PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN D I R E K T O R A T J E N D E R A L C I P T A K A R Y A KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT 2017 01 02 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb, Salam sejahtera untuk kita semua, Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, persampahan merupakan salah satu sub urusan dari urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang yang termasuk kedalam urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Oleh karena itu, urusan persampahan menjadi tugas, wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Daerah yang wajib untuk diselenggarakan. Namun demikian, belum semua Pemerintah Kabupaten/Kota memprioritaskan penyediaan prasarana dan sarana persampahan yang layak dalam pembangunan daerah. Arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 mengamanatkan bahwa pada tahun 2019, Indonesia mencapai 100% akses (universal access) terhadap sanitasi (air limbah dan persampahan). Salah satu strategi yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mencapai universal access tersebut adalah dengan menyiapkan norma, standar, pedoman dan kriteria (NSPK) serta mendorong Daerah Kabupaten/Kota untuk membentuk regulasi/produk hukum di Daerah tentang pengelolaan sampah. Dalam rangka mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota untuk membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menyusun buku Panduan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Buku panduan ini berisikan informasi umum mengenai Peraturan Daerah, Tahapan Pembentukan Peraturan Daerah, Penyusunan Naskah Akademik dan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Pengelolaan Sampah. Semoga buku panduan ini memberikan manfaat bagi para pihak dalam menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Wassalamualaikum Wr. Wb. Jakarta, Maret 2017 Direktur Jenderal Cipta Karya Ir. SRI HARTOYO, Dipl, SE, ME. 03 04 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DAFTAR ISI 1. UMUM 9 1.1 PENDAHULUAN9 1.2 PERATURAN DAERAH12 1.2.1 Kedudukan Peraturan Daerah13 1.2.2 Fungsi Peraturan Daerah14 1.2.3 Landasan Pembentukan Peraturan Daerah14 1.2.4 Asas dan Prinsip Pembentukan Peraturan Daerah 15 1.2.5 Kewenangan Pembentukan Perda17 2. TAHAPAN PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH 25 2.1 PERENCANAAN25 2.1.1 Penyusunan Program Pembentukan Perda (Propemperda) 25 2.1.2 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Kumulatif Terbuka27 2.1.3 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Di Luar Propemperda27 2.2 PENYUSUNAN27 2.2.1 Penyusunan Naskah Akademik28 2.2.2 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah Daerah29 2.2.3 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan DPRD 31 2.3 PEMBAHASAN32 2.4 PENETAPAN35 2.4.1 Pemberian Nomor Register35 05 2.4.2 Penandatanganan36 2.4.3 Penomoran36 2.5 PENGUNDANGAN36 2.6 PENYEBARLUASAN37 3. PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK41 3.1 UMUM42 3.2 SISTEMATIKA42 3.3 TAHAPAN PENYUSUNAN56 4. PENYUSUNAN RANCANGAN PERDA PENGELOLAAN SAMPAH 59 4.1 TEKNIK PENYUSUNAN59 4.1.1 Judul Rancangan Peraturan Daerah59 4.1.2 Pembukaan60 4.1.3 Batang Tubuh Rancangan Peraturan Daerah 64 4.1.4 Penutup68 4.1.5 Penjelasan69 4.2 MATERI MUATAN70 5. LAMPIRAN CONTOH RANCANGAN PERDA TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH113 06 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DAFTAR TABEL Tabel 4-1 Tabel Materi Muatan Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah84 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Tahapan Penyusunan Propemperda26 Gambar 2. Alur Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah Daerah30 Gambar 3. Diagram Alur Pembahasan Rancangan Perda 35 Gambar 4. Alur Penyusunan Naskah Akademik di Lingkungan Pemerintah Daerah57 07 08 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB 1 1.1 UMUM PENDAHULUAN Saat jumlah penduduk masih sedikit, sampah tidak menjadi masalah. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk serta perubahan gaya hidup, timbulan sampah menjadi semakin banyak baik jumlah maupun variasinya, sehingga menimbulkan masalah yang membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Selain itu, akibat jumlah penduduk yang semakin banyak dan ketersediaan lahan yang semakin berkurang, Pemerintah Daerah semakin kesulitan mendapatkan lahan untuk pengolahan sampah, seperti: tempat penampungan sementara (TPS), tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), dan tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Padahal pemerintah daerah wajib menyediakan prasarana dan sarana pengolahan sampah, karena negara melalui Undang Undang (UU) No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah memberikan tugas dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat dan pelaku usaha untuk melakukan pengelolaan (pengurangan dan penanganan) sampah sesuai standar yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Selama ini, sebagian pemerintah daerah dan masyarakat memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna. 09 Pemerintah daerah dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke TPA sampah tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Akibatnya, TPA sampah tidak mampu menampung timbulan sampah, sehingga akhirnya sampah bertumpuk sembarangan, mencemari lingkungan dan berpotensi melepaskan gas metana (CH4) ke udara yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Paradigma pengelolaan sampah bertumpu pada pendekatan akhir tersebut, sudah saatnya ditinggalkan dan diganti paradigma baru, yaitu mengurangi sampah mulai dari sumber dan memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan, misalnya untuk energi, kompos/pupuk, atau untuk bahan baku industri. Hal tersebut dilakukan melalui kegiatan pengurangan dan penanganan sampah, dimana Pengurangan sampah meliputi: kegiatan pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi: pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir. Pengelolaan sampah sudah seharusnya dilakukan dengan pendekatan komprehensif mulai dari hulu1 sampai ke hilir2. Pendekatan pengelolaan sampah selama ini lebih mengedepankan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pelaksanaannya. Namun sejalan dengan penerapan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah melainkan juga menjadi kewajiban masyarakat, termasuk pelaku usaha. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama-sama masyarakat dan pelaku usaha perlu mengubah paradigma pengelolaan sampah melalui kegiatan pengurangan dan penanganan sampah, agar sampah menjadi berkurang sebelum akhirnya diproses secara aman di TPA. Perubahan paradigm pengelolaan sampah tersebut membawa konsekuensi hukum kepada pemerintah daerah yang diberikan tugas dan wewenang UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah untuk memenuhi hak masyarakat dan memfasilitasi kewajiban masyarakat dalam melaksanakan pengurangan dan penanganan sampah dengan cara 3R, yaitu Reduce (mengurangi timbulan), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). 1 2 sejak sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, kemudian dikembalikan ke media lingkungan secara aman 10 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Tahun 1945) memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Amanat UUD Tahun 1945 tersebut memberikan konsekuensi bahwa pemerintah wajib memberikan pelayanan publik dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut membawa konsekuensi hukum bahwa pemerintah merupakan pihak yang berwenang dan bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah, meskipun secara operasional dapat bekerjasama dan bermitra dengan badan usaha. Selain itu, organisasi persampahan dan kelompok masyarakat yang bergerak di bidang persampahan dapat diikutsertakan dalam kegiatan pengelolaan sampah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam rangka menyelenggarakan pengelolaan sampah secara terpadu dan komprehensif, pemenuhan hak dan kewajiban masyarakat, serta tugas dan wewenang Pemerintahan Daerah melaksanakan sub urusan persampahan pada bidang pekerjaan umum dan penataan ruang sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, diperlukan dasar hukum dalam bentuk peraturan daerah yang mengatur pengelolaan sampah. Selain itu, di dalam pengelolaan sampah tidak saja diperlukan aspek peran serta aktif masyarakat dan aspek hukum dalam bentuk peraturan daerah, melainkan aspek kelembagaan dan manajemen, aspek teknis operasional seperti prasarana dan sarana, dan pembiayaan. Aspek tersebut dalam satu sistem pengelolaan 11 sampah yang dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Untuk memberikan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah daerah serta hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku usaha, diperlukan dasar hukum yang mengatur secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir, sehingga penyelenggaraan pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif, dan efisien. Untuk membantu pemerintah daerah dalam menyusun rancangan peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan sampah, strategi yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) c/q Direktorat Jenderal Cipta Karya, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (Direktorat Pengembangan PLP) antara lain dengan memfasilitasi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah melalui kegiatan Bantuan Teknis (Bantek), dengan tujuan percepatan terbentuknya peraturan daerah tentang pengelolaan sampah. Dalam rangka kelancaran penyelenggaraan Bantek, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membuat Panduan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. 1.2 PERATURAN DAERAH Berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, peraturan daerah merupakan salah satu jenis peraturan perundang-undangan, yaitu peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Peraturan daerah selain melaksanakan ketentuan lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi juga dapat mengatur aspek khusus di bidang tertentu yang terdapat atau dibutuhkan daerah dan/atau masyarakat. Peraturan daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (6) UUD Tahun 1945. 12 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 1.2.1 Kedudukan Peraturan Daerah Pasal 1 ayat (3) UUD Tahun 1945 menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini bermakna bahwa Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) dan bukan negara kekuasaan (machtstaat). Dengan demikian, penyelenggaraan kekuasaan negara didasarkan pada prinsip-prinsip hukum sebagai landasan untuk menjalankan program pembangunan nasional. Ketentuan pasal 1 ayat (3) UUD 1945 tersebut adalah sebagai bentuk titah konstitusi kepada seluruh rakyat Indonesia terutama para pejabat di tataran pemerintahan baik di pusat maupun di daerah untuk dapat memposisikan hukum sebagai titik tolak dalam bertingkah laku dan merumuskan kebijakan publik. Sebagai negara hukum dalam mengimplementasikan berbagai produk hukum menggunakan teori norma hukum yang berjenjang (hirarki) dalam artian bahwa produk hukum yang berada dibawahnya tidak boleh bertentangan dengan produk hukum yang lebih tinggi diatasnya (lex superior derogat legi inferior). Hal ini sebagaimana diimplementasikan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menyebutkan hirarki norma hukum yang dianut sebagai berikut: 1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945; 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; 3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; 4. Peraturan Pemerintah; 5. Peraturan Presiden; 6. Peraturan Daerah Provinsi; dan 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Jenis peraturan perundang-undangan lain mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, 13 Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat, diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Peraturan daerah menurut UU Nomor 12 Tahun 2011 dibedakan menjadi peraturan daerah provinsi dan peraturan daerah kabupaten/kota. Lingkup berlakunya peraturan daerah terbatas pada daerah bersangkutan, sedangkan lingkup berlakunya peraturan menteri mencakup seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, maka dalam hirarki peraturan perundang-undangan, peraturan menteri berada di atas peraturan daerah.3 1.2.2 Fungsi Peraturan Daerah Secara umum peraturan daerah mempunyai berbagai fungsi antara lain: a. sebagai instrumen kebijakan untuk melaksanakan otonomi daerah dan pembantuan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; b. sebagai peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam fungsi ini, peraturan daerah tunduk pada ketentuan hirarki peraturan perundang-undangan. Sehubungan itu, peraturan daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi; c. sebagai instrumen penampung kekhususan dan keragaman daerah serta penyalur aspirasi masyarakat di daerah, namun dalam pengaturannya tetap dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; d. sebagai instrumen/alat pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. 1.2.3 Landasan Pembentukan Peraturan Daerah Dalam pembentukan peraturan daerah paling sedikit memuat 3 (tiga) landasan yaitu: a. Landasan filosofis, adalah landasan yang berkaitan dengan dasar atau ideologi Negara; 3 Kementerian Hukum dan Hak asasi Manusia RI, “Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah” 14 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH b. Landasan sosiologis, adalah landasan yang berkaitan dengan kondisi atau kenyataan empiris yang hidup dalam masyarakat, dapat berupa kebutuhan atau tuntutan yang dihadapi oleh masyarakat, kecenderungan, dan harapan masyarakat; dan c. Landasan yuridis, adalah landasan yang berkaitan dengan kewenangan untuk membentuk, kesesuaian antara jenis dan materi muatan, tata cara atau prosedur tertentu, dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 1.2.4 Asas dan Prinsip Pembentukan Peraturan Daerah Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan termasuk peraturan daerah, asas pembentukan peraturan perundang-undangan harus diperhatikan, sebagaimana tercantum pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, meliputi: a. Kejelasan Tujuan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. b. Kelembagaan atau Pejabat Pembentuk yang Tepat, bahwa setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang karena peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga Negara atau pejabat yang tidak berwenang. c. Kesesuaian Antara Jenis, Hirarki, dan Materi Muatan, bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hirarki peraturan perundangundangan. d. Dapat Dilaksanakan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundangundangan harus memperhitungkan efektivitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis. e. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan, bahwa setiap peraturan perundangundangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 15 f. Kejelasan Rumusan, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. g. Keterbukaan, bahwa dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan, seluruh lapisan masyarakat perlu diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengetahui dan memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan agar peraturan yang terbentuk menjadi populis dan efektif. Dalam kerangka pembentukan peraturan perundang-undangan termasuk Peraturan Daerah dibentuk berdasarkan beberapa prinsip antara lain sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 16 Prinsip tata susunan peraturan perundang-undangan atau lex superior derogate legi inferiori, peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Prinsip lex specialis derogate legi generalis, peraturan perundang-undangan yang lebih khusus mengenyampingkan peraturan perundang-undangan yang lebih umum. Prinsip lex posterior derogate legi priori, bahwa peraturan perundangundangan yang lahir kemudian mengenyamping-kan peraturan perundangundangan yang lahir terlebih dahulu jika materi yang diatur peraturan perundangundangan tersebut sama. Prinsip keadilan, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan bagi setiap warga negara tanpa terkecuali. Prinsip kepastian hukum, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus dapat menjamin kepastian hukum dalam upaya menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Prinsip pengayoman, bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 7. 8. Prinsip mengutamakan kepentingan umum, bahwa dalam peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keseimbangan antara berbagai kepentingan dengan mengutamakan kepentingan umum. Prinsip kebhinekatunggalikaan, bahwa materi muatan peraturan perundangundangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, sistem nilai masyarakat daerah, khususnya yang menyangkut masalah-masalah yang sensitif dalam kehidupan masyarakat. 1.2.5 Kewenangan Pembentukan Perda Kewenangan pembentukan Peraturan Daerah berada pada Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mengenai dasar kewenangan pembentukan Peraturan Daerah diatur dalam: a. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa ”Pemerintah Daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan” b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Pasal 65 ayat (2) huruf b, Pasal 154 ayat (1) huruf a, Pasal 236 ayat (2), dan Pasal 242 (1)), yang masing-masing pasal tersebut sebagai berikut: Pasal 65 ayat (2) huruf b, ”Kepala Daerah mempunyai tugas dan wewenang menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD” Pasal 154 ayat (1) huruf a, ”DPRD mempunyai tugas dan wewenang membentuk Perda yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama” Pasal 236 ayat (2), ”Perda dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama Kepala Daerah ” Pasal 242 ayat (1), “Rancangan Perda Yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan menjadi Perda” Berdasarkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, persampahan merupakan sub urusan dari urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang. Urusan tersebut termasuk urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar sebagaimana 17 ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka wajib diselenggarakan semua daerah. Meskipun demikian, bukan berarti pemerintah pusat dan Provinsi tidak memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan sub urusan persampahan. Pembagian kewenangan sub urusan persampahan sebagai berikut: 1. Pemerintah Pusat a. Penetapan pengembangan sistem pengelolaan persampahan secara nasional. b. Pengembangan sistem pengelolaan persampahan lintas Daerah provinsi dan sistem pengelolaan persampahan untuk kepentingan strategis nasional 2. Daerah Provinsi Pengembangan sistem dan pengelolaan persampahan regional 3.Daerah Kabupaten/Kota Pengembangan sistem dan pengelolaan persampahan dalam daerah kabupaten/ kota Pembagian kewenangan dalam penyelenggaraan sub urusan persampahan tersebut di atas, memberikan makna penyelenggaraan pengelolaan persampahan tidak hanya menjadi tugas, wewenang, dan tanggung jawab daerah kabupaten/kota melainkan juga menjadi tugas, wewenang, dan tanggung jawab daerah provinsi dan pemerintah pusat. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menetapkan kebijakan dan strategi nasional melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP). Secara khusus, negara memberikan tugas dan wewenang kepada Pemerintah (Pusat) dan Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dalam pengelolaan sampah sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9 UU No. 18 Tahun 2008. Selengkapnya pembagian tugas dan wewenang tersebut sebagai berikut: 1. Tugas Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan pengelolaan sampah, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. 18 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Tugas pemerintah dan pemerintahan daerah tersebut. terdiri atas: a. menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah; b. melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan, dan penanganan sampah; c. memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah; d. melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah; e. mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil pengolahan sampah; f. memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang berkembang pada masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani sampah; dan g. melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah. 2. Wewenang a. Pemerintah (Pusat) Dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, pemerintah pusat mempunyai kewenangan sebagai berikut: (1) menetapkan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah; (2) menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria pengelolaan sampah; (3) memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antardaerah, kemitraan, dan jejaring dalam pengelolaan sampah; (4) menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah; (5) menetapkan kebijakan penyelesaian perselisihan antardaerah dalam pengelolaan sampah. b. Pemerintah Provinsi Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan provinsi mempunyai kewenangan sebagai berikut: (1) menetapkan kebijakan dan strategi dalam pengelolaan sampah sesuai dengan kebijakan Pemerintah; (2) memfasilitasi kerja sama antardaerah dalam satu provinsi, kemitraan, 19 dan jejaring dalam pengelolaan sampah; (3) menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah; (4) memfasilitasi penyelesaian perselisihan pengelolaan sampah antarkabupaten/antarkota dalam 1 (satu) provinsi. c. Pemerintah Kabupaten/Kota Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan kabupaten/ kota mempunyai kewenangan sebagai berikut: (1) menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi; (2) menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota, antara lain, berupa penyediaan tempat penampungan sampah, alat angkut sampah, tempat penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/ atau tempat pemrosesan akhir sampah sesuai norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah; (3) melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain; (4) menetapkan lokasi tempat penampungan sementara (TPS), tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dan/atau tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan; (5) melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup; (6) menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya. Berdasarkan tugas dan wewenang tersebut di atas, pemerintahan kabupaten/kota mendapatkan wewenang atribusi yaitu pemberian wewenang oleh pembuat undangundang atau pemberian kewenangan kepada Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan oleh Undang-Undang sebagaimana termuat dalam Pasal 1 UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Tidak ada wewenang tanpa tanggung jawab, karena itu pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab pemerintahan kabupaten/kota untuk melaksanakan tugas yang diberikan UU No. 18 Tahun 2008. Tugas dan wewenang penyelenggaraan pengelolaan sampah diberikan kepada pemerintah kabupaten/ kota, yaitu Kepala Daerah (Bupati/Walikota) dan perangkat daerah selaku unsur 20 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH penyelenggara pemerintahan daerah. Sehubungan itu, pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah harus ada perangkat daerah untuk melaksanakan tugas dan wewenang yang diberikan oleh UU No. 18 Tahun 2008. UU No. 18 Tahun 2008 juga memberikan tanggung jawab pengelolaan sampah kepada masyarakat dan pelaku usaha sebagaimana diatur dalam pasal berikut ini. Pasal 12 ayat (1) Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan. Pasal 13 Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah. 21 Pasal 14 Setiap produsen harus mencantumkan label atau tanda berhubungan dengan pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya. Pasal 15 Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam. Berdasarkan uraian di atas, pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah diperlukan dalam rangka: (a) kepastian hukum bagi masyarakat mendapatkan pelayanan pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan; (b) ketertiban dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah; (c) kejelasan tugas, wewenang, dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah; (d) kejelasan hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah. 22 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 23 24 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB 2 TAHAPAN PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH Pasal 1 angka 18 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah menyebutkan bahwa Pembentukan Perda adalah pembuatan peraturan perundang-undangan daerah yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, penetapan, pengundangan dan penyebarluasan. Usulan pembentukan produk hukum daerah (dalam hal ini adalah Peraturan Daerah) dapat berasal dari dua jalur, yaitu atas usulan eksekutif (Pemerintah Daerah) dan atas usulan legislatif (DPRD). Proses dalam tiap-tiap tahapan tersebut sebagai berikut: 2.1 PERENCANAAN Tahapan perencanaan penyusunan peraturan daerah menurut Pasal 10 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah, sebagai berikut: (1) penyusunan Program Pembentukan Perda (PropemPerda); (2) perencanaan penyusunan Rancangan Perda kumulatif terbuka; (3) perencanaan penyusunan Rancangan Perda di luar Propemperda. 2.1.1 Penyusunan Program Pembentukan Perda (Propemperda) Secara umum tahapan penyusunan Propemperda ada 4 (empat) tahap (lihat Gambar 1 dibawah), yaitu: 1. Penyusunan Daftar Rancangan Perda Pada tahap penyusunan daftar Rancangan Perda, baik eksekutif maupun legislatif masing-masing dapat menyusun usulan Rancangan Perda yang akan disusun selama 1 tahun ke depan. Untuk penyusunan Propemperda yang berasal dari eksekutif, dikoordinasikan oleh pimpinan perangkat daerah yang membidangi hukum, sedangkan untuk penyusunan Propemperda yang berasal dari DPRD, 25 koordinasinya dilakukan oleh Badan Pembentukan Perda (Bapemperda). Penyusunan daftar Rancangan Perda tersebut didasarkan pada: - Perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi; - Rencana pembangunan daerah; - Penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan; dan - Aspirasi masyarakat daerah. 2. Penyusunan Daftar Urutan Berdasarkan Skala Prioritas Setelah daftar Rancangan Perda disusun pada nomor 1 diatas, tahap selanjutnya adalah penyusunan daftar urutan yang ditetapkan berdasarkan skala prioritas. Penetapan skala prioritas pembentukan Rancangan Perda dilakukan oleh Bapemperda dan perangkat daerah yang membidangi hukum berdasarkan kriteria: - Perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi - Rencana pembangunan daerah; - Penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan; dan - Aspirasi masyarakat daerah. 3. Penyepakatan Hasil Penyusunan Propemperda Hasil penyusunan Propemperda antara DPRD dan pemerintah daerah disepakati menjadi Propemda. 4. Penetapan Propemperda Propemperda yang telah disepakati bersama kemudian ditetapkan dalam rapat paripurna DPRD dengan keputusan DPRD. Penyusunan Daftar Rancangan Perda Penyusunan Daftar Urutan berdasarkan Skala Prioritas Penyepakatan Hasil Penyusunan Propemperda Penetapan Propemperda Gambar 1. Tahapan Penyusunan Propemperda 26 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 2.1.2 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Kumulatif Terbuka Rancangan Perda kumulatif terbuka merupakan Rancangan Perda di luar daftar prioritas pada Propemperda yang dalam keadaan tertentu dapat diajukan penyusunannya. Adapun yang dapat dimuat dalam daftar kumulatif terbuka adalah Rancangan Perda: a. akibat putusan Mahkamah Agung; dan b. APBD 2.1.3 Perencanaan Penyusunan Rancangan Perda Di Luar Propemperda Dalam keadaan tertentu, penyusunan Rancangan Perda di luar daftar Propemperda dapat dilakukan dengan alasan sebagai berikut: a. Mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam; b. Menindaklanjuti kerja sama dengan pihak lain; c. Mengatasi keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu Rancangan Perda yang disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang pembentukan Perda dan unit yang menangani bidang hukum pada pemerintah daerah; d. Akibat pembatalan oleh Menteri Dalam Negeri untuk Perda provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk Perda kabupaten/kota; dan e. Perintah dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi setelah PropemPerda ditetapkan. 2.2 PENYUSUNAN Tahap penyusunan Rancangan Perda merupakan tahap penyiapan sebelum sebuah Rancangan Perda dibahas bersama antara DPRD dan pemerintah daerah. Penyusunan ini dilakukan berdasarkan daftar Rancangan Perda pada PropemPerda dan usulannya dapat berasal dari eksekutif maupun legislatif. Secara umum, untuk menyusun sebuah Rancangan Perda, pertama-tama diawali oleh penyusunan naskah akademik. Dari naskah akademik inilah, suatu Rancangan Perda nantinya akan dirumuskan. 27 2.2.1 Penyusunan Naskah Akademik Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah, naskah akademik merupakan dokumen yang harus disertakan dalam pengajuan Rancangan Perda dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rancangan Perda. Naskah akademik paling sedikit memuat pokok pikiran dan materi muatan yang akan diatur dalam Perda. Untuk penyusunan Rancangan Perda yang diusulkan oleh pihak eksekutif, naskah akademik disusun/disiapkan oleh pimpinan perangkat daerah pemrakarsa dengan mengikutsertakan perangkat daerah yang membidangi masalah hukum (Bagian Hukum kabupaten/kota). Sedangkan untuk Rancangan Perda yang disulkan oleh legislatif, penyusunan naskah akademiknya dikoordinasikan oleh Bapemperda. Dalam melakukan penyusunan naskah akademik di lingkungan pemerintah daerah, pemrakarsa dapat mengikutsertakan instansi vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan pihak ketiga yang memiliki keahlian sesuai dengan Perda yang akan disusun. Setelah itu, perangkat daerah yang membidangi hukum melakukan penyelarasan naskah akademik Rancangan Perda terhadap sistematika dan materi muatan. Naskah akademik yang sudah diselaraskan ini yang kemudian menjadi pedoman dalam penyusunan Rancangan Perda. 28 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 2.2.2 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah Daerah Untuk penyusunan Rancangan Perda di lingkungan pemerintah daerah setelah naskah akademik disusun dan diselaraskan, secara lebih rinci adalah sebagai berikut: 1. Penyusunan rancangan peraturan daerah. Tahapan dalam penyusunan rancangan peraturan daerah adalah sebagai berikut: - Kepala Daerah memerintahkan perangkat daerah pemrakarsa untuk melakukan penyusunan Rancangan Perda berdasarkan daftar pada propemperda. - Kepala Daerah membentuk tim penyusunan Rancangan Perda melalui surat keputusan (SK) Kepala Daerah. Tim penyusun tersebut terdiri dari seorang ketua yang ditunjuk langsung oleh perangkat daerah pemrakarsa. Jika ketua tim yang ditunjuk bukanlah pimpinan perangkat daerah pemrakarsa sendiri, maka pimpinan perangkat daerah pemrakarsa tersebut tetap bertanggungjawab terhadap materi muatan dalam Rancangan Perda yang disusun. Keanggotaan tim penyusun terdiri dari: • Kepala Daerah; • Sekretaris Daerah; • perangkat daerah pemrakarsa; • perangkat daerah yang membidangi hukum; • perangkat daerah terkait lainnya; dan • perancang peraturan perundang-undangan. - Dalam melaksanakan tugasnya, ketua tim penyusun memberikan laporan kepada Sekretaris Daerah mengenai perkembangan dan permasalahan dalam penyusunan Rancangan Perda untuk mendapatkan arahan atau keputusan. - Rancangan Perda yang telah disusun pada langkah sebelumnya kemudian diberikan paraf bersama oleh ketua tim dan perangkat daerah pemrakarsa. - Selanjutnya, ketua tim penyusun menyampaikan hasil Rancangan Perda yang telah disusun kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah untuk selanjutnya dilakukan harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi. 29 Penyusunan Penjelasan atau Keterangan dan/atau Nasakah Akademik Penyusunan Rancangan Perda Harmonisasi, Pembulatan, dan Pemantapan Konsepsi Pemberian Paraf Persetujuan Konsep Akhir Rancangan Perda Gambar 2. Alur Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan Pemerintah Daerah 2. Harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi. Tahapan kegiatan harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi adalah sebagai berikut: • • • 30 Sekretaris Daerah menugaskan kepada perangkat darah yang membidangi hukum untuk mengkoordinasikan kegiatan harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi. Dalam koordinasi oleh perangkat daerah yang membidangi hukum, rapat/ pembahasan dilakukan untuk harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi Rancangan Perda. Rancangan Perda hasil pengharmonisasian, pembulatan dan pemantapan konsepsi kemudian disampaikan oleh Sekretaris Daerah kepada perangkat daerah pemrakarsa dan pimpinan perangkat daerah lainnya (yang tergabung di Tim Penyusun) untuk mendapatkan paraf persetujuan pada setiap halaman Rancangan Perda. PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH • • Sekretaris Daerah menyampaikan Rancangan Perda yang telah diparaf pada tahap sebelumnya kepada Kepala Daerah untuk mendapatkan paraf persetujuan sebagai konsep akhir Rancangan Perda. Sebelum konsep akhir Rancangan Perda disampaikan oleh Kepala Daerah ke DPRD untuk pembahasan, ketua tim penyusun harus memaparkan konsep akhir Rancangan Perda tersebut kepada Kepala Daerah. 2.2.3 Penyusunan Rancangan Perda di Lingkungan DPRD Untuk penyusunan Rancangan Perda di lingkungan DPRD, beberapa hal yang diatur sebagai berikut: 1. Rancangan Perda dapat diajukan oleh anggota DPRD, komisi, gabungan komisi, atau BapemPerda berdasarkan daftar pada PropemPerda. Rancangan tersebut disampaikan secara tertulis kepada pimpinan DPRD disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau naskah akademik. 2. Sekretariat DPRD memberikan nomor pokok kepada Rancangan Perda yang disampaikan. 3. Dalam hal Rancangan Perda disertai penjelasan atau keterangan, maka di dalamnya memuat: a. Pokok pikiran dan materi muatan yang diatur b. Daftar nama; dan c. Tanda tangan pengusul 4. Dalam hal Rancangan Perda disertai naskah akademik, maka naskah akademik tersebut harus telah terlebih dahulu melalui pengkajian dan penyelarasan, serta memuat: a. Latar belakang dan tujuan penyusunan; b. Sasaran yang ingin diwujudkan; c. Pokok pikiran, ruang lingkup, atau objek yang akan diatur; dan d. Jangkauan dan arah pengaturan 5. Pimpinan DPRD menyampaikan Rancangan Perda kepada Bapemperda untuk dilakukan pengkajian dalam rangka pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Perda. 31 6. Hasil pengkajian Rancangan Perda kemudian disampaikan oleh Bapemperda kepada pimpinan DPRD untuk selanjutnya dibahas dalam rapat paripurna DPRD. Sebelum dilakukan pembahasan di rapat paripurna, pimpinan DPRD harus menyampaikan hasil pengkajian tersebut kepada anggota DPRD paling lama 7 (tujuh) hari sebelumnya. 7. Mekanisme rapat paripurna DPRD tersebut adalah sebagai berikut: a. Pengusul memberikan penjelasan; b. Fraksi dan anggota DPRD lainnya memberikan pandangan; dan c. Pengusul memberikan jawaban atas pandangan fraksi dan anggota DPRD lainnya. 8. Rapat paripurna DPRD tersebut kemudian memutuskan usulan Rancangan Perda. Putusan yang dihasilkan dapat berupa: • Persetujuan; • Persetujuan dengan pengubahan; atau • Penolakan. 9. Apabila keputusan diatas berupa persetujuan dengan pengubahan, maka pimpinan DPRD menugaskan komisi, gabungan komisi, Bapemperda atau panitia khusus untuk melakukan penyempurnaan. 10. Setelah penyempurnaan dilakukan, maka hasilnya disampaikan kembali kepada pimpinan DPRD. 2.3 PEMBAHASAN Rancangan Perda yang telah disusun pada tahap penyusunan selanjutnya dibahas oleh DPRD dan pemerintah daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama. Pembahasan Rancangan Perda yang berasal dari Kepala Daerah disampaikan melalui surat pengantar Kepala Daerah kepada pimpinan DPRD. Sedangkan pembahasan Rancangan Perda yang disusun oleh DPRD disampaikan melalui surat pengantar pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah. Surat pengantar tersebut paling sedikit berisikan latar belakang dan tujuan dari penyusunan, sasaran yang ingin diwujudkan, dan materi pokok yang diatur yang menggambarkan keseluruhan substansi Rancangan Perda. Untuk Rancangan Perda yang disusun berdasarkan naskah akademik, maka pada surat pengantar penyampaian 32 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Rancangan Perda juga disertakan naskah akademik. Apabila dalam satu masa sidang, DPRD dan Kepala Daerah menyampaikan Rancangan Perda dengan materi yang sama, maka yang dibahas adalah Rancangan Perda yang berasal dari DPRD dengan menggunakan Rancangan Perda dari Kepala Daerah sebagai sandingan. Dalam melakukan pembahasan, Kepala Daerah membentuk tim pembahasan yang diketuai oleh Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk. Ketua tim bertugas untuk melaporkan setiap perkembangan dan/atau permasalahan dalam pembahasan yang dilakukan kepada Kepala Daerah, untuk mendapatkan arahan dan keputusan. Pembahasan Rancangan Perda antara DPRD dan pemerintah daerah dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan, yaitu pembicaraan tingkat I dan pembicaraan tingkat II. Urutan kegiatan pembahasan adalah sebagai berikut: 1. Pembicaraan tingkat I Untuk Rancangan Perda yang berasal dari eksekutif maka urutan kegiatannya adalah sebagai berikut: a. Penjelasan Kepala Daerah dalam rapat paripurna mengenai Rancangan Perda; b. Pemandangan umum fraksi terhadap Rancangan Perda; dan c. Tanggapan dan/atau jawaban Kepala Daerah terhadap pemandangan umum fraksi. d. Pembahasan dalam rapat komisi, gabungan komisi, atau panitia khusus yang dilakukan bersama dengan Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya Untuk Rancangan Perda berasal dari legislatif maka urutan kegiatannya adalah sebagai berikut: a. Penjelasan pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan BapemPerda, atau pimpinan panitia khusus dalam rapat paripurna mengenai Rancangan Perda; b. Pendapat Kepala Daerah terhadap Rancangan Perda; dan c. Tanggapan dan/atau jawaban fraksi terhadap pendapat Kepala Daerah. d. Pembahasan dalam rapat komisi, gabungan komisi, atau panitia khusus yang dilakukan bersama dengan Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya 33 2. Pembicaraan tingkat II, meliputi: a. Pengambilan keputusan dalam rapat paripurna yang didahului dengan: 1) penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan komisi/ pimpinan panitia khusus yang berisi pendapat fraksi dan hasil pembahasan; dan 2) Permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna. b. Pendapat akhir Kepala Daerah. Rancangan Perda apabila disetujui bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah, selanjutnya disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan menjadi Perda. Dalam hal persetujuan tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Apabila Rancangan Perda tidak mendapat persetujuan bersama antara DPRD dan Kepala Daerah, maka Rancangan Perda tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPRD masa itu. Rancangan Perda dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah. Penarikan kembali Rancangan Perda oleh Kepala Daerah, disampaikan dengan surat Kepala Daerah disertai dengan alasan penarikan. Begitu pula apabila DPRD ingin melakukan penarikan kembali Rancangan Perda, maka dilakukan dengan keputusan pimpinan DPRD disertai juga dengan alasan penarikan. Rancangan Perda yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD dan Kepala Daerah. Penarikan kembali Rancangan Perda hanya dapat dilakukan dalam rapat paripurna DPRD yang dihadiri oleh Kepala Daerah. Rancangan Perda yang ditarik kembali tidak dapat diajukan lagi pada masa sidang yang sama. 34 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Pembicaraan Tingkat 1 Rancangan perda berasal dari Eksekutif Rancangan perda berasal dari Legislatif Penjelasan Kepala Daerah Penjelasan Pimpinan Komisi, Gabungan Komisi, Bapemperda atau Panitia Pemandangan Umum Fraksi Pendapat Kepala Daerah Tanggapan Kepala Daerah Tanggapan Fraksi Pembahasan bersama dengan Kepala Daerah atau Pejabat yang mewakili Persetujuan Bersama DPRD dan Kepala Daerah Pembicaraan Tingkat 2 Penyampaian Laporan Pimpinan Komisi, Gabungan Komisi, Bapemperda atau Panitia Khusus Penyampaian Laporan Pimpinan Komisi, Gabungan Komisi, Bapemperda atau Panitia Khusus Pendapat Akhir Kepala Daerah Gambar 3. Diagram Alur Pembahasan Rancangan Perda 2.4 PENETAPAN 2.4.1 Pemberian Nomor Register Setelah ada persetujuan bersama antara DPRD dan Kepala Daerah terkait Rancangan Perda yang dibahas bersama, tahap selanjutnya adalah pengesahan atau penetapan Rancangan Perda. Namun demikian, sebelum Rancangan Perda ditetapkan menjadi suatu Perda, Kepala Daerah kabupaten/kota wajib untuk menyampaikan Rancangan Perda kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung 35 sejak menerima Rancangan Perda dari pimpinan DPRD untuk mendapatkan nomor register (noreg) Perda. Setelah itu, noreg Rancangan Perda akan diberikan oleh gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sejak Rancangan Perda tersebut diterima. 2.4.2 Penandatanganan Rancangan Perda yang telah mendapatkan noreg kemudian disahkan oleh Kepala Daerah dengan cara membubuhkan tanda tangan pada naskah Rancangan Perda. Penandatanganan ini harus dilakukan oleh Kepala Daerah dalam jangka waktu maksimal 30 hari terhitung sejak tanggal Rancangan Perda tersebut disetujui bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah. Jika Kepala Daerah tidak menandatangani Rancangan Perda tersebut sesuai waktu yang ditetapkan, maka Rancangan Perda tersebut otomatis menjadi Perda dan wajib untuk diundangkan ke dalam lembaran daerah. Penandatanganan dapat dilakukan oleh pelaksana tugas, pelaksana harian atau pejabat Kepala Daerah jika Kepala Daerah berhalangan sementara atau tetap. Penandatanganan tersebut dibuat 4 (empat) rangkap, kemudian naskah aslinya didokumentasikan oleh: (1) DPRD; (2) Sekretaris Daerah; (3) perangkat daerah yang membidangi hukum; dan (4) perangkat daerah pemrakarsa. 2.4.3 Penomoran Penomoran Perda kabupaten/kota dilakukan oleh perangkat daerah yang membidangi urusan hukum (dalam hal ini kepala bagian hukum). Penomoran untuk Perda menggunakan nomor bulat. 2.5 PENGUNDANGAN Pengundangan merupakan pemberitahuan secara formal suatu Perda sehingga mempunyai daya ikat pada masyarakat. Perda yang telah ditetapkan, diundangkan dalam lembaran daerah, sedangkan penjelasan Perda dimuat dalam Tambahan Lembaran 36 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Daerah dan ditetapkan bersamaan dengan pengundangan Perda. Setelah Perda diundangkan maka secara hukum Perda tersebut mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan kecuali ditentukan lain di dalam Perda tersebut. Perda diundangkan oleh Sekretaris Daerah dan disampaikan kepada gubernur (atau ke Menteri Dalam Negeri untuk Perda provinsi). Apabila Sekretaris Daerah berhalangan, maka pengundangan Perda dilakukan oleh pelaksana tugas atau pelaksana harian Sekretaris Daerah. Selanjutnya Perda dimuat dalam jaringan dokumentasi dan informasi hukum. AUTENTIFIKASI Autentifikasi adalah salinan produk hukum daerah sesuai dengan aslinya. Setiap Perda yang sudah ditandatangani dan diberikan penomoran selanjutnya harus dilakukan autentifikasi. Autentifikasi Perda kabupaten/kota dilakukan oleh kepala bagian hukum kabupaten/kota. 2.6 PENYEBARLUASAN Secara prinsip, penyebarluasan dilakukan semenjak tahapan penyusunan Propemperda, penyusunan Rancangan Perda, penyusunan naskah akademik dan pembahasan Rancangan Perda. Penyebarluasan bertujuan untuk dapat memberikan informasi dan memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan mengenai Rancangan Perda yang disusun. 37 Untuk penyebarluasan pada tahapan Penyusunan Propemperda, pelaksanaannya dilakukan bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD yang dikoordinasikan oleh Bapemperda. Penyebarluasan pada tahapan penyusunan naskah akademik dan penyusunan Rancangan Perda yang berasal dari inisiatif legislatif, dilaksanakan oleh alat kelengkapan DPRD, sedangkan untuk yang berasal dari inisiatif eksekutif dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah bersama dengan perangkat daerah pemrakarsa. Bagi Perda yang telah diundangkan maka penyebarluasan dilakukan bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. Naskah Perda yang disebarluaskan tersebut harus merupakan salinan naskah Perda yang telah diautentifikasi dan diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Tambahan Lembaran Daerah. Secara khusus, Kepala Daerah memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan, bagi yang tidak melakukan, terdapat sanksi secara administratif berupa teguran tertulis. 38 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 39 40 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB 3 3.1 PENYUSUNAN NASKAH A K A D E M I K UMUM Pengertian naskah akademik menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu rancangan undang-undang, rancangan peraturan daerah provinsi, atau rancangan peraturan daerah kabupaten/kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat. Atas dasar pengertian tersebut, naskah akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap masalah persampahan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan persampahan dalam rancangan peraturan daerah sebagai solusi terhadap permasalahan persampahan dan dasar hukum baik bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. 41 Secara umum naskah akademik Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah memuat gagasan pengaturan atau materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang telah ditinjau secara sistemik-holistik-futuristik dari berbagai aspek ilmu yang terkait dilengkapi dengan referensi yang memuat urgensi, konsepsi, landasan, atas hukum dan prinsip-prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma yang akan dituangkan ke dalam bentuk pasal-pasal dengan mengajukan beberapa alternatif, yang disajikan dalam bentuk uraian yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu hukum dan bidang ilmu yang terkait dengan persampahan. 3.2 SISTEMATIKA Untuk memudahkan dalam penyusunan naskah akademik, negara melalui UU No. 12 Tahun 2011 memberikan pedoman Penyusunan Naskah Akademik dengan sistematika sebagai berikut: JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN TERKAIT BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG, PERATURAN DAERAH PROVINSI, ATAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA BAB VI PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Uraian singkat setiap bagian diatas yang telah disesuaikan untuk naskah akademik Rancangan Perda tentang pengelolaan sampah adalah sebagai berikut: 42 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB I PENDAHULUAN Memuat latar belakang, sasaran yang akan diwujudkan, identifikasi masalah, tujuan dan kegunaan, serta metode yang digunakan. A. Latar Belakang Latar belakang memuat pemikiran dan alasan-alasan perlunya penyusunan naskah akademik sebagai acuan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Latar belakang tersebut menjelaskan mengapa pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah memerlukan suatu kajian yang mendalam dan komprehensif mengenai teori atau pemikiran ilmiah yang berkaitan dengan materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Pemikiran ilmiah tersebut mengarah kepada penyusunan argumentasi filosofis, sosiologis serta yuridis guna mendukung perlu atau tidak perlunya penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. B. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah memuat rumusan mengenai masalah apa yang akan ditemukan dan diuraikan dalam naskah akademik tersebut. Pada dasarnya identifikasi masalah dalam suatu naskah akademik mencakup 4 (empat) pokok masalah, yaitu sebagai berikut: 1. Permasalahan apa yang dihadapi oleh pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah serta bagaimana permasalahan tersebut dapat diatasi? Permasalahan tersebut antara lain: a. Bagaimana penyelenggaraan pengelolaan sampah dilakukan saat ini? b. Apakah sudah ada regulasi yang khusus mengatur tentang pengelolaan sampah? c. Apakah prasarana dan sarana pengelolaan sampah yang ada sudah tersedia dan terselenggara sesuai peraturan perundangundangan? 43 d. Apakah pengelola prasarana dan sarana sudah tersedia dan sesuai peraturan perundang-undangan? e. Apakah keuangan daerah dan ekonomi masyarakat mampu membiayai penyelenggaraan pengelolaan sampah? f. Bagaimana peran masyarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah? 2. Mengapa perlu Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah sebagai dasar pemecahan masalah tersebut, yang berarti membenarkan pelibatan daerah dalam penyelesaian masalah sampah tersebut? 3. Apa yang menjadi pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, yuridis pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah? 4. Apa sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah? C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan naskah akademik dirumuskan sebagai berikut: 1. Merumuskan permasalahan yang dihadapi pemerintah daerah, masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah, serta cara-cara mengatasi permasalahan tersebut. 2. Merumuskan permasalahan hukum yang dihadapi sebagai alasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah sebagai dasar hukum penyelesaian atau solusi permasalahan dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah. 3. Merumuskan pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. 44 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 4. Merumuskan sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Kegunaan penyusunan naskah akademik yaitu sebagai acuan atau referensi dalam penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. D. Metode Penyusunan naskah akademik pada dasarnya merupakan suatu kegiatan penelitian, sehingga digunakan metode penyusunan naskah akademik yang berbasiskan metode penelitian hukum atau penelitian lain. Penelitian hukum dapat dilakukan melalui metode yuridis normatif dan metode yuridis empiris (dikenal juga dengan penelitian sosiolegal). Metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah (terutama) data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan atau dokumen hukum lainnya, serta hasil penelitian, hasil pengkajian, dan referensi lainnya. Metode yuridis normatif dapat dilengkapi dengan wawancara, diskusi (focus group discussion), dan rapat dengar pendapat. Metode yuridis empiris atau sosiolegal adalah penelitian yang diawali dengan penelitian normatif atau penelaahan terhadap peraturan perundang-undangan (normatif ) yang dilanjutkan dengan observasi yang mendalam serta penyebarluasan kuesioner untuk mendapatkan data faktor nonhukum yang terkait dan yang berpengaruh terhadap peraturan perudang-undangan yang diteliti. 45 Pada naskah akademik Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah, sub bab Metode sebaiknya memuat: 1. Metodologi Metodologi adalah seperangkat langkah dan cara sistematis yang dikembangkan dan dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan dan target/hasil keluaran kegiatan. Metodologi menggambarkan alur pikir penyusunan naskah akademik yang menunjukkan adanya hubungan antara rumusan masalah, pengumpulan data, analisis data dan sasaran akhir tersusunnya Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah di daerah kajian. 2. Jenis Penelitian yang Digunakan Jenis penelitian yang akan digunakan perlu disebutkan dengan pasti, apakah akan menggunakan metode yuridis normatif atau metode yuridis empiris. 3. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penyusunan Naskah Akademik Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah dilakukan dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut : a. Studi literatur; b. Survei lapangan; dan/atau c. Observasi. Studi literatur dilakukan terhadap referensi-referensi bahan hukum, teknis, kelembagaan dan lain-lain. Studi literatur referensi bahan hukum, diambil dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Bahan hukum primer, terdiri dari peraturan perundang-undangan yang terkait langsung dengan masalah pembentukan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, di tingkat pusat dan daerah. Bahan hukum sekunder, 46 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH berupa literatur-literatur ilmu hukum, hasil penelitian, literatur dan dokumen resmi lainnya yang terkait dengan masalah yang diteliti. Bahan hukum tersier, ialah kamus hukum, kamus bahasa dan kamus teknik yang dapat memperjelas istilah-istilah yang digunakan dalam penulisan naskah akademik ini. Studi literatur referensi bahan teknis, kelembagaan dan lain-lain, antara lain : a. Teori-teori tentang pengelolaan sampah. b. Dokumen perencanaan (Master Plan, Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota, Buku Putih Sanitasi, Memorandum Program Sanitasi, Studi EHRA, dll). c. Teori –teori tentang kelembagaan. Metoda Survei dan Observasi adalah berbeda dilihat dari interaksi yang dilakukan peneliti dengan obyek yang diteliti. Metoda Survei ialah metoda pengumpulan data penelitian yang berdasarkan pada komunikasi antara peneliti dengan responden (obyek yang diteliti). Data yang dikumpulkan berupa opini, sikap, pengalaman, atau karakteristik obyek yang diteliti secara individual atau kelompok. Metoda Observasi yakni proses pencatatan pola perilaku orang, obyek benda, atau kejadian sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi antara peneliti dengan obyek penelitian4. Dalam Penyusunan Naskah Akademik, Observasi lapangan dilakukan terhadap objek penelitian yang dianggap penting/terkait atau wilayah yang dianggap memiliki resiko sampah berdasarkan studi EHRA/persepsi dari perangkat daerah terkait, meliputi kondisi eksisting pengelolaan sampah, perilaku dan peran masyarakat dalam pengelolaan sampah, kelembagaan, kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat daerah kajian. 4 Indriantoro, N., & Supomo, B. (1999). Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE 47 4. Teknik Analisis Data Teknik Analisis Data dilakukan dengan metode deskriptif yuridis dan kualitatif, melalui proses interpretasi, penalaran konseptual dan kontekstualitasnya dengan masalah yang dikaji. Hasil survei lapangan dan observasi disandingkan dengan hasil desk study, teori, peraturan dan kebijakan-kebijakan yang kemudian dirumuskan untuk menjawab segala permasalahan yang dihadapi dalam hal pengelolaan sampah dalam kehidupan masyarakat di daerah kajian yang akhirnya dapat disimpulkan untuk menjawab segala permasalahan dengan sasaran akhir adalah muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang akan dibentuk. BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS Memuat uraian mengenai materi yang bersifat teoretis, asas, praktik, perkembangan pemikiran, serta implikasi sosial, politik, dan ekonomi, keuangan daerah dari pengaturan dalam suatu Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Bab ini dapat diuraikan dalam beberapa sub bab berikut: A. Kajian Teoritis Kajian teoritis terdiri dari teori-teori yang mendukung dan dapat menjadi pisau analisis dalam evaluasi dan analisis permasalahan yang ada. Teori-teori ini antara lain: 1. Teori-teori terkait aspek hukum Teori-teori hukum sekurang-kurangnya tentang: • Kedudukan peraturan daerah dalam hierarkhi peraturan perundang-undangan; • Fungsi peraturan daerah; 48 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH • • Asas-asas hukum kaitannya dalam evaluasi dan analisis peraturan perundang-undangan (asas hierarkhi perundangundangan, Lex specialis derogate legi generalis, dan lex posteriori derogate legi apriori); Kewenangan pembentukan peraturan perundang-undangan. 2. Teori-teori terkait pengelolaan sampah, antara lain: • Pengertian, jenis, komposisi, karakteristik, timbulan, sumber dan klasifikasi sampah; • Dampak dari sampah; • Peraturan dan standar bidang persampahan; • Prinsip pengelolaan sampah; • Aspek pengelolaan sampah (teknis, kelembagaan, pembiayaan, peran serta masyarakat, dll). B. Kajian terhadap asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma. Analisis terhadap penentuan asas-asas ini juga memperhatikan berbagai aspek bidang kehidupan terkait dengan peraturan perundangundangan yang akan dibuat, yang berasal dari hasil penelitian. Asas/prinsip yang terkait dengan pembentukan Perda adalah: 1. Prinsip-prinsip dasar dalam penyusunan Perda; 2. Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan; 3. Asas-asas materi muatan peraturan perundang-undangan. C. Kajian terhadap praktik penyelenggaraan pengelolaan sampah saat ini dan akan datang serta permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Sub bab ini menguraikan dan menggambarkan hasil survei lapangan dan observasi tentang praktik penyelenggaraan, kondisi yang ada serta permasalahan yang dihadapi masyarakat daerah kajian, terkait penyelenggaraan pengelolaan sampah. 49 Hasil survei lapangan, observasi, kondisi dan permasalahaan yang diuraikan dalam sub bab ini, sekurang-kurangnya memuat kajian tentang hal-hal berikut ini : 1. Kondisi geografis, kependudukan, ekonomi, sosial budaya dan kearifan lokal; 2. Identifikasi peraturan perundang-undangan terkait di daerah kajian (perda dan perkada); 3. Kebijakan dan strategi pengelolaan sampah; 4. Kondisi eksisting pengelolaan sampah yang ada; 5. Jumlah dan kondisi sarana dan prasarana yang tersedia (TPS, TPS 3R, TPST, TPA, dll); 6. Lembaga pengelola yang ada (pemerintah dan masyarakat); 7. Pembiayaan/data-data keuangan (tarif, retribusi, APBD, dll) D. Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah terhadap aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah dan kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan daerah dan masyarakat. Dalam sub bab ini sekurang-kurangnya menguraikan hasil kajian dan analisis tentang bagaimana implikasi terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan daerah ketika kondisi ideal menurut teori-teori dan asas-asas pembentukan norma diterapkan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada sub bab sebelumnya. Hasil kajian dan analisis yang diuraikan dalam sub bab ini sekurangkurangnya mengenai: 1. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan daerah dalam pemenuhan prasarana dan sarana persampahan sesuai kondisi ideal menurut teori. 50 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 2. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan daerah dalam pemenuhan lembaga pengelola prasarana dan sarana persampahan sesuai kondisi ideal menurut teori dan kebutuhan. 3. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan daerah dalam pemenuhan pengaturan pelaksanaan (perkada) dari perda yang diterapkan. 4. dampak terhadap kehidupan masyarakat dan beban keuangan daerah dalam pemenuhan wadah pelibatan peran serta masyarakat. 5. bagaimana agar sistem baru yang akan diterapkan terhadap kearifan lokal daerah kajian yang berkembang di masyarakat yang perlu diperhitungkan atau dijaga dan dihormati, agar sistem baru yang akan diterapkan bisa sejalan dengan hal ini. BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT Memuat hasil kajian terhadap peraturan perundang-undangan terkait yang memuat kondisi hukum yang ada, keterkaitan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah dengan peraturan perundang-undangan lain, harmonisasi secara vertikal dan horizontal, serta status dari peraturan perundang-undangan yang ada, termasuk peraturan perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta peraturan perundangundangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Kajian tersebut diatas dimaksudkan untuk mengetahui kondisi hukum atau peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi atau materi yang akan diatur. Dalam kajian ini akan diketahui posisi dari rancangan perda tentang pengelolaan sampah yang sedang disusun. Kajian ini dapat menggambarkan tingkat sinkronisasi, harmonisasi peraturan perundang-undangan yang ada, serta posisi rancangan perda untuk 51 menghindari terjadinya tumpang tindih pengaturan. Hasil dari penjelasan atau uraian ini menjadi bahan bagi penyusunan landasan filosofis dan yuridis dari pembentukan rancangan perda. Proses evaluasi dan analisis peraturan perundang-undangan yang terkait dilakukan dengan tahapantahapan sebagai berikut: 1. Inventarisasi dan identifikasi peraturan perundangan-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah, baik secara vertikal maupun horisontal. 2. Inventarisasi perintah/amanat (materi muatan) yang perlu diatur dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, yang terkait pengelolaan sampah. 3. Harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundang-undangan yang terkait objek pengaturan dan lainnya, baik secara horisontal maupun vertikal (misalnya tentang penyelenggaraan pemerintahan, ketataruangan, bangunan gedung, keuangan daerah, kelembagaan, bentuk pelibatan masyarakat) untuk menghindari tumpang tindih dan/ atau pertentangan pengaturan. Hasil kajian tersebut secara garis besar akan menjadi kelanjutan dari isi pada Bab IV (terutama pada landasan yuridis) dan akan menjadi acuan dalam menentukan materi muatan yang akan diatur dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS 1. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 52 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Berdasarkan pengertian tersebut di atas, landasan filosofis dibentuknya Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, memuat harapan atau keinginan Pemerintah Daerah dan masyarakat baik saat ini maupun akan datang. 2. Landasan Sosiologis Landasan sosiologis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek antara lain aspek kesehatan dan lingkungan hidup. Landasan sosiologis tersebut sesungguhnya menyangkut fakta empiris mengenai perkembangan masalah persampahan saat ini dan kebutuhan atau keinginan masyarakat dan Pemerintah Daerah di masa mendatang. 3. Landasan Yuridis Landasan yuridis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan persampahan atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan diubah atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat. Landasan yuridis menyangkut persoalan hukum yang berkaitan dengan substansi atau materi yang diatur mengenai pengelolaan sampah sehingga perlu dibentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Beberapa persoalan hukum itu, antara lain, peraturan yang sudah ketinggalan, peraturan yang tidak harmonis atau tumpang tindih, peraturan sudah ada tetapi tidak memadai, atau peraturannya memang sama sekali belum ada. 53 BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH Naskah Akademik pada akhirnya berfungsi mengarahkan ruang lingkup materi muatan yang akan diatur dan subjek hukum yang akan dijangkau dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Dalam Bab ini, sebelum menguraikan ruang lingkup materi muatan, dirumuskan sasaran yang akan diwujudkan, arah dan jangkauan pengaturan. Materi didasarkan pada ulasan yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya. Selanjutnya mengenai ruang lingkup materi muatan pada dasarnya mencakup: A. ketentuan umum memuat rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa; B. materi yang akan diatur; C. ketentuan sanksi; dan D. ketentuan peralihan. Jangkauan pengaturan terkait dengan subyek hukum yang akan diatur dalam sebuah Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah adalah: 1. Pemerintah Daerah; 2. Lembaga pengelola (Operator); 3. Pelaku usaha; 4. Pengelola kawasan; 5. Masyarakat; 6. Penyidik; 7. Penegak hukum; dan 8. Subyek hukum lainnya bila ada sesuai dengan kebutuhan daerah kajian masing-masing 54 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan sampah dapat memuat: a. Tujuan dan sasaran; b. Tugas, wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah; c. Hak dan kewajiban; d. Perizinan; e. Penyelenggaraan pengelolaan sampah (perencanaan, pelaksanaan pengelolaan sampah, prasarana dan sarana pengelolaan sampah); f. Pembiayaan; g. Kompensasi; h. Peran masyarakat; i. Kelembagaan; j. Kerjasama dan kemitraan; k. Pembinaan dan pengawasan; l. Insentif dan disinsentif; m. Larangan; n. Retribusi; o. Sistem informasi; p. Ketentuan sanksi; dan q. Ketentuan peralihan. BAB VI PENUTUP Bab penutup terdiri atas sub bab simpulan dan saran. A. Simpulan Simpulan memuat rangkuman pokok pikiran yang berkaitan dengan praktik penyelenggaraan, pokok elaborasi teori, dan asas yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya. B. Saran Saran memuat antara lain: 1. Perlunya pemilahan substansi Naskah Akademik dalam suatu Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah atau peraturan dibawahnya berupa Peraturan Bupati/Walikota. 55 2. Rekomendasi skala prioritas penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah dalam Program Pembentukan Peraturan Daerah (Program Legislasi Daerah). 3. Kegiatan lain yang diperlukan untuk mendukung penyempurnaan penyusunan Naskah Akademik lebih lanjut. DAFTAR PUSTAKA Daftar pustaka memuat buku, peraturan perundang-undangan yang menjadi bahan penyusunan Naskah Akademik. LAMPIRAN KONSEP RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 3.3 TAHAPAN PENYUSUNAN Mekanisme penyusunan naskah akademik sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Peraturan Daerah, adalah sebagai berikut: 1. Pemrakarsa menyiapkan/menyusun naskah akademik. Dalam menyusun naskah akademik ini, pemrakarsa mengikutsertakan perangkat daerah yang membidangi hukum (bagian hukum). 2. Naskah akademik yang telah disusun oleh pemrakarsa kemudian disampaikan kepada perangkat daerah yang membidangi hukum untuk dilakukan penyelarasan. 3. Penyelarasan dilakukan oleh perangkat daerah yang membidangi hukum dan diselenggarakan dalam bentuk rapat penyelarasan yang mengundang (mengikutsertakan) para pemangku kepentingan. 4. Perangkat daerah yang membidangi hukum menyampaikan naskah akademik hasil penyelarasan kepada Sekretaris Daerah. 56 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Sekretaris Daerah kemudian menyampaikan kembali naskah akademik hasil penyelarasan kepada perangkat daerah (pemrakarsa) disertai dengan penjelasan hasil penyelarasan. (Alur penyusunan naskah akademik seperti pada Gambar dibawah) Penyusunan Konsep Awal NA Rapat Penyelarasan NA Penyampaian NA Hasil Penyelarasan •SKPD Pemrakarsa menyusun konsep awal NA dengan melibatkan Bagian Hukum •Konsep awal NA kemudian disampaikan kepada Bagian Hukum Bagian Hukum menyelenggarakan rapat penyelarasan dengan para pemangku kepentingan NA hasil penyelarasan disampaikan kepada perangkat daerah (pemrakarsa) melalui Sekretaris Daerah disertai dengan penjelasan hasil penyelarasan Gambar 4. Alur Penyusunan Naskah Akademik di Lingkungan Pemerintah Daerah 57 58 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB 4 4.1 PENYUSUNAN RANCANGAN PERDA PENGELOLAAN SAMPAH TEKNIK PENYUSUNAN 4.1.1 Judul Rancangan Peraturan Daerah UU No. 12 Tahun 2011 menguraikan bahwa Judul Rancangan Peraturan Daerah memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Rancangan Peraturan Daerah. Nama Rancangan Peraturan Daerah dibuat secara singkat dengan hanya menggunakan 1 (satu) kata atau frasa tetapi secara esensial maknanya telah dan mencerminkan isi Rancangan Peraturan Daerah. Pemilihan nama Rancangan Peraturan Daerah untuk urusan persampahan sangat bergantung kepada materi muatan yang akan diatur di dalamnya. Isi/muatan yang akan diatur dalam Rancangan Peraturan Daerah mengenai persampahan merupakan delegasi kewenangan dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang berkaitan dengan urusan persampahan, dan muatan lainnya sesuai kebutuhan daerah dalam rangka melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan sesuai kewenangannya. Artinya dalam menetapkan judul Rancangan Peraturan Daerah ada batasan-batasan, yaitu: 1. cerminan isi yang akan diatur; dan 2. kewenangan daerah kabupaten/kota. UU No. 18 Tahun 2008 secara tegas membatasi kewenangan daerah dalam mengatur isi/muatan Rancangan Peraturan Daerah sub urusan persampahan hanya pada jenis sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, bukan pada jenis sampah spesifik. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (1) dan (2) yaitu “Pengelolaan sampah spesifik adalah tanggung jawab Pemerintah” dan “Ketentuan 59 lebih lanjut mengenai pengelolaan sampah spesifik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah”. Selain itu, Pasal 2 ayat (5) juga menyatakan tentang peranan Pemerintah Pusat untuk mengatur sampah spesifik jenis lainnya melalui peraturan menteri di bidang lingkungan hidup. Kewenangan daerah kabupaten/kota untuk sub urusan persampahan menurut UU No. 23 Tahun 2014 adalah Pengembangan Sistem dan Pengelolaan Persampahan dalam Daerah kabupaten/ kota. Hal ini berarti Daerah Kabupaten/Kota dalam rangka menyelenggarakan urusan pemerintahan sub urusan persampahan diberi kewenangan untuk mengatur: a. Pengembangan Sistem; dan b. Pengelolaan Persampahan. Jelas dari batasan isi dan kewenangan sebagaimana telah diuraikan diatas, nama/judul Rancangan Peraturan Daerah dalam rangka menyelenggarakan tugas pembantuan sub urusan persampahan adalah “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga”. Adapun ketika daerah ingin memberikan judul “Pengelolaan Sampah” maka pada ruang lingkup harus membatasi bahwa sampah yang diatur dengan Rancangan Perda tersebut terbatas pada Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. 4.1.2 Pembukaan Pembukaan Peraturan Daerah menurut ketentuan dalam UU No. 12 Tahun 2011, terdiri atas: a. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Pada pembukaan tiap jenis Rancangan Peraturan Daerah dicantumkan Frasa Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin. 60 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH b. Jabatan pembentuk Rancangan Peraturan Daerah Jabatan pembentuk Rancangan Peraturan Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Contoh jabatan pembentuk Peraturan Daerah Kabupaten: BUPATI BANGKA TENGAH, Contoh jabatan pembentuk Peraturan Daerah Kota: WALIKOTA TANJUNGPINANG, c. Konsiderans Menimbang Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok pikiran yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah. Pokok pikiran pada konsiderans Rancangan Peraturan Daerah menurut UU No. 12 Tahun 2011, memuat unsur filosofis, sosiologis, dan yuridis yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah yang penulisannya ditempatkan secara berurutan dari filosofis, sosiologis, dan yuridis, yang memuat sebagai berikut: 1. Unsur filosofis menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah dibentuk dengan mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Unsur sosiologis menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai aspek dalam hal pengelolaan sampah. 3. Unsur yuridis menggambarkan bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau 61 mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat. Contoh Konsiderans Menimbang Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang memuat landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis: Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai amanat yang harus dijaga dan dilestarikan dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia demi mencapai cita-cita bangsa Indonesia yaitu memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia; b. bahwa dalam rangka mewujudkan Kabupaten/ Kota ………. yang sehat dan bersih dari sampah yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, maka perlu dilakukan pengelolaan sampah secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir; c. bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah; Muatan Kondiderans Menimbang Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah diuraikan secara singkat baik secara filosofis dan sosiologis maupun yuridis dalam Penjelasan Umum. 62 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH d. Dasar Hukum Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. Dasar hukum memuat: a. dasar kewenangan Pemerintah Daerah membentuk Peraturan Daerah; b. peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Dasar hukum kewenangan Pemerintah Daerah membentuk Peraturan Daerah adalah Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014. Dasar hukum peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah adalah: a. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah; b. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Penulisan Undang–Undang dan Peraturan Pemerintah, dalam dasar hukum dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. e. Diktum. Diktum terdiri atas: a. kata Memutuskan; b. kata Menetapkan; dan c. jenis dan nama Peraturan Perundang-undangan. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tengah marjin. 63 Contoh: Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH JAWA BARAT dan GUBERNUR JAWA BARAT MEMUTUSKAN: Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. Jenis dan nama yang tercantum dalam judul Peraturan Daerah dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan tanpa frasa Kabupaten atau Kota, serta ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. Contoh: MEMUTUSKAN: Menetapkan: SAMPAH. PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN 4.1.3 Batang Tubuh Rancangan Peraturan Daerah Batang tubuh Peraturan Daerah memuat semua materi muatan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang dirumuskan dalam pasal atau beberapa pasal. Pada umumnya materi muatan dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: 64 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 1. Ketentuan Umum Menurut UU No. 12 Tahun 2011, bahwa Ketentuan umum diletakkan dalam bab satu dan dapat memuat lebih dari satu pasal. Ketentuan umum berisi: a. batasan pengertian atau definisi; b. singkatan atau akronim yang dituangkan dalam batasan pengertian atau definisi; dan/atau c. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal atau beberapa pasal berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan tujuan tanpa dirumuskan tersendiri dalam pasal atau bab. Batasan pengertian atau definisi yang termuat dalam Ketentuan Umum menurut UU No. 12 Tahun 2011, sebagai berikut: a. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi, singkatan atau akronim lebih dari satu, maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huruf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. b. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal atau beberapa pasal selanjutnya. c. Apabila rumusan definisi dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, atau Peraturan Menteri dirumuskan kembali dalam Peraturan Daerah, rumusan definisi tersebut harus sama dengan rumusan definisi dengan peraturan perundang-undangan yang telah berlaku tersebut. d. Rumusan batasan pengertian dari Peraturan Daerah dapat berbeda dengan rumusan dalam Peraturan Daerah yang ada karena disesuaikan dengan kebutuhan terkait dengan materi muatan yang akan diatur. e. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali, namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab, bagian atau paragraf tertentu, kata atau istilah itu diberi definisi. 65 f. Jika suatu batasan pengertian atau definisi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan, maka rumusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. g. Karena batasan pengertian atau definisi, singkatan, atau akronim berfungsi untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi, singkatan, atau akronim tidak perlu diberi penjelasan, dan karena itu harus dirumuskan dengan lengkap dan jelas sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. h. Penulisan huruf awal tiap kata atau istilah yang sudah didefinisikan atau diberi batasan pengertian dalam ketentuan umum ditulis dengan huruf kapital baik digunakan dalam norma yang diatur, penjelasan maupun dalam lampiran. i. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: 1. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus; 2. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu; dan 3. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. 2. Materi Pokok yang Diatur Materi muatan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. 66 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Materi pokok yang perlu diatur dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah berdasarkan amanah dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012, adalah sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. Asas, Tujuan dan Ruang Lingkup; Tugas dan Wewenang Pemerintah Daerah; Hak dan Kewajiban; Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah; Perizinan Pembiayaan dan Kompensasi Kerjasama dan Kemitraan; Peran Masyarakat; Lembaga Pengelola; Pembinaan dan Pengawasan; dan Sanksi administratif. Materi pokok selain yang disebutkan diatas, dapat ditambahkan sesuai dengan kebutuhan daerah dalam rangka menampung kondisi khusus daerah. Analisis kebutuhan akan materi pokok tersebut diuraikan dalam Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. 3. Ketentuan Pidana Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau norma perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang memuat norma larangan Dalam merumuskan Ketentuan Pidana, perlu dihindari, kualifikasi pidana yang sudah diatur dalam Undang-Undang. 4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) Ketentuan Peralihan memuat penyesuaian pengaturan tindakan hukum atau 67 hubungan hukum yang sudah ada berdasarkan Peraturan Daerah yang lama (bila ada) terhadap Peraturan Daerah yang baru, dengan bertujuan untuk: (a) menghindari terjadinya kekosongan hukum; (b) menjamin kepastian hukum; (c) memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang terkena dampak perubahan ketentuan yang termuat dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah; (d) mengatur halhal yang bersifat transisional atau bersifat sementara. 5. Ketentuan Penutup Ketentuan Penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Jika tidak diadakan pengelompokan bab, Ketentuan Penutup ditempatkan dalam pasal atau beberapa pasal terakhir. Pada umumnya Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai: (a) penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Peraturan Daerah; (b) nama singkat Peraturan Daerah (bila diperlukan); (c) status Peraturan Daerah yang sudah ada; (d) saat mulai berlaku Peraturan Daerah. 4.1.4 Penutup Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Daerah yang memuat: (a) rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah Kabupaten/ Kota, Berita Daerah Kabupaten/Kota; (b) penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Daerah; (c) pengundangan atau Penetapan Peraturan Daerah; (d) akhir bagian penutup. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh: Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bangka Tengah. 68 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 4.1.5 Penjelasan Menurut UU No. 12 Tahun 2011, bahwa setiap Undang-Undang, Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota diberi penjelasan. Penjelasan berfungsi sebagai tafsir resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. Oleh karena itu, penjelasan hanya memuat uraian terhadap kata, frasa, kalimat atau padanan kata/istilah asing dalam norma yang dapat disertai dengan contoh. Penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dimaksud. Ketentuan mengenai penjelasan menurut UU No. 12 Tahun 2011, sebagai berikut: a. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut dan tidak boleh mencantumkan rumusan yang berisi norma. b. Penjelasan tidak menggunakan rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Daerah. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Daerah yang diawali dengan frasa penjelasan atas yang ditulis dengan huruf kapital. Contoh: PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR … TAHUN … TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Penjelasan Peraturan Daerah memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis dengan huruf kapital. 69 Contoh: I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL Rumusan penjelasan pasal demi pasal memperhatikan hal sebagai berikut: a. tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh; b. tidak memperluas, mempersempit atau menambah pengertian norma yang ada dalam batang tubuh; c. tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh; d. tidak mengulangi uraian kata, istilah, frasa, atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum; dan/atau e. tidak memuat rumusan pendelegasian Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah, tidak perlu diberikan penjelasan. 4.2 MATERI MUATAN Materi muatan suatu peraturan perundang-undangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 adalah materi yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi dan hirarki peraturan perundang-undangan. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 menyatakan bahwa “Materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan asas: a. Pengayoman Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. 70 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH b. Kemanusiaan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga Negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. c. Kebangsaan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistic (kebhinnekaan) dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. d. Kekeluargaan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. e. Kenusantaraan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundangundangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. f. Bhineka Tunggal Ika Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku, dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. g. Keadilan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. h. Kesamaan Kedudukan dalam Hukum dan Pemerintahan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain: agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial. 71 i. j. Ketertiban dan Kepastian Hukum Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan Bahwa setiap materi Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. Materi muatan Peraturan Daerah telah diatur dengan jelas dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, yang berbunyi sebagai berikut: “Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi”. Secara umum materi muatan Peraturan Daerah merupakan: a. pengaturan lebih lanjut dengan cara menjabarkan asas dan/atau prinsip dan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ke dalam ketentuan lebih operasional. Konsep penjabaran mengandung makna adanya upaya untuk merinci atau menguraikan norma-norma yang terkandung dalam setiap asas, prinsip, dan ketentuan yang ada pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi untuk dinormakan lebih lanjut atau distrukturkan kembali yang perlu dan/ atau layak untuk dikembangkan sesuai kebutuhan daerah. Salah satu wujud penjabaran ketentuan peraturan yang lebih tinggi, Peraturan Daerah dapat berupa delegasi kewenangan/perintah dari peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan/atau materi muatan yang diatur sesuai kewenangan pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi dan tugas pembantuan. Delegasi kewenangan dapat berupa perintah tegas dan perintah yang tidak tegas. Yang dapat masuk dalam kategori perintah tidak tegas yaitu: 1. Perintah pengaturan memang ada tetapi tidak tegas menentukan bentuk pengaturan yang dipilih sebagai tempat penuangan materi ketentuan yang didelegasikan pengaturannya; 72 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 2. Perintah pengaturan memang ada, tetapi tidak ditentukan secara jelas lembaga yang diberi delegasi kewenangan atau bentuk pengaturan yang harus ditetapkan untuk menuangkan materi yang didelegasikan; 3. Perintah pengaturan sama sekali tidak disebut atau tidak ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, akan tetapi sudah sangat dibutuhkan dalam menjawab permasalahan yang terjadi; Materi muatan Peraturan Daerah sebaiknya bukan merupakan pengulangan rumusan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, melainkan penjabaran atau operasionalisasinya. Sebetulnya, tanpa dilakukan perumusan ulang menjadi materi muatan Peraturan Daerah, semua asas, prinsipprinsip, dan ketentuan atau norma yang termuat dalam peraturan perundangundangan lebih tinggi secara otomatis tetap berlaku dan sifatnya mengikat bagi daerah. Namun demikian, kadangkala saat merumuskan materi muatan Rancangan Peraturan Daerah yang lebih operasional, kesulitan sering kali dialami, antara lain karena peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ternyata telah mengatur rinci, sementara peraturan perundang-undangan tersebut memberikan mandat untuk diatur dengan Peraturan Daerah. Dalam konteks tersebut, maka materi muatan Peraturan Daerah dapat mengatur hal yang sama dengan materi muatan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. b. peraturan bersifat teknis operasional namun masih bersifat regulatif umum. Bersifat teknis operasional yang dimaksud adalah bahwa materi muatan Peraturan Daerah lebih mengkonkretkan serta dapat dilaksanakan baik oleh Pemerintah Daerah atau Perangkat Daerah selaku pelaksana urusan pemerintahan di daerah maupun bagi masyarakat dalam menjalankan kewajiban yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Sedangkan bersifat regulatif umum mengandung makna yaitu materi muatan yang diatur dalam Peraturan Daerah memberikan kepastian mengenai hak dan kewajiban dari subjek hukum serta bersifat mengatur dengan konsekuensi mempunyai daya pemaksa/pengikat atau sanksi bagi yang tidak melaksanakan. 73 c. sebagai media hukum bagi Kepala Daerah dalam rangka mewujudkan komitmen dan/atau aspirasi atau keinginan atau harapan yang disampaikan kepada dan/atau dari masyarakat dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah dan melaksanakan kebijakan nasional. Hal tersebut terlepas dari anggaran. Besar kecil anggaran ditentukan oleh Dewan Perwakilan Rayat Daerah (DPRD), karena anggaran menjadi wewenang DPRD berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Sehubungan itu, penyelenggaraan pengelolaan sampah selain ditentukan oleh komitmen Kepala Daerah, peran aktif masyarakat, dan juga ditentukan oleh DPRD berkaitan dengan anggaran. Peraturan daerah dapat memuat materi muatan mengenai ketentuan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Ayat (2) Pasal 15 menyatakan bahwa materi muatan yang berupa sanksi pidana dalam Peraturan Daerah berupa ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Sedangkan pada Pasal 15 ayat (3), Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota juga dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lainnya. Selain itu, Pasal 250 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur bahwa “Materi muatan Peraturan Daerah dilarang bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, dan/atau kesusilaan”. Adapun yang dimaksud dengan “Bertentangan dengan kepentingan umum” meliputi: a. Terganggunya kerukunan antarwarga masyarakat; b. Terganggunya akses terhadap pelayanan publik; c. Terganggunya ketenteraman dan ketertiban umum; d. Terganggunya kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; dan/atau e. Diskriminasi terhadap suku, agama dan kepercayaan, ras, antar-golongan, dan gender. 74 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Berdasarkan uraian di atas, materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah harus memuat ketentuan lebih kongkret, mudah dipahami dan dilaksanakan. Selain itu, tidak menimbulkan penafsiran ganda (multi-tafsir) atau berbeda yang dapat merugikan masyarakat bahkan Pemerintah Daerah. Jika memungkinkan bersifat teknis untuk menghindari penafsiran berbeda dan mudah dipahami atau sekurangkurangnya diberikan dalam penjelasan. Prinsip utama yang dipegang teguh dalam pembentukan suatu Peraturan Daerah adalah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Artinya, materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang kedudukannya lebih tinggi secara hierarkhi dalam perundang-undangan. Di bidang persampahan, terutama pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, secara hierarkhi sudah ada pengaturan yang khusus mulai dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, sampai pada tingkat Peraturan Menteri, yaitu sebagai berikut : 1. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah; 2. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga; 3. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 tahun 2011tentang Pedoman Materi Muatan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Agar prinsip utama pembentukan suatu Peraturan Daerah tidak dilanggar maka perlu dilakukan harmonisasi perintah/delegasi kewenangan tentang materi muatan yang harus 75 diatur, yang dapat diatur dan yang dibutuhkan untuk diatur oleh daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi dan tugas pembantuan agar dapat menampung dan menjawab segala permasalahan tentang pengelolaan sampah di daerah. Dalam buku panduan ini dilakukan harmonisasi tahap awal, yaitu berupa harmonisasi secara vertikal terhadap peraturan perundang-undangan khusus di bidang pengelolaan persampahan sebagaimana diuraikan di atas. Berikut ini adalah materi muatan pokok yang perlu diatur dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah yang dibagi kedalam: 1. Perintah Tegas a. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah • Pasal 11 ayat (2) “tata cara penggunaan hak setiap orang” • Pasal 12 ayat (2) “tata cara pelaksanaan kewajiban pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga” • Pasal 17 ayat (3) “tata cara memperoleh izin” • Pasal 18 ayat (2) “jenis usaha pengelolaan sampah yang mendapatkan izin dan tata cara pengumuman kepada masyarakat” • Pasal 22 ayat (2) “penanganan sampah” • Pasal 24 ayat (3) “Pembiayaan” • Pasal 25 ayat (4) “pemberian kompensasi oleh pemerintah daerah” • Pasal 28 ayat (3) “bentuk dan tata cara peran masyarakat” • Pasal 29 ayat (3) “larangan” (larangan membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan, melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir (TPA), dan/atau membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. • Pasal 31 ayat (3) “pengawasan pengelolaan sampah” • Pasal 32 ayat (3) “penerapan sanksi administratif ” 76 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH b. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga • Pasal 32 ayat (4) “tata cara pemberian kompensasi oleh pemerintah kabupaten/kota” 2. Perintah Tidak Tegas a. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, • Pasal 5 memberikan tugas kepada Pemerintah Daerah bersamasama dengan Pemerintah menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. • Pasal 6 memberikan tugas kepada Pemerintah Daerah bersama-sama dengan Pemerintah (Pusat) untuk melaksanakan sebagai berikut: a. menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah; b. melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan, dan penanganan sampah; c. memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah; d. melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah; e. mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil pengolahan sampah; f. memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang (berkembang pada masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani sampah; g. melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah 77 • • • • 78 Pasal 9, memberikan kewenangan kepada Pemerintahan Kabupaten/ Kota sebagai berikut: a. menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi; b. menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/ kota sesuai dengan norma, standar,prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah; c. melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain; d. menetapkan lokasi tempat penampungan sementara (TPS), tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah (RTRW); e. melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup; f. menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya. Pasal 13 memberikan perintah kepada Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya untuk menyediakan fasilitas pemilahan sampah. Pasal 14 memberikan perintah kepada setiap produsen untuk mencantumkan label atau tanda yang berhubungan dengan pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya. Pasal 15 memberikan perintah kepada produsen untuk mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam. PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH • • Pasal 20 ayat (2) memberikan kewajiban kepada Pemerintah Daerah bersama-sama dengan Pemerintah untuk melakukan kegiatan pengurangan sampah meliputi kegiatan: a) pembatasan timbulan sampah; b) pendauran ulang sampah; c) pemanfaatan kembali sampah. Untuk itu Pemerintah Daerah bersama-sama Pemerintah: a. menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu; b. memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan; c. memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan; d. memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang; e. memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang. Pasal 26 memberikan anjuran kepada Pemerintah daerah untuk melakukan kerja sama antar pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan sampah yang dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama dan/ atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah. b. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Perintah/delegasi kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 merupakan perintah yang mendelegasikan kewenangan penyelenggaraan pengelolaan sampah dalam rangka tugas di daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat nya baik sebagai regulator maupun sebagai operator. Tugas sebagai regulator, diatur dengan pasal-pasal sebagai berikut: • Pasal 4 ayat (3) “menyusun dan menetapkan kebijakan dan strategi kabupaten/ kota dalam pengelolaan sampah” • Pasal 9 ayat (1) “menyusun dokumen rencana induk dan studi kelayakan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga” 79 Tugas sebagai operator, diatur dengan pasal-pasal sebagai berikut: • Pasal 17 ayat (1) (c) “ turut melakukan pemilahan sampah” • Pasal 17 ayat (4) “menyediakan sarana pemilahan sampah skala kabupaten/ kota • Pasal 18 ayat (1) (b) “turut melakukan pengumpulan sampah” • Pasal 18 ayat (3) “menyediakan TPS dan/atau TPS 3R pda wilayah permukiman” • Pasal 19 ayat (1) “melakukan pengangkutan sampah” yang dijelaskan kembali dalam pasal 19 ayat (2) (b) bahwa “pemerintah kabupaten kota melakukan pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3Rke TPA atau TPST” • Pasal 21 ayat (2) (c) “turut mengolah sampah” yang dijelaskan kembali dalam Pasal 21 ayat (4) bahwa “Pemerintah kabupaten/kota menyediakan fasilitas pengolahan sampah pada wilayah permukiman yang berupa: TPS 3R, stasiun peralihan antara, TPA dan/atau TPST. • Pasal 22 ayat (2) “melakukan pemrosesan akhir sampah” • Pasal 23 ayat (1) “kewajiban pemerintah kabupaten/kota menyediakan dan mengoperasikan TPA” • Pasal 26 ayat (1) “membentuk kelembagaan pengelola sampah, bermitra dengan badan usaha, dan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota lainnya” artinya dari pengaturan ini ada perintah secara tidak tegas kepada pemerintah kabupaten kota untuk mengatur lembaga pengelola sampah sebagai lembaga yang menjalankan tugas dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota sebagai operator pengelolaan sampah sebagaimana diatur dalam pasal-pasal yang disebutkan di atas. • Pasal ini juga memerintahkan secara tidak tegas untuk mengatur kemitraan dengan badan usaha dan kerjasama dengan kabupaten/kota lain. • Pasal 29 ayat (1) “memungut retribusi kepada setiap orang atas jasa pelayanan yang diberikan”. Artinya pasal ini memerintahkan secara tidak tegas dan memayungi pemerintah kabupaten kota untuk mengatur pemungutan retribusi, namun untuk tata cara perhitungan tarif retribusi menurut Pasal 29 80 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH • ayat (4) merupakan kewenangan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri. Pasal 34 ayat (1) ”menyediakan sistem informasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga”, artinya pemerintah kabupaten/kota diperintahkan untuk mengatur sistem informasi kepada masyarakat agar masyarakat mendapat informasi yang tepat, akurat dan mudah di akses. c. Peraturan Menteri PU No. 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Dalam penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan, Peraturan Menteri PU No 3 Tahun 2013 memerintahkan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menyusun dan menetapkan Rencana Induk, Studi kelayakan dan perencanaan teknis dan manajemen persampahan, sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (3) dan Pasal 12 ayat (2). Peraturan Menteri PU No. 3 Tahun 2013 juga mengatur lebih teknis tugas pemerintah kabupaten/kota dalam menyediakan prasana dan sarana pengelolaan sampah. Peraturan Menteri ini membagi batas dan wilayah dimana pemerintah kabupaten/ kota harus menyediakan prasarana dan sarana persampahan. Penyediaan prasarana dan sarana pemilahan, pewadahan, pengumpulan, dan pengolahan sampah selain dilakukan oleh Pemerintah daerah juga dilakukan oleh pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya. Penyediaan prasarana dan sarana pengangkutan, pemrosesan akhir sampah dan TPA dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota namun dapat bermitra dengan badan usaha dan/atau swasta. 81 Dari penjelasan di atas, hasil harmonisasi secara vertikal materi muatan yang perlu diatur dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, adalah sebagai berikut: 1. Tugas dan Wewenang Pemerintah Daerah; 2. Hak dan Kewajiban; 3. Perizinan: 4. Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah; 5. Pembiayaan dan Kompensasi; 6. Peran Masyarakat; 7. Lembaga Pengelola; 8. Kerjasama dan Kemitraan; 9. Retribusi; 10. Pengawasan; 11. Sistem Informasi; 12. Larangan; 13. Sanksi Administratif Materi muatan sebagaimana disebutkan di atas tersebut tidak membatasi apabila memang dari hasil penelitian atau pengkajian kondisi daerah atau hasil penelitian hukum dalam Naskah Akademik menyimpulkan perlunya menambahkan materi muatan yang akan diatur sebagai solusi terhadap suatu masalah dan menampung kebutuhan pengaturan masyarakat daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Dibawah ini dirangkum materi muatan Rancangan Perda Pengelolaan Sampah berdasarkan amanat dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 3 Tahun 2013, baik yang secara tegas maupun tidak tegas memerintahkan untuk diatur dalam perda, yang dibutuhkan dalam menjawab permasalahan pengelolaan sampah di daerah, dalam tabel berikut ini: 82 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 83 Tabel 4-1 Tabel Materi Muatan Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah No 1 Muatan Yang Diperintahkan Tugas dan Kewenangan pemerintah daerah Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah UU No. 18 Tahun 2008 Pasal 5 “Pemerintah dan Pemerintah daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan UU pengelolaan sampah” 1. Tugas pemerintah daerah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan sampah pemerintah 2. Kewenangan daerah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan sampah perencanaan 3. Penyusunan daerah dalam pengelolaan sampah oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mencapai tujuan pengelolaan sampah, yang teknis penyusunannya sesuai dengan peraturan perundangundangan. 4. Perencanaan daerah yang dimaksud dijelaskan pada bagian Penjelasan, yaitu Rencana Induk dan Studi Kelayakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai kewenangannya. PP No. 81 Tahun 2012 pemerintah kabupaten/kota Pasal 4 ayat (3) “menyusun dan menetapkan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah” Pasal 9 ayat (1) “menyusun dokumen rencana induk dan studi kelayakan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga” Pasal 6 ayat (1) “rencana induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a disusun dan ditetapkan oleh Pemerintah Kota sesuai dengan kewenangannya” 84 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Muatan Yang Diperintahkan No 2. Hak Sumber Hukum Pasal 11 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2008 “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan hak diatur dengan Peraturan Pemerintan dan Peraturan Daerah” Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: “Pengaturan hak dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga paling sedikit memuat hak untuk : a. mendapatkan pelayanan; b. berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan penyelenggaraan dan pengawasan, memperoleh informasi yang benar, akurat, dan tepat waktu; c. mendapatkan perlindungan dan kompensasi akibat dampak negatif dari kegiatan tempat pemrosesan akhir (TPA);dan pembinaan d. memperoleh mengenai pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan” Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. Hak-hak masyarakat dalam pengelolaan sampah. Tata cara penggunaan hak 85 No 3. Muatan Yang Diperintahkan Kewajiban Sumber Hukum Pasal 12 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2008 “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan daerah” Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. Kewajiban orang dalam pengelolaan sampah secara umum; Kewajiban pelaku usaha dalam pengelolaan sampah secara umum. Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: “Pengaturan kewajiban dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga meliputi : a. kewajiban orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum, setiap pengelola kawasan, dan setiap produsen orang b. kewajiban perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum untuk mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan; 86 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum c. 4. Perizinan kewajiban setiap pengelola kawasan untuk menyediakan fasilitas pemilahan sampah; d. kewajiban setiap produsen untuk mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.” 1. Pasal 17 ayat (3) UU No. 18 Tahun 2008 lanjut “ketentuan lebih mengenai tata cara memperoleh izin diatur dengan peraturan daerah sesuai dengan kewenangannya” Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: 1. Kewajiban kepemilikan izin 2. Jenis kegiatan pengelolaan sampah yang memerlukan izin 3. Tata cara mendapatkan izin cara pengumuman 4. Tata dalam perizinan lingkungan yang 5. Izin merupakan bagian dari perizinan 6. Masa berlaku izin pengelolaan sampah. a. Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga oleh pihak ketiga harus mendapatkan izin dari bupati/walikota. b. Permohonan izin pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga harus memenuhi persyaratan 87 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah administratif yang memuat data akta pendirian perusahaan, nama penanggung jawab kegiatan, nama perusahaan, alamat perusahaan, bidang usaha dan/atau kegiatan, nomor telepon perusahaan, wakil perusahaan yang dapat dihubungi, dan sertifikat kompetensi dan/atau sertifikat pelatihan. c. apabila kegiatan pengelolaan sampah merupakan wajib analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal) atau upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL), permohonan izin dilengkapi dengan izin lingkungan d. Izin pengangkutan sampah berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. Izin pengolahan dan pemrosesan akhir sampah berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang. Izin pengelolaan sampah berakhir apabila masa berlakunya berakhir, badan usaha pemegang izin 88 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah pengelolaan sampah bubar dan/atau dicabut 2. Pasal 18 ayat (2) “ketentuan lebih lanjut mengenai jenis usaha pengelolaan sampah yang mendapat izin dan tata cara pengumuman diatur dengan peraturan daerah” 5. Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: “Kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang memerlukan izin meliputi : a. pengangkutan; b. pengolahan; dan pemrosesan akhir.” Pengurangan Sampah 1. Pengelolaan sampah secara umum Pasal 20 UU No. 18 Tahun 2008 “Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatankegiatan dalam hal pengurangan 2. Pengurangan sampah sampah” a. Perencanaan pengurangan dan penanganan pengelolaan sampah b. Pengurangan Sampah : kegiatan • Jenis pengurangan sampah; 89 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah Penanganan Sampah Pasal 22 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2008 “Ketentuan lebih lanjut mengenai penanganan sampah diatur dengan atau berdasarkan peraturan pemerintah atau dengan peraturan daerah sesuai dengan kewenangannya” Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: penyelenggaraan 1. Dalam penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, gubernur atau bupati/walikota menetapkan kebijakan dan strategi penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. bagi pemerintah 2. Khusus kabupaten/kota, selain menetapkan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, juga menyusun dokumen rencana induk dan studi kelayakan penanganan sampah rumah 90 • Tata cara pengurangan sampah yang pelaksanaan nya sesuai peraturan perundangundangan; Pemerintah • Kegiatan Kabupaten/Kota dalam Pengurangan Sampah 3. Penanganan Sampah: kegiatan a. Jenis penanganan sampah; b. Pembagian jenis sampah dalam kegiatan pemilahan sampah; c. Kewajiban setiap orang, produsen, pengelola kawasan, pengelola fasilitas umum dan sosial serta fasilitas lainnya dalam pemilahan sampah; sarana d. Persyaratan pemilahan dan pewadahan sampah; untuk e. Pendelegasian mengatur lebih lanjut mengenai petunjuk teknis dan pelaksanaan pemilahan sampah dengan peraturan bupati/walikota; PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Rencana induk tersebut ditetapkan untuk jangka waktu paling sedikit 10 (sepuluh) tahun 3. Penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota meliputi: a. Pemilahan Kegiatan pemilahan sampah dilakukan dalam bentuk: • pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah; sampah • pemilahan dilakukan oleh orang perseorangan, kelompok orang atau badan hukum pada sumbernya, pengelola kawasan, dan pemerintah kabupaten/kota. sampah • pemilahan dilakukan melalui kegiatan Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah f. Teknis dan alokasi tanggung dalam pengumpulan sampah; untuk g. Pendelegasian mengatur lebih lanjut mengenai petunjuk teknis dan pelaksanaan pengumpulan sampah dengan peraturan bupati/walikota; pengangkutan h. Teknis sampah bahwa i. Penegasan pengangkutan sampah merupakan tugas pemerintah kabupaten/kota; untuk j. Pendelegasian mengatur lebih lanjut mengenai sarana dan penjadwalan pengangkutan sampah dengan peraturan bupati/walikota; k. Teknis pengolahan sampah pengolahan l. Prinsip sampah terdekat dengan sumber; m. PenyelenggaraanPrasara na dan sarana dalam pengolahan sampah; 91 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum b. 92 pengelompokan sampah paling sedikit menjadi 5 (lima) jenis sampah; pemilahan • sarana sampah disediakan oleh pengelola kawasan dan pemerintah kabupaten/kota. sampah • pemilahan menggunakan sarana yang memenuhi persyaratan, jumlah sarana sesuai dengan jenis pengelompokan sampah, diberi simbol atau tanda dan bahan, bentuk, dan warna wadah. Pengumpulan • Pengumpulan sampah dilakukan dalam bentuk: pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) . Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah n. Teknis pemrosesan sampah o. Pemilihan teknologi dan lokasi pemrosesan akhir yang sampah pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; p. Kewajiban Pemerintah dalam Daerah melakukan penutupan atau rehabilitasi TPA yang tidak memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundangundangan. PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah • Pengumpulan sampah dilakukan oleh pengelola kawasan dan pemerintah kabupaten/kota. Pengelola kawasan dalam melakukan pengumpulan menyediakan TPS, tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang selanjutnya disebut TPS 3R, dan/atau alat pengumpul untuk sampah terpilah. • Dalam penyelenggaraan pengumpulan sampah, pemerintah kabupaten/kota menyediakan TPS dan/atau TPS 3R pada wilayah permukiman. TPS dan/atau TPS 3R tersebut supaya memenuhi persyaratan yang meliputi sarana untuk pengelompokan sampah paling sedikit 5 (lima) jenis sampah, 93 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum c. 94 Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah luas lokasi dan kapasitas sesuai kebutuhan, lokasi yang mudah diakses, tidak mencemari lingkungan, jadual pengumpulan dan pengangkutan. Pengangkutan • Pengangkutan sampah dilakukan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari TPS atau dari TPST menuju ke TPA. • Pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA atau TPST dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota dengan menyediakan alat angkut sampah terpilah paling sedikit 5 jenis sampah dan tidak mencemari lingkungan. • Pemerintah kabupaten/kota dalam pengangkutan sampah dapat menyediakan stasiun peralihan antara. PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum d. Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah Pengolahan • Pengolahan sampah dilakukan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah. sampah • Pengolahan dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota, orang perseorangan, kelompok orang dan/atau badan hukum pada sumbernya, dan pengelola kawasan. • Kegiatan pengolahan sampah meliputi pemadatan, pengomposan, daur ulang materi, dan/atau daur ulang energi. kawasan • Pengelola menyediakan fasilitas pengolahan sampah skala kawasan yang berupa TPS 3R. • Pemerintah kabupaten/kota menyediakan fasilitas pengolahan sampah pada wilayah permukiman yang 95 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum e. 96 Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah berupa TPS 3R, stasiun peralihan antara, TPA, dan/atau TPST. • Apabila dua atau lebih kabupaten/kota melakukan pengolahan sampah bersama dan memerlukan pengangkutan sampah lintas kabupaten/kota, pemerintah kabupaten/kota dapat mengusulkan kepada pemerintah provinsi untuk menyediakan stasiun peralihan antara dan alat angkut. Pemrosesan akhir sampah. akhir • Pemrosesan sampah dilakukan dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. akhir • Pemrosesan sampah dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah dengan menggunakan metode lahan uruk terkendali, metode lahan uruk saniter, dan teknologi ramah lingkungan. • Pemerintah kabupaten/kota menyediakan dan mengoperasikan TPA dengan melakukan pemilihan lokasi sesuai RTRW provinsi dan/atau RTRW kabupaten/kota, menyusun analisis biaya dan teknologi, dan menyusun rancangan teknis. • Lokasi TPA paling sedikit memenuhi aspek geologi, hidrogeologi, kemiringan zona, jarak dari lapangan terbang, jarak dari permukiman, berada di tidak kawasan lindung/cagar alam, dan bukan merupakan daerah banjir periode ulang 5 (lima) tahunan. 97 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah • Pemerintah kabupaten/kota dalam menyediakan TPA melengkapi fasilitas dasar, fasilitas perlindungan lingkungan, fasilitas operasi, dan fasilitas penunjang. • Apabila TPA tidak dioperasikan sesuai dengan persyaratan teknis, harus dilakukan penutupan dan/atau rehabilitasi. Penyediaan fasilitas pengolahan dan pemrosesan akhir sampah dilakukan melalui tahapan perencanaan, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan. Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemrosesan akhir meliputi kegiatan konstruksi, supervisi, dan uji coba. 98 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah PP No. 81 Tahun 2012, pemerintah kabupaten/kota Pasal 17 ayat (1) (c) “turut melakukan pemilahan sampah” Pasal 17 ayat (4) “menyediakan sarana pemilahan sampah skala kabupaten/kota Pasal 18 ayat (1) (b) “turut melakukan pengumpulan sampah” Pasal 18 ayat (3) “menyediakan TPS dan/atau TPS 3R pada wilayah permukiman” Pasal 19 ayat (1) “melakukan pengangkutan sampah” yang dijelaskan kembali dalam pasal 19 ayat (2) (b) bahwa “pemerintah kabupaten kota melakukan pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3Rke TPA atau TPST” 99 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah Pasal 21 ayat (2) (c) “turut mengolah sampah” yang dijelaskan kembali Pasal 21 ayat (4) bahwa "Pemerintah kabupaten/kota menyediakan fasilitas pengolahan sampah pada wilayah permukiman yang berupa: TPS 3R, stasiun peralihan antara, TPA dan/atau TPST. 6. Pembiayaan Pasal 24 ayat (3) “Ketentuan lebih lanjut mengenai pembiayaan diatur dengan peraturan daerah” Sumber-sumber pembiayaan Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: “Pembiayaan penyelenggaraan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga bersumber dari : a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);dan/atau b. sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 100 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No 7. Muatan Yang Diperintahkan Kompensasi Sumber Hukum Pasal 25 ayat (4) (perintah tegas) “Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian kompensasi oleh pemerintah diatur dengan peraturan pemerintah dan/atau peraturan daerah” yang ditegaskan kembali dalam Pasal 32 ayat (4) PP No.81 Tahun 2012 (perintah tegas) “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian kompensasi oleh Pemkab/kota dan pemprov diatur dengan peraturan daerah” Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: merupakan a. Kompensasi pemberian imbalan kepada orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum yang terkena dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penanganan sampah di TPA. b. Pemerintah kabupaten/kota secara sendiri atau secara bersama dapat memberikan kompensasi; negatif yang c. Dampak ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. 3. 4. 5. Kompensasi secara umum; Penganggaran kompensasi dalam APBD; dampak Bentuk-bentuk negatif yang dapat menimbulkan diberikannya kompensasi oleh pemerintah daerah; Bentuk-bentuk kompensasi; Tata cara pemberian kompensasi (disesuaikan dengan kelembagaan, kearifan lokal dan peraturan di perundang-undangan daerah masing-masing, berdasarkan kajian dalam Naskah Akademik) 101 No 8. Muatan Yang Diperintahkan Peran Serta Masyarakat Sumber Hukum diakibatkan oleh : • pencemaran air; • pencemaran udara; • pencemaran tanah; • longsor; • kebakaran ledakan gas metan; • dan/atau • hal lain yang menimbulkan dampak negatif. d. Kompensasi dapat berbentuk relokasi penduduk, pemulihan lingkungan, biaya kesehatan dan pengobatan, penyediaan fasilitas sanitasi dan kesehatan, dan/atau kompensasi dalam bentuk lain; harus e. Kompensasi dianggarkan dalam APBD. Pasal 28 ayat (3) UU No. 18 Tahun 2008 “Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara peran masyarakat diatur dengan peraturan pemerintah dan/atau peraturan daerah” Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: Masyarakat dapat berperan dalam 102 Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. 3. 4. Bentuk-bentuk peran masyarakat; Peran pelaku usaha dalam pengelolaan sampah; Pengaduan masyarakat dalam pengelolaan sampah; untuk Pendelegasian mengatur lebih lanjut mengenai petunjuk tata cara dan kelembagaan penanganan pengaduan PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum pengelolaan sampah berupa : a. pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah daerah dalam perumusan kebijakan pengelolaan sampah; penanganan b. melaksanakan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dilakukan secara mandiri atau bermitra dengan pemerintah; c. pemberian pendidikan dan pelatihan serta pendampingan oleh kelompok masyarakat kepada anggota masyarakat; pengaduan d. melakukan mengenai pengelolaan sampah kepada pemerintah kabupaten/kota. e. Pemerintah kabupaten/kota melakukan pengelolaan pengaduan masyarakat sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengaduan dan Penanganan Pengaduan Akibat Dugaan Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup. Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah masyarakat dengan peraturan bupati/walikota; 103 No 9. Muatan Yang Diperintahkan Lembaga Pengelola Sumber Hukum PP No. 81 Tahun 2012 Pasal 26 ayat (1) (a) “Dalam melakukan kegiatan pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah, pemerintah kabupaten/kota dapat : membentuk kelembagaan pengelola sampah; Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. 3. 4. 10. Kerjasama dan kemitraan PP No. 81 Tahun 2012 Pasal 26 ayat (1) (b) dan (c) “Dalam melakukan kegiatan pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah, pemerintah kabupaten/kota dapat: b. bermitra dengan badan usaha atau masyarakat; dan/atau dengan c. bekerjasama pemerintah kabupaten/kota lain. 1. 2. Penyelenggaraan pengelolaan sampah oleh lembaga pengelola; Pemisahan lembaga pengelola regulator dan operator Kewenangan pemerintah dalam membentuk lembaga pengelola; Pendelegasian ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga pengelola sampah dengan peraturan bupati/walikota Kerjasama dan kemitraan secara umum; Pelaksanaan kerjasama dan kemitraan sesuai dengan peraturan perundangundangan; Note : Pengaturan tentang kerjasama antar daerah penjabarannya sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah Pengaturan tentang kerjasama /kemitraan dengan badan 104 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah usaha penjabarannya telah diatur oleh beberapa peraturan perundangundangan 11. Retribusi PP No. 81 Tahun 2012 Pasal 29 penyelenggaraan (1) Dalam penanganan sampah, pemerintah kabupaten/kota memungut retribusi kepada setiap orang atas jasa pelayanan yang diberikan. sebagaimana (2) Retribusi dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara progresif berdasarkan jenis, karakteristik, dan volume sampah. (3) Hasil retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk: layanan a. kegiatan penanganan sampah; fasilitas b. penyediaan pengumpulan sampah; c. penanggulangan keadaan darurat; lingkungan d. pemulihan akibat kegiatan penanganan sampah; dan/atau 1. 2. kewenangan pemerintah daerah dalam memungut retribusi atas jasa pelayanan sampah yang diberikan lebih lanjut ketentuan pemungutan retribusi atas jasa pelayanan sampah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 105 No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum e. 12. Pengawasan peningkatan kompetensi pengelola sampah. lebih lanjut (4) Ketentuan mengenai tata cara perhitungan tarif retribusi berdasarkan jenis, karakteristik, dan volume sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri. Pasal 31 ayat (3) UU No. 18 Tahun 2008 “Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan pengelolaan sampah diatur dengan peraturan daerah” Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. Bentuk pengawasan Kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sampah Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: a. Pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan sampah kabupaten/kota dilakukan oleh gubernur. melakukan b. Bupati/walikota pengawasan terhadap pengelola sampah dalam kegiatan penanganan sampah, pelaksanaan penanggulangan kecelakaan dan pencemaran lingkungan hidup akibat 106 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah kegiatan penanganan sampah, dan pelaksanaan pemulihan fungsi lingkungan hidup akibat kecelakaan dan pencemaran lingkungan dari kegiatan penanganan sampah. 13. Sistem Informasi PP N0. 81 Tahun 2012 Pasal 34 (1) Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyediakan informasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. pengelolaan (2) Informasi sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memberikan informasi mengenai: a. sumber sampah; b.timbulan sampah; c. komposisi sampah; d.karakteristik sampah; pengelolaan e. fasilitas sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga; dan f. informasi lain terkait pengelolaan sampah rumah tangga dan 1. 2. Pemerintah daerah menyediakan sarana informasi mengenai pengelolaan sampah. Cara dan jenis informasi yang diberikan 107 No 14. 108 Muatan Yang Diperintahkan Larangan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah sampah sejenis sampah rumah tangga yang diperlukan dalam rangka pengelolaan sampah. sebagaimana (3) Informasi dimaksud pada ayat (1) terhubung sebagai satu jejaring sistem informasi pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dikoordinasikan oleh menteri yang menyelengarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. sebagaimana (4) Informasi dimaksud pada ayat (3) harus dapat diakses oleh setiap orang. Pasal 29 ayat (3) dan (4) UU No. 18 Tahun 2008 lebih lanjut (3) Ketentuan mengenai larangan : diatur dengan perda kabupaten/kota daerah (4) Peraturan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat menetapkan sanksi pidana Setiap orang dilarang : a...... b...... c....... Pengaturan larangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kearifan lokal dan peraturan perundang-undangan di daerah masing-masing berdasarkan hasil kajian naskah akademik. PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No Muatan Yang Diperintahkan Sumber Hukum Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah kurungan atau denda terhadap pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud diatas Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: Norma larangan yang harus dimuat dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga meliputi: pembuangan a. melakukan sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan (Pembuangan sampah tidak pada tempatnya merupakan pembuangan sampah yang tidak dilakukan di TPS dan/atau TPST yang disediakan oleh pemerintah daerah); penanganan b. melakukan sampah dengan pembuangan terbuka ditempat pemrosesan akhir (Penanganan sampah dengan pembuangan terbuka (open dumping) di tempat pemrosesan akhir sampah tidak sejalan dengan ketentuan Pasal 44 Undang- 109 No 15. 110 Muatan Yang Diperintahkan Sanksi Administratif Sumber Hukum Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah); dan/atau c. membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah (Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global). Pasal 32 ayat (3) UU No. 18 tahun 2008 “Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan sanksi administratif diatur dengan perda kabupaten/kota” Penjabaran menurut Permen LH No. 16 Tahun 2011: a. Penerapan sanksi administratif dilakukan oleh bupati/walikota kepada pengelola sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang melanggar ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan dalam izin. b. Sanksi administratif yang dapat diterapkan oleh Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah 1. 2. 3. Pejabat yang berwenang dalam menerapkan sanksi Pendelegasian untuk mengatur lebih lanjut mengenai tata cara dan mekanisme penerapan sanksi administratif dengan peraturan bupati/walikota Sanksi Pidana (bila diperlukan) PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH No 16. Muatan Yang Diperintahkan Materi muatan lainnya Sumber Hukum bupati/walikota dapat berupa paksaan pemerintahan, uang paksa dan/atau pencabutan izin. Paksaan pemerintahan dapat diterapkan kepada pemegang izin pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. c. Apabila paksaan tidak pemerintahan dilaksanakan, bupati/walikota dapat menerapkan uang paksa atas keterlambatan pelaksanaan paksaan pemerintahan. paksaan d. Apabila pemerintahan dan uang paksa tidak dilaksanakan oleh pemegang izin, bupati/walikota dapat mencabut izin. e. Tata cara dan mekanisme penerapan sanksi administratif secara rinci dapat didelegasikan dalam peraturan bupati/walikota. Dapat ditambahkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah, sesuai dengan kewenangannya. Pengaturan dalam Rancangan Perda tentang Pengelolaan Sampah Misal: 1. Pembinaan oleh Pemerintah Daerah kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah 111 112 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH LAMPIRAN CONTOH RANCANGAN PERDA TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA ………. NOMOR …. TAHUN …… TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA…………………………………….. Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai amanat yang harus kita jaga dan lestarikan dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia demi mencapai cita-cita bangsa Indonesia yaitu memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia; [Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur filosofis. Isinya dapat disesuaikan, yang intinya merupakan pandangan hidup, kesadaran dan cita hukum yang meliputi suasana kebathinan penyusun, yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan UUD 1945] b. bahwa dalam rangka mewujudkan Kabupaten/ Kota ……. yang sehat dan bersih dari sampah yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, maka perlu dilakukan pengelolaan sampah secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir; [Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur sosiologis. Isinya dapat disesuaikan dengan kondisi pengelolaan sampah yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukan Perda Pengelolaan Sampah] c. bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah; [Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur yuridis.] 113 d. e. Mengingat : 114 bahwa pengelolaan sampah berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota ………. Nomor…. Tahun ……, sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi saat ini sehingga perlu dilakukan penggantian/perubahan. [Bagian diatas merupakan contoh pertimbangan unsur yuridis apabila kabupaten/kota yang sebelumnya sudah mempunyai Perda tentang Pengelolaan Sampah atau perda lainnya yang berkaitan dengan Pengelolaan Sampah tapi ingin diganti atau dirubah.] bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d, maka perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. 1. Undang-Undang Nomor ….. Tahun …….tentang Pembentukan Kabupaten/Kota……… Lembaran Negara Nomor…. Tahun….., Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…); 2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851); 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5347); 5. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2011 tentang Pedoman Materi Muatan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 933); 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 470); PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH [Bagian diatas merupakan contoh dasar hukum “Mengingat” yang pada intinya memuat: a. dasar kewenangan pembentukan Perda tentang Pengelolaan Sampah, dan b. peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan Perda tentang Pengelolaan Sampah. Apabila ada dasar hukum lainnya yang menjadi dasar kewenangan dan memerintahkan pembentukan Perda Pengelolaan Sampah dapat ditambahkan pada bagian ini sebagai dasar hukum] Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA………………………. Dan BUPATI/WALIKOTA KABUPATEN/KOTA……………… MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 1. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945. 115 2. 3. 4. 5. Daerah adalah Kabupaten/Kota …………….. Pemerintah Daerah adalah………. Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten /Kota ………… Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. 6. Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. 7. ………. [Bagian diatas merupakan contoh Ketentuan Umum. Isinya disesuaikan dengan materi muatan yang diatur dalam Perda yang dibentuk oleh masing-masing daerah. Ketentuan Umum memuat batasan atau definisi dari subjek dan objek yang diatur, istilah, singkatan atau akronim yang digunakan secara berulangulang dalam Perda. Apabila terdapat definisi/istilah yang sudah diatur oleh peraturan perundang-undangan, sebaiknya definisi/istilah tersebut diadopsi secara langsung.] BAB II ASAS, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP Pasal 2 Pengelolaan sampah berdasarkan pada asas: a. …… b. …… c. …… [Asas pengelolaaan dapat berbeda-beda pada setiap daerah. Isinya tergantung dari kebutuhan dan kearifan lokal daerah. Pengertian dari asas yang dicantumkan harus dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan.] Pasal 3 Tujuan pengelolaan sampah untuk: a. mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih dari sampah; b. …… c. …… 116 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH [Isikan bagian ini dengan tujuan pada masing-masing daerah. Setiap daerah tentunya memiliki tujuan pengelolaan yang berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kebijakan daerah.] Pasal 4 Sampah yang diatur dalam peraturan daerah ini meliputi: a. sampah rumah tangga; b. sampah sejenis sampah rumah tangga; BAB III TUGAS DAN WEWENANG Pasal 5 Tugas Pemerintah Daerah meliputi: a. menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah; b. mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengelolaan sampah; c. …… d. …… [Isikan bagian ini dengan tugas pemerintah daerah. Tugas pemerintah daerah dapat berbeda satu dengan yang lainnya. Lihat kajian dalam naskah akademik untuk mengetahuinya. Lihat Tabel 4-1 nomor 1 untuk lebih jelas.] Pasal 6 Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pemerintah Daerah mempunyai kewewenangan: a. menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi; b. menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan norma, standar, prosedur dan kriteria yang ditetapkan pemerintah; c. …… d. …… 117 [Isikan bagian ini dengan kewenangan pemerintah daerah. Lihat kajian dalam naskah akademik untuk mengetahuinya. Lihat Tabel 4-1 nomor 1 untuk lebih jelas.] Pasal 7 (1) (2) Untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah sesuai tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6, pemerintah daerah harus membuat dokumen perencanaan daerah tentang pengelolaan sampah yang memuat target pengurangan dan penanganan sampah dalam pengelolaan sampah. Teknis penyusunan perencanaan daerah pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan. [Tambahkan pada bagian penjelasan ayat ini kalimat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud perencanaan daerah tentang pengelolaan sampah meliputi : (a) Rencana Induk; (b) Studi Kelayakan; dan (c) Perencanaan Teknis dan Manajemen Persampahan.] BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak Pasal 8 Masyarakat berhak: a. mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan; b. berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan, dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah; c. memperoleh informasi yang benar, akurat, dan tepat waktu mengenai penyelenggaraan pengelolaan sampah. d. mendapatkan pelindungan dan kompensasi karena dampak negatif dari kegiatan tempat pemrosesan akhir sampah; e. memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan f. …… g. …… 118 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH [Isikan bagian diatas dengan hak yang diterima oleh warga masyarakat. Masingmasing daerah dapat mengatur hak masyarakat sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerahnya. Lihat Tabel 4-1 nomor 2 untuk lebih jelas.] Pasal 9 (1) Informasi mengenai pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf c dapat diakses melalui …….. [Silahkan dibuat pengaturan tentang bagaimana (tata cara) masyarakat memperoleh hak akan informasi mengenai penyelenggaraan pengelolaan sampah. Informasi tersebut terhubung sebagai satu jejaring sistem informasi yang harus dapat diakses oleh setiap orang.] Bagian Kedua Kewajiban Pasal 10 (1) Dalam pengelolaan sampah, setiap orang wajib: a. … b. … (2) Setiap angkutan umum, kendaraan pribadi, fasilitas umum, fasilitas sosial, perkantoran, perusahaan, pusat perbelanjaan wajib menyediakan wadah sampah dan/atau TPS. (3) …… (4) …… [Silakan mengatur tentang kewajiban setiap orang di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/kota masing-masing. Sebagai catatan untuk diingat, bahwa konsekuensi dari kewajiban adalah sanksi apabila tidak dilaksanakan. Lihat Tabel 4-1 nomor 3 untuk lebih jelas. Ayat (2) diatas merupakan contoh bentuk pengaturan mengenai kewajiban kepada masyarakat non perorangan. Silakan didiskusikan dengan para pemangku kepentingan, apakah perlu diterapkan atau tidak.] 119 BAB V PERIZINAN Pasal 11 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha pengelolaan sampah wajib memiliki izin dari Bupati/Walikota. (2) Kegiatan pengelolaan sampah yang wajib memiliki izin meliputi : (3) (4) a. pendauran ulang; b. pengumpulan; c. pengangkutan; d. pengolahan; dan e. pemrosesan akhir. …… …… Pasal 12 (1) (2) (3) Untuk mendapatkan izin usaha pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2), badan usaha harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Bupati/Walikota dengan melampirkan persyaratan administrasi dan teknis. …… …… [Silakan mengatur tentang perizinan di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 4 untuk lebih jelas. Pengaturan perizinan sangat tergantung dari harmonisasi peraturan secara horizontal, apabila sudah ada pengaturan mengenai tata cara memperoleh izin dan tata cara pengumumannya maka dalam Perda Pengelolaan Sampah ini tinggal memerintahkan untuk mengikuti peraturan perundang-undangan. Jika dibutuhkan pengaturan lebih lanjut silakan tambahkan ayat lain tentang ketentuan mengenai perizinan agar diatur di dalam peraturan kepala daerah.] 120 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB VI PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN SAMPAH Bagian Kesatu Umum Pasal 13 (1) Pengelolaan sampah terdiri dari: a. pengurangan sampah; dan b. penanganan sampah. (2) Penyelenggaraan pengelolaan sampah dilakukan melalui tahapan perencanaan, pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan serta pemantauan dan evaluasi yang terintegrasi antara pemerintah daerah, masyarakat, pengelola kawasan dan dunia usaha. Bagian Kedua Pengurangan Sampah Pasal 14 (1) Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, meliputi (2) kegiatan: a. pembatasan timbulan; b. pendauran ulang sampah; dan c. pemanfaatan kembali sampah. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengurangan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan Pasal 15 Pemerintah daerah dalam usaha pengurangan sampah melakukan kegiatan: a. pemantauan dan supervisi pelaksanaan rencana pemanfaatan bahan produksi ramah lingkungan oleh pelaku usaha; dan b. fasilitasi kepada masyarakat dan dunia usaha dalam mengembangkan dan memanfaatkan hasil daur ulang, pemasaran hasil produk daur ulang, dan guna ulang sampah. 121 Bagian Ketiga Penanganan Sampah Pasal 16 Kegiatan penanganan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b meliputi: a. pemilahan; b. pengumpulan; c. pengangkutan; d. pengolahan; e. pemrosesan akhir sampah. Paragraf 1 Pemilahan sampah Pasal 17 (1) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a dilakukan (2) (3) (4) (5) (6) melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri atas: a. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun; b. sampah yang mudah terurai; c. sampah yang dapat digunakan kembali; d. sampah yang dapat didaur ulang; dan e. sampah lainnya. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a antara lain kemasan obat serangga, kemasan oli, kemasan obat-obatan, obat-obatan kadaluarsa, peralatan listrik, dan peralatan elektronik rumah tangga. Sampah yang mudah terurai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b antara lain sampah yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan/atau bagian-bagiannya yang dapat terurai oleh makhluk hidup lainnya dan/atau mikroorganisme seperti sampah makanan dan serasah. Sampah yang dapat digunakan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan sampah yang dapat dimanfaatkan kembali tanpa melalui proses pengolahan antara lain kertas kardus, botol minuman, dan kaleng. Sampah yang dapat didaur ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meirupakan sampah yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses pengolahan antara lain sisa kain, plastik, kertas, dan kaca. Sampah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan residu. 122 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Pasal 18 (1) (2) Setiap orang wajib melakukan pemilahan sampah pada sumbernya. Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya dalam melakukan pemilahan sampah wajib menyediakan sarana pemilahan dan pewadahan sampah skala kawasan. (3) Pemerintah kabupaten/kota menyediakan sarana pemilahan dan pewadahan sampah skala kabupaten/kota. (4) Sarana pemilahan dan pewadahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus menggunakan wadah yang tertutup, yang diberi label atau tanda sesuai dengan jenis sampah. (5) …… (6) …… [Bagian diatas merupakan contoh pengaturan mengenai pemilahan sampah. Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/ kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas.] Paragraf 2 Pengumpulan Sampah Pasal 19 (1) Pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b dilakukan melalui kegiatan pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke TPS dan/atau TPS 3R atau TPST dengan tetap memperhatikan pemilahan sampah sesuai jenis sampah. (2) Kegiatan pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b, meliputi: a. skala permukiman, menjadi tanggung jawab lembaga pengelola sampah tingkat kelurahan dan pelaksanaannya dapat dikelola oleh warga yang dikoordinir oleh RT, RW, serta dapat juga dikelola oleh badan usaha secara profesional ; b. skala kawasan, menjadi tanggung jawab pengelola kawasan; c. skala kabupaten/kota menjadi tanggung jawab lembaga pengelola sampah tingkat kabupaten/kota. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengumpulan sampah diatur dengan peraturan bupati/walikota. (4) …… (5) …… [Bagian diatas merupakan contoh pengaturan tentang pengumpulan sampah. Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/ kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas.] 123 Paragraf 3 Pengangkutan Sampah Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah dalam melakukan pengangkutan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. menyediakan alat angkut sampah yang tidak mencemari lingkungan; b. mengangkut sampah dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA atau TPST; dan c. menjaga sampah terpilah tidak tercampur kembali. Dalam pengangkutan sampah, pemerintah daerah dapat menyediakan stasiun peralihan antara; …… …… Pasal 21 Dalam hal terdapat sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun, teknis pengangkutan sampah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. [Bagian diatas merupakan contoh pengaturan tentang pengangkutan sampah. Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/ kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas.] Paragraf 4 Pengolahan Sampah Pasal 22 (1) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf d meliputi kegiatan: a. pemadatan; b. pengomposan; c. daur ulang materi; d. daur ulang energi; dan/atau e. pengolahan sampah lainnya dengan teknologi ramah lingkungan. 124 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH (2) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. setiap orang pada sumbernya; b. pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya; dan c. pemerintah daerah. (3) Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya wajib menyediakan fasilitas pengolahan sampah skala kawasan yang berupa TPS 3R. (4) Pengolahan sampah mengutamakan prinsip pengolahan yang terdekat dengan sumber untuk mengurangi beban pengolahan sampah di TPA. (5) …… (6) …… Pasal 23 (1) (2) (3) (4) Pengolahan sampah di TPS 3R dapat dikerjasamakan dan/atau diselenggarakan oleh badan usaha di bidang kebersihan atau persampahan di bawah pembinaan dan pengawasan Pemerintah Daerah. Penyediaan lahan TPS 3R di kelurahan dan kecamatan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dan dapat dikerjasamakan dengan pelaku usaha, masyarakat dan/atau badan usaha dibidang kebersihan atau persampahan. …… …… Pasal 24 (1) Pengolahan sampah di TPS 3R harus memenuhi persyaratan teknis dan standar prasarana dan sarana pengolahan sampah. (2) Persyaratan teknis dan standar prasarana dan sarana pengolahan sampah di TPS 3R sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan peraturan perundangundangan. (3) …… (4) …… [Bagian diatas merupakan contoh pengaturan tentang pengolahan sampah. Silakan mengatur di Daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kabupaten/kota masing-masing. Lihat Tabel 4-1 nomor 5 untuk lebih jelas. Teknologi pengolahan sampah yang dipilih oleh daerah disesuaikan dengan kondisi daerah dan sebaiknya dilakukan analisis terlebih dahulu dalam naskah akademik.] 125 Paragraf 5 Pemrosesan Akhir Sampah Pasal 25 (1) (2) Pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf e, dilakukan di TPA untuk mengembalikan sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. Pemilihan teknologi dan lokasi TPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi ketentuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 26 Pemerintah Daerah wajib melakukan penutupan atau rehabilitasi jika TPA tidak memenuhi kriteria sesuai peraturan perundang-undangan. BAB VII PEMBIAYAAN DAN KOMPENSASI Bagian Kesatu Pembiayaan Pasal 27 Sumber pembiyaan pengelolaan sampah berasal dari: a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD); dan b. sumber pembiayaan lainnya yang sah sesuai Peraturan Perundang-undangan. Pasal 28 (1) (2) Pembiayaan kegiatan pengolahan sampah yang dilaksanakan oleh masyarakat menjadi tanggung jawab masyarakat. Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana pengolahan sampah yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai kebutuhan. 126 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Pasal 29 (1) Setiap orang yang menggunakan atau menerima manfaat jasa pelayanan pengelolaan sampah wajib membayar jasa pengelolaan sampah. (2) Besaran tarif yang dikenakan kepada setiap wajib bayar dihitung berdasarkan (3) (4) (5) kebutuhan biaya penyediaan jasa pengelolaan sampah yang diberikan menurut kaidah manajemen usaha dan mempertimbangkan kemampuan secara ekonomi dan aspek keadilan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tarif jasa pengelolaan sampah diatur dengan Peraturan Bupati/Walikota. …… …… [Bagian diatas merupakan contoh pengaturan mengenai pembiayaan pengelolaan sampah. Pasal 29 dimaksudkan untuk memayungi agar pengelola sampah di tingkat kelurahan dapat memungut iuran sampah dari warga yang dilayani yang dikelola oleh RT/RW setempat. Silahkan untuk pengaturannya didiskusikan dengan seluruh pemangku kepentingan dan disesuaikan dengan kebijakan daerah, agar tidak terjadi salah penafsiran/bias dengan Retribusi) Bagian Kedua Kompensasi Pasal 30 (1) (2) (3) (4) Kompensasi merupakan pemberian imbalan dan/atau rugi kepada orang perseorangan, kelompok orang dan/atau badan hukum, yang terkena dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penanganan sampah di TPA. Pemerintah Daerah wajib memberikan kompensasi sebagai akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah. Kompensasi harus dianggarkan dalam APBD. Dampak negatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. pencemaran air; b. pencemaran udara; c. pencemaran tanah; d. longsor; e. kebakaran;dan/atau f. ledakan gas metan; dan/atau g. hal lain yang dapat menimbulkan dampak negatif. 127 Pasal 31 (1) (2) (3) (4) (5) Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), dapat berbentuk: a. relokasi penduduk; b. pemulihan kualitas lingkungan; c. biaya kesehatan dan pengobatan; d. penyediaan fasilitas sanitasi dan kesehatan; dan/atau e. kompensasi dalam bentuk lain. Untuk memberikan jaminan kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan perusahaan asuransi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pola kerjasama dengan perusahaan asuransi diatur melalui Peraturan Bupati/Walikota. …… …… Pasal 32 Tata cara pemberian kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dilaksanakan melalui: a. pengajuan surat pengaduan kepada Pemerintah Daerah; b. pemerintah daerah melakukan investigasi atas kebenaran dan dampak negatif pengelolaan sampah; dan c. menetapkan bentuk kompensasi yang diberikan berdasarkan hasil investigasi dan hasil kajian. [Bagian diatas ini merupakan contoh pengaturan mengenai kompensasi. Ketentuan yang ada disini perlu dikaji karna harus disesuaikan dengan kelembagaan, muatan lokal, dan kearifan lokal daerah masing-masing. Silakan mengatur sesuai dengan kebutuhan daerah] BAB VIII PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Masyarakat dapat berperan aktif dalam pengolahan sampah dengan cara: a. meningkatkan kemampuan, kemandirian, keberdayaan dan kemitraan dalam pengelolaan sampah; b. …… c. …… [pengaturan peran serta masyarakat yang diharapkan oleh daerah pembentuk perda disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing] 128 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH (2) Pelaku usaha dapat berperan aktif dalam kegiatan pengolahan sampah melalui kegiatan: a. penyediaan dan/atau pengembangan teknologi pengolahan sampah; b. bantuan prasarana dan sarana; c. bantuan inovasi teknologi pengolahan sampah;dan d. pembinaan pengolahan sampah kepada masyarakat. e. …… f. …… [pengaturan peran serta pelaku usaha yang diharapkan oleh daerah pembentuk perda disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing] Pasal 34 (1) Setiap orang yang mengetahui, menduga dan/atau menderita kerugian akibat dampak negatif yang ditimbulkan dalam kegiatan pengelolaan sampah dapat menyampaikan pengaduan kepada …….. (2) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan dengan cara…… (3) …… (4) …… [pengaturan mengenai tata cara pengaduan diatur sesuai dengan kelembagaan dan muatan lokal daerah masing-masing] BAB IX RETRIBUSI Pasal 35 (1) Pemerintah daerah dapat mengenakan retribusi atas …….. (2) …… (3) …… [Pengaturan retribusi ini sebaiknya tidak diatur dalam Perda Pengelolaan Sampah ini, namun dapat diatur dalam perda kabupaten/kota yang khusus mengatur tentang retribusi daerah. Oleh karena itu, terlebih dahulu perlu dilakukan harmonisasi secara vertikal dan horisontal terhadap peraturan perundangundangan dan kelembagaan di daerah, kemudian rumusan mengenai retribusi ini dimasukkan kedalam kajian pada naskah akademik.] 129 BAB X LEMBAGA PENGELOLA Pasal 36 (1) (2) (3) Penyelenggaraan pengelolaan sampah dilaksanakan oleh lembaga pengelola sampah. Pemerintah daerah membentuk Lembaga pengelola sampah sebagai operator pengelolaan sampah. ……… Pasal 37 Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga pengelola sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diatur dengan peraturan bupati/walikota. [Apabila Daerah ingin mengatur tentang Bank Sampah, Lembaga Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan (LPSTK), dan lembaga pengelola sampah lainnya yang berbasis masyarakat, silahkan diatur sesuai dengan kebutuhan daerah. Pengaturan kelembagaan sebagai operator dalam pengelolaan sampah, sebaiknya disesuaikan dengan kelembagaan dan kebijakan dan strategi daerah pembentuk perda] BAB XI KERJASAMA Bagian Kesatu Kerjasama Antar Daerah Pasal 38 (1) (2) Pemerintah Daerah dapat melakukan kerjasama antar Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah. Bentuk dan pola kerjasama antar daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan. 130 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Bagian Kedua Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Pasal 39 (1) Pemerintah Daerah dapat melaksanakan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam pengelolaan sampah. (2) KPBU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan. (3) …… (4) …… BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Pembinaan Pasal 40 (1) Pemerintah Daerah melakukan pembinaan terhadap pengelolaan sampah, antara lain melalui kegiatan: a. ……. b. ……. (2)…….. [Silahkan mengatur pembinaan yang diharapkan oleh masing-masing daerah] Bagian Kedua Pengawasan Pasal 41 (1) Pemerintah Daerah melakukan pengawasan pelaksanaan pengelolaan sampah dengan cara: a. ….. b. …… (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. ….. b. …… [Disesuaikan dengan bentuk pengawasan yang diharapkan oleh masing-masing daerah] 131 BAB XIII LARANGAN DAN SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu Larangan Pasal 42 Setiap orang dilarang: a. membuang sampah sembarangan tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan; b. … c. …. [Silakan mengatur larangan di dalam pengelolaan sampah. Isi larangan disesuaikan dengan keadaan sosial budaya, kearifan lokal dan kebutuhan daerah masingmasing] Bagian Kedua Sanksi Administratif Pasal 43 (1) Sanksi administratif dilakukan oleh Kepala Daerah terhadap pengelola sampah yang melanggar ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan dalam izin; (2) Sanksi administratif sebagimana dimaksud pada ayat (1), yang diterapkan dapat berupa: a. .... b. .... (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan mekanisme penerapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati/Walikota. [Silakan mengatur bentuk, tata cara dan mekanisme penerapan sanksi administratif. Isinya diatur sesuai dengan sosial budaya, kearifan lokal dan kebutuhan daerah masing-masing] 132 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 44 (1) (2) (3) (4) (5) Setiap Setiap Setiap Setiap Setiap orang yang membuang sampah tidak pada tempatnya… orang yang melakukan pembakaran sampah… orang yang… pelaku usaha yang… produsen yang… [Silakan membuat pengaturan dalam ketentuan pidana. Isinya disesuaikan dengan keadaan sosial budaya masyarakat, kearifan lokal dan kebutuhan daerah masingmasing] BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 45 (1) ……… (2) …… [Silahkan masing-masing daerah mengatur aturan peralihan sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing] BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 46 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Nomor ….. Tahun ……. tentang …………………….., dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. [Bagian diatas ini digunakan apabila sebelumnya terdapat Perda tentang Pengelolaan Sampah yang lama yang ingin dicabut] 133 Pasal 47 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota ………………. Ditetapkan di ………. pada tanggal ……… BUPATI/WALIKOTA …………….. NAMA BUPATI/WALIKOTA Diundangkan di…….. pada tanggal…………. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN/KOTA ……….., …………………………………. NIP. …………………………… LEMBARAN DAERAH KABUPATEN/KOTA …..…TAHUN….….NOMOR…. 134 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 135 136 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA.......... NOMOR…TAHUN… TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH I. UMUM [Memuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran, maksud dan tujuan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans, serta asas, tujuan atau materi pokok yang terkandung dalam batang tubuh.] II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Huruf a Asas ...... adalah ...... Huruf b Asas ...... adalah ...... Huruf c Asas ...... adalah ...... Pasal 3 Cukup jelas 137 Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dokumen perencanaan daerah tentang pengelolaan sampah meliputi: a. Rencana Induk; b. Studi Kelayakan; atau c. Perencanaan Teknis dan Manajemen Persampahan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. 138 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “pembatasan timbulan sampah” adalah upaya meminimalisasi timbulan sampah yang dilakukan sejak sebelum dihasilkannya suatu produk dan/atau kemasan produk sampai dengan saat berakhirnya kegunaan produk dan/atau kemasan produk. Contoh implementasi pembatasan timbulan sampah antara lain: 1. penggunaan barang dan/atau kemasan yang dapat di daur ulang dan mudah terurai oleh proses alam; 2. membatasi penggunaan kantong plastik; dan/atau 3. menghindari penggunaan barang dan/atau kemasan sekali pakai. Huruf b Yang dimaksud dengan “pendauran ulang sampah” adalah upaya memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna setelah melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu. Huruf c Yang dimaksud dengan “pemanfaatan kembali sampah” adalah upaya untuk mengguna ulang sampah sesuai dengan fungsi yang sama atau fungsi yang berbeda dan/atau mengguna ulang bagian dari sampah yang masih bermanfaat tanpa melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. 139 Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. 140 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. 141 Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN/KOTA.........NOMOR.......... 142 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH 143 144 PANDUAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH PENYUSUN TIM PENGARAH: Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE,ME Ir. Dodi Krispratmadi, M.Env.E TIM PENYUSUN: Marsaulina FMP Dadang Suryana Sabbath Marchend Raminatha P. Uno Siti Nursanti Budiaf DESAIN & TATA LETAK: Haposan Sihotang Haria Ikbal SukaSeni Studio FOTO: Kementerian Pekerjaan Umum danPerumahan Rakyat dan dari berbagai sumber DICETAK DI INDONESIA, PENERBIT : Direktorat PPLP Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 145