Uploaded by Siti Halijah

MAKALAH KETRAMPILAN PROSES SAINS

advertisement
MAKALAH
KETRAMPILAN PROSES SAINS
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Evaluasi Pembelajaran
Dosen pengampu: Dr. Rusamsi Martowidjoyo, M.Ed
Disusun oleh:
Yuli Fahmi
SEKOLAH PASCASARJANA
PRODI. PENDIDIKAN BIOLOGI
UNIVERSITAS KUNINGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Agar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional maka pembelajaran
IPA yang terjadi haruslah mengikuti standard dan prosedur pelaksanaan
pembelajaran. Dimulai dari perencanaan, pelaksanaan pembelajaran sampai pada
evaluasi penbelajaran yang dilakukan.
Dalam Kurikulum pendidikan Indonesia, pendidikan IPA menekankan
pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar
peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan
IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta
didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri
dan alam sekitar.
Pada bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk
memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi
keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan
secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan
keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan
data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali
dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau
memecahkan masalah sehari-hari.
Untuk mencapai hasil yang maksimal sehingga tercapainya tujuan
maka evaluasi pembelajaran harus dilakukan secara optimal. Makalah ini
merupakan salah satu upaya untuk tercapainya peningkatan kualitas evaluasi
pembelajaran, dengan pendekatan ketrampilan proses sains untuk meningkatkan
kualitas hasil pembelajaran di kelas
BAB II
PEMBAHASAN
Pembelajaran dengan menekankan kepada belajar proses dilatar
belakangi oleh konsep-konsep belajar menurut teori “Naturalisme-Romantis”
dari teori “Kognitif Gestalt”. Teori Natural-romantis menekankan pada aktivitas
siswa sedangkan kognitif Gestalt menekankan pemahaman dan kesatupaduan yang
menyeluruh (Sagala, 2007: 74).
Dalam
proses
pembelajaran,
siswa
dituntut
untuk
mendapat
pengalaman secara langsung untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan
yang dimilikinya. Menurut Funk (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 139),
‘menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu pengetahuan, membuat
siswa belajar proses dan produk ilmu pengetahun sekaligus’.
Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif
atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat
karena dengan melakukan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya.
Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena pada saat
pembelajaran mungkin mereka melibatkan penggunaan alat dan bahan,
pengukuan, penyusunan, atau perakitan alat. Dengan keterampilan sosial
dimaksudkan bahwa mereka berinteaksi dengan sesamanya dalam melakukan
kegiatan belajar mengajar, misalnya mendiskusikan hasil pengamatan (Rustaman,
2005 : 78).
Dengan menggunakan keterampilan proses dalam pembelajaran maka
akan terjadi interaksi antara konsep/prinsip/teori yang telah ditemukan. Dengan
adanya interakasi tersebut, akan timbul sikap dan nilai yang diperlukan dalam
penemuan ilmu pengetahuan. Nilai ini meliputi: teliti, kreatif, tekun, tenggang
rasa, tanggung jawab, kritis, obyektif, rajin, jujur, terbuka, dan berdisiplin
(Indawati, 1999: 3-4)
Menurut Rustaman (2005), keterampilan proses perlu dikembangkan
melalui pengalaman-pengalaman langsung sebagai pengalaman pembelajaran.
Melalui pengalaman langsung seseorang dapat lebih menghayati proses
A. Pengertian Ketrampilan Proses Sains
Keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah
yang terarah (baik kognitif maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk
menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan
konsep yang telah ada sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan
terhadap suatu penemuan (falsifikasi) (Indrawati, 1999: 3)
Menurut Anitah (2007) Keterampilan proses sains merupakan
keterampilan-keterampilan
yang
dimiliki
oleh
para
ilmuwan
untuk
memperoleh dan mengembangkan produk sains.
B. Jenis Ketrampilan Proses Sains
Menurut Rustaman (2005:76), ketrampilan proses terdiri atas
sejumlah ketrampilan yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan, namun ada
penekanan khusus dalam masing-masing keterampilan tersebut. Ketrampilan
proses
tersebut
mengelompokan
adalah
ketrampilan
(klasifikasi,
untuk
menafsirkan,
melakukan
pengamatan,
meramalakan,
mengajukan
pertanyaan, berhipotesis, merencanakan percobaan atau penyelidikan,
menggunakan alat, menerapkan konsep/prinsip dan berkomunikasi.
Ketrampilan-ketrampilan proses tersebut dapat dituangkan atau
dijabarkan menjadi beberapa indikator,:
No. Ketrampilan Proses
Indikator
- Menggunakan sebanyak mungkin alat indera
1
Mengamati
- Mengumpulkan/menggunakan fakta yang
relevan
2
Mengelompokkan/
- Mencatat setiap pengamatan secara terpisah
Klasifikasi
- Mencari perbedaan, persamaan
- Mengontraskan ciri-ciri
- Membandingkan
- Mencari dasar pengelompokkan atau
penggolongan
3
Menafsirkan
- Menghubungkan hasil-hasil pengamatan
- Menemukan pola dalam suatu seri
pengamatan
- Menyimpulkan
- Menggunakan pola- pola hasil pengamatan
4
Meramalkan
- Mengungkapkan apa yang mungkin terjadi
pada keadaan yang belum diamati
5
Mengajukan
Pertanyaan
- Bertanya apa, mengapa, dan bagaimana.
- Bertanya untuk meminta penjelasan.
- Mengajukan pertanyaa yang berlatar
belakang hipotesis.
6
Merumuskan
hipotesis
- Mengetahui bahwa ada lebih dari satu
kemungkinan penjelasan dari suatu kejadian.
- Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu
diuji kebenarannya dengan memperoleh
bukti lebih banyak atau melakukan cara
memecahkan masalah
7
Merencanakan
Percobaan
- M enent kan alat/bahan/sumber yang akan
digunakan
- Mentukan variabel/ faktor penentu.
- Menetukan apa yang akan diukur, diamati,
dicatat.
-
Menentukan apa yang akan dilaksanakan
berupa langkah kerja
8
Menggunakan alat/
bahan
- Memakai alat/bahan
- Mengetahui alasan mengapa menggunakan
alat/bahan.
- Mengetahui bagaimana menggunakan alat/
bahan.
- Menggunakan konsep yang telah dipelajari
9
Menerapkan konsep
dalam situasi baru
- Menggunakan konsep pada pengalaman
baru untuk menjelaskan apa yang sedang
terjadi
- Mengubah bentuk penyajian
10
Berkomunikasi
- Menggambarkan data empiris hasil
percobaan atau pengamatan dengan grafik
atau tabel atau diagram
- Menyusun dan menyampaikan laporan
secara sistematis
- Menjelaskan hasil percobaan atau penelitian
- Membaca grafik atau tabel atau diagram.
- Mendiskusikan hasil kegiatan mengenai
suatu masalah atau suatu peristiwa.
Dari Jenis-jenis keterampilan proses sains diatas dapat dideskripsikan
sebagai berikut:
1. Mengamati
Mengamati adalah proses pengumpulan data tentang fenomena atau
peristiwa dengan menggunakan inderanya.
Untuk dapat
menguasai
keterampilan mengamati, siswa harus menggunakan sebanyak mungkin
inderanya, yakni melihat, mendengar, merasakan, mencium dan mencicipi.
Dengan demikian dapat mengumpulkan fakta- fakta yang relevan dan
memadai.
Ketrampilan mengamati memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif. Akan
bersifat kualitatif apabila proses pengamatanya hanya menggunakan
pancaindara untuk memperoleh informasi dan akan bersifat kualitatif apabila
tidak hanya menggunakan pancaindra saja tetapi menggunakan perangkat lain
yang memberikan informasi yang khusus dan tepat.
2. Mengelompokan
Mengelompokkan adalah suatu sistematika yang digunakan untuk
menggolongkan sesuatu berdasarkan
syarat-syarat
tertentu.
Proses
mengklasifikasikan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari kesamaan,
mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, membandingkan, dan mencari
dasar penggolongan.
3. Menafsirkan
Menafsirkan hasil pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari
data yang dicatatnya. Susiwi (2009) berpendapat bahwa hasil-hasil
pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu, dari
mengamati langsung, lalu mencatat setiap
pengamatan secara terpisah,
kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Selanjutnya
siswa mencoba menemukan pola dalam suatu seri pengamatan, dan akhirnya
membuat kesimpulan. Contohnya, perubahan gambar ke dalam penafsiran
berbentuk konteks kata atau kalimat. Kata kerja operasional yang
menunjukan proses penafsiran adalah menerjemahkan, menguraikan dengan
kata-kata sendiri, menggambarkan dan membuktikan.
4. Meramalkan
Meramalkan adalah memperkirakan berdasarkan pada data hasil
pengamatan yang reliabel (Firman, 2000). Apabila siswa dapat menggunakan
pola-pola hasil pengamatannya untuk mengemukakan apa yang mungkin
terjadi pada keadaan yang belum diamatinya, maka siswa tersebut telah
mempunyai kemampuan proses meramalkan
5. Mengajukan pertanyaan
Bertanya
adalah
ketrampilan
proses
yang
perlu
dilatihkan.
Keterampilan proses mengajukan pertanyaan dapat diperoleh siswa dengan
mengajukan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, pertanyaan untuk meminta
penjelasan atau pertanyaan yang berlatar belakang hipotesis.
6. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan
suatu kejadian atau pengamatan tertentu, sehingga mampu menyatakan
dugaan yang dianggap benar.
7. Merencanakan Percobaan
Agar siswa dapat memiliki keterampilan merencanakan percobaan
maka siswa tersebut harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam percobaan. Selanjutnya, siswa harus dapat menentukan
variabel-variabel, menentukan variabel yang harus dibuat tetap, dan variabel
mana yang berubah. Demikian pula siswa perlu untuk menentukan apa yang
akan diamati, diukur, atau ditulis, menentukan cara dan langkah-langkah
kerja. Selanjutnya siswa dapat pula menentukan bagaimana mengolah
hasil-hasil pengamatan.
8. Menggunakan alat/ bahan
Untuk dapat memiliki keterampilan menggunakan alat dan bahan,
dengan sendirinya siswa harus menggunakan secara langsung alat dan bahan
agar dapat memperoleh pengalaman langsung. Selain itu, siswa harus
mengetahui mengapa dan bagaimana cara menggunakan alat dan bahan
9. Menerapkan Konsep
Keterampilan menerapkan konsep dikuasai siswa apabila siswa dapat
menggunakan konsep yang telah dipelajarinya dalam situasi baru atau
menerapkan
konsep
itu
pada
pengalaman-pengalaman
baru
untuk
menjelaskan apa yang sedang terjadi.
10. Berkomunikasi
Keterampilan ini meliputi keterampilan membaca grafik, tabel, atau
diagram dari hasil percobaan. Menggambarkan data empiris dengan grafik,
tabel, atau diagram juga termasuk berkomunikasi. Menurut Firman (2000),
keterampilan berkomunikasi adalah keterampilan menyampaikan gagasan
atau hasil penemuannya kepada orang lain.
C. Evaluasi Ketrampilan Proses Sains
Menurut Onwu dalam Monica (2005) mengemukakan bahwa metode
tradisional dalam menilai ketrampilan proses adalah hanya dengan cara kerja
praktikum, terutama dalam konteks belajar dan pembelajaran sains pada skala
kelas besar. Prosedur kegiatan praktikum (Hand-on activity) merupakan cara
yang tept dalam menilai ketrampilan proses. Akan tetapi jika dalam skala
kelas besar hal tersebut akan menjadi kendala. Cara lain untuk menilai
ketrampilan proses yaitu dengan menggunakan format tes tertulis yang tidak
membutuhkan biaya yang banyak sehingga dapat mengukur kemampuan
siswa dalam menciptakan arti dan susunan dari pengalaman dan informasi
baru.
Adapun butir soal tes ketrampilan proses berbeda dari pokok uji
penguasaan konsep. Pokok uji ketramplan proses memiliki beberapa
karakteristik, diantaranya adalah:
Pokok uji ketrampilan proses tidak boleh dibebani konsep (non
concept burdan). Hal ini dimaksudkan agar pokok uji tersebut tidak rancu
dengan pengukuran penguasaan konsepnya. Konsep dijadikan konteks.
Konsep yang terlibat harus diyakini oleh penyusunan pokok uji sudah
dipelajari siswa atau sudah tidak asing lagi bagi siswa (kontekstual)
Pokok Uji ketrampilan proses mengandung sejumlah informasi yang
harus diolah oleh responden atau siswa. Informasi dalam pokok uji
ketrampilan proses dapat berupa gambar, diagram, grafik data dalam tabel
atau uraian obyek lainya.
Seperti pada pokok uji pada umumnya, aspek yang akan diukur oleh
pokok uji ketrampilan proses harus jelas dan hanya mengandung satu aspek.
Misalnya aspek interpretasi.
Selain itu, ada beberapa kaidah yang khas dalam penyusunan pokok
uji ketrampilan proses untuk tiap jenis ketrampilan proses. Berikut kaidah
khas dalam penyusunan pokok uji ketrampilan proses untuk tiap jenis
ketrampilan proses menurut Rustaman (2005).
Jenis Ketrampilan proses
Kaidah
Mengamati
Harus
dari
sesungguhnya
obyek
atau
peristiwa
Menafsirkan
Harus menyajikan sejumlah data untuk
menunjukan pola
Menerapkan konsep
Harus memuat konsep/prinsip yang akan
diterapkan
tanpa
menyebutkan
nama
konsepnya
Meramalkan
Harus jelas pola/kecenderungan untuk
dapat mengajukan ramalan/ dugaan
Merencanakan percobaan
Harus
memberi
kesempatan
untuk
mengajukan atau mengusulkan gagasan
berkenaan dengan alat/bahan yang akan
digunakan, urutan prosedur yang harus
ditempuh, menentukan peubah (variabel),
mengendalikan peubah
Mengkomunikasikan
Harus ada bentuk penyajian tertentu untuk
diubah ke penyajian lainya. Misalnya,
bentuk uraian ke bentuk bagan atau
bentuk tabel ke bentuk grafik.
Adapun untuk pemberian skor pada pokok uji ketrampilan proses
adalah sama dengan uji pokok pada umumnya. Pokok uji ketrampilan proses
perlu diberi skor dengan cara tertentu. Cara pemberian skor pada pokok uji
ketrampilan proses ini menggunakan skema penskoran (Scoring scheme)
yang berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Temiz et.al (2006).
Jawaban dari pengamatan siswa diberi kode (2), (1), atau (0) berdasarkan
kelengkapan dari jawaban yang diharapkan. Kode (2) dinotasikan jika
jawaban lengkap. Kode (1) jika hanya sebagian jawaban yang sesuai. Dan
kode (0) dinotasikan jika tidak ada jawaban, tidak sukses dijawab atau
jawaban salah. Jawaban yang diharapkan akan dikaitkan dengan setiap
pertanyaan dalam tes.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah, Sri, dkk. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta. Universitas
Terbuka
Dimyati dan Mujiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta
Indrawati. (1999) Model-Model Pembelajaran IPA. Bandung. Depdikbud Ditjen
Dikmen PPPG IPA
Sagala, S. (2006) Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Alfabeta
Rustaman, N.Y. (2005). Strategi Belajar Mengajar Biologi. Malang. Universitas
Negeri Malang (UM Press)
Download