Uploaded by common.user22765

LAKIP Kementerian PANRB 2017

advertisement
KEMENTERIANPENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA
DANREFORMASIBIROKRASI
LAPORANKINERJA
K E M E N T E R I A N PA N R B
2017
KATA PENGANTAR
Laporan Kinerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Kementerian PANRB) ini merupakan perwujudan pertanggungjawaban atas kinerja
pencapaian sasaran strategis Tahun Anggaran 2016. Laporan Kinerja ini merupakan
tahun ketiga pelaksanaan Rencana Strategis Kementerian PANRB Tahun 2015-2019.
Penyusunan Laporan Kinerja Kementerian PANRB mengacu pada Peraturan Pemerintah
No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah,
Peraturan Menteri PANRB No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian
Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah dan Rencana Strategis Kementerian PANRB Tahun 2015-2019.
Laporan Kinerja ini merupakan bentuk akuntabilitas dari pelaksanaan tugas yang
berfungsi, antara lain sebagai alat penilaian kinerja, wujud akuntabilitas pelaksanaan
t u g a s d a n f u n g s i Ke m e n t e r i a n PA N R B d a n w u j u d t r a n s p a r a n s i s e r t a
pertanggungjawaban kepada masyarakat serta merupakan alat kendali dan alat
pemacu peningkatan kinerja setiap unit organisasi di lingkungan Kementerian PANRB.
Kinerja Kementerian PANRB diukur atas dasar penilaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
yang merupakan indikator keberhasilan pencapaian Sasaran Strategis sebagaimana
telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017.
Secara umum capaian kinerja sasaran telah sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan, meskipun, beberapa indikator belum menunjukan
capaian sesuai target. karena pendayagunaan aparatur negara dan
reformasi birokrasi sangat ditentukan oleh komitmen, keterlibatan dan
dukungan aktif segenap komponen aparatur negara, masyarakat, dunia
usaha dan civil society sebagai bagian integral dari pembaharuan sistem
administrasi negara.
Berdasarkan analisis dan evaluasi obyektif yang dilakukan melalui
Laporan Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 ini, diharapkan dapat
terjadi optimalisasi peran kelembagaan dan peningkatan efisiensi,
efektivitas, dan produktivitas kinerja seluruh jajaran pejabat dan
pelaksana di lingkungan Kementerian PANRB pada tahun-tahun
selanjutnya, sehingga dapat mendukung kinerja Kementerian PANRB
secara keseluruhan dalam mewujudkan Good Governance dan Clean
Government.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi
Asman Abnur
LAKIP KemenPANRB 2017 |
PERNYATAAN TELAH DIREVIU
KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
DAN REFORMASI BIROKRASI
Kami telah mereviu Laporan Kinerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi untuk Tahun Anggaran 2017 sesuai Pedoman Reviu
atas Laporan Kinerja. Substansi informasi yang dimuat dalam Laporan Kinerja
menjadi tanggungjawab manajemen Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi.
Reviu bertujuan untuk memberikan keyakinan terbatas Laporan Kinerja telah
disajikan secara akurat, andal dan valid.
Berdasarkan reviu kami, tidak terdapat kondisi atau hal-hal yang menimbulkan
perbedaan dalam meyakini keandalan informasi yang disajikan di dalam Laporan
Kinerja ini.
Jakarta, 20 Februari 2018
Inspektur
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi
Devi Anantha
ii | LAKIP KemenPANRB 2017
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Pernyataan Telah Diriviu
Daftar isi
Ikhtisar Eksekutif
iii
1
Bab I Pendahuluan
A. Umum
B. Organisasi Kementerian PANRB
2
Bab II Perencanaan Kinerja
A. Rencana Strategis
B. Perjanjian Kinerja Tahun 2017
5
2
4
5
6
Bab III Akuntabilitas Kinerja
A. Capaian Kinerja Tahun 2017
B. Realisasi Anggaran
9
Bab IV Penutup
43
42
Lampiran
LAKIP KemenPANRB 2017 | iii
IKHTISAR EKSEKUTIF
Birokrasi merupakan alat utama dalam penyelenggaraan negara dan
pemerintahan karena berfungsi untuk menerjemahkan berbagai
keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan publik serta untuk
menjamin pelaksanaan kebijakan tersebut secara operasional,
terutama dalam memberikan pelayanan publik dan pemberdayaan
masyarakat. Oleh karena itu, birokrasi menjadi faktor penentu
keberhasilan keseluruhan agenda negara dan pemerintahan, dalam
kerangka upaya merealisasikan sebuah tata pemerintahan yang baik
(good governance).
Secara keseluruhan capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017
dinyatakan “berhasil”, yaitu capaiannya 121,94% dari target yang
telah ditetapkan. Sebanyak 14 indikator kinerja dari 8 sasaran,
sebanyak 12 indikator dinyatakan “berhasil” karena capaiannya di
atas 90 % dari target, 2 indikator dinyatakan tidak berhasil. Indikator
yang tidak berhasil adalah terkait target kab/kota yang memiliki nilai
RB baik dan persentase pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti
dan lulus pengembangan kompetensi. Secara keseluruahan capaian
Kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya.
Ke depan untuk mencapai visi Kementerian PANRB berupa
terwujudnya aparatur negara yang bersih, kompeten dan melayani
diperlukan koordinasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai
instansi di pusat maupun daerah harus dilakukan dengan lebih
intensif, mengingat berbagai target indikator hanya dapat dicapai
dengan melibatkan segenap instansi pemerintah khususnya
pemerintah kabupaten/kota.
Untuk mendukung capaian kinerja tahun 2017 telah direalisasikan
anggaran yang berasal dari APBN sebesar Rp147,007,620,000 telah
direalisasi sebesar 145,381,546,113 atau 98,89% dan hibah langsung
berupa jasa dari BNZ/GIZ (Federal Republic of Germany) sebesar
Rp685,807,398.00. Realisasi anggaran tersebut apabila dibandingkan
dengan capaian sasaran menunjukkan adanya efektifitas penggunaan
anggaran.
1 | LAKIP KemenPANRB 2017
BABI
PENDAHULUAN
A. Umum
Birokrasi merupakan alat utama dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan karena
berfungsi untuk menerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan
publik serta untuk menjamin pelaksanaan kebijakan tersebut secara operasional, terutama
dalam memberikan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu,
reformasi birokrasi harus dilakukan guna mewujudkan negara dan pemerintahan yang
memenuhi karakteristik good governance. Reformasi birokrasi harus disertai rencana tindak
(action plan) yang jelas serta implementasinya secara konkrit dan konsekuen. Dalam kaitan
itu maka reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara komprehensif dalam seluruh
aspeknya. Selain itu dengan sangat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi
informasi dan komunikasi serta perubahan lingkungan strategis menuntut birokrasi
pemerintahan untuk direformasi dan disesuaikan dengan dinamika tuntutan masyarakat.
Oleh karena itu harus segera diambil langkah-langkah yang bersifat mendasar,
komprehensif, dan sistematik, sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat
dicapai dengan efektif dan efisien.
Mengingat pentingnya reformasi birokrasi tersebut, dalam Peraturan
Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Kabinet Kerja telah menetapkan
9 Prioritas Nasional dan “tata kelola pemerintah yang bersih,
efektif, demokratis, dan terpercaya” menjadi prioritas kedua, yang
meliputi subagenda prioritas yang terkait yaitu:
Membangun transparansi dan akuntabilitas kinerja pemerintah;
Menyempurnakan dan meningkatkan kualitas Reformasi Birokrasi
Nasional (RBN); dan
Meningkatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan
kebijakan publik.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden Republik Indonesia memberikan tugas kepada
Kementerian PANRB melalui Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2015 untuk
menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi
birokrasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 2
Dalam melaksanakan tugasnya Kementerian PANRB
menyelenggarakan fungsi:
Perumusan dan penetapan kebijakan di
bidang reformasi birokrasi, akuntabilitas
aparatur dan pengawasan, kelembagaan
dan tata laksana, sumber daya manusia
aparatur, dan pelayanan publik
Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan
kebijakan di bidang reformasi birokrasi,
akuntabilitas aparatur dan pengawasan,
kelembagaan dan tata laksana,
sumber daya manusia aparatur,
dan pelayanan publik
Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan,
dan pemberian dukungan administrasi
kepada seluruh unsur organisasi
di lingkungan Kementerian PANRB
Koordinasi pelaksanaan supervisi dan
pengawasan penyelenggaraan
administrasi pemerintahan
Pengelolaan barang milik/kekayaan negara
yang menjadi tanggung jawab
Kementerian PANRB
Pengawasan atas
pelaksanaan tugas
di lingkungan
Kementerian PANRB
3 | LAKIP KemenPANRB 2017
B. ORGANISASI KEMENTERIAN PANRB
Berdasarkan Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2015, tentang Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, organisasi Kementerian PANRB terdiri 1 Sekretariat
Kementerian, 4 Deputi dan 4 Staf Ahli. Selanjutnya Penjabaran Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian PANRB ditetapkan dengan PermenPANRB No. 3 Tahun 2016, diperbaharui dengan
PermenPANRB No. 12 Tahun 2017 dengan bagan sebagai berikut:
MENTERI
PENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA
DANREFORMASIBIROKRASI
Staf Ahli terdiri atas :
1. Bidang Politik dan Hukum.
2. Bidang Pemerintahan dan
Otonomi Daerah.
3. Bidang Administrasi Negara
4. Bidang Budaya Kerja.
SEKRETARIAT
KEMENTERIAN
STAFAHLI
INSPEKTORAT
DEPUTIBIDANG
REFORMASIBIROKRASI,
AKUNTABILITASAPARATUR,
DANPENGAWASAN
DEPUTIBIDANG
KELEMBAGAANDAN
TATALAKSANA
DEPUTIBIDANG
SUMBERDAYAMANUSIA
APARATUR
DEPUTIBIDANG
PELAYANANPUBLIK
LAKIP KemenPANRB 2017 | 4
BABII
PERENCANAAN KINERJA
A. RENCANA STRATEGIS
Dari visi dan misi tersebut, selanjutnya ditetapkan tujuan Kementerian PANRB
sebagai berikut:
Terwujudnya Pemerintahan yang Efektif dan Efisien
Terwujudnya SDM Aparatur yang Kompeten dan Kompetitif
Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih, Akuntabel, dan Berkinerja Tinggi
Terwujudnya Pelayanan Publik yang Baik dan Berkualitas
Terwujudnya Aparatur Kementerian PANRB yang
profesional dan berkinerja tinggi
Selain menyusun Renstra Kementerian PANRB 2015-2019, Kementerian PANRB
sebagai Unit Pengelola RB Nasional (UPRBN) juga menyusun Road Map Reformasi
Birokrasi Nasional 2015-2019 yang berisi 3 sasaran reformasi yaitu:
Birokrasi yang
efektif dan
efisien
Birokrasi yang
bersih dan
akuntabel
Birokrasi yang
memiliki pelayanan
Publik berkualitas
Untuk mencapai sasaran reformasi birokrasi tersebut melibatkan seluruh K/L dan
pemerintah daerah. Sedangkan K/L yang terkait langsung dengan capaian
indikator reformasi birokrasi adalah BPKP, BKN, KPK, Kementerian Komunikasi
dan Informasi, dan Ombudsman Republik Indonesia. Kementerian PANRB
mendapat tugas mendorong capaian 3 sasaran tersebut melalui indikator (1)
Instansi Pemerintah yang akuntabel; (2) Indeks reformasi Birokrasi Rata-Rata
nasional dan (3) Survey Kepuasan Masyarakat. Terhadap Indikator yang menjadi
tanggungjawab kementerian PANRB tersebut sudah menjadi salah satu Indikator
Kinerja Utama (IKU) Kementerian PANRB yang ditetapkan dengan Peraturan
Menteri PANRB No. 14 Tahun 2015 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama di
Lingkungan Kementerian PANRB.
5 | LAKIP KemenPANRB 2017
B. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017
Perjanjian Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 merupakan target kinerja
tahun ketiga dari Renstra Kementerian PANRB 2015-2019, yang memuat
sasaran strategis Indikator Kinerja yang terkait dengan tugas fungsi
Kementerian PANRB. Untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas kinerja
Kementerian PANRB, pada tahun 2016 telah dilakukan reviu terhadap Renstra
Kementerian PANRB Tahun 2015-2019 yang menyebabkan adanya beberapa
perbedaan rumusan sasaran dan indikator pada Perjanjian Kinerja tahun 2017
dibandingkan dengan Perjanjian Kinerja tahun sebelumnya. Jumlah Sasaran
Strategis yang sebelumnya 12 sasaran dengan 33 indikator menjadi 8 sasaran
dengan 14 indikator. Beberapa indikator kinerja yang sampai dengan tahun
2016 tidak dilakukan pengukuran seperti indeks e-government, indeks
profesionalisme ASN dan tingkat kepatuhan Kementerian PANRB dalam
pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik tidak menjadi
indikator kinerja di tingkat Kementerian.
Berikut adalah sasaran kinerja, indikator dan target yang akan dicapai dalam
tahun 2017:
No.
Sasaran
indikator
target 2017
1.
Peningkatan efektifitas
pelaksanaan reformasi birokrasi
Persentase IP yang efektif
memiliki nilai RB Baik
(kategori “B” keatas)
2.
Peningkatan kelembagaan dan
tata laksana organisasi
pemerintahan yang tepat fungsi,
tepat ukuran, dan tepat proses
& lembaga yang efektif setelah
penataan berdasarkan hasil
evaluasi/audit
100%
Jumlah IP yang menerapkan
tata kelola pemerintahan
berbasis IT
100%
K/L 75%
Provinsi 40%
Kab/Kota 25%
LAKIP KemenPANRB 2017 | 6
No.
3.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Sasaran
Terwujudnya SDM Aparatur
yang Kompeten dan Kompetitif
Terwujudnya integrasi data
kepegawaian ASN
Meningkatnya akuntabilitas
kinerja
Meningkatnya penerapan
sistem integritas
Meningkatnya Kapasitas
Penyelenggaraan Pelayanan
publik dan kualitas pelayanan
publik
Terwujudnya Kementerian
PANRB yang efektif, efisien,
bersih, akuntabel dan
berkinerja tinggi
indikator
target 2017
% IP yang sudah menerapkan
pengisian JPT sesuai dengan
standar kompetensi jabatan
60%
% pegawai ASN di tiap IP yang
telah mengikuti dan lulus
pengembangan kompetensi
20%
Jumlah IP yang terintegrasi
sistem informasi kepegawaian
informasi kepegawaian dengan
BKN
Nilai akuntabilitas kinerja
rata-rata nasional
77 IP
65
K/L 80%
Provinsi 57%
Kab/Kota 31%
% IP yang nilai
akuntabilitasnya
“baik”
Skor Integritas Nasional
55
Jumlah IP yang memiliki unit
kerja berpredikat WBK/WBBM
9 IP
Indeks Pelayanan Publik
Nasional
2.69
Indeks RB Baik
81
Opini BPKWTP
WTP
Dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 tersaji dalam Lampiran-1.
Dalam mewujudkan target kinerja tahun 2017 tersebut, Kementerian PANRB mendapat
dukungan anggaran dari APBN sebesar Rp147,007,620,000, yang digunakan untuk
melaksanakan 33 kegiatan yang terangkum dalam 2 pogram sebagai berikut:
No.
anggaran (Rp)
program
1.
Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis Lainnya
98,814,784,000
2.
Program Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi
48,192,836,000
Jumlah
147,007,620,000
Rincian Anggaran per kegiatan disajikan dalam Lampiran-2
7 | LAKIP KemenPANRB 2017
Selanjutnya dari anggaran tersebut digunakan untuk mendukung terwujudnya sasaran
strategis tahun 2017 sebagai berikut:
No. Sasaran strategis
anggaran (Rp)
1.
Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi
birokrasi
2.
Peningkatan kelembagaan dan tata laksana pemerintah
yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses
6,050,859,000
3.
Terwujudnya SDM Aparatur yang kompeten dan kompetitif
6,173,105,000
4.
Terwujudnya integrasi dan kepegawaian ASN
2,804,046,000
5.
Meningkatnya akuntabilitas kinerja
4,820,214,000
6.
Meningkatnya penerapan sistem integritas
2,550,323,000
7.
Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan dan
kualitas pelayanan publik
7,976,277,000
8.
Terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien,
bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi
98,814,784,000
Total
147,007,620,000
17,818,013,000
Di samping sumber anggaran dari APBN, untuk meningkatkan
kualitas dan mendukung pencapaian kinerja tahun 2017,
Kementerian PANRB juga menerima hibah langsung jasa dan
barang dari berbagai pihak diantaranya dari BNZ/GIZ
(Federal Republic of Germany), EGCC, dll.
Rp
LAKIP KemenPANRB 2017 | 8
BABIII
AKUNTABILITAS KINERJA
A. Capaian Kinerja Tahun 2017
Pengukuran capaian kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara target
pencapaian setiap indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja dengan
realisasinya. Secara keseluruhan capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 dinyatakan
“berhasil”, yaitu capaiannya 121,94% dari target yang telah ditetapkan.
Dari sebanyak 14 indikator kinerja dari 8 sasaran, sebanyak 12 indikator dinyatakan
“berhasil” karena capaiannya di atas 90 % dari target, 2 indikator dinyatakan tidak berhasil.
Indikator yang tidak berhasil adalah terkait target kab/kota yang memiliki nilai RB baik dan
persentase pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan
kompetensi. Secara keseluruhan capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 mengalami
peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
CAPAIAN KINERJA TAHUN 2017
Sasaran
1.
Peningkatan efektivitas
pelaksanaan reformasi
birokrasi
2.
Peningkatan kelembagaan
dan tata laksana organisasi
pemerintahan yang tepat
fungsi, tepat ukuran dan
tepat proses
3.
4.
Terwujudnya SDM Aparatur
yang Kompeten dan
Kompetitif
Terwujudnya integrasi
data kepegawaian ASN
9 | LAKIP KemenPANRB 2017
Indikator
% IP yang memiliki nilai
indeks RB Baik (kategori “B”
ke atas
% lembaga yang efektif setelah
penataan berdasarkan hasil
evaluasi audit
realisasi
95,06% KL
47,06% Prov
4,13% Kab/Kota
100%
Jumlah IP yang menerapkan tata
kelola pemerintahan berbasis IT
100 IP
% IP yang sudah menerapkan
pengisian JPT sesuai dengan
standar kompetensi jabatan
89% IP
% pegawai ASN di tiap IP yang
telah mengikuti dan lulus
pengembangan kompetensi
7% IP
Jumlah IP yang terintegrasi
sistem informasi kepegawaian
dengan BKN
77 IP
Indikator
Sasaran
5.
6.
7.
8.
Nilai akuntabilitas kinerja
rata-rata nasional
Meningkatnya
akuntabilitas
kinerja
% IP yang nilai akuntabilitasnya
“baik”
Meningkatnya penerapan
sistem integritas
Meningkatnya Kapasitas
Penyelenggaraan Pelayanan
Publik dan kualitas
pelayanan publik
Terwujudnya Kementerian
PANRB yang efektif, efisien,
bersih, akuntabel dan
berkinerja tinggi
realisasi
61,55
87,80%KL
85,29% Prov
33,86% Kab/Kota
Skor integritas nasional
53,17
Jumlah IP yang terintegrasi
sistem informasi kepegawaian
dengan BKN
38 IP
Indeks Pelayanan Publik
Nasional
3,11
Indeks RB Baik
80.17 (A)
Opini BPK WTP
WTP
Nilai akuntabilitas
kinerja “baik”
80.18 (A)
Rincian capaian kinerja terlampir pada Lampiran-3
Untuk mendukung capaian kinerja tersebut, Kementerian PANRB telah
menginisiasi penyusunan berbagai kebijakan yang terkait dengan
peningkatan kualitas penyelenggaraan reformasi birokrasi, akuntabiltias
kinerja, penguatan pelaksanaan pemerintahan berbasis elektronik,
pelaksanaan UU Nomor 5 tahun 2014 dan peningkatan kualitas pelayanan
publik. Beberapa kebijakan yang telah diterbitkan maupun yang masih
dalam proses penyusunan selama Tahun 2017 adalah sebagai berikut:
No
Kebijakan
Perkembangan
1.
PP Manajemen PNS
Selesai dan diundangkan
tanggal 7 April 2017
2.
RPP Manajemen PPPK
Selesai dan siap ditetapkan
3.
RPP Penilaian Kinerja PNS
Proses paraf koordinasi
4.
RPP Korps Profesi
Pegawai ASN
Selesai harmonisasi di
Kementerian Hukum dan
HAM
5.
RPP Disiplin PNS
Telah disampaikan kepada
Presiden untuk ditetapkan
LAKIP KemenPANRB 2017 | 10
No
Kebijakan
Perkembangan
6.
RPP tentang Gaji, Tunjangan
dan Fasilitas
PNS
Proses harmonisasi di
Kementerian Hukum dan
HAM
7.
RPP tentang Jaminan
Pensiun dan Jaminan
Hari Tua
Proses harmonisasi di
Kementerian Hukum
dan HAM
8.
Rancangan Peraturan
Presiden Presiden
pengembangan kompetensi
dan penilaian kinerja SDM
Aparatur (ASN)
Proses paraf koordinasi
Rancangan Peraturan
Presiden tentang
Tugas Belajar, sebagai
pelaksanakan ketentuan
Pasal 211 ayat (4) Peraturan
Pemerintah Nomor 11 Tahun
2017 tentang Manajemen PNS
Proses harmonisasi di
Kementerian Hukum
dan HAM
9.
10.
Peraturan Menteri PANRB
tentang Standar Kompetensi
Jabatan ASN
Telah ditetapkan sebagai
Peraturan Menteri PANRB
Nomor 38 Tahun 2017
tentang Standar
Kompetensi Jabatan ASN
1. PENINGKATAN
EFEKTIVITAS
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI
Upaya percepatan Reformasi Birokrasi pada Instansi Pemerintah
mengalami perkembangan positif. Hal ini terlihat dari penerapan unit
kerja pelayanan percontohan, rekrutmen SDM yang semakin
transparan, sistem promosi yang baik, serta pemangkasan proses bisnis
pelayanan. Meskipun mengalami perkembangan yang positif, namun
reformasi birokrasi belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
Berdasarkan survei menunjukan bahwa persepsi masyarakat terhadap
tingkat pelayanan dan budaya anti korupsi belum cukup baik.
11 | LAKIP KemenPANRB 2017
Untuk mengukur capaian sasaran strategis ini, menggunakan indikator indeks RB yang
mengambarkan sejauhmana instansi pemerintah melaksanakan perbaikan tata kelola
pemerintahan yang bertujuan pada pemerintahan yang efektif dan efisien, bersih
dari KKN dan memiliki pelayanan publik yang berkualitas. Berdasarkan Peraturan
Menteri PANRB No. 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi
Birokrasi Instansi Pemerintah, terdapat 7 kategori penilaian mulai dari yang paling
rendah yaitu kategori ”D” sampai dengan yang tertinggi yaitu kategori ”AA”. Instansi
pemerintah yang memiliki nilai RB “baik” adalah instansi yang berdasarkan hasil
evaluasi mendapat nilai nimimal > 60 atau dengan kategori minimal “B”.
Pencapaian sasaran peningkatan reformasi birokrasi diukur dari indikator
indeks RB dengan target dan realisasi sebagai berikut:
Indikator TargetRealisasi
1.1 % Instansi Pemerintah
yang memiliki nilai indeks
RB Baik (kategori “B”
keatas)
Capaian
K/L 75%
K/L 75%
126,75%
Prov 40%
Prov 40%
117,65%
Kab/Kota 25%
Kab/Kota 25%
16,52%
Rata-rata Capaian
86,97%
1.1. % Instansi Pemerintah yang memiliki nilai indeks RB Baik
(kategori “B” ke atas)
Dari 82 Kementerian/Lembaga yang dievaluasi sebanyak 77 K/L (95.06%) memperoleh
nilai indeks RB ”baik” atau 126.75 % dari target 75%. Capaian tersebut meningkat dari
tahun sebelumnya sebesar 91,36 %.
Untuk pemerintah provinsi dari 34 Provinsi sebanyak 16 Provinsi (47.06%) memperoleh
nilai indeks RB ”Baik” atau 117,65% dari target 40%. Capaian tersebut meningkat secara
signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 26,74%.
Sedangkan dari 514 kab/kota yang
dievaluasi, yang memperoleh nilai indeks RB
”baik” sebanyak 21 Kab/Kota (4,13%).
Jumlah tersebut meningkat jika
dibandingkan dengan capaian tahun lalu
sebesar 3,89%. Namun jika dibandingkan
dengan target tahun 2017 sebesar 25%, maka
Hal tersebut menunjukan bahwa
pelaksanaan reformasi birokrasi baik pusat
maupun daerah menunjukkan tren positif. Perbaikan yang paling signifikan antara lain
penataan manajemen Aparatur Sipil Negara yang ditandai dengan upaya penerimaan
pegawai yang transparan dan bersih dari KKN, pengisian jabatan tinggi dengan metode
merit dan lelang terbuka, peningkatan kompetensi pegawai serta penataan organisasi
dan ketatalaksanaan.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 12
Jika dibandingkan dengan target 2019, realisasi sampai dengan 2017 untuk K/L telah
melampaui target tahun 2019. Untuk pemerintah provinsi target tahun 2019 sebanyak
60% opitmis dapat tercapai, sedangkan untuk pemerintah kab/kota masih jauh dari
target 2019. Oleh karena itu memerlukan upaya yang konsisten, sistematis, dan
terencana dari seluruh pihak yang terkait.
Beberapa hal yang masih lemah khsususnya pada pemda kab/kota antara lain:
pengawasan internal sebagai upaya belum efektif pencegahan korupsi dan
penyimpangan, komitmen pimpinan dalam perubahan belum terlihat, penguatan
organisasi dan tata laksana belum mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi
penggunaan anggaran dalam mewujudkan harapan masyarakat, masih banyak peraturan
daerah yang tumpang tindih dan kontra produktif terhadap pembangunan daerah.
PerbandinganCapaianTahun2017dibandingdenganTarget2019
Indikator
Capaian 2017 Target 2019
%
Status
Kementerian/Lembaga
95,06%
75%
126,75%
Tercapai
Provinsi
47,06%
60%
78,43%
Optimis
Tercapai
Kabupaten/Kota
4,13%
45%
9,18%
PerluUpaya
Lebih
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas
pelaksanaan reformasi birokrasi antara lain:
1. Melakukan assesemen kapasitas birokrasi
(pusat dan daerah).
Asesmen dilakukan melalui survei internal pegawai instansi
pemerintah terhadap integritas organisasi. Asesmen ini dilakukan
dengan cara melakukan survei integritas organisasi kepada
pejabat/pegawai instansi pemerintah untuk mengetahui sejauh
mana keberhasilan organisasi/instansi pemerintah dalam
mengelola unit organisasi tersebut.
Output yang dihasilkan dari Survei Integritas Organisasi adalah
Indeks Kapabilitas Organisasi yang merupakan komponen “Hasil”
dari evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Indeks ini
menggambarkan kualitas pengelolaan organisasi di seluruh
Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah
Kabupaten/Kota.
13 | LAKIP KemenPANRB 2017
Komponen yang digunakan untuk mengukur integritas organisasi
adalah sebagai berikut:
a. Budaya Organisasi dan Sistem Anti Korupsi.
b. Integritas Kerja terkait Pengelolaan SDM.
c. Integritas Kerja dan Pelaksanaan Anggaran.
d. Integritas Kerja dan Kesesuaian Perintah Atasan
dengan Aturan dan Norma.
2. Asistensi/ coaching clinic pada
Pemerintah Kabupaten/Kota
Asistensi/coaching clinic dilakukan pada instansi
pemerintah baik secara individu maupun dalam bentuk
forum/pertemuan atau workshop pada berbagai daerah di
seluruh provinsi. Selama tahun 2017 telah dilaksanakan
sebanyak 145 layanan coaching clinic.
3. Evaluasi pelaksanaan reformasi
birokrasi pada seluruh Instansi
pemerintah.
Pada tahun 2014 dan 2015 pelaksanaan evaluasi reformasi
birokrasi baru dilaksanakan sebagian K/L dan Provinsi, dan
kab/kota yang menjadi pilot project. Mulai tahun 2017
evaluasi reformasi birokrasi sudah mencakup seluruh
instansi pemerintah baik pusat maupun daerah meskipun
untuk kab/kota belum seluruhnya. Namun mulai tahun
2018 direncanakan evaluasi mencakup seluruh instansi
pemerintah. Tujuan evaluasi adalah memetakan
perkembangan/kemajuan pelaksanaan reformasi birokrasi
dan memberikan saran dalam rangka perbaikan dan
percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi. Dari hasil
evaluasi dapat diperoleh gambaran pemerintahan yang
bersih dan akuntabel, pemerintah yang efektif dan efisien
dan mampu memberikan pelayanan publik yang
berkualitas.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 14
4. Meningkatkan Tingkat Kemudahan penggunaan
aplikasi PMPRB online.
Tingkat kemudahan penggunaan apliaksi PMPRB online diukur dari
tingkat penggunaan oleh instansi pemerintah dalam melaporkan
pelaksanaan RB melalui PMPRB online. Pada tahun 2017 hampir seluruh
K/L telah melaporkan pelaskanaan RB melalui PMPRB online (98,78%),
sedangkan provinsi sebesar 70,59%, dan kabupaten/kota sebesar 27,25%.
Rendahnya ketaatan pelaporan pelaksanaan pada
pemerintah kabupaten/kota disebabkan masih
rendahnya komitmen kepala daerah dalam
pelaksanaan reformasi birokrasi dan sosialisasi
pelaksanaan reformasi birokrasi belum menjangkau
terutama pemerintah kabupaten/kota pada
wilayah Indonesia timur.
2. PENINGKATAN KELEMBAGAAN DAN
TATALAKSANA PEMERINTAH YANG
TEPAT FUNGSI, TEPAT UKURAN
DAN TEPAT PROSES
Kelembagaan pemerintahan merupakan salah satu aspek penting dalam
menjalankan roda pemerintahan karena merupakan alat untuk mencapai
tujuan. Dalam agenda reformasi birokrasi, penataan kelembagaan
diperlukan untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif dan efisien yang
digambarkan kelembagaan yang tepat fungsi, tepat ukuran dan tepat
proses. Kelembagaggan dinyatakan semakin efektif ditandai dengan
menurunnya tumpang tindih kewenangan. Sedangkan efisiensi
digambarkan dalam bisnis proses yang sederhana, transparan, partisipatif
dan bebasis e-government.
Indikator
Target
Realisasi
Capaian
2.1 % lembaga yang efektif
setelah penataan
berdasarkan hasil
evaluasi/audit
100%
100%
100%
2.2 Jumlah IP yang menerapkan
tata kelola pemerintahan
berbasis IT (elektronik)
100 IP
100 IP
100%
Rata-rata Capaian
15 | LAKIP KemenPANRB 2017
100%
2.1. % lembaga yang efektif setelah penataan berdasarkan
hasil evaluasi/audit
Dalam tahun 2017 telah dilakukan penataan terhadap 44 kelembagaan yang
meliputi Kementerian, LPNK dan LNS. Untuk mewujudkan hal tersebut dilakukan
evaluasi dan audit dengan uraian sebagai berikut:
1. Penataan Kementerian/Lembaga
Penataan dilakukan melalui analisis organisasi dan bisnis
proses terhadap usulan yang diajukan K/L. Terdapat 4
(empat) aspek yang digunakan sebagai parameter untuk
menganalisis usulan tersebut agar organisasi yang ditata
dapat proporsional, efektif dan efisien, yaitu aspek
perencanaan, aspek penerapan, aspek pencapaian dan
aspek lainnya.
Berdasarkan parameter tersebut, setiap usulan yang masuk dari K/L harus
menyertakan Naskah Akademis dan data pendukung lainnya seperti yang
dipersyaratkan sebagai bahan menyusun analisis sekaligus rekomendasi lebih
lanjut. Hasil rekomendasi dapat berupa: disetujui, ditunda, tidak
diterima/dikembalikan dan diajukan pada periode berikutnya dengan
memperhatikan aspek yang harus diperbaiki. Daftar Kementerian/lembaga yang
telah dilakukan penataan disajikan pada Lampiran 5.
2. Penataan Lembaga Non Struktural (LNS)
Penataan LNS bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan antar
instansi pemerintah. Evaluasi/audit LNS merupakan salah satu kegiatan yang
rutin dilakukan. Evaluasi/Audit LNS dilakukan melalui serangkaian kegiatan
pengumpulan data yang meliputi wawancara, kunjungan lapangan, dan
pencarian data sekunder. Keseluruhan kegiatan tersebut berpedoman pada 3
(tiga) indikator utama evaluasi yang meliputi jumlah SDM (PNS maupun Non
PNS), output yang dihasilkan, dan data series serapan anggaran 3 (tiga) tahun
terakhir.
Penataan LNS telah dilakukan sejak tahun 2014. Sampai dengan tahun 2017
sebanyak 21 LNS yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden telah
dibubarkan, yaitu 10 LNS dibubarkan melalui Perpres No. 176 tahun 2014, 2 LNS
dibubarkan melalui Perpres No. 16 Tahun 2015 dan 9 LNS dibubarkan melalui
Perpres 116 tahun 2017. Sedangkan jumlah LNS yang dibentuk berdasarkan
undang-undang cenderung bertambah sejalan dengan adanya peraturan
perundang-undangan yang mengamanatkan pembentukan lembaga baru. Namun
demikian secara keseluruhan terjadi penururan jumlah dari 109 LNS di tahun
2014 menjadi 98 LNS di tahun 2017, yaitu 73 LNS dibentuk berdasarkan UndangUndang, 5 LNS dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah, dan 20 LNS dibentuk
berdasarkan Peraturan Presiden/ Keputusan Presiden.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 16
Dasar
Pembentukan
2014
2015
2016
2017
64
72
73
73
4
5
5
5
Peraturan Presiden/
Keputusan Presiden
41
31
29
20
Jumlah
109
108
107
98
Undang-Undang
Peraturan Pemerintah
3. Reviu bisnis proses urusan pemerintah yang stRategis
Untuk mengetahui tata laksana pemerintahan yang efektif dan efisien Kementerian
PANRB melakukan reviu terhadap bisnis proses urusan pemerintahan yang strategis.
Tujuannya adalah mewujudkan rangkaian proses dan kegiatan penyelenggaraan urusan
pemerintahan secara tepat, benar, dan terukur berdasarkan pembagian kewenangan
yang telah ditetapkan. Hasil yang diharapkan adanya pembagian tugas yang jelas antara
masing-masing kementerian/lembaga yang menangani urusan pemerintahan strategis
tersebut sehingga tidak terjadi overlapping (tumpang tindih) tugas dan fungsi, tetapi
justru saling melengkapi.
Dalamtahun2017urusanpemerintahanstrategisyangtelahselesaidireviubisnis
prosesnyasebanyak3urusanyaitu(1)UrusanPenyidikanantaraBNNdanPolri,
(2)UrusanPertaniandan(3)UrusanPendidikan.
1. Urusan Penyidikan antara BNN dan Polri
Reviu Proses Bisnis urusan pemerintahan di bidang
pelaksanaan Penyidikan antara BNN dan Polri dalam
Penanganan Tindak Pidana Narkotika dilakukan dengan
melakukan pemetaan wewenang penyidikan yang
dilaksanakan oleh BNN dan Polri berdasarkan KUHAP
dan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Karena dalam UU tersebut tidak memberikan batasan kewenangan penyidikan BNN
seperti UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang apabila
kerugian RP. 1.000.000.000 (1 Milyar) ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Solusi terhadap tumpang tindihnya kewenangan antara POLRI dan BNN yaitu dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Tindak pidana dilakukan oleh pejabat penting dan berpengaruh;
b. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat luas; dan
c. Menyangkut 1 kg/10 ons jenis narkotikanya.
17 | LAKIP KemenPANRB 2017
2. Urusan Pertanian
Kegiatan reviu bisnis proses urusan pemerintahan strategis
di bidang pelaksanaan penyuluhan pertanian berdasarkan UndangUndang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian,
Perikanan, dan Kehutanan yang dimandatkan salah satunya kepada
Menteri Pertanian tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan
koordinasi dan pengaturan lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah baik Provinsi
maupun Pemerintah Kabupaten/Kota”.
Hasil penataaan berupa peta bisnis proses yang menggambarkan kejelasan
pelaksanaan tugas berdasarkan mandat sesuai dengan urusan yang ditangani, dan
terdapat kejelasan mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan tugas suatu urusan
pemerintahan di bidang Penyuluhan Pertanian yang dalam pelaksanaannya
memerlukan koordinasi dan pengaturan lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah baik
Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota.
PenyusunanKebijakan
TeknisdanMateri
Penyuluhan
BPSDM
KementerianPertanian
Koordinasi,Pelatihan
danBimtekPenyuluhan
untukPenyuluhProvinsi
BPTP
Koordinasi,Pelatihan
danBimtekPenyuluhan
untukPenyuluhKab/Kota
DinasPertanian
Provinsi
Koordinasi,Pelatihan
danBimtekPenyuluhan
untukPenyuluhDesa/Kel.
DinasPertanian
Kabupaten/Kota
PelaksanaanPenyuluhan
danUmpanBalikMateri
PenyuluhanyangAplikatif
Penyuluh
Desa/Kelurahan
Kelompok
3. Urusan PeNDIDIKAN
Kegiatan reviu bisnis proses urusan pemerintahan strategis pada fungsi
pendidikan tinggi di Kementerian Ristekdikti dan Kementerian Agama
berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
yang dimandatkan kepada Menteri Ristekdikti dan Menteri Agama tetapi dalam
pelaksanaannya memerlukan koordinasi dan pengaturan lebih lanjut terutama
terkait dengan penyelenggaraan perguruan tinggi keagamaan, yang
ditindaklanjuti berupa: (1) Penyusunan Kebijakan Penyelenggaraan Perguruan
Tinggi Keagamaan Melihat perkembangan zaman dan trend pendidikan dan (2)
Pembinaan tenaga pengajar dan mata kuliah keagamaan pada perguruan tinggi
umum.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 18
2.1. Jumlah IP yang menerapkan tata kelola
Berbasis elektronik
Dalam dua dekade terakhir ini, banyak instansi pemerintah yang telah
menerapkan teknologi informasi. Hal ini antara lain ditandai dengan
munculnya portal-portal di setiap instansi pemerintah sebagai media
komunikasi sehingga berbagai informasi dapat dilihat dan diunduh dari
media tersebut. Selain itu banyak instansi yang mengembangkan teknologi informasi
untuk pengelolaan perencanaan anggaran, pengawasan, perbaikan pelayanan publik,
dan lain sebagainya. Digitalisasi informasi yang berlangsung selama ini, sedikit banyak
telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, baik dalam memperoleh pelayanan
publik maupun dalam melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. Namun demikian
penerapan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut, masih
belum terhubung dan terintegrasi dengan lembaga pemerintahan lainnya.
Penerapan e-government yang terintegrasi merupakan kunci bagi keberhasilan reformasi
birokrasi terutama dalam menekan inefisiensi. Untuk mengetahui instansi pemerintah
yang menerapkan tata kelola pemerintah berbasis IT, pada tahun anggaran 2017
dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap 120 IP pada beberapa pemerintah daerah di
Pulau Sumatera dan Sulawesi serta beberapa Kementerian/Lembaga. Hasil monitoring
dan evaluasi berupa pemetaan atas tahapan penerapan SPBE yang meliputi tahap
informasi, tahap interaksi, tahap transaksi, tahap kolaborasi dan tahap optimalisasi.
Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di Instansi Pusat dan
Pemerintah Daerah ditujukan untuk mewujudkan proses kerja yang efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Agar
pelaksanaan SPBE dapat berjalan untuk mencapai tujuannya, maka perlu dilakukan
evaluasi secara berkala untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari pelaksanaan SPBE
di setiap Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah.
Evaluasi SPBE merupakan proses penilaian terhadap pelaksanaan SPBE di Instansi Pusat
dan Pemerintah Daerah untuk menghasilkan suatu nilai Indeks SPBE yang
menggambarkan tingkat kematangan (maturity level) dari pelaksanaan SPBE di Instansi
Pusat dan Pemerintah Daerah. Agar penilaian ini dilaksanakan secara efektif dan
obyektif, maka perlu disusun pedoman evaluasi yang dapat dipahami oleh semua
pemangku kepentingan evaluasi SPBE.
Tujuan dilakukan evaluasi SPBE adalah: mengetahui capaian kemajuan pelaksanaan
SPBE pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah; memberikan saran perbaikan untuk
peningkatan kualitas pelaksanaan SPBE; menjamin kualitas pelaksanaan evaluasi SPBE
pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah.
Hasil evaluasi adalah Nilai Indeks SPBE
yaitu nilai indeks yang merepresentasikan
tingkat pelaksanaan SPBE secara
keseluruhan. Nilai Indeks SPBE merupakan
nilai kumulatif dari penghitungan
perkalian antara nilai Indeks Domain dan
bobot domain. Evaluasi SPBE dilaksanakan
No.NilaiIndeksKategori
1.4,2-<5,0Memuaskan
2.3,5-<4,2SangatBaik
3.2,6-<3,5Baik
4.<1,8Kurang
secara mandiri oleh masing-masing instansi pemerintah melalui aplikasi online evaluasi
SPBE (https://spbe.menpan.gp.id)
19 | LAKIP KemenPANRB 2017
Dalam tahun 2017, Kementerian PANRB telah mendorong 120 instansi pemerintah
pusat dan daerah untuk melakukan uji coba melaksanakan evaluasi SPBE secara
mandiri. Hasilnya baru sebanyak 26 Instansi yang telah selesai melakukan evaluasi,
dengan hasil sebagai berikut:
IPyangtelahselesaimelakukan
evaluasiSPBEsecaramandiri
Nama instansi
indeks spbe
1. BNP2TKI
3.35
2. Badan Pengawas Obat dan Makanan
2.94
3. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
3.30
4. Badan Pusat Statistik
3.53
5. Badan Tenaga Nuklir Nasional
3.33
6. Kementerian Hukum dan HAM
3.76
7. Kementerian Keuangan
4.24
8. Kementerian Koordinator Bidang PMK
3.17
9. Kementerian Koordinator Bidang Politik,
Hukum dan Keamanan
2.29
10. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
4.65
11. Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Bappenas
2.71
12. Kementerian Perhubungan
4.53
13. Kementerian Pertanian
3.07
14. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
3.79
15. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/
Jasa Pemerintah
2.89
16. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
2.86
17. Pemerintah Kota Bengkulu
1.18
18. Pemerintah Kota Sukabumi
4.23
19. Pemerintah Kota Yogyakarta
3.99
LAKIP KemenPANRB 2017 | 20
IPyangtelahselesaimelakukan
evaluasiSPBEsecaramandiri
Nama instansi
indeks spbe
20. Pemerintah D.I Yogyakarta
3.22
21. Pemerintah DKI Jakarta
4.29
22. Pemerintah Provinsi Jambi
2.47
23. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
4.09
24. Pemerintah Provinsi Jawa Timur
2.78
25. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
2.79
26. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
2.17
Evaluasi SPBE secara mandiri baru pertama kali dilakukan pada tahun 2017, sehingga
belum banyak instansi pemerintah yang sudah melakukan evaluasi SPBE. Untuk
mendorong pelaksanaan evaluasi SPBE akan dilakukan sosialisasi dan pendampingan
dalam melakukan evaluasi.
3. TERWUJUDNYA SDM APARATUR YANG
KOMPETEN DAN KOMPETITIF
Untuk mendukung percepatan reformasi birokrasi
diperlukan SDM aparatur yang memiliki kompetensi dalam
penyelenggaraan negara dan pembangunan. Kebutuhan
tersebut memerlukan peningkatan mutu profesionalisme
dan sikap pengabdian yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari pembinaan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Dalam rangka mendukung terwujudkan profesionalisme pegawai negeri sipil tersebut
diperlukan standar kompetensi jabatan yang wajib dimiliki oleh setiap PNS sesuai dengan
UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang terdiri dari standar kompetensi
teknis, standar kompetensi manajerial dan standar kompetensi sosial kultural.
Kompetensi teknis diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis
fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis, kompetensi manajerial diukur dari
tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman.
21 | LAKIP KemenPANRB 2017
kepemimpinan dan kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja
berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya
sehingga memiliki wawasan kebangsaan.
Standar kompetensi teknis, manajerial dan sosial kultural merupakan
persyaratan kompetensi manajerial minimal yang harus dimiliki oleh seorang
pegawai negeri sipil dalam melaksanakan tugas jabatan. Standar kompetensi
manajerial ini disusun oleh instansi pemerintah di lingkungan masing-masing baik
di pusat maupun daerah. Sehingga dalam pengisian jabatan harus mengacu pada
standar yang telah ditetapkan.
SDM aparatur yang kompeten adalah SDM yang mampu menjalankan tugas pokok
dan fungsi diantaranya menjadi pelayan masyarakat dengan memberikan
pelayanan yang baik; menjadi penyangga persatuan dan kesatuan bangsa;
menjadi motivator dalam proses memberdayakan masyarakat untuk berperan
aktif dalam pembangunan; menjadi inovator dan kreator dalam menghasilkan
inovasi-inovasi baru di bidang pelayanan masyarakat sehingga dapat diwujudkan
pelayanan yang baru, efektif dan efisien; serta menjadi inisiator yang selalu
bersemangat menjalankan tugasnya dilandasi dengan nilai- nilai keikhlasan dan
ketulusan.
Pengembangan SDM bertujuan meningkatkan keterampilan, keahlian dan
kompetensi tenaga yang pada akhirnya mampu meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat. Program Peningkatan SDM berbasis kompetensi bertujuan
meningkatkan kualitas dan produktivitas.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 22
Pencapaian sasaran terwujudnya SDM aparatur yang
kompeten diukur dari 2 indikator dengan target dan
realisasi sebagai berikut:
Indikator
Target
Realisasi
%
60%
3.1 % IP yang sudah menerapkan pengisian
jabatan sesuai standar kompetensi jabatan (371 IP)
89%
(555 IP)
148.33%
20%
(123 IP)
7%
(42 IP)
33.95%
Rata-rata Capaian
91.14%
3.2 % pegawai ASN di tiap IP yang telah
mengikuti dan lulus pengembangan
kompetensi
3.1. % IP yang sudah menerapkan pengisian jabatan
sesuai standar kompetensi jabatan
Pengangkatan PNS dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip
profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja, dan jenjang
pangkat yang ditetapkan untuk jabatan itu serta syarat objektif lainnya. Untuk
mendukung terwujudnya profesionalisme tersebut diperlukan standar
kompetensi jabatan yang wajib dimiliki oleh setiap PNS, yang terdiri dari
Standar Kompetensi Teknis dan Standar Kompetensi Manajerial (bagi pejabat
struktural).
Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN diatur bahwa pengangkatan PNS dalam
jabatan tertentu berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi,
kualifikasi, dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi,
kualifikasi, dan persyaratann yang dimiliki oleh pegawai. Selanjutnya diatur
bahwa pengisian jabatan sesuai standar kompetensi jabatan ditentukan oleh 3
(tiga) rumpun jabatan PNS yaitu: Jabatan Pimpinan Tinggi, Jabatan
Administrasi dan Jabatan Fungsional. Oleh karena itu setiap instansi
pemerintah harus memilik standar kompetensi jabatan, yang selanjutnya
dijadikan dasar pengisian jabatan tersebut.
UntukpengisianJabatanPimpinanTinggidiaturdalamPeraturan
MenteriPendayagunaanAparaturNegaradanReformasiBirokrasiNo.13
Tahun2014,mengenaitatacarapengisianjabatanpimpinantinggi
secaraterbukadilingkunganinstansipemerintah.
23 | LAKIP KemenPANRB 2017
Dalam tahun 2017 instansi pemerintah yang telah menerapkan pengisian jabatan
sesuai dengan standar kompetensi jabatan berjumlah 555 instansi Pemerintah,
yang meliputi pengisian jabatan tinggi dan jabatan fungsional. Dibandingkan
dengan target sebesar 60%
Tahun
Pusat
Daerah
Total
atau 371 instansi pemerintah
maka capaian tahun 2017
2015
60
87
147
melebihi target (150%).
2016
43
258
301
Berikut rincian jumlah IP yang
telah menerapkan pengisian
2017
17
90
107
jabatan sesuai dengan standar
Jumlah
120
435
555
kompetensi :
Sejak tahun 2015 s.d. 2017, instansi pemerintah yang melakukan pengisian
Jabatan Pimpinan Tinggi seluruhnya telah dilakukan melalui seleksi secara
terbuka dengan data sebagai sebagai berikut:
InstansiPemerintah
2015
2016
2017
Kementerian/Lembaga
60
43
17
Pemda(Prov/Kab/Kota)
87
258
90
147
301
107
Jumlah
Selain itu, dalam rangka mendukung pelaksanaan pengisian jabatan sesuai
standar kompetensi jabatan, dalam tahun 2017 Kementerian PAN dan RB telah
menetapkan 9 (Sembilan) Jabatan Fungsional baru, yaitu: jabatan fungsional
penerjemah, pemeriksa pajak, analis anggaran, penilai pemerintah, pembimbing
kemasyarakatan, asisten pembimbing kemasyarakatan, perancang, analis
pertahanan negara dan penata ruang.
Sedangkan untuk pengisian jabatan fungsional seluruhnya telah dilakukan
pengisian sesuai dengan standar kompetensi jabatan. Dan apabila belum sesuai,
maka harus dilakukan uji kompetensi oleh instansi pembina. Pada saat ini Instansi
pembina jabatan fungsional berjumlah 47 Kementerian/Lembaga yang masingmasing memiliki jumlah jabatan fungsional yang berbeda-beda.
3.1 % Pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan
lulus pengembangan kompetensi
Pengembangan kompetensi sumber daya manusia pada dasarnya bertujuan untuk
memastikan dan memelihara kemampuan pegawai agar memenuhi kualifikasi
yang diprasyaratkan sehingga dapat memberikan kontribusi optimal bagi
organisasi. Salah satu bentuk pengembangan pegawai adalah pendidikan dan
pelatihan. Pendidikan dan pelatihan pada dasarnya adalah suatu proses terencana
untuk mengubah sikap/prilaku, pengetahuan dan keterampilan melalui
pengalaman belajar sehingga dapat memberi kontribusi peningkatan
produktivitas, efektivitas dan efisiensi organisasi setelah pegawai kembali ke
tempat kerjanya.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 24
Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, secara jelas diatur tentang
pengembangan kompetensi pegawai melalui pendidikan dan pelatihan. Pada Pasal 70
ayat (1) disebutkan bahwa setiap pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki hak dan
kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Pada ayat berikutnya berbunyi
pengembangan kompetensi sebagaimana disebut pada ayat (1) antara lain melalui
pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus dan penataran. Pendidikan dan pelatihan ini
merupakan hak pegawai dalam rangka pengembangan kompetensi. Oleh karena setiap
instansi pemerintah wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan yang
tertuang dalam rencana kerja anggaran tahunan instansi masing-masing. Selanjutnya
diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS bahwa
pengembangan kompetensi setiap PNS dilakukan paling sedikit 20 jam pelajaran dalam 1
tahun (pasal 203 ayat 4).
Selama tahun 2016 sebanyak 228 instansi pemerintah (48 K/L dan 180 Pemda) dan tahun
2017 sebanyak 42 instansi pemerintah (9 K/L dan 33 Pemda) telah menyampaikan data
pengembangan kompetensi. Dari data tersebut diketahui bahwa dalam tahun 2016
sebanyak 220 telah melakukan pengembangan kompetensi dan 8 IP belum melakukan
pengembangan kompetensi. Namun IP yang telah memenuhi pengembangan kompetensi
minmal 20 jam pelajaran belum ada. Sedangkan hasil pendataan tahun 2017 sebanyak
42 IP telah melakukan pengembangan kompetensi dan 4 K/L (Kementerain Pertahanan,
Kementerian Perdagangan, Lembaga Ketahanan Nasional dan BNP2TKI) dan 4 pemda
(Kota Palembang, Kab. Boyolali, Kab. Sleman, dan Prov Jawa Timur) telah memenuhi
pengembangan kompetensi lebih dari 20 Jam Pelajaran.
4. TERWUJUDNYA
INTEGRASI DATA
KEPEGAWAIAN ASN
Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur merupakan elemen
terpenting instansi pemerintah dalam mewujudkan visi dan
misi serta tujuan organisasi pemerintah. Mengingat pentingnya
SDM Aparatur, diperlukan manajemen SDM untuk mengelolanya secara sistematis,
terencana dan terpola agar tujuan yang diinginkan organisasi pada masa sekarang
maupun yang akan datang dapat tercapai secara optimal.
Integrasi data kepegawaian ASN maksudnya agar diperoleh basis data kepegawaian yang
kuat dan akurat yang dapat digunakan untuk pengelolaan SDM aparatur mulai dari
rekrutmen, penilaian kinerja, pengembangan karir, distribusi pegawai dan sebagainya.
Pencapaian sasaran terwujudnya integrasi data diukur dari indikator jumlah instansi
pemerintah yang telah terintegrasi dengan BKN dengan target dan realisasi sebagai
berikut:
Indikator
4.1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi
kepegawaian dengan BKN
25 | LAKIP KemenPANRB 2017
Target
realisasi
capaian
77 IP
77 IP
100%
4.1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi
kepegawaian dengan BKN
Untuk mewujudkan sasaran tersebut pada tahun 2017 Kementerian PANRB
telah mengembangkan Decision Support System (DSS) Command Center, yang
mengintegrasikan data-data ASN, tidak hanya data-data dari BKN dan data
pada e-formasi, namun juga dari Kementerian dan Lembaga terkait data-data
tematik. Dalam sistem tersebut diolah menurut tema kedalam sistem
geopasial untuk mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan
pembuatan kebijakan Manajemen SDM Aparatur. Saat ini data yang telah
dintegrasikan mencakup 77 K/L dan data kepegawaian dari 542 Prov/Kab/Kota
untuk bidang tertentu.
Data tersebut saat ini telah dapat diakses pada Decision Support System (DSS)
Command Center dan aplikasi e-formasi, yang mencakup informasi sebagai
berikut:
1. Rasio ASN terhadap Penduduk (Kabupaten/Kota, Provinsi (ASN
Pemprov), Provinsi (Akumulasi), Nasional dan Peringkat
Daerah);
2. Kepadatan ASN per Luas wilayah (Kab/Kota, Provinsi (ASN Pemprov),
Provinsi (Akumulasi);
3. Batas Usia Pensiun
terhadap Total ASN
(Kab/Kota, Provinsi,
Kementerian/Lembaga);
4. Rasio Belanja Pegawai
terhadap APBD (Kabupaten
/Kota,Provinsi);
5. Koridor Ekonomi (Peta
Koridor Ekonomi);
6. Bidang Pendidikan (Rasio
Guru Terhadap Total ASN,
Lokasi Sekolah);
7. Bidang Infrastruktur/Teknis (Rasio Tenaga Teknis Terhadap Total ASN,
Rasio Tenaga Teknis Terhadap Total Penduduk);
8. Peta Sebaran Widyaiswara; dan
9. Peta Sebaran Alumni Diklat.
Untuk meningkatkan kualitas dan akurasi data kepegwaian ASN, direncanakan
pada tahun 2018 integrasi sistem informasi ASN dengan BKN akan dilakukan
secara menyeluruh. Diantaranya membangun sistem bridging dengan web
service, sehingga diharapkan data-data dari berbagai aplikasi yang dibuat
mandiri oleh di Kementerian/Lembaga/Daerah dapat terintegrasi dengan
sistem SAPK BKN maupun sistem informasi BKN lainnya.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 26
5. MENINGKATNYA
AKUNTABILITAS KINERJA
Berdasarkan Perpres No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, akuntabilitas
kinerja merupakan perwujudan kewajiban instansi
pemerintah untuk mempertanggungjawabkan
keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan
yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan dalam
rangka mencapai misi organisasi secara terukur dengan
sasaran/target kinerja yang telah ditetapkan melalui laporan
kinerja instansi pemerintah yang disusun secara periodik.
Untuk mengetahui tingkat akuntabilitas instansi pemerintah terhadap kinerjanya
tersebut, setiap tahun Kementerian PANRB melakukan evaluasi atas penerapan
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), baik di tingkat pusat
maupun daerah. Komponen evaluasi meliputi perencanaan kinerja, pengukuran
kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi kinerja, dan capaian kinerja. Berdasarkan
Peraturan Menteri PANRB No. 12 Tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, terdapat 7 predikat hasil evaluasi
KATEGORI
Nilai Absolut
27 | LAKIP KemenPANRB 2017
Interpretasi
akuntabilitas kinerja, mulai dari
yang paling rendah yaitu
kategori D sampai dengan yang
tertinggi yaitu kategori AA.
Nilai tersebut menunjukkan
tingkat akuntabilitas atau
pertanggungjawaban atas hasil
(outcome) terhadap penggunaan
anggaran dalam rangka
terwujudnya pemerintahan
yang berorientasi kepada hasil
(result oriented government).
Pencapaian sasaran meningkatnya akuntabilitas kinerja diukur dari 2 indikator
dengan target dan realisasi sebagai berikut:
Indikator
1.1NilaiAkuntabilitasKinerja
rata-ratanasional
1.2PersentaseIPyangnilai
akuntabilitaskinerjanya
“baik”
Target
65
KL:80%
Prov:57%
Kab/Kota:31%
Realisasi
%
94.69%
61.55
KL:87.80%
Prov:85.29%
Kab/Kota:33.86%
109.75%
149.63%
109.23%
Rata-rataCapaian122.87%
5.1 Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata nasional
Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2017 bahwa nilai akuntabilitas kinerja ratarata nasional sebesar 57.44 atau dengan kategori “Cukup Baik”. Nilai rata-rata
nasional tersebut dihitung dari jumlah nilai akuntabilitas seluruh instansi
pemerintah dibagi dengan jumlah instansi yang dievaluasi. Realisasi sebesar
57,44 tersebut belum mencapai target nilai rata-rata nasional sebesar 60 atau
sebesar 95,73%. Hal tersebut
disebabkan nilai akuntabilitas
kinerja pemerintah
kabupaten/kota belum
mencapai target yang
ditetapkan. Meskipun demikian
jika dibandingkan dengan
capaian tahun 2015 sebesar
57,27, maka nilai rata-rata
nasional tahun 2017 tersebut
mengalami kenaikan 0,17.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 28
5.2 Persentase IP yang nilai akuntabilitas kinerjanya “baik”
Instansi pemerintah yang dinilai akuntabel atau yang akuntabilitas kinerjanya “baik”
adalah instansi yang berdasarkan hasil evaluasi memperoleh nilai minimal > 60 atau
dengan predikat “B” (Baik). Semakin baik hasil evaluasi menunjukkan semakin baik
tingkat efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran dibandingkan dengan capaian
kinerjanya serta semakin baik kualitas pembangunan budaya kinerja birokrasi di instansi
tersebut.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada tahun 2017 bahwa K/L yang memperoleh
nilai di atas 60 (atau predikat minimal B) sebanyak 68 K/L atau 82,93%, sementara
pemerintah provinsi sebanyak 22
instansi atau 64,71%, dan
pemerintah kab/kota sebanyak 69
kab/kota atau 14,53%. Jika
dibandingkan dengan target 2017
maka realisasi untuk K/L dan
provinsi telah melebihi target yang
ditetapkan, sedangkan untuk
kab/kota, masih belum memenuhi
target.
Hasil penerapan SAKIP yang baik selama tahun 2017, diperkirakan dapat
meningkatkan efisiensi/penghematan anggaran minimal sebesar Rp. 49,67
triliun pada 5 Kementerian/Lembaga, 7 Pemerintah Provinsi dan 113
Pemerintah Kabupaten/Kota. Sejalan dengan ini, hasil evaluasi SAKIP telah
dijadikan sebagai dasar pemberian Dana Insentif Daerah, semakin baik penerapan
SAKIP, semakin besar suatu Kab/Kota menerima Dana Insentif Daerah.
Hasil Evaluasi Penerapan SAKIP 2015 s.d. 2017
Skala Nilai
Kategori
Kementerian/
Lembaga
Provinsi
Kab/Kota
Range
2015
2016
2017
2015
2016
2017
AA
9 0 -1 0 0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
a
80-90
4
4
2
2
3
3
1
2
2
bb
70-80
21
27
28
7
7
7
7
10
20
b
6 0 -7 0
36
37
40
8
12
19
31
57
150
cc
50-60
16
11
7
13
10
5
174
199
142
c
30-50
0
3
3
3
2
0
239
193
153
d
0 -3 0
0
0
0
1
0
0
14
14
8
29 | LAKIP KemenPANRB 2017
2015
2016
2017
Beberapa kendala dalam meningkatkan akuntabilitas kinerja khususnya pada kab/kota
antara lain adalah masih rendahnya komitmen pimpinan pemerintah daerah,
pemahaman yang belum sepenuhnya mendukung upaya penerapan SAKIP, dan peran unit
kerja (SKPD) yang menjadi kunci dalam penerapan SAKIP belum sepenuhnya optimal,
sehingga diperlukan upaya yang lebih keras dan strategi yang lebih efektif untuk
mewujudkan target di masa mendatang.
Jika dibandingkan dengan target 2019 maka realisasi Jumlah IP dengan Kategori
Akuntabilitas Minimal "B" diperkiraan target tahun 2019 akan tercapai.
Perbandingan Capaian Tahun 2017 dibanding dengan Target 2019
Indikator
Kementerian/Lembaga
Provinsi
Kabupaten/Kota
Capaian 2017
87.80%
85.29%
33.86%
Capaian 2017
85.00%
75.00%
50.00%
%
103.29%
113.72%
67.72%
Status
Tercapai
Tercapai
Optimis Tercapai
Berbagai upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka
meningkatkan AKUNTABILITAS KINERJA antara lain:
1. Penyelarasan Sistem Perencanaan, Penganggaran
dan Informasi Kinerja (E-performance Based
Budgeting)
Upaya penyelarasan sistem perencanaan, sistem penganggaran,
dan manajemen kinerja dilakukan bersama Kementerian PANRB,
Bappenas, Kementerian Keuangan melalui penyelarasan
kebijakan. Upaya ini berhasil mengintegrasikan sistem aplikasi
perencanaan dan sistem aplikasi penganggaran dalam satu sistem
sehingga akan mempermudah penggunaan aplikasi, mengurangi
duplikasi proses input dan pengolahan data, mempercepat dan
meningkatkan keandalan data dan informasi. Dampak yang dapat ditimbulkan dari
penerapan aplikasi ini adalah meningkatnya keselarasan antara tujuan dan sasaran,
serta program pembangunan nasional dengan program dan kegiatan yang dilakukan
pada setiap instansi pemerintah. Hasilnya ditetapkan PP No. 17 Tahun 2017 tentang
sinkronisasi proses perencanaan dan penganggaran.
Selanjutnya dikembangkan sistem penganggaran berbasis kinerja (e-PBB) untuk
mendukung penerapan pemerintahan yang berorientasi hasil, menjaga agar
anggaran dipergunakan untuk program-program pembangunan yang mendorong
pertumbuhan ekonomi inklusif/pembangunan ekonomi berkeadilan. Sebagai wujud
implementasi e-PBB untuk pemerintah pusat ditetapkan aplikasi Krisna dan
pemerintah daerah ditetapkan Sistem Elektronik Perencanaan, Penganggaran, dan
Informasi Kinerja Terintegrasi (SEPAKAT).
LAKIP KemenPANRB 2017 | 30
2. Sosialisasi, asistensi dan konsultasi dalam kaitan
pelaksanaan kebijakan akuntabilitas kinerja kepada
instansi pemerintah.
Upaya memperkuat Sistem Akuntabilitas Kinerja di instansi pemerintah dilakukan melalui
sosialisasi kebijakan, pemberian asistensi dan konsultasi kepada setiap instansi
pemerintah baik secara individu maupun dalam bentuk forum/pertemuan tertentu. Pada
tahun 2017 upaya-upaya tersebut dilakukan melalui antara lain: sosialisasi, workshop dan
asistensi, penyebarluasan bahan materi, success story, berita dan makalah tentang
penerapan akuntabilitas kinerja yang baik melalui website www.menpan.go.id/rbkunwas
dan juga media sosial, serta membangun forum diskusi online melalui media website,
email maupun whatsapp.
Untuk meningkatkan dan memperluas pelaksanaan sosialsiasi dan asistensi telah dibentuk
tim asistensi sebanyak 34 tim yang bekerjasama dengan seluruh pemerintah provinsi. Tim
ini diharapkan dapat membantu perbaikan penerapan SAKIP di seluruh kab/kota di
lingkungan provinsi tersebut.
3. Melakukan evaluasi terhadap penerapan SAKIP
Untuk mengetahui perkembangan penerapan SAKIP di setiap instansi pemerintah,
kementerian PANRB melakukan evaluasi akuntabilitas kinerja. Tujuan evaluasi adalah
selain untuk memetakan kondisi penerapan SAKIP, juga untuk memberikan masukan
perbaikan. Hasil evaluasi adalah suatu nilai dan kategori yang menggambarkan tingkat
efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran dibandingkan dengan kinerja yang dicapai,
kualitas pembangunan budaya kinerja serta penyelenggaraan pemerintahan yang
berorientasi kepada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Selain itu hasil evaluasi
akuntabilitas, juga menggambarkan keberhasilan Kementerian PANRB dalam memberikan
bimbingan teknis dan pendampingan kepada berbagai instansi pemerintah untuk
meningkatkan kualitas akuntabilitas kinerjanya.
6. MENINGKATNYA PENERAPAN
SISTEM INTEGRITAS
Tindak pidana korupsi sampai dengan saat ini masih
menjadi trending topic baik di media massa
maupun media cetak. Tindak pidana korupsi
umumnya melibatkan para birokrat yang
sesungguhnya dipercaya masyarakat untuk
memberikan pelayanan dan mendorong
kesejahteraan rakyat. Hal ini tentu saja menurunkan citra dan kepercayaan rakyat
terhadap birokrasi. Salah satu penyebab adanya tindak pidana korupsi adalah masalah
integritas. Oleh karena itu perlu dibangun sistem integritas di instansi pemerintah, karena
memiliki peran yang sangat penting dalam rangka menegakkan pemerintahan yang bersih
dan bebas KKN.
31 | LAKIP KemenPANRB 2017
Indikator
Target
Realisasi
%
6.1 Skor integritas nasional
55
53.17
96.67%
6.1 Jumlah IP yang memiliki
unit kerja perpredikat
WBK/WBBM
9 IP
38 IP
422.22%
Rata-rata Capaian
259.45%
6.1 SKOR INTEGRITAS NASIONAL
Untuk mengetahui skor integritas nasional dilakukan pengukuran atas upaya
membangun integritas dan survei integritas (anti korupsi) oleh Kementerian
PANRB, bekerjasama dengan BPS dan KPK, yang dilakukan bersamaan dengan
penilaian pelaksanaan reformasi birokrasi.
Skor Integritas Nasional terdiri atas dua komponen yaitu komponen pengungkit
(bobot 60%) dan komponen hasil (40%). Komponen pengungkit terdiri atas
penilaian kinerja individu, kode etik, penguatan SPIP, penanganan benturan
kepentingan, penanganan gratifikasi serta Whistle-Blowing System.
Sedangkan komponen hasil diukur berdasarkan Indeks Kapasitas Organisasi
(survei terhadap ASN untuk mengukur kapasitas dan integritas instansi) dan
Indeks Persepsi Anti-Korupsi (survei terhadap stakeholder instansi untuk
mengukur perilaku anti-korupsi instansi).
Komponen pengungkit dan hasil diukur berdasarkan capaian pada kertas kerja
evaluasi reformasi birokrasi.
Pengungkit (60%)
Hasil (40%)
Penilaian
Kinerja
Individu (15)
Kode Etik (5)
Indeks Kapasitas
Organisasi (15)
Penguatan
SPIP (10)
Benturan
Kepentingan (10)
Indeks Persepsi
Anti-Korupsi (25)
Penanganan
Gratifikasi (10)
Whistle Blowing
System (10)
Hasil pengukuran pada tahun 2017 menunjukan bahwa skor integritas untuk
kementerian/lembaga sebesar 6,24 (skala 10), pemerintah provinsi sebesar
45,81 dan kab/kota sebesar 48,70, sehingga rata-rata skor integritas nasional
menjadi sebesar 55,62, Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan perilaku
aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat belum sepenuhnya
memperhatikan kualitas pelayanan publik. Namun jika dibandingkan dengan
skor integritas tahun 2016 sebesar 5,09 (skala 10) menunjukan adanya
perbaikan.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 32
6.2 Jumlah IP yang memiliki unit kerja
berpredikat WBK/WBBM
Dalam rangka mempercepat penerapan reformasi birokrasi, instansi pemerintah perlu
untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi yang dapat menjadi
percontohan penerapan pada unit-unit kerja pelayanan lainnya. Dalam hal ini, instansi
pemerintah perlu secara nyata melaksanakan program reformasi birokrasi pada unit
kerja pelayanan melalui upaya pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari
Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), sehingga mampu
menumbuhkembangkan budaya kerja birokrasi di tingkat unit kerja pelayanan yang anti
korupsi dan budaya birokrasi yang melayani publik secara baik di lingkungan K/L/Pemda.
Tujuan dari pembangunan zona integritas adalah untuk mewujudkan penyelenggaraan
tatakelola pemerintahan yang baik dan bersih serta mampu meningkatkan kepercayaan
publik kepada birokrasi di lingkungan Kementerian/Lembaga/Pemda. Pembangunan
zona integritas difokuskan pada upaya pemberantasan praktek KKN dan peningkatan
kualitas pelayanan publik pada unit kerja pelayanan sehingga mendukung percepatan
pelaksanaan reformasi birokrasi di tingkat instansi pemerintah.
Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2017 sebanyak 76 unit kerja pelayanan dari 38 IP
memperoleh predikat Menuju WBK/WBBM. Penyerahan penghargaan kepada unit kerja
yang berpredikat WBK/WBBM telah dilaksanakan tanggal 12 Desember 2017 di Jakarta.
Predikat ini diberikan kepada unit kerja yang berkomitmen dan mampu membangun
tata kelola yang baik serta mendorong pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Daftar instansi
pemerintah yang unit kerjanya mendapat penghargaan WBK/WBBM disajikan dalam
Lampiran 6.
33 | LAKIP KemenPANRB 2017
WBK
Tahun
IP
Unit
WBBM
IP
Jumlah
Unit
IP
Unit
2014
6
12
1
4
7
16
2015
8
12
1
1
9
21
2016
12
17
2
2
14
19
2017
38
76
3
3
38*
82
64 117
7
7
68
138
Jumlah
*terdapat 3 IP yang sama (kemenkeu, LIPI dan Polri)
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa unit kerja yang berpredikat sebagai
WBK/WBBM mengalami perkembangan yang positif dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi sebagai berikut:
a. Semakin banyak unit kerja yang berupaya keras melakukan berbagai
perubahan perbaikan internal untuk menegakan integritas dan mendorong
peningkatan kualitas pelayanan;
b. Unit Kerja berpredikat WBK/WBBM keberadaanya semakin menyebar di
beberapa instansi pemerintah baik pusat maupaun daerah.
7. MENINGKATNYA
KAPASITAS DAN KUALITAS
PENYELENGGARA PELAYANAN PUBLIK
Pelayanan publik yang baik merupakan muara dari
sebuah reformasi birokrasi, oleh karena itu upaya
memperbaiki kinerja organisasi layanan publik harus
dilakukan secara terus menerus sehingga masyarakat dapat menerima
layanan sesuai dengan kebutuhannya. Cara yang harus dilakukan adalah
melakukan perbaikan terhadap manajemen kualitas pelayanan (service
quality management), dan melakukan monitoring dan pengukuran kinerja
pelayanan secara periodik untuk mengidentifikasi tingkat kesenjangan yang
terjadi dan mengidentifikasi apakah tingkat kualitas pelayanan publik sudah
lebih baik daripada sebelumnya.
Upaya peningkatan kualitas pelayanan publik tersebut dilakukan melalui
berbagai langkah kebijakan. Kebijakan yang paling mendasar adalah
mengubah mindset para birokrat dari bermental penguasa menjadi birokrat
yang bermental pelayan masyarakat. Kebijakan lainnya adalah penataan
kelembagaan pelayanan publik, penyederhanaan prosedur pelayanan,
penerapan standar pelayanan minimal, peningkatan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi dalam manajemen pelayanan, penerapan sistem
manajemen mutu dalam pelayanan publik serta penanganan pengaduan
masyarakat.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 34
Pelayanan publik memerlukan respon yang cepat dari unit/lembaga penyedia layanan
publik. Oleh karena itu pemerintah selalu berupaya meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat mengikuti perkembangan zaman terutama teknologi dan informasi. Hal ini
dapat terwujud apabila aparatur sebagai penyelenggara pelayanan publik dapat secara
profesional melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat secara memuaskan. Pelayanan
dapat berjalan dengan optimal bila didukung dengan kapasitas aparatur dan sarana
prasarana yang memadai. Peningkatan kapasitas penyelenggaraan pelayanan publik
memerlukan kriteria standar yang diakui secara global (internasional).
Pencapaian sasaran meningkatnya kualitas dan kapasitas pelayanan publik diukur dari
indikator dengan target dan realisasi sebagai berikut:
Indikator
7.1 Indeks Pelayanan Publik Nasional
Target
Realisasi
%
2.69
3.11
115.61%
7.1 Indeks Pelayanan Publik Nasional
Untuk melakukan pengukuran kinerja pelayanan publik yang diberikan oleh unit
penyelenggara pelayanan, khususnya yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah,
Kementerian PANRB telah menerbitkan PermenPANRB No 17 Tahun 2017 tentang
Pedoman Penilaian Kinerja Unit Penyelenggara Pelayanan Publik. Hasil pengukuran
berupa indeksi dan kategori yang diharapkan dapat memetakan kapasitas
penyelenggaraan pelayanan publik serta menjadi dasar pemeringkatan kinerja
penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana diamanatkan UU No. 25 Tahun 2009.
Berdasarkan PermenPANRB no 17 Tahun 2017 pengukuran dilakukan dengan instrumen
pengukuran yang terdiri atas 3 formulir, yaitu:
· F-01 diisi oleh penyelenggara layanan
· F-02 diisi oleh observer atau evaluator
· F-03 diisi oleh pengguna layanan
/masyarakat
Tiap-tiap formulir berisi pertanyaan yang
terdiri atas 6 aspek yaitu kebijakan
pelayanan, profesionalisme SDM, sarana
prasarana, sistem informasi pelayanan
publik, konsultasi dan pengaduan, serta
inovasi pelayanan. Setiap aspek dibobot
Range
Nilai
0
1,01
1,51
2,01
2,51
3,01
3,51
3,51
4,51
-
1,00
1,50
2,00
2,50
3,00
3,50
4,00
4,50
5,00
Kategori
F
E
D
CC
BB
AA
Makna
Gagal
Sangat Buruk
Buruk
Cukup dengan Catatan
Cukup
Baik dengan Catatan
Baik
Sangat Baik
Pelayanan Prima
secara proporsional sehingga mencapai angka 100%. Selanjutnya, nilai yang diperoleh
dari setiap formulir dirata-rata, untuk kemudian dikonversikan menjadi angka indeks.
Pengukuran Indeks Pelayanan Publik sebelumnya telah dilakukan pada tahun 2015 pada
bidang perijinan dan tahun 2016 pada bidang kesehatan. Sedangkan pada tahun 2017
pengukuran dilakukan terhadap 17 jenis layanan pada 354 unit pelayanan publik di 7
instansi pemerintah yang meliputi: BPOM, Kantor Pertanahan, PTSP, Dinas Pendudukan
dan Catatan Sipil, RSUD dan Polres Kabupaten/Kota.
35 | LAKIP KemenPANRB 2017
No
Instansi
Pemerintah
Jumlah
UPP
Jumlah publik
yang dievaluasi
1.
BPOM
32
Uji sample Pihak Ketiga terkait obat dan makanan
2.
Kantor Pertanahan
33
Pengecekan, Pembuatan dan Penerbitan Sertifikat
3.
BPMPTSP Provinsi
33
IMB,SIUP, TDP
4.
BPMPTSM Kota/Kab
72
IMB, SIUP, TDP
5.
Dukcapil
72
Pembuatan KTP, Pembuatan KK
6.
RSUD
61
IGD, Rawat Inap, Kelas 3, Poli Umum
7.
POLRES
51
Pelayanan SIM, Pelayanan SKCK
Total
354
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut menunjukan bahwa sebanyak 8 IP
memperoleh kategori B, 12 IP kategori B-, 19 IP kategori C, 11 IP kategori C-, 5 IP
kategori D dan 4 IP kategori E. Sehingga Indeks Pelayanan Publik secara nasional
tahun 2017 sebesar 2,67 atau dengan kategori “Cukup”. Yang dihitung
berdasarkan rata-rata dari jumlah IP yang diukur. Dibandingkan dengan target
2017 sebesar 2,5 maka capaian tersebut melebihi target (107,60%).
Berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik
adalah sebagai berikut:
1. Kompetisi Inovasi Nasional
Pelayanan publik yang berkualitas tidak dapat dilepaskan dari penemuan caracara baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang dinamis.
Hal ini dapat dicapai jika para penyelenggara pelayanan melakukan terobosan
secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, Kementerian PANRB mendorong
tumbuhnya Satu Instansi Satu Inovasi (One Agency, One Innovation) yang
bertujuan agar setiap instansi pemerintah menghasilkan program/kegiatan
inovatif setiap tahun. Selanjutnya Kementerian PANRB mengadakan kompetisi
untuk memilih inovasi pelayanan publik terbaik yang diharapkan dapat
direplikasi oleh instansi lainnya, sehingga perbaikan pelayanan publik menjadi
lebih cepat.
5. Replikasi
6. Kompetisi Inovasi
Tingkat Internasional
(UNPSA)
4. Hasil
Top 99 Setiap Tahun
Top 9 Tahun 2014
Top 25 Tahun 2015
Top 35 Tahun 2016
Top 40 Tahun 2017
3. Proses Penilaian
Transparan dan Akuntabel
dengan menggunakan tenaga
Akademisi dan Pakar
KOMPETISI
INOVASI
Pelayanan Publik
2. Registrasi
Kompetisi
1. Gerakan
Satu Instansi
Satu Inovasi
Dilakukan secara
online melalui
sinovik.menpan.go.id
LAKIP KemenPANRB 2017 | 36
Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik telah dilaksanakan sejak tahun 2014 dengan peserta
515 inovasi dan dipilih praktik terbaik dalam Kategori Top 99, Top 33 dan Top 9. Untuk
tahun 2015 pesertanya meningkat menjadi 1.189 inovasi, dan terpilih Top 99 dan Top 25
Inovasi Pelayanan Publik Indonesia Tahun 2015. Pada tahun 2016 mengalami peningkatan
jumlah inovasi yang mengikuti kompetisi pelayanan yaitu sebanyak 2.476 inovasi, dan
ditetapkan TOP 35 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 melalui Keputusan Menteri
PANRB Nomor 99 Tahun 2016. Pada tahun 2017 jumlah inovasi yang mengikuti kompetisi
sebanyak 3.054 dan telah ditetapkan TOP 99 dan TOP 40 Inovasi Pelayanan Publik Tahun
2017. Hal ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran dan kemauan dari Instansi
Pemerintah di seluruh Indonesia akan pentingnya inovasi pelayanan publik dalam
menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya sehari-hari.
2. Pembentukan Mal Pelayanan Publik
Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik
secara berkelanjutan, diperlukan pengelolaan
pelayanan publik terpadu dan terintegrasi seluruh jenis
pelayanan baik yang diselenggarakan oleh
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Badan
Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah/swasta
pada satu tempat. Pengintegrasian pelayanan publik
diharapkan pelayanan menjadi lebih cepat, mudah,
terjangkau, aman, dan nyaman. Mal Pelayanan Publik
Mal
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, sehingga pelayanan publik
menjadi semakin cepat, terjangkau dan mudah.
Tujuan dibentuknya Mal Pelayanan Publik ini untuk:
mengintegrasikan berbagai layanan baik instansi pusat dan daerah dalam satu
lokasi atau gedung yang sama;
menyederhanakan persyaratan, prosedur, dan sistem;
meningkatkan komitmen, kerja sama dan sinergi antara para penyelenggara
layanan dalam rangka penyediaan, pemanfaatan dan pengembangan layanan
publik;
memberikan kemudahan kepada pengguna layanan dalam memproses layanan
pada satu lokasi atau gedung;
mendorong peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi; dan
meningkatkan kualitas pelayanan perizinan dengan pelayanan yang lebih cepat,
mudah, terjangkau, transparan dan akuntabel serta bebas dari pungutan liar.
Sebagai dasar pembentukan Mal Pelayanan Publik telah diterbitkan PermenPANRB No 23
Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Mal Pelayanan Publik. Selanjutnya pada tahun 2017
telah dibentuk 3 percontohan Mal Pelayanan Publik yaitu:
37 | LAKIP KemenPANRB 2017
Mal Pelayanan Publik
8. TERWUJUDNYA KEMENTERIAN PANRB
EFEKTIF, EFISIEN, BERSIH, AKUNTABEL
DAN BERKINERJA TINGGI
Dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, Kementerian PANRB menjadi ujung tombak
penggerak pelaksanaan (prime mover) reformasi birokrasi nasional dan menjadi
contoh bagi instansi pemerintah dalam melaksanakan reformasi birokrasi.
Disamping itu Kementerian PANRB juga melaksanakan berbagai program-program
makro dan meso sebagaimana dituangkan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi
2010 – 2025 dan Road Map Reformasi Birokrasi 2015 – 2019, melalui penetapan
kebijakan nasional yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi di
K/L/Pemda. Oleh karena itu untuk memastikan bahwa seluruh agenda reformasi
birokrasi berjalan efektif maka aparatur Kementerian PANRB dituntut lebih
profesional dan berkinerja tinggi.
Kementerian PANRB yang efektif dan efisien ditandai dengan meningkatnya kualitas
reformasi birokrasi internal, struktur organisasi Kementerian PANRB yang
memenuhi tingkat kesesuaian dengan kebutuhan (tepat fungsi, tepat ukuran dan
tepat proses) dengan didukung kualitas SDM yang berkompeten dalam mencapai
target kinerjanya.
Pencapaian sasaran terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien,
bersih,akuntabel dan berkinerja tinggi diukur dari 3 indikator dengan target dan
realisasi sebagai berikut:
Indikator
1.1. Indeks RB “Baik”
1.2 Opini BPK
1.3 Nilai Akuntabilitas
kinerja “baik”
Target
realisasi
%
81 (A)
100.00%
80,17 (A)
100.00%
98.98%
100%
81 (A)
80.18 (A)
98.99%
Rata-rata Capaian
99,32%
LAKIP KemenPANRB 2017 | 38
8.1 Indeks RB “Baik”
Indeks Reformasi Birokrasi mengambarkan sejauhmana instansi pemerintah
melaksanakan perbaikan tata kelola pemerintahan yang bertujuan pada
pemerintahan yang efektif dan efisien, bersih dari KKN dan memiliki pelayanan
publik yang berkualitas. Semakin tinggi indeks Reformasi Birokrasi, semakin baik
pengelolaan tata pemerintahan yang efektif dan efisien, bersih dari KKN dan
memiliki pelayanan publik
yang berkualitas.
Berdasarkan Laporan
Hasil Evaluasi oleh BPKP
tahun 2017 menunjukan
bahwa indeks RB
Kementerian PANRB
sebesar 80,17 atau
dengan kategori A
(memuaskan),
dengan rincian
sebagai berikut:
No
Komponen penilaian
bobot
nilai
5.00
5.00
6.00
5.00
15.00
6.00
12.00
6.00
4.48
3.34
3.84
3.50
12.71
4.52
8.34
4.10
60.00
44.83
20.00
10.00
10.00
16.25
9.75
9.34
SUB total proses
40.00
35.34
total
100.00
80.17
A. Pengungkit (60%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Manajemen Perubahan
Penataan Perundang-undangan
Penataan dan Penguatan Organisasi
Penataan Tatalaksana
Penataam Sistem Manajemen SDM
Penguatan Akuntabilitas
Penguatan Pengawasan
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
SUB total proses
B. hasil
1. Kapasitas dan Akuntabilitas Organisasi
2. Pemerintah yang Bersih dan Bebas KKN
3. Kualitas Pelayanan Publik
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut menunjukan kualitas pelaksanaan reformasi
birokrasi Kementerian PANRB adanya peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Indeks tahun 2017 meningkat 3,973 poin dari indeks tahun 2016 yang sebesar 76,198
(kategori “BB”) dan meningkat 8,981 poin dari indeks tahun 2015 yang sebesar 71,19,
atau terus mengalami trend positif selama 3 tahun terakhir (2015-2017).
Perkembangan Indeks Reformasi Birokrasi Kementerian PANRB Tahun 2016 s.d. 2017
No
Komponen penilaian
bobot
nilai
2016
2017
A. PENGUNGKIT
Pengungkit (60%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Manajemen Perubahan
Penataan Perundang-undangan
Penataan dan Penguatan Organisasi
Penataan Tatalaksana
Penataam Sistem Manajemen SDM
Penguatan Akuntabilitas
Penguatan Pengawasan
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
SUB total proses
39 | LAKIP KemenPANRB 2017
5.00
5.00
6.00
5.00
15.00
6.00
12.00
6.00
4.38
2.71
3.84
3.47
12.39
4.52
8.76
4.07
4.48
3.34
3.84
3.50
12..71
4.52
8.34
4.10
60.00
44.14
44.83
B. HASIL
1. Kapasitas dan Akuntabilitas Organisasi
2. Pemerintah yang Bersih dan Bebas KKN
3. Kualitas Pelayanan Publik
SUB total proses
20.00
10.00
10.00
15.32
8.48
8.25
16.25
9.75
9.34
40.00
32.05
35.34
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam tahun 2017 untuk peningkatan
indeks reformasi birokrasi meliputi:
Pengembangan layanan berbasis elektronik seperti penggunaan aplikasi
Smart PAN untuk penyelenggaraan e-office, aplikasi SiPebe yang merupakan
penerapan e-performance based budgeting, aplikasi salam untuk pelayanan
utama kepada stakeholder, aplikasi geospasial dalam manajemen SDM
aparatur;
Integrasi data kepegawaian Kementerian PANRB dengan BKN,
sehingga data kepegawaian menjadi lebih akurat dan up to date;
Meningkatkan kapabiltas pegawai melalui penyertaan pegawai
pada diklat struktural dan fungsional, dan diklat lainnya baik dalam
dan luar negeri;
Melakukan asesmen kepada seluruh pejabat eselon III sebagai
dasar pengembangan pegawai agar kompetensinya sesuai
dengan jabatannya.
8.2 Opini BPK “WTP”
Tuntutan untuk menciptakan pemerintahan yang akuntabel dan bebas KKN
merupakan amanah reformasi dan tuntutan seluruh rakyat Indonesia.
Kementerian yang bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi di tandai dengan
menurunnya penyalahgunaan wewenang, tidak adanya praktek KKN,
berfungsinya pengawasan sehingga meningkatnya kinerja aparatur negara.
Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan upaya komprehensif dan
terintegrasi.
Pada Kementerian PANRB, sasaran ini sudah menunjukkan hasil seperti yang
diharapkan. Dan sebagai prime mover dalam reformasi birokrasi,
Kementerian PANRB diharapkan menjaga kondisi ini agar menjadi contoh bagi
instansi lain sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan
pada Kementerian PANRB telah sesuai SAP, tidak adanya pelanggaran
terhadap peraturan perundangan serta sistem pengendalian internal telah
mampu mencegah kemungkinan terjadinya risiko.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 40
Berbagai upaya telah dilakukan meliputi:
1. Perbaikan pengelolaan keuangan, melalui penggunaan aplikasi monitoring
pengelolaan anggaran (SiMona);
2. Perbaikan pengelolaan Barang Milik Negara (BMN);
3. Perbaikan penyajian laporan keuangan dan meminimalisasi penyimpangan
pelaksanaan yang bertentangan dengan peraturan yang berlaku; dan
4. Penguatan pengendalian internal melalui penyusunan manajemen risiko sebagi
bagian penguatan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPI) di lingkungan
Kementerian PANRB.
8.2 Nilai Akuntabilitas Kinerja “Baik”
Nilai akuntabilitas kinerja menunjukkan tingkat akuntabilitas atau pertanggungjawaban
atas hasil (outcome) terhadap penggunaan anggaran dalam rangka terwujudnya
pemerintahan yang berorientasi kepada hasil (result oriented government).
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh BPKP bahwa penerapan Sistem
Akuntabilitas Kinerja di Kementerian PANRB mendapat nilai 80,18 atau dengan “Kategori
A” (Memuaskan). Capaian tersebut sesuai dengan target tahun 2017. Hal tersebut
menunjukan bahwa 3 tahun terakhir adanya perbaikan dalam implementasi SAKIP di
lingkungan Kementerian PANRB.
Perkembangan Penerapan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2015 s.d. 2017
Komponen
a. Perencanaan Kinerja
b. Pengukuran Kinerja
c. Pelaporan Kinerja
d. Evaluasi Kinerja
e. Capaian Kinerja
Hasil Evaluasi
Kategori
Bobot
30
25
15
10
20
Tahun
2015
2016
2017
23,86
18,72
11,40
7,81
15,83
24,,60
19,69
12,59
7,79
15,00
24,,60
19,69
12,59
7,79
15,00
77,62
BB
79,66
BB
80,18
A
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan penerapan sistem akuntabilitas
kinerja di seluruh unit kerja, diantaranya:
1. Penyusunan Perjanjian Kinerja mulai level kementerian s.d. pegawai termasuk
distribusi target kinerjanya secara proposional melalui proses cascading kinerja;
2. Peningkatan kualitas SDM unit kerja yang mengelola akuntabilitas Kinerja
melalui coaching clinic dan pendampingan dalam penyusunan Perjanjian
Kinerja, rencana aksi dan pelaporan kinerja;
3. Penerapan e-performance based budgeting dalam penyusunan anggaran;
4. Peningkatan kualitas pengukuran dan evaluasi kinerja melalui dialog kinerja
yang dipimpin oleh menteri PANRB dan ikuti oleh seluruh unit kerja sampai
dengan level eselon IV; dan
5. Evaluasi internal dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja yang dilakukan
oleh inspektorat untuk memberikan saran perbaikan.
41 | LAKIP KemenPANRB 2017
5. Evaluasi internal dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja yang dilakukan
oleh inspektorat untuk memberikan saran perbaikan.
B. Realisasi Anggaran
Untuk mencapai sasaran strategis tahun 2017 dari pagu anggaran sebesar
Rp 147,007,620,000 telah direalisasi sebesar 145,381,546,113 atau 98,89%, dengan
rincian per program dan sasaran strategis sebagai berikut sebagai berikut:
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN DANA
Dibandingkan dengan kinerja yang dicapaian tahun 2017 maka realisasi
anggaran sebesar 98,89% dibandingkan dengan realisasi kinerja sebesar
121.94% menunjukkan adanya efektifitas penggunaan dana.
Rincian realisasi anggaran per kegiatan disajikan dalam Lampiran-7.
LAKIP KemenPANRB 2017 | 42
REALISASI ANGGARAN DIBANDINGKAN
DENGAN REALISASI KINERJA
realisasi
anggaran
realisasi
kinerja
%
1. Peningkatan efektivitas pelaksanaan
reformasi birokrasi
98,68%
86,97%
88,13%
2. Peningkatan kelembagaan dan tata
laksana pemerintah yang tepat fungsi,
tepat ukuran, dan tepat proses
98,97%
100,00%
101,04%
3. Terwujudnya SDM Aparatur yang
kompeten dan kompetitif
98,81%
91,14%
92,24%
4. Terwujudnya integrasi data
kepegawaian ASN
97,72%
100,00%
102,33%
5. Meningkatnya akuntabilitas kinerja
99,28%
122,87%
123,76%
6. Meningkatnya penerapan sistem
integritas
95,64%
259,45%
271,28%
7. Meningkatnya kapasitas
penyelenggaraan dan kualitas
pelayanan publik
98,36%
115,61%
117,54%
8. Terwujudnya Kementerian PANRB
yang efektif, efisien, bersih, akuntabel
dan berkinerja tinggi
99,07%
99,49%
100,42%
JUMLAH
98,89%
121,94%
123.31%
No
sasaran strategis
Di samping anggaran yang berasal dari APBN, Kementerian PANRB juga
menerima dana hibah dari BNZ/GIZ (Federal Republic of Germany). Dalam
tahun 2017 nilai hibah yang diterima sebesar Rp 685,807,398.00 yang
merupakan hibah langsung jasa dalam bentuk workshop, training, coaching,
dan sebagainya.
43 | LAKIP KemenPANRB 2017
BABIV
PENUTUP
Laporan Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 menyajikan berbagai keberhasilan
maupun kendala dalam mencapai Sasaran Strategis Kementerian PANRB tahun 2017 dan
perkembangan tahun-tahun sebelumnya, yang tercermin pada capaian Indikator Kinerja
Utama (IKU). Secara umum capaian sasaran strategis menunjukkan perkembangan yang
signifikan, meskipun terdapat indikator yang belum mencapai target yang diharapkan. Hal
tersebut disebabkan beberapa indikator kinerja membutuhkan komitmen, keterlibatan,
dan dukungan aktif segenap komponen aparatur negara, masyarakat, dunia usaha dan civil
society.
Capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 Secara keseluruhan dinyatakan “berhasil”,
yaitu capaiannya 121,94% dari target yang telah ditetapkan. Dari sebanyak 14 indikator
kinerja dari 8 sasaran, sebanyak 12 indikator dinyatakan “berhasil” karena capaiannya di
atas 90 % dari target, 2 indikator dinyatakan belum berhasil. Indikator yang belum berhasil
adalah terkait target kab/kota yang memiliki RB baik dan persentase pegawai ASN di tiap IP
yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi. Namun secara keseluruhan
capaian Kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan
tahun sebelumnya. Untuk mencapai sasaran tersebut berbagai upaya telah dilakukan
seperti penerbitan kebijakan terkait pendayagunaan aparatur dan reformasi birokrasi,
koordinasi pelaksanaan dan monitoring evaluasi atas pelaskanaan kebijakan tersebut
sehingga terwujudnya aparatur yang berkepribadian, bersih, kompeten dan berkinerja
tinggi untuk memberikan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat.
Kendala dan permasalahan yang menyebabkan tidak tercapainya indikator sasaran tersebut
akan menjadi fokus perbaikan kinerja di tahun mendatang. Upaya koordinasi dan
peningkatan kerjasama dengan berbagai instansi di pusat maupun daerah akan dilakukan
dengan lebih intensif, mengingat target indikator hanya dapat dicapai dengan melibatkan
segenap instansi pemerintah pusat dan daerah khususnya kabupaten/kota dalam
penyelenggaraan sistem pemerintahan yang berorientasi pada hasil, berbasis kinerja dan
bertujuan melayani masyarakat.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
LAKIP KemenPANRB 2017 | 44
Perjanjian Kinerja Menteri PANRB tahun 2017
Capaian Kinerja 2017 Dibanding dengan Target 2019
Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi Tahun 2017
Rincian Anggaran Per kegiatan Tahun 2017
Daftar Kementerian Lembaga yang Dievaluasi Tahun 2017
Daftar Instansi Pemerintah Pusat yang Unit Kerjanya
Memperoleh Predikat WBK Tahun 2017
Daftar Instansi Pemerintah Pusat yang Unit Kerjanya
Memperoleh Predikat WBBM Tahun 2017
Realisasi Anggaran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Tahun 2017
LAKIP KemenPANRB 2017 | 46
Lampiran-1 | LAKIP KemenPANRB 2017
MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR MEGARA
DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017
Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan
akuntabel serta berorientasi pada hasil, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Asman Abnur
Jabatan : Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
berjanji akan mewujudkan target kinerja yang seharusnya sesuai lampiran perjanjian
ini, dalam rangka mencapai target kinerja menengah seperti yang telah ditetapkan
dalam dokumen perencanaan. Keberhasilan dan kegagalan pencapaian target kinerja
tersebut menjadi tanggung jawab kami.
Jakarta,
Januari 2017
Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi
Asman Abnur
Lampiran-1 | LAKIP KemenPANRB 2017
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-1
No. SAsaRan strategis
INDIKATOR KINERJA
1. Peningkatan efektivitas
pelaksanaan reformasi
birokrasi
1. Persentase instansi Pemerintah
(KL/Prov/Kab/Kota) yang memiliki
nilai indeksi RB Baik (Kategori “B”
keatas)
2. Peningkatan efektivitas
pelaksanaan reformasi
birokrasi
1. Persentase lembaga yang efektif
setelah penataan berdasarkan
hasil evaluasi/audit
2. Jumlah IP yang menerapkan tata
kelola pemerintahan berbasis IT
3. Terwujudnya kelembagaan
dan tata laksana
pemerintah yang tepat
fungsi, tepat ukuran, dan
tepat proses
1. Persentase IP yang sudah menerapkan
pengisian jabatan sesuai standar
kompetensi jabatan
2. Persentase IP yang sudah menerapkan
jabatan sesuai standar kompetensi
jabatan
4. Terwujudnya integrasi data
kepegawaian ASN
1. Jumlah IP yang terintegrasi sistem
informasi kepegawaiannya dengan BKN
5.
Target
K/L 75%
Prov 40%
Kab/Kota 25%
100%
100 IP
60%
60%
77 IP
Meningkatnya akuntabilitas 1. Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata
65
kinerja
nasional
1. Persentase IP nilai Akuntabilitas kinerja
KL : 80%
“baik”
Prov : 57%
Kab/Kota : 31%
6. Meningkatnya penerapan
sistem integritas
7. Meningkatnya kapasitas
penyelenggaraan dan
kualitas pelayanan publik
1. Skor integritas nasional
1. Jumlah IP yang memiliki unit kerja
berpredikat WBK/WBBM
55
9 IP
2,75
1. Indeks Pelayanan Publik Nasional
1. Indeks RB
2. Opini BPK
3. Nilai Akuntabilitas Kinerja
Program :
81
WTP
81
Anggaran :
1. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian PANRB
91.822.700.000
2. Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
69.000.000.000
3. Pengawasan Pelaksanaan Sistem Merit ASN (KASN)
42.682.000.000
2003.504.700.000
TOTAL
203.504.700.000
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi
Asman Abnur
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-1
Lampiran-2 | LAKIP KemenPANRB 2017
RINCIAN ANGGARAN
PER KEGIATAN TAHUN 2017
No.
Program/Kegiatan
Anggaran (Rp)
1.
Program Dukungan Manajemen
1.
Pengelolaan Dan Pembinaan Hukum Komunikasi
Publik dan Sistem Informasi
6,341,597,000
2
Manajemen Kinerja, Organisasi Dan Kerja Sama
2,439,742,000
3.
Pengelolaan dan Pembinaan SDM, Keuangan
dan Perkantoran
87,267,916,000
4
Pembinaan dan Pengawasan Intern dan
Quality Assurance
1,895,998,000
5
Pelaksanaan Dukungan Perumusan Kebijakan
PAN dan RB
869,531,000
Sub Jumlah
98,814,784,000
1I.
Program PANRB
1.
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi
Program Reformasi Birokrasi Akuntabilitas Aparatur,
dan Pengawasan
2. Perumusan Kebijakan RB dan Akuntabilitas Aparatur,
dan Pengawasan
3. Koordinasi Penanganan Pengaduan Masyarakat
dan Aparatur
4. Koordinasi Pelaksanaan Pemantauan, dan Evaluasi
RB, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan I
5. Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan da, Evaluasi
RB, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan II
6. Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan da, Evaluasi
RB, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan III
9,187,627,000
8,145,949,000
910,719,000
2,123,743,000
2,349,401,000
2,471,110,000
7.
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, dan Evaluasi
Program Kelembagaan dan Tata Laksana
1,769,128,000
8.
Perumusan Kebijakan Sistem Kelembagaan dan
Tata Laksana
1,090,918,000
Lampiran-2 | LAKIP KemenPANRB 2017
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-2
No.
Program/Kegiatan
Anggaran (Rp)
9. Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
E-Government
793,559,000
10. Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
E-Government
781,739,000
11.
12.
13.
14.
19.
20.
Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
Kelembagaan I
Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan
Kebijakan Kelembagaan II
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, Evaluasi Program
dan Pembinaan Integritas SDM Aparatur
Perencanaan dan Pengembangan Sistem Informasi
SDM Aparatur
Standarisasi Jabatan dan Pengembangan Kompetensi
SDM Aparatur
Pengembangan Kesejahteraan Sumber Daya Manusia
Aparatur
21. Pembinaan Integritas dan Penegakan Disiplin SDM
Aparatur
22. Pengembangan Kompetensi dan Kinerja SDM
Aparatur
23 Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi
Program Pelayanan Publik
24 Perumusan Kebijakan Inovasi dan Sistem
Informasi Pelayanan Publik
25 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan dan
Evaluasi Pelayanan Publik I
26 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan dan
Evaluasi Pelayanan Publik II
27 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan dan
Evaluasi Pelayanan Publik III
1,014,392,000
601,123,000
1,314,358,000
2,804,046,000
1,040,459,000
894,495,000
1,423,993,000
1,499,800,000
4,697,320,000
817,527,000
857,834,000
752,986,000
850,610,000
Sub Jumlah
48,192,836,000
Jumlah
147,007,620,000
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-2
Lampiran-3 | LAKIP KemenPANRB 2017
CAPAIAN KINERJA KEMENTERIAN PANRB TAHUN 2017
No.
1.
SASARAN
Peningkatan efektivitas
pelaksanaan reformasi
birokrasi
INDIKATOR KINERJA
1,1 Persentase IP yang
memiliki nilai indeks RB
Baik (kategori “B” ke atas)
TARGET
75,00% KL
40,00% Prov
25,00% Kab/Kota
REALISASI
%
95,06% KL
47,06% Prov
4,13% Kab/Kota
126,75%
117,65%
16,52%
86,97%
Capaian Sasaran- 1
2.
Peningkatan kelembagaan 2,1 % lembaga yang efektif
setelah penataan
dan tatalaksana organisasi
pemerintahan yang tepat
2,2 Jumlah IP yang menerapkan
fungsi, tepat ukuran dan
tata kelola pemerintahan
tepat proses
berbasis IT
100% lembaga
100% lembaga
100% lembaga
100 IP
100 IP
100 IP
100,00%
Capaian Sasaran- 2
3.
Terwujudnya SDM Aparatur
yang Kompeten dan
Kompetitif
3,1 % IP yang sudah menerapkan
pengisian JPT sesuai dengan
standar kompetensi jabatan
3,2 % pegawai ASN di tiap IP yang
telah mengikuti dan lulus
pengembangan kompetensi
60% (371 IP)
89% (555 IP)
148,33%
20% (123 IP)
7% (42 IP)
33,95%
91,14%
Capaian Sasaran- 3
4.
Terwujudnya integrasi
data kepegawaian ASN
4,1 Jumlah IP yang terintegrasi
sistem informasi kepegawaian
dengan BKN
77 IP
77 IP
100,00%
Capaian Sasaran- 4
5.
Meningkatnya akuntabilitas 5,1 Nilai akuntabilitas kinerja
rata-rata nasional
kinerja
5,2 Persentase IP yang nilai
akuntabilitasnya “baik”
65
80,00% KL
57,00% Prov
31,00% Kab/Kota
61,55
87,80% KL
85,29% Prov
33,86% Kab/Kota
Meningkatnya penerapan
sistem integritas
6,1 Skor Integritas Nasional
6,2 Jumlah IP yang memiliki unit
kerja berpredikat WBK/WBBM
Meningkatnya Kapasitas
Penyelenggara Pelayanan
publik dan kualitas
pelayanan publik
7,1 Indeks Pelayanan Publik
Nasional
53,17
96,67%
9 IP
38 IP
422,22%
259,45%
2,69
3,11
Terwujudnya Kementerian 8,1 Indeks RB Baik
PANRB yang efektif, efisien,
8,2 Opini BPK WTP
bersih,akuntabel dan
8,3 Nilai akuntabilitas
berkinerja tinggi
kinerja “baik”
Keterangan :
81 (A)
WTP
81 (A)
115,61%
115,61%
Capaian Sasaran- 7
8.
109,75%
149,63%
109,23%
55,00
Capaian Sasaran- 6
7.
94,69%
122,87%
Capaian Sasaran- 5
6.
100,00%
80,17 (A)
WTP
80,18 (A)
98,98%
100,00%
98,99%
Capaian Sasaran- 8
99,32%
Capaian Sasaran Rata-rata
121,94%
capaian > 100%
capaian > 90%-100%
capaian > 75%-90%
capaian < 50%
Lampiran-3 | LAKIP KemenPANRB 2017
STATUS
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-4
CAPAIAN KINERJA 2017 DIBANDING DENGAN TARGET 2019
KEMENTERIAN PAN DAN REFORMASI BIROKRASI TAHUN 2017
No.
1.
SASARAN
Peningkatan efektivitas
pelaksanaan reformasi
birokrasi
INDIKATOR KINERJA
1.1 Persentase IP yang memiliki
nilai indeks RB Baik (kategori
“B” ke atas)
REALISASI
s.d 2017
95,06% KL
47,06% Prov
4,13% Kab/Kota
TARGET
2019
75,00% KL
60,00% Prov
45,00% Kab/Kota
Peningkatan kelembagan
dan tatalaksana organisasi
pemerintahan yang tepat
fungsi, tepat ukuran dan
tepat proses
2.1 % lembaga yang efektif setelah
penataan
2.2 Jumlah IP yang menerapkan
tata kelola
100% lembaga
100 IP
100% lembaga
500 IP
4.
Terwujudnya SDM Aparatur
yang Kompeten dan
Kompetitif
Terwujudnya integrasi
data kepegawaian ASN
3.1 % IP yang sudah menerapkan
89% IP
pengisian JPT
3.2 % pegawai ASN di tiap IP
7% IP
yang telah mengikuti dan
lulus pengembangan kompetensi
Capaian Rata-rata Sasaran- 2
4.1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem
sistem informasi kepegawaian
dengan BKN
77 IP
Meningkatnya akuntabilitas
kinerja
5.1 Nilai akuntabilitas kinerja
rata-rata nasional
5.2 Persentase IP yang nilai
akuntabilitasnya “baik”
61,55
87,80% KL
85,29% Prov
33,86% Kab/Kota
89,00%
20% IP
35,00%
62,00%
618 IP
Meningkatnya penerapan
sistem integritas
618 IP
85,00 KL
75,00% Prov
50,00% Kab/Kota
Meningkatnya Kapasitas
Penyelenggara Pelayanan
publik dan kualitas
pelayanan publik
Terwujudnya Kementerian
PANRB yang efektif, efisien,
bersih, akuntabel dan
berkinerja tinggi
Keterangan :
103,29%
113,72%
67,72%
6.1 Skor Integritas Nasional
53,17
65
81,80%
6.2 Jumlah IP yang memiliki
unit kerja berpredikat
WBK/WBBM
38 IP
38 IP
100,00%
7.1 Indeks Pelayanan Publik
Nasional
3,11
90,90%
3,5
8,1 Indeks RB Baik
8,2 Opini BPK WTP
8,3 Nilai akuntabilitas
kinerja “baik”
80,17 (A)
WTP
80,18 (A)
88,86%
88,86%
Capaian Rata-rata Sasaran- 7
8.
12,46%
94,91%
Capaian Rata-rata Sasaran- 6
7.
12,46%
12,46%
Capaian Rata-rata Sasaran- 5
6.
100,00%
20,00%
100% IP
Capaian Rata-rata Sasaran- 4
5.
126,75%
78,43%
9,18%
60,00%
Capaian Rata-rata Sasaran- 2
3.
STATUS
71,45%
Capaian Rata-rata Sasaran- 1
2.
%
83 (A)
WTP
83 (A)
96,59%
100,00%
96,60%
Capaian Rata-rata Sasaran- 8
97,73%
Capaian s.d 2017 terhadap Target 2019
97,73%
72,29%
Tercapai
Optimis Tercapai
Perlu upaya lebih
Melebihi target
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-4
Lampiran-5 | LAKIP KemenPANRB 2017
DAFTAR KEMENTERIAN LEMBAGA
YANG DIEVALUASI TAHUN 2017
No.
I
Kementerian/lembaga
Surat persetujuan
BIDANG POLHUKAM
1. Kepolisian Republik Indonesia
B/47/M.KT.01/2017
2. Kejaksaan Republik Indonesia
B/354/M.KT.01/2017
3. Badan Nasional Pengelola Perbatasan
B/295/M.KT.01/2017
4. Badan Intelijen Negara
B/603/M.KT.01/2017
5. Badan Narkotika Nasional
B/614/M.KT.01/2017
II
BIDANG PEREKONOMIAN DAN KEMARITIMAN
1. Pariwisata
B/427/M.KT.01/2017
2. Perhubungan
B/115/M.KT.01/2017
3. Keuangan
B/73/M.KT.01/2017
4. Perindustrian
B/172/M.KT.01/2017
5. Kelautan dan Perikanan
B/28/M.KT.01/2017
6. Ketenagakerjaan
B/483/M.KT.01/2017
7. Luar Negeri
B/92/M.KT.01/2017
8. Komunikasi dan Informasi
B/310/M.KT.01/2017
9. Pertanian
B/238/M.KT.01/2017
10. LPDB Koperasi
B/174/M.KT.01/2017
11. Bakamla
B/134/M.KT.01/2017
12. Badan Ekonomi Kreatif
B/87/M.KT.01/2017
13. BKPM
B.135/M.KT.01/2017
14. BNP2TKI
B.435/M/KT.01/2017
BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
1. Agama
B/84/M.KT.01/2017
2. Ristek dan Pendidikan Tinggi
B/114/M.KT.01/2017
3. Pemuda dan Olah Raga
B/580/M.KT.01/2017
4. Sosial
B/288/M.KT.01/2017
Lampiran-5 | LAKIP KemenPANRB 2017
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6
WBK
DAFTAR INSTANSI PEMERINTAH PUSAT
YANG UNIT KERJANYA MEMPEROLEH
PREDIKAT WBK TAHUN 2017
No.
1.
nama unit kerja
Instansi pemerintah
Kementerian Keuangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta
Pusat Pembinaan Profesi Keuangan
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sumbawa Besar
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe
Madya Pabean A Bogor
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe
Madya Pabean C Cilacap
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kotamobagu
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Padang
Direktorat Pembiayaan dan Transfer Non Dana
Perimbangan, DJPK
Direktorat Surat Utang Negara, DJPPR
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Umum,
BPPK
2.
Kementerian Agama
11. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin
12. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Musi Banyuasin
3.
Kementerian Kesehatan
13. Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
14. Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta
15. Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang
4.
Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah
Kementerian Sosial
Kementerian Perindustrian
16. Asdep Organisasi dan Badan Hukum Koperasi Pada
Deputi Bidang Kelembagaan
17. Direktorat Pengelolaan Sumber Dana Bantuan Sosial
18. Balai Besar Teknologi Pencegahan dan Pencemaran
Industri Semarang
19. Balai Pendidikan dan Pelatihan Industri Surabaya
20. SMK Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor
21. Balai Riset Standardisasi Industri Samarinda
7.
Kementerian Pertanian
22. Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan, Bogor
23. Balai Besar Pelatihan Pertanian Bangkaluku,
Sulawesi Selatan
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6
Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017
No.
8. Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan
9.
nama unit kerja
Instansi pemerintah
Kementerian Luar Negeri
10. Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi
11. Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK)
24. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah
25. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika
Malang
26. Pusat Pengembangan PAUD dan PM Jawa Timur
27. KBRI SIngapura
28. Biro Hukip
29. Badan Pemeriksa Keuangan
30. Badan Pemeriksa Keuangan
31. Badan Pemeriksa Keuangan
Sulawesi Selatan
32. Badan Pemeriksa Keuangan
Jawa Tengah
Perwakilan Provinsi Riau
Perwakilan Provinsi Aceh
Perwakilan Provinsi
Perwakilan Provinsi
12. Badan Nasional Penempatan
dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI)
33. Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia Semarang
13. Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM)
34. Direktorat Penilaian Keamanan Pangan
35. Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik
dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
36. Pusat Informasi Obat dan Makanan
37. Balai Besar POM Surabaya
14. Badan Pusat Statistik (BPS)
38. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur
15. Lembaga Administrasi Negara
(LAN)
39. Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur
III LAN Samarinda
16. Badan Pengawas Tenaga Nuklir
(BAPETEN)
40. Direktorat Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif
17. Badan Tenaga Nuklir Nasional
41. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif
18. Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM)
42. Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal
19. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI)
43. Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI
Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6
No.
nama unit kerja
Instansi pemerintah
20. Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT)
44. Balai Teknologi Polimer (BTP)
21. Badan Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika (BMKG)
45. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika
Wilayah IV Makassar
22. Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan
46. Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan
Keuangan Daerah
47. Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor
23. Kepolisian Negara RI (POLRI)
48. Dittipidkor Bareskrim Polri
49. Polresta Banjarmasin
50. Polrestabes Surabaya
51.Polres Balikpapan
52. Polrestabes Semarang
53. Polrestabes Medan
54. Polresta Pekanbaru
55. Polresta Padang
56. Polres Serang
24. Provinsi Jawa Tengah
57.
58.
59.
60.
25. Provinsi Daerah Istimewa
61. Rumah Sakit Paru Respira Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta
Yogyakarta
Rumah
Rumah
Rumah
Rumah
Sakit
Sakit
Sakit
Sakit
Umum Daerah Dr. Moewardi
Umum Daerah Dr. Margono Soekarjo
Umum Daerah Kelet
Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo
26. Provinsi Nusa Tenggara Barat
62. Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
63. Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi Nusa
Tenggara Barat
27. Provinsi Kalimantan Timur
64. Rumah Sakit Umum Daerah Kanujoso Djatiwibowo
Balikpapan
28. Kabupaten Wonogiri
65. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu Kabupaten Wonogiri
29. Kota Surakarta
66. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu ‘
Pintu Kota Surakarta
67. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta
30. Kabupaten Kudus
68. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekmonohadi Kabupaten
Kudus
31. Kabupaten Kulonprogo
69. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten
Kulon Progo
70. Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kabupaten Kulon Progo
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6
Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017
No.
nama unit kerja
Instansi pemerintah
32. Kabupaten Bantul
71. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten
Bantul
33. Kabupaten Sleman
72. Puskesmas Gamping 1 Kabupaten Sleman
34. Kabupaten Kutai Kartanegara
73. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu Kabupaten Kutai Kartanegara
35. Kota Samarinda
74. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu Kota Samarinda
36. Kota Tanjung Pinang
75. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu Tanjung Pinang
37. Kota Sukabumi
76. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi
38. Kabupaten Badung
78. Rumah Sakit Umum Daerah Mangusada Kabupaten
Badung
WBBM
DAFTAR INSTANSI PEMERINTAH YANG
UNIT KERJANYA MEMPEROLEH
PREDIKAT WBBM TAHUN 2017
No.
Instansi pemerintah
nama unit kerja
2.
Kementerian Keuangan
1. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kuningan
3.
Lembaga Ilmu Pengetahuan
2. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI purwodadi
3. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI bogor
Indonesia (LIPI)
4.
Kepolisian Negara RI (POLRI)
4. Polresta Sidoarjo
5. Polres Jember
6. Polres Gresik
Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-7
REALISASI ANGGARAN
KEMENTERIANPENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA
DANDANREFORMASIBIROKRASITAHUN2017
Kode
NamaProgram/Kegiatan
I
Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis Lainnya
PaguAnggaran
Realisasi
%
2814
Pengelolaan Pembinaan Hukum, Komunikasi Publik
dan Sistem Informasi
6.341.597.000
6.119.102.539
96,49
2815
Pengelolaan dan Pembinaan Manajemen Kinerja dan
Penganggaran, Kerja Sama Lembaga dan Pelaporan
2.439.742.000
2.436.736.580
99,88
2816
Pengelolaan dan Pembinaan SDM, Keuangan dan
Perkantoran
87.267.916.000
86.724.688.891
99,38
2817
Pembinaan dan Pengawasan Intern dan Quality
Assurance
1.895.998.000
1.775.944.630
93.67
2818
Pelakasanan Dukungan Perumusan Kebijakan PAN
dan RB
869.531.000
843.180.848
96,97
98.814.784.000
97.899.653.488
99,07
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi Program
Reformasi Birokrasi Akuntabilitas Aparatur, dan
Pengawasan
9.187.627.000
9.121.385.066
99,28
2821
Perumusan Kebijakan Reformasi Birokrasi dan
Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan
8.145.949.000
7.992.650.537
98,12
2822
Koordinasi Penanganan Pengaduan Masyarakat
dan Aparatur
910.719.000
836.162.140
91.81
2823
Koordinasi Pelaksanaan Pemantauan, dan Evaluasi
Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan
Pengawasan I
2.123.743.000
2.111.832.287
99,44
2824
Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi
Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan
Pengawasan II
2.349.401.000
2.313.511.400
98,47
Sub Jumlah
II
2820
Program Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi
LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-7
Lampiran-7 | LAKIP KemenPANRB 2017
Kode
NamaProgram/Kegiatan
2824
Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi
Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan
Pengawasan II
2825
Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi
Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan
Pengawasan III
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, dan Evaluasi
Program Kelembagaan dan Tata Laksana
2827
PaguAnggaran
Realisasi
%
2.349.401.000
2.313.511.400
98,47
2.471.110.000
2.432.515.914
98,44
1.769.128.000
1.757.396.051
99,34
1.090.918.000
1.085.449.920
99,50
2828
Perumusan Kebijakan Sistem Kelembagaan dan
Tata Laksana
2829
Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
E-Government
793.559.000
787.239.320
99,20
2830
Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
Kelembagaan I
781.739.000
771.407.977
99,68
2831
Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
Kelembagaan II
1.014.392.000
994.430.746
98,03
2832
Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan
Kelembagaan III
601.123.000
592.913.499
98,63
2833
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, Evaluasi Program
dan Pembinaan Integritas Sumber Daya Manusia Aparatur
1.314.358.000
1.309.806.371
99.65
2834
Perencanaan dan Pengembangan Sistem Informasi Sumber
Daya Manusia Aparatur
2.804.046.000
2.740.214.006
97,72
2836
Standardisasi Jabatan dan Pengembangan Kompetensi
Sumber Daya Manusia Aparatur
1.040.459.000
1.033.162.397
99,30
2837
Pengembangan Kesejahteraan Sumber Daya Manusia
Aparatur
894.495.000
877.934.800
98,15
2838
Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi
Program Pelayanan Publik
4.697.320.000
4.667.289.800
99.36
2839
Perumusan Kebijakan Inovasi dan Sistem Informasi
Pelayanan Publik
817.527.000
800.548.400
97,92
2840
Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi
Pelayanan Publik I
857.834.000
821.016.704
95,71
2841
Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi
Pelayanan Publik II
752.986.000
732.585.550
96,10
2842
Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi
Pelayanan Publik III
850.610.000
832.964.916
97,93
5091
Pembinaan Integritas dan Penegakan Disiplin SDM
Aparatur
1.423.993.000
1.400.723.084
98.37
5092
Pengembangan Kompetensi dan Kinerja SDM Aparatur
1.499.800.000
1.477.751.740
98.53
Sub Jumlah
48.192.836.000
47.481.892.625
98,52
Jumlah
147.007.620.000
145.381.546.113
98,89
Lampiran-7 | LAKIP KemenPANRB 2017
KEMENTERIANPENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA
DANREFORMASIBIROKRASI
LAPORANKINERJA
K E M E N T E R I A N PA N R B
2017
Download