Uploaded by Achmad Syamsudin

Panduan Penyusunan Raperda Sampah Edisi 2017

advertisement
PANDUAN PENYUSUNAN
RANCANGAN PERATURAN DAERAH
TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
D I R E K T O R A T J E N D E R A L C I P T A K A R Y A
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
2017
01
02
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, persampahan merupakan salah satu sub urusan dari urusan
pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang yang termasuk
kedalam urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Oleh karena itu,
urusan persampahan menjadi tugas, wewenang dan tanggung jawab Pemerintah
Daerah yang wajib untuk diselenggarakan. Namun demikian, belum semua
Pemerintah Kabupaten/Kota memprioritaskan penyediaan prasarana dan sarana
persampahan yang layak dalam pembangunan daerah.
Arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019
mengamanatkan bahwa pada tahun 2019, Indonesia mencapai 100% akses
(universal access) terhadap sanitasi (air limbah dan persampahan). Salah satu
strategi yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan
Rakyat untuk mencapai universal access tersebut adalah dengan menyiapkan
norma, standar, pedoman dan kriteria (NSPK) serta mendorong Daerah Kabupaten/Kota untuk membentuk
regulasi/produk hukum di Daerah tentang pengelolaan sampah.
Dalam rangka mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota untuk membentuk Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat, menyusun buku Panduan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
Buku panduan ini berisikan informasi umum mengenai Peraturan Daerah, Tahapan Pembentukan Peraturan
Daerah, Penyusunan Naskah Akademik dan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Pengelolaan Sampah.
Semoga buku panduan ini memberikan manfaat bagi para pihak dalam menyusun Rancangan Peraturan
Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, Maret 2017
Direktur Jenderal Cipta Karya
Ir. SRI HARTOYO, Dipl, SE, ME.
03
04
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
DAFTAR ISI
1.
UMUM
9
1.1
PENDAHULUAN9
1.2
PERATURAN DAERAH12
1.2.1 Kedudukan Peraturan Daerah13
1.2.2 Fungsi Peraturan Daerah14
1.2.3 Landasan Pembentukan Peraturan Daerah14
1.2.4 Asas dan Prinsip Pembentukan Peraturan Daerah
15
1.2.5 Kewenangan Pembentukan Perda17
2.
TAHAPAN PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH 25
2.1
PERENCANAAN25
2.1.1 Penyusunan Program Pembentukan Perda (Propemperda) 25
2.1.2 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Kumulatif
Terbuka27
2.1.3 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Di Luar
Propemperda27
2.2
PENYUSUNAN27
2.2.1 Penyusunan Naskah Akademik28
2.2.2 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah
Daerah29
2.2.3 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan DPRD
31
2.3
PEMBAHASAN32
2.4
PENETAPAN35
2.4.1 Pemberian Nomor Register35
05
2.4.2 Penandatanganan36
2.4.3 Penomoran36
2.5
PENGUNDANGAN36
2.6
PENYEBARLUASAN37
3.
PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK41
3.1
UMUM42
3.2
SISTEMATIKA42
3.3
TAHAPAN PENYUSUNAN56
4.
PENYUSUNAN RANCANGAN PERDA PENGELOLAAN SAMPAH
59
4.1
TEKNIK PENYUSUNAN59
4.1.1 Judul Rancangan Peraturan Daerah59
4.1.2 Pembukaan60
4.1.3 Batang Tubuh Rancangan Peraturan Daerah
64
4.1.4 Penutup68
4.1.5 Penjelasan69
4.2
MATERI MUATAN70
5.
LAMPIRAN CONTOH RANCANGAN PERDA TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH113
06
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
DAFTAR TABEL
Tabel 4-1
Tabel Materi Muatan Rancangan Perda tentang
Pengelolaan Sampah84
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Tahapan Penyusunan Propemperda26
Gambar 2.
Alur Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan
Pemerintah Daerah30
Gambar 3.
Diagram Alur Pembahasan Rancangan Perda
35
Gambar 4.
Alur Penyusunan Naskah Akademik di Lingkungan
Pemerintah Daerah57
07
08
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB 1
1.1
UMUM
PENDAHULUAN
Saat jumlah penduduk masih sedikit, sampah tidak menjadi masalah. Namun, seiring
dengan meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk serta perubahan gaya hidup,
timbulan sampah menjadi semakin banyak baik jumlah maupun variasinya, sehingga
menimbulkan masalah yang membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak
dikelola dengan baik. Selain itu, akibat jumlah penduduk yang semakin banyak dan
ketersediaan lahan yang semakin berkurang, Pemerintah Daerah semakin kesulitan
mendapatkan lahan untuk pengolahan sampah, seperti: tempat penampungan sementara
(TPS), tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), dan tempat pemrosesan akhir (TPA)
sampah.
Padahal pemerintah daerah wajib menyediakan prasarana dan sarana pengolahan
sampah, karena negara melalui Undang
Undang (UU) No. 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah memberikan tugas
dan tanggung jawab kepada pemerintah
daerah bersama-sama dengan masyarakat
dan pelaku usaha untuk melakukan
pengelolaan
(pengurangan
dan
penanganan) sampah sesuai standar yang
ditetapkan dalam peraturan perundangundangan.
Selama ini, sebagian pemerintah daerah
dan masyarakat memandang sampah
sebagai barang sisa yang tidak berguna.
09
Pemerintah daerah dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan
akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke TPA sampah
tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Akibatnya, TPA sampah tidak mampu
menampung timbulan sampah, sehingga akhirnya sampah bertumpuk sembarangan,
mencemari lingkungan dan berpotensi melepaskan gas metana (CH4) ke udara yang dapat
meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan
global. Paradigma pengelolaan sampah bertumpu pada pendekatan akhir tersebut, sudah
saatnya ditinggalkan dan diganti paradigma baru, yaitu mengurangi sampah mulai dari
sumber dan memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi
dan dapat dimanfaatkan, misalnya untuk energi, kompos/pupuk, atau untuk bahan baku
industri. Hal tersebut dilakukan melalui kegiatan pengurangan dan penanganan sampah,
dimana Pengurangan sampah meliputi: kegiatan pembatasan, penggunaan kembali,
dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi: pemilahan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir. Pengelolaan sampah
sudah seharusnya dilakukan dengan pendekatan komprehensif mulai dari hulu1 sampai
ke hilir2.
Pendekatan pengelolaan sampah selama ini lebih mengedepankan tugas dan tanggung
jawab pemerintah daerah dalam pelaksanaannya. Namun sejalan dengan penerapan UU
Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pengelolaan sampah tidak hanya
menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah melainkan juga menjadi kewajiban
masyarakat, termasuk pelaku usaha. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama-sama
masyarakat dan pelaku usaha perlu mengubah paradigma pengelolaan sampah melalui
kegiatan pengurangan dan penanganan sampah, agar sampah menjadi berkurang sebelum
akhirnya diproses secara aman di TPA. Perubahan paradigm pengelolaan sampah tersebut
membawa konsekuensi hukum kepada pemerintah daerah yang diberikan tugas dan
wewenang UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah untuk memenuhi hak
masyarakat dan memfasilitasi kewajiban masyarakat dalam melaksanakan pengurangan
dan penanganan sampah dengan cara 3R, yaitu Reduce (mengurangi timbulan), Reuse
(menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).
1
2
sejak sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah
yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, kemudian dikembalikan ke media lingkungan
secara aman
10
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
Tahun 1945) memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup
yang baik dan sehat. Amanat UUD Tahun 1945 tersebut memberikan konsekuensi bahwa
pemerintah wajib memberikan pelayanan publik dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut
membawa konsekuensi hukum bahwa pemerintah merupakan pihak yang berwenang
dan bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah, meskipun secara operasional dapat
bekerjasama dan bermitra dengan badan usaha. Selain itu, organisasi persampahan dan
kelompok masyarakat yang bergerak di bidang persampahan dapat diikutsertakan dalam
kegiatan pengelolaan sampah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam
rangka
menyelenggarakan
pengelolaan sampah secara terpadu
dan komprehensif, pemenuhan hak
dan kewajiban masyarakat, serta tugas
dan wewenang Pemerintahan Daerah
melaksanakan sub urusan persampahan
pada bidang pekerjaan umum dan
penataan ruang sebagaimana ditetapkan
dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, diperlukan dasar hukum dalam
bentuk peraturan daerah yang mengatur
pengelolaan sampah.
Selain itu, di dalam pengelolaan sampah
tidak saja diperlukan aspek peran serta
aktif masyarakat dan aspek hukum dalam
bentuk peraturan daerah, melainkan
aspek kelembagaan dan manajemen,
aspek teknis operasional seperti prasarana
dan sarana, dan pembiayaan. Aspek
tersebut dalam satu sistem pengelolaan
11
sampah yang dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Untuk memberikan kepastian
hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah daerah serta hak dan
kewajiban masyarakat dan pelaku usaha, diperlukan dasar hukum yang mengatur secara
komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir, sehingga penyelenggaraan pengelolaan
sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif, dan efisien.
Untuk membantu pemerintah daerah dalam menyusun rancangan peraturan daerah
yang mengatur tentang pengelolaan sampah, strategi yang dilakukan oleh Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) c/q Direktorat Jenderal Cipta
Karya, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (Direktorat
Pengembangan PLP) antara lain dengan memfasilitasi penyusunan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Pengelolaan Sampah melalui kegiatan Bantuan Teknis (Bantek), dengan
tujuan percepatan terbentuknya peraturan daerah tentang pengelolaan sampah.
Dalam rangka kelancaran penyelenggaraan Bantek, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat membuat Panduan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah.
1.2
PERATURAN DAERAH
Berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan, peraturan daerah merupakan salah satu jenis peraturan
perundang-undangan, yaitu peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat
secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga atau pejabat yang berwenang
melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Peraturan
daerah selain melaksanakan ketentuan lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi juga dapat mengatur aspek khusus di bidang tertentu yang terdapat atau
dibutuhkan daerah dan/atau masyarakat. Peraturan daerah merupakan bagian dari sistem
hukum nasional yang mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam melaksanakan
otonomi daerah dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (6) UUD
Tahun 1945.
12
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
1.2.1 Kedudukan Peraturan Daerah
Pasal 1 ayat (3) UUD Tahun 1945 menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara
hukum. Hal ini bermakna bahwa Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) dan bukan
negara kekuasaan (machtstaat). Dengan demikian, penyelenggaraan kekuasaan negara
didasarkan pada prinsip-prinsip hukum sebagai landasan untuk menjalankan program
pembangunan nasional. Ketentuan pasal 1 ayat (3) UUD 1945 tersebut adalah sebagai
bentuk titah konstitusi kepada seluruh rakyat Indonesia terutama para pejabat di tataran
pemerintahan baik di pusat maupun di daerah untuk dapat memposisikan hukum sebagai
titik tolak dalam bertingkah laku dan merumuskan kebijakan publik.
Sebagai negara hukum dalam mengimplementasikan berbagai produk hukum
menggunakan teori norma hukum yang berjenjang (hirarki) dalam artian bahwa produk
hukum yang berada dibawahnya tidak boleh bertentangan dengan produk hukum
yang lebih tinggi diatasnya (lex superior derogat legi inferior). Hal ini sebagaimana
diimplementasikan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan yang menyebutkan hirarki norma hukum yang dianut
sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
4. Peraturan Pemerintah;
5. Peraturan Presiden;
6. Peraturan Daerah Provinsi; dan
7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Jenis peraturan perundang-undangan lain mencakup peraturan yang ditetapkan oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial,
Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan
Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota,
13
Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat, diakui keberadaannya dan mempunyai
kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.
Peraturan daerah menurut UU Nomor 12 Tahun 2011 dibedakan menjadi peraturan
daerah provinsi dan peraturan daerah kabupaten/kota. Lingkup berlakunya peraturan
daerah terbatas pada daerah bersangkutan, sedangkan lingkup berlakunya peraturan
menteri mencakup seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, maka dalam hirarki
peraturan perundang-undangan, peraturan menteri berada di atas peraturan daerah.3
1.2.2 Fungsi Peraturan Daerah
Secara umum peraturan daerah mempunyai berbagai fungsi antara lain:
a. sebagai instrumen kebijakan untuk melaksanakan otonomi daerah dan
pembantuan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah;
b. sebagai peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi. Dalam fungsi ini, peraturan daerah tunduk pada ketentuan hirarki peraturan
perundang-undangan. Sehubungan itu, peraturan daerah tidak boleh bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
c. sebagai instrumen penampung kekhususan dan keragaman daerah serta penyalur
aspirasi masyarakat di daerah, namun dalam pengaturannya tetap dalam koridor
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
d. sebagai instrumen/alat pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di daerah.
1.2.3 Landasan Pembentukan Peraturan Daerah
Dalam pembentukan peraturan daerah paling sedikit memuat 3 (tiga) landasan yaitu:
a. Landasan filosofis, adalah landasan yang berkaitan dengan dasar atau ideologi
Negara;
3
Kementerian Hukum dan Hak asasi Manusia RI, “Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah”
14
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
b. Landasan sosiologis, adalah landasan yang berkaitan dengan kondisi atau
kenyataan empiris yang hidup dalam masyarakat, dapat berupa kebutuhan atau
tuntutan yang dihadapi oleh masyarakat, kecenderungan, dan harapan masyarakat;
dan
c. Landasan yuridis, adalah landasan yang berkaitan dengan kewenangan untuk
membentuk, kesesuaian antara jenis dan materi muatan, tata cara atau prosedur
tertentu, dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi.
1.2.4 Asas dan Prinsip Pembentukan Peraturan Daerah
Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan termasuk peraturan daerah,
asas pembentukan peraturan perundang-undangan harus diperhatikan, sebagaimana
tercantum pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, meliputi:
a. Kejelasan Tujuan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan
harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.
b. Kelembagaan atau Pejabat Pembentuk yang Tepat, bahwa setiap jenis
peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau pejabat
pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang karena peraturan
perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila
dibuat oleh lembaga Negara atau pejabat yang tidak berwenang.
c. Kesesuaian Antara Jenis, Hirarki, dan Materi Muatan, bahwa dalam
pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan
materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hirarki peraturan perundangundangan.
d. Dapat Dilaksanakan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundangundangan harus memperhitungkan efektivitas peraturan perundang-undangan
tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis.
e. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan, bahwa setiap peraturan perundangundangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam
mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
15
f. Kejelasan Rumusan, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus
memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan,
sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah
dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam
pelaksanaannya.
g. Keterbukaan, bahwa dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan
mulai perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan, seluruh lapisan
masyarakat perlu diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengetahui dan
memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan
agar peraturan yang terbentuk menjadi populis dan efektif.
Dalam kerangka pembentukan peraturan perundang-undangan termasuk Peraturan
Daerah dibentuk berdasarkan beberapa prinsip antara lain sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
16
Prinsip tata susunan peraturan perundang-undangan atau lex superior
derogate legi inferiori, peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak
boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Prinsip lex specialis derogate legi generalis, peraturan perundang-undangan
yang lebih khusus mengenyampingkan peraturan perundang-undangan yang
lebih umum.
Prinsip lex posterior derogate legi priori, bahwa peraturan perundangundangan yang lahir kemudian mengenyamping-kan peraturan perundangundangan yang lahir terlebih dahulu jika materi yang diatur peraturan perundangundangan tersebut sama.
Prinsip keadilan, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus
mencerminkan keadilan bagi setiap warga negara tanpa terkecuali.
Prinsip kepastian hukum, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus
dapat menjamin kepastian hukum dalam upaya menciptakan ketertiban dalam
masyarakat.
Prinsip pengayoman, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus
berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman
masyarakat.
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
7.
8.
Prinsip mengutamakan kepentingan umum, bahwa dalam peraturan
perundang-undangan harus memperhatikan keseimbangan antara berbagai
kepentingan dengan mengutamakan kepentingan umum.
Prinsip kebhinekatunggalikaan, bahwa materi muatan peraturan perundangundangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan
golongan, kondisi khusus daerah, sistem nilai masyarakat daerah, khususnya
yang menyangkut masalah-masalah yang sensitif dalam kehidupan masyarakat.
1.2.5 Kewenangan Pembentukan Perda
Kewenangan pembentukan Peraturan Daerah berada pada Kepala Daerah dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah
setelah mendapat persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mengenai
dasar kewenangan pembentukan Peraturan Daerah diatur dalam:
a. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang menyatakan bahwa ”Pemerintah Daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah
dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Pasal 65
ayat (2) huruf b, Pasal 154 ayat (1) huruf a, Pasal 236 ayat (2), dan Pasal 242 (1)),
yang masing-masing pasal tersebut sebagai berikut:
Pasal 65 ayat (2) huruf b, ”Kepala Daerah mempunyai tugas dan wewenang
menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD”
Pasal 154 ayat (1) huruf a, ”DPRD mempunyai tugas dan wewenang membentuk
Perda yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama”
Pasal 236 ayat (2), ”Perda dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama
Kepala Daerah ”
Pasal 242 ayat (1), “Rancangan Perda Yang telah disetujui bersama oleh DPRD
dan Kepala Daerah disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah untuk
ditetapkan menjadi Perda”
Berdasarkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, persampahan merupakan sub
urusan dari urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang. Urusan
tersebut termasuk urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar sebagaimana
17
ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah, maka wajib diselenggarakan semua daerah. Meskipun
demikian, bukan berarti pemerintah pusat dan Provinsi tidak memiliki kewenangan
dalam penyelenggaraan sub urusan persampahan. Pembagian kewenangan sub urusan
persampahan sebagai berikut:
1. Pemerintah Pusat
a. Penetapan pengembangan sistem pengelolaan persampahan secara
nasional.
b. Pengembangan sistem pengelolaan persampahan lintas Daerah provinsi dan
sistem pengelolaan persampahan untuk kepentingan strategis nasional
2. Daerah Provinsi
Pengembangan sistem dan pengelolaan persampahan regional
3.Daerah Kabupaten/Kota
Pengembangan sistem dan pengelolaan persampahan dalam daerah kabupaten/
kota
Pembagian kewenangan dalam penyelenggaraan sub urusan persampahan tersebut
di atas, memberikan makna penyelenggaraan pengelolaan persampahan tidak hanya
menjadi tugas, wewenang, dan tanggung jawab daerah kabupaten/kota melainkan juga
menjadi tugas, wewenang, dan tanggung jawab daerah provinsi dan pemerintah pusat.
Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat telah menetapkan kebijakan dan strategi nasional melalui Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP).
Secara khusus, negara memberikan tugas dan wewenang kepada Pemerintah (Pusat)
dan Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dalam pengelolaan sampah sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9 UU No. 18 Tahun 2008.
Selengkapnya pembagian tugas dan wewenang tersebut sebagai berikut:
1. Tugas
Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya
pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan
pengelolaan sampah, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas
lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.
18
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Tugas pemerintah dan pemerintahan daerah tersebut. terdiri atas:
a. menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
pengelolaan sampah;
b. melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan, dan
penanganan sampah;
c. memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan,
penanganan, dan pemanfaatan sampah;
d. melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan prasarana
dan sarana pengelolaan sampah;
e. mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil pengolahan
sampah;
f. memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang berkembang pada
masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani sampah; dan
g. melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah, masyarakat, dan dunia
usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah.
2. Wewenang
a. Pemerintah (Pusat)
Dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, pemerintah pusat mempunyai
kewenangan sebagai berikut: (1) menetapkan kebijakan dan strategi
nasional pengelolaan sampah; (2) menetapkan norma, standar, prosedur,
dan kriteria pengelolaan sampah; (3) memfasilitasi dan mengembangkan
kerja sama antardaerah, kemitraan, dan jejaring dalam pengelolaan sampah;
(4) menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja
pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah; (5) menetapkan kebijakan
penyelesaian perselisihan antardaerah dalam pengelolaan sampah.
b. Pemerintah Provinsi
Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan provinsi
mempunyai kewenangan sebagai berikut: (1) menetapkan kebijakan dan
strategi dalam pengelolaan sampah sesuai dengan kebijakan Pemerintah;
(2) memfasilitasi kerja sama antardaerah dalam satu provinsi, kemitraan,
19
dan jejaring dalam pengelolaan sampah; (3) menyelenggarakan koordinasi,
pembinaan, dan pengawasan kinerja kabupaten/kota dalam pengelolaan
sampah; (4) memfasilitasi penyelesaian perselisihan pengelolaan sampah
antarkabupaten/antarkota dalam 1 (satu) provinsi.
c. Pemerintah Kabupaten/Kota
Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan kabupaten/
kota mempunyai kewenangan sebagai berikut: (1) menetapkan kebijakan dan
strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi;
(2) menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota, antara
lain, berupa penyediaan tempat penampungan sampah, alat angkut sampah,
tempat penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/
atau tempat pemrosesan akhir sampah sesuai norma, standar, prosedur,
dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah; (3) melakukan pembinaan
dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak
lain; (4) menetapkan lokasi tempat penampungan sementara (TPS), tempat
pengolahan sampah terpadu (TPST) dan/atau tempat pemrosesan akhir (TPA)
sampah merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota
sesuai dengan peraturan perundang-undangan; (5) melakukan pemantauan
dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun
terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan
terbuka yang telah ditutup; (6) menyusun dan menyelenggarakan sistem
tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya.
Berdasarkan tugas dan wewenang tersebut di atas, pemerintahan kabupaten/kota
mendapatkan wewenang atribusi yaitu pemberian wewenang oleh pembuat undangundang atau pemberian kewenangan kepada Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan oleh
Undang-Undang sebagaimana termuat dalam Pasal 1 UU No. 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan. Tidak ada wewenang tanpa tanggung jawab, karena itu
pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab pemerintahan kabupaten/kota untuk
melaksanakan tugas yang diberikan UU No. 18 Tahun 2008. Tugas dan wewenang
penyelenggaraan pengelolaan sampah diberikan kepada pemerintah kabupaten/
kota, yaitu Kepala Daerah (Bupati/Walikota) dan perangkat daerah selaku unsur
20
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
penyelenggara pemerintahan daerah. Sehubungan itu, pemerintah kabupaten/kota dalam
penyelenggaraan pengelolaan sampah harus ada perangkat daerah untuk melaksanakan
tugas dan wewenang yang diberikan oleh UU No. 18 Tahun 2008.
UU No. 18 Tahun 2008 juga memberikan tanggung jawab pengelolaan sampah kepada
masyarakat dan pelaku usaha sebagaimana diatur dalam pasal berikut ini.
Pasal 12 ayat (1)
Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang
berwawasan lingkungan.
Pasal 13
Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan
khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya wajib menyediakan fasilitas
pemilahan sampah.
21
Pasal 14
Setiap produsen harus mencantumkan label atau tanda berhubungan dengan
pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya.
Pasal 15
Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak
dapat atau sulit terurai oleh proses alam.
Berdasarkan uraian di atas, pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah diperlukan dalam rangka:
(a) kepastian hukum bagi masyarakat mendapatkan pelayanan pengelolaan sampah
yang baik dan berwawasan lingkungan;
(b) ketertiban dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah;
(c) kejelasan tugas, wewenang, dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota
dalam pengelolaan sampah;
(d) kejelasan hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan
sampah.
22
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
23
24
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB 2
TAHAPAN PEMBENTUKAN
PERATURAN DAERAH
Pasal 1 angka 18 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang
Pembentukan Produk Hukum Daerah menyebutkan bahwa Pembentukan Perda
adalah pembuatan peraturan perundang-undangan daerah yang mencakup tahapan
perencanaan, penyusunan, pembahasan, penetapan, pengundangan dan penyebarluasan.
Usulan pembentukan produk hukum daerah (dalam hal ini adalah Peraturan Daerah)
dapat berasal dari dua jalur, yaitu atas usulan eksekutif (Pemerintah Daerah) dan atas
usulan legislatif (DPRD). Proses dalam tiap-tiap tahapan tersebut sebagai berikut:
2.1
PERENCANAAN
Tahapan perencanaan penyusunan peraturan daerah menurut Pasal 10 Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum
Daerah, sebagai berikut: (1) penyusunan Program Pembentukan Perda (PropemPerda);
(2) perencanaan penyusunan Rancangan Perda kumulatif terbuka; (3) perencanaan
penyusunan Rancangan Perda di luar Propemperda.
2.1.1 Penyusunan Program Pembentukan Perda (Propemperda)
Secara umum tahapan penyusunan Propemperda ada 4 (empat) tahap (lihat Gambar 1
dibawah), yaitu:
1. Penyusunan Daftar Rancangan Perda
Pada tahap penyusunan daftar Rancangan Perda, baik eksekutif maupun legislatif
masing-masing dapat menyusun usulan Rancangan Perda yang akan disusun
selama 1 tahun ke depan. Untuk penyusunan Propemperda yang berasal dari
eksekutif, dikoordinasikan oleh pimpinan perangkat daerah yang membidangi
hukum, sedangkan untuk penyusunan Propemperda yang berasal dari DPRD,
25
koordinasinya dilakukan oleh Badan Pembentukan Perda (Bapemperda).
Penyusunan daftar Rancangan Perda tersebut didasarkan pada:
- Perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
- Rencana pembangunan daerah;
- Penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan; dan
- Aspirasi masyarakat daerah.
2. Penyusunan Daftar Urutan Berdasarkan Skala Prioritas
Setelah daftar Rancangan Perda disusun pada nomor 1 diatas, tahap selanjutnya
adalah penyusunan daftar urutan yang ditetapkan berdasarkan skala prioritas.
Penetapan skala prioritas pembentukan Rancangan Perda dilakukan oleh
Bapemperda dan perangkat daerah yang membidangi hukum berdasarkan kriteria:
- Perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
- Rencana pembangunan daerah;
- Penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan; dan
- Aspirasi masyarakat daerah.
3. Penyepakatan Hasil Penyusunan Propemperda
Hasil penyusunan Propemperda antara DPRD dan pemerintah daerah disepakati
menjadi Propemda.
4. Penetapan Propemperda
Propemperda yang telah disepakati bersama kemudian ditetapkan dalam rapat
paripurna DPRD dengan keputusan DPRD.
Penyusunan Daftar
Rancangan Perda
Penyusunan Daftar
Urutan berdasarkan
Skala Prioritas
Penyepakatan Hasil
Penyusunan
Propemperda
Penetapan
Propemperda
Gambar 1. Tahapan Penyusunan Propemperda
26
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
2.1.2 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Kumulatif Terbuka
Rancangan Perda kumulatif terbuka merupakan Rancangan Perda di luar daftar prioritas
pada Propemperda yang dalam keadaan tertentu dapat diajukan penyusunannya. Adapun
yang dapat dimuat dalam daftar kumulatif terbuka adalah Rancangan Perda:
a. akibat putusan Mahkamah Agung; dan
b. APBD
2.1.3 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Di Luar Propemperda
Dalam keadaan tertentu, penyusunan Rancangan Perda di luar daftar Propemperda dapat
dilakukan dengan alasan sebagai berikut:
a. Mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam;
b. Menindaklanjuti kerja sama dengan pihak lain;
c. Mengatasi keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu
Rancangan Perda yang disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPRD yang
khusus menangani bidang pembentukan Perda dan unit yang menangani bidang
hukum pada pemerintah daerah;
d. Akibat pembatalan oleh Menteri Dalam Negeri untuk Perda provinsi dan oleh
gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk Perda kabupaten/kota; dan
e. Perintah dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi setelah
PropemPerda ditetapkan.
2.2
PENYUSUNAN
Tahap penyusunan Rancangan Perda merupakan tahap penyiapan sebelum sebuah
Rancangan Perda dibahas bersama antara DPRD dan pemerintah daerah. Penyusunan
ini dilakukan berdasarkan daftar Rancangan Perda pada PropemPerda dan usulannya
dapat berasal dari eksekutif maupun legislatif. Secara umum, untuk menyusun sebuah
Rancangan Perda, pertama-tama diawali oleh penyusunan naskah akademik. Dari naskah
akademik inilah, suatu Rancangan Perda nantinya akan dirumuskan.
27
2.2.1 Penyusunan Naskah Akademik
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan
Produk Hukum Daerah, naskah akademik merupakan dokumen yang harus disertakan
dalam pengajuan Rancangan Perda dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rancangan
Perda. Naskah akademik paling sedikit memuat pokok pikiran dan materi muatan yang
akan diatur dalam Perda.
Untuk penyusunan Rancangan Perda yang diusulkan oleh pihak eksekutif, naskah
akademik disusun/disiapkan oleh pimpinan perangkat daerah pemrakarsa dengan
mengikutsertakan perangkat daerah yang membidangi masalah hukum (Bagian Hukum
kabupaten/kota). Sedangkan untuk Rancangan Perda yang disulkan oleh legislatif,
penyusunan naskah akademiknya dikoordinasikan oleh Bapemperda.
Dalam melakukan penyusunan
naskah akademik di lingkungan
pemerintah daerah, pemrakarsa
dapat mengikutsertakan instansi
vertikal dari kementerian yang
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan di bidang hukum
dan pihak ketiga yang memiliki
keahlian sesuai dengan Perda yang
akan disusun. Setelah itu, perangkat
daerah yang membidangi hukum
melakukan penyelarasan naskah
akademik
Rancangan
Perda
terhadap sistematika dan materi
muatan. Naskah akademik yang
sudah diselaraskan ini yang
kemudian menjadi pedoman dalam
penyusunan Rancangan Perda.
28
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
2.2.2 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah Daerah
Untuk penyusunan Rancangan Perda di lingkungan pemerintah daerah setelah naskah
akademik disusun dan diselaraskan, secara lebih rinci adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan rancangan peraturan daerah.
Tahapan dalam penyusunan rancangan peraturan daerah adalah sebagai berikut:
- Kepala Daerah memerintahkan perangkat daerah pemrakarsa untuk melakukan
penyusunan Rancangan Perda berdasarkan daftar pada propemperda.
- Kepala Daerah membentuk tim penyusunan Rancangan Perda melalui surat
keputusan (SK) Kepala Daerah. Tim penyusun tersebut terdiri dari seorang
ketua yang ditunjuk langsung oleh perangkat daerah pemrakarsa. Jika ketua tim
yang ditunjuk bukanlah pimpinan perangkat daerah pemrakarsa sendiri, maka
pimpinan perangkat daerah pemrakarsa tersebut tetap bertanggungjawab
terhadap materi muatan dalam Rancangan Perda yang disusun. Keanggotaan
tim penyusun terdiri dari:
• Kepala Daerah;
• Sekretaris Daerah;
• perangkat daerah pemrakarsa;
• perangkat daerah yang membidangi hukum;
• perangkat daerah terkait lainnya; dan
• perancang peraturan perundang-undangan.
- Dalam melaksanakan tugasnya, ketua tim penyusun memberikan laporan
kepada Sekretaris Daerah mengenai perkembangan dan permasalahan dalam
penyusunan Rancangan Perda untuk mendapatkan arahan atau keputusan.
- Rancangan Perda yang telah disusun pada langkah sebelumnya kemudian
diberikan paraf bersama oleh ketua tim dan perangkat daerah pemrakarsa.
- Selanjutnya, ketua tim penyusun menyampaikan hasil Rancangan Perda
yang telah disusun kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah untuk
selanjutnya dilakukan harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi.
29
Penyusunan Penjelasan atau Keterangan
dan/atau Nasakah Akademik
Penyusunan Rancangan Perda
Harmonisasi, Pembulatan, dan Pemantapan Konsepsi
Pemberian Paraf Persetujuan Konsep Akhir
Rancangan Perda
Gambar 2. Alur Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah Daerah
2. Harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi.
Tahapan kegiatan harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi adalah
sebagai berikut:
•
•
•
30
Sekretaris Daerah menugaskan kepada perangkat darah yang membidangi
hukum untuk mengkoordinasikan kegiatan harmonisasi, pembulatan dan
pemantapan konsepsi.
Dalam koordinasi oleh perangkat daerah yang membidangi hukum, rapat/
pembahasan dilakukan untuk harmonisasi, pembulatan dan pemantapan
konsepsi Rancangan Perda.
Rancangan Perda hasil pengharmonisasian, pembulatan dan pemantapan
konsepsi kemudian disampaikan oleh Sekretaris Daerah kepada perangkat
daerah pemrakarsa dan pimpinan perangkat daerah lainnya (yang
tergabung di Tim Penyusun) untuk mendapatkan paraf persetujuan pada
setiap halaman Rancangan Perda.
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
•
•
Sekretaris Daerah menyampaikan Rancangan Perda yang telah diparaf
pada tahap sebelumnya kepada Kepala Daerah untuk mendapatkan paraf
persetujuan sebagai konsep akhir Rancangan Perda.
Sebelum konsep akhir Rancangan Perda disampaikan oleh Kepala Daerah
ke DPRD untuk pembahasan, ketua tim penyusun harus memaparkan
konsep akhir Rancangan Perda tersebut kepada Kepala Daerah.
2.2.3 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan DPRD
Untuk penyusunan Rancangan Perda di lingkungan DPRD, beberapa hal yang diatur
sebagai berikut:
1. Rancangan Perda dapat diajukan oleh anggota DPRD, komisi, gabungan komisi,
atau BapemPerda berdasarkan daftar pada PropemPerda. Rancangan tersebut
disampaikan secara tertulis kepada pimpinan DPRD disertai dengan penjelasan
atau keterangan dan/atau naskah akademik.
2. Sekretariat DPRD memberikan nomor pokok kepada Rancangan Perda yang
disampaikan.
3. Dalam hal Rancangan Perda disertai penjelasan atau keterangan, maka di
dalamnya memuat:
a. Pokok pikiran dan materi muatan yang diatur
b. Daftar nama; dan
c. Tanda tangan pengusul
4. Dalam hal Rancangan Perda disertai naskah akademik, maka naskah akademik
tersebut harus telah terlebih dahulu melalui pengkajian dan penyelarasan, serta
memuat:
a. Latar belakang dan tujuan penyusunan;
b. Sasaran yang ingin diwujudkan;
c. Pokok pikiran, ruang lingkup, atau objek yang akan diatur; dan
d. Jangkauan dan arah pengaturan
5. Pimpinan DPRD menyampaikan Rancangan Perda kepada Bapemperda untuk
dilakukan pengkajian dalam rangka pengharmonisasian, pembulatan, dan
pemantapan konsepsi Rancangan Perda.
31
6. Hasil pengkajian Rancangan Perda kemudian disampaikan oleh Bapemperda
kepada pimpinan DPRD untuk selanjutnya dibahas dalam rapat paripurna DPRD.
Sebelum dilakukan pembahasan di rapat paripurna, pimpinan DPRD harus
menyampaikan hasil pengkajian tersebut kepada anggota DPRD paling lama 7
(tujuh) hari sebelumnya.
7. Mekanisme rapat paripurna DPRD tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pengusul memberikan penjelasan;
b. Fraksi dan anggota DPRD lainnya memberikan pandangan; dan
c. Pengusul memberikan jawaban atas pandangan fraksi dan anggota DPRD
lainnya.
8. Rapat paripurna DPRD tersebut kemudian memutuskan usulan Rancangan Perda.
Putusan yang dihasilkan dapat berupa:
• Persetujuan;
• Persetujuan dengan pengubahan; atau
• Penolakan.
9. Apabila keputusan diatas berupa persetujuan dengan pengubahan, maka
pimpinan DPRD menugaskan komisi, gabungan komisi, Bapemperda atau panitia
khusus untuk melakukan penyempurnaan.
10. Setelah penyempurnaan dilakukan, maka hasilnya disampaikan kembali kepada
pimpinan DPRD.
2.3
PEMBAHASAN
Rancangan Perda yang telah disusun pada tahap penyusunan selanjutnya dibahas oleh
DPRD dan pemerintah daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama. Pembahasan
Rancangan Perda yang berasal dari Kepala Daerah disampaikan melalui surat pengantar
Kepala Daerah kepada pimpinan DPRD. Sedangkan pembahasan Rancangan Perda
yang disusun oleh DPRD disampaikan melalui surat pengantar pimpinan DPRD kepada
Kepala Daerah. Surat pengantar tersebut paling sedikit berisikan latar belakang dan
tujuan dari penyusunan, sasaran yang ingin diwujudkan, dan materi pokok yang diatur
yang menggambarkan keseluruhan substansi Rancangan Perda. Untuk Rancangan Perda
yang disusun berdasarkan naskah akademik, maka pada surat pengantar penyampaian
32
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Rancangan Perda juga disertakan naskah akademik. Apabila dalam satu masa sidang,
DPRD dan Kepala Daerah menyampaikan Rancangan Perda dengan materi yang sama,
maka yang dibahas adalah Rancangan Perda yang berasal dari DPRD dengan menggunakan
Rancangan Perda dari Kepala Daerah sebagai sandingan.
Dalam melakukan pembahasan, Kepala Daerah membentuk tim pembahasan yang
diketuai oleh Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk. Ketua tim bertugas untuk
melaporkan setiap perkembangan dan/atau permasalahan dalam pembahasan yang
dilakukan kepada Kepala Daerah, untuk mendapatkan arahan dan keputusan.
Pembahasan Rancangan Perda antara DPRD dan pemerintah daerah dilakukan melalui 2
(dua) tingkat pembicaraan, yaitu pembicaraan tingkat I dan pembicaraan tingkat II. Urutan
kegiatan pembahasan adalah sebagai berikut:
1. Pembicaraan tingkat I
Untuk Rancangan Perda yang berasal dari eksekutif maka urutan kegiatannya
adalah sebagai berikut:
a. Penjelasan Kepala Daerah dalam rapat paripurna mengenai Rancangan Perda;
b. Pemandangan umum fraksi terhadap Rancangan Perda; dan
c. Tanggapan dan/atau jawaban Kepala Daerah terhadap pemandangan umum
fraksi.
d. Pembahasan dalam rapat komisi, gabungan komisi, atau panitia khusus yang
dilakukan bersama dengan Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk untuk
mewakilinya
Untuk Rancangan Perda berasal dari legislatif maka urutan kegiatannya adalah
sebagai berikut:
a. Penjelasan pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan
BapemPerda, atau pimpinan panitia khusus dalam rapat paripurna mengenai
Rancangan Perda;
b. Pendapat Kepala Daerah terhadap Rancangan Perda; dan
c. Tanggapan dan/atau jawaban fraksi terhadap pendapat Kepala Daerah.
d. Pembahasan dalam rapat komisi, gabungan komisi, atau panitia khusus yang
dilakukan bersama dengan Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk untuk
mewakilinya
33
2. Pembicaraan tingkat II, meliputi:
a. Pengambilan keputusan dalam rapat paripurna yang didahului dengan:
1) penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan komisi/
pimpinan panitia khusus yang berisi pendapat fraksi dan hasil pembahasan;
dan
2) Permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat
paripurna.
b. Pendapat akhir Kepala Daerah.
Rancangan Perda apabila disetujui bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah, selanjutnya
disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan menjadi
Perda. Dalam hal persetujuan tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat,
keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Apabila Rancangan Perda tidak mendapat
persetujuan bersama antara DPRD dan Kepala Daerah, maka Rancangan Perda tersebut
tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPRD masa itu.
Rancangan Perda dapat ditarik kembali sebelum
dibahas bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah.
Penarikan kembali Rancangan Perda oleh Kepala
Daerah, disampaikan dengan surat Kepala Daerah
disertai dengan alasan penarikan. Begitu pula
apabila DPRD ingin melakukan penarikan kembali
Rancangan Perda, maka dilakukan dengan
keputusan pimpinan DPRD disertai juga dengan
alasan penarikan. Rancangan Perda yang sedang
dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan
persetujuan bersama DPRD dan Kepala Daerah.
Penarikan kembali Rancangan Perda hanya dapat
dilakukan dalam rapat paripurna DPRD yang
dihadiri oleh Kepala Daerah. Rancangan Perda
yang ditarik kembali tidak dapat diajukan lagi
pada masa sidang yang sama.
34
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Pembicaraan Tingkat 1
Rancangan perda berasal
dari Eksekutif
Rancangan perda berasal
dari Legislatif
Penjelasan Kepala Daerah
Penjelasan Pimpinan Komisi,
Gabungan Komisi,
Bapemperda atau Panitia
Pemandangan Umum Fraksi
Pendapat Kepala Daerah
Tanggapan Kepala Daerah
Tanggapan Fraksi
Pembahasan bersama dengan
Kepala Daerah atau
Pejabat yang mewakili
Persetujuan Bersama DPRD
dan Kepala Daerah
Pembicaraan Tingkat 2
Penyampaian Laporan Pimpinan Komisi,
Gabungan Komisi, Bapemperda atau
Panitia Khusus
Penyampaian Laporan Pimpinan Komisi,
Gabungan Komisi, Bapemperda atau
Panitia Khusus
Pendapat Akhir Kepala Daerah
Gambar 3. Diagram Alur Pembahasan Rancangan Perda
2.4
PENETAPAN
2.4.1 Pemberian Nomor Register
Setelah ada persetujuan bersama antara DPRD dan Kepala Daerah terkait Rancangan
Perda yang dibahas bersama, tahap selanjutnya adalah pengesahan atau penetapan
Rancangan Perda. Namun demikian, sebelum Rancangan Perda ditetapkan menjadi suatu
Perda, Kepala Daerah kabupaten/kota wajib untuk menyampaikan Rancangan Perda
kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung
35
sejak menerima Rancangan Perda dari pimpinan DPRD untuk mendapatkan nomor
register (noreg) Perda. Setelah itu, noreg Rancangan Perda akan diberikan oleh gubernur
paling lama 7 (tujuh) hari sejak Rancangan Perda tersebut diterima.
2.4.2 Penandatanganan
Rancangan Perda yang telah mendapatkan noreg kemudian disahkan oleh Kepala
Daerah dengan cara membubuhkan tanda tangan pada naskah Rancangan Perda.
Penandatanganan ini harus dilakukan oleh Kepala Daerah dalam jangka waktu maksimal
30 hari terhitung sejak tanggal Rancangan Perda tersebut disetujui bersama oleh DPRD
dan Kepala Daerah. Jika Kepala Daerah tidak menandatangani Rancangan Perda tersebut
sesuai waktu yang ditetapkan, maka Rancangan Perda tersebut otomatis menjadi Perda
dan wajib untuk diundangkan ke dalam lembaran daerah.
Penandatanganan dapat dilakukan oleh pelaksana tugas, pelaksana harian atau pejabat
Kepala Daerah jika Kepala Daerah berhalangan sementara atau tetap. Penandatanganan
tersebut dibuat 4 (empat) rangkap, kemudian naskah aslinya didokumentasikan oleh: (1)
DPRD; (2) Sekretaris Daerah; (3) perangkat daerah yang membidangi hukum; dan (4)
perangkat daerah pemrakarsa.
2.4.3 Penomoran
Penomoran Perda kabupaten/kota dilakukan oleh perangkat daerah yang membidangi
urusan hukum (dalam hal ini kepala bagian hukum). Penomoran untuk Perda menggunakan
nomor bulat.
2.5
PENGUNDANGAN
Pengundangan merupakan pemberitahuan secara formal suatu Perda sehingga
mempunyai daya ikat pada masyarakat. Perda yang telah ditetapkan, diundangkan dalam
lembaran daerah, sedangkan penjelasan Perda dimuat dalam Tambahan Lembaran
36
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Daerah dan ditetapkan bersamaan
dengan pengundangan Perda. Setelah
Perda diundangkan maka secara
hukum Perda tersebut mulai berlaku
dan mempunyai kekuatan mengikat
pada tanggal diundangkan kecuali
ditentukan lain di dalam Perda
tersebut.
Perda diundangkan oleh Sekretaris
Daerah dan disampaikan kepada
gubernur (atau ke Menteri Dalam
Negeri untuk Perda provinsi). Apabila
Sekretaris Daerah berhalangan, maka
pengundangan Perda dilakukan oleh pelaksana tugas atau pelaksana harian Sekretaris
Daerah. Selanjutnya Perda dimuat dalam jaringan dokumentasi dan informasi hukum.
AUTENTIFIKASI
Autentifikasi adalah salinan produk hukum daerah sesuai dengan aslinya. Setiap Perda yang
sudah ditandatangani dan diberikan penomoran selanjutnya harus dilakukan autentifikasi.
Autentifikasi Perda kabupaten/kota dilakukan oleh kepala bagian hukum kabupaten/kota.
2.6
PENYEBARLUASAN
Secara prinsip, penyebarluasan dilakukan semenjak tahapan penyusunan Propemperda,
penyusunan Rancangan Perda, penyusunan naskah akademik dan pembahasan Rancangan
Perda. Penyebarluasan bertujuan untuk dapat memberikan informasi dan memperoleh
masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan mengenai Rancangan Perda yang
disusun.
37
Untuk penyebarluasan pada tahapan Penyusunan Propemperda, pelaksanaannya
dilakukan bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD yang dikoordinasikan oleh
Bapemperda. Penyebarluasan pada tahapan penyusunan naskah akademik dan
penyusunan Rancangan Perda yang berasal dari inisiatif legislatif, dilaksanakan oleh alat
kelengkapan DPRD, sedangkan untuk yang berasal dari inisiatif eksekutif dilaksanakan
oleh Sekretaris Daerah bersama dengan perangkat daerah pemrakarsa.
Bagi Perda yang telah diundangkan maka penyebarluasan dilakukan bersama oleh
pemerintah daerah dan DPRD. Naskah Perda yang disebarluaskan tersebut harus
merupakan salinan naskah Perda yang telah diautentifikasi dan diundangkan dalam
Lembaran Daerah dan Tambahan Lembaran Daerah. Secara khusus, Kepala Daerah
memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan, bagi yang
tidak melakukan, terdapat sanksi secara administratif berupa teguran tertulis.
38
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
39
40
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB 3
3.1
PENYUSUNAN NASKAH
A K A D E M I K
UMUM
Pengertian naskah akademik menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2011, adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian
lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu rancangan undang-undang,
rancangan peraturan daerah provinsi, atau rancangan peraturan daerah kabupaten/kota
sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat. Atas dasar
pengertian tersebut, naskah akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah, adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian
lainnya terhadap masalah persampahan yang dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah mengenai pengaturan persampahan dalam rancangan peraturan daerah sebagai
solusi terhadap permasalahan persampahan dan dasar hukum baik bagi pemerintah
daerah maupun masyarakat.
41
Secara umum naskah akademik Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah memuat
gagasan pengaturan atau materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah yang telah ditinjau secara sistemik-holistik-futuristik dari berbagai aspek ilmu
yang terkait dilengkapi dengan referensi yang memuat urgensi, konsepsi, landasan, atas
hukum dan prinsip-prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma yang akan
dituangkan ke dalam bentuk pasal-pasal dengan mengajukan beberapa alternatif, yang
disajikan dalam bentuk uraian yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmu hukum dan bidang ilmu yang terkait dengan persampahan.
3.2
SISTEMATIKA
Untuk memudahkan dalam penyusunan naskah akademik, negara melalui UU No. 12
Tahun 2011 memberikan pedoman Penyusunan Naskah Akademik dengan sistematika
sebagai berikut:
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN TERKAIT
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP
MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG, PERATURAN
DAERAH PROVINSI, ATAU PERATURAN DAERAH
KABUPATEN/KOTA
BAB VI
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Uraian singkat setiap bagian diatas yang telah disesuaikan untuk naskah akademik
Rancangan Perda tentang pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:
42
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB I
PENDAHULUAN
Memuat latar belakang, sasaran yang akan diwujudkan, identifikasi
masalah, tujuan dan kegunaan, serta metode yang digunakan.
A. Latar Belakang
Latar belakang memuat pemikiran dan alasan-alasan perlunya
penyusunan naskah akademik sebagai acuan pembentukan Rancangan
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Latar belakang
tersebut menjelaskan mengapa pembentukan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Pengelolaan Sampah memerlukan suatu kajian yang
mendalam dan komprehensif mengenai teori atau pemikiran ilmiah
yang berkaitan dengan materi muatan Rancangan Peraturan Daerah
tentang Pengelolaan Sampah. Pemikiran ilmiah tersebut mengarah
kepada penyusunan argumentasi filosofis, sosiologis serta yuridis
guna mendukung perlu atau tidak perlunya penyusunan Rancangan
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah memuat rumusan mengenai masalah apa yang
akan ditemukan dan diuraikan dalam naskah akademik tersebut. Pada
dasarnya identifikasi masalah dalam suatu naskah akademik mencakup
4 (empat) pokok masalah, yaitu sebagai berikut:
1. Permasalahan apa yang dihadapi oleh pemerintah daerah
dan masyarakat dalam pengelolaan sampah serta bagaimana
permasalahan tersebut dapat diatasi?
Permasalahan tersebut antara lain:
a. Bagaimana penyelenggaraan pengelolaan sampah dilakukan
saat ini?
b. Apakah sudah ada regulasi yang khusus mengatur tentang
pengelolaan sampah?
c. Apakah prasarana dan sarana pengelolaan sampah yang ada
sudah tersedia dan terselenggara sesuai peraturan perundangundangan?
43
d. Apakah pengelola prasarana dan sarana sudah tersedia dan
sesuai peraturan perundang-undangan?
e. Apakah keuangan daerah dan ekonomi masyarakat mampu
membiayai penyelenggaraan pengelolaan sampah?
f. Bagaimana peran masyarakat dalam penyelenggaraan
pengelolaan sampah?
2. Mengapa perlu Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah sebagai dasar pemecahan masalah tersebut, yang berarti
membenarkan pelibatan daerah dalam penyelesaian masalah
sampah tersebut?
3. Apa yang menjadi pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis,
yuridis pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah?
4. Apa sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan,
jangkauan, dan arah pengaturan dalam Rancangan Peraturan
Daerah tentang Pengelolaan Sampah?
C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di
atas, tujuan penyusunan naskah akademik dirumuskan sebagai berikut:
1. Merumuskan permasalahan yang dihadapi pemerintah daerah,
masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah, serta
cara-cara mengatasi permasalahan tersebut.
2. Merumuskan permasalahan hukum yang dihadapi sebagai alasan
pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah sebagai dasar hukum penyelesaian atau solusi
permasalahan dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah.
3. Merumuskan pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis,
dan yuridis pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah.
44
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
4. Merumuskan sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup
pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan dalam Rancangan
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
Kegunaan penyusunan naskah akademik yaitu sebagai acuan atau
referensi dalam penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
D. Metode
Penyusunan naskah akademik pada dasarnya merupakan suatu
kegiatan penelitian, sehingga digunakan metode penyusunan naskah
akademik yang berbasiskan metode penelitian hukum atau penelitian
lain. Penelitian hukum dapat dilakukan melalui metode yuridis normatif
dan metode yuridis empiris (dikenal juga dengan penelitian sosiolegal).
Metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah
(terutama) data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan
atau dokumen hukum lainnya, serta hasil penelitian, hasil pengkajian,
dan referensi lainnya. Metode yuridis normatif dapat dilengkapi
dengan wawancara, diskusi (focus group discussion), dan rapat dengar
pendapat.
Metode yuridis empiris atau sosiolegal adalah penelitian yang diawali
dengan penelitian normatif atau penelaahan terhadap peraturan
perundang-undangan (normatif ) yang dilanjutkan dengan observasi
yang mendalam serta penyebarluasan kuesioner untuk mendapatkan
data faktor nonhukum yang terkait dan yang berpengaruh terhadap
peraturan perudang-undangan yang diteliti.
45
Pada naskah akademik Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah,
sub bab Metode sebaiknya memuat:
1. Metodologi
Metodologi adalah seperangkat langkah dan cara sistematis yang
dikembangkan dan dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan dan
target/hasil keluaran kegiatan. Metodologi menggambarkan alur
pikir penyusunan naskah akademik yang menunjukkan adanya
hubungan antara rumusan masalah, pengumpulan data, analisis
data dan sasaran akhir tersusunnya Rancangan Perda tentang
Pengelolaan Sampah di daerah kajian.
2. Jenis Penelitian yang Digunakan
Jenis penelitian yang akan digunakan perlu disebutkan dengan
pasti, apakah akan menggunakan metode yuridis normatif atau
metode yuridis empiris.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penyusunan Naskah Akademik
Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah dilakukan dengan
pendekatan-pendekatan sebagai berikut :
a. Studi literatur;
b. Survei lapangan; dan/atau
c. Observasi.
Studi literatur dilakukan terhadap referensi-referensi bahan hukum,
teknis, kelembagaan dan lain-lain.
Studi literatur referensi bahan hukum, diambil dari bahan hukum
primer, sekunder, dan tersier. Bahan hukum primer, terdiri dari
peraturan perundang-undangan yang terkait langsung dengan
masalah pembentukan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah, di tingkat pusat dan daerah. Bahan hukum sekunder,
46
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
berupa literatur-literatur ilmu hukum, hasil penelitian, literatur
dan dokumen resmi lainnya yang terkait dengan masalah yang
diteliti. Bahan hukum tersier, ialah kamus hukum, kamus bahasa
dan kamus teknik yang dapat memperjelas istilah-istilah yang
digunakan dalam penulisan naskah akademik ini.
Studi literatur referensi bahan teknis, kelembagaan dan lain-lain,
antara lain :
a. Teori-teori tentang pengelolaan sampah.
b. Dokumen perencanaan (Master Plan, Strategi Sanitasi
Kabupaten/Kota, Buku Putih Sanitasi, Memorandum Program
Sanitasi, Studi EHRA, dll).
c. Teori –teori tentang kelembagaan.
Metoda Survei dan Observasi adalah berbeda dilihat dari interaksi
yang dilakukan peneliti dengan obyek yang diteliti. Metoda Survei
ialah metoda pengumpulan data penelitian yang berdasarkan pada
komunikasi antara peneliti dengan responden (obyek yang diteliti).
Data yang dikumpulkan berupa opini, sikap, pengalaman, atau
karakteristik obyek yang diteliti secara individual atau kelompok.
Metoda Observasi yakni proses pencatatan pola perilaku orang,
obyek benda, atau kejadian sistematik tanpa adanya pertanyaan
atau komunikasi antara peneliti dengan obyek penelitian4.
Dalam Penyusunan Naskah Akademik, Observasi lapangan
dilakukan terhadap objek penelitian yang dianggap penting/terkait
atau wilayah yang dianggap memiliki resiko sampah berdasarkan
studi EHRA/persepsi dari perangkat daerah terkait, meliputi kondisi
eksisting pengelolaan sampah, perilaku dan peran masyarakat
dalam pengelolaan sampah, kelembagaan, kondisi ekonomi, sosial
dan budaya masyarakat daerah kajian.
4
Indriantoro, N., & Supomo, B. (1999). Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE
47
4. Teknik Analisis Data
Teknik Analisis Data dilakukan dengan metode deskriptif yuridis
dan kualitatif, melalui proses interpretasi, penalaran konseptual
dan kontekstualitasnya dengan masalah yang dikaji.
Hasil survei lapangan dan observasi disandingkan dengan hasil
desk study, teori, peraturan dan kebijakan-kebijakan yang kemudian
dirumuskan untuk menjawab segala permasalahan yang dihadapi
dalam hal pengelolaan sampah dalam kehidupan masyarakat di
daerah kajian yang akhirnya dapat disimpulkan untuk menjawab
segala permasalahan dengan sasaran akhir adalah muatan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang
akan dibentuk.
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
Memuat uraian mengenai materi yang bersifat teoretis, asas, praktik,
perkembangan pemikiran, serta implikasi sosial, politik, dan ekonomi,
keuangan daerah dari pengaturan dalam suatu Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah. Bab ini dapat diuraikan dalam beberapa sub bab
berikut:
A. Kajian Teoritis
Kajian teoritis terdiri dari teori-teori yang mendukung dan dapat
menjadi pisau analisis dalam evaluasi dan analisis permasalahan yang
ada. Teori-teori ini antara lain:
1. Teori-teori terkait aspek hukum
Teori-teori hukum sekurang-kurangnya tentang:
• Kedudukan peraturan daerah dalam hierarkhi peraturan
perundang-undangan;
• Fungsi peraturan daerah;
48
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
•
•
Asas-asas hukum kaitannya dalam evaluasi dan analisis
peraturan perundang-undangan (asas hierarkhi perundangundangan, Lex specialis derogate legi generalis, dan lex posteriori
derogate legi apriori);
Kewenangan pembentukan peraturan perundang-undangan.
2. Teori-teori terkait pengelolaan sampah, antara lain:
• Pengertian, jenis, komposisi, karakteristik, timbulan, sumber
dan klasifikasi sampah;
• Dampak dari sampah;
• Peraturan dan standar bidang persampahan;
• Prinsip pengelolaan sampah;
• Aspek pengelolaan sampah (teknis, kelembagaan, pembiayaan,
peran serta masyarakat, dll).
B. Kajian terhadap asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma.
Analisis terhadap penentuan asas-asas ini juga memperhatikan
berbagai aspek bidang kehidupan terkait dengan peraturan perundangundangan yang akan dibuat, yang berasal dari hasil penelitian.
Asas/prinsip yang terkait dengan pembentukan Perda adalah:
1. Prinsip-prinsip dasar dalam penyusunan Perda;
2. Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan;
3. Asas-asas materi muatan peraturan perundang-undangan.
C. Kajian terhadap praktik penyelenggaraan pengelolaan sampah saat ini
dan akan datang serta permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah
daerah dan masyarakat.
Sub bab ini menguraikan dan menggambarkan hasil survei lapangan
dan observasi tentang praktik penyelenggaraan, kondisi yang ada
serta permasalahan yang dihadapi masyarakat daerah kajian, terkait
penyelenggaraan pengelolaan sampah.
49
Hasil survei lapangan, observasi, kondisi dan permasalahaan yang
diuraikan dalam sub bab ini, sekurang-kurangnya memuat kajian
tentang hal-hal berikut ini :
1. Kondisi geografis, kependudukan, ekonomi, sosial budaya dan
kearifan lokal;
2. Identifikasi peraturan perundang-undangan terkait di daerah kajian
(perda dan perkada);
3. Kebijakan dan strategi pengelolaan sampah;
4. Kondisi eksisting pengelolaan sampah yang ada;
5. Jumlah dan kondisi sarana dan prasarana yang tersedia (TPS, TPS
3R, TPST, TPA, dll);
6. Lembaga pengelola yang ada (pemerintah dan masyarakat);
7. Pembiayaan/data-data keuangan (tarif, retribusi, APBD, dll)
D. Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur
dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah
terhadap aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah dan kehidupan
masyarakat dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan daerah
dan masyarakat.
Dalam sub bab ini sekurang-kurangnya menguraikan hasil kajian dan
analisis tentang bagaimana implikasi terhadap kehidupan masyarakat
dan beban keuangan daerah ketika kondisi ideal menurut teori-teori
dan asas-asas pembentukan norma diterapkan untuk mengatasi
permasalahan yang ada pada sub bab sebelumnya.
Hasil kajian dan analisis yang diuraikan dalam sub bab ini sekurangkurangnya mengenai:
1. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan
daerah dalam pemenuhan prasarana dan sarana persampahan
sesuai kondisi ideal menurut teori.
50
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
2. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan
daerah dalam pemenuhan lembaga pengelola prasarana dan
sarana persampahan sesuai kondisi ideal menurut teori dan
kebutuhan.
3. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan
daerah dalam pemenuhan pengaturan pelaksanaan (perkada) dari
perda yang diterapkan.
4. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan
daerah dalam pemenuhan wadah pelibatan peran serta masyarakat.
5. bagaimana agar sistem baru yang akan diterapkan terhadap
kearifan lokal daerah kajian yang berkembang di masyarakat yang
perlu diperhitungkan atau dijaga dan dihormati, agar sistem baru
yang akan diterapkan bisa sejalan dengan hal ini.
BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TERKAIT
Memuat hasil kajian terhadap peraturan perundang-undangan terkait yang
memuat kondisi hukum yang ada, keterkaitan Rancangan Peraturan Daerah
tentang Pengelolaan Sampah dengan peraturan perundang-undangan
lain, harmonisasi secara vertikal dan horizontal, serta status dari peraturan
perundang-undangan yang ada, termasuk peraturan perundang-undangan
yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta peraturan perundangundangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
Kajian tersebut diatas dimaksudkan untuk mengetahui kondisi hukum
atau peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi
atau materi yang akan diatur. Dalam kajian ini akan diketahui posisi dari
rancangan perda tentang pengelolaan sampah yang sedang disusun. Kajian
ini dapat menggambarkan tingkat sinkronisasi, harmonisasi peraturan
perundang-undangan yang ada, serta posisi rancangan perda untuk
51
menghindari terjadinya tumpang tindih pengaturan. Hasil dari penjelasan
atau uraian ini menjadi bahan bagi penyusunan landasan filosofis dan
yuridis dari pembentukan rancangan perda. Proses evaluasi dan analisis
peraturan perundang-undangan yang terkait dilakukan dengan tahapantahapan sebagai berikut:
1. Inventarisasi dan identifikasi peraturan perundangan-undangan yang
berkaitan dengan pengelolaan sampah, baik secara vertikal maupun
horisontal.
2. Inventarisasi perintah/amanat (materi muatan) yang perlu diatur
dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, yang terkait
pengelolaan sampah.
3. Harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundang-undangan
yang terkait objek pengaturan dan lainnya, baik secara horisontal
maupun vertikal (misalnya tentang penyelenggaraan pemerintahan,
ketataruangan, bangunan gedung, keuangan daerah, kelembagaan,
bentuk pelibatan masyarakat) untuk menghindari tumpang tindih dan/
atau pertentangan pengaturan.
Hasil kajian tersebut secara garis besar akan menjadi kelanjutan dari isi
pada Bab IV (terutama pada landasan yuridis) dan akan menjadi acuan
dalam menentukan materi muatan yang akan diatur dalam Rancangan
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan
pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana
kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari
Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
52
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, landasan filosofis dibentuknya
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, memuat
harapan atau keinginan Pemerintah Daerah dan masyarakat baik saat
ini maupun akan datang.
2. Landasan Sosiologis
Landasan sosiologis merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat dalam berbagai aspek antara lain aspek kesehatan
dan lingkungan hidup. Landasan sosiologis tersebut sesungguhnya
menyangkut fakta empiris mengenai perkembangan masalah
persampahan saat ini dan kebutuhan atau keinginan masyarakat dan
Pemerintah Daerah di masa mendatang.
3. Landasan Yuridis
Landasan yuridis merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan
persampahan atau mengisi kekosongan hukum dengan
mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan diubah atau
yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan
masyarakat.
Landasan yuridis menyangkut persoalan hukum yang berkaitan dengan
substansi atau materi yang diatur mengenai pengelolaan sampah
sehingga perlu dibentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah. Beberapa persoalan hukum itu, antara lain, peraturan yang
sudah ketinggalan, peraturan yang tidak harmonis atau tumpang
tindih, peraturan sudah ada tetapi tidak memadai, atau peraturannya
memang sama sekali belum ada.
53
BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI
MUATAN PERATURAN DAERAH
Naskah Akademik pada akhirnya berfungsi mengarahkan ruang lingkup
materi muatan yang akan diatur dan subjek hukum yang akan dijangkau
dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Dalam
Bab ini, sebelum menguraikan ruang lingkup materi muatan, dirumuskan
sasaran yang akan diwujudkan, arah dan jangkauan pengaturan. Materi
didasarkan pada ulasan yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya.
Selanjutnya mengenai ruang lingkup materi muatan pada dasarnya
mencakup:
A. ketentuan umum memuat rumusan akademik mengenai pengertian
istilah, dan frasa;
B. materi yang akan diatur;
C. ketentuan sanksi; dan
D. ketentuan peralihan.
Jangkauan pengaturan terkait dengan subyek hukum yang akan diatur
dalam sebuah Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah adalah:
1. Pemerintah Daerah;
2. Lembaga pengelola (Operator);
3. Pelaku usaha;
4. Pengelola kawasan;
5. Masyarakat;
6. Penyidik;
7. Penegak hukum; dan
8. Subyek hukum lainnya bila ada sesuai dengan kebutuhan daerah kajian
masing-masing
54
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan sampah
dapat memuat:
a. Tujuan dan sasaran;
b. Tugas, wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah;
c. Hak dan kewajiban;
d. Perizinan;
e. Penyelenggaraan pengelolaan sampah (perencanaan, pelaksanaan
pengelolaan sampah, prasarana dan sarana pengelolaan sampah);
f. Pembiayaan;
g. Kompensasi;
h. Peran masyarakat;
i. Kelembagaan;
j. Kerjasama dan kemitraan;
k. Pembinaan dan pengawasan;
l. Insentif dan disinsentif;
m. Larangan;
n. Retribusi;
o. Sistem informasi;
p. Ketentuan sanksi; dan
q. Ketentuan peralihan.
BAB VI
PENUTUP
Bab penutup terdiri atas sub bab simpulan dan saran.
A. Simpulan
Simpulan memuat rangkuman pokok pikiran yang berkaitan dengan
praktik penyelenggaraan, pokok elaborasi teori, dan asas yang telah
diuraikan dalam bab sebelumnya.
B. Saran
Saran memuat antara lain:
1. Perlunya pemilahan substansi Naskah Akademik dalam suatu
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah atau
peraturan dibawahnya berupa Peraturan Bupati/Walikota.
55
2. Rekomendasi skala prioritas penyusunan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Pengelolaan Sampah dalam Program Pembentukan
Peraturan Daerah (Program Legislasi Daerah).
3. Kegiatan lain yang diperlukan untuk mendukung penyempurnaan
penyusunan Naskah Akademik lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka memuat buku, peraturan perundang-undangan yang
menjadi bahan penyusunan Naskah Akademik.
LAMPIRAN
KONSEP RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
3.3
TAHAPAN PENYUSUNAN
Mekanisme penyusunan naskah akademik sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Peraturan Daerah, adalah sebagai berikut:
1. Pemrakarsa menyiapkan/menyusun naskah akademik. Dalam menyusun naskah
akademik ini, pemrakarsa mengikutsertakan perangkat daerah yang membidangi
hukum (bagian hukum).
2. Naskah akademik yang telah disusun oleh pemrakarsa kemudian disampaikan
kepada perangkat daerah yang membidangi hukum untuk dilakukan penyelarasan.
3. Penyelarasan dilakukan oleh perangkat daerah yang membidangi hukum
dan diselenggarakan dalam bentuk rapat penyelarasan yang mengundang
(mengikutsertakan) para pemangku kepentingan.
4. Perangkat daerah yang membidangi hukum menyampaikan naskah akademik
hasil penyelarasan kepada Sekretaris Daerah.
56
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Sekretaris Daerah kemudian menyampaikan kembali naskah akademik hasil penyelarasan
kepada perangkat daerah (pemrakarsa) disertai dengan penjelasan hasil penyelarasan.
(Alur penyusunan naskah akademik seperti pada Gambar dibawah)
Penyusunan Konsep
Awal NA
Rapat Penyelarasan
NA
Penyampaian
NA Hasil
Penyelarasan
•SKPD Pemrakarsa menyusun
konsep awal NA dengan
melibatkan Bagian Hukum
•Konsep awal NA kemudian
disampaikan kepada Bagian
Hukum
Bagian Hukum
menyelenggarakan rapat
penyelarasan dengan para
pemangku kepentingan
NA hasil penyelarasan
disampaikan kepada
perangkat daerah
(pemrakarsa) melalui
Sekretaris Daerah disertai
dengan penjelasan hasil
penyelarasan
Gambar 4. Alur Penyusunan Naskah Akademik di Lingkungan Pemerintah Daerah
57
58
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB 4
4.1
PENYUSUNAN RANCANGAN
PERDA PENGELOLAAN SAMPAH
TEKNIK PENYUSUNAN
4.1.1 Judul Rancangan Peraturan Daerah
UU No. 12 Tahun 2011 menguraikan bahwa Judul Rancangan Peraturan Daerah memuat
keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama
Rancangan Peraturan Daerah. Nama Rancangan Peraturan Daerah dibuat secara singkat
dengan hanya menggunakan 1 (satu) kata atau frasa tetapi secara esensial maknanya
telah dan mencerminkan isi Rancangan Peraturan Daerah.
Pemilihan nama Rancangan Peraturan Daerah untuk urusan persampahan sangat
bergantung kepada materi muatan yang akan diatur di dalamnya. Isi/muatan yang akan
diatur dalam Rancangan Peraturan Daerah mengenai persampahan merupakan delegasi
kewenangan dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang berkaitan
dengan urusan persampahan, dan muatan lainnya sesuai kebutuhan daerah dalam rangka
melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan sesuai kewenangannya. Artinya dalam
menetapkan judul Rancangan Peraturan Daerah ada batasan-batasan, yaitu:
1. cerminan isi yang akan diatur; dan
2. kewenangan daerah kabupaten/kota.
UU No. 18 Tahun 2008 secara tegas membatasi kewenangan daerah dalam mengatur
isi/muatan Rancangan Peraturan Daerah sub urusan persampahan hanya pada jenis
sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, bukan pada jenis
sampah spesifik. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (1) dan (2) yaitu
“Pengelolaan sampah spesifik adalah tanggung jawab Pemerintah” dan “Ketentuan
59
lebih lanjut mengenai pengelolaan sampah spesifik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan peraturan pemerintah”. Selain itu, Pasal 2 ayat (5) juga menyatakan
tentang peranan Pemerintah Pusat untuk mengatur sampah spesifik jenis lainnya melalui
peraturan menteri di bidang lingkungan hidup.
Kewenangan daerah kabupaten/kota untuk sub urusan persampahan menurut UU No. 23
Tahun 2014 adalah Pengembangan Sistem dan Pengelolaan Persampahan dalam Daerah
kabupaten/ kota. Hal ini berarti Daerah Kabupaten/Kota dalam rangka menyelenggarakan
urusan pemerintahan sub urusan persampahan diberi kewenangan untuk mengatur:
a. Pengembangan Sistem; dan
b. Pengelolaan Persampahan.
Jelas dari batasan isi dan kewenangan sebagaimana telah diuraikan diatas, nama/judul
Rancangan Peraturan Daerah dalam rangka menyelenggarakan tugas pembantuan sub
urusan persampahan adalah “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis
Sampah Rumah Tangga”.
Adapun ketika daerah ingin memberikan judul “Pengelolaan Sampah” maka pada ruang
lingkup harus membatasi bahwa sampah yang diatur dengan Rancangan Perda tersebut
terbatas pada Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
4.1.2 Pembukaan
Pembukaan Peraturan Daerah menurut ketentuan dalam UU No. 12 Tahun 2011, terdiri
atas:
a. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Pada pembukaan tiap jenis Rancangan Peraturan Daerah dicantumkan Frasa
Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital
yang diletakkan di tengah marjin.
60
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
b. Jabatan pembentuk Rancangan Peraturan Daerah
Jabatan pembentuk Rancangan Peraturan Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf
kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma.
Contoh jabatan pembentuk Peraturan Daerah Kabupaten:
BUPATI BANGKA TENGAH,
Contoh jabatan pembentuk Peraturan Daerah Kota:
WALIKOTA TANJUNGPINANG,
c. Konsiderans Menimbang
Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok pikiran yang menjadi
pertimbangan dan alasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah. Pokok pikiran
pada konsiderans Rancangan Peraturan Daerah menurut UU No. 12 Tahun 2011,
memuat unsur filosofis, sosiologis, dan yuridis yang menjadi pertimbangan dan
alasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah yang penulisannya ditempatkan
secara berurutan dari filosofis, sosiologis, dan yuridis, yang memuat sebagai berikut:
1. Unsur filosofis menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah dibentuk dengan mempertimbangkan pandangan
hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta
falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Unsur sosiologis menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah
tentang Pengelolaan Sampah dibentuk untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat di berbagai aspek dalam hal pengelolaan sampah.
3. Unsur yuridis menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau
61
mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah
ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian
hukum dan rasa keadilan masyarakat.
Contoh Konsiderans Menimbang Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah yang memuat landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis:
Menimbang :
a. bahwa lingkungan hidup merupakan ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa sebagai amanat yang harus dijaga
dan dilestarikan dalam rangka mewujudkan cita-cita
bangsa Indonesia untuk melindungi segenap rakyat
dan seluruh tumpah darah Indonesia demi mencapai
cita-cita bangsa Indonesia yaitu memajukan
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan Kabupaten/
Kota ………. yang sehat dan bersih dari sampah
yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap
kesehatan masyarakat dan lingkungan, maka perlu
dilakukan pengelolaan sampah secara komprehensif
dan terpadu dari hulu ke hilir;
c. bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 47
ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah;
Muatan Kondiderans Menimbang Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah diuraikan
secara singkat baik secara filosofis dan sosiologis maupun yuridis dalam Penjelasan Umum.
62
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
d. Dasar Hukum
Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. Dasar hukum memuat:
a. dasar kewenangan Pemerintah Daerah membentuk Peraturan Daerah;
b. peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
Dasar hukum kewenangan Pemerintah Daerah membentuk Peraturan Daerah
adalah Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014.
Dasar hukum peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah adalah:
a. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Penulisan Undang–Undang dan Peraturan Pemerintah, dalam dasar hukum
dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda
baca kurung.
e. Diktum.
Diktum terdiri atas:
a. kata Memutuskan;
b. kata Menetapkan; dan
c. jenis dan nama Peraturan Perundang-undangan.
Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku
kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tengah marjin.
63
Contoh:
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH JAWA BARAT
dan
GUBERNUR JAWA BARAT
MEMUTUSKAN:
Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang
disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Huruf
awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan
tanda baca titik dua.
Jenis dan nama yang tercantum dalam judul Peraturan Daerah
dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan tanpa frasa Kabupaten atau
Kota, serta ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan
tanda baca titik.
Contoh:
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
SAMPAH.
PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN
4.1.3 Batang Tubuh Rancangan Peraturan Daerah
Batang tubuh Peraturan Daerah memuat semua materi muatan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah yang dirumuskan dalam pasal atau beberapa pasal. Pada umumnya
materi muatan dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam:
64
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
1. Ketentuan Umum
Menurut UU No. 12 Tahun 2011, bahwa Ketentuan umum diletakkan dalam bab
satu dan dapat memuat lebih dari satu pasal. Ketentuan umum berisi:
a. batasan pengertian atau definisi;
b. singkatan atau akronim yang dituangkan dalam batasan pengertian atau
definisi; dan/atau
c. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal atau beberapa pasal
berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan
tujuan tanpa dirumuskan tersendiri dalam pasal atau bab.
Batasan pengertian atau definisi yang termuat dalam Ketentuan Umum menurut
UU No. 12 Tahun 2011, sebagai berikut:
a. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi, singkatan
atau akronim lebih dari satu, maka masing-masing uraiannya diberi nomor
urut dengan angka Arab dan diawali dengan huruf kapital serta diakhiri
dengan tanda baca titik.
b. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau
istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal atau beberapa pasal
selanjutnya.
c. Apabila rumusan definisi dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Presiden, atau Peraturan Menteri dirumuskan kembali dalam
Peraturan Daerah, rumusan definisi tersebut harus sama dengan rumusan
definisi dengan peraturan perundang-undangan yang telah berlaku tersebut.
d. Rumusan batasan pengertian dari Peraturan Daerah dapat berbeda dengan
rumusan dalam Peraturan Daerah yang ada karena disesuaikan dengan
kebutuhan terkait dengan materi muatan yang akan diatur.
e. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali, namun kata atau istilah
itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab, bagian atau paragraf tertentu,
kata atau istilah itu diberi definisi.
65
f.
Jika suatu batasan pengertian atau definisi perlu dikutip kembali di dalam
ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan, maka rumusan batasan
pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan
rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan
lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut.
g. Karena batasan pengertian atau definisi, singkatan, atau akronim berfungsi
untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian
atau definisi, singkatan, atau akronim tidak perlu diberi penjelasan, dan karena
itu harus dirumuskan dengan lengkap dan jelas sehingga tidak menimbulkan
pengertian ganda.
h. Penulisan huruf awal tiap kata atau istilah yang sudah didefinisikan atau diberi
batasan pengertian dalam ketentuan umum ditulis dengan huruf kapital baik
digunakan dalam norma yang diatur, penjelasan maupun dalam lampiran.
i. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti
ketentuan sebagai berikut:
1. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih
dahulu dari yang berlingkup khusus;
2. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang
diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu; dan
3. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya
diletakkan berdekatan secara berurutan.
2. Materi Pokok yang Diatur
Materi muatan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam
rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung
kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.
66
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Materi pokok yang perlu diatur dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan
Sampah berdasarkan amanah dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 dan
Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012, adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
Asas, Tujuan dan Ruang Lingkup;
Tugas dan Wewenang Pemerintah Daerah;
Hak dan Kewajiban;
Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah;
Perizinan
Pembiayaan dan Kompensasi
Kerjasama dan Kemitraan;
Peran Masyarakat;
Lembaga Pengelola;
Pembinaan dan Pengawasan; dan
Sanksi administratif.
Materi pokok selain yang disebutkan diatas, dapat ditambahkan sesuai dengan
kebutuhan daerah dalam rangka menampung kondisi khusus daerah. Analisis
kebutuhan akan materi pokok tersebut diuraikan dalam Naskah Akademik
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
3. Ketentuan Pidana
Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau
norma perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang
memuat norma larangan Dalam merumuskan Ketentuan Pidana, perlu dihindari,
kualifikasi pidana yang sudah diatur dalam Undang-Undang.
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
Ketentuan Peralihan memuat penyesuaian pengaturan tindakan hukum atau
67
hubungan hukum yang sudah ada berdasarkan Peraturan Daerah yang lama (bila
ada) terhadap Peraturan Daerah yang baru, dengan bertujuan untuk: (a) menghindari
terjadinya kekosongan hukum; (b) menjamin kepastian hukum; (c) memberikan
perlindungan hukum bagi pihak yang terkena dampak perubahan ketentuan yang
termuat dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah; (d) mengatur halhal yang bersifat transisional atau bersifat sementara.
5. Ketentuan Penutup
Ketentuan Penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Jika tidak diadakan
pengelompokan bab, Ketentuan Penutup ditempatkan dalam pasal atau beberapa
pasal terakhir. Pada umumnya Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai:
(a) penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Peraturan Daerah;
(b) nama singkat Peraturan Daerah (bila diperlukan); (c) status Peraturan Daerah
yang sudah ada; (d) saat mulai berlaku Peraturan Daerah.
4.1.4 Penutup
Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Daerah yang memuat: (a) rumusan perintah
pengundangan dan penempatan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah Kabupaten/
Kota, Berita Daerah Kabupaten/Kota; (b) penandatanganan pengesahan atau penetapan
Peraturan Daerah; (c) pengundangan atau Penetapan Peraturan Daerah; (d) akhir bagian
penutup.
Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Daerah dalam Lembaran
Daerah atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut:
Contoh:
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bangka Tengah.
68
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
4.1.5 Penjelasan
Menurut UU No. 12 Tahun 2011, bahwa setiap Undang-Undang, Peraturan Daerah
Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota diberi penjelasan. Penjelasan berfungsi
sebagai tafsir resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu
dalam batang tubuh. Oleh karena itu, penjelasan hanya memuat uraian terhadap kata,
frasa, kalimat atau padanan kata/istilah asing dalam norma yang dapat disertai dengan
contoh. Penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak
boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dimaksud.
Ketentuan mengenai penjelasan menurut UU No. 12 Tahun 2011, sebagai berikut:
a. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat
peraturan lebih lanjut dan tidak boleh mencantumkan rumusan yang berisi
norma.
b. Penjelasan tidak menggunakan rumusan yang isinya memuat perubahan
terselubung terhadap ketentuan Peraturan Daerah.
Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Daerah yang diawali dengan frasa
penjelasan atas yang ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH
NOMOR … TAHUN …
TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH
Penjelasan Peraturan Daerah memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal.
Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi
dan ditulis dengan huruf kapital.
69
Contoh:
I. UMUM
II. PASAL DEMI PASAL
Rumusan penjelasan pasal demi pasal memperhatikan hal sebagai berikut:
a. tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh;
b. tidak memperluas, mempersempit atau menambah pengertian norma yang ada
dalam batang tubuh;
c. tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh;
d. tidak mengulangi uraian kata, istilah, frasa, atau pengertian yang telah dimuat di
dalam ketentuan umum; dan/atau
e. tidak memuat rumusan pendelegasian
Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah,
tidak perlu diberikan penjelasan.
4.2
MATERI MUATAN
Materi muatan suatu peraturan perundang-undangan sebagaimana tercantum dalam
Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 adalah materi yang dimuat
dalam peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi dan hirarki peraturan
perundang-undangan.
Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 menyatakan bahwa “Materi
muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan asas:
a. Pengayoman
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan
perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat.
70
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
b. Kemanusiaan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan
perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat
setiap warga Negara dan penduduk Indonesia secara proporsional.
c. Kebangsaan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan
sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistic (kebhinnekaan) dengan tetap
menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
d. Kekeluargaan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan
musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.
e. Kenusantaraan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan
kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundangundangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional
yang berdasarkan Pancasila.
f. Bhineka Tunggal Ika
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan
keragaman penduduk, agama, suku, dan golongan, kondisi khusus daerah, dan
budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
g. Keadilan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan
keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali.
h. Kesamaan Kedudukan dalam Hukum dan Pemerintahan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal
yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain: agama, suku,
ras, golongan, gender, atau status sosial.
71
i.
j.
Ketertiban dan Kepastian Hukum
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus menimbulkan
ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum.
Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan
Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan
keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan
masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara.
Materi muatan Peraturan Daerah telah diatur dengan jelas dalam Pasal 14 Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2011, yang berbunyi sebagai berikut:
“Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan
dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi
khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi”.
Secara umum materi muatan Peraturan Daerah merupakan:
a. pengaturan lebih lanjut dengan cara menjabarkan asas dan/atau prinsip dan
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ke dalam
ketentuan lebih operasional. Konsep penjabaran mengandung makna adanya upaya
untuk merinci atau menguraikan norma-norma yang terkandung dalam setiap asas,
prinsip, dan ketentuan yang ada pada peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi untuk dinormakan lebih lanjut atau distrukturkan kembali yang perlu dan/
atau layak untuk dikembangkan sesuai kebutuhan daerah.
Salah satu wujud penjabaran ketentuan peraturan yang lebih tinggi, Peraturan
Daerah dapat berupa delegasi kewenangan/perintah dari peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan/atau materi muatan yang diatur sesuai kewenangan
pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi dan tugas pembantuan.
Delegasi kewenangan dapat berupa perintah tegas dan perintah yang tidak tegas.
Yang dapat masuk dalam kategori perintah tidak tegas yaitu:
1. Perintah pengaturan memang ada tetapi tidak tegas menentukan bentuk
pengaturan yang dipilih sebagai tempat penuangan materi ketentuan yang
didelegasikan pengaturannya;
72
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
2. Perintah pengaturan memang ada, tetapi tidak ditentukan secara jelas
lembaga yang diberi delegasi kewenangan atau bentuk pengaturan yang
harus ditetapkan untuk menuangkan materi yang didelegasikan;
3. Perintah pengaturan sama sekali tidak disebut atau tidak ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan, akan tetapi sudah sangat dibutuhkan dalam
menjawab permasalahan yang terjadi;
Materi muatan Peraturan Daerah sebaiknya bukan merupakan pengulangan
rumusan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi, melainkan penjabaran atau operasionalisasinya. Sebetulnya, tanpa dilakukan
perumusan ulang menjadi materi muatan Peraturan Daerah, semua asas, prinsipprinsip, dan ketentuan atau norma yang termuat dalam peraturan perundangundangan lebih tinggi secara otomatis tetap berlaku dan sifatnya mengikat bagi
daerah.
Namun demikian, kadangkala saat merumuskan materi muatan Rancangan
Peraturan Daerah yang lebih operasional, kesulitan sering kali dialami, antara lain
karena peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ternyata telah mengatur
rinci, sementara peraturan perundang-undangan tersebut memberikan mandat
untuk diatur dengan Peraturan Daerah. Dalam konteks tersebut, maka materi
muatan Peraturan Daerah dapat mengatur hal yang sama dengan materi muatan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut.
b. peraturan bersifat teknis operasional namun masih bersifat regulatif umum. Bersifat
teknis operasional yang dimaksud adalah bahwa materi muatan Peraturan Daerah
lebih mengkonkretkan serta dapat dilaksanakan baik oleh Pemerintah Daerah atau
Perangkat Daerah selaku pelaksana urusan pemerintahan di daerah maupun bagi
masyarakat dalam menjalankan kewajiban yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
Sedangkan bersifat regulatif umum mengandung makna yaitu materi muatan yang
diatur dalam Peraturan Daerah memberikan kepastian mengenai hak dan kewajiban
dari subjek hukum serta bersifat mengatur dengan konsekuensi mempunyai daya
pemaksa/pengikat atau sanksi bagi yang tidak melaksanakan.
73
c. sebagai media hukum bagi Kepala Daerah dalam rangka mewujudkan komitmen
dan/atau aspirasi atau keinginan atau harapan yang disampaikan kepada dan/atau
dari masyarakat dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah
dan melaksanakan kebijakan nasional. Hal tersebut terlepas dari anggaran. Besar
kecil anggaran ditentukan oleh Dewan Perwakilan Rayat Daerah (DPRD), karena
anggaran menjadi wewenang DPRD berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2009 tentang
MPR, DPR, DPD dan DPRD. Sehubungan itu, penyelenggaraan pengelolaan sampah
selain ditentukan oleh komitmen Kepala Daerah, peran aktif masyarakat, dan juga
ditentukan oleh DPRD berkaitan dengan anggaran.
Peraturan daerah dapat memuat materi muatan mengenai ketentuan pidana sebagaimana
diatur dalam Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Ayat (2) Pasal 15
menyatakan bahwa materi muatan yang berupa sanksi pidana dalam Peraturan Daerah
berupa ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling
banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Sedangkan pada Pasal 15 ayat (3),
Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota juga dapat memuat
ancaman pidana kurungan atau pidana denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lainnya.
Selain itu, Pasal 250 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah mengatur bahwa “Materi muatan Peraturan Daerah dilarang bertentangan
dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, dan/atau
kesusilaan”.
Adapun yang dimaksud dengan “Bertentangan dengan kepentingan umum” meliputi:
a. Terganggunya kerukunan antarwarga masyarakat;
b. Terganggunya akses terhadap pelayanan publik;
c. Terganggunya ketenteraman dan ketertiban umum;
d. Terganggunya kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
dan/atau
e. Diskriminasi terhadap suku, agama dan kepercayaan, ras, antar-golongan, dan
gender.
74
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Berdasarkan uraian di atas, materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Sampah harus memuat ketentuan lebih kongkret, mudah dipahami dan
dilaksanakan. Selain itu, tidak menimbulkan penafsiran ganda (multi-tafsir) atau berbeda
yang dapat merugikan masyarakat bahkan Pemerintah Daerah. Jika memungkinkan
bersifat teknis untuk menghindari penafsiran berbeda dan mudah dipahami atau sekurangkurangnya diberikan dalam penjelasan.
Prinsip utama yang dipegang teguh dalam pembentukan suatu Peraturan Daerah adalah
tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Artinya, materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah tidak
boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang kedudukannya lebih
tinggi secara hierarkhi dalam perundang-undangan.
Di bidang persampahan, terutama pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah
sejenis sampah rumah tangga, secara hierarkhi sudah ada pengaturan yang khusus mulai
dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, sampai pada tingkat Peraturan Menteri, yaitu
sebagai berikut :
1. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;
2. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;
3. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 tahun 2011tentang
Pedoman Materi Muatan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga
dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Agar prinsip utama pembentukan suatu Peraturan Daerah tidak dilanggar maka perlu
dilakukan harmonisasi perintah/delegasi kewenangan tentang materi muatan yang harus
75
diatur, yang dapat diatur dan yang dibutuhkan untuk diatur oleh daerah dalam rangka
penyelenggaraan otonomi dan tugas pembantuan agar dapat menampung dan menjawab
segala permasalahan tentang pengelolaan sampah di daerah.
Dalam buku panduan ini dilakukan harmonisasi tahap awal, yaitu berupa harmonisasi
secara vertikal terhadap peraturan perundang-undangan khusus di bidang pengelolaan
persampahan sebagaimana diuraikan di atas.
Berikut ini adalah materi muatan pokok yang perlu diatur dalam Rancangan Perda tentang
Pengelolaan Sampah yang dibagi kedalam:
1. Perintah Tegas
a. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
• Pasal 11 ayat (2) “tata cara penggunaan hak setiap orang”
• Pasal 12 ayat (2) “tata cara pelaksanaan kewajiban pengelolaan sampah
rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga”
• Pasal 17 ayat (3) “tata cara memperoleh izin”
• Pasal 18 ayat (2) “jenis usaha pengelolaan sampah yang mendapatkan
izin dan tata cara pengumuman kepada masyarakat”
• Pasal 22 ayat (2) “penanganan sampah”
• Pasal 24 ayat (3) “Pembiayaan”
• Pasal 25 ayat (4) “pemberian kompensasi oleh pemerintah daerah”
• Pasal 28 ayat (3) “bentuk dan tata cara peran masyarakat”
• Pasal 29 ayat (3) “larangan” (larangan membuang sampah tidak pada
tempat yang telah ditentukan dan disediakan, melakukan penanganan
sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir
(TPA), dan/atau membakar sampah yang tidak sesuai dengan
persyaratan teknis pengelolaan sampah.
• Pasal 31 ayat (3) “pengawasan pengelolaan sampah”
• Pasal 32 ayat (3) “penerapan sanksi administratif ”
76
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
b. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
• Pasal 32 ayat (4) “tata cara pemberian kompensasi oleh pemerintah
kabupaten/kota”
2. Perintah Tidak Tegas
a. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,
• Pasal 5 memberikan tugas kepada Pemerintah Daerah bersamasama dengan Pemerintah menjamin terselenggaranya pengelolaan
sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan
pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan
kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.
• Pasal 6 memberikan tugas kepada Pemerintah Daerah bersama-sama
dengan Pemerintah (Pusat) untuk melaksanakan sebagai berikut:
a. menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran
masyarakat dalam pengelolaan sampah;
b. melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan,
dan penanganan sampah;
c. memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya
pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah;
d. melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan
prasarana dan sarana pengelolaan sampah;
e. mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil
pengolahan sampah;
f. memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang
(berkembang pada masyarakat setempat untuk mengurangi dan
menangani sampah;
g. melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah, masyarakat,
dan dunia usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan
sampah
77
•
•
•
•
78
Pasal 9, memberikan kewenangan kepada Pemerintahan Kabupaten/
Kota sebagai berikut:
a. menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah
berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi;
b. menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/
kota sesuai dengan norma, standar,prosedur, dan kriteria yang
ditetapkan oleh Pemerintah;
c. melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan
sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain;
d. menetapkan lokasi tempat penampungan sementara (TPS),
tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), dan/atau tempat
pemrosesan akhir sampah (TPA) merupakan bagian dari rencana
tata ruang wilayah (RTRW);
e. melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6
(enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat
pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka
yang telah ditutup;
f. menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat
pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 13 memberikan perintah kepada Pengelola kawasan permukiman,
kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas
umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya untuk menyediakan fasilitas
pemilahan sampah.
Pasal 14 memberikan perintah kepada setiap produsen untuk
mencantumkan label atau tanda yang berhubungan dengan
pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau
produknya.
Pasal 15 memberikan perintah kepada produsen untuk mengelola
kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau
sulit terurai oleh proses alam.
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
•
•
Pasal 20 ayat (2) memberikan kewajiban kepada Pemerintah Daerah
bersama-sama dengan Pemerintah untuk melakukan kegiatan
pengurangan sampah meliputi kegiatan: a) pembatasan timbulan
sampah; b) pendauran ulang sampah; c) pemanfaatan kembali sampah.
Untuk itu Pemerintah Daerah bersama-sama Pemerintah:
a. menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam
jangka waktu tertentu;
b. memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan;
c. memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan;
d. memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang;
e. memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang.
Pasal 26 memberikan anjuran kepada Pemerintah daerah untuk
melakukan kerja sama antar pemerintah daerah dalam melakukan
pengelolaan sampah yang dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama
dan/ atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah.
b. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Perintah/delegasi kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota yang diatur
dalam Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 merupakan perintah yang
mendelegasikan kewenangan penyelenggaraan pengelolaan sampah dalam rangka
tugas di daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat nya baik sebagai
regulator maupun sebagai operator.
Tugas sebagai regulator, diatur dengan pasal-pasal sebagai berikut:
• Pasal 4 ayat (3) “menyusun dan menetapkan kebijakan dan strategi kabupaten/
kota dalam pengelolaan sampah”
• Pasal 9 ayat (1) “menyusun dokumen rencana induk dan studi kelayakan
pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah
tangga”
79
Tugas sebagai operator, diatur dengan pasal-pasal sebagai berikut:
• Pasal 17 ayat (1) (c) “ turut melakukan pemilahan sampah”
• Pasal 17 ayat (4) “menyediakan sarana pemilahan sampah skala kabupaten/
kota
• Pasal 18 ayat (1) (b) “turut melakukan pengumpulan sampah”
• Pasal 18 ayat (3) “menyediakan TPS dan/atau TPS 3R pda wilayah permukiman”
• Pasal 19 ayat (1) “melakukan pengangkutan sampah” yang dijelaskan kembali
dalam pasal 19 ayat (2) (b) bahwa “pemerintah kabupaten kota melakukan
pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3Rke TPA atau TPST”
• Pasal 21 ayat (2) (c) “turut mengolah sampah” yang dijelaskan kembali dalam
Pasal 21 ayat (4) bahwa “Pemerintah kabupaten/kota menyediakan fasilitas
pengolahan sampah pada wilayah permukiman yang berupa: TPS 3R, stasiun
peralihan antara, TPA dan/atau TPST.
• Pasal 22 ayat (2) “melakukan pemrosesan akhir sampah”
• Pasal 23 ayat (1) “kewajiban pemerintah kabupaten/kota menyediakan dan
mengoperasikan TPA”
• Pasal 26 ayat (1) “membentuk kelembagaan pengelola sampah, bermitra
dengan badan usaha, dan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota
lainnya” artinya dari pengaturan ini ada perintah secara tidak tegas kepada
pemerintah kabupaten kota untuk mengatur lembaga pengelola sampah
sebagai lembaga yang menjalankan tugas dan tanggung jawab pemerintah
kabupaten/kota sebagai operator pengelolaan sampah sebagaimana diatur
dalam pasal-pasal yang disebutkan di atas.
• Pasal ini juga memerintahkan secara tidak tegas untuk mengatur kemitraan
dengan badan usaha dan kerjasama dengan kabupaten/kota lain.
• Pasal 29 ayat (1) “memungut retribusi kepada setiap orang atas jasa pelayanan
yang diberikan”. Artinya pasal ini memerintahkan secara tidak tegas dan
memayungi pemerintah kabupaten kota untuk mengatur pemungutan
retribusi, namun untuk tata cara perhitungan tarif retribusi menurut Pasal 29
80
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
•
ayat (4) merupakan kewenangan menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang dalam negeri.
Pasal 34 ayat (1) ”menyediakan sistem informasi mengenai pengelolaan
sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga”, artinya
pemerintah kabupaten/kota diperintahkan untuk mengatur sistem informasi
kepada masyarakat agar masyarakat mendapat informasi yang tepat, akurat
dan mudah di akses.
c. Peraturan Menteri PU No. 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana
Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis
Sampah Rumah Tangga.
Dalam penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan, Peraturan Menteri
PU No 3 Tahun 2013 memerintahkan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk
menyusun dan menetapkan Rencana Induk, Studi kelayakan dan perencanaan
teknis dan manajemen persampahan, sesuai dengan kewenangannya sebagaimana
diatur dalam Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (3) dan Pasal 12 ayat (2).
Peraturan Menteri PU No. 3 Tahun 2013 juga mengatur lebih teknis tugas pemerintah
kabupaten/kota dalam menyediakan prasana dan sarana pengelolaan sampah.
Peraturan Menteri ini membagi batas dan wilayah dimana pemerintah kabupaten/
kota harus menyediakan prasarana dan sarana persampahan.
Penyediaan prasarana dan sarana pemilahan, pewadahan, pengumpulan, dan
pengolahan sampah selain dilakukan oleh Pemerintah daerah juga dilakukan oleh
pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan
khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya.
Penyediaan prasarana dan sarana pengangkutan, pemrosesan akhir sampah dan
TPA dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota namun dapat bermitra dengan
badan usaha dan/atau swasta.
81
Dari penjelasan di atas, hasil harmonisasi secara vertikal materi muatan yang perlu diatur
dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, adalah sebagai berikut:
1. Tugas dan Wewenang Pemerintah Daerah;
2. Hak dan Kewajiban;
3. Perizinan:
4. Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah;
5. Pembiayaan dan Kompensasi;
6. Peran Masyarakat;
7. Lembaga Pengelola;
8. Kerjasama dan Kemitraan;
9. Retribusi;
10. Pengawasan;
11. Sistem Informasi;
12. Larangan;
13. Sanksi Administratif
Materi muatan sebagaimana disebutkan di atas tersebut tidak membatasi apabila memang
dari hasil penelitian atau pengkajian kondisi daerah atau hasil penelitian hukum dalam
Naskah Akademik menyimpulkan perlunya menambahkan materi muatan yang akan
diatur sebagai solusi terhadap suatu masalah dan menampung kebutuhan pengaturan
masyarakat daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
Dibawah ini dirangkum materi muatan Rancangan Perda Pengelolaan Sampah berdasarkan
amanat dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012,
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No. 3 Tahun 2013, baik yang secara tegas maupun tidak tegas memerintahkan
untuk diatur dalam perda, yang dibutuhkan dalam menjawab permasalahan pengelolaan
sampah di daerah, dalam tabel berikut ini:
82
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
83
Tabel 4-1 Tabel Materi Muatan Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah
No
1
Muatan Yang
Diperintahkan
Tugas dan
Kewenangan
pemerintah daerah
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
UU No. 18 Tahun 2008 Pasal 5
“Pemerintah dan Pemerintah
daerah
bertugas
menjamin
terselenggaranya
pengelolaan
sampah
yang
baik
dan
berwawasan lingkungan sesuai
dengan tujuan UU pengelolaan
sampah”
1. Tugas pemerintah daerah
Kabupaten/Kota
dalam
pengelolaan sampah
pemerintah
2. Kewenangan
daerah
Kabupaten/Kota
dalam pengelolaan sampah
perencanaan
3. Penyusunan
daerah dalam pengelolaan
sampah oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota
dalam
mencapai tujuan pengelolaan
sampah,
yang
teknis
penyusunannya sesuai dengan
peraturan
perundangundangan.
4. Perencanaan daerah yang
dimaksud dijelaskan pada
bagian
Penjelasan,
yaitu
Rencana Induk dan Studi
Kelayakan yang ditetapkan
oleh
Pemerintah
Kabupaten/Kota
sesuai
kewenangannya.
PP No. 81 Tahun 2012 pemerintah
kabupaten/kota
Pasal 4 ayat (3) “menyusun dan
menetapkan
kebijakan
dan
strategi kabupaten/kota dalam
pengelolaan sampah”
Pasal 9 ayat (1) “menyusun
dokumen rencana induk dan studi
kelayakan pengelolaan sampah
rumah tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga”
Pasal 6 ayat (1)
“rencana induk sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1)
huruf a disusun dan ditetapkan
oleh Pemerintah Kota sesuai
dengan kewenangannya”
84
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Muatan Yang
Diperintahkan
No
2.
Hak
Sumber Hukum
Pasal 11 ayat (2) UU No. 18 Tahun
2008
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
tata cara penggunaan hak diatur
dengan Peraturan Pemerintan dan
Peraturan Daerah”
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
“Pengaturan
hak
dalam
Rancangan Peraturan Daerah
tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah
Sejenis Sampah Rumah Tangga
paling sedikit memuat hak untuk :
a. mendapatkan pelayanan;
b. berpartisipasi dalam proses
pengambilan
keputusan
penyelenggaraan
dan
pengawasan,
memperoleh
informasi yang benar, akurat,
dan tepat waktu;
c. mendapatkan perlindungan
dan
kompensasi
akibat
dampak negatif dari kegiatan
tempat pemrosesan akhir
(TPA);dan
pembinaan
d. memperoleh
mengenai
pengelolaan
sampah yang baik dan
berwawasan lingkungan”
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
Hak-hak masyarakat dalam
pengelolaan sampah.
Tata cara penggunaan hak
85
No
3.
Muatan Yang
Diperintahkan
Kewajiban
Sumber Hukum
Pasal 12 ayat (2) UU No. 18 Tahun
2008
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
tata cara pelaksanaan kewajiban
pengelolaan
sampah
rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah
rumah
tangga
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan peraturan
daerah”
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
Kewajiban orang
dalam
pengelolaan sampah secara
umum;
Kewajiban pelaku usaha
dalam pengelolaan sampah
secara umum.
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
“Pengaturan kewajiban dalam
Rancangan Peraturan Daerah
tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah
Sejenis Sampah Rumah Tangga
meliputi :
a. kewajiban
orang
perseorangan,
kelompok
orang,
dan/atau
badan
hukum, setiap pengelola
kawasan, dan setiap produsen
orang
b. kewajiban
perseorangan,
kelompok
orang,
dan/atau
badan
hukum untuk mengurangi
dan menangani sampah
dengan
cara
yang
berwawasan lingkungan;
86
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
c.
4.
Perizinan
kewajiban setiap pengelola
kawasan untuk menyediakan
fasilitas pemilahan sampah;
d. kewajiban setiap produsen
untuk mengelola kemasan
dan/atau
barang
yang
diproduksinya yang tidak
dapat atau sulit terurai oleh
proses alam.”
1. Pasal 17 ayat (3) UU No. 18
Tahun 2008
lanjut
“ketentuan
lebih
mengenai
tata
cara
memperoleh
izin
diatur
dengan peraturan daerah
sesuai
dengan
kewenangannya”
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
1. Kewajiban kepemilikan izin
2. Jenis kegiatan pengelolaan
sampah yang memerlukan izin
3. Tata cara mendapatkan izin
cara
pengumuman
4. Tata
dalam perizinan
lingkungan
yang
5. Izin
merupakan
bagian
dari
perizinan
6. Masa berlaku izin pengelolaan
sampah.
a. Pengelolaan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga oleh
pihak
ketiga
harus
mendapatkan
izin
dari
bupati/walikota.
b. Permohonan izin pengelolaan
sampah rumah tangga dan
sampah
sejenis
sampah
rumah
tangga
harus
memenuhi
persyaratan
87
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
administratif yang memuat
data
akta
pendirian
perusahaan,
nama
penanggung jawab kegiatan,
nama perusahaan, alamat
perusahaan, bidang usaha
dan/atau kegiatan, nomor
telepon perusahaan, wakil
perusahaan
yang
dapat
dihubungi,
dan
sertifikat
kompetensi dan/atau sertifikat
pelatihan.
c. apabila kegiatan pengelolaan
sampah merupakan wajib
analisis mengenai dampak
lingkungan hidup (Amdal)
atau
upaya
pengelolaan
lingkungan hidup dan upaya
pemantauan
lingkungan
hidup
(UKL-UPL),
permohonan izin dilengkapi
dengan izin lingkungan
d. Izin pengangkutan sampah
berlaku selama 1 (satu) tahun
dan dapat diperpanjang. Izin
pengolahan dan pemrosesan
akhir sampah berlaku selama
5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang. Izin pengelolaan
sampah berakhir apabila masa
berlakunya berakhir, badan
usaha
pemegang
izin
88
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
pengelolaan sampah bubar
dan/atau dicabut
2. Pasal 18 ayat (2)
“ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
jenis
usaha
pengelolaan sampah yang
mendapat izin dan tata cara
pengumuman diatur dengan
peraturan daerah”
5.
Penyelenggaraan
Pengelolaan Sampah
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
“Kegiatan pengelolaan sampah
rumah tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga yang
memerlukan izin meliputi :
a. pengangkutan;
b. pengolahan; dan
pemrosesan akhir.”
Pengurangan Sampah
1. Pengelolaan sampah secara
umum
Pasal 20 UU No. 18 Tahun 2008
“Pemerintah dan pemerintah
daerah wajib melakukan kegiatankegiatan dalam hal pengurangan 2. Pengurangan sampah
sampah”
a. Perencanaan pengurangan
dan
penanganan
pengelolaan sampah
b. Pengurangan Sampah :
kegiatan
• Jenis
pengurangan sampah;
89
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
Penanganan Sampah
Pasal 22 ayat (2) UU No. 18 Tahun
2008
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
penanganan
sampah
diatur
dengan
atau
berdasarkan
peraturan
pemerintah
atau
dengan peraturan daerah sesuai
dengan kewenangannya”
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
penyelenggaraan
1. Dalam
penanganan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah
rumah
tangga,
gubernur atau bupati/walikota
menetapkan kebijakan dan
strategi penanganan sampah
rumah tangga dan sampah
sejenis sampah rumah tangga.
bagi
pemerintah
2. Khusus
kabupaten/kota,
selain
menetapkan kebijakan dan
strategi kabupaten/kota dalam
penanganan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga, juga
menyusun dokumen rencana
induk dan studi kelayakan
penanganan sampah rumah
90
• Tata cara pengurangan
sampah
yang
pelaksanaan nya sesuai
peraturan
perundangundangan;
Pemerintah
• Kegiatan
Kabupaten/Kota dalam
Pengurangan Sampah
3.
Penanganan Sampah:
kegiatan
a. Jenis
penanganan sampah;
b. Pembagian jenis sampah
dalam
kegiatan
pemilahan sampah;
c. Kewajiban setiap orang,
produsen,
pengelola
kawasan,
pengelola
fasilitas umum dan sosial
serta fasilitas lainnya
dalam
pemilahan
sampah;
sarana
d. Persyaratan
pemilahan
dan
pewadahan sampah;
untuk
e. Pendelegasian
mengatur lebih lanjut
mengenai
petunjuk
teknis dan pelaksanaan
pemilahan
sampah
dengan
peraturan
bupati/walikota;
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
tangga dan sampah sejenis
sampah
rumah
tangga.
Rencana
induk
tersebut
ditetapkan untuk jangka waktu
paling sedikit 10 (sepuluh)
tahun
3. Penanganan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga yang
dilakukan oleh pemerintah
kabupaten/kota meliputi:
a. Pemilahan
Kegiatan
pemilahan
sampah dilakukan dalam
bentuk:
• pengelompokan dan
pemisahan
sampah
sesuai dengan jenis,
jumlah, dan/atau sifat
sampah;
sampah
• pemilahan
dilakukan oleh orang
perseorangan,
kelompok orang atau
badan hukum pada
sumbernya, pengelola
kawasan,
dan
pemerintah
kabupaten/kota.
sampah
• pemilahan
dilakukan
melalui
kegiatan
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
f. Teknis
dan
alokasi
tanggung
dalam
pengumpulan sampah;
untuk
g. Pendelegasian
mengatur lebih lanjut
mengenai
petunjuk
teknis dan pelaksanaan
pengumpulan sampah
dengan
peraturan
bupati/walikota;
pengangkutan
h. Teknis
sampah
bahwa
i. Penegasan
pengangkutan sampah
merupakan
tugas
pemerintah
kabupaten/kota;
untuk
j. Pendelegasian
mengatur lebih lanjut
mengenai sarana dan
penjadwalan
pengangkutan sampah
dengan
peraturan
bupati/walikota;
k. Teknis
pengolahan
sampah
pengolahan
l. Prinsip
sampah terdekat dengan
sumber;
m. PenyelenggaraanPrasara
na dan sarana dalam
pengolahan sampah;
91
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
b.
92
pengelompokan
sampah paling sedikit
menjadi 5 (lima) jenis
sampah;
pemilahan
• sarana
sampah
disediakan
oleh
pengelola
kawasan
dan
pemerintah
kabupaten/kota.
sampah
• pemilahan
menggunakan sarana
yang
memenuhi
persyaratan,
jumlah
sarana sesuai dengan
jenis pengelompokan
sampah, diberi simbol
atau tanda dan bahan,
bentuk, dan warna
wadah.
Pengumpulan
• Pengumpulan sampah
dilakukan
dalam
bentuk: pengambilan
dan
pemindahan
sampah dari sumber
sampah ke tempat
penampungan
sementara (TPS) atau
tempat
pengolahan
sampah terpadu (TPST)
.
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
n. Teknis
pemrosesan
sampah
o. Pemilihan teknologi dan
lokasi pemrosesan akhir
yang
sampah
pelaksanaannya sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan;
p. Kewajiban Pemerintah
dalam
Daerah
melakukan penutupan
atau rehabilitasi TPA
yang tidak memenuhi
persyaratan
sesuai
peraturan
perundangundangan.
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
• Pengumpulan sampah
dilakukan
oleh
pengelola kawasan dan
pemerintah
kabupaten/kota.
Pengelola
kawasan
dalam
melakukan
pengumpulan
menyediakan
TPS,
tempat
pengolahan
sampah dengan prinsip
3R (reduce, reuse,
recycle)
yang
selanjutnya disebut TPS
3R,
dan/atau
alat
pengumpul
untuk
sampah terpilah.
• Dalam
penyelenggaraan
pengumpulan sampah,
pemerintah
kabupaten/kota
menyediakan
TPS
dan/atau TPS 3R pada
wilayah permukiman.
TPS dan/atau TPS 3R
tersebut
supaya
memenuhi persyaratan
yang meliputi sarana
untuk pengelompokan
sampah paling sedikit 5
(lima) jenis sampah,
93
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
c.
94
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
luas
lokasi
dan
kapasitas
sesuai
kebutuhan, lokasi yang
mudah diakses, tidak
mencemari lingkungan,
jadual
pengumpulan
dan pengangkutan.
Pengangkutan
• Pengangkutan sampah
dilakukan
dalam
bentuk
membawa
sampah dari sumber
dan/atau dari TPS atau
dari TPST menuju ke
TPA.
• Pengangkutan sampah
dari TPS dan/atau TPS
3R ke TPA atau TPST
dilakukan
oleh
pemerintah
kabupaten/kota
dengan menyediakan
alat angkut sampah
terpilah paling sedikit 5
jenis sampah dan tidak
mencemari lingkungan.
• Pemerintah
kabupaten/kota dalam
pengangkutan sampah
dapat
menyediakan
stasiun
peralihan
antara.
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
d.
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
Pengolahan
• Pengolahan
sampah
dilakukan
dalam
bentuk
mengubah
karakteristik, komposisi,
dan jumlah sampah.
sampah
• Pengolahan
dilakukan
oleh
pemerintah
kabupaten/kota, orang
perseorangan,
kelompok
orang
dan/atau badan hukum
pada sumbernya, dan
pengelola kawasan.
• Kegiatan pengolahan
sampah
meliputi
pemadatan,
pengomposan,
daur
ulang materi, dan/atau
daur ulang energi.
kawasan
• Pengelola
menyediakan fasilitas
pengolahan
sampah
skala kawasan yang
berupa TPS 3R.
• Pemerintah
kabupaten/kota
menyediakan fasilitas
pengolahan
sampah
pada
wilayah
permukiman
yang
95
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
e.
96
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
berupa TPS 3R, stasiun
peralihan antara, TPA,
dan/atau TPST.
• Apabila dua atau lebih
kabupaten/kota
melakukan pengolahan
sampah bersama dan
memerlukan
pengangkutan sampah
lintas kabupaten/kota,
pemerintah
kabupaten/kota dapat
mengusulkan kepada
pemerintah
provinsi
untuk
menyediakan
stasiun peralihan antara
dan alat angkut.
Pemrosesan
akhir
sampah.
akhir
• Pemrosesan
sampah
dilakukan
dalam
bentuk
pengembalian sampah
dan/atau residu hasil
pengolahan
sebelumnya ke media
lingkungan
secara
aman.
akhir
• Pemrosesan
sampah dilakukan oleh
pemerintah
kabupaten/kota
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
dengan menggunakan
metode lahan uruk
terkendali,
metode
lahan uruk saniter, dan
teknologi
ramah
lingkungan.
• Pemerintah
kabupaten/kota
menyediakan
dan
mengoperasikan TPA
dengan
melakukan
pemilihan lokasi sesuai
RTRW
provinsi
dan/atau
RTRW
kabupaten/kota,
menyusun
analisis
biaya dan teknologi,
dan
menyusun
rancangan teknis.
• Lokasi TPA paling
sedikit
memenuhi
aspek
geologi,
hidrogeologi,
kemiringan zona, jarak
dari lapangan terbang,
jarak dari permukiman,
berada
di
tidak
kawasan lindung/cagar
alam,
dan
bukan
merupakan
daerah
banjir periode ulang 5
(lima) tahunan.
97
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
• Pemerintah
kabupaten/kota dalam
menyediakan
TPA
melengkapi
fasilitas
dasar,
fasilitas
perlindungan
lingkungan,
fasilitas
operasi, dan fasilitas
penunjang.
• Apabila TPA tidak
dioperasikan
sesuai
dengan
persyaratan
teknis, harus dilakukan
penutupan
dan/atau
rehabilitasi. Penyediaan
fasilitas
pengolahan
dan pemrosesan akhir
sampah
dilakukan
melalui
tahapan
perencanaan,
pembangunan,
pengoperasian
dan
pemeliharaan.
Pembangunan fasilitas
pengolahan
dan
pemrosesan
akhir
meliputi
kegiatan
konstruksi,
supervisi,
dan uji coba.
98
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
PP No. 81 Tahun 2012,
pemerintah kabupaten/kota
Pasal 17 ayat (1) (c) “turut
melakukan pemilahan sampah”
Pasal 17 ayat (4) “menyediakan
sarana pemilahan sampah skala
kabupaten/kota
Pasal 18 ayat
(1) (b) “turut
melakukan
pengumpulan
sampah”
Pasal 18 ayat (3) “menyediakan
TPS dan/atau TPS 3R pada wilayah
permukiman”
Pasal 19 ayat (1) “melakukan
pengangkutan sampah” yang
dijelaskan kembali dalam pasal 19
ayat (2) (b) bahwa “pemerintah
kabupaten
kota
melakukan
pengangkutan sampah dari TPS
dan/atau TPS 3Rke TPA atau
TPST”
99
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
Pasal 21 ayat (2) (c) “turut
mengolah
sampah”
yang
dijelaskan kembali Pasal 21 ayat
(4)
bahwa
"Pemerintah
kabupaten/kota
menyediakan
fasilitas pengolahan sampah pada
wilayah permukiman yang berupa:
TPS 3R, stasiun peralihan antara,
TPA dan/atau TPST.
6.
Pembiayaan
Pasal 24 ayat (3)
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
pembiayaan
diatur
dengan
peraturan daerah”
Sumber-sumber pembiayaan
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
“Pembiayaan
penyelenggaraan
pengelolaan
sampah
rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga bersumber
dari :
a. Anggaran Pendapatan dan
Belanja
Daerah
(APBD);dan/atau
b. sumber lain yang sah sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
100
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
7.
Muatan Yang
Diperintahkan
Kompensasi
Sumber Hukum
Pasal 25 ayat (4) (perintah tegas)
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
pemberian
kompensasi
oleh
pemerintah
diatur
dengan
peraturan pemerintah dan/atau
peraturan daerah”
yang ditegaskan kembali dalam
Pasal 32 ayat (4) PP No.81 Tahun
2012 (perintah tegas)
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
tata cara pemberian kompensasi
oleh Pemkab/kota dan pemprov
diatur dengan peraturan daerah”
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
merupakan
a. Kompensasi
pemberian imbalan kepada
orang
perseorangan,
kelompok orang, dan/atau
badan hukum yang terkena
dampak
negatif
yang
ditimbulkan oleh kegiatan
penanganan sampah di TPA.
b. Pemerintah kabupaten/kota
secara sendiri atau secara
bersama dapat memberikan
kompensasi;
negatif
yang
c. Dampak
ditimbulkan oleh kegiatan
pemrosesan akhir sampah
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
3.
4.
5.
Kompensasi secara umum;
Penganggaran kompensasi
dalam APBD;
dampak
Bentuk-bentuk
negatif
yang
dapat
menimbulkan diberikannya
kompensasi oleh pemerintah
daerah;
Bentuk-bentuk kompensasi;
Tata
cara
pemberian
kompensasi
(disesuaikan
dengan
kelembagaan,
kearifan lokal dan peraturan
di
perundang-undangan
daerah
masing-masing,
berdasarkan kajian dalam
Naskah Akademik)
101
No
8.
Muatan Yang
Diperintahkan
Peran Serta Masyarakat
Sumber Hukum
diakibatkan oleh :
•
pencemaran air;
•
pencemaran udara;
•
pencemaran tanah;
•
longsor;
•
kebakaran
ledakan
gas
metan;
•
dan/atau
•
hal
lain
yang
menimbulkan dampak
negatif.
d. Kompensasi dapat berbentuk
relokasi penduduk, pemulihan
lingkungan, biaya kesehatan
dan pengobatan, penyediaan
fasilitas sanitasi dan kesehatan,
dan/atau kompensasi dalam
bentuk lain;
harus
e. Kompensasi
dianggarkan dalam APBD.
Pasal 28 ayat (3) UU No. 18 Tahun
2008
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
bentuk dan tata cara peran
masyarakat
diatur dengan
peraturan pemerintah dan/atau
peraturan daerah”
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
Masyarakat dapat berperan dalam
102
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
3.
4.
Bentuk-bentuk
peran
masyarakat;
Peran pelaku usaha dalam
pengelolaan sampah;
Pengaduan
masyarakat
dalam pengelolaan sampah;
untuk
Pendelegasian
mengatur
lebih
lanjut
mengenai petunjuk tata cara
dan
kelembagaan
penanganan
pengaduan
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
pengelolaan sampah berupa :
a. pemberian
usul,
pertimbangan,
dan
saran
kepada pemerintah daerah
dalam perumusan kebijakan
pengelolaan sampah;
penanganan
b. melaksanakan
sampah rumah tangga dan
sampah sejenis sampah rumah
tangga yang dilakukan secara
mandiri atau bermitra dengan
pemerintah;
c. pemberian pendidikan dan
pelatihan serta pendampingan
oleh kelompok masyarakat
kepada anggota masyarakat;
pengaduan
d. melakukan
mengenai
pengelolaan
sampah kepada pemerintah
kabupaten/kota.
e. Pemerintah kabupaten/kota
melakukan
pengelolaan
pengaduan masyarakat sesuai
dengan ketentuan dalam
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 9
Tahun 2010 tentang Tata Cara
Pengaduan dan Penanganan
Pengaduan Akibat Dugaan
Pencemaran
dan/atau
Kerusakan Lingkungan Hidup.
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
masyarakat
dengan
peraturan bupati/walikota;
103
No
9.
Muatan Yang
Diperintahkan
Lembaga Pengelola
Sumber Hukum
PP No. 81 Tahun 2012
Pasal 26 ayat (1) (a)
“Dalam
melakukan
kegiatan
pengangkutan, pengolahan, dan
pemrosesan
akhir
sampah,
pemerintah kabupaten/kota dapat :
membentuk
kelembagaan
pengelola sampah;
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
3.
4.
10.
Kerjasama dan
kemitraan
PP No. 81 Tahun 2012
Pasal 26 ayat (1) (b) dan (c)
“Dalam
melakukan
kegiatan
pengangkutan, pengolahan, dan
pemrosesan
akhir
sampah,
pemerintah kabupaten/kota dapat:
b. bermitra dengan badan
usaha atau masyarakat;
dan/atau
dengan
c. bekerjasama
pemerintah
kabupaten/kota lain.
1.
2.
Penyelenggaraan
pengelolaan sampah oleh
lembaga pengelola;
Pemisahan
lembaga
pengelola regulator dan
operator
Kewenangan
pemerintah
dalam membentuk lembaga
pengelola;
Pendelegasian
ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
lembaga pengelola sampah
dengan
peraturan
bupati/walikota
Kerjasama dan kemitraan
secara umum;
Pelaksanaan kerjasama dan
kemitraan sesuai dengan
peraturan
perundangundangan;
Note :
Pengaturan tentang kerjasama
antar daerah penjabarannya
sudah diatur dalam Peraturan
Pemerintah No. 50 Tahun
2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan
Kerjasama
Daerah
Pengaturan tentang kerjasama
/kemitraan dengan badan
104
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
usaha penjabarannya telah
diatur
oleh
beberapa
peraturan
perundangundangan
11.
Retribusi
PP No. 81 Tahun 2012
Pasal 29
penyelenggaraan
(1) Dalam
penanganan
sampah,
pemerintah kabupaten/kota
memungut retribusi kepada
setiap orang atas jasa
pelayanan yang diberikan.
sebagaimana
(2) Retribusi
dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan secara progresif
berdasarkan
jenis,
karakteristik, dan volume
sampah.
(3) Hasil retribusi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
digunakan untuk:
layanan
a. kegiatan
penanganan sampah;
fasilitas
b. penyediaan
pengumpulan sampah;
c. penanggulangan
keadaan darurat;
lingkungan
d. pemulihan
akibat
kegiatan
penanganan
sampah;
dan/atau
1.
2.
kewenangan
pemerintah
daerah dalam memungut
retribusi atas jasa pelayanan
sampah yang diberikan
lebih
lanjut
ketentuan
pemungutan retribusi atas
jasa pelayanan sampah
sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
105
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
e.
12.
Pengawasan
peningkatan kompetensi
pengelola sampah.
lebih
lanjut
(4) Ketentuan
mengenai
tata
cara
perhitungan tarif retribusi
berdasarkan
jenis,
karakteristik, dan volume
sampah
sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan peraturan menteri
yang
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan
di
bidang dalam negeri.
Pasal 31 ayat (3) UU No. 18 Tahun
2008
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
pengawasan pengelolaan sampah
diatur dengan peraturan daerah”
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
Bentuk pengawasan
Kegiatan pengawasan dalam
pengelolaan sampah
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
a. Pengawasan terhadap kebijakan
pengelolaan
sampah
kabupaten/kota dilakukan oleh
gubernur.
melakukan
b. Bupati/walikota
pengawasan
terhadap
pengelola
sampah
dalam
kegiatan penanganan sampah,
pelaksanaan penanggulangan
kecelakaan dan pencemaran
lingkungan
hidup
akibat
106
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
kegiatan penanganan sampah,
dan pelaksanaan pemulihan
fungsi lingkungan hidup akibat
kecelakaan dan pencemaran
lingkungan
dari
kegiatan
penanganan sampah.
13.
Sistem Informasi
PP N0. 81 Tahun 2012
Pasal 34
(1) Pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten/kota
menyediakan
informasi
mengenai
pengelolaan
sampah rumah tangga dan
sampah sejenis sampah
rumah tangga.
pengelolaan
(2) Informasi
sampah
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memberikan
informasi mengenai:
a. sumber sampah;
b.timbulan sampah;
c. komposisi sampah;
d.karakteristik sampah;
pengelolaan
e. fasilitas
sampah rumah tangga
dan sampah sejenis
sampah rumah tangga;
dan
f. informasi lain terkait
pengelolaan
sampah
rumah
tangga
dan
1.
2.
Pemerintah
daerah
menyediakan
sarana
informasi
mengenai
pengelolaan sampah.
Cara dan jenis informasi yang
diberikan
107
No
14.
108
Muatan Yang
Diperintahkan
Larangan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
sampah sejenis sampah
rumah
tangga
yang
diperlukan dalam rangka
pengelolaan sampah.
sebagaimana
(3) Informasi
dimaksud pada ayat (1)
terhubung sebagai satu
jejaring sistem informasi
pengelolaan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga yang
dikoordinasikan
oleh
menteri
yang
menyelengarakan urusan
pemerintahan di bidang
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan
hidup.
sebagaimana
(4) Informasi
dimaksud pada ayat (3)
harus dapat diakses oleh
setiap orang.
Pasal 29 ayat (3) dan (4) UU No.
18 Tahun 2008
lebih
lanjut
(3) Ketentuan
mengenai larangan : diatur
dengan
perda
kabupaten/kota
daerah
(4) Peraturan
kabupaten/kota sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dapat
menetapkan sanksi pidana
Setiap orang dilarang :
a......
b......
c.......
Pengaturan
larangan
dapat
disesuaikan dengan kebutuhan,
kearifan lokal dan peraturan
perundang-undangan di daerah
masing-masing berdasarkan hasil
kajian naskah akademik.
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
Muatan Yang
Diperintahkan
Sumber Hukum
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
kurungan
atau
denda
terhadap
pelanggaran
ketentuan
sebagaimana
dimaksud diatas
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
Norma larangan yang harus
dimuat
dalam
Rancangan
Peraturan
Daerah
tentang
Pengelolaan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis
Sampah Rumah Tangga meliputi:
pembuangan
a. melakukan
sampah tidak pada tempat
yang telah ditentukan dan
disediakan
(Pembuangan
sampah tidak pada tempatnya
merupakan
pembuangan
sampah yang tidak dilakukan
di TPS dan/atau TPST yang
disediakan oleh pemerintah
daerah);
penanganan
b. melakukan
sampah dengan pembuangan
terbuka ditempat pemrosesan
akhir (Penanganan sampah
dengan pembuangan terbuka
(open dumping) di tempat
pemrosesan akhir sampah
tidak
sejalan
dengan
ketentuan Pasal 44 Undang-
109
No
15.
110
Muatan Yang
Diperintahkan
Sanksi Administratif
Sumber Hukum
Undang Nomor 18 Tahun
2008 tentang Pengelolaan
Sampah); dan/atau
c. membakar sampah yang tidak
sesuai dengan persyaratan
teknis pengelolaan sampah
(Membakar sampah yang
tidak
sesuai
dengan
persyaratan teknis pengelolaan
sampah dapat meningkatkan
emisi gas rumah kaca dan
memberikan
kontribusi
terhadap pemanasan global).
Pasal 32 ayat (3) UU No. 18 tahun
2008
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
penerapan sanksi administratif
diatur
dengan
perda
kabupaten/kota”
Penjabaran menurut Permen LH
No. 16 Tahun 2011:
a. Penerapan sanksi administratif
dilakukan
oleh
bupati/walikota
kepada
pengelola sampah rumah
tangga dan sampah sejenis
sampah rumah tangga yang
melanggar ketentuan dan
persyaratan yang ditetapkan
dalam izin.
b. Sanksi administratif yang
dapat
diterapkan
oleh
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
1.
2.
3.
Pejabat yang berwenang
dalam menerapkan sanksi
Pendelegasian
untuk
mengatur
lebih
lanjut
mengenai tata cara
dan
mekanisme
penerapan
sanksi administratif dengan
peraturan bupati/walikota
Sanksi
Pidana
(bila
diperlukan)
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
No
16.
Muatan Yang
Diperintahkan
Materi muatan lainnya
Sumber Hukum
bupati/walikota dapat berupa
paksaan pemerintahan, uang
paksa dan/atau pencabutan
izin. Paksaan pemerintahan
dapat diterapkan kepada
pemegang izin pengelolaan
sampah rumah tangga dan
sampah
sejenis
sampah
rumah tangga.
c. Apabila
paksaan
tidak
pemerintahan
dilaksanakan, bupati/walikota
dapat menerapkan uang
paksa atas keterlambatan
pelaksanaan
paksaan
pemerintahan.
paksaan
d. Apabila
pemerintahan dan uang
paksa tidak dilaksanakan oleh
pemegang
izin,
bupati/walikota
dapat
mencabut izin.
e. Tata cara dan mekanisme
penerapan sanksi administratif
secara
rinci
dapat
didelegasikan dalam peraturan
bupati/walikota.
Dapat ditambahkan sesuai dengan
kebutuhan masing-masing daerah,
sesuai dengan kewenangannya.
Pengaturan dalam Rancangan Perda
tentang Pengelolaan Sampah
Misal:
1. Pembinaan oleh Pemerintah
Daerah kepada masyarakat
tentang pengelolaan sampah
111
112
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
LAMPIRAN CONTOH RANCANGAN PERDA TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH
PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA ……….
NOMOR …. TAHUN ……
TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI/WALIKOTA……………………………………..
Menimbang :
a.
bahwa lingkungan hidup merupakan ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa sebagai amanat yang harus kita jaga dan lestarikan
dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk
melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah
Indonesia demi mencapai cita-cita bangsa Indonesia yaitu
memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia;
[Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur
filosofis. Isinya dapat disesuaikan, yang intinya merupakan
pandangan hidup, kesadaran dan cita hukum yang
meliputi suasana kebathinan penyusun, yang bersumber
dari Pancasila dan Pembukaan UUD 1945]
b.
bahwa dalam rangka mewujudkan Kabupaten/ Kota …….
yang sehat dan bersih dari sampah yang dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan
lingkungan, maka perlu dilakukan pengelolaan sampah secara
komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir;
[Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur
sosiologis. Isinya dapat disesuaikan dengan kondisi
pengelolaan sampah yang menjadi pertimbangan dan
alasan pembentukan Perda Pengelolaan Sampah]
c.
bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 47 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah;
[Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur
yuridis.]
113
d.
e.
Mengingat :
114
bahwa pengelolaan sampah berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota ………. Nomor…. Tahun ……, sudah tidak
sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi saat ini
sehingga perlu dilakukan penggantian/perubahan.
[Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur
yuridis apabila kabupaten/kota yang sebelumnya sudah
mempunyai Perda tentang Pengelolaan Sampah atau perda
lainnya yang berkaitan dengan Pengelolaan Sampah tapi
ingin diganti atau dirubah.]
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d, maka perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah.
1. Undang-Undang Nomor ….. Tahun …….tentang Pembentukan
Kabupaten/Kota……… Lembaran Negara Nomor…. Tahun…..,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…);
2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851);
3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5587);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah
Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012
Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5347);
5. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun
2011 tentang Pedoman Materi Muatan Rancangan Peraturan
Daerah Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 933);
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03 Tahun 2013
tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan
dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah
Sejenis Sampah Rumah Tangga (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 470);
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
[Bagian diatas merupakan contoh dasar hukum “Mengingat”
yang pada intinya memuat:
a. dasar kewenangan pembentukan Perda tentang
Pengelolaan Sampah, dan
b. peraturan
perundang-undangan
yang
memerintahkan pembentukan Perda tentang
Pengelolaan Sampah.
Apabila ada dasar hukum lainnya yang menjadi dasar
kewenangan dan memerintahkan pembentukan Perda
Pengelolaan Sampah dapat ditambahkan pada bagian ini
sebagai dasar hukum]
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN/KOTA……………………….
Dan
BUPATI/WALIKOTA KABUPATEN/KOTA………………
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1.
Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik
Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945.
115
2.
3.
4.
5.
Daerah adalah Kabupaten/Kota ……………..
Pemerintah Daerah adalah……….
Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten /Kota …………
Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang
berbentuk padat.
6. Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari
dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
7. ……….
[Bagian diatas merupakan contoh Ketentuan Umum. Isinya disesuaikan dengan
materi muatan yang diatur dalam Perda yang dibentuk oleh masing-masing
daerah. Ketentuan Umum memuat batasan atau definisi dari subjek dan objek
yang diatur, istilah, singkatan atau akronim yang digunakan secara berulangulang dalam Perda. Apabila terdapat definisi/istilah yang sudah diatur oleh
peraturan perundang-undangan, sebaiknya definisi/istilah tersebut diadopsi
secara langsung.]
BAB II
ASAS, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP
Pasal 2
Pengelolaan sampah berdasarkan pada asas:
a. ……
b. ……
c. ……
[Asas pengelolaaan dapat berbeda-beda pada setiap daerah. Isinya tergantung dari
kebutuhan dan kearifan lokal daerah. Pengertian dari asas yang dicantumkan
harus dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan.]
Pasal 3
Tujuan pengelolaan sampah untuk:
a. mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih dari sampah;
b. ……
c. ……
116
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
[Isikan bagian ini dengan tujuan pada masing-masing daerah. Setiap daerah
tentunya memiliki tujuan pengelolaan yang berbeda-beda tergantung kebutuhan
dan kebijakan daerah.]
Pasal 4
Sampah yang diatur dalam peraturan daerah ini meliputi:
a. sampah rumah tangga;
b. sampah sejenis sampah rumah tangga;
BAB III
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 5
Tugas Pemerintah Daerah meliputi:
a. menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pelaku
usaha dalam pengelolaan sampah;
b. mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengelolaan sampah;
c. ……
d. ……
[Isikan bagian ini dengan tugas pemerintah daerah. Tugas pemerintah daerah
dapat berbeda satu dengan yang lainnya. Lihat kajian dalam naskah akademik
untuk mengetahuinya. Lihat Tabel 4-1 nomor 1 untuk lebih jelas.]
Pasal 6
Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pemerintah Daerah
mempunyai kewewenangan:
a. menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan
nasional dan provinsi;
b. menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan
norma, standar, prosedur dan kriteria yang ditetapkan pemerintah;
c. ……
d. ……
117
[Isikan bagian ini dengan kewenangan pemerintah daerah. Lihat kajian dalam
naskah akademik untuk mengetahuinya. Lihat Tabel 4-1 nomor 1 untuk lebih
jelas.]
Pasal 7
(1)
(2)
Untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah sesuai tugas dan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6, pemerintah daerah harus
membuat dokumen perencanaan daerah tentang pengelolaan sampah yang
memuat target pengurangan dan penanganan sampah dalam pengelolaan sampah.
Teknis penyusunan perencanaan daerah pengelolaan sampah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
[Tambahkan pada bagian penjelasan ayat ini kalimat yang menjelaskan bahwa
yang dimaksud perencanaan daerah tentang pengelolaan sampah meliputi : (a)
Rencana Induk; (b) Studi Kelayakan; dan (c) Perencanaan Teknis dan Manajemen
Persampahan.]
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Kesatu
Hak
Pasal 8
Masyarakat berhak:
a. mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan
lingkungan;
b. berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan, dan
pengawasan di bidang pengelolaan sampah;
c. memperoleh informasi yang benar, akurat, dan tepat waktu mengenai
penyelenggaraan pengelolaan sampah.
d. mendapatkan pelindungan dan kompensasi karena dampak negatif dari kegiatan
tempat pemrosesan akhir sampah;
e. memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan pengelolaan sampah secara baik
dan berwawasan lingkungan
f. ……
g. ……
118
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
[Isikan bagian diatas dengan hak yang diterima oleh warga masyarakat. Masingmasing daerah dapat mengatur hak masyarakat sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan daerahnya. Lihat Tabel 4-1 nomor 2 untuk lebih jelas.]
Pasal 9
(1) Informasi mengenai pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
huruf c dapat diakses melalui ……..
[Silahkan dibuat pengaturan tentang bagaimana (tata cara) masyarakat memperoleh
hak akan informasi mengenai penyelenggaraan pengelolaan sampah. Informasi
tersebut terhubung sebagai satu jejaring sistem informasi yang harus dapat diakses
oleh setiap orang.]
Bagian Kedua
Kewajiban
Pasal 10
(1)
Dalam pengelolaan sampah, setiap orang wajib:
a. …
b. …
(2) Setiap angkutan umum, kendaraan pribadi, fasilitas umum, fasilitas sosial,
perkantoran, perusahaan, pusat perbelanjaan wajib menyediakan wadah sampah
dan/atau TPS.
(3) ……
(4) ……
[Silakan mengatur tentang kewajiban setiap orang di Daerah sesuai dengan keadaan
dan kebutuhan kabupaten/kota masing-masing. Sebagai catatan untuk diingat,
bahwa konsekuensi dari kewajiban adalah sanksi apabila tidak dilaksanakan. Lihat
Tabel 4-1 nomor 3 untuk lebih jelas. Ayat (2) diatas merupakan contoh bentuk
pengaturan mengenai kewajiban kepada masyarakat non perorangan. Silakan
didiskusikan dengan para pemangku kepentingan, apakah perlu diterapkan atau
tidak.]
119
BAB V
PERIZINAN
Pasal 11
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha pengelolaan sampah wajib memiliki
izin dari Bupati/Walikota.
(2) Kegiatan pengelolaan sampah yang wajib memiliki izin meliputi :
(3)
(4)
a. pendauran ulang;
b. pengumpulan;
c. pengangkutan;
d. pengolahan; dan
e. pemrosesan akhir.
……
……
Pasal 12
(1)
(2)
(3)
Untuk mendapatkan izin usaha pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 ayat (2), badan usaha harus mengajukan permohonan secara
tertulis kepada Bupati/Walikota dengan melampirkan persyaratan administrasi
dan teknis.
……
……
[Silakan mengatur tentang perizinan di Daerah sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan kabupaten/kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 4 untuk lebih
jelas. Pengaturan perizinan sangat tergantung dari harmonisasi peraturan secara
horizontal, apabila sudah ada pengaturan mengenai tata cara memperoleh izin
dan tata cara pengumumannya maka dalam Perda Pengelolaan Sampah ini tinggal
memerintahkan untuk mengikuti peraturan perundang-undangan. Jika dibutuhkan
pengaturan lebih lanjut silakan tambahkan ayat lain tentang ketentuan mengenai
perizinan agar diatur di dalam peraturan kepala daerah.]
120
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB VI
PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN SAMPAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 13
(1) Pengelolaan sampah terdiri dari:
a. pengurangan sampah; dan
b. penanganan sampah.
(2) Penyelenggaraan pengelolaan sampah dilakukan melalui tahapan perencanaan,
pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan serta pemantauan dan evaluasi
yang terintegrasi antara pemerintah daerah, masyarakat, pengelola kawasan dan
dunia usaha.
Bagian Kedua
Pengurangan Sampah
Pasal 14
(1) Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, meliputi
(2)
kegiatan:
a. pembatasan timbulan;
b. pendauran ulang sampah; dan
c. pemanfaatan kembali sampah.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengurangan sampah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Pasal 15
Pemerintah daerah dalam usaha pengurangan sampah melakukan kegiatan:
a. pemantauan dan supervisi pelaksanaan rencana pemanfaatan bahan produksi
ramah lingkungan oleh pelaku usaha; dan
b. fasilitasi kepada masyarakat dan dunia usaha dalam mengembangkan dan
memanfaatkan hasil daur ulang, pemasaran hasil produk daur ulang, dan guna
ulang sampah.
121
Bagian Ketiga
Penanganan Sampah
Pasal 16
Kegiatan penanganan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b meliputi:
a. pemilahan;
b. pengumpulan;
c. pengangkutan;
d. pengolahan;
e. pemrosesan akhir sampah.
Paragraf 1
Pemilahan sampah
Pasal 17
(1) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a dilakukan
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis
sampah yang terdiri atas:
a. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan
berbahaya dan beracun;
b. sampah yang mudah terurai;
c. sampah yang dapat digunakan kembali;
d. sampah yang dapat didaur ulang; dan
e. sampah lainnya.
Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan
berbahaya dan beracun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a antara
lain kemasan obat serangga, kemasan oli, kemasan obat-obatan, obat-obatan
kadaluarsa, peralatan listrik, dan peralatan elektronik rumah tangga.
Sampah yang mudah terurai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b antara
lain sampah yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan/atau bagian-bagiannya
yang dapat terurai oleh makhluk hidup lainnya dan/atau mikroorganisme seperti
sampah makanan dan serasah.
Sampah yang dapat digunakan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c merupakan sampah yang dapat dimanfaatkan kembali tanpa melalui
proses pengolahan antara lain kertas kardus, botol minuman, dan kaleng.
Sampah yang dapat didaur ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
meirupakan sampah yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses
pengolahan antara lain sisa kain, plastik, kertas, dan kaca.
Sampah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan residu.
122
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Pasal 18
(1)
(2)
Setiap orang wajib melakukan pemilahan sampah pada sumbernya.
Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan
khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya dalam melakukan
pemilahan sampah wajib menyediakan sarana pemilahan dan pewadahan sampah
skala kawasan.
(3) Pemerintah kabupaten/kota menyediakan sarana pemilahan dan pewadahan
sampah skala kabupaten/kota.
(4) Sarana pemilahan dan pewadahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
menggunakan wadah yang tertutup, yang diberi label atau tanda sesuai dengan
jenis sampah.
(5) ……
(6) ……
[Bagian diatas merupakan contoh pengaturan mengenai pemilahan sampah.
Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/
kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas.]
Paragraf 2
Pengumpulan Sampah
Pasal 19
(1)
Pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b dilakukan
melalui kegiatan pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke
TPS dan/atau TPS 3R atau TPST dengan tetap memperhatikan pemilahan sampah
sesuai jenis sampah.
(2) Kegiatan pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b,
meliputi:
a. skala permukiman, menjadi tanggung jawab lembaga pengelola sampah
tingkat kelurahan dan pelaksanaannya dapat dikelola oleh warga yang
dikoordinir oleh RT, RW, serta dapat juga dikelola oleh badan usaha secara
profesional ;
b. skala kawasan, menjadi tanggung jawab pengelola kawasan;
c. skala kabupaten/kota menjadi tanggung jawab lembaga pengelola sampah
tingkat kabupaten/kota.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengumpulan sampah diatur
dengan peraturan bupati/walikota.
(4) ……
(5) ……
[Bagian diatas merupakan contoh pengaturan tentang pengumpulan sampah.
Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/
kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas.]
123
Paragraf 3
Pengangkutan Sampah
Pasal 20
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c dilakukan oleh
pemerintah daerah.
Pemerintah daerah dalam melakukan pengangkutan sampah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1):
a. menyediakan alat angkut sampah yang tidak mencemari lingkungan;
b. mengangkut sampah dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA atau TPST; dan
c. menjaga sampah terpilah tidak tercampur kembali.
Dalam pengangkutan sampah, pemerintah daerah dapat menyediakan stasiun
peralihan antara;
……
……
Pasal 21
Dalam hal terdapat sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta
limbah bahan berbahaya dan beracun, teknis pengangkutan sampah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
[Bagian diatas merupakan contoh pengaturan tentang pengangkutan sampah.
Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/
kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas.]
Paragraf 4
Pengolahan Sampah
Pasal 22
(1) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf d meliputi
kegiatan:
a. pemadatan;
b. pengomposan;
c. daur ulang materi;
d. daur ulang energi; dan/atau
e. pengolahan sampah lainnya dengan teknologi ramah lingkungan.
124
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
(2) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh:
a. setiap orang pada sumbernya;
b. pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri,
kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya; dan
c. pemerintah daerah.
(3) Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan
khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya wajib menyediakan
fasilitas pengolahan sampah skala kawasan yang berupa TPS 3R.
(4) Pengolahan sampah mengutamakan prinsip pengolahan yang terdekat dengan
sumber untuk mengurangi beban pengolahan sampah di TPA.
(5) ……
(6) ……
Pasal 23
(1)
(2)
(3)
(4)
Pengolahan sampah di TPS 3R dapat dikerjasamakan dan/atau diselenggarakan
oleh badan usaha di bidang kebersihan atau persampahan di bawah pembinaan
dan pengawasan Pemerintah Daerah.
Penyediaan lahan TPS 3R di kelurahan dan kecamatan menjadi tanggung jawab
Pemerintah Daerah dan dapat dikerjasamakan dengan pelaku usaha, masyarakat
dan/atau badan usaha dibidang kebersihan atau persampahan.
……
……
Pasal 24
(1)
Pengolahan sampah di TPS 3R harus memenuhi persyaratan teknis dan standar
prasarana dan sarana pengolahan sampah.
(2) Persyaratan teknis dan standar prasarana dan sarana pengolahan sampah di TPS
3R sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan peraturan perundangundangan.
(3) ……
(4) ……
[Bagian diatas merupakan contoh pengaturan tentang pengolahan sampah. Silakan
mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/kota
masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas. Teknologi pengolahan
sampah yang dipilih oleh daerah disesuaikan dengan kondisi daerah dan sebaiknya
dilakukan analisis terlebih dahulu dalam naskah akademik.]
125
Paragraf 5
Pemrosesan Akhir Sampah
Pasal 25
(1)
(2)
Pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf e,
dilakukan di TPA untuk mengembalikan sampah dan/atau residu hasil pengolahan
sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Pemilihan teknologi dan lokasi TPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
memenuhi ketentuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 26
Pemerintah Daerah wajib melakukan penutupan atau rehabilitasi jika TPA tidak
memenuhi kriteria sesuai peraturan perundang-undangan.
BAB VII
PEMBIAYAAN DAN KOMPENSASI
Bagian Kesatu
Pembiayaan
Pasal 27
Sumber pembiyaan pengelolaan sampah berasal dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD); dan
b. sumber pembiayaan lainnya yang sah sesuai Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 28
(1)
(2)
Pembiayaan kegiatan pengolahan sampah yang dilaksanakan oleh masyarakat
menjadi tanggung jawab masyarakat.
Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana
pengolahan sampah yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai kebutuhan.
126
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Pasal 29
(1) Setiap orang yang menggunakan atau menerima manfaat jasa pelayanan
pengelolaan sampah wajib membayar jasa pengelolaan sampah.
(2) Besaran tarif yang dikenakan kepada setiap wajib bayar dihitung berdasarkan
(3)
(4)
(5)
kebutuhan biaya penyediaan jasa pengelolaan sampah yang diberikan menurut
kaidah manajemen usaha dan mempertimbangkan kemampuan secara ekonomi
dan aspek keadilan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai tarif jasa pengelolaan sampah diatur dengan
Peraturan Bupati/Walikota.
……
……
[Bagian diatas merupakan contoh pengaturan mengenai pembiayaan pengelolaan
sampah. Pasal 29 dimaksudkan untuk memayungi agar pengelola sampah di
tingkat kelurahan dapat memungut iuran sampah dari warga yang dilayani yang
dikelola oleh RT/RW setempat. Silahkan untuk pengaturannya didiskusikan
dengan seluruh pemangku kepentingan dan disesuaikan dengan kebijakan daerah,
agar tidak terjadi salah penafsiran/bias dengan Retribusi)
Bagian Kedua
Kompensasi
Pasal 30
(1)
(2)
(3)
(4)
Kompensasi merupakan pemberian imbalan dan/atau
rugi kepada orang
perseorangan, kelompok orang dan/atau badan hukum, yang terkena dampak
negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penanganan sampah di TPA.
Pemerintah Daerah wajib memberikan kompensasi sebagai akibat dampak negatif
yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah.
Kompensasi harus dianggarkan dalam APBD.
Dampak negatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. pencemaran air;
b. pencemaran udara;
c. pencemaran tanah;
d. longsor;
e. kebakaran;dan/atau
f. ledakan gas metan; dan/atau
g. hal lain yang dapat menimbulkan dampak negatif.
127
Pasal 31
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), dapat berbentuk:
a. relokasi penduduk;
b. pemulihan kualitas lingkungan;
c. biaya kesehatan dan pengobatan;
d. penyediaan fasilitas sanitasi dan kesehatan; dan/atau
e. kompensasi dalam bentuk lain.
Untuk memberikan jaminan kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan perusahaan asuransi.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pola kerjasama dengan perusahaan asuransi
diatur melalui Peraturan Bupati/Walikota.
……
……
Pasal 32
Tata cara pemberian kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1)
dilaksanakan melalui:
a. pengajuan surat pengaduan kepada Pemerintah Daerah;
b. pemerintah daerah melakukan investigasi atas kebenaran dan dampak negatif
pengelolaan sampah; dan
c. menetapkan bentuk kompensasi yang diberikan berdasarkan hasil investigasi dan
hasil kajian.
[Bagian diatas ini merupakan contoh pengaturan mengenai kompensasi. Ketentuan
yang ada disini perlu dikaji karna harus disesuaikan dengan kelembagaan, muatan
lokal, dan kearifan lokal daerah masing-masing. Silakan mengatur sesuai dengan
kebutuhan daerah]
BAB VIII
PERAN MASYARAKAT
Pasal 33
(1)
Masyarakat dapat berperan aktif dalam pengolahan sampah dengan cara:
a. meningkatkan kemampuan, kemandirian, keberdayaan dan kemitraan
dalam pengelolaan sampah;
b. ……
c. ……
[pengaturan peran serta masyarakat yang diharapkan oleh daerah pembentuk
perda disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing]
128
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
(2)
Pelaku usaha dapat berperan aktif dalam kegiatan pengolahan sampah melalui
kegiatan:
a. penyediaan dan/atau pengembangan teknologi pengolahan sampah;
b. bantuan prasarana dan sarana;
c. bantuan inovasi teknologi pengolahan sampah;dan
d. pembinaan pengolahan sampah kepada masyarakat.
e. ……
f.
……
[pengaturan peran serta pelaku usaha yang diharapkan oleh daerah pembentuk
perda disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing]
Pasal 34
(1)
Setiap orang yang mengetahui, menduga dan/atau menderita kerugian akibat
dampak negatif yang ditimbulkan dalam kegiatan pengelolaan sampah dapat
menyampaikan pengaduan kepada ……..
(2) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan dengan
cara……
(3) ……
(4) ……
[pengaturan mengenai tata cara pengaduan diatur sesuai dengan kelembagaan dan
muatan lokal daerah masing-masing]
BAB IX
RETRIBUSI
Pasal 35
(1) Pemerintah daerah dapat mengenakan retribusi atas ……..
(2) ……
(3) ……
[Pengaturan retribusi ini sebaiknya tidak diatur dalam Perda Pengelolaan Sampah
ini, namun dapat diatur dalam perda kabupaten/kota yang khusus mengatur
tentang retribusi daerah. Oleh karena itu, terlebih dahulu perlu dilakukan
harmonisasi secara vertikal dan horisontal terhadap peraturan perundangundangan dan kelembagaan di daerah, kemudian rumusan mengenai retribusi ini
dimasukkan kedalam kajian pada naskah akademik.]
129
BAB X
LEMBAGA PENGELOLA
Pasal 36
(1)
(2)
(3)
Penyelenggaraan pengelolaan sampah dilaksanakan oleh lembaga pengelola
sampah.
Pemerintah daerah membentuk Lembaga pengelola sampah sebagai operator
pengelolaan sampah.
………
Pasal 37
Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga pengelola sampah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 diatur dengan peraturan bupati/walikota.
[Apabila Daerah ingin mengatur tentang Bank Sampah, Lembaga Pengelola
Sampah Tingkat Kelurahan (LPSTK), dan lembaga pengelola sampah lainnya yang
berbasis masyarakat, silahkan diatur sesuai dengan kebutuhan daerah. Pengaturan
kelembagaan sebagai operator dalam pengelolaan sampah, sebaiknya disesuaikan
dengan kelembagaan dan kebijakan dan strategi daerah pembentuk perda]
BAB XI
KERJASAMA
Bagian Kesatu
Kerjasama Antar Daerah
Pasal 38
(1)
(2)
Pemerintah Daerah dapat melakukan kerjasama antar Pemerintah Daerah dalam
penyelenggaraan pengelolaan sampah.
Bentuk dan pola kerjasama antar daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan.
130
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Bagian Kedua
Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha
Pasal 39
(1) Pemerintah Daerah dapat melaksanakan Kerjasama Pemerintah dengan Badan
Usaha (KPBU) dalam pengelolaan sampah.
(2) KPBU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai peraturan
perundang-undangan.
(3) ……
(4) ……
BAB XII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Kesatu
Pembinaan
Pasal 40
(1)
Pemerintah Daerah melakukan pembinaan terhadap pengelolaan sampah, antara
lain melalui kegiatan:
a. …….
b. …….
(2)……..
[Silahkan mengatur pembinaan yang diharapkan oleh masing-masing daerah]
Bagian Kedua
Pengawasan
Pasal 41
(1) Pemerintah Daerah melakukan pengawasan pelaksanaan pengelolaan sampah
dengan cara:
a. …..
b. ……
(2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan sampah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. …..
b. ……
[Disesuaikan dengan bentuk pengawasan yang diharapkan oleh masing-masing
daerah]
131
BAB XIII
LARANGAN DAN SANKSI ADMINISTRATIF
Bagian Kesatu
Larangan
Pasal 42
Setiap orang dilarang:
a. membuang sampah sembarangan tidak pada tempat yang telah ditentukan dan
disediakan;
b. …
c. ….
[Silakan mengatur larangan di dalam pengelolaan sampah. Isi larangan disesuaikan
dengan keadaan sosial budaya, kearifan lokal dan kebutuhan daerah masingmasing]
Bagian Kedua
Sanksi Administratif
Pasal 43
(1) Sanksi administratif dilakukan oleh Kepala Daerah terhadap pengelola sampah
yang melanggar ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan dalam izin;
(2) Sanksi administratif sebagimana dimaksud pada ayat (1), yang diterapkan dapat
berupa:
a. ....
b. ....
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan mekanisme penerapan sanksi
administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Bupati/Walikota.
[Silakan mengatur bentuk, tata cara dan mekanisme penerapan sanksi
administratif. Isinya diatur sesuai dengan sosial budaya, kearifan lokal dan
kebutuhan daerah masing-masing]
132
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
BAB XIV
KETENTUAN PIDANA
Pasal 44
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Setiap
Setiap
Setiap
Setiap
Setiap
orang yang membuang sampah tidak pada tempatnya…
orang yang melakukan pembakaran sampah…
orang yang…
pelaku usaha yang…
produsen yang…
[Silakan membuat pengaturan dalam ketentuan pidana. Isinya disesuaikan dengan
keadaan sosial budaya masyarakat, kearifan lokal dan kebutuhan daerah masingmasing]
BAB XV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 45
(1) ………
(2) ……
[Silahkan masing-masing daerah mengatur aturan peralihan sesuai dengan
kebutuhan daerah masing-masing]
BAB XVI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 46
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Nomor ….. Tahun
……. tentang …………………….., dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
[Bagian diatas ini digunakan apabila sebelumnya terdapat Perda tentang
Pengelolaan Sampah yang lama yang ingin dicabut]
133
Pasal 47
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota
……………….
Ditetapkan di ……….
pada tanggal ………
BUPATI/WALIKOTA ……………..
NAMA BUPATI/WALIKOTA
Diundangkan di……..
pada tanggal………….
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN/KOTA ………..,
………………………………….
NIP. ……………………………
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN/KOTA …..…TAHUN….….NOMOR….
134
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
135
136
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA..........
NOMOR…TAHUN…
TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH
I.
UMUM
[Memuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran, maksud
dan tujuan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan
Sampah yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans, serta
asas, tujuan atau materi pokok yang terkandung dalam batang tubuh.]
II.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Huruf a
Asas ...... adalah ......
Huruf b
Asas ...... adalah ......
Huruf c
Asas ...... adalah ......
Pasal 3
Cukup jelas
137
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Ayat (1)
Yang dimaksud dokumen perencanaan daerah tentang pengelolaan
sampah meliputi:
a. Rencana Induk;
b. Studi Kelayakan; atau
c. Perencanaan Teknis dan Manajemen Persampahan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
138
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “pembatasan timbulan sampah” adalah
upaya meminimalisasi timbulan sampah yang dilakukan sejak
sebelum dihasilkannya suatu produk dan/atau kemasan produk
sampai dengan saat berakhirnya kegunaan produk dan/atau
kemasan produk. Contoh implementasi pembatasan timbulan
sampah antara lain:
1.
penggunaan barang dan/atau kemasan yang dapat di
daur ulang dan mudah terurai oleh proses alam;
2.
membatasi penggunaan kantong plastik; dan/atau
3.
menghindari penggunaan barang dan/atau kemasan
sekali pakai.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pendauran ulang sampah” adalah upaya
memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna setelah
melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “pemanfaatan kembali sampah” adalah
upaya untuk mengguna ulang sampah sesuai dengan fungsi
yang sama atau fungsi yang berbeda dan/atau mengguna ulang
bagian dari sampah yang masih bermanfaat tanpa melalui suatu
proses pengolahan terlebih dahulu.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
139
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
140
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
141
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN/KOTA.........NOMOR..........
142
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
143
144
PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
PENYUSUN
TIM PENGARAH:
Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE,ME
Ir. Dodi Krispratmadi, M.Env.E
TIM PENYUSUN:
Marsaulina FMP
Dadang Suryana
Sabbath Marchend
Raminatha P. Uno
Siti Nursanti
Budiaf
DESAIN & TATA LETAK:
Haposan Sihotang
Haria Ikbal
SukaSeni Studio
FOTO:
Kementerian Pekerjaan Umum danPerumahan Rakyat
dan dari berbagai sumber
DICETAK DI INDONESIA, PENERBIT :
Direktorat PPLP
Ditjen Cipta Karya
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
145
Download