Uploaded by amatide8

KEPEMILIKAN DAN KERAHASIAAN DRM

advertisement
TUGAS MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN III
KEPEMILIKAN DAN KERAHASIAN DOKUMEN REKAM MEDIS
Dosen Pengampu : Kasimin, SH, M.Kes
Disusun Oleh :
EDITAMA MUFTI ISLAHUDDIN
NIM : P1337437118045
PRODI DIII REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
JURUSAN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rekam medis adalah catatan tentang siapa, apa, dimana, dan bagaimana perawatan
pasien selama di rumah sakit (Rustiyanto, 2009). Salah satu aspek kegunaan rekam medis
yaitu aspek dokumentasi yaitu rekam medis mengandung informasi penting yang
bermanfaat untuk berbagai pihak. Rekam medis berisi data mengenai kesehatan masa lalu
dan masa kini dan berisi catatan profesional kesehatan mengenai keadaan pasien saat ini
dalam bentuk penemuan fisik, hasil prosedur diagnosa dan terapi serta respon pasien
(Huffman, 1994).
Penyelenggaraan rekam medis saat ini masih belum sempurna, rekam medis masih
dianggap tidak terlalu penting oleh sebagian pelayanan kesehatan padahal kualitas rekam
medis merupakan cerminan dari baik atau buruknya pelayanan kesehatan. Rekam medis
merupakan salah satu data yang dapat digunakan dalam pembuktian kasus malpraktek di
pengadilan. Rekam medis juga sebagai salah satu dokumentasi keadaan pasien dan isi
rekam medis merupakan rahasia kedokteran yang harus dijaga kerahasiannya oleh setiap
tenaga kesehatan (Hatta, 2010).
Pembuatan rekam medis bertujuan untuk mendapatkan data dari pasien mengenai
riwayat kesehatan, riwayat penyakit dimasa lalu dan sekarang selain itu juga pengobatan
yang telah diberikan kepada pasien sebagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan.
Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan, dan riwayat
pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan
tertentu, petugas pengelola, dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Pimpinan sarana
kesehatan bertanggung jawab atas hilang, rusak, pemalsuan dan atau penggunaan oleh
orang atau badan yang tidak berhak terhadap rekam medis (Hatta, 2010).
Berdasarkan Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang rekam medis, pasal
10 ayat (1) bahwa informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat
pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter,
dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan
kesehatan.
Dokumen rekam medis milik dokter, dokter gigi dan sarana pelayanan kesehatan,
sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. Yang dapat diberikan, dicatat atau di
gandakan pasien adalah ringkasan rekam medis. Pasien berhak mengetahui isi rekam medis
akan tetapi berkas keseluruhan rekam medis hanya dapat dipegang oleh petugas kesehatan /
rekam medis yang berwenang dan tidak dapat meninggalkan lokasi fasilitas kesehatan. Hal
ini bertujuan untuk menjaga kerahasiaan medis (sebab informasi medis dapat
disalahgunakan) serta mencegah rekam medis hilang atau rusak.
Informasi di dalam rekam medis bersifat rahasia, hanya diketahui dokter dan pasien.
Dalam kondisi tertentu informasi dalam rekam medis dapat diungkapkan, antara lain :
permintaan dan atau persetujuan pasien sendiri; memenuhi permintaan penegak hukum atas
perintah pengadilan; permintaan institusi/lembaga berdasarkan perundang-undangan; untuk
kepentingan penelitian, pendidikan dan audit medis, sepanjang tidak menyebutkan identitas
pasien.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Siapa pemilik dari dokumen rekam medis?
2. Bagaimana kerahasiaan dokumen rekam medis?
C. TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas kuliah yang diberikan oleh
dosen Manajemen Informasi Kesehatan III, sehingga penulis dan pembaca dapat
mengetahui segala hal mengenai kepemilikan dan kerahasiaan dokumen rekam medis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. REKAM MEDIS
1. Definisi Rekam Medis/Medical Record
Dalam Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008 yang dimaksud rekam medis
adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil
pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang
telah diberikan kepada pasien.
Menurut Depkes RI (1994) pengertian rekam medis sebagai suatu sistem
penyelenggaraan rekam medis adalah merupakan proses kegiatan yang dimulai pada saat
diterimanya pasien di rumah sakit, diteruskan kegiatan pencatatan data medis pasien
selama pasien itu mendapatkan pelayanan medik di rumah sakit, dan dilanjutkan dengan
penanganan berkas rekam medis yang meliputi penyelenggaraan penyimpanan serta
pengeluaran berkas dari tempat penyimpanan untuk melayani permintaan atau
peminjaman dari pasien atau untuk keperluan lainnya.
Catatan merupakan tulisan-tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi
mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka pelayanan
kesehatan. Sedangkan dokumen adalah catatan dokter, dokter gigi, dan/atau tenaga
kesehatan tertentu, laporan hasil pemeriksaan penunjang, catatan observasi dan
pengobatan harian dan semua rekaman, baik berupa foto radiologi, gambar pencitraan
(imaging) dan rekaman elektro diganostik.
Rekam medis harus dibuat secara tertulis, lengkap, dan jelas dan dalam bentuk
teknologi informasi elektronik yang diatur lebih lanjut dengan peraturan tersendiri.
Rekam medis terdiri dari catatan-catatan data pasien yang dilakukan dalam pelayanan
kesehatan. Catatan-catatan tersebut sangat penting dalam pelayanan bagi pasien karena
dengan data yang lengkap dapat memberikan informasi dalam menentukan keputusan,
baik pengobatan, penanganan, tindakan medis sesuai peraturan yang berlaku.
2. Isi Rekam Medis/Medical Record
Data-data yang harus dimasukkan dalam rekam medis dibedakan untuk pasien
yang diperiksa di unit jalan, rawat inap, dan gawat darurat dapat membuat rekam medis
dengan data-data sebagai berikut:
1. Rekam medis pasien rawat jalan
Data pasien rawat jalan yang dimasukkan dalam rekam medis sekurangkurangnya antara lain:
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit)
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis
e. Diagnosis
f. Rencana penatalaksanaan/TP (treatment planning)
g. Pengobatan dan/atau tindakan
h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
i. Untuk pasien kasus gigi lengkap dengan odontogram klinik
j. Persetujuan tindakan bila perlu.
2. Rekam medis pasien rawat inap
Data pasien rawat inap yang dimasukkan dalam rekam medis sekurangkurangnya antara lain:
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit)
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis
e. Diagnosis
f. Rencana penatalaksanaan/TP (treatment planning)
g. Pengobatan dan/atau tindakan
h. Persetujuan tindakan bila perlu
i. Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan
3. Rekam medis pasien gawat darurat
Data untuk pasien gawat darurat yang harus dimasukkan dalam medical record
sekurang-kurangnya antara lain:
a. Identitas pasien
b. Kondisi saat pasien tiba disarana pelayanan kesehatan
c. Identitas pengantar pasien
d. Tanggal dan waktu
e. Hasil anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit)
f. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis
g. Diagnosis
h. Pengobatan dan/atau tindakan
i. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat
darurat dan rencana tindak lanjut
j. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu
yang memberikan pelayanan kesehatan
k. Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan dipindahkan
ke sarana pelayanan kesehatan lain
l. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Khusus isi rekam medis pasien akibat bencana maka ditambahkan:
a. Jenis bencana dan lokasi dimana pasien ditemukan
b. Kategori kegawatan dan nomor pasien bencana massal
c. Identitas orang yang menemukan pasien
Sedangkan rekam medis untuk pelayanan dokter spesialis dan dokter gigi
spesialis dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Rekam medis yang dibuat pelayanan di
ambulance atau rekam medis disimpan di sarana kesehatan. Rekam medis harus segera
dibuat dan dilengkapi oleh dokter dan dokter gigi setelah memberikan pelayanan.
Ringkasan pulang (discharge summary) atau resume medis harus dibuat oleh dokter atau
dokter gigi yang melakukan perawatan pasien. Isi ringkasan pulang sekurang-kurangnya
memuat:
1. Identitas pasien
2. Diagnosis masuk dan indikasi pasien dirawat
3. Ringkasan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis akhir, pengobatan
dan tindak lanjut
4. Nama dan tanda tangan dokter atau dokter gigi yang memberikan pelayanan
kesehatan.
B. KEPEMILIKAN DOKUMEN REKAM MEDIS
Penentuan pemilikan rekam medis menurut Permenkes 749a/Menkes/PER/XIII/1989
“Pemilik berkas rekam medis adalah sarana pelayanan kesehatan dimana pasien mendapat
pelayanan kesehatan, sedangkan pemilik isi dari kandungan rekam medis adalah pihak
pasien”. Artinya, kepemilikan informasi kesehatan dalam bentuk fisik sebagai medium
dipegang oleh rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan, atau dokter yang menyimpan
rekam medis pasien tersebut, termasuk hasil foto roentgen, hasil laboratorium, hasil
konsultasi, dan dokumen lain yang berkaitan dengan perawatan langsung terhadap pasien.
Akan tetapi tidak berarti bahwa pasien atau pihak lain yang berwenang tidak memiliki hak
hukum untuk mengakses informasi kesehatan tersebut.
Di Indonesia, baik pasal 47 ayat (1) UU Praktek Kedokteran maupaun Permenkes
269/2008 menyatakan bahwa “Berkas rekam medis adalah milik sarana kesehatan
sedangkan isi rekam medis milik pasien”.
Pasal 52 UU Praktik Kedokteran bahkan menyatakan bahwa “Memperoleh isi rekam
medis adalah salah satu hak pasien”.
Namun demikian tidak ada peraturan yang
menjelaskan bagaimana atau tata cara penyerahan isi rekam medis tersebut kepada pasien.
Isi rekam medis menunjukkan pula baik buruknya upaya penyembuhan yang dilakukan
instansi pelayanan kesehatan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan para petugas pelayanan
kesehatan kepada pasien :
a. Tidak diperkenankan membawa berkas rekam medis keluar dari instansi pelayanan
kesehatan. Kecuali atas izin pimpinan dan dengan sepengetahuan kepala unit rekam
medis yang peraturannya digariskan oleh rumah sakit.
b. Petugas unit rekam medis bertanggung jawab penuh terhadap kelengkapan dan
penyakit berkas yang sewaktu-waktu dapat dibutuhkan oleh pasien.
c. Petugas harus betul-betul menjaga agar berkas tersimpan dan tertata dengan baik dan
terlindung dari kemungkinan pencurian berkas dan kebocoran isi berkas rekam
medis.
d. Itulah sebabnya maka petugas rekam medis harus menghayati sebagai peraturan
mengenai prosedur penyelesaian pengisian berkas bagi para aparat pelayanan
kesehatan maupun tata cara pengelolaan berkas demi menjaga agar berkas rekam
medis dapat diberikan perlindungan huykum bagi rumah sakit, petugas pelayanan
kesehatan maupun pasien.
C. KERAHASIAAN DOKUMEN REKAM MEDIS
Secara umum telah di sadari bahwa informasi yang didapat dari rekam medis sifatnya
rahasia. Tetapi kalau di analisa, konsep kerahasiaan ini akan ditemui banyak pengecualian.
Yang menjadi masalah disini ialah : bagi siapa rekam medis itu dirahasiaan, dan dalam
keadaan bagaimana rekam medis dirahasiakan. Informasi di dalam rekam medis bersifat
rahasia karena hal ini menjelaskan hubungan yang khusus antara pasien dan dokter yang
wajib dilindungi dari pembocoran sesuai dengan kode etik kedokteran dan peraturan
perundang – undangan yang berlaku.
Pada dasarnya informasi yang bersumber dari rekam medis ada dua kategori :
a. Informasi yang mengandung nilai kerahasiaan
Yaitu laporan atau catatan yang terdapat dalam berkas rekam medis sebagai hasil
pemeriksaan, pengobatan, observasi atau wawancara pada pasien. Informasi ini tidak
boleh disebarluawaskan kepada pihak - pihak yang tidak berwenang. Karena
menyangkut individu langsung si pasien. Walaupun begitu perlu diketahui bahwa
pemberitahuan keaadaan sakit si pasien kepada pasien maupun kepada keluarganya
oleh orang rumah sakit selain dokter yang merawat sama sekali tidak diperkenankan.
Pemberitahuan tentang kepenyakitan kepada pasien atau keluarga menjadi tanggung
jawab dokter, pasien pihak lain tidak memiliki hak sama sekali.
b. Informasi yang tidak mengandung nilai kerahasiaan
Jenis informasi yang dimaksud disini adalah perihal identitas (nama, alamat dan
lain lain) serta informasi lain yang tidak mengandung nilai medis lazimnya informasi
jenis ini terdapat dalam lembaran paling depan berkas rekam medis rawat jalan
maupun rawat inap (ringkasan riwayat klinik ataupun ringkasan masuk keluar)
namun sekali lagi perlu diingat bahwa karena diagnosis pasien mengandung nilai
medis maka lembaran tersebut teteap tidak boleh disiarkan kepada pihak pihak yang
tidak berwenang. Walaupun begitu petugas tenaga bantuan, perawat, petugas rekam
medis maupun petugas rumah sakit lainnya harus berhati hati bahwa ada kalanya
identitas pasien pun dianggap perlu disembunyikan dari pemberitaan. Misalnya
apabila pasien tersebut adalah seorang tanggungan polisi (buronan) hal ini semata
mata dilakukan demi ketenangan si pasien dan demi tertibnya security rumah sakit
dari pihak pihak yang mungkin bermaksud mengganngu. Oleh karena itu dimanapun
petugas itu berdinas itu tetap harus memiliki kewaspadaan yang tinggi agar terhindar
dari kemungkinan tuntutan pengadilan.
Sumber hukum bisa dijadikan acuan didalam masalah kerahasiaan suatu informasi yang
menyangkut rekam medis pasien dapat dilihat pada peraturan pemerintah No 10 Tahun
1966 yaitu mengenai “Wajib Simpan Rahasia Dokter”. Dengan adanya Peraturan
Pemerintah itu maka siapapun yang bekerja dirumah sakit khususnya bagi mereka yang
berhubungan dengan data rekam medis wajib memperhatikan ketentuan tersebut.
Pasal 1 : yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui
oleh orang orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaanya
dalam lapangan kedokteran
Pasal 3 : yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah :
1) Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang kesehatan (lembaran negara tahun
1963 No 78)
2) Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan.
Sifat kerahasian rekam medis
Dalam SK No.749a tersebut diatas dijelaskan secara tegas dalam bab III pasal II bahwa :
Rekam Medis merupakan berkas yang wajib dijaga kerahasiaannya
Sedangkan dalam bab III pasal 12 dijelaskan :
1) Pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat pasien
dengan ijin tertulis pasien.
2) Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat memaparkan isi rekam medis tanpa seizin
pasien berdasarkan peraturan peraturan perundang undangan.
Petugas rekam medis dalam menjalankan tugasnya terhadap pembukaan informasi medis
pasien yaitu melaksanakannya dengan teliti dan hati hati.
Ketelitian dan sifat hati hati ini membuat petugas medis untuk memperhatikan :
1) Memastikan secara pasti informasi apa yang kiranya dapat memenuhi kebutuhan si
penanya serta hanya informasi itu yang hanya dikirimkan.
2) Bila ada pertanyaan tentang kebenaran atau setidaknya tanda tangan pada surat kuasa
pasien disurat izin lakukan pengecekan dengan tanda tangan lain pada saat pasien
dirawat dan surat izin lainnya yang ada pada RM.
3) Bila tidak ada tanda tangan sebagai pembanding dan ada keraguan tentang sah
tidaknya tanda tangan itu maka orang itu harus mengesahkan tanda tangannya
dinotaris terlebih dahulu. Demikian pula bila terjadi perubahan tanda tangan dan masa
gadis kemasa nikah. Nona menjadi Ny.
4) Resume pasien cukup digunakan sebagai penjelas informasi yang diinginkan. Kecuali
bila telah ditentukan lebih dari pada itu ( semisal seluruh berkas).
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pemilik berkas rekam medis adalah sarana pelayanan kesehatan dimana pasien mendapat
pelayanan kesehatan, sedangkan pemilik isi dari kandungan rekam medis adalah pihak
pasien. Kerahasiaan berkas rekam medis hanya boleh diketahui pihak rumah sakit terutama
bagian perekam medisnya serta pihak keluarga yang akan melakukan tindakan medis, rekam
medis sendiri hanya boleh diakses oleh pihak pengadilan atau hukum yang dapat digunakan
untuk kepentingan penyelidikan dan berkas rekam medis sudah mendapatkan paying hukum
tersendiri bila disalahgunakan.
B. SARAN
Setiap isi dan ketentuan berkas rekam medis harus benar – benar dipahami oleh pihak
keluarga agar tidak terjadi kekeliruan atau disalah gunakan, dan ketika melakukan akan
melakukan penyelidikan (visum) harus mempunyai berkas rekam medis yang benar – benar
sesuai isinya untuk dijadikan bukti. Pihak rumah sakit sendiri harus benar – benar tegas
untuk tidak membocorkan isi berkas rekam medis pasien, karena hanya pihak – pihak
tertentu yang boleh mengetahuinya.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 1997. Pedoman Pengolahan Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia
Sudra,RI.2013. Rekam Medis. Tangerang Selatan : Graha Ilmu
Peratutan Menteri Kesehatan RI Nomor : 269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis
Download