berair, penglihatan kabur,
edema periorbital.
b) Rambut: rambut mudah rontok, tipis dan kasar.
c) Hidung : pernapasan cuping hidung
d) Mulut : ulserasi dan perdarahan, nafas berbau ammonia, mual,muntah
serta cegukan, peradangan gusi.
6) Leher : pembesaran vena leher.
7) Dada dab toraks : penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan dangkal dan
kusmaul serta krekels, nafas dangkal, pneumonitis, edema pulmoner, friction
rub pericardial.
8) Abdomen : nyeri area pinggang, asites.
9) Genital : atropi testikuler, amenore.
10) Ekstremitas : capirally refill time > 3 detik,kuku rapuh dan kusam serta tipis,
kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, foot drop, kekuatan
otot.
11) Kulit : ecimosis, kulit kering, bersisik, warnakulit abu-abu, mengkilat atau
hiperpigmentasi, gatal (pruritas), kuku tipis dan rapuh, memar (purpura),
edema.
f. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada gagal ginjal kronik menurut Doenges (2000) adalah :
1) Urine
a) Volume, biasnya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tidak ada
(anuria).
b) Warna, secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus,
bakteri, lemak, pertikel koloid, fosfat atau urat.
c) Berat jenis urine, kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan
kerusakan ginjal berat)
d) Klirens kreatinin, mungkin menurun
e) Natrium, lebih besar dari 40 meq/L karena ginjal tidak mampu
mereabsobsi natrium.
f) Protein, derajat tinggi proteinuria (3-4 +) secara kuat menunjukkan
kerusakan glomerulus.
2) Darah
a) Hitung darah lengkap, Hb menurun pada adaya anemia, Hb biasanya
kurang dari 7-8 gr
b) Sel darah merah, menurun pada defesien eritropoetin seperti azotemia.
c) GDA, pH menurun, asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena
kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksresi hydrogen dan amonia
atau hasil akhir katabolisme prtein, bikarbonat menurun, PaCO2 menurun.
d) Kalium, peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai perpindahan
seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan)
e) Magnesium fosfat meningkat
f) Kalsium menurun
g) Protein (khusus albumin), kadar serum menurun dapat menunjukkan
kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan, penurunan
pemasukan atau sintesa karena kurang asam amino esensial.
h) Osmolaritas serum: lebih beasr dari 285 mOsm/kg, sering sama dengan
urin.
3) Pemeriksaan radiologik
a) Foto ginjal, ureter dan kandung kemih (kidney, ureter dan bladder/KUB):
menunjukkan ukuran ginjal, ureter, kandung kemih, dan adanya obstruksi
(batu).
b) Pielogram
ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskuler, masa
c) Sistouretrogram berkemih; menunjukkan ukuran kandung kemih, refluks
kedalam ureter dan retensi.
d) Ultrasonografi ginjal: menentukan ukuran ginjal dan adanya masa, kista,
obstruksi pada saluran perkemuhan bagian atas
e) Biopsy ginjal: mungkin dilakukan secara endoskopik, untuk menentukan
seljaringan untuk diagnosis hostologis.
f) Endoskopi ginjal dan nefroskopi: dilakukan untuk menentukan pelis ginjal
(keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif).
g) Elektrokardiografi
(EKG):
mungkin
abnormal
menunjukkan
ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.
h) Fotokaki, tengkorak, kolumna spinal dan tangan, dapat menunjukkan
demineralisasi, kalsifikasi.
i) Pielogram intravena (IVP), menunjukkan keberadaan dan posisi ginjal,
ukuran dan bentuk ginjal.
j) CT scan untuk mendeteksi massa retroperitoneal (seperti penyebararn
tumor).
k) Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendeteksi struktur ginjal,
luasnya lesi invasif ginjal.
2. Masalah keperawatan
1) Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran kapiler-alveolar
2) Penurunan cardiac output b.d perubahan preload, afterload dan sepsis
3) Pola nafas tidak efektif b.d edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis,
perikarditis
4) Kelebihan volume cairan b.d mekanisme pengaturan melemah
5) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan yang
inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).
6) Intoleransi aktivitas b.d keletihan/kelemahan, anemia, retensi produk sampah dan
prosedur dialysis.
9. Pathway
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1
Gangguan
pertukaran
gas
TUJUAN
b/d NOC :
INTERVENSI
NIC :
kongesti paru, hipertensi pulmonal,

Respiratory Status : Gas exchange
Airway Management
penurunan
yang

Respiratory Status : ventilation
1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau
mengakibatkan asidosis laktat dan

Vital Sign Status
perifer
penurunan curah jantung.
Definisi : Kelebihan atau kekurangan
dalam
oksigenasi
dan
membran kapiler alveoli
Kriteria Hasil :
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
1. Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi
3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
dan oksigenasi yang adekuat
atau 2. Memelihara kebersihan paru paru dan bebas
pengeluaran karbondioksida di dalam
jaw thrust bila perlu
dari tanda tanda distress pernafasan
3. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara
nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
nafas buatan
4. Pasang mayo bila perlu
5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
Batasan karakteristik :
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum,
-
Gangguan penglihatan
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada
8. Lakukan suction pada mayo
-
Penurunan CO2
pursed lips)
9. Berika bronkodilator bial perlu
-
Takikardi
-
Hiperkapnia
-
Keletihan
-
somnolen
-
Iritabilitas
-
Hypoxia
Respiratory Monitoring
-
kebingungan
1. Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha
-
Dyspnoe
-
nasal faring
4. Tanda tanda vital dalam rentang normal
tambahan
10. Barikan pelembab udara
11. Atur
intake
untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan status O2
respirasi
2. Catat
pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
-
AGD Normal
penggunaan
-
sianosis
supraclavicular dan intercostal
-
warna kulit abnormal (pucat,
kehitaman)
otot
tambahan,
retraksi
otot
3. Monitor suara nafas, seperti dengkur
4. Monitor pola nafas : bradipena, takipenia,
-
Hipoksemia
kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
-
hiperkarbia
5. Catat lokasi trakea
-
sakit kepala ketika bangun
6. Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan
-
frekuensi
dan
kedalaman
nafas abnormal
7. Auskultasi suara nafas, catat area penurunan /
Faktor faktor yang berhubungan :
-
ketidakseimbangan
paradoksis )
perfusi
tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
8. Tentukan
kebutuhan
suction
dengan
ventilasi
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan
perubahan membran kapiler-alveolar
napas utama
9. Uskultasi suara paru setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya
AcidBase Managemen
1. Monitro IV line
2. Pertahankanjalan nafas paten
3. Monitor AGD, tingkat elektrolit
4. Monitor status hemodinamik(CVP, MAP, PAP)
5. Monitor adanya tanda tanda gagal nafas
6. Monitor pola respirasi
7. Lakukan terapi oksigen
8. Monitor status neurologi
9. Tingkatkan oral hygiene
2
Penurunan curah jantung b/d respon NOC :
NIC :
fisiologis otot jantung, peningkatan 
Cardiac Pump effectiveness
Cardiac Care
frekuensi, dilatasi, hipertrofi atau 
Circulation Status
peningkatan isi sekuncup

Vital Sign Status
1. Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi,
durasi)
Kriteria Hasil:
2. Catat adanya disritmia jantung
1. Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan
3. Catat adanya tanda dan gejala penurunan
darah, Nadi, respirasi)
2. Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada
kelelahan
3. Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada
asites
4. Tidak ada penurunan kesadaran
cardiac putput
4. Monitor status kardiovaskuler
5. Monitor status pernafasan yang menandakan
gagal jantung
6. Monitor abdomen sebagai indicator penurunan
perfusi
7. Monitor balance cairan
8. Monitor adanya perubahan tekanan darah
9. Monitor
respon
pasien
terhadap
efek
pengobatan antiaritmia
10. Atur periode latihan dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
11. Monitor toleransi aktivitas pasien
12. Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan
ortopneu
13. Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Auskultasi
TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor adanya pulsus paradoksus
8. Monitor adanya pulsus alterans
9. Monitor jumlah dan irama jantung
10. Monitor bunyi jantung
11. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
12. Monitor suara paru
13. Monitor pola pernapasan abnormal
14. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
15. Monitor sianosis perifer
16. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
17. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
3
Pola Nafas tidak efektif
NOC :

Definisi : Pertukaran udara inspirasi 
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Fluid management
1. Pertahankan catatan intake dan output yang
akurat
dan/atau ekspirasi tidak adekuat

Vital sign Status
Kriteria Hasil :
Batasan karakteristik :
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara
- Penurunan
tekanan
nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
2. Pasang urin kateter jika diperlukan
3. Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi
cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin )
4. Monitor status hemodinamik termasuk CVP,
inspirasi/ekspirasi
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum,
- Penurunan pertukaran udara per
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada
5. Monitor vital sign
menit
pursed lips)
6. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan
- Menggunakan
otot
pernafasan 2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien
MAP, PAP, dan PCWP
(cracles, CVP , edema, distensi vena leher,
tambahan
tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
- Nasal flaring
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada
7. Kaji lokasi dan luas edema
- Dyspnea
suara nafas abnormal)
8. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung
- Orthopnea
3. Tanda Tanda vital dalam rentang normal
- Perubahan penyimpangan dada
(tekanan darah, nadi, pernafasan)
asites)
intake kalori harian
9. Monitor status nutrisi
- Nafas pendek
10. Berikan diuretik sesuai interuksi
- Assumption of 3-point position
11. Batasi
- Pernafasan pursed-lip
- Tahap
ekspirasi
masukan
cairan
pada
keadaan
hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130
berlangsung
sangat lama
- Peningkatan diameter anteriorposterior
- Pernafasan rata-rata/minimal
mEq/l
12. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih
muncul memburuk
Fluid Monitoring
1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan

Bayi : < 25 atau > 60

Usia 1-4 : < 20 atau > 30

Usia 5-14 : < 14 atau > 25
ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi

Usia > 14 : < 11 atau > 24
diuretik,
dan eliminaSi
2. Tentukan kemungkinan faktor resiko dari
kelainan
renal,
gagal
jantung,


Kedalaman
diaporesis, disfungsi hati, dll )
pernafasan
3. Monitor serum dan elektrolit urine
Dewasa volume tidalnya 500
4. Monitor serum dan osmilalitas urine
ml saat istirahat
5. Monitor BP, HR, dan RR
Bayi volume tidalnya 6-8
6. Monitor
tekanan
darah
orthostatik
dan
perubahan irama jantung
ml/Kg
- Timing rasio
7. Monitor parameter hemodinamik infasif
- Penurunan kapasitas vital
8. Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem
perifer dan penambahan BB
9. Monitor tanda dan gejala dari odema
Faktor yang berhubungan :
- Hiperventilasi
- Deformitas tulang
- Kelainan bentuk dinding dada
- Penurunan energi/kelelahan
- Perusakan/pelemahan
muskulo-
skeletal
- Obesitas
- Posisi tubuh
- Kelelahan otot pernafasan
- Hipoventilasi sindrom
- Nyeri
- Kecemasan
- Disfungsi Neuromuskuler
- Kerusakan persepsi/kognitif
- Perlukaan pada jaringan syaraf
tulang belakang
4
Imaturitas Neurologis
Kelebihan
volume
cairan
b/d NOC :
NIC :
berkurangnya curah jantung, retensi

Electrolit and acid base balance
cairan dan natrium oleh ginjal,

Fluid balance
Fluid management
1. Timbang popok/pembalut jika diperlukan
hipoperfusi ke jaringan perifer dan
hipertensi pulmonal
2. Pertahankan catatan intake dan output yang
akurat
Kriteria Hasil:
3. Pasang urin kateter jika diperlukan
1. Terbebas dari edema, efusi, anaskara
Definisi : Retensi cairan isotomik
meningkat
Berat badan meningkat pada
tidak
ada
Asupan berlebihan dibanding
tekanan
darah
berubah,
tekanan arteri pulmonalis berubah,
peningkatan CVP
vena
sentral,
tekanan kapiler paru, output jantung dan
Distensi vena jugularis
-
Perubahan pada pola nafas,
dyspnoe/sesak
5. Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau
kebingungan
6. Menjelaskanindikator kelebihan cairan
-
nafas,
orthopnoe,
suara nafas abnormal (Rales atau
5. Monitor status hemodinamik termasuk CVP,
MAP, PAP, dan PCWP
vital sign dalam batas normal
Tekanan
4. Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi
cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin )
reflek hepatojugular (+)
4. Memelihara
output
-
bersih,
3. Terbebas dari distensi vena jugularis,
waktu yang singkat
-
nafas
dyspneu/ortopneu
Batasan karakteristik :
-
2. Bunyi
6. Monitor vital sign
7. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan
(cracles, CVP , edema, distensi vena leher,
asites)
8. Kaji lokasi dan luas edema
9. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung
intake kalori harian
10. Monitor status nutrisi
11. Berikan diuretik sesuai interuksi
12. Batasi
masukan
cairan
pada
keadaan
crakles), kongestikemacetan paru,
hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130
pleural effusion
mEq/l
-
Hb dan hematokrit menurun,
13. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih
perubahan
elektrolit,
khususnya
muncul memburuk
perubahan berat jenis
-
Suara jantung SIII
Fluid Monitoring
-
Reflek hepatojugular positif
-
Oliguria, azotemia
-
Perubahan
1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan
dan eliminaSi
status
mental,
2. Tentukan kemungkinan faktor resiko dari
kegelisahan, kecemasan
ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi
diuretik,
Faktor-faktor yang berhubungan :
-
Mekanisme
kelainan
renal,
gagal
jantung,
diaporesis, disfungsi hati, dll )
pengaturan
3. Monitor berat badan
melemah
4. Monitor serum dan elektrolit urine
-
Asupan cairan berlebihan
5. Monitor serum dan osmilalitas urine
-
Asupan natrium berlebihan
6. Monitor BP, HR, dan RR
7. Monitor
tekanan
darah
orthostatik
dan
perubahan irama jantung
8. Monitor parameter hemodinamik infasif
9. Catat secara akutar intake dan output
10. Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem
perifer dan penambahan BB
11. Monitor tanda dan gejala dari odema
5
Ketidakseimbangan nutrisi kurang NOC :
dari kebutuhan tubuh

NIC :
Nutritional Status : food and Fluid Intake Nutrition Management
Kriteria Hasil :
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup
1. Adanya peningkatan berat badan sesuai
1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
untuk keperluan metabolisme tubuh.
dengan tujuan
jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi
Batasan karakteristik :
badan
- Berat badan 20 % atau lebih di
bawah ideal
adanya
intake
makanan yang kurang dari RDA
(Recomended Daily Allowance)
- Membran
mengidentifikasi
kebutuhan
mukosa
dan
dan vitamin C
5. Berikan substansi gula
5. Tidak terjadi penurunan berat badan
6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
tinggi serat untuk mencegah konstipasi
7. Berikan
makanan
yang
terpilih
(sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
- Kelemahan otot yang digunakan
untuk menelan/mengunyah
inflamasi
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein
4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
yang berarti
konjungtiva pucat
Luka,
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
nutrisi
- Dilaporkan
-
3. Mampu
pasien.
8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
makanan harian.
pada
rongga
9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
mulut
10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
- Mudah merasa kenyang, sesaat
11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan
setelah mengunyah makanan
nutrisi yang dibutuhkan
- Dilaporkan atau fakta adanya
kekurangan makanan
- Dilaporkan
adanya
Nutrition Monitoring
perubahan
1. BB pasien dalam batas normal
sensasi rasa
2. Monitor adanya penurunan berat badan
- Perasaan ketidakmampuan untuk
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
mengunyah makanan
- Miskonsepsi
- Kehilangan BB dengan makanan
cukup
dilakukan
4. Monitor interaksi anak atau orangtua selama
makan
5. Monitor lingkungan selama makan
- Keengganan untuk makan
6. Jadwalkan pengobatan
- Kram pada abdomen
dan tindakan tidak
selama jam makan
- Tonus otot jelek
7. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Nyeri abdominal dengan atau
8. Monitor turgor kulit
tanpa patologi
9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan
- Kurang
berminat
terhadap
mudah patah
makanan
10. Monitor mual dan muntah
- Pembuluh darah kapiler mulai
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan
rapuh
kadar Ht
- Diare dan atau steatorrhea
12. Monitor makanan kesukaan
- Kehilangan rambut yang cukup
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
banyak (rontok)
14. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya
jaringan konjungtiva
informasi,
misinformasi
15. Monitor kalori dan intake nuntrisi
16. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas oral.
Faktor-faktor yang berhubungan :
17. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
Ketidakmampuan pemasukan atau
mencerna
mengabsorpsi
makanan
zat-zat
atau
gizi
berhubungan dengan faktor biologis,
psikologis atau ekonomi.
6
Intoleransi
jantung
aktivitas
b/d
NIC :
rendah,

Energy conservation
memenuhi

Self Care : ADLs
yang
ketidakmampuan
curah NOC :
metabolisme otot rangka, kongesti Kriteria Hasil :
pulmonal
yang
menimbulkan
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa
hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi
disertai peningkatan tekanan darah, nadi
yang buruk selama sakit
dan RR
2. Mampu melakukan aktivitas sehari hari
Intoleransi aktivitas b/d fatigue
(ADLs) secara mandiri
Definisi : Ketidakcukupan energu
secara fisiologis maupun psikologis
untuk
meneruskan
atau
menyelesaikan aktifitas yang diminta
atau aktifitas sehari hari.
Energy Management
1. Observasi adanya pembatasan klien dalam
melakukan aktivitas
2. Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan
terhadap keterbatasan
3. Kaji
adanya
factor
yang
menyebabkan
kelelahan
4. Monitor
nutrisi
dan
sumber
energi
tangadekuat
5. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik
dan emosi secara berlebihan
6. Monitor
respon
kardivaskuler
terhadap
aktivitas
7. SMonitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat
Batasan karakteristik :
a.
melaporkan
secara
pasien
verbal
adanya kelelahan atau kelemahan.
b.
Respon abnormal dari tekanan
Activity Therapy
1. Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi
darah atau nadi terhadap aktifitas
Medik dalammerencanakan progran terapi
c.
yang tepat.
Perubahan
EKG
yang
menunjukkan aritmia atau iskemia
d.
Adanya
dyspneu
atau
ketidaknyamanan saat beraktivitas.
2. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
3. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten
yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi
Faktor factor yang berhubungan :

Tirah Baring atau imobilisasi

Kelemahan menyeluruh

Ketidakseimbangan
suplei
oksigen
Gaya
4. Bantu
untuk
mengidentifikasi
dan
mendapatkan sumber yang diperlukan untuk
antara
dengan
aktivitas yang diinginkan
5. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek
kebutuhan

dan social
hidup
diperathankan.
yang
6. Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang
disukai
7. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan
diwaktu luang
8. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas
9. Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas
10. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
11. Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta:
EGC
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa keperawatan dan
masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Kasuari. 2002. Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan
Pendekatan Patofisiology. Magelang. Poltekes Semarang PSIK Magelang
Mansjoer, A dkk. 2017. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Nanda. 2005. Nursing Diagnoses Definition dan Classification. Philadelpia
Rab, T. 2008. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT Alumni
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Udjianti, WJ. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika
Download