PEMBAHASAN PRODUKSI SAPI DAN KEBUTUHAN DAGING SAPI NASIONAL Untuk mengetahui efektivitas sebuah kebijakan, perlu adanya analisis terkait hasil atau pelaksanaan suatu kebijakan tersebut. Dalam hal ini, untuk mengetahui efektivitas kebijakan produksi daging sapi dan kebijakan impor daging sapi, kami menganalisis tren atau jumlah produksi daging sapi dan jumlah impor daging sapi secara riil setiap tahunnya. Data yang digunakan adalah data tahun 2001 hingga 2018. PRODUKSI DAGING SAPI (TON) 700 000,00 600 000,00 JUMLAH 500 000,00 400 000,00 300 000,00 200 000,00 100 000,00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 TAHUN Sumber : Badan Pusat Statistik (2019) Berdasarkan data produksi daging sapi, terlihat bahwa produksi daging sapi di Indonesia berkisar pada 500.000 ton per tahunnya. Meskipun sebelum tahun 2012 produksi sapi di Indonesia fluktuatif hingga terjadi produksi maksimum sebesar 587.746 ton di tahun 2005. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi daging sapi nasional belum menunjukkan hasil yang konsisten. Karena tujuan dari kebijakan produksi sapi adalah meningkatkan produksi sapi setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sumber : Data diolah (2019) Berdasarkan data diketahui nilai statistik deskriptif untuk produksi sapi nasional. Nilai minimum dari produksi sapi nasional adalah 330.290 ton yang terjadi pada tahun 2007. Sedangkan nilai maksimum dari produksi sapi nasional adalah 587.746 ton yang terjadi pada tahun 2005. Pemerintah sendiri telah menggalakan program swasembada sapi pada tahun 2000. Jika melihat tren yang terjadi, program swasembada sapi yang digalakkan pemerintah menunjukkan hasilnya hingga mencapai tingkat maksimum di tahun 2005. Namun, terjadi penurunan yang signifikan hingga mencapai titik minimum di tahun 2007. Ini menjadi sinyal bahwa kebijakan yang ada belum efektif mengatasi permasalahan produksi sapi di Indonesia. Kemudian, setelahnya produksi sapi mengalami peningkatan hingga mulai konsistem berada di sekitar nilai tengah data pada 447.338 ton. Ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai memperbaiki kebijakan yang ada untuk terus berupaya meningkatkan produksi sapi. Meskipun, kebijakan yang diambil belum mampu meningkatkan produksi sapi nasional. Berdasarkan data tersebut, diketahui pula bahwa koefisien variasi data produksi daging sapi adalah 16,6%. Ini diperoleh dengan membagi standar deviasi dan nilai tengah data tersebut. Koefisien variasi menunjukkan besarnya persentase penyimpangan data dari nilai tengahnya. Sehingga, dapat dikatakan fluktuasi produksi daging sapi nasional jika melihat secara total dari tahun 2001 hingga 2018 adalah sebesar 16,6%. Sumber : Bapenas 2019 Tetapi, jika kita melihat pada data konsumsi daging sapi nasional, permintaan atau konsumsi daging sapi menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Sementara, produksi sapi terus konsisten berada di sekitar nilai tengah. Oleh karena itu, maka gap penawaran dan permintaan untuk daging sapi sangat mungkin terjadi. Peningkatan jumlah penduduk serta peningkatan konsumsi daging per kapita adalah penyebab meningkatkanya kebutuhan daging sapi nasional. Di tahun 2020, konsumsi daging sapi nasional sendiri diprediksi berada pada jumlah 743.000 ton. Artinya, jika mengacu pada nilai rata rata produksi sapi nasional di 447.338 ton, akan terjadi selisih kebutuhan konsumsi daging sapi yang belum terpenuhi senilai 295.662 ton. IMPOR DAGING SAPI NASIONAL Untuk memenuhi gap antara permintaan dan penawaran yang terjadi pada daging sapi, pemerintah perlu melakukan impor. Sejalan dengan Imam (2013) menyatakan bahwa impor dilakukan karena kurangnya jumlah produksi suatu negara. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan impor daging sapi adalah memenuhi defisit produksi daging sapi suatu negara. IMPOR DAGING SAPI (FRESH & FROZEN DALAM TON) 180 000 160 000 140 000 JUMLAH 120 000 100 000 80 000 60 000 40 000 20 000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 TAHUN Sumber : International Trade Center (2019) Jika melihat data impor daging sapi nasional, diketahui bahwa jumlah impor daging sapi di Indonesia sendiri cukup fluktuatif namun terus menunjukkan peningkatan. Sejalan dengan informasi sebelumnya bahwa tingkat konsumsi daging sapi nasional terus bertambah sementara produksi daging sapi nasional cenderung tidak mengalami peningkatan, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut impor daging sapi akan terus meningkat. Sehingga dapat dikatakan bahwa impor merupakan cara yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan nasional. Meskipun demikian, dalam jangka panjang hal ini bisa menjadi beban bagi neraca perdagangan nasional karena kebutuhan daging sapi yang terus meningkat. Sumber : Data diolah (2019) Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa nilai impor minimum adalah 10.665 ton pada tahun 2003 dan nilai maksimumnya adalah 160.646 ton pada tahun 2018. Dalam kurun waktu 15 tahun, terjadi selisih yang cukup besar bagi impor daging sapi nasional. Sangat memungkinkan bahwa angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk. Sehingga penting bagi pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan produksi daging sapi nasional dan mengurangi impor. Nilai tengah untuk impor daging sapi nasional sendiri berada pada 55.304 ton. Nilai tengah ini pun akan terus meningkat seiring dengan penambahan jumlah impor daging sapi nasional. Koefisien variasi dari data impor daging sapi nasional adalah 76,8%. Hal ini menunjukkan fluktuasi dari jumlah impor daging sapi sangatlah tinggi. Ini juga menggambarkan bahwa gap antara permintaan dan penawaran di pasar sangatlah fluktuatif dan harga daging sapi di pasar pun cenderung tidak stabil. DAMPAK KEBIJAKAN PRODUKSI DAN IMPOR DAGING SAPI Berdasarkan data, produksi daging sapi nasional cenderung tidak mengalami peningkatan sedangkan impor daging sapi nasional cenderung mengalami peningkatan dengan fluktuasi yang cukup tinggi. Pemerintah tentunya perlu mengkaji kembali kebijakan produksi sapi nasional karena untuk mengurangi impor, menstabilkan harga, dan meningkatkan ketahanan nasional perlu adanya kebijakan yang efektif untuk meningkatkan produksi sapi nasional. Dapat dikatakan bahwa kebijakan produksi dan impor daging sapi nasional kurang efektif. Hal ini dilihat berdasarkan dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut. Dari segi produksi, kebijakan pemerintah dapat dinilai kurang efektif untuk memenuhi kebutuhan dan menstabilkan harga. Produksi daging sapi nasional belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Sedangkan impor daging sapi yang fluktuatif menggambarkan harga yang fluktuatif dan cenderung tidak stabil di pasar. Jumlah impor yang diberlakukan pemerintah cenderung insidental mengikuti kondisi pasar pada saat itu. Artinya pemerintah belum menemukan jumlah impor yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan di pasar.