Uploaded by User53915

MAKALAH KELOMPOK 13 GOOD GOVERNANCE

advertisement
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
GOOD GOVERNANCE
Disusun oleh :
Kelompok 13
Adinda Ayulia Rahmadhanti
(J3N119004)
Khoerunnisa Agustina
(J3N119119)
Salsabilla Oktidiati
(J3N119223)
Cindy Ruth Gloria Tobing
(J3N219291)
Puja Wireza Rachmadan
(J3N219351)
Program Studi Akuntansi
Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor
0
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 1
Profil Ir. Soekarno ..................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 4
Latar Belakang ....................................................................................................................... 4
Rumusan Masalah .................................................................................................................. 5
Tujuan..................................................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 6
Pengertian Good Governance................................................................................................. 6
Prinsip–prinsip Good Governance ......................................................................................... 6
Pelaksanaan Good Governance di Indonesia ....................................................................... 10
Asas-asas Good Governance ................................................................................................ 11
Contoh Kasus yang Tidak Sesuai dengan Asas Good Governance ..................................... 15
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 18
Kesimpulan........................................................................................................................... 18
Saran ..................................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 19
1
Profil Ir. Soekarno
Nama Lahir
: Koesno Sosrodiharjo
Nama Populer
: Soekarno
Lahir
: Surabaya, 6 Juni 1901
Wafat
: Jakarta, 21 Juni 1970
Makam
: Kota Blitar, Jawa Timur
Agama
: Islam
Kebangsaan
: Indonesia
Orangtua
: Soekemi Sosrodihardjo (Bapak), Ida Ayu Nyoman Rai (Ibu)
Gelar
: Pahlawan Indonesia
Pasangan
: Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo,
Ratna Sari Dewi Soekarno, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar
Anak
: Guruh Soekarnoputra, Guntur Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra,
Taufan Soekarnoputra, Totok Suryawan, Megawati Soekarnoputri, Kartika Sari Dewi
Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Ayu Gembirowati,
Rukmini Soekarno
Pendidikan
:




Pendidikan sekolah dasar di Eerste Inlandse School, Mojokerto
Pendidikan sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto (1911)
Hoogere Burger School (HBS) Mojokerto (1911-1915)
Technische Hoge School, Bandung (sekarang berganti nama menjadi Institut
Teknologi Bandung) (1920)
2
Penghargaan




:
Penghargaan Perdamaian Lenin (1960)
Bintang Kehormatan Filipina (1965)
Doktor Honoris Causa dari 26 Universitas
The Order Of The Supreme Companions of OR Tambo (Presiden Afsel – 2005)
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum, Good Governance adalah pemerintahan yang baik. Dalam versi
World Bank, Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan
yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar
yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik
secara politik maupun secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta
penciptaan legal dan politican framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha. Hal ini
bagi pemerintah maupun swasta di Indonesia ialah merupakan suatu terobosan
mutakhir dalam menciptakan kredibilitas publik danuntuk melahirkan bentuk
manajerial yang handal.
Good Governance di Indonesia sendiri mulai benar-benar dirintis dan
diterapkan sejak meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah
terjadi perombakan sistem pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih
sehingga Good Governance merupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak
diterapkan dalam pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan
Reformasi yang sudah berjalan selama 15 tahun ini, penerapan Good Governance
di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita-cita
Reformasi sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam
pengelolaan anggaran dan akuntansi yang merupakan dua produk utama Good
Governance.
Akan tetapi, Hal tersebut tidak berarti gagal untuk diterapkan, banyak upaya
yang dilakukan pemerintah dalam menciptakan iklim Good Governance yang baik,
diantaranya ialah mulai diupayakannya transparansi informasi terhadap publik
mengenai APBN sehingga memudahkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam
menciptakan kebijakan dan dalam proses pengawasan pengelolaan APBN dan
BUMN. Oleh karena itu, hal tersebut dapat terus menjadi acuan terhadap akuntabilitas
manajerial dari sektor publik tersebut agar kelak lebih baik dan kredibel kedepannya.
Undang-undang, peraturan dan lembaga-lembaga penunjang pelaksanaan Good
Governance pun banyak yang dibentuk. Hal ini sangatlah berbeda jika dibandingkan
dengan sektor publik pada era Orde Lama yang banyak dipolitisir pengelolaannya dan
juga pada era Orde Baru dimana sektor publik di tempatkan sebagai agent of
development bukannya sebagai entitas bisnis sehingga masih kental dengan rezim
yang sangat menghambat terlahirnya pemerintahan berbasis Good Governanc.
4
Diterapkannya Good Governance di Indonesia tidak hanya membawa dampak
positif dalam sistem pemerintahan saja akan tetapi hal tersebut mampu membawa
dampak positif terhadap badan usaha non pemerintah yaitu dengan lahirnya Good
Corporate Governance. Dengan landasan yang kuat diharapkanakan membawa
bangsa Indonesia kedalam suatu pemerintahan yang bersih dan amanah
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Good Governance?
2. Apa saja prinsip-prinsip dari Good Governance?
3. Bagaimana pelaksanaan Good Governance di Indonesia?
4. Apa saja asas- asas dari Good Governance?
5. Bagaimana contoh yang tidak sesuai dengan asas Good Governance?
C. Tujuan
1. Untuk mengeahui pengertian dari Good Governance.
2. Untuk mengetahui apa saja prinsip-prinsip Good Governance.
3. Untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan Good Governance di Indonesia.
4. Untuk mengetahui apa saja asas-asas Good Governance.
5. Untuk menjelaskan contoh kasus yang tidak sesuai dengan asas Good
Governance.
5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Good Governance
Citra buruk pelaksanaan pemerintahan Indonesia ditandai dengan tindakan korupsi,
kolusi, dan nepotisme telah melahirkan sebuah fase sejarah politik bangsa Indonesia
dengan semangat reformasi. Salah satu isu reformasi adalah good governance.
Pelaksanaan good governance mendapat relevansi nya di Indonesia berkaitan dengan
tiga hal, yaitu :
1. Krisis ekonomi dan politik masih terus berlangsung.
2. Banyaknya korupsi dalam berbagai bentuk penyimpangan dalam
penyelenggaraan negara.
3. Kebijakan otonomi daerah yang diharapkan memberikan harapan besar bagi
proses demokrasi.
Istilah good governance diterjemahkan dengan tata kelola pemerintahan yang baik.
Pengertian good governance adalah tindakan atau tingkah laku yang didasarkan pada
nilai – nilai yang bersifat mengarahkan, mengendalikan, atau mempengaruhi masalah
publik untuk mewujudkan nilai- nilai itu dalam tindakan dan kehidupan keseharian.
Oleh karena itu ranah good governance tidak terbatas pada negara atau birokrasi
pemerintahan, tetapi juga pada ranah masyarakat sipil melalui organisasi non
pemerintah dan sektor swasta.
B. Prinsip–prinsip Good Governance
Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas prinsip-prinsip di
dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu
pemerintahan. Baik-buruknya pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan
dengan semua unsur prinsip-prinsip good governance. Menyadari pentingnya masalah
ini, prinsip-prinsip good governance diurai satu persatu sebagaimana tertera di bawah
ini:
1. Partisipasi Masyarakat (Participation)
Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan,
baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang
mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan
kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk
berpartisipasi secara konstruktif. Partisipasi bermaksud untuk menjamin agar setiap
kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam rangka
mengantisipasi berbagai isu yang ada, pemerintah daerah menyediakan saluran
komunikasi agar masyarakat dapat mengutarakan pendapatnya. Jalur komunikasi ini
6
meliputi pertemuan umum, temu wicara, konsultasi dan penyampaian pendapat secara
tertulis. Bentuk lain untuk merangsang keterlibatan masyarakat adalah melalui
perencanaan partisipatif untuk menyiapkan agenda pembangunan, pemantauan,
evaluasi dan pengawasan secara partisipatif dan mekanisme konsultasi untuk
menyelesaikan isu sektoral.
2. Tegaknya Supremasi Hukum (Rule of Law)
Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusan-perumusan
kebijakan publik memerlukan sistem dan aturan-aturan hukum. Sehubungan dengan
itu, dalam proses mewujudkan cita good governance, harus diimbangi dengan
komitmen untuk menegakkan rule of law dengan karakter-karakter antara lain sebagai
berikut: Supremasi hukum (the supremacy of law), Kepastian hukum (legal certainty),
Hukum yang responsip, Penegakkan hukum yang konsisten dan non-diskriminatif,
Indepedensi peradilan. Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang
bulu, termasuk di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia.
3. Transparansi (Transparency)
Transparansi adalah keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang
diambil oleh pemerintah. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Tranparansi
dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan,
lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang
berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti
dan dipantau. Sehingga bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat
terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Meningkatnya kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintahan, meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam
pembangunan dan berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan.
4. Peduli pada Stakeholder/ Dunia Usaha
Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani
semua pihak yang berkepentingan. Dalam konteks praktek lapangan dunia usaha,
pihak korporasi mempunyai tanggungjawab moral untuk mendukung bagaimana good
governance dapat berjalan dengan baik di masing-masing lembaganya. Pelaksanaan
good governance secara benar dan konsisten bagi dunia usaha adalah perwujudan dari
pelaksanaan etika bisnis yang seharusnya dimiliki oleh setiap lembaga korporasi yang
ada didunia. Dalam lingkup tertentu etika bisnis berperan sebagai elemen mendasar
dari konsep CSR (Corporate Social Responsibility) yang dimiliki oleh perusahaan.
Pihak perusahaan mempunyai kewajiban sebagai bagian masyarakat yang lebih luas
untuk memberikan kontribusinya. Praktek good governance menjadi kemudian
7
guidence atau panduan untuk operasional perusahaan, baik yang dilakukan dalam
kegiatan internal maupun eksternal perusahaan. Internal berkaitan dengan operasional
perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut bekerja, sedangkan eksternal lebih
kepada bagaimana perusahaan tersebut bekerja dengan stakeholder lainnya, termasuk
didalamnya publik.
5. Berorientasi pada Konsensus (Consensus)
Menyatakan bahwa keputusan apapun harus dilakukan melalui proses
musyawarah melalui konsesus. Model pengambilan keputusan tersebut, selain dapat
memuaskan semua pihak atau sebagian besar pihak, juga akan menjadi keputusan
yang mengikat dan milik bersama, sehingga ia akan mempunyai kekuatan memaksa
(coercive power) bagi semua komponen yang terlibat untuk melaksanakan keputusan
tersebut. Paradigma ini perlu dikembangkan dalam konteks pelaksanaan
pemerintahan, karena urusan yang mereka kelola adalah persoalan-persoalan publik
yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Semakin banyak yang terlibat
dalam proses pengambilan keputusan secara partisipasi, maka akan semakin banyak
aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang terwakili. Tata pemerintahan yang baik
menjembatani kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu
konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok
masyarakat, dan bila mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan
prosedur-prosedur.
6. Kesetaraan (Equity)
Kesetaraan yakni kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Semua warga
masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka. Prinsip kesetaraan menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Informasi
adalah suatu kebutuhan penting masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan
daerah. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah daerah perlu proaktif memberikan
informasi lengkap tentang kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada
masyarakat. Pemerintah daerah perlu mendayagunakan berbagai jalur komunikasi
seperti melalui brosur, leaflet, pengumuman melalui koran, radio serta televisi lokal.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan
informasi.
7. Efektifitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency)
Untuk menunjang prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas, pemerintahan
yang baik dan bersih juga harus memenuhi kriteria efektif dan efisien yakni berdaya
guna dan berhasil-guna. Kriteria efektif biasanya di ukur dengan parameter produk
8
yang dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai
kelompok dan lapisan sosial. Agar pemerintahan itu efektif dan efisien, maka para
pejabat pemerintahan harus mampu menyusun perencanaan-perencanaan yang sesuai
dengan kebutuhan nyata masyarakat, dan disusun secara rasional dan terukur. Dengan
perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi masyarakat akan dapat
digerakkan dengan mudah, karena program-program itu menjadi bagian dari
kebutuhan mereka. Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan
hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber
daya yang ada seoptimal mungkin.
8. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah pertangungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat
yang memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan mereka. Para pengambil
keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat
bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang
berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya
tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. Instrumen dasar akuntabilitas
adalah peraturan perundang-undangan yang ada, dengan komitmen politik akan
akuntabilitas maupun mekanisme pertanggungjawaban, sedangkan instrumeninstrumen pendukungnya adalah pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan
kinerja penyelenggara pemerintahan dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas
dan tegas.
9. Visi Strategis (Strategic Vision)
Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi
masa yang akan datang. Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas
dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta
kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut.
Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan,
budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.
 Karakteristik Good Governance :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Adanya partisipasi masyarakat
Adanya aturan hukum yang adil tanpa pandang bulu
Pemerintah bersifat transparan
Pemerintah mempunyai daya tanggap terhadap berbagai pihak
Menerapkan prinsip keadilan
Pemerintah berorientasi pada konsensus untuk mencapai kesepakatan
Segala keputusan dapat di pertanggungjawabkan kepada publik atau bersifat
akuntabilitas
9
8. Pemerintah bertindak secara efektif dan efisien
9. Penyelenggaraan pembangunan bervisi strategis
10. Adanya salingketerkaitan antar kebijakan
C. Pelaksanaan Good Governance di Indonesia
Mewujudkan konsep good governance dapat dilakukan dengan mencapai
keadaan yang baik dan sinergi antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil
dalam pengelolaan sumber-sumber alam, sosial, lingkungan dan ekonomi. Prasyarat
minimal untuk mencapai good governance adalah adanya transparansi, akuntabilitas,
partisipasi, pemberdayaan hukum, efektifitas dan efisiensi, dan keadilan. Kebijakan
publik yang dikeluarkan oleh pemerintah harus transparan, efektif dan efisien, serta
mampu menjawab ketentuan dasar keadilan. Sebagai bentuk penyelenggaraan negara
yang baik maka harus keterlibatan masyarakat di setiap jenjang proses pengambilan
keputusan (Hunja, 2009).
Konsep good governance dapat diartikan menjadi acuan untuk proses dan
struktur hubungan politik dan sosial ekonomi yang baik. Human interest adalah faktor
terkuat yang saat ini mempengaruhi baik buruknya dan tercapai atau tidaknya sebuah
negara serta pemerintahan yang baik. Sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa
dipisahkan bahwa setiap manusia memiliki kepentingan. Baik kepentingan individu,
kelompok, dan/atau kepentingan masyarakat nasional bahkan internasional. Dalam
rangka mewujudkan setiap kepentingan tersebut selalu terjadi benturan. Begitu juga
dalam merealisasikan apa yang namanya “good governance” benturan kepentingan
selalu lawan utama. Kepentingan melahirkan jarak dan sekat antar individu dan
kelompok yang membuat sulit tercapainya kata “sepakat”.
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada
proses pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan
secara bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara,
dan sektor swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara. Negara
berperan memberikan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dengan sistem peradilan
yang baik dan sistem pemerintahan yang dapat dipertanggungjawaban kepada publik.
Meruju pada 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan. Dalam pembangunan
ekonomi, lingkungan, dan pembangunan manusia. Good governance menyentuh 3
(tiga) pihak yaitu pihak pemerintah (penyelenggara negara), pihak korporat atau dunia
usaha (penggerak ekonomi), dan masyarakat sipil (menemukan kesesuaiannya).
Ketiga pihak tersebut saling berperan dan mempengaruhi dalam penyelenggaraan
negara yang baik. Sinkronisasi dan harmonisasi antar pihak tersebut menjadi jawaban
besar. Namun dengan keadaan Indonesia saat ini masih sulit untuk bisa terjadi
(Efendi, 2005).
10
Mencari orang yang jujur dan memilik integritas tinggi sama halnya dengan
mencari jarum dalam tumpukan jerami. Memilih aparatur atau pelaku pemerintahan
yang unggul akan berpengaruh baik dengan penyelenggaraan negara. Korupsi yang
masih tetap eksis sampai saat ini adalah salahsatu faktor yang mempersulit dicapainya
good governance. Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) menjadi
agenda wajib yang tidak pernah lelah untuk dilakukan. Inilah satu hal yang tidak
boleh dilewatkan untuk mencapai pemerintahan yang baik.
Mencegah (preventif) dan menanggulangi (represif) adalah dua upaya yang
dilakukan. Pencegahan dilakukan dengan memberi jaminan hukum bagi perwujudan
pemerintahan terbuka (open government). Jaminan kepada hak publik seperti hak
mengamati perilaku pejabat, hak memperoleh akses informasi, hak berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan dan hak mengajukan keberatan bila ketiga hak di atas
tidak dipenuhi secara memadai. Jaminan yang diberikan jika memang benar-benar
bisa disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat (Hardjasoemantri, 2003).
Berikut ini adalah contoh pelaksaan good governance di Indonesia:
1.
2.
Kota Banjar merupakan salah satu daerah yang telah berhasil dalam menerapkan
good governance. Keberhasilan ini dibuktikan dengan angka IPM (Indeks
Pengembangan Manusia) di Banjar yang mencapai angka tertinggi dibandingkan
rata-rata IPM di Jawa Barat, hal ini membuktikan bahwa pemerintah kota Banjar
telah sepenuhnya berorientasi pada pelayanan publik. Dengan segala perolehan
yang dicapai Kota Banjar, daerah ini layak mendapatkan predikat good
governance atas keberhasilannya dalam menerapkan prinsip-prinsip good
governance tersebut. Selain itu berbagai penghargaan yang diraih Kota Banjar
juga membuktikan bahwa pemerintahnya telah kompeten dalam melaksanakan
otonomi daerah.
Salah satu kota lain adalah Kota Manado, walaupun implementasi prinsip good
governance di kota ini masih belum sepenuhnya diterapkan dengan baik namun
dapat Kota Manado sudah menerapkan pendekatan good governance dalam
pengelolaan organisasi. Penerapan good governance di Kota Manado diterapkan
dalam implementasi kebijakan Dinas Tata Ruang Kota Manado dengan indeks
pelaksaaan yang tergolong cukup baik menurut Helly Kolondam (20014). Aspek
yang kurang dalam implementasi good governance dalam penerapan kebijakan
Dinas Tata Ruang Kota adalag efektivitas dan efisiensi dalam penerapannya.
D. Asas-asas Good Governance
Asas-asas umum pemerintahan adalah asas yang menjunjung tinggi norma
kesusilaan, kepatutan dan aturan hukum. Pengertian asas-asas umum pemerintahan
yang baik menurut Jazim Hamidi, merupakan nilai-nilai etik yang hidup dan
berkembang dalam lingkungan hukum adminsitrasi negara. Asas-asas umum
11
pemerintahan yang baik berfungsi sebagai pegangan bagi pejabat administrasi negara
dalam menjalankan fungsinya, merupakan alat uji bagi hakim administrasi dalam
menilai tindakan administrasi negara (yang berwujud beschikking), dan sebagai dasar
pengajuan gugatan bagi penggugat. Asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan
yang baik terbagi menjadi 9 (Sembilan), yaitu :
1. Asas Kepastian Hukum
Asas kepastian hukum merupakan asas yang menghendaki agar hak yang
telah diperoleh oleh seseorang berdasarkan suatu keputusan badan atau pejabat
administrasi Negara haruslah dihormati, sehingga kedudukan dan kepentingan
memiliki kepastian hukum , secara materiil menghalangi badan pemerintah untuk
menarik kembali suatu ketetapan dan mengubahnya yang menyebabkan kerugian
yang berkepentingan. Asas ini menjaga setiap hak dan kewjiban para pihak dalam
suatu Negara tetap terjaga, agar setiap kegiatan yang dilakukakan oleh pihak-pihak
yang terkait dalam kegiatan bernegara tidak saling bertentangan satu sama lainnya.
Dalam pemerintahan yang baik, pemerintah sebagai lembaga pembentuk kebijakan
harus berpegang teguh pada aturan yang mengaturnya dan harus menjaga kepastian
hukum bagi seluruh pihak dalam suatu Negara. Asas kepastian hukum menjadi
suatu asas yang paling mendasar dalam suatu Negara demokrasi.
2. Asas Tertib Penyelenggara Negara
Asas ini menghendaki suatu ketertiban dalam penyelenggaraan
pemerintahan, segala kegiatan yang akan dilakukan diharapkan tertata dengan baik
dan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam suatu penyelenggaraan
pemerintahan dapat dikerjakan dengan baik demi terciptanya suatu hasil yang
maksimal dari kegiatan yang dilakukan. Asas tertib penyelenggara Negara adalah
asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian dan keseimbangan dalam
pengendalian penyelenggara pemerintahan. Pemerintah daerah sebagi lembaga
penyelenggara pemerintahan di daerah harus mendasari setiap kebijakannya
dengan berbagai asas yang terkandung dalam prinsip good governance.
3. Asas Kepentingan Umum
Asas kepentingan umum yang terdapat dalam salah satu asas-asas umum
pemerintahan yang baik harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah daerah
sebagai penyelenggara pemerintahan di daerah pada era otonomi ini. Asas
kepentingan umum merupakan asas yang mendahulukan kesejahteraan umum
dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif. Artinya asas kepentingan
umum ini mengharuskan setiap kebijakan yang akan dilakukan harus berdasar pada
aspirasi masyarakatnya, dan mengharuskan pemerintah untuk memfasilitasi setiap
aspirasi tersebut, dengan menyeleksi terlebih dahulu kehendak yang harus
12
direalisasikan dengan tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat sebagai
tujuan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan.
Asas kepentingan umum merupakan suatu landasan pelayan publik dalam
sebuah penyelenggaraan pemerintahan. Pelayanan publik adalah sebuah layanan
yang diberikan kepada publik oleh pemerintah, baik berupa barang atau jasa
publik. Pelayanan publik merupakan realisasi dari asas kepentingan umum,
pelayanan publik yang baik ialah ketika pemerintah memberikan pelayan
terbaiknya pada masyarakat. Pelayan publik ini tidak membeda-bedakan satu
kelompok dengan kelompok lainya, keadilan dan penyamarataan mejadi tujuan
utama dari pelayanan publik itu sendiri, karena hal tersebut merupakan suatu
harapan yang tertuang dalam asas kepentingan umum dalam prinsip good
governance.
4. Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan ialah salah satu asas yang terkandung dalam asas-asas
pemerintahan yang baik. Asas keterbukaan yaitu bertalian dengan keinginan
menyelenggarakan administrasi negra yang terbuka dan mudah dijabarkan yang
berlandaskan susunan konstitusional dan keabsahannya.Asas keterbukaan ini
merupakan asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh
informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan
pemerintahan dengan tetap memperhatikan perlindunagan atas hak asasi pribadi,
golongan dan rahasia Negara.
Keterbukaan merupakan salah satu aspek mendasar bagi terwujudnya
penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik. Perwujudan tata pemerintahan yang
baik mensyaratkan adanya keterbukaan, keterlibatan dan kemudahan untuk
mendapatkan akses bagi masyarakat terhadap proses pengambilan kebijakan
publik. Penyelenggaraan pemerintah daerah yang mengabaikan transparansi akan
sangat sulit untuk menciptakan tata pemerintahan yang baik.[6] Asas ini mengarah
pada pemerintah yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam
penyelenggaraan pemerintahan karena kontrol masyarakat terhadap
penyelenggaran pemerintahan yang dilakukan bisa lebih efektif dengan
transparansi yang dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu perwujudan dari
good governance (pemerintahan yang baik).
Keterbukaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah meliputi berbagai
dimensi yang meliputi transparansi anggaran, transparansi pelaksanaan program
kerja pemerintah daerah, dan transparansi pertanggungjawaban kinerja.
Transparansi di bidang perumusan kebijakan anggaran daerah merupakan
persoalan yang sangat penting mengingat perumusan anggaran adalah penentuan
skala prioritas program pembangunan. Keterbukaan penyelenggaraan pemerintahan
daerah adalah mekanisme publik yang dapat memiliki akses informasi terhadap
proses jalanya pemerintahan daerah. Secara umum, keterbukaan dalam
penyelenggaraan akan menekan terjadinya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme
di tingkat birokrasi lokal.
13
5. Asas Proporsionalitas
Asas proporsionalitas merupakan asas yang mengutamakan keseimbangan
antara hak dan kewajiban penyelenggara pemerintahan. Asas ini mengharapakan
terciptanya suatu penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dari penyalahgunaan
wewenang, artinya asas ini merupakan dasar bagi penyelenggaraan pemerintahan
yang berakedilan dalam hukum sehingga tidak adanya tumpang tindih kewenangan
dalam suatu lembaga. Jika hal tersebut terjadi maka akan terjadi suatu sengketa
kewenangan dalam penyelenggaraan pemerintahan antara lembaga satu dengan
lembaga yang lainya. Ketertiban memerintah menjadi salah satu faktor pendukung
keberhasilan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
6. Asas Profesionalitas
Asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan
ketentuan peraturan perundnag-undangan yang berlaku. Asas profesionalitas
dimulai dari penyusunan rencana anggaran, pengelolaannya dan sampai pada tahap
pertanggungjawaban dituntut untuk dilaksanakan secara profesionalitas, yaitu
merupakan kolaborasi antara kesepadanan kemampuan dan keterampilan serta
pengambil kebijakan yang menfokuskan kinerja yang efektif dan efisien, baik
kinerja dari sudut proses maupun dari sudut hasil, dampak dan manfaat.
7. Asas Akuntabilitas
Asas akuntabilitas menjadi salas satu prinsip penting dalam penyelenggraan
pemerintahan yang baik. Asas akuntabilitas merupakan asas yang menentukan
bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara pemerintahan
harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi. Pemerintah daerah sebagai otoritas kebijakan
publik di daerah wajib mempertanggungjawabkan tindakan yang diambil kepada
masyarakat. Akuntabilitas akan memastikan penyelenggaraan pemerintah daerah
telah dilaksankan dengan baik dengan memperhatikan hak dan kewajiban yang
ditentukan secara normatif. Asas akuntabilitas mengharapakan otonomi daerah
dapat berjalan dengan baik, tolak ukur dari suatu otonomi daerah yang baik bisa
berupa suatu sarana keterbukaan pertanggungjawaban yang mudah diakses oleh
masyarakat di daerah serta dengan menjalankan segala kewenagan yang didapatkan
oleh pemerintah daerah karena hukum yang mengaturnya.
Penyelenggaraan good governance merupakan suatu keharusan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai lembaga yang berwenang dalam
mengurus daerah di era otonomi ini.
14
8. Asas Efisiensi dan Efektivitas
Efisiensi dan efektivitas menjadi suatu landasan yang harus digunakan dalam
melakukan kegiatan pemerintahan. Efisiensi dan efektifitas merupakan dua asas
yang terkandung dalam asas-asas good governance, yang mana kedua asas ini
menujuk pada kemampuan yang tinggi untuk mengoptimalkan kemanfaatan segala
sumber daya dan dana yang tersedia dalam rangka pelaksanaan tugas
pemerintahan, sejauh mana pelaksanaan tugas tercapai untuk secara maksimal.
Kedua asas ini menitikberatkan pada penyelenggaraan pemerintahan yang tepat
guna tanpa penghamburan-hamburan sumber daya dan dana. Sehingga
pembangunan yang dilakukan disuatu daerah dapat berjalan dengan maksimal dan
berjalan dengan efisien serta efektif dalam pengerjaanya.
E. Contoh Kasus yang Tidak Sesuai dengan Asas Good Governance
Untuk bisa menjalankan pemerintahan dengan good governance, diperlukan
banyak hal mendasar uah harus dipenuhi. Efendi (2005) mengungkapkan
setidaknya ada beberapa hal mendasar yang menjadi permasalahan dan harus
diperbaiki dalam penerapan good governance, antara lain:
1. Integritas Pelaku Pemerintahan
Pelaku pemerintahan memiliki peran yang sangat penting dalam berhasil atau
tidaknya good governance yang ingin diterapkan. Integritas pelaku pemerintahan
yang tinggi akan bisa mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan, seperti
korupsi, praktik suap dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Integritas pelaku
pemerintahan yang rendah seringkali menjadi penyebab korupsi dan penyimpangan
lainnya.
2. Kondisi Politik Dalam Negeri
Jangan anggap sepele peran politik dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Politik bisa jadi membawa masalah dan menghambat dilaksanakannya good
governance di sebuah negara. Good governance akan sulit terwujud dalam sebuah
negara yang memegang konsep politik tidak atau kurang demokratis. Misalnya, di
Indonesia, yang termasuk negara demokrasi, masih cukup banyak kasus yang
terjadi akibat suara rakyat minoritas yang kurang diperhatikan yang tidak
menunjukkan ciri-ciri masyarakat demokratis.
3. Kondisi Ekonomi Masyarakat
Krisis ekonomi di sebuah negara juga bisa menjadi permasalahan good
governance di Indonesia. Banyak masalah sosial yang muncul di masyarakat akibat
15
krisis ekonomi yang jika tidak segera diatasi bisa mengganggu kinerja
pemerintahan secara keseluruhan. Di Indonesia, hal ini masih sering terjadi,
misalnya dengan melonjaknya harga bahan makanan akibat kesalahan pengambilan
kebijakan ekspor dan impor.
4. Kondisi Sosial Masyarakat
Sebagai salah satu wujud nyata dari berhasil atau tidaknya kebijakan
pemerintahan yang diterapkan yaitu adanya masyarakat yang solid dan secara aktif
berpartisipasi dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan sebuah negara.
Masyarakat diharapkan juga melakukan pengawasan dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Namun, pada kenyataannya masyarakat masih tidak berdaya di
depan negara dan masih ada banyak sekali contoh konflik sosial dalam
masyarakat yang terjadi di Indonesia, seperti konflik antar suku, anarkisme
kelompok dan lain sebagainya yang menjadi permasalahan good governance di
Indonesia.
5. Sistem Hukum
Sistem hukum sudah jelas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
proses penyelenggaraan negara. Sistem hukum merupakan faktor yang sangat
penting dalam penerapan good governance. Sistem hukum yang lemah akan bisa
mempengaruhi kinerja pemerintahan secara siginifikan. Good governance akan
sangat sulit diterapkan di negara yang memiliki sistem hukum yang lemah. Hukum
hendaknya tidak memandang jabatan atau kedudukan seseorang di masyarakat,
melainkan diterapkan sama tanpa pandang bulu. Hal ini seringkali tidak diterapkan
di Indonesia, seperti masih adanya perlakuan spesial bagi para pejabat korup dan
lain-lain.
6. Proses Akuntansi atau Pelaporan Keuangan Negara
Terdapat beberapa hal lain yang menghambat good governance bisa diterapkan dan
berhasil di Indonesia. Hal-hal tersebut antara lain:
a. Tidak Adanya Sistem Akuntansi Yang Handal
Di Indonesia, sistem akuntansi masih dianggap kurang handal dalam
mendukung proses pencatatan dan pelaporan keuangan. Hal ini pada akhirnya
menyebabkan pengendalian internal di pemerintahan daerah menjadi lemah.
Jika demikian, maka good governance pun akan sulit untuk diterapkan.
b. Kurangnya Sumber Daya Manusia Yang Mumpuni Di Bidangnya
Masih banyak daerah yang kekurangan sumber daya manusia yang
memiliki latar belakang pendidikan akuntansi. Selain itu, masih sangat sedikit
sarjana akuntansi yang sesuai kriteria yang tertarik untuk mengembangkan
16
profesi di pemerintahan daerah. Hal ini bisa jadi akibat rendahnya kompensasi
atau benefit yang ditawarkan kepada mereka.
c. Belum Ada Standar Akuntansi Keuangan Publik Yang Baku
Selain dua permasalahan di atas, masih belum ada juga standar akuntansi
keuangan yang baku di sektor publik. Padahal hal ini sangat penting untuk
menjadi acuan dalam pembuatan laporan keuangan yang akan menjadi salah
satu mekanisme pengendalian. Dengan belum adanya standar yang baku ini,
proses transparansi pun masih sulit dilaksanakan karena pertanggungjawaban
keuangan tidak dapat ditampilkan secara kasat mata. Masih banyak
pertanggungjawaban yang direkayasa dengan pengeluaran-pengeluaran fiktif
dan hal ini sulit untuk dipertanggungjawabkan secara transparan.
17
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang sedang berjuang dan mendambakan
good governance. Untuk mencapai good governance dalam tata pemerintahan di
Indonesia, maka prinsip-prinsip good governance hendaknya ditegakkan dalam berbagai
institusi penting pemerintahan. Prinsip-prinsip tersebut meliputi partisipasi masyarakat,
tegaknya supremasi hukum, transparansi, peduli dan stakeholder, berorientasi pada
consensus, kesetaraan, efektifitas dan efisiensi, akuntabilitas, dan visi strategis. Sehingga
apa yang didambakan Indonesia menjadi negara yang good governance dapat terwujud
dan hilangnya faktor-faktor kepentingan politik, KKN, ketidakadilan, bekerja diluar
kewenangan, dan kurangnya integritas dan transparansi adalah beberapa masalah yang
membuat Good Governance masih belum bisa tercapai. Masyarakat dan pemerintah yang
masih bertolak belakang untuk mengatasi masalah tersebut seharusnya menjalin
harmonisasi dan kerjasama mengatasi masalah-masalah yang ada.
Good governance sebagai upaya untuk mencapai pemerintahan yang baik tercermin
dalam berbagai bidang yang memiliki peran yang penting dalam gerak roda pemerintahan
di Indonesia yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, dan hukum.
B. Saran
Berbagai permasalahan nasional menjadi alasan belum maksimalnya pelaksanaan
good governance di Indonesia. Dengan melaksanakan prinsip-prinsip good governance
maka tiga pilarnya yaitu pemerintah, korporasi, dan masyarakat sipil saling menjaga,
support, dan berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan yang sedang
dilakukan. Terutama antara pemerintah dan masyarakat menjadi bagian penting
tercapainya good governance. Tanpa good governance sulit bagi masing-masing pihak
untuk dapat saling berkontribusi dan saling mengawasi. Good governance tidak akan bisa
tercapai apabila integritas pemerintah dalam menjalankan pemerintahan tidak dapat
dijamin. Hukum hanya akan menjadi boomerang yang bisa balik menyerang negara dan
pemerintah menjadi lebih buruk apabila tidak dipakai sebagaimana mestinya. Konsistensi
pemerintah dan masyarakat harus terjamin sebagai wujud peran masing-masing dalam
pemerintahan. Setiap pihak harus bergerak dan menjalankan tugasnya sesuai dengan
kewenangan masing-masing.
18
DAFTAR PUSTAKA
Modul Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor
https://brainly.co.id/tugas/107565 diakses pada 24 Maret 2020 Pukul 11.16 WIB
https://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-presiden-soekarno-lengkap/ diakses pada
24 Maret 2020 Pukul 12.55 WIB
https://yanwariyanidwi.wordpress.com/2015/12/15/pengertian-prinsip-dan-penerapan-goodgovernance-di-indonesia/ diakses pada 24 Maret 2020 Pukul 14.06 WIB
https://hukumd.blogspot.com/2014/07/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_18.html
diakses pada 24 Maret 2020 Pukul 15.51 WIB
https://www.daftarinformasi.com/pengertian-good-governance/ diakses pada 24 Maret 2020
Pukul 16.57 WIB
https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/pengertian-prinsip-dan-penerapan-good-governancedi-indonesia-99 diakses pada 24Maret 2020 Pukul 17.03 WIB
https://bananafoscale.wordpress.com/2015/04/10/penerapan-good-governance-di-indonesia/
diakses pada 24 Maret 2020 Pukul 19.55 WIB
https://www.banyumaskab.go.id/read/15538/pelaksanaan-good-governance-diindonesia#.XnoDnukxWyU diakses pada 24 Maret 2020 Pukul 21.10 WIB
19
Download