BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas tinjauan dan landasan teori yang akan menunjang perancangan penguat daya RF. Pada bab ini juga akan dibahas secara singkat mengenai komponen-komponen dan metoda – metoda yang digunakan dalam perancangan penguat daya RF yang akan direalisasikan 2.1. Tinjauan Pustaka Penguat daya RF telah dibuat sebagai proyek akhir di program studi Teknik Telekomunikasi memiliki spesifikasi yang berbeda dalam hal frekuensi, daya keluaran, jenis transistor yang di gunakan, metoda yang digunakan dan fungsi penguat itu sendiri. Berikut ini adalah proyek akhir yang pernah direalisasikan sebelumnya: Proyek akhir [1] telah merealisasikan penguat daya RF untuk pemancar TV UHF Kanal 21 realisasi tersebut telah merealisasikan penguat daya RF untuk televisi digital kanal 21 UHF pada frekuensi 470-478MHz dengan menggunakan tipe transistor 2SC1970 pada tingkat pertama (Driver Amplifier) dan BLW90 pada tingkat kedua (Final Amplifier) dengan daya output 1 Watt. Kekurangan nya meskipun daya output yang di hasilkan besar namun kualitas gambar yang di hasilkan kurang bagus hal ini dikarenakan respon frekuensi yang jelek sehingga berpengaruh pada hasil kualitas gambar yang di tampilkan pada kanal TV tersebut. Kelebihan penguat daya RF ini masih mampu menampilkan gambar dan suara pada kanal 21 UHF tersebut Proyek akhir [2] telah merealisasikan penguat daya RF Pada Band Frekuensi TV UHF Kanal 22 (478-486)MHz . Realisasi tersebut telah merealisasikan penguat daya RF untuk televisi didital kanal 22 UHF dengan menggunakan transistor BLW90. Kekurangan nya linearitas dari penguat daya RF ini rendah terhadap penguatan daya dan frekuensi. Kelebihan nya penguat daya RF ini masih bisa menampilkan gambar dan suara pada kanal 22 UHF dengan penguatan daya yang cukup baik 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Proyek akhir [3] telah merealisasikan penguat daya RF Realisasi Penguat Daya Dengan Penguatan 6dB Untuk Pemancar Televisi Kanal 21 UHF (470478Mhz) Dengan Daya Keluaran 4 Watt. Kekurangan nya pada rangkaian matching impedance penguat RF ini masih buruk di karenakan pada saat mentala kapasitor dan membuat inductor masih kurang teliti. Kelebihan nya penguat daya RF ini mampu mengeluarkan daya output sebesar 4W sehingga dengan gain yang di inginkan sebesar 6.99dB. Proyek akhir [4] telah merealisasikan Penguat Daya RF Broadband Untuk Pemancar TV Digital Pada Band IV-V UHF. Penguat RF yang telah di realisasikan ini menggunakan tipe penguat transistor BLW 34 yang bekerja pada band frekuensi 470-820. kekurangan nya rangkaian matching masih belum sempurna sehingga transfer daya maksimum yang di inginkan Antara input dan output tidak match. kelebihan nya penguat daya RF ini mampu bekerja pada band RF boardband sebesar 470MHz-820MHz. Proyek akhir [5] telah merealisasikan penguat daya RF Broadband untuk pemancar televisi digital pada band IV/V dengan transistor BLW33. Pada tugas akhir ini direalisasikan penguat untuk boardband yang bekerja pada pita frekuensi sebesar 390MHz dengan band frekuensi yang sangat lebar yaitu 520-910MHz dengan menggunakan transistor BLW33. Kekurangan nya pada rangkaian impedansi dan penguat biasing mengalami perubahan penguatan sehingga membuat transistor RF-nya mengalami kerusakan. Kelebihan nya rangakain ini mampu menguatkan kanal hingga 41 kanal televisi UHF 2.2. Landasan Teori Berikut ini beberapa ulasan teori yang terkandung dalam proyek akhir ini. a. Komponen – komponen yang biasa digunakan pada penguat daya RF b. Kelas operasi penguat yang biasa di gunakan pada rangkaian penguat RF c. Rangkaian penyesuai impedansi yang biasa digunakan dalam rangkaian penguat daya RF Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.1 Komponen – Komponen R,L,C pada Frekuensi Tinggi Dalam merancang sebuah penguat daya RF banyak factor yang dapat mempengaruhi seperti karakteristik komponen, jenis penguat, biasing dan rangkaian penyesuai impedansi . Karakteristik komponen – komponen pasif seperti resistor, inductor dan kapasitor (R, L, C) pada frekuensi tinggi komponen – komponen tersebut tidak lagi bersifat sebagai komponen pasif murni, tetapi frekuensi yang tinggi akan mempengaruhi komponen – komponen pasif tersebut menjadi sebuah rangkaian ekuivalennya. 2.2.1.1 Resistor Resistor (âĻ = Ohm) adalah komponen elektronika 2 kutub yang di desain untuk menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan di antara kedua kutub nya sesuai dengan arus yang mengalirinya. Resistansi adalah besaran yang menentukan besarnya energy listrik yang di konversi menjadi energi panas untuk arus listrik yang diberikan. [5] Rangkaian ekivalen untuk sebuah resistor pada frekuensi RF di tunjukan pada gambar di bawah ini : Gambar 2.1 Rangkaian ekivalen resistor pada frekuensi tinggi R adalah nilai resistor itu sendiri, L adalah induktansi, dan C adalah kombinasi dari parasitic kapasitansi yang mana pada setiap resistor bervariasi tergantung pada struktur resistor. Resistor merupakan komponen pasif yang dibuat untuk mendapatkan hambatan tertentu. Pada daerah frekuensi tinggi komponen tersebut mengandung kapasitansi dan induktansi parasitik sehingga tidak bersifat resitif murni lagi.[4] Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.1.2 Kapasitor Kapasitor adalah sebuah komponen yang terdiri dari dua plat konduktor yang di pisahkan oleh dielektrik. Dielektrik biasanya berupa keramik, mika, plastik, film, kaca. Kapasistansi adalah kemampuan menyimpan muatan listrik saat ada beda potensial antara konduktor. Pada frekuensi tinggi kapasitor di modelkan dengan sebuah rangkaian ekivalen yang di tunjukan pada gambar 2 di mana C adalah Kapasitansi, Rs adalah heat dissipation loss, Rp adalah Insulation Resistance, dan L adalah induktansi dari kaki dan plat. [4] Gambar 2.2 Rangkaian ekivalen kapasitor pada frekuensi tinggi Berikut ini adalah persamaan untuk menghitung reaktansi kapasitif Xc = đđ = 1 2đđđ ……………………………………............. (2.1) Dimana : Xc = Reaktansi kapasitif (âĻ) f = Frekuensi (Hz) c = Kapasitansi (F) Berdasarkan persamaan di atas menunjukan bahwa kapasitor dengan nilai lebih besar memiliki reaktansi lebih rendah di bandingkan kapasitor dengan nilai kecil pada frekuensi tertentu. Namun pada frekuensi tinggi terjadi sebaliknya, kapasitor bernilai lebih besar memiliki impedansi yang lebih besar juga. [4] Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.1.3 Induktor Induktor merupakan lilitan kawat dalam aturan tertentu untuk meningkatkan fluks magnet pada kumparan. Induktor merupakan salah satu komponen yang sering di pakai dalam perancangan rangkaian resonansi, filter, penggeser phasa dan RFC (Radio Frequency Choke) di mana RFC di gunakan untuk mencegah sinyal AC agar tidak masuk ke suatu bagian dari rangkaian. [4] Gambar 2.3 Rangkaian ekivalen induktor pada frekuensi tinggi Besarnya nilai reaktansi induktif (XL) dari suatu induktor tergantung pada frekuensi yang di gunakan dan nilai induktansi dari induktor tersebut. Seperti persamaan berikut ini : XL = đđŋ = 2đđš. đŋ ……………………………………………… (2.2) Dimana : XL = reaktansi induktif (âĻ) f = frekuensi (Hz) L = induktansi (H) Induktor yang di gunakan pada perancangan penguat RF ini menggunakan inductor dengan inti udara, dimana banyaknya lilitan yang di perlukan untuk mencari sebuah inductor dengan harga yang dapat di cari menggunakan persamaan berikut ini : đ=√ đŋ (9đ+10đ) 0.394đ 2 ………………………………………… (2.3) Dimana: N = banyaknya lilitan yg di perlukan, L = nilai induktansi dari inductor l = panjang lilitan (cm), Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 r = jari-jari lilitan (cm) 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI sedangkan diameter kawat dari kawat yang di gunakan dapat di cari dari persamaan berikut ini : d kawat = 1 đ ………………………………………………... (2.4) Dimana : d kawat = diameter kawat tembaga (cm) l = panjang lilitan (cm), N = banyak nya lilitan 2.2.2 Kelas Penguat Transistor Penguat daya diklasifikasikan berdasarkan kelas operasinya. Masingmasing kelas operasi mempunyai sifat yang berbeda satu sama lainnya. Penggunaan dari masing – masing kelas disesuaikan dengan kebutuhan untuk menentukan liniearitas dan efisiensi dari penguat daya. Berdasarkan lokasi titik kerja kelas operasi penguat daya dibagi beberapa kelas yaitu kelas A,B,AB dan C 2.2.2.1 Penguat Daya Kelas A Penguat kelas A adalah penguat yang paling linier dari semua kelas amplifier lainnya. Efisiensi dari penguat kelas A memiliki efisiensi yang rendah 25% - 50%. Hal ini disebabkan karena titik kerja pada kelas A tersebut, sehingga walaupun tidak ada sinyal input transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan. Transistor selalu aktif sehingga sebagian besar sumber dari catu daya terbuang yang menyebabkan transistor pada penguat kelas A menjadi sangat panas. Karena itu penguat kelas A perlu di tambakan pendingin extra seperti heatsink yang lebih besar.[4] Pada penguat kelas A, arus kolektor mengalir selama satu siklus ac penuh (360o) sehingga transistor berada dalam daerah aktif untuk seluruh siklus tersebut. Jika sinyal yang besar di berikan pada penguat kelas A, maka akan terjadi pemotongan pada siklus positif ataupun siklus negatif. [5] Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI (a) (b) Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE + IcRc + IeRe. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Sedangkan resistor Ra dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Pembaca dapat menentukan sendiri besar resistor-resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus Ib yang memotong titik Q. [3] (c) Gambar 2. 4 (a) Rangkian Penguat Kelas A (b) Garis beban dan Q penguat kelas A (c) Kurva karakteristik penguat kelas A Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.2.2 Penguat kelas B Penguat kelas B, arus kolektor mengalir 180o dari siklus ac. Artinya titik kerja (Q) di tempatkan dekat titik putus dari kedua garis beban dc dan ac. Keuntungan dari penguat kelas B yaitu rendahnya disipasi daya transistor dan berkurangnya penguras arus. Untuk menghindari distorsi yang dapat terjadi maka arus menggunakan dua transistor dalam susunan push-pull. Ini berarti bahwa satu transistor bekerja selama setengah siklus dan transistor yang lain bekerja selama setengah siklus yang lain. Dengan rangkaian push-pull, kita dapat membangun penguat kelas B yang mempunyai distorsi rendah, daya besar dan efisiensi tinggi. [4] Gambar 2. 5 Garis beban dc, kurva karakteristik dan Rangkaian penguat kelas B Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.2.3 Penguat Kelas AB Penguat kelas AB adalah penguat yang mempunyai daerah kerja Antara titik kerja penguat kelas A dan penguat kelas B. titik kerja tersebut dibuat dengan tujuan agar pada saat transisi sinyal dari phase positif ke phase negative dan sebaliknya, terjadi overlap diantara transistor Q2 dan Q3. Pada saat itu, transistor Q2 masih aktif sementara Q3 mulai aktif dan demikian juga pada phase sebaliknya. Untuk mendapatkan push pull seperti kelas B, dengan level bias DC biasanya mendekati level arus nol untuk mendapatkan efisiensi daya lebih baik, tetapi penggunaan transistor tunggal bisa di gunakan, hanya saja membutuhkan penempatan rangkaian resonansi pada output transistor. umtuk penguat kelas AB sinyal output akan berubahubah periode antara 180 – 360o. [3] Karena penguat kelas A memiliki efisiensi daya yang rendah (±25%) yang disebaban titik kerja berada di 1/2 VCC tetapi memiliki kualitas sinyal yang terbaik. Sedangkan penguat kelas B memiliki efisiensi daya yang baik (±85%) karena titik kerja mendekati VCC tetapi kualitas suara yang kurang baik.Sehingga dibuat amplifier kelas AB yang memiliki efisiensi daya penguatan sinyal (±60%) dengan kualitas sinyal audio yang baik. [5] Gambar 2. 6 Rangkaian penguat kelas AB dan Garis beban DC Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.2.4 Penguat Kelas C Daerah operasi penguat kelas C adalah arus kolektor mengalir pada siklus kurang daari 180o siklus ac. Sehingga arus kolektor tidak terbentuk sinusoidal tetapi menyerupai pulsa – pulsa. Untuk menghindari distorsi yang di sebabkan oleh beban yang bersifat tahanan murni, penguat kelas C biasanya digunakan pada penguat daya yang besar karena kelebihannya mempunyai efisiensi yang tinggi. Namun, linearitas dari kelas C adalah yang terburuk jika bandingkan dengan kelas – kelas penguat lainnya. Hal ini disebabkan karena penguat kelas C hanya bekerja pada setengah siklus saja sehingga output yang dihasilkan kurang baik (cacat). [5] Gambar 2.7 Rangkaian penguat kelas C dan Garis beban DC Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.3 Bias Transistor Pemberian biasing berfungsi untuk menentukan garis beban dc dan titik kerja transistor. tipe dari bias yang digunakan untuk transistor daya RF ditentukan oleh kelas penguat yang diinginkan untuk transistor tipe BJT, [4] diantaranya : a. Self bias b. Fixed bias 2.2.3.1 Rangkaian Self Bias (Pembagi tegangan) Bias pembagi tegangan biasanya digunakan pada rangkaian-rangkaian diskrit linier. Pembagi tegangan berasal dari pembagi tegangan yang di bentuk dari R1 danR2. Tegangan pada R2 mebias forward diode emitter dan Vcc membias reserve diode kolektor.[4] Rumus pembagi tegangan pada hokum ohm sebagai berikut: đ 2 V2 = đ 1+đ 2 đĨ đđđ ………………………………………………………..... (2.5) Hukum Kirchoff memberikan Harga VE, yaitu : VE = V2 - VBE ………………………………………... (2.6) Gambar 2.8 Rangkian self bias Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Persamaan 2.5 dan 2.6 menyatakan tegangan pada resistor emitter sama dengan tegangan R2 dikurangi jatuh tegangan VBE oleh karena itu arus emitter adalah: IE = đ2−đđĩđ¸ đ 𸠅…………………………………………… (2.7) 2.2.3.2 Rangkaian Fixed Bias Cara kerja rangkaian fixed bias atau yang disebut rangkaian bias umpan balik yaitu menaikan temperature βdc sehingga menyebabkan arus pada kolektor bertambah. Setelah arus kolektor bertambah, tegangan kolektor emitter berkurang. Artinya tegangan yang lebih kecil jatuh pada resistor basis sehingga arus basis berkurang. Berkurangnya arus basis dapat mengurangi pertambahan arus kolektor semula. Jadi, umpan balik kolektor mampu mengontrol arus kolektor terhadap βdc. [5] Gambar 2.9 Rangkaian Fixed Bias Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.4 Rangkaian Penyesuai Impedansi Rangkaian penyesuai impedansi sering digunakan untuk menyesuaikan impedansi masukan dan impedansi keluaran dalam suatu rangkaian. Fungsi dari penyesuai impedansi ini yaitu memberikan transfer daya maksimum antara sumber ke beban, memberikan C/N atau S/N ratio, dan untuk menurunkan VSWR ( voltage standing wave ratio). [5] Adapun jenis – jenis rangkian penyesuai impedansi dengan menggunakan beberapa metoda yaitu : a. Elemen Lumped : tipe L, tipe phi dan tipe T b. Stub : stub adalah saluran dengan ujung terutup ( short circuit) atau terbuka (open circuit), untuk mendapatkan impedansi/admitansi imajiner, yang dipasang secara parallel atau seri denga saluran utama. Jenis –jenis stub yaitu : stub tunggal, stub ganda dan triple stub. [6] c. Transformator īŦ/4 : tunggal dan multisections. 2.2.4.1 Penyesuai impedansi dengan Elemen Lumped a. Penyesuai impedansi Tipe L Rangkaian ini merupakan rangkaian untuk menyesuaikan impedansi terminal output pemancar dengan antenna. Sering juga digunakan pada matching basis dan kolektor suatu pemancar yang mempergunakan komponen solid state dengan daya yang kecil. Rangkaian tipe ini kurang cocok untuk daya yang tinggi . (a) Low-pass Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI (b) High-pass Gambar 2. 10 Jenis- Jenis Rangkaian Penyesuai Tipe L Persamaan – persamaan yang digunakan: đ đ Qs = Qp = √ đ đ − 1 ………………………………………(2.8) Xs = QsRs ……………………………………….(2.9) đ đ ……………………………………….(2.10) Xp = đđ Qs dan Qp Merupakan faktor kualitas seri ataupun parallel Gambar 2. 11 Rangkaian Ekuivalen Bentuk L Ada dua cara untuk menggunakan metoda penyesuai impedansi tipe L, yaitu : a. Absorption, teknik absorption ini adalah dengan cara menambahkan komponen LC secara langsung b. Resonansi stray reaktansi dengan harga yang sama dengan tanda yang berlawanan Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2.4.2 Penyesuai Impedansi Tipe Phi (đ ) Penyesuai impedansi tipe ini merupakan penyesuai impedansi yang lebih praktis untuk impedansi tipe rendah. Jaringan penyesuai topologi đ memberikan kita kebebasan untuk mengatur faktor kualitas rangkaian, yang berarti kita bebas menentukan bandwdth dari penyesuai impedansi. [6] Gambar 2. 12 penyesuai impedansi tipe phi Untuk keperluan perancangan biasanya diinginkan ZL dan ZS riil sehingga faktor kualitas untuk rangkaian kiri dan kanan menjadi QS īŊ RS ī1 , R QL īŊ RL ī1 R ………………………..(2.11) Faktor kualitas maksimum ditentukan oleh harga RS dan RL, yaitu QīŊ Rmax ī1 , R Rmax īŊ max( RS , RL ) ……………….(2.12) Faktor kualitas Q ini diperlukan untuk mengatur bandwidth. Dengan harga Q yang diketahui, kita dapat menentukan R dari RīŊ Rmax ………………………………………………(2.13) Q2 īĢ1 Salah satu faktor kualitas dari (2.11) akan sama dengan Q pada (2.12), tetapi Q tidak akan kurang dari faktor kualitas minimum Qmin, Q īž Qmin , Qmin īŊ Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 Rmax ī1 Rmin …………………………...(2.14) 19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI karena harus dipenuhi R īŧ Rmin. 2.2.4.3 Penyesuai Impedansi Tipe T Rangkaian ini merupakan rangkaian yang paling praktis untuk impedansi yang rendah. Komponen – komponen yang didapat dari hasil perhitungan yang menggunakan komponen variable. Rangkaian penyesuai impedansi ini dikonfigurasi untuk menyesuaikan beban dan sumber ke sebuah resistansi vitual yang berbeda diantara kedua L network. Tesistansi virtual tersebut nilainya lebih besar dari resistasni sumber bebannya. [5] Gambar 2. 13 Penyesuai Impedansi tipe T Persamaan-Persamaan yang digunakan : đ Q = √đ đ đđđđ − 1 ………………………………………………..(2.15) Dimana, R = Virtual resistansi Rsmall = terminating resistor terkecil đ đ Q2 = √ đ đ − 1 ………………………………………………..(2.16) Dimana, Rp = resistansi parallel dari bentuk L Rs = Resistansi seri dari bentuk L Xs1 = Q.Rs ………………………………………………..(2.17) Xp1 = Rp/Q ………………………………………………..(2.18) Xs2 = Q2.R1 ………………………………………………..(2.19) Xp2 = R/Q2 ………………………………………………..(2.20) Maka rumus mendapatkan nilai L dan C sebagai berikut : Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI C= 1 2đđđĨđ , L= đđ …………………………………….(2.21) 2đđ 2.2.4.4 Penyesuai Impedansi dengan Stub Stub adalah saluran dengan ujung tertutup (short circuit) atau terbuka (open circuit), untuk mendapatkan impedansi/admitansi imajiner, yang dipasang secara paralel atau seri dengan saluran utama. Jumlah stub dapat berjumlah satu (tunggal), dua (dobel), atau tiga (tripel). [6] d A ZL saluran utama, Z0 Z0 ls short/open (a) d A ZL saluran utama, Z0 Z0 ls short/open (b) Gambar 2. 14 Penyesuai impedansi stub tunggal (a) stub parallel (b) stub seri B Z0 A d Z0 Z0 ZL Z0 l2 Short/open l1 Short/open Gambar 2. 15 Penyesuai impedansi stub Ganda Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Dengan stub tunggal, beban apapun, selama resistansi tidak nol, dapat disesuaikan ke impedansi karakteristik saluran. Tetapi setelah jarak stub ke beban ditentukan, ia sudah fix dan tidak dapat digunakan lagi untuk beban yang lain, sedangkan panjang stub masih dapat diatur. Kekurangan ini dapat diatasi dengan menggunakan stub ganda. Gambar II.15 memperlihatkan konfigurasi stub ganda paralel dengan saluran utama. Stub pertama, dengan panjang l1, diletakkan di beban, sedangkan stub kedua, panjangnya l2, diletakkan pada jarak d (jarak d ditetapkan) dari stub pertama. Tetapi, akan diperlihatkan nanti, dengan stub ganda ini tidak semua beban dapat disesuaikan. [6] d1 d2 Z0 Z0 Z0 Short/open l3 ZL Z0 Z0 Z0 l2 l1 Short/open Short/open Gambar 2. 16 Penyesuai impedansi triple stub Daripada meletakkan stub pertama pada jarak tertentu dari beban untuk menghindari beban yang tidak dapat disesuaiakan, lebih baik menggunakan tiga stub yang jarak antar stubnya ditentukan, dan fix. Pengaturan dapat dilakukan pada panjang pendeknya stub. Konfigurasi penyesuai dengan tiga stub secara paralel, diperlihatkan pada Gambar 6.41. Jarak antara stub pertama dengan kedua kita sebut d1 dan antara stub kedua dan ketiga kita sebut d2, sedangkan stub pertama diletakkan di beban. Dua stub terakhir bekerja sebagai stub ganda, dan stub pertama digunakan untuk mengatur agar admitansi saluran pada jarak d1 memenuhi syarat beban dapat disesuaikan.[6] 2.2.4.5 Penyesuai dengan Transformator đ´ /4 Transformasi impedansi memiliki pengertian merubah suatu impedansi ke harga impedansi lain. Dalam teori saluran transmisi, Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI potongan-potongan saluran transmisi dengan panjang sembarang (kecuali potongan saluran transmisi ke harga impedansi lain. Berikut merupakan gambar penyesuai impedansi dengan metoda Transformator. [6] īŦ/4 Z0,1 Z0 ZL Gambar 2. 17 Penyesuai Transformator đ´ /4 Impedansi masukan pada transformator, Zin = Z0, karena sesuai. Untuk saluran īŦ/4, impedansi masukan ini adalah : Z in īŊ Z 02,1 ZL īŊ Z0 , ī Z 0,1 īŊ Z 0 Z L ………………………(2.22) 2.2.4.6 Mikrostrip Pada mikrostrip, saluran terdiri dari konduktor strip (line) dan sebuah konduktor bidang tanah yang dipisahkan oleh medium dielektrikdengan konstanta dielektrik īĨr, seperti pada Gambar 2.18. Pada mikrostrip, medan listrik dan medan magnet tidak memenuhi substrat sepenuhnyasehingga mode propagasinya bukan mode propagasi TEM murni melainkan mode quasi TEM. Hal ini terjadi karena mikrostrip hanya terdiri dari sebuah ground plane saja. Sehingga hanya bagian yang terdiri dari dielektrik saja yang dipenuhi oleh medan listrik dan magnet. [6] Di atas strip adalah udara sehingga jika tanpa shieding sebagian medan elektromagnetik akan meradiasi dan sebagian lagi ada yang masuk kembali ke dalam substrat dielektrik. Jadi ada 2 dielektrik yang melingkupi strip yaitu udaradengan konstanta dielektrik 1 dan substrat dengan konstanta dielektrik īĨr īžī 1. Dengan demikian saluran mikrostrip secara keseluruhan dapat kita pandang sebagai sebuah saluran dengan dielektrik homogen yang lebih besar dari 1 tapi lebih kecil dari īĨr. Konstanta dielektrik ini disebut konstanta dielektrik efektif (effective dielektric constant) . [6] Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 24 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Gambar 2.18 Struktur Dasar mikrostrip Persamaan konstantan dielektrik relative efektif untuk t/h << 0,005 sebagai berikut: 2 īŦ īĨ īĢ 1 īĨ ī 1 īĻ īŠ 12d īš ī1 2 īŠ W īš īļīˇ r r ī§ īĢ 1īĢ īĢ 0,04īĒ1 ī īē ī¯ 2 ī§ī¨ īĒīĢ W īēīģ ī¯ 2 īĢ d īģ īˇī¸ īĨe īŊ ī ī1 2 ī¯ īĨ r īĢ 1 īĨ r ī 1 īŠ 12d īš ī¯ 2 īĢ 2 īĒ1 īĢ W īē īĢ īģ īŽ W d īŖ1 ………(2.23) W d īž1 dan impedansi dielektrik īŦ 60 īĻ 8d W īļ ln ī§ īĢ īˇ ī¯ ī¯ īĨ e ī¨ W 4d ī¸ Z0 īŊ ī 120ī° īĨ e ī¯ ī¯īŽW d īĢ 1,393 īĢ 0,667 ln(W d īĢ 1,444) Indra Luxsana, 131331049 Laporan Tugas Akhir Tahun 2016 W d īŖ1 ………(2.24) W d īž1 25