Uploaded by common.user59022

Laporan Pembesaran Ikan Lele Clarias sp.

advertisement
LAPORAN
PEMBESARAN IKAN LELE Clarias sp.
Kelompok V B
Olyander Lea C24150088
Asisten Praktikum:
1.
2.
3.
4.
Arif Setiawan
Muhammad Gustilatov
Hanip Amin
Irbah Ufairoh
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang
sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia. Ikan lele
memiliki prospek cukup cerah dan sangat potensial untuk dikembangkan di
Indonesia. Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa
yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam
menu masakan. Selain itu, ikan lele merupakan ikan yang dapat dikonsumsi
dengan harga yang sangat terjangkau bagi kalangan apa aja. Di Indonesia ikan lele
termasuk ikan yang paling mudah diterima masyarakat karena memiliki banyak
kelebihan, diantaranya pertumbuhannya yang cepat memiliki adaptasai terhadap
lingkungan yang tinggi seperti dapat ditebar dengan kepadatan tinggi per satuan
luas kolam dan bisa hidup di air dengan kadar oksigen yang rendah, rasanya enak
dan kandungan gizinya (Hermawan et al. 2012).
Permintaan komoditas ikan lele di dalam negeri cukup besar. Pada tahun
2007 sasaran produksi ikan lele sebesar 17.300 ton, tahun 2008 sasaran produksi
ikan lel sebesar 20.860 ton, dan pada tahun 2009 sasaran produksi ikan lele
mencapai 25.800. Pada tahun 2010 menurut Apriyana (2013) angka sementara
yang dipublikasikan produksi ikan lele dari hasil budidaya sebesar 273.554 ton.
Kebutuhan benih lele diperkirakan mencapai 1,95 miliar ekor pada akhir 2016.
Hal ini menunjukkan peningkatan permintaan ikan lele dari tahun ke tahun.
Seiring dengan hal tersebut budidaya ikan lele mengalami peningkatan dan
banyak diminati masyarakat. Karena budidaya ikan lele yang mudah dan tidak
membutuhkan perlakuan khusus seperti ikan lain. Serta memiliki tata niaga yang
mudah dan memberikan keuntungan yang besar. Budidaya ikan lele yang mudah
dan memiliki keuntungan besar banyak diminati para pengusaha agribisnis.
Prospek usaha budidaya lele sangat cerah karena ikan lele mempunyai
manfaat yang bermacam-macam (Jaja 2013). Ikan lele bisa sebagai bahan
makanan sumber protein yang memilki rasa yang lezat. Ikan lele dari jenis Clarias
batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai ikan hias. Ikan lele yang dipelihara di
sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi berupa serangga air,
karena merupakan salah satu makanan alami ikan lele
Ikan lele mempunyai potensi pasar yang cukup besar di luar negeri.
Potensi pasar di luar negeri dibuktikan dengan telah diekspornya komoditas ini ke
beberapa negara seperti Singapura, Jepang, Malaysia dan Taiwan. Permintaan
ekspor ikan lele di Taiwan dalam bentuk surimi, Singapura dalam bentuk fillet,
Jepang dalam bentuk fillet dan surimi, dan Hongkong dalam bentuk fillet, whole
gill dan gutted. Tetapi permintaan ikan lele ini belum sepenuhnya bisa dipenuhi
oleh pembudidaya ikan lele di Indonesia. Permintaan ikan lele diperikirakan pada
masa yang akan datang di pasaran dunia meningkat tajam, sehingga masih sangat
terbuka peluang pembudidaya ikan lele dalam rangka mengisi pasar internasional.
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan memproduksi ikan lele dari tahap pendederan
hingga tahap pembesaran sehingga menghasilkan ikan yang memenuhi kriteria
ukuran dan bobot siap konsumsi.
II.
METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Kegiatan praktikum pembesaran ikan lele dimulai dengan pengurasan dan
pembersihan kolam pada tanggal 24 September 2016. Praktikum pembesaran ikan
lele dilanjutkan dengan kegiatan penebaran benih ikan lele pada tanggal 2 Oktober
2016. Setelah benih ditebar dilakukan proses pembesaran hingga saat panen
tanggal 26 November 2016. Pemeliharaan dilaksanakan di Kolam Budidaya Ikan
Nomor 13 Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
2.2 Alat dan Bahan
Alat dan yang digunakan selama praktikum pembesaran ikan lele adalah
penggaris, serok, timbangan, kantong plastik, dan alat tulis. Sedangkan bahan
yang digunakan diantaranya adalah, pakan, nutrifish, daun mengkudum ekstrak
bawang putih, pupuk, meniran, kunyit, dan sambiloto.
III. TEKNIK PEMBESARAN IKAN LELE (Clarias sp.)
3.1 Prasarana dan Sarana Pembesaran Ikan Lele
Prasarana dan Sarana merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam
kegiatan pembesaran ikan lele. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai
sebagai alat dalam kegiatan pembesaran ikan lele. Sarana dalam kegiatan
pembesaran ikan lele adalah larva dan pakan. Sedangkan prasarana adalah segala
sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya kegiatan pembesaran
ikan lele. Prasarana dalam kegiatan pembesaran ikan lele adalah penyediaan air
dan kolam.
3.1.1 Prasarana Pembesaran Ikan Lele
Prasarana dalam pembesaran ikan lele adalah penyediaan air dan penyediaan
kolam (Ratnasari 2011). Kesalahan dalam pengolahan prasarana dapat berakibat
buruk dalam kelangsungan kegiatan pembesaran ikan lele. Maka dari itu harus
dilakukan pengelolaan prasanara pembesaran ikan lele agar hasil panennya
maksimal.
3.1.1.1 Penyediaan Air
Air yang digunakan untuk kolam pembesaran ikan lele berasal dari Situ
Perikanan Institut Pertanian Bogor. Pemasukan air kedalam kolam melalui sistem
irigasi kolam dengan paralon. Sementara, air akan keluar dari kolam akan
dialirkan menuju saluran air yang berada di sisi kolam pembesaran ikan lele.
3.1.1.2 Penyediaan Kolam
Kolam yang digunakan untuk praktikum pembesaran ikan lele merupakan
kolam nomer 13 milik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang dikelola oleh
Departemen Budidaya Perairan. Sebelum digunakan sebagai wadah pembesaran
kolam harus dikuras dan dibersihkan untuk menghilangkan tingkat kemungkinan
ikan terserang penyakit.
3.1.2 Sarana Pembesaran Ikan Lele
Larva ikan lele dan pakan merupakan sarana dari kegiatan pembesaran
ikan lele. Larva ikan lele yang baik dihasilkan dari induk yang baik. Pakan yang
diberikan selama kegiatan pembesaran ikan lele harus memiliki kandungan yang
sesuai dengan kebutuhan ikan lele agar ikan lele dapat tumbuh dengan baik. Maka
dari itu, dibutuhkan pengelolaan sarana pembesaran ikan yang baik agar kegiatan
pembesaran ikan lele maksimal.
3.1.2.1 Larva
Larva yang digunakan pada praktikum kegiatan pembesaran ikan lele
berasal dari pembudidaya larva yang berada di kawasan Parung, Jawa Barat.
Sebelum ditebar di kolam pembesaran, dilakukan sampling terhadap larva terlebih
dahulu dan didapatkan jumlah larva lele yang siap ditebar sejumlah 10446 ekor
dan ukuran panjang larva rata-rata 3-5cm dengan berat rata-rata. Larva yang
masih kecil sangat sensitif terhadap lingkungan yang ekstrim. Oleh karena itu,
sebelum larva lele di tebar di kolam penebaran dilakukan aklimatisasi terlebih
dahulu. Langkah-langkah aklimatisasi sebagai berikut , pertama benih yang baru
datang dibuka kantongnya lalu diletakkan kedalam ember plastik untuk
memastikan benih tersebut masih dalam keadaan sehat. Kedua, ember plastik atau
wadah benih dimasukkan ke kolam dengan posisi miring, kemudian ember plastik
benih didiamkan selama 5 – 10 menit agar suhu didalam ember palstik sama
dengan kolam. Ketiga, air kolam dimasukkan sedikit demi sedikit ke ember
plastik agar ikan dapat beradaptasi dengan air kolam dan menyesuaikan dengan
lingkungan. Dan terakhir, setelah beberapa menit dapat dilihat benih sudah
beradaptasi atau belum, bila benih telah beradaptasi benih dilepas dengan perlahan
atau benih ikan keluar dengan sendirinya (Mas’ud 2012). Larva yang berkualitas
tinggi sangat ditentukan oleh pakan yang diberikan untuk pertumbuhan dan
meningkatkan kelulushidupannya (Herawati et al. 2013).
3.1.2.2 Pakan
Pakan merupakan makanan atau asupan yang diberikan pada ikan. Pakan
merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk
hidup. Pakan dibagi menjadi dua, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan
alami merupakan pakan yang sudah tersedia dengan sendirinya di kolam. Pakan
alami merupakan pakan yabg terbaik untuk budidaya ikan, hal ini karena pakan
alami mempunyai kanungan nutrisi yang tidak bias digantikan oleh pakan buatan
(Aksoy et al. 2007). Pakan yang digunakan dalam praktikum pembesaran ikan
lele adalah pellet apung merek Hi Provite 781-1. Kandungan nutrien dalam pellet
merek Hi Provite 781-1 adalah 31-33% protein, 4-6% lemak, 3-5% serat, dan 910% kadar air.
3.2 Kegiatan Pembesaran
Kegiatan pembesaran lele meliputi persiapan wadah, pemeliharaan benih,
pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, dan manajemen kesehatan ikan
(Jamaludin 2015). Dalam budi daya pertumbuhan sangatlah mentukan bagi tujuan
akuakultur yaitu dalam hal pencapaian profit. Dapat diasumsikan bahwa dengan
pertumbuhan yang relatif cepat maka dalam siklus uang akan semakin cepat dan
profit yang didapat akan sebanding.
3.2.1 Persiapan wadah (kolam) pembesaran
Pengertian teknis kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya
terbatas dan sengaja dibuat manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan
air, jenis hewan budidaya dan target produksinya. Kolam yang digunakan untuk
pembesaran ikan lele sebelum digunakan dikuras dan dibersihkan terlebih dahulu
untuk menghilangkan bakteri dan parasit penyebab penyakit pada ikan lele lalu
dilakukan proses pemukukan agar pakan alami dapat tumbuh.
3.2.2
Pemeliharahan benih
Benih yang sudah ditebar di kolam pembesaran diberikan pakan tiga kali sehari
pada jam 08.00, jam 13.00, dan jam 19.00 WIB. Benih yang sudah ditebar di
kolam pembesaran juga diberi perawatan biofarmaka berupa daun pepaya dan
mengkudu untuk mengurangi angka mortalitas larva yang dikarenakan oleh stress.
Setiap dua minggu sekali dilakukan sampling untuk mengetahui jumlah pakan
yang harus diberikan pada larva ikan lele agar pertumbuhannya maksimal.
3.2.3
Pengelolaan pakan
Pakan adalah makanan atau asupan yang diberikan pada ikan. Pakan
merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan dalam usaha budidaya
sehingga manajemen pakan menjadi hal krusial yang harus di kelola dengan baik.
Frekuensi pemberian pakan merupakan jumlah pemberian pakan per satuan
waktu. Praktikum pembesaran memberikan pakan sebanyak 3x sehari. Jumlah
pakan yang diberikan dihitung berdasarkan FR atau Feeding Rate (Rustidja
1999). Feeding rate yang diterapkan sebesar 6%. Feeding frequency pada
praktikum pembesaaran adalah 3 kali sehari dengan feeding time pagi, siang, dan
sore.
3.2.4 Pengelolaan kualitas air
Kualitas air menurut memegang peranan penting terutama dalam kegiatan
budidaya. Penurunan mutu air dapat mengakibatkan kematian, pertumbuhan
terhambat, timbulnya hama penyakit, dan pengurangan rasio konversi pakan. Air
yang terbaik bagi perkembangan ikan lele berasal dari sumur pompa, sungai, atau
irigasi yang tidak tercemari zat-zat kimia. Sebaiknya hindari penggynaan air PAM
karena mengandung kaporit.
Faktor yang berhubungan dengan air perlu diperhatikan antara lain oksigen
terlarut, suhu, pH, dan amoniak. Kekurangan oksigen akan tampak jelas pada ikan
saat pagi hari karena sejumlah ikan akan berada di atas permukaan untuk
menghirup oksigen langsung dari udara. pH di kolam pembesaran dapat diukur
dengan menggunakan kertas lakmus dan pHmeter. Sementara itu, suhu air dapat
diukur dengan menggunakan termometer. Kandungan amoniak dlam air yang baik
tidak lebih dari 0,1 ppm. Air yang mengandung amoniak tinggi bersifat toksik
karena akan menghambat ekskresi pada ikan (Chen dan Kau 1993).
3.2.5
Manajemen kesehatan ikan
Penyakit ikan merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit pada usaha
budidaya ikan. Penyakit ikan merupakan salah satu masalatr yang perlu mendapat
perhatian yang serius pada budidaya ikan. Kerugran yang diderita akibat wabah
penyakit ini biasanya cukup besar. Selain kematian ikan, kerugian yang lain
adalah berupa penurunan kualitas ikan. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan pad
aharga jual ikan itu sendiri menjadi rendah.
Ikan lele ermasuk jenis ikan yang tidak bersisik, oleh karena itu, ikan lele tidak
memiliki pelindung tubuh dari gangguan lingkungan. Akibatnya, bila terluka
terjadi pengeluaran lendir yang berlebihan dari tubuh lele. Lendir tersebut dapat
dijadikan media hidup bakteri. Menempelnya bakteri pada lendir menyebabkan
penyakit dapat masuk ke dalam tubuh ikan lele. Terjadinya luka inilah yang
menjadikan ketahanan tubuh ikan lele menurun dan menyebabkan sakit
(Prihartono et al. 2009 dalam. Ratnasari 2011)
Beberapa metode yang bisa digunakan untuk mencegah dan mengontrol infeksi
yang disebabkan patogen. Pertama, sebelum digunakan, tempat pembesaran harus
dibersihkan, dicuci serta dikeringkan; setelah panen ikan pengeringan
kolamkolam yang terbuat dari tanah harus dilakukan secara teratur. Kedua,
melakukan disinfeksi peralatan secara rutin akan sangat membantu mencegah
kontaminasi patogen. Ketiga, Menjaga ikan budidaya selalu berada dalam keadaan
yang optimal (kepadatan ikan yang tepat, kualitas air yang baik, prosedur
budidaya yang benar). Keempat, pemberian preventif anti parasit dan anti jamur
harus dilakukan secara teratur. Kelima, sebelum penanganan dan pengangkutan
ikan tidak diberi pakan. Keenam, vaksinasi benih ikan juga bisa efektif untuk
menstimulasi reaksi kekebalan serta mencegah infeksi penyakit (Slembrouck et al.
2005).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Survival Rate dan Growth Rate
Survival Rate atau kelangsungan hidup ikan menurut Adipu (2011) adalah
tingkat kelangsungan hidup ikan mulai dari awal ikan di tebar hingga ikan di
panen. Growth rate adalah pertambahan berat ikan setiap harinya selama
pemeliharaan.Berikut merupakan tabel dari survival rate dan growing rate pada
praktikum pembesaran ikan lele.
Parameter
Survival Rate
(SR)
Growth Rate
(GR)
Kolam
BDP (kontrol)
MSP
BDP (kontrol)
MSP
0
11
Hari Ke26
39
55
98.29
99.26
2.35
1.4
Berdasarkan tabel diatas, survival rate di kolam BDP sebesar 98.29% sementara
survival rate di kolam MSP sebesar 99.26%. Hal itu menunjukkan bahwa survival
rate di kolam yang diberikan perlakuan bawang putih dan meniran lebih tinggi
dibandingkan dengan kolam kontrol. Salah satu faktor yang menjadi penyebab
rendahnya survial rate menurut Hermawan et al. (2012) adalah kepadatan ikan
yang tinggi dan kualitas air yang menurun. Tingkat kepadatan yang tinggi
menyebabkan ruang gerak ikan semakin sempit dan memicu terjadinya persaingan
hidup ser mencari makan, sehingga berpotensi terjadi stress (Fadli dan Bahri
2012). Peningkatan kepadatan menurut Fadli dan Bahri (2012) mempengaruhi
proses fisiologi dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak yang dapat
menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan, sehingga jika berlangsung
terus menerus akan menyebabkan kematian pada ikan. Perlakukan pemberian
bawang putih dan meniran di kolam MSP mengurangi tingkat stress pada ikan
sehingga survival nya lebih tinggi dibandingkan dengan kolam kontrol.
Berdasarkan tabel diatas, growth rate di kolam MSP sebesar 2.35, sementara
growth rate di kolam BDP sebesar 1.4. hal itu menunjukkan bahwa growing rate
di kolam MSP lebih tinggi dibandingkan dengan kolam BDP yang merupakan
kolam kontrol. Growth rate menurut Aquarista et al. (2012) dipengaruhi oleh
kandungan protein pakan yang diberikan dan kualitas ai. Pakan yang diberikan
dan kualitas air harus dijaga agar selalu optimal agar laju pertumbuhan ikan
bagus.
.
4.2 Pertambahan Bobot
Pertambahan bobot ikan dihitung dengan menggunakan metode sampling
yang dilakukan secara bertahap. Pertumbuhan didefinisikan sebagai perubahan
ikan dalam bobot, ukuran, maupun volume seiring dengan berubahnya waktu.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Berikut ini
adalah grafik pertambahan bobot pada praktikum pembesaran ikan lele.
Berdasarkan grafik diatas, pertambahan bobot rata-rata ikan lele antara
kolam MSP dan kolam BDP mulia mengalami perubahan pada hari ke-26. Pada
hari ke-55 bobot rata-rata ikan di kolam BDP lebih tinggi dibandingkan dengan
kolam MSP. Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan
harian ikan lele yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur,
dan sifat genetik ikan yang meliputi keturunan, kemampuan untuk memanfaatkan
makanan dan ketahanan terhadap penyakit. Faktor eksternal merupakan faktor
yang berkaitan dengan lingkungan tempat hidup ikan yang meliputi sifat fisika
dan kimia air, ruang gerak yang berkaitan dengan kepadatan dan ketersediaan
makanan dari segi kualitas dan kuantitas (Huet 1971).
4.3 Pertambahan Panjang
Pertambahan panjang ikan dihitung dengan menggunakan metode sampling
yang dilakukan secara bertahap. Pertumbuhan didefinisikan sebagai perubahan
ikan dalam panjang, bobot, maupun volume seiring dengan berubahnya waktu.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Berikut ini
adalah grafik pertambahan panjang pada praktikum pembesaran ikan lele.
Berdasarkan grafik pertambahan panjang pada kegiatan pembesarakan
ikan lele, pertambahan panjang ikan lele mulai berubah sejak hari ke-26.
Pertambahan panjang pada kolam BDP lebih cepat dibandingkan dengan kolam
MSP. Pertumbuhan panjang pada ikan menurut Ratnasari (2011), karena
memperoleh pakan dari luar. Selain pakan, faktor lain yang mempengaruhi
pertambahan panjang pada ikan adalah kondisi lingkungan perairan yang bersih,
jika parameter kimia, fisika, danbiologi perairan optimal maka ikan akan
mengalami pertumbuhan yang bagus yang termasuk kedalamnya adalah
pertambahan panjang.
4.4 Spesific Growth Rate
Laju pertumbuhan harian (SGR) adalah persentase pertambahan berat ikan
setiap harinya selama pemeliharaan, laju pertumbuhan harian ditunjukan dalam
satuan persentase (%).Berikut ini merupakan grafik Spesific Growth Rate dari
kegiatan praktikum pembesaran ikan lele.
Berdasarkan grafik diatas, dapat disimpulkan bahwa SGR pada kolam
MSP dan BDP mengalami fluktuasi karena mengalami kenaikan dan penurunan.
Peningkatan yang cukup drastis pada hari ke-11 penurunan pada hari-hari
selanjutnya di kolam MSP mengindikasikan semakin menurunnya SGR pada
kolam MSP. Sedangkan SGR pada kolam BDP mengalami fluktuasi juga, namun
cenderung lebih stabil dan mengalami kenaikan lagi ketika mengalami penurnan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi specific growth rate, yaitu faktor luar
dan faktor dalam. Faktor luar seperti parameter fisikia dan kimia perairan dan
faktor dalam yang sukar dikontrol seperti kemampuan ikan dalam memanfaatan
dan mencerna pakan untuk pertambahan bobot tubuh. Selain faktor luar dan
dalam, terdapat faktor yang mempengaruhi SGR , yaitu kondisi eksternal pakan,
dimanasumber nutrien yang terkandung di dalam pakan belum lengkap bagi ikan,
sehingga tidak dapat memacu pertumbuhan pada tingkat optimal.
4.5 Jumlah Konsumsi Pakan
Pakan merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan budidaya,
karena pakan diperlukan ikan untuk pemeliharaan kondisi tubuh, aktivitas,
pertumbuhan dan reproduksi. Pakan yang diberikan pada spesies kultur ada dua
macam yaitu pakan alami dan pakan buatan. Berikut ini merupakan tabel jumlah
konsumsi pakan ikan lele selama kegiatan praktikum pembesaran ikan lele.
Parameter
Kolam
Jumlah
Kebutuhan
Pakan (JKP)
(gram)/hari
BDP (kontrol)
MSP
Hari Ke0
11
26
39
55
4107,34 5776,46 12728,67 30762,76 47037,66
2498,68 3378,51
7822,19
13839,46 23057,12
Berdasarkan tabel jumlah konsumsi pakan diatas, dapat disimpulkan
bahwa jumlah konsumsi pakan ikan dari waktu ke waktu selalu meningkat seiring
dengan bertumbuhnya ikan lele. Menurut Pillay dalam Purwanto (1992), ikan lele
akan makan untuk memenuhi energi metabolismenya dan berhenti makan bila
sudah terpenuhi. Waktu yang dibutuhkan untuk mengkonsumsi makanan kembali
dapat diperkirakan dari hubungan antara waktu kosongnya isi lambung dan waktu
pengambilan pakan (Elliot dalam Purwanto 1992). Laju pertumbuhan bobot
berhubungan dengan ketepatan antara jumlah pakan yang diberikan dengan
kapasitas isi lambung. Jumlah pakan yang sesuai dengan kapasitas lambung dan
kecepatan pengosongan lambung atau sesuai dengan waktu ikan membutuhkan
pakan, perlu diperhatikan karena pada saat itu ikan sudah dalam kondisi lapar
(Sunarno 1991). Semakin besar ukuran tubuh ikan lele, semakin banyak jumlah
pakan yang dikonsumsi untuk keperluan tumbuh kembangnya.
4.6
Feed Convertion Ratio dan Efisiensi Pemberian Pakan
Feed Convertion Ratio adalah suatu ukuran yang menyatakan ratio jumlah pakan
yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg ikan kultur. Konversi pakan menurut
Tahapari dan Suhenda (2009) merupakan perbandingan antara jumlah bobot
pakan dalam keadaan kering yang diberikan selama kegiatan budidaya yang
dilakukan dengan bobot total ikan pada akhir pemeliharaan dikurangi dengan
jumlah bobot ikan mati dan bobot awal ikan selama pemeliharaan. Dengan
persamaan sebagai berikut:
𝐹𝐢𝑅 =
∑ π‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›
𝐡𝑑 − π΅π‘œ + π΅π‘š
Keterangan :
FCR
Bt
Bo
Bm
: Feed convertion ratio
: Biamassa akhir
: Biomassa awal
: Biomassa mati
Contoh perhitungan FCR sebagai berikut :
𝐹𝐢𝑅 =
401283,00
= 0,90
461142,35 − 31233,54 + 14526,14
Feed Convertion Rate yang diperoleh adalah sebesar 0.90. Hal ini menunjukan
tingkat efisiensi yang cukup rendah, karena semakin besar nilai FCR maka
semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1kg daging ikan.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kegiatan praktikum pembesaran ikan lele
pemberiannya tidak efisien.
Efisiensi pakan adalah bobot basah daging ikan yang diperoleh per satuan berat
kering pakan yang diberikan (Watanabe 1988). Efesiensi pemberian pakan atau
EPP bisa dikatakan sebagai kebalikan dari FCR, karena semakin besar nilai EPP
menunjukan bahwa pemberian pakannya efisien. Efisiensi pemberian pakan bisa
di hitung menggunakan rumus sebagai berikut :
𝐸𝑃𝑃 =
1
π‘₯ 100%
𝐹𝐢𝑅
Keterangan :
FCR : feeding convertion rate
Contoh perhitungan EPP :
𝐹𝐢𝑅 =
1
π‘₯ 100% = 111.11%
0.90
Efisiensi pemberian pakan yang diperoleh sebesar 111.11%. hal ini menunjukan
tingkat efisiensi yang tinggi, karena EPP merupakan bobot basah daging ikan
yang diperoleh persatuan berat kering pakan yang diberikan.
V.
PENUTUP
5.1 Simpulan
Pada praktikum ini telah dilakukan kegiatan pembesaran ikan lele hingga
mencapai ukuran siapkonsumsi. Selama kegiatan pembesaran, praktikan
melakukan kegiatan persiapan kolam hingga manajemen kesehatan ikan dengan
menggunakan bawang putih dan meniran untuk menjaga dan meningkatkan
kualitas ikan lele.
5.2 Saran
Sebaiknya tingkat kepadatan ikan dikurangi dan menjaga kualitas air serta
frekuensi pakan yang tepat untuk meningkatkan kelulushidupan ikan lele dan
meningkatkan efisiensi pakan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Adipu Y, Sinjal H, Watung J. 2011. Rasio Pengenceran Sperma Terhadap
Motilitas Spermatozoa, Fertilitas dab Daya Tetes Ikan Lele (Clarias
sp.).[jurnal] Perikanan dan Kelautan Tropis. 7(1): 48-55.
Aksoy M C. Linn D A. Darvis. R Shelby and P H Klesius. 2007. Influence of
Dictary Lipid Sources on The Growth Performance Imune Respons and
Resistance of Tilapis (Oreochromis Niloticus) to Stretococus iniae
challenge. J Applied Aquat. 19:29-47.
Apriyana I. 2013. Pengaruh Penambahan Tepung Kepala Ikan Lele (Clarias sp.)
dalam Pembuatan Cilok terhadap Kadar Protein.
Aquarista F, Iskandar, Subhan U. 2012. Pemberian Probiotik dengan Carrier
Zeolit pada Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).
Perikanan dan Kelautan. 3(4) : 133-140.
Chen J C dan Y Z Kou. 1993. Accumulation of ammonia in the haemolymph of
Panaeus monodon exposed to ambient ammonia. Aquaculture.
Fadlli A, Bahri AS. 2012. Pengaruh padat penebaran benih lele dumbo (Clarias
gariepinus) terhadap survival rate, pertumbuhan berat badan harian, dan
pertumbuhan panjang mutlak. Jurnal Samakia. Vol 3 No 2: 17-20.
Gustav, F. 1988. Pengaruh Tingkat Kepadatan Terhadap Kelangsungan Hidup dan
Pertumbuhan Benih Ikan Kakap putih (Lates calcalifer, Bloch) dalam
Sistem Resirkulasi. Skripsi, Bogor [ID] : Institut Pertanian Bogor.
Herawati V E, J Hutabarat, S B Prayitno. O K Radjasa, Y S Darmanto. 2013.
Profile of Essential Aamino Acid, Fatty Acid and Growth of
Chaetocerosgracilis Using Technical Culture Media Guillard and Double
Walne. Prosidinf FFTC-NTOU Joint International Seminar on Integrating
of Promissing Technology for Aquaculture and
Fisheries. Taiwan. 5056pp.
Hermawan AT, Iskandar, Subhan U. 2012. Pengaruh padat tebar terhadap
kelangsungan hidup pertumbuhan lele dumbo (Clarias gariepinus) di
Kolam Kali Menir Indramayu. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol 3 no 3
: 85-93.
Huet, M. 1971. Textbook of Fish Culture: Breeding and Cultivation of Fish. Two
edition. Fishing News Books Ltd. London.
Jaja, Suryani A, Sumantadinata K. 2013. Usaha Pembesaran dan Pemasaran Ikan
Lele serta Strategi Pengembangannya di UD Sumber Rezeki Parung, Jawa
Barat.[jurnal]Menejemen IKM. 8(1): 45-46.
Mas’ud F. 2012. Teknik Pengolahan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Balai
Benih Ikan
(BBI) Kalen Kecamatan Kedungpring Kabupaten
Lamongan.Fakultas Perikanan
Program
Studi
Manajemen
Sumberdaya Perairan Universitas Islam Lamongan. Grouper Faperik ISSN
2086-8480.
Menegristek bidang pendayagunaan dan pemasyarakatan ilmu pengetahuan dan
teknologi. 2000. Budidaya Ikan Lele (Clarias sp.). MIG Corp.
Purwanto A. 1992. Pengaruh pemberian pakan dengan frekuensi yang berbeda
terhadap pertumbuhan ikan Gold saum (Aequidens sp.). [Skripsi]. Bogor
[ID] : Institut Pertanian Bogor.
Ratnasari, D. 2011. Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).
[Skripsi]. Surabaya [ID] : Universitas Airlangga.
Rustidja. 2004. Pembenihan Ikan-Ikan Tropis. Fakultas Perikanan Universitas
Brawijaya. Malang.
Sunarno MTD. 1991. Pemeliharaan ikan jelawat (Leptobarsa hoeveni) dengan
frekuensi pemberian pakan \ET£ berbeda. Bui. Perik. Darat 10(2): 76-80.
Slembrouck J, Komarudin O, Maskur, dan Legendre M. 2005. Petunjuk Teknis
Pembenihan Ikan Patin Indonesia (Pangasius djambal). IRD-BRKP.
Tahaptari E dan Suhenda N. 2009. Penentu frekuensi pemberian pakan untuk
mendukung perumbuhan benih ikan patin pasupati. Jurnal Berita Biologi.
Volume 9 No 6.
Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Marine Culture. JICA Texbook. The
General of Aquaculture Course. Departemen of Aquatic. Biosciense.
Tokyo. Pp. 238.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabel perbandingan data
Tabel 1. Perbandingan Data sampling kolam BDP (kontrol) dan MSP
Parameter
Bobot Rata-Rata(g)
Panjang Rata-Rata (cm)
Jumlah Populasi (ekor)
Kolam
BDP
(kontrol)
MSP
BDP
(kontrol)
MSP
BDP
(kontrol)
MSP
H-0
H-11
H-26
H-39
H-55
3.8
2.99
8.9
8.31
19.86
19.37
56.2
40.01
129.04
79.99
7.87
7.42
9.95
9.7
13.1
13.04
18
16.48
24.7
21.8
13511
10446
9272
5808
9156
5769
9123
5765
9113
5765
Tabel 2. Perbandingan Data pakan kolam BDP (kontrol) dan MSP
Parameter
Biomassa (g)
FR
JKP/hari (g)
Pakan yang dimakan
Kolam
BDP (kontrol)
MSP
BDP (kontrol)
MSP
BDP (kontrol)
MSP
BDP (kontrol)
MSP
H-0
H-11
H-26
H-39
51341.8 82520.8 181838.2 512712.6
31233.54 48264.48 111475.5 230657.7
0.08
0.07
0.07
0.06
0.08
0.07
0.07
0.06
4107.344 5776.456 12728.67 30762.76
2498.68 3378.51 7822.19 13839.46
49288.13 80870.38 165472.7
27485.52 50677.7 101688.4
Lampiran 2. Contoh Perhitungan
1.
Survival rate dirumuskan sebagai berikut.
𝑆𝑅 =
𝑁𝑑
π‘₯ 100%
π‘π‘œ
Keterangan :
SR : Tingkat kelangsungan hidup larva
Nt : Populasi ikan hari ke-t
No : Populasi ikan hari ke-o (awal)
H-55
1175942
461142.4
0.04
0.05
47037.66
23057.12
492204.1
221431.3
Contoh perhitungan SR pada akhir masa pembesaran
𝑆𝑅 =
2.
5765
𝑋 100% = 55.19 %
10446
Growth rate dapat dirumuskan sebagai berikut.
𝐺𝑅 =
𝑀𝑑 − π‘€π‘œ
𝑑
Keterangan :
Wt : bobot rataan pada hari ke-t (gr)
Wo: bobot rataan di awal (gr)
t: lama pemeliharaan (t)
Contoh perhitungan GR pada hari ke-11:
𝐺𝑅 =
8.31 − 2.99
= 0,48
11
3. JKP dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
JKP/hari = FR x biomassa
Contoh perhitungan JKP sebagai berikut :
JKP/hari = 0.05 x 461142.35
JKP/hari = 23057.12
Lampiran 3. Dokumentasi Kegiatan
Download