Uploaded by common.user31433

MOTIVASI BERAGAMA

advertisement
BAB 11 MOTIVASI UNTUK KELAKUAN BERAGAMA
Duduknya perkara
Psikologi mengajukan petanyaan tentang motivasi, karena psikologi ingin
mengerti gejala-gejala psikis yang menjadi obyek ilmu jiwa. Setiap ilmu
pengetahuan yang melebihi taraf deskripsi belaka, psikologi pun tidak hanya mau
memandang dan melukiskan obyeknya tetapi juga ingin mengerti. Dan karena
kelakuan manusia yang mau dimengerti oleh psikologi, maka sebab-musababnya
disebut “motif” atau “motivasi”, mengingat manusia itu makhluk berbudi. Maksud
motif disnini ialah penyebab psikologis yang merupakan sumber serta tujuan dari
tindakan dan perbuatan seorang manusia, yang bersifat kausal dan final sekaligus.
Setiap kelakuan manusia, termasuk kelakuan beragama, yang merupakan hasil
dari hubungan dinamika timbal-balik antara tiga faktor, yaitu:
a. Sebuah gerak atau dorongan yang spontan dan alamiah terjadi pada
manusia.
Dorongan-dorongan ini timbul dengan sendirinya dan tidak ditimbulkan
manusia dengan sengaja. Dorongan ini bersifat alamiah dan bekerja
otomatis.
b. Ke-aku-an manusia sebagai inti-pusat kepribadiannya
Proses yang tadinya terjadi padaku kini kujadikan sendiri hingga
sekarang merupakan perbuatanku.
c. Situasi manusia atau lingkungan hidupnya.
Tindakan dan perbuatan manusia tidak terlepas dari dunia di sekitarnya.
FASAL 1: AGAMA SEBAGAI SARANA UNTUK MENGATASI FRUSTASI
Manusia membutuhkan bermacam-macam hal, mulai dari kebutuhan fisik
seperti makanan, pakaian, istirahat, sampai kebutuhan psikis seperti keamanan,
ketenteraman, persahabatan, penghargaan dan cintakasih. Maka terdorong untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan itu. Ketika kebutuhan dan keinginan tidak
terwujud, maka perasaan yang muncul adalah kecewa dan tidak senang. Keadaan
inilah yang disebut frustasi.
Psikologi mengobservasi bahwa keadaan frustasi dapat menimbulkan perilaku
beragama, karena ketika gagal memperoleh kepuasan yang diinginkan, maka ia
mengarahkan keinginannya kepada Tuhan, lalu mengharapkan pemenuhan
keinginannya dari Tuhan.
Sigmund Freud (1856-1939) agama memang bersifat fungsional belaka. Agama
itu jawaban manusia atas frustasi yang dialami diberbagai bidang hidupnya.
Manusia bertindak religious karena ia mengalami frustasi (ketegangan kausal) dan
untuk mengatasi frustasi itu (ketegangan final).
A. Frustasi karena alam
Yang dimaksud alam disini ialah dunia jasmani yang dibutuhkan
manusia untuk hidup. Dunia jasmani menyediakan udara, terang, makanan,
minuman, dan pakaian agar manusia sehat dan keberlangsungan hidupnya
terjamin. Dibidang ini frustasi memang tidak terelakkan, sebab pada
akhirnya manusia selalu dikalahkan oleh alam, ia akan mati.
a) Teori Freud
Jalan pikiran Freud dapat diringkaskan dalam 4 langkah:
-
Impian manusia yang mendalam ialah untuk menjadi maha kuasa.
-
Kenyataan dunia ini, yaitu penyakit dan maut, menyebabkan
manusia frustasi karena ketidakberdayaan terhadap alam. Segala
perlawanannya akhirnya tidak berhasil.
-
Dalam keadaan frustasi timbullah kembali motif-motif dan reaksireaksi yang bersifat arkhais, artinya yang berasal dari masa kanakkanak. Dalam keadaan frustasi, orang dewasa mulai berekasi seperti
anak kecil. Yang memberi kepada alam dunia suatu wajah yang
ramah, wajah seorang manusia, wajah seorang bapak. Dengan kata
lain, ia mempribadikan alam.
-
Alam yang telah dipribadikannya itu, manusia menyerahkan dan
memindahkan kemahakuasaan yang diinginkannya bagi dirinya
sendiri tetapi tidak dimilikinya. Pemindahan tersebut terjadi supaya
“Yang Maha Kuasa” itu memelihara, melindungi, dan membantu
manusia dakan segala hal dengan penyelenggaraan Ilahi-Nya.
Kesimpula dari Freud ini adalah regresi kepada fase kanak-kanak.
Motivasi beragama, alasan mengapa orang memeluk agama ialah untuk
dapat mengatasi frustasi, in casu frustasi yang disebabkan oleh
kesusahan jasmani.
b) Tanggapan terhadap pendapat Freud
a. Penelitian pertama diadakan oleh S.A Stouffer dan menyangkut
perilaku beragama prajurit Amerika Serikat sehubungan dengan
perang dunia II. Para responden adalah prajurit yang dalam
perang dunia II ditempatkan di garis depan. Situasi ini terang
nyata situasi frustasi karena kesukaran jasmani. Menurut Freud,
situasi
semacam
itulah
yang
harus
dipandang
sebagai
menimbulkan agama. Mengingat tesis Freud ini maka hasil
penyelidika Stouffer cukup menarik, yaitu:
 75% dari semua responden menjawab bahwa mereka
bertindak religious. Pada waktu itu mereka berdo’a, berseru
kepada penyelenggaraan Ilahi. Jawaban ini cocok dengan
tesis Freud dan membenarkan pula pengalaman umum
bahwa doa sering kali merupakan jeritan seorang manusia
yang merasa dirinya terancam.
 Perkembangan keagamaan mereka daam kehidupan seharihari sesudah perang: 29% menjawab bahwa mereka telah
menjad ebih religious, 30% menjawab bahwa mereka telah
menjadi kurang religious, dan 41% menjawab bahwa
religiusitas mereka tidak bertambah dan tidak berkurang.
Jawaban-jawaban ini menarik sekali, tetapi yang paling
menarik yaitu dari semua responden itu terdapat 79% yang
mengatakan bahwa iman mereka bertambah kuat.
Penyelidikan Stouffer ini dapat disimpulkan bahwa Freud benar
bila
mengatakan
bahwa
kesukaran
jasmani
(perang)
menimbulkan kelakuan religious. Tetapi dua hal harus
ditambahkan. Pertama, bahwa ini tidak mempunyai akibat yang
tahan lama. Kedua “religi” harus diartikan bukan sebagai iman
yang matang, tapi sebagai reaksi spontan dan afektif, berupa
kepercayaan layaknya anak-anaka kepada seorang bapak
pelindung.
b. Untuk menguji teori frustasi karena alam sebagai motif kelakuan
Bergama,
Vergote
bersama
Bustamante
mengadakan
penyelidikan tentang kuatnya kecenderungan untuk berdoa dalam
situasi frustas dan dalam situasi yang menyenangkan. Para
responden adalah sekelompok orang Belgia dan sekelompok
orang Amerika Latin. Adapun hasilnya yaitu:
 Dalam kelompok Belgia kecenderungan untuk berdo’a
hampir sama kuatnya dalam frustasi dan dalam situasi
yang menyenangkan, baik untuk pria dan wanita. Akan
tetapi dalam kelompok Amerika Latin baik pria maupun
wanita jelas sekali lebih cenderung untuk berdo’a dalam
situasi frustasi.
 Pada semua responden itu kecenderungannya untuk
berdoa ternyata paling kuat dalam situasi frustasi paling
besar.
 Reaksi religious (berdoa) dalam situasi frustasi tidaklah
menggantikan keaktifan lainny. Sebab tampak pula dari
penyelidikan ini bahwa:

Justru dari mereka yang berkecenderungan kuat
untuk berdoa dalam situasi frustasi, kebanyakan
menanggapi frustasi secara aktif.

Cenderung untuk berdoa dala situasi frustasi,
Cuma 33,5% bereaksi aktif, mayoritas besar
bereaksi pasif 66,5%.
Dari penyelidikan Vergote-Bustamante dapat disimpulkan
bahwa:
1) Bukan hanya frustasi tapi juga situasi menyenangkan dapat
menimbulkan kelakuan religious. Hal ini tidak diterangkan
oleh Freud.
2) Bahaya maut, terlebih kematian diriku sendiri, menimbulkan
kecenderungan paling kuat untuk berdoa.
3) Kelakuan beragama ternyata dipengaruhi oleh pendidikan dan
iklim kebudayaan.
4) Doa memang sering bersifat jeritan manusia yang sedang
susah, tapi jeritan itu pertama-tama “pekik pertempuran” dari
orang yang berjuang.
c. Kedua penyelidikan tadi membenarkan pengalam yang cukup
umum ini: ketidakberdayaan manusia terhadap kesusahan
material, penyakit dan terutama
maut memang merupakan
dorongan paling kuat untuk perilaku religious yang spontan.
Religi yang spontan ini bersifat alamiah.
B. Frustasi Sosial
Yang dimaksud dengan frustasi sosial ialah adanya konflik antara
individu dengan masyarakat yang mengakibatkan manusia merasa tidak
bahagia.
a) Teori Marx
Martabat manusia tidak diakui. Manusia diperas, diperbudak, dan
diasingkan dari dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia mulai
berfantasi tentang situasi yang ideal, dimana ia diakui sebagai manusia.
Agama tidak dapat memberikan apa yang dibutuhkan manusia.
Manusia memerlukan pengakuan oleh sesama manusia dalam masyarakt
yang nyata, sedangkan religi menyajikan suatu pengakuan oleh Allah di
surga. Oleh sebab itu masyarakat semacam itulah yang harus dikejar
dan diusahakan manusia. Bila itu terwujud, maka agama akan hilang
dengan sendirinya karena tidak diperlukan lagi.
b) Teori freud
Freud tidak sependapat dengan Marx. Freud mengatakan bahwa
yang menyebabkan frustasi sosial ialah faktor-faktor yang melekat pada
kodrat manusia, sehingga masyarakat tidak dapat menghilangkan
frustasi sosial.
Freud beranggapan bahwa manusia sebagai individu pada dasarnya
bermusuhan dengan masyarakat. Individu ingin 100% bebas dari
halangan apapun untuk mencari nikmat dengan sepenuh-penuhnya. Tapi
masyarakat hanya mengizinkan kebebasan yang terbatas. Oleh karena
itu individu mencari kompensasi.
Freud menekankan bahwa mustahil manusia diperdamaikan dengan
masyarakat. Dengan kata lainm cita-cita Marx itu hayalan belaka. Itu
sebabnya manusia mengharapkan perdamaian bukan di dunia, tetapi di
akhirat.
c) Tanggapan terhadap teori Freud dan Marx
Dalam pandangan Freud dan Marx, agama (Tuhan, surge)
merupakan buatan manusia, dibikin oleh manusia sendiri karena ia
membutuhkan hiburan sebagai kompensasi atas segala frustasi yang
dialaminya dalam kehidupan sehari-hari, akibat bentrok dengan
masyarakat. Mengenai frustasi sosial, seperti tadi mengenai frustasi
karena alam perlu ditanyakan apakah hipotesa ini dibenarkan oleh faktafakta. Ada 4 hipotesa yang patut dipertimbangkan:
1. Hipotesa tentang frustasi sosial sebagai motif kalakuan religious ini
sebagian memang dibenarkan oleh pengalaman.
2. Dalam teori Marx dan Freud, agama berfungsi sebagai kompensasi
untuk mengimbangi penderitaan, sesangsara di dunia ini dibalas
dengan kebahagiaan di akhirat nanti.
3. Menurut Marx, agama akan hilang dengan sendirinya bila keadaan
sosial telah diubah dan masyarakat tanpa kelas sudah terlaksana.
4. Data-data sosiologi dan statistic mengenai perilaku religious
memang terlalu kompleks untuk dapat membuktikan benar atau
tidaknya tesis Marx dan Freud. Dari penyelidikan sosiologis itu
tampak 2 hal yang perlu disebut disini:
 Ada penyelidikan sosiologis yang memperlihatkan bahwa
kalangan yang paling rajin menjalankan praktek-praktek
beragama ialah kalangan atas, misalnya di Inggris, dan
kalangan menengah, misalnya di Amerika Serikat. Menurut
tesis Marx, agama itu akibat frustasi sosial.
 Penyelidikan
mengenai
sekte-sekte
keagamaan
memperlihatkan bahwa orang yang masuk sekte yaitu
biasanya
orang yang mengalami frustasi sosial. Dalam
sekte, orang mencari dan menemukan penghargaan dan
perlindungan serta keakraban yang tidak mereka temukan
dalam masyarakat atau agama besar.
Perbedaan antara sekte dan agama besar itu meniadakan
hubungan sebab-akibat yang diterima Marx antara kegagalan
sosial dan agama. Rupanya tesis Marx dan Freud ini lebih
mudah diterapkan pada sekte, bukan pada agama resmi.
Download