Uploaded by User34337

Tugas Hukum dan Etika Bisnis

advertisement
ETIKA BISNIS DALAM BIDANG PENJUALAN DAN
PEMASARAN (STUDI KASUS COCA COLA)
ARDIAN KARYA P
EDDY SUPRIADI Y
GITA HAPSARI
IMELDA SAFRINA
MONTANO MADA
RIZKI RADO M
K15191003
K15191008
K15191011
K15190142
K15191012
K15191016
MAGISTER MANAJEMEN DAN BISNIS
SEKOLAH BISNIS
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan
TINJAUAN PUSTAKA
PEMBAHASAN
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1
2
2
2
3
5
5
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan zaman di era globalisasi dan modern ini menyebabkan semakin
canggih dan berkembangnya struktur, teknologi, fasilitas, produk, layanan jasa yang
beraneka ragam didalam cangkupan bisnis, khususnya di bidang pemasaran. Akibat
perkembangan tersebut membuat beberapa produsen melupakan hal-hal yang terpenting
dalam membuat, mendistribusikan dan memasarkan produk kepada konsumen.
Etika pemasaran dalam bisnis merupakan suatu hal yang sangat penting apabila
ingin menjalankan bisnis dalam jangka waktu yang panjang. Etika tersebut membuat para
produsen atau pengusaha dapat melakukan hal-hal kegiatan yang selaras dengan
kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain, tanpa adanya kerugian diantara kedua
belah pihak. Namun, saat ini masih ada beberapa perusahaan yang masih melakukan
pelanggaran terhadap etika pemasaran ditunjukkan dengan semakin banyaknya kasus
penipuan, pemalsuan dan kecurangan dalam melakukan kegiatan usaha.
Coca cola bermula dari ide John S. Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta,
Amerika Serikat (AS) yang membuat minuman alkohol jenis anggur koka dan menamakan
produknya Pemberton’s French Wine Coca. Namun, formula itu tidak dapat
diperdagangkan karena ada larangan penjualan anggur jenis koka pada 1885. Alhasil,
produk karya Pemberton itu tidak bisa muncul di pasaran. Dia pun meracik ulang
minumannya itu agar tidak menggunakan anggur. Setahun pasca pelarangan, Pemberton
telah mengganti anggur menjadi sirup karamel dicampur dengan air berkarbonasi, serta sari
kacang kola dan koka.
Pada tahun 2012, menurut penelitian dan tes terbaru yang dilakukan Institut
Konsumen Nasional Paris, minuman soda terkenal asal Amerika Coca-Cola mengandung
alkohol. INC yang berpusat di Paris itu mengatakan, selain Coca-Cola merek Pepsi Cola
juga mengandung alkohol. Majalah Perancis “60 Million Consumer” menerbitkan hasil tes
yang mengatakan bahwa tingkat alcohol yang terdapat pada Coca-Cola adalah 10 mg per
liter atau sekitar 0,001 persen alkohol. Kabar ini tentu meresahkan konsumen Muslim,
karena Islam melarang tegas minuman beralkohol.
Berdasarkan kasus tersebut sehingga diperlukan analisis etika pemasaran yang
dilakukan oleh Coca cola, khususnya terhadap penggunaan alkohol dalam produknya.
Tujan
Menganalisa tentang teori etika dan etika pemasaran dikaitkan dengan studi kasus
Coca cola yang mengandung alkohol.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Kata etika berasal dari Bahasa Latin Ethics dan Bahasa Yunani Ethikos. Etika
juga sering dikaitkan dengan ilmu perilaku. Pada kenyataannya, etika berkaitan
dengan standar tertentu terhadap moral dan perilaku manusia. Bidang etika
melibatkan sistematisasi serta membela dan merekomendasikan konsep perilaku
baik dan buruk. Etika merupakan sekumpulan prinsip moral dan nilai akan yang
benar dan salah, adil dan tidak adil, serta pantas dan tidak pantas (Paliwal 2006).
Etika bisnis, seperti layaknya etika dalam bidang lainnya, seringkali
cenderung fokus pada prinsip tindakan, tindakan itu sendiri, dan konsekuensinya.
Pada etika bisnis, ketiga hal ini berlaku. Namun terdapat opsi lain, di mana tidak
tercakup baik oleh deontology maupun utiliarisme, yang kemudian disebut etika
kebajikan. Solomon (1999) menyatakan bahwa etika kebajikan tidak terlalu fokus
kepada prinsip atau konsekuensi dari sebuah tindakan, dan tidak juga fokus pada
tindakan. Namun etika kebajikan lebih fokus kepada subjek yang melakukan
tindakan tersebut. Heath et al. (2018) menyatakan bahwa penegakan etika bisnis
pada kenyataannya terus berkembang baik secara instusional, geografis, maupun
secara intelektual. Seiring dengan berkembangnya pasar global, norma bisnis sering
berbenturan dengan norma social, sehingga sering muncul pertanyaan-pertanyaan
mengenai kontur etis dalam praktik bisnis.
Etika pemasaran merupakan sistematika pembelajaran bagaimana standar
moral dapat diaplikasikan dalam pengambilan keputusan, perilaku, dan institusi
pemasaran (Heath et al. 2018). Etika pemasaran juga merujuk kepada praktik yang
menekankan transparansi, kepercayaan, dan tanggung jawab personal maupun
organisasi dalam kebijakan pemasaran serta tindakan yang menunjukkan integritas
sebagaimana keadilan bagi konsumen dan stakeholder lainnya.
Miller et al. (2017) menyatakan bahwa pada industri alkohol, penggunaan
klausa Corporate Social Responsibility serta kerja sama dengan komunitas
kesehatan sebagai pembenaran dilakukan dengan cara mendanai berbagai aktivitas
“ilmiah” yang melibatkan atau bersinggungan dengan penelitian yang dilakukan
oleh peneliti independent menggunakan teknik mulai dari usaha untuk
mempengaruhi persepsi publik melalui penelitian hingga komisi langsung terhadap
penelitian yang konsisten terhadap prioritas komunikasi dan hubungan masyarakat
dari perusahaan tersebut.
Minuman ringan termasuk dalam kategori pangan. Adapun pengertian
pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang
diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman
bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku tambahan,
dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau
pembuatan makanan dan minuman. Adapun pengertian minuman ringan (soft
drink) berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia No. HK.00.05.52.4040 tentang Kategori Pangan adalah
minuman yang tidak mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan
dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan dan bahan
3
tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap
untuk dikonsumsi.
PEMBAHASAN
Coca cola merupakan minuman soda favorit di seluruh dunia. ide
menciptakan minuman bersoda tersebut bermula dari ide John S. Pemberton,
seorang ahli farmasi dari Atlanta, Amerika Serikat (AS). John yang membuat
minuman alkohol jenis anggur koka. Dia menamakan produknya itu Pemberton’s
French Wine Coca. Sayangnya, formula itu tidak bisa diperdagangkan karena ada
larangan penjualan anggur jenis koka pada 1885. Akhirnya, produk karya
Pemberton itu tidak bisa muncul di pasaran. Dia pun meracik ulang minumannya
itu agar tidak menggunakan anggur. Setahun pasca pelarangan itu, Pemberton telah
mengganti anggur menjadi sirup karamel dicampur dengan air berkarbonasi, serta
sari kacang kola dan koka. Nah, minuman inilah yang menjadi cikal bakal Coca
cola yang eksis hingga saat ini.
Namun isu tentang Coca cola yang mengandung alkohol masih saja
diperdebatkan. Bahkan salah satu situs ternama yaitu thisamericanlife.org
mengklaim berhasil mengungkap kandungan dan porsi bahan-bahan yang terdapat
di dalam minuman tersebut. Situs tersebut juga memberikan bukti foto. Foto
tersebut berupa Atlanta Journal Constitution edisi tanggal 8 Februari 1979.Hal ini
mengejutkan banyak pihak,terutama konsumen indonesia, mengingat minuman
tersebut sudah mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sejatinya, produk makanan atau minuman yang sudah memiliki sertifikat halal dari
MUI layak untuk dikonsumsi. Begitupun Coca-Cola yang sudah memiliki sertifikat
halal.
Adapun faktanya, isu Coca cola mengandung alkohol ini sudah cukup lama
beredar di media sosial dan cukup ramai dibahas pada tahun 2011. Bahkan LPPOM
MUI sudah melakukan penelitian dan tidak menemukan adanya kandungan alkohol
dalam Coca cola. Seperti kita ketahui bahwa seluruh produk makanan atau
minuman yang sudah memiliki sertifikat halal MUI layak untuk dikonsumsi. Pihak
Coca cola pun angkat bicara bahwa minuman Coca cola tanpa alkohol dan ready to
drink. Bahkan pihak Coca cola secara berkala memperbaharui sertifikasi halal dari
Majelis Ulama Indonesia.
Perusahaan minuman berkarbonasi itu menyadari ada ancaman besar yang
bisa menggerus penjualannya yakni, isu kesehatan. Coca cola pun tidak tinggal
diam, perusahaan itu melakukan berbagai upaya untuk meredam isu kesehatan
tersebut. Salah satunya dengan meluncurkan situs informasi berisi edukasi
kesehatan minuman soda pada 2013. Situs itu bernama The Beverage Institute for
Health and Wellnes. Pada hari jadinya ke-127 tahun, Coca cola menegaskan
komitmennya kepada konsumen kalau produk minuman bersodanya aman untuk
semua kalangan. Untuk memastikan itu, Coca cola melakukan 4 hal yakni,
menyediakan minuman tanpa kalori, menginformasikan kandungan dalam
minuman secara transparan, menjaga kesehatan anak-anak, dan mengajak untuk
hidup sehat. Namun, New York Times sempat melaporkan kalau Coca cola
4
menggelontorkan dana senilai US$1,5 juta kepada organisasi nirlaba Global Energy
Balance Network untuk promosi cegah obesitas dengan diet.
SIMPULAN
Praktik bisnis yang dilakukan oleh Coca cola telah melanggar prinsip etika bisnis
dari segi kejujuran dalam penjualan dan pemasaran produknya. Bahwa Coca cola tidak
memberikan informasi yang benar, yaitu terkait sertifikasi halal yang telah diberikan
Majelis Ulama Indonesia dengan ditemukan kandungan alkohol didalam minuman ringan
miliknya. Secara hukum, praktik bisnis yang dilakukan oleh Coca cola telah melanggar
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.
HK.00.05.52.40.40 terkait pengertian minuman ringan (Soft Drink), tentang Kategori
pangan adalah minuman yang tidak mengandung alkohol. Hal ini mengakibatkan
konsumen Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat muslim dirugikan dari segi
material maupun moril.
DAFTAR PUSTAKA
Heath E, Kaldis B, Marcoux A. 2018. The Routledge Companion to Business
Ethics. New York (US) : Routledge
Miller P, Babor TF, McGovern T, Obot I, Bühringer G. 2017. Relationships with
the Alcoholic-Beverage Industry, Pharmaceutical Companies, and Other
Funding Agencies: Holy Grail or Poisoned Chalice?. London (UK) :
Ubiquity Press
Paliwal M. 2006. Business Ethics. New Delhi (IN) : New Age International
Solomon RC. 1999. A Companion to Business Ethics. Massachusetts (US) :
Blackwell Publishers Inc.
Download
Random flashcards
Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

Secuplik Kuliner Sepanjang Danau Babakan

2 Cards oauth2_google_2e219703-8a29-4353-9cf2-b8dae956302e

Card

2 Cards

Dokumen

2 Cards oauth2_google_646e7a51-ae0a-49c7-9ed7-2515744db732

Create flashcards