Uploaded by User57874

5 TARHIB RAMADHAN

advertisement
TARHIB RAMADHAN
Tak terasa kita telah memasuki bulan Rajab. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan
sya’ban lalu Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan
hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang beriman, tentu kedatangan bulan Ramadhan
akan disambut dengan rasa penuh syukur, karena Ramadhan merupakan
bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang
yang muttaqin.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut
kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang
tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.
Ramadhan Adalah Keistimewaan Ummat Ini
Begitu banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada umat Nabi
Muhammad saw., yang tidak diberikan kepada umat lainnya. Dalam Islam orang
yang melakukan kebaikan satu akan dibalas oleh Allah swt. dengan sepuluh kali lipat,
sebaliknya apabila dia melakukan kejahatan, tidak Allah balas kecuali hanya sesuai
dengan kadar kejahatan yang dilakukannya.
Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw. menerima
perintah melaksanakan shalat fardlu pada saat isra’ dan mi`raj, pertama kali Allah
memerintahkan untuk dilaksanakan shalat sebanyak 50 kali, namun atas usul Nabi
Musa, shalat tersebut diwajibkan hanya 5 kali dalam sehari semalam untuk Nabi dan
umatnya. Walaupun demikian nilai pahalanya sama dengan melaksanakan shalat 50
kali, karena setiap shalat pahalanya dilipatkan menjadi sepuluh kali, belum cukup
dengan itu, Allah swt. memberikan imbalan pahala yang berlipat ganda sampai 700
kali bahkan bisa lebih banyak lagi.
Bahkan lebih dahsyat lagi Allah memberi satu malam yang lebih besar pahala ibadah
di dalamnya dari pada beribadah 1000 bulan di bulan-bulan lain dan ini hanya terjadi
dalam bulan Ramadhan.
Kisah Malam Istimewa
Imam Ibnu Katsir dalam menyebutkan sebuah hadis tentang turunnya ayat Al-Qadar:
‫س ْو ُل هللاِ صلى هللا عليه وس يَ ْو ًما أ َ ْربَعَةً ِم ْن‬
ُ ‫ع ِلي ب ِْن‬
ُ ‫ ذ َك َر َر‬:‫ع ْر َوة َ قَا َل‬
َ ‫عن‬
َ ُ‫ص ْوه‬
،‫ب‬
ُ ‫ لَ ْم يَ ْع‬،‫عا ًما‬
َ ‫ فَذَ َك َر أَي ُّْو‬:‫عي ٍْن‬
َ َ‫ط ْرفَة‬
َ ‫عبَد ُْوا هللاَ ثَمانِ ْي َن‬
َ ،‫بَنِي إِس َْرائِ ْي َل‬
‫اب َرسُ ْو ِل‬
َ ‫ َويُ ْو‬،‫ َو ِح ْزقِ ْي َل بْنَ ْال َع ُج ْو ِز‬،‫َوزَ َك ِريَّا‬
ُ ‫ص َح‬
ْ َ‫ب أ‬
َ ‫ فَ َع َج‬:‫ قَا َل‬،‫ون‬
ٍ ُ‫ش َع بْنَ ن‬
ْ َ‫ع ِجب‬
‫ت أ ُ َّمت ُ َك‬
َ ،ُ ‫ يَا ُم َح َّمد‬:‫ فَأَتَاهُ ِجب ِْر ْي ُل فَقَا َل‬،‫هللاِ صلى هللا عليه وسلم ِم ْن ٰذ ِل َك‬
َ ُ‫ص ْوه‬
‫عي ٍْن؛ فَقَدْ أ َ ْنزَ َل هللاُ َخي ًْرا‬
ُ ‫ لَ ْم ي ْع‬،ً‫سنَة‬
َ َ‫ط ْرفَة‬
َ َ‫ِم ْن ِع َبادَ ِة هَؤُ الَ ِء النَّفَ ِر ث َ َمانِيْن‬
ْ َ ‫ ِإنَّا أ‬:‫علَ ْي ِه‬
ُ‫اك َما لَ ْيلَة ُ ْالقَدْ ِر لَ ْيلَة‬
َ ‫نزلنَاه ُ ِفي لَ ْيلَ ِة ْالقَدْ ِر َو َما أَدْ َر‬
َ َ ‫ فَقَ َرأ‬.‫ِم ْن ٰذ ِل َك‬
‫س َّر بِ ٰذ ِل َك‬
َ ‫ف‬
َ ‫ْت أ َ ْن‬
َ ‫ع ِجب‬
ِ ‫ْالقَدْ ِر َخي ٌْر ِم ْن أ َ ْل‬
ُ َ‫ ف‬:‫ قَا َل‬.‫ت َوأ ُ َّمت ُ َك‬
َ ‫ض ُل ِم َّما‬
َ ‫ َهذَا أ َ ْف‬،‫ش ْه ٍر‬
‫اس َمعَه‬
ُ ‫َر‬
ُ َّ‫س َلم َوالن‬
َ ُ‫صلى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw suatu hari menceritakan empat orang dari Bani
Israil yang menyembah Allah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat
sekejap mata pun, yaitu Ayub, Zakariya, Hizqil bin ‘Ajuz dan Yusya’ bin Nun. Maka
para sahabat mengagumi hal itu. Kemudian datanglah Jibril kepada Nabi saw dan
berkata: “Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang
tidak pernah berbuat maksiat sekejap mata pun. Kemudian Allah menurunkan yang
lebih baik dari ibadahnya orang Israil tersebut. Kemudian Jibril membacakan kepada
Nabi: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan” (al-Qadr: 1-3) Ini lebih utama dari pada yang
dikagumimu dan umatmu”. Kemudian Rasulullah dan sahabat merasa senang dengan
hal itu.
Hal demikian diberikan oleh Allah swt. kepada umat Nabi Muhammad ini dalam
rangka mendapatkan pahala sebagai investasi dan bekal menempuh kehidupan
akhirat. Demikian ini diberikan oleh Allah sebagai imbangan terhadap umat terdahulu
yang diberikan umur sangat panjang. Umat Nabi Nuh misalnya dapat bertahan sampai
seribu tahun kurang 50 tahun, dan juga umat Nabi-Nabi lain yang umur mereka
mencapai ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, sudah barang tentu kalau mereka
sholeh maka pasti akan mendapatkan pahala yang sangat banyak..
Sedangkan umat Nabi Muhammad saw. hanya sekitar enam puluh sampai tujuh
puluhan tahun, sehingga umat ini tidak akan dapat mengimbangi kebaikan umat
terdahulu yang dapat mengumpulkan pahala begitu banyak. Namun
meskipun demikian umat Muhammad saw tetap dapat mendapatkan pahala yang sama
dengan ummat yang berumur panjang itu, bahkan dapat melebihi umat terdahulu yang
hidup dalam masa ratusan tahun bahkan ribuan tahun.
Persiapan Sebelum Ramadhan
Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan
yang penuh berkah itu:
a. (Isti’dad Imani) : Persiapan iman
Pertama, berdoa kepada Allah Swt, sebagaimana yang dicontohkan para
ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh agar
dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama
enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Swt, karena
berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang
dianugerahi taufik oleh Allah Swt. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf
berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka
dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan
berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif
Al-Ma’aarif: 174)
Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan
serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan
kerelaan”. Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan
Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.
Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa
sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang
mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang
ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa
tahun lalu pada bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa
mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan
sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka
kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban
membayar fidyah menurut sebagian ulama.
Selain itu Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa
sunnah pada bulan Sya'ban ini dengan cara memberikan contoh langsung dan
aplikatif. 'Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah saw berpuasa, sampaisampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya".
Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa:
"Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya'ban sebulan penuh, beliau sambung bulan
itu dengan Ramadhan". (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama' hadits, lihat
Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).
Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya'ban.
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah,
saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di
bulan Sya'ban ini? Beliau saw menjawab: "Itulah bulan yang dilupakan orang, antara
Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt
Rabbul 'Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan
berpuasa". (HR An-Nasa-i).
Ini semua dilakukan demi mempersiapakan keimanan sebagaimana seruan Allah :
‫يَاأَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا‬
Setelah iman kokoh, barulah Allah beri seruan tentang kewajiban puasa :
)183( َ‫علَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِلكُ ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬
ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬
َ ‫ب‬
َ ِ‫الصيَا ُم َك َما ُكت‬
َ ‫ب‬
َ ِ‫ُكت‬
b. (Isti’dad Madi) Persiapan Materi.
Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan
memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar
akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain
yang berpuasa, sekalipun Cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.
Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari
ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim
dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi
bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang
mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini.
Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk
menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Saw adalah orang
yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R
Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana
agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.
Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah.
Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada
masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap bendabenda di sekitarnya.Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu
'anhu: "Sungguh, Rasulullah saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih derma
dari pada angin yang dilepaskan". (HR Muttafaqun 'alaih).
Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali
manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang
memadai.
c. ( Isti’dad Fikri) Persiapan fikroh
Persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a
berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah
adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar
diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak
perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang
menguranginya”.
Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih
banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat
mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. Begitu
juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan ibadah lainnya seperti wudhu,
shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita
untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan
dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.
Minimal isti’dad fikri ini meliputi dua hal, yaitu:
1. Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan, persiapan menyambut
ramadhan dan kajian keutamaan bulan Ramadhan serta amal-amal di dalamnya.
2. Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang
mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.
Paket Amaliyah Ramadhan Dalam Al-Quran
Satu-satunya ayat tentang Ramadhan adalah surat Al-Baqoroh 183-187. Allah
menyebutkan paket amal ramadhan yang jika semua amal ini dilakukan dengan
landasan iman maka Allah pastikan ia akan menjadi hamba yang bertaqwa
sebagaimana awal ayat ramadhan di buka dengan pengharapan taqwa dan akhir ayat
ramadhan ditutup dengan sifat taqwa :
‫) أَيَّا ًما‬183( َ‫علَى الَّ ِذينَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬
َ ‫ب‬
َ ‫ب‬
َ ِ‫الصيَا ُم َك َما ُكت‬
ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬
َ ِ‫يَاأَيُّ َها الَّذِي َن آ َمنُوا ُكت‬
َ ٌ‫علَى الَّ ِذينَ يُ ِطيقُونَهُ فِ ْديَة‬
ٍ ‫َم ْعدُودَا‬
‫طعَا ُم‬
َ ‫سفَ ٍر فَ ِع َّدةٌ ِم ْن أَيَّ ٍام أ ُ َخ َر َو‬
َ ‫ت فَ َم ْن كَا َن ِم ْن ُك ْم َم ِريضًا أ َ ْو‬
َ ‫علَى‬
َ َ ‫ين فَ َم ْن ت‬
‫ش ْه ُر‬
َ )184( َ‫صو ُموا َخ ْي ٌر لَ ُك ْم إِ ْن ُك ْنت ُ ْم ت َ ْعلَ ُمون‬
َ ‫ط َّو‬
ُ َ ‫ع َخ ْي ًرا فَ ُه َو َخ ْي ٌر لَهُ َوأ َ ْن ت‬
ْ ‫ِم‬
ٍ ‫س ِك‬
ٍ ‫اس َوبَ ِينَا‬
‫ش ْه َر‬
َّ ‫ان فَ َم ْن ش َِه َد ِم ْن ُك ُم ال‬
ِ َّ‫َر َمضَانَ الَّذِي أ ُ ْن ِز َل ِفي ِه ا ْلقُ ْرآ ُن ُهدًى ِللن‬
ِ َ‫ت ِمنَ ا ْل ُهدَى َوا ْلفُ ْرق‬
‫س َر‬
َ ‫ص ْمهُ َو َم ْن كَا َن َم ِريضًا أ َ ْو‬
ُ َ‫فَ ْلي‬
ْ ُ‫س َر َو ََل يُ ِري ُد ِب ُك ُم ا ْلع‬
ْ ُ‫َّللاُ ِب ُك ُم ا ْلي‬
َ ‫علَى‬
َّ ‫سفَ ٍر فَ ِع َّدةٌ ِم ْن أَيَّ ٍام أ ُ َخ َر يُ ِري ُد‬
‫سأَلَكَ ِعبَادِي عَنِي فَ ِإ ِني‬
ْ َ ‫علَى َما َهدَا ُك ْم َولَعَلَّ ُك ْم ت‬
َ َ‫َّللا‬
َ ‫) َوإِذَا‬185( َ‫شك ُُرون‬
َّ ‫َو ِلتُك ِْملُوا ا ْل ِع َّدةَ َو ِلتُكَبِ ُروا‬
‫) أ ُ ِح َّل لَ ُك ْم‬186( َ‫ش ُدون‬
ُ ‫ست َ ِجيبُوا ِلي َو ْليُؤْ ِمنُوا ِبي لَعَلَّ ُه ْم يَ ْر‬
ْ َ‫َان فَ ْلي‬
ُ ‫يب أ ُ ِج‬
ٌ ‫قَ ِر‬
ِ ‫َّاع ِإذَا َدع‬
ِ ‫يب َدع َْوةَ الد‬
ُ َ‫الرف‬
‫َّللاُ أَنَّ ُك ْم ُك ْنت ُ ْم ت َ ْختَانُونَ أ َ ْنفُسَ ُك ْم‬
َ ‫اس لَ ُه َّن‬
َ ِ‫ث إِلَى ن‬
َّ ‫ع ِل َم‬
ِ َ‫لَ ْيلَة‬
ٌ َ‫اس لَ ُك ْم َوأَ ْنت ُ ْم ِلب‬
ٌ َ‫سائِ ُك ْم ُه َّن ِلب‬
َّ ‫الصيَ ِام‬
‫َّللاُ لَ ُك ْم َو ُكلُوا َواش َْربُوا َحتَّى يَتَبَيَّنَ لَ ُك ُم‬
َ ‫عفَا‬
َ ‫علَ ْي ُك ْم َو‬
َ ‫اب‬
ِ ‫ع ْن ُك ْم فَ ْاْل َن بَا‬
َّ ‫ب‬
َ َ ‫ش ُروهُنَّ َوا ْبتَغُوا َما َكت‬
َ َ ‫فَت‬
ُ ‫ا ْل َخ ْي‬
‫ش ُرو ُهنَّ َوأ َ ْنت ُ ْم‬
ِ ‫الصيَا َم ِإلَى اللَّ ْي ِل َو ََل تُبَا‬
ُ َ‫ط ْاْل َ ْبي‬
ْ َ ‫ض ِم َن ا ْل َخ ْي ِط ْاْل‬
ِ ‫س َو ِد ِم َن ا ْلفَ ْج ِر ث ُ َّم أَتِ ُّموا‬
)187( ‫اس لَعَلَّ ُه ْم يَتَّقُو َن‬
ِ َّ‫َّللاُ آيَاتِ ِه ِللن‬
ِ َّ ‫اج ِد تِ ْلكَ ُحدُو ُد‬
َ ‫عَا ِكفُو َن فِي ا ْل َم‬
َّ ُ‫َّللا فَ ََل ت َ ْق َربُو َها َكذَ ِلكَ يُبَيِن‬
ِ ‫س‬
Kita akan uraikan paket amaliyah ramadhan yang diajarkan Allah dalam ayat ini. Dan
setidaknya ada delapan amaliyah pokok dalam ayat tentang ramadhan yang harus
diperhatikan.
1. Puasa dari segala yang membatalkannya (kemaksiatan dan durhaka)
)183( َ‫علَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِلكُ ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬
ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬
َ ‫ب‬
َ ِ‫الصيَا ُم َك َما ُكت‬
َ ‫ب‬
َ ِ‫ُكت‬
Semua amal ibnu Adam adalah untuknya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali
lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah
untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan
syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi AKU, orang yang berpuasa
memiliki dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu
Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi
Allah SWT daripada minyak misik. (HR. Bukhari)
2. Shodaqoh (wajib dan Sunnah)
‫فِدْيَةٌ طَعَا ُم ِم ْس ِكين‬
"Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi yang berpuasa, maka
dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan yang berpuasa itu tidak
dikurangi pahalanya sedikitpun" (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu
Hibban)
3. Perbanyak interaksi dengan quran
ُ ‫ضانَ الَّذِي أ ُ ْن ِز َل ِفي ِه ْالقُ ْر‬
‫آن‬
َ
َ ‫ش ْه ُر َر َم‬
di antara amalan penting lainnya adalah tilawatul Quran dengan tadabur dan khusyuk.
Beliau mengkhatamkan Alquran minimal dua kali pada bulan Ramadhan.
Para ulama salaf sangat tekun untuk membaca Alquran. Al-Aswad bin Yazid selalu
mengkhatamkan Alquran dalam enam hari bila masuk Ramadhan mengkhatamkannya
tiga hari sekali, dan bila masuk 10 hari terakhir mengkhatamkannya setiap malam. Imam
As-Syafi’i selalu mengkhatamkan Alquran setiap hari pada 10 hari terakhir Ramadhan.
Bahkan sejak awal ramadhan jika ditotal imam syafii khatam 60 kali.
Utsman bin affan menghatamkan Al-Qur’an setiap satu Rakaat, ada yang katam sehari
satu kali, bahkan dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali dan riwayat yang
terbanyak adalah Ibnu khotib menghatamkan Al-Qur’an delapan kali sehari.
4. Banyak mendekat diri dengan berdzikir dan bertakbir
َّ ‫َو ِلتُكَبِ ُروا‬
‫علَى َما هَدَا ُك ْم َولَعَلَّ ُك ْم ت َ ْش ُك ُرو َن‬
َ َ‫َّللا‬
Termasuk ibadah yang sering ditinggalkan pada waktu2 luang di bulan ramadhan
adalah dzikir dan tasbih, banyak meyebut asma Allah, Padahal ini adlah perintah
Allah dalam rangkaian amaliayah ramadhan. Yang nilainya sangat agung di sisi Allah
SWT.
5. Banyak mendekatkan diri dengan ketaatan (amal sunnah)
ُ ‫فَ ْليَ ْست َِجيبُوا ِلي َو ْليُؤْ ِمنُوا ِبي لَعَلَّ ُه ْم يَ ْر‬
‫شدُو َن‬
“Barangsiapa melakukan qiyam ramadhan karena iman dan mencari keridhooan, akan
diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari)
6. Ajak keluarga untuk memaksimalkan Ramadhan dengan ketaatan
ُ َ‫الرف‬
‫اس لَ ُه َّن‬
َّ ‫الصيَ ِام‬
ٌ َ‫اس لَ ُك ْم َوأ َ ْنت ُ ْم ِلب‬
ٌ َ‫سائِ ُك ْم ُه َّن ِلب‬
ِ َ‫أ ُ ِح َّل لَ ُك ْم لَ ْيلَة‬
َ ِ‫ث إِلَى ن‬
membangunkan keluarganya untuk menegakkan shalat. Sebagaimana diriwayatkan Bukhari
dari Siti Aisyah, Rasul SAW membangunkan keluarga di malam hari bukan khusus pada
bulan Ramadhan saja, tetapi pada 10 hari terakhir lebih rajin dan bersegera untuk
membangunkan keluarga. Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Apabila memasuki 10 hari
terakhir beliau bertahajud, bersungguh- sungguh, dan membangunkan keluarganya dan anakanaknya untuk shalat malam.”
7. Jaga sunnah-sunnah puasa
ُ ‫َو ُكلُوا َوا ْش َربُوا َحتَّى يَتَبَيَّنَ لَ ُك ُم ْال َخ ْي‬
‫ض ِمنَ ْال َخي ِْط ْاْلَس َْو ِد ِمنَ ْالفَج ِْر ث ُ َّم أَتِ ُّموا‬
ُ َ‫ط ْاْل َ ْبي‬
‫ام ِإلَى اللَّي ِْل‬
ِ
َ َ‫الصي‬
Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan. (HR Muslim).
Mintalah pertolongan dengan makan sahur agar dapat berpuasa disiang harinya, dan
dengan tidur siang, agar dapat qiyamul-lail di malam hari. (HR Ala Hakim).[3]
Ada tiga hal yang dicintai Allah 'Azza wa jalla: menyegerakan berbuka,
mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat.
(HR Ath-Thabarani)[4].
Manusia akan selalu dalam keadaan baik, selama mereka menyegerakan berbuka. (HR
Muslim).
8. Itikaf dan mencari keistimewaan lailatul Qodar
َّ ُ ‫اج ِد ِت ْل َك ُحدُود‬
‫اس لَعَلَّ ُه ْم‬
ِ َّ‫َّللاِ فَ ََل ت َ ْق َربُوهَا َكذَ ِل َك يُبَ ِي ُن َّللاَّ ُ آيَا ِت ِه ِللن‬
َ ‫َوأ َ ْنت ُ ْم‬
ِ ‫س‬
َ ‫عا ِكفُونَ ِفي ْال َم‬
)187( َ‫يَتَّقُون‬
Dari Ibnu Umar sesungguhnya nabi beri’tikaf 10 terakhir bulan Ramadhan (HR.
Bukhori)
Jika amal pokok yang Allah sampaikan di dalam rangkaian ayat-ayat puasa ini kita
maksimalkan, maka Allah akan jamin kita di masukkan ke dalam golongan hamba
yang mendapat predikat takwa sebagaimana penutup ayat : Laallahum yattaqun. (AlBaqoroh 187)
Semoga kita dikuatkan Allah untuk menyambut, mengisi dan memaksimalkan
amaliyah Ramadhan dan Allah jadikan kita termasuk hamba yang bertakwa.
Download