Uploaded by User54457

Tata Kelola Organisasi Sektor Publik

advertisement
TATA KELOLA (GOVERNANCE) ORGANISASI SEKTOR PUBLIK
Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Akuntansi Sektor Publik
Disusun Oleh:
Inka Faradilla Putri
(120110180013)
Ghita Aulia Hidayat
(120110180036)
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2020
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Shalawat serta salam kami
sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Berkat rahmat dan karunia
yang dilimpahkan oleh-Nya, kami dapat berkesempatan untuk menyusun dan
menyelesaikan makalah mengenai “Tata Kelola (Governance) Organisasi Sektor Publik”.
Makalah ini ditulis dan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Sektor
Publik. Kami menyadari penulisan dan penyusunan makalah ini masih belum sempurna,
maka dari itu kritik dan saran kami harapkan. Semoga pembahasan yang dibahas dalam
makalah “Tata Kelola (Governance) Organisasi Sektor Publik” memberikan manfaat,
wawasan, dan pengetahuan kepada pembaca, serta menjadi salah satu sumber informasi
bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Bandung, 2 Mei 2020
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 3
2.1 Pengertian Tata Kelola ............................................................................................ 3
2.2 Prinsip Good Governance ....................................................................................... 4
2.3 Indikator Good Governance Pemerintahan ............................................................ 4
2.4 Karakteristik Good Governance Pemerintahan ...................................................... 7
2.5 Implementasi Tata Kelola Pemerintahan Indonesia ............................................... 9
2.6 Kasus Tata Kelola Pada Organisasi Sektor Publik ............................................... 10
BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 13
Kesimpulan ................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berkutat pada penyelenggaraan pemerintahan yang sentralistik mengakibatkan
kegagalan dalam efisiensi pemerintahan yang selalu dicampuradukkan dengan politik.
Dengan perkembangannya maka dituntut menghadirkan pelayanan publik yang baik dari
negara terhadap warganya. Adopsi prinsip swasta sangatlah rasional. Prinsip manajemen,
prinsip mekanisme pasar, pengalokasian, dan pengembangan sumber daya manusia
mengilhami munculnya konsep tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Walaupun kritik mengatakan konsep good governance merupakan konsep imperialisme
dan kolonialisme dari negara maju (Farazmand, 2004). Tidak bisa dibantah lagi bahwa
kehadiran konsep good governance cukup revolusioner untuk menghadirkan tata kelola
pemerintahan yang baik bagi negara berkembang (Holzhacker, Wittek, & Woltjer, 2016).
Tata kelola pemerintahan yang baik merupakan landasan yang harus diambil dalam
kebijakan pemulihan ekonomi, sosial, maupun politik. Dalam perkembangan globalisasi
maupun demokrasi menuntut peran pelaku penyelenggaraan pemerintahan. Disadari,
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik membutuhkan waktu yang tidak singkat
dan upaya terus menerus. Di samping itu, perlu dibangun kerja sama dari seluruh
komponen bangsa yaitu para aparatur negara, pihak swasta, dan masyarakat untuk
menumbuhkan rasa kebersamaan dalam rangka mencapai tata kelola pemerintahan yang
baik.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini antara lain:
1.
Apa definisi dari tata kelola?
2.
Apa prinsip dari good governance?
3.
Apa indikator good governance pemerintahan?
4.
Apa karakteristik good governance pemerintahan?
5.
Bagaimana implementasi tata kelola pemerintahan Indonesia?
1
6.
Bagaimana bentuk kasus tata kelola pada organisasi sektor publik?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui definisi tata kelola.
2.
Untuk mengetahui apa saja prinsip dari good governance.
3.
Untuk mengetahui indikator good governance pemerintahan.
4.
Untuk mengetahui karakteristik good governance pemerintahan.
5.
Untuk mengetahui implementasi tata kelola pemerintahan Indonesia.
6.
Untuk mengetahui kasus tata kelola pada organisasi sektor public.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tata Kelola
Menurut World Bank, tata kelola pemerintahan adalah suatu penyelenggaraan
manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip
demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi, dan
pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin
anggaran serta menciptakan legal dan political framework bagi tumbuhnya aktivitas
usaha.
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mendefinisikan
tata kelola pemerintahan sebagai sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan
mengendalikan kegiatan bisnis perusahaan.
Pemerintah atau “Government” dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “The
authoritative direction and administration of the affairs of men/women in a nation, state,
city, etc.” (pengarahan dan administrasi yang berwenang atas kegiatan orang-orang dalam
sebuah negara, negara bagian, kota, dan sebagainya). Ditinjau dari sisi kebahasaan
governance berarti tata kepemerintahan dan good governance bermakna tata
kepemerintahan yang baik. Di satu sisi istilah good governance dapat dimaknai secara
berlainan, sedangkan sisi yang lain dapat diartikan sebagai kinerja suatu lembaga,
misalnya kinerja pemerintahan, perusahaan atau organisasi kemasyarakatan.
Apabila istilah ini dirujuk pada kata asli dalam bahasa inggris: governing, maka
artinya adalah mengarahkan atau mengendalikan, Karena itu good governance dapat
diartikan sebagai tindakan untuk mengarahkan, mengendalikan, atau memengaruhi
masalah publik. Oleh karena itu ranah good governance tidak terbatas pada negara atau
birokrasi pemerintahan, tetapi juga pada ranah masyarakat sipil yang dipresentasikan oleh
organisasi nonpemerintah dan sektor swasta. Singkatnya, tuntutan terhadap good
governance tidak hanya ditujukan kepada penyelenggara negara atau pemerintah,
melainkan juga pada masyarakat di luar struktur birokrasi pemerintahan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa tata kelola adalah suatu sistem atau cara
maupun proses yang mengatur dan mengendalikan hubungan antara pihak manajemen
(pengelola) dengan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap organisasi mengenai
3
hak-hak dan kewajiban mereka, yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi
semua pihak yang berkepentingan.
2.2 Prinsip Good Governance
Prinsip dapat dikatakan sebagai suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum
maupun individual yang dijadikan oleh seseorang atau kelompok sebagai sebuah
pedomanuntuk berpikir atau bertindak. Prinsip tata kelola yang baik dalam organisasi
perusahaan serta pemerintahan dapat berbeda karena dipengaruhi faktor lingkungan
sekitar. Dalam corporate governance terdapat lima prinsip tata kelola yang baik yakni:
transparency (keterbukaan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada para
pemangku kepentingan), accountability (kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggung
jawaban perusahaan sehingga pengelolaan terlaksana dengan efektif. Prinsip
akuntabilitas memberi kejelasan hak dan kewajiban antara pemegang saham, dewan
direksi, dan dewan komisaris.), responsibility (kesesuaian pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan dan prinsip korporasi yang sehat.), independency (pengelolaan
perusahaan secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh dari pihak
manapun yang tidak sesuai dengan undang-undang serta prinsip korporasi yang sehat),
dan fairness atau kewajaran (kewajaran adalah keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi
hak pemangku kepentingan yang timbul berdasar perjanjian dan peraturan undangundang). Pada prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, kelima prinsip yang ada pada
good corporate governance dipecah menjadi beberapa point, walaupun dipecah, prinsipprinsip tersebut mewakili prinsip yang ada pada good corporate governance.
Prinsip good government governance dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Transparansi yaitu yang dapat dibangun atas dasar arus informasi yang bebas.
Seluruh proses pemerintahan lembaga dan informasi dapat diakses oleh pihak
yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat
dimengerti.
2. Peduli pada Stakehoder yaitu berbagai lembaga-lembaga dan seluruh proses
pemerintahan harus berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan.
3. Berorientasi pada Konsensus yakni sebuah tata pemerintah yang baik dapat
menjembatani kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus
menyeluruh dan yang terbaik bagi kelompok masyarakat.
4
4. Kesetaraan
ialah
semua
warna
masyarakat
mempunyai
kesempatan
memperbaiki atau mempertahankan kesejahteraan mereka.
5. Efektifitas dan Efisiensi yakni segala proses pemerintahan dan lembaga
membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan
menggunakan sumber daya yang ada seoptimal mungkin.
6. Akuntabilitas merupakan beberapa pengambil keputusan di pemerintah, sektor
swasta dan organisasi masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat
ataupun kepada lembaga yang berkepentingan.
7. Visi Strategis adalah seorang pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif
yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan
manusia, serta kepekaan untuk mewujudkannya, harus memiliki pemahaman
atas kompleksitas kesejarahan sosial budaya yang menjadi dasar bagi perspektif
tersebut.
8. Partisipasi Masyarakat ialah semua warga masyarakat mempunyai suara dalam
pengambilan keputusan baik secara langsung maupun tidak.
9. Tegaknya Supremasi Hukum yaitu salah satu kerangka hukum harus adil dan
diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk di dalamnya hukum-hukum yang
menyangkut hak asasi manusia.
2.3 Indikator Good Governance Pemerintahan
Meski belum ada definisinya secara formal, namun tata Kelola pemerintahan
dianggap penting untuk menjamin kesejahteraan nasional. Tata Kelola pemerintahan
yang baik (good governance) seturut kesepakatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
merupakan salah satu fungsi dan tanggung jawab negara. Untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik, sejatinya suatu negara harus memiliki beberapa indikator
pengukuran. Indikator tersebut antara lain: transparasi, partisipasi, akuntabilitas, dan
koordinasi.
Transparasi merupakan suatu proses keterbukaan menyampaikan informasi atau
aktivitas yang dilakukan. Harapannya, agar pihak-pihak eksternal secara langsung bisa
ikut bertanggung jawab untuk memberikan pengawasan. Faktor terpenting terciptanya
transparasi ini adalah dengan memberikan akses informasi yang baik.
5
Partisipasi merujuk kepada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam
merencanakan kebijakannya. Masukan dari berbagai pihak Ketika proses pembuatan
kebijakan dapat membantu pembuat kebijakan mempertimbangkan berbagai aspek
spersoalan, perspektif dan opsi-opsi alternatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Proses partisipasi memberikan peluang bagi pembuat kebijakan untuk mendapatkan
pengetahuan baru, mengintegrasikan harapan masyarakat publik ke dalam proses
pengambilan suatu kebijakan dan sekaligus untuk mengantisipasi terjadinya konflik
social yang mungkin muncul. Beberapa komponen yang menjamin akses partisipasi
adalah tersedianya ruang formal melalui forum-forum yang relevan, adanya mekanisme
untuk memastikan partisipasi public, prosesnya yang inklusif dan terbuka, dan adanya
kepastian masukan dari publik akan diakomodir didalam penyusunan kebijakan.
Akuntabilitas merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban atas suatu peraturan
yang telah dibuat. Proses ini juga sekaligus menguji seberapa kredibel suatu kebijakan
tidak berpihak pada golongan tertentu. Akuntabilitas akan melewati beberapa proses
pengujian tertentu. Proses yang terstruktur ini diharapkan akan mampu membaca celah
kekeliruan, seperti penyimpangan anggaran atau pelimpahan kekuasaan yang kurang
tepat. Mekanisme akuntabilitas juga memberikan kesempatan kepada para pemangku
kebijakan untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban apabila terdapat hal-hal
yang tidak sesuai dengan konsesus dalam pelaksanaan tata kelola di bidang tertentu.
Koordinasi dapat didefiniskan sebagai sebuah mekanisme yang memastikan bahwa
seluruh pemangku kebijakan yang memiliki kepentingan bersama telah memiliki
kesamaan
pandangan.
Kesamaan
pandangan
ini
dapat
diwujudkan
dengan
mengintegrasikan visi dan misi pada masing-masing lembaga. Koordinasi menjadi faktor
yang sangat penting, karena kekacauan koordinasi dapat menyebabkan efisiensi dan
efektivitas kerja menjadi terganggu.
Pada intinya tata kelola pemerintahan yang baik melibatkan berbagai pihak secara
terintegrasi. Sistem pemerintahan tidak akan berjalan optimal apabila lembaga tidak
didukung oleh partisipasi aktif oleh elemen masyarakat. Lalu, untuk mencapainya
diperlukan kesadaran serta pengetahuan agar masyarakat dapat berpikir kritis mengenai
kebijakan yang sudah seharusnya dilakukan.
6
2.4 Karakteristik Good Governance Pemerintahan
Dengan mengetahui pengertian dari tata kelola pemerintahan yang baik kita dapat
sedikit melihat ciri-ciri dari tata kelola pemerintahan yang baik. Namun, sejatinya
terdapat ciri-ciri lain yang khas dari tata kelola pemerintahan yang baik. Berikut
merupakan uraian mengenai apa saja yang termasuk ciri-ciri atau karakteristik tata kelola
pemerintahan yang baik:
1. Partisipasi warga negara yang tinggi
Ciri pertama dari tata kelola pemerintahan yang baik yaitu tingginya peran
serta warga negara dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan
penyelenggaraan negara. Dengan adanya peran serta warga negara, maka jalannya
pemerintahan akan lebih terkendali dan lebih memihak kepada kepentingan
rakyat. Peran serta warga negara yang baik juga menjadikan turunnya tingkat
korupsi, kolusi, dan nepotisme di berbagai bidang. Sejatinya, peran aktif warga
negara akan menjadikan pemerintahan lebih bertanggung jawab dan merasa
terawasi.
2.
Supremasi hukum yang ditegakkan oleh negara
Supremasi hukum yaitu kekuasaan hukum serta norma-norma hukum yang
menjadi dasar dari segala hal dan tetap memiliki prinsip berkeadilan. Negara
dengan tata kelola pemerintahan yang baik harus menegakkan hukum dengan adil
tanpa memandang bulu. Hal tersebut akan membawa pengaruh positif terhadap
tingkat keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. Penegakkan hukum yang
baik akan menghasilkan masyarakat yang taat hukum dan berani menindak
ketidakadilan
yang
terjadi
di
sekitarnya.
Apabila
hukum
dicederai
penegakkannya, maka bukan tidak mungkin apabila segenap warga negara
menjadi berkurang kepercayaannya terhadap pemerintahan.
3.
Baiknya transparasi penyelenggaraan pemerintahaan
Keterbukaan informasi di pemerintahan merupakan suatu faktor yang
mempengaruhi tata kelola pemerintahan. Dengan adanya keterbukaan atau
transparansi dalam pemerintahan, maka rakyat dapat dengan bebas mengambil
data terkait pemerintahan dan memberikan kritik juga saran demi kemajuan
negara dengan berdasarkan data tersebut. Transparansi dalam penyelenggaraan
7
kedaulatan rakyat juga akan memudahkan pengawasan yang dilakukan baik oleh
lembaga legislatif ataupun lembaga yudikatif.
4.
Respon yang baik dari aparatur negara
Tidak dapat kita pungkiri bahwa dalam penyelenggaraan negara pemerintah
berhubungan dengan banyak pihak yang terkait. Entah itu pihak asing ataupun
pihak swasta dalam hal ekonomi atau pun organisasi non-pemerintah semacam
LSM. Semua lembaga tersebut tentunya membutuhkan respons yang baik dari
aparatur negara dalam hal pelaksanaan urusan mereka yang berkaitan dengan
negara. adanya kesemua lembaga tersebut juga nantinya dapat memajukan negara,
baik karena geraknya di bidang ekonomi ataupun di bidang sosial yang menjadi
mitra pemerintah.
5.
Pengalokasian Sumber Daya Negara yang baik
Sumber daya yang dimaksud dalam tulisan ini dapat berupa sumber daya
manusia, baik rakyat maupun aparatur negara. selain itu, sumber daya alam dan
budaya juga termasuk ‘harta’ yang dimiliki oleh suatu negara. maka dari itu,
penggunaan sumber daya negara dengan efektif dan efisien menjadi salah satu ciri
yang paling menonjol dari tata kelola pemerintahan yang baik. Hasil dari alokasi
sumber daya negara yang baik dapat terlihat dari majunya sektor pemerintahan,
sektor perekonomian, sektor budaya, dan kesejahteraan masyarakat yang terus
meningkat. Apabila yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, maka bisa jadi negara
tersebut belum memiliki tata kelola pemerintahan yang baik.
6.
Pertanggung jawaban pemerintahan yang jelas
Dalam melaksanakan tugasnya untuk menjalankan pemerintahan, maka
pemerintah harus rutin untuk memberikan laporan pertanggungjawabannya untuk
selanjutnya dievaluasi oleh rakyat atau secara lebih khususnya dewan perwakilan
rakyat. Salah satu tugas dan fungsi DPR adalah mengawasi dan meminta
pertanggungjawaban
presiden
dalam
wadah
MPR
bersama
DPD.
Pertanggungjawaban pemerintah pun harus dilakukan dalam rentang waktu yang
tidak berjauhan agar segenap rakyat mengetahui kinerja dari aparatur negara
7.
Memiliki visi pembangunan yang luas
Salah satu ciri tata kelola pemerintahan yang baik adalah sistem pemerintahan
tersebut memiliki visi pembangunan negara yang luas. Yang dimaksud dengan
8
visi pembangunan yang luas sendiri yaitu suatu tujuan pembangunan
dipertimbangkan secara matang dan mendalam serta mempertimbangkan aspek
kemajuan zaman dalam menentukan tujuan pembangunan tersebut. Nantinya, visi
pembangunan tersebut akan menjadi dasar bagi pemerintahan untuk merumuskan
kebijakan publik yang berkeadilan dan merakyat. Selain itu, visi pembangunan
juga menjadi dasar untuk mengevaluasi jalannya pemerintahan. Dalam kasus
negara Indonesia, yang menjadi dasar visi pembangunan adalah nilai-nilai dasar
Pancasila.
8.
Tingginya orientasi terhadap tujuan Bersama
Suatu negara dengan tata kelola pemerintahan yang baik akan memiliki
orientasi yang tinggi untuk kepentingan bersama. Tata kelola pemerintahan harus
dapat menjadi sarana dari kepentingan yang berbeda agar diperoleh pilihan yang
berkeadilan dan menuju kepentingan bersama. Adanya orientasi yang tinggi
terhadap tujuan bersama akan meningkatkan persatuan dan kesatuan di tengah
masyarakat. Hal ini akan menjadikan ketertiban dan keamanan segenap warga
negara menjadi lebih mudah untuk dijaga.
2.5 Implementasi Tata Kelola Pemerintahan Indonesia
Menurut penelitian, praktik tata kelola perusahaan yang baik (efektif dan efisien)
terbukti mampu meminimalkan modal, menurunkan risiko dan mempengaruhi nilai
kinerja perusahaan secara positif. Efektivitas praktik tata kelola perusahaan sangat
bervariasi, tergantung dari keistimewaan konstitusional dan budaya masing-masing
negara. Ruang lingkup yang mencakup bidang hukum, sistem pemerintahan, fungsi
dewan direksi, dan struktur organisasi memegang peranan penting dalam tata kelola
perusahaan Indonesia. Sehingga tata kelola perusahaan Indonesia memiliki tujuan yang
khas. Salah satunya adalah prinsip ekonomi dinamis untuk memajukan kesejahteraan
seluruh kalangan masyarakat. Penerapan tata kelola perusahaan di tanah air diharapkan
mampu memajukan taraf hidup ratusan juta masyarakat dari berbagai kalangan ekonomi.
Sehingga keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak hanya bermanfaat untuk pihak
tertentu, melainkan juga berperan penting untuk kesejahteraan hidup banyak orang yang
terlibat di perusahaan tersebut.
9
Tata kelola perusahaan yang kualitasnya rendah dapat diindikasikan oleh tingkat
korupsi yang tinggi dan transparansi pengelolaan keuangan yang minim. Jika mayoritas
perusahaan di suatu negara memiliki indikasi tersebut, kemungkinan besar investor akan
enggan bekerja sama dan menanamkan modal. Sebaliknya, proses tata kelola perusahaan
yang baik justru akan menarik minat investor untuk melakukan ekspansi bisnis atau
sekadar berinvestasi. Kini, perusahaan-perusahaan Indonesia yang tata kelolanya kurang
baik mulai berbenah diri demi memikat investor dan meningkatkan daya saing.
Pertumbuhan ekonomi global yang pesat memang menuntut setiap perusahaan untuk
terus memperbaiki kekurangan dari segi internal maupun eksternal.
Tata kelola perusahaan juga tak lepas dari peran kepemimpinan dewan (pengawas
dan eksekutif). Proses kepemimpinan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman
dan diuji seiring dengan berjalannya waktu. Kepemimpinan yang bertanggung jawab dan
dilakukan berdasarkan prinsip tata kelola perusahaan akan terus membuka peluang
investasi. Karena para investor tentu lebih mudah mempercayai perusahaan yang
memiliki integritas dan minim gejolak kepemimpinan. Konflik-konflik internal harus
diminimalkan demi memaksimalkan upaya penerapan tata kelola perusahaan secara
menyeluruh.
Oleh sebab itu, penerapan tata kelola perusahaan harus disesuaikan dengan
karakteristik kelembagaan dan organisasi di Indonesia. Sehingga perusahaan-perusahaan
Indonesia mampu meningkatkan keunggulan demi menghadapi persaingan ekonomi
global yang ketat. Hingga saat ini, perusahaan-perusahaan di tanah air masih terus
berbenah diri dalam proses implementasi tata kelola perusahaan demi menaati tata kelola
perusahaan secara lebih efektif di masa mendatang.
2.6 Kasus Tata Kelola Pada Organisasi Sektor Publik
Pemerintah merupakan salah satu dari perwujudan organisasi sektor publik. Dalam
menjalankan visi dan misnya pemerintah memiliki organisasi-organisasi sektor publik
lain yang lingkupnya tidak seluas pemerintah. Untuk membantu pemerintah dalam
menjalankan perekonomian negara, tedapat organisasi yang sering kita dengar namanya,
yakni BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Pada tiga tahun ke belakang, perusahaan plat
merah menjadi sorotan publik sebab terlibat dalam kasus-kasus besar, yang merugikan
10
negara. Kasus terbaru yang disorot pada tahun 2018 lalu salah satunya adalah kasus PT
Asuransi Jiwasraya.
Dilansir melalui laman berita merdeka, anggota Ombudsman RI, Alamsyah Saragih
menyoroti soal tata kelola PT Asuransi Jiwasraya. Dari hasil pengamatan pihaknya, tata
kelola perusahaan asuransi pelat merah itu memang buruk. "Komisaris dulu. Kita lihat di
Jiwasraya terlambat memenuhi kriteria tiga orang minimum komisaris. Baru bulan
September terakhir baru bisa tiga. Komisaris independen merangkap komisaris utama.
Jadi agak acak-acakan," kata dia, di Jakarta, Sabtu (18/1).
Selanjutnya di level direksi, Jiwasraya juga tidak memiliki Direktur keuangan. Tak
hanya itu, ada juga rangkap jabatan. Direktur Keuangan dan Direktur Investasi, dipegang
oleh satu orang. "Kita lihat tidak ada Direktur Kepatuhan padahal di POJK (Peraturan
OJK) itu wajib. Apakah Jiwasraya, Asabri termasuk asuransi yang kecil? Tidak," jelas
dia. "Ini (perusahaan asuransi) yang besar dan tidak patuh pada ketentuan itu. Tidak ada
Direktur kepatuhan. Ada rangkap jabatan Direktur Keuangan dan Direktur Investasi.
Bayangkan kalau produksi dan keuangan digabungkan," lanjutnya.
Tata kelola Jiwasraya yang buruk ini, dalam pandangan dia seharusnya diketahui
oleh OJK sebagai pengawas lembaga keuangan. "Harusnya (OJK) tahu. Ini semua kan
aturan OJK yang harus dipatuhi. Yang mengatur OJK. Industri asuransi diatur sangat
ketat karena tempat menitipkan uang publik. Bukan uangnya para direktur, uangnya
pemegang saham. Jadi jangan seenaknya. Jadi, dari sisi tata kelola sudah lah enggak usah
berkilah kesana kemari, (Jiwasraya) memang buruk," tandasnya.
Dalam POJK Nomor 73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik
bagi Perusahaan Perasuransian disebutkan bahwa tata kelola perusahaan yang baik
merupakan salah satu pilar dalam membangun kondisi perekonomian yang sehat.
Penerapan tata kelola perusahaan yang baik berkaitan erat dengan kredibilitas perusahaan
yang menjalankan serta iklim perekonomian di suatu negara. Pesatnya perkembangan
industri perasuransian harus didukung dengan iklim yang kondusif. Dalam rangka
menunjang pencapaian iklim usaha yang kondusif serta persaingan usaha yang sehat,
maka penting bagi industri perasuransian untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang
baik. Penerapan tata kelola perusahaan yang baik oleh industi perasuransian tersebut
menjadi salah satu bagian penting dalam menangani risiko. Apabila penerapapan tata
11
kelola Perusahaan Perasuransian dapat berjalan dengan baik, maka manajemen risiko
juga akan berjalan dengan efektif.
Pelaksanaan Good Corporate Governance perusahaan paling tidak harus
memperhatikan beberapa hal, antara lain:
1. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, Dewan Komisaris
2. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite Audit;
3. Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan eksternal;
4. Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian internal;
5. Rencana strategis Perseroan;
6. Pelaksanaan transparansi kondisi keuangan dan non keuangan Perseroan.
Apabila Asuransi Jiwasraya sebelumnya sudah konsisten mejalalankan tata kelola
perusahaan yang baik sesuai dengan peraturan yang sudah ada maka kecil kemungkinan
terjadi kasus gagal bayar yang nilainya sangat besar ini. Dampak gagal bayar Jiwasraya
disinyalir berdampak massive dan sistemik. Bagi Pelaku bisnis atau seluruh stakeholder
jasa keuangan, kasus jiwasraya ini menjadi peringatan serius tentang pentingnya tata
kelola perusahaan yang baik dan benar.
Kemunculan kasus Jiwasraya menjadikan rapot merah terhadap BUMN yang ada di
Indonesia terutama di dalam dunia asuransi. Kebijakan yang dilakukan oleh DPR dengan
pembuatan pansus ditolak oleh sebagian besar nasabah Jiwasraya, hal ini berkaca pada
pengalaman kasus Bank Century yang membuat gaduh dan tidak menemukan titik terang
sehingga dana nasabah tersebut tidak dibayar. Jajaran DPR seharusnya berkoordinasi
dengan pemerintah maupun Kejaksaan Agung dalam mengawal kasus Jiwasraya ini tanpa
menjadikan kasus ini sebagai komoditas politik sehingga dana nasabah dapat kembali.
Kemunculan kasus Jiwasraya juga berdampak terhadap asuransi swasta, banyak nasabah
yang menarik polis dalam jumlah yang besar akibat kasus ini. Penebusan polis dalam
jumlah yang besar akan berdampak negatif terutama dalam hal likuiditas perusahaan
sehingga berdampak terhadap industri keuangan secara keseluruhan.
12
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan paparan materi pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa tata kelola adalah suatu sistem atau cara maupun proses yang
mengatur dan mengendalikan hubungan antara pihak manajemen (pengelola) dengan
seluruh pihak yang berkepentingan terhadap organisasi mengenai hak-hak dan kewajiban
mereka, yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang
berkepentingan.Tata kelola yang baik memiliki prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai
pedoman dalam menjalankan suatu organisasi. Ketika pemerintahan telah berpegang
teguh pada prinsip good governance dan menjalankan tata kelola secara baik, maka akan
muncul suatu karakteristik yang menggambarkan good government governance. Untuk
menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik di Indonseia perlu kerja sama dari
berbagai pihak. Pelanggaran tata kelola yang baik dapat merugikan suatu organisasi, hal
ini tercermin dalam kasus yang menjerat salah satu perusahaan plat merah milik
Indonesia.
13
DAFTAR PUSTAKA
Andhika, L. R. (2017). Evolusi Konsep Tata Kelola Pemerintah: Sound Governance,
Dynamic Governance dan Open Government. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik,
8(2), 87-102.
Selamat, M. D. (2013). PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Suatu Studi pada Sekretariat
Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro). Governance, 5(1).
Unud, B. F. (2020, February 18). Asuransi dalam Negeri Kian Bobrok, Dituntut atau
Ditutup? Retrieved from http://bemfeb-unud.com/2020/02/18/asuransi-dalam-negerikian-bobrok-dituntut-atau-ditutup/
Embu, W. S. (2020, January 18). Ombudsman sebut Tata Kelola Jiwasraya Buruk, Ini
Alasannya. Retrieved from https://m.merdeka.com/uang/ombudsman-sebut-tata-kelolajiwasraya-buruk-ini-alasannya.html
14
Download
Random flashcards
Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

sport and healty

2 Cards Nova Aulia Rahman

Nomor Rekening Asli Agen De Nature Indonesia

2 Cards denaturerumahsehat

Card

2 Cards

Create flashcards