Uploaded by common.user21548

MENJADI GURU YANG HUMANIS DAN BERBHINEKA

advertisement
MENJADI GURU YANG HUMANIS DAN BERBHINEKA
Oleh, Dayananto Gatie Prasetyo
Guru SMK Negeri 4 Kendal
Indonesia memiliki latar belakang budaya yang memiliki suku, agama, Bahasa dan
budaya yang berbeda – beda antar satu provinsi dengan provinsi lain. Kekayaan Indonesia
juga ditunjukkan dari banyaknya pulau yang luas terbentang dengan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya. Keberagaman tersebut hendaknya ditanamkan kepada peserta didik
sebagai generasi penerus. Adanya peristiwa tentang penistaan agama, banyaknya peristiwa
intoleransi, munculnya paham radikal yang menngancam kesatuan dan persatuan bangsa
Indonesia dan berita hoax berkaitan dengan SARA yang memicu saling sindir antar golongan
merupakan salah satu bentuk lemahnya wawasan kebhinekaan.
Dunia pendidikan merupakan satu bidang yang sangat fundamental dan memberikan
kontribusi untuk merawat kebhinekaan bangsa Indonesia. Guru merupakan “agent of
change” dan peserta didik harus diberi pengertian tentang Bhineka Tunggal Ika di dalam
NKRI dengan wawasan humanisme dan kebhinekaan kepada peserta didik agar tidak masuk
ke dalam radikalisme dan terorisme. Untuk itulah guru perlu menanamkan kembali nilai
multicultural dan kebersamaan kepada peserta didik dengan cara yang humanis. Dengan
pendidikan humanis para peserta didik menjadi tahu latar belakang budaya Indonesia secara
menyeluruh .
Humanis sebagai suatu aliran dalam filsafat memandang manusia itu bermartabat
luhur mampu menentukan nasib sendiri dan dengan kekuatan sendiri mampu
mengembangkan diri. Pendidikan bukan hanya berupa transfer ilmu pengetahuan dari satu
orang ke beberapa orang lain, tetapi juga mentransformasikan nilai baik ke dalam jiwa,
kepribadian manusia. Hasil cetak manusia merupakan hasil dari proses transformasi
pengetahuan dan pendidikan yang dilakukan secara humanis.
Salah satu upaya strategis yaitu dengan membangun paradigma pendidikan yang
berwawasan kemanusiaan yang diharapkan nilai – nilai kemanusiaan dan kepribadian yang
santun serta berakhlak mulia dapat terwujud dengan baik. Guru yang humanis harus mampu
mengajar dengan tiga cara pendekatan yaitu dengan pendekatan diologis yaitu menciptakan
komunikasi dua arah, reflektif yaitu komunikasi peserta didik dengan dirinya sendiri,
instropeksi dan evaluasi diri, ekspresif yaitu pendekatan yang dilakukan dengan proses
belajar mengajar dengan kreatif. Peserta didik diberi kebebasan untuk memunculkan
kreativitasnya. Pendekatan inilah kita sebagai guru dapat melihat potensi unik dari peserta
didik. Guru perlu mengubah perannya yang berawal sebagai “ penguasa” ruang kelas menjadi
fasilitator. Guru hendaknya lebih suportif daripada mengkritisi, lebih banyak memahami
daripada menilai. Jika keadaan tersebut dapat dilakukan maka akan berkembang hubungan
menjadi resiprokal, yaitu guru sering menjadi pembelajar, dan peserta didik sering menolong
dan mengajar juga. Jadi tidak ada lagi istilah bahwa “Guru lebih pintar dari siswa” atau
“Siswa tidak boleh lebih pintar dari guru”.
Untuk mengembangkan pendidikan yang humanis dan berbhineka diperlukan
pembelajaran yang saling menghargai, anak dihargai bukan hanya ia juara kelas melainkan
anak tersebut memiliki potensi yang positif, entah anak tersebut berprestasi dalam bidang
akademis maupun tidak. Adanya ketulusan komunikasi antara guru dan peserta didik untuk
saling percaya dan saling memahami. Proses pembelajaran antar kelompok yang dapat
memberikan kesempatan peserta didik untuk mengeksplorasi pengalaman kebutuhan,
perasaannya sendiri sekaligus belajar memahami orang yang berada disekililingnya serta
saling menghargai perbedaan yang muncul. Mengembangkan metode pembelajaran
semenarik mungkin agar peserta didik dapat menyadari dirinya sendiri, mengubah perilaku
dan belajar dalam aktivitas kelompok. Mengembangkan sistem penilaian yang
memungkinkan keterlibatan peserta didik misalnya dengan penilaian teman sebaya, dan
peserta didik tersebut bisa menjadi mentor untuk menilai kemajuan yang telah dicapai sendiri
melalui evaluasi diri.
Dengan demikian tugas seorang guru di masa depan memiliki peranan penting untuk
merawat kebhinekaan bangsa Indonesia. Dengan menjadi guru yang humanis pendidikan
hendaknya dapat menumbuhkan kesadaran tentang keberagaman bagi setiap peserta didik
sejak usia dini. Pendidikan multikultural dapat menjadi bekal berharga ketika mereka kelak
dewasa untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis satu dengan yang lain di negara
kesatuan Republik Indonesia.
Download