Uploaded by Biak Dungol

PAHAM QODARIYAH

advertisement
Tanggal :
Dosen
:
TUGAS MATA KULIAH
ILMU KALAM
TENTANG
PAHAM QODARIYAH
Oleh:
Nama : AFRIDO SAFRIAN
Nama : ILHAM DWI PRASETIYA
Nama : ISMAIL
: NIM. 11905099
: NIM. 11905063
: NIM. 11905086
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PONTIANAK
2 0 1 9
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Yang telah
memberikan nikmat kepada kami. Sehingga kami mampu menyelesaikan Makalah
tentang Komunikasi Antar Personal sesuai dengan waktu yang di rencanakan. Makalah
ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu syarat penilaian mata kuliah Ilmu
Kalam. Yang meliputi tugas nilai kelompok.
Penyusunan makalah ini tidak berniat untuk mengubah materi yang sudah ada. Namun,
hanya lebih pendekatan pada materi atau membandingkan beberapa materi yang sama
dari berbagai referensi. Yang bisa memberi tambahan pada hal yang terkait dengan
Paham Qodariyah.
Kami selaku penyusun makalah ini menyadari bahwasannya masih banyak kekurangan
dalam makalah ini. Maka dari itu kami mohon maaf sebesar – besarnya dan
mengharapkan kritik beserta saran dari para pembaca demi sempurnanya Makalah ini.
Kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum WR. WB.
Pontianak, Oktober 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit yang dipahami pada
umumnya. Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat lebih dari satu aliran yang berkembang. Hal
ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama-ulama kalam dalam memahami
ayat-ayat al-Quran. Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas
perbuatannya sendiri dan ada pula ayat yang menunjukkan bahwa segala yang terjadi itu
ditentukan oleh Allah, bukan kewenangan manusia . Dari perbedaan pendapat inilah lahir aliran
Qadaryiah dan Jabariyah serta aliran-aliran lainya.
Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri
untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain manusia mempunyai qudrah
(kekuatan untuk melaksanakan kehendak atau perbuatannya). Dan bukan berasal dari pengertian
bahwa manusia harus tunduk pada qadar Tuhan.
Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak
dalam menentukan perbuatannya. Kalaupun ada kehendak dan kebebasan yang dimiliki
manusia, kehendak dan kebebasan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun, karena yang
menentukannya adalah kehendak Allah semata .
Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan
sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang
mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan
ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana
yang dikemukakan oleh Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang
Irak yang pada mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama
Kristen. Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Sementara
W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah
terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri
sekitar tahun 700M.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
Apa pengertian Paham Qadariyah?
Ajaran apa saja yang ada dalam Paham Qadariyah?
Bagaimana sejarah kemunculan paham Qadariyah dan ruang lingkupnya?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Paham Qadariyah
Pengertian Qadariyah secara etomologi, berasal dari bahasa Arab, yaitu qadara
yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Adapun secara terminology atau istilah
adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi
oleh Allah. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala
perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya
sendiri. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam
mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini
berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan
kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada
qadar Tuhan. Sebab itulah faham seperti ini dinisbatkan dengan istilah Qadariyah.
Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Hadariansyah, orang-orang
yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki
kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan.
Manusia mampu melakukan perbuatan, mencakup semua perbuatan, yakni baik dan
buruk.
Kaum Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan
kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham Qadariyah,
manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatanperbuatannya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa
manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.
Sedangkan nama Qadariyah diberikan kepada golongan ini oleh lawan teologinya
lantaran sikap dan pendapatnya yang memandang : manusia itu bebas dan mempunyai
kekuasaan (qudrah) untuk melaksanakan kehendak dan segala perbuatannya. Dalam
teologi modern faham Qadariyah ini dikenal dengan nama free will, freedom of
willingness atau fredom of action, yaitu kebebasan untuk berkehendak atau kebebasan
untuk berbuat. Sebenarnya faham Qadariyah ini lebih pas dialamatkan kepada
kelompok yang menyatakan bahwa qadar Allah telah menentukan segala tingkah laku
manusia baik perilaku yang baik maupun yang jahat sekalipun.
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ketika faham Qadariyah dibawa kedalam
kalangan mereka oleh orang-orang Islam yang bukan berasal dari Arab padang pasir,
hal itu menimbulkan kegoncangan dalam pemikiran mereka. Paham Qadariyah itu
mereka anggap bertentangan dengan ajaran Islam. Adanya sikap menentang faham
Qadariyah ini dapat dilihat dalam ungkapan lain bahwa:“kaum Qadariyah adalah
kaum majusinya umat Islam”, dalam pengertian sebagai golongan yang tersesat.
Jadi istilah Qadariyah dinisbatkan kepada faham ini, bukan berarti faham ini
mengajarkan percaya pada taqdir, justru sebaliknya faham Qadariyah adalah faham
pengingkaran taqdir. Penyebab lebih dikenalkanya penisbatan dan sebutan Qadariyah
para pengingkar takdir ialah:
Tersebar luasnya madzhab asy’ariyah sehingga menjadikan kaum qadariyah dan
mu’tazilah sebagai minoritas dihadapan kaum asy’ariyah yang mayoritas.
Tuduhan adanya kesamaan antara kaum Qadariyah dengan penganut agama majusi,
sebab yang diketahui bahwa kaum majusi membatasi takdir ilahi hanya pada apa yang
mereka namakan kebaikan saja, sedangkan kejahatan berada diluar takdir ilahi
B. Asal Usul Paham Qadariyah
Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih
merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian
pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh
Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. Ibnu Nabatah
menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin,
aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya
beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen.
Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib.
Sementara W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan
bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah
Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.
Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan
Radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi
perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada
masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan
Syi’ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan
Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu
‘anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya.
Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan
yang timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu menahu
tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula disangka mereka kurang tanggap
terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran, keyakinan,
pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan menentang
perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang
menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan kekuatan.
Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat
menentang politik Bani Umayyah, karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah
kekuasaanya selalu mendapat tekanan, bahkan pada zaman Abdul Malik bin
Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan lenyap tapi hanya untuk sementara
saja, sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam
faham Mu’tazilah.
Dokterin-Dokterin Paham Qadariyah
Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa
manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. Manusia sendirilah yang melakukan
perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang
melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya
sendiri. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya, dan
dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya.
Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan
dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara
kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin
qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan
salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan
Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai
kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.
Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas
kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala
perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh
karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga
berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Ganjaran
kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa
dengan balasan neraka kelak di akherat, itu didasarkan atas pilihan pribadinya
sendiri, bukan oleh takdir Tuhan. Karena itu sangat pantas, orang yang berbuat akan
mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya.
Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang
umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu paham yang mengatakan
bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya,
manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap
dirinya. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi
alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hukum yang dalam istilah alQuran adalah sunnatullah. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki
takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat
lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan
tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. Demikian
juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa
barang dua ratus kilogram.
Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan
kepada Allah. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat alQuran yang berbicara dan mendukung paham itu, seperti berikut:
Fush-Shilat : 40
‫معا‬
ْ ‫ن شي َ َم ن َُُ َْْش م شَ بُْهَّم لْ َ ُ َْ شِ َ َم اَ َل‬
Artinya: “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang
kamu perbuat”. (QS. Fush-Shilat : 40).
Ali Imran :165
‫ع شْ م شَ ُْ شََ شع َاُ يم شَ م شَ اَُهل َِاَن يم شل مِ َ ُْ شْ ْي شأ ْْ ا َ شَُم ْي مص شَ بْ ها ه‬
ُ ‫ََ َي اَ َملَ ه‬
َ ‫ِْاََل مي ِّْل‬
‫يَْ ن‬
ْ ُ‫عُلَ ش مص شَ م‬
َ َ ‫معَْْن يَْش ا‬
َ َ ‫ْ شكىَ ا‬
Artinya: “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud),
Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu
(pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?”
Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu”. (QS.Ali Imran :165)
Ar-Ra’d :11
‫بْ ها ه‬
َ‫ََ ْ ِمََعْ مِّا َُُ لََْ ش َ َت هل ِم ََعْ مِّامن َُُ لُْ َ شَُميْ ْا ش‬
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan [Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama
mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.] yang ada pada diri mereka
sendiri”. (QS.Ar-Ra’d :11)
Asas-asas Paham Qadariyah
Mengingkari takdir Allah Taala dengan maksud ilmuNya.
Melampaui atau berlebihan didalam menetapkan kemampuan manusia dengan
menganggap mereka bebas berkehendak (iradah). Di dalam perbuatan manusia,
Allah tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) mengenainya dan ia terlepas dari takdir
(qadar). Mereka menganggap bahawa Allah tidak mempunyai pengetahuan
mengenai sesuatu kecuali selepas ia terjadi.
Mereka berpendapat bahawa Allah tidak bersifat dengan suatu sifat yang ada pada
makhluknya. Karena ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih). Oleh itu
mereka menafikan sifat-sifat Ma’ani dari Allah Taala.
Mereka berpendapat bahawa al-Quran itu adalah makhluk, Ini disebabkan
pengingkaran mereka terhadap sifat Allah.
Mengenal Allah wajib menurut akal, dan iman itu ialah mengenal Allah. Jadi
menurut faham Qadariyah, Iman adalah pengetahuan dan pemahaman, sedang amal
perbuatan tidak mempengaruhi iman. Artinya, orang berbuat dosa besar tidak
mempengaruhi keimanannya.
Mereka mengingkari melihat Allah (rukyah), kerana ini akan membawa kepada
penyerupaan (tasybih).
Mereka mengemukakan pendapat tentang syurga dan neraka akan musnah (fana’),
selepas ahli syurga mengecap nikmat dan ahli neraka menerima azab siksa.
Tokoh-tokoh paham Qadariyah
Perpecahan dalam Islam sangat erat kaitannya dengan aliran Qadariyah, karena
aliran tersebut dapat dikatakan dari perpecahan itu sendiri, berikut ini adalah tokohtokoh yang termasuk didalamnya tokoh pencetus aliran Qadariyah :
Ibnu Sauda’ Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi
Dia adalah seorang Yahudi yang mengaku-ngaku beragama Islam 34 H. Ibnu Sauda’
ini memadukan antara faham Khawarij dan Syi’ah.
Ma’bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80 H)
Dia meluncurkan pemikiran seputar masalah takdir sekitar tahun 64 H. Ia
menggugat ilmu Allah dan takdirNya. Ia mempromosikan pemikiran sesaat itu
terang-terangan sehingga banyak meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang
mengikutinya juga banyak. Namun bid’ahnya ini mendapat penentangan yang
sangat keras dari kaum Salaf, termasuk di dalamnya para sahabat yang masih hidup
ketika itu, seperti Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.
Menurut Al-Zahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal, yang dikutip Ahmad Amin
dalam Sirajuddin Zar, menerangkan bahwa ia adalah tabi’in yang dapat dipercaya,
tetapi ia memberikan contoh yang tidak baik dan mengatakan tentang qadar. Lalu ia
dibunuh oleh al-Hajjaj karena ia memberontak bersama Ibnu al-Asy’as. Tampaknya
disini ia dibunuh karena soal politik, meskipun kebanyakan mengatakan bahwa
terbunuhnya karena soal zindik. Ma’bad Al-Jauhani pernah belajar kepada Hasan
Al-Bashri, dan banyak penduduk Basrah yang mengikuti alirannya .
Ghailan Ad-Dimasyqi
Sepeninggal Ma’bad, Ghailan Ibnu Muslim al-dimasyqy yang dikenal juga dengan
Abu Marwan. Menurut Khairuddin al-Zarkali dalam Sirajuddin Zar menjelaskan
bahwa Ghailan adalah seorang penulis yang pada masa mudanya pernah menjadi
pengikut Al-Haris Ibnu Sa’id yang dikenal sebagai pendusta. Ia pernah taubat
terhadap pengertian faham qadariyahnya dihadapan Umar Ibnu Abdul Aziz, namun
setelah Umar wafat ia kembali lagi dengan mazhabnya.
Dialah yang mengibarkan pengaruh cukup besar seputar masalah-masalah takdir
sekitar tahun 98 H. Dan juga dalam masalah ta’wil, ta’thil (mengingkari sebagian
sifat-sifat Allah) dan masalah irja. Para salaf pun menentang pemikirannya itu.
Termasuk diantara yang menentangnya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Beliau menegakkan hujjah atasnya, sehingga Ghailan menghentikan celotehannya
sampai Umar bin Abdul Aziz wafat. Namun setelah itu, Ghailan kembali
meneruskan aksinya. Ini merupakan ciri yang sangat dominan bagi ahli bid’ah, yaitu
mereka tidak akan bertaubat dari bid’ah. Sekalipun hujjahnya telah dipatahkan,
mereka tetap kembali menentang dan kembali kepada bid’ahnya. Ghailan ini
akhirnya dihukum mati setelah dimintai taubat namun menolak bertaubat pada tahun
105 H. Dia mati dihukum oleh Hisyam Abdul al-Malik (724-743). Sebelum dijatuhi
hukuman mati diadakan perdebatan antara Ghailan dan al-Awza’i yang dihadiri oleh
Hisyam sendiri.
Al-Ja’d bin Dirham (yang terbunuh tahun 124H)
Dia mengembangkan pendapat-pendapat sesat pendahulunya dan meracik antara
bid’ah Qadariyah dengan bid’ah Mu’aththilah dan ahli ta’wil. Kemudian ia
menyebarkan pemikiran rancu (syubhat) di tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga
para ulama Salaf memberi peringatan kepadanya dan menghimbaunya untuk segera
bertaubat. Namun ia menolak bertaubat. Para ulama membantah pendapat-pendapat
Al-Ja’d ini dan menegakkan hujjah atasnya, namun ia tetap bersikeras. Maka
semakin banyak kaum muslimin yang terkena racun pemikirannya.
para ulama memutuskan hukuman mati atasnya demi tercegahnya fitnah (kesesatan).
Ia pun dibunuh oleh Khalid bin Abullah Al-Qasri. Kisah terbunuhnya Al-Ja’d ini
sangat mashur, Khalid berpidato seusai menunaikan shalat ‘Idul Adha :
“Sembelihlah hewan kurban kalian, semoga Allah menerima sembelihan kalian,
sementara aku akan menyembelih Al-Ja’d bin Dirham, karena telah mendakwahkan
bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalilNya dan
Allah tidak mengajak Nabi Musa berbicara dan seterusnya”. Kemudian beliau turun
dari mimbar dam menyembelihnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 124 H.
Al-jahm bin Shafwan
Sesudah peristiwa itu, api kesesatan sempat padam beberapa waktu. Hingga
kemudian marak kembali melalui tangan Al-Jahm bin Shafwan. Yang mengoleksi
bid’ah dan kesesatan generasi pendahulunya serta menambah bid’ah baru. Akibat
ulahnya muncullah bid’ah Jahmiyah serta kesesatan dan penyimpangan kufur
lainnya yang ditularkannya. Al-Jahm bin Shafwan ini banyak mengambil ucapanucapan Ghailan dan Al-Ja’d, bahkan ia menambah lagi dengan bid’ah ta’thil
(penolakan sifat-sifat Allah), bid’ah ta’wil, bid’ah irja’, bid’ah Jabariyah, bid’ah
Kalam, dan sebagainya. Al-Jahm akhirnya dihukum mati pada tahun 128 H .Washil
bin Atha’ dan Amr bin Ubeid
Orang ini muncul bersamaan di masa Al-Jahm bin Shafwan. Mereka berdua
meletakkan dasar-dasar pemikiran Mu’tazilah Qadariyah.
C.
Pembagian Paham Qadariyah
Seperti faham dalam ilmu kalam lainnya, faham Qadariyah pun terpecah menjadi
beberapa kelompok. Banyak pendapat tentang perpecahan Qadariyah ini, diantaranya
dikatakan bahwa faham Qadariyah terpecah menjadi dua puluh kelompok besar, yang setiap
kelompok dari mereka mengkafirkan kelompok yang lainnya. Dua puluh aliran dari
Qadariyah itu adalah Washiliyah, ‘Amruwiyah, Hudzaliyah, Nazhamiyah, Murdariyah,
Ma‘mariyah, Tsamamiyah, Jahizhiyah, Khabithiyah, Himariyah, Khiyathiyah, Syahamiyah,
Ashhab Shalih Qubbah, Marisiyah, Ka‘biyah, Jubbaiyah, Bahsyamiyah, Murjiah Qadariyah.
Dari Bahsyamiyah lahir pula aliran besar, yakni Khabithiyah dan Himariyah.
Dan sesungguhnya Qadariyah terpecah-pecah menjadi golongan yang banyak, tidak
ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah, setiap golongan membuat madzhab
(ajaran) tersendiri dan kemudian memisahkan diri dari golongan yang sebelumnya.
Inilah keadaan ahlul bid’ah yang mana mereka selalu dalam perpecahan dan selalu
menciptakan pemikiran-pemikiran dan penyimpangan-penyimpangan yang berbeda
dan saling berlawanan. Namun berapa banyak pun jumlah golongan dari hasil
perpecahan penganut faham Qadariyah, tetap saja hal ini berujung dan bersumber
pada tiga pemahaman.
1. Golongan Qadariyah yang pertama adalah mereka yang mengetahui qadha dan
qadar serta mengakui bahwa hal itu selaras dengan perintah dan larangan,
mereka berkata jika Allah berkehendak, tentu kami dan bapak-bapak kami tidak
mempersekutukan-Nya, dan kami tidak mengharamkan apapun.
2. Qadariyah majusiah, adalah mereka yang menjadikan Allah berserikat dalam
penciptaan-penciptaan-Nya, sebagai mana golongan-golongan pertama
menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam beribadat kepadanya, sesungguhnya
dosa-dosa yangterjadi pada seseorang bukanlah menurut kehendak Allah,
kadang kala merekaberkata Allah juga tidak mengetahuinya.
3. Qadariyah Iblisiyah, mereka membenarkan bahwa Alah merupakan sumber
terjadinya kedua perkara (pahala dan dosa) Adapun yang menjadikan kelebihan
dari paham ini membuat manusia menjadi kreatif dan dinamis, tidak mudah
putus asa, ingin maju dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, namun
demikian mengeliminasi kekuasaan Allah juga tidak dapat dibenarkan oleh
paham lainnya (Ahlussunah wal jamaah).

Sedangkan dalam segi pengamalan Qadariyah terbagi dua, yaitu:
1. Qadariyah yang ghuluw (berlebihan) dalam menolak takdir
2. Qadariyah yang ghuluw (berlebihan) dalam menetapkan takdir.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Intinya paham Qadariyah menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan
berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. Manusia mampu
melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik perbuatan yang baik
maupun perbuatan yang buruk tanpa campur tangan dari Allah S.W.T. Kaum Qadariyah
berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam
menentukan perjalanan hidupnya. . Dalam teologi modern faham Qadariyah ini dikenal
dengan nama free will, freedom of willingness atau fredom of action, yaitu kebebasan
untuk berkehendak atau kebebasan untuk berbuat.
Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih
merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar
teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad alJauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M.
Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh
Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada
mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen.
Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Sementara
W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham
Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh
Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.
Sebagai kesimpulan dalam makalah ini kedua aliran baik Qadariyah ataupun jabariyah
memperlihatkan paham yang saling bertentangan. Meskipun mereka sama-sama
berpegang teguh pada Al-Quran’. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan
perbedaan pendapat dalam islam.
Daftar Pustaka
Sufyan Raji Abdullah. Mengenal aliran-aliran dalam islam dan cirri-ciri ajaranya. Jakarta:
Pustaka Riyadl. 2007
Ilmu Tauhid Lengkap. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1996.
Abu Bakar Jabir El-Jazairi. Pola Hidup Muslim Aqidah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
1990.
https://ibnuramadan.wordpress.com/2008/11/01/firqah-qadariyah-gen-firqoh-dan-akar-bidah/.
(Diakses 20-0ktober 2019)
https://shafavolefel.wordpress.com/2015/12/13/makalah-paham-qadariyah/
Pontianak 20 October 2019.
Download