Uploaded by User52883

kinerja-sektor-industri-manufaktur

advertisement
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017,241-257
Jurnal
Manajemen
Teknologi
Available online at http://journal.sbm.itb.ac.id
Indonesian Journal for the Science of Management
Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat
Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar Kawasan Industri
1*
2
2
3
Winardi , DS Priyarsono , Hermanto Siregar , dan Heru Kustanto
12
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri, Kementerian Perindustrian
3
Abstrak. Sektor industri manufaktur merupakan motor penggerak perekonomian suatu wilayah. Peran sektor industri
manufaktur di suatu wilayah akan lebih optimal apabila pada wilayah tersebut terdapat lokasi-lokasi industri yang ketersediaan
infrastruktur dasar, infrastruktur penunjang dan sarana penunjang yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
perbandingan kinerja sektor industri manufaktur di Provinsi Jawa Barat berdasarkan lokasi di dalam kawasan industri dan di
luar kawasan industri. Model analisis menggunakan Model Social Accounting Matrix (SAM) yang dilakukan disagregasi ke
dalam sektor industri manufaktur yang berlokasi di dalam dan di luar kawasan industri. Hasil analisis menunjukkan bahwa
sektor industri manafaktur yang berlokasi di dalam kawasan industri mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan
sektor industri manufaktur yang berlokasi di luar kawasan industri. Kinerja dimaksud adalah dalam peningkatan nilai tambah
faktor produksi baik faktor tenaga kerja maupun faktor modal dan kinerja dalam peningkatan pendapatan masyarakat.
Kata kunci : Industri manufaktur, kawasan industri, SAM, nilai tambah, pendapatan rumah tangga
Abstract. Manufacturing industry sector is the driving force of the economy of a region. The role of manufacturing industry
sector in a region will be more optimal if in the region there are industrial locations that availability of basic infrastructure,
supporting infrastructure and adequate supporting facilities. This study aims to analyze the performance comparison of
manufacturing industry sectors of West Java Province Based on location inside and outside industrial estates. The analytical model
uses the Social Accounting Matrix (SAM) Model which is disaggregated into the manufacturing industry sectors located within
and outside the industrial estate. The results of the analysis show that industrial sector manafaktur located in industrial estate
have better performance compared with manufacturing industry sector which is located outside industrial area. Performance is
meant in the increase of value added factors of production both labor factors and capital and performance factors in increasing
public revenues.
Keyword: Manufacturing industry, industrial estate, social accounting matrix, value added, household income
*Corresponding author. Email: [email protected]
Received: September 29th, 2017; Revision: December 13th, 2017; Accepted: December 15th, 2017
Print ISSN: 1412-1700; Online ISSN: 2089-7928. DOI: http://dx.doi.org/10.12695/jmt.2017.16.3.2
[email protected] Published by Unit Research and Knowledge, School of Business and Management - Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB)
241
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Pendahuluan
Sektor industri manufaktur merupakan salah
satu sektor penting dalam pembangunan
ekonomi suatu negara karena kontribusi
industri manufaktur terhadap pencapaian
sasaran pembangunan ekonomi nasional,
terutama dalam pembentukan PDB sangat
besar dan kemampuannya dalam peningkatan
nilai tambah yang tinggi. Industri juga dapat
membuka peluang untuk menciptakan dan
memperluas lapangan pekerjaan, yang berarti
secara tidak langsung akan meningkatkan
kesejahteraan serta mengurangi tingkat
kemiskinan. Di samping itu, sektor industri
manufaktur mempunyai berperan sebagai
pendorong dan penarik aktivitas sektor
ekonomi lainnya sehingga memberikank
pengaruh positif terhadap perkemkbangan
sektor-sektor tersebut, seper ti sektor
perdagangan, pengangkutan, jasa, pariwisata
dan sektor terkait lainnya, sedangkan dampak
selanjutnya adalah peningkatan penerimaan
negara dari pertumbuhan sektor industri
khususnya dan pertumbuhan ekonomi pada
umumnya, memperkuat neraca pembayaran
atau cadangan devisa.
Sejak akhir tahun 1960, kinerja sektor industri
manufaktur secara nasional mengalami pasang
surut. Pada periode 1967-1997, kontribusi
sektor industri terhadap perekonomian
nasional cender ung ter us meng alami
peningkatan yaitu sebesar 26,8 persen dari
PDB, kemudian pada tahun 2004 peranan
sektor industri pengolahan mencapai 28,1
persen. Sejak tahun 2004 tersebut, kontribusi
sektor industri tersebut terus mengalami
penurunan. Pada tahun 2016 kontribusi sektor
industri hanya sebesar 20,51 persen.
Penurunan kinerja sektor industri pengolahan
di Indonesia tersebut disebabkan oleh 4
(empat) permasalahan utama, antara lain: (1)
rendahnya daya saing industri nasional; (2)
struktur industri nasional belum kuat dan
dalam; (3) masih terkonsentrasinya kegiatan
industri di Pulau Jawa; dan (4) terbatasnya
infrastruktur industri berupa kawasan industri.
Masalah yang ke-4, merupakan salah satu fokus
yang akan didalami dalam penelitian ini.
Salah satu faktor keberhasilan dalam
mendorong pertumbuhan industri berkaitan
erat dengan pengelolaan sumber daya dan
infrastruktur industri yang dimiliki. Hubungan
internal dan keterkaitan serta sinergi antar
berbagai sektor akan mempengaruhi tingkat
per tumbuhan industri suatu wilayah.
Keterkaitan antar berbagai sektor tersebut
pada lokasi yang berdekatan akan menciptakan
aglomerasi dengan berbagai keuntungan yang
akan diperoleh. Aglomerasi akan menciptakan
2 (dua) keuntungan, yaitu penghematan
lokalisasi dan penghematan urbanisasi (Isard,
1956). Penghematan lokalisasi terjadi apabila
biaya produksi per usahaan mengalami
penurunan pada saat produksi total dari
industri tersebut mengalami peningkatan,
sedangkan penghematan urbanisasi terjadi bila
biaya produksi suatu perusahaan mengalami
penur uan pada saat produksi selur uh
perusahaan pada berbagai tingkatan aktivitas
ekonomi di wilayah yang sama mengalami
peningkatan (Kuncoro, 2002).
Menurut Ellison dan Glaeser (1997) bahwa
aglomerasi tidak selalu terjadi dalam satu jenis
industri, aglomerasi dapat terjadi pada
beberapa jenis industri yang tidak mempunyai
keterkaitan sama sekali. Konsentrasi spasial
industri-industri yang sejenis atau mempunyai
keterkaitan satu sama lain maka aglomerasi
tersebut mer upakan klaster industri.
sedangkan konsentrasi spasial industri tersebut
tidak sejenis dan tidak mempunyai keterkaitan
sama sekali maka aglomerasi tersebut dapat
dikategorikan sebagai klaster spasial saja,
bukan sebagai klaster industri. Dampak yang
diperoleh sektor industri jika berlokasi pada
klaster industri dan pada klaster spasial adalah
tidak sama. Industri yang berlokasi pada klaster
industri akan memperoleh dua keuntungan
sekaligus yaitu keuntungan penghematan
lokalisasi dan penghematan urbanisasi.
Sementara itu, jika industri tersebut berlokasi
di klaster spasial maka keuntungan yang
diperoleh hanya ber upa penghematan
urbanisasi (Fujita dan Thiesse, 2002)
242
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Klaster industri dan klaster spasial yang
terbentuk tersebut dapat berupa pusat
pemusatan kegiatan industri dimana tersedia
berbagai fasilitas, infrastruktur, sarana dan
prasarana dan dikelola oleh badan usaha. Hal
ini yang sering diistilahkan sebagai kawasan
industri. Menurut Bredo (1960) bahwa
kawasan industri merupakan sebidang lahan
yang dibagi dan dikembangkan berdasarkan
perencanaan yang komprehensif untuk
penggunaan sekelompok perusahaan industri.
Perencanaan tersebut didalamnya mencakup
rencana pembangunan infrastruktur dasar dan
penunjang serta rencana pengelolaan kawasan
industri.
Alexander (1963) mendefinsikan kawasan
industri sebagai sekelompok pabrik dibangun
pada skala ekonomi di lokasi yang sesuai dan
dilengkapi berbagai fasilitas seperti fasilitas air
bersih, sarana transportasi, fasilitas energi,
perkantoran (bank dan pos), kantin, sarana
olahraga, dan poliklinik. Semua fasilitas dan
utilitas tersebut disediakan dengan pengaturan
khusus dalam pedoman teknis fasilitas
pelayanan umum. Definisi yang sama dengan
sebelumnya, UNIDO (1997) mendefinisikan
kawasan industri sebagai sebidang lahan yang
dikembangkan dan dibagi menjadi kavlingkavling sesuai perencanaan dan dilengkapi
dengan infrastruktur jalan, transportasi dan
utilitas umum lainnya.
Sementara itu, di Indonesia istilah kawasan
industri tercantum pada Keputusan Presiden
No. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri,
Keputusan Presiden No. 41 Tahun 1996
tentang K awasan Industri, kemudian
diperbaharui pada Peraturan Pemerintah No.
142 Tahun 2015 tentang Kawasan Industri,
Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian. Menurut UU No. 3 tahun 2014
tersebut kawasan industri adalah kawasan
tempat pemusatan kegiatan Industri yang
dilengkapi dengan sarana dan prasarana
penunjang yang dikembangkan dan dikelola
oleh perusahaan kawasan industri.
243
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Pembangunan Kawasan Industri bertujuan
untuk mendorong pertumbuhan sektor
industri lebih terarah, terpadu dan
memberikan hasil guna yang lebih optimal bagi
daerah dimana kawasan industri berlokasi.
UNIDO (2012) membedakan tujuan
pembangunan kawasan industri di negara maju
dan negara berkembang. Di negara maju
bertujuan untuk meminimalkan eksternalitas
negatif, seperti polusi dan kemacetan sehingga
kawasan industri direncanakan sebagai klaster
pergudangan dan pusat distribusi, bahkan pada
dalam beberapa negara, kawasan industrinya
dikonversi menjadi eco industrial park,
sedangkan di negara berkembang kawasan
industri bertujuan untuk: (a) mendorong
pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja di
tingkat nasional, regional, dan lokal; (b)
menarik investasi asing dan (c) memacu
perkembangan sektor industri.
Mulyadi (2012) mengemukakan bahwa
kawasan industri dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,
meningkatkan efisiensi dan kemudahan
penyediaan infrastruktur, dan menyediakan
lapangan kerja yang luas. Kawasan industri
dengan infrastruktur yang lengkap dan
memadai dapat menjadi suatu keuntungan bagi
industri yang berada di dalamnya karena dapat
menghilangkan komponen biaya yang harus
ditanggung oleh perusahaan industri. Berbeda
dengan perusahaan industri yang berlokasi di
luar kawasan industri dimana biasanya
melakukan pembangunan sendiri jalan akses,
fasilitas IPAL, energi listrik dan infrastruktur
lainnya. Selain itu, jarak yang berdekatan antara
industri yang saling berkaitan akan
mempermudah proses distribusi barang
sehingga menciptakan efisiensi produksi.
Keuntungan-keuntungan tersebut diharapkan
perusahaan industri yang berada di dalam
kawasan industri dapat meningkatkan
produktivitas sehingga mampu memberikan
nilai tambah bagi industri tersebut. Semakin
berkembangnya kawasan industri akan
meningkatkan penyediaan lapangan pekerjaan
salah satunya melalui perusahaan industri yang
mampu mempekerjakan ribuan buruh/tenaga
kerja.
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Semakin bertambahnya lapangan kerja
tersebut maka pendapatan masyarakat juga
akan meningkat dan berdampak pula pada
peningkatan pendapatan ekonomi daerahnya.
Selain itu, penyerapan tenaga kerja pada sektor
industri secara tidak langsung dapat
meningkatkan kemampuan sumber daya
manusianya.
Keuntungan berlokasi di kawasan industri di
Provinsi Jawa Barat dapat digambarkan secara
umum bahwa jumlah penggunaan tenaga kerja,
bahan bakar, listrik dan bahan baku oleh
perusahan industri yang berlokasi di kawasan
industri relatif lebih sedikit dibandingan
dengan yang digunakan oleh perusahaan
industri yang berlokasi di luar kawasan industri.
Berdasarkan indikator tenaga kerja, di dalam
kawasan industri terserap sebanyak 26,24
persen dan di luar kawasan industri sebanyak
73,76 persen. Namun demikian, nilai tambah
yang dihasilkan sebesar, yaitu 49,01 persen (di
dalam kawasan industri) berbanding 50,99
persen (di luar kawasan industri). Kondisi ini
menunjukkan bahwa industri yang berlokasi di
kawasan industri akan memperoleh tingkat
efisiensi yang lebih baik dibandingkan
berlokasi di luar kawasan industri.
Keutungan berlokasi di kawasan industri
tersebut sejalan dengan hasil penelitiaan
Morales dan Fernandes (2003) meneliti
dampak kawasan industri terhadap penciptaan
nilai tambah oleh perusahaan. Penelitian
tersebut membandingkan perusahaan yang
berlokasi di dalam dan di luar kawasan industri.
Jumlah sampel diambil sebanyak 350
perusahaan manufaktur di wilayah Valencia
Spanyol. Hasil temuannya menunjukkan
bahwa terdapat hubungan positif antara
perusahaan yang berlokasi di dalam kawasan
industri dengan penciptaan nilai tambah yang
lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan
industri di luar kawasan industri. Hasil
penelitian yang sama juga diperoleh dari
Becattini dan Musotti (2003), dimana mereka
meneliti dampak kawasan industri di Italia.
Hasilnya menunjukkan bahwa: (1) Perusahaan
d i d a l a m k awa s a n i n d u s t r i m e m i l i k i
produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan
perusahaan kompetitor yang berlokasi di luar
kawasan industri; (2) Pangsa produk Italia
sebagian besar berasal dari kawasan industri
dan mempunyai daya saing internasional yang
lebih besar; dan (3) kawasan industri sebagai
pasar tenaga kerja mampu menyerap tenaga
kerja yang lebih besar dibandingkan dengan
wilayah di luar kawasan industri.
lumnya di dalam kawasan industri.
Sumber: BPS 2013
Gambar 1.
Kinerja Industri Berdasarkan Lokasi di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013
244
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Demikian pula hasil studi Zheng et.al (2016)
yang meneliti dampak investasi pemerintah
pada pembangunan 110 kawasan industri baru
di 8 kota besar di Tiongkok terhadap
produktivitas per usahaan, upah, dan
penyediaan lapang an ker ja industri
pengolahan. Hasil penelitiannya menemukan
bahwa pembangunan kawasan industri
tersebut berdampak pada peningkatan
investasi, penyerapan tenaga kerja, dan
meningkatkan sinergi dan keterkaitan
perusahaan industri baru dengan perusahaan
industri yang sudah ada sebelumnya di dalam
kawasan industri.
Berdasarkan uraian tersebut, dalam rangka
menunjukkan peran penting kawasan industri
terhadap kinerja sektor industri manufaktur
perlu dilakukan analisis secara komprehensif
perbandingan kinerja industri manufaktur
yang berlokasi di dalam dan di luar kawasan
industri. Adapun lokasi industri manufaktur
yang diteliti adalah Provinsi Jawa Barat
mengingat Provinsi Jawa Barat merupakan
provinsi yang memiliki kawasan industri
terbanyak di Indonesia yaitu sebanyak 25
kawasan industri atau 33,8 persen dari total 74
kawasan industri di Indonesia.
Gambar 2.
Peta Lokasi Penelitian: 25 Kawasan Industri di Provinsi Jawa Barat
Metodologi Penelitian
Data yang digunakan adalah data sekunder.
Data tersebut diperoleh dari BPS Pusat, BPS
Provinsi Jawa Barat, Pusdalitbang Provinsi
Jawa Barat, Bappeda Provinsi Jawa Barat dan
Kementerian Perindustrian. Adapun data
sekunder tersebut, yaitu Tabel Input-Output
Provinsi Jawa Barat 2010, Survei Sosial
Ekonomi Nasional Tahun 2013, neraca
keuangan pemerintah daerah, Survei Angkatan
Kerja Daerah, Statistik Industri Besar dan
Sedang Tahun 2013, Jawa Barat Dalam Angka,
dan Direktori Kawasan Industri tahun 2015.
Data tersebut bersumber dari BPS Pusat, BPS
Provinsi Jawa Barat, Pusdalitbang Provinsi
Jawa Barat dan Kementerian Perindustrian.
245
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Model analisis yang digunakan adalah model
Social Accounting Matriks (SAM). SAM adalah
suatu sistem data yang memuat berbagfai data
sosial ekonomi pada suatu perekonomian
(Thorbecke, 1988). Kerangka data pada SAM
mempunyai karasteristik keseimbangan umum
yang dapat menghubungkan berbagai aspek
sosial dan ekonomi serta menggambarkan
perekonomian secara menyeluruh.
SAM Provinsi Jawa Barat dibangun melalui
beberapa tahapan, yaitu penyiapan Tabel Input
Output (IO), penyiapan berbagai data dan
informasi kondisi sosial dan perekonomian
Provinsi Jawa Barat, pengisian tabulasi SAM
dan balancing Tabel SAM.
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Pengumpulan Data
Sekunder
Membangun Model
SAM Jabar Tahun 2013
Analisis Efek Pengganda
Terhadap Nilai Tambah Sektor
Produksi
Terhadap Pendapatan Rumah
Tangga
Lokasi Industri
(di dalam dan di luar kawasan Industri)
Implikasi Kebijakan
Gambar 3.
Kerangka Analisis
Tahap pertama dalam konstruksi SAM Jawa
Barat adalah penyiapan Tabel IO dengan
melakukan agregasi dan disagregasi Tabel IO
Provinsi Jawa Barat tahun 2010. Berdasarkan
rumusan dan tujuan penelitian maka sektor
yang difokuskan pada penelitian ini adalah
sektor industri pengolahan (KBLI 2 Digit)
yang berlokasi di kawasan industri.
Adapun industri pengelolahan tersebut teridiri
dari 8 sub sektor industri, yaitu Industri
Makanan dan Minuman, Industri Kayu,
Bambu, Rotan dan Furnitur, Industri Kertas
dan Barang dari Kertas, Industri Tekstil,
Pakaian Jadi, Kulit dan Alas Kaki,Percetakan
dan Penerbitan, Industri Barang Bukan
Logam, Industri Logam Dasar dan Barang Jadi
dari Logam, Industri Kimia, Barang dari
Kimia, Karet dan Plastik & Ind Pengilingan
Minyak Bumi, dan Industri Pengolahan
Lainnya.
Tabel IO 2010 memiliki ukuran 29 x 29 sektor
kemudian dilakukan agregasi pada sektor
pertambangan dan sektor jasa sehingga ukuran
Tabel IO menjadi 25 x 25 sektor. Kemudian
dilakukan disagregasi pada masing-masing
sektor industri pengelohan menjadi 2 sektor,
yaitu sektor industri pengolahan yang berlokasi
di dalam dan di luar kawasan industri.
Berdasarkan disagregasi tersebut diperoleh
Tabel IO Jawa Barat 2010 dengan ukuran 33 x
33 sektor.
246
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Tahap kedua adalah melakukan updating Tabel
IO Provinsi Jawa Barat tahun 2010 menjadi
Tabel IO Tahun 2013 dengan menggunakan
metode RAS. Metode RAS merupakan metode
non survei dalam penyusunan Tabel IO. RAS
merupakan metode untuk memperkirakan
koefisien input yang baru pada tahun t (A(t)),
dimana A(t) dihitung dengan menggunakan
data koefisien tahun dasar A(0), dengan
menggunakan total input antara tahun t dan
total permintaan antara tahun t.
Adapun langkah-langkah updating Tabel IO
2010 ke Tabel IO 2013 Provinsi Jawa Barat
adalah sebagai berikut :
1. Data tahun dasar yang digunakan adalah
Tabel IO 2010,
2. Berdasarkan informasi koefisien input
tahun 2010 kemudian dihitung nilai input
antara, input primer dan permintaan akhir,
3. Hasil perhitungan awal diperoleh total baris
yaitu nilai total permintaan dan total
penyediaan yang tidak sama (unbalance),
meskipun secara kolom (input dan output)
mempunyai nilai yang balance,
4. Melakukan balancing pada total baris
(permintaan dan penyediaan) dengan
menggunakan metode RAS menggunakan
microsoft exel,
5. RAS dilakukan dengan balancing total baris,
sehingga menyebabkan unbalance di total
kolom, kemudian baru melakukan balancing
di total kolom yang menyebabkan total baris
menjadi unbalance dengan selisih yang
semakin kecil sampai diperoleh nilai baris
permintaan dan penyediaan dan kolom
input output yang balance;
6. H a s i l d a r i m e t o d e R A S ke mu d i a n
dimasukkan pada Tabel IO updating 2013
secara lengkap sehingga diperoleh nilai
permintaan dan penyediaan, serta nilai
input dengan output yang balance.
Tahap kedua ini menghasilkan Tabel IO Jawa
Barat tahun 2013 dengan klasifikasi sektor
produksi yang telah disesuaikan dengan tujuan
penelitian.
247
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Tahap ketiga adalah penyiapan berbagai data
dan infor masi kondisi sosial dan
perekonomian Provinsi Jawa Barat. Adapun
data yang tersedia antara lain: Susenas, SAM
Nasional 2008, Sensus Penduduk 2010, Jawa
Barat dalam Angka Tahun 2015, PDRB
Menurut Pengeluaran Provinsi Jawa Barat
2010-2014, PDRB Provinsi Jawa Barat
Menur ut Lapangan Usaha 2012-2014,
Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa
Barat 2014, Indikator Kesejahteraan Rakyat
Jawa Barat 2014, Statistik Industri Besar dan
Sedang Jawa Barat 2013, dan Statistik
Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi dan
Kabupaten Kota Jawa Barat 2015. Tahap
selanjutnya adalah menginput data ke sel-sel
blok neraca faktor produksi, neraca institusi,
dan neraca sektor produksi yang merupakan
sub matriks dalam kerangka SAM Provinsi
Jawa Barat, sedangkan yang belum terisi
digunakan data-data pendukung untuk
menghitung nilai komponen masing-masing
sub matriks neraca transaksi. Tahap awal
pengisian ini belum terjadi keseimbangan
neraca sehingga perlu dilakukan proses
keseimbangan dengan menggunakan metode
RAS.
Secara matematis metode RAS dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Dibentuk matriks A yang baru (A1) dengan
ukuran n x n dari (A0)dengan
mengaplikasikan multiplier baris (r) dan
kolom (s).
2. Misalkan matriks transaksi SAM adalah T,
maka tij adalah nilai sel yang memenuhi
kondisi Tj=∑itj Koefisen matriks SAM ,
dibangun melalui matriks transaksi (T) yang
dibagi dengan sel-sel dalam setiap kolom
dari T dengan jumlah total kolom:aij=ti/tj
3. Membentuk matrik baru (A1) dari matriks
yang lama (A0) dengan operasi
proporsional ganda baris dan kolom: a1ij=ri
a0ij0sj dalam notasi matriks dinyatakan
῀ A0S῀ dimana ( R
῀ )
sebagai berikut: A1=R
mengindikasikan elemen matriks diagonal ri
dan ( S῀ ) mengindikasikan elemen matriks
diagonal sj
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Setelah diperoleh Tabel SAM Provinsi Jawa
Barat yang balance, maka tahap akhir adalah
dilakukan rekonsiliasi untuk memastikan
konsistensi antar bagian dengan melihat
kewajaran isian baris dan kolom dengan
membandingkan dengan indikator-indikator
kinerja perekonomian Provinsi Jawa Barat
yang tersedia. Apabila seluruh baris dan kolom
sudah konsisten maka matriks SAM Provinsi
Jawa Barat tahun 2013 tersebut siap digunakan
untuk berbagai analisis dalam penelitian ini.
Analisis yang digunakan dalam penelitian
adalah analisis efek peng ganda yang
pengganda dimaksudkan untuk mengetahui
tingkat pertumbuhan ekonomi sektoral dan
tingkat pertumbuhan nilai tambah dalam
perekonomian Provinsi Jawa Barat tahun 2013
sebagai dampak perubahan neraca eksogen
seperti peningkatan investasi sektor industri
manufaktur baik yang berlokasi di dalam
maupun di luar kawasan industri. Dalam
rangka menganalisis dampak perekonomian
maupun peranan masing-masing neraca
endogen dan keterbandingan diantara neraca
neraca endogen tersebut maka dapat dianalisis
seperti efek pengganda nilai tambah faktor
produksi. Selain itu, dilakukan juga analisis
multiplier pendapatan rumah tangga. Analisis
ini dimaksudkan untuk mendapatkan
gambaran tentang distribusi pendapatan antar
kelompok rumah tangga, serta sektor yang
memberikan kontribusi pendapatan terbesar
bagi kelompok rumah tangga.
Distribusi pendapatan dan pengeluaran neraca
endogen dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = T + X
(1)
dimana Y adalah matriks pendapatan atau
pengeluaran, T adalah matriks transaksi dan X
adalah matriks neraca eksogen. Apabila
diasumsikan besarnya kecenderungan rata-rata
pengeluaran Aij adalah perbandingan antara
pengeluaran sektor ke-j untuk sektor ke-i
dengan total pengeluaran ke-j, maka:
Aij = Tij
Yj
atau 0 0 A
13
A=
A21 A22 0
0 A32 A33
|
4. Melakukan iterasi ke-1 (ai1 dan bj1), iterasi ke2 (ai2 dan bj2), sampai pada iterasi ke-t (at1 dan
bjt) yang merupakan inerasi yang konvergen.
[
(2)
[
(3)
Matriks A merupakan submatriks yang
memuat koefisien kontribusi pengeluaran yang
diihitung dengan cara membagi setiap transaksi
dengan jumlah kolom dalam SAM, di mana:
A13 Koefisiean alokasi nilai tambah ke faktor
produksi
A21 Koefisiean alokasi pendapatan faktor
produksi ke institusi
A22 Koefisiean transfer antar institusi
A32 Koefisiean penerimaan domestik
A33 Koefisiean Penerimaan antara
Selanjutnya persamaan (1) masing dibagi
dengan Y, diperoleh persamaan (4) berikut:
Y/Y = T/Y + X/Y
(4)
Persamaan (2) dilakukan substitusi ke
persamaan (4) sehingga diperoleh:
I = A + X/Y
I – A = X/Y
(I – A)Y = X
Y=(I-A)-1) X
Jika (I-A)-1)=Ma, maka
Y=Ma X
(5)
dimana:
A : koefisien-koefisien yang menunjukkan
pengaruh langsung dari perubahan yang
terjadi pada suatu sektor terhadap
sektor lainnya.
Ma : pengganda neraca yang menunjukkan
pengaruh perubahan suatu sektor
terhadap sektor lainnya dari seluruh
SAM.
248
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Berdasarkan hal tersebut, ukuran kinerja sektor
industri dianalisis berdasarkan nilai efek
peng ganda sektor industri terhadap
pendapatan faktor produksi baik faktor
produksi tenaga kerja, maupun faktor produksi
modal (Neraca Faktor Produksi pada Tabel
SAM). Di samping itu, juga dianalisis
berdasarkan nilai efek pengganda sektor
industri terhadap pendapatan rumah tangga
(Neraca Institusi pada Tabel SAM). Analisis
efek pengganda tersebut dapat
diinterpretasikan secara komprehensif
berdasarkan adanya injeksi pada neraca
eksogen (investasi) sektor industri pengolahan
baik yang berlokasi di dalam maupun di luar
kawasan industri.
Hasil dan Pembahasan
Pembangunan kawasan industri akan
memberikan banyak keuntungan, salah satunya
adalah mampu menyediakan lapangan kerja
yang lebih luas. Semakin berkembangnya
kawasan industri akan meningkatkan
penyediaan lapangan pekerjaan melalui
pembangunan industri manufaktur yang dapat
menyediakan lapangan kerja yang luas.
Semakin banyak lapangan kerja yang tersedia
tersebut maka pendapatan rumah tangga juga
akan mengalami meningkat dan berdampak
pula pada peningkatan pendapatan ekonomi
suatu wilayah. Selain itu, penyerapan tenaga
kerja pada sektor industri secara tidak langsung
dapat meningkatkan kemampuan sumber daya
manusianya.
Oleh karena itu, peningkatan investasi sektor
industri manufaktur di kawasan industri maka
secara tidak langsung akan memberikan
pengaruh terhadap peningkatan pendapatan
tenaga kerja dan selanjutnya juga akan
mempengaruhi pendapatan rumah tangga baik
di wilayah perdesaan maupun di wilayah
perkotaan. Analisis berdasarkan lokasi tersebut
dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
distribusi pendapatan faktor produksi dan
rumah tangga antara wilayah perdesaan dan
perkotaan sebagai dampak dari pembangunan
industri baik di dalam maupun di luar kawasan
industri.
249
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Selain faktor produksi tenaga kerja tersebut,
peningkatan faktor produksi modal juga akan
memberikan dampak positif terhadap
peningkatan pendapatan institusi rumah
tang ga. Hal ini dapat dilihat secara
komprehensif berdasarkan hasil analisis efek
berganda SAM, khususnya efek pengganda
dari adanya injeksi sektor industri manufaktur
baik yang berlokasi di dalam maupun di luar
kawasan industri terhadap nilai tambah faktor
produksi Provinsi Jawa Barat yang dapat dilihat
pada Tabel 1.
Berdasarkan hasil analsis pada Tabel 1 bahwa
sektor industri manufaktur yang berlokasi di
dalam kawasan industri memberikan nilai efek
pengganda terhadap pendapatan tenaga kerja
lebih besar dibandingkan dengan industri
manufaktur di luar kawasan industri. Nilai efek
berganda tenaga kerja di kawasan industri
sebesar 2,8064. Hal ini menunjukkan bawah
setiap peningkatan investasi industri
manufaktur di kawasan industri sebesar 1
milyar rupiah maka akan memberikan dampak
terhadap peningkatan nilai tambah faktor
produksi tenaga kerja sebesar 2,8064 milyar
rupiah, sedangkan di luar kawasan industi, nilai
efek berganda tenaga kerja sebesar 2,7988 yang
berarti setiap peningkatan investasi di sektor
industri manufaktur di luar kawasan industri
sebesar 1 milyar rupiah maka akan
meningkatkan nilai tambah faktor produksi
tenaga kerja sebesar 2,7988 milyar rupiah.
Nilai efek pengganda terhadap pendapatan
faktor produksi yang diberikan oleh sektor
industri pengolahan yang berlokasi di dalam
kawasan industri lebih tinggi dan berbeda
signifikan dibandingkan deng an efek
pengganda terhadap pendapatan faktor
produksi yang diberikan oleh sektor industri
pengolahan yang berlokasi di luar kawasan
industri. Hal ini telah dilakukan uji statistik non
parametrik (uji Wilcoxon).
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Tabel 1.
Efek Pengganda Industri Manufaktur terhadap Nilai Tambah Faktor Produksi
Faktor Produksi
Pertanian
Produksi, Operator Alat Angkutan,
Manual & Buruh
Tenaga
Kerja
Tata Usaha, Penjualan, Jasa-Jasa
Kepemimpinan, Ketatalaksanaan,
Militer, Profesional, & Teknisi
Tenaga Kerja di Desa
Tenaga Kerja di Kota
Tenaga Kerja
Modal
Total Multiplier
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang
pernah dilakukan oleh Morales dan Fernandes
(2003) yang meneliti dampak kawasan industri
terhadap penciptaan nilai tambah
oleh per usahaan. Penelitian tersebut
membandingkan perusahaan yang berlokasi di
kawasan industri dengan perusahaan yang
berlokasi di luar kawasan industri. Hasil
penelitiannya menemukan bahwa terdapat
hubungan yang berbanding lurus antara
perusahaan yang berlokasi di dalam kawasan
industri dengan penciptaan nilai tambah yang
lebih besar dibandingkan dengan perusahaan
yang berlokasi di luar kawasan industri.
Demikian pula penelitian Cainelli (2008) yang
meneliti dampak kawasan industri terhadap
pertumbuhan produktifitas perusahaan,
dimana hasil penelitiannya menemukan bahwa
perusahaan yang berlokasi di kawasan industri
memiliki per tumbuhan produktivitas
perusahaan yang lebih tinggi dibandingkan
perusahaan yang berlokasi di luar kawasan
industri.
Desa
Kota
Desa
Kota
Desa
Kota
Industri Manufaktur
Di Kawasan
Di Luar Kawasan
Industri
Industri
0,0814
0,0816
0,5012
0,4998
0,6498
0,6479
0,3370
0,3361
0,8367
0,8343
0,1097
0,1094
0,2905
0,2897
1,0294
1,0269
1,7770
1,7720
2,8064
2,7988
5,5597
5,5477
8,3661
8,3466
tambah terbesar dari setiap peningkatan
investasi adalah tenaga kerja tata usaha,
penjualan, dan jasa-jasa di perkotaan.
Kelompok tenaga kerja tersebut menerima
tambahan nilai tambah dengan nilai efek
berganda sebesar 0,8367. Kelompok tenaga
kerja terbesar kedua adalah tenaga kerja
produksi, operator alat angkutan, manual &
buruh di perkotaan (0,6498). Kedua kelompok
tenaga kerja tersebut merupakan kelompok
tenaga kerja dengan bidang usaha yang
dominan di dalam industri manufaktur.
Kelompok tenaga kerja tata usaha, penjualan,
& jasa-jasa, terdiri dari tenag a ker ja
supervisor/pengawas, bagian keuangan,
logistik, pemasaran, dan jasa lainnya.
Sedangkan yang termasuk dalam kelompok
tenaga kerja produksi, operator alat angkutan,
manual & buruh adalah mereka yang terlibat
dalam kegiatan pembuatan barang, konstruksi,
perawatan dan berbaikan bangunan dan mesin
atau dengan kata lain tenaga kerja yang
melaksanakan aktivitasnya lebih banyak
menggunakan tenaga fisik.
Tabel 1 juga menunjukkan bahwa berdasarkan
bidang usaha dari tenaga kerja di Provinsi Jawa
Barat baik yang berlokasi di kawasan industri
maupun di luar kawasan industri, tenaga kerja
yang yang menerima dampak peningkatan nilai
250
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Adapun hasil analisis berdasarkan wilayah
perdesaan dan perkotaan menunjukkan bahwa
peningkatan nilai tambah faktor produksi
tenaga kerja sebagai efek berganda dari
pembangunan industri manufaktur akan lebih
banyak diperoleh oleh tenaga kerja yang
berdomisili di wilayah perkotaan dibandingkan
tenaga kerja yang di wilayah perdesaan. Efek
berganda tenaga kerja diperkotaan sebesar
3,540 sedangkan di perdesaan hanya sebesar
2,0562. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini
pembangunan industri lebih banyak berlokasi
di wilayah perkotaan. Salah satu faktor
penyebabnya adalah kawasan industri di Jawa
Barat pada umumnya berlokasi di wilayah
perkotaan. Hasil analisis ini sesuai dengan
temuan dari penelitan Kwanda (2000) bahwa
para investor dalam melakukan pemilihan
lokasi kawasan industri pada umumnya mereka
memiliki di wilayah perkotaan, seperti di
wilayah per tumbuhan pusat regional
Jabodetabek dan Gerbangkertasusila.
Demikian pula, hasil studi Kuncoro (2002)
bahwa lokasi industri manufaktur di Indonesia
terkonsentrasi di wilayah perkotaan pada dua
kutub Pulau Jawa, yaitu wilayah barat Pulau
Jawa adalah Jabodetabek dan Bandung
sedangkan wilayah timur Pulau Jawa
terkonsentrasi di sekitar Surabaya.
Apabila sektor industri manufaktur yang
berlokasi di kawasan industri dibagi menjadi 8
(delapan) jenis industri, maka berdasarkan
hasil analsis pada Tabel 2 bahwa efek
peng ganda terbesar sektor industri
manufaktur yang berlokasi di dalam kawasan
industri terhadap nilai tambah faktor produksi
adalah sektor industri makanan dan minuman
terhadap faktor produksi modal di perkotaan,
yaitu sebesar 0,8578, kemudian diikuti oleh
sektor industri tekstil, kulit, pakaian jadi dan
alas kaki dengan nilai efek pengganda sebesar
0,8305.
Tabel 2.
Efek Pengganda Industri Manufaktur yang Berlokasi di Dalam Kawasan Industri terhadap Nilai Tambah Faktor
Produksi
Ind
Manmin
Ind
Tekstil
Ind
Kayu
Ind
Kertas
Ind
Kimia
Ind
Bukan
Logam
Ind
Logam
Ind
Lain
TK_Ptani
0,0223
0,0079
0,0077
0,0073
0,0075
0,0064
0,0063
0,0036
TK_ProdD
0,0627
0,0770
0,0655
0,0728
0,0614
0,0690
0,0634
0,0294
TK_ProdK
0,0813
0,0998
0,0850
0,0944
0,0796
0,0894
0,0822
0,0381
TK_TUJD
0,0422
0,0518
0,0441
0,0490
0,0413
0,0464
0,0427
0,0197
TK_TUJK
0,1047
0,1286
0,1094
0,1215
0,1025
0,1151
0,1059
0,0490
TK_KKMD
0,0137
0,0169
0,0143
0,0159
0,0134
0,0151
0,0139
0,0064
TK_KKMK
0,0364
0,0446
0,0380
0,0422
0,0356
0,0400
0,0368
0,0170
MDL
0,8578
0,8305
0,7578
0,7057
0,7120
0,6620
0,7194
0,3144
Faktor
Produksi
Keterangan:
TK_Ptani : Tenaga kerja pertanian
TK_ProdD: Tenaga kerja produksi, operator alat
angkutan, manual dan buruh kasar di
wilayah perdesaan
TK_ProdK :Tenaga kerja produksi, operator alat
angkutan, manual dan buruh kasar di
wilayah perkotaan
TK_TUJD : Tenaga kerja tata usaha, penjualan, jasajasa di wilayah perdesaan
251
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
TK_TUJK :
Tenaga kerja tata usaha, penjualan, jasajasa di wilayah perkotaan
T K _ K K M D : Te n a g a ke r j a ke p e m i m p i n a n ,
ketatalaksanaan, militer, profesional
dan teknisi di wilayah perdesaan
T K _ K K M K : Te n a g a k e r j a k e p e m i m p i n a n ,
ketatalaksanaan, militer, profesional
dan teknisi di wilayah perkotaan
MDL :
Faktor produksi modal
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Selama ini sektor industri logam dasar dan
barang jadi dari logam menjadi sektor dengan
konstribusi terbesar diantara sektor industri
manufaktur lainnya terhadap PDRB Jawa
Barat, namun efek penggandanya terhadap
menciptaan nilai tambah lebih rendah
dibandingkan deng an sektor industri
manufaktur lainnya. Hal ini merupakan
fenomena bahwa peranan sektor industri
makanan dan minuman; industri tekstil,
pakaian jadi, kulit & alas kaki, dan industri
kayu, bambu, rotan & furniture lebih baik
dibandingkan sektor industri logam dasar dan
barang jadi dari logam.
Oleh karena itu, dalam rangka mendorong
pertumbuhan perekonomian Provinsi Jawa
Barat yang lebih tinggi, maka kebijakan
pengembangan sektor industri jangan hanya
berfokus pada pengembangan sektor industri
logam dasar dan barang jadi dari logam seperti
industri elektronik, peralatan listrik, industri
mesin, peralatan, kendaraan bermotor,
karoseri, dan industri alat angkut lainnya, tetapi
seharusnya difokuskan pada pengembangan
sektor industri yang memberikan nilai tambah
yang lebih tinggi, yaitu sektor industri makanan
& minuman dan industri tekstil, pakaian jadi,
kulit & alas khaki. Potensi investasi di sektor
industri makanan dan minuman yang terdiri
dari industri beras, gula, teh olahan, industri
makanan lainnya, dan industri pengolahan
tembakau di Provinsi Jawa Barat sangat
terbuka lebar, mengingat pasar domestik yang
menjanjikan dengan jumlah penduduk Jawa
Barat dan Indonesia yang besar, potensi bahan
baku domestik yang melimpah, dan
ketersediaan sumber daya manusia.
Demikian pula menurut UNIDO (2012),
kawasan industri di suatu wilayah dapat
mengakselerasi pengembangan ekonomi
wilayah tersebut melalui penyediaan lokasi
usaha industri yang inovatif dan atraktif.
D e n g a n d e m i k i a n , k awa s a n i n d u s t r i
merupakan salah satu instrumen yang bernilai
untuk mendorong peningkatan daya saing
industri baik di lingkup regional maupun secara
nasional.
Analisis berikutnya yang dilakukan adalah
analisis efek pengganda industri manufaktur
yang berlokasi di dalam dan di luar kawasan
industri terhadap pendapatan rumah tangga.
Pendapatan r umah tang ga mer upakan
pendapatan yang diperoleh rumah tangga yang
dapat bersumber dari pendapatan kepala dan
anggota rumah tangga.
Menurut Sutomo (2015) pendapatan rumah
tangga dapat berasal dari balas jasa faktorfaktor produksi. Balas jasa faktor produksi
tenaga kerja berupa upah, gaji, keuntungan,
atau bonus. Sedangkan balas jasa faktor
produksi modal dapat berupa bunga, deviden,
dan bagi hasil. Faktor produksi tenaga kerja
dan modal tersebut semuanya dimiliki oleh
rumah tangga. Pada penelitian ini rumah
tangga dibedakan menjadi 3 (tiga) tingkatan,
yaitu golongan rumah tangga berpendapatan
rendah, sedang dan tinggi serta diklasifikasikan
berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan.
Hasil ini sejalan dengan pemikiran Mulyadi
(2013) bahwa industri pengolahan yang
berlokasi di dalam kawasan industri akan
memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih
tinggi, di mana kondisi ini terlihat di wilayah
yang memiliki kawasan industri pertumbuhan
ekonominya lebih tinggi dari pertumbuhan
ekonomi rata-rata nasional, seperti di Provinsi
Banten dan Jawa Barat.
252
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Tabel 3
Efek Pengganda Industri Manufaktur terhadap Pendapatan Rumah Tangga
Industri Manufaktur
Golongan Pendapatan Rumah Tangga
Rendah
Sedang
Tinggi
Rendah
Kota
Sedang
Tinggi
Rumah Tangga Desa
Rumah Tangga Kota
Total Rumah Tangga
Desa
Di Kawasan Industri
0,7703
0,9642
0,1231
0,7133
1,4098
2,6183
1,8577
4,7414
6,5991
Berdasarkan analisis efek pengganda sektor
industri manufaktur di dalam dan di luar
kawasan industri terhadap pendapatan rumah
tangga dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil analisis
tersebut menunjukkan bahwa sektor industri
manufaktur yang berlokasi di dalam kawasan
industri memberikan nilai efek pengganda
terhadap pendapatan rumah tangga yang lebih
besar dibandingkan dengan industri
manufaktur di luar kawasan industri. Nilai efek
berganda terhadap pendapatan rumah tangga
di kawasan industri sebesar 6,5991 yang berarti
setiap peningkatan investasi di sektor industri
manufaktur di kawasan industri sebesar 1
milyar rupiah maka akan memberikan dampak
terhadap pendapatan rumah tangga yang
meningkat di Provinsi Jawa Barat sebesar
6,5591 milyar rupiah, sedangkan di luar
kawasan industi, nilai efek berganda terhadap
pendapatan rumah tangga sebesar 6,5833 yang
berarti setiap peningkatan investasi di sektor
industri manufaktur di luar kawasan industri
sebesar 1 milyar rupiah maka akan
meningkatkan pendapatan rumah tangga
6,5833 milyar rupiah.
Tabel 3 menggambarkan bahwa rumah tangga
yang paling banyak memperoleh efek berganda
dari industri manufaktur adalah kelompok
rumah tangga yang berlokasi di wilayah
perkotaan.
253
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Di Luar Kawasan Industri
0,7685
0,9620
0,1228
0,7116
1,4064
2,6120
1,8533
4,7300
6,5833
Hal ini terlihat bahwa efek berganda industri
manufaktur di kawasan indutri terhadap
pendapatan rumah tangga di perkotaan
sebesar 4,7414 sedangkan industri manufaktur
di luar kawasan industri, nilai efek bergandanya
sebesar 4,7300. Selanjutnya golongan rumah
tangga di perkotaan yang menerima efek
berganda terbesar adalah golongan rumah
tangga berpendapatan tinggi di perkotaan.
Meningkatnya pendapatan rumah tangga
tersebut berkaitan dengan semakin
meningkatnya nilai tambah faktor produksi
tenaga kerja di mana pembangunan kawasan
industri akan mendorong masuknya investasi
sektor industri manufaktur dan selanjutnya
membuka lapangan kerja yang luas.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang telah dilakukan Perry dan Yeoh (2000)
yang meneliti peranan Kawasan Industri
Batamindo-Indonesia, Kawasan Industri
Bintan-Indonesia, Kawasan Industri SuzhouChina dan Kawasan Industri Wuxi-China.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
pembangunan kawasan industri tersebut
mampu memberikan kontribusi yang besar
terhadap menyerapan tenaga kerja yang pada
gilirannya akan meningkatkan pendapatan
rumah tangga.
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Tabel 4
Efek Pengganda Industri Manufaktur yang Berlokasi di Dalam Kawasan Industri terhadap Pendapatan Rumah
Tangga
Faktor
Produksi
Ind
Manmin
Ind
Tekstil
Ind
Kayu
Ind
Kertas
Ind
Kimia
Ind
Bukan
Logam
Ind
Logam
Ind
Lain
RTRD
0,1121
0,1157
0,1021
0,1044
0,0959
0,0983
0,0975
0,0442
RTSD
0,1404
0,1449
0,1278
0,1307
0,1200
0,1231
0,1220
0,0554
RTTD
0,0179
0,0185
0,0163
0,0167
0,0153
0,0157
0,0156
0,0071
RTRK
0,1025
0,1076
0,0957
0,0955
0,0898
0,0899
0,0915
0,0409
RTSK
0,2025
0,2127
0,1891
0,1887
0,1775
0,1777
0,1808
0,0808
RTTK
0,3762
0,3951
0,3512
0,3505
0,3296
0,3300
0,3357
0,1501
Keterangan:
RTRD : rumah tangga berpendapatn rendah di wilayah
perdesaan
RTSD : rumah tangga berpendapatn menengah di
wilayah perdesaan
RTTD : rumah tangga berpendapatn tinggi di wilayah
perdesaan
RTRK : rumah tangga berpendapatn rendah di wilayah
perkotaan
RTSK : rumah tangga berpendapatn menengah di
wilayah perkotaan
RTTK : rumah tangga berpendapatn tinggi di wilayah
perkotaan
Keberadaan kawasan industri di Provinsi Jawa
Barat menjadi sangat penting, mengingat
peranan kawasan industri tersebut terhadap
peningkatan pendapatan rumah tangga sangat
besar. Berdasarkan analisis efek pengganda
sektor industri manufaktur yang berlokasi di
dalam kawasan industri terhadap pendapatan
rumah tangga bahwa sektor industri yang
memberikan efek pengganda terbesar adalah
sektor industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan
alas kaki terhadap rumah tangga
berpendapatan tinggi di perkotaan, yaitu
sebesar 0,3951, kemudian diikuti oleh sektor
industri makanan dan minuman dengan nilai
efek pengganda sebesar 0,3762. Tingginya nilai
efek pengganda sektor industri padat karya
(industri tekstil, pakaian jadi, kulit & alas kaki)
dan sektor industri makanan & minuman
terhadap intitusi rumah tangga berpendapatan
tinggi di perkotaan didorong oleh tingginya
penyerapan tenaga kerja di kedua sektor
tersebut.
Sektor industri industri tekstil, pakaian jadi,
kulit dan alas kaki menyerap tenaga kerja
sebanyak 1.588.938 orang atau sekitar 40
persen tenaga kerja sektor industri manufaktur
di Provinsi Jawa Barat adalah tenaga kerja di
sektor industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan
alas kaki, sedangkan sektor industri makanan
dan minuman menyerap tenaga kerja sebanyak
394.893 orang atau sekitar 10 persen.
Kondisi ini sejalan dengan hasil studi Zheng et.
al (2016) yang meneliti dampak investasi
pembangunan 110 kawasan industri di 8 kota di
Tiongkok. Hasil studinya menunjukkan bahwa
investasi pemerintah dalam pembangunan
kawasan industri tersebut mampu
meningkatkan pendapatan tenaga kerja sekitar
3 persen. Demikian juga studi Wang (2013)
yang meneliti dampak ekonomi dari investasi
kawasan ekonomi khusus di Tiongkok. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa investasi di
kawasan industri ekonomi khusus memberikan
dampak terjadinya aglomerasi ekonomi dan
meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Keuntungan pembangunan kawasan industri
di Provinsi Jawa Barat sampai saat ini lebih
banyak dinikmati oleh golongan rumah tangga
tertentu, yakni rumah tangga berpendapatan
tinggi di wilayah perkotaan. Kondisi ini
menyebabkan ketimpangan pendapatan
rumah tangga baik antar golongan rumah
tangga maupun antar wilayah (desa/kota)
semakin tinggi sehingga efek berganda yang
ditimbulkan pembangunan kawasan industri
terhadap peningkatan pendapatan rumah
tangga terlihat lebih rendah secara kualitas.
254
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Oleh karena itu, dalam rangka mendorong
peningkatan pendapatan rumah tangga di
perdesaan maka perlu dikembangkan kawasan
industri atau sentra industri baru di sekitar
wilayah hinterland dari kawasan industri yang
a d a s a a t i n i d i P r ov i n s i Jawa B a r a t .
Berlakukannya UU No. 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian diperkirakan akan meningkatan
efek pengganda sektor industri manufaktur
terhadap pendapatan rumah tangga. Hal ini
sebabkan karena pada UU tersebut sangat
mendorong percepatan pemerataan dan
penyebaran pembangunan industri di seluruh
wilayah. Demikian pula, regulasi ditingkat
Provinsi dan Kabupaten/Kota juga ditetapkan
Peraturan Daerah yang meng atur
pengembangan industri berbasis wilayah.
Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut,
Kementerian/Lembaga terkait dan
Pe m e r i n t a h D a e r a h h a r u s m e n j a m i n
ketersediaan infrastruktur jaringan energi (gas
dan listrik), jaringan transportasi (jalan, rel
kereta, bandara, pelabuhan), telekomunikasi,
dan sumber daya air di sekitar lokasi yang akan
dibangun kawasan industri atau sentra industri
kecil dan menengah. Ketersediaan
infrastruktur tersebut akan menarik investasi
sektor industri manufaktur untuk
menanamkan modalnya di wilayah tersebut.
Berdirinya industri manufaktur di suatu
wilayah akan menarik industri-industri lainnya
bahkan sektor lain untuk berlokasi di wilayah
tersebut, sehingga efek pengganda yang
ditimbulkan terhadap rumah tangga sekitar
kawasan industri akan semakin besar, misalnya
terbukanya kesmpatan kerja yang kemudian
berdampak pada peningkatan pendapatan
rumah tangga.
Hal ini sesuai dengan pemikiran Kumar (2008)
bahwa kawasan industri bertujuan untuk
mewujudkan pembangunan yang
terdesentralisasi ke seluruh wilayah, menggeser
industri kecil dari lokasi umum ke dalam
kawasan industri, menarik investasi dan
menciptakan lapangan kerja.
255
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Pada dasarnya, di wilayah perdesaan Provinsi
Jawa Barat memiliki potensi pengembangan
industri kecil dan menengah, seperti industri
tekstil, alas kaki, pengolahan rotan, makanan
dan minuman, namun pengembangan industri
tersebut belum terpadu karena tidak berlokasi
di satu hamparan lahan industri. Hal ini
menyebabkan potensi yang besar tersebut
belum mampu memberikan efek pengganda
yang optimal bagi pendapatan rumah tangga di
wilayah perdesaan Provinsi Jawa Barat.
Simpulan
Kinerja sektor industri manufaktur yang
berlokasi di kawasan industri memberikan nilai
efek pengganda terhadap pendapatan faktor
produksi modal dan tenaga kerja lebih besar
dibandingkan dengan industri manufaktur di
luar kawasan industri sehingga perusahaan
industri di dalam kawasan industri akan
memperoleh keuntungan yang lebih besar,
seperti meningkatkan produktifitas
perusahaan dan menikmati manfaat dengan
terciptanya aglomerasi ekonomi.
Sektor industri manufaktur yang berlokasi di
dalam kawasan industri memperoleh dua
keuntungan sekaligus yaitu (1) Keuntungan
lokalisasi, di mana keuntungan berupa
penghematan biaya transportasi bahan baku
dan hasil produksi, yang diperoleh karena
berlokasi secara berdekatan dengan
perusahaan terkait lainnya; dan (2)
Keuntungan urbanisasi, di mana keuntungan
yang diperoleh karena tersedianya
infrastruktur dasar dan penunjang yang
digunakan secara bersama-sama seperti
jariingan listrik, instalasi pengolahan air
limbah, instalasi pengolahan air bersih,
pergudangan, sarana telekomuninasi, dan
utilitas lainnya yang menunjang kegiatan
operasi perusahaan industri. Penggunaan
fasilitas bersama akan dapat menurunkan biaya
karena dapat ditanggung secara bersama.
Jurnal Manajemen Teknologi, 16(3), 2017, 241-257
Keberadaan kawasan industri di Provinsi Jawa
Barat menjadi sangat penting, mengingat
peranan kawasan industri tersebut terhadap
peningkatan pendapatan rumah tangga sangat
besar. Keuntungan pembangunan kawasan
industri di Provinsi Jawa Barat sampai saat ini
lebih banyak dinikmati oleh golongan rumah
tangga berpendapatan tinggi di wilayah
perkotaan. Kondisi ini menyebabkan
ketimpangan pendapatan rumah tangga baik
antar golongan rumah tangga maupun antar
wilayah (desa/kota) semakin melebar sehingga
efek berganda yang ditimbulkan
pembangunan kawasan industri terhadap
peningkatan pendapatan rumah tangga terlihat
lebih rendah secara kualitas.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka salah
satu arah kebijakan pemerintah saat ini dalam
pengembangan percepatan memerataan dan
penyebaran pembangunan industri di seluruh
wilayah. Dalam rangka mendukung kebijakan
tersebut, pemerintah perlu melakukan
investasi langsung pembangunan kawasan
industri. Sebagaimana diketahui bahwa
kawasan industri eksisting di Provinsi Jawa
Barat merupakan kawasan industri yang
dibangun oleh pihak swasta sehingga lokasi
kawasan industri tersebut pada umumnya
berlokasi di wilayah yang memiliki
infrastruktur dasar dan penunjang yang
memadai, yaitu di wilayah Bekasi, Karawang,
Purwarkarta dan Bogor.
Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan
investasi langsung dalam pembangunan
kawasan industri di wilayah yang tidak
dilengkapi berbagai infrastruktur dasar dan
penunjang tetapi wilayah tersebut juga
didukung oleh ketesediaan sumber daya alam
yang dapat diolah dan menciptakan nilai
tambah yang tinggi. Pemerintah dalam
melakukan investasi langsung pembangunan
kawasan industri, terlebih dahulu perlu
melakukan penyiapan dukungan dari aspek
regulasi dan kelembagaan kawasan industri.
Sementara itu, dalam rangka mendorong
pertumbuhan perekonomian Provinsi Jawa
Barat yang lebih tinggi, maka kebijakan
pengembangan sektor industri di kawasan
industri jang an hanya berfokus pada
pengembangan sektor industri padat modal,
tetapi seharusnya difokuskan pada
pengembangan sektor industri yang
memberikan nilai tambah dan keterkaitan yang
lebih tinggi, yaitu sektor industri makanan dan
minuman, dan industri tekstil, kulit, pakaian
jadi dan alas khaki.
Potensi investasi di sektor industri makanan &
minuman di Provinsi Jawa Barat sangat terbuka
lebar, mengingat pasar domestik yang
menjanjikan dengan jumlah penduduk yang
besar dan potensi bahan baku domestik yang
melimpah. Oleh karena itu, pengembangan
kawasan industri yang memberikan dampak
pada peningkatan nilai tambah yang optimal
perlu diarahkan pada pendekatan
pengembangan kawasan industri pada
pendekatan klaster, bukan hanya sebagai
klaster secara spasial tetapi juga sebagai klaster
industri. Dengan demikan perusahaan industri
yang berlokasi di kawasan industri akan
memperolah berbagai kemudahan, seperti
kemudahan dalam mendapatkan bahan baku,
memperoleh tenag a ker ja, pasar, dan
keuntungan lainnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah
harus menyusun regulasi yang mengatur
industri baru untuk berlokasi di kawasan
industri sesuai dengan karasteristik jenis
industri masing-masing, sehingga ke depannya
industri-industri yang berlokasi di kawasan
industri merupakan industri yang jenisnya
sama sehing g a memperbesar peluang
terbentuknya klaster industri yang akan
menciptakan keterkaitan pada sepanjang rantai
nilai industri tersebut, termasuk kegiatan
industri pendukung, industri penyedia
infrastruktur, industri terkait, dan industri jasa
penunjang lainnya.
256
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Winardi, Priyarsono, Siregar, dan Kustanto/Kinerja Sektor Industri Manufaktur Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lokasi di Dalam dan di Luar
Kawasan Industri
Daftar Pustaka
Alexande, P.C. (1963). Industrial estates in India.
Asia Pub. House.
Becattini, G. & Musotti, F. (2003). Measuring
the district effect. Reflections on the
literature, Banca Nazionale del Lavoro
Quarterly Review. 226:259–290.
Bredo, W. (1960). Industrial Estatate for Tool
Industrialzation. International Industrial
Development Center. Stanford Research
Institute.
Cainelli, G. (2008). Spatial Agglomeration,
Technological Innovations, and Firm
Productivity: Evidence from Italian
Industrial Districts. Growth and Change, 39
(3), 414–435.
Ellison, G. & Glaeser, EL. (1997). Geographic
Concentration in U.S. Manufacturing
Industries: A Dartboard Approach.
Journal of Political Economy. 105(5):889927.
Fujita, M. & Thiesse, JF. (2002). Economics of
Agglomeration: Cities, Industrial Location and
Regional Growth. Cambridge: Cambridge
University Press.
Isard, W. (1956). Location and Space Economy.
New York: Jhon Wley & Sons, Inc.
Kuncoro, M. (2000). Ekonomi Pembangunan :
Teori, Masalah, dan Kebijakan. Yogyakarta:
UPP AMP YKPN.
Kuncoro, M. (2002). Analisis Spasial dan Regional
Studi Aglomerasi & Kluster Industri
Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Kwanda, T. (2000). Pengembangan Kawasan
Industri di Indonesia. Dimensi Teknik
Arsitektur, 28(1), 54– 61.
Morales, F. & Fernandes, M. (2003). The
Impact of Industrial District Affiliation
on Firm Value Creation. European
Planning Studies. 11(2).
Mulyadi, D. (2012). Manajemen Perwilayahan
I n d u s t r i . Ja k a r t a : Ke m e n t e r i a n
Perindustrian.
Perry, M. & Yeoh, C. (2000). Singapore's
Overseas Industrial Park. Regional Studies,
34 (2), 199.
Sutomo, M. (2015). Sistem Data dan Perangkat
Analisis Ekonomi Makro. Bandung:
CorBooks.
257
Jurnal
Manajemen Teknologi
Vol. 16 | No. 3 | 2017
Thorbeche, E. (1988). The Social Accounting
Matrix dan Consistenc y-Type.
Washington. D.C.: The World Bank.
UNIDO. (1997). Industrial Estates Principles and
Practice. Technical Report. United Nations
Industrial Development Organization.
UNIDO. (2012). Europe and Central Asia
Regional Conference on Industrial Parks as a
tool to foster local industrial development.
Baku, Azerbaijan.
Wang, J. (2013). The economic impact of
Special Economic Zones: Evidence
from Chinese municipalities. Journal of
Development Economics, 101,133–147
Zheng, S., Sun, W., Wu, J., & Kahn, ME. (2016).
Urban Agglomeration and Local Economic
Growth in China: The Role of New Industrial
Park. USC Dornsife Institute fo New
Economic Thingking. Working Paper:
16-06.
Download