Uploaded by User43218

Konsep Mayoritas Ahlussunnah wal Jamaah

advertisement
IDIK SAEFUL BAHRI, S.H., M.H.
KONSEP MAYORITAS
AHLUSSUNNAH WAL
JAMAAH
Diterbitkan secara mandiri
melalui Bahasa Rakyat
KONSEP MAYORITAS AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH
Oleh: Idik Saeful Bahri, S.H., M.H.
Copyright © 2020 by Idik Saeful Bahri
Penerbit
Bahasa Rakyat
Email : [email protected]
Desain Sampul:
Idik Saeful Bahri
Diterbitkan melalui:
Bahasa Rakyat
2
KATA PENGANTAR
Isu tentang Ahlussunnah wal Jamaah selalu muncul setiap
tahun. Setiap madzhab, aliran, bahkkan organisasi Islam selalu
mengklaim bahwa dirinya lah yang paling Ahlussunnah.
Perdebatan-perdebatan sudah sangat sering terjadi. Namun pada
akhirnya, perdebatan itu tidak melahirkan kesimpulan yang
konkret tentang apa itu Ahlussunnah wal Jamaah.
Rasa penasaran umat Islam tentang konsep Ahlussunnah wal
Jamaah sedikit banyak terobati dengan adanya Muktamar
Ahlussunnah wal Jamaah di Grozny pada tahun 2016,
mengambil tema kajian “man hum ahlussunnah wal jamaah”
yang berarti “siapa sesungguhnya ahlussunnah wal jamaah”.
Muktamar tersebut, selain memperkuat keyakinan bagi
golongan Asy’ari Maturidi, namun juga ditentang oleh sebagian
kecil pihak lainnya. Mereka yang tidak diajak dalam muktamarseperti Saudi, menolak keras konsep Ahlussunnah wal Jamaah
dalam muktamar itu.
Namun lepas dari pada itu, konsep Ahlussunnah wal Jamaah
yang digagas dalam muktamar di Grozny sesungguhnya
merupakan konsep lama yang telah disepakati oleh jumhur
ulama. Bahkan dalam Anggaran Dasar (Qanun Asasi) Nahdlatul
Ulama, dalam pengajaran di kampus besar seperti al-Azhar,
serta diajarkan di banyak negara-negara mayoritas Islam,
konsep itu telah diadopsi.
Buku ini tentu memperkuat hasil dari muktamar Ahlussunnah
wal Jamaah di Grozny serta menguraikannya menjadi lebih
komprehensif.
3
DAFTAR ISI
Kata Pengantar 3
Daftar Isi 4
Pasal 1. Mengenal Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah 7
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Berita Perpecahan Umat Islam 7
Golongan yang Selamat 11
Definisi Ahlussunnah wal Jamaah 14
Sejarah Perpecahan Umat Islam 24
Ciri dan Sifat Ahlussunnah wal Jamaah 34
Penisbatan Ahlussunnah wal Jamaah 42
Pasal 2. Tauhid Menurut Ahlussunnah wal Jamaah 51
A.
B.
C.
D.
Pentingnya Teologi 51
Penggunaan Dalil 57
Madzhab Mayoritas Teologi 61
Rukun Iman 62
Pasal 3. Tentang al-Asy’ari dan al-Maturidi 65
A. Mengenal Imam Asy’ari 68
B. Mengenal Imam Maturidi 77
C. Pentingnya Bermadzhab 84
Pasal 4. Belajar Islam, Iman, dan Ihsan 100
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Pentingnya Agama 100
Islam Agama yang Hak 102
Trilogi Agama 103
Memahami Islam 104
Memahami Iman 106
Memahami Ihsan 108
Pasal 5. Mengenal Allah Azza wa Jalla 111
A. Allah Tuhan yang Hak 114
4
B.
C.
D.
E.
F.
Asmaul Husna 116
Sifat-Sifat Allah 117
Allah Ada Tanpa Dimensi 122
Allah Berbeda dengan Makhluk 129
Allah Maha Perkasa 130
Pasal 6. Mendalami Para Malaikat 132
A.
B.
C.
D.
E.
Definisi Malaikat 133
Jumlah Malaikat 135
Malaikat yang Wajib Diketahui 136
Mengenal Malaikat Lain 141
Hakikat Beriman Kepada Malaikat 148
Pasal 7. Membaca Kitab-Kitab Allah 150
A.
B.
C.
D.
Pengertian Kitabullah 152
Jumlah Kitabllah 153
Definisi Suhuf 158
Perbedaan Kitab dan Suhuf 160
Pasal 8. Mengimani Para Nabi dan Rasul 161
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Definisi Nabi dan Rasul 163
Perbedaan Nabi dan Rasul 163
Jumlah Nabi dan Rasul 165
Nabi dan Rasul yang Wajib Diketahui 166
Gelar Ulul Azmi 180
Sifat-Sifat Nabi dan Rasul 181
Pasal 9. Mempercayai Kedatangan Hari Kiamat 185
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
Definisi Hari Kiamat 186
Dasar Hukum Kepastian Kiamat 187
Pengetahuan Allah 188
Pembagian Kiamat 189
Tanda-Tanda Kiamat Kubra 191
Setelah Kiamat 200
Hikmah Beriman kepada Hari Kiamat 201
5
Pasal 10. Memaknai Qadla dan Qaqar 202
A. Definisi Qadla dan Qadar 204
B. Macam-Macam Takdir 205
C. Kelompok dalam Islam 209
Pasal 11. Al-Qur’an Sebagai Sumber Utama 216
A.
B.
C.
D.
Al-Qur’an Masih Asli 220
Al-Qur’an Bukan Makhluk 221
Kandungan Al-Qur’an 224
Jumlah Ayat Al-Qur’an 225
Pasal 12. As-Sunnah Sebagai Sumber Kedua 227
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
Pembagian Sunnah 228
Memahami Hadits Nabi 230
Rujukan Imam Ahlussunnah 231
Hadits dilihat dari Perawi 233
Hadits dilihat dari Sanad 234
Istilah Populer Hadits 235
Kitab Populer 237
Pasal 13. Ijtihad Ulama (Ijma’ dan Qiyash) 238
A.
B.
C.
D.
E.
Definisi Ulama 239
Bentuk Ijtihad Ulama 241
Syarat Ijtihad 243
Mengenal Ijma’ Ulama 245
Mengenal Qiyash 250
Daftar Pustaka 258
Tentang Penulis 260
6
Pasal 1
Mengenal Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah
A. Berita Perpecahan Umat Islam
Nabi Muhammad:1
‫فانه من يعش منكم من بعدى فسيرى اختالفا كثيرا فعليكم بسنتى وسنة‬
‫الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ‬
Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama)
diantaramu niscaya akan melihat perselisihan
(paham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah
Sunnahku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi
hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan
gerahammu. (HR. Imam Abu Daud)
Nabi Muhammad:2
‫عن ابى هريرة ان رسول هللا صلى هللا عليه وسلم قال تفرقت اليهود‬
‫على احدى وسبعين فرقة والنصارى مثل ذلك وتفترق امتى على ثالث‬
‫وسبعين فرقة‬
1
Lihat Sunan Abu Daud Juz IV, hlm. 201.
2
Lihat Sahih Tirmidzi Juz X, hlm. 109.
7
Dari Abu Hurairah ra beliau berkata bahwa nabi
Muhammad Saw bersabda : telah berfirqah-firqah
orang Yahudi atas 71 firqah dan orang nashara
seperti itu pula, dan akan berfirqqah ummatku atas
73 firqah. (HR. Tirmidzi)
Nabi bersabda:3
‫ان بنى اسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق امتى على‬
‫ ومن هى يا‬: ‫ثالث وسبعين ملة كلهم فى النار اال ملة واحدة قالو‬
‫ ما انا عليه واصحابى‬: ‫رسول هللا ؟ قال‬
Bahwasanya bani israil telah berfirqah-firqah
sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah
umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka
kecuali satu. Sahabat-sahabat yang mendengar
ucapan ini bertanya: siapakah yang satu itu ya
Rasulullah?” nabi menjawab: “Yang satu itu ialah
orang yang berpegang (beri’tiqad) sebagai
peganganku (i’tiqadku) dan pegangan sahabatsahabatku. (HR. Tirmidzi)
Nabi bersabda:4
‫ال تزال طائفة من امتى ظاهرين حتى يأتيهم أمر هللا وهم ظاهرون‬
3
Lihat Sahih Tirmidzi Juz X, hlm. 109.
4
Lihat Fathul Bari Juz XVII, hlm. 56.
8
Akan ada segolongan dari umatku yang tetap atas
kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas
kebenaran itu. (HR. Bukhari)
Menurut Syekh Sayid Abdurrahman bin Muhammad
bin Husein bin Umar, yang memiliki gelar Ba’Alawi,
menyatakan bahwa 72 firqah sesat itu berpokok pada
7 firqah, yaitu:5
1. Kaum Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan
memuja Saidina Ali Karamallahu wajhah.
Mereka tidak mengakui khalifah Abu Bakar,
Umar, dan Utsman radiyallahu’anhum. Kaum
Syi’ah kemudian terpecah menjadi 22 aliran.
2. Kaum Khawarij, yaitu kaum yang berlebihlebihan membenci Saidina Ali, bahkan
diantara mereka ada yang mengkafirkannya.
Firqah ini berfatwa bahwa orang-orang yang
membuat ddosa besar bisa menjadi kafir.
Kaum Khawarij ini kemudan terpecah
menjadi 20 aliran.
3. Kaum Mu’tazilah, yaitu kaum yang berpaham
bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa
manusia membuat pekerjaannya sendiri,
Sayid Abdurrahman, Bugyatul Mustarsyidin, (Kairo: Mathba’ah Amin
Abdul Majid, 138 H.) hlm. 398.
5
9
4.
5.
6.
7.
10
bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata
di dalam Surga, bahwa orang yang
mengerjakan dosa besar diletakkan diantara
dua tempat, dan mi’raj Nabi Muhammad
hanya dengan ruh saja, dan lain-lain. Kaum
Mu’tazilah terpecah menjadi 20 aliran.
Kaum
Murji’ah,
yaitu
kaum
yang
memfatwakan bahwa membuat maksiat
(kedurhakaan) tidak memberi mudharat jika
sudah beriman, sebagaimana jika seseorang
membuat kebaikan tidak akan memberi
manfaat jika dia kafir. Kaum Murji’ah ini
terpecah menjadi 5 aliran.
Kaum Najariyah, yaitu kaum yang
berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah
makhluk, yakni dijadikan oleh Tuhan, tetapi
mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak
ada. Kaum Najariyah pecah menjadi 3 aliran.
Kaum Jabariyah, yaitu kaum yang berfatwa
bahwa manusia majbur, artinya tidak berdaya
apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama
sekali.
Kaum Musyabbihah, yaitu kaum yang
berpendapat bahwa ada keserupaan Tuhan
dengan makhlukNya, seperti bertangan,
berkaki, duduk di Arsy, dan yang lainnya.
Jadi jumlahnya dapat digambarkan sebagai
berikut:
Kaum Syi’ah
= 22 aliran
Kaum Khawarij
= 20 aliran
Kaum Mu’tazilah
= 20 aliran
Kaum Murji’ah
= 5 aliran
Kaum Najariyah
= 3 aliran
Kaum Jabariyah
= 1 aliran
Kaum Musyabbihah = 1 aliran
Jumlah
= 72 aliran
Jika ditambah dengan satu aliran yaitu golongan yang
berpaham Ahlussunnah wal Jamaah, maka menjadi
73 firqah seperti yang diterangkan oleh Nabi
Muhammad dalam hadits yang diriwayatkan oleh
imam Tirmidzi. Begitulah menurut Syekh Sayid
Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar.
B. Golongan yang Selamat
Dari Amir Abdullah bin Luhai, ia berkata, “kami
berangkat haji bersama Muawiyah bin Abi Sufyan.
Ketika sampai di Mekkah, Muawiyah berddiri—saat
11
akan menunaikan shalat dzuhur—dan berkata,
sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda:6
‫ وان هذه‬. ‫ان اهل الكتابين افترقوا فى دينهم غلى ثنتين وسبعين ملة‬
‫االمة ستفترق على ثالث وسبعين ملة – يعنى االهواء – كلها فى النار‬
‫ وانه سيخرج فى امتى افوام تجاري بهم تلك‬. ‫اال واحدة وهى الجماعة‬
‫ ال يبقى منه عرق وال مفصل اال‬. ‫االهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه‬
‫دخله وهللا يا معشر العرب لئن لم تقوموا بما جاء به نبيكم صلى هللا‬
‫عليه وسلم لغيركم من الناس احرى ان ال يقوم به‬
Sesungguhnya pengikut dua kitab (Yahudi dan
nashrani) pecah mengenai agama mereka menjadi
tujuh puluh dua aliran, dan umat (Islam) ini akan
terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran, yakni alahwa (mengikuti hawa nafsu). Semuanya akan masuk
neraka, kecuali satu, yaitu al-Jamaah. Sungguh akan
muncul dikalangan umatku golongan-golongan yang
akan diikuti oleh hawa nafsu seperti anjing kejarkejaran bersama kawanannya. Tidak ada urat dan
persendian yang tak dimasukinya. Demi Allah, wahai
bangsa Arab! Jika kalian tidak menegakkan ajaran
Nabi kalian, maka bangsa lain lebih pantas untuk
tidak menegakkannya. (HR. Ahmad, Abu Daud, alHakim).
Hadits tersebut dishahihkan atau dihasankan oleh al-Hakim, adzDzahabi, dan Ibnu Hajar.
6
12
Dari Muawiyah, ia berkata pernah mendengar
Rasulullah bersabda:
‫ ال يضرهم من خذلهم او خالفهم‬. ‫ال تزال طائفة من امتى قائمة بأمرهللا‬
‫حتى يأتي امرهللا وهم ظاهرون على الناس‬
Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang
menjalankan perintah Allah. Mereka tak peduli akan
orang-orang yang merendahkan dan menentang
mereka, hingga datang keputusan Allah. Dan mereka
lebih unggul dari yang lainnya. (HR. Muslim)
Nabi bersabda:
‫ ويطعى هللا ولن‬. ‫ وإنما أنا قاسم‬. ‫من يردهللا به خيرا يفقهه فى الدين‬
‫ أو حتى يأتي امرهللا‬. ‫يزال أمر هذه االمة مستقيما حتى تقوم الساعة‬
Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, ia
pun akan difakihkan dalam hal agama.
Sesungguhnya aku adalah pembagi, sedangkan Allah
adalah pemberi. Urusan (agama) umat ini akan
senantiasa lurus hingga datangnya hari kiamat atau
datangnya keputusan Allah. (HR. Bukhari)
Nabi bersabda:
‫فمن اراد منكم بحبحة الجنة فليلزم الجماعة‬
13
Maka barang siapa diantara kamu menghendaki
surga, hendaklah ia berkomitmen bersama alJamaah. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Lebih jelas, dari Ibnu Abbas Ra., ia berkata bahwa
Rasulullah saw bersabda:
‫يدهللا مع الجماعة‬
Tangan Allah bersama al-Jamaah. (HR. Tirmidzi
dan Tabrani)
Dari Ibnu Umar Ra., ia berkata bahwa Rasulullah
bersabda:
‫اليجمع هللا هذه االمة – اوقال امتى – على ضال لة‬
Allah tidak menyatukan umat ini—atau umatku—
diatas kesesatan. (HR. Tirmidzi, al-Hakim, dan atThabrani)
C. Definisi Ahlussunnah wal Jamaah
Istilah Ahlussunnah wal Jamaah adalah sebuah istilah
yang sering kita dengar ditengah-tengah masyarakat.
Bahkan istilah ini lebih jauh dikenal oleh hampir
seluruh mayoritas umat Muslim di seluruh penjuru
dunia. Jika pembaca mencoba berkeliling dunia dan
14
bertanya tentang i’tiqad yang dianut kepada setiap
Muslim yang pembaca datangi, maka pasti mayoritas
umat Muslim akan menjawab beri’tiqad Ahlussunnah
wal Jamaah. Namun kadang, kita tidak paham istilah
Ahlussunnah wal Jamaah itu sendiri. Atau mungkin
kita bingung definisi Ahlussunnah wal Jamaah yang
tepat itu seperti apa dan bagaimana wujud nyata
Ahlussunnah wal Jamaah di zaman ini.
Ditengah-tengah banyaknya aliran dan firqah-firqah
yang ada di dalam realitas masyarakat muslim saat
ini, nama Ahlussunnah wal Jamaah seolah-olah
bagaikan magnet untuk dijadikan tameng bagi
perlindungan diri dari ganasnya zaman yang memang
sudah ditakdirkan oleh Tuhan ini. Beraneka macam
aliran muncul, dari yang hanya bid’ah belaka, sesat,
bahkan sampai tingkatan kafir yang jauh dari nilainilai syahadatain. Saling curiga pun muncul antara
satu golongan dengan golongan yang lain, antara satu
aliran dengan aliran yang lain, antara satu sekte
dengan sekte yang lain. Terjadilah antar golongan itu
saling mengkafirkan antara satu dengan yang lainnya.
Untuk mencari aman diantara situasi buruk semacam
itu, tidak sedikit kelompok yang berlindung di bawah
nama Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan mengakui
diri sebagai pengikut ajaran Ahlussunnah wal
Jamaah, kelompoknya tidak dengan mudah di curigai
15
oleh kelompok lain. Nama Ahlussunnah wal Jamaah
memang dianggap sebagai sebuah bahasa universal
dalam dunia Islam, yang dengan nama itu, kita bisa
berjalan dengan leluasa tanpa merasa di buntuti oleh
musuh.
Tapi dengan pengklaiman ajaran Ahlussunnah wal
Jamaah oleh sekian banyak golongan, aliran, maupun
sekte dalam Islam, kini membuat bingung masyarakat
muslim awam pada umumnya, seperti apa ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya.
Golongan Ahlussunnah wal Jamaah ialah golongan
yang menganut i’tiqad sebagaimana dianut oleh nabi
Muhammad saw., dan para sahabat. I’tiqad nabi dan
para sahabat itu telah termaktub dalam al-Qur’an dan
dalam Sunnah Rasul secara terpisah, belum tersusun
secara rapi dan teratur. Kemudian dikumpulkan dan
dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama besar
Ushuluddin, yaitu imam Abu Hasan al-Asy’ari.7
Dalam
kitab
al-Mausu’ah
al-Arabiyah
alMuyassarah,
sebuah
Ensiklopedia
ringkas,
memberikan definisi Ahlussunnah sebagai berikut:8
Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah, (Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004), hlm. 2
7
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 1.
8
16
Ahlussunnah adalah mereka yang mengikuti
dengan konsisten semua jejak langkah yang
berasal dari nabi Muhammad saw., dan
membelanya. Mereka mempunyai pendapat
tentang masalah agama baik yang fundamental
(ushul) maupun divisional (furu’). Diantara
mereka ada yang disebut sebagai Salaf, yakni
generasi awal mulai dari para sahabat, Tabi’in
dan Tabi’ut Tabi’in, dan ada juga yang disebut
Khalaf, yaiitu generasi yang dating kemudian.
Diantara mereka ada yang toleransinya luas
terhadap peran akal, dan ada pula yang
membatasi peran akal secara ketat. Diantara
mereka juga ada yang bersifat reformatif
(mujaddidun) dan diantaranya lagi bersifat
konservatif (muhafidhun). Golongan ini
merupakan mayoritas umat Islam.
Jika kita melihat dari sejarah, asal penggunaan nama
Ahlussunnah wal Jamaah terjadi perdebatan. Sengaja
disini
penulis
mengatakan
lahirnya
nama
Ahlussunnah wal Jamaah, bukan lahirnya kelompok
Ahlussunnah wal Jamaah, karena golongan
Ahlussunnah wal Jamaah merupakan jalan yang
ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jadi
hakikat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah tidak lain
17
adalah ajaran yang disampaikan oleh nabi kepada
umatnya. Hanya saja dengan berjalannya waktu,
terjadilah cerai berai dalam ilmu agama, hingga
kemudian harus kembali di satu padukan dalam
sebuah kerangka teori. Setidaknya penulis
menemukan ada 4 versi yang menggambarkan
kemunculan nama Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu :
1. Ada pihak yang mengatakan bahwa
sebenarnya nama Ahlussunnah wal Jamaah
telah ada dari zaman nabi Muhammad. Salah
satu dalilnya adalah hadits riwayat Abu Daud
dan Tirmidzi. Banyak kalangan yang
menganggap hadits ini dhaif, tapi karena
banyak yang meriwayatkan, status haditsnya
pun berganti menjadi kuat. Demikian menurut
ilmu mushthalah hadits.
2. Kelompok kedua mengatakan bahwa nama
Ahlussunnah wal Jamaah lahir pada akhir
windu kelima tahun hijriah, yang dikenal
sebagai ‘amul jamaah (tahun persatuan).
3. Pendapat ketiga menjelaskan bahwa nama
Ahlussunnah wal Jamaah muncul pada abad
II hijriah, yaitu di masa sedang puncaknya
perkembangan ilmu teologi Islam atau ilmu
kalam, yang ditandai dengan munculnya
pemikiran rasionalisme Islam yang dipelopori
18
oleh
golongan
Muktazilah.
Untuk
mengimbangi itu, muncullah orang bernama
Abu Hasan al-Asy’ari yang membentengi
umat dari pemikiran rasional orang-orang
Muktazilah. Hanya saja, perlu juga kita
pahami, ada yang tidak menyukai teologi alAsy’ari seperti golongan Salafi Wahabi, dan
menyebutnya hanya sebagai madzhab
Asy’ariyah.
4. Kemunculan nama Ahlussunnah wal Jamaah
tidak bisa dilepaskan dari munculnya Syiah
dan Khawarij dari sejak perang Shifin antara
kelompok Ali bin Abi Thalib dengan
kelompok Muawiyah. Karena fenomena
saling mengkafirkan antara satu dengan yang
lainnya, ulama pun menyatakan netral dan
menyatakan kembali kepada Sunnah nabi.
Kemudian barulah kita mengenal istilah
Ahlussunnah wal Jamaah atau dikalangan
sekarang lebih terkenal dengan sebutan Sunni.
Dari berbagai macam perbedaan pendapat, penulis
mencoba menengahi dari setiap pendapat yang ada.
Secara umum, landasan berpikir dari ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah tentu telah ada dari zaman
nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Hal ini juga
19
dikuatkan oleh pendapat Ibnu Taimiyah dalam
bukunya Minhaju as-Sunnah yang mengatakan
bahwa nama Ahlussunnah wal Jamaah telah ada jauh
sebelum Imam madzhab lahir. Hanya saja, seiring
dengan berjalannya waktu, kehidupan Islam sedikit
demi sedikit digerogoti dengan politik-politik
golongan, hingga memunculkan banyak aliran.
Dengan kenyataan itulah, jelas peran nama
Ahlussunnah wal Jamaah harus kembali disuarakan
dan di dengungkan di dunia Islam. Maka melalui
prakarsa pemikiran Imam al-Asy’ari, nama
Ahlussunnah wal Jamaah itu kembali bergema.
I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah yang disusun oleh
Imam Abu Hasan al-Asy’ari terbagi dalam enam
bagian sesuai dengan hadits nabi yang diriwayatkan
oleh Imam Muslim dan ditulis dalam Sahih Muslim
Juz I halaman 22, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Ketuhanan
Malaikat
Kitab suci
Rasul
Hari Kiamat
Qadla dan Qadar
Mengenai ketuhanan, kita diwajibkan untuk
mempercayai 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat
mustahil bagi Allah, dan 1 sifat jaiz bagi Allah. Kita
20
juga diwajibkan untuk mempercayai adanya malaikat
yang jumlahnya tidak ada yang mengetahui kecuali
Allah, dan hanya diwajibkan untuk mengetahui
minimal 10 malaikat. Begitupun dengan kitab suci,
kita diwajibkan untuk mempercayai kitab Zabur,
Taurat, Injil, dan al-Quran. Demikian termasuk kita
harus mengakui dan meyakini seluruh nabi dan rasul
dari sejak Adam hingga ditutup oleh nabi
Muhammad. Dan kita juga harus meyakini akan
kedatangan hari Kiamat dan adanya kewenangan
Allah dalam mengatur keseimbangan alam raya ini,
yang kita sebut sebagai Qadla dan Qadar.
Kembali kepada latar belakang di permulaan tulisan
ini,
ditanyakan
bahwa
apakah
pengertian
Ahlussunnah wal Jamaah bisa sesempit itu? Penulis
menyatakan tidak. Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah
yang sebenarnya adalah ajaran nabi itu sendiri. Jika
nabi mengajarkan A, maka Ahlussunnah pun akan
mengatakan A. Ahlussunnah secara bahasa memang
diartikan sebagai golongan yang mengikuti sunnah
nabi. Sementara istilah Jamaah, mengacu pada orangorang setelah nabi, yaitu khulafaurrasyidin dan
ulama-ulama tabi’in.
Dari sinilah akar permasalahan itu muncul.
Bagaimana bisa kita mendalami ajaran nabi tanpa
melalui perantara ulama antar generasi? Jelas tidak
21
mungkin. Secara logika sederhana, jika kita ingin
mendalami ajaran yang dibawa nabi (yang terpaut
angka 1400-an tahun), kita harus belajar kepada kiai
di tempat ngaji. Kiainya tentu mendapatkan ilmunya
dari ulama sebelumnya. Ulamanya mendapatkan
ilmunya dari ulama sebelumnya lagi. Terus hingga
mendapatkan ilmu dari ulama tabi’in.
Perlu di pahami disini, bahwa ulama tabi’in adalah
patokan kita. Mengapa? Karena di zaman inilah
perpecahan besar dalam dunia Islam muncul. Dari
sejak lahirnya aliran-aliran Syiah, Khawarij,
Muktazilah, Qadariyah, Jabariyah, dan segala
macamnya, lahir di masa ini dan masa setelahnya.
Maka jelas, nama-nama ulama tabi’in akan menjadi
patokan dasar kebenaran untuk mengantarkan kita
menuju pemahaman para sahabat dan puncaknya
hingga kepada nabi. Tidak heran, di zaman ini pulalah, bermunculan madzhab-madzhab hebat dalam
dunia Islam.
Dengan kenyataan itu, walau sesungguhnya ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah merupakan ajaran nabi, tapi
untuk mencapai itu, kita harus melewati zaman
tabi’in. Salah menentukan ulama, jelas kesananya
akan berbeda. Tidak percaya? Sekarang kita ambil 1
contoh. Jika ada pertanyaan, dimana Allah? Maka
jawabannya akan berbeda-beda. Orang yang ketika
22
meriwayatkan ilmunya melewati jalur Tabi’in dengan
berkiblat kepada Ibnu Taimiyah, jelas akan
mengatakan bahwa nabi dan sahabatnya meyakini
bahwa Allah bersemayam di atas Arsy sesuai dengan
firmanNya. Tapi bagi orang yang meriwayatkan
ilmunya lewat jalur al-Asyari dan al-Maturidi,
mereka akan mengklaim bahwa nabi dan sahabatnya
yakin bahwa Allah itu tidak bertempat karena
menyandang sifat mukholafatu lil hawadits. Maka
penting sekali mengenal madzhab-madzhab dalam
Islam. Karena melalui madzhab inilah, hakikat dan
makna ajaran nabi akan sampai kepada kita.
Oleh karena itu, sekali lagi penulis menyanggah
bahwa hanya menjadikan al-Quran dan Hadits saja
sebagai sumber hukum, jelas akan jauh menyesatkan.
Terbukti, dengan gerakan inilah memunculkan
banyak perselisihan karena mereka menafsirkan alQuran dan Hadits dengan gayanya sendiri, dengan
ilmunya sendiri, dengan latar belakangnya sendiri.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk menetapkan
sebuah panduan bagi diri kita sendiri. Karena melalui
ulama-ulama di masa Tabi’in dan Tabiut Tabi’in,
ajaran nabi akan jelas terlihat.
Dan tentu saja, kita harus mengakui bahwa ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ajaran
nabi, dan menjadi rujukan bagi mayoritas umat
23
muslim di dunia, adalah apa yang disampaikan dan di
konsep oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari. Dengan
memahami apa yang telah menjadi pembahasan
Imam al-Asy’ari, setidaknya membuka peluang bagi
kita untuk memahami konsep tauhid yang benarbenar menjadi pegangan nabi dan para sahabat.
D. Sejarah Perpecahan Umat Islam
Masalah politik merupakan sumber perpecahan umat
Islam yang terbesar, sehingga Al-Syahrastani (wafat
th. 548 H) dalam bukunya Al-Milal wa alNihal mengatakan: wa azhamu khilafin bayna alummah khilafu al-immah, iz ma sulla sayfun fi alIslam ala qaidah diniyyah misla ma sulla ala alimmah fi kulli zaman. ( Dan perselisihan terbesar di
antara umat adalah perselisihan mengenai imamah
(kepemimpinan), kerana tidak pernah pedang dihunus
dalam Islam dengan alasan agama sebagaimana
(sesering) dihunus karena imamah pada setiap
zaman).9
Al-Imam Abu Al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim AlSyahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal, j.1, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah,
t.th.), hlm.13.
9
24
Masalah imamah adalah masalah politik, masalah
menentukan siapa yang akan memimpin umat.
Walaupun sebenarnya perselisihan mengenai imamah
itu sudah bermula sejak Rasulullah s.a.w. wafat,
terutama antara golongan Muhajirin dan golongan
Anshar, tetapi ianya dapat diselesaikan dengan
damai, iaitu dengan mengangkat Abu Bakar menjadi
khalifah. Sejak terbunuhnya Usman bin Affan (tahun
35 H) sehingga ke hari ini umat Islam tidak lagi
memiliki pemimpin yang diakui oleh semua pihak.
Setiap kelompok mempunyai pemimpinnya tersendiri
dan tidak mengakui pemimpin dari kelompok lain.
Terbunuhnya Usman itu sendiri sebenarnya
disebabkan oleh masalah politik juga. Kelompok
pemberontak yang tidak senang dengan para gabenor
yang diangkat oleh Usman dan kebijaksanaannya
menuntut agar khalifah ketiga itu meletakkan
jawatan, tetapi Usman enggan melakukannya.
Keengganan Usman melakukan tuntutan kelompok
tersebut membuat mereka marah dan akhirnya
Usman terbunuh di rumah ketika sedang membaca
Al-Qur`an.10
Al-Imam Muhammad Abu Zahrah (1996), Tarikh al-Madzahib alIslamiyyah, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, hlm. 26-29; Abu Bakar al-Arabi
(1418), al-Awasim Min Al-Qawasim, Riyadh: Wazarah al-Syuun alIslamiyyah, hlm. 61 dst.; Ahmad Muhammad Ahmad Jilli (1988), Dirasah
10
25
Kematian Usman menjadi titik tolak bagi perpecahan
umat Islam. Al-Baghdadi (wafat th. 429 H) dalam
bukunya
Al-Farq
bayna
al
Firaq mengatakan: Tsumma ikhtalafu bada qatlihi fi
qotilihi wa khozilihi ikhtilafan baqiyan ila yawmina
hadza . (Kemudian mereka (para shahabat) berselisih
setelah terbunuhnya (Usman) dalam masalah orangorang yang telah membunuhnya dan orang-orang
yang membiarkannya terbunuh, perselisihan yang
kekal (berbekas) sampai hari (zaman)kita ini).11
Perang saudara pun mulai bersemangat. Perang
pertama yang terjadi adalah perang unta (perang
jamal) tahun 36H. Antara kelompok yang dipimpin
oleh Aisyah r.a, isteri Rasul saw, yang menuntut bela
atas kematian Usman, dengan kelompok Ali bin Abi
Talib yang diangkat menjadi khalifah sesudah
Usman. Kelompok pemberontak setelah membunuh
Usman bergabung dengan Ali, itulah sebabnya
An al-Firaq Fi Tarikh al-Muslimin: al-Khawarij Wa al-Syiah, Riyadh: King
Faisal Centre For Research and Islamic Studies, hlm. 30-45; Mustafa
Muhammad Asy Syakah (1994), Islam Tidak Bermazhab, A.M. Basalamah
(terj.), Jakarta: Gema Insani Press, hlm. 101; Syed Ameer Ali (1967), Api
Islam, H.B. Jassin (terj.), Jakarta: P.T. Pembangunan, hlm. 158-160.
Al-Imam Abdul Qadir bin Tahir bin Muhammad Al-Baghdadi, al-Farq
Bayn Al-Firaq, (Beirut: Dar al-Marifah, 1997), hlm. 24.
11
26
kelompok Aisyah dan kelompok Muawiyah bin Abi
Sufyan menuntut agar Ali menegakkan hukum
terhadap mereka. Tetapi Ali tidak dapat
melaksanakan tuntutan itu. Hal ini menyebabkan
krisis politik yang berpanjangan.
Masalah politik merupakan punca yang disebut
dengan al-Fitnah al-Kubra (bencana besar) di
kalangan umat Islam. Umat Islam berpecah kepada
tiga kelompok:
Pertama:
kelompok
Ali, kedua:
kelompok
Muawiyah, dan ketiga: kelompok moderat/neutral
yang tidak memihak kepada salah satu dari dua
kelompok tersebut. Dua kelompok pertama memiliki
pengikut yang banyak, sedangkan kelompok moderat
kerana tidak ikut campur dalam masalah politik maka
jumlahnya tidak diketahui, tetapi kelompok ini
merupakan majoriti umat, di antara para sahabat yang
bergabung di dalam kelompok moderat ini adalah:
Abdullah bin Umar (Ibnu Umar), Saad bin Malik,
Saad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah,
Usamah bin Zaid, dan lain-lain.
Pertentangan antara kelompok Muawiyah dan Ali
semakin meruncing dan membawa kepada terjadinya
perang Siffin. Setelah kelompok Muawiyah hampir
27
kalah, mereka mengajak untuk bertahkim (arbitrate)
bagi
menyelesaikan
konflik
yang
terjadi.
Perundingan (tahkim) dilaksanakan di Daumatul
Jandal pada bulan Ramadhan tahun 37 H. Kelompok
Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash (wafat th.43
H) dan kelompok Ali diwakili oleh Abu Musa AlAsy'ari (wafat th. 44 H). Kedua-duanya bertindak
sebagai hakim dari kelompok masing-masing.
Perundingan antara kedua belah pihak tidak berjalan
dengan jujur. Amru membuat tipuan terhadap Abu
Musa dengan mengatakan bahawa konflik yang
terjadi adalah disebabkan oleh dua orang, iaitu Ali
dan Muawiyah, maka untuk menciptakan perdamaian
kedua orang itu harus dipecat dan kemudian
diserahkan kepada umat Islam untuk memilih
khalifah baru. Tipuan itu berhasil. Amru memberikan
kesempatan pertama kepada Abu Musa untuk naik
mimbar; Abu Musa mengumumkan pemecatan Ali.
Sesudah itu Amru naik mimbar pula, ia menerima
pemecatan Ali dan kerana Ali sudah dipecat khalifah
tinggal seorang sahaja lagi, iaitu Muawiyahia
menetapkan Muawiyah sebagai khalifah umat Islam
seluruhnya. Tentu saja kelompok Ali tidak puas hati.
Perundingan tersebut bukan saja tidak menyelesaikan
konflik, tetapi malah menimbulkan kelompok baru.
Kelompok Ali terpecah menjadi dua; Pertama, yang
28
tetap setia kepadanya (belakang hari disebut syiah);
Kedua, yang memberontak, keluar dari kelompok Ali
dan berbalik menjadi musuhnya, karena tidak puas
dengan keputusan Ali untuk mengikuti perundingan
diatas (kelompok ini disebut Khawarij). Kelompok
ini pada mulanya memaksa Ali untuk ikut bertahkim,
tetapi setelah Ali menerima tahkim mereka
menolaknya; Mereka memakai semboyan La hukma
illa lillah (Tidak ada hukum (keputusan) melainkan
bagi Allah semata).12
Kini kelompok yang bertikai dalam masalah politik
menjadi tiga; kelompok Muawiyah, kelompok Ali
dan kelompok Khawarij. Kelompok terakhir ini
mengkafirkan kelompok Pertama dan Kedua, mereka
menghalalkan darah orang Islam yang tidak
sependapat dengan mereka. Mereka memerangi
kelompok Pertama dan Kedua, mereka mengirim
utusan rahsia untuk membunuh Ali, Muawiyah dan
Amru bin Ash. Muawiyah dan Amru selamat dari
pembunuhan, sedangkan Ali terbunuh di tangan
Abdul Rahman bin Muljam pada tahun 40 H.
Kematian Ali membuat pengikutnya kesedihan.
Hasan, Putra Ali pertama, diangkat menjadi khalifah
Ali Abd al-Fattah al-Maghribi, al-Firaq al-Kalamiyyah al-Islamiyyah, (Kairo:
Maktabah Wahbah, 1995), hlm. 170.
12
29
menggantikan ayahnya. Hasan melihat bahwa
pertentangan politik ini hanya akan merugikan umat
Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu dia
mengadakan perdamaian dengan Muawiyah, untuk
menjaga agar darah kaum Muslimin tidak tertumpah
lebih banyak lagi. Hasan meletakkan jawatan pada
tahun 41 H dan menyerahkan kekuasaan kepada
Muawiyah. Hasan meminta agar Muawiyah
menyerahkan urusan khilafah kepada kaum Muslimin
bila ia meninggal nanti. Hasan juga meminta agar
kelompok Muawiyah berhenti menghina Ali di dalam
khutbah-khutbahnya.13 Gerakan
perdamaian
ini
disokong oleh masyarakat Islam, sehingga tahun itu
disebut sebagai Tahun Persatuan ('am al-Jama'ah).
Tetapi
perjanjian
tersebut
tidak
ditepati
kemudiannya. Hasan meninggal di Madinah kerana
terkena racun pada tahun 50 H. Kelompok Syiah
menabalkan Husein, putra Ali kedua, menjadi
khalifah.
Sebelum Muawiyah meninggal (tahun 60 H) ia
menabalkan putranya Yazid sebagai putra Mahkota
Muawiyah dan Penguasa Bani Umayah sesudahnya selalu mencaci Ali di
Akhir khutbah-khutbah mereka, sehingga Ummu Salamah, isteri Rasul
saw.,berkirim surat kepada Mu'awiyah agar memberhentikan perbuatan
jelek tersebut. Tetapi surat itu tidak dihiraukan. Di masa pemerintahan
khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau melarang dan menghentikan tradisi
buruk seperti itu.
13
30
untuk menggantikannya. Hal itu membuatkan bukan
saja kelompok Syiah marah tetapi juga seluruh kaum
Muslimin; kerana jelas melanggar perjanjian damai
yang telah dipersetujui dengan Hasan tempo hari.
Namun begitu, kaum Muslimin tidak dapat berbuat
apa-apa, kerana Muawiyah memerintah dengan kuku
besi. Di zaman Yazid (memerintah tahun 60 s/d 64
H) permusuhan kelompok Umawi terhadap Syiah
semakin menjadi-jadi. Kelompok Syiah diperangi
habis-habisan. Husein terbunuh di Karbala (10
Muharram th. 61 H) dalam pertempuran yang tidak
seimbang. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke
hadapan Yazid sebagai persembahan. Bani Umayah
tampil menjadi kekuatan yang tidak dapat ditandingi.
Penguasa demi penguasa di kalangan Bani Umayah
terus berganti, tetapi pertentangan di antara kedua
kelompok tadi tidak juga reda. Ali dan pengikutnya
terus dihina di setiap mimbar. Kelompok Syiah
membalas dan menghina Kelompok Bani Umayah.
Sementara
itu
kelompok
Khawarij
tetap
melaksanakan
kegiatan
mereka.
Di
masa
pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (khalifah
kelima Bani Umayah, memerintah tahun 65 s/d 86 H)
usaha untuk membina persatuan di buat semula.
Abdul Malik walaupun menghadapi berbagai
pemberontakan, dia berusaha mempersatukan umat
31
Islam yang sudah berpecah belah kepada berbagai
kelompok dan puak, khususnya setelah Abdullah bin
Zubeir (khalifah tandingan di Mekah) terbunuh pada
tahun 73 H. Dia menggunakan slogan Nahnu
Jama'ah Wahidah Tahta Rayah Dinillah (kita semua
adalah satu jamaah dibawah naungan bendera agama
Allah). Abdul Malik juga mengadakan konsep tarbi',
iaitu dengan menyebut nama empat khalifah:Abu
Bakar, Umar, Usman dan Ali di dalam khutbahkhutbah. Konsep ini merupakan kaedah untuk
mempersatukan umat Islam juga. Sebelum ini
kelompok Umawi hanya mengakui Abu Bakar,
Umar, Usman dan Muawiyah, tetapi mereka tidak
mengakui Ali. Manakala Kelompok Khawarij hanya
mengakui Abu Bakar, Umar; sedangkan kelompok
Syiah hanya mengakui Ali saja dengan alasan
masing-masing.
Setiap
kelompok
menghina
kelompok lain di mimbar-mimbar dan mendoakan
keselamatan bagi pemimpin mereka. Kelompok
Umawi merelakan nama Muawiyah tidak disebut
dalam tarbi itu, sebagai pengorbanan dari mereka
demi persatuan umat.
Untuk memperkuatkan usaha persatuan tersebut,
maka seluruh umat Islam diseru agar menjadikan
Rasul
s.a.w
sebagai
satu
rujukan
yang
unggul. Kerana Rasul s.a.w sudah wafat, maka
32
sunnah beliaulah yang mesti dijadikan sebagai
rujukan. Abdul Malik mendapat sokongan dari
masyarakat Islam. Di antara tokoh kelompok
Moderat yang masih hidup dan menyokong Abdul
Malik adalah Ibnu Umar (wafat th. 74 H). Umat
Islam yang menyokong persatuan ini disebut Ahlu AlJama'ah Wa al-Sunnah, kemudian ada proses
pembalikan sering dibaca oleh sebahagian kaum
muslimin sehingga menjadi Ahlus-Sunnah WalJamaah.14
Jadi, baik konsep tarbi' yang sampai hari ini sering
dibaca oleh sebahagian kaum muslimin --demikian
juga dengan mendo'akan pemimpin yang berkuasa-pada
khutbah-khutbah
Jumaat, mahupun
istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sebenarnya lahir
dari proses sejarah yang bertujuan untuk
mempersatukan umat yang sudah berpecah
belah. Oleh kerana itu, sering kita terjumpa bahawa
kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah sentiasa
berusaha untuk mempertemukan aliran pemikiran
berbagai kelompok yang saling bertentangan.
Nurcholis Madjid , Aktualisasi Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, dlm
M.Dawam Rahardjo, Islam Indonesia Menatap Masa Depan, (Jakarta: P3M,
1989), hlm. 67. Menurut Ameer Ali, Istilah Ahlus Sunnah Wal
Jamaah pertama kali dipergunakan pada masa pemerintahan Mansur dan
Harun, khalifah Abbasiah.
14
33
Tetapi usaha untuk mempersatukan umat itu tidaklah
berhasil sebagaimana yang diharapkan, persaingan
antara kelompok tetap juga berjalan. Kelompok
Syiah, misalnya, tetap tidak dapat bergabung dalam
persatuan itu; sebab menurut keyakinan mereka hak
untuk memegang jawatan khalifah hanyalah untuk
Ali dan keturunannya. Kerana jamaah tadi
merupakan inisiatif dari kelompok Umawi yang
sememangnya adalah musuh politik mereka, itulah
sebabnya kelompok Syiah sampai hari ini tetap tidak
bersimpati kepada kaum Muslimin dari golongan
Ahlussunnah Wal-Jamaah. Mereka menganggap
Ahlussunnah Wal-Jamaah hanyalah penyokong dan
merupakan tali barut dari kelompok Umawi.
Tanpaknya dendam kelompok syi'ah terhadap
kelompok umawi tidak kesampaian, kerana mereka
sudah punah ditelan zaman; jadi golongan AhlusSunnah Wal-jama'ahlah yang menerima padahnya.
E. Ciri dan Sifat Ahlussunnah wal Jamaah
1. Ahlussunnah selalu memelihara al-Jama’ah
Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki tugas
untuk memelihara keutuhan Jama’ah Islam dalam
34
pengertiannya yang luas (menyeluruh). Mereka
menempuh jalan tersebut dengan pertimbangan yang
cermat berdasarkan syari’at Yang Maha Bijaksana,
satu-satunya Rabb yang memiliki aturan yang dapat
membebaskan penguasaan hawa nafsu.15
2. Ahlussunnah Selalu Bersikap Tasamuh
(Toleran)16
Seorang penganut Ahlussunnah yang betul-betul
memahami esensi dan kriteria Aswaja akan memiliki
perilaku yang tidak hanya toleran, menghargai
perbedaan dan cinta damai terhadap sesama muslim,
tapi juga akan bersikap yang sama pada non-muslim
yang tidak berbuat zalim. Sebaliknya, seorang
Ahlussunnah yang bersikap keras pada sesamanya
menunjukkan ketidakmampuannya dalam memahami
ajaran utama Ahlussunnah. Ada beberapa faktor yang
mendasari hal ini.
Muhammad Abdul Hadi al-Mishri, Penerjemah As’ad Yasin, Manhaj
dan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Menurut Pemahaman Ulama Salaf,
(Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 118.
15
“Karakteristik
dan
Ciri
Ahlussunnah
wal
Jamaah”,
http://www.nusantaramengaji.com, diakses pada tanggal 25 Januari 2020,
pukul 14:09.
16
35
Pertama, Ahlussunnah secara fitrah selalu toleran
pada perbedaan madzhab akidah. Aqidah disebut
sebagai masalah pokok agama (ushuluddin).
Sehingga ada anggapan di kalangan sebagian
penganut Ahlul Hadits atau Atsariyah, bahwa aqidah
mereka adalah satu-satunya aqidah yang benar. Dan
bahwa masalah aqidah adalah masalah prinsip yang
tidak boleh ada kompromi. Demikian juga, ada
anggapan di kalangan sebagian penganut aqidah
Asy’ariyah bahwa madzhab aqidah mereka yang
terbaik dan paling benar. Sebagaimana dijelaskan
dalam buku ini, anggapan ini juga tidak benar.
Diterimanya tiga akidah yang berbeda yaitu
Asy’ariyah, Maturidiyah dan Ahlul Hadits sebagai
bagian dari aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah
membawa konsekuensi bahwa kebenaran dalam
konsep aqidah tidaklah tunggal. Pengikut aqidah
Ahlul Hadits, misalnya, tidak bisa menilai pengikut
Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai sesat hanya
karena tidak sesuai dengan akidah Ahlul Hadits.
Demikian juga, penganut Asy’ariyah tidak boleh
menganggap sesat pengikut akidah Maturidiyah dan
Ahlul Hadits hanya karena pendapatnya berbeda
dengan Asy’ariyah, dan seterusnya.
Seorang
pengikut
Asy’ariyah
sewajarnya
mengamalkan akidah Asy’ariyah untuk dirinya
36
sendiri. Namun, hendaknya tidak menggunakan
pandangan akidah Asy’ariyah untuk menilai pengikut
madzhab Maturidiyah dan Ahlul Hadits.
Toleransi pada perbedaan aqidah hanya bisa terjadi
apabila minimal para ulama dan ustadz dari masingmasing madzhab aqidah juga mempelajari dan
memahami madzhab aqidah yang lain. Ulama
Asy’ariyah hendaknya juga mengkaji dasar-dasar
aqidah Ahlul Hadits dan Maturidiyah. Begitu juga,
penganut madzhab Ahlul Hadits mengkaji dasardasar akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Dan yang
tak kalah penting adalah menjadikan perbedaan yang
ada sebagai perbedaan ijtihadi yang sama-sama
benarnya. Sehingga tidak ada ruang untuk
menyalahkan atau menyesatkan madzhab aqidah
yang lain.
Kedua, toleran pada perbedaan madzhab fiqih. Fikih
termasuk dalam ranah furuiyah (cabang) dalam
agama. Dengan adanya empat madzhab fikih yang
diakui sebagai bagian dari Ahlussunnah, maka itu
bermakna bahwa terkadang ada empat pandangan
fikih yang berbeda dalam masalah yang sama. Dan
keempat pandangan yang berbeda itu dihukumi
sama-sama benar. Rasulullah bersabda: “Hakim
(mujtahid) yang berijtihad dan ijtihadnya benar maka
ia mendapat dua pahala. Sedangkan yang berijtidihad
37
dan ternyata salah maka mendapat satu pahala.”
Benar atau salahnya suatu ijtihad hanya Allah yang
tahu. Ulama mujtahid hanya berusaha maksimal
untuk berijtihad menghasilkan hukum berdasarkan
metode dan manhaj yang diikuti.
Dengan adanya fakta bahwa Ahlussunnah selalu
menghargai perbedaan tidak hanya dalam masalah
madzhab fikih, tapi juga madzhab aqidah yang
notabene merupakan masalah ushuluddin (pokok
agama), maka sebenarnya tidak ada jalan untuk
konflik. Yang ada adalah jalan ukhuwah dan
perdamaian yang terbuka lebar. Namun demikian,
konflik sosial bisa saja tetap terjadi di kalangan
sesama pengikut Ahlussunnah apabila:
38

Ada ormas yang mengikuti madzhab tertentu
yang berusaha mengajak anggota ormas lain
yang mengikuti madzhab yang berbeda.
Terutama apabila dengan cara menjelekjelekkan ormas atau madzhab yang berbeda
tersebut.

Pengikut suatu madzhab, sama saja madzhab
akidah atau madzhab fikih, selalu memakai
pandangan madzhabnya untuk menilai pengikut
madzhab lain. Sehingga, pengikut madzhab lain
merasa tersinggung dan membalas hal yang
sama. Akhirnya, konflik terjadi tanpa akhir. Di
sinilah perlunya keluasan ilmu para ulama dan
ustadz akan madzhab lain dan kedewasaan serta
kebijaksaan mereka dalam memberi pencerahan
pada umatnya.

Terjadi perbedaan pilihan politik yang
berakibat pada saling tuduh dan fitnah.
Perbedaan afiliasi politik sering menjadi
pemicu konflik bahkan antara sesama golongan
madzhab aqidah atau fikih tertentu.

Adanya golongan non-Aswaja yang selalu
merecoki kalangan Aswaja dengan pahampaham baru dan menyesatkan kalangan
Ahlussunnah.
Empat poin penyebab konflik di atas harus terus
diwaspadai terutama bagi kalangan pemimpin umat
islam karena Islam pada dasarnya adalah moderat
(wasathiyah). Yang secara etimologis berarti berada
di tengah antara dua ekstrim (tatarruf) kiri dan
kanan. Tidak radikal, juga tidak liberal Terkait kata
wasath Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 2:143
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu
(umat Islam), umat yang wasath agar kamu menjadi
saksi atas (perbuatan) manusia.”Dalam sebuah hadits
sahih dijelaskan bahwa maksud wasath adalah adil.
39
3. Ahlussunnah Selalu Bersikap Tawassuth
At-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedangsedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini
disarikan dari firman Allah SWT:
‫الرسول‬
َّ َ‫اس َويَكون‬
ِ َّ‫سطا ً ِلت َكونواْ ش َهدَاء َعلَى الن‬
َ ‫َو َكذَلِكَ َجعَ ْلنَاك ْم أ َّمةً َو‬
ً ‫ش ِهيدا‬
َ ‫َعلَيْك ْم‬
Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat
Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar
kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap
dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah
SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap
dan perbuatan) kamu sekalian.(QS al-Baqarah: 143).
4. Ahlussunnah Selalu Bersikap Tawazun
At-tawazun atau seimbang dalam segala hal,
terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang
bersumber dari akal pikiran rasional) dan
dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits).
Firman Allah SWT:
40
‫وم النَّاس‬
ِ ‫س ْلنَا رسلَنَا بِ ْالبَيِنَا‬
َ ‫ت َوأَنزَ ْلنَا َمعَهم ْال ِكت‬
َ ‫لَقَدْ أ َ ْر‬
َ ‫َاب َو ْال ِميزَ انَ ِليَق‬
‫ْط‬
ِ ‫بِ ْال ِقس‬
Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami
dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan
telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan
neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat
melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)
5. Ahlussunnah Selalu Bersikap I’tidal
Al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah
SWT berfirman:
‫شنَنن‬
َ ‫ْط َوالَ َيجْ ِر َم َّنك ْم‬
ِ ‫َيا أَيُّ َها َّالذِينَ آ َمنواْ كونواْ َق َّو ِامينَ ِلِلِ ش َهدَاء ِب ْال ِقس‬
‫قَ ْو ٍم َعلَى أَالَّ ت َ ْعدِلواْ ا ْعدِلواْ ه َو أ َ ْق َرب ِللت َّ ْق َوى َواتَّقواْ الِلَ ِإ َّن الِلَ َخ ِبير ِب َما‬
َ‫ت َ ْع َملون‬
Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu
sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela
(kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur
kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian
kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku
tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih
mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada
41
Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)
F. Penisbatan Ahlussunnah wal Jamaah
Menurut bahasa, kata al-jama’ah berasal dari kata alijtima’ yang artiya berkumpul atau bersatu. Istilah ini
memili lawan kata al-firqah yang artinya berpecah
belah. Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai
penjelasan hadits-hadits nabi yang mewajibkan
beriltizam kepada jam’ah dan melarang keluar dari
padanya. Beberapa pendapat itu antara lain:17
1. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang
dimaksud al-jama’ah ialah para sahabat saja,
dan bukan orang-orang sesudah generasi
mereka. Sebab, para sahabat itulah yang
sesungguhnya telah menegakkan tonggaktonggak ad-Din dan menancapkan pakupakunya. Dan mereka tidak berhimpun diatas
kesesatan. Pendapat ini diriwayatkan dari
Umar bin Abdul Aziz Ra.
Muhammad Abdul Hadi al-Mishri, Penerjemah As’ad Yasin, Manhaj
dan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Menurut Pemahaman Ulama Salaf,
(Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 70.
17
42
Menurut pendapat ini, lafadz al-jama’ah
sesuai dengan riwayat lain dalam sebuah
hadits nabi: “...yakni jalan yang aku tempuh
dan para sahabatku.” Kalimat hadits ini
merujuk kepada perkataan, perilaku, dan
ijtihad mereka. Dengan demikian, lafadz
tersebut menjadi hujjah secara mutlak dengan
kesaksian Rasulullah saw, khususnya dengan
sabda beliau: “hendaklah kalian berpegang
teguh pada sunnahku dan sunnah para
khalifah ar-rasyidin..”
2. Sementara itu ada ulama yang mengartikan
al-jama’ah itu adalah ahli ilmu, ahli fikih, dan
ahli hadits dari kalangan imam mujtahidin.
Sebab, Allah telah menjadikan mereka hujjah
atasmanusia dan mereka menjadi panutan
dalam urusan ad-din.18 Pendapat ini berasal
dari al-Bukhari, dalam kitabnya bab wa
kadzalika ja’alnakum ummatan wasathan
(demikian pula Kami jadikan kamu umat
pertengahan) dan perintah nabi saw untuk
beriltizam
kepada
al-jama’ah
beliau
mengatakan bahwa mereka (al-jama’ah) itu
adalah ahli ilmu.
18
Lihat juga di kitab Fathul Bari, hlm. 27.
43
Menurut Tirmidzi, para ahli ilmu menafsirkan
al-jama’ah dengan ahli fikih, ahli ilmu, ahli
hadits. Kemudian beliau membawakan
riwayat dari Ibnu Mubarak yang memberikan
jawaban: “abu bakar dan umar” sewaktu ia
ditanya mengenai al-jama’ah.19 Menurut Ibnu
Sinan, mereka (al-jama’ah) adalah ahli ilmu
dan orang-orang yang punya atsar.20
3. Ada ulama yang mengatakan bahwa aljama’ah ialah jama’ah ahlul islam yang
bersepakat dalam masalah syara’. Mereka
tidak lain adalah ahli ijma’ yang senantiasa
bersepakat dalam suatu masalah atau hukum,
baik syara’ maupun akidah. Pendapat ini
didasarkan pada hadits nabi yang artinya:
umatku tidak bersepakat dalam kesesatan”.
Ibnu Hajar mengatakn bahwa yang dimaksud
al-jama’ah ialah Ahlul Hal wal ‘Aqdi, yakni
mereka
yang
mempunyai
keahlian
menetapkan dan memutuskan suatu masalah
pada setiap zaman.
Adapun menurut al-Karmani, yang dimaksud
perintah untuk beriltizam kepada jama’ah
ialah beriltizamnya seorang mukallaf dengan
19
Lihat Sunan Tirmidzi, hlm. 465.
20
Lihat Syaraf Ashhabul Hadits, hlm. 26-27.
44
mengikuti kesepakatan para mujtahidin. Dan
inilah yang dimaksud oleh imam Bukhari
bahwa mereka adalah ahli ilmu.
Ayat yang diterjemahkan Bukhari dijadikan
hujjah oleh ahli ushul karena ijma’ adalah
hujjah. Sebab, mereka (ahli ilmu) dinilai adil,
sebagaimana firman Allah (al-Baqarah : 143),
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan
kamu (umat Islam) umat yang adil...”
Pernyataan ayat tersebut menunjukkan bahwa
mereka terpelihara dari kesalahan mengenai
apa yang telah mereka sepakati, baik
perkataan maupun perbuatan.21 Pendapat ini
lebih merujuk pada pendapat yang kedua.
4. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa aljama’ah
adalah
as-Sawadul
A’zham
(kelompok mayoritas). Dalam kitab anNihayah disebutkan bahwa “hendaklah kamu
mengiktu
as-Sawadul
A’zham,
yaitu
mayoritas manusia yang bersepakat dalam
mentaati penguasa dan mnempuh jalan yang
lurus.22 Pendapat tersebut diriwayatkan dari
Abi Ghalib yang mengatakan bahwa
sesungguhnya as-Sawadul A’zham ialah
21
Lihat Fathul Bari, hlm. 316.
22
Lihat kitab an-Nihayah, hlm. 419.
45
orang-orang yang selamat dari perpecahan.
Maka urusan agama yang mereka sepakati
itulah merupakan kebenaran. Barangsiapa
menentang mereka, baik dalam masalah
syari’at maupun akidah, maka ia menentang
kebenaran; dan jika mati, ia mati jahiliyah.
5. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa
al-Jama’ah adalah kaum muslimin yang
sepakat atas seorang amir (penguasa). Ini
adalah
pendapat
ath-Thabari
yang
menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu.
Kemudian ia mengatakan, “Ya benar,
pengertian tentang beriltizam kepada aljama’ah ialah taat dan bersepakat atas
amirnya. Maka barangsiapa melanggar
bai’atnya, ia telah keluar dari al-jama’ah.
Ibnu Mas’ud berkata:23
‫الجماعة ما وافق الحق وان كنت وحدك‬
Al-Jama’ah ialah orang yang menyesuaikan diri
dengan kebenaran, walaupun engkau seorang diri.
Dikutip oleh Abu Syamah dalam kitabnya al-Hawadits wal Bida’,
hlm.22. Abu Syamah menyebutkan bahwa pernyataan ini diriwayatkan
juga oleh al-Baihaqi dalam al-Madkhal.
23
46
Pada tanggal 25 sampai 27 Agustus 2016 diadakan
muktamar ulama Islam yang diadakan di Grozny,
Chechnya. Muktamar yang dihadiri oleh Syaikh AlAzhar, para mufti dari berbagai negara dan para
ulama dari seluruh dunia termasuk Habib Umar bin
Hafidz Yaman, ini mengambil tema “Man Hum
Ahlussunnah Wal Jamaah? (Siapa Ahlussunnah Wal
Jamaah itu?).” Pada akhir acara, muktamar yang
dikenal dengan sebutan Muktamar Chechnya ini
menghasilkan sejumlah keputusan antara lain tentang
definisi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai
berikut:
‫ “ومنهم‬،‫أهل السنة والجماعة هم األشاعرة والماتريدية في االعتقاد‬
‫ وأهل المذاهب األربعة الحنفية‬،‫أهل الحديث المفوضة” في االعتقاد‬
ً ‫ وأهل التصوف الصافي علما‬،‫والمالكية والشافعية والحنابلة في الفقه‬
‫وأخالقا ً وتزكيةً على طريقة سيد الطائفة اإلمام الجنيد ومن سار على‬
‫ وهو المنهج الذي يحترم دوائر العلوم الخادمة‬،‫نهجه من أئمة الهدى‬
‫للوحي‬
Pengikut Ahlussunnah Wal Jamaah adalah mereka
yang secara aqidah mengikuti madzhab aqidah
Asy’ariyah dan Maturidiyah. Termasuk juga aqidah
“Ahlul Hadits yang Representatif.” Secara fiqih
mengikuti salah satu madzhab fiqih yang empat
(Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). (Termasuk
Ahlussunnah adalah) pengikut tasawuf yang bersih
47
secara ilmu, akhlak dan penyucian diri menurut
tarekat Imam Al-Junaid dan para Sufi yang
mengikuti manhaj Al-Junaid. Yaitu manhaj tasawuf
yang tidak bertentangan dengan syariah.
Dengan definisi di atas, maka kelompok Salafi
Wahabi secara tidak langsung dikeluarkan dari
golongan Ahlussunnah Wal Jamaah karena dalam
beraqidah memakai akidah Ibnu Taimiyah. Walaupun
dasar aqidah Ibnu Taimiyah berasal dari aqidah Ahlul
Hadits, namun ada perbedaan signifikan antara
keduanya. Di antaranya, a) aqidah Ibnu Taimiyah
menganut aliran Karramiyah yang dikenal dengan
konsep tajsim atau memfisikkan Allah (mujassimah).
Kaum mujassimah menurut Asy’ariyah tidak
termasuk dalam Ahlussunnah Wal Jamaah. b) Aqidah
Ibnu Taimiyah menambahkan konsep tiga tauhid
rububiyah, uluhiyah dan asma was sifat yang dibuat
alat untuk memvonis muslim yang tidak mengikuti
konsep ini sebagai syirik dan kafir; c) Muhammad
bin Abdul Wahab menambah doktrin Tiga Tauhid
Ibnu Taimiyah di atas dengan 10 Pembatal
Keislaman (nawaqidh al-Islam al-Asyrah) yang
dengannya mengafirkan dan menghalalkan darah
mayoritas umat Islam yang tidak mengikuti
alirannya.
48
Lima tahun sebelum Muktamar Chechnya, Syaikh
Al-Azhar Dr. Ahmad Tayyib (al Ahram. net/2011),
sudah menyatakan saat mewisuda lulusan Al-Azhar
bahwa kaum Salafi Wahabi adalah “Khawarij zaman
ini.” Pernyataan Syaikh Al-Azhar ini sebenarnya
merupakan gaung dari ungkapan seorang ulama besar
dua abad sebelumnya bernama Al-Showi (wafat 1214
H). Dalam kitab Hasyiyah Al-Showi ala Tafsir AlJalalain, ia menyatakan: “Menurut satu pendapat,
Ayat ini [yakni QS Fatir 35:8] diturunkan terkait
kaum Khawarij yang merubah takwil Al-Quran dan
sunnah. Dengan itu mereka menghalalkan darah dan
harta umat Islam. Kaum Khawarij [baru] juga bisa
dilihat saat ini. Mereka adalah golongan orang-orang
yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi
Arabia). Golongan tersebut bernama “Wahabiyah”)
Mereka mengira bahwa mereka yang paling benar.
Ingatlah, bahwa mereka adalah pembohong.”
Aliran Asy’ari ini memperoleh pengikut terbanyak di
lingkungan umat Islam, antara lain karena diikuti
oleh para pengikut dua madzhab terbesar dalam fikih,
yakni madzhab Syafi’i dan madzhab Maliki. Dari
madzhab Syafi’i layak mendapatkan dukungan luas,
mengingat imam Asy’ari sendiri dalam masalah fikih
menjadi pengikut madzhab Syafi’i. Sedangkan
dukungan darii madzhab Maliki, karena diantara
49
tokoh-tokoh Asy’ariyah terdapat nama besar, yakni
imam Abu Bakar al-Baqillani dan Ibnu Taumart yang
keduanya sebagai pengikut madzhab Maliki dalam
masalah fikih, terutama diwilayah Afrika Utara
sampai sekarang.24
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 23.
24
50
Pasal 2
TAUHID MENURUT AHLUSSUNNAH WAL
JAMAAH
A. Pentingnya Teologi
Di dalam ilmu Ushuluddin dibicarakan soal-soal
i’tiqad yang menjadi pokok bagi agama, yaitu:25
1. Kepercayaan (i’tiqad) yang bertalian dengan
Ketuhanan (Ilahiyat);
2. Kepercayaan yang bertalian dengan Kenabian
(Nubuwat);
3. Kepercayaan yang bertalian dengan hal-hal
yang ghaib (hari akhirat, surga, neraka, dan
lain-lain);
4. Hal-hal lain yang berkaitan erat dengann
kepercayaan.
Ilmu yang membahas tentang teologi di dalam islam
biasa dinamai ilmu Ushuluddin, ilmu kalam, atau
ilmu tauhid. Ada juga yang menamainya dengan ilmu
‘Aqaid, yakni ilmu yang membahas tentang i’tiqad
Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah, (Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004), hlm. 1.
25
51
(kepercayaan). Secara sederhana, pengertian dari
istilah-iistilah tadi bisa kita artikan sebagai ilmu yang
lebih mengutamakan pemahaman masalah-masalah
ketuhanan dan pendekatannya yang rasional dari
tauhid bersama syariat membentuk orientasi
keagamaan yang bersifat eksoteris. Atau lebih jauh
disebutkan bahwa istilah-istilah itu berarti ilmu yang
mampu membuktikan kebenaran akidah agama
(Islam) dan menghilangkan kebimbangan dengan
mengemukakan hujjah atau argumen.26
Kajian terhadap ilmu kalam memang sangat sedikit
dilakukan oleh cendekiawan muslim di Indonesia.
Hal ini mungkin karena pengaruh yang kuat dari para
ahli fikih yang kurang simpati terhadap studi ilmu
kalam. Bahkan imam Malik, imam Syafi’I dan imam
Ahmad bin Hambal melarang studi ilmu kalam,
karena dinilai ilmu ini hanya mengembangkan
wacana yang penuh resiko, bisa membawa seseorang
ke arah kekafiran, dan penerapannya banyak sekali
dimotivasi hawa nafsu. Sikap para ulama besar yang
menjadi panutan umat tersebut dapat dimaklumi,
karena pada masa itu ilmu kalam masih didominasi
oleh orang-orang Mu’tazilah, Khawarij, dan Syiah,
dengan konsentrasi kajiannya pada masalah-masalah
Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini Peletak Dasar Teologi Rasional dalam
Islam, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 4.
26
52
prinsip akidah, sifat-sifat Allah, masalah qadla dan
qadar, masalah af’al al’ibad (status perbuatan
manusia), masalah hakikat iman, dan lain-lain, yang
dasar-dasar kajiannya lebih mengacu pada dalil-dalil
falsafi dan banyak mengabaikan dalil-dalil naqli,
sehingga dipandang bahwa ilmu kalam tidak berbeda
dengan ilmu al-Jadal yang lebih dimotivasi oleh
keinginan untuk menang dalam berdebat, bukan
untuk mendapatkan kebenaran dan kemanfaatan.27
Sehingga imam Syafi’I mengatakan:
‫الكالم علم إن أصاب المرء فيه لم يؤجر وإن أخطأفيه كفر‬
Ilmu kalam adalah suatu ilmu yang apabila
seseorang mendapat kebenaran didalamnya, ia tidak
mendapat pahala, tapi jika salah bisa menjadi kafir.
Sedangkan imam Ahmad bin Hambal mengatakan:
‫النكاد نرى احدا نظرفي الكالم إال وفي قلبه دغل‬
Kita hamper tidak melihat seorangpun yang berdebat
dalam masalah kalam kecuali didalam hatinya
terdapat potensi untuk merusak.
Namun al-Ghazali memberikan pendapat yang
moderat, bahwa studi ilmu-ilmu kalam itu tidak dapat
dinilai secara a priori haram atau wajib, tetapi harus
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. xviii.
27
53
dilihat konteksnya, untuk apa ilmu itu dipelajari,
manfaat dan masalahat apa yang bisa diperoleh, dan
pada lingkungan mana ilmu tersebut dibicarakan. AlGhazali melihat ilmu kalam sebagai kebutuhan
objektif dalam menghadapi tantangan paham-paham
teologi lain yang menggunakan pendekatan dan
argumentasi
rasional,
tanpa
mengabaikan
argumentasi tekstual. Sikap demikian kiranya patut
diterima sebagai sikap yang arif dan objektif.28
Tauhid atau bahasa kerennya adalah teologi adalah
sebuah bidang keilmuan dalam dunia Islam. Ilmu ini
lebih fokus dalam memahami hakikat ketuhanan.
Menurut penulis, teologi dan tauhid memiliki makna
substansi yang berbeda. Teologi memiliki pengertian
yang lebih luas, karena diartikan sebagai ilmu
pengetahuan tentang ketuhanan. Sementara tauhid
adalah bagian dalam kaidah dan kajian teologi, yakni
sebuah aliran yang mengklaim bahwa Tuhan itu satu.
Tauhid atau teologi adalah landasan paling pokok
dalam Islam. Penulis meyakini, bukan hanya Islam
yang menjadikan teologi sebagai ajaran inti, tapi
seluruh agama yang ada di dunia ini. Jika anda ingin
masuk kedalam agama Kristen, maka anda harus
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. xix.
28
54
mempercayai bahwa Yesus itu Tuhan. Jika anda
ingin masuk ke agama Buddha, maka hal pertama
yang harus dilakukan adalah mengakui bahwa
Buddha adalah Tuhan. Begitupun dengan Islam. Jika
anda ingin dikatakan sebagai orang Islam, hal
pertama yang harus dilakukan adalah mengakui dan
meyakini bahwa “Tiada Tuhan selain Allah, dan nabi
Muhammad adalah utusan terakhir Allah”.
Maka jelas dari sini, teologi adalah landasan paling
penting dalam beragama. Karena dengan masalah
teologi inilah, merupakan pembeda antara satu agama
dengan agama yang lain, antara satu penganut dengan
penganut yang lain.
Lantas teologi seperti apa yang diakui oleh mayoritas
umat Muslim? Pembahasan inilah, kita kupas secara
tuntas.
Seluruh umat Muslim di dunia, mayoritas aliran
Islam di dunia, mayoritas ulama di dunia, pasti
setuju, bahwa syahadat adalah bagian paling penting
dalam hakikat ajaran Islam. Dengan membaca dan
meyakini 2 kalimat syahadat, maka secara otomatis
orang tersebut dikatakan sebagai orang Muslim.
Meskipun penulis tidak menyanggah, bahwa terjadi
perbedaan pendapat untuk menentukan hal pertama
untuk masuk Islam, yaitu:
55
1. Pendapat pertama mengatakan bahwa, orang
yang akan masuk Islam, lebih diutamakan
membaca syahadatain, untuk kemudian
mempelajari tauhid;
2. Pendapat kedua berkata sebaliknya. Orang
yang ingin masuk Islam, harus paham dulu
hal-hal mendasar dalam Tauhid, kemudian
baru membaca syahadat.
Penulis tidak menafikan perbedaan pendapat diantara
keduanya. Tapi kalau boleh, penulis ingin
memberikan sebuah pemahaman yang bisa
menggabungkan dari kedua pemikiran tersebut. Jika
kita kaji dan kita kupas 2 kalimat syahadat, salah satu
makna terpentingnya adalah menyatakan bahwa
“Tiada Tuhan selain Allah”. Hal ini jelas bahwa
dalam kalimat syahadat, telah tercermin hakikathakikat Tauhid. Jadi kalau boleh penulis memberikan
kesimpulan, bahwa syahadat adalah bagian dari
permukaan tauhid, sementara tauhid adalah
penjabaran dari kalimatus syahadat. Intinya, orang
yang membaca syahadat, secara tidak langsung dia
telah menyadari makna tauhid dalam Islam, dan
ketika orang sudah memahami hakikat tauhid, berarti
secara tidak langsung dia telah paham makna dua
kalimat syahadat.
56
B. Penggunaan Dalil
Ada dua golongan besar di dunia Islam dalam
memahami konsep-konsep Tauhid. Golongan
pertama adalah golongan rasionalisme Islam, yang
salah satu golongan terkenalnya adalah golongan
Muktazilah. Golongan ini adalah golongan yang
mendewa-dewa-kan akal. Segala sesuatu dalam
kajian teologi, akan menggunakan konsep-konsep
logika Aristoteles. Madzhab Muktazilah pernah
menjadi madzhab resmi negara, yaitu di era alMakmun. Maka tidak heran, peradaban muslim yang
benar-benar maju, akan berkiblat ke masa ini. Kaum
Muktazilah hanya mengenal dalil aqli. Mereka hanya
akan mengakui sebuah ayat al-Qur’an jika ayat
tersebut sesuai dengan akalnya. Maka tidak heran,
golongan ini menganggap al-Qur’an lah yang harus
menyesuaikan dengan logika mereka.
Dengan munculnya golongan rasionalisme yang
kebablasan itu, lahirlah golongan yang kedua, yaitu
golongan Ahlul Atsar. Salah satu kelompoknya yang
sangat ekstremis, yaitu kelompok Salafi Wahabi.
Kelompok ini ditandai munculnya ulama terkenal
yang memiliki nama Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah
ini sangat anti terhadap logika Aristoteles.
Menurutnya, masalah teologi tidak pantas
diperdebatkan secara logika. Kita dianjurkan untuk
57
menerima saja apa yang sudah difirmankan oleh
Allah tanpa adanya lagi kajian. Kelompok ini sangat
monoton. Kelompok ini hanya memiliki kamus dalil
naqli, yaitu dalil yang hanya tertulis di dalam alQur’an. Maka tidak heran, ketika ada ayat yang
mengatakan “Allah bersemayam di atas Arsy” atau
ayat “Tangan Allah di atas tangan mereka”,
golongan ini menerima ayat tersebut dengan
membabi buta. Mereka langsung mengakui bahwa
Allah itu berdiam diri di atas Arsy, dan juga memiliki
tangan. Golongan ini kemudian dikembangkan oleh
orang yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab.
Kedua golongan ini, sama-sama memiliki kelebihan
dan kelemahan. Golongan rasionalis, membuat
perdaban
Islam
semakin
maju
karena
mengembangkan akalnya dalam memahami hakikat
hidup. Begitupun dengan golongan tekstualis,
memiliki kelebihan untuk mengesampingkan akal
agar terhindar dari kesalahan tafsir. Tapi tentu keduaduanya memiliki kelemahan. Golongan rasionalis
jelas akan membabi buta dengan ayat-ayat
Mutasyabihat, dan golongan tekstualis justru akan
monoton dalam memahami agama.
Maka lahirlah golongan ketiga yang menjadi
penengah diantara keduanya, yaitu golongan yang
menerima dalil naqli, dan juga menerima dalil aqli
58
(golongan Ahlussunnah wal Jamaah). Dalil naqli
sangat penting, karena firman Allah adalah satusatunya sumber yang bisa dipercaya. Tapi dalil aqli
juga penting, karena dengan akal, kita bisa
memahami substansi dari ayat yang di firmankan
Tuhan. Jangan sampai, ketika ada ayat 10 surat Fath
yang berbunyi “Tangan Allah di atas tangan
mereka”, langsung menafsirkan bahwa Allah itu
memiliki tangan. Padahal jelas, bahwa Allah itu
dihindari dari sifat-sifat yang sama dengan
makhlukNya. Hal yang tepat adalah, menafsirkan
kata “Tangan” dengan “Kekuasaan”. Maka ketika ada
kalimat “Tangan Allah”, tafsiran yang hak adalah
“Kekuasaan Allah”, karena Allah jelas tidak memiliki
tangan seperti makhlukNya.
Dari sini, ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sebagai
golongan mayoritas, dengan jelas menerima dalil
naqli dan dalil aqli.
Dengan demikian, madzhab Ahlussunnah wal
Jama’ah yang dibawakan oleh al-Imam Abu Hasan
al-Asy’ari
dan
Abu
Manshur
al-Maturidi
mengembalikan ajaran Islam kepada Sunnah
Rasulullah dan para shahabatnya dengan berpegang
kepada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah dengan tidak
meninggalkan dalil-dalil akal. Artinya memegang
59
kepada dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil alQur’an dan as-Sunnah.
Dalam kajian Ahlussunnah wal Jamaah, penggunaan
dalil naqli lebih di utamakan ketimbang dalil aqli.
Menurut KH. Nuril Huda, jika kita ibaratkan dalil
aqli sebagai mata, maka dalil naqli kita ibaratkan
sebagai pelita yang terang benderang. Mata kita harus
disesuaikan dengan pelita. Jika pelita sudah jelas dan
clear, maka mata mengikutinya. Tapi jika cahaya
pelita itu agak blur, maka mata harus mengkajinya
hingga tampaklah pelita itu kembali terang di depan
mata. Akal manusia mengikuti dalil al-Qur’an dan
Hadits, bukan al-Qur’an dan hadits yang disesuaikan
dengan akal manusia.
Rasulullah pernah bersabda bahwa “tidak ada agama
bagi orang yang tidak berakal”. Hal ini
mengisyaratkan bahwa orang yang menerima agama
adalah orang-orang yang berakal. Tapi bukan berarti
juga agama yang harus menerima akal. Akal lah yang
harus menerima agama. Itu artinya, kebenaran naqli
lebih di dahulukan dari kebenaran aqli. Tapi walau
begitu, bukan berarti kita menghilangkan fungsi akal
sebagaimana golongan Salafi Wahabi.
60
C. Madzhab Mayoritas Teologi
Fatwa agama yang datang dari mana pun saja kalau
tidak berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, al-Ijma’ dan
al-Qiyas wajib kita tolak. Maka di dalam ilmu Tauhid
kita berpegangan kepada al-Imam Abu Hasan alAsy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.
Al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dilahirkan di Bashrah
pada tahun 260 H dan wafat tahun 324 H. Beliau
belajar kepada ulama Muktazilah, di antaranya alImam Muhammad bin Abdul Wahab Al-Jabal.
Karena pada masa itu Muktazilah merupakan
madzhab pemerintah pada zaman khalifah
Abbasiyah; khalifah Al-Ma’mun bin Harun al-Rasyid
al-Mu’tashim dan al-Watsiq, dan beliau termasuk
pengikut setia madzhab Muktazilah.
Setelah beliau banyak melihat kekeliruan faham
Muktazilah, maka beliau menyatakan keluar dari
Muktazilah di depan khalayak ramai dengan tegas,
bahkan akhirnya beliau menolak pendapat-pendapat
Muktazilah dengan dalil-dalil yang tegas.
61
D. Rukun Iman
Dalam ilmu Tauhid, rukun iman menurut
Ahlussunnah wal Jama’ah ada 6 (enam) pilar, yaitu:
1. Iman kepada Allah;
2. Iman kepada para malaikat Allah;
3. Iman kepada para nabi dan rasul Allah;
4. Iman kepada kitab-kitab suci Allah;
5. Iman kepada Hari Akhir; dan
6. Iman kepada Qadla/Qadar Allah.
Pembagian rukun iman ini sesuai dengan sabda nabi
yang berbunyi:29
‫ ان تؤمن باهللا ومالئكته وكتبه ورسوله‬: ‫فأخبرنى عن االيمان قال‬
‫واليوم الخر والقدر خيره وشره‬
Maka beritahulah kami (wahai Rasulullah) tentang
iman”. Nabi muhammad bersabda: engkau harus
percaya adanya Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitab suciNya, rasul-rasulNya, hari akhirat, dan
Qadla-Qadar (nasib baik dan nasib buruk). (HR.
Muslim)
29
Lihat Sahih Muslim Juz I, hlm. 22.
62
Dalam memahami Allah, Ahlussunnah wal Jamaah
secara mayoritas menyetujui bahwa Allah memiliki
20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz. Oleh
karena itu, Allah dikesampingkan dari hal-hal yang
sama dengan makhlukNya, salah satunya dimensi
tempat dan waktu. Para ulama Ahlussunnah wal
Jamaah berpendapat bahwa dimensi waktu dan
tempat hanya berlaku bagi makhluk, sementara bagi
Allah, hal itu jelas tidak berlaku. Itu artinya, Allah
tidak dipengaruhi oleh waktu dan tidak memiliki
tempat.
Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah juga mengakui
bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah malaikat
kecuali Allah Azza wa Jalla. Hanya saja, kita
diwajibkan untuk mengenal 10 malaikat.
Begitupun dengan para nabi dan rasul. Kita
diwajibkan untuk mengenal 25 nabi dan rasul, yang
diawali oleh Adam dan diakhiri oleh Muhammad.
Kita juga diwajibkan untuk mengakui dan meyakini
bahwa beberapa nabi dan rasul diturunkan kitab oleh
Allah dan wajib diketahui, yaitu kitab Zabur kepada
Daud, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, dan alQur’an kepada Muhammad.
Kita juga harus meyakini bahwa alam raya ini
bersifat fana. Itu artinya, suatu saat nanti alam raya
ini akan hancur dengan izin Allah. Meyakini Hari
63
Kiamat juga termasuk meyakini perjalanan atau
tanda-tanda menuju Kiamat. Misalnya kedatangan alMahdi, turunnya Isa al-Masih, keluarnya Dajjal,
keluarnya Yakjuj Makjuj, dan segala macamnya.
Dan terakhir meyakini bahwa kita tidak bisa terlepas
dari takdir Tuhan. Tapi perlu dipahami disini, ada
dua golongan yang memandang Qadla dan Qadar
dengan gaya yang berbeda. Pertama memandang
bahwa manusia memiliki hak penuh untuk
menentukan takdirnya sendiri. Golongan ini disebut
sebagai golongan Qadariyyah.
Sementara golongan kedua adalah mereka yang
menafikan usaha manusia. Segala sesuatu sudah
diatur oleh Allah, dan manusia tidak bisa berbuat
apa-apa. Golongan ini berbanding terbalik dengan
golongan Qadariyyah. Golongan ini biasa disebut
sebagai golongan Jabariyyah.
Diantara keduanya, Ahlussunnah wal Jamaah berdiri
di tengah-tengah mereka. Ahlussunnah wal Jamaah
mengakui eksistensi usaha manusia, tapi untuk
masalah hasilnya, dikembalikan kepada ketentuan
Allah Swt.
64
Pasal 3
TENTANG AL-ASY’ARI DAN AL-MATURIDI
Sudah pernah penulis singgung, bahwasanya ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah tidak lain adalah ajaran
nabi itu sendiri. Hanya saja, untuk mencapai
kebenaran yang dibawa nabi, kita harus melewati
setiap ulama antar generasi. Dengan memahami
ulama-ulama sebelum kita, setidaknya memberikan
ruang yang luas bagi kita untuk memahami konsep
yang dipahami oleh nabi dan para sahabatnya.
Perlu juga kita pahami disini, bahwa ulama-ulama di
zaman Tabi’in merupakan patokan kita dalam
menentukan sebuah ajaran yang hak maupun bathil.
Karena di zaman Tabi’in dan setelahnya lah, terjadi
perpecahan besar di kalangan umat Muslim.
Tonggak-tonggak ajaran yang sekarang ada, hampir
semuanya lahir di zaman Tabi’in dan Tabiut Tabi’in.
Ajaran Syiah, Khawarij, Murji’ah, Muktazilah,
Qadariyyah, Jabariyyah, dan segala macamnya, tidak
lain bermunculan di masa-masa Tabi’in.
65
Oleh karena itu, ulama Tabi’in adalah patokan yang
paling penting dalam mengantarkan kita menuju
pemahaman nabi dan para sahabat. Kita tidak bisa
hanya mengandalkan al-Qur’an dan Hadits dalam
memahami agama ini, karena kandungan al-Qur’an
dan Hadits memuat istilah-istilah yang sulit
dipahami. Al-Qur’an dan al-Hadits memakai bahasabahasa yang hanya dipahami oleh orang-orang yang
memang mumpuni dalam bidangnya, yaitu ahli tafsir.
Ahli tafsir ini, biasanya tidak bisa melepaskan diri
dari tafsiran-tafsiran sebelum mereka. Ulama-ulama
di zaman ini, akan menafsirkan al-Qur’an dengan
berpedoman pada tafsiran ulama sebelumnya.
Tafsiran ulama sebelumnya akan merujuk kepada
ulama sebelumnya lagi. Tafsiran ulama sebelumnya
akan mempelajari tafsiran ulama sebelumnya lagi.
Terus hingga akhirnya tafsiran itu diambil dari kaidah
tafsir ulama-ulama Tabi’in. Sementara tafsir ulama
Tabi’in, tidak lain merupakan apa yang diturunkan
dan dipelajari dari zaman sahabat. Dan zaman
sahabat, tentu akan berkiblat kepada ajaran nabi.
Demikian skema sanad keilmuan yang baik di dalam
Islam. Jadi untuk mendapatkan ilmu agama yang hak,
mau tidak mau kita harus berkiblat kepada ulama
sebelum kita. Dengan langsung memahami al-Qur’an
dan Hadits menurut pemahaman kita sendiri, justru
66
akan menjadi boomerang bagi kita, dan justru akan
menimbulkan malapetaka bagi akidah kita sendiri.
Maka dari itu, bermunculan lah madzhab-madzhab
hebat di zaman Tabi’in. Madzhab-madzhab tersebut
tidak lain merupakan panduan bagi umat Muslim
agar terhindar dari fitnah zaman yang sudah sangat
memprihatinkan. Setiap ulama membuat panduan
bagi umat Muslim. Antara satu madzhab dengan
madzhab yang lain dalam kaidah Ahlussunnah wal
Jamaah, sebenarnya tidak bertentangan antara satu
dengan yang lainnya. Justru antar madzhab tersebut
saling menguatkan dan saling melengkapi diantara
prinsip-prinsip ibadah.
Di dalam dunia Tauhid, setidaknya ada dua madzhab
yang menjadi rujukan umat Muslim mayoritas di
dunia, yaitu madzhab Asy’ariyah dan madzhab
Maturidiyah. Keduanya saling menguatkan antara
satu dengan yang lainnya. Perlu diperhatikan, bahwa
sebenarnya Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam
Abu Mansur al-Maturidi pada hakikatnya tidak
membuat madzhab. Mereka hanya menghimpun
ajaran agama yang sebelumnya ada, dan membuat
kaidah-kaidah khusus agar mudah dipahami oleh
umat Muslim setelahnya.
Di dalam kitab yang berjudul Ihtihaf Sadatul
Muttaqin karya imam Muhammad bin Muhammad
67
al-Husni az-Zabidi, pada jilid II, dijelaskan sebagai
berikut:30
ْ ‫ِإذَا أ‬
‫سنَّ ِة فَ ْالم َراد ِب ِه األَشَا ِع َرة َو ْال َمات ِر ِديَّة‬
ُّ ‫طلِقَ أ َ ْهل ال‬
Apabila disebut golongan Ahlussunnah wal Jamaah,
maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti
rumusan paham Asy’ari dan paham Maturidi.
A. Mengenal Imam Asy’ari
Salah satu madzhab aqidah Ahlussunnah wal Jamaah
yang diakui oleh mayoritas umat Muslim di dunia
adalah madzhab Asy’ariyah. Madzhab ini dipelopori
oleh ulama terkenal bernama Abu Hasan al-Asy’ari.
Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Isma’il
al-Asy’ari, lahir di Bashrah pada tahun 260 Hijriah
(873 Masehi).
Abu Hasan al-Asy’ari pada dasarnya tidak
menciptakan madzhab. Lebih tepatnya yang
dilakukan adalah memformulasikan paham dan
keyakinan-keyakinan yang sudah beredar jauh
sebelum ia hidup dan dipegangi para pendahulu
30
Lihat kitab Ihtihaf Sadatul Muttaqin jilid II, hlm. 6.
68
Islam. Secara fikih, ia menganut madzhab Imam asySyafi’i.
Riwayat pendidikannya, pada umur 10 tahun, Abu
Hasan adalah pengikut ajaran Muktazilah. Ia belajar
konsep-konsep logika Muktazilah melalui gurunya
yang hebat bernama Abu Ali al-Jubbai. Tokoh
Muktazilah ini kemudian menikahi ibunya sehingga
menjadi ayah tirinya. Karena kecerdasannya, alAsy’ari sering dipercayai oleh kaum Muktazilah
untuk mewakili mereka dalam berbagai perdebatan
publik. Ia menyelami ajaran Muktazilah selama 30
tahun.
Perlu diperhatikan disini, bahwa memang di zaman
itu, Muktazilah merupakan madzhab resmi negara.
Jadi mau tidak mau, setiap anak Muslim di zaman itu
akan sedikit banyak mendalami dan mempelajari
konsep-konsep ajaran Muktazilah.
Imam Abu Hasan al-Asyari melihat dalam paham
kaum Mu’tazilah banyak terdapat kesalahan besar,
banyak yang bertentangan dengan i’tiqad nabi
Muhammad dan sahabat-sahabatnya serta banyak
bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits. Maka
karena itulah, beliau keluar dari golongan Mu’tazilah
dan bertaubat kepada Allah atas kesalahankesalahannya yang telah lalu. Bahkan bukan hanya
69
itu, beliau tampil di garis paling depan dalam
menghadapi golongan Mu’tazilah.
Adanya ketidak puasan imam Asy’ari terhadap pola
pikir dan metodologi yang terlalu mengandalkan
kemampuan nalar akal, tanpa dukungan kecerahan
wahyu atau nash. Puncak ketidak puasannya terjadi
saat melakukan dialog intensif dengan gurunya, alJubbai, tentang “Bagaimana kedudukan tiga orang:
Mukmin; Kafir; dan anak kecil di akhirat”. Menurut
imam as-Subki, dialog tersebut berlangsung sebagai
berikut:31
Al-Asy’ari
: bagaimana kedudukan tiga orang
berikut, mukmin; kafir; dan anak kecil di akhirat
nanti?
Al-Jubbai
: yang mukmin mendapat tempat
mulia di surga, yang kafir disiksa di neraka, dan yang
anak kecil terlepas dari bahaya neraka!
Al-Asy’ari
: kalau anak kecil tadi ingin
mendapatkan tempat yang lebih baik di surga,
mungkinkah itu?
Al-Jubbai
: tidak mungkin, sebab yang dapat
tempat baik di surga hanyalah orang yang taat kepada
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 15.
31
70
Tuhan, sedangkan anak kecil tadi belum pernah
melakukan ketaatan itu.
Al-Asy’ari
: kalaun anak kecil itu mengatakan
kepada Tuhan, ‘itu bukan salahku, jika sekiranya
Engkau berikan aku terus hidup, maka aku akan
mengerjakan amal-amal baik seperti yang dilakukan
oleh orang mukmin itu.
Al-Jubbai
: Allah akan menjawab, ‘Aku tahu
bahwa jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat
dosa banyak, dan oleh karena itu engkau akan terkena
siksa. Maka untuk kemaslahatanmu, Aku cabut
nyawamu sebelum engkau mencapai umur mukallaf
(bertanggung jawab atas amalnya).
Al-Asy’ari
: sekiranya yang kafir tadi mengatakan
kepada Allah, ‘Engkau mengetahui masa depanku
sebagaimana Engkau mengetahui masa depan anak
kecil itu. Mengapa Engkau membiarkan aku menjadi
dewasa dan kafir, mengapa Engkau tidak
memperhatikan kemaslahatanku?”
Sampai disini al-Jubbai tidak dapat menjawab.
Dialog ini menurut imam as-Subki berakhir dengan
ketidak-puasan
Asy’ari
terhadap
pemikiraan
Mu’tazilah.
71
Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di
masjid Basrah dan berpidato dengan pidato yang
berapi-api, sehingga dapat didengar oleh kebanyakan
kaum muslimin yang berkumpul disitu.
Diantara pidato beliau yaitu:
“Saudara-saudara kaum muslimin yang terhormat.
Siapa yang sudah mengenal saya berarti sudah
mengetahui, tetapi bagi yang belum mengetahui,
maka saya ini adalah Abu Hasan Ali al-Asy’ari anak
dari Isma’il bin Abi Basyar. Dulu saya berpendapat
bahwa al-Qur’an itu makhluk, bahwa Allah tidak bisa
dilihat dengan mata di akhirat, dan bahwasanya
manusia menciptakan perbuatannya, serupa dengan
kaum Mu’tazilah.
Sekarang saya nyatakan terus terang bahwa saya
telah bertaubat dari paham Mu’tazilah dan sekarang
saya lemparkan i’tiqad Mu’tazilah seperti saya
melemparkan jubah saya ini (kemudian beliau
melemparkan jubahnya) dan saat ini saya siap untuk
menolak paham Mu’tazilah yang salah dan sesat
itu.”32
32
Lihat Zhumrul Islam Bab IV, hlm. 67.
72
Sebelum umur 10 tahun, al-Asy’ari belajar agama
melalui Zakariya bin Yahya as-Saji (pakar hadits di
Bashrah), Abdurrahman bin Khalaf adh-Dhabbi
(muhaddits di Bashrah), Sahal bin Nuh al-Bashri
(muhaddits di Bashrah), dan Muhammad bin Ya’qub
al-Maqburi (muhaddits di Bashrah).
Di umurnya yang ke-40, Abu Hasan al-Asy’ari
meninggalkan
ajaran
Muktazilah
dan
mendeklarasikan keluarnya tersebut di depan
khalayak ramai. Ada beberapa versi yang menjadi
alasan al-Asy’ari keluar dari Muktazilah, yaitu: Imam
al-Asy’ari bermimpi dengan Rasulullah, dan diminta
untuk keluar dari Muktazilah; ada juga yang
mengatakan bahwa al-Asy’ari tidak puas dengan
jawaban-jawaban
gurunya
tentang
konsep
Muktazilah.
Setelah keluar dari Muktazilah, Imam al-Asy’ari
kemudian berpindah haluan menjadi pembela ajaran
Ahlussunnah wal Jamaah yang pada waktu itu tokoh
terkenalnya adalah Abdul Aziz bin Yahya al-Kinani,
al-Harits bin Asad al-Muhasibi, Ibnu Kullab, dan
lain-lain. Akhirnya, Imam al-Asy’ari menggunakan
metode tafwidh dalam menafsirkan ayat-ayat
Mutasyabihat, hal yang sebelumnya tidak pernah ia
lakukan ketika menjadi pengikut Muktazilah.
73
Tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jamaah yang ada
pada waktu itu, semisal Abdul Aziz bin Yahya alKinani, al-Harits bin Asad al-Muhasibi, Ibnu Kullab,
dan yang lainnya, tidak mau atau menghindari kontak
dengan orang-orang Muktazilah. Mereka semua lebih
memilih untuk menjadi sufi dan menjauhi kehidupan
duniawi. Dengan datangnya Abu Hasan al-Asy’ari di
kubu Ahlussunnah wal Jamaah, beliau menjadi ulama
Ahlussunnah pertama yang berani meladeni logikalogika Muktazilah. Maka tidak salah, al-Asy’ari
inilah merupakan orang yang dihormati dari berbagai
golongan, entah itu Ahlussunnah, maupun dari pihak
Muktazilah sendiri.
Abu Hasan al-Asya’ari ini juga yang mendengungdengungkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di masa
itu. Al-Asy’ari banyak menulis kitab, hanya saja
sedikit sekali yang bisa diselamatkan. Salah satu
karyanya yang terkenal adalah al-Ibanah.
Meski banyak karyanya yang lenyap, tapi formulasi
pemikiran Abu Hasan al-Asy’ari masih bisa
diselamatkan, terutama dengan merujuk pada kitabkitab di luar al-Ibanah dan narasi-narasi dari kalangan
Asy’ariyah sendiri. Formulasi paham Abu Hasan alAsy’ari antara lain:
1. Meski manusia dengan akal bisa mengetahui
Tuhan, tapi wahyulah yang mewajibkan orang
74
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
mengetahui Tuhan dan berterima kasih
kepadaNya;
Mengakui adanya sifat Tuhan. Sifat Tuhan ini
bukanlah Tuhan, dan tidak pula bukan Tuhan;
Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan
makhluk yang sebelumnya diakui oleh
golongan Muktazilah;
Allah dapat dilihat kelak di akhirat karena
Allah memiliki wujud;
Perbuatan manusia itu diciptakan Allah, tetapi
manusia memiliki usaha untuk hidup;
Iman adalah pembenaran-pembenaran tentang
adanya Tuhan, rasul-rasul, dan berita yang
dibawa oleh mereka;
Pelaku dosa besar tetap dianggap sebagai
muslim selama ia masih beriman kepada
Allah dan rasulNya;
Allah memiliki kehendak mutlak.
Ajaran Abu Hasan al-Asy’ari ini terus menyebar ke
seantero dunia. Lewat murid-muridnya, Asy’ariyah
berkembang di Irak pada tahun 380 Hijriah, yaitu
setengah abad sejak wafatnya Imam Asy’ari. Tiga
orang yang kemudian dikenal sangat berjasa
mengembangkan Asy’ariyah adalah Abu Bakar bin
Furak asy-Syafi’i, Abu Bakar al-Baqillani al-Maliki,
dan Abu Ishaq al-Isfirayini asy-Syafi’i. Setelah itu,
75
ada tokoh-tokoh penerus Asy’ariyah yang hebat,
salah satunya adalah Imam al-Ghazali, asySyahrastani, Fakhruddin ar-Razi, dan yang lainnya.
Madzhab Asy’ariyah semakin kuat setelah
pemerintahan Bani Saljuk dibawah pemerintahan
Sultan Alp Arslan, mengangkat perdana menteri
bernama Nizham al-Muluk. Perdana menteri ini
membangun
madrasah
Nizhamiyah
dengan
kurikulum al-Asy’ariyah. Imam al-Juwaini dan alGhazali menjadi guru besar di madrasah ini. Dari sini
pula, ajaran Asy’ariyah menyebar ke seluruh penjuru
dunia Islam. Ajaran Asy’ariyah ini pula yang
dikembangkan oleh Sultan Salahudin al-Ayyubi di
Mesir dan sultan Nuridin Mahmud bin Zanki di
Syam.
Di
Indonesia
sendiri,
ajaran
Asy’ariyah
dikembangkan oleh organisasi Islam mayoritas yaitu
Nahdlatul Ulama. Kurikulum Tauhid di sekolahsekolah umum juga mengacu pada kaidah Tauhid
Ahlussunnah wal Jamaah versinya Imam al-Asy’ari,
seperti adanya sifat Allah yang 20.
76
B. Mengenal Imam Maturidi
Salah satu madzhab akidah selain Asy’ariyah adalah
Maturidiyah. Ajaran ini dinisbatkan kepada Abu
Manshur al-Maturidi. Tokoh ini dilahirkan di
Samarkand, Uzbekistan, pada tahun 248 Hijriah (862
Masehi). Al-Maturidi ini merupakan penganut
madzhab Hanafi dalam bidang Fikih.
Riwayat pendidikannya, beliau belajar agama kepada
Nasr bin Yahya al-Balkhi, Abu Bakar Muhammad alJuzjani, dan Muhammad bin Muqatil ar-Razi.
Pemikiran al-Maturidi dalam bidang akidah
merupakan pengembangan dan penafsiran lebih
lanjut dari apa yang dikembangkan oleh Imam Abu
Hanifah.
Abu Hanifah memiliki pandangan dalam bidang
teologi yang dituangkan dalam kitab al-Fiqhu alAkbar. Di kalangan Hanafiyah, selain al-Maturidi,
terdapat seorang lagi yang menjadi Imam besar
dalam jajaran Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu Abu
Ja’far ath-Thahawi. Hanya saja, kitab terkenal athThahawi berjudul Aqidah ath-Thahawiyah ini
disyarahi dan dikomentari oleh orang-orang Wahabi.
Sehingga, terkesan bahwa ath-Thahawi adalah ulama
yang memiliki pandangan Wahabiyah.
77
Tidak jauh berbeda dengan al-Asy’ari, al-Maturidi ini
juga meladeni perdebatan dengan tokoh-tokoh
Muktazilah di Samarkand, seperti al-Ka’bi dan alBahili. Selain Muktazilah, al-Maturidi juga meladeni
debat dengan golongan al-Mujassimah. Dalam
menjelaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah-nya, alMaturidi merilis kitab berjudul at-Tauhid dan
Ta’wilat al-Qur’an. Kedua kitab tersebut merupakan
rujukan paling penting dalam madzhab Maturidiyah.
Metode yang digunakan oleh al-Maturidi dalam
membangun madzhabnya agak berbeda dengan alAsy’ari, tapi sama-sama menjembatani antara naqal
dan akal. Perbedaan keduanya, salah satunya dalam
metode dalam memahami ayat-ayat Mutasyabihat.
Al-Asy’ari menggunakan metode tafwidh, sementara
al-Maturidi menggunakan metode ta’wil. Kesamaan
keduanya adalah dalam memandang Allah memiliki
sifat-sifat yang wajib ada bagi Allah, yakni 20 sifat
wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz.
Abu Manshur al-Maturidi wafat pada tahun 333
Hijriah
(944
Masehi)
setelah
berjasa
memformulasikan dan membela ajaran Ahlussunnah
wal Jamaah. Pandangan dan teologinya kemudian
dikembangkan
oleh
murid-muridnya.
Pada
umumnya, murid-murid dan penerus madzhabnya
78
berasal dari kalangan madzhab Hanafi dalam bidang
Fikih.
Sebagaimana al-Asy’ari, sebagai imam Ahlussunnah
wal Jama’ah, al-Maturidi juga menggunakan metode
dan sikap at-tawassuth (moderat dan jalan tengah).
Dr. Ali Abdul Fatah al-Maghribi mengatakan bahwa
sikap fundamental metodologi al-Maturidi adalah
tawassuth (moderatif) antara an-naqli dan al-‘aqli.
Al-Maturidi menganggap suatu kesalahan apabila
kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash
(naql), seperti halnya kesalahan jika kita larut tidak
terkendali dalam menggunakan nalar (‘aql) saja.
Sikap yang adil adalah tawassuth antara keduanya
(naql dan ‘aql). Sikap moderatif demikian ini
memiliki dasar dalam agama, yakni firman Allah:33
‫ب أ َ ِرنِ ٓي أَنظ ۡر إِلَ ۡي َۚكَ قَا َل لَن‬
ِ ‫س ٰى ِل ِمي ٰقَ ِتنَا َو َك َّل َمهۥ َربُّهۥ قَا َل َر‬
َ ‫َولَ َّما َجا ٓ َء مو‬
ۡ
ۡ ‫ت ََر ٰىنِي َو ٰلَ ِك ِن ٱنظ ۡر ِإلَى ٱل َجبَ ِل فَإ ِ ِن‬
‫ف ت ََر ٰىنِ َۚي فَلَ َّما تَ َجلَّ ٰى‬
َ َ‫ٱستَقَ َّر َمكَانَهۥ ف‬
َ ‫س ۡو‬
َ‫ص ِع ّٗق َۚا فَلَ َّما ٓ أَفَاقَ قَا َل س ۡب ٰ َحنَكَ ت ۡبت ِإلَ ۡيك‬
َ ‫َربُّهۥ ِل ۡل َجبَ ِل َج َعلَهۥ دَ ّٗكا َوخ ََّر مو‬
َ ‫س ٰى‬
٣٤١ َ‫َوأَن َ۠ا أ َ َّول ۡٱلم ۡؤ ِمنِين‬
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 25.
33
79
Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu
(umat Islam), umat yang adil dan pilihan (moderat)34
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia
dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas
(perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat
yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar
kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan
sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat,
kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk
oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan
imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang kepada manusia. (QS. al-Baqarah :
143)
Apabila dibandingkan antara al-Maturidi dengan alAsy’ari dalam penggunaan akal sebagai dasar/dalil
untuk menemukan kebenaran, maka al-Maturidi lebih
luas penggunaan dalil aqlinya dibandingkan dengan
al-Asy’ari. Hal itu mungkin juga dipengaruhi oleh
visi dan wacana madzhab fikih masing-masing yakni
al-Maturidi yang pengikut madzhab Hanafi yang
Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, Karena mereka
akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari
kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.
34
80
dikenal sebagai tokoh madzhab ahlu ar-ra’yi dalam
fikih. Sedangkan al-Asy’ari penganut madzhab
Syafi’i yang mempunyai pandangan yang moderatif
antara madzhab ahlu ar-ra’yi dan madzhab ahlu alhadits-nya imam Malik dan Ibnu Hambal, yang
sangat membatasi penggunaan dalil aqli, dan lebih
terikat dengan supremasi dalil-dalil naqli. Tetapi
apabila dibandingkan dengan al-Juwaini, maka
pengikut al-Asy’ari tidak ada bedanya. Al-Maturidi
memberikan alasan mengapa perlu menggunakan
dalil-dalil aqli dengan dua argumen, yaitu:35
1. Al-Qur’an banyak sekali menganjurkan agar
manusia menggunakan akal dan nalarnya
secara kritis untuk memahami fenomena /
gejala yang ada di alam raya ini maupun pada
diri mereka sendiri, unttuk menemukan jalan
menuju ma’rifatullah. Sebagai contoh
dikemukakan pada surat an-Nahl, berturutturut dalam ayat 11, 12, 13, 14, dan 15,
diakhiri dengan kalimat:
“... bagi kaum yang berpikir.”
“.... bagi kaum yaang memahami.”
“... bagi kaum yang dapat mengambil
pelajaran.”
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 26.
35
81
“... supaya kamu bersyukur.”
“... supaya kamu mendapat petunjuk.”
Menurut al-Maturidi, sesungguhnya
Allah mengulang-ulang peranan akal
dalam ayat-ayat tersebut degan
berbagai macam tingkatan, yakni
mulai
dari
“berpikir”
sampai
“mendapat petunjuk” adalah karena
dengan berpikir, orang dapat belajar
dan memahami, dan dengan ilmu dan
pemahaman orang dapat memperluas
wawasan, serta dapat memperkaya
pengalaman dan penalaran, dan
mengetahui semua itu sebagai
anugerah yang tidak ternilai dan harus
disyukuri. Sikap kritis dan kembali
pada jati diri sebagai hamba Allah
yang bersyukur, memberikannya jalan
untuk memperoleh petunjuk dari
Allah.
82
2. Kondisi objektif lingkungan yang dihadapi alMaturidi, merupakan dimensi waktu dan
tempat yang mempengaruhi pandangan dan
sikap intelektualnya. Dimasa itu, al-Maturidi
hidup ditempat dimana masalah teologi
menjadi isu kajian keagamaan yang sentral,
disamping masalah tasawwuf dan fikih. AlMaturidi mengatakan bahwa esensi akal untuk
melengkapi dalil atau hujjah agama, membuat
analisa kemudian mengkontruksikan dalildalil tersebut untuk mmbuktikan kebenaran
agama, dan membela keyakinan agama dari
orang-orang
yang
mengingkari
atau
menyalahi keyakinan tersebut.
Salah seorang pengikut al-Maturidi yang
berpengaruh adalah Abu Al-Yusr Muhammad
al-Bazdawi (421-493 H). Nenek al-Bazdawi
adalah murid al-Maturidi dan al-Bazdawi
mengenal ajaran-ajaran al-Maturidi dari orang
tuanya.
Sebagaimana al-Baqillani dan al-Juwaini
dikalangan Asy’ariyah, maka al-Bazdawi
tidak pula selalu sepaham dengan al-Maturidi.
Antara kedua tokoh aliran Maturidiyah ini
terdapat perbedaan paham sehingga boleh
dikatakan bahwa dalam aliran Maturidiyah
terdapat dua golongan, yakni: golongan
83
samarkand, yaitu pengikut-pengikut alMaturidi sendiri, dan golongan Bukhara, yaitu
pengikut
al-Bazdawi.
Jika
golongan
Samarkand memiliki paham yang lebih dekat
dengan Mu’tazilah, maka golongan Bukhara
mempunyai pendapat yang lebih dekat dengan
Asy’ariyah.36
C. Pentingnya Bermadzhab
Bagi
pembaca
yang
mengklaim
memiliki
kemampuan seperti ulama-ulama Tabi’in, semisal
Imam Bukhari, Imam Muslim, dan yang lainnya,
penulis
tidak mewajibkan pembaca untuk
bermadzhab. Jika pembaca sudah paham retorika
agama yang kompleks ini, pembaca tentunya akan
dengan mudah menafsirkan ayat al-Qur’an dan
menafsirkan Hadits nabi, serta tentunya dapat
mendetail status Hadits yang ada sekarang ini.
Tapi penulis agak meragukan orang-orang semacam
itu masih ada di zaman sekarang. Secerdas-cerdasnya
ulama di zaman sekarang, tentu memiliki kualitas
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 28.
36
84
yang jauh dari ulama di zaman Tabi’in dan zaman
para sahabat.
Perhatikan disini, ulama di zaman sekarang saja
memiliki kualitas yang jauh dari ulama di zaman
terdahulu, apalagi kita yang hanya sebagai orang
biasa yang bahkan menafsirkan al-Qur’an saja tidak
mampu? Maka tidak berlebihan jika penulis
mengatakan bahwa orang yang mengklaim dirinya
tidak bermadzhab di zaman ini, merupakan orang
paling sombong yang kita kenal, karena merasa
dirinya tidak membutuhkan panduan ulama dalam
memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.
Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi kita untuk
menentukan sebuah patokan bagi diri kita sendiri
untuk memahami agama ini. Bahkan golongan Salafi
Wahabi yang menyuarakan anti taklid dan anti
madzhab pun, demi Allah mereka justru membuat
taklid dan madzhab yang baru. Tidak ada satu pun
Muslim di zaman sekarang yang bisa terlepas dari
pendapat para ulama dalam menafsirkan al-Qur’an
dan as-Sunnah. Jadi jangan sok-sok-an dapat
menjadikan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber
utama tanpa mau mendengarkan pendapat para ulama
yang ahli di bidangnya. Sungguh menyesatkan orangorang semacam ini.
85
Peengertian madzhab secara etimologis berarti jalan,
alliran, pendapat, ajaran, atau doktrin. Bermadzhab
pada dasarnya adalah mengikuti ajaran atau pendapat
imam mujtahid yang diyakini mempunyai
kompetensi (kewenangan atau kemampuan) dalam
berijtihad.
Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi, dalam risalahnya
berjudul al-lamadzhabiyah akhtoru bid’ah tuhaddidu
as-syari’ah al-islamiyah, memberikan definisi
bermadzhab sebagai berikut:
Bermadzhab (al-madzhabiyah) ialah mengikutinya
orang awam atau orang-orang yang tidak mencapai
kemampuan ijtihad, kepada pendapat atau ajaran
seorang imam mujtahid, baik dia itu mengikuti
seorang mujtahid tertentu seara tetap atau dalam
hidupnya dia berpindah dari seorang mujtahid yang
lainnya. Dan yang disebut tidak bermadzhab (al-lamadzhabiyah) ialah tidak mengikutinya orang awam
atau orang-orang yang tidak mencapai kemampuan
ijtihad, kepada mujtahid manapun, baik secara tetap
maupun tidak tetap.
Menurut al-Amidi, bahwa sejak zaman sahabat dan
tabi’in, orang-orang awam selalu bertanya masalah
hukum agama (Islam) kepada para ulama mujtahiddi
waktu itu. dan para ulama mujtahid tersebut
memberikan jawaban-jawaban (fatwa) kepada orang
86
awam yang bertanya tanpa menyebut dalil-dalil yang
dipakai dasar fatwanya. Ulama-ulama pada waktu itu
tidak menentang cara yang demikian. Kenyataan ini
dapat dipandang sebagai Ijma’ (kesepakatan) mereka,
bahwa orang awam boleh mengikuti fatwa ulama
meskipun dia tidak mengetahuai dalil-dalil yang
dipakainya sebagai dasar fatwa tersebut.
Dalam pola bermadzhab, akan selalu melibatkan dua
pihak, yakni:37
1. Pihak yang diikuti pendapatnya, atau diikuti
hasil ijtihadnya, mereka adalah para Mujtahid
(orang-orang yang mampu dan memenuhi
syarat-syarat berijtihad), dengan berbagai
macam tingkatannya.
2. Pihak yang mengikuti pendapat atau hasil
ijtihad para Mujtahid, mereka adalah orangorang awam yang tidak mempunyai keahlian
bidang agama, mereka justru mayoritas
masyarakat muslim dimana-mana. Pada
umumnya mereka perlu mengetahui masalahmasalah praktis dalam menjalankan amaliyah
agamanya. Mereka memerlukan penjelasan
singkat, praktis dan tidak memerlukan waktu
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 79.
37
87
yang lama. Mereka mengikuti orang lain yang
diyakininya sebagai orang yang dapat
dipercaya, dan layak dijadikan panutan.
Mereka tidak bertanya tentang dalil, dasar,
dan alasan-alasannya. Mengikuti fatwa atau
pendapat orang lain tanpa mempertanyakan
dalil, dasar, atau alasannya disebut dengan
Taqlid.
Taqlid ini juga sudah berlaku sejak zaman
sahabat dulu bagi kalangan masyarakat awam.
Dan ada lagi sebagian orang yang lebih
terpelajar, lebih kritis, mempunyai dasardasar pengetahuan agama walaupun terbatas,
mereka seringkali menanyakan dalil, dasar
atau alasannya. Mereka ingin mengikuti fatwa
atau pendapat lain dengan mengetahui dalil,
ini disebut dengan Itba’. Namun ada juga
ulama-ulama yang mempersamakan antara
taqlid dengan itba’, karena dalam ayat alQur’an menyebutkan kata “yattabi’ una”
memiliki
konotasi
mengikuti
tanpa
mengetahui alasan dan dalilnya, seperti
terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 170:
‫ضيع أَ ۡج َر‬
َّ ‫ب َوأَقَامواْ ٱل‬
ِ َ‫َوٱلَّذِينَ ي َمسِكونَ بِ ۡٱل ِك ٰت‬
ِ ‫صلَ ٰوة َ إِنَّا َال ن‬
٣٧١ َ‫ۡٱلمصۡ ِل ِحين‬
Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah,"
88
mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami
Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati
dari (perbuatan) nenek moyang kami".
"(Apakah mereka akan mengikuti juga),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat
petunjuk?".
Mayoritas ulama madzhab, seperti imam Rafi’i, Ibnu
Hajib, al-Amidi, Kamal Hamam dan lain-lain
memilih pendapat yang membolehkan orang awam
atau orang yang tidak mampu berijtihad mengikuti
pendapat atau fatwa imam madzhab secara tidak tetap
dalam berbagai masalah. Dengan pendapat tersebut,
berarti seseorang dapat mengikuti madzhab tertentu
(madzhab Syafi’i misalnya), tetapi dalam masalahmasalah tertentu dia mengikuti fatwa madzhab lain
(madzhab Hambali misalnya), namun dia tetap
menyatakan dirinya bermadzhab Syafi’i. Sikap
demikian masih termasuk kategori bermadzhab bi
madzhab mu’ayyan.38
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 82.
38
89
Bermadzhab dapat dikelompokkan menjadi beberapa
tingkatan atau level (contohnya madzhab Syafi’i),
sebagai berikut:39
1. Taqlid kepada ulama Syafi’iyah. Anggapan
taqlid kepada imam Syafi’i selama ini, pada
hakikatnya merupakan taqlid kepada fuqaha
Syafi’iyah yang derajatnya jauh dari imam
Syafi’i.
2. Taqlid kepada imam Syafi’i secara
langsung. Ini merupakan level yang lebih
tinggi dari poin pertama. hal ini bisa
dilakukan dengan mengkaji kitab-kitab imam
Syafi’i secara langsung, seperti kitab al-Um,
al-Risalah, Ikhtilaf Ahli al-Hadits, dan lainlain.
3. Ittiba’ kepada Fuqaha Syafi’iyah atau
langsung kepada imam Syafi’i. Level ini
diatas level sebelumnya, karena sudah diikuti
dengan mengkaji dalil-dali dan alasannya.
4. Bermadzhab
fi
al-Manhaj.
Dengan
mengikuti metodologi atau manhaj yang
dipakai imam madzhab. Dalam tingkatan ini
seseorang boleh jadi megambil resiko untuk
berbeda pendapat dengan imam madzhabnya
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 88.
39
90
dalam tataran hasil penalarannya, meskipun
tetap terikat dengan manhajnya, dan dia tetap
menempatkan dirinya sebagai pengikut dan
pendukung madzhab Syafi’i.
5. Mengembangkan metodologi. Meskipun ia
sudah melakukan ijtihad, namun masih
banyak mengikuti prinsip-prinsip imam
madzhab tertentu dalam metorolodi maupun
fatwa, tapi dalam hal-hal tertentu bisa berbeda
kesimpulan pendapatnya. Tingkatan ini masih
disebut bermadzhab, dan dalam saat yang
sama juga sebagai mujtahid madzhab, atau
mujtahid fatwa, atau mujtahid tarjih. Ini
merupakan level tertinggi dalam bermadzhab.
Prof. Musthafa al-Khin, menyebutkan ada tujuh
sebab-sebab utama yang menimbulkan perbedaan
diantara ulama mujtahidin dalam melakukan
istinbath, yakni:40
1. Perbedaan bacaan (‫)إختالف القراءة‬
Seperti perbedaan bacaan sebuah kalimat dari
ayat
al-Qur’an
yang
mengakibatkan
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 110.
40
91
perbedaan dalam tata cara berwudlu. Ayat
tersebut ialah ayat 6 dari surat al-Maidah:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,
dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki, dan jika
kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu
sakit41 atau dalam perjalanan atau kembali
dari tempat buang air (kakus) atau
menyentuh42 perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, Maka bertayammumlah
dengan tanah yang baik (bersih); sapulah
mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.
Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi
dia hendak membersihkan kamu dan
menyempurnakan
nikmat-Nya
bagimu,
supaya kamu bersyukur.
Imam-imam ahli Qira’at seperti Nafi’, Ibnu
‘Amir, dan al-Kisa’i membaca “Arjulakum”
41
Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.
Artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang
sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi.
42
92
dengan menggunakan fathah pada huruf lamnya. Sedangkan yang lain seperti Ibnu Katsir,
Abu ‘Amr, dan Hamzah, membaca
“Arjulikum”, dengan kasrah di huruf lam-nya.
Mayoritas ulama (al-Jumhur) mennyetujui
bacaan yang menggunakan fathah (nashab),
dan berpendapat bahwa cara berwudlu harus
dengan “membasuh” kedua kaki sampai
dengan kedua mata kaki, tidak cukup hanya
dengan “mengusap” saja.
2. Tidak mengetahui adanya hadits. ( ‫اإلطالع على‬
‫)الحديثعدم‬
Sahabat-sahabat nabi memiliki pengetahuan
hadits yang berbeda. ada yang mengetahui
sedikit hadits, dan ada pula yang mengetahui
banyak hadits. Sebagai contoh masalah
sahnya puasa seseorang yang masih junub
(masih mempunyai hadits besar) sampai
kedahuluan
datangnya
waktu
subuh.
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a.
berkata: “Barang siapa yang sampai waktu
subuh masih junub, maka tidak boleh
berpuasa”. Waktu itu Abu Hurairah belum
mendengar apa yang disampaikan oleh Siti
Aisyah r.a. dan Ummu Salamah r.a. : “Bahwa
93
Nabi Muhammad masih junub, kemudian
beliau tetap melakukan puasa Ramadhan”.
Menurut riwayat ini, Abu Hurairah r.a.
kemudian mengubah pendapatnya setelah
mengetahui apa yang disampaikan oleh
Aisyah dan Ummu Salamah tersebut.
3. Keraguan terhadap kebenaran sebuah hadits (
‫)فى ثبوت الحديثأالشك‬
Para sahabat nabi tidak begitu saja melakukan
sesuatu karena adanya keterangan tentang
sunnah nabi, tetapi mereka lebih dulu
memastikan kebenaran keterangan tersebut.
Dalam menguji kebenaran keterangan
tersebut sering kali terjadi perbedaan
penilaian dan kesimpulan diantara para
sahabat dan para ulama.
Contohnya adalah tentang wajib atau tidaknya
qadla bagi orang yang makan atau minum
karena lupa pada siang hari di bulan
Ramadhan. Jumhur al-Ulama (Imam Hanafi,
Syafi’i, dan Ibnu Hambal) berpendapat,
bahwa orang makan atau minum karena lupa
pada siang hari di bulan Ramadhan, tidak
wajib qadla dan tibak perlu membayar kafarat
(denda), sesuai dengan hadits riwayat Abu
Hurairah r.a. yang berbunyi:
94
Barang siapa lupa dan dia sedang puasa,
kemudian dia makan atau minum, maka dia
supaya melanjutkan puasanya, karena
sebenarnya Allah-lah yang memberi makan
dan minum. (HR. Bukhari)
Namun Imam Malik mempunyai pendapat
lain, yaitu orang tersebut batal puasanya dan
wajib qadla. Alasannya adalah karena hadits
tersebut masih perlu ditafsir ulang lagi.
4. Perbedaan dalam Memahami dan
Menafsirkan Nash (‫) فى فهم النص وتفسيرهإختالف‬
Dalam kasus ini contohnya adalah ketika
khalifah Umar bin Khattab berpendapat
bahwa tanah hasil pengambil-alihan musuh di
Irak dan Mesir, yang diperoleh dengan
paksaan (dalam peperangan), tidak boleh
dibagi-bagikan kepada para prajurit yang ikut
perang sebagai “barang bergerak”, tetapi
ditahan sebagai kekayaan negara, dan
penggarapannya diserahkan kepada mantan
pemiliknya dengan membayar pajak bumi dan
hasil bumi untuk pendapatan negara. Namun
pendapat ini mendapat pertentangan dari
beberapa sahabat yang lain yang berpendapat
bahwa tanah-tanah tersebut harus dibagi-bagi
sebagai barang ghanimah.
95
5. Kerancuan makna dalam suatu kata ( ‫إلشتراك فى‬
‫)اللفظا‬
Seperti masalah waktu penyembelihan
binatang qurban atau dam, mayoritas ulama
sepakat waktunya yaitu pada tanggal 10, 11,
12, dan 13 Dzulhijjah, berdasarkan firman
Allah dalam surat al-Hajj ayat 28 :
Supaya mereka menyaksikan berbagai
manfaat bagi mereka dan supaya mereka
menyebut nama Allah pada hari yang Telah
ditentukan43 atas rezki yang Allah Telah
berikan kepada mereka berupa binatang
ternak44.
Maka
makanlah
sebahagian
daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah
untuk dimakan orang-orang yang sengsara
dan fakir.
Namun para ulama berbeda pendapat dalam
hal bolehnya disembelih binatang-binatang
Hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu
tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
43
yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatangbinatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.
44
96
qurban tersebut pada malam hari tanggal 10,
11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Maayoritas ulama
(Imam Abu Hanifah, imam Syafi’i, imam
Ahmad, imam Ishaq, dan imam Abu Tsur)
berpendapat bahwa penyembelihan binatangbinatang tersebut boleh dilakukan pada malam
hari. Namun imam syafi’i lebih jauh
berpendapat bahwa penyembelihan hewan
qurban pada malam hari adalah makruh.
Dilain pihak, imam Malik tidak membolehkan
penyembelihan binatang-binatang qurban
pada malam hari. Perbedaan ini terjadi karena
kata “Ayyam” mempunyai arti “siang dan
malam”, tapi juga mempunyai arti “siang”
saja.
6. Kontradiksi beberapa dalil (‫)تعارض األدلة‬
Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa
tayamum hanya cukup dengan sekali sentuhan
(pada debu), untuk wajah dan kedua tangan.
Pendapat ini banyak diikuti oleh para ahli
hadits. Alasan dari pendapat ini diambil dari
hadits yang disampaikan oleh Ammar bin
Yasir r.a. yang mengatakan: “Saya diutus oleh
rasulullah untuk suatu keperluan. Saya
sedanng junub dan tidak menemukan air
97
untuk mandi junub, maka saya bergulingguling diatas debu seperti binatang, kemudian
hal itu saya ceritakan kepada Rasulullah,
kemudian beliau bersabda: Kamu cukup
melakukan begini!, beliau memukul telapak
tangannya
ke
tanah/debu
kemudian
mengibaskannya, selanjutnya mengusapkan
bagian telapak tangan beliau kemudian ke
muka beliau”.
Tetapi madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi
beerpendapat bahwa tayamum itu harus
dengan dua kali pukulan, satu kali untuk
wajah dan satu kali lagi untuk kedua
tangan.dalilnya
adalah
hadits
yang
disampaikan oleh Ibnu Umar r.a. dan Abu
Umamah r.a. bahwa Rasulullah bersabda:
“Tayamum itu dua kali sentuhan / pukulan,
sekali sentuh untuk muka, dan sentuhan
lainnya untuk kedua tangan sampai dengan
kedua siku”.
7. Tidak adanya nash dalam suatu masalah ( ‫عدم‬
‫)وجود النص فى المسألة‬
Setelah nabi wafat, muncul beberapa masalah
yang ternyata belum ada nash dan ketetapan
hukum yang dibuat oleh nabi maupun oleh
wahyu. Contohnya adalah hak waris kakek
98
bersama keberadaan saudara-saudara si mayit
(mirats al-jaddi ma’al ikhwati). Dalam
masalah ini terdapat dua pendapat dikalangan
para sahabat kemudian berlanjut ke kalangan
para ulama, yaitu:
a. Abu Bakar Shidiq, Ibnu Abbas, Ibnu
Zubair, Muadz bin Jabal, abu Musa alAsy’ari, Abu Hurairah dan Aisyah
radhiallahu ‘anhum yang mengatakan
bahwa kakek lebih diutamakan dari pada
saudara mayit dalam hak waris. Jika ada
kakek bersama-sama saudara mayit, maka
kakek menutup hak waris saudara mayit
tersebut.
b. Pendapat Umar bin Khattab, Ali bin Abi
Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin
Mas’ud radiallahu ‘anhum mengatakan
bahwa kakek dan saudara-saudara si mayit
sama-sama mendapat hak waris.
99
Pasal 4
BELAJAR ISLAM, IMAN, DAN IHSAN
A. Pentingnya Agama
Manusia jelas tidak kuasa untuk menciptakan dirinya,
dan memang tidak sanggup untuk menjadikan
sesuatu untuk dirinya. Maka jelas bahwa dirinya dan
segala sesuatu yang menjadi keperluan hidupnya itu,
ada yang menciptakan. Itulah Tuhan semesta alam
yang disebut Allah.
Sudah tidak diragukan lagi dan tidak ada yang
menyangkal bahwa manusia mempunyai tabiat untuk
mementingkan
dirinya
sendiri
dibandingkan
kepentingan orang lain. Lebih jelasnya, manusia
mempunyai sifat tamak. Akibatnya, terjadilah
kekacauan dan perpecahan di kalangan manusia,
sebab yang satu ingin menguasai yang lain. Sejarah
telah membuktikan bahwa dunia ini telah lama
tenggelam di dalam kegelapan. Hukum yang berlaku
pada saat itu adalah hukum rimba, yakni siapa yang
kuat dia yang menang, dan manusia menghalalkan
segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
100
Untuk menjaga agar manusia dalam keadaan damai
dan aman, Tuhan lalu mengutus manusia pilihan,
yang membawa ajaran berupa hukum, ketetapan, dan
ketentuan Tuhan (Syariat) ke tengah-tengah mereka.
Syariat atau ketentuan Tuhan itu disampaikan oleh
nabi dan rasul yang berbeda di berbagai zaman. Di
mulai dari nabi Adam hingga nabi Muhammad.
Lantas, ajaran mana yang seharusnya kita ikuti?
Ajaran nabi Adam, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi
Isa, atau nabi Muhammad?
Salah satu asas dalam ilmu hukum dikenal sebuah
istilah Lex Posteriori Derogat Legi Priori yang
memiliki makna bahwa peraturan yang baru
menggantikan peraturan yang lama. Di dalam kaidah
agama pun, asas ini ternyata berlaku. Jika pembaca
merupakan orang yang fanatik terhadap nabi Adam,
ketika Tuhan mengutus nabi Nuh, maka mau tidak
mau pembaca harus menggunakan kaidah nabi Nuh
dalam beribadah kepada Tuhan. Begitu pun jika
pembaca adalah pengikut setia nabi Musa, jika Tuhan
mengutus Isa al-Masih, maka mau tidak mau
pembaca harus menggunakan Injil sebagai pegangan
pribadi. Pun demikian, ketika Tuhan mengutus orang
bernama Muhammad, maka seluruh ketentuan hukum
sebelum Muhammad, dinyatakan tidak berlaku.
101
Oleh karena itu, kita yang hidup di zaman setelah
nabi Muhammad, wajib hukumnya untuk menerima
apa yang memang menjadi ajaran nabi Muhammad.
Karena pada hakikatnya, ajaran setiap nabi tidak ada
yang saling bersinggungan. Antara satu ajaran nabi
dengan ajaran yang lainnya saling melengkapi antara
satu dengan yang lainnya. Dan ajaran nabi
Muhammad merupakan pelengkap dan penyempurna
bagi ajaran-ajaran sebelumnya.
B. Islam Agama yang Hak
Kita sering mendengar istilah “Hak Asasi Manusia”.
Istilah “Hak” memang sering sekali kita sebut dan
kadang menjadi bahan rujukan bagi setiap
permasalahan. Hanya saja kadang kita tidak
memahami hakikat dari pengertian “Hak” yang
dimaksud.
Dalam pengertian yang menjadi judul tersebut diatas,
istilah “Hak” yang dimaksud memiliki arti “Benar”.
Itu artinya, Islam adalah agama yang paling benar
dan yang paling sempurna ketimbang agama yang
lain. Ini merupakan sesuatu hal yan harus kita yakini.
Tidak ada agama yang lebih baik kecuali Islam. Tapi
walau begitu, sejatinya kita hanya meyakini ajaran
Islam sebagai ajaran yang hak, sementara dalam
102
masalah sosial, tidak dianjurkan bagi kita untuk
menghindari orang-orang non-Muslim. Dengan
kenyataan Islam sebagai agama yang paling hak,
bukan berarti kita haram melakukan jual beli dengan
orang non-Muslim, bukan berarti haram bagi kita
untuk bergaul dengan orang non-Muslim. Bukan itu
maksudnya. Biarkan masalah agama menggunakan
dalil “Lakum dinukum waliyadin”, sementara
masalah sosial kita menggunakan kaidah bahwa
manusia adalah makhluk sosial.
Ayat yang menjadi patokan inti untuk menyatakan
bahwa Islam adalah agama yang paling hak adalah
surat al-Imran ayat 19. Dikatakan disana bahwa
agama yang hak disisi Allah hanyalah Islam. Hal ini
sudah tidak ada lagi pertentangan dikalangan para
ulama. Jadi jelas, kita tidak perlu lagi meragukan
hakikat Islam sebagai agama yang paling benar.
C. Trilogi Agama
Ada tiga kaidah paling inti dalam ajaran agama ini,
yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya merupakan
penguat antara satu dengan yang lainnya. Ketiganya
memiliki prinsip dasar yang berbeda-beda, tapi
merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan.
103
Agama ini dibentuk oleh rukun-rukun Islam yang
salah satunya adalah membaca kalimatus syahadat.
Dengan membaca kalimat shahadat, maka orang
tersebut telah resmi menjadi seorang Muslim. Tapi
ternyata, menjadi Muslim saja belum lah cukup.
Orang tersebut harus memahami arti Iman, salah
satunya memahami Allah sebagai Tuhan. Maka
jadilah orang tersebut sebagai orang yang beriman.
Ternyata hal ini pun belum cukup, karena ada sebuah
kaidah satu lagi untuk menjadi penyempurna
keimanan seseorang, yaitu Ihsan.
Singkatnya bisa kita ambil sebuah kerangka
pemikiran, bahwa rukun agama ada 3, yaitu:
1. Islam;
2. Iman;
3. Ihsan.
D. Memahami Islam
Pengertian sederhana dari Islam adalah melaksanakan
dan menunaikan hukum-hukum Syariat yang dibawa
oleh nabi Muhammad. Ia merupakan agama yang
diterima di sisi Allah, dan yang dipilihNya untuk
hamba-hambaNya yang taat. Allah tidak akan
meridhai agama selain Islam.
104
Islam ini didirikan oleh 5 pilar inti, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Syahadat
Shalat
Zakat
Puasa
Haji
Rukun pertama dari 5 pilar tersebut adalah dua
kalimat syahadat. Untuk sahnya menjadi orang Islam,
mau tidak mau orang tersebut harus mengucapkan
dua kalimat syahadat. Ada dua kategori dalam
syahadat ini, yang pertama mempercayai akan
ketuhanan Allah dan mempercayai kenabian
Muhammad. Keduanya merupakan suatu rangkaian
padu yang tidak bisa dipisahkan.
Rukun yang kedua adalah mendirikan shalat. Ada 5
waktu yang menjadi kewajiban umat Muslim, yaitu
shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.
Shalat merupakan salah satu syi’ar agama yang
paling penting dan ibadah utama dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah.
Rukun Islam yang ketiga adalah zakat. Zakat
merupakan ibadah sosial yang paling penting dalam
dunia Islam. Dengan membayar zakat kepada orang
yang semestinya, membuat Islam merupakan agama
sosial yang mencintai sesama.
105
Rukun selanjutnya yang keempat adalah puasa. Puasa
yang dimaksud disini tentu saja puasa wajib yang
dilakukan di bulan Ramadhan selama satu bulan
penuh. Puasa diwajibkan oleh Allah kepada orang
yang memang sanggup untuk melaksanakannya.
Dan rukun terakhir dalam Islam adalah berhaji ke
Baitullah. Rangkaian haji ini merupakan
penyempurnaan dari ritual ibadah di zaman nabi
Ibrahim. Sama seperti halnya puasa dan zakat, ibadah
haji ini hanya diwajibkan kepada mereka yang
memang sanggup menjalankannya, baik dalam
masalah kesehatan maupun dari segi materi.
E. Memahami Iman
Iman adalah membenarkan dengan sungguh-sungguh
segala sesuatu yang diketahui sebagai berita yang
dibawa oleh nabi Muhammad saw. Dikatakan pula
bahwa Iman ini harus dibenarkan dengan hati,
diperkuat dengan ucapan, dan diamalkan dengan
perbuatan.
Setidaknya ada 6 rukun Iman yang sudah menjadi
patokan umat Muslim di seluruh dunia, yaitu:
1. Iman kepada Allah;
2. Iman kepada malaikat-malaikat Allah;
3. Iman kepada kitab-kitab Allah;
106
4. Iman kepada para nabi dan rasul Allah;
5. Iman kepada datangnya hari kiamat;
6. Iman kepada Qadla dan Qadar Allah.
Yang dimaksud dengan Iman kepada Allah adalah
membenarkan adanya Allah dengan cara meyakini
dan mengetahui bahwa Allah wajib ada-Nya karena
zat-Nya sendiri, mengakui ke-esaan Allah, mengakui
ke-mahakuasaan Allah, serta mengakui dan
mengimani sifat-sifat wajib bagi Allah yang
jumlahnya 20.
Sementara iman kepada malaikat, bahwasanya kita
harus mengakui dan mempercayai bahwa Allah telah
menciptakan malaikat dari cahaya untuk menjadi
pengawal-pengawalNya. Jumlah malaikat tidak ada
yang mengetahui kecuali Allah. Hanya saja, kita
diwajibkan untuk mengimani malaikat yang
jumlahnya 10.
Begitu pun dengan iman kepada kitab-kitab Allah
serta kepada nabi dan rasul yang diutus Allah. Kita
diwajibkan untuk menngetahui 25 nabi dan rasul
serta juga wajib untuk mengetahui 4 kitab yang
diturunkan Allah kepada nabi dan rasulNya, yaitu
kitab Zabur kepada nabi Daud, kitab Taurat kepada
nabi Musa, kitab Injil kepada nabi Isa, dan kitab alQur’an kepada nabi Muhammad.
107
Kita juga diwajibkan untuk mengimani kedatangan
hari kiamat. Termasuk didalamnya kita harus
mengakui dan meyakini akan skenario sebelum hari
kiamat, seperti munculnya al-Mahdi, turunnya nabi
Isa, keluarnya Dajjal, keluarnya Yakjuj Makjuj, dan
tanda-tanda besar yang lainnya, serta kita juga
diwajibkan untuk meyakini hari setelah kiamat, yaitu
hari kebangkitan, hari hisab, dan hari timbangan atau
al-mizan.
Sementara yang terakhir adalah kita diwajibkan
untuk meyakini bahwa Allah telah menentukan
kebaikan dan keburukan sejak azali, sebelum
manusia diciptakan. Karena itu, tidak ada suatu pun
yang baik dan buruk, yang bermanfaat dan yang
mudarat, kecuali atas ketetapan Allah Azza wa Jalla.
Dengan demikian, apa yang dikehendaki oleh Allah
adalah sesuatu hal yang sudah ada dan sudah pasti
akan terjadi.
F. Memahami Ihsan
Rukun agama yang ketiga adalah Ihsan. Ihsan adalah
melaksanakan ibadah dalam bentuknya yang
diperintahkan oleh Allah, seakan-akan kita melihat
dan menyadari keberadaan Allah. Seolah-olah dalam
beribadah itu, kita merasa menghadirkan kebesaran
108
dan keagungan Allah, merasa melihat Allah. Hanya
saja, memang tingkatan Ihsan yang seperti ini
merupakan tingkatan yang sudah level tinggi. Itu
artinya, harus melalui perjalanan yang panjang untuk
menuju sikap Ihsan yang demikian.
Tapi tidak usah khawatir, sesuai dengan sabda nabi,
bahwa “jika engkau tidak melihatNya, maka Dia
pasti melihatmu”. Hadits ini mungkin lebih cocok
untuk kita yang dalam beribadah tidak terlalu
khusyuk.
Jika kita belum sanggup untuk
menghadirkan Allah dalam setiap ibadah kita, atau
kita kesulitan untuk melihat Allah, maka hendaknya
kita harus meyakini bahwa Allah tentu akan melihat
kita kapanpun dan dimanapun.
Itu artinya, setiap gerak-gerik kita, setiap amal
perbuatan kita, sedikitpun tidak ada yang luput dari
pengetahuan Allah. Sikap seperti ini merupakan
penyempurna dari keislaman dan keimanan
seseorang. Dengan menyadari akan kehadiran Allah,
maka orang tersebut akan melakukan setiap
ibadahnya hanya semata-mata untuk Allah.
Lebih jauh lagi pemahaman Ihsan ini bisa melahirkan
ajaran-ajaran tasawwuf yang merupakan ajaran
filsafati di dalam Islam. Dengan memahami hakikat
ketuhanan, hakikat hidup, dan hakikat dirinya sebagai
manusia, orang-orang sufi biasanya memiliki
109
kebijaksanaan yang tinggi dalam menghadapi setiap
permasalahan hidup di dunia yang fana ini.
Dalam puncaknya, ilmu Ihsan ini juga yang
melahirkan sifat zuhud, sabar, syukur, ikhlas,
tawakal, ridha, dan mahabbah (cinta) kepada Allah
sebagai Sang Pencipta yang tidak memiliki
pembanding. Wallahu A’lam.
110
Pasal 5
MENGENAL ALLAH AZZA WA JALLA
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwasanya
alam yang begitu besar ini tentu ada yang
menciptakan. Hal yang tidak logis jika alam ini hadir
dengan sendirinya. Bagaimana mungkin bumi ini
diciptakan dengan akurasi yang luar biasa, tidak
terlalu dekat dengan matahari, juga tidak terlalu jauh
dengan matahari. Jika bumi diciptakan lebih dekat
dari yang sekarang dengan matahari, maka suhu bumi
ini tidak akan mungkin bisa ditinggali manusia,
karena saking panasnya. Pun demikian, jika bumi
diciptakan lebih jauh dari yang sekarang,
konsekuensinya adalah suhu bumi akan sangat
dingin, dan tentu saja tidak bisa dihuni oleh manusia.
Keteraturan-keteraturan alam raya ini telah
mengundang spekulasi universal di dalam diri
manusia, bahwa alam raya ini tentulah ada yang
menciptakan. Hampir semua manusia antar generasi
menyadari adanya dzat yang maha kuasa yang
menciptakan dirinya, juga menciptakan alam
111
semesta. Maka kesepakatan itupun muncul, bahwa
pencipta manusia dan alam semesta ini adalah Tuhan.
Hanya saja, perkembangan teori tentang Tuhan ini
terus berbeda antara satu zaman dengan zaman yang
lain. Setiap generasi bertransformasi terhadap
penafsiran mereka terhadap Tuhan yang dimaksud.
Ada yang menafsirkan Tuhan sebagai kumpulan para
dewa, yang setiap dewa merupakan penjelmaan
Tuhan untuk mengatur sebuah spesifikasi tertentu.
Ada dewa yang kerjaannya khusus untuk mengawasi
lautan (dewa Poseidon jika di Yunani), menjadi
pemimpin langit (dewa Zeus), dan juga penguasa
alam neraka (dewa Hades). Orang-orang itu pun tidak
puas hanya dengan memiliki sedikit dewa, maka
mereka menciptakan tokoh-tokoh baru untuk
menjadikan dewa dalam spesifikasi yang lebih rinci.
Bahkan untuk mempercantik cerita, mereka
menggabungkan teori manusia dengan dewa, hingga
terdengarlah manusia setengah dewa seperti Herkules
misalnya.
Dibelahan dunia yang lain, ada juga yang
memvisualisasikan Tuhan terhadap realitas benda
yang
ada
disekelilingnya.
Ada
yang
memvisualisasikan Tuhan dengan api, dengan
matahari, dengan patung, bahkan dengan roti yang
kemudian ia makan sendiri.
112
Diwilayah yang lain, ada juga yang tidak mau
membicarakan mengenai hakikat Tuhan. Mereka
mempercayai adanya dzat yang menciptakan alam
raya ini, tapi mereka tidak mau ambil pusing untuk
mengkaji hakikat Tuhan. Orang-orang seperti ini
yang kita sebut sebagai penganut ajaran Agnostik.
Banyak dari kita yang tidak bisa membedakan antara
Agnostik dengan Ateisme. Padahal keduanya berbeda
jauh sekali. Dan penganut Ateisme di dunia ini
sejatinya sangat sedikit sekali jumlahnya.
Semakin kesini, dunia semakin maju dan modern.
Ideologi materialisme menyebar hingga ke akar-akar
dan sendi-sendi kehidupan manusia. Implikasinya
hidup manusia cenderung hedonis. Semua mendewadewakan kekayaan dan kesenangan hidup. Hingga
tak heran, di zaman ini banyak yang mendewakan
uang,
mendewakan
kekayaan,
mendewakan
kecantikan, dan yang lainnya.
Agak sulit memang bagi kita untuk memahami
hakikat Tuhan yang sebenarnya, karena memang
Tuhan tidak dapat dilihat oleh kita. Tuhan tidak bisa
dideteksi oleh teknologi yang kita ciptakan. Hanya
saja, Tuhan tentu akan mengutus beberapa orang
untuk menyampaikan kehadiran diriNya.
Dan melalui nabi dan rasul lah kita memahami
hakikat Tuhan yang sebenarnya. Setiap nabi dan rasul
113
dari zaman Adam hingga Muhammad sejatinya
menceritakan Tuhan yang sama, menceritakan
keberadaan Tuhan yang sama, hanya mungkin
namanya berbeda, disesuaikan dengan lidah orang
dizamannya.
Hingga tibalah orang yang lahir di gurun pasir, yang
tidak bisa membaca ini, bernama Muhammad,
menyampaikan kepada kita bahwa Tuhan itu hanya
ada satu. Hal yang sangat kontroversial, karena pada
saat itu Tuhan digambarkan seperti dewa yang dibuat
dengan berhala-berhala yang begitu banyak.
Banyak yang menolak pemikiran Muhammad ini,
hanya saja, semakin mereka menolak fakta ini,
mereka semakin ragu dengan pendapat mereka
sendiri. Justru tidak logis jika Tuhan itu berjumlah
banyak. Hal yang tidak masuk akal, karena jika
Tuhan berjumlah lebih dari satu, tentu akan terjadi
perselisihan diantara mereka sendiri.
Maka hal yang sudah tidak bisa diragukan lagi,
bahwa Tuhan itu satu. Hanya satu.
A. Allah Tuhan yang Hak
Kita tidak perlu memperdebatkan nama Allah. Jangan
terkecoh dengan nama Allah dalam bahasa Ibrani
maupun Arab. Kita tidak perlu lagi membahas hal
114
semacam itu. Yang jelas, bahasa universal kita saat
ini untuk menggambarkan Tuhan adalah nama Allah,
sesuai dengan apa yang disampaikan oleh nabi
Muhammad.
Sebelumnya kita sudah membahas bahwa Islam ini
adalah agama yang paling hak. Oleh karena itu,
sumber yang bisa kita rujuk adalah al-Qur’an sebagai
firman Tuhan.
Allah menjelaskan kepada kita melalui firmanNya,
bahwa Allah itu satu. Allah tidak beranak dan tidak
pula diper-anak-kan. Allah juga menjelaskan bahwa
tidak ada satu-pun yang setara denganNya. Itu
artinya, tidak ada satu pun makhluk yang
menyamaiNya, dalam segala apapun. Dalam
kekuasaan, tidak ada satu pun makhluk yang bisa
menandingi kekuasaan Allah. Dalam masalah ilmu,
tidak ada yang jauh lebih berilmu ketimbang Allah.
Allah adalah segalanya. Tidak ada yang benar-benar
bisa menandingi ke-Maha Kuasaan Allah.
Dalam istilah ilmu kalam, ke-Maha Esaan Allah
mencakup tiga macam kategori, yaitu:
1. Wahdaniyat adz-Dzat (Allah Esa dalam
dzatNya), dalam arti dzat Allah tidak terdiri
dari komponen-komponen, atau tidak terdiri
115
dari kesatuan oknum, tidak ada Trinitas
seperti dalam teologi Kristen.
2. Wahdaniyat as-Shifat (Allah Esa dalam
sifatNya), tidak ada yang menyerupai dan
menyamai sifat-sifat Allah. Kekuasaan Allah
tidak ditandingi oleh kekuasaan apapun.
Kehendak Allah tidak dapat dihalangi oleh
kehendak siapapun. Pengetahuan Allah tidak
dapat diukur dengan pengetahuan siapapun
dan kapanpun.
3. Wahdaniyat all-Af’al (Allah Esa dalam
ciptaanNya), tidak dicampuri oleh siapapun,
berbuat apa saja, mengatur apa saja,
memusnahkan apa saja, atau menyelamatkan
siapa saja yang dikehendaki. Allah tidak
membutuhkan mitra kerja dan tidak akan ada
yang dapat menolakNya.
B. Asmaul Husna
Allah memiliki nama-nama lain yang sangat indah.
Setiap nama mewakili dari setiap sifat Allah yang
Maha Sempurna. Bahkan dalam beberapa riwayat,
nama-nama Allah ini memiliki kelebihan-kelebihan
tertentu.
116
Setidaknya ada 99 nama Allah yang kita kenal.
Pembaca bisa mencari 99 nama ini dalam referensi
yang lain. Tapi intinya, ajaran Ahlussunnah wal
Jamaah mengakui kebenaran dari 99 nama Allah
yang indah ini.
C. Sifat-Sifat Allah
Akidah Ahlussunnah wal Jamaah mempercayai
bahwa ada sifat yang wajib adanya untuk Allah, sifat
yang mustahil bagiNya, juga sifat yang jaiz.
Setidaknya ada 20 sifat wajib bagi Allah yang wajib
kita ketahui. Kedua puluh sifat tersebut terbagi
kedalam 4 bagian, yaitu:
1. Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menerangkan
tentang adanya Allah. Terdapat 1 sifat dalam
kategori ini, yaitu sifat Wujud.
2. Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menolak atau
sifat-sifat yang menerangkan sesuatu hal yang
tidak layak ada dalam dzat Allah. Terdapat 5
sifat dalam kategori ini, yaitu sifat Qidam;
Baqa; Mukhalafatu lil Hawadits; Qiyamuhu bi
Nafsihi; Wahdaniyat.
3. Sifat Ma’ani, yaitu sifat yang merupakan
bentuk dari ke-Maha Kuasaan Allah. Terdapat
117
7 sifat dalam kategori ini, yaitu sifat Qudrat;
Iradat; Ilmu; Hayat; Sama’; Bashar; Kalam.
4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu sifat-sifat yang
menjadi perwujudan dari adanya sifat Ma’ani.
Dengan kata lain, sifat Ma’nawiyah
merupakan penjelas dari sifat Ma’ani.
Terdapat 7 sifat dalam kategori ini, yaitu sifat
Kaunuhu Qadiran; Kaunuhu Muridan;
Kaunuhu ‘Aliman; Kaunuhu Hayyan;
Kaunuhu Sami’an; Kaunuhu Bashiran;
Kaunuhu Mutakalliman.
Allah memiliki 20 sifat wajib yang harus kita ketahui.
Ke-20 sifat ini wajib adanya bagi Allah. Berikut 20
sifat wajib bagi Allah:
1. Wujud (Ada);
2. Qidam (Tidak ada permulaan);
3. Baqa’(Kekal);
4. Mukhalafatuhu Lilhawadith (berbeda dengan
makhlukNya);
5. Qiyamuhu Binafsihi (Allah berdiri sendiri);
6. Wahdaniyyah (Tunggal/Esa);
7. Qudrat (Berkuasa);
118
8. Iradah (Berkehendak);
9. Ilmu (Mengetahui);
10. Hayat (Hidup);
11. Sama’ (Mendengar);
12. Basar ( Melihat );
13. Kalam (Berbicara / Berfirman);
14. Kaunuhu Qadirun;
15. Kaunuhu Muridun;
16. Kaunuhu ‘Alimun;
17. Kaunuhu Hayyun;
18. Kaunuhu Sami’un;
19. Kaunuhu Basirun;
20. Kaunuhu Mutakallimun.
Setelah kita mengetahui Allah itu memiliki 20 sifat
wajib, maka berarti Allah juga memiiki 20 sifat
mustahil yang merupakan kebalikan dari 20 sifat
wajib tersebut. 20 sifat mustahil bagi Allah antara
lain :
1. ‘Adam, artinya tiada (Bisa mati);
2. Huduth, artinya baharu (Bisa di perbaharui);
119
3. Fana’, artinya binasa (Tidak kekal/mati);
4. Mumathalatuhu
Lilhawadith,
menyerupai akan makhlukNya;
artinya
5. Qiyamuhu Bighayrih, artinya berdiri dengan
yang lain (Memiliki sekutu);
6. Ta’addud, artinya berbilang–bilang (Lebih
dari satu);
7. ‘Ajz, artinya lemah (Tidak kuat);
8. Karahah, artinya terpaksa (Bisa di paksa);
9. Jahl, artinya jahil (Bodoh);
10. Maut, artinya mati (Bisa mati);
11. Syamam, artinya tuli;
12. ‘Umy, artinya buta;
13. Bukm, artinya bisu;
14. Kaunuhu ‘Ajizan, artinya lemah (dalam
keadaannya);
15. Kaunuhu Karihan, artinya terpaksa (dalam
keadaannya);
16. Kaunuhu Jahilan,
keadaannya);
artinya
jahil
(dalam
17. Kaunuhu Mayyitan, artinya mati (dalam
keadaannya);
120
18. Kaunuhu Asam,
keadaannya);
artinya
tuli
(dalam
19. Kaunuhu A’ma,
keadaannya);
artinya
buta
(dalam
bisu
(dalam
20. Kaunuhu Abkam,
keadaannya).
artinya
Sifat Jaiz merupakan sifat yang merupakan
kewenangan mutlak Allah. Tidak ada satu pun pihak
yang bisa mengintervensi dari apa yang dikehendaki
oleh Allah. Jika Allah ingin menciptakan A, maka
jadilah A. Jika Allah tidak ingin menciptakan B,
maka B tidak akan terbentuk sama sekali. Sifat Jaiz
ini benar-benar merupakan wewenang mutlak dari
Allah Azza wa Jalla.
Sifat jaiz ini adalah Fi kulli mumkinin au tarkuhu.
Artinya Allah berbuat sesuatu tidak ada yang
menyuruh dan tidak ada yang melarang. Dalam
menciptakan segalanya, mutlak merupakan kehendak
Allah.
121
D. Allah Ada Tanpa Dimensi
Sudah penulis singgung di pembahasan sebelumnya,
bahwa ada 2 golongan besar dalam memahami
teologi Islam. Satu golongan merupakan golongan
rasionalisme Islam (salah satu kelompoknya adalah
Muktazilah, atau transformasi sekarang bisa juga
JIL), sementara satu golongan lainnya adalah
golongan tekstualis (salah satunya adalah golongan
Salafi Wahabi).
Jika pembaca searching di internet, pembaca akan
menemukan banyak sumber yang mengatakan bahwa
Allah bersemayam di atas Arsy. Tidak aneh memang,
karena media berbahasa Indonesia sudah dikuasai
oleh orang-orang Salafi Wahabi. Kelompok ini
memang sangat gemar berdakwah, walau kadang
kebablasan dan terkesan menghalalkan segala cara.
Hal yang biasa disuarakan oleh golongan Salafi
Wahabi adalah bahwa Allah bersemayam di atas
Arsy. Salah satu dalil naqlinya adalah dalam surat alA’raf ayat 54. Disebutkan disana bahwa Allah
bersemayam di atas Arsy. Golongan Salafi Wahabi
tidak mau ambil pusing untuk menafsirkan ayat ini.
Mereka langsung menelannya mentah-mentah.
Padahal golongan Ahlussunnah wal Jamaah tidak
menyetujui sikap seperti itu. Menurut ulama
122
Ahlussunnah wal Jamaah, ayat tersebut wajib di
tafsirkan lebih jauh. Mengapa? Karena ayat ini
bersifat ambigu, memiliki makna yang kompleks.
Ada substansi makna yang ingin disampaikan oleh
Allah melalui ayat ini. Dengan hanya memahami ayat
tersebut tanpa adanya kajian atau tafsir, maka justru
akan membuat hakikat Allah semakin tidak jelas.
Dalam definisi Ahlussunnah wal Jamaah, terdapat
dua pandangan terhadap ayat—ayat mutasyabihat
(ayat-ayat yang mengandung arti ganda) di dalam alQur’an, terutama yang berkaitan dengan sifat Allah,
salah satunya ayat berikut:
ۡ ‫ض ِفي ِست َّ ِة أَي َّٖام ث َّم‬
َّ ‫ِإ َّن َربَّكم‬
‫ٱست ََو ٰى َعلَى‬
ِ ‫س ٰ َم ٰ َو‬
َّ ‫ٱلِل ٱلَّذِي َخلَقَ ٱل‬
َ ‫ت َو ۡٱأل َ ۡر‬
ۡ
ۡ
َّ ‫ار َيطلبهۥ َحثِي ّٗثا َوٱل‬
‫وم‬
ِۖ ِ ‫ۡٱل َع ۡر‬
َ ‫ش ي ۡغشِي ٱلَّ ۡي َل ٱلنَّ َه‬
َ ‫ش ۡم‬
َ ‫س َوٱلقَ َم َر َوٱلنُّج‬
َّ َ‫ارك‬
٤٤ َ‫ٱلِل َربُّ ۡٱل ٰ َعلَ ِمين‬
ِ ِۢ ‫س َّخ ٰ َر‬
َ ‫م‬
َ ‫ت ِبأ َ ۡم ِر ۗٓ ِٓۦه أ َ َال لَه ۡٱلخ َۡلق َو ۡٱأل َ ۡم ۗٓر ت َ َب‬
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu
dia bersemayam di atas 'Arsy45. dia menutupkan
malam kepada siang yang mengikutinya dengan
cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan
dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada
Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita
imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
45
123
perintah-Nya.
Ingatlah,
menciptakan
dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah,
Tuhan semesta alam. (QS. al-A’raf : 54)
1. Dalam generasi salaf, mereka mempercayai
ayat tersebut dan membenarkannya, tanpa
mau
banyak
mendiskusikan
dan
memperdebatkan arti sebenarnya. Imam
Malik pernah ditanya tentang arti kata istawa
(bersemayam) bagi Allah. Lalu beliau
menjawab:
. ‫ واإليمان به واجب‬. ‫ والكيف مجهول‬. ‫اإلستواء معلوم‬
‫والسؤال عنه بدعة‬
Kata istawa itu sudah dimaklumi artinya.
Adapun bagaimana caranya tidak ada yang
tahu. Iman terhadap kebenaran ayat tersebut
adalah wajib. Sedangkan mempertanyakan
masalah tersebut termasuk bid’ah.
Sikap menyerahkan arti yang hakiki dari ayat
mutasyabihat tersebut kepada Allah dan
memberikan makna ayat-ayat tersebut secara
harfiyah dengan istilah bila kaifa wa la lima
(tanpa bagaimana dan tanpa mengapa),
disebut dengan istilah tafwidh (penyerahan
124
makna secara total kepada Allah). Sikap ini
dipilih para salaf dengan alasan:46
a.
Semua masalah yang berkaitan dengan
Allah dan sifat-sifatNya berada diluar
jangkauan otorita dan kesanggupan
akal yang tidak mungkin dilakukan
oleh manusia.
b.
Pembicaraan yang spekulatif dalam
pemberian makna ayat-ayat tersebut
tidak
memberikan
keuntungan
(maslahat) bagi umat Islam. Namun
perlu diperhatikan disini, bahwasanya
pemaknaan harfiyah yang dilakukan
oleh generasi salaf sama sekali
berbeda dari pemaknaan sifat-sifat
makhluk, dan menolak pendapat
golongan
Musyabbihah
yang
Mujassim (menggambarkan Allah
sebagai jisim).
2. Adapun generasi khalaf, yang muncul pada
abad ke III Hijriah, ditengah-tengah maraknya
pergolakan kehidupan intelektual umat Islam
dengan masuknya pengaruh rasionalitas
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 9.
46
125
melalui studi filsafat dari berbagai aliran yang
didukung oleh para penguasa pemerintah
(bani Abbasiyah). Maka generasi khalaf
menerima penggunaan dalil-dalil aqli
(argumentasi rasional) disamping dalil naqli.
Khusus menghadapi ayat-ayat mutasyabihat,
generasi khalaf tidak terbatas melakukan
pendekatan tafwidh (penyerahan total) tetapi
juga
menggunakan
penafsiran
yang
dipandang lebih sesuai dengan ke-Maha
Sucian Allah, dan menjauhkan dari sikap
penyerupaan (tasybih) terhadap Allah dengan
sfat-sifat makhlukNya. Misalnya kata
yadullah (tangan Allah) diartikan dengan
kekuasaan Allah, istawa dengan mengatur,
ainullah (mata Allah) diartikan dengan
pengawasan Allah, dan yang lainnya. Metode
yang digunakan seperti ini disebut dengan
istilah Ta’wil.
Dalam membandingkan dua model pendekatan ini
(salaf dan khalaf), syekh Hasan Mansur, syekh Abdul
Wahab dan Syekh Musthafa ‘Anani yang merupakan
penulis kitab ad-Dien al-Islami menyimpulkan
bahwa:
‫ وطريقة الخلف احكم‬. ‫طريقة السلف اسلم‬
126
Cara salaf lebih selamat, dan cara khalaf lebih kuat.
Sudah kita pelajari sebelumnya bahwa salah satu sifat
Allah adalah Mukhalafatu lil hawadits, berbeda
dengan makhlukNya.
Kita ketahui bersama bahwa dimensi ruang dan
waktu merupakan kaidah yang hanya berlaku bagi
makhluk. Setiap makhluk Allah, entah itu yang nyata
maupun yang ghaib, tentu akan dipengaruhi oleh
ruang dan waktu. Pembaca yang sekarang sedang
membaca tulisan ini, pasti sedang berada di suatu
tempat (dimensi ruang) dan pada saat yang
bersamaan, jam dinding terus berputar (dimensi
waktu).
Tapi hal ini berbeda dengan Allah. Menurut ulamaulama Ahlussunnah wal Jamaah, Allah tidak
dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu
merupakan dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan.
Jika suatu benda dipengaruhi oleh ruang, maka secara
otomatis benda tersebut juga dipengaruhi oleh waktu.
Begitupun dengan Allah. Andaikan Allah
bersemayam di atas Arsy, itu artinya Allah
dipengaruhi oleh dimensi ruang. Jika hal itu terjadi,
secara otomatis Allah juga dipengaruhi oleh dimensi
waktu. Jika Allah sudah dipengaruhi oleh waktu,
127
maka Allah memiliki awal dan memiliki akhir.
Sementara hal itu mustahil bagi Allah.
Lagi pula, kita mempercayai bahwa Arsy adalah
sesuatu hal yang baru, sesuatu hal yang diciptakan
Allah. Andaikan Allah bersemayam di atas Arsy, lalu
dimana posisi Allah sebelum Arsy diciptakan? Hal
ini jauh dari logika. Orang-orang Salafi Wahabi
memang hanya mengenal dalil naqli, dan
menghilangkan fungsi akal.
Maka ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah
menafsirkan bahwa ayat yang mengatakan Allah
bersemayam di atas Arsy, merupakan visualisasi akan
ketinggian dan ke-maha kuasaan Allah. Allah
merupakan khalik yang memiliki derajat yang jauh
lebih tinggi ketimbang makhlukNya. Maka dari itu,
ayat ini wajib hukumnya di tafsir, karena jika tidak,
justru akan membuat dzat Allah semakin tidak jelas.
Tapi penulis juga tidak menyangkal, ada beberapa
ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang mengakui
bersemayamnya Allah di atas Arsy. Hanya saja
ulama-ulama tersebut tidak meyakini Allah akan
bersemayam di atas Arsy selamanya. Di dalam ayat
tersebut juga diceritakan, setelah Allah menciptakan
alam raya ini, kemudian Dia bersemayam di atas
Arsy. Itu artinya, kalaupun Allah bersemayam di atas
Arsy, Allah akan bersemayam selama Arsy itu ada.
128
Sementara kita tahu Arsy hanyalah makhluk yang
diciptakan oleh Allah. Jadi pada intinya, Arsy
bukanlah sebuah sandaran yang hak bagi Allah,
karena Allah diatas segala sesuatu. Bahkan Arsy
hanyalah bagian terkecil saja dari ciptaan Allah.
Allah mampu menciptakan hal yang jauh lebih hebat
ketimbang Arsy.
E. Allah Berbeda dengan Makhluk
Selain ayat diatas, ayat lain yang juga menjadi salah
satu kebodohan orang-orang Salafi Wahabi adalah
ayat 10 surat al-Fath. Disebutkan disana bahwa
“Tangan Allah di atas tangan mereka”. Lagi-lagi
orang Salafi Wahabi tidak mau menafsirkan ayat-ayat
semacam ini. Alhasil mereka mempercayai bahwa
Allah itu memiliki tangan. Hal yang secara logika
tidak masuk akal.
Maka
Ahlussunnah
wal
Jamaah
langsung
memberikan tafsir terhadap ayat-ayat semacam ini.
Tafsiran ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah
biasanya membuat generalisasi terhadap ayat tersebut
agar membuat maknanya menjadi luas. Istilah
“tangan” merupakan kata yang maknaya sempit.
Maka Ahlussunnah wal Jamaah menafsirkan kata
129
“tangan” dalam
“kekuasaan”.
ayat
tersebut
dengan
istilah
Tafsiran yang jauh lebih rinci adalah “Orang yang
berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya
berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan
Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi
maksud “tangan Allah di atas mereka” ialah untuk
menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama
dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah
di atas tangan orang-orang yang berjanji itu.
Hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha Suci dari
segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.”
F. Allah Maha Perkasa
Dengan membatasi Allah hanya sebagai Tuhan yang
bersemayam di atas Arsy (dipengaruhi oleh dimensi
ruang), juga membatasi Allah sebagai Tuhan yang
memiliki tangan (sama dengan makhlukNya), maka
secara tidak langsung, golongan semacam ini
meragukan ke-maha kuasaan Allah.
Dalil naqli memang penting, karena al-Qur’an adalah
satu-satunya sumber yang paling autentik dari Tuhan.
Tapi kita juga harus paham bahwa Tuhan memiliki
bahasa komunikasi yang sangat indah, sehingga
130
menggunakan
kaidah-kaidah
sastra.
Istilah
bersemayam di atas Arsy, kemudian istilah tangan,
merupakan bagian dari komunikasi Allah untuk
menggambarkan diriNya sebagai Tuhan Yang Maha
Perkasa.
Ahlussunnah wal Jamaah, baik Asy’ariyah maupun
Maturidiyah sepakat, bahwa orang-orang mukmin
mendapat kesempatan melihat Allah di akhirat.47
Dasar naqli dari pendapat ini antara lain firman Allah
dalam al-Qur’an:
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu
berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka Melihat.
(QS. al-Qiyamah : 22-23)
Juga didasarkan pada hadits yang menyatakan
bahwa:
. ‫ ال تضارون فى رؤيته‬. ‫ترون ربكم كما ترون القمر ليلة البدر‬
Kamu sekalian akan melihat Tuhan kalian seperti
kamu sekalian melihat bulan pada waktu bulan
purnama. Tidak ada bahaya dalam melihat-Nya.
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 38.
47
131
Pasal 6
MENDALAMI PARA MALAIKAT
Salah satu rukun iman yang harus kita percayai
adalah iman atau meyakini akan adanya malaikatmalaikat Allah. Malaikat ini merupakan makhluk
yang paling setia di sisi Allah dan dianggap sebagai
tentara Allah yang siap bertempur jika memang
diperintahkan oleh Allah. Malaikat juga digambarkan
sebagai makhluk yang tidak memiliki nafsu, artinya
tidak ada sama sekali pembangkangan terhadap
perintah Allah.
Dalam bahasa Arab, kata “malaikat” (‫)مالئكة‬
merupakan jamak dari kata “malak” (‫ )ملك‬yang
artinya: memiliki; menguasai; dan memerintah. Jadi
malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh pada
ketentuan dan perintah Allah. Malaikat dalam Islam,
merupakan hamba dan ciptaan Allah yang dijadikan
dari nur atau cahaya, merupakan makhluk yang mulia
dan terpelihara daripada maksiat. Mereka tidak
berjenis kelamin, tidak bersuami atau isteri, tidak
memiliki ibu atau bapak dan tidak beranak. Mereka
tidak tidur dan tidak makan serta tidak minum.
132
Mereka mampu menjelma dengan berbagai macam
rupa yang dikehendaki dengan izin Allah.
‫ارة‬
َ ‫ٰ ٓيَأَيُّ َها ٱ َّلذِينَ َءا َمنواْ ق ٓواْ أَنف‬
َ ‫سك ۡم َوأ َ ۡه ِليك ۡم ن َّٗارا َوقودهَا ٱلنَّاس َو ۡٱل ِح َج‬
َّ َ‫د َّال يَعۡ صون‬ٞ ‫ظ ِشدَا‬ٞ ‫َعلَ ۡي َها َم ٰ ٓلَئِكَة ِغ َال‬
َ‫ٱلِلَ َما ٓ أ َ َم َره ۡم َويَ ۡف َعلونَ َما ي ۡؤ َمرون‬
٦
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
٨٩ َ‫أ َ َو أ َ ِمنَ أ َ ۡهل ۡٱلق َر ٰ ٓى أَن َي ۡأتِ َيهم َب ۡأسنَا ض ّٗحى َوه ۡم َي ۡل َعبون‬
Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikatmalaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,
Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orangorang kafir. (QS. al-Baqarah : 98)
A. Definisi Malaikat
Dalam Islam, malaikat (bahasa Arab: ‫مالك‬malāk;
jamak: ‫ مالًئِكة‬mala'ikah) adalah makhluk surgawi,
yang diciptakan dari asal mula yang cerah
oleh Allah untuk melakukan tugas-tugas tertentu
133
yang telah diberikan kepadanya. Malaikat dari alam
malaikat adalah bawahan dalam hierarki yang
dipimpin oleh salah satu malaikat di surga
tertinggi. Keyakinan pada malaikat adalah salah satu
dari enam artikel iman dalam Islam.
Menurut bahasa Arab, kata “Malaikat” merupakan
kata jamak yang berasal dari Arab malak (‫ )ملك‬yang
berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “alalukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang
pembawa misi biasanya disebut dengan ar-rasul.
Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya
(nur), berdasarkan salah satu hadist Muhammad,
“Malaikat telah diciptakan dari cahaya.”
Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun
Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah
meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat
melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu
makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka
dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu
taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak
seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya
Allah saja yang mengetahui jumlahnya.
Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat
tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat
dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada
para nabi dan rasul. Malaikat selalu menampakan diri
134
dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul.
Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim.
B. Jumlah Malaikat
Sejatinya, jumlah malaikat yang diciptakan oleh
Allah tidak ada yang mengetahui, kecuali Allah.
Malaikat ini menyebar dan memiliki tugas masingmasing. Malaikat digambarkan sebagai makhluk baik
yang positif, kebalikan dari Iblis. Dan memang benar
adanya, malaikat merupakan makhluk yang biasa
mendoakan manusia dalam keadaan apapun.
Merupakan makhluk yang menjadi anti tesis dari
adanya Iblis.
Walau jumlahnya tidak ada yang mengetahui, tapi
Allah mewajibkan kita untuk setidaknya mengenal 10
malaikat.
135
C. Malaikat yang Wajib Diketahui
Ada 10 Malaikat yang wajib diketahui, sepuluh
malaikat tersebut yaitu:
1. Malaikat Jibril
Bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para
nabi dan rasul. Malaikat Jibril adalah penghubung
antara Allah swt dengan nabi dan rasul-Nya.
Hanya saja kadang muncul pertanyaan nyeleneh,
bahwa nabi terakhir adalah nabi Muhammad. Berarti
zaman sekarang sudah tidak ada lagi nabi, jadi apa
tugas malaikat Jibril sekarang?
Tugas menyampaikan wahyu hanyalah salah satu
tugas inti dari malaikat Jibril, bukan tugas satusatunya. Setelah nabi dan rasul ditutup oleh nabi
Muhammad, sebenarnya malaikat Jibril memiliki
tugas lain yang lebih banyak. Perlu kita ketahui
disini, setelah Iblis dihukum dan dilaknat oleh Allah,
tonggak kepemimpinan para malaikat yang
sebelumnya dipegang oleh Iblis, akhirnya diambil
alih oleh malaikat Jibril. Jadi malaikat Jibril ini
merupakan komandan para malaikat. Tugas lainnya
juga menyampaikan karunia Allah kepada hambahambaNya yang bertakwa.
136
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk
mengatur segala urusan. (QS. al-Qadar : 4)
2. Malaikat Mikail
Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki kepada
manusia. Harus dipahami disini, bahwa pada
hakikatnya Allah lah yang memberikan rezeki. Allah
juga sebenarnya sanggup untuk menyebarkan rezeki
dengan kekuasaanNya, hanya saja Allah lebih
mengetahui dari kita mengapa Dia menciptakan
malaikat. Allah lebih adil dan lebih paham dari kita
yang hanya sebagai makhlukNya. Mungkin juga
Allah menciptakan malaikat sebagai saksi nanti di
akhirat, karena Allah adalah hakim yang paling adil.
Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikatmalaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,
Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orangorang kafir. (QS. al-Baqarah : 98)
3. Malaikat Israfil
Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala pada
hari kiamat. Disebutkan dalam sebuah riwayat,
bahwa malaikat Israfil adalah malaikat pertama yang
diciptakan oleh Allah. Penulis mendapatkan
informasi ini dari kitab Daqoiqul Akhbar, tapi penulis
belum mengkajinya lebih mendalam. Harus ada
137
kajian khusus mengenai ini. namun ada sebuah
riwayat dari Ibnu Abbad ra., bahwa nabi saw pernah
bersabda:48
Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka
Dia menciptakan sangkakala. Sangkakala itu
mempunyai lubang dan diberikan Allah Ta’ala
kepada Israfil As., sedang dia meletakkannya pada
mulutnya; matanya menatap ke Arsy, menunggu
kapan dia diperintahkan (untuk meniupnya).
Dan (Ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, Maka
terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di
bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. dan
semua mereka datang menghadap-Nya dengan
merendahkan diri. (QS. an-Naml : 87)
4. Malaikat Izrail
Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
Malaikat Izrail ini merupakan malaikat terkakhir
yang nyawanya dicabut oleh dirinya sendiri. Setelah
semua makhluk mati atas ketetapan Allah, maka
malaikat Izrail ini mencabut nyawa dirinya. Pada
waktu pencabutan nyawa itulah, malaikat Izrail
menyadari betapa sakitnya sakaratul maut.
Rachmat Ramadhana, Biografi Malaikat, (Yogyakarta: Diva Press, 2007),
hlm. 167.
48
138
Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk
(mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, Kemudian
Hanya
kepada
Tuhanmulah
kamu
akan
dikembalikan." (QS. as-Sajdah : 11)
5. Malaikat Munkar
Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan
melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur
tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
6. Malaikat Nakir
Tugasnya sama dengan malaikat Munkar, yaitu
bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan
manusia di alam kubur tentang amal perbuatan
mereka saat masih hidup.
7. Malaikat Raqib
Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik
yang dilakukan manusia. Kita ketahui bersama bahwa
di akhirat nanti, Allah akan membuat sebuah
pengadilan yang maha adil. Sebenarnya Allah
mengetahui setiap gerak-gerik manusia, tapi inilah
keadilan Allah. Allah yang merupakan hakim yang
paling adil, walau sudah tahu amal perbuatan
manusia, masih meminta bukti kepada malaikat untuk
menyampaikan amal perbuatan manusia atau jin
selama hidupnya. Betapa adilnya Allah sebagai
139
hakim. Bukankah Allah adalah hakim yang paling
adil?
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia
dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya,
dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat
amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan
dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu
ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di
dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS.
Qaaf : 16-18)
8. Malaikat Atid
Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan
buruk yang dilakukan manusia.
9. Malaikat Malik
Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan
menyambut ahli neraka.
Mereka berseru: "Hai Malik Biarlah Tuhanmu
membunuh kami saja". dia menjawab: "Kamu akan
tetap tinggal (di neraka ini)". (QS. az-Zukhruf : 77)
10. Malaikat Ridwan
Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan
menyambut ahli surga.
140
D. Mengenal Malaikat yang Lain
Ada beberapa nama malaikat yang sebenarnya tidak
asing lagi ditelinga kita, diantaranya saja :
1. Malaikat Zabaniyah
Malaikat Zabaniyah adalah para malaikat yang
bertugas langsung menyiksa orang-orang berdosa di
dalam neraka. Mereka ditakdirkan oleh Allah tidak
mempunyai rasa belas kasihan sedikit pun kepada
para penghuni neraka dan mereka berjumlah
sembilan belas malaikat.49
Malaikat Zabaniyah adalah penyiksa orang-orang
yang berdosa. Dalil naqlinya bisa merujuk pada surat
al-Alaq ayat 18 yang berbunyi : “Kelak Kami akan
memanggil Malaikat Zabaniyah ( penyiksa orangorang yang berdosa)”.
Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniyah...
(QS. al-Alaq : 18)
Rachmat Ramadhana, Biografi Malaikat, (Yogyakarta: Diva Press, 2007),
hlm. 101.
49
141
2. Malaikat Ghilazhun Syidad (Malaikat yang
Kasar dan Bengis)
Para malaikat ini bertugas sebagai eksekutor
langsung terhadap para penghuni neraka. Mereka
ditakdirkan Allah untuk tidak mempunyai rasa belas
kasihan sama seperti halnya malaikat Zabaniyah.
Mereka juga selalu konsisten serta disiplin dalam
melaksanakan hukuman Allah kepada penduduk
neraka.
Dalil tentang keberadaan malaikat ini :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai
Allah
terhadap
apa
yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. atTahrim : 6)
3. Malaikat Khazanatu
Neraka Jahannam)
Jahannam
(Penjaga
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra., bahwasanya pada
hari kiamat dihadirkan neraka Jahannam yang
sekelilingnya terdapat tujuh puluh ribu baris
malaikat. Setiap barisnya lebih banyak jumlahnya
dari jin dan manusia. Mereka menarik neraka
142
jahannam dengan kendalinya. Jahannam itu memiliki
kaki, antara kaki yang satu dengan yang lainnya
seperti perjalanan sekitar seribu tahun. Dia juga
memiliki tiga kepala, tiap-tiap kepala meemiliki tiga
ribu mulut, setiap mulut memiliki tiga gusi, setiap
gusi besarnya sekitar seribu kali gunung Uhud. Setiap
mulut mempunyai dua bibir, dan setiap bibir seperti
derajat dunia. Di dalam dua bibirnya terdapat dua
rantai dari besi, dan setiap rantai terdapat tujuh puluh
ribu mata rantai dengan masing-masing mata rantai
dipegang oleh beberapa malaikat. Neraka jahannam
tersebut dihadirkaan disebelah kiri Arsy.
Dan orang-orang yang berada dalam neraka Berkata
kepada
penjaga-penjaga
neraka
Jahannam:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya dia
meringankan azab dari kami barang sehari".
Penjaga Jahannam berkata: "Dan apakah belum
datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan
membawa
keterangan-keterangan?"
mereka
menjawab: "Benar, sudah datang". penjaga-penjaga
Jahannam berkata: "Berdoalah kamu". dan doa
orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS.
al- Mu’min : 49-50)
4. Malaikat Pemberi Salam
(Yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya
bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari
143
bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya,
sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat
mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan):
"Salamun 'alaikum bima shabartum"50. Maka
alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. ar-Rad
: 23-24)
5. Malaikat Penyeru Padang Mahsyar
Pada hari kiamat nanti di padang mahsyar, ada
malaikat-malaikat yang bertugas menyeru dan
memanggil, serta menggiring manusia untuk
mempertanggung
jawabkan
seluruh
amal
51
perbuatannya dihadapan pengadilan Allah swt.
Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah)
hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru
kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari
pembalasan), Sambil menundukkan pandanganpandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan
mereka belalang yang beterbangan. Mereka datang
dengan cepat kepada penyeru itu. orang-orang kafir
berkata: "Ini adalah hari yang berat." (QS. al-Qamar
: 6-8)
50
Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu
Rachmat Ramadhana, Biografi Malaikat, (Yogyakarta: Diva Press, 2007),
hlm. 109.
51
144
6. Malaikat Harut dan Marut
Bagi anda yang hidup di pesantren-pesantren atau
lahir di lingkungan NU, penulis yakin tidak aneh
dengan cerita malaikat Harut dan Marut. Dua
malaikat ini merupakan malaikat yang memprotes
ketetapan Allah. Perhatikan disini, protes malaikat
bukan karena nafsu, tapi karena akal. Kita harus
paham dulu bahwa malaikat juga diberikan akal oleh
Allah. Walau mungkin karakter akal yang diberikan
Allah kepada malaikat dan manusia memiliki makna
yang berbeda. Tapi intinya, malaikat masih bisa
berpikir, tapi pemikiran mereka tidak dipengaruhi
oleh nafsu. Pemikiran mereka benar-benar murni.
Karena Allah ingin menunjukkan ke-maha
kuasaaanNya—kita paham bahwa kesombongan
adalah selendang Allah, Allah ingin menunjukkan
bahwa semua makhluk pasti memiliki kesalahan
analisa, sementara Allah adalah satu-satunya yang
benar. Maka Allah menyuruh Harut dan Marut untuk
turun ke bumi dengan menjelma sebagai manusia.
Hingga akhirnya, Harut Marut ini justru menjadi
makhluk yang melanggar aturan-aturan Allah.
Mengenai dalil naqli malaikat Harut Marut ini bisa
disimak dalam surat al-Baqarah ayat 102.
145
Tapi walau begitu, penulis tidak menyangkal
terjadinya perbedaan pendapat mengenai masalah ini.
Ada kelompok lain yang mengatakan bahwa nama
Harut dan Marut merupakan analogi dari keadaan
manusia. Kelompok ini meyakini bahwa malaikat
pada hakikatnya dijauhkan dari kesalahan. Itu
artinya, nama Harut dan Marut merupakan sebuah
sindiran bagi manusia di zaman itu yang sudah kacau
balau. Ada juga yang mengatakan bahwa penamaan
Harut dan Marut merupakan penamaan yang
dilakukan oleh Allah untuk raja atau penguasa di
zaman itu, sementara kata malaikat maksudnya
adalah penguasa.
7. Malaikat Ar Ra'd
Malaikat ini bertugas mengatur awan. Dalil naqlinya
bisa merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas yang berkata bahwa: "Orang-orang
Yahudi datang menemui Nabi, lalu mereka bertanya,
'Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu
tentang beberapa hal. Jika engkau menjawabnya
maka kami akan mengikuti, mempercayai dan
beriman kepadamu'. Mereka bertanya, beritahukan
kepada kami tentang ar-Ra'd, apakah itu ?'. Beliau
menjawab, 'Salah satu malaikat yang diserahi tugas
untuk mengatur awan'"
146
8. Malaikat Hamalatul Arsy
Merupakan empat malaikat pembawa, pemegang atau
penanggung Arsy Allah swt.
9. Malaikat Rahmat
Lagi-lagi penulis menisbatkan nama ini didasari
sumber dari kitab Daqoiqul Akhbar. Malaikat ini
merupakan malaikat yang mengatur rahmat Allah.
10. Malaikat Kiraman Katibin
Nama malaikat ini disebutkan di dalam al-Qur’an,
tepatnya surat al-Infithar ayat 10-11. Tugas kedua
malaikat ini adalah mencatat amal baik dan buruk.
Tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut apakah yang
dimaksud malaikat Kiraman Katibin ini adalah
malaikat Rakib dan Atid.
Ada dua versi mengenai hal itu, ada yang
mengatakan bahwa malaikat Kiraman Katibin adalah
nama lain dari malaikat Rakib dan Atid, tapi ada juga
yang mengatakan bahwa keduanya berbeda.
Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (Malaikatmalaikat) yang Mengawasi (pekerjaanmu), Yang
mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaanpekerjaanmu itu), Mereka mengetahui apa yang
kamu kerjakan. (QS. al-Infithar : 10-12)
147
E. Hakikat Beriman kepada Malaikat
Beriman atau mempercayai adanya malaikat
memiliki suatu konsekuensi tersendiri di dalam
keimanan seseorang. Dengan mempercayai adanya
malaikat, menjadikan seseorang akan merasa di awasi
di setiap gerak geriknya.
Kita tidak menyangkal bahwa Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Allah mengetahui setiap perbuatan
kita bahkan tanpa bantuan malaikat, Allah bisa
menyalurkan rezekinya langsung kepada kita tanpa
perantara malaikat, Allah sanggup menyampaikan
wahyu tanpa perantara malaikat. Kita mengakui kemaha kuasaan Allah.
Tapi tentu Allah lebih paham atas apa yang Dia
kehendaki. Menciptakan malaikat tentu memiliki
alasan tersendiri yang tidak bisa kita pahami. Tapi
yang jelas, dengan adanya malaikat, setidaknya
memberikan pengetahuan kepada kita bahwa Allah
tidak hanya menciptakan manusia dan jin. Ada
malaikat di suatu wilayah tertentu yang tidak bisa
dijangkau oleh panca indra manusia. Kita tidak
pernah melihat malaikat, tapi kita seolah-olah
148
dihubungkan dengan malaikat melalui portal alQur’an.
149
Pasal 7
MEMBACA KITAB-KITAB ALLAH
َ َ َ َ َ َ ُّ َ َ َ ُ َ َ َ َ َ َ ٓ َ
َ ُ
ۡ‫ات‬
‫يۡأنهاۡلكمۡوتودونۡأنۡغ‬
ِۡ ‫ّللۡإِح َدىۡٱلطائِفت‬
ُۡ ‫ِإَوذۡۡيَع ُِدك ُمۡٱ‬
ِ ‫ۡيۡذ‬
ُ َ َُ ُ َُ ُ َ ُ ُ َ َ َ
َ
َ
َ ‫نُۡي َِقۡٱ‬
ۡ‫قۡبِكل َِمَٰت ِ ۡهِۦۡ َو َيق َط َعۡداب ِ َر‬
َۡ ‫ۡل‬
‫ّللۡأ‬
ۡ ‫ٱلشوكةِۡتكونۡلكمۡوي ِريدۡٱ‬
َ
ۡ ٧ۡ‫ين‬
َۡ ‫ٱلكَٰف ِِر‬
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul
perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi,
sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan
bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi
Keputusan di antara manusia tentang perkara yang
mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang
Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan
kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada
mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena
dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi
petunjuk orang-orang yang beriman kepada
kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann
itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi
petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan
yang lurus. (QS. al-Baqarah : 213)
150
Di dalam Rukun Iman dan Rukun Islam, setidaknya
terjadi perbedaan pengurutan dua rukun. Di dalam
Rukun Islam, yang sering terjadi perbedaan adalah
pengurutan antara zakat dan puasa. Sementara di
dalam Rukun Iman, yang sering terjadi kesalahan
pengurutan adalah antara iman kepada kitab-kitab
Allah dan iman kepada para nabi dan rasul.
Penulis kira, kita tidak harus memperdebatkan hal
semacam ini. Setiap pendapat memiliki alasan
masing-masing. Pengurutan yang dilakukan memang
sejatinya diambil karena suatu rukun dianggap lebih
utama ketimbang rukun yang lainnya. Itulah alasan
mengapa rukun iman kepada Allah berada di posisi
pertama, karena iman kepada Allah lebih utama
diantara yang lainnya. Sama dengan syahadat,
diposisikan di nomor satu ketimbang rukun yang lain.
Karena syahadat dianggap sebagai rukun paling
penting untuk masuk Islam.
Tapi dalam masalah zakat dan puasa di dalam Rukun
Islam, atau kitab dan nabi di dalam rukun Iman,
memang setiap ulama memiliki pandangannya
151
masing-masing. Kita benar-benar tidak
memperbincangkan masalah ini lebih jauh.
harus
A. Pengertian Kitabullah
Kitab Allah (Bahasa Arab: ‫كتاب هللا‬, Kitabullāh) adalah
catatan-catatan yang difirmankan oleh Allah kepada
para nabi dan rasul.
Umat Islam diwajibkan
meyakininya, karena mempercayai kitab-kitab
selain Al Qur'an sesuai dengan salah satu Rukun
Iman. Jumlah kitab yang telah diturunkan sebanyak
114 kitab suci.
Tulisan-tulisan firman Allah (Kitab Allah) zaman
dahulu dibuat menjadi 2 jenis, yaitu bisa
berupa shuhuf dan mushaf. Kata shuhuf pula terdapat
di surah al A'laa:
"(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa." (QS. AlA'la 87:19)
Kedua kalimat itu berasal dari akar kalimat yang
sama yaitu, "sahafa" (menulis). Shuhuf (‫;صحيفة‬
tunggal: sahifa) berarti sepenggal kalimat yang
ditulis
dalam
material
seperti kertas, kulit, papirus dan
media
lain.
Sedangkan mushaf (‫ ;مصحف‬jamak: masahif) berarti
kumpulan-kumpulan shuhuf, yang dibundel menjadi
satu, seperti 2 sampul dalam satu isi.
152
Dalam
sejarah
penulisan
dari
teks
Qur'an, shuhuf terdiri dari beberapa lembaran yang
pada akhirnya Qur'an dikumpulkan pada masa Abu
Bakar. Dalam shuhuf tersebut susunan tiap ayat di
dalam surah telah tepat, tetapi lembaran-lembaran
yang ada belumlah tersusun dengan rapi, tidak
dibundel menjadi satu isi.
Kalimat mushaf pada saat ini memiliki arti lembaranlembaran yang dikumpulkan di dalam Qur'an yang
telah dikoleksikan pada masa Utsman bin Affan.
Pada saat itu, tiap ayat di dalam surah telah disusun
dengan rapi. Saat ini umat Islam juga menyebut
setiap duplikat Qur'an, yang mana memiliki
keteraturan tiap ayat dan surah disebut mushaf.
B. Jumlah Kitabullah
Setidaknya ada 4 kitab yang wajib diketahui dan
diyakini oleh seluruh umat Muslim. Keempat kitab
itu diturunkan oleh Allah kepada nabi dan rasul yang
berbeda. Tapi walau berbeda, jika dikaji lebih jauh,
inti ajaran yang ada di dalam kitab-kitab Allah itu
memiliki isi yang sama. Hanya saja, setiap kitab yang
baru diturunkan merupakan penyempurnaan dari
kitab sebelumnya.
153
4 kitab Allah yang wajib kita imani adalah kitab
Taurat kepada nabi Musa, kitab Zabur kepada nabi
Daud, kitab Injil kepada nabi Isa, dan al-Qur’an
kepada nabi Muhammad saw.
 Kitab Taurat
َۚٞ ‫إِنَّا ٓ أَنزَ ۡلنَا ٱلت َّ ۡو َر ٰىةَ فِي َها ه ّٗدى َون‬
َ‫ور يَ ۡحكم بِ َها ٱل َّنبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَ ۡسلَمواْ ِللَّذِين‬
‫ب ٱ َّلِلِ َوكَانواْ َعلَ ۡي ِه‬
َّ ‫هَادواْ َوٱ‬
ِ َ‫لر ٰبَّنِيُّونَ َوٱ ۡأل َ ۡحبَار بِ َما ٱ ۡست ۡح ِفظواْ ِمن ِك ٰت‬
َۚ ّٗ ‫اس َوٱ ۡخش َۡو ِن َو َال ت َۡشت َرواْ ِبا ٰ َي ِتي ثَ َم ّٗنا قَ ِل‬
‫يال َو َمن لَّ ۡم‬
َ َّ‫ش َهدَآ َۚ َء فَ َال ت َۡخشَواْ ٱلن‬
ٓ
ٰ
٤٤ َ‫َي ۡحكم ِب َما ٓ أَنزَ َل ٱ َّلِل فَأ ْولَئِكَ هم ٱ ۡل ٰ َك ِفرون‬
Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat
di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan
perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang
menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim
mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan
mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah
dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu
janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi)
takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku
dengan
harga
yang
sedikit.
barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa
yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir. (QS. al-Maidah : 44)
Kitab Taurat merupakan kitab yang diturunkan oleh
Allah kepada nabi Musa. Dalam kitab Taurat terdapat
154
beberapa syariat dan hukum agama yang sesuai
dengan tempat dan kondisi pada masa itu. Kitab
Taurat antara lain menerangkan aqidah yang benar,
janji-janji Allah, dan ancaman-ancamanNya. Kitab
Taurat menerangkan dengan tegas tentang akan
datangnya Nabi Muhammad saw, sebagai kunci para
Nabi dan Rasul untuk menggantikan ajaran-ajaran
sebelumnya. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi
Musa a.s. secara sekaligus.
Diketahui bahwa kitab Taurat diturunkan oleh Allah
menggunakan bahasa Ibrani, bahasa yang sekarang
digunakan oleh umat Yahudi. Pada saat itu, kitab
Taurat memang diperuntukkan untuk Bani Israil.
 Kitab Zabur
ٓۗ ِ ‫ت َوٱ ۡأل َ ۡر‬
‫ض ٱلنَّبِيِنَ َعلَ ٰى‬
ِ ‫س ٰ َم ٰ َو‬
َّ ‫َو َربُّكَ أ َ ۡعلَم بِ َمن فِي ٱل‬
َ ۡ‫ض َولَقَ ۡد فَض َّۡلنَا بَع‬
ِۖ ٖ ۡ‫بَع‬
٤٤ ‫ورا‬
ّٗ ‫ض َو َءات َۡينَا دَاوۥدَ زَ ب‬
Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di
langit dan di bumi. dan Sesungguhnya Telah kami
lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang
lain), dan kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. alIsraa : 55)
Kitab Zabur diturunkan oleh Allah kepada nabi
Daud. Kitab Zabur berisi antara lain beberapa doa,
zikir, pengajaran, dan hikmah. Kitab Zabur tidak
memuat hukum agama dan syariat, karena Nabi Daud
155
mengikuti dan melaksanakan Kitab Taurat yang
diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Kitab Zabur berisi
pujian-pujian terhadap Allah swt. Nabi Daud
memang seorang seniman yang memiliki suara yang
sangat indah.
Kitab Zabur diturunkan oleh Allah menggunakan
bahasa Qibti. Sama seperti halnya Taurat, kitab Zabur
juga ditujukan untuk Bani Israil.
 Kitab Injil
‫صد ِّٗقا ِل َما بَ ۡينَ يَدَ ۡي ِه ِمنَ ٱلتَّ ۡو َر ٰى ِِۖة‬
َ ‫َوقَفَّ ۡينَا َعلَ ٰ ٓى َءا ٰث َ ِرهِم بِ ِعي‬
َ ‫سى ٱ ۡب ِن َم ۡريَ َم م‬
‫صد ِّٗقا ِل َما بَ ۡينَ يَدَ ۡي ِه ِمنَ ٱلتَّ ۡو َر ٰى ِة‬
ٞ ‫نجي َل فِي ِه ه ّٗدى َون‬
َ ‫ور َوم‬
ِ ‫َو َءات َۡي ٰنَه ٱ ۡ ِإل‬
َ ‫َوه ّٗدى َو َم ۡو ِع‬
٤٦ َ‫ظ ّٗة ِل ۡلمتَّقِين‬
Dan kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani
Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan
Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. dan kami
Telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang
didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang
menerangi), dan membenarkan Kitab yang
sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. dan menjadi
petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang
bertakwa. (QS. al-Maidah : 46)
Kitab Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa a.s.
bertujuan untuk menerangkan beberapa hukum dan
mengajarkan manusia kembali kepada aqidah tauhid
(monotheisme). Nabi Isa a.s. bertugas memperbaiki
156
agama Bani Israil yang telah kacau dan menyeleweng
dari kebenaran. Injil menerangkan tentang
kedatangan Nabi Muhammad saw. Kitab ini juga
mengikuti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa
a.s.
Terjadi perbedaan dalam menentukan bahasa pertama
kitab Injil. Ada pendapat yang menyatakan
menggunakan bahasa Suryani, ada pula yang
mengatakan menggunakan bahasa Ibrani. Tapi yang
jelas, kitab Injil ini juga ditujukan untuk Bani Israil.
 Kitab Al-Qur’an
٢ َ‫إِنَّا ٓ أَنزَ ۡل ٰنَه ق ۡر ٰ َءنًا َع َربِ ّٗيا لَّعَلَّك ۡم ت َعۡ ِقلون‬
Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al
Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu
memahaminya. (QS. Yusuf : 2)
Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril mempunyai
keistimewaan dibanding dengan Kitab-kitab yang
terdahulu. Keistimewaan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an hanya
ditujukan kepada suatu golongan tertentu.
Sedangkan Al-Qur’an ditujukan untuk seluruh
umat manusia dan golongan serta berlaku
sepanjang zaman;
157
2. Kitab suci Al-Qur’an yang ada sekarang
masih asli seperti yang pernah diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw, 14 abad yang
lalu. Tidak ada perubahan sedikit pun baik
titik maupun hurufnya;
3. Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab. Berbeda
dengan kitab terdahulu yang sudah
diterjemahkan ke berbagai bahasa, al-Qur’an
masih menggunakan bahasa Arab sebagai
panduan utama dalam kaidah-kaidah tafsir;
4. Al-qur’an membenarkan Kitab Allah yang
diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelum
Nabi Muhammad saw;
5. Al-Qur’an sebagai penyempurna dari ajaranajaran yang telah diturunkan pada Kitab
terdahulu;
6. Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus tetapi
berangsur-angsur, ayat demi ayat, surat demi
surat. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya
yang diturunkan secara sekaligus;
7. Kitab Al-Qur’an juga berlaku bagi golongan
selain manusia, yaitu golongan jin.
C. Definisi Suhuf
Banyak orang yang melupakan istilah ini. Suhuf
adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi dan
158
rasul tapi dalam bentuk lembaran-lembaran yang
tidak sempurna. Jika dihitung seluruhnya, Allah
menurunkan setidaknya 100 suhuf kepada 5 nabi dan
rasul yang berbeda. Tapi pada nyatanya, terdapat 110
suhuf jika kita gabungkan diantara semua pendapat
para ulama.
Adapun nabi dan rasul yang menerima suhuf adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
Nabi Adam menerima 10 suhuf;
Nabi Syits menerima 50 suhuf;
Nabi Idris menerima 30 suhuf;
Nabi Ibrahim menerima 10 suhuf;
Nabi Musa menerima 10 suhuf.
Terdapat perbedaan pendapat, karena ada yang
menyebut hanya 100 suhuf, tanpa memasukkan nabi
Musa, karena nabi Musa telah memiliki kitab Taurat.
Ada juga yang menyebut 100 suhuf, dengan
menghilangkan nabi Adam dan nabi Musa, sementara
nabi Ibrahim mendapat 20 suhuf. Serta ada lagi yang
berpendapat bahwa nabi Adam dan nabi Ibrahim
masing-masing diturunkan 5 suhuf.
Bagi yang berpendapat nabi Musa diturunkan suhuf
oleh Allah, maksudnya suhuf tersebut diwahyukan
sebelum nabi Musa mendapat wahyu Taurat.
Sementara yang menghilangkan nabi Musa, artinya
suhuf yang dimaksud sudah secara otomatis bagian
159
dari kitab Taurat. Penulis kira masalah ini tidak
terlalu dipermasalahkan, setiap ulama memiliki
pandangannya masing-masing.
D. Perbedaan Kitab dan Suhuf
Dari segi bahasa, kitab adalah buku, sementara suhuf
hanyalah lembaran-lembaran. Isi di dalam kitab,
lebih lengkap dan lebih rinci dari suhuf. Sementara
persamaan diantara kitab dan suhuf adalah samasama wahyu Allah dan diturunkan kepada nabi dan
rasul.
160
Pasal 8
MENGIMANI PARA NABI DAN RASUL
Telah disinggung sebelumnya, bahwa alam raya yang
begitu besar ini tentulah ada yang menciptakan.
Dialah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu
yang menciptakan langit dan bumi beserta segala
sesuatu yang ada di dalamnya. Allah memiliki
kehendak mutlak dalam setiap apa yang Dia ciptakan.
Tapi kita sebagai orang biasa, tentu tidak bisa
menganalisa keberadaan Allah kecuali dengan
adanya ciptaanNya. Kita sudah paham bersama,
bahwa Allah adalah dzat yang tidak bisa dijangkau
oleh manusia maupun jin, dan tidak bisa dideteksi
bahkan oleh teknologi yang paling canggih sekalipun.
Mengapa? Karena kita sudah membahasnya, bahwa
Allah tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu.
Sementara teknologi ciptaan manusia, se-canggih
apapun itu, pasti tidak bisa dilepaskan dari yang
namanya dimensi ruang dan waktu. Itu artinya,
teknologi sehebat apapun buatan manusia, jelas tidak
akan sanggup mendeteksi keberadaan Allah, karena
Allah dijauhkan dari setiap dimensi kemakhlukan.
161
Maka dari itu, Allah mengutus hamba-hambaNya
yang shaleh untuk menjelaskan keberadaanNya.
Allah memahami bahwa manusia maupun jin tidak
akan sanggup jika langsung berhadapan dengan
Allah. Maka dari itu, Allah memilih utusan dari
kalangan
manusia
untuk
menyampaikan
kehadiranNya. Kita harus meyakini, bahwa setiap
perjalanan sejarah manusia dan jin pasti memiliki
makna tertentu. Allah tentu lebih tahu alasan inti
dibalik diutusnya para nabi dan rasul.
Melalui ucapan nabi dan rasul lah, kabar keberadaan
Allah sampai kepada kita. Sebenarnya akal kita
secara kodrati bisa memahami bahwa alam raya ini
tentu sudah ada yang menciptakan, tapi melalui
kalam ilahi lah penegasan itu lebih bisa diterima.
َ‫نز َل ِإلَ ٰ ٓى ِإ ۡب ٰ َر ِه َم َو ِإ ۡس ٰ َم ِعي َل َو ِإ ۡس ٰ َحق‬
ِ ‫نز َل ِإلَ ۡينَا َو َما ٓ أ‬
ِ ‫قول ٓواْ َءا َمنَّا ِبٱ َّلِلِ َو َما ٓ أ‬
‫ي ٱلنَّ ِبيُّونَ ِمن َّر ِب ِه ۡم‬
ِ َ‫وب َوٱ ۡأل َ ۡسب‬
َ ‫َويَعۡ ق‬
َ ‫ي مو َس ٰى َو ِعي‬
َ ِ‫س ٰى َو َما ٓ أوت‬
َ ِ‫اط َو َما ٓ أوت‬
٣١٦ َ‫َال نفَ ِرق بَ ۡينَ أ َ َحدٖ ِم ۡنه ۡم َون َۡحن لَهۥ م ۡس ِلمون‬
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami
beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan
kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada
Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya,
dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta
apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya.
kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara
162
mereka dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya".
(QS. al-Baqarah : 136)
A. Definisi Nabi dan Rasul
Nabi ialah seorang hamba Allah yang diberi
kepercayaan dan diberikan wahyu oleh Allah swt
namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan
wahyunya kepada kaumnya. Akan tetapi, wahyu itu
diberikan untuk diamalkan oleh dirinya sendiri dan
tidak ada keharusan untuk disampaikan kepada
umatnya atau kaumnya. Sedangkan Rasul ialah
seorang yang telah diberikan kepercayaan dan diberi
wahyu oleh Allah SWT untuk diamalkannya yang
kemudian wajib disampaikan kepada umatnya.
B. Perbedaan Nabi dan Rasul
Dua istilah nabi dan rasul memang kadang dianggap
sama, padahal memiliki hakikat yang berbeda.
Nabi lebih diartikan sebagai hamba Allah yang
shaleh, yang diberi wahyu olehNya melalui perantara
malaikat Jibril, hanya saja tidak memiliki kewajiban
untuk mendakwahkan apa yang sudah mereka terima.
Sementara Rasul merupakan penegasan akan
kenabian seseorang. Artinya, rasul ini diwajibkan
163
untuk mengajak umat manusia dan umat jin serta
seluruh makhluk Tuhan untuk mengimani keberadaan
Tuhan. Kitab atau wahyu yang diturunkan oleh Allah,
wajib disebarkan oleh para rasul kepada umatnya
masing-masing.
Bisa kita tarik sebuah kesimpulan, bahwa setiap rasul
berarti nabi, tapi tidak semua nabi adalah rasul. Hal
ini mengisyaratkan, bahwa ketika ada manusia
dilabeli dengan kata rasul, maka secara otomatis
orang tersebut juga merupakan seorang nabi. Tapi
tidak berlaku sebaliknya.
Setiap nabi dan rasul akan menyampaikan misinya
untuk kaumnya sendiri. Tidak bisa kita sangkal lagi,
bahwa banyak nabi dan rasul yang lahir untuk
kalangan Yahudi. Kaum Yahudi memang adalah
kaum kesayangan Tuhan di masa lalu. Maka tidak
heran, bangsa ini melahirkan banyak nabi dan rasul.
Tapi walau begitu, sifat rasisme bangsa Yahudi
membuat Tuhan memilih skenario lain untuk
mempercantik kehidupan di dunia ini. Allah
mengutus nabi terakhir dari kalangan bangsa Arab,
bangsa yang pada saat itu dianggap sebagai bangsa
yang paling kuno. Bangsa Arab ini sejatinya
merupakan bangsa yang menjadi saudara dari bangsa
Yahudi, hanya saja Yahudi tidak mau menerima
164
bangsa Arab sebagai saudaranya karena menganggap
diri mereka lebih baik ketimbang bangsa Arab.
C. Jumlah Nabi dan Rasul
Agak berbeda setiap referensi untuk menyebutkan
jumlah nabi dan rasul. Hanya saja, sumber yang
sudah menjadi rujukan mayoritas umat Muslim di
dunia, dikatakan bahwa jumlah nabi seluruhnya
adalah 124.000. Sementara jumlah rasul seluruhnya
adalah 315 rasul, walau ada juga yang menyebut 313
atau 314 rasul.
Banyaknya nabi dan rasul tentu akan menyulitkan
kita sebagai umat yang lahir di akhir zaman. Oleh
karena itu, Allah hanya mewajibkan kita untuk
mengetahui minimal 25 nabi dan rasul. 25 nabi dan
rasul ini merupakan hamba-hamba pilihan Allah dari
sekian ratus rasul dan sekian ribu nabi diantara yang
lainnya. Perjuangan yang besar dan kehidupan yang
sangat berat membuat Allah meninggikan derajat 25
nabi dan rasul diantara makhluk yang lainnya.
165
D. Nabi dan Rasul yang Wajib Diketahui
Ada 25 nabi dan rasul yang wajib hukumnya bagi
umat Muslim untuk mengetahuinya. Berikut 25 nabi
dan rasul beserta profil singkat dan beberapa kisahkisah terkenalnya.
1. Nabi Adam
Diketahui oleh tiga agama: Islam; Kristen; Yahudi,
bahwa dahulu Adam tinggal di Surga. Ketika Allah
menyuruh seluruh makhluk langit bersujud kepada
Adam, seluruhnya sujud kecuali Iblis, sang penguasa
para malaikat. Iblis menganggap dirinya lebih baik
daripada manusia. Oleh karena itu, Allah melaknat
Iblis karena tidak mematuhi perintahNya.
Iblis pun akhirnya menggoda nabi Adam dan Hawa
untuk memakan buah khuldi, buah yang memang di
larang oleh Allah. Karena memakan buah inilah, nabi
Adam dan Hawa diturunkan oleh Allah ke muka
bumi.
Perlu kita kaji disini, bahwa kita tidak dianjurkan
untuk menyalahkan Adam dan Hawa yang memakan
buah khuldi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sebelum manusia diciptakan, Allah sudah
memilihkan bumi sebagai tempat tinggalnya. Itu
artinya, nabi Adam memakan buah khuldi ataupun
166
tidak, keturunan Adam yaitu manusia
ditempatkan oleh Allah dimuka bumi.
akan
Disebutkan dalam kitab-kitab Islam, bahwa
diperkirakan nabi Adam hidup terpaut angka dengan
kita sekitar 9.000 tahun yang lalu. Dan Adam ini
adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah.
Tapi kita juga harus menyadari, bahwa Adam
bukanlah makhluk pertama yang mendiami bumi,
karena Allah telah menciptakan makhluk lain
sebelum Adam untuk dijadikan khalifah di muka
bumi ini.
ُ
َ َ َ َ َٰ َ َ
َ َ
َ َ َ
َ
َ َ ُ
َ
ۡ‫ّللِ ۡكذِبًا ۡأو ۡكذ َب ۡأَ‍ِبتَٰيَٰت ِ ۡهِ ۡۦٓ ۡأ ْو َٰٓلئِك َۡي َنال ُهم‬
ۡ ‫ى ۡلَع ۡٱ‬
ۡ ‫ف َمنۡ ۡأظل ُم ۡم َِم ِن ۡٱفَت‬
ُ َ َ َ ُْٓ َ ُ َ ََََ َُ ُ ُ ُ َٓ َ َ َ َ
َ
ُ ‫اۡك‬
ُ ‫نَ ِص‬
َٰٓ ‫ب ۡح‬
ۡ‫نتم‬
‫َّت ۡإِذاۡجاءتهم ۡرسلناۡيتوفونهم ۡقالوا ۡأين ۡم‬
ِۡ َٰ‫يب ُهمۡم َِن ۡٱلكِت‬
ْ ُ َ
ََ
ُ َ َٰٓ َ َ ْ ُ َ َ َ َ ْ ُّ َ ْ ُ َ َ
َ ُ َ
ُ
ۡ‫ۡلَع ۡأنفسِ ِهم ۡأن ُهم َۡكنوا‬
‫وا ۡضلوا ۡعنا ۡوش ِهدوا‬
ۡ ‫ّللِه ۡ ۡقال‬
ۡ ‫ون ۡٱ‬
ِ ‫تدعون ۡمِن ۡد‬
َ
َ ‫كَٰفِر‬
ۡ٣٧ۡ‫ين‬
ِ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat52 dari
Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi
Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah : 37)
Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang
diterima oleh Adam sebahagian ahli tafsir mengartikannya dengan
kata-kata untuk bertaubat.
52
167
2. Nabi Idris
Menurut Ibnu Katsir, Nabi Idris merupakan jalur
nasab Rasulullah Saw. Nasabnya adalah Idris bin
Yared bin Mahalail bin Qainan bin Anusy bin Syits
bin Adam AS. Al-Maghluts menyebutkan, Idris
hidup sekitar tahun 4533-4188 SM. Usianya
diperkirakan sekitar 345 tahun, ada pula yang
menyebutkan usianya 308 tahun. Hal ini juga
disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Qishash alAnbiya’ yang mengutip keterangan dari Ibnu Ishaq.
Nabi Idris diakui oleh banyak ulama dan ahli tafsir,
adalah seorang nabi yang memiliki banyak
keistimewaan, diantaranya kemampuannya dalam
menulis, menggambar, menjahit, dan menguasai ilmu
perbintangan (astronomi).
Pada masanya manusia sudah berbicara dalam 72
bahasa. Saat ia berdakwah kepada kaumnya, Idris
sudah menggambar pembangunan kota-kota sehingga
kota yang berhasil dibangunnya berjumlah 188 kota.
Dan Nabi Idris pula yang membagi wilayah bumi
menjadi empat bagian dan menetapkan setiap
bagiannya seorang raja. Nama-nama raja itu adalah
Elaus, Zous, Esqlebeos, dan Zous Amon.
Ibnu Ishaq menerangkan, Idris adalah manusia
pertama yang menulis dengan pena. Rasul Saw
bersabda; “Dahulu, ada seorang nabi yang menulis
168
dengannya (maksudnya menulis di atas pasir).
Barang siapa yang sejalan dengan tulisannya,
demikian itulah (tulisannya).”
Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka,
kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat
membenarkan dan seorang nabi. Dan kami Telah
mengangkatnya ke martabat yang Tinggi. (QS.
Maryam : 56-57)
3. Nabi Nuh
Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima
orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh.
Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian
mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd,
Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
Setelah kematian mereka, orang-orang membuat
patung-patung dari mereka, dalam rangka
menghormati mereka dan sebagai peringatan
terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu
orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu
datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu
mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian
timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang
membelenggu akal manusia di mana disebutkan
bahwa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.
169
Dalam situasi seperti ini, Allah Swt mengutus Nuh
a.s untuk membawa ajaran ilahi kepada kaumnya.
Nabi Nuh adalah seorang hamba yang akalnya tidak
terpengaruh oleh keadaan sekeliling, yang
menyembah selain Allah Swt. Allah Swt memilih
hamba-Nya Nuh dan mengutusnya di tengah-tengah
kaumnya.
Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh
kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka
seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka
ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orangorang yang zalim. (QS. al-Ankabut : 14)
4. Nabi Hud
Nabi Hud hidup sekitar 2450-2321 SM. Nabi Hud
seorang nabi yang diutus untuk Kaum ‘Ad yang
tinggal di al-Ahqaf, Rubu’ al-Khali-Yaman.
Pembalasan Tuhan terhadap kaum ‘Ad yang kafir
diturunkan dalam dua tahap.Tahap pertama berupa
kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebunkebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan
dan kegelisahan, kalau-kalau mereka tidak
memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebunkebunnya seperti biasanya.
Kaum ‘Ad akhirnya diazab oleh Allah dengan tiupan
angin yang begitu besar. Adapun Nabi Hud dan para
170
sahabatnya
yang
beriman
telah
mendapat
perlindungan Allah dari bencana yang menimpa
kaumnya.
Dan (Kami Telah mengutus) kepada kaum 'Aad
saudara mereka, Hud. ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain dari-Nya. Maka Mengapa kamu tidak
bertakwa kepada-Nya?" (QS. al-A’raf : 65)
5. Nabi Shaleh
Nabi Shaleh hidup sekitar tahun 2150-2080 SM. Nabi
Shaleh adalah salah seorang nabi dan rasul dalam
agama Islam yang diutus kepada Kaum Tsamūd. Ia
diangkat menjadi nabi pada tahun 2100 SM. Dia telah
diberikan mukjizat yaitu seekor unta betina yang
dikeluarkan dari celah batu dengan izin Allah yakni
bagi menunjukkan kebesaran Allah kepada kaum
Tsamud.
Malangnya, kaum Tsamud masih mengingkari ajaran
Shaleh, mereka membunuh unta betina milik nabi
Shaleh tersebut. Akhirnya kaum Tsamud dibalas
dengan azab yang amat dahsyat yaitu dengan satu
tempikan dari Malaikat Jibril yang menyebabkan
tubuh mereka hancur berai.
Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan
mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan.
171
dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa
yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul)
kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)".
(QS. al-A’raf : 77)
6. Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim hidup sekitar 1997-1822 SM. Nabi
Ibrahim merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia
mendapat gelar dari Allah dengan gelar Khalil Allah
(Sahabat Allah). Selain itu ia bersama anaknya,
Ismail terkenal sebagai pembangun Kabah. Ia
diangkat menjadi nabi sekitar tahun 1900 SM, diutus
untuk kaum Kaldān yang terletak di kota Ur, negeri
yang disebut kini sebagai Irak. Ibrahim dianggap
sebagai salah satu nabi Ulul azmi
Secara keturunan, Nabi Ibrahim memiliki nasab
Ibrahim bin Azzar bin Tahur bin Sarush bin Ra’uf bin
Falish bin Tabir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Syam
bin Nuh. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama
Faddam, A’ram, yang terletak di dalam kawasan
kerajaan Babilonia. Kemudian ia memiliki 2 orang
putra yang dikemudian hari menjadi seorang nabi
pula, yaitu Ismail dan Ishaq. Sedangkan Yaqub
adalah cucu dari Ibrahim.
172
7. Nabi Luth
Nabi Luth hidup sekitar 1950-1870 SM. Nabi Luth
adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri
Sadum dan Gomorrah. Ia diangkat menjadi nabi pada
tahun 1900 SM. Ia ditugaskan berdakwah kepada
Kaum yang tinggal di negeri Sadum, Syam,
Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali
dalam Al-Quran. Ia menikah dengan seorang gadis
yang bernama Ado kemudian memiliki 2 anak
perempuan. Ia meninggal di Desa Shafrah di Syam,
Palestina.
Nabi Luth adalah anak keponakan dari Nabi Ibrahim.
Ayahnya yang bernama Haran (Abara’an) bin Tareh
adalah saudara kandung dari Ibrahim, ayahnya
kembar dengan pamannya yang bernama Nahor.
Silsilah lengkapnya adalah Luth bin Haran bin Azara
bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin
Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.
8. Nabi Ismail
Nabi Ismail hidup sekitar 1911-1779 SM. Nabi
Ismail adalah seorang nabi dalam kepercayaan agama
samawi. Ismail adalah putera dari Ibrahim dan Hajar,
kakak kandung dari Ishaq. Ia diangkat menjadi nabi
pada tahun 1850 SM. Ia tinggal di Amaliq dan
berdakwah untuk Qabilah Yaman, Mekkah. Namanya
173
disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Quran. Ia
meninggal pada tahun 1779 SM di Mekkah. Secara
tradisional ia dianggap sebagai Bapak Bangsa Arab.
9. Nabi Ishak
Nabi Ishak hidup sekitar 1761 SM – 1638 SM. Nabi
Ishak adalah putra kedua Nabi Ibrahim setelah Ismail
yang ibunya adalah Sarah dan merupakan orang tua
dari Nabi Yakub.
Ishak diutus untuk masyarakat Kana’an di wilayah
Al-Khalil Palestina. Kisah Nabi Ishak sangat sedikit
diceritakan dalam Al-Qur’an. Nabi Ishak disebutkan
dalam Al-Qur’an sebanyak 15 kali. Sedangkan
keutamaan Nabi Ishak disebutkan 9 kali dan kenabian
Ishak 10 kali. Dikatakan bahwa ia memiliki 2 anak
dan meninggal di Alkhalil Hebron Palestina.
10. Nabi Yakub
Nabi Yakub hidup sekitar 1837-1690 SM. Nabi
Yakub ialah salah seorang rasul yang ditugaskan
berdakwah kepada Bani Israil di Syam. Ia diangkat
menjadi nabi pada tahun 1750 SM dan Namanya
disebutkan sebanyak 16 kali dan memiliki 12 anak. Ia
wafat di Alkhalil Hebron Palestina.
174
11. Nabi Yusuf
Nabi Yusuf hidup sekitar 1745-1635 SM. Nabi Yusuf
adalah salah satu nabi agama samawi. Ia juga
merupakan salah satu dari 12 putra Yakub dan
merupakan cucu dari Ibrahim. Ia diangkat menjadi
nabi pada tahun 1715 SM dan ia ditugaskan
berdakwah kepada Kanʻān dan Hyksos di Mesir.
Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di dalam AlQuran. Ia memiliki 2 anak laki-laki dan 1 anak
perempuan dan ia wafat di Nablus Palestina.
12. Nabi Ayyub
Nabi Ayyub hidup sekitar 1540-1420 SM. Nabi
Ayyub adalah seorang nabi yang ditugaskan
berdakwah kepada Bani Israil dan Kaum Amoria
(Aramin) di Haran, Syam. Ia diangkat menjadi nabi
pada tahun 1500 SM dan namanya disebutkan
sebanyak 4 kali di dalam Al-Quran. Ia mempunyai 26
anak dan wafat di Huran, Syam.
13. Nabi Syuaib
Nabi Syu’aib hidup sekitar 1600 SM–1500 SM. Nabi
Syuaib adalah seorang nabi yang diutus kepada kaum
Madyan dan Aikah menurut tradisi Islam. Ia diangkat
menjadi nabi pada tahun 1550 SM. Namanya
disebutkan sebanyak 11 kali di dalam Al-Qur’an dan
ia wafat di Madyan.
175
14. Nabi Musa
Nabi Musa lahir sekitar tahun 1527 SM, dan
meninggal pada sekitar 1408 SM. Nabi Musa adalah
seorang nabi yang menyampaikan Hukum Taurat dan
menuliskannya dalam Pentateveh/Pentateukh (Lima
Kitab Taurat) dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian
Lama di Alkitab Kristen.
15. Nabi Harun
Nabi Harun hidup sekitar 1531-1408 SM. Nabi
Harun adalah salah seorang nabi yang telah diminta
oleh Nabi Musa pada Allah dalam membantu
memperkembangkan agama Allah. Ia diangkat
menjadi nabi pada tahun 1450 SM. Ia ditugaskan
berdakwah kepada para Firaun Mesir dan Bani Israil
di Sina, Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 19 kali
di dalam Al-Quran dan wafat di Tanah Tih. Ia
menikah dengan dua orang wanita yang bernama
Elisheba dan Miriam.
16. Nabi Dzulkifli
Nabi Dzulkifli adalah nabi pada tahun 1460 SM yang
diutus untuk mengajarkan tauhid kepada kaumnya
yang menyembah berhala supaya menyembah Tuhan
Yang Maha Esa, taat beribadah, dan membayar zakat.
Ia memiliki 2 orang anak dan meninggal ketika
176
berusia 95 tahun di Damaskus Syiria. Namanya
disebutkan sebanyak 2 kali di dalam Al-Quran.
17. Nabi Daud
Nabi Daud merupakan seorang nabi dalam agama
Islam, Kristen dan Yahudi dan merupakan raja kedua
dan yang paling populer dalam kerajaan Israel.
Dalam agama Islam, Nabi Daud menerima kitab
Zabur.
18. Nabi Sulaiman
Nabi Sulaiman hidup sekitar 975-935 SM. Nabi
Sulaiman merupakan seorang raja Israel, dan anak
Raja Daud. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di
dalam Al-Quran. Sejak kecil ia telah menunjukkan
kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ia diangkat
menjadi nabi pada tahun 970 SM. Ia wafat di
Rahbaam, Baitul Maqdis-Palestina. Sulaiman
diagungkan sebagai salah satu dari empat raja yang
berhasil menaklukkan sebagian besar bumi,
diantaranya adalah Dzul Qarnain, Bukhtanasar dan
Namrudz.
19. Nabi Ilyas
Nabi Ilyas hidup sekitar 910-850 SM. Nabi Ilyas
adalah seorang utusan Allah. Ilyas merupakan
keturunan ke-4 dari Nabi Harun. Ia diangkat menjadi
nabi pada tahun 870 SM dan ditugaskan berdakwah
177
kepada orang-orang Finisia dan Bani Israel yang
menyembah berhala bernama Baal di Kota Baalbak,
Syam. Kota Baalbak diambil dari nama berhala yang
mereka sembah. Namanya disebutkan sebanyak 2
kali di dalam Al-Quran. Menurut kisah Islam ia tidak
wafat tapi diangkat ke sisi Allah.
20. Nabi Ilyasa
Nabi Ilyasa hidup sekitar 885-795 M. Nabi Ilyasa
adalah seorang nabi yang tertera dalam Qur’an dan
juga dianggap nabi oleh umat Yahudi dan Kristen. Ia
diangkat menjadi nabi pada tahun 830 SM dan
ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan orangorang Amoria di Panyas, Syam. Namanya disebutkan
sebanyak 2 kali di dalam Al-Quran dan Ia wafat di
Palestina.
21. Nabi Yunus
Nabi Yunus hidup sekitar 820-750 SM. Nabi Yunus
adalah salah seorang nabi dalam agama Samawi
(Islam, Yahudi, Kristen) yang disebutkan dalam AlQur’an dalam Surah Yunus dan dalam Alkitab dalam
Kitab Yunus.
22. Nabi Zakariya
Nabi Zakariya hidup sekitar akhir SM. Nabi Zakariya
adalah salah seorang nabi yang disebut di dalam AlKitab dan Qur’an. Ia diangkat menjadi nabi pada
178
tahun 2 SM dan ditugaskan berdakwah kepada Bani
Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 8
kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki 1 orang anak dan
wafat di Syam.
23. Nabi Yahya
Nabi Yahya hidup sekitar awal Masehi. Nabi Yahya
adalah nabi Islam yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Diyakini bahwa Yahya hidup selama 30 tahun.
Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 28 M dan
ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di
Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 4 kali di
dalam Al-Quran dan wafat di Damaskus Syiria.
24. Nabi Isa
Nabi Isa hidup sekitar 1–32 M. Nabi Isa adalah nabi
penting dalam agama Islam dan merupakan salah satu
dari Ulul Azmi. Dalam Al-Qur’an, ia disebut Isa bin
Maryam atau Isa al-Masih. Ia diangkat menjadi nabi
pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada
Bani Israil di Palestina.
25. Nabi Muhammad
Nabi Muhammad bin Abdullāh adalah pembawa
ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai
nabi dan rasul yang terakhir. Menurut sirah (biografi)
yang tercatat tentang Muhammad, ia disebutkan lahir
179
sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah (Makkah) dan
wafat pada 8 Juni 632 di Madinah pada usia 63 tahun.
Kedua kota tersebut terletak di daerah Hijaz (Arab
Saudi saat ini). Beliau haram digambarkan dalam
bentuk patung ataupun gambar ilustrasi.
E. Gelar Ulul Azmi
ٰ
ۡ َ ۡ
‫س ٰى َو ِعي َسى‬
َ ‫ِيم َومو‬
َ ‫وح َو ِإ ۡب ٰ َره‬
ٖ ُّ‫َو ِإذ أخَذنَا ِمنَ ٱلنَّ ِب ِينَ ِميث َ َقه ۡم َو ِمنكَ َو ِمن ن‬
ٰ
ّٗ ‫ٱ ۡب ِن َم ۡر َي ِۖ َم َوأَخ َۡذنَا ِم ۡنهم ِميثَقًا َغ ِل‬
٧ ‫يظا‬
Dan (Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian
dari nabi-nabi dan dari kamu (Muhammad), dari
Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan kami
Telah mengambil dari mereka perjanjian yang
teguh53. (QS. Al-Ahzab : 7)
Diantara 25 nabi dan rasul tersebut, ada 5 nabi yang
mendapat julukan/gelar Ulul Azmi. Ulul Azmi
merupakan gelar yang diberikan kepada nabi/rasul
yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam
menjalankan kenabiannya, yaitu :
Perjanjian yang teguh ialah kesanggupan menyampaikan agama
kepada umatnya masing-masing.
53
180
1. Nabi Nuh AS;
2. Nabi Ibrahim AS;
3. Nabi Musa AS;
4. Nabi Isa AS;
5. Nabi Muhammad Saw.
F. Sifat-sifat Nabi dan Rasul
Ada 4 sifat wajib yang menjadi bagian dalam diri
seorang nabi dan rasul, yaitu:
1. Sifat Shidiq (Benar);
٤٣ ‫صد ِّٗيقا نَّ ِبيًّا‬
ِ َ ‫ََ ٱ ۡذك ۡر ِفي ٱ ۡل ِك ٰت‬
ِ َ‫ِيم ِإنَّهۥ َكان‬
َ َۚ ‫ب ِإ ۡب ٰ َره‬
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di
dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat membenarkan54 lagi
seorang nabi. (QS. Maryam : 41)
Maksudnya: ialah Ibrahim a.s. adalah seorang nabi yang amat
cepat membenarkan semua hal yang ghaib yang datang dari Allah.
54
181
2. Amanah (Dipercaya);
ٞ ‫ِإنِي لَك ۡم َرسول أ َ ِم‬
٣١٧ ‫ين‬
Sesungguhnya Aku
adalah
seorang
Rasul
kepercayaan (yang diutus) kepadamu. (QS. AsySyu’ara : 107)
3. Tabligh (Menyampaikan);
َ‫نز َل إِلَ ۡيكَ ِمن َّربِ ِۖكَ َو ِإن لَّ ۡم ت َۡفعَ ۡل فَ َما بَلَّ ۡغت‬
َّ ‫۞ ٰ ٓيَأ َ ُّي َها ٱ‬
ِ ‫لرسول بَ ِل ۡغ َما ٓ أ‬
٦٧ َ‫اس إِ َّن ٱ َّلِلَ َال يَهۡ دِي ٱ ۡلقَ ۡو َم ٱ ۡل ٰ َك ِف ِرين‬
ٓۗ ِ َّ‫صمكَ ِمنَ ٱلن‬
ِ ۡ‫سالَت ََۚهۥ َوٱ َّلِل يَع‬
َ ‫ِر‬
Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu
kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu
tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara
kamu dari (gangguan) manusia55. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang kafir. (QS. Al-Maidah : 67)
Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh nabi
Muhammad s.a.w.
55
182
4. Fathonah (Cerdas).
ِۖ َ ‫ظ ِة ٱ ۡل َح‬
ۡ
َ ‫سبِي ِل َربِكَ بِٱ ۡل ِح ۡك َم ِة َوٱ ۡل َم ۡو ِع‬
‫ِي‬
َ ‫ٱ ۡدع إِلَ ٰى‬
َ ‫سنَ ِة َو ٰ َجدِلهم بِٱلَّتِي ه‬
٣٢٤ َ‫سبِي ِل ِهۦ َوه َو أ َ ۡعلَم بِٱ ۡلمهۡ تَدِين‬
َ ‫س َۚن إِ َّن َربَّكَ ه َو أ َ ۡعلَم بِ َمن‬
َ ‫ض َّل َعن‬
َ ‫أ َ ۡح‬
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah56 dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. An-Nahl : 125)
Nabi dan rasul juga memiliki 4 sifat mustahil yang
tidak lain adalah kebalikan dari sifat wajib yang ada,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
Sifat Kidzib (Dusta);
Khianat (Tidak dapat dipercaya);
Kitman (Menyembunyikan);
Baladah (Bodoh).
Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat
membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
56
183
Selain membicarakan mengenai agama, sebenarnya
nabi dan rasul adalah manusia biasa, sama seperti
halnya kita. Nabi dan rasul makan seperti halnya
manusia di zaman ini, sama-sama menggunakan
mulut. Nabi dan rasul juga malam harinya biasa tidur
seperti kita, menikah seperti biasa, memiliki anak.
Tidak ada yang berbeda.
Inilah yang dimaksud sebagai sifat jaiz bagi nabi dan
rasul. Istilah keren dari sifat jaiz ini adalah A’radhul
Basyariyah, atau sifat-sifat sebagaimana manusia
pada umumnya.
184
Pasal 9
MEMPERCAYAI KEDATANGAN HARI
KIAMAT
Sudah diterangkan dalam berbagai macam disiplin
ilmu pengetahuan di zaman sekarang, bahwa
keteraturan-keteraturan alam raya ini setiap waktunya
terus berubah. Dan semua ilmuan menyetujui, bahwa
bumi ini tidak bisa dihuni oleh manusia selamanya.
Akan ada masanya bumi ini hancur. Dan parahnya
lagi, kehancuran itu bersifat universal, menyeluruh.
Walau manusia mencoba untuk hidup di luar bumi
pun, kehancuran itu tidak akan bisa dihindari.
Ditegaskan oleh ahli astronomi, bahwa planet-planet
beredar di angkasa mengelilingi matahari. Peredaran
ini berjalan rapi tanpa terjadi tabrakan dan benturan
karena adanya daya tarik-menarik. Daya tarik
menarik ini tidak selamanya utuh. Daya itu semakin
lama semakin habis. Bisa kita bayangkan,
seandainya suatu saat nanti keseimbangan itu tidak
ada lagi, bumi akan meluncur dengan kekuatan yang
maha dahsyat menubruk matahari. Dengan demikian,
hancurlah bumi ini. Dan masih banyak lagi hipotesis185
hipotesis lain yang dikemukakan oleh para ilmuan di
jagad bumi ini.
A. Definisi Hari Kiamat
Yawm al-Qiyāmah (bahasa Arab: ‫ )يوم القيامة‬adalah
"Hari Kebangkitan"
seluruh
umat
manusia
dari Adam hingga manusia terakhir. Ajaran ini
diyakini oleh umat Islam, Kristen dan Yahudi. AlQiyāmah juga merupakan nama surat ke 75 di dalam
kitab suci Al-Qur'an.
Kalimat kiamat di dalam bahasa Indonesia adalah
hari kehancuran dunia, kata ini diserap dari bahasa
Arab "Yaum al Qiyamah", yang arti sebenarnya
adalah hari kebangkitan umat. Sedangkan hari kiamat
(kehancuran alam
semesta beserta isinya)
dalam bahasa Arab adalah "As-Saa’ah".
Yaum al-Qiyamah secara bahasa berarti "Hari
Kebangkitan Umat", terdiri dari 3 suku kata, yaitu:
1. Yaum (‫ = )يوم‬Hari, masa atau periode
2. Qiyam (‫ = )قيام‬Tegak, bangkit, berdiri
3. `Ummah (‫ = )أمة‬Umat, bangsa
186
Secara istilah Yaumul Qiyamah sering diartikan hari
kiamat
(kehancuran
alam semesta beserta
isinya). Yaumul Qiyamah sama halnya dengan Yawm
ad-Din yang artinya suatu periode (masa) di mana
akan terjadi kebangkitan sebuah komunitas umat
manusia yang hidup berdasarkan agama Allah
(dinullah). Umat ini bangkit 700 thn sekali dengan
diutusnya seorang rasul dari umat tersebut.
B. Dasar Hukum Kepastian Kiamat
Banyak
ayat-ayat
dalam
al-Qur’an
yang
menggambarkan tentang peristiwa yang mengerikan
ini. Banyak istilah untuk menyebut kiamat di dalam
al-Qur’an. Tapi kali ini penulis hanya akan
memberikan satu saja dalil naqli tentang berita dari
Allah akan kedatangan hari kiamat.
Penulis mengambilnya dari surat an-Naml ayat 87
yang berbunyi:
‫ب َو ٰلَ ِك َّن ٱ ۡل ِب َّر َم ۡن‬
ِ ‫ق َوٱ ۡل َم ۡغ ِر‬
َ ‫۞لَّ ۡي‬
ِ ‫س ٱ ۡل ِب َّر أَن ت َولُّواْ وجوهَك ۡم ِق َب َل ٱ ۡل َم ۡش ِر‬
ٓ
ٰ
ۡ
ٰ
ۡ
ۡ
ۡ
‫ب َوٱلنَّ ِب ِينَ َو َءاتَى ٱل َما َل َعلَ ٰى ح ِب ِهۦ‬
ِ َ ‫َءا َمنَ ِبٱ َّلِلِ َوٱل َي ۡو ِم ٱ ۡأل ٓ ِخ ِر َوٱل َملَ ِئ َك ِة َوٱل ِكت‬
‫ب‬
َّ ‫س ِبي ِل َوٱل‬
َّ ‫سكِينَ َوٱ ۡبنَ ٱل‬
ِ ‫سآئِلِينَ َوفِي ٱ ِلر َقا‬
َ ٰ ‫ذَ ِوي ٱ ۡلق ۡر َب ٰى َوٱ ۡل َي ٰت َ َم ٰى َوٱ ۡل َم‬
َّ ‫صلَ ٰوة َ َو َءات َى ٱ‬
‫ص ِب ِرينَ فِي‬
َّ ٰ ‫لزك َٰوة َ َوٱ ۡلموفونَ ِب َعهۡ ِده ِۡم ِإذَا ٰ َع َهدو ِۖاْ َوٱل‬
َّ ‫ام ٱل‬
َ َ‫َوأَق‬
ٓ
ٓ
ِۖ
ٰ
ٰ
ۡ
ۡ
ۡ
ٓۗ ِ ‫سا ٓ ِء َوٱلض ََّّرآ ِء َو ِحينَ ٱل َبأ‬
َ‫صدَقواْ َوأ ْولَئِكَ هم ٱلمتَّقون‬
َ ‫ٱ ۡل َب ۡأ‬
َ َ‫س أ ْولَئِكَ ٱلَّذِين‬
٣٧٧
187
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan
barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari
Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orangorang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan
zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar
dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar
(imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang
bertakwa. (QS. Al-Baqarah 177)
C. Pengetahuan Allah
Masalah kiamat ini mutlak merupakan ketetapan
Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui
akan kehancuran alam semesta ini. Mengapa? Karena
seluruh
makhluk
yang
akan
merasakan
kedahsyatannya. Kalangan manusia maupun jin,
termasuk iblis, bahkan malaikat sendiri, tidak luput
dari keganasan kiamat. Tidak logis Allah
188
memberikan informasi ketetapan waktu kedatangan
kiamat kepada mereka yang justru akan ikut hancur
di dalamnya. Jangankan makhluk yang lain, malaikat
Israfil saja tidak diberitahukan oleh Allah akan
ketetapan waktu kedatangan kiamat.
Adapun dalil naqlinya bisa merujuk pada surat Thoha
ayat 15 yang berbunyi:
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku
merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri
itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”
D. Pembagian Kiamat
Yang dimaksud penulis disini, adalah perbedaan
istilah kiamat yang berkembang di masyarakat.
Setidaknya istilah kiamat ini diperuntukkan untuk
kiamat yang dianggap kecil (sughra) dan kiamat yang
memang benar kiamat (kubra). Kiamat sughra
merupakan
peristiwa-peristiwa
biasa,
seperti
meninggalnya manusia, tapi dianggap merupakan
sebuah kiamat. Sementara satunya lagi memang yang
kita maksud dalam pembahasan kali ini, yaitu kiamat
kubra.
Kiamat Sugra, adalah kiamat kecil, yaitu rusaknya
sebagian makhluk, misalnya kematian dan terjadinya
189
bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus,
banjir
dan
sebagainya. Sementara
kiamat
kubra adalah kiamat besar, yaitu hancurnya alam
semesta dengan segala isinya secara serempak, atau
berakhirnya seluruh kehidupan makhluk di alam ini.
‫ورك ۡم يَ ۡو َم ٱ ۡل ِق ٰيَ َم ِِۖة فَ َمن ز ۡح ِز َح َع ِن‬
ِ ٓۗ ‫ك ُّل ن َۡف ٖس ذَآئِقَة ٱ ۡل َم ۡو‬
َ ‫ت َو ِإنَّ َما ت َوفَّ ۡونَ أج‬
٣٩٤ ‫ور‬
ِ ‫ار َوأ ۡد ِخ َل ٱ ۡل َجنَّةَ فَقَ ۡد فَ ۗٓازَ َو َما ٱ ۡل َحيَ ٰوة ٱلد ُّۡنيَا ٓ ِإ َّال َم ٰتَع ٱ ۡلغر‬
ِ َّ‫ٱلن‬
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan
Sesungguhnya
pada
hari
kiamat
sajalah
disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan
dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka
sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu
tidak
lain
hanyalah
kesenangan
yang
memperdayakan. (QS. Al-Imran 185)
Kiamat Sughra berarti kiamat kecil. Seperti kematian,
gempa bumi, gunung meletus, banjir dan lain-lain.
Setiap mahluk yang hidup akan menemui kematian.
Binatang- binatang akan mati setelah masa hidupnya
selesai. Tumbuh- tumbuhan juga akan mengalami hal
yang sama, Demikian juga manusia. Hal itu seperti
yang di jelaskan Allah dalam surah al-Imran ayat 185
yang berbunyi:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya
pada
hari
kiamat
sajalah
190
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan
dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka
sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu
tidak
lain
hanyalah
kesenangan
yang
memperdayakan.”
Kiamat Kubra (kerusakan besar) adalah hancurnya
alam semesta dengan segala isinya. Keadaan alam
semesta dan segala isinya pada waktu terjadi kiamat
banyak di jelaskan Allah dalam Al-Quran. Hanya
Allah saja yang mengetahui. Tidak ada satu mahluk
pun yang mengetahuinya termasuk para malaikat
Allah.
E. Tanda-tanda Kiamat Kubra
Kita bagi tanda-tanda ini ke dalam dua kategori, yang
pertama tanda-tanda kecil dan yang kedua adalah
tanda-tanda besar. Tanda-tanda kecil ini sedikit demi
sedikit tumbuh di masyarakat kita saat ini. Sementara
tanda-tanda besar, belum ada yang nampak, sebelum
tanda-tanda kecil sudah terjadi dan benar-benar
parah.
Tanda-tanda kiamat kecil, antara lain :
191
1. Diutusnya Rasulullah saw
Jabir r.a. berkata, ”Adalah Rasulullah saw jika beliau
khutbah memerah matanya, suaranya keras, dan
penuh dengan semangat seperti panglima perang,
beliau bersabda, ‘(Hati-hatilah) dengan pagi dan
sore kalian.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku diutus dan
hari Kiamat seperti ini.’ Rasulullah saw.
mengibaratkan seperti dua jarinya antara telunjuk
dan jari tengah. (HR Muslim)
2. Disia-siakannya amanat
Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi saw berada dalam
suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka
datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan
terjadi Kiamat?” Rasulullah saw terus melanjutkan
pembicaraannya.
Sebagian
sahabat
berkata,
“Rasulullah saw mendengar apa yang ditanyakan
tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya.”
Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw tidak
mendengar.” Setelah Rasulullah saw menyelesaikan
perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya
tentang Kiamat?” Berkata lelaki Badui itu, ”Saya,
wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. Berkata,
“Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.”
Bertanya,
“Bagaimana
menyia-nyiakannya?”
Rasulullah saw. Menjawab, “Jika urusan diserahkan
192
kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah
kiamat.” (HR Bukhari).
3. Penggembala menjadi kaya
Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang tandatanda kiamat, lalu beliau menjawab, “Seorang budak
melahirkan majikannya, dan engkau melihat orangorang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin,
penggembala binatang berlomba-lomba saling tinggi
dalam bangunan.” (HR Muslim)
4. Sungai Eufrat berubah menjadi emas
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw
bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sampai Sungai
Eufrat menghasilkan gunung emas, manusia
berebutan tentangnya. Dan setiap 100 terbunuh 99
orang. Dan setiap orang dari mereka berkata,
”Barangkali akulah yang selamat.” (Muttafaqun
‘alaihi)
5. Baitul Maqdis dikuasai umat Islam
”Ada enam dari tanda-tanda kiamat: kematianku
(Rasulullah saw), dibukanya Baitul Maqdis, seorang
lelaki diberi 1000 dinar, tapi dia membencinya,
fitnah yang panasnya masuk pada setiap rumah
muslim, kematian menjemput manusia seperti
kematian pada kambing dan khianatnya bangsa
193
Romawi, sampai 80 poin, dan setiap poin 12.000.”
(HR Ahmad dan At-Tabrani dari Muadz).
6. Banyak terjadi pembunuhan
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Tiada akan terjadi kiamat, sehingga
banyak terjadi haraj”. Sahabat bertanya, “Apa itu
haraj, ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab,
“Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan.” (HR
Muslim).
7. Munculnya kaum Khawarij
Dari Ali ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw
bersabda, “Akan keluar di akhir zaman kelompok
orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan
sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya
sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari
agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di
mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka.
Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di
hari Kiamat.” (HR Bukhari).
8. Perang antara Yahudi dan Umat Islam
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin
berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin
membunuh mereka sampai ada seorang yahudi
bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon194
pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, ‘Wahai
muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di
belakangku, kemari dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon
Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR
Muslim).
9. Dominannya Fitnah
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat, sampai
dominannya
fitnah,
banyaknya
dusta
dan
berdekatannya pasar.” (HR Ahmad).
10. Sedikitnya ilmu
11. Merebaknya perzinahan
12. Banyaknya kaum wanita
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw.
bersabda. “Sesungguhnya di antara tanda-tanda
kiamat adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan,
banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang
minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum
wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu
lelaki.” (HR Bukhari).
13. Bermewah-mewah dalam membangun masjid
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Diantara tanda kiamat adalah bahwa manusia
saling membanggakan dalam keindahan masjid.”
(HR Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban).
195
14. Menyebarnya riba dan harta haram
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw.
bersabda, “Akan datang pada manusia suatu waktu,
setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang
yang tidak makan langsung, pasti terkena debudebunya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan AlBaihaqi).
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw.
bersabda, “Akan datang pada manusia suatu saat di
mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya
didapat, apakah dari yang halal atau yang haram.”
(HR Ahmad dan Bukhari).
Dari sekian banyak tanda-tanda kecil tersebut, hanya
beberapa yang akan penulis perjelas. Hamba sahaya
perempuan melahirkan tuannya, maksudnya adalah
terjadinya perzinaan yang sudah masal dan terjadi
antara majikan dengan pembantunya. Akibatnya, si
pembantu melahirkan anak yang tidak lain adalah
anak majikannya. Ada lagi tanda lain yang
disebutkan, yaitu terjadinya peperangan antara dua
golongan besar yang saling membunuh, dan
keduanya mengaku memperjuangkan agama Islam.
Penulis kira sekarang sudah mulai nampak.
Maksudnya
disini
adalah
bentuk-bentuk
pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat terhadap
pemerintahan yang sah. Termasuk juga perselisihan
196
antara satu negara dengan negara lain yang samasama beragama Islam. Penulis tidak menyangkal,
bahwa nasionalisme yang kebablasan merupakan
bentuk jahiliyyah modern.
Sedangkan tanda-tanda kiamat besar, antara lain:
1. Keluarnya suatu binatang yang sangat aneh.
Binatang ini dapat bercakap-cakap kepada
semua orang dan menunjukkan kepada
manusia bahwa kiamat sudah sangat dekat.
2. Datangnya al-Mahdi. Beliau termasuk
keturunan dari Rasulullah Saw. Oleh karena
itu, beliau serupa benar akhlak dan budi
pekertinya
dengan
Rasulullah
Saw.
Kemunculan al-Mahdi ini yang menurut
penulis merupakan bentuk dari kebangkitan
Islam yang dijanjikan oleh Allah.
3. Munculnya
Dajjal.
Keluarnya
Dajjal
merupakan fitnah atau ujian besar bagi
manusia, di mana Allah memberikan
kemampuan kepadanya melakukan hal-hal
yang
membuat
manusia
terperdaya
dengannya, yaitu ia mampu memerintah
langit untuk menurunkan hujan, tanah untuk
menumbuhkan rumput, menghidupkan orang
yang telah mati, dan peristiwa yang lain diluar
197
hukum alam. Rasulullah mengambarkan
bahwa dajjal itu bermata sebelah yang datang
dengan membawa perumpamaan surga dan
neraka. Maka, yang ia katakan surga
sebenarnya adalah neraka, dan yang ia
katakan neraka sebenarnya adalah surga.
Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh
hari, sehari pertama seperti setahun, lalu
sehari kedua seperti sebulan, kemudian sehari
ketiga seperti seminggu, dan hari-hari
berikutnya seperti hari-hari biasa. Tidak ada
satu tempat di muka bumi yang tidak
disinggahi dajjal, kecuali Mekkah dan
Madinah.
4. Hilang dan lenyapnya al-Qur’an. Bahkan
lenyap pula lah yang ada di dalam hati
seseorang.
5. Turunnya Nabi Isa as. Beliau akan turun ke
bumi ini di tengah-tengah merajalela
pengaruh Dajjal.
6. Dukhan (asap) yang akan keluar dan
mengakibatkan penyakit di kalangan orangorang yang beriman dan mematikan seluruh
orang beriman.
198
7. Dabbah-Binatang besar yang keluar di dekat
Bukit Shafa di Mekkah yang akan bercakap
bahwa manusia tidak beriman lagi kepada
Allah swt.
8. Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang
akan membuat kerusakan dipermukaan bumi
ini. Mereka menghancurkan dinding yang
dibuat dari besi bercampur tembaga yang
telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama
dengan pembantu-pembantunya pada zaman
dahulu.
9. Gempa bumi besar di Timur.
10. Gempa bumi besar di Barat.
11. Gempa bumi besar di Semenanjung Arab.
12. Api besar yang akan menghalau manusia
menuju ke Padang Mahsyar.
13. Terbitnya matahari dari arah barat dan
terbenam dari arah timur. Hal ini terjadi
karena perubahan besar dalam susunan alam
semesta.
199
F. Setelah Kiamat
Kiamat bukanlah akhir dari segalanya. Setiap
makhluk Allah akan dimintai pertanggung jawaban
dari setiap usaha mereka ketika masih hidup di dunia.
Adapun beberapa peristiwa pasca-kiamat antara lain:
1. Yaumul Barzah atau alam kubur, yaitu waktu
antara sesudah meninggalnya seseorang
sampai menunggu datangnya hari kiamat.
(Q.S.Al Khafi ayat 99)
2. Yaumul Baats, masa dibangkitkannya
manusia dari alam kubur mulai dari manusia
pertama sampai manusia terakhir. (Q.S. Al
Zalazalah ayat 6)
3. Yaumul Mahsyar, masa dikumpulkannya
manusia dipadang mahsyar. (Q.S. Ibrahim
ayat 48)
4. Yaumul Hisab/Mizan, masa diperhitungkan /
ditimbang amal kebaikan dan keburukan
manusia. (Q.S. Yasin ayat 65)
5. Syirot, yaitu jembatan atau jalan yang
menghubungkan dan mengantarkan manusia
ke surga atau neraka.
200
6. Surga, yaitu tempat balasan bagi orang yang
beriman kepada Allah Swt.(Q.S. Al Hajj ayat
23)
7. Neraka, yaitu tempat balasan bagi orang yang
ingkar kepada Allah Swt. (Q.S. Az Zumar
ayat 32)
G. Hikmah Beriman kepada Hari Kiamat
Beriman atau percaya akan datangnya hari kiamat
tentu akan menimbulkan sebuah dampak bagi
kehidupan seseorang. Minimal orang tersebut akan
berusaha patuh terhadap ajaran Allah dan rasulNya.
Dengan dirahasiakannya hari Kiamat seperti
dirahasiakannya hari kematian seseorang, tentu akan
menimbulkan sikap hati-hati di dalam diri orang
tersebut.
201
Pasal 10
MEMAKNAI QADLA DAN QADAR
Tidak bisa kita sangkal lagi, bahwa Allah berkuasa
atas segala sesuatu. Semua yang ada di alam raya ini,
tidak lain merupakan kehendak Allah. Semua
kejadian yang telah kita saksikan, yang pernah kita
dengar, tidak ada satu pun yang terjadi tanpa
ketentuan Allah. Allah benar-benar berkuasa atas
segala sesuatu.
Kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah
Allah tuliskan (tetapkan) dalam kitab Lauhul
Mahfudz yang terjaga rahasiaannya dan tidak satu
pun makhluk Allah yang mengetahui isinya.
Semuanya mutlak merupakan kehendak Allah Azza
wa Jalla.
Kematian, kelahiran, rezeki, nasib, jodoh, bahagia,
dan celaka, semuanya telah ditetapkan sesuai
ketentuan-ketentuan Ilahiyah yang tidak pernah
diketahui oleh manusia atau makhluk yang lain.
Dengan tidak adanya pengetahuan tentang ketetapan
dan ketentuan Allah ini, maka kita harus berlombalomba menjadi hamba yang terus menebar kebaikan,
dan berusaha keras untuk menggapai cita-cita
202
tertinggi yang diinginkan setiap muslim, yaitu
melihat Rabbul ’alamin dan menjadi penghuni Surga.
Keimanan seorang muslim, diwujudkan dalam
kepercayaannya terhadap 6 pilar rukun iman yang
sudah disabdakan oleh nabi. Satu diantara keenam
pilar tersebut adalah iman terhadap Qadla dan Qadar
dari Allah. Sebuah keimanan yang harus ada dalam
diri seorang muslim. Salah memahami keimanan
terhadap takdir atau Qadla dan Qadar ini dapat
berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan
seseorang.
‫ب ِمن قَ ۡب ِل‬
ِ ‫صي َب ٖة ِفي ٱ ۡأل َ ۡر‬
َ ‫ص‬
ِ ‫اب ِمن ُّم‬
ٖ َ‫ض َو َال ِف ٓي أَنفسِك ۡم ِإ َّال ِفي ِك ٰت‬
َ َ ‫َما ٓ أ‬
ٰ
َۚ
٢٢ ‫ِير‬
ٞ ‫أَن نَّ ۡب َرأ َ َها ٓ ِإ َّن ذ َلِكَ َعلَى ٱ َّلِلِ َيس‬
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan
(Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah
tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid : 22)
٤٨ ‫إِنَّا ك َّل ش َۡيءٍ َخلَ ۡق ٰنَه بِقَدَ ٖر‬
Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukuran (takdir). (QS. Al-Qamar : 49)
203
A. Definisi Qadla dan Qadar
Secara bahasa, Qadla artinya adalah ketetapan. Lebih
jelasnya, Qadla merupakan ketetapan Allah swt
kepada setiap mahluk-Nya yang bersifat Azali. Azali
Artinya ketetapan itu sudah ada sebelumnya, jauhjauh hari dari kelahiran makhluk. Jadi gambaran
luasnya, setiap skenario waktu yang ada hingga hari
kiamat nanti, telah ada ketentuannya dan telah diatur
oleh Allah.
Sedangkan Qadar menurut bahasa artinya adalah
ukuran. Qadar merupakan penjelasan sebuah
penciptaan sesuai dengan ukuran atau timbangan
yang telah ditentukan sebelumnya. Qadla dan Qadar
dalam keseharian sering kita sebut dengan takdir.
Jadi, Iman kepada qadla dan qadar adalah percaya
sepenuh hati bahwa sesuatu yang telah terjadi, sedang
terjadi, dan yang akan terjadi di alam raya ini,
semuannya telah ditentukan oleh Allah swt sejak
jaman azali.
Dalil naqli mengenai tuntutan iman kepada qadla dan
qadar sebenarnya sangat banyak sekali, baik itu dari
al-Qur’an, maupun dari hadits nabi. Tapi untuk lebih
memudahkan, penulis disini hanya akan memberikan
dua dalil saja, satu dari al-Qur’an dan satu lagi dari
204
hadits nabi, yang sudah umum dijadikan dasar bagi
kebanyakan umat muslim.
“Tiadalah suatu bencana menimpa di bumi dan
(tidak pula) pada dirimu, melainkan dahulu sudah
tersurat dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid : 22)
Rasulullah saw bersabda, “Iman adalah kamu
percaya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab,
para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu percaya
kepada takdir baik maupun buruk.” (HR. Muslim)
B. Macam-Macam Takdir
Setidaknya istilah takdir secara umum ini dibagi
menjadi dua bagian, yaitu:
1. Takdir Muallaq
Takdir muallaq adalah takdir Allah swt atas
makhlukNya yang memungkinkan takdir tersebut
dapat berubah karena usaha dan ikhtiar makhlukNya
tersebut. Itu artinya, Allah memberikan sebuah
keleluasaan bagi makhluk untuk melakukan segala
sesuatu dengan keinginan dirinya. Tapi walau begitu,
setiap keinginan makhluk yang merupakan usaha
205
atau ikhtiar itu, tetap saja merupakan kehendak Allah
Azza wa Jalla.
Takdir muallaq ini yang seharusnya dipahami lebih
jauh oleh umat muslim. Jangan sampai, istilah
beriman kepada qadla dan qadar dijadikan alasan
pembenar untuk tidak melalukan usaha atau ikhtiar
demi mewujudkan diri menjadi lebih baik. Banyak
contoh yang bisa kita ambil dalam pembahasan takdir
muallaq ini. Penulis meyakini bahwa setiap manusia
pasti memiliki kesalahan dan kekhilafan. Untuk
memperbaiki kesalahan itulah, manusia selalu belajar
untuk menjadi lebih baik. Dalam mewujudkan itulah,
merupakan usaha yang dilakukan oleh manusia
dengan kehendaknya sendiri.
Dalil akan adanya takdir muallaq yang biasa
dijadikan dasar hukum adalah firman Allah di dalam
al-Qur’an yang berbunyi:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib
suatu kaum sehingga mereka itu mengubah nasibnya
sendiri.” (Ar-Radu : 11)
2. Takdir Mubram
Takdir mubram inilah yang seharusnya menjadi
sorotan kita. Takdir mubram adalah takdir yang pasti
terjadi dan tidak dapat dielakkan kejadiannya. Takdir
mubram ini murni merupakan ketentuan dan
206
kehendak Allah. Semua makhluk diatur oleh takdir
mubram ini, tak terkecuali malaikat. Dan tidak ada
satupun makhluk yang bisa melawan takdir ini.
Andaikan seluruh makhluk bergabung menjadi satu,
seluruhnya, untuk merubah satu saja dari takdir
mubram yang sudah diatur oleh Allah, demi Allah
takdir tersebut tidak akan berubah kecuali atas izin
Allah.
Contoh dari takdir mubram ini diantaranya adalah
kelahiran makhluk, kematian, jodoh, rezeki,
terjadinya kiamat, bencana alam, dan beberapa
ketentuan lain yang sudah diatur oleh Allah. Seluruh
hal yang masuk dalam kategori takdir mubram ini
adalah rahasia Allah swt, hanya Allah yang
mengetahuinya.
Sama seperti beriman kepada rukun iman yang lain,
iman kepada qadla dan qadar juga seharusnya
memberikan dampak yang positif bagi kehidupan
seorang muslim. Setidaknya orang yang beriman
kepada qadla dan qadar memiliki sebuah kemuliaan
hati untuk lebih dekat dengan Allah.
Beriman kepada adanya takdir muallaq akan
memunculkan semangat ikhtiar dalam diri seorang
muslim. Hal ini harus benar-benar dipahami oleh
umat muslim. Beberapa intelektual muslim
berpendapat, bahwa mundurnya peradaban Islam
207
salah satu alasannya adalah kesalah pengertiannya
terhadap makna qadla dan qadar. Banyak muslim
yang mengabaikan takdir muallaq, hingga merasa
semuanya sudah diatur oleh Allah dan tidak bisa
dirubah. Akhirnya, orang-orang semacam ini hidup
dengan penuh kemalasan.
Sementara hikmah beriman kepada takdir mubram
adalah untuk menguatkan diri ketika menghadapi
cobaan yang berat. Misalnya kita diuji oleh Allah
dengan sebuah bencana alam. Dengan beriman
kepada adanya ketetapan dan kepastian Allah, kita
tidak dengan mudah menyalahkan keadaan. Kita
harus percaya bahwa setiap cobaan yang datang,
murni merupakan ketetapan Allah.
Beriman kepada qadla dan qadar juga akan
memberikan efek yang luar biasa, salah satu
diantaranya adalah menguatkan diri dengan sifat
sabar, tawakal, serta memiliki tekad dalam
memperjuangkan impiannya. Jika seorang muslim
sudah bisa membedakan antara ketetapan Allah yang
sudah mutlak dan ketetapan yang masih bisa dirubah,
maka muslim seperti ini adalah orang-orang yang
beruntung. Mereka tidak hanya menggantungkan
dirinya kepada Allah, tapi juga tidak menghilangkan
eksistensi Allah dalam mengatur dirinya.
208
Dan diantara sifat yang bisa dimunculkan karena
beriman kepada qadla dan qadar, salah satunya lagi
adalah qanaah. Sifat qanaah ini adalah menerima apa
adanya dari apa yang yang sudah ditentukan Allah.
Sifat ini adalah salah satu puncak dari sifat makhluk
yang beriman akan adanya ketetapan Allah yang
sudah pasti, yakni takdir mubram.
Disamping qanaah, sifat lain yang juga akan dimiliki
oleh mereka yang benar-benar beriman kepada qadla
dan qadar adalah banyaknya rasa syukur dan tidak
sombong. Dengan meyakini adanya ketetapan Allah,
orang yang beriman kepada qadla dan qadar akan
senantiasa bersyukur dalam segala keadaan. Hal
terburuk dalam hidupnya pun akan tetap dia syukuri,
karena meyakini itu adalah ketetapan Allah. Dan
secara tidak langsung, orang tersebut juga akan
dihindari dari sifat sombong. Mana mungkin sifat
sombong ini muncul sementara dia meyakini dirinya
tidak berkuasa atas segala sesuatu kecuali atas izin
Allah.
C. Kelompok dalam Islam
Dalam memahami takdir, Islam melahirkan dua kubu
dimana satu dengan yang lainnya merupakan
kebalikan yang sangat kontras. Hal ini tidak lain
209
adalah kesalah-pengertian kedua kubu itu dalam
memahami takdir Allah.
Kedua aliran ini sama sekali tidak paham dengan
pembahasan kita sebelumnya, mengenai adanya
takdir muallaq dan takdir mubram. Satu kubu hanya
menerima takdir muallaq saja, satunya lagi hanya
mempercayai adanya takdir mubram saja.
Salah satu aliran yang terkenal adalah aliran
Qadariyah. Aliran ini adalah aliran yang hanya fokus
mempercayai kehendak manusia, sementara Allah
hanya bersifat menyetujui dari apa yang sudah
dikehendaki oleh manusia. Dalil naqlinya sederhana,
yaitu Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum
sebelum kaum itu merubahnya. Dalil ini selalu
dijadikan dasar bagi aliran ini untuk membenarkan
tindakan mereka.
Aliran Qadariyah adalah buntut panjang dari lahirnya
aliran teologi yang rasionalis. Dengan mengandalkan
akal, aliran ini mengklaim hidup ini hanya bisa maju
jika terus mengembangkan akalnya. Dan menurut
aliran ini pula, Allah tidak akan mungkin membatasi
umatnya untuk terus berkarya dengan akalnya. Jadi
takdir Allah yang sudah pasti adalah sesuatu hal yang
tidak logis.
210
Sementara aliran kebalikannya adalah aliran
Jabariyah. Aliran ini justru berpendapat bahwa
makhluk tidak bisa berbuat apa-apa terhadap takdir
Allah. Aliran ini malah menentang adanya takdir
muallaq. Aliran Jabariyah biasanya melahirkan
aliran-aliran tasawwuf yang bathil. Mereka
mengesampingkan duniawi seluruhnya. Disatu sisi
memang baik, tapi kadang memiliki efek yang buruk.
Kita disini tidak hadir untuk memvonis kedua aliran
tersebut. Satu dengan yang lainnya memiliki
kelebihan dan kelemahan. Aliran Qadariyah memiliki
kelebihan dalam kemajuan peradaban. Dengan
menganut aliran ini, seorang muslim akan terus
berkembang akalnya dan terus maju menembus
batas-batas Tuhan. Sementara Jabariyah juga
memiliki kelebihan sebagai pribadi-pribadi yang baik
dan shaleh dalam menghadapi hidup ini. Tapi dilain
pihak, keduanya memiliki kelemahan yang sangat
fatal. Qadariyah tentu akan mengabaikan hakikat
hidup di dunia, yakni kematian. Golongan ini hanya
terus fokus kepada urusan duniawi hingga kadang
lupa akan kehidupan akhirat, sementara Jabariyah
pun memiliki kelemahan yang lumayan serius. Aliran
ini akhirnya agak menjauhi umat lain. Aliran ini juga
melupakan salah satu hakikat hidup, yakni
berdakwah kepada kebenaran.
211
Maka dari itu, konsep Ahlussunnah wal Jamaah lahir
untuk menjembatani keduanya. Ahlussunnah wal
Jamaah mengakui akan eksistensi usaha dan ikhtiar
manusia atau makhluk, dan Ahlussunnah juga
meyakini akan kemaha-kuasaan Allah dalam
mengatur setiap makhlukNya. Ahlussunnah inilah
yang merupakan ajaran nabi.
Baik al-Asy’ari maupun al-Maturidi berpendapat,
bahwa Allah yang menciptakan perbuatan-perbuatan
manusia itu. Dan pandangan tersebut didasarkan pada
firman Allah dalam surat as-Shoffat ayat 96:
٨٦ َ‫َوٱ َّلِل َخلَقَك ۡم َو َما ت َعۡ َملون‬
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa
yang kamu perbuat itu".
Pada dasarnya al-Asy’ari berpendapat bahwa
perbuatan manusia itu tidak lebih dari perbuatan yang
diciptakan oleh Allah dan dilimpahkan pada manusia
sebagai “tempat perbuatan” tersebut. Manusia pada
hakikatnya tidak mempunyai daya yang efektif untuk
melakukan perbuatannya sendiri selama tidak sesuai
dengan yang sudah ditentukan oleh Allah. Teori alAsy’ari ini dikenal dengan istilah “al-Kasab”, yang
oleh para ahli ilmu kalam dirasakan sulit untuk
menjelaskannya. Dalam hal ini, dinilai bahwwa
212
konsep al-Kasab mendekati konsep Jabariyah, yaitu
golongan yang mengatakan bahwa manusia tidak
dapat melakukan apa-apa terhadap perbuatannya
sendiri, sebab semua sudah ditentukan oleh Allah.
Oleh karena itu, manusia tidak bertanggungjawab
terhadap perbuatannya.57
Berbeda dengan pendapat al-Maturidi, meskipun
meyakini dengan kekuasaan Allah yang tidak terbatas
terhadap perbuatan manusia, tetapi al-Maturidi
memandang bahwa manusia ikut mempunyai peranan
dalam perbuatannya. Dalam konsep al-Maturidi
perbuatan manusia itu terdiri dari dua macam
perbuatan, yakni perbuatan Tuhan dalam bentuk
penciptaan daya kemampuan pada diri manusia ( ‫خلق‬
‫ )اإلستطاعة‬dan perbuatan manusia dalam bentuk
pemakaian atau penggunaan daya tersebut (
‫)اإلستطاعةإستعمال‬.58
Para pengikut dan murid al-Asy’ari seperti alBaqillani, imam Haramaian, al-Juwaini, dan alIsfarayini memberikan kesimpulan bahwa perbuatan
manusia itu terdiri dari dua daya / kemampuan, yakni
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 40.
57
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 41.
58
213
daya yang diciptakan Tuhan dan daya yang
digunakan oleh manusia. Tuhan tetap merupakan
pihak yang menentukan perbuatan manusia, bukan
daya manusia belaka. Sebuah ungkapan para
pendukung Ahlussunnah wal Jamaah biasa
mengatakan, “kami boleh berusaha, tetapi Allah yang
menentukan hasilnya”.
Pendapat Ahlussunnah wal Jamaah ini berbeda
dengan pandangan Qadariyah yang dipakai oleh
Mu’tazilah yang menegaskan bahwa manusia lah
yang menciptakan perbuatan-perbuatannya, manusia
berbuat baik atau buruk, patuh atau tidak patuh
kepada Tuhan atas kehendak dan kemauannya
sendiri. Pendapat Ahlussunnah wal Jamaah juga
berbeda dengan pandangan Jabariyah yang
mengatakan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh
Allah, sementara manusia tidak memiliki upaya
untuk merubah nasibnya sendiri.
Sementara itu, Ahlussunnah wal Jamaah berpendapat
bahwa orang mukmin yang melakukan dosa
kemudian meninggal sebelum melakukan tobat, maka
hukumnya terserah kepada Allah. Jika Allah
mengampuninya, maka hal itu karena kemurahan dan
kasih sayangNya. Atau orang itu diampuniNya
karena mendapat syafaat Nabi Muhammad untuk
umatnya yang berdosa. Tetapi orang tersebut
214
termasuk fasiq, tapi tidak kekal di dalam neraka
karena masih memiliki iman. Al-Asy’ari menguatkan
pendapat itu dengan firman Allah yang berbunyi:
‫شا ٓ َۚء َو َمن ي ۡش ِر ۡك‬
َ َ‫ِإ َّن ٱ َّلِلَ َال يَ ۡغ ِفر أَن ي ۡش َركَ ِب ِهۦ َويَ ۡغ ِفر َما دونَ ٰذَلِكَ ِل َمن ي‬
٤٩ ‫ِبٱ َّلِلِ فَقَ ِد ٱ ۡفت ََر ٰ ٓى ِإ ۡث ًما َع ِظي ًما‬
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain
dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka
sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar. (QS. anNisa : 48)
Disamping itu juga didasarkan pada hadits yang
diriwayatkan oleh imam Muslim dan at-Tirmidzi
sebagai berikut:
‫ال يبقى فى النار من كان فى قلبه مثقال ذرة من اإليمان‬
Tidak kekal di dalam neraka, orang yang di dalam
hatinya ada iman, meskipun seberat dzarrah.
215
Pasal 11
AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER UTAMA
Sudah kita bahas sebelumnya, bahwa ada 4 kitab
yang harus dipercayai sebagai firman Allah, yaitu
kitab Taurat, Zabur, Injil, dan al-Qur’an. Setiap kitab
itu diturunkan oleh Allah kepada rasul yang berbeda.
Dan perlu kita pahami, bahwa setiap kitab yang baru
saja diturunkan, secara otomatis menggantikan peran
kitab sebelumnya. Ketika kitab Taurat diturunkan
oleh Allah, maka seluruh ketentuan agama sebelum
zaman nabi Musa, semuanya dianggap tidak berlaku.
Ketika kitab Zabur diturunkan, kitab Taurat masih
berlaku, karena Zabur tidak berisi aturan-aturan
agama secara rinci. Tapi ketika Injil diwahyukan oleh
Allah kepada nabi Isa, maka secara otomatis
ketentuan hukum agama di dunia ini diambil alih
oleh Injil. Dan ketika al-Qur’an diturunkan, maka
seluruhnya dinyatakan harus berkiblat kepada alQur’an.
Al-Qur’an ini diwahyukan oleh Allah melalui
malaikat Jibril kepada nabi besar Muhammad saw,
nabi yang merupakan penutup dari seluruh nabi. Nabi
yang perangainya merupakan suri tauladan bagi
216
seluruh makhluk. Nabi yang merupakan makhluk
yang paling dikasihi oleh Allah. Nabi yang
merupakan manusia paling sempurna yang diciptakan
oleh Allah. Nabi yang merupakan imam diantara nabi
yang lain.
Al-Qur’an secara bahasa bisa kita artikan sebagai
bahan bacaan, sesuatu hal yang dibaca. Hal ini juga
ditegaskan dengan perintah pertama dalam al-Qur’an,
yakni membaca. Sementara menurut istilah Syara, alQur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada
nabi Muhammad dalam bahasa Arab, yang sampai
kepada kita secara mutawatir, sebagai bagian dari
mukjizat nabi dan sebagai hidayah atau petunjuk bagi
umat manusia.
Mari kita singgung sedikit makna dari definisi alQur’an menurut istilah. Disebutkan salah satunya
adalah kalamullah, atau firman Allah. Hal ini menjadi
pembahasan yang menarik, karena ada yang
berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Nanti
penulis akan bahas ini di bagian bawah. Tapi yang
jelas, Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa alQur’an adalah firman Allah (Kalamullah).
Al-Qur’an juga sampai kepada kita secara mutawatir.
Artinya periwayatan al-Qur’an dari masa ke masa
sangat baik sekali. Allah menurunkan kepada nabi
Muhammad. Nabi mengajarkan kepada para sahabat.
217
Para sahabat mengajarkan lagi kepada ulama tabi’in.
Ulama tabi’in mengajarkan kepada ulama tabiut
tabi’in. Ulama tabiut tabi’in mengajarkan kepada
ulama yang hidup setelahnya. Ulama tersebut
mengajarkan kepada ulama setelahnya lagi. Terus
hingga kepada ulama khalaf, dan dari ulama khalaf
inilah sampai kepada kita. Itu artinya, al-Qur’an yang
sering kita baca ini masih sama dengan al-Qur’an
dari sejak zaman nabi. Sementara ada beberapa
golongan Syiah yang meragukan keaslian al-Qur’an.
Penulis kira, keraguan orang Syiah ini sangat tidak
beralasan.
Disamping itu, al-Qur’an juga merupakan salah satu
mukjizat dari Allah kepada nabi Muhammad. Bahkan
disebutkan bahwa al-Qur’an inilah yang dianggap
sebagai mukjizat terbesar nabi. Kita paham, bahwa
Allah memberikan mukjizat terbesar kepada setiap
nabi dan rasul dengan kebutuhan di zamannya. Nabi
Musa yang hidup diantara orang-orang yang
mengagungkan dan mendewa-dewakan sihir, maka
Allah memberikan mukjizat yang seperti sihir, tapi
jauh lebih keren. Nabi Isa yang hidup diantara
masyarakat yang membutuhkan pengobatan, maka
Allah memberikan mukjizat agar nabi Isa bisa
mengobati penyakit-penyakit yang sulit diobati.
Sementara nabi Muhammad, lahir ditengah-tengah
218
orang yang mengagung-agungkan sastra. Orang Arab
adalah orang-orang yang setiap harinya hidup dengan
penuh warna. Syair, puisi cinta, rayuan-rayuan
gombal, hadir di tengah-tengah kaum Arab yang pada
waktu itu sangat terbelakang secara politik. Maka
dari itu, Allah menjadikan al-Qur’an sebagai
mukjizat terbesar nabi. Karena al-Qur’an inilah
adalah sastra abadi, sastra yang jauh mengungguli
ciptaan makhluk, baik jin dan manusia. Al-Qur’an
adalah karya maha dahsyat, karya Tuhan.
Sementara al-Qur’an sebagai petunjuk, jelas sekali
tidak bisa disangkal. Didalam al-Qur’an memuat
banyak aturan hukum yang harus diikuti oleh umat
manusia dan jin. Terdapat kabar baik berupa surga,
juga peringatan berupa neraka. Semuanya merupakan
hukum dan ketetapan universal yang dibuat oleh
Allah Azza wa Jalla.
Di dalam dunia Islam, tidak ada satu pun aliran yang
meragukan kebenaran al-Qur’an. Dan memang tidak
ada lagi pertentangan, bahwa al-Qur’an ini
merupakan sumber utama dari ajaran agama yang hak
ini. Secara hierarki, al-Qur’an berada diposisi paling
atas diantara sumber hukum yang lain di dalam
Islam.
219
A. Al-Qur’an Masih Asli
Banyak yang meragukan keaslian al-Qur’an,
terkhusus golongan Syiah. Mereka berpendapat,
bahwa al-Qur’an saat ini telah ternodai oleh tangantangan politik, sejak Abu Bakar hingga Utsman.
Demi Allah, hal ini tidaklah benar. Al-Qur’an masih
sama dengan yang diturunkan oleh Allah kepada nabi
Muhammad. Al-Qur’an disampaikan antar zaman
secara mutawatir, sanad yang tidak bisa lagi dibantah
kebenarannya. Lagi pula, Allah berjanji bahwa alQur’an ini akan dijaga kemurniannya.
Adapun mengenai sejarah pembukuan al-Qur’an,
pemberian harokat dan yang lainnya, itu hanyalah
bagian dari sejarah dan tidak lain merupakan
kehendak Allah Azza wa Jalla. Keputusan Abu
Bakar, Umar, hingga Utsman, tidak lain merupakan
janji Allah untuk menjaga keutuhan al-Qur’an.
Jadi intinya, penulis tidak benar-benar menganjurkan
pembaca untuk masih meragukan keautentikan alQur’an. Al-Qur’an masih orisinil, masih murni, tidak
ada satu huruf pun yang hilang atau ditambah, dan
tidak ada satu pun makna yang berubah sejak 1.400
tahun yang lalu.
220
B. Al-Qur’an Bukan Makhluk
Golongan rasionalis terkenal dalam dunia Islam
adalah golongan Muktazilah. Golongan ini terus
mengkaji agama hanya dengan pendekatan rasional.
Dengan memahami agama lewat akal, golongan ini
menabrak kaidah-kaidah inti yang seharusnya tidak
ditembus oleh akal manusia.
Kontroversi yang paling terkenal dari aliran ini ialah
mereka mengatakan bahwa al-Qur’an adalah
makhluk. Logis memang. Allah adalah Tuhan yang
tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir.
Sementara al-Qur’an hadir pada zaman Muhammad
diutus menjadi seorang nabi. Pertanyaannya, dimana
al-Qur’an sebelum zaman nabi Muhammad? Dimana
al-Qur’an ketika zaman nabi Adam, nabi Ibrahim,
nabi Musa, nabi Isa, dan di masa-masa nabi yang
lain? Itu artinya, al-Qur’an adalah sesuatu hal yang
baru. Sementara sesuatu hal yang baru adalah
makhluk. Maka artinya al-Qur’an adalah makhluk.
Begitulah kurang lebih logika cerdas Muktazilah.
Para ulama Ahlussunnah awalnya agak kesulitan
membantah pemikiran Muktazilah ini. Disatu sisi
mereka mempercayai bahwa al-Qur’an adalah
Kalamullah, tapi disisi yang lain, Muktazilah hadir
dengan pemikiran yang sangat brilian.
221
Tapi ulama Ahlussunnah bukanlah orang-orang yang
jahil. Mereka adalah ulama-ulama pewaris nabi.
Seluruh aliran Islam, akan mengambil sanad hadits
lewat jalur Ahlussunnah. Maka tidak logis, jika
mereka harus tunduk dan patuh dengan logika
Muktazilah. Mereka harus berbuat sesuatu.
Dalam pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah,
firman Allah dapat dibedakan dalam dua pengertian,
yaitu:59
1.
Firman Allah yang abstrak tidak berbentuk
(Kalam Nafsiy), bersifat Qadim dan Azali.
2. Firman Allah dalam arti kitab-kitab suci yang
diturunkan kepada para rasul (kalam lafdhiy),
yang dalam bentuk huruf atau kata-kata, dapat
diucapkan, dibahasakan dengan suatu bahasa
tertentu, maka firman Allah dapam pengertian
lafdhiy ini dianggap sebagai sesuatu hal yang
baru dan termasuk makhluk.
Pembedaan ini merupakan reaksi terhadap golongan
mu’tazilah yang sangat ekstrim mengatakan bahwa
al-Qur’an adalah makhluk, mereka tidak mengenal
pembagian kalam nafsiy dan kalam lafdhiy.
Pembedaan tersebut juga ditujukan untuk golongan
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi
dan Tradisi NU, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), hlm. 37.
59
222
Hasyawiyah (kelompok Ibn Taimiyah) yang
mengatakan al-Qur’an itu Qadim termasuk yang
berupa huruf dan lafadznya.
Diketahui bahwa sifat-sifat Allah adalah sesuatu hal
yang melekat bagi Allah, tapi juga bukan Allah.
Pembaca mungkin agak bingung, tapi ini logika yang
keren. Itu artinya, setiap yang dihasilkan dari suatu
sifat yang merupakan bentuk sifat tersebut, maka hal
itu tidak dianggap makhluk. Allah berfirman setiap
waktu. Firman itu masih dikategorikan sebagai
kalam, bukan lagi masuk dalam kategori makhluk.
Hal ini jelas berbeda dengan konsep sifat yang lain,
sifat kudrat misalnya. Allah menciptakan alam raya
ini dengan kekuasaannya. Hasilnya yaitu alam raya
ini kita sebut sebagai makhluk. Mengapa? Karena
sifat kudrat Allah dengan hasil dari pekerjaan Allah,
adalah suatu hal yang berbeda. Sementara firman
Allah adalah sesuatu hal yang merupakan bagian dari
sifat Kalam. Jadi firman Allah bukanlah hasil dari
sifat kalam Allah, tapi masih bagian di dalamnya.
Itulah yang membuat al-Qur’an adalah kalamullah,
bukan makhluk.
223
C. Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kumpulan dari berbagai
macam kandungan. Dari sekian banyak ayat di dalam
al-Qur’an, setiap ayat mewakili setiap spesifikasi
yang ingin disampaikan oleh Allah kepada
ummatNya. Berikut beberapa kandungan inti di
dalam al-Qur’an:
1. Akidah
Hal pertama yang ditekankan oleh al-Qur’an adalah
mengenai keimanan akan tauhid. Akidah adalah
sesuatu hal yang sangat penting di dalam Islam. Kita
telah mengkajinya lebih jauh di pembahasan
sebelumnya. Banyak ayat al-Qur’an yang membahas
mengenai akidah ini, salah satu yang paling terkenal
adalah surat al-Ikhlas.
2. Syariat
Syariat atau hukum ini merupakan panduan bagi
umat Muslim untuk melaksanakan keimanannya.
Islam harus diaktualisasikan di dalam kehidupan kita,
lafdzon wa ma’nan. Jangan seperti kaum Wahabi
yang hanya fokus pada lafadz, tapi juga jangan pula
seperti Islam Liberal yang hanya mengkaji ma’na.
Dengan al-Qur’an inilah, kita bisa melaksanakan
ibadah sesuai yang dikehendaki Allah. Sementara
penjelasan lebih lengkapnya, hal itu bisa kita lihat
224
dalam penjelasan para ulama fiqh. Mengapa? Karena
al-Qur’an tidak menjelaskan secara spesifik. Tidak
ada yang mengetahui bagaimana shalat yang benar
jika kita hanya membaca al-Qur’an. Penjelasan shalat
yang dilakukan nabi, tentu disampaikan kepada kita
melalui jalur para ulama secara mutawatir. Itu
pentingnya fiqh.
3. Akhlak
Isi al-Qur’an juga memuat anjuran-anjuran untuk
berbuat baik, berbudi pekerti luhur. Bahkan nabi
merupakan suri tauladan terbaik bagi seluruh
makhluk. Maka jelas disini, al-Qur’an tetap
menganjurkan ummatnya untuk berdakwah dengan
santun. Dakwah yang baik. Dakwah yang tidak
membenturkan dirinya dengan masyarakat umum.
D. Jumlah Ayat Al-Qur’an
Terjadi perbedaan pendapat mengenai jumlah ayat alQur’an. Ada banyak pendapat, tapi setidaknya ada 2
yang paling terkenal di Indonesia. Satu kubu
mengatakan jumlah ayat al-Qur’an adalah 6.666, dan
satunya lagi adalah 6.236. Mana yang benar?
Kedua-duanya benar. Keduanya melihat ayat alQur’an dengan pendekatan yang berbeda. satu
pendekatan
merupakan
pengkajian
hikmah,
225
sementara satunya lagi menggunakan pendekatan
kalkulator. Jika mau jujur, memang yang benar
adalah 6.236 ayat. Tapi bukan berarti yang
mengatakan 6.666 adalah orang yang salah.
Tentu ulama-ulama yang mengatakan jumlah ayat alQur’an adalah 6.666 pasti memiliki alasan yang kuat.
Hanya saja penulis belum bisa menguraikan alasan
itu. Penulis masih terkendala dengan keterbatasan
penulis.
226
Pasal 12
AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER KEDUA
Tidak bisa disangkal lagi, bahwa apa yang menjadi
sabda nabi, tidak lain adalah sesuatu hal yang sudah
dikehendaki oleh Allah. Nabi tidak berbicara dengan
nafsunya, tapi semata-mata merupakan wahyu yang
diturunkan oleh Allah untuk kemudian disampaikan
kepada ummatnya.
Seluruh ulama Islam pasti setuju, bahwa hadits nabi
merupakan sumber hukum kedua. Hadits nabi inilah
yang sedikit banyak menjelaskan makna al-Qur’an.
Hadits nabi adalah penjelasan al-Qur’an yang paling
bisa dipercaya, karena langsung ditafsirkan oleh nabi.
Dipercaya atau tidak, seluruh aliran dalam dunia
Islam, apapun itu, akan mengambil sanad hadits
lewat jalur Ahlussunnah. Maka tidak heran,
Ahlussunnah adalah golongan yang sangat diakui
keautentikan haditsnya ketimbang golongan yang
lain. Ahlussunnah ini memang sangat memberikan
perhatian khusus bagi kelangsungan hadits antar
generasi. Maka tidak berlebihan, Ahlussunnah
melahirkan ulama-ulama hebat sekelas imam
Bukhari, imam Muslim, dan yang lainnya.
227
Tapi sebelum lebih jauh membahas mengenai hadits,
kita harus bisa membedakan antara istilah sunnah
dengan hadits.
Sunnah menurut bahasa artinya perjalanan, pekerjaan
atau cara. Sunnah menurut istilah syara’ ialah
perkataan nabi Muhammad saw., perbuatannya, dan
diamnya Rasulullah untuk membenarkan perilaku
sahabat-sahabatnya.
A. Pembagian Sunnah
Dari definisi diatas, sebenarnya kita sudah bisa
membagi Sunnah kedalam 3 bagian. Setiap bagian
memiliki karakternya sendiri. Dan semuanya
merupakan pegangan hukum bagi umat Islam.
1. Sunnah Qouliyah
Sunnah Qouliyah yaitu perkataan nabi saw yang
menerangkan hukum-hukum agama dan maksud isi
al-Qur’an. Didalamnya juga berisi peradaban,
hikmah, ilmu pengetahuan dan juga menganjurkan
akhlak yang mulia. Sunnah qouliyah (ucapan) ini
yang nanti kita kaji lebih jauh, yakni hadits nabi.
2. Sunnah Fi’liyah
Sunnah Fi’liyah yaitu perbuatan nabi saw yang
menerangkan cara melaksanakan ibadah, misalnya
228
cara berwudhu, shalat dan sebagainya. Sunnah
Fi’liyah ini yang kemudian dikaji lebih jauh di dalam
fiqh. Sebuah pembahasan mengenai tata cara
beribadah yang baik. Ini pentingnya ulama-ulama
madzhab. Semua imam madzhab akan memberikan
gambaran kehidupan nabi melalui berita-berita dari
ulama sebelumnya. Maka jelas dari sini, memahami
agama Islam tidak bisa hanya dengan mengandalkan
al-Qur’an dan hadits saja. Jelas mustahil, apalagi
zaman ini dengan zaman nabi sudah terpaut angka
1.400 tahun. Maka peran ulama benar-benar sangat
dibutuhkan oleh generasi akhir seperti kita ini.
3. Sunnah Taqririyah
Sunnah Taqririyah yaitu bila nabi saw mendengar
sahabat mengatakan sesuatu perkataan atau melihat
mereka memperbuat suatu perbuatan, lalu ditetapkan
dan dibiarkan oleh nabi saw tanpa ditegur dan
dilarang.
Maka perkataan atau perbuatan yang didiamkan itu
sama saja dengan perkataan dan perbuatan nabi
sendiri, yaitu dapat menjadi hujjah bagi ummat
seluruhnya.
229
B. Memahami Hadits Nabi
Diantara ketiga bentuk sunnah yang telah penulis
sampaikan, satu yang paling digemari oleh umat
muslim adalah hadits (sunnah qouliyah). Melalui
hadits ini, pembahasan fiqh dan yang lainnya dapat
dilakukan oleh para ulama. Maka dari itu, hadits nabi
adalah gerbang bagi lahirnya kaidah-kaidah ilmu di
dalam Islam. Tanpa peran perawi-perawi hadits,
maka umat yang sekarang jelas akan celaka.
Bagaimana tidak, kita tidak bisa memahami alQur’an dan Hadits tanpa peran perantara ulama antar
generasi. Dan mereka itulah para periwayatperiwayat yang semoga diberikan karunia oleh Allah.
Secara sederhana, hadits bisa kita katakan sebagai
apa yang diucapkan oleh nabi. Memang penulis tidak
menyangkal, bahwa istilah Sunnah dan Hadits
memiliki makna yang sama. Hadits secara umum
memiliki penjelasan yang sama dengan istilah
Sunnah. Tapi dalam perkembangan di masyarakat,
khususnya di Indonesia, istilah hadits hanya fokus
pada ucapan nabi, sementara sunnah dianggap
bersifat umum. Padahal keduanya merupakan
sinonim yang hampir mirip. Hal ini sama dengan
istilah “guru” dengan “ustadz”. Guru dianggap
sebagai pengajar ilmu umum, sementara ustadz
merupakan pengajar ilmu agama. Padahal keduanya
230
sama saja. Tapi ini sudah menjadi realitas, sesuatu
hal yang tidak bisa kita salahkan.
C. Rujukan Imam Ahlussunnah
Penulis kadang heran terhadap golongan Wahabi.
Sesuatu hal yang diluar logika. Mereka terus
menyuarakan anti taklid, tapi sikap mereka tidak jauh
berbeda dengan seekor keledai.
Hal ini bukan tanpa alasan. Salah satu yang paling
terkenal dari apa yang biasa dijadikan bentuk taklid
adalah penyandaran sumber hadits mereka terhadap
Syeikh al-Albani. Penulis bukan anti terhadap alAlbani. Tapi penulis menyadari bahwa orang-orang
seperti Wahabi yang katanya anti-madzhab saja tidak
bisa lepas dari yang namanya madzhab.
Tapi disini penulis mengingatkan, bahwa generasi
terbaik adalah generasi nabi, kemudian generasi
setelahnya, kemudian setelahnya lagi, kemudian
setelahnya lagi, terus dan terus hingga yaumul
kiamah nanti. Itu artinya, generasi yang paling dekat
dengan nabi merupakan generasi yang lebih baik
ketimbang dengan generasi yang agak jauh dari nabi.
Andaikan kita bandingkan antara syeikh al-Albani
dengan imam Bukhari, kita akan mengetahui ulama
mana yang lebih baik kita jadikan dasar yang paling
231
inti. Syeikh al-Albani lahir pada tahun 1914 Masehi,
sementara imam Bukhari lahir pada tahun 810
Masehi. Lihat perbedaan yang sangat jauh sekali.
Ketika al-Albani mengomentari hadits riwayat imam
Bukhari, orang Wahabi langsung mengutip pemikiran
al-Albani, seolah-olah al-Albani lebih baik
ketimbang imam Bukhari. Padahal belum tentu kritik
yang dilontarkan al-Albani lebih baik daripada yang
telah disusun oleh imam Bukhari. Imam Bukhari
diakui keimuannya bahkan oleh seluruh aliran Islam,
tapi al-Albani hanya diakui oleh orang Wahabi saja,
bahkan banyak ulama lain yang meragukan keilmuan
al-Albani. Jadi jelas dari sini, kualitas imam Bukhari
dalam masalah hadits tidak bisa dibantah lagi. Tidak
heran jika imam Bukhari dikatakan sebagai ulama
ahlul hadits terbesar sepanjang zaman. Intinya, sangat
tidak logis orang-orang yang setiap berdakwah
mengagung-agungkan al-Albani dan meragukan
imam al-Bukhari. Ketahuilah, setiap hadits yang
ditulis oleh imam Bukhari, beliau selalu shalat
istikharah meminta petunjuk Allah, dan kemudian
ditulis disamping makam nabi. Sesuatu hal yang
tidak ada bandingannya dalam bidang hadits.
Maka dari itu, kita harus mengetahui 7 imam hadits
yang dijadikan rujukan oleh seluruh aliran di dalam
Islam. Ketujuh imam hadits yang dimaksud adalah:
232
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Imam Bukhari
Imam Muslim
Imam Abu Daud
Imam Tirmidzi
Imam Ahmad
Imam Nasa’i
Imam Ibnu Majah
Tujuh ulama ahlul hadits tersebut adalah ulamaulama yang sudah diterima oleh mayoritas umat
Islam di dunia. Selain dari ketujuh diatas,
kemampuannya mungkin masih diragukan.
D. Hadits dilihat dari Perawi
Perawi adalah orang-orang yang meriwayatkan
hadits. Jika dilihat dari perawi, hadits dapat dibagi
menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir adalah hadits yang paling kuat
dasar hukumnya. Hadits ini diriwayatkan oleh banyak
orang dan tidak mungkin adanya kedustaan diantara
orang-orang tersebut.
2. Hadits Ahad
Hadits Ahad adalah hadits yang periwayatnya tidak
terlalu kuat jika dibandingkan dengan hadits
233
mutawatir. Kekuatan periwatannya itu dibagi lagi
menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Hadits Shahih
Hadits shahih adalah hadits yang bersambung
sanadnya, diriwayatkan oleh orang-orang yang adil,
kuat ingatannya, tidak cacat, dan isinya tidak
bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat.
b. Hadits Hasan
Hadits hasan adalah hadits yang bersambung
sanadnya, tapi tingkat kepercayaannya tidak sekuat
hadits shahih. Artinya masih ada hal-hal yang
diragukan dalam kategori-kategori periwayatnya.
c. Hadits Dha’if
Hadits dha’if adalah kebalikan dari hadits shahih,
yakni hadits yang sanadnya tidak bersambung,
perawinya tidak adil, ingatannya kurang baik, dan
terjadi kecacatan.
E. Hadits dilihat dari Sanad
Pengkategorian ini memungkinkan ulama ahli hadits
mengkaji suatu hadits, apakah bersambung sanadnya
kepada nabi atau tidak. Setidaknya sanad ini dibagi
menjadi 2 kategori, yaitu:
234
1. Sanad bersambung kepada Nabi
Hal ini mengisyaratkan bahwa hadits yang
diriwayatkan oleh seseorang, memang merupakan
hadits yang langsung bersambung sanadnya hingga
Rasulullah. Dalam kategori ini, dibagi lagi menjadi 2,
yaitu hadits Marfu’ dan hadits Mausul. Silahkan
pembaca mencari referensi lain mengenai kedua jenis
hadits tersebut.
2. Sanad tidak bersambung kepada Nabi
Kategori ini adalah kategori hadits yang tidak baik
dijadikan sebagai dasar hukum di dalam Islam.
Andaikan sanadnya tidak bersambung kepada nabi,
maka besar kemungkinan hadits tersebut bukan
merupakan produk yang disabdakan nabi. Dan hal ini
sangat berbahaya dalam menentukan sebuah landasan
hukum. Tapi kategori ini juga dibedakan menjadi 5
bagian, yaitu hadits Mu’allaq, Mursal, Mudallas,
Munqathi, dan Mu’dhol.
F. Istilah Populer Hadits
Ada beberapa istilah populer di kalangan ahlul hadits.
Kadang kala istilah-istilah itu kita dengar setiap
waktu. Tapi mungkin ada beberapa dari pembaca
yang masih tidak paham akan istilah-istilah tersebut.
Diantara istilah-istilah itu adalah:
235
1. Muttafaqun ‘Alaih
Istilah ini sering kali kita dengar. Istilah Muttafaqun
‘Alaih adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh 2
imam hadits paling sohor, yakni imam Bukhari dan
imam Muslim dari sumber sahabat yang sama.
2. As-Sab’ah
Istilah as-Sab’ah (tujuh) disini merujuk pada 7 imam
yang telah penulis jabarkan di pembahasan
sebelumnya.
3. As-Sittah
As-sittah artinya enam. Maksudnya adalah 6 imam
hadits, kecuali Imam Ahmad bin Hambal.
4. Al-Khamsah
Istilah ini merujuk kepada 5 imam hadits, kecuali
imam Bukhari dan imam Muslim.
5. Al-Arba’ah
Istilah ini ditujukan untuk 4 imam hadits, kecuali
imam Bukhari, imam Muslim, dan imam Ahmad.
6. Ats-Tsalasah
Ditujukan untuk 3 imam hadits, kecuali imam
Bukhari, imam Muslim, imam Ahmad, dan imam
Ibnu Majah.
236
7. Perawi
Orang yang meriwayatkan sebuah hadits.
8. Sanad
Jalur dari suatu hadits hingga tersambung kepada
Rasulullah.
9. Matan
Isi dari sebuah hadits.
10. Hadits Maudhu
Hadits palsu. Hadits yang hanya dibuat tanpa
landasan yang benar. Dan ini merupakan hadits yang
paling bahaya.
G. Kitab Populer
Diantara banyaknya kitab hadits, setidaknya ada dua
yang paling terkenal dan dijadikan rujukan umat
muslim di dunia, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim. Wallahu A’lam.
237
Pasal 13
IJTIHAD ULAMA (IJMA’ DAN QIYASH)
Sudah beberapa kali kita singgung, bahwa slogan
“kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” adalah
salah satu slogan yang tidak masuk akal. Istilahnya
memang baik, dan sangat Islami. Hanya saja dalam
penerapannya, hal itu agak kurang meyakinkan. Dan
slogan itu justru memicu banyaknya tafsiran-tafsiran
baru, yang kemudian memunculkan aliran baru.
Dengan memberikan keleluasaan bagi setiap manusia
untuk menafsrikan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka
disitulah gerbang kesesatan akan terbuka lebar.
Maka dari itu, sumber agama Islam bukan hanya alQur’an dan as-Sunnah saja, tapi juga masuk diurutan
ketiga adalah tafsiran ulama. Mengapa harus ulama?
Jelas disini, bahwa ulama adalah orang yang berilmu.
Ulama memiliki pemahaman yang khusus dalam
bidang tafsir. Segala urusan harus diserahkan kepada
orang yang ahlinya. Dan ulama adalah orang-orang
yang ahli dalam menafsirkan al-Qur’an dan asSunnah.
Banyak orang terkecoh dengan istilah Ijtihad, Ijma’
dan Qiyash. Bagi pembaca yang pernah sekolah di
238
madrasah negeri, mungkin akan mengalami
kebimbangan. Bagaimana tidak, satu buku
mengatakan sumber hukum Islam itu hanya ada 3,
yaitu al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijtihad Ulama.
Sementara buku yang lainnya mengatakan bahwa
sumber hukum Islam ada 4, yaitu al-Qur’an, asSunnah, Ijma’, dan Qiyash. Lalu mana yang benar?
Mari kita kaji dalam pembahasan kali ini.
A. Definisi Ulama
Sebelum masuk dalam pembahasan di judul ini, lebih
baik kita harus paham dulu apa itu ulama. Secara
bahasa ulama adalah orang yang berilmu. Pengertian
ini mencakup segala hal, orang yang pintar dalam
masalah matematika misalnya, maka dia ulama.
Orang yang jago dalam masalah teknologi, maka dia
ulama. Orang yang cerdas dalam masalah sejarah,
maka dia juga ulama. Secara bahasa memang kata
ulama ini sangat umum sekali. Siapapun yang ahli
dalam suatu bidang, maka dia dinyatakan sebagai
ulama.
Tapi realitas di masyarakat ternyata tidak demikian.
Ada sebuah penyempitan makna dalam beberapa kata
yang sering kita dengar. Salah satu contohnya adalah
kata “ustadz”. Kata “ustadz” memiliki arti pengajar.
239
Tapi dalam prakteknya, istilah ini hanya digunakan
bagi mereka yang mengajar ilmu agama saja,
sementara pengajar fisika misalnya, tidak disebut
dengan istilah ustadz.
Tidak jauh berbeda dengan istilah ustadz, kata
“ulama” juga terjadi penyempitan makna, khususnya
di Indonesia. Istilah ulama hanya disandingkan
dengan orang-orang yang ahli dalam masalah agama.
Secara bahasa memang agak kurang tepat, tapi
kesepakatan masyarakat sudah menghendaki yang
demikian.
Jadi jelas disini, istilah ulama yang akan kita pakai
dalam pembahasan kita kali ini merujuk pada orangorang yang ahli dalam masalah agama. Dan memang
benar, al-Qur’aan dan as-Sunnah adalah bagian
produk agama, maka yang berhak untuk
menafsirkannya adalah orang-orang yang ahli dan
berilmu dalam masalah agama.
Memang, secara umum setiap manusia berhak untuk
menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah, tapi para
ulama ahli tafsir merasa takut jika kemudian terjadi
fitnah dimana-mana karena banyaknya tafsiran yang
bathil. Maka dari itu, ulama ahli tafsir memberikan
spesifikasi orang-orang yang setidaknya layak untuk
menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Tapi bukan
berarti kita haram untuk menafsirkan al-Qur’an dan
240
as-Sunnah. Bukan itu. Kita tetap memiliki hak yang
sama untuk menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah,
tapi tidak untuk konsumsi publik. Jika kita belum
masuk kategori orang yang boleh menafsirkan alQur’an dan as-Sunnah menurut ulama ahli tafsir,
maka tafsiran kita hanya untuk konsumsi pribadi,
tidak untuk disebarkan kepada orang lain.
B. Bentuk Ijtihad Ulama
Sebenarnya versi yang mengatakan sumber hukum
Islam ada 3 dan ada 4, kedua-duanya benar. Kadang
buku-buku yang kita baca dengan memisahkan kedua
istilah itu membuat masyarakat awam seperti kita
agak kesulitan. Bahkan penulis pernah mendengar
bahwa sumber hukum Islam ada 5, yaitu al-Qur’an,
as-Sunnah, Ijtihad Ulama, Ijma’, dan Qiyash.
Semuanya dimasukkan agar terlihat sempurna.
Padahal menurut hemat penulis, hal itu tidak perlu
dilakukan, hal yang boros.
Ijtihad menurut bahasa artinya adalah bersungguhsungguh. Maksudnya adalah upaya seorang mujtahid
dalam menentukan sebuah hukum baru. Dalam kaitan
ini, berarti mujtahid tersebut menggunakan sumber
al-Qur’an dan as-Sunnah untuk kemudian dia kaji
241
dan dia hasilkan sebuah ketetapan baru yang berupa
hukum agama bagi umat Islam.
Sementara Ijma’ artinya adalah kesepakatan para
mujtahid, dan Qiyash adalah sebuah metode ijtihad
dengan pendekatan analogi.
Dari sini terlihat, bahwa Ijtihad adalah sesuatu hal
yang umum. Sementara Ijma’ dan Qiyash adalah
metode seorang mujtahid untuk menentukan sebuah
hukum baru.
Jika pembaca agak kesulitan memahaminya, penulis
mencoba memberikan suatu pembahasan yang lebih
simpel. Ijtihad bisa kita artikan sebagai tafsiran
ulama. Sementara tafsiran ulama itu menggunakan
Ijma’ (kesepakatan bersama) dan Qiyash (analogi).
Jadi Ijma’ dan Qiyash adalah bagian dalam ruang
lingkup Ijtihad. Maka dari itu penulis agak kurang
setuju jika ada yang mengatakan bahwa sumber
hukum Islam ada 5, dengan menggabungkan Ijtihad,
Ijma’, dan Qiyash. Terlalu boros. Jika mau
memasukkan Ijtihad dalam sumber hukum Islam,
berarti hanya Ijtihad saja. Nanti dalam pembahasan
Ijtihad tersebut, dijelaskan tentang Ijma’ dan Qiyash.
242
C. Syarat Ijtihad
Beberapa ilmu yang wajib dimiliki oleh seorang
mujtahid, antara lain:
1. Berpengetahuan luas tentang Al-Qur’an dan
Ulumul-Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an) serta
segala yang terkait, dalam intelektual maupun
spiritual, cerdas dalam masalah hukum.
2. Memiliki ilmu yang cukup dalam mengenai
ilmu hadist, terutama soal hukum dan
menguasai sumber hukum, sejarah, maksud
keterkaitan hadits itu dengan nas-nas AlQur’an.
3. Menguasai masalah-masalah atau materi dari
pokok yang hukumnya telah sepakati oleh
Ijma’ Sahabat dan ulama Salaf (dua generasi
setelah para sahabat Rasulullah SAW).
4. Mempunyai wawasan luas tentang Qiyas dan
dapat menggunakannya untuk Istimbath
(menggali dan menarik kesimpulan) hukum.
5. Menguasai ilmu Ushuluddin (Dasar-dasar
ilmu agama), Ilmu Manthiq (ilmu logika),
Bahasa Arab dari segala unsur (Nahwu,
Sharaf, Balaghah), dengan cukup sempurna.
243
6. Punya pengetahuan luas tentang Nasikh dan
Mansukh (yang menghapus dan yang
dihapus). Al-Qur’an plus Asbabun Nuzulnya
(sebab-sebab turunnya Al-Qur’an) dan tartib
turunnya ayat.
7. Mengetahui secara mendalam Asbabul Wurud
(sebab-sebab turun) hadits, ilmu riwayat
hadits, dan sejarah para perawi hadits, dan
dapat membedakan berbagai macam hadits.
8. Menguasai kaidah-kaidah Ushul Fiqh (Dasardasar pemahaman hukum) yang akan di
Istimbath-kan untuk menhasilkan hukum.
9. Berpengetahuan lengkap mengenai lima
aliran pemikiran dan mempunyai pemahaman
kesadaran yang menyeluruh atas realita masa
kini, yakni mekanisme, ilmu dan teknologi,
cara-cara kerja dari sistem politik dan
ekonomi modern, serta kesadaran akan
hubungan dan pengaruh mereka terhadap
masyarakat budaya dan lingkungan.
10. Harus bersifat adil serta amanah dan taqwa,
hidup dalam kesalehan dan kedisiplinan, serta
mengenal manusia dan alam sekitarnya.
244
D. Mengenal Ijma’ Ulama
Asy-Syaukani,
dalam
kitab Irsyad
alFuhul, menjelaskan jika dilihat secara epistimologi,
para ulama lebih cenderung mengartikan ijma dalam
artian kesepakatan. Namun, terdapat diskusi panjang
mengenai apakah semua umat Muhammad bisa
memberikan pendapat dalam ijma’ ataukah seseorang
dengan kriteria tertentu saja yang memiliki kapasitas
keilmuan tertentu. Siapa sajakah yang bisa
memberikan suara dalam ijma’?
Pembahasan tentang kriteria mujtahid yang boleh
memberikan pendapat dalam ijma menyebabkan
perbedaan pendapat pula di kalangan para ulama. Hal
tersebut dapat dilihat dalam perbedaan rumusan
definisi dalam mengartikan ijma di kalangan mereka.
Seperti bagaimana Imam Al-Ghazali merumuskan
ijma dengan
‫عبارة عن اتفاق أمة محمد خاصة على أمر من األمور الدينية‬
“Kesepakatan umat Muhammad secara khusus atas
suatu urusan agama”
Dalam kitab Ahkam Fi Ushul al-Fiqh dijelaskan
bahwa meskipun dalam istilah ini ijma dikhususkan
atas umat Nabi Muhammad, namun mencakup
245
jumlah yang luas yaitu mencakup semua umat Islam,
maka termasuk dalam definisi tersebut orang awam.
Pandangan Imam Ghazali ini mengikuti pendapat
Imam Syafi’i yang tampaknya didasarkan pada
keyakinan bahwa yang terhindar dari kesalahan
hanyalah umat secara keseluruhan bukan perorangan.
Namun pendapat Imam Syafi’i selanjutnya
mengalami perubahan dan pengembangan di tangan
pengikutnya.
Adapun menurut Imam Al-Syaukani, salah seorang
imam golongan syafi’iyah, mendefinisikan ijma
sebagai berikut
‫اتفاق مجتهدي أمة محمد صلى اله عليه وآله وسلم بعد وفاته في عصر‬
‫من العصور على أمر من األمور‬
“Kesepakatan para mujtahid umat Muhammad Saw
setelah wafatnya, pada suatu masa atas suatu
perkara”
Penyebutan kata mujtahid menekankan bahwa
pendapat orang awam tidak bisa dimasukkan dalam
kesepakatan atau ijma, dan tidak juga bisa
membatalkan keputusan ijma yang telah dicapai.
Sementara Imam Al-Amidi, yang juga pengikut
Syafi’iyah, dalam kitab Ahkam Fi Ushul alFiqh merumuskan Ijma sebagaimana berikut
‫اإلجماع عبارة عن اتفاق جملة أهل الحل والعقد من أمة محمد في‬
‫عصر من األعصار على حكم واقعة من الوقائع‬
246
“Ijma adalah kesepakatan sejumlah para ahli yang
kompeten mengurusi umat dari umat Muhammad
pada suatu masa atas hukum suatu kasus”
Al-Amidi membatasi ijma hanya pada kesepakatan
orang-orang tertentu dari umat Muhammad, yaitu
orang-orang yang mempunyai fungsi sebagai
pengikat atau ulama yang membimbing kehidupan
keagamaan umat Islam. Dalam pengertian di atas AlAmidi mengecualikan orang awam, namun lebih
lanjut terlihat Al-Amidi memberikan kemungkinan
masuknya orang awam dengan ketentuan telah
mampu membuat hukum dan memberi alternatif
definisi ijma sebagai berikut
‫عبارة عن اتفاق المكلفين من أمة محمد في عصر من األعصار على‬
‫حكم واقعة من الوقائع‬
“Ijma adalah kesepakatan para mukallaf dari umat
Muhammad pada suatu masa atas hukum suatu
kasus”
Definisi yang dikemukakan mayoritas ulama berkisar
di sekitar definisi yang dikemukanan al-Amidi yang
tersebut di atas meski berbeda dalam perumusannya,
yakni, kesepakatan orang yang bernama ulama
atau ahl al-halli wa al-aql.
Berbeda dengan ulama golongan syafi’iyah, para
ulama syiah merumuskan ijma sebagaimana berikut
‫اتفاق جماعة التفاقهم شأن في اثبات الحكم الشرعي‬
247
“Kesepakatan suatu komunitas yang kesepakatan
mereka memiliki kekuatan dalam menetapkan hukum
syara’”
Amir
Syarifudin
dalam
kitab Ushul
Fiqh menjabarkan, ulama Syiah tidak mengharuskan
kesepakatan menyeluruh dan mencukupkan dengan
kesepakatan kelompok. Karena bagi mereka ijma
bukan untuk menetapkan hukum tersendiri di luar
Alquran dan Hadis akan tetapi untuk menemukan
adanya sunah yaitu ucapan dan perbuatan seseorang
yang dianggap ma’shum, Nabi Muhammad dan ahlul
bait.
Sementara Ibnu Hazmin dari golongan ulama Zhahiri
mengemukanan definisi sebagai berikut
‫اتفاق اهل اإلسالم عن النص من القرآن والسنة‬
“Kesepakatan ulama Islam tentang nash baik dari
Alquran maupun sunah”
Sedangkan
Al-Nazham,
pemuka
Nazhamiyah
pecahan
dari
mengemukakan rumusan lain
kelompok
Mu’tazilah,
‫كل قول قامت حجته‬
“Setiap perkataan yang hujahnya tidak dapat
dibantah”
Menurut Amir Syarifuddin, ulama Nazhamiyah
berkeyakinan setiap ucapan atau pendapat bisa
248
ditegakkan sebagai hujjah syar’iyah meskipun ucapan
seseorang. Artian ijma’ bagi mereka lebih seperti
kompromi dan perpaduan antara ketidak-setujuan
Nazham untuk menempatkan kesepakatan para ulama
sebagai hujjah.
Rumusan yang lebih mencakup kepada pengertian
Ahl al-sunah adalah yang dikemukakan oleh Abdul
Wahab Khalaf dalam kitab ‘Ilm Ushul Fiqh, yang
juga dikutip oleh ulama lainnya
‫اتفاق جميع المجتهدين من المسلمين في عصر من العصور بعد وفاة‬
‫الرسول على حكم شرعي في واقعة من الوقائع‬
“Konsensus semua mujtahid muslim pada suatu
masa setelah Rasul wafat atas suatu hukum syara’
mengenai suatu kasus”
Rumusan di atas menunjukkan bahwa kesepakatan di
sini atas seluruh mujtahid muslim pada suatu masa
tertentu setelah Rasul wafat. Penekanan setelah Rasul
wafat karena semasa beliau masih hidup Alquran
yang akan menjawab persoalan hukum dan masih ada
Rasul pula sebagai tempat bertanya. Penyebutan
hukum syara juga memberikan penekanan bahwa
kesepakatan itu hanya terbatas dalam masalah hukum
amaliah dan tidak menjangkau pada masalah akidah.
249
E. Mengenal Qiyash
Qiyas menurut arti bahasa ialah penyamaan
,membandingkan atau pengukuran, menyamakan
sesuatu dengan yang lain. Pengertian Qiyas menurut
para ulama ushul fiqh ialah menetapkan hukum
suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar
nashnya dengan cara membandingkannya kepada
suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah
ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada
persamaan ‘illat antara kedua kejadian atau peristiwa
itu.
1. Dasar Hukum Qiyash
Sebagian besar para ulama fiqh dan para pengikut
madzhab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat
dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam
menetapkan hukum dalam ajaran Islam. Hanya
mereka berbeda pendapat tentang kadar penggunaan
qiyas atau macam-macam qiyas yang boleh
digunakan dalam mengistinbathkan hukum, ada yang
membatasinya dan ada pula yang tidak
membatasinya, namun semua mereka itu barulah
melakukan qiyas apabila ada kejadian atau peristiwa
tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat
dijadikan dasar.
250
2. Rukun Qiyas
a. Al-ashlu (pokok). Sumber hukum yang
berupa nash-nash yang menjelaskan tentang
hukum, atau wilayah tempat sumber
hukum.Yaitu masalah yang menjadi ukuran
atau tempat yang menyerupakan. Para fuqaha
mendefinisikan al-ashlu sebagai objek qiyas,
dimana suatu permasalahan tertentu dikiaskan
kepadanya (al-maqis ‘alaihi), dan musyabbah
bih (tempat menyerupakan), juga diartikan
sebagai pokok, yaitu suatu peristiwa yang
telah ditetapkan hukumnya berdasar nash.
Imam
Al-Amidi
dalam
al-Mathbu’
mengatakan bahwa al-ashlu adalah sesuatu
yang bercabang, yang bisa diketahui
(hukumnya) sendiri. Contoh, pengharaman
ganja sebagai qiyâs dari minuman keras
adalah keharamannya, karena suatu bentuk
dasar tidak boleh terlepas dan selalu
dibutuhkan Dengan demiklian maka al-aslu
adalah
objek
qiyâs,
dimana
suatu
permasalahan tertentu dikiaskan kepadanya.
b.
Al-far’u (cabang). Al-far’u adalah sesuatu
yang tidak ada ketentuan nash. Fara' yang
berarti cabang, yaitu suatu peristiwa yang
belum ditetapkan hukumnya karena tidak ada
251
nash yang dapat dijadikan sebagai dasar. Fara'
disebut juga maqis (yang diukur) atau
musyabbah (yang diserupakan) atau mahmul
(yang dibandingkan).
c. Al- Hukum. Al- Hukum adalah hukum yang
dipergunakan Qiyas untuk memperluas
hukum dari asal ke far’ (cabang). Yaitu
hukum dari ashal yang telah ditetapkan
berdasar nash dan hukum itu pula yang akan
ditetapkan pada fara' seandainya ada
persamaan 'illatnya.
d. Al-‘illah (sifat) Illat adalah alasan serupa
antara asal dan far’ ( cabang)., yaitu suatu
sifat yang terdapat pada ashl, dengan adanya
sifat itulah , ashl mempunyai suatu hukum.
Dan dengan sifat itu pula, terdapat cabang
disamakan dengan hukum ashl. Contoh :
Minum narkotik adalah suatu perbuatan yang
perlu ditetapkan hukumnya, sedang tidak ada
satu nashpun yang dapat dijadikan sebagai
dasar hukumnya.
Untuk menetapkan hukumnya dapat ditempuh
cara qiyas dengan mencari perbuatan yang
lain yang telah ditetapkan hukumnya
berdasarkan nash, yaitu perbuatan minum
252
khamr, yang diharamkan berdasarkan firman
Allah Swt:
‫صاب َو ْاأل َ ْز َالم‬
َ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنوا ِإنَّ َما ْال َخ ْمر َو ْال َم ْيسِر َو ْاأل َ ْن‬
َ ‫ش ْي‬
َّ ‫ِرجْ س ِم ْن َع َم ِل ال‬
َ‫ان فَاجْ تَنِبوه لَ َعلَّك ْم ت ْف ِلحون‬
ِ ‫ط‬
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib
dengan panah, adalah termasuk perbuatan
syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan
itu agar kamu mendapat keberuntungan."
(QS. al-Ma’idah: 90)
Antara minum narkotik dan minum khamr
ada persamaan ‘illat, yaitu sama-sama
berakibat memabukkan para peminumnya,
sehingga dapat merusak akal. Berdasarkan
persamaan ‘illat itu, ditetapkanlah hukum
minum narkotik yaitu haram, sebagaimana
haramnya minum khamr.
3. Macam macam qiyas
a. Dari Segi Kekuatan Illat yang Terdapat ada
Furu’ dibanding dengan yang terdapat pada
ashl, qiyas dibagi menjadi 3 macam yaitu:
253
(1) Qiyas al-Aulawi: “yaitu suatu illat hukum
yang diberikan pada ashl lebih kuat
diberikan pada furu'”seperti yang terdapat
pada QS. Al isro’ ayat 23:
‫سانًا َۚ ِإ َّما يَبْلغ ََّن‬
َ َ‫َوق‬
َ ْ‫ض ٰى َربُّكَ أ َ َّال ت َ ْعبدوا ِإ َّال ِإيَّاه َو ِب ْال َوا ِلدَي ِْن ِإح‬
ْ
َ
َ
‫ف َو َال تَ ْن َه ْره َما‬
ٍ ‫ِع ْندَكَ ال ِكبَ َر أ َحده َما أ ْو ِك َاله َما فَ َال ت َق ْل لَه َما أ‬
‫َوق ْل لَه َما قَ ْو ًال ك َِري ًما‬
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik
pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. Jika salah seorang di antara
keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan
"ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia." yaitu: memukul
orang tua diqiyaskan dengan menyakiti
hati orang tua.
(2) Qiyas al-Musawi: ” Suatu qiyas yang
illatnya yang mewajibkan hukum, atau
mengqiyaskan sesuatu pada sesuatu yang
keduanya bersamaan dalam keputusan
menerima hukum tersebut”. Contoh:
254
menjual harta anak yatim diqiyaskan
dengan memakan harta anak yatim.
(3) Qiyas al-Adna : “Mengqiyaskan sesuatu
yang kurang kuat menerima hukum yang
diberikan pada sesuatu yang memang
patut menerima hukum itu”. Contoh:
mengqiyaskan jual beli apel pada gandum
merupakan riba fadhl.
b. Dari Segi Kejelasan Illat yang Terdapat Pada
Hukum.
(1) Qiyas al-Jaly: “Qiyas yang illatnya
ditetapkan oleh nash bersamaan dengan
hukum ashl atau nash tidak menetapkan
illatnya tetapi dipastikan bahwa tidak ada
pengaruh terhadap perbedaan antara nash
dengan furu'”. Contoh: mengqiyaskan
budak perempuan dengan budak laki-laki.
Qiyas jaly dibagi lagi menjadi 3 macam:
Qiyas yang illatnya ditunjuk dengan katakata, seperti memabukkan adalah illat
larangan meminum khamar yang sudah
ada nashnya. Qiyas aulawi dan qiyas
musawi.
(2) Qiyas al–Khafy: “Qiyas yang illatnya
tidak terdapat dalam nash”. Contoh:
255
mengqiyaskan
pembunuhan
menggunakan bahan berat dengan
pembunuhan menggunakan benda tajam.
c. Dari Segi Persamaan Cabang Kepada Pokok.
(1) Qiyas Ma’na ialah qiyas yang cabangnya
hanya disandarkan kepada pokok yang
satu. Hal ini di karenakan makna dan
tujuan hukum cabang sudah cukup dalam
kandungan hukum pokoknya, oleh karena
itu korelasi antara keduanya sangat jelas
dan tegas. Misalnya mengqiyaskan
memukul orang tua kepada perkataan ah
seperti
yang
telah
dijelasnkan
sebelumnya.
(2) Qiyas Sibhi ialah qiyas yang fara’ dapat
diqiyaskan kepada dua ashal atau lebih,
tetapi diambil ashal yang lebih banyak
persamaannya dengan fara’. Seperti
hukum merusak budak dapat diqiyaskan
kepada hukum merusak orang merdeka,
karena kedua-duanya adalah manusia.
Tetapi dapat pula diqiyaskan kepada
harta
benda,
karena
sama-sama
merupakan hak milik. Dalam hal ini
budak diqiyaskan kepada harta benda
karena lebih banyak persamaannya
256
dibanding dengan diqiyaskan kepada
orang merdeka. Sebagaimana harta budak
dapat diperjualbelikan, diberikan kepada
orang lain, diwariskan, diwakafkan dan
sebagainya.
257
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Siradjuddin. I’tiqad Ahlussunnah walJama’ah, Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1996.
Al-Mishri, Muhammad Abdul Hadi, Manhaj dan
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menurut
Pemahaman Ulama Salaf, Jakarta: Gema Insani
Press, 1994.
Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, Mengenal
Mudah Rukun Islam Rukun Iman Rukun Ihsan
Secara Padu, Bandung: Penerbit Al-Bayan,
1998.
Hasan, Tholhah, Ahlussunnah wal-Jamaah dalam
Persepsi dan Tradisi NU, Jakarta: Lantabora
Press, 2005.
Jamaluddin Kafie, Tuntutan Pelaksanaan Rukun
Iman, Islam, dan Ihsan, Surabaya: Al-Ikhlas,
1981.
Kaelany, Islam & Aspek-aspek Kemasyarakatan,
2005, Jakarta: Bumi Aksara.
Khairul Anam, dkk., Ensiklopedia Nahdlatul Ulama,
Jakarta: MataBangsa dan PBNU, 2014.
258
Mawardi Labay El-Sulthani, Tidak Usah Takut
Syariat Islam, Jakarta: Al-Mawardi Prima,
2002.
Nahdi, Saleh A., Siapakah Ahlus-Sunnah wal
Jamaah?, Jakarta: Arista, 1992.
Sachiko Murata & William C. Chittick, Trilogi Islam
(Islam, Iman & Ihsan), Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1997.
Sayyid Quthb, Al-Qiyamah: Mengungkap Beritaberita Besar tentang Hari Akhir dalam alQur’an, Yogyakarta: Uswah, 2007, penerjemah
Nurul Karimah.
Syaikh Su’ud bin Shalih as-Sadiy, Risalah
Ahlussunnah wal Jamaah: Menepis Syubhat
dalam Syahadat, Shalat, dan Pengkafiran,
Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2006.
Syihab, H.Z.A., Akidah Ahlus Sunnah versi SalafKhalaf dan Posisi Asya’irah di antara
Keduanya, Jakarta: Bumi Aksara, 1998.
Wahid, Abdurrahman, Ahlussunnah wal Jama’ah
dalam Lintas Sejarah, Yogyakarta: LKPSM,
1998.
Zaid Husein Alhamid, Kisah 25 Nabi dan Rasul,
Jakarta: Pustaka Amani, 1995.
259
TENTANG PENULIS
Foto penulis ketika di Pondok Pesantren Sarang
Nama lengkap saya adalah Idik Saeful Bahri, seorang
laki-laki yang lahir di kabupaten Kuningan, pada tanggal
13 Februari 1994 M. Tanggal lahir ini merupakan tanggal
lahir yang tertera di akta kelahiran dan ijazah sekolah.
Adapun tanggal lahir asli nya adalah 5 Maret 1994 M. atau
22 Ramadhan 1414 H.
RIWAYAT PENDIDIKAN
Riwayat pendidikan saya melalui jalur lembaga formal
adalah :
SD Negeri 3 Lengkong
MTs Negeri Sindangsari
SMA Negeri 3 Kuningan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Universitas Gadjah Mada
260
Saat tulisan ini dibuat, saya sedang menempuh program
pascasarjana di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta. Gelar
Sarjana Hukum (S.H.) saya dapatkan dari Prodi Ilmu
Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
pada tahun 2017. Saya berhasil menyelesaikan program
sarjana saya dalam waktu 3,8 tahun dengan
IPK Cumlaude.
Adapun selain lembaga formal tersebut, saya pernah
mengikuti pendidikan di lembaga non-formal, yaitu di
Madrasah Salafiyah Syafi'iyyah al-Idrus Lengkong.
Walaupun non-formal, lembaga sekolah ini memberikan
pelajaran yang sangat besar bagi pola berpikir saya.
Khususnya dalam masalah keagamaan, keislaman saya
dipengaruhi dari sekolah al-Idrus ini. Selain al-Idrus, saya
juga sempat mengikuti pelatihan bahasa Inggris di Rumah
Inggris Jogja selama satu tahun ketika pertama kali saya
merantau ke kota Yogyakarta.
PENGALAMAN ORGANISASI
Anggota OSIS MTsN Sindangsari
Ketua Umum RISBA (Rohaniawan Islam Baiturrahim)
SMAN 3 Kuningan
Ketua Umum PSC (Klub Fisika) SMAN 3 Kuningan
Wakil Ketua ROHIS (Rohaniawan Islam) Kabupaten
Kuningan
Pendiri THREEPHYRAL SMAN 3 Kuningan (Organisasi
Jurnalistik)
Tim Editor Redaksi Majalah MARDIKA
Pemimpin Redaksi Buletin Jum'at Si BURI
Anggota PERMAHI DIY (Perhimpunan Mahasiswa Hukum
Indonesia)
261
Anggota KPS (Peradilan Semu) Ilmu Hukum UIN Sunan
Kalijaga
Anggota SABARAKU (Organisasi Rantau Kabupaten
Kuningan)
Anggota IPMK (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kuningan)
Anggota PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
Pemimpin Redaksi Buletin Jum'at JUMUAH
Pendiri portal online Bahasa Rakyat (BR)
Anggota Unit KWU HMP UGM (Unit Kewirausahaan)
Anggota di bidang hukum KKI (Komunitas Keluarga
Inklusi) Yogyakarta
AGAMA DAN KEYAKINAN
Agama yang saya anut sekarang adalah Agama Islam,
dengan mengikuti golongan mayoritas dunia Ahlussunnah
wal Jama'ah, mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy'ari dalam
bidang akidah, mengikuti Imam Syafi'i dalam madzhab
Fiqih, dan mengikuti Imam Junaid al-Baghdadi dalam
bidang Tasawuf, serta Imam Ghazali dalam kaidah-kaidah
Filsafat Islam.
Untuk masalah kultur keislaman, saya lahir di lingkungan
tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Bapak saya sebenarnya
tidak pernah menjadi pengurus NU, namun karena bapak
saya merupakan salah satu tokoh masyarakat, beliau
sering diajak oleh para kiai untuk menghadiri pertemuan
NU dan pertemuan bersama bupati di kabupaten.
262
NASAB KETURUNAN
Untuk menghindari tuduhan PKI, Syiah, dan lain
sebagainya seperti ketika Pemilu datang, maka dalam
halaman ini juga saya melampirkan nasab keturunan saya
hingga beberapa generasi ke atas. Berikut silsilah
keluarga saya yang sudah saya rangkum selama dua
tahun :
Dari jalur bapak, saya merupakan anak dari Bapak H. Ero
Sutara, beliau keturunan dari Bapak Enco Kasa,
kemudian keturunan lagi dari Bapak Sacadiun. Dari jalur
bapak, silsilah saya terputus hanya 3 generasi saja,
karena data nya sudah tidak mungkin lagi di jangkau.
Namun jika dari jalur ibu kakek saya, bisa ke 4 generasi.
Silsilah yang lengkap saya dapatkan dari jalur ibu. Saya
263
merupakan putra dari Ibu Hj. Anah Nurlaenah, beliau
keturunan dari Ibu Encum, kemudian Ibu Encum
merupakan turunan dari Ibu Mioh Robiah, lalu beliau
turunan dari Arimi, Arimi dari Akhyar, dan Akhyar dari
Eyang Hasan Maolani. Dari jalur ini bisa dirunut hingga
salah satu Wali Songo yaitu Sunan Gunung Jati Cirebon,
namun jalur ini tidak saya cantumkan dalam gambar di
atas.
Walaupun begitu, silsilah keluarga tentu tidak memberikan
dampak apa-apa terhadap diri seseorang. Karena
sejatinya keimanan, akhlak, dan ilmu tidak bisa
diwariskan.
SANAD KEILMUAN AGAMA
Dalam mempelajari agama Islam, perlu adanya sanad
yang bersambung hingga kepada Rasulullah Saw. Oleh
karena itu, saya akan mencoba menguraikan sanad
keilmuan saya dalam menuntut ilmu di bidang agama.
Guru pertama saya di bidang agama tentu saja adalah
kedua orang tua saya. Kemudian saya juga sempat
mengaji di Kiai Dading hampir 4 tahun. Kemudian pindah
ke Kiai Dedi musholla al-Anwar, kemudian lanjut lagi ke
KH. Rohmat (menantu dari KH. Harun al-Rasyid, pendiri
Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Lengkong). Setelah
itu saya pindah lagi ke Kiai Toto di Mushola asy-Syifa
selama 2 tahun. Dalam hal agama, saya juga belajar
banyak di Sekolah Agama al-Idrus selama 8 tahun. Dan
tentunya saya juga banyak belajar kepada kakak kedua
saya, Kiai Iyus Rusliana yang merupakan santri dari
Hadratus
Syaikh
KH.
Maimoen
Zubair.
264
Dari KH. Maimoen Zubair ini saya coba uraikan sanad
ilmu nya bersambung kepada Nabi :
KH. Maimoen Zubair dari Sayyid Alawi bin Abbas dari
Sayyid Abbas dari Muhammad Abid dari Sayyid Ahmad
Zaini Dahlan dari Syekh Utsman ad-Dimyati dari Almair
dari Assaqath dari al-Zarqoni dari Abdul Baqi dari Ajhuri
dari Muhammad dari Syekh Zakaria al-Anshori dari alHafidz Imam Hajar al-Asqonali dari Najmudin dari
Muhammad dari Muhammad dari Abdul Aziz dari Ismail
dari Muhammad dari Sulaiman dari Yunus dari Abi Isa
Yahya dari Ubaidillah dari Yahya dari Imam Malik dari
Nafi' dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah Saw.
KONTAK
Anda bisa menghubungi saya melalui nomor WA : 081947-100-809 (nomor ini sudah tidak privasi lagi karena
juga digunakan untuk kepentingan bisnis), dan bisa
melalui e-mail : [email protected]
Anda juga bisa menemukan saya di berbagai jejaring
sosial dengan nama akun "Idik Saeful Bahri" dan biasanya
menggunakan username : @idikms
265
Download