KEMENTERIANPENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA DANREFORMASIBIROKRASI LAPORANKINERJA K E M E N T E R I A N PA N R B 2017 KATA PENGANTAR Laporan Kinerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB) ini merupakan perwujudan pertanggungjawaban atas kinerja pencapaian sasaran strategis Tahun Anggaran 2016. Laporan Kinerja ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan Rencana Strategis Kementerian PANRB Tahun 2015-2019. Penyusunan Laporan Kinerja Kementerian PANRB mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri PANRB No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan Rencana Strategis Kementerian PANRB Tahun 2015-2019. Laporan Kinerja ini merupakan bentuk akuntabilitas dari pelaksanaan tugas yang berfungsi, antara lain sebagai alat penilaian kinerja, wujud akuntabilitas pelaksanaan t u g a s d a n f u n g s i Ke m e n t e r i a n PA N R B d a n w u j u d t r a n s p a r a n s i s e r t a pertanggungjawaban kepada masyarakat serta merupakan alat kendali dan alat pemacu peningkatan kinerja setiap unit organisasi di lingkungan Kementerian PANRB. Kinerja Kementerian PANRB diukur atas dasar penilaian Indikator Kinerja Utama (IKU) yang merupakan indikator keberhasilan pencapaian Sasaran Strategis sebagaimana telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017. Secara umum capaian kinerja sasaran telah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, meskipun, beberapa indikator belum menunjukan capaian sesuai target. karena pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi sangat ditentukan oleh komitmen, keterlibatan dan dukungan aktif segenap komponen aparatur negara, masyarakat, dunia usaha dan civil society sebagai bagian integral dari pembaharuan sistem administrasi negara. Berdasarkan analisis dan evaluasi obyektif yang dilakukan melalui Laporan Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 ini, diharapkan dapat terjadi optimalisasi peran kelembagaan dan peningkatan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kinerja seluruh jajaran pejabat dan pelaksana di lingkungan Kementerian PANRB pada tahun-tahun selanjutnya, sehingga dapat mendukung kinerja Kementerian PANRB secara keseluruhan dalam mewujudkan Good Governance dan Clean Government. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur LAKIP KemenPANRB 2017 | PERNYATAAN TELAH DIREVIU KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI Kami telah mereviu Laporan Kinerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk Tahun Anggaran 2017 sesuai Pedoman Reviu atas Laporan Kinerja. Substansi informasi yang dimuat dalam Laporan Kinerja menjadi tanggungjawab manajemen Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Reviu bertujuan untuk memberikan keyakinan terbatas Laporan Kinerja telah disajikan secara akurat, andal dan valid. Berdasarkan reviu kami, tidak terdapat kondisi atau hal-hal yang menimbulkan perbedaan dalam meyakini keandalan informasi yang disajikan di dalam Laporan Kinerja ini. Jakarta, 20 Februari 2018 Inspektur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Devi Anantha ii | LAKIP KemenPANRB 2017 DAFTAR ISI Kata Pengantar Pernyataan Telah Diriviu Daftar isi Ikhtisar Eksekutif iii 1 Bab I Pendahuluan A. Umum B. Organisasi Kementerian PANRB 2 Bab II Perencanaan Kinerja A. Rencana Strategis B. Perjanjian Kinerja Tahun 2017 5 2 4 5 6 Bab III Akuntabilitas Kinerja A. Capaian Kinerja Tahun 2017 B. Realisasi Anggaran 9 Bab IV Penutup 43 42 Lampiran LAKIP KemenPANRB 2017 | iii IKHTISAR EKSEKUTIF Birokrasi merupakan alat utama dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan karena berfungsi untuk menerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan publik serta untuk menjamin pelaksanaan kebijakan tersebut secara operasional, terutama dalam memberikan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, birokrasi menjadi faktor penentu keberhasilan keseluruhan agenda negara dan pemerintahan, dalam kerangka upaya merealisasikan sebuah tata pemerintahan yang baik (good governance). Secara keseluruhan capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 dinyatakan “berhasil”, yaitu capaiannya 121,94% dari target yang telah ditetapkan. Sebanyak 14 indikator kinerja dari 8 sasaran, sebanyak 12 indikator dinyatakan “berhasil” karena capaiannya di atas 90 % dari target, 2 indikator dinyatakan tidak berhasil. Indikator yang tidak berhasil adalah terkait target kab/kota yang memiliki nilai RB baik dan persentase pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi. Secara keseluruahan capaian Kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan untuk mencapai visi Kementerian PANRB berupa terwujudnya aparatur negara yang bersih, kompeten dan melayani diperlukan koordinasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai instansi di pusat maupun daerah harus dilakukan dengan lebih intensif, mengingat berbagai target indikator hanya dapat dicapai dengan melibatkan segenap instansi pemerintah khususnya pemerintah kabupaten/kota. Untuk mendukung capaian kinerja tahun 2017 telah direalisasikan anggaran yang berasal dari APBN sebesar Rp147,007,620,000 telah direalisasi sebesar 145,381,546,113 atau 98,89% dan hibah langsung berupa jasa dari BNZ/GIZ (Federal Republic of Germany) sebesar Rp685,807,398.00. Realisasi anggaran tersebut apabila dibandingkan dengan capaian sasaran menunjukkan adanya efektifitas penggunaan anggaran. 1 | LAKIP KemenPANRB 2017 BABI PENDAHULUAN A. Umum Birokrasi merupakan alat utama dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan karena berfungsi untuk menerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan publik serta untuk menjamin pelaksanaan kebijakan tersebut secara operasional, terutama dalam memberikan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, reformasi birokrasi harus dilakukan guna mewujudkan negara dan pemerintahan yang memenuhi karakteristik good governance. Reformasi birokrasi harus disertai rencana tindak (action plan) yang jelas serta implementasinya secara konkrit dan konsekuen. Dalam kaitan itu maka reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara komprehensif dalam seluruh aspeknya. Selain itu dengan sangat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi serta perubahan lingkungan strategis menuntut birokrasi pemerintahan untuk direformasi dan disesuaikan dengan dinamika tuntutan masyarakat. Oleh karena itu harus segera diambil langkah-langkah yang bersifat mendasar, komprehensif, dan sistematik, sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Mengingat pentingnya reformasi birokrasi tersebut, dalam Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Kabinet Kerja telah menetapkan 9 Prioritas Nasional dan “tata kelola pemerintah yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya” menjadi prioritas kedua, yang meliputi subagenda prioritas yang terkait yaitu: Membangun transparansi dan akuntabilitas kinerja pemerintah; Menyempurnakan dan meningkatkan kualitas Reformasi Birokrasi Nasional (RBN); dan Meningkatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan kebijakan publik. Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden Republik Indonesia memberikan tugas kepada Kementerian PANRB melalui Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2015 untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. LAKIP KemenPANRB 2017 | 2 Dalam melaksanakan tugasnya Kementerian PANRB menyelenggarakan fungsi: Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang reformasi birokrasi, akuntabilitas aparatur dan pengawasan, kelembagaan dan tata laksana, sumber daya manusia aparatur, dan pelayanan publik Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang reformasi birokrasi, akuntabilitas aparatur dan pengawasan, kelembagaan dan tata laksana, sumber daya manusia aparatur, dan pelayanan publik Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian PANRB Koordinasi pelaksanaan supervisi dan pengawasan penyelenggaraan administrasi pemerintahan Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian PANRB Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian PANRB 3 | LAKIP KemenPANRB 2017 B. ORGANISASI KEMENTERIAN PANRB Berdasarkan Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2015, tentang Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, organisasi Kementerian PANRB terdiri 1 Sekretariat Kementerian, 4 Deputi dan 4 Staf Ahli. Selanjutnya Penjabaran Organisasi dan Tata Kerja Kementerian PANRB ditetapkan dengan PermenPANRB No. 3 Tahun 2016, diperbaharui dengan PermenPANRB No. 12 Tahun 2017 dengan bagan sebagai berikut: MENTERI PENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA DANREFORMASIBIROKRASI Staf Ahli terdiri atas : 1. Bidang Politik dan Hukum. 2. Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah. 3. Bidang Administrasi Negara 4. Bidang Budaya Kerja. SEKRETARIAT KEMENTERIAN STAFAHLI INSPEKTORAT DEPUTIBIDANG REFORMASIBIROKRASI, AKUNTABILITASAPARATUR, DANPENGAWASAN DEPUTIBIDANG KELEMBAGAANDAN TATALAKSANA DEPUTIBIDANG SUMBERDAYAMANUSIA APARATUR DEPUTIBIDANG PELAYANANPUBLIK LAKIP KemenPANRB 2017 | 4 BABII PERENCANAAN KINERJA A. RENCANA STRATEGIS Dari visi dan misi tersebut, selanjutnya ditetapkan tujuan Kementerian PANRB sebagai berikut: Terwujudnya Pemerintahan yang Efektif dan Efisien Terwujudnya SDM Aparatur yang Kompeten dan Kompetitif Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih, Akuntabel, dan Berkinerja Tinggi Terwujudnya Pelayanan Publik yang Baik dan Berkualitas Terwujudnya Aparatur Kementerian PANRB yang profesional dan berkinerja tinggi Selain menyusun Renstra Kementerian PANRB 2015-2019, Kementerian PANRB sebagai Unit Pengelola RB Nasional (UPRBN) juga menyusun Road Map Reformasi Birokrasi Nasional 2015-2019 yang berisi 3 sasaran reformasi yaitu: Birokrasi yang efektif dan efisien Birokrasi yang bersih dan akuntabel Birokrasi yang memiliki pelayanan Publik berkualitas Untuk mencapai sasaran reformasi birokrasi tersebut melibatkan seluruh K/L dan pemerintah daerah. Sedangkan K/L yang terkait langsung dengan capaian indikator reformasi birokrasi adalah BPKP, BKN, KPK, Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan Ombudsman Republik Indonesia. Kementerian PANRB mendapat tugas mendorong capaian 3 sasaran tersebut melalui indikator (1) Instansi Pemerintah yang akuntabel; (2) Indeks reformasi Birokrasi Rata-Rata nasional dan (3) Survey Kepuasan Masyarakat. Terhadap Indikator yang menjadi tanggungjawab kementerian PANRB tersebut sudah menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian PANRB yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri PANRB No. 14 Tahun 2015 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian PANRB. 5 | LAKIP KemenPANRB 2017 B. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017 Perjanjian Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 merupakan target kinerja tahun ketiga dari Renstra Kementerian PANRB 2015-2019, yang memuat sasaran strategis Indikator Kinerja yang terkait dengan tugas fungsi Kementerian PANRB. Untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas kinerja Kementerian PANRB, pada tahun 2016 telah dilakukan reviu terhadap Renstra Kementerian PANRB Tahun 2015-2019 yang menyebabkan adanya beberapa perbedaan rumusan sasaran dan indikator pada Perjanjian Kinerja tahun 2017 dibandingkan dengan Perjanjian Kinerja tahun sebelumnya. Jumlah Sasaran Strategis yang sebelumnya 12 sasaran dengan 33 indikator menjadi 8 sasaran dengan 14 indikator. Beberapa indikator kinerja yang sampai dengan tahun 2016 tidak dilakukan pengukuran seperti indeks e-government, indeks profesionalisme ASN dan tingkat kepatuhan Kementerian PANRB dalam pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik tidak menjadi indikator kinerja di tingkat Kementerian. Berikut adalah sasaran kinerja, indikator dan target yang akan dicapai dalam tahun 2017: No. Sasaran indikator target 2017 1. Peningkatan efektifitas pelaksanaan reformasi birokrasi Persentase IP yang efektif memiliki nilai RB Baik (kategori “B” keatas) 2. Peningkatan kelembagaan dan tata laksana organisasi pemerintahan yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses & lembaga yang efektif setelah penataan berdasarkan hasil evaluasi/audit 100% Jumlah IP yang menerapkan tata kelola pemerintahan berbasis IT 100% K/L 75% Provinsi 40% Kab/Kota 25% LAKIP KemenPANRB 2017 | 6 No. 3. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sasaran Terwujudnya SDM Aparatur yang Kompeten dan Kompetitif Terwujudnya integrasi data kepegawaian ASN Meningkatnya akuntabilitas kinerja Meningkatnya penerapan sistem integritas Meningkatnya Kapasitas Penyelenggaraan Pelayanan publik dan kualitas pelayanan publik Terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien, bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi indikator target 2017 % IP yang sudah menerapkan pengisian JPT sesuai dengan standar kompetensi jabatan 60% % pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi 20% Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaian informasi kepegawaian dengan BKN Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata nasional 77 IP 65 K/L 80% Provinsi 57% Kab/Kota 31% % IP yang nilai akuntabilitasnya “baik” Skor Integritas Nasional 55 Jumlah IP yang memiliki unit kerja berpredikat WBK/WBBM 9 IP Indeks Pelayanan Publik Nasional 2.69 Indeks RB Baik 81 Opini BPKWTP WTP Dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 tersaji dalam Lampiran-1. Dalam mewujudkan target kinerja tahun 2017 tersebut, Kementerian PANRB mendapat dukungan anggaran dari APBN sebesar Rp147,007,620,000, yang digunakan untuk melaksanakan 33 kegiatan yang terangkum dalam 2 pogram sebagai berikut: No. anggaran (Rp) program 1. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya 98,814,784,000 2. Program Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 48,192,836,000 Jumlah 147,007,620,000 Rincian Anggaran per kegiatan disajikan dalam Lampiran-2 7 | LAKIP KemenPANRB 2017 Selanjutnya dari anggaran tersebut digunakan untuk mendukung terwujudnya sasaran strategis tahun 2017 sebagai berikut: No. Sasaran strategis anggaran (Rp) 1. Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi 2. Peningkatan kelembagaan dan tata laksana pemerintah yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses 6,050,859,000 3. Terwujudnya SDM Aparatur yang kompeten dan kompetitif 6,173,105,000 4. Terwujudnya integrasi dan kepegawaian ASN 2,804,046,000 5. Meningkatnya akuntabilitas kinerja 4,820,214,000 6. Meningkatnya penerapan sistem integritas 2,550,323,000 7. Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan dan kualitas pelayanan publik 7,976,277,000 8. Terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien, bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi 98,814,784,000 Total 147,007,620,000 17,818,013,000 Di samping sumber anggaran dari APBN, untuk meningkatkan kualitas dan mendukung pencapaian kinerja tahun 2017, Kementerian PANRB juga menerima hibah langsung jasa dan barang dari berbagai pihak diantaranya dari BNZ/GIZ (Federal Republic of Germany), EGCC, dll. Rp LAKIP KemenPANRB 2017 | 8 BABIII AKUNTABILITAS KINERJA A. Capaian Kinerja Tahun 2017 Pengukuran capaian kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian setiap indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja dengan realisasinya. Secara keseluruhan capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 dinyatakan “berhasil”, yaitu capaiannya 121,94% dari target yang telah ditetapkan. Dari sebanyak 14 indikator kinerja dari 8 sasaran, sebanyak 12 indikator dinyatakan “berhasil” karena capaiannya di atas 90 % dari target, 2 indikator dinyatakan tidak berhasil. Indikator yang tidak berhasil adalah terkait target kab/kota yang memiliki nilai RB baik dan persentase pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi. Secara keseluruhan capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. CAPAIAN KINERJA TAHUN 2017 Sasaran 1. Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi 2. Peningkatan kelembagaan dan tata laksana organisasi pemerintahan yang tepat fungsi, tepat ukuran dan tepat proses 3. 4. Terwujudnya SDM Aparatur yang Kompeten dan Kompetitif Terwujudnya integrasi data kepegawaian ASN 9 | LAKIP KemenPANRB 2017 Indikator % IP yang memiliki nilai indeks RB Baik (kategori “B” ke atas % lembaga yang efektif setelah penataan berdasarkan hasil evaluasi audit realisasi 95,06% KL 47,06% Prov 4,13% Kab/Kota 100% Jumlah IP yang menerapkan tata kelola pemerintahan berbasis IT 100 IP % IP yang sudah menerapkan pengisian JPT sesuai dengan standar kompetensi jabatan 89% IP % pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi 7% IP Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaian dengan BKN 77 IP Indikator Sasaran 5. 6. 7. 8. Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata nasional Meningkatnya akuntabilitas kinerja % IP yang nilai akuntabilitasnya “baik” Meningkatnya penerapan sistem integritas Meningkatnya Kapasitas Penyelenggaraan Pelayanan Publik dan kualitas pelayanan publik Terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien, bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi realisasi 61,55 87,80%KL 85,29% Prov 33,86% Kab/Kota Skor integritas nasional 53,17 Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaian dengan BKN 38 IP Indeks Pelayanan Publik Nasional 3,11 Indeks RB Baik 80.17 (A) Opini BPK WTP WTP Nilai akuntabilitas kinerja “baik” 80.18 (A) Rincian capaian kinerja terlampir pada Lampiran-3 Untuk mendukung capaian kinerja tersebut, Kementerian PANRB telah menginisiasi penyusunan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan reformasi birokrasi, akuntabiltias kinerja, penguatan pelaksanaan pemerintahan berbasis elektronik, pelaksanaan UU Nomor 5 tahun 2014 dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Beberapa kebijakan yang telah diterbitkan maupun yang masih dalam proses penyusunan selama Tahun 2017 adalah sebagai berikut: No Kebijakan Perkembangan 1. PP Manajemen PNS Selesai dan diundangkan tanggal 7 April 2017 2. RPP Manajemen PPPK Selesai dan siap ditetapkan 3. RPP Penilaian Kinerja PNS Proses paraf koordinasi 4. RPP Korps Profesi Pegawai ASN Selesai harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM 5. RPP Disiplin PNS Telah disampaikan kepada Presiden untuk ditetapkan LAKIP KemenPANRB 2017 | 10 No Kebijakan Perkembangan 6. RPP tentang Gaji, Tunjangan dan Fasilitas PNS Proses harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM 7. RPP tentang Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua Proses harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM 8. Rancangan Peraturan Presiden Presiden pengembangan kompetensi dan penilaian kinerja SDM Aparatur (ASN) Proses paraf koordinasi Rancangan Peraturan Presiden tentang Tugas Belajar, sebagai pelaksanakan ketentuan Pasal 211 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS Proses harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM 9. 10. Peraturan Menteri PANRB tentang Standar Kompetensi Jabatan ASN Telah ditetapkan sebagai Peraturan Menteri PANRB Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan ASN 1. PENINGKATAN EFEKTIVITAS PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI Upaya percepatan Reformasi Birokrasi pada Instansi Pemerintah mengalami perkembangan positif. Hal ini terlihat dari penerapan unit kerja pelayanan percontohan, rekrutmen SDM yang semakin transparan, sistem promosi yang baik, serta pemangkasan proses bisnis pelayanan. Meskipun mengalami perkembangan yang positif, namun reformasi birokrasi belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Berdasarkan survei menunjukan bahwa persepsi masyarakat terhadap tingkat pelayanan dan budaya anti korupsi belum cukup baik. 11 | LAKIP KemenPANRB 2017 Untuk mengukur capaian sasaran strategis ini, menggunakan indikator indeks RB yang mengambarkan sejauhmana instansi pemerintah melaksanakan perbaikan tata kelola pemerintahan yang bertujuan pada pemerintahan yang efektif dan efisien, bersih dari KKN dan memiliki pelayanan publik yang berkualitas. Berdasarkan Peraturan Menteri PANRB No. 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah, terdapat 7 kategori penilaian mulai dari yang paling rendah yaitu kategori ”D” sampai dengan yang tertinggi yaitu kategori ”AA”. Instansi pemerintah yang memiliki nilai RB “baik” adalah instansi yang berdasarkan hasil evaluasi mendapat nilai nimimal > 60 atau dengan kategori minimal “B”. Pencapaian sasaran peningkatan reformasi birokrasi diukur dari indikator indeks RB dengan target dan realisasi sebagai berikut: Indikator TargetRealisasi 1.1 % Instansi Pemerintah yang memiliki nilai indeks RB Baik (kategori “B” keatas) Capaian K/L 75% K/L 75% 126,75% Prov 40% Prov 40% 117,65% Kab/Kota 25% Kab/Kota 25% 16,52% Rata-rata Capaian 86,97% 1.1. % Instansi Pemerintah yang memiliki nilai indeks RB Baik (kategori “B” ke atas) Dari 82 Kementerian/Lembaga yang dievaluasi sebanyak 77 K/L (95.06%) memperoleh nilai indeks RB ”baik” atau 126.75 % dari target 75%. Capaian tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 91,36 %. Untuk pemerintah provinsi dari 34 Provinsi sebanyak 16 Provinsi (47.06%) memperoleh nilai indeks RB ”Baik” atau 117,65% dari target 40%. Capaian tersebut meningkat secara signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 26,74%. Sedangkan dari 514 kab/kota yang dievaluasi, yang memperoleh nilai indeks RB ”baik” sebanyak 21 Kab/Kota (4,13%). Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan capaian tahun lalu sebesar 3,89%. Namun jika dibandingkan dengan target tahun 2017 sebesar 25%, maka Hal tersebut menunjukan bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi baik pusat maupun daerah menunjukkan tren positif. Perbaikan yang paling signifikan antara lain penataan manajemen Aparatur Sipil Negara yang ditandai dengan upaya penerimaan pegawai yang transparan dan bersih dari KKN, pengisian jabatan tinggi dengan metode merit dan lelang terbuka, peningkatan kompetensi pegawai serta penataan organisasi dan ketatalaksanaan. LAKIP KemenPANRB 2017 | 12 Jika dibandingkan dengan target 2019, realisasi sampai dengan 2017 untuk K/L telah melampaui target tahun 2019. Untuk pemerintah provinsi target tahun 2019 sebanyak 60% opitmis dapat tercapai, sedangkan untuk pemerintah kab/kota masih jauh dari target 2019. Oleh karena itu memerlukan upaya yang konsisten, sistematis, dan terencana dari seluruh pihak yang terkait. Beberapa hal yang masih lemah khsususnya pada pemda kab/kota antara lain: pengawasan internal sebagai upaya belum efektif pencegahan korupsi dan penyimpangan, komitmen pimpinan dalam perubahan belum terlihat, penguatan organisasi dan tata laksana belum mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran dalam mewujudkan harapan masyarakat, masih banyak peraturan daerah yang tumpang tindih dan kontra produktif terhadap pembangunan daerah. PerbandinganCapaianTahun2017dibandingdenganTarget2019 Indikator Capaian 2017 Target 2019 % Status Kementerian/Lembaga 95,06% 75% 126,75% Tercapai Provinsi 47,06% 60% 78,43% Optimis Tercapai Kabupaten/Kota 4,13% 45% 9,18% PerluUpaya Lebih Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi antara lain: 1. Melakukan assesemen kapasitas birokrasi (pusat dan daerah). Asesmen dilakukan melalui survei internal pegawai instansi pemerintah terhadap integritas organisasi. Asesmen ini dilakukan dengan cara melakukan survei integritas organisasi kepada pejabat/pegawai instansi pemerintah untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan organisasi/instansi pemerintah dalam mengelola unit organisasi tersebut. Output yang dihasilkan dari Survei Integritas Organisasi adalah Indeks Kapabilitas Organisasi yang merupakan komponen “Hasil” dari evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Indeks ini menggambarkan kualitas pengelolaan organisasi di seluruh Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 13 | LAKIP KemenPANRB 2017 Komponen yang digunakan untuk mengukur integritas organisasi adalah sebagai berikut: a. Budaya Organisasi dan Sistem Anti Korupsi. b. Integritas Kerja terkait Pengelolaan SDM. c. Integritas Kerja dan Pelaksanaan Anggaran. d. Integritas Kerja dan Kesesuaian Perintah Atasan dengan Aturan dan Norma. 2. Asistensi/ coaching clinic pada Pemerintah Kabupaten/Kota Asistensi/coaching clinic dilakukan pada instansi pemerintah baik secara individu maupun dalam bentuk forum/pertemuan atau workshop pada berbagai daerah di seluruh provinsi. Selama tahun 2017 telah dilaksanakan sebanyak 145 layanan coaching clinic. 3. Evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi pada seluruh Instansi pemerintah. Pada tahun 2014 dan 2015 pelaksanaan evaluasi reformasi birokrasi baru dilaksanakan sebagian K/L dan Provinsi, dan kab/kota yang menjadi pilot project. Mulai tahun 2017 evaluasi reformasi birokrasi sudah mencakup seluruh instansi pemerintah baik pusat maupun daerah meskipun untuk kab/kota belum seluruhnya. Namun mulai tahun 2018 direncanakan evaluasi mencakup seluruh instansi pemerintah. Tujuan evaluasi adalah memetakan perkembangan/kemajuan pelaksanaan reformasi birokrasi dan memberikan saran dalam rangka perbaikan dan percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi. Dari hasil evaluasi dapat diperoleh gambaran pemerintahan yang bersih dan akuntabel, pemerintah yang efektif dan efisien dan mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas. LAKIP KemenPANRB 2017 | 14 4. Meningkatkan Tingkat Kemudahan penggunaan aplikasi PMPRB online. Tingkat kemudahan penggunaan apliaksi PMPRB online diukur dari tingkat penggunaan oleh instansi pemerintah dalam melaporkan pelaksanaan RB melalui PMPRB online. Pada tahun 2017 hampir seluruh K/L telah melaporkan pelaskanaan RB melalui PMPRB online (98,78%), sedangkan provinsi sebesar 70,59%, dan kabupaten/kota sebesar 27,25%. Rendahnya ketaatan pelaporan pelaksanaan pada pemerintah kabupaten/kota disebabkan masih rendahnya komitmen kepala daerah dalam pelaksanaan reformasi birokrasi dan sosialisasi pelaksanaan reformasi birokrasi belum menjangkau terutama pemerintah kabupaten/kota pada wilayah Indonesia timur. 2. PENINGKATAN KELEMBAGAAN DAN TATALAKSANA PEMERINTAH YANG TEPAT FUNGSI, TEPAT UKURAN DAN TEPAT PROSES Kelembagaan pemerintahan merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan roda pemerintahan karena merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dalam agenda reformasi birokrasi, penataan kelembagaan diperlukan untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif dan efisien yang digambarkan kelembagaan yang tepat fungsi, tepat ukuran dan tepat proses. Kelembagaggan dinyatakan semakin efektif ditandai dengan menurunnya tumpang tindih kewenangan. Sedangkan efisiensi digambarkan dalam bisnis proses yang sederhana, transparan, partisipatif dan bebasis e-government. Indikator Target Realisasi Capaian 2.1 % lembaga yang efektif setelah penataan berdasarkan hasil evaluasi/audit 100% 100% 100% 2.2 Jumlah IP yang menerapkan tata kelola pemerintahan berbasis IT (elektronik) 100 IP 100 IP 100% Rata-rata Capaian 15 | LAKIP KemenPANRB 2017 100% 2.1. % lembaga yang efektif setelah penataan berdasarkan hasil evaluasi/audit Dalam tahun 2017 telah dilakukan penataan terhadap 44 kelembagaan yang meliputi Kementerian, LPNK dan LNS. Untuk mewujudkan hal tersebut dilakukan evaluasi dan audit dengan uraian sebagai berikut: 1. Penataan Kementerian/Lembaga Penataan dilakukan melalui analisis organisasi dan bisnis proses terhadap usulan yang diajukan K/L. Terdapat 4 (empat) aspek yang digunakan sebagai parameter untuk menganalisis usulan tersebut agar organisasi yang ditata dapat proporsional, efektif dan efisien, yaitu aspek perencanaan, aspek penerapan, aspek pencapaian dan aspek lainnya. Berdasarkan parameter tersebut, setiap usulan yang masuk dari K/L harus menyertakan Naskah Akademis dan data pendukung lainnya seperti yang dipersyaratkan sebagai bahan menyusun analisis sekaligus rekomendasi lebih lanjut. Hasil rekomendasi dapat berupa: disetujui, ditunda, tidak diterima/dikembalikan dan diajukan pada periode berikutnya dengan memperhatikan aspek yang harus diperbaiki. Daftar Kementerian/lembaga yang telah dilakukan penataan disajikan pada Lampiran 5. 2. Penataan Lembaga Non Struktural (LNS) Penataan LNS bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan antar instansi pemerintah. Evaluasi/audit LNS merupakan salah satu kegiatan yang rutin dilakukan. Evaluasi/Audit LNS dilakukan melalui serangkaian kegiatan pengumpulan data yang meliputi wawancara, kunjungan lapangan, dan pencarian data sekunder. Keseluruhan kegiatan tersebut berpedoman pada 3 (tiga) indikator utama evaluasi yang meliputi jumlah SDM (PNS maupun Non PNS), output yang dihasilkan, dan data series serapan anggaran 3 (tiga) tahun terakhir. Penataan LNS telah dilakukan sejak tahun 2014. Sampai dengan tahun 2017 sebanyak 21 LNS yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden telah dibubarkan, yaitu 10 LNS dibubarkan melalui Perpres No. 176 tahun 2014, 2 LNS dibubarkan melalui Perpres No. 16 Tahun 2015 dan 9 LNS dibubarkan melalui Perpres 116 tahun 2017. Sedangkan jumlah LNS yang dibentuk berdasarkan undang-undang cenderung bertambah sejalan dengan adanya peraturan perundang-undangan yang mengamanatkan pembentukan lembaga baru. Namun demikian secara keseluruhan terjadi penururan jumlah dari 109 LNS di tahun 2014 menjadi 98 LNS di tahun 2017, yaitu 73 LNS dibentuk berdasarkan UndangUndang, 5 LNS dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah, dan 20 LNS dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden/ Keputusan Presiden. LAKIP KemenPANRB 2017 | 16 Dasar Pembentukan 2014 2015 2016 2017 64 72 73 73 4 5 5 5 Peraturan Presiden/ Keputusan Presiden 41 31 29 20 Jumlah 109 108 107 98 Undang-Undang Peraturan Pemerintah 3. Reviu bisnis proses urusan pemerintah yang stRategis Untuk mengetahui tata laksana pemerintahan yang efektif dan efisien Kementerian PANRB melakukan reviu terhadap bisnis proses urusan pemerintahan yang strategis. Tujuannya adalah mewujudkan rangkaian proses dan kegiatan penyelenggaraan urusan pemerintahan secara tepat, benar, dan terukur berdasarkan pembagian kewenangan yang telah ditetapkan. Hasil yang diharapkan adanya pembagian tugas yang jelas antara masing-masing kementerian/lembaga yang menangani urusan pemerintahan strategis tersebut sehingga tidak terjadi overlapping (tumpang tindih) tugas dan fungsi, tetapi justru saling melengkapi. Dalamtahun2017urusanpemerintahanstrategisyangtelahselesaidireviubisnis prosesnyasebanyak3urusanyaitu(1)UrusanPenyidikanantaraBNNdanPolri, (2)UrusanPertaniandan(3)UrusanPendidikan. 1. Urusan Penyidikan antara BNN dan Polri Reviu Proses Bisnis urusan pemerintahan di bidang pelaksanaan Penyidikan antara BNN dan Polri dalam Penanganan Tindak Pidana Narkotika dilakukan dengan melakukan pemetaan wewenang penyidikan yang dilaksanakan oleh BNN dan Polri berdasarkan KUHAP dan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Karena dalam UU tersebut tidak memberikan batasan kewenangan penyidikan BNN seperti UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang apabila kerugian RP. 1.000.000.000 (1 Milyar) ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Solusi terhadap tumpang tindihnya kewenangan antara POLRI dan BNN yaitu dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Tindak pidana dilakukan oleh pejabat penting dan berpengaruh; b. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat luas; dan c. Menyangkut 1 kg/10 ons jenis narkotikanya. 17 | LAKIP KemenPANRB 2017 2. Urusan Pertanian Kegiatan reviu bisnis proses urusan pemerintahan strategis di bidang pelaksanaan penyuluhan pertanian berdasarkan UndangUndang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan yang dimandatkan salah satunya kepada Menteri Pertanian tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan koordinasi dan pengaturan lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota”. Hasil penataaan berupa peta bisnis proses yang menggambarkan kejelasan pelaksanaan tugas berdasarkan mandat sesuai dengan urusan yang ditangani, dan terdapat kejelasan mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan tugas suatu urusan pemerintahan di bidang Penyuluhan Pertanian yang dalam pelaksanaannya memerlukan koordinasi dan pengaturan lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. PenyusunanKebijakan TeknisdanMateri Penyuluhan BPSDM KementerianPertanian Koordinasi,Pelatihan danBimtekPenyuluhan untukPenyuluhProvinsi BPTP Koordinasi,Pelatihan danBimtekPenyuluhan untukPenyuluhKab/Kota DinasPertanian Provinsi Koordinasi,Pelatihan danBimtekPenyuluhan untukPenyuluhDesa/Kel. DinasPertanian Kabupaten/Kota PelaksanaanPenyuluhan danUmpanBalikMateri PenyuluhanyangAplikatif Penyuluh Desa/Kelurahan Kelompok 3. Urusan PeNDIDIKAN Kegiatan reviu bisnis proses urusan pemerintahan strategis pada fungsi pendidikan tinggi di Kementerian Ristekdikti dan Kementerian Agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang dimandatkan kepada Menteri Ristekdikti dan Menteri Agama tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan koordinasi dan pengaturan lebih lanjut terutama terkait dengan penyelenggaraan perguruan tinggi keagamaan, yang ditindaklanjuti berupa: (1) Penyusunan Kebijakan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Keagamaan Melihat perkembangan zaman dan trend pendidikan dan (2) Pembinaan tenaga pengajar dan mata kuliah keagamaan pada perguruan tinggi umum. LAKIP KemenPANRB 2017 | 18 2.1. Jumlah IP yang menerapkan tata kelola Berbasis elektronik Dalam dua dekade terakhir ini, banyak instansi pemerintah yang telah menerapkan teknologi informasi. Hal ini antara lain ditandai dengan munculnya portal-portal di setiap instansi pemerintah sebagai media komunikasi sehingga berbagai informasi dapat dilihat dan diunduh dari media tersebut. Selain itu banyak instansi yang mengembangkan teknologi informasi untuk pengelolaan perencanaan anggaran, pengawasan, perbaikan pelayanan publik, dan lain sebagainya. Digitalisasi informasi yang berlangsung selama ini, sedikit banyak telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, baik dalam memperoleh pelayanan publik maupun dalam melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. Namun demikian penerapan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut, masih belum terhubung dan terintegrasi dengan lembaga pemerintahan lainnya. Penerapan e-government yang terintegrasi merupakan kunci bagi keberhasilan reformasi birokrasi terutama dalam menekan inefisiensi. Untuk mengetahui instansi pemerintah yang menerapkan tata kelola pemerintah berbasis IT, pada tahun anggaran 2017 dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap 120 IP pada beberapa pemerintah daerah di Pulau Sumatera dan Sulawesi serta beberapa Kementerian/Lembaga. Hasil monitoring dan evaluasi berupa pemetaan atas tahapan penerapan SPBE yang meliputi tahap informasi, tahap interaksi, tahap transaksi, tahap kolaborasi dan tahap optimalisasi. Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah ditujukan untuk mewujudkan proses kerja yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Agar pelaksanaan SPBE dapat berjalan untuk mencapai tujuannya, maka perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari pelaksanaan SPBE di setiap Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah. Evaluasi SPBE merupakan proses penilaian terhadap pelaksanaan SPBE di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah untuk menghasilkan suatu nilai Indeks SPBE yang menggambarkan tingkat kematangan (maturity level) dari pelaksanaan SPBE di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah. Agar penilaian ini dilaksanakan secara efektif dan obyektif, maka perlu disusun pedoman evaluasi yang dapat dipahami oleh semua pemangku kepentingan evaluasi SPBE. Tujuan dilakukan evaluasi SPBE adalah: mengetahui capaian kemajuan pelaksanaan SPBE pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah; memberikan saran perbaikan untuk peningkatan kualitas pelaksanaan SPBE; menjamin kualitas pelaksanaan evaluasi SPBE pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah. Hasil evaluasi adalah Nilai Indeks SPBE yaitu nilai indeks yang merepresentasikan tingkat pelaksanaan SPBE secara keseluruhan. Nilai Indeks SPBE merupakan nilai kumulatif dari penghitungan perkalian antara nilai Indeks Domain dan bobot domain. Evaluasi SPBE dilaksanakan No.NilaiIndeksKategori 1.4,2-<5,0Memuaskan 2.3,5-<4,2SangatBaik 3.2,6-<3,5Baik 4.<1,8Kurang secara mandiri oleh masing-masing instansi pemerintah melalui aplikasi online evaluasi SPBE (https://spbe.menpan.gp.id) 19 | LAKIP KemenPANRB 2017 Dalam tahun 2017, Kementerian PANRB telah mendorong 120 instansi pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan uji coba melaksanakan evaluasi SPBE secara mandiri. Hasilnya baru sebanyak 26 Instansi yang telah selesai melakukan evaluasi, dengan hasil sebagai berikut: IPyangtelahselesaimelakukan evaluasiSPBEsecaramandiri Nama instansi indeks spbe 1. BNP2TKI 3.35 2. Badan Pengawas Obat dan Makanan 2.94 3. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 3.30 4. Badan Pusat Statistik 3.53 5. Badan Tenaga Nuklir Nasional 3.33 6. Kementerian Hukum dan HAM 3.76 7. Kementerian Keuangan 4.24 8. Kementerian Koordinator Bidang PMK 3.17 9. Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan 2.29 10. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 4.65 11. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 2.71 12. Kementerian Perhubungan 4.53 13. Kementerian Pertanian 3.07 14. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 3.79 15. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah 2.89 16. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 2.86 17. Pemerintah Kota Bengkulu 1.18 18. Pemerintah Kota Sukabumi 4.23 19. Pemerintah Kota Yogyakarta 3.99 LAKIP KemenPANRB 2017 | 20 IPyangtelahselesaimelakukan evaluasiSPBEsecaramandiri Nama instansi indeks spbe 20. Pemerintah D.I Yogyakarta 3.22 21. Pemerintah DKI Jakarta 4.29 22. Pemerintah Provinsi Jambi 2.47 23. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah 4.09 24. Pemerintah Provinsi Jawa Timur 2.78 25. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan 2.79 26. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2.17 Evaluasi SPBE secara mandiri baru pertama kali dilakukan pada tahun 2017, sehingga belum banyak instansi pemerintah yang sudah melakukan evaluasi SPBE. Untuk mendorong pelaksanaan evaluasi SPBE akan dilakukan sosialisasi dan pendampingan dalam melakukan evaluasi. 3. TERWUJUDNYA SDM APARATUR YANG KOMPETEN DAN KOMPETITIF Untuk mendukung percepatan reformasi birokrasi diperlukan SDM aparatur yang memiliki kompetensi dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan. Kebutuhan tersebut memerlukan peningkatan mutu profesionalisme dan sikap pengabdian yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembinaan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam rangka mendukung terwujudkan profesionalisme pegawai negeri sipil tersebut diperlukan standar kompetensi jabatan yang wajib dimiliki oleh setiap PNS sesuai dengan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang terdiri dari standar kompetensi teknis, standar kompetensi manajerial dan standar kompetensi sosial kultural. Kompetensi teknis diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis, kompetensi manajerial diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman. 21 | LAKIP KemenPANRB 2017 kepemimpinan dan kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan. Standar kompetensi teknis, manajerial dan sosial kultural merupakan persyaratan kompetensi manajerial minimal yang harus dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil dalam melaksanakan tugas jabatan. Standar kompetensi manajerial ini disusun oleh instansi pemerintah di lingkungan masing-masing baik di pusat maupun daerah. Sehingga dalam pengisian jabatan harus mengacu pada standar yang telah ditetapkan. SDM aparatur yang kompeten adalah SDM yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi diantaranya menjadi pelayan masyarakat dengan memberikan pelayanan yang baik; menjadi penyangga persatuan dan kesatuan bangsa; menjadi motivator dalam proses memberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan; menjadi inovator dan kreator dalam menghasilkan inovasi-inovasi baru di bidang pelayanan masyarakat sehingga dapat diwujudkan pelayanan yang baru, efektif dan efisien; serta menjadi inisiator yang selalu bersemangat menjalankan tugasnya dilandasi dengan nilai- nilai keikhlasan dan ketulusan. Pengembangan SDM bertujuan meningkatkan keterampilan, keahlian dan kompetensi tenaga yang pada akhirnya mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Program Peningkatan SDM berbasis kompetensi bertujuan meningkatkan kualitas dan produktivitas. LAKIP KemenPANRB 2017 | 22 Pencapaian sasaran terwujudnya SDM aparatur yang kompeten diukur dari 2 indikator dengan target dan realisasi sebagai berikut: Indikator Target Realisasi % 60% 3.1 % IP yang sudah menerapkan pengisian jabatan sesuai standar kompetensi jabatan (371 IP) 89% (555 IP) 148.33% 20% (123 IP) 7% (42 IP) 33.95% Rata-rata Capaian 91.14% 3.2 % pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi 3.1. % IP yang sudah menerapkan pengisian jabatan sesuai standar kompetensi jabatan Pengangkatan PNS dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja, dan jenjang pangkat yang ditetapkan untuk jabatan itu serta syarat objektif lainnya. Untuk mendukung terwujudnya profesionalisme tersebut diperlukan standar kompetensi jabatan yang wajib dimiliki oleh setiap PNS, yang terdiri dari Standar Kompetensi Teknis dan Standar Kompetensi Manajerial (bagi pejabat struktural). Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN diatur bahwa pengangkatan PNS dalam jabatan tertentu berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi, kualifikasi, dan persyaratann yang dimiliki oleh pegawai. Selanjutnya diatur bahwa pengisian jabatan sesuai standar kompetensi jabatan ditentukan oleh 3 (tiga) rumpun jabatan PNS yaitu: Jabatan Pimpinan Tinggi, Jabatan Administrasi dan Jabatan Fungsional. Oleh karena itu setiap instansi pemerintah harus memilik standar kompetensi jabatan, yang selanjutnya dijadikan dasar pengisian jabatan tersebut. UntukpengisianJabatanPimpinanTinggidiaturdalamPeraturan MenteriPendayagunaanAparaturNegaradanReformasiBirokrasiNo.13 Tahun2014,mengenaitatacarapengisianjabatanpimpinantinggi secaraterbukadilingkunganinstansipemerintah. 23 | LAKIP KemenPANRB 2017 Dalam tahun 2017 instansi pemerintah yang telah menerapkan pengisian jabatan sesuai dengan standar kompetensi jabatan berjumlah 555 instansi Pemerintah, yang meliputi pengisian jabatan tinggi dan jabatan fungsional. Dibandingkan dengan target sebesar 60% Tahun Pusat Daerah Total atau 371 instansi pemerintah maka capaian tahun 2017 2015 60 87 147 melebihi target (150%). 2016 43 258 301 Berikut rincian jumlah IP yang telah menerapkan pengisian 2017 17 90 107 jabatan sesuai dengan standar Jumlah 120 435 555 kompetensi : Sejak tahun 2015 s.d. 2017, instansi pemerintah yang melakukan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi seluruhnya telah dilakukan melalui seleksi secara terbuka dengan data sebagai sebagai berikut: InstansiPemerintah 2015 2016 2017 Kementerian/Lembaga 60 43 17 Pemda(Prov/Kab/Kota) 87 258 90 147 301 107 Jumlah Selain itu, dalam rangka mendukung pelaksanaan pengisian jabatan sesuai standar kompetensi jabatan, dalam tahun 2017 Kementerian PAN dan RB telah menetapkan 9 (Sembilan) Jabatan Fungsional baru, yaitu: jabatan fungsional penerjemah, pemeriksa pajak, analis anggaran, penilai pemerintah, pembimbing kemasyarakatan, asisten pembimbing kemasyarakatan, perancang, analis pertahanan negara dan penata ruang. Sedangkan untuk pengisian jabatan fungsional seluruhnya telah dilakukan pengisian sesuai dengan standar kompetensi jabatan. Dan apabila belum sesuai, maka harus dilakukan uji kompetensi oleh instansi pembina. Pada saat ini Instansi pembina jabatan fungsional berjumlah 47 Kementerian/Lembaga yang masingmasing memiliki jumlah jabatan fungsional yang berbeda-beda. 3.1 % Pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi Pengembangan kompetensi sumber daya manusia pada dasarnya bertujuan untuk memastikan dan memelihara kemampuan pegawai agar memenuhi kualifikasi yang diprasyaratkan sehingga dapat memberikan kontribusi optimal bagi organisasi. Salah satu bentuk pengembangan pegawai adalah pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan pada dasarnya adalah suatu proses terencana untuk mengubah sikap/prilaku, pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman belajar sehingga dapat memberi kontribusi peningkatan produktivitas, efektivitas dan efisiensi organisasi setelah pegawai kembali ke tempat kerjanya. LAKIP KemenPANRB 2017 | 24 Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, secara jelas diatur tentang pengembangan kompetensi pegawai melalui pendidikan dan pelatihan. Pada Pasal 70 ayat (1) disebutkan bahwa setiap pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Pada ayat berikutnya berbunyi pengembangan kompetensi sebagaimana disebut pada ayat (1) antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus dan penataran. Pendidikan dan pelatihan ini merupakan hak pegawai dalam rangka pengembangan kompetensi. Oleh karena setiap instansi pemerintah wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan yang tertuang dalam rencana kerja anggaran tahunan instansi masing-masing. Selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS bahwa pengembangan kompetensi setiap PNS dilakukan paling sedikit 20 jam pelajaran dalam 1 tahun (pasal 203 ayat 4). Selama tahun 2016 sebanyak 228 instansi pemerintah (48 K/L dan 180 Pemda) dan tahun 2017 sebanyak 42 instansi pemerintah (9 K/L dan 33 Pemda) telah menyampaikan data pengembangan kompetensi. Dari data tersebut diketahui bahwa dalam tahun 2016 sebanyak 220 telah melakukan pengembangan kompetensi dan 8 IP belum melakukan pengembangan kompetensi. Namun IP yang telah memenuhi pengembangan kompetensi minmal 20 jam pelajaran belum ada. Sedangkan hasil pendataan tahun 2017 sebanyak 42 IP telah melakukan pengembangan kompetensi dan 4 K/L (Kementerain Pertahanan, Kementerian Perdagangan, Lembaga Ketahanan Nasional dan BNP2TKI) dan 4 pemda (Kota Palembang, Kab. Boyolali, Kab. Sleman, dan Prov Jawa Timur) telah memenuhi pengembangan kompetensi lebih dari 20 Jam Pelajaran. 4. TERWUJUDNYA INTEGRASI DATA KEPEGAWAIAN ASN Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur merupakan elemen terpenting instansi pemerintah dalam mewujudkan visi dan misi serta tujuan organisasi pemerintah. Mengingat pentingnya SDM Aparatur, diperlukan manajemen SDM untuk mengelolanya secara sistematis, terencana dan terpola agar tujuan yang diinginkan organisasi pada masa sekarang maupun yang akan datang dapat tercapai secara optimal. Integrasi data kepegawaian ASN maksudnya agar diperoleh basis data kepegawaian yang kuat dan akurat yang dapat digunakan untuk pengelolaan SDM aparatur mulai dari rekrutmen, penilaian kinerja, pengembangan karir, distribusi pegawai dan sebagainya. Pencapaian sasaran terwujudnya integrasi data diukur dari indikator jumlah instansi pemerintah yang telah terintegrasi dengan BKN dengan target dan realisasi sebagai berikut: Indikator 4.1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaian dengan BKN 25 | LAKIP KemenPANRB 2017 Target realisasi capaian 77 IP 77 IP 100% 4.1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaian dengan BKN Untuk mewujudkan sasaran tersebut pada tahun 2017 Kementerian PANRB telah mengembangkan Decision Support System (DSS) Command Center, yang mengintegrasikan data-data ASN, tidak hanya data-data dari BKN dan data pada e-formasi, namun juga dari Kementerian dan Lembaga terkait data-data tematik. Dalam sistem tersebut diolah menurut tema kedalam sistem geopasial untuk mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan pembuatan kebijakan Manajemen SDM Aparatur. Saat ini data yang telah dintegrasikan mencakup 77 K/L dan data kepegawaian dari 542 Prov/Kab/Kota untuk bidang tertentu. Data tersebut saat ini telah dapat diakses pada Decision Support System (DSS) Command Center dan aplikasi e-formasi, yang mencakup informasi sebagai berikut: 1. Rasio ASN terhadap Penduduk (Kabupaten/Kota, Provinsi (ASN Pemprov), Provinsi (Akumulasi), Nasional dan Peringkat Daerah); 2. Kepadatan ASN per Luas wilayah (Kab/Kota, Provinsi (ASN Pemprov), Provinsi (Akumulasi); 3. Batas Usia Pensiun terhadap Total ASN (Kab/Kota, Provinsi, Kementerian/Lembaga); 4. Rasio Belanja Pegawai terhadap APBD (Kabupaten /Kota,Provinsi); 5. Koridor Ekonomi (Peta Koridor Ekonomi); 6. Bidang Pendidikan (Rasio Guru Terhadap Total ASN, Lokasi Sekolah); 7. Bidang Infrastruktur/Teknis (Rasio Tenaga Teknis Terhadap Total ASN, Rasio Tenaga Teknis Terhadap Total Penduduk); 8. Peta Sebaran Widyaiswara; dan 9. Peta Sebaran Alumni Diklat. Untuk meningkatkan kualitas dan akurasi data kepegwaian ASN, direncanakan pada tahun 2018 integrasi sistem informasi ASN dengan BKN akan dilakukan secara menyeluruh. Diantaranya membangun sistem bridging dengan web service, sehingga diharapkan data-data dari berbagai aplikasi yang dibuat mandiri oleh di Kementerian/Lembaga/Daerah dapat terintegrasi dengan sistem SAPK BKN maupun sistem informasi BKN lainnya. LAKIP KemenPANRB 2017 | 26 5. MENINGKATNYA AKUNTABILITAS KINERJA Berdasarkan Perpres No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, akuntabilitas kinerja merupakan perwujudan kewajiban instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan dalam rangka mencapai misi organisasi secara terukur dengan sasaran/target kinerja yang telah ditetapkan melalui laporan kinerja instansi pemerintah yang disusun secara periodik. Untuk mengetahui tingkat akuntabilitas instansi pemerintah terhadap kinerjanya tersebut, setiap tahun Kementerian PANRB melakukan evaluasi atas penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), baik di tingkat pusat maupun daerah. Komponen evaluasi meliputi perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi kinerja, dan capaian kinerja. Berdasarkan Peraturan Menteri PANRB No. 12 Tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, terdapat 7 predikat hasil evaluasi KATEGORI Nilai Absolut 27 | LAKIP KemenPANRB 2017 Interpretasi akuntabilitas kinerja, mulai dari yang paling rendah yaitu kategori D sampai dengan yang tertinggi yaitu kategori AA. Nilai tersebut menunjukkan tingkat akuntabilitas atau pertanggungjawaban atas hasil (outcome) terhadap penggunaan anggaran dalam rangka terwujudnya pemerintahan yang berorientasi kepada hasil (result oriented government). Pencapaian sasaran meningkatnya akuntabilitas kinerja diukur dari 2 indikator dengan target dan realisasi sebagai berikut: Indikator 1.1NilaiAkuntabilitasKinerja rata-ratanasional 1.2PersentaseIPyangnilai akuntabilitaskinerjanya “baik” Target 65 KL:80% Prov:57% Kab/Kota:31% Realisasi % 94.69% 61.55 KL:87.80% Prov:85.29% Kab/Kota:33.86% 109.75% 149.63% 109.23% Rata-rataCapaian122.87% 5.1 Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata nasional Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2017 bahwa nilai akuntabilitas kinerja ratarata nasional sebesar 57.44 atau dengan kategori “Cukup Baik”. Nilai rata-rata nasional tersebut dihitung dari jumlah nilai akuntabilitas seluruh instansi pemerintah dibagi dengan jumlah instansi yang dievaluasi. Realisasi sebesar 57,44 tersebut belum mencapai target nilai rata-rata nasional sebesar 60 atau sebesar 95,73%. Hal tersebut disebabkan nilai akuntabilitas kinerja pemerintah kabupaten/kota belum mencapai target yang ditetapkan. Meskipun demikian jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015 sebesar 57,27, maka nilai rata-rata nasional tahun 2017 tersebut mengalami kenaikan 0,17. LAKIP KemenPANRB 2017 | 28 5.2 Persentase IP yang nilai akuntabilitas kinerjanya “baik” Instansi pemerintah yang dinilai akuntabel atau yang akuntabilitas kinerjanya “baik” adalah instansi yang berdasarkan hasil evaluasi memperoleh nilai minimal > 60 atau dengan predikat “B” (Baik). Semakin baik hasil evaluasi menunjukkan semakin baik tingkat efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran dibandingkan dengan capaian kinerjanya serta semakin baik kualitas pembangunan budaya kinerja birokrasi di instansi tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada tahun 2017 bahwa K/L yang memperoleh nilai di atas 60 (atau predikat minimal B) sebanyak 68 K/L atau 82,93%, sementara pemerintah provinsi sebanyak 22 instansi atau 64,71%, dan pemerintah kab/kota sebanyak 69 kab/kota atau 14,53%. Jika dibandingkan dengan target 2017 maka realisasi untuk K/L dan provinsi telah melebihi target yang ditetapkan, sedangkan untuk kab/kota, masih belum memenuhi target. Hasil penerapan SAKIP yang baik selama tahun 2017, diperkirakan dapat meningkatkan efisiensi/penghematan anggaran minimal sebesar Rp. 49,67 triliun pada 5 Kementerian/Lembaga, 7 Pemerintah Provinsi dan 113 Pemerintah Kabupaten/Kota. Sejalan dengan ini, hasil evaluasi SAKIP telah dijadikan sebagai dasar pemberian Dana Insentif Daerah, semakin baik penerapan SAKIP, semakin besar suatu Kab/Kota menerima Dana Insentif Daerah. Hasil Evaluasi Penerapan SAKIP 2015 s.d. 2017 Skala Nilai Kategori Kementerian/ Lembaga Provinsi Kab/Kota Range 2015 2016 2017 2015 2016 2017 AA 9 0 -1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 a 80-90 4 4 2 2 3 3 1 2 2 bb 70-80 21 27 28 7 7 7 7 10 20 b 6 0 -7 0 36 37 40 8 12 19 31 57 150 cc 50-60 16 11 7 13 10 5 174 199 142 c 30-50 0 3 3 3 2 0 239 193 153 d 0 -3 0 0 0 0 1 0 0 14 14 8 29 | LAKIP KemenPANRB 2017 2015 2016 2017 Beberapa kendala dalam meningkatkan akuntabilitas kinerja khususnya pada kab/kota antara lain adalah masih rendahnya komitmen pimpinan pemerintah daerah, pemahaman yang belum sepenuhnya mendukung upaya penerapan SAKIP, dan peran unit kerja (SKPD) yang menjadi kunci dalam penerapan SAKIP belum sepenuhnya optimal, sehingga diperlukan upaya yang lebih keras dan strategi yang lebih efektif untuk mewujudkan target di masa mendatang. Jika dibandingkan dengan target 2019 maka realisasi Jumlah IP dengan Kategori Akuntabilitas Minimal "B" diperkiraan target tahun 2019 akan tercapai. Perbandingan Capaian Tahun 2017 dibanding dengan Target 2019 Indikator Kementerian/Lembaga Provinsi Kabupaten/Kota Capaian 2017 87.80% 85.29% 33.86% Capaian 2017 85.00% 75.00% 50.00% % 103.29% 113.72% 67.72% Status Tercapai Tercapai Optimis Tercapai Berbagai upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan AKUNTABILITAS KINERJA antara lain: 1. Penyelarasan Sistem Perencanaan, Penganggaran dan Informasi Kinerja (E-performance Based Budgeting) Upaya penyelarasan sistem perencanaan, sistem penganggaran, dan manajemen kinerja dilakukan bersama Kementerian PANRB, Bappenas, Kementerian Keuangan melalui penyelarasan kebijakan. Upaya ini berhasil mengintegrasikan sistem aplikasi perencanaan dan sistem aplikasi penganggaran dalam satu sistem sehingga akan mempermudah penggunaan aplikasi, mengurangi duplikasi proses input dan pengolahan data, mempercepat dan meningkatkan keandalan data dan informasi. Dampak yang dapat ditimbulkan dari penerapan aplikasi ini adalah meningkatnya keselarasan antara tujuan dan sasaran, serta program pembangunan nasional dengan program dan kegiatan yang dilakukan pada setiap instansi pemerintah. Hasilnya ditetapkan PP No. 17 Tahun 2017 tentang sinkronisasi proses perencanaan dan penganggaran. Selanjutnya dikembangkan sistem penganggaran berbasis kinerja (e-PBB) untuk mendukung penerapan pemerintahan yang berorientasi hasil, menjaga agar anggaran dipergunakan untuk program-program pembangunan yang mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif/pembangunan ekonomi berkeadilan. Sebagai wujud implementasi e-PBB untuk pemerintah pusat ditetapkan aplikasi Krisna dan pemerintah daerah ditetapkan Sistem Elektronik Perencanaan, Penganggaran, dan Informasi Kinerja Terintegrasi (SEPAKAT). LAKIP KemenPANRB 2017 | 30 2. Sosialisasi, asistensi dan konsultasi dalam kaitan pelaksanaan kebijakan akuntabilitas kinerja kepada instansi pemerintah. Upaya memperkuat Sistem Akuntabilitas Kinerja di instansi pemerintah dilakukan melalui sosialisasi kebijakan, pemberian asistensi dan konsultasi kepada setiap instansi pemerintah baik secara individu maupun dalam bentuk forum/pertemuan tertentu. Pada tahun 2017 upaya-upaya tersebut dilakukan melalui antara lain: sosialisasi, workshop dan asistensi, penyebarluasan bahan materi, success story, berita dan makalah tentang penerapan akuntabilitas kinerja yang baik melalui website www.menpan.go.id/rbkunwas dan juga media sosial, serta membangun forum diskusi online melalui media website, email maupun whatsapp. Untuk meningkatkan dan memperluas pelaksanaan sosialsiasi dan asistensi telah dibentuk tim asistensi sebanyak 34 tim yang bekerjasama dengan seluruh pemerintah provinsi. Tim ini diharapkan dapat membantu perbaikan penerapan SAKIP di seluruh kab/kota di lingkungan provinsi tersebut. 3. Melakukan evaluasi terhadap penerapan SAKIP Untuk mengetahui perkembangan penerapan SAKIP di setiap instansi pemerintah, kementerian PANRB melakukan evaluasi akuntabilitas kinerja. Tujuan evaluasi adalah selain untuk memetakan kondisi penerapan SAKIP, juga untuk memberikan masukan perbaikan. Hasil evaluasi adalah suatu nilai dan kategori yang menggambarkan tingkat efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran dibandingkan dengan kinerja yang dicapai, kualitas pembangunan budaya kinerja serta penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi kepada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Selain itu hasil evaluasi akuntabilitas, juga menggambarkan keberhasilan Kementerian PANRB dalam memberikan bimbingan teknis dan pendampingan kepada berbagai instansi pemerintah untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas kinerjanya. 6. MENINGKATNYA PENERAPAN SISTEM INTEGRITAS Tindak pidana korupsi sampai dengan saat ini masih menjadi trending topic baik di media massa maupun media cetak. Tindak pidana korupsi umumnya melibatkan para birokrat yang sesungguhnya dipercaya masyarakat untuk memberikan pelayanan dan mendorong kesejahteraan rakyat. Hal ini tentu saja menurunkan citra dan kepercayaan rakyat terhadap birokrasi. Salah satu penyebab adanya tindak pidana korupsi adalah masalah integritas. Oleh karena itu perlu dibangun sistem integritas di instansi pemerintah, karena memiliki peran yang sangat penting dalam rangka menegakkan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN. 31 | LAKIP KemenPANRB 2017 Indikator Target Realisasi % 6.1 Skor integritas nasional 55 53.17 96.67% 6.1 Jumlah IP yang memiliki unit kerja perpredikat WBK/WBBM 9 IP 38 IP 422.22% Rata-rata Capaian 259.45% 6.1 SKOR INTEGRITAS NASIONAL Untuk mengetahui skor integritas nasional dilakukan pengukuran atas upaya membangun integritas dan survei integritas (anti korupsi) oleh Kementerian PANRB, bekerjasama dengan BPS dan KPK, yang dilakukan bersamaan dengan penilaian pelaksanaan reformasi birokrasi. Skor Integritas Nasional terdiri atas dua komponen yaitu komponen pengungkit (bobot 60%) dan komponen hasil (40%). Komponen pengungkit terdiri atas penilaian kinerja individu, kode etik, penguatan SPIP, penanganan benturan kepentingan, penanganan gratifikasi serta Whistle-Blowing System. Sedangkan komponen hasil diukur berdasarkan Indeks Kapasitas Organisasi (survei terhadap ASN untuk mengukur kapasitas dan integritas instansi) dan Indeks Persepsi Anti-Korupsi (survei terhadap stakeholder instansi untuk mengukur perilaku anti-korupsi instansi). Komponen pengungkit dan hasil diukur berdasarkan capaian pada kertas kerja evaluasi reformasi birokrasi. Pengungkit (60%) Hasil (40%) Penilaian Kinerja Individu (15) Kode Etik (5) Indeks Kapasitas Organisasi (15) Penguatan SPIP (10) Benturan Kepentingan (10) Indeks Persepsi Anti-Korupsi (25) Penanganan Gratifikasi (10) Whistle Blowing System (10) Hasil pengukuran pada tahun 2017 menunjukan bahwa skor integritas untuk kementerian/lembaga sebesar 6,24 (skala 10), pemerintah provinsi sebesar 45,81 dan kab/kota sebesar 48,70, sehingga rata-rata skor integritas nasional menjadi sebesar 55,62, Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan perilaku aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat belum sepenuhnya memperhatikan kualitas pelayanan publik. Namun jika dibandingkan dengan skor integritas tahun 2016 sebesar 5,09 (skala 10) menunjukan adanya perbaikan. LAKIP KemenPANRB 2017 | 32 6.2 Jumlah IP yang memiliki unit kerja berpredikat WBK/WBBM Dalam rangka mempercepat penerapan reformasi birokrasi, instansi pemerintah perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja pelayanan lainnya. Dalam hal ini, instansi pemerintah perlu secara nyata melaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja pelayanan melalui upaya pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), sehingga mampu menumbuhkembangkan budaya kerja birokrasi di tingkat unit kerja pelayanan yang anti korupsi dan budaya birokrasi yang melayani publik secara baik di lingkungan K/L/Pemda. Tujuan dari pembangunan zona integritas adalah untuk mewujudkan penyelenggaraan tatakelola pemerintahan yang baik dan bersih serta mampu meningkatkan kepercayaan publik kepada birokrasi di lingkungan Kementerian/Lembaga/Pemda. Pembangunan zona integritas difokuskan pada upaya pemberantasan praktek KKN dan peningkatan kualitas pelayanan publik pada unit kerja pelayanan sehingga mendukung percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi di tingkat instansi pemerintah. Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2017 sebanyak 76 unit kerja pelayanan dari 38 IP memperoleh predikat Menuju WBK/WBBM. Penyerahan penghargaan kepada unit kerja yang berpredikat WBK/WBBM telah dilaksanakan tanggal 12 Desember 2017 di Jakarta. Predikat ini diberikan kepada unit kerja yang berkomitmen dan mampu membangun tata kelola yang baik serta mendorong pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Daftar instansi pemerintah yang unit kerjanya mendapat penghargaan WBK/WBBM disajikan dalam Lampiran 6. 33 | LAKIP KemenPANRB 2017 WBK Tahun IP Unit WBBM IP Jumlah Unit IP Unit 2014 6 12 1 4 7 16 2015 8 12 1 1 9 21 2016 12 17 2 2 14 19 2017 38 76 3 3 38* 82 64 117 7 7 68 138 Jumlah *terdapat 3 IP yang sama (kemenkeu, LIPI dan Polri) Dari uraian di atas menunjukkan bahwa unit kerja yang berpredikat sebagai WBK/WBBM mengalami perkembangan yang positif dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi sebagai berikut: a. Semakin banyak unit kerja yang berupaya keras melakukan berbagai perubahan perbaikan internal untuk menegakan integritas dan mendorong peningkatan kualitas pelayanan; b. Unit Kerja berpredikat WBK/WBBM keberadaanya semakin menyebar di beberapa instansi pemerintah baik pusat maupaun daerah. 7. MENINGKATNYA KAPASITAS DAN KUALITAS PENYELENGGARA PELAYANAN PUBLIK Pelayanan publik yang baik merupakan muara dari sebuah reformasi birokrasi, oleh karena itu upaya memperbaiki kinerja organisasi layanan publik harus dilakukan secara terus menerus sehingga masyarakat dapat menerima layanan sesuai dengan kebutuhannya. Cara yang harus dilakukan adalah melakukan perbaikan terhadap manajemen kualitas pelayanan (service quality management), dan melakukan monitoring dan pengukuran kinerja pelayanan secara periodik untuk mengidentifikasi tingkat kesenjangan yang terjadi dan mengidentifikasi apakah tingkat kualitas pelayanan publik sudah lebih baik daripada sebelumnya. Upaya peningkatan kualitas pelayanan publik tersebut dilakukan melalui berbagai langkah kebijakan. Kebijakan yang paling mendasar adalah mengubah mindset para birokrat dari bermental penguasa menjadi birokrat yang bermental pelayan masyarakat. Kebijakan lainnya adalah penataan kelembagaan pelayanan publik, penyederhanaan prosedur pelayanan, penerapan standar pelayanan minimal, peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam manajemen pelayanan, penerapan sistem manajemen mutu dalam pelayanan publik serta penanganan pengaduan masyarakat. LAKIP KemenPANRB 2017 | 34 Pelayanan publik memerlukan respon yang cepat dari unit/lembaga penyedia layanan publik. Oleh karena itu pemerintah selalu berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat mengikuti perkembangan zaman terutama teknologi dan informasi. Hal ini dapat terwujud apabila aparatur sebagai penyelenggara pelayanan publik dapat secara profesional melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat secara memuaskan. Pelayanan dapat berjalan dengan optimal bila didukung dengan kapasitas aparatur dan sarana prasarana yang memadai. Peningkatan kapasitas penyelenggaraan pelayanan publik memerlukan kriteria standar yang diakui secara global (internasional). Pencapaian sasaran meningkatnya kualitas dan kapasitas pelayanan publik diukur dari indikator dengan target dan realisasi sebagai berikut: Indikator 7.1 Indeks Pelayanan Publik Nasional Target Realisasi % 2.69 3.11 115.61% 7.1 Indeks Pelayanan Publik Nasional Untuk melakukan pengukuran kinerja pelayanan publik yang diberikan oleh unit penyelenggara pelayanan, khususnya yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah, Kementerian PANRB telah menerbitkan PermenPANRB No 17 Tahun 2017 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Penyelenggara Pelayanan Publik. Hasil pengukuran berupa indeksi dan kategori yang diharapkan dapat memetakan kapasitas penyelenggaraan pelayanan publik serta menjadi dasar pemeringkatan kinerja penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana diamanatkan UU No. 25 Tahun 2009. Berdasarkan PermenPANRB no 17 Tahun 2017 pengukuran dilakukan dengan instrumen pengukuran yang terdiri atas 3 formulir, yaitu: · F-01 diisi oleh penyelenggara layanan · F-02 diisi oleh observer atau evaluator · F-03 diisi oleh pengguna layanan /masyarakat Tiap-tiap formulir berisi pertanyaan yang terdiri atas 6 aspek yaitu kebijakan pelayanan, profesionalisme SDM, sarana prasarana, sistem informasi pelayanan publik, konsultasi dan pengaduan, serta inovasi pelayanan. Setiap aspek dibobot Range Nilai 0 1,01 1,51 2,01 2,51 3,01 3,51 3,51 4,51 - 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00 Kategori F E D CC BB AA Makna Gagal Sangat Buruk Buruk Cukup dengan Catatan Cukup Baik dengan Catatan Baik Sangat Baik Pelayanan Prima secara proporsional sehingga mencapai angka 100%. Selanjutnya, nilai yang diperoleh dari setiap formulir dirata-rata, untuk kemudian dikonversikan menjadi angka indeks. Pengukuran Indeks Pelayanan Publik sebelumnya telah dilakukan pada tahun 2015 pada bidang perijinan dan tahun 2016 pada bidang kesehatan. Sedangkan pada tahun 2017 pengukuran dilakukan terhadap 17 jenis layanan pada 354 unit pelayanan publik di 7 instansi pemerintah yang meliputi: BPOM, Kantor Pertanahan, PTSP, Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil, RSUD dan Polres Kabupaten/Kota. 35 | LAKIP KemenPANRB 2017 No Instansi Pemerintah Jumlah UPP Jumlah publik yang dievaluasi 1. BPOM 32 Uji sample Pihak Ketiga terkait obat dan makanan 2. Kantor Pertanahan 33 Pengecekan, Pembuatan dan Penerbitan Sertifikat 3. BPMPTSP Provinsi 33 IMB,SIUP, TDP 4. BPMPTSM Kota/Kab 72 IMB, SIUP, TDP 5. Dukcapil 72 Pembuatan KTP, Pembuatan KK 6. RSUD 61 IGD, Rawat Inap, Kelas 3, Poli Umum 7. POLRES 51 Pelayanan SIM, Pelayanan SKCK Total 354 Berdasarkan hasil pengukuran tersebut menunjukan bahwa sebanyak 8 IP memperoleh kategori B, 12 IP kategori B-, 19 IP kategori C, 11 IP kategori C-, 5 IP kategori D dan 4 IP kategori E. Sehingga Indeks Pelayanan Publik secara nasional tahun 2017 sebesar 2,67 atau dengan kategori “Cukup”. Yang dihitung berdasarkan rata-rata dari jumlah IP yang diukur. Dibandingkan dengan target 2017 sebesar 2,5 maka capaian tersebut melebihi target (107,60%). Berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik adalah sebagai berikut: 1. Kompetisi Inovasi Nasional Pelayanan publik yang berkualitas tidak dapat dilepaskan dari penemuan caracara baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang dinamis. Hal ini dapat dicapai jika para penyelenggara pelayanan melakukan terobosan secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, Kementerian PANRB mendorong tumbuhnya Satu Instansi Satu Inovasi (One Agency, One Innovation) yang bertujuan agar setiap instansi pemerintah menghasilkan program/kegiatan inovatif setiap tahun. Selanjutnya Kementerian PANRB mengadakan kompetisi untuk memilih inovasi pelayanan publik terbaik yang diharapkan dapat direplikasi oleh instansi lainnya, sehingga perbaikan pelayanan publik menjadi lebih cepat. 5. Replikasi 6. Kompetisi Inovasi Tingkat Internasional (UNPSA) 4. Hasil Top 99 Setiap Tahun Top 9 Tahun 2014 Top 25 Tahun 2015 Top 35 Tahun 2016 Top 40 Tahun 2017 3. Proses Penilaian Transparan dan Akuntabel dengan menggunakan tenaga Akademisi dan Pakar KOMPETISI INOVASI Pelayanan Publik 2. Registrasi Kompetisi 1. Gerakan Satu Instansi Satu Inovasi Dilakukan secara online melalui sinovik.menpan.go.id LAKIP KemenPANRB 2017 | 36 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik telah dilaksanakan sejak tahun 2014 dengan peserta 515 inovasi dan dipilih praktik terbaik dalam Kategori Top 99, Top 33 dan Top 9. Untuk tahun 2015 pesertanya meningkat menjadi 1.189 inovasi, dan terpilih Top 99 dan Top 25 Inovasi Pelayanan Publik Indonesia Tahun 2015. Pada tahun 2016 mengalami peningkatan jumlah inovasi yang mengikuti kompetisi pelayanan yaitu sebanyak 2.476 inovasi, dan ditetapkan TOP 35 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 melalui Keputusan Menteri PANRB Nomor 99 Tahun 2016. Pada tahun 2017 jumlah inovasi yang mengikuti kompetisi sebanyak 3.054 dan telah ditetapkan TOP 99 dan TOP 40 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017. Hal ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran dan kemauan dari Instansi Pemerintah di seluruh Indonesia akan pentingnya inovasi pelayanan publik dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya sehari-hari. 2. Pembentukan Mal Pelayanan Publik Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik secara berkelanjutan, diperlukan pengelolaan pelayanan publik terpadu dan terintegrasi seluruh jenis pelayanan baik yang diselenggarakan oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah/swasta pada satu tempat. Pengintegrasian pelayanan publik diharapkan pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, terjangkau, aman, dan nyaman. Mal Pelayanan Publik Mal dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, sehingga pelayanan publik menjadi semakin cepat, terjangkau dan mudah. Tujuan dibentuknya Mal Pelayanan Publik ini untuk: mengintegrasikan berbagai layanan baik instansi pusat dan daerah dalam satu lokasi atau gedung yang sama; menyederhanakan persyaratan, prosedur, dan sistem; meningkatkan komitmen, kerja sama dan sinergi antara para penyelenggara layanan dalam rangka penyediaan, pemanfaatan dan pengembangan layanan publik; memberikan kemudahan kepada pengguna layanan dalam memproses layanan pada satu lokasi atau gedung; mendorong peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi; dan meningkatkan kualitas pelayanan perizinan dengan pelayanan yang lebih cepat, mudah, terjangkau, transparan dan akuntabel serta bebas dari pungutan liar. Sebagai dasar pembentukan Mal Pelayanan Publik telah diterbitkan PermenPANRB No 23 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Mal Pelayanan Publik. Selanjutnya pada tahun 2017 telah dibentuk 3 percontohan Mal Pelayanan Publik yaitu: 37 | LAKIP KemenPANRB 2017 Mal Pelayanan Publik 8. TERWUJUDNYA KEMENTERIAN PANRB EFEKTIF, EFISIEN, BERSIH, AKUNTABEL DAN BERKINERJA TINGGI Dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, Kementerian PANRB menjadi ujung tombak penggerak pelaksanaan (prime mover) reformasi birokrasi nasional dan menjadi contoh bagi instansi pemerintah dalam melaksanakan reformasi birokrasi. Disamping itu Kementerian PANRB juga melaksanakan berbagai program-program makro dan meso sebagaimana dituangkan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 dan Road Map Reformasi Birokrasi 2015 – 2019, melalui penetapan kebijakan nasional yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi di K/L/Pemda. Oleh karena itu untuk memastikan bahwa seluruh agenda reformasi birokrasi berjalan efektif maka aparatur Kementerian PANRB dituntut lebih profesional dan berkinerja tinggi. Kementerian PANRB yang efektif dan efisien ditandai dengan meningkatnya kualitas reformasi birokrasi internal, struktur organisasi Kementerian PANRB yang memenuhi tingkat kesesuaian dengan kebutuhan (tepat fungsi, tepat ukuran dan tepat proses) dengan didukung kualitas SDM yang berkompeten dalam mencapai target kinerjanya. Pencapaian sasaran terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien, bersih,akuntabel dan berkinerja tinggi diukur dari 3 indikator dengan target dan realisasi sebagai berikut: Indikator 1.1. Indeks RB “Baik” 1.2 Opini BPK 1.3 Nilai Akuntabilitas kinerja “baik” Target realisasi % 81 (A) 100.00% 80,17 (A) 100.00% 98.98% 100% 81 (A) 80.18 (A) 98.99% Rata-rata Capaian 99,32% LAKIP KemenPANRB 2017 | 38 8.1 Indeks RB “Baik” Indeks Reformasi Birokrasi mengambarkan sejauhmana instansi pemerintah melaksanakan perbaikan tata kelola pemerintahan yang bertujuan pada pemerintahan yang efektif dan efisien, bersih dari KKN dan memiliki pelayanan publik yang berkualitas. Semakin tinggi indeks Reformasi Birokrasi, semakin baik pengelolaan tata pemerintahan yang efektif dan efisien, bersih dari KKN dan memiliki pelayanan publik yang berkualitas. Berdasarkan Laporan Hasil Evaluasi oleh BPKP tahun 2017 menunjukan bahwa indeks RB Kementerian PANRB sebesar 80,17 atau dengan kategori A (memuaskan), dengan rincian sebagai berikut: No Komponen penilaian bobot nilai 5.00 5.00 6.00 5.00 15.00 6.00 12.00 6.00 4.48 3.34 3.84 3.50 12.71 4.52 8.34 4.10 60.00 44.83 20.00 10.00 10.00 16.25 9.75 9.34 SUB total proses 40.00 35.34 total 100.00 80.17 A. Pengungkit (60%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Manajemen Perubahan Penataan Perundang-undangan Penataan dan Penguatan Organisasi Penataan Tatalaksana Penataam Sistem Manajemen SDM Penguatan Akuntabilitas Penguatan Pengawasan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik SUB total proses B. hasil 1. Kapasitas dan Akuntabilitas Organisasi 2. Pemerintah yang Bersih dan Bebas KKN 3. Kualitas Pelayanan Publik Berdasarkan hasil evaluasi tersebut menunjukan kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi Kementerian PANRB adanya peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Indeks tahun 2017 meningkat 3,973 poin dari indeks tahun 2016 yang sebesar 76,198 (kategori “BB”) dan meningkat 8,981 poin dari indeks tahun 2015 yang sebesar 71,19, atau terus mengalami trend positif selama 3 tahun terakhir (2015-2017). Perkembangan Indeks Reformasi Birokrasi Kementerian PANRB Tahun 2016 s.d. 2017 No Komponen penilaian bobot nilai 2016 2017 A. PENGUNGKIT Pengungkit (60%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Manajemen Perubahan Penataan Perundang-undangan Penataan dan Penguatan Organisasi Penataan Tatalaksana Penataam Sistem Manajemen SDM Penguatan Akuntabilitas Penguatan Pengawasan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik SUB total proses 39 | LAKIP KemenPANRB 2017 5.00 5.00 6.00 5.00 15.00 6.00 12.00 6.00 4.38 2.71 3.84 3.47 12.39 4.52 8.76 4.07 4.48 3.34 3.84 3.50 12..71 4.52 8.34 4.10 60.00 44.14 44.83 B. HASIL 1. Kapasitas dan Akuntabilitas Organisasi 2. Pemerintah yang Bersih dan Bebas KKN 3. Kualitas Pelayanan Publik SUB total proses 20.00 10.00 10.00 15.32 8.48 8.25 16.25 9.75 9.34 40.00 32.05 35.34 Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam tahun 2017 untuk peningkatan indeks reformasi birokrasi meliputi: Pengembangan layanan berbasis elektronik seperti penggunaan aplikasi Smart PAN untuk penyelenggaraan e-office, aplikasi SiPebe yang merupakan penerapan e-performance based budgeting, aplikasi salam untuk pelayanan utama kepada stakeholder, aplikasi geospasial dalam manajemen SDM aparatur; Integrasi data kepegawaian Kementerian PANRB dengan BKN, sehingga data kepegawaian menjadi lebih akurat dan up to date; Meningkatkan kapabiltas pegawai melalui penyertaan pegawai pada diklat struktural dan fungsional, dan diklat lainnya baik dalam dan luar negeri; Melakukan asesmen kepada seluruh pejabat eselon III sebagai dasar pengembangan pegawai agar kompetensinya sesuai dengan jabatannya. 8.2 Opini BPK “WTP” Tuntutan untuk menciptakan pemerintahan yang akuntabel dan bebas KKN merupakan amanah reformasi dan tuntutan seluruh rakyat Indonesia. Kementerian yang bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi di tandai dengan menurunnya penyalahgunaan wewenang, tidak adanya praktek KKN, berfungsinya pengawasan sehingga meningkatnya kinerja aparatur negara. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan upaya komprehensif dan terintegrasi. Pada Kementerian PANRB, sasaran ini sudah menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Dan sebagai prime mover dalam reformasi birokrasi, Kementerian PANRB diharapkan menjaga kondisi ini agar menjadi contoh bagi instansi lain sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan pada Kementerian PANRB telah sesuai SAP, tidak adanya pelanggaran terhadap peraturan perundangan serta sistem pengendalian internal telah mampu mencegah kemungkinan terjadinya risiko. LAKIP KemenPANRB 2017 | 40 Berbagai upaya telah dilakukan meliputi: 1. Perbaikan pengelolaan keuangan, melalui penggunaan aplikasi monitoring pengelolaan anggaran (SiMona); 2. Perbaikan pengelolaan Barang Milik Negara (BMN); 3. Perbaikan penyajian laporan keuangan dan meminimalisasi penyimpangan pelaksanaan yang bertentangan dengan peraturan yang berlaku; dan 4. Penguatan pengendalian internal melalui penyusunan manajemen risiko sebagi bagian penguatan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPI) di lingkungan Kementerian PANRB. 8.2 Nilai Akuntabilitas Kinerja “Baik” Nilai akuntabilitas kinerja menunjukkan tingkat akuntabilitas atau pertanggungjawaban atas hasil (outcome) terhadap penggunaan anggaran dalam rangka terwujudnya pemerintahan yang berorientasi kepada hasil (result oriented government). Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh BPKP bahwa penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja di Kementerian PANRB mendapat nilai 80,18 atau dengan “Kategori A” (Memuaskan). Capaian tersebut sesuai dengan target tahun 2017. Hal tersebut menunjukan bahwa 3 tahun terakhir adanya perbaikan dalam implementasi SAKIP di lingkungan Kementerian PANRB. Perkembangan Penerapan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2015 s.d. 2017 Komponen a. Perencanaan Kinerja b. Pengukuran Kinerja c. Pelaporan Kinerja d. Evaluasi Kinerja e. Capaian Kinerja Hasil Evaluasi Kategori Bobot 30 25 15 10 20 Tahun 2015 2016 2017 23,86 18,72 11,40 7,81 15,83 24,,60 19,69 12,59 7,79 15,00 24,,60 19,69 12,59 7,79 15,00 77,62 BB 79,66 BB 80,18 A Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan penerapan sistem akuntabilitas kinerja di seluruh unit kerja, diantaranya: 1. Penyusunan Perjanjian Kinerja mulai level kementerian s.d. pegawai termasuk distribusi target kinerjanya secara proposional melalui proses cascading kinerja; 2. Peningkatan kualitas SDM unit kerja yang mengelola akuntabilitas Kinerja melalui coaching clinic dan pendampingan dalam penyusunan Perjanjian Kinerja, rencana aksi dan pelaporan kinerja; 3. Penerapan e-performance based budgeting dalam penyusunan anggaran; 4. Peningkatan kualitas pengukuran dan evaluasi kinerja melalui dialog kinerja yang dipimpin oleh menteri PANRB dan ikuti oleh seluruh unit kerja sampai dengan level eselon IV; dan 5. Evaluasi internal dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja yang dilakukan oleh inspektorat untuk memberikan saran perbaikan. 41 | LAKIP KemenPANRB 2017 5. Evaluasi internal dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja yang dilakukan oleh inspektorat untuk memberikan saran perbaikan. B. Realisasi Anggaran Untuk mencapai sasaran strategis tahun 2017 dari pagu anggaran sebesar Rp 147,007,620,000 telah direalisasi sebesar 145,381,546,113 atau 98,89%, dengan rincian per program dan sasaran strategis sebagai berikut sebagai berikut: EFEKTIFITAS PENGGUNAAN DANA Dibandingkan dengan kinerja yang dicapaian tahun 2017 maka realisasi anggaran sebesar 98,89% dibandingkan dengan realisasi kinerja sebesar 121.94% menunjukkan adanya efektifitas penggunaan dana. Rincian realisasi anggaran per kegiatan disajikan dalam Lampiran-7. LAKIP KemenPANRB 2017 | 42 REALISASI ANGGARAN DIBANDINGKAN DENGAN REALISASI KINERJA realisasi anggaran realisasi kinerja % 1. Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi 98,68% 86,97% 88,13% 2. Peningkatan kelembagaan dan tata laksana pemerintah yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses 98,97% 100,00% 101,04% 3. Terwujudnya SDM Aparatur yang kompeten dan kompetitif 98,81% 91,14% 92,24% 4. Terwujudnya integrasi data kepegawaian ASN 97,72% 100,00% 102,33% 5. Meningkatnya akuntabilitas kinerja 99,28% 122,87% 123,76% 6. Meningkatnya penerapan sistem integritas 95,64% 259,45% 271,28% 7. Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan dan kualitas pelayanan publik 98,36% 115,61% 117,54% 8. Terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien, bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi 99,07% 99,49% 100,42% JUMLAH 98,89% 121,94% 123.31% No sasaran strategis Di samping anggaran yang berasal dari APBN, Kementerian PANRB juga menerima dana hibah dari BNZ/GIZ (Federal Republic of Germany). Dalam tahun 2017 nilai hibah yang diterima sebesar Rp 685,807,398.00 yang merupakan hibah langsung jasa dalam bentuk workshop, training, coaching, dan sebagainya. 43 | LAKIP KemenPANRB 2017 BABIV PENUTUP Laporan Kinerja Kementerian PANRB Tahun 2017 menyajikan berbagai keberhasilan maupun kendala dalam mencapai Sasaran Strategis Kementerian PANRB tahun 2017 dan perkembangan tahun-tahun sebelumnya, yang tercermin pada capaian Indikator Kinerja Utama (IKU). Secara umum capaian sasaran strategis menunjukkan perkembangan yang signifikan, meskipun terdapat indikator yang belum mencapai target yang diharapkan. Hal tersebut disebabkan beberapa indikator kinerja membutuhkan komitmen, keterlibatan, dan dukungan aktif segenap komponen aparatur negara, masyarakat, dunia usaha dan civil society. Capaian kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 Secara keseluruhan dinyatakan “berhasil”, yaitu capaiannya 121,94% dari target yang telah ditetapkan. Dari sebanyak 14 indikator kinerja dari 8 sasaran, sebanyak 12 indikator dinyatakan “berhasil” karena capaiannya di atas 90 % dari target, 2 indikator dinyatakan belum berhasil. Indikator yang belum berhasil adalah terkait target kab/kota yang memiliki RB baik dan persentase pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi. Namun secara keseluruhan capaian Kinerja Kementerian PANRB tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mencapai sasaran tersebut berbagai upaya telah dilakukan seperti penerbitan kebijakan terkait pendayagunaan aparatur dan reformasi birokrasi, koordinasi pelaksanaan dan monitoring evaluasi atas pelaskanaan kebijakan tersebut sehingga terwujudnya aparatur yang berkepribadian, bersih, kompeten dan berkinerja tinggi untuk memberikan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat. Kendala dan permasalahan yang menyebabkan tidak tercapainya indikator sasaran tersebut akan menjadi fokus perbaikan kinerja di tahun mendatang. Upaya koordinasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai instansi di pusat maupun daerah akan dilakukan dengan lebih intensif, mengingat target indikator hanya dapat dicapai dengan melibatkan segenap instansi pemerintah pusat dan daerah khususnya kabupaten/kota dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan yang berorientasi pada hasil, berbasis kinerja dan bertujuan melayani masyarakat. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi LAKIP KemenPANRB 2017 | 44 Perjanjian Kinerja Menteri PANRB tahun 2017 Capaian Kinerja 2017 Dibanding dengan Target 2019 Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi Tahun 2017 Rincian Anggaran Per kegiatan Tahun 2017 Daftar Kementerian Lembaga yang Dievaluasi Tahun 2017 Daftar Instansi Pemerintah Pusat yang Unit Kerjanya Memperoleh Predikat WBK Tahun 2017 Daftar Instansi Pemerintah Pusat yang Unit Kerjanya Memperoleh Predikat WBBM Tahun 2017 Realisasi Anggaran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tahun 2017 LAKIP KemenPANRB 2017 | 46 Lampiran-1 | LAKIP KemenPANRB 2017 MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR MEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Asman Abnur Jabatan : Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi berjanji akan mewujudkan target kinerja yang seharusnya sesuai lampiran perjanjian ini, dalam rangka mencapai target kinerja menengah seperti yang telah ditetapkan dalam dokumen perencanaan. Keberhasilan dan kegagalan pencapaian target kinerja tersebut menjadi tanggung jawab kami. Jakarta, Januari 2017 Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur Lampiran-1 | LAKIP KemenPANRB 2017 LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-1 No. SAsaRan strategis INDIKATOR KINERJA 1. Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi 1. Persentase instansi Pemerintah (KL/Prov/Kab/Kota) yang memiliki nilai indeksi RB Baik (Kategori “B” keatas) 2. Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi 1. Persentase lembaga yang efektif setelah penataan berdasarkan hasil evaluasi/audit 2. Jumlah IP yang menerapkan tata kelola pemerintahan berbasis IT 3. Terwujudnya kelembagaan dan tata laksana pemerintah yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses 1. Persentase IP yang sudah menerapkan pengisian jabatan sesuai standar kompetensi jabatan 2. Persentase IP yang sudah menerapkan jabatan sesuai standar kompetensi jabatan 4. Terwujudnya integrasi data kepegawaian ASN 1. Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaiannya dengan BKN 5. Target K/L 75% Prov 40% Kab/Kota 25% 100% 100 IP 60% 60% 77 IP Meningkatnya akuntabilitas 1. Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata 65 kinerja nasional 1. Persentase IP nilai Akuntabilitas kinerja KL : 80% “baik” Prov : 57% Kab/Kota : 31% 6. Meningkatnya penerapan sistem integritas 7. Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan dan kualitas pelayanan publik 1. Skor integritas nasional 1. Jumlah IP yang memiliki unit kerja berpredikat WBK/WBBM 55 9 IP 2,75 1. Indeks Pelayanan Publik Nasional 1. Indeks RB 2. Opini BPK 3. Nilai Akuntabilitas Kinerja Program : 81 WTP 81 Anggaran : 1. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian PANRB 91.822.700.000 2. Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 69.000.000.000 3. Pengawasan Pelaksanaan Sistem Merit ASN (KASN) 42.682.000.000 2003.504.700.000 TOTAL 203.504.700.000 Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-1 Lampiran-2 | LAKIP KemenPANRB 2017 RINCIAN ANGGARAN PER KEGIATAN TAHUN 2017 No. Program/Kegiatan Anggaran (Rp) 1. Program Dukungan Manajemen 1. Pengelolaan Dan Pembinaan Hukum Komunikasi Publik dan Sistem Informasi 6,341,597,000 2 Manajemen Kinerja, Organisasi Dan Kerja Sama 2,439,742,000 3. Pengelolaan dan Pembinaan SDM, Keuangan dan Perkantoran 87,267,916,000 4 Pembinaan dan Pengawasan Intern dan Quality Assurance 1,895,998,000 5 Pelaksanaan Dukungan Perumusan Kebijakan PAN dan RB 869,531,000 Sub Jumlah 98,814,784,000 1I. Program PANRB 1. Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi Program Reformasi Birokrasi Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan 2. Perumusan Kebijakan RB dan Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan 3. Koordinasi Penanganan Pengaduan Masyarakat dan Aparatur 4. Koordinasi Pelaksanaan Pemantauan, dan Evaluasi RB, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan I 5. Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan da, Evaluasi RB, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan II 6. Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan da, Evaluasi RB, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan III 9,187,627,000 8,145,949,000 910,719,000 2,123,743,000 2,349,401,000 2,471,110,000 7. Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, dan Evaluasi Program Kelembagaan dan Tata Laksana 1,769,128,000 8. Perumusan Kebijakan Sistem Kelembagaan dan Tata Laksana 1,090,918,000 Lampiran-2 | LAKIP KemenPANRB 2017 LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-2 No. Program/Kegiatan Anggaran (Rp) 9. Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan E-Government 793,559,000 10. Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan E-Government 781,739,000 11. 12. 13. 14. 19. 20. Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kelembagaan I Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kelembagaan II Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, Evaluasi Program dan Pembinaan Integritas SDM Aparatur Perencanaan dan Pengembangan Sistem Informasi SDM Aparatur Standarisasi Jabatan dan Pengembangan Kompetensi SDM Aparatur Pengembangan Kesejahteraan Sumber Daya Manusia Aparatur 21. Pembinaan Integritas dan Penegakan Disiplin SDM Aparatur 22. Pengembangan Kompetensi dan Kinerja SDM Aparatur 23 Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi Program Pelayanan Publik 24 Perumusan Kebijakan Inovasi dan Sistem Informasi Pelayanan Publik 25 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelayanan Publik I 26 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelayanan Publik II 27 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelayanan Publik III 1,014,392,000 601,123,000 1,314,358,000 2,804,046,000 1,040,459,000 894,495,000 1,423,993,000 1,499,800,000 4,697,320,000 817,527,000 857,834,000 752,986,000 850,610,000 Sub Jumlah 48,192,836,000 Jumlah 147,007,620,000 LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-2 Lampiran-3 | LAKIP KemenPANRB 2017 CAPAIAN KINERJA KEMENTERIAN PANRB TAHUN 2017 No. 1. SASARAN Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi INDIKATOR KINERJA 1,1 Persentase IP yang memiliki nilai indeks RB Baik (kategori “B” ke atas) TARGET 75,00% KL 40,00% Prov 25,00% Kab/Kota REALISASI % 95,06% KL 47,06% Prov 4,13% Kab/Kota 126,75% 117,65% 16,52% 86,97% Capaian Sasaran- 1 2. Peningkatan kelembagaan 2,1 % lembaga yang efektif setelah penataan dan tatalaksana organisasi pemerintahan yang tepat 2,2 Jumlah IP yang menerapkan fungsi, tepat ukuran dan tata kelola pemerintahan tepat proses berbasis IT 100% lembaga 100% lembaga 100% lembaga 100 IP 100 IP 100 IP 100,00% Capaian Sasaran- 2 3. Terwujudnya SDM Aparatur yang Kompeten dan Kompetitif 3,1 % IP yang sudah menerapkan pengisian JPT sesuai dengan standar kompetensi jabatan 3,2 % pegawai ASN di tiap IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi 60% (371 IP) 89% (555 IP) 148,33% 20% (123 IP) 7% (42 IP) 33,95% 91,14% Capaian Sasaran- 3 4. Terwujudnya integrasi data kepegawaian ASN 4,1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem informasi kepegawaian dengan BKN 77 IP 77 IP 100,00% Capaian Sasaran- 4 5. Meningkatnya akuntabilitas 5,1 Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata nasional kinerja 5,2 Persentase IP yang nilai akuntabilitasnya “baik” 65 80,00% KL 57,00% Prov 31,00% Kab/Kota 61,55 87,80% KL 85,29% Prov 33,86% Kab/Kota Meningkatnya penerapan sistem integritas 6,1 Skor Integritas Nasional 6,2 Jumlah IP yang memiliki unit kerja berpredikat WBK/WBBM Meningkatnya Kapasitas Penyelenggara Pelayanan publik dan kualitas pelayanan publik 7,1 Indeks Pelayanan Publik Nasional 53,17 96,67% 9 IP 38 IP 422,22% 259,45% 2,69 3,11 Terwujudnya Kementerian 8,1 Indeks RB Baik PANRB yang efektif, efisien, 8,2 Opini BPK WTP bersih,akuntabel dan 8,3 Nilai akuntabilitas berkinerja tinggi kinerja “baik” Keterangan : 81 (A) WTP 81 (A) 115,61% 115,61% Capaian Sasaran- 7 8. 109,75% 149,63% 109,23% 55,00 Capaian Sasaran- 6 7. 94,69% 122,87% Capaian Sasaran- 5 6. 100,00% 80,17 (A) WTP 80,18 (A) 98,98% 100,00% 98,99% Capaian Sasaran- 8 99,32% Capaian Sasaran Rata-rata 121,94% capaian > 100% capaian > 90%-100% capaian > 75%-90% capaian < 50% Lampiran-3 | LAKIP KemenPANRB 2017 STATUS LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-4 CAPAIAN KINERJA 2017 DIBANDING DENGAN TARGET 2019 KEMENTERIAN PAN DAN REFORMASI BIROKRASI TAHUN 2017 No. 1. SASARAN Peningkatan efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi INDIKATOR KINERJA 1.1 Persentase IP yang memiliki nilai indeks RB Baik (kategori “B” ke atas) REALISASI s.d 2017 95,06% KL 47,06% Prov 4,13% Kab/Kota TARGET 2019 75,00% KL 60,00% Prov 45,00% Kab/Kota Peningkatan kelembagan dan tatalaksana organisasi pemerintahan yang tepat fungsi, tepat ukuran dan tepat proses 2.1 % lembaga yang efektif setelah penataan 2.2 Jumlah IP yang menerapkan tata kelola 100% lembaga 100 IP 100% lembaga 500 IP 4. Terwujudnya SDM Aparatur yang Kompeten dan Kompetitif Terwujudnya integrasi data kepegawaian ASN 3.1 % IP yang sudah menerapkan 89% IP pengisian JPT 3.2 % pegawai ASN di tiap IP 7% IP yang telah mengikuti dan lulus pengembangan kompetensi Capaian Rata-rata Sasaran- 2 4.1 Jumlah IP yang terintegrasi sistem sistem informasi kepegawaian dengan BKN 77 IP Meningkatnya akuntabilitas kinerja 5.1 Nilai akuntabilitas kinerja rata-rata nasional 5.2 Persentase IP yang nilai akuntabilitasnya “baik” 61,55 87,80% KL 85,29% Prov 33,86% Kab/Kota 89,00% 20% IP 35,00% 62,00% 618 IP Meningkatnya penerapan sistem integritas 618 IP 85,00 KL 75,00% Prov 50,00% Kab/Kota Meningkatnya Kapasitas Penyelenggara Pelayanan publik dan kualitas pelayanan publik Terwujudnya Kementerian PANRB yang efektif, efisien, bersih, akuntabel dan berkinerja tinggi Keterangan : 103,29% 113,72% 67,72% 6.1 Skor Integritas Nasional 53,17 65 81,80% 6.2 Jumlah IP yang memiliki unit kerja berpredikat WBK/WBBM 38 IP 38 IP 100,00% 7.1 Indeks Pelayanan Publik Nasional 3,11 90,90% 3,5 8,1 Indeks RB Baik 8,2 Opini BPK WTP 8,3 Nilai akuntabilitas kinerja “baik” 80,17 (A) WTP 80,18 (A) 88,86% 88,86% Capaian Rata-rata Sasaran- 7 8. 12,46% 94,91% Capaian Rata-rata Sasaran- 6 7. 12,46% 12,46% Capaian Rata-rata Sasaran- 5 6. 100,00% 20,00% 100% IP Capaian Rata-rata Sasaran- 4 5. 126,75% 78,43% 9,18% 60,00% Capaian Rata-rata Sasaran- 2 3. STATUS 71,45% Capaian Rata-rata Sasaran- 1 2. % 83 (A) WTP 83 (A) 96,59% 100,00% 96,60% Capaian Rata-rata Sasaran- 8 97,73% Capaian s.d 2017 terhadap Target 2019 97,73% 72,29% Tercapai Optimis Tercapai Perlu upaya lebih Melebihi target LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-4 Lampiran-5 | LAKIP KemenPANRB 2017 DAFTAR KEMENTERIAN LEMBAGA YANG DIEVALUASI TAHUN 2017 No. I Kementerian/lembaga Surat persetujuan BIDANG POLHUKAM 1. Kepolisian Republik Indonesia B/47/M.KT.01/2017 2. Kejaksaan Republik Indonesia B/354/M.KT.01/2017 3. Badan Nasional Pengelola Perbatasan B/295/M.KT.01/2017 4. Badan Intelijen Negara B/603/M.KT.01/2017 5. Badan Narkotika Nasional B/614/M.KT.01/2017 II BIDANG PEREKONOMIAN DAN KEMARITIMAN 1. Pariwisata B/427/M.KT.01/2017 2. Perhubungan B/115/M.KT.01/2017 3. Keuangan B/73/M.KT.01/2017 4. Perindustrian B/172/M.KT.01/2017 5. Kelautan dan Perikanan B/28/M.KT.01/2017 6. Ketenagakerjaan B/483/M.KT.01/2017 7. Luar Negeri B/92/M.KT.01/2017 8. Komunikasi dan Informasi B/310/M.KT.01/2017 9. Pertanian B/238/M.KT.01/2017 10. LPDB Koperasi B/174/M.KT.01/2017 11. Bakamla B/134/M.KT.01/2017 12. Badan Ekonomi Kreatif B/87/M.KT.01/2017 13. BKPM B.135/M.KT.01/2017 14. BNP2TKI B.435/M/KT.01/2017 BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN 1. Agama B/84/M.KT.01/2017 2. Ristek dan Pendidikan Tinggi B/114/M.KT.01/2017 3. Pemuda dan Olah Raga B/580/M.KT.01/2017 4. Sosial B/288/M.KT.01/2017 Lampiran-5 | LAKIP KemenPANRB 2017 LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6 WBK DAFTAR INSTANSI PEMERINTAH PUSAT YANG UNIT KERJANYA MEMPEROLEH PREDIKAT WBK TAHUN 2017 No. 1. nama unit kerja Instansi pemerintah Kementerian Keuangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta Pusat Pembinaan Profesi Keuangan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sumbawa Besar Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean A Bogor Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C Cilacap Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kotamobagu Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Padang Direktorat Pembiayaan dan Transfer Non Dana Perimbangan, DJPK Direktorat Surat Utang Negara, DJPPR Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Umum, BPPK 2. Kementerian Agama 11. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin 12. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Musi Banyuasin 3. Kementerian Kesehatan 13. Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten 14. Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta 15. Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang 4. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Sosial Kementerian Perindustrian 16. Asdep Organisasi dan Badan Hukum Koperasi Pada Deputi Bidang Kelembagaan 17. Direktorat Pengelolaan Sumber Dana Bantuan Sosial 18. Balai Besar Teknologi Pencegahan dan Pencemaran Industri Semarang 19. Balai Pendidikan dan Pelatihan Industri Surabaya 20. SMK Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor 21. Balai Riset Standardisasi Industri Samarinda 7. Kementerian Pertanian 22. Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan, Bogor 23. Balai Besar Pelatihan Pertanian Bangkaluku, Sulawesi Selatan LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6 Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017 No. 8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 9. nama unit kerja Instansi pemerintah Kementerian Luar Negeri 10. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 11. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 24. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah 25. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika Malang 26. Pusat Pengembangan PAUD dan PM Jawa Timur 27. KBRI SIngapura 28. Biro Hukip 29. Badan Pemeriksa Keuangan 30. Badan Pemeriksa Keuangan 31. Badan Pemeriksa Keuangan Sulawesi Selatan 32. Badan Pemeriksa Keuangan Jawa Tengah Perwakilan Provinsi Riau Perwakilan Provinsi Aceh Perwakilan Provinsi Perwakilan Provinsi 12. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) 33. Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Semarang 13. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) 34. Direktorat Penilaian Keamanan Pangan 35. Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga 36. Pusat Informasi Obat dan Makanan 37. Balai Besar POM Surabaya 14. Badan Pusat Statistik (BPS) 38. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur 15. Lembaga Administrasi Negara (LAN) 39. Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III LAN Samarinda 16. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) 40. Direktorat Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif 17. Badan Tenaga Nuklir Nasional 41. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif 18. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 42. Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal 19. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 43. Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017 LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6 No. nama unit kerja Instansi pemerintah 20. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) 44. Balai Teknologi Polimer (BTP) 21. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) 45. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah IV Makassar 22. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan 46. Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah 47. Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor 23. Kepolisian Negara RI (POLRI) 48. Dittipidkor Bareskrim Polri 49. Polresta Banjarmasin 50. Polrestabes Surabaya 51.Polres Balikpapan 52. Polrestabes Semarang 53. Polrestabes Medan 54. Polresta Pekanbaru 55. Polresta Padang 56. Polres Serang 24. Provinsi Jawa Tengah 57. 58. 59. 60. 25. Provinsi Daerah Istimewa 61. Rumah Sakit Paru Respira Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta Rumah Rumah Rumah Rumah Sakit Sakit Sakit Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Umum Daerah Dr. Margono Soekarjo Umum Daerah Kelet Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo 26. Provinsi Nusa Tenggara Barat 62. Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat 63. Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat 27. Provinsi Kalimantan Timur 64. Rumah Sakit Umum Daerah Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan 28. Kabupaten Wonogiri 65. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Wonogiri 29. Kota Surakarta 66. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu ‘ Pintu Kota Surakarta 67. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta 30. Kabupaten Kudus 68. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekmonohadi Kabupaten Kudus 31. Kabupaten Kulonprogo 69. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kulon Progo 70. Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kabupaten Kulon Progo LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-6 Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017 No. nama unit kerja Instansi pemerintah 32. Kabupaten Bantul 71. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul 33. Kabupaten Sleman 72. Puskesmas Gamping 1 Kabupaten Sleman 34. Kabupaten Kutai Kartanegara 73. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Kutai Kartanegara 35. Kota Samarinda 74. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Samarinda 36. Kota Tanjung Pinang 75. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Tanjung Pinang 37. Kota Sukabumi 76. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi 38. Kabupaten Badung 78. Rumah Sakit Umum Daerah Mangusada Kabupaten Badung WBBM DAFTAR INSTANSI PEMERINTAH YANG UNIT KERJANYA MEMPEROLEH PREDIKAT WBBM TAHUN 2017 No. Instansi pemerintah nama unit kerja 2. Kementerian Keuangan 1. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kuningan 3. Lembaga Ilmu Pengetahuan 2. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI purwodadi 3. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI bogor Indonesia (LIPI) 4. Kepolisian Negara RI (POLRI) 4. Polresta Sidoarjo 5. Polres Jember 6. Polres Gresik Lampiran-6 | LAKIP KemenPANRB 2017 LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-7 REALISASI ANGGARAN KEMENTERIANPENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA DANDANREFORMASIBIROKRASITAHUN2017 Kode NamaProgram/Kegiatan I Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya PaguAnggaran Realisasi % 2814 Pengelolaan Pembinaan Hukum, Komunikasi Publik dan Sistem Informasi 6.341.597.000 6.119.102.539 96,49 2815 Pengelolaan dan Pembinaan Manajemen Kinerja dan Penganggaran, Kerja Sama Lembaga dan Pelaporan 2.439.742.000 2.436.736.580 99,88 2816 Pengelolaan dan Pembinaan SDM, Keuangan dan Perkantoran 87.267.916.000 86.724.688.891 99,38 2817 Pembinaan dan Pengawasan Intern dan Quality Assurance 1.895.998.000 1.775.944.630 93.67 2818 Pelakasanan Dukungan Perumusan Kebijakan PAN dan RB 869.531.000 843.180.848 96,97 98.814.784.000 97.899.653.488 99,07 Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi Program Reformasi Birokrasi Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan 9.187.627.000 9.121.385.066 99,28 2821 Perumusan Kebijakan Reformasi Birokrasi dan Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan 8.145.949.000 7.992.650.537 98,12 2822 Koordinasi Penanganan Pengaduan Masyarakat dan Aparatur 910.719.000 836.162.140 91.81 2823 Koordinasi Pelaksanaan Pemantauan, dan Evaluasi Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan I 2.123.743.000 2.111.832.287 99,44 2824 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan II 2.349.401.000 2.313.511.400 98,47 Sub Jumlah II 2820 Program Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi LAKIP KemenPANRB 2017 | Lampiran-7 Lampiran-7 | LAKIP KemenPANRB 2017 Kode NamaProgram/Kegiatan 2824 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan II 2825 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan III Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, dan Evaluasi Program Kelembagaan dan Tata Laksana 2827 PaguAnggaran Realisasi % 2.349.401.000 2.313.511.400 98,47 2.471.110.000 2.432.515.914 98,44 1.769.128.000 1.757.396.051 99,34 1.090.918.000 1.085.449.920 99,50 2828 Perumusan Kebijakan Sistem Kelembagaan dan Tata Laksana 2829 Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan E-Government 793.559.000 787.239.320 99,20 2830 Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kelembagaan I 781.739.000 771.407.977 99,68 2831 Perumusan dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kelembagaan II 1.014.392.000 994.430.746 98,03 2832 Asesmen dan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kelembagaan III 601.123.000 592.913.499 98,63 2833 Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, Evaluasi Program dan Pembinaan Integritas Sumber Daya Manusia Aparatur 1.314.358.000 1.309.806.371 99.65 2834 Perencanaan dan Pengembangan Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Aparatur 2.804.046.000 2.740.214.006 97,72 2836 Standardisasi Jabatan dan Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Aparatur 1.040.459.000 1.033.162.397 99,30 2837 Pengembangan Kesejahteraan Sumber Daya Manusia Aparatur 894.495.000 877.934.800 98,15 2838 Koordinasi Kebijakan, Penyusunan dan Evaluasi Program Pelayanan Publik 4.697.320.000 4.667.289.800 99.36 2839 Perumusan Kebijakan Inovasi dan Sistem Informasi Pelayanan Publik 817.527.000 800.548.400 97,92 2840 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Pelayanan Publik I 857.834.000 821.016.704 95,71 2841 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Pelayanan Publik II 752.986.000 732.585.550 96,10 2842 Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Pelayanan Publik III 850.610.000 832.964.916 97,93 5091 Pembinaan Integritas dan Penegakan Disiplin SDM Aparatur 1.423.993.000 1.400.723.084 98.37 5092 Pengembangan Kompetensi dan Kinerja SDM Aparatur 1.499.800.000 1.477.751.740 98.53 Sub Jumlah 48.192.836.000 47.481.892.625 98,52 Jumlah 147.007.620.000 145.381.546.113 98,89 Lampiran-7 | LAKIP KemenPANRB 2017 KEMENTERIANPENDAYAGUNAANAPARATURNEGARA DANREFORMASIBIROKRASI LAPORANKINERJA K E M E N T E R I A N PA N R B 2017