LAPORAN PENDAHULUAN PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA Tugas Ini Disusun sebagai salah satu bentuk penugasan dalam Praktik Profesi Ners Departemen Keperawatan Gerontik Dosen Pembimbing : ELMIE MUFTIANA, S.Kep., Ns., M.Kep Oleh : NURDIAN INDAH PERTIWI NIM 19650103 PRODI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO TAHUN AKADEMIK 2019/2020 JL.Budi Utomo No. 10 Telp (0352) 487 662 Ponorogo Fax. (0352) 461796 TINJAUAN PUSTAKA PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA A. Latar Belakang Lansia atau lanjut usia merupakan seseorang yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari segi perawatan. Lansia sering kali dianggap identik dengan pikun, jompo, sakit-sakitan, dan menghabiskan uang untuk berobat. Upaya perlindungan dan pemenuhan hak kaum lansia harus berkesinambungan dan mendapatkan perhatian seluruh lapisan masyarakat. Sangat ironis bila gerakan menyejahterakan para lansia hanya bersifat temporer dan seremonial. Merawat orang di panti (residental care) dan menjamin terpenuhinya kebutuhan mereka adalah hal yang diharapkan namun sulit dilakukan (Crawford, Karin. 2015). Secara yuridis formal, ketentuan untuk memenuhi hak lansia diatur dalam pasal 42 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik, dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat (BKKBN,2015). Pada tahun 2000 penduduk usia lanjut di seluruh dunia diperkirakan sebanyak 426 juta atau sekitar 6,8%. Jumlah ini akan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2025, yaitu menjadi sekitar 828 juta jiwa atau sekitar 9,7% dari total penduduk dunia (Notoadmojo, Soekidjo, 2016). Badan Pusat Statistik (BPS, 2010) menyimpulkan bahwa abad 21 bagi Indonesia merupakan abad lansia(era of population ageing), karena pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia diperkirakan lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain. Berdasarkan data Riskesdas 2018, Umur HarapanHidup (UHH) di Indonesia meningkat dari 68,6 tahun pada tahun2008 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2012. Pada tahun 2016 meningkat menjadi 72 tahun. Kondisi tersebut mengakibatkanterjadinya peningkatkan jumlah penduduk Lanjut Usia. Menuruthasil Sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk lanjut usiaIndonesia adalah 18,04 juta jiwa atau 7,6% dari total jumlahpenduduk. Pada tahun 2025 diperkirakan jumlah penduduk LanjutUsia akan meningkat menjadi 36 juta jiwa.Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia juga akanmempengaruhi angka beban ketergantungan. Perubahan komposisi penduduk lanjut usia menimbulkan berbagai kebutuhan baru yang harus dipenuhi, sehingga dapat pula menjadi permasalahan yang komplek bagilanjut usia, baik sebagai individu, keluarga maupun masyarakat.Sebagai lanjut usia tentu mereka memiliki kebutuhan yang berbeda dengan kelompok usia lainnya. Namun karena kondisi fisik dan keuangan mereka yang tidak memungkinkan sering kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Pemerintah bertanggung jawab mewujudkan amanah perundangan untuk menyejahterakan lansia dengan menciptakan strategi dan program pemberdayaan Sumber Daya Manusia lanjut usia, menciptakan fasilitas dan kegiatan-kegiatan untuk mengisi hari-hari tuanya, serta meningkatkan upayaupaya terpadu pemberdayaan SDM lansia. Yang dibutuhkan adalah aksi nyata, bukan sekadar aturan semacam kertas yang terlihat indah. Usaha mengatasi permasalahan dan beberapa harapan kepada pihak-pihak yang peduli terhadap lansia harus terpadu. Pasal 138 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentangKesehatan menetapkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatanbagi lanjut usia ditujukan untuk menjaga agar para lanjut usia tetapsehat dan produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk itupemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanankesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk tetapdapat hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis.Disamping hak atas kesehatan Lanjut Usia juga mempunyaihak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa danbernegara. Upaya peningkatan kesejahteraan Lanjut Usiadiarahkan agar Lanjut Usia tetap diberdayakan sehingga dapatberperan dalam kegiatan pembangunan dengan memperhatikanfungsi, keterampilan, usia dan kondisi fisik dari Lanjut Usiatersebut. Pelayanan sosial merupakan suatu bentuk aktivitas yang bertujuan untuk membantu individu, kelompok, ataupun kesatuan masyarakat agar mereka mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, yang pada akhirnya mereka diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang ada melalui tindakantindakan kerjasama ataupun melalui pemanfaatan sumber-sumber yang ada di masyarakat untuk memperbaiki kondisi kehidupannya. Hal ini didukung oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia. Adapun indikator yang dapat mendukung pelaksanaan program pelayanan sosial lanjut usia, dapat dilihat melalui : 1. Pelayanan sosial dasar (makanan, kesehatan, tempat tinggal) 2. Pelayanan teknis 3. Penyaluran bantuan B. Posyandu Lansia Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut disuatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya (Erfandi dalam Ritonga, 2013). Posyandu adalah suatu kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan pada lanjut usia. Posyandu sebagai suatu wadah kegiatan yang bernuansa pemberdayaan masyarakat akan berjalan baik dan optimal apabila proses kepemimpinan, terjadi proses pengorganisasian, adanya anggota kelompok dan kader serta tersedianya pendanaan (Azizah dalam Siahaan, 2014). Posyandu lansia merupakan wahana pelayanan bagi kaum usia lanjut yang dilakukan dari, oleh, dan untuk kaum usila yang menitikberatkan pada pelayanan promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif (Notoatmodjo dalam Siahaan, 2014). Departemen Kesehatan Republik Indonesia mendefinisikan posyandu lansia sebagai suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pembangunan sumber daya manusia khususnya lanjut usia (Siahaan, 2014) Posyandu Lansia atau Kelompok Usia Lanjut (POKSILA) adalah suatu wadah pelayanan bagi usia lanjut di masyarakat, dimana proses pembentukan dan pelaksanaanya dilakukan oleh masyarakat bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non-pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik beratkan pelayanan pada upaya promotif dan preventif (Komnas Lansia, 2010). Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa posyandu lansia adalah suatu upaya kesehatan bagi masyarakat usia lanjut yang dilakukan di wilayah tertentu dan penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta dari lansia, keluarga, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. C. Tujuan Posyandu Lansia Tujuan penyelenggaraan posyandu dibagi menjadi dua, tujuan umum dan khusus. Berikut ini dijabarkan beberapa tujuan penyelenggaraan posyandu : 1. Tujuan Umum a. Meningkatkan derajat kesehatan dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut di masyarakat,untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna bagi keluarga. b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat lanjut. 2. Tujuan Khusus a. Meningkatkan kesadaran, sikap positif, dan perilaku pada lansia, serta membina kesehatan dirinya sendiri, b. Meningkatkan mutu kesehatan lansia. c. Meningkatkan kemampuan dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. d. Meningkatkan kemampuan para lanjut usia untuk mengenali masalah kesehatan dirinya sendiri dan bertindak untuk mengatasi masalah tersebut terbatas kemampuan yang ada dan meminta pertolongan keluarga atau petugas jika diperlukan. e. Meningkatkan jenis dan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut. TujuanPelayananSosialLanjutUsiadibagimenjadidua, tujuanumumdankhusus.BerikutinidijabarkanbeberapatujuanPelayananSosialLa njutUsia : 1. TujuanUmum a. Meningkatkanderajatkesehatandanmutupelayanankesehatanusialanjut di masyarakat,untukmencapaimasatua yang bahagiadanberdayagunabagikeluarga. b. Mendekatkanpelayanandanmeningkatkanperansertamasyarakatdansw astadalampelayanankesehatandisampingmeningkatkankomunikasiant aramasyarakatlanjut. 2. TujuanKhusus a. Meningkatkankesadaran, sikappositif, danperilakupadalansia, sertamembinakesehatandirinyasendiri, b. Meningkatkanmutukesehatanlansia. c. Meningkatkankemampuandanperansertakeluargadanmasyarakatdalam menghayatidanmengatasikesehatanusialanjut. d. Meningkatkankemampuanparalanjutusiauntukmengenalimasalahkeseh atandirinyasendiridanbertindakuntukmengatasimasalahtersebutterbata skemampuan yang adadanmemintapertolongankeluargaataupetugasjikadiperlukan. e. Meningkatkanjenisdanjangkauanpelayanankesehatanusialanjut. D. Sasaran Posyandu Lansia Menurut Azizah (dalam Siahaan, 2014) pembinaan kesehatan bagi masyarakat usia lanjut memiliki beberapa kelompok sasaran, yaitu : 1. Sasaran Langsung a. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa virilitas, di dalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan fisik, gizi agar dapat mempersiapkan diri menghadapi masa tua. b. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenium (55-64 tahun) dalam keluarga, organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya, dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif c. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (65 tahun) dan usia lanjut dengan resiko tinggi (dari 70 tahun). Hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit berat, cacat, dan lain-lain, dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya. 2. Sasaran Tidak Langsung a. Keluarga dimana usia lanjut berada. b. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut. c. Institusi pelayanan kesehatan dan non kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan pelayanan rujukan. d. Masyarakat luas. E. Prinsip Pelayanan Sosial Lansia Dalam UU No. 13 tahun 1998 danPermensos No. 19 tahun 2012, penduduklansia dikelompokkan dalam 2 kategori yaituLanjut Usia Terlantar dan Lanjut UsiaPotensial. Lanjut Usia Telantar adalahseseorang yang berusia 60 (enam puluh) tahunatau lebih dan karena faktor-faktor tertentutidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya;sementara itu Lanjut Usia Potensial adalahpenduduk lansia yang masih mampumelakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yangdapat menghasilkan barang dan/atau jasa.Penduduk lansia terlantar dianggapsebagai penyandang masalah kesejahteraansosial (PMKS), karena mereka memilikikehidupan yang tidak layak secarakemanusiaan dan memiliki kriteria masalahsosial diantaranya kemiskinan danketelantaran. Mereka tidak terpenuhikebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan,dan papan; dan terlantar secara psikis, dansosial (Lampiran Permensos No. 08 Tahun2012). Pada tahun 2014 Menteri Sosialmenyebutkan bahwa jumlah penduduk lansiaterlantar sekitar 2.851.606 orang. Keberadaanpenduduk lansia terlantar mencerminkanbahwa keluarga sebagai lingkungan terdekatpara lansia tidak dapat memberikan dukungansosial dengan baik. Terdapat beberapa alasankeluarga tidak dapat memberi dukungan sosialbagi lansia, diantaranya adalah: 1. kemiskinan,keluarga tidak dapat memberikan dukunganinstrumental karena mereka miskin sehinggatidak mampu memberikan kebutuhan dasarpada anggota keluarganya yang sudah lansia; 2. nilai-nilai kekeluargaan sudah mulaimelemah, lansia dianggap sebagai bebankeluarga, keluarga cenderung memperhatikankeluarga intinya tanpa memperhatikankebutuhan keluarga besarnya; 3. kesibukankarena bekerja, anak-anak memiliki pekerjaanyang menuntut curahan waktu yang banyak,sehingga mereka tidak memiliki waktu yangcukup untuk merawat orangtua; 4. tidakmampu merawat, banyak diantara keluargayang tidak memiliki kemampuan untukmerawat karena lansia di keluarganyamemerlukan perawatan khusus. Tiga alasanterakhir yang menyebabkan lansia terlantar,tidak hanya dapat terjadi pada keluarga miskintetapi juga dapat terjadi pada keluargakalangan menengah dan atas, dimana terdapatlansia yang tidak terlantar secara ekonomitetapi terlantar secara psikis dan sosial. Permensos No. 19 tahun 2012menyebutkan bahwa pelayanan sosial lanjutusia dapat dilakukan baik di dalam pantimaupun di luar panti; dan dapat dilakukan baik oleh pemerintah, pemerintahan daerahprovinsi, pemerintahan daerah kabupaten/kota, maupun masyarakat. Kebijakan untuk penduduk lansia saat ini lebih mengedepankan kesejahteraan sosial dengan kelompok prioritas yaitu penduduk lansia terlantar yang karena faktor-faktortertentu tidak dapat memenuhi kebutuhandasar baik jasmani, rohani maupun sosialKegiatan yang utama lebih ditujukan untukperlindungan dan rehabilitasi sosial, seperti: 1. panti reguler, yang memberikan pelayananuntuk memenuhi kebutuhan dasar bagi lansiayang tinggal di panti; 2. Day Care untukkegiatan dan aktualisasi lansia yang tinggalsendiri atau tinggal bersama keluarga melaluipelayanan panti atau Dinas Sosial; 3. HomeCare untuk pemenuhan kebutuhan dasar danpendampingan lansia terlantar atau hidupsendiri di rumah dengan melakukan 2-3 kalikunjungan per minggu oleh pekerja sosial; 4. Kelompok Usaha Bersama (KUBe) atau UsahaEkonomi Produktif (UEP) untuk peningkatanpenghasilan dan pendapatan lanjut usia yangmasih dapat produktif; dan 5. Asistensi Sosialuntuk Lanjut Usia Terlantar (ASLUT) denganmemberikan bantuan sosial Rp 300.000,- perbulan), dalam kegiatan ini dimungkinkanpartisipasi masyarakat setempat untuk lansiaterlantar (Kementerian PPN dan Bappenas,2015). F. Jenis Layanan Arah kebijakan lanjut usia dalamRancangan Pembangunan Jangka MenengahNasional (RPJMN) 2015-2019 diantaranyaadalah memperkuat skema perlindungan bagipenduduk lansia. Perlindungan penduduklansia akan lebih diarahkan pada penyediaanlayanan Long Term Care (LTC). Layanan LongTerm Care bagi lansia dianggap perlu lebihmendapat perhatian karena para lansiamengalami kondisi kronis, penurunanfungsional, dan keterbatasan dalam melakukanaktivitas sehari-hari (Activities of Daily Livingatau ADL), sehingga mereka memilikiketergantungan tinggi. Layanan LTCmelibatkan tiga komponen, yaitu pemerintahberupa penyediaan sistem asuransi LTC danlayanan berbasis institusi (institutional based);masyarakat menyediakan layanan berbasiskomunitas (Community based); dan rumahtangga akan mendapatkan layanan penguatan kapasitas rumah tangga agar dapat melakukan pelayanan kepada lansia menggunakan layanan berbasis rumahtangga (Home-Based)(Kementerian PPN dan Bappenas, 2015). Gambar 1. Tiga Unsur Komponen LTC Sumber: Kementerian PPN/Bappenas Model layanan berbasis institusi ataupanti proporsinya sangat kecil, dan pelayananLTC (Kementerian lebih difokuskan pada PPN/Bappenas,2015). layanan Tulisan berbasiskomunitas ini menyajikan permasalahanyang dihadapi penduduk lansia terlantar,kebutuhan pelayanan bagi mereka, danpelayanan sosial bagi penduduk lansia terlantaryang ada saat ini. Didirikannya panti yang khusus diperuntukkan bagi lanjut usia yang mengalami keterlantaran ini bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial lanjut usia agar mereka dapatmenikmati hari tuanya dalam suasana sejahterayang diliputi rasa aman, terpenuhi kebutuhanfsik, psikis, dan sosialnya, sehingga merekadapat menikmati sisa hidupnya dengan tenang.Keberadaan panti bagi lanjut usia yang mengalami keterlantaran benarbenar diharapkan, halini seiring dengan semakin meningkatnya jumlahlanjut usia terlantar yang membutuhkan tempattinggal dan kebutuhan pelayanan sosial yangtidak diperoleh dari keluarganya. Pelayanansosial melalui panti bagi lanjut usia yang mengalami keterlantaran tentu saja didasarkan denganlatar belakang pekerjaan sosial. Oleh sebab itu,keberhasilan pelayanan sosial bagi lanjut usia,salah satunya adalah karena adanya sentuhanprofesional para pekerja sosial. Berdasarkan latarbelakang permasalahan tersebut diatas, makapenelitian tentang peran pekerja sosial dalammemberikan pelayanan terhadap lanjut usia dilakukan. Rumusan masalah yang diajukan adalahbagaimanakah peran pekerja sosial dalam memberikan pelayanan terhadap lanjut usia? Adapuntujuan penelitian yaitu untuk mengetahui peranpekerja sosial dalam memberikan pelayananterhadap terhadap lanjut usia. Hasil penelitiandiharapkan dapat bermanfaat sebagai masukanbagi pengambil kebijakan yang berhubungandengan pelayanan lanjut usia dalam panti. Disamping itu, juga bermanfaat dalam menambahkhasanah ilmu pengetahuan tentang pelayananbagi lanjut usia terlantar (Aminatun dan Chulaifah,2015). Adapun jenis pelayanan yang diberikan dalampanti menurut (Sulastri & Sahadi, 2020), meliputi: 1) pemberian tempat tinggalyang layak; 2) jaminan hidup berupa makan,pakaian, pemeliharaan kesehatan; 3) pengisianwaktu luang termasuk rekreasi; 4) bmbinganmental, sosial, keterampilan, agama; dan 5)pengurusan pemakaman atau sebutan lain. 1. Tempat tinggal yang layak bagi lansiaadalah yang bersih, sehat, aman, nyaman,dan memiliki akses yang mudah padafasilitas yang dibutuhkan lansia, sehinggadengan kondisi kemampuan fisiknya yangmakin menurun masih memungkinkandapat menjalankan aktivitas sehari-haridengan mudah, aman, dan tidak sangattergantung pada orang lain. Umumnyalanjut usia dihadapkan pada masalah huniansebagai berikut: lokasi kamar yangberjauhan dengan lokasi kamar mandi,keadaan kamar mandi yang kurangmendukung, penggunaan tangga,permukaan lantai yang tidak rata, dan alursirkulasi hunian terhadap fasilitaslingkungan kurang menunjang. Tempattinggal yang layak bagi lansia adalah yanglapang atau barrier free. Hal ini sangatbermanfaat bagi lansia, terutama dalampergerakan atau aksesibilitas dalam rumah,bahkan ketika mereka harus menggunakankursi roda. Kurniadi (2012) merincikarakterik rumah yang ramah lansia, secaragaris besar, terbebas dari tangga dan lantaiyang tidak rata atau licin, pencahayaan yangbaik, kamar mandi dekat dengan kamar danmemungkinkan kursi roda dapat masuk, danaman karena mereka kurang mampumelindungi dirinya terhadap bahaya. Dinegara-negara maju, pelayanan kelompoklanjut usia dilakukan dalam ruangankhusus, bahkan rumah sakit khusus danperkampungan khusus. Adanya fasilitastersebut ditujukan untuk memberilingkungan kehidupan yang nyaman dansesuai bagi kelompok lanjut usia(Wijayanti, 2008). Kondisi hunian di dalampanti pun seyogyanya memperhatikankebutuhan lansia tersebut. 2. Para lansia seyogyanya mendapatkanmakanan yang sesuai dengan kondisikesehatannya. Oleh karena itu, makananuntuk lansia sebaiknya dikontrol atasrekomendasi ahli gizi. Ahli gizi perluberkerjasama dengan dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan lansia ataujenis penyakit yang diderita, untukmenentukan apa yang boleh atau tidakboleh dimakan. Dengan demikian, makananuntuk masing-masing lansia kemungkinanberbeda dengan cara mengolah yangberbeda pula. Pakaian yang digunakansebaiknya bersih, layak dan nyamandipakai. Untuk pemeliharaan kesehatanseyogyanya terdapat fasilitas kesehatanberupa poliklinik yang buka 24 jam danmemberikan pelayanan kegawatdaruratanyang mudah diakses. Apabila perlu dirujuk,tersedia fasilitas ambulans yang siap setiapsaat. Biasanya diperlukan pula fasilitasfisioterapi. 3. Pemanfaatan waktu luang merupakan suatuupaya untuk memberikan peluang dankesempatan bagi lansia untuk mengisiwaktu luangnya dengan berbagai kegiatanatau aktivitas yang positif, bermakna, danproduktif bagi dirinya maupun orang lain.Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukanharus sesuai dengan minat, bakat, danpotensi yang mereka miliki (Annubawati,2014). Tidak hanya sekedar mengisi waktuluang tetapi sesuatu yang menyenangkan,akan lebih baik jika produktif; sehinggadapat berfungsi sebagai terapi masalah psikososial dan emosional yang mungkindialami oleh lansia. Demikian juga dengankegiatan rekreasi, seyogyanya tidak hanyamenyenangkan tetapi merupakankesempatan untuk berinteraksi denganlingkungan di luar panti sehingga merekamerasa tidak terisolasi tetapi masihterhubung dengan lingkungan di sekitarnya. 4. Bimbingan mental dan agama lebihditujukan untuk mengatasi masalahemosional dan psikologis. Berdasarkaninformasi dari Tim Kajian BentukPelayanan Lanjut Usia di Daerah IstimewaYogyakarta, banyak lansia yang tinggal dipanti werdha yang kesepian, sedih, menarikdiri dari pergaulan dan kegiatan, pasif,murung, mengalami emosi negatif,bermusuhan dengan sesama penghuni panti,dan sebagainya. Untuk membantumengatasi masalah tersebut kegiatanbimbingan mental dan keagamaan melaluikegiatan konseling dapat membantumereka. Sementara itu, bimbingan sosiallebih ditujukan untuk mengatasi masalahrelasi sosial dengan keluarga ataulingkungan sosialnya. Terkait denganpelaksanaan bimbingan sosial di pantiwedha, Tim Kajian Bentuk PelayananLansia di DIY (2014) menemukan bahwa dipanti werdha ada kecenderungan denganbimbingan pelayananbimbingan psikologis; sosial belum ini relatif diarahkanuntuk sama memfasilitasi interaksi ataukomunikasi antar penghuni panti sosialmaupun dengan warga masyarakat lainnya.Masalah relasi sosial seringkali menjadipenyebab atau saling pengaruhmempengaruhi dengan masalah emosionaldan psikologis, sehingga memperbaikirelasi sosial dengan keluarga ataulingkungan sosial lainnya akan membantumemecahkan masalah emosional danpsikologis juga. 5. Pelayanan bagi lansia dalam panti diberikansampai dengan lansia meninggal. panjang Pelayananyang (Long-Term diberikan Care). merupakan Olehkarena perawatanjangka itu, pelayanan pengurusanpemakaman pun turut menjadi tanggungjawab panti, sesuai dengan agama yangdianutnya masing-masing G. Komponen Pokok Dalam Penyelenggaraan Posyandu Lansia Menurut Azizah (dalam Siahaan, 2014), komponen dalam posyandu lansia meliputi kepemimpinan, pengorganisasian, anggota kelompok, kader, dan pendanaan. 1. Pimpinan Posyandu Unit pengelola posyandu dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih dari para anggota. Ketua posyandu bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan posyandu dan kerjasama dengan semua stakeholder dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan posyandu. 2. Pengorganisasian Posyandu Organisasi posyandu sesungguhnya bersifat organisasi fungsional yang dipimpin oleh seorang pimpinan dan dibantu oleh pelaksana pelayanan yang terdiri dari kader posyandu sebanyak 4-5 orang. Bentuk susunan organisasi unit pengelola posyandu di desa, ditetapkan melalui kesepakatan dari para anggota pengelola posyandu. 3. Kader Posyandu Departemen Kesehatan Republik Indonesia mendefinisikan kader sebagai tenaga sukarela yang tertarik dalam bidang tetentu yang tumbuh dalam masyarakat dan merasa berkewajiban untuk melaksanakan serta membina kesejahrteraan termasuk bidang kesehatan (Siahaan, 2014). Kader posyandu dipilih oleh pengurus posyandu lansia dari anggota masyarakat yang bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan posyandu lansia atau bila mana sulit mencari kader dari anggota posyandu lansia dapat diambil dari anggota masyarakat lainnya yang bersedia menjadi kader. 4. Pendanaan Posyandu Dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan posyandu termasuk untuk revitalisasi, dihimpun dari semangat kebersamaan dan digunakan secara terpadu dari masyarakat, anggaran pemerintah daerah kabupaten/kota, provinsi dan pemerintah pusat serta sumbangan swasta dan donor lainnya baik domestik maupun internasional. H. Mekanisme Penyelenggaraan Posyandu Lansia Penyelenggaraan posyandu lansia pada hakikatnya dilaksanakan dalam 1 (satu) bulan kegiatan, baik pada hari buka posyandu maupun di luar hari buka posyandu sekurang-kurangnya satu hari dalam sebulan. Hari dan waktu yang dipilih, sesuai dengan hasil kesepakatan. Apabila diperlukan, hari buka posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Tempat penyelengaran kegiatan posyandu lansia sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Tempat penyelengaraan tersebut dapat di salah satu rumah warga, halaman rumah, balai desa/kelurahan, balai RW/RT/dusun, salah satu kios di pasar, salah satu ruangan perkantoran atau tempat khusus yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat yang dapat disebut dengan nama “Wisma Posyandu” atau sebutan lainnya. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima terhadap lansia, mekanisme penyelenggaraan kegiatan posyandu lansia yang sebaiknya digunakan adalah sistem lima tahapan (5 meja), yaitu : 1. Tahap I (Meja I) : Tahap pertama yaitu pendaftaran anggota posyandu lansia sebelum pelaksanaan pelayanan. 2. Tahap II (Meja II) : Tahap kedua yaitu pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan lansia serta penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. 3. Tahap III (Meja III) : Tahap ketiga yaitu pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan status mental. 4. Tahap IV (Meja IV) : Tahap keempat yaitu pemeriksaan air seni dan kadar darah (laboratorium sederhana). 5. Tahap V (Meja V) : Tahap kelima yaitu pemberian penyuluhan dan konseling. Selain dengan sistem lima tahapan (5 meja) Azizah (dalam Siahaan, 2014) menyatakan bahwa mekanisme penyelenggaraan kegiatan posyandu lansia dapat dilakukan menggunakan sistem tiga tahap (3 meja) yaitu : 1. Tahap I (Meja I) : Merupakan tahap pendaftaran lansia yang sudah terdaftar maupun yang baru, setiap lansia akan mendapat KMS kemudian dilanjutkan dengan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. 2. Tahap II (Meja II) : Pada tahap ini dilakukan pencatatan pada KMS berupa hasil penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, kegiatan sehari-hari yang dilakukan. Setelah itu dilakukan pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan dan status mental, pengobatan sederhana, dan perawatan juga diberikan. Pada tahap ini, juga dilakukan pemeriksaan kadar gula dan protein dalam air seni 3. Tahap III (Meja III) : Pada tahap ini, lansia diberikan penyuluhan dan konseling selain itu juga dilakukan pembinaan mental untuk memperkuat ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam tahap ini pula perlu dilakukan kegiatan fisik berupa olahraga maupun kegiatan fisik lain. I. Jenis Kegiatan Dalam Posyandu Lansia Pada dasarnya jenis kegiatan posyandu lanjut usia tidak berbeda dengan kegiatan posyandu balita atau kegiatan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat lain di masyarakat. Namun posyandu lanjut usia kegiatannya tidak hanya mencakup upaya kesehatan saja tetapi juga meliputi upaya sosial dan karya serta pendidikan. Hal tersebut disebabkan karena permasalahan yang dihadapi lanjut usia bersifat kompleks, tidak hanya masalah kesehatan namun juga masalah sosial, ekonomi dan pendidikan yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Menurut Azizah (dalam Siahaan, 2014) kegiatan kesehatan di posyandu lansia, antara lain : 1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari, meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan seperti makan, minum, mandi, berjalan, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar dan kecil dan sebagainya. 2. Pemeriksaan status mental. 3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan hasilnya dicatat pada grafik Indeks Massa Tubuh (IMT). 4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta perhitungan denyut nadi selama satu menit. 5. Pemeriksaan hemoglobin dengan menggunakan Talquist, Sahli atau Cuprisulfat. 6. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus). 7. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal. 8. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan diatas. 9. Penyuluhan kesehatan. 10. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia. 11. Kegiatan olahraga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran. 12. Program kunjungan lanjut usia ini minimal dapat dilakukan 1 (satu) bulan sekali atau sesuai dengan program pelayanan kesehatan setempat. DAFTAR PUSTAKA Aminatun, Siti, Chulaifah. 2015. Peran Pekerja Sosial dalam Memberi Pelayanan Lanjut Usia (The Role of Social Workers in Giving Service to Elders). Jurnal PKS Vol 14 No 1 Maret 2015; 107 – 122. Crawford, Karin. 2015. Pekerjaan Sosial dengan Kelompok lanjut Usia. Jakarta : pustaka Societa. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2015. Bina Keluarga Lansia.JawaTimur: BKKBN Keputusan Menteri Sosial Nomor 93/HUK/1999 tentang Uraian Tugas Pejabat Fungsional Pekerja Sosial di Lingkungan Panti Sosial Kementerian PPN/Bappenas. 2015.perlindungan sosial lanjut Usia Jakarta: Direktorat Perlindungan Sosialdan Kesejahteraan Masyarakat. Melalui :http://cas.ui.ac.id/wpcontent/uploads/seminar-27052015/PerlindunganSosialLANSIA-CAS.pdf (10-08-2016) Peraturan Menteri Sosial No. 08 Tahun 2012.Tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang MasalahKesejahteraan Sosial dan Potensi danSumber Kesejahteraan Sosial. Peraturan Menteri Sosial No. 19 tahun 2012Tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut UsiaPeraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004tentang Pelaksanaan Upaya PeningkatanKesejahteraan Sosial Lanjut Usia (Lansia) Sulastri, Sri, Sahadi Humaedi. 2020. Pelayanan Lanjut Usia Terlantar Dalam Panti. Prosiding KS : Riset dan PKM volume 4 NO.1, Hal 1-40. ISSN : 2442-448.